(IG LIVE) Bagaimana Tantangan Hidup Menjadi Janda di Perantauan?

Episode IG Live pada bulan Juni ini, RUANITA mengangkat tema International Widows Day yang diperingati setiap 23 Juni oleh dunia untuk mengadvokasi hak para janda yang masih mendapatkan stigma sosial dan belum dihargai di masyarakat.

Oleh karena itu, RUANITA mengundang Rizky Suryani atau yang disebut Kiky yang kini menetap di Swedia lewat akun IG: little_monkey2016 dan diskusi dipandu oleh Dina Diana, mahasiswi S3 di Jerman lewat akun IG: ruanita.indonesia.

Kiky telah menetap di Swedia sejak 2020 setelah menikah dengan pria asal Swedia pada pernikahan keduanya. Sebelumnya Kiky telah menikah dengan pria asing juga pada pernikahan pertamanya, tetapi kandas disebabkan oleh kekerasan dalam rumah tangga selama lima tahun.

Enam tahun setelah pernikahan pertamanya berakhir, Kiky bertemu dengan almarhum suami keduanya. Setahun pernikahannya, almarhum suaminya mempunyai kanker.

Kiky mengakui almarhum suami keduanya adalah true love yang membuat Kiky merasakan cinta sejatinya, tetapi sayangnya maut memisahkan mereka. Kiky pun menyadari banyak challenging yang dihadapinya dalam merantau di Swedia seperti tantangan budaya, bahasa, sosial, dan hukum tetapi Kiky senang menjalaninya berkat dukungan almarhum suaminya. Setahun setelah menikah dengan alrmahum, suaminya didiagnosa kanker.

Menurut Kiky, pengalaman menjadi janda itu berbeda antara janda ditinggal mati dengan janda ditinggal hidup karena Kiky mengalami keduanya dalam pernikahannya. Menjadi janda di Swedia, Kiky mengakui tidak mengalami stigma sosial dari masyarakat sekitar.

Dia justru mendapatkan belas kasihan dari lingkungan sekitarnya. Kiky menyebutnya: “It’s just life. It happens to anybody.” ketika pernikahan keduanya berakhir karena maut.

Follow us: @ruanita.indonesia

Kiky berpendapat bahwa janda adalah status sosial seperti layaknya orang lajang, orang menikah, dan juga janda yang dapat terjadi pada siapapun. Kiky tidak merasa malu terhadap statusnya sebagai janda pada pernikahan pertamanya, bahkan dia cenderung bangga karena berhasil keluar dari pernikahan toksiknya.

Sedangkan pada pernikahan kedua, dia pun merasa sedih harus kehilangan suami akibat kanker yang merenggutnya. Akhirnya, Kiky kembali pada mindset untuk memahami situasi hidupnya.

Bagaimana Kiky menghadapi tantangan sosial yang kadang masih bermunculan di masyarakat Indonesia? Apa pesan Kiky pada masyarakat umumnya dan sahabat RUANITA khususnya yang mengalami situasi yang sama dengannya? Apa harapan Kiky di Hari Janda Internasional ini?

Simak selengkapnya dalam rekaman ulang berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami ya!

(CERITA SAHABAT) Kesepian Itu Beda Dari Sendirian, Mau Tahu?

Sahabat RUANITA, saya senang sekali bisa ikut serta berbagi cerita kehidupan saya di Turki. Saya akhirnya memberanikan diri menuliskan cerita pengalaman hidup bertema kesepian di negeri orang ini dengan harapan teman-teman yang ingin pindah ikut suami ke negeri yang baru dapat mengantisipasi perasaan seperti ini. 

Perkenalkan nama saya Ika yang pindah ke negeri suami, Turki sejak 2020. Dahulu saat saya masih di Indonesia, saya bekerja sebagai Customer Service di perusahaan asuransi dan perbankan. Tentunya pekerjaan tersebut membuat saya bertemu dengan banyak orang tiap hari. Buat saya bertemu dengan orang baru, itu bukan perkara sulit untuk membangun komunikasi.

Dahulu saya tidak mengalami kesepian, dengan kesibukan bekerja dan kultur masyarakat Indonesia yang hangat. Saya sendiri tidak pernah membayangkan kalau saya akan tinggal di negeri yang jauh dari tanah air dan jauh dari keluarga yang dicintai.

Setelah menikah dan menetap di Turki, saya belum menemukan pekerjaan yang pasti. Aktivitas saya sehari-hari seperti ibu rumah tangga umumnya. Saya bahagia bercampur sedih ketika saya berhasil menikah dengan pria pujaan saya dan sedih karena saya harus berpisah dengan keluarga di Indonesia. 

Jauh dari keluarga dan ditinggal suami pergi kerja itu membuat saya semakin sedih dan merasa kesepian. Kesepian menjadikan saya lebih sensitif. Saya jadi mudah menangis apalagi bila saya rindu keluarga di Indonesia. Rindu juga bagaimana saya dulu begitu sibuk bertemu dengan banyak orang pada saat bekerja.

Setelah suami pergi kerja, saya biasanya mulai membuka laptop dan ber-google ria untuk mengusir kesepian dan kesedihan. Saya mencari film yang disukai seperti komedi misalnya untuk mengobati rasa sedih. Kadang saya mencari aneka resep masakan dan mencobanya di dapur rumah sendiri. Dengan adanya internet, saya juga banyak mencari tahu rempah-rempah yang kadang sulit ditemukan di Turki kemudian berusaha keras mencari alternatifnya sehingga mirip seperti di tanah air.

Follow us: @ruanita.indonesia

Menurut saya kesepian dan sendirian itu berbeda. Sendirian itu lebih pada eksistensi dirinya yang memilih tinggal tanpa orang lain. Bisa jadi sendirian tidak membuat dia kesepian seperti saya yang kadang sensitif dan menangis sesenggukan karena kesepian. Saya mengalami kesepian karena situasi yang membuat saya belum menemukan aktivitas pekerjaan seperti dulu di Indonesia. 

Seseorang seperti saya bisa saja kesepian karena dia sedang berada di luar kebiasaan. Biasa sibuk, tiba-tiba saya lebih sering berdiam di rumah dan hanya mengurus rumah saja. Saya sempat menduga, apa yang saya alami adalah Culture Shock ketika saya tidak memahami situasi di tempat tinggal suami saya sebelumnya. 

Mungkin saja saya belum menemukan skill atau aktivitas untuk mengisi waktu luang. Saya kadang ikutan acara yang diselenggarakan Kedubes Indonesia. Katanya, kita bisa saja takut terlibat dalam komunitas Indonesia di luar negeri karena takut terjebak pada relasi toksik dari teman-teman kita. Itu sebab saya memilih teman-teman yang tepat untuk bisa keluar bersama mereka, sekedar chit chat atau pergi ke kafe.

Selebihnya saya biasa mengusir kesepian dengan mencoba resep baru, menonton film atau bernyanyi. Bersyukur suami saya merupakan orang pengertian dan sabar. Jadi faktornya bukan hanya soal Culture Shock saja, tetapi juga kendala bahasa. Bagaimana mungkin saya bisa bekerja kalau saya belum bisa menguasai Bahasa Turki. 

Jadi untuk Sahabat RUANITA yang ingin tinggal di negeri suami sebaiknya mempersiapkan mental juga agar bisa mengatasi perubahan situasi. Saya tahu itu tidak mudah. Intinya kita harus menyiapkan diri untuk menerima perubahan budaya, bahasa bahkan selera makanan juga. Soal kesepian, itu bisa terjadi di mana saja. Intinya kita yang paling tahu bagaimana melakukan hal-hal yang menjadi kesenangan kita. 

Kalau dulu di Indonesia tidak punya waktu untuk hobi misalnya, sekarang saatnya kembangkan diri dengan belajar bahasa dan budaya baru. Satu pesan saya juga nih buat Sahabat RUANITA yang berada di mancanegara kalau kita perlu saling memberi support satu sama lain, bukan saling menjatuhkan. Sebagai sesama warga Indonesia di perantauan, kita bisa kok saling bertukar informasi atau cerita seperti yang dilakukan di RUANITA. Ini penting loh buat kita menambah wawasan dan keterampilan hidup selama tinggal di luar negeri.

Banyak juga loh teman-teman yang berada di luar negeri dan pindah ikut suami mulai merasakan kesenangan tersendiri. Jadi kesepian mungkin terjadi ketika kita belum menemukan aktivitas yang tepat saja. Kita bisa mengisi waktu lowong dengan hal-hal yang disukai seperti memasak, bernyanyi, menonton film, dll. Kalau saya saat ini, saya sedang bersemangat ikut kursus bahasa.

Kita juga bisa menyalurkan hobi yang selama ini belum terwujud di Indonesia. Bukan tidak mungkin loh, hobi kita itu bisa menghasilkan penghasilan. Semoga cerita saya ini bisa memberi inspirasi buat Sahabat RUANITA yang sedang bingung atau belum menemukan aktivitas yang tepat saat di negara baru. Jadi kalian itu bukan kesepian atau sendirian tetapi belum saja menemukan passion kalian. Semangat ya Besttieee!

Penulis: Ika Indra Söyler, tinggal di Turki sejak 2020 dan dapat dikontak via akun IG: ika_indra_isw

(GALERI FOTO) Soft Launching Buku: Warna-warni Kepemimpinan Perempuan

Foto-foto berikut adalah Soft Launching buku yang diselenggarakan oleh RUANITA bekerja sama dengan KBRI BERLIN, Rumah Budaya Indonesia di Berlin, APPBIPA JERMAN, dan IKAT Jerman. Acara ini terselenggaranya secara hybrid di Rumah Budaya Indonesia di Berlin pada Jumat, 23 Juni 2023 pukul 15.30 CEST.

Rekaman acara tersebut sebagai berikut:

Subscribe Kanal YouTube kami.

(SIARAN BERITA) Soft Launching Buku: Warna-warni Kepemimpinan Perempuan

Ruanita Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang mendukung tujuan pembangunan keberlanjutan terutama untuk nomor 3 dan nomor 5 serta membagikan praktik baik orang Indonesia melalui pengalaman, pengamatan, dan pengetahuan dalam berbagai programnya.

Pada fokus nomor 5 yakni kesetaraan gender, RUANITA melakukan berbagai program yang melibatkan banyak perempuan Indonesia di luar negeri untuk menggali potensi mereka dan menempatkan mereka untuk berbagi dukungan satu sama lain terutama untuk kelompok yang rentan.

Dengan prioritas nilai-nilai yang diusung, RUANITA diharapkan bisa menjadi social support system di luar negeri yang mendukung partisipasi perempuan Indonesia di luar negeri. Namun, akses partisipasi perempuan Indonesia masih terbilang rendah baik di Indonesia maupun di luar Indonesia.

Salah satu cara meningkatkan partisipasi perempuan Indonesia adalah melalui promosi praktik baik yang dituangkan dalam tulisan, yang ditulis oleh warga Indonesia di mancanegara melalui program Warga Menulis.

Program Warga Menulis 2023 sudah berhasil terlaksana berkat kerja sama antara RUANITA dengan APPBIPA Jerman dan KBRI Berlin pada 4-5 Februari 2023 dan telah menghasilkan 13 naskah bertema kepemimpinan perempuan di ruang publik yang kemudian berhasil dibukukan. Sebagai penyunting naskah buku, Triyanto Triwikromo yang adalah Sastrawan dan Jurnalis yang juga memberikan essai sebagai pengantar buku ini.

Follow us: @ruanita.indonesia

Tak hanya itu, kata pengantar buku juga ditulis oleh Dewi Savitri Wahab yang kini menjabat sebagai Dubes RI untuk Denmark dan Lithuania. Dewi menguatkan peran pemerintah Indonesia yang telah mendorong terciptanya peluang perempuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Selain itu, kata pengantar buku pun ditulis oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Berlin, Prof. Dr. Ardi Marwan, yang hadir juga dalam acara Workshop Warga Menulis sebelumnya.

Melalui acara soft launching, RUANITA mengajak warga Indonesia di mancanegara untuk berdiskusi bagaimana partisipasi perempuan dalam ruang publik sehingga perempuan terlibat sebagai subyek pembangunan. Acara Soft Launching berlokasi di Rumah Budaya Indonesia di Berlin atau yang dikenal sebagai Haus der Indonesischen Kulturen pada hari Jumat, 23 Juni 2023 pukul 15.00 CEST atau 22.00 WIB.

Acara bincang-bincang dalam Soft Launching menampilkan tamu yakni: Nurfadni Mutiah yang merupakan salah satu penulis naskah dan kini masih melanjutkan studi S2 di Jerman; Triyanto Triwikromo yang adalah penyunting buku yang kebetulan sedang berada di Jerman; dan Vidi Legowo-Zipperer yang saat ini menjabat sebagai Head of Indonesian Service di Deutsche Welle.

Ada pun acara yang berlangsung sekitar 1,5 jam ini juga menghadirkan pembacaan puisi dari Hedy Holzwarth, perwakilan APPBIPA Jerman. Sebagai awal acara Soft Launching terdapat pula pameran digital ilustrasi naskah buku karya Ridho Handoyo dan komunitas seni di Semarang, Jawa Tengah. Acara ini berlangsung secara Hybrid yang diikuti oleh sebagian peserta lewat akses zoom meeting.

Rekaman acara tersebut dapat disaksikan berikut ini:

(PRODUK) Buku: Warna-warni Kepemimpinan Perempuan

Ruanita Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di mancanegara yang mendukung tujuan pembangunan keberlanjutan terutama untuk poin „Kesehatan Mental“ dan poin „Kesetaraan Gender“ serta membagikan praktik baik orang Indonesia melalui pengalaman, pengamatan dan pengetahuan dalam berbagai programnya.

Pada fokus kesetaraan gender, RUANITA melakukan berbagai program yang melibatkan banyak perempuan Indonesia di luar negeri untuk menggali potensi mereka dan menempatkan mereka untuk berbagi dukungan satu sama lain terutama untuk kelompok yang rentan ketika kami sedang berada di mancanegara.

Dengan prioritas manajemen berbasis nilai yang diusung, RUANITA diharapkan bisa menjadi social support system di luar negeri yang mendukung partisipasi perempuan Indonesia di luar negeri. Namun akses partisipasi perempuan Indonesia masih terbilang rendah baik di Indonesia maupun di luar Indonesia.

Salah satu cara meningkatkan partisipasi perempuan Indonesia dengan promosi praktik baik yang dituangkan dalam tulisan, yang ditulis oleh warga Indonesia di mancanegara melalui program Warga Menulis.

Program Warga Menulis 2023 sudah berhasil terlaksana berkat kerja sama antara RUANITA dengan APPBIPA Jerman pada 4-5 Februari 2023 dan telah menghasilkan 13 naskah bertema kepemimpinan perempuan di ruang publik yang kemudian dibukukan.

Follow us: @ruanita.indonesia

Para penulis naskah dalam buku ini berasal dari Jerman, Swiss, Spanyol, Belanda, dan Norwegia. Sosok perempuan yang ditulis tidak hanya para perempuan dari Indonesia yang menjadi pemimpin, tetapi juga para perempuan pemimpin dunia yang berada di luar Indonesia. Para perempuan yang menginspirasi tidak hanya sosok perempuan masa kini yang dikenal, tetapi juga perempuan pemimpin di masa lalu dalam peradaban sejarah.

Perempuan pemimpin tidak hanya dalam area publik saja, perempuan pun bisa memimpin dalam area privat. Kepemimpinan bukan berarti posisi tinggi dan posisi rendah, melainkan melibatkan perempuan untuk mengambil kebijakan dalam berbagai situasi, termasuk situasi bencana/krisis kemanusiaan. Bagaimanapun penulis buku ini tidak hanya perempuan saja, tetapi juga ada pria yang ikut menyuarakan kepemimpinan perempuan.

Oleh karena itu, buku ini kami beri judul: Warna-warni Kepemimpinan Perempuan yang mewakili suara warga Indonesia di mancanegara. Kata pengantar buku ini ditulis oleh Dubes RI untuk Denmark & Lithuania; Atdikbud KBRI Berlin; dan Sastrawan sekaligus Jurnalis. Buku ini tidak kami jual. Kami berharap buku ini mampu menyuarakan suara-suara warga Indonesia di mancanegara.

(CERITA SAHABAT ) Setelah Setahun Berlalu

Enak gak menikah dengan bule? Kok bisa dapat bule, sih? Ketemu di mana? Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu dilontarkan ketika saya menikah dengan pria Jerman. Sejujurnya, dengan siapa pun menikah, dari mana pun asal pasangan, tidak ada bedanya. Enak atau tidak enaknya bergantung pada karakter mereka.

Dulu memang saya berpikir jika menikah dengan pria asing, maka mereka akan memperlakukan istri lebih baik dari pria-pria Indonesia. Akan ada saling menghargai, saling membantu, dan keseimbangan gender. Akan tetapi, saya salah. Pria bule atau pria Indonesia itu sama.

Semuanya bermula ketika saya bertemu dengan pria Jerman di kota tercinta Jakarta. Pertemuan itu yang akhirnya membawa saya tinggal dan hidup di Jerman, negara yang tidak pernah ada dalam mimpi saya.

Saya pindah ke Jerman atas dasar cinta. Saya meninggalkan pekerjaan terbaik yang mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Itu pekerjaan yang memperbaiki finansial saya secara pribadi dan keluarga.

Saya adalah wanita single mandiri, bisa melakukan apa saja tanpa bantuan siapa-siapa, berjuang hidup di Jakarta yang keras, menghabiskan masa muda saya dengan sibuk memperbaiki perekonomian keluarga, menjadi tulang punggung keluarga, dan akhirnya luluh hanya dengan satu kata: cinta.

Tidak mudah untuk menikah dan berpindah hidup di negara asing.  Begitu banyak yang harus saya pelajari, kebiasaan orang-orang Jerman, budaya, dan terlebih lagi bahasa. Bahasa adalah yang terberat karena saya tidak hanya memelajari bahasa resmi Jerman (Hochdeutsch), tetapi saya harus mempelajari atau terbiasa mendengarkan bahasa lokal (dialek) Bayerisch (=salah satu dialek di negara bagian Bavaria, Jerman) yang terkadang membuat saya bingung.

Sedangkan tentang kebudayaan dan kebiasaan, saya sangat menyukainya karena semua itu menambah pengetahuan saya. Sejujurnya saya tidak merasakan apa itu yang namanya culture shock. Saya bahkan menikmati hal-hal baru yang saya temui di negara itu.

Proses kepindahan saya ke Jerman dimulai dari proses menuju pernikahan sipil yang direncanakan dan akan diadakan di Jerman. Saya memutuskan untuk memulai semua proses dokumen sendiri, tanpa menggunakan jasa agen, karena rasa keingintahuan saya dalam memproses dokumen-dokumen itu.

Begitu pun dengan calon suami. Dia juga sibuk menyiapkan dokumen-dokumen yang diminta oleh pihak pemerintahan Jerman.

Semuanya tidak semudah bayangan kami, apalagi di saat-saat pandemi ketika semua proses menjadi terbatas dan sangat lambat. Bahkan, hari pernikahan pun harus mundur karena visa yang belum bisa dikeluarkan oleh Kedutaan Jerman di Jakarta.

Follow us: @ruanita.indonesia

Tingkat stres yang tinggi antara mengurus dokumen-dokumen pernikahan, pekerjaan di kantor, dan kursus bahasa Jerman yang “wajib” saya ikuti di Goethe Institut Jakarta, menyebabkan naik-turunnya hubungan saya dan calon suami saat itu.

Ada masa-masa saya hampir menyerah dan tidak ingin melanjutkan proses pernikahan itu. Ada juga perasaan berat meninggalkan keluarga, terutama ibu, karena hanya beliaulah orang tua saya satu-satunya. Meninggalkan pekerjaan juga terasa berat karena saya sedang merasakan kesuksesan dari hasil jerih payah saya bertahun-tahun bergelut di dunia kerja.

Akan tetapi, atas dasar cinta dan keyakinan bahwa pria ini akan membahagiakan saya dan akan menjadi tempat sandaran seumur hidup, saya memutuskan untuk meninggalkan semua kehidupan saya yang nyaman di Indonesia untuk mengikuti suami ke negaranya.

Agustus 2020, hari “kemenangan” buat saya, ketika akhirnya saya bisa bersatu dengan pria yang saya cintai dan bersumpah bahwa saya akan selalu setia dan bersama dia dalam suka maupun duka, sampai Tuhan memanggil salah satu di antara kami. Di hari itu, walaupun ada rasa bahagia, ada rasa sedih juga ketika ibu tidak bisa menghadiri pernikahan yang saat itu saya kira adalah pernikahan pertama dan terakhir saya.

Beberapa bulan setelah pernikahan, semua masih terasa indah. Sampai setahun setelah pernikahan, sesuatu itu terjadi.

Selama ini saya tidak merasa ada masalah di dalam kehidupan rumah tangga kami, tetapi ternyata apa yang suami saya rasakan, berbeda. Suatu pagi, dia meminta kami untuk bercerai dengan alasan dia tidak bahagia.

Ada beberapa hal yang dia katakan sebagai alasan perceraian yang menurut saya lucu dan tidak masuk akal. Sesuatu yang dia tahu bahwa saya tidak akan bisa mewujudkannya dan dia mengetahui hal ini sebelum kami menikah.

Saat itu dia berjanji bahwa dia akan menerima keadaan tersebut dan tidak akan pernah meninggalkan saya. Ini salah satu alasan kenapa saya tetap mau menikah dengan dia. Akan tetapi, pada kenyataannya, janji hanyalah janji.

Manusia bisa berubah kapan pun dan melupakan janji-janjinya hingga pada akhirnya, saya ada di situasi ini. Saya sedang menjalani proses Trennungszeit, (=waktu perpisahan antara suami dengan istri sebelum resmi bercerai) sebagai salah satu persyaratan perceraian di Jerman.

Ketika dia mengucapkan kata cerai, selama dua minggu saya berpikir, apa yang harus dilakukan, bagaimana nasib saya sekarang, saya sendirian di negara ini.  Akan tetapi, saya bukan wanita bodoh dan pasrah dengan keadaan.

Saya mulai mencari-cari informasi dimulai dari browsing di internet, menghubungi beberapa teman saya yang juga menikah dengan warga Jerman. Bahkan, salah satu teman menyarankan untuk me-posting masalah saya di salah satu grup di media sosial. Bantuan informasi mulai banyak berdatangan, dukungan secara spiritual, dan teman-teman baru yang bersimpati serta ingin membantu.

Saya bersyukur bergabung dengan beberapa komunitas Warga Negara Indonesia yang tinggal di Jerman sehingga saya tidak benar-benar merasa sendirian. Informasi dan teman-teman baru yang saya dapatkan, bukan hanya dari teman-teman Indonesia, melainkan juga dari beberapa teman warga Jerman yang punya pengalaman dalam perceraian.

Saya mulai bangkit dan merencanakan untuk membangun kembali kehidupan yang baru. Saya tidak mau pasrah dan terpuruk dengan keadaan. Saya harus bertahan hidup di Jerman!

Saya mulai menghubungi satu organisasi yang bisa memberikan bantuan hukum secara gratis dan mereka bersedia membantu saya. Mengapa saya harus menghubungi pengacara? Saya merasa suami saya menyembunyikan sesuatu, tidak memberikan hak-hak yang seharusnya bisa saya dapatkan di masa-masa “perpisahan”.

Saya merasa juga tidak adanya keterbukaan atau informasi mengenai perceraian kami, maka saya memutuskan untuk mencari bantuan hukum. Saya merasa suami saya membodohi saya dengan tidak memberikan penjelasan tentang situasi yang saat ini terjadi.

Saya memang pendatang dan tidak tahu menahu tentang hukum-hukum perceraian di Jerman, tetapi saya tidak menyerah. Setiap hari saya berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya untuk membela diri saya dan mendapatkan keadilan.

Saya juga mencari tahu bagaimana saya bisa tinggal lebih lama di Jerman apabila kami resmi bercerai. Saya bisa saja kembali ke Indonesia kapan pun, tetapi saya ingin membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya mampu bertahan hidup di negara ini.

Bagaimana cara saya bisa bertahan hidup di Jerman? Saya mulai mencari pekerjaan dan memulai belajar bahasa Jerman tingkat lanjutan. Dua hal inilah yang saat ini menjadi poin terpenting untuk saya agar bisa bertahan hidup di Jerman.

Banyak hal positif yang saya dapatkan karena perceraian. Saya mendapatkan teman-teman baru di beberapa kota dan wilayah Jerman, mengetahui cara berpergian dengan transportasi umum di Jerman seperti bus dan kereta, memulai traveling kembali ke beberapa kota dan beberapa negara di wilayah Schengen, mengetahui proses untuk mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal.

Saya mulai melihat hal-hal positif dari masalah saya dan tidak mau melihat atau berpikir negatif. Saya hanya berfokus pada hal-hal yang akan membantu saya untuk hidup di Jerman. Saya mendapatkan beberapa komentar dari orang-orang yang mengetahui masalah saya. “Kamu tidak kelihatan sedih, kamu terlihat bahagia” kata mereka.

Inilah jawaban saya. “Masa kesedihan saya sudah lewat. Saatnya saya fokus untuk memulai hidup baru saya. Saya tidak akan bisa mulai membangun hidup baru jika saya selalu bersedih dan terpuruk dalam permasalahan.”

Saya yakin dan percaya, semua hal-hal yang saya lakukan saat ini akan membuahkan hasil yang baik untuk masa depan saya di Jerman.

Pesan saya, jika kalian adalah perempuan Indonesia yang memiliki masalah sama dengan saya atau bahkan lebih buruk dari saya, jangan takut! Kalian tidak sendirian, tetaplah kuat dan segera mencari bantuan informasi dari berbagai organisasi sosial di Jerman seperti Frauenhaus (=semacam rumah aman untuk perempuan yang bermasalah), atau hubungi teman-teman Indonesia yang kalian kenal.

Ketika kalian pindah dan hidup di Jerman, bergabunglah dengan grup-grup Warga Negara Indonesia yang hidup di Jerman. Dari sanalah kita bisa mendapatkan informasi atau dukungan dari mereka. Ingat, kita tidak sendirian!

Penulis: Rasya, bukan nama sebenarnya. Artikel ini telah diterbitkan dalam Buku Cinta Tanpa Batas, produksi RUANITA – Rumah Aman Kita yang diterbitkan oleh Padmedia Publisher.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Nilai Remitansi ke Indonesia Jauh Lebih Besar dari Pariwisata

Program Cerita Sahabat Spesial Episode Juni 2023 mengangkat tema remitansi keluarga di Indonesia yang memang dirayakan secara internasional pada 16 Juni setiap tahun. Pada perayaan International Day of Family Remittances RUANITA mengundang Senior Economist, Senior Banker and Business Woman yang kini menetap di Belanda. Dia adalah Dessy Rutten yang telah 25 tahun tinggal di Eropa dan ahli dalam urusan ekonomi perbankan.

Karena keahlian dalam literasi keuangan tersebut, RUANITA meminta pendapat beliau tentang remitansi keluarga yang biasa dilakukan oleh orang-orang Indonesia yang bermukim di luar negeri. Ada banyak alasan mengapa orang Indonesia tinggal dan bekerja di luar negeri? Dari sekian alasan pastinya mereka mengirimkan uang ke keluarga di Indonesia dengan berbagai alasan.

Dessy menjelaskan tujuan orang Indonesia melakukan remitansi. Pertama, remitansi ditujukan untuk kebutuhan edukasi di mana orang-orang Indonesia di luar negeri banyak mendukung kebutuhan pendidikan anggota keluarga mereka di Indonesia.

Peringkat kedua, remitansi banyak dilakukan juga untuk berobat anggota keluarga di Indonesia. Alasan ketiga, orang-orang Indonesia di luar negeri melakukan remitansi untuk membangun atau merenovasi rumah di Indonesia. Baru alasan terakhir yang sebenarnya bagus dan penting adalah modal usaha.

Follow us: @ruanita.indonesia

Tidak semua orang-orang Indonesia di luar negeri bertahan seumur hidup dan tinggal di luar negeri, banyak juga dari mereka yang ingin menghabiskan masa tua di tanah air. Sayangnya anggota keluarga di Indonesia tidak memanfaatkan uang remitansi yang diberikan anggota keluarga lainnya di luar negeri.

Dessy menyarankan untuk meminta anggota keluarga di Indonesia agar membuka akun bank di Indonesia agar bukti pengiriman uang dapat terekam dengan jelas. Bagaimana pun pemberian uang secara cash kepada anggota keluarga di Indonesia menurut Dessy adalah sangat tidak mendidik.

Bila melihat APBN di Indonesia, Dessy berpendapat kalau nilai remintasi itu menyumbangkan sepuluh persen. Artinya nilai remitansi sendiri lebih besar dari sektor pariwisata. Dengan potensi nilai remintasi yang besar, sudah seharusnya pemerintah beserta jajarannya untuk membuat kebijakan dan mengelolanya dengan tepat sasaran. Bukan tidak mungkin, tujuan dari International Day of Family Remittances yang diperingati setiap 16 Juni bahwa remitansi dapat berdampak pada pembangunan dapat tercapai.

Simak penjelasan lengkap dari Dessy Rutten di kanal YouTube kami berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung program kami.

(CERITA SAHABAT) Transfernya Sedikit, Manfaatnya Banyak

Sahabat RUANITA, saya senang sekali bisa terlibat dalam program cerita sahabat terutama yang berkaitan dengan pengalaman dan pengetahuan saya selama ini. Perkenalkan saya Nijhas, seorang perempuan asal Indonesia yang menetap di Jerman sejak 2017. Awal mulanya saya datang ke Jerman karena ingin melanjutkan studi Magister di Jerman. Kini saya bekerja di salah satu Organisasi Non Profit di kota terbesar di Jerman, Berlin.

Family remittances atau pengiriman uang ke keluarga di Indonesia merupakan tema menarik, tidak hanya karena berkaitan dengan studi yang saya tekuni tetapi juga pengalaman saya selama ini sebagai anggota keluarga untuk transfer uang ke keluarga Indonesia. Setiap bulan, saya rutin mengirimkan uang untuk kakak saya yang tinggal di Indonesia. Transfer yang saya lakukan biasanya lewat transfer antar bank, salah satu bank di Indonesia. Jadi saya transfer tetap pakai mata uang rupiah. Tentu saya sudah transfer uang gaji saya di Jerman ke rekening bank pribadi saya di Indonesia.

Kalau ditanya tujuan saya transfer, paling banyak tentu untuk kebutuhan sehari-hari seperti bagaimana keluarga kakak saya dapat memenuhi kebutuhan sembako atau membayar tagihan listrik, air dan lainnya. Saya hanya membantu sedikit dari pengeluaran keuangan dia. Saya tidak pernah memperhitungkan nominalnya, tetapi itu rupanya sangat membantu perekonomian Indonesia juga loh. Dengan kita mengirimkan uang ke keluarga di Indonesia, secara tidak kita sadari, transaksi tersebut mendorong perekonomian di Indonesia. 

Dengan uang yang kita kirimkan ke keluarga di Indonesia, keluarga kita bisa menggunakan uang tersebut untuk dibelanjakan, misalnya untuk membeli kebutuhan makanan pokok, untuk bayar uang sekolah (Edukasi), untuk bayar BPJS Kesehatan (Kesehatan), untuk bayar kontrakan rumah (Well-Being). Mungkin kita tidak berpikir bahwa apa yang kita lakukan itu ternyata mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kita. Bagaimanapun nilai transfer kecil kita itu berpengaruh untuk terus menghidupkan usaha kecil dan rumah tangga yang memang memerlukan yang ada di Indonesia.

Saya beri contoh misalnya bagaimana mata uang asing yang saya terima sebagai pekerja di Jerman itu dikonversi, dari Euro ke Rupiah maka akan berdampak positif juga pada ekonomi kita. Mau tidak mau permintaan akan Rupiah akan naik. Hal ini menjaga kestabilan perekonomian kita. Bahkan apa yang kita lakukan itu menaikkan nilai tukar rupiah terhadap uang asing. 

Follow us: @ruanita.indonesia

Di era moderen seperti sekarang, saya pikir kita sudah semakin dimudahkan untuk melakukan transaksi perbankan, termasuk mengirimkan uang ke keluarga di Indonesia dari negara tempat kita tinggal dan bekerja. Contohnya teman-teman saya bercerita tentang berbagai aplikasi transfer kekinian yang kata mereka juga paling cepat, murah dan aman. Meski kita juga harus mempertimbangkan kalau keluarga di Indonesia itu gampang juga akses internetnya, tahu bagaimana menggunakan aplikasinya dan memang diterima secara langsung (tanpa pihak ketiga). 

Realita menunjukkan bahwa kondisi kesejahteraan keluarga meningkat ketika ada anggota keluarga yang bekerja di luar negeri. Kita tidak lepas dari cara pandang di Indonesia kalau keluarga itu begitu penting, termasuk bagaimana kita juga ikut membantu perekonomian keluarga. Menurut pendapat saya ini hal yang bagus dan saya mendukung cara pandang tersebut. 

Saya juga melihat bagaimana status ekonomi keluarga yang memiliki anggota keluarga bekerja di luar negeri ternyata ikut terdongkrak status ekonominya di mata masyarakat. Ini jelas kalau kesejahteraan pekerja migran pun ikut mengalami perbaikan. Saya juga sering mendengar juga kalau teman-teman yang bekerja di luar negeri pada akhirnya bisa bangun rumah, membayar sekolah anak-anak, bisa membeli baju bermerek, membuat toko kelontong sampai ada yang berinvestasi saham juga. 

Pekerja migran membuktikan bahwa nasib mereka menjadi lebih baik ketika mereka mau bersusah payah di negeri orang dan bisa membantu keluarga di Indonesia yang membutuhkan. Saya menyayangkan saja kalau uang yang diberikan dari anggota keluarga di luar negeri tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Kita bisa loh gunakan uang tersebut untuk investasi seperti membeli tanah atau properti. Ide lain misalnya membuka usaha atau membuat bisnis produktif lainnya yang sekarang juga sudah marak di indonesia. 

Kita perlu ingat kalau kita tak selamanya bekerja terus di luar negeri. Suatu saat kita ingin pulang ke Indonesia. Nah, kalau uang yang kita kirimkan hasil kerja keras di Indonesia bisa dipergunakan untuk investasi misalnya, bukan tidak mungkin itu menjadi bekal ketika kita kembali pulang ke Indonesia saat sudah pensiun bekerja di luar negeri. Jadi teman-teman yang bekerja di luar negeri juga bisa mengingatkan anggota keluarganya untuk bersikap ekonomis dan memanfaatkan peluang itu dengan baik. 

Saya pikir tidak semua orang punya kemampuan untuk mengelola uang. Keterlibatan pemerintah atau LSM bisa turut memberikan kapasitas atau pelatihan soal manajemen keuangan atau kewirausahaan. Tidak hanya itu, pentingnya juga mengingatkan gaya hidup yang berlebihan dan konsumtif yang justru tidak menghasilkan benefit di masa depan. 

Di akhir cerita saya, saya berharap di hari International Day of Family Remittances yang kita rayakan ini pemerintah juga mampu memberantas kelompok-kelompok  penyedia jasa layanan pengiriman uang yang ilegal atau terkesan bodong. Hal ini sungguh merusak manakala mereka mengiming-imingi biaya yang rendah kepada anggota masyarakat yang mudah terpengaruh. Perlu juga kita memberantas bank-bank gelap yang menawarkan biaya rendah tetapi menipu. Hal ini masih ditemukan pada kasus-kasus pekerja migran yang tergiur jasa mereka. 

Literasi tentang perbankan dan manajemen keuangan juga diperlukan oleh pekerja migran agar mereka tahu bagaimana mengelola penghasilannya secara tepat guna. Pemerintah diharapkan dapat memberikan penyuluhan remitansi yang benar kepada masyarakat Indonesia, terutama masyarakat yang memiliki anggota keluarga bekerja di luar negeri.

Terakhir untuk Sahabat RUANITA, saya menyarankan bahwa selagi kita mampu bekerja di luar negeri, bantulah keluarga kita di Indonesia karena apa yang kita lakukan tidak hanya membantu keluarga saja tetapi juga perekonomian bangsa juga. 

Penulis: Nijhas, studi dan bekerja soal keuangan dan kini bekerja di Berlin, Jerman.

(KONSELING KELOMPOK) Krisis Identitas di Perantauan

Sebagai seorang yang tinggal di perantauan, kita mungkin saja mengalami krisis identitas yang disebabkan karena perubahan lingkungan, tuntutan sosial, tuntutan akademik/pekerjaan, rasa kesepian, hingga konflik batin di mana kita merasa sulit untuk mempertahankan identitasnya ketika kita mendapatkan budaya/lingkungan yang berbeda. 

Krisis dapat terjadi pada siapa pun dan dalam usia berapa pun. Krisis identitas terjadi ketika terjadi pergeseran dan perubahan sepanjang hidup saat seseorang menghadapi tantangan baru dan mengatasi pengalaman yang berbeda seperti pindah ke negara yang baru, pernikahan, perceraian, melahirkan, putus kerja, depresi, dsb.

Follow us: @ruanita.indonesia

Krisis identitas adalah fase dalam perkembangan manusia yang mempertanyakan dirinya dan keberadaan mereka di dunia ini. Krisis identitas terjadi dalam psikologi perkembangan manusia sebagai cara untuk memandang dirinya sendiri. Identitas diri yang dimaksud bisa meliputi nilai hidup, keyakinan, ingatan, memori, pengalaman yang membentuk perasaan subjektif seseorang tentang dirinya sehingga kemudian disebut sebagai citra diri. 

Sebagai social support system di perantauan, RUANITA menggelar konseling kelompok dua kali dalam setahun dengan tema yang berbeda-beda yang disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi selama di perantauan. Untuk bulan Juni ini, RUANITA mengambil tema krisis identitas selama di perantauan dengan berbagai sebab dan alasan. Konseling kelompok ini dilakukan secara daring, gratis, terbatas atau tidak lebih dari 10 orang, dan boleh menutup kamera.

Tujuan Konseling Kelompok ini untuk memberikan dukungan sosial satu sama lain yang positif, berbagi resources, dan wawasan baru dalam krisis identitas yang sedang/pernah dialami oleh peserta. Untuk sesi konseling ini, konselor memanfaatkan media gambar untuk para peserta. Sebagai pendaftaran, dapat dicek di tautan berikut bit.ly/konseling-kelompok.

Apabila ada saran tema konseling kelompok atau online support group, silakan melayangkan pesan ke info@ruanita.com.

(CERITA SAHABAT) Menjadi Perempuan Baru

Wang Sinawang, yang terlihat indah belum tentu indah. Bagi sebagian orang mungkin tinggal di luar negeri itu terlihat indah dan menyenangkan. Tidak jarang saya mendapatkan pesan dari teman-teman lama saya yang bunyinya “Wah enak ya kamu sekarang tinggal di luar negeri”. Pesan-pesan itu biasanya hanya saya tanggapi dengan senyuman dan tawa formalitas saja karena nyatanya bagi saya realita tidak selalu seindah foto-foto yang ada di instagram. Seperti yang selalu saya katakan: Don’t assume, maybe I only show you what I want you to see. 

Beberapa bulan setelah menikah, saya memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman untuk bisa bersama dengan suami saya di Prancis. Meninggalkan keluarga, teman dan segala pencapaian saya di Indonesia bukanlah hal yang mudah bagi saya. Bisa dibilang tahun pertama saya tinggal di Eropa adalah tahun yang paling berat yang pernah saya alami. Tahun pertama pernikahan ini adalah tahun di mana banyak sekali pertanyaan bermunculan di dalam pikiran saya seperti “siapakah diri saya saat ini”, “apakah menikah adalah keputusan yang tepat”, “bagaimana caranya hidup di negara orang” dan lain sebagainya.

Sebelum menikah saya adalah seorang perempuan dengan aktivitas tinggi, bahkan saya hampir tidak memiliki banyak waktu di rumah. Saya memiliki pekerjaan yang baik di sebuah perusahaan Internasional dan memiliki banyak teman. Ketika kemudian saya menikah dan meninggalkan semua itu, perubahan yang sangat drastis terjadi di dalam kehidupan saya.

Saya yang dulu aktif dan jarang memiliki waktu kosong menjadi saya yang memiliki terlalu banyak waktu. Memiliki waktu untuk bersantai selama beberapa saat memang menyenangkan, tetapi lama kelamaan justru hal inilah yang menyerang saya dari belakang. Banyaknya waktu yang saya miliki membuat saya tenggelam di dalam banyak pertanyaan-pertanyaan filosofis tentang eksistensi diri saya, yang sebenarnya tidak perlu.

Follow us: @ruanita.indonesia

Selain itu, perbedaan budaya dan minimnya pemahaman bahasa yang digunakan di negara yang saat itu saya tinggali mengambil peran yang cukup signifikan dalam pergolakan batin saya. Ya, memang sebelum memutuskan untuk pindah ke negara ini saya sudah mengambil kursus bahasa, tetapi nyatanya praktik menggunakan bahasa yang benar-benar baru bukanlah hal yang mudah dan memerlukan dedikasi tinggi. 

Ditambah karena alasan tertentu, suami saya lebih memilih untuk berbicara dalam bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari kami di rumah. Hal ini membuat kehidupan saya di negara baru ini seperti dikelilingi sebuah tembok. Tembok inilah yang seringkali membuat saya merasa menjadi orang luar ketika saya harus bertemu atau menghadiri acara dengan keluarga dan teman-teman suami saya.

Saat ini saya masih terus berusaha meningkatkan kemampuan berbahasa saya, walaupun sudah tidak separah dulu. Kebanyakan lawan bicara saya pun cukup sabar dan selalu berusaha untuk memahami dan menghargai usaha saya untuk berkomunikasi walaupun terkadang dengan aksen dan pengucapan yang cukup jauh dari yang seharusnya.

Selama beberapa tahun tinggal di Eropa, saya merasakan banyak sekali perubahan yang terjadi di dalam diri saya. Saya bukan lagi orang yang sama, bukan berarti saya sudah kehilangan akar budaya tetapi justru saya menjadi lebih kaya. Tinggal di Eropa dengan proses adaptasi yang sebegitu rupa membuat pribadi saya yang seorang wanita Jawa tertempa, berubah dan dibentuk ulang menjadi lebih tahan banting. 

Klise memang, tetapi saya benar-benar yakin bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Dari proses yang lama dan melelahkan itulah saya mengambil pelajaran dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Bagi saya, hal yang paling penting adalah untuk memulai segala hal dengan pikiran yang terbuka.

Penulis: Rena, tinggal di Swiss.

(IG LIVE) Bagaimana Play Therapy Bisa Atasi Trauma?

Di bulan Mei 2023 ini RUANITA Kembali hadir dengan diskusi online IG Live bertema ‘Bagaimana Play Therapy Bisa Mengatasi Trauma’. Kali ini host Dina Diana @ibudindia mengundang narasumber diskusi Mala Holland, seorang psikoterapis dan trainer untuk trauma model di Inggris yang mendalami play and creative art therapy untuk mengatasi trauma di @connectplaytherapy.

Kala mendengar kata ‘bermain’, mungkin yang terpikirkan hanyalah aktivitas bermain untuk anak-anak. Kenyataannya secara ilmiah bermain membawa manfaat positif untuk kesehatan jiwa di segala kelompok usia. Seperti apa sajakah bentuk play therapy dan bagaimana caranya dalam mengatasi trauma?

Mala Holland menjelaskan bahwa trauma itu punya banyak jenis dan bentuk, tergantung pada kasus penyebabnya. Untuk bidang trauma yang didalami oleh Mala sendiri adalah trauma pada kasus kekerasan seksual dan kekerasan domestik.

Play and creative art therapy adalah sebuah model psikoterapi yang menggunakan permainan dan alat-alat seni untuk membantu seseorang mengekspresikan diri dan memproses apa yang dipikirkan atau dirasakan. 

Ketika bicara tentang trauma, menurut Mala orang kerap kali orang kesulitan untuk menjelaskan atau bingung untuk mengekspresikan yang dirasakan. Contohnya seperti ketika Mala bertanya ‘Hi, how are you?’ kepada klien, jawaban awal yang didapat hanyalah kalimat-kalimat pendek seperti ‘I’m fine’, atau ‘a little bit sad’.

Ketika mulai memakai tools seperti lewat permainan atau art and crafting material seperti pasir dan tanah liat, mereka bisa lebih mengerti perasaan mereka sendiri, mudah mengekspresikan perasaan, dan lebih bebas untuk memproses apa yang mereka alami.

Dalam hubungan antara usia, memori dan trauma, Mala menuturkan bahwa secara alami anak-anak belum mulai terbentuk memorinya di bawah usia 3 atau 4 tahun. Ini ada hubungannya dengan kematangan fungsi otak, terutama di bagian prefrontal lobe yang mengatur rasionalitas dan baru matang nanti di usia 20-an.

Mala menegaskan bahwa oleh karena itu banyak memori trauma manusia terekam sebagai emosi atau perasaan, namun secara kognitif tidak mampu mengingatnya.

Ini terjadi di banyak kasus trauma di mana korban tidak bisa mengingat kejadian atau penyebab trauma tetapi merasakan efeknya dengan intens, atau bisa tiba-tiba terpicu (triggered) oleh situasi-situasi tertentu.

Untuk kasus di mana trauma itu muncul dan orang tidak punya kemampuan atau tidak sempat untuk memprosesnya, ini akan memengaruhi coping strategy. Menurut Mala, trauma is not just what happen to us, but it is our ability to process the event. Sebenarnya kondisi triggered ini adalah cara kerja alami dari otak untuk melindungi diri agar aman.

Namun ketika efek dari sebuah kejadian menjadi sedemikian hebatnya sampai mengganggu fungsi dan kehidupan sehari-hari, di situlah trauma tersebut sudah berkembang menjadi post-traumatic stress disorder (PTSD) dan membutuhkan penanganan yang berbeda lagi.

Follow us: @ruanita.indonesia

Kondisi yang Mala kerap temui adalah kerap kali klien dengan kondisi trauma tahu apa yang membuat mereka sakit atau takut, tetapi tidak memiliki kemampuan kognitif atau kosa kata yang cukup untuk menjelaskan apa yang terjadi atau apa yang dirasakan.

Namun ketika mulai memakai art sand atau pasir dan gambar saat terapi, barulah keluar cerita tentang kejadian traumatis yang dialami oleh klien. 

Mala juga menuturkan bahwa penting bagi orangtua untuk mampu memodelkan komunikasi yang sehat, agar anak belajar untuk berani bercerita dan merasa aman ketika mengomunikasi kejadian apapun kepada orangtua. Di sisi lain, memang ada anak-anak yang pembawaan atau sifatnya cenderung tertutup dan tidak langsung terbuka untuk bercerita.

Di sinilah orangtua harus lebih jeli memperhatikan perubahan perilaku anak-anak mereka, karena Mala menjelaskan bahwa inilah yang akan terlihat lebih awal ketika anak mengalami kejadian yang menimbulkan trauma.

Menurut Mala, terapis play therapy dasarnya mulai dari bekerja pada penanganan trauma pada anak-anak terlebih dahulu lalu baru orang dewasa. Namun khusus art therapy dimulai dengan menangani orang dewasa terlebih dahulu baru kemudian mengambil extra module untuk penanganan trauma pada anak-anak.

Informasi lebih lengkapnya, Sahabat RUANITA dapat simak dalam video berikut:

Subscribe kanal YouTube kami untuk mendapatkan video terbaru dari kami.

(RUMPITA) Menembus Batas: Perjalanan Karir Menjadi Perancang Perhiasan Internasional

Di episode ke-13 kali ini, Podcast Rumpita yang dipandu oleh Nadia dan Fadni kedatangan narasumber seorang perancang perhiasan Indonesia yang sedang bermukim di Italia, Amelia Rachim.

Amelia Rachim memutuskan menjadi seorang perancang perhiasan ketika dirinya bekerja praktek di Bali setelah lulus dari jurusan Desain Produk FSRD ITB, dan pada tahun 2008 ia mendapat beasiswa Master di bidang Jewellery Engineering di Politecnico di Torino Italia.

Pada tahun 2011 ia mendapatkan penghargaan sebagai pemenang termuda kompetisi perhiasan yang diadakan oleh Breil, sebuah merk Italia terkemuka untuk jam dan perhiasan. Tidak hanya menang beberapa kompetisi Internasional. Perhiasan rancangan Amelia juga dipakai oleh artis ternama internasional seperti Anggun C. Sasmi dan juga Kristin Chenoweth.

Menjalani kuliah master di Italia, Amelia mengalami tantangan terbesar ketika dirinya juga harus mempelajari sifat dan daya lebur logam dari sisi kimia dan fisika, dan tidak semata-mata hanya dari sudut pandang seninya saja.

Amelia juga menjelaskan tentang karakteristik emas sebagai logam dan tingkat karatnya, dimana semakin tinggi tingkat karat emas maka kemungkinan emas mudah bengkok akan tinggi.

Ketika berbicara tentang desain, desain perhiasan Amelia sendiri terinspirasi oleh filosofi Indonesia dan itu menjadi ciri khas Amelia yang telah dikenal oleh para kliennya.

Follow us: ruanita.indonesia

Ia menambahkan bahwa market internasional sangat menyukai cerita atau makna filosofis dibalik sebuah perhiasan, oleh karena itu yang akan membuat desainer semakin dihargai dan desainnya dihargai lebih tinggi.

Dalam podcast ini Amelia berbagi tips untuk meraih kesuksesan sebagai perancang perhiasan. Menurutnya untuk menjadi seorang perancang perhiasan sangat dibutuhkan persistensi, kesabaran yang tinggi, dan selalu mengasah jiwa kreatif dengan bersekolah di sekolah seni. Rajin mengikuti lomba juga akan menambah wawasan tentang trend masa kini yang ditunjukkan oleh para peserta desain lainnya.

Tidak hanya kesuksesan, Amelia juga berbagi tentang jatuh bangunnya sebagai seorang perancang perhiasan Indonesia yang bermukim di Italia.

Jika Sahabat Rumpita ingin mengetahui ceritanya lebih lanjut dan topik seru lainnya dengan Amelia, silahkan putar podcast episode kali ini.