(SIARAN BERITA) Guru Indonesia di Berbagai Negara Berbagi Pengalaman dan Tantangan dalam Forum Online Hari Guru Sedunia 2026

Jakarta, 5 Oktober — Ruanita Indonesia bersama Jejaring Guru Indonesia di Sekolah Internasional menyelenggarakan Forum Online Hari Guru Sedunia 2026 bertema “Identitas dan Pengalaman Guru Indonesia di Sekolah Internasional di Berbagai Negara” pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Forum yang berlangsung secara daring melalui Zoom tersebut mempertemukan guru-guru Indonesia yang mengajar di berbagai negara untuk berbagi pengalaman, tantangan, strategi adaptasi, serta refleksi mengenai profesi guru dalam lingkungan pendidikan global.

Forum berlangsung selama dua jam, dari pukul 10.00 hingga 12.00 CEST atau 15.00 hingga 17.00 WIB. Kegiatan dimoderatori oleh Asti Tyas Nurhidayati, relawan Ruanita Indonesia sekaligus guru sekolah dasar di Islandia.

Dalam pengantarnya, Ina Isnaedi dari Thailand, pendiri dan koordinator Jejaring Guru Indonesia di Sekolah Internasional, mengangkat tema “Membangun Jejaring Global Guru Indonesia”. Ia menekankan pentingnya membangun ruang bersama bagi guru Indonesia yang bekerja di luar negeri agar pengalaman dan pengetahuan mereka dapat saling dipertukarkan serta menjadi sumber pembelajaran bagi komunitas guru yang lebih luas.

Forum kemudian menghadirkan tiga pembicara yang berbagi pengalaman dari konteks pendidikan dan negara yang berbeda. Tjandra Purnama, guru sekolah dasar di Norwegia, membawakan topik “Mengakar pada Identitas, Memimpin secara Global: Pengalaman dan Refleksi Guru Indonesia di Sekolah Internasional”. Ia membahas bagaimana identitas sebagai guru Indonesia tetap menjadi bagian penting dalam menjalankan profesi di lingkungan pendidikan internasional, sekaligus bagaimana pengalaman lintas budaya membentuk perspektif dan kompetensi profesional seorang pendidik.

Selanjutnya, Ranto Silitonga, guru Matematika MYP/DP di Changchun, Tiongkok, membawakan topik “Menjembatani Identitas dan Profesionalisme: Perjalanan Guru Indonesia di Vietnam dan China”. Pengalamannya memperlihatkan dinamika perjalanan profesional guru Indonesia yang berkarya di lebih dari satu negara serta pentingnya kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai yang dibawa dari Indonesia.

Setelah itu, Rindi Danika Sari, Teacher Trainer di Kirgistan, membagikan pengalaman melalui topik “Dari Ruang Kelas ke Panggung Global: Menjaga Citra dan Membentuk Identitas Guru Indonesia di Kirgistan”. Pengalaman tersebut memberikan gambaran mengenai proses adaptasi guru Indonesia ketika berhadapan dengan lingkungan sekolah, budaya, dan karakteristik peserta didik yang berbeda dari Indonesia.

Ketiga paparan tersebut kemudian ditanggapi oleh Saga Pardede, PhD, founder Bridging Consciousness sekaligus asisten profesor bidang psikologi sosial, kesehatan, dan pendidikan di Norwegia. Dalam sesi tanggapan, pembahasan diarahkan pada bagaimana pengalaman guru di lingkungan lintas budaya dapat dipahami tidak hanya sebagai pengalaman individual, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika identitas profesional, relasi sosial, keberagaman, dan kesejahteraan guru.

Diskusi berlangsung semakin interaktif dalam sesi tanya jawab yang dipandu Asti Tyas Nurhidayati. Para peserta membahas berbagai persoalan yang dihadapi guru Indonesia di luar negeri, mulai dari proses adaptasi dengan sistem pendidikan setempat, keberagaman kebutuhan siswa, tantangan identitas profesional, hingga pentingnya dukungan dan jejaring sesama guru Indonesia.

Forum tersebut juga menjadi ruang untuk mengidentifikasi sejumlah kebutuhan guru Indonesia di lingkungan pendidikan internasional. Di antaranya adalah penguatan jejaring profesional lintas negara, ruang berbagi praktik baik, peningkatan kapasitas dalam menghadapi keberagaman budaya, serta perhatian terhadap aspek perlindungan dan kesejahteraan guru Indonesia yang bekerja di luar negeri.

Bagi Ruanita Indonesia, forum ini tidak hanya menjadi bagian dari peringatan Hari Guru Sedunia 2026, tetapi juga menjadi upaya untuk mendokumentasikan pengalaman warga Indonesia yang berkarya di sektor pendidikan global. Kisah dan refleksi para pembicara diharapkan dapat menjadi pengetahuan bersama sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas di antara guru-guru Indonesia di berbagai negara.

Melalui kegiatan ini, Ruanita Indonesia dan Jejaring Guru Indonesia di Sekolah Internasional juga mendorong terbentuknya komunitas yang lebih kuat bagi guru Indonesia di luar negeri. Dokumentasi kegiatan dan hasil diskusi selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran serta referensi bagi penguatan peran guru Indonesia dalam ekosistem pendidikan internasional.

Anna Knöbl, pendiri Ruanita Indonesia, berharap forum ini dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat solidaritas dan jejaring guru Indonesia di berbagai belahan dunia. Ia berharap semakin banyak pengalaman guru Indonesia di luar negeri yang terdokumentasi dan dibagikan, sehingga dapat menjadi sumber inspirasi, pembelajaran, sekaligus dasar untuk mendorong dukungan yang lebih baik bagi guru Indonesia dalam menjalankan profesinya di lingkungan pendidikan global.

(KNOWLEDGE SHARING) Ruanita Indonesia Ajak Penyintas Autoimun Bangun Self-Compassion dan Komunikasi yang Sehat

JAKARTA, 26 September – Organisasi nirlaba berbasis digital yang berfokus pada promosi kesehatan mental, Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan Knowledge Sharing Meeting bertajuk “Komunikasi yang Menyembuhkan: Membangun Self-Compassion dan Relasi Sehat sebagai Penyintas Autoimun” pada Sabtu, 26 September 2026.

Acara yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom Meeting pukul 10.00–12.00 CEST ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya komunikasi yang sehat dalam menjaga kesehatan mental serta kualitas hidup para penyintas penyakit kronis. Pertemuan inklusif ini dihadiri oleh para penyintas autoimun, caregiver, keluarga, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang memiliki perhatian besar terhadap isu kesehatan mental.

Dipandu oleh Griska Gunara selaku relawan Ruanita Indonesia di Inggris (UK) sebagai moderator, acara ini menghadirkan dua perspektif mendalam yang saling melengkapi. Pada sesi pertama, Azizah, seorang penyintas autoimun asal Indonesia yang kini menetap di Austria, membagikan kisah perjalanan hidupnya yang penuh tantangan.

Ia mengisahkan bagaimana proses menerima diagnosis medis, perjuangan menghadapi invisible illness di tengah stigma lingkungan, hingga pentingnya membangun dukungan keluarga. Melalui cerita nyatanya, Azizah menekankan bahwa praktik komunikasi yang baik dan penerimaan diri merupakan kunci utama dalam menjaga stabilitas emosional di tengah kondisi fisik yang tidak menentu.

Melengkapi perspektif tersebut, sesi kedua diisi oleh Yuki Fragariani, seorang Hypnotherapist dan Mental Health Professional yang berbasis di Irlandia. Yuki memaparkan materi ilmiah sekaligus praktis mengenai bagaimana bahasa dan pikiran saling memengaruhi kesehatan mental. Dalam penjelasannya, beliau menyoroti bahaya pola kalimat negatif pada diri sendiri (negative self-talk) yang sering muncul tanpa disadari oleh para penyintas penyakit kronis.

Sebagai solusinya, Yuki mengajak para peserta untuk melatih self-compassion atau sikap penuh kasih kepada diri sendiri, serta menerapkan komunikasi asertif agar mampu menyampaikan kebutuhan fisik maupun emosional mereka secara sehat kepada lingkungan sosial.

Acara ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang dinamis, sesi tanya jawab, serta refleksi bersama antarperserta. Melalui ruang edukasi yang aman ini, Anna Knöbl berharap para peserta dapat membawa pulang strategi praktis untuk membangun dialog yang lebih empatik dengan diri sendiri maupun orang lain. Dengan suksesnya penyelenggaraan kegiatan ini, Ruanita Indonesia kembali menegaskan komitmennya untuk terus memfasilitasi ruang belajar yang saling menguatkan demi terciptanya lingkungan yang lebih suportif bagi para penyintas autoimun di mana pun berada.

Simak rekaman sesi pemateri berikut di kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia, Komunitas GANAS Taiwan, dan ALZI Ned Perkuat Kapasitas Caregiver PMI melalui Edukasi Demensia pada Peringatan Hari Alzheimer Sedunia 2026

Jakarta, 26 September 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Alzheimer Sedunia 2026, Ruanita Indonesia di bawah Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia bersama Komunitas GANAS (Gerakan Pemberdayaan Pekerja Migran Indonesia) di Taiwan dan Yayasan ALZI Nederland (ALZI Ned) sukses menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Merawat dengan Hati dan Ilmu: Bekal Dasar Alzheimer bagi Caregiver PMI Taiwan” pada Sabtu (26/9). Kegiatan yang berlangsung melalui Zoom Meeting ini diikuti oleh Pekerja Migran Indonesia (PMI), khususnya para caregiver yang bekerja merawat lansia di Taiwan, serta peserta dari Indonesia dan Belanda.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian terhadap meningkatnya kebutuhan edukasi mengenai demensia Alzheimer bagi para caregiver. Sebagai garda terdepan dalam mendampingi lansia, para PMI menghadapi berbagai tantangan dalam memahami perubahan perilaku, komunikasi, hingga penanganan sehari-hari terhadap penyandang demensia. Melalui kolaborasi lintas negara ini, para peserta memperoleh pengetahuan praktis sekaligus ruang berbagi pengalaman untuk memperkuat kapasitas mereka dalam memberikan perawatan yang lebih baik.

Acara dibuka oleh Fajar, Relawan Ruanita Indonesia di Taiwan sekaligus Founder Komunitas GANAS, yang menekankan pentingnya membangun jejaring dukungan bagi para pekerja migran Indonesia di sektor domestik. Menurutnya, edukasi mengenai Alzheimer tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan kepada lansia, tetapi juga membantu caregiver menjaga kesehatan mental dan ketahanan emosional selama menjalankan pekerjaannya.

Pada sesi pertama, Ari Lestari, caregiver PMI di Taiwan dan anggota Komunitas GANAS, membagikan pengalaman nyata dalam mendampingi lansia dengan Alzheimer. Ia mengisahkan berbagai tantangan yang dihadapi di lapangan, mulai dari perubahan perilaku pasien, kesulitan komunikasi, hingga pentingnya kesabaran dan empati dalam memberikan pendampingan setiap hari. Pengalaman tersebut menjadi refleksi bagi peserta bahwa pekerjaan sebagai caregiver membutuhkan tidak hanya keterampilan teknis, tetapi juga kesiapan emosional.

Sesi kedua menghadirkan Tania, Champion sekaligus Koordinator Regional Indonesia ALZI Nederland di Belanda, yang memberikan pemaparan mengenai pengetahuan dasar Alzheimer, tahapan perkembangan demensia, serta strategi komunikasi yang efektif dengan penyandang Alzheimer. Dalam paparannya, Tania menjelaskan bahwa memahami kondisi medis pasien merupakan langkah penting untuk mengurangi kesalahpahaman, meningkatkan kualitas hidup lansia, dan membantu caregiver menghadapi situasi yang sering kali menantang.

Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Taiwan. Beragam pertanyaan mengemuka, mulai dari cara menghadapi perilaku agresif pada penyandang demensia, teknik berkomunikasi yang lebih efektif, hingga pentingnya menjaga keseimbangan kesehatan mental bagi caregiver. Sesi berbagi pengalaman juga memperlihatkan kuatnya solidaritas di antara para pekerja migran Indonesia yang saling memberikan dukungan dan solusi berdasarkan pengalaman masing-masing.

Melalui kegiatan ini, Ruanita Indonesia, Komunitas GANAS Taiwan, dan ALZI Nederland berharap semakin banyak caregiver PMI yang memiliki pemahaman dasar mengenai demensia sehingga mampu memberikan pendampingan yang lebih profesional, penuh empati, dan berorientasi pada kualitas hidup lansia. Selain itu, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun komunitas belajar yang saling mendukung bagi para pekerja migran Indonesia di luar negeri. Peringatan Hari Alzheimer Sedunia 2026 ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara organisasi masyarakat sipil, komunitas pekerja migran, dan lembaga pemerhati Alzheimer dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat Indonesia, baik di dalam maupun di luar negeri.

Rekaman kegiatan akan dipublikasikan melalui kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita agar manfaat edukasi dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas dan pastikan SUBSCRIBE ya untuk mendukung kami.

(SIARAN BERITA) Workshop Daring Produksi Audiobook  Dorong Kolaborasi untuk Literasi Inklusif

Jakarta, September 2026 – Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia menyelenggarakan Workshop Daring Produksi Audiobook  pada 19–20 September 2026 sebagai bagian dari rangkaian Program AISIYU (AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamU) dalam mendukung kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan pada 25 November – 10 Desember dan peringatan Hari Braile Sedunia pada Januari 2027 mendatang. Kegiatan ini mempertemukan pegiat inklusi, masyarakat umum, dan mitra strategis untuk memperkuat kapasitas produksi audiobook yang inklusif bagi siapa saja yang memerlukannya.

Workshop diselenggarakan bekerja sama dengan Komunitas Braille’iant Indonesia dan menghadirkan berbagai narasumber dari lembaga negara maupun komunitas yang memiliki perhatian terhadap isu kesetaraan gender, aksesibilitas, dan pendidikan inklusif. Sebagai informasi, komunitas Braille’iant Indonesia adalah komunitas anak muda Jogja yang berfokus pada pengembangan kapasitas difabel netra dan pendidikan inklusi.

Pada sesi pembuka, Ketua Komisi Nasional Disabilitas Republik Indonesia, Dante Rigmalia, menyampaikan materi mengenai pentingnya membangun akses informasi dan literasi yang inklusif bagi penyandang disabilitas. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa akses terhadap pengetahuan merupakan bagian dari pemenuhan hak penyandang disabilitas, sehingga pengembangan media yang mudah diakses, termasuk audiobook, menjadi salah satu upaya nyata untuk mewujudkan masyarakat yang lebih setara dan inklusif.

Sementara itu, sesi mengenai Pengarusutamaan Gender dan Inklusi Sosial (GESI) disampaikan oleh Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Devi Rahayu. Materi tersebut mengajak peserta memahami pentingnya mengintegrasikan perspektif gender dalam produksi pengetahuan dan media digital, sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam mendukung penghapusan kekerasan terhadap perempuan melalui kampanye yang inklusif dan berbasis hak asasi manusia. Workshop daring selama dua hari ini ini dimoderasi oleh Lu’luatul Awaliyah, mahasiswa S2 di UK.

Selain mendapatkan penguatan perspektif gender dan inklusi sosial, peserta juga memperoleh pelatihan teknis produksi audiobook yang difasilitasi oleh Veronica Christamia, Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Tiongkok sekaligus Founder Komunitas Braille’iant Indonesia. Materi mencakup teknik membaca naskah, perekaman suara, hingga penyuntingan audio menggunakan perangkat lunak Audacity.

Workshop diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia yang memiliki minat pada literasi, produksi konten digital, dan isu aksesibilitas. Melalui sesi praktik, setiap peserta mulai mengerjakan bagian audiobook yang akan dikembangkan secara kolaboratif sebagai produk akhir Program AISIYU. Untuk kampanye digital 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP), penyelenggara mengharapkan peserta membuat konten terkait refleksi pengalaman selama proses produksi audiobook, yang berlangsung pada 25 November – 10 Desember mendatang.

Setelah proses produksi dan penyuntingan selesai, audiobook akan dipublikasikan melalui platform Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia serta didistribusikan kepada komunitas netra, organisasi penyandang disabilitas, dan sekolah netra di Indonesia pada peringatan Hari Braille Sedunia, 4 Januari 2027. Audiobook ini merupakan bagian dari komitmen Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia untuk menghadirkan ruang digital yang positif, kreatif, dan inklusif, sekaligus membangun ruang kolaboratif bagi masyarakat untuk memproduksi karya-karya yang mengangkat nilai kesetaraan gender, aksesibilitas, dan pemberdayaan.

Melalui inisiatif ini, Ruanita Indonesia berharap dapat memperluas akses literasi bagi penyandang disabilitas netra, memperkuat budaya gotong royong dalam berkarya, serta mendorong lahirnya lebih banyak konten digital yang memberikan manfaat sosial bagi masyarakat.

Anna Knöbl selaku bagian dari penyelenggara Workshop Audiobook berharap semakin banyak masyarakat yang memahami bahwa akses terhadap informasi, literasi, dan ruang berekspresi merupakan hak setiap orang. Dia menambahkan bahwa kolaborasi antara organisasi masyarakat sipil, komunitas penyandang disabilitas, dan lembaga negara diharapkan menjadi langkah bersama dalam membangun ekosistem literasi yang inklusif, setara, dan bebas dari kekerasan terhadap perempuan.

(SIARAN BERITA) PMI Perempuan di Singapura Unjuk Karya Lewat Buku Narasi Hidup PMI Perempuan

Singapura, 13 September – Peluncuran buku Cahaya dari Seberang Laut: Singapura telah sukses diselenggarakan secara daring. Kegiatan ini mempertemukan pekerja migran Indonesia (PMI), pegiat literasi, penulis, serta berbagai pemangku kepentingan dari Singapura dan sejumlah negara penempatan lainnya dalam semangat merayakan karya literasi para PMI. Acara yang digagas oleh Ruanita Indonesia ini merupakan tindak lanjut peringatan Hari Buruh Sedunia 2026 dalam bentuk Workshop Daring Menulis.

Acara dibuka oleh moderator, Reka Monica, salah satu penulis buku sekaligus Relawan Ruanita Indonesia di Singapura, yang menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber, tamu undangan, penulis, dan peserta yang telah hadir secara virtual. Dalam acara ini, KBRI Singapura juga mengawali dengan pemantik diskusi oleh Rina Komaria, selaku Pelaksana Fungsi Protkons/PWNI KBRI Singapura. Beliau menyampaikan apresiasi atas lahirnya buku tersebut sebagai bukti bahwa pekerja migran Indonesia tidak hanya berkontribusi dalam sektor ekonomi, tetapi juga mampu menghasilkan karya intelektual dan literasi yang menginspirasi. Melalui acara ini, Ruanita Indonesia, menegaskan komitmennya dalam mendukung pemberdayaan perempuan Indonesia, termasuk melalui penguatan budaya literasi di kalangan pekerja migran.

Prosesi peluncuran buku menjadi puncak acara. Buku Cahaya dari Seberang Laut: Singapura merupakan kumpulan tulisan para pekerja migran Indonesia yang merekam pengalaman, perjuangan, harapan, serta refleksi kehidupan selama berada di negeri rantau. Kehadiran buku ini diharapkan menjadi inspirasi sekaligus dokumentasi perjalanan para PMI yang memiliki semangat untuk terus belajar dan berkarya.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang menghadirkan Nor Ismah, fasilitator Workshop Daring Menulis PMI Perempuan di Singapura, yang mengulas pentingnya menulis sebagai sarana pemberdayaan diri, dokumentasi pengalaman, dan media menyuarakan kisah para pekerja migran kepada masyarakat luas.

Dalam kesempatan yang sama, Indah, salah satu penulis buku, berbagi pengalaman mengenai proses kreatif menulis dan perjalanan hingga naskahnya menjadi bagian dari buku Cahaya dari Seberang Laut: Singapura. Kisah tersebut memberikan motivasi kepada peserta bahwa siapa pun dapat memulai menulis dari pengalaman hidup yang sederhana namun bermakna. Diikuti juga sharing pengalaman Dewi N.S. Lubis selaku Koordinator Tim Buku dan founder FPMI Singapura yang juga menegaskan pentingnya mendokumentasikan pengalaman hidup sebagai PMI lewat literasi. Buku ini menjadi buku ketiga dari karya FPMI yang senantiasa produktif menghasilkan buah tangan PMI di Singapura.

Diskusi semakin kaya melalui tanggapan dari Fajar, Founder GANAS Community (Gabungan Tenaga Kerja Bersolidaritas Taiwan). Ia mengapresiasi terbitnya buku tersebut sebagai bentuk keberanian para pekerja migran dalam mendokumentasikan pengalaman hidup mereka. Menurutnya, karya-karya seperti ini mampu memperkuat solidaritas antarkomunitas pekerja migran Indonesia di berbagai negara sekaligus memperluas perspektif masyarakat terhadap kehidupan para PMI.

Antusiasme peserta terlihat dalam sesi tanya jawab. Berbagai pertanyaan dan tanggapan disampaikan oleh peserta yang mengikuti kegiatan secara daring dari Singapura maupun negara penempatan lainnya. Diskusi berlangsung hangat dengan pembahasan mengenai proses menulis, pentingnya membangun budaya literasi di kalangan pekerja migran, serta upaya menjaga keberlanjutan gerakan menulis bagi PMI.

Melalui peluncuran buku ini, Forum Penulis Migran Indonesia (FPMI) Singapura bersama Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia berharap semakin banyak pekerja migran Indonesia terdorong untuk mendokumentasikan pengalaman, gagasan, dan harapan mereka dalam bentuk tulisan. Literasi diharapkan menjadi ruang pemberdayaan yang mampu memperkuat kapasitas diri sekaligus menghadirkan narasi positif mengenai kontribusi pekerja migran Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.

Acara ditutup dengan ucapan terima kasih kepada seluruh narasumber, penulis, peserta, dan pihak-pihak yang telah mendukung terselenggaranya peluncuran buku secara daring. Semangat yang terbangun sepanjang kegiatan diharapkan menjadi awal dari lahirnya lebih banyak karya literasi dari tangan para pekerja migran Indonesia di berbagai belahan dunia.

Rekaman acara dapat disimak melalui kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(SIARAN BERITA) Pentingnya Ruang Aman di Perantauan untuk Berbagi Dukungan Psikologis

MADRID, 5 September – Komunitas perantau Indonesia di Spanyol kini memiliki ruang aman untuk saling menguatkan mental di tengah kerasnya dinamika hidup di negeri orang. Langkah ini diinisiasi oleh Ruanita Indonesia yang menggelar Sesi Nonton & Diskusi Komunitas Indonesia di Spanyol, sebuah ruang inklusif yang dirancang khusus untuk membedah tantangan psikologis warga negara Indonesia di perantauan.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Duta Besar RI LBBP untuk Kerajaan Spanyol, Dr. Muhammad Najib. Dalam sambutannya, Dubes Muhammad Najib menyampaikan pesan penguat yang menegaskan bahwa pihak kedutaan sangat mendukung kehadiran ruang-ruang diskusi terbuka seperti ini. Beliau menekankan pentingnya bagi sesama warga Indonesia di luar negeri untuk saling berbagi dukungan psikologis, meruntuhkan stigma seputar kesehatan mental, dan bergandengan tangan menghadapi tantangan adaptasi di lingkungan yang baru. Dukungan nyata dari perwakilan RI ini menjadi legitimasi penting bagi ruang aman yang terus dibangun oleh Ruanita Indonesia.

Mengidentifikasi Gelombang Emosi di Perantauan

Selanjutnya, diskusi interaktif ini dipandu oleh dua fasilitator ahli, yaitu Bernadia Dwiyani, seorang mental health educator sekaligus co-founder Kesmenesia di Spanyol, bersama Anna Knöbl, PhD Student, Psikolog di Jerman yang juga menjadi Produser film pendek dokumenter “Dua Kali” yang mengambil setting kehidupan perantau Indonesia di Jerman. Film “Dua Kali” mengambil cerita dari Relawan Ruanita Indonesia di Jerman yang mengalami permasalahan mental saat Pandemi COVID-19 lalu dan bagaimana dia mengakses layanan kesehatan mental, disertai perjuangannya untuk mematahkan stigma sosial. Suasana diskusi berjalan dengan prinsip ruang aman yang sangat ketat, di mana lembar kerja dan cerita para peserta dijaga kerahasiaannya secara penuh.

Sesi pertama dimulai tepat setelah pemutaran Film “Dua Kali”, yang memicu para peserta untuk mengidentifikasi emosi dominan melalui kacamata karakter di layar kaca. Mereka diajak memvalidasi perasaan-perasaan berat yang kerap melanda warga Indonesia di Spanyol, mulai dari homesickness, rasa sepi ekstrim (expat loneliness), kecemasan mendalam terhadap birokrasi dan masa depan, hingga krisis kehilangan identitas diri.

Menyusun Peta Strategi Hadapi Stres

Memasuki paruh kedua acara setelah penayangan Film “Dua Kali”, fokus diskusi bergeser pada penyusunan peta koping atau strategi konkret dalam menghadapi stres. Para fasilitator memetakan dua jalur utama yang bisa diambil oleh para perantau di Spanyol.

Jalur pertama adalah problem-focused coping untuk mengubah situasi stres, seperti mulai mengambil kursus bahasa lokal, merapikan jadwal pengurusan TIE, atau aktif bergabung dalam jaringan masyarakat Indonesia di Spanyol. Jalur kedua adalah emotion-focused coping untuk menenangkan pikiran saat situasi belum bisa diubah, yang diimplementasikan melalui aksi sederhana seperti menelepon keluarga di tanah air, berjalan sore di taman, atau berolahraga.

Melalui siaran pers ini, Ruanita Indonesia menegaskan kembali pesan psikoedukasi utama mereka bahwa merasa tidak baik-baik saja di tempat yang baru adalah respons yang sepenuhnya normal, dan mengakui kerentanan merupakan langkah awal menuju ketahanan diri. Bagi masyarakat Indonesia di Spanyol yang membutuhkan jaring pengaman atau bantuan psikologis lebih lanjut, Ruanita Indonesia membuka akses konsultasi yang dapat dijadwalkan secara langsung melalui laman booking resmi di website.

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Rayakan Hari Jadi ke-5 dengan Seminar Daring Literasi Finansial untuk Perkuat Ketahanan Ekonomi Masyarakat

Jakarta, 29 Agustus 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Lahir Ruanita Indonesia ke-5, Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan Seminar Daring bertajuk “Literasi Finansial sebagai Strategi Bertahan di Tengah Krisis Ekonomi” pada Sabtu (29/8/2026). Kegiatan yang dilaksanakan melalui platform Zoom ini diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri, yang terdiri atas perempuan, keluarga Indonesia, mahasiswa, profesional, dan masyarakat umum.

Seminar ini menjadi bagian dari komitmen Ruanita Indonesia dalam menghadirkan ruang pembelajaran yang relevan dan bermanfaat bagi masyarakat, khususnya perempuan Indonesia, agar semakin siap menghadapi tantangan ekonomi global yang ditandai dengan meningkatnya biaya hidup, ketidakpastian pasar kerja, serta perubahan dinamika keuangan.

Menghadirkan Dessy Rutten, PhD FERSA, Business Change Manager CPO di Rabobank Belanda sekaligus akademisi yang berpengalaman di industri perbankan Uni Eropa, seminar memberikan wawasan komprehensif mengenai pentingnya literasi finansial sebagai fondasi dalam membangun ketahanan ekonomi individu maupun keluarga.

Dalam paparannya, Dessy Rutten menekankan bahwa literasi finansial bukan sekadar kemampuan mengatur pengeluaran, tetapi juga keterampilan memahami risiko keuangan, menyusun perencanaan jangka panjang, membangun dana darurat, serta mengambil keputusan investasi secara bijaksana. Menurutnya, ketahanan finansial dibangun melalui kebiasaan yang konsisten dan disiplin dalam mengelola keuangan, sehingga masyarakat mampu beradaptasi terhadap berbagai perubahan kondisi ekonomi.

Diskusi dipandu oleh Sesilia Susi, Relawan Ruanita Indonesia di Jerman, yang berhasil menghidupkan suasana seminar melalui sesi tanya jawab interaktif. Peserta antusias menyampaikan berbagai pertanyaan seputar pengelolaan keuangan keluarga, strategi menghadapi kenaikan biaya hidup, hingga langkah-langkah mempersiapkan masa depan finansial yang lebih berkelanjutan.

Kegiatan diawali dengan pemutaran cerita sahabat spesial dari para sahabat Ruanita Indonesia sebagai bentuk apresiasi atas perjalanan organisasi selama lima tahun. Suasana penuh kehangatan tersebut menjadi pembuka yang mempererat hubungan antara relawan, mitra, dan masyarakat yang selama ini mendukung berbagai program pemberdayaan Ruanita Indonesia.

Melalui seminar ini, peserta memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi ekonomi global beserta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari, sekaligus memperoleh strategi praktis dalam mengelola keuangan pribadi dan keluarga. Selain memperkuat literasi finansial, kegiatan ini juga menjadi wadah berbagi pengalaman dan memperluas jejaring pembelajaran lintas negara.

Sesilia Susi sebagai perwakilan Ruanita Indonesia menyampaikan apresiasi kepada narasumber, moderator, panitia, relawan, serta seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan program Ruanita Indonesia selama ini. Memasuki usia ke-5, Ruanita Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program edukatif yang mendukung peningkatan kapasitas perempuan Indonesia serta mendorong lahirnya masyarakat yang lebih tangguh, mandiri, dan adaptif menghadapi berbagai tantangan zaman.

Seminar daring ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam menumbuhkan kesadaran akan pentingnya perencanaan keuangan yang sehat dan berkelanjutan, sehingga masyarakat memiliki bekal yang lebih kuat dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi di masa mendatang.

Tentang Ruanita Indonesia

Ruanita Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang didirikan oleh Anna Knöbl di Jerman yang berkomitmen pada pemberdayaan orang Indonesia lintas negara melalui berbagai program pendidikan, literasi, pengembangan kapasitas, kepemimpinan, serta penguatan jejaring di tingkat nasional dan internasional. Selama lima tahun perjalanannya, Ruanita Indonesia terus menghadirkan ruang kolaborasi digital yang menginspirasi dan berdampak bagi masyarakat Indonesia di mana saja.

(KNOWLEDGE SHARING) Bagaimana Praktik Psikologi Berbasis Nilai-nilai Lokal?

JAKARTA, 22 Agustus 2026 – Organisasi nirlaba berbasis digital, Ruanita Indonesia (ruanita.com), sukses menyelenggarakan diskusi daring Knowledge Sharing Meeting bertajuk “Dekolonisasi Psikologi di Indonesia: Tantangan, Peluang, dan Implikasi Praktis bagi Kesehatan Mental” pada Sabtu (22/8). Acara yang digelar secara virtual melalui Zoom Meeting ini menjadi ruang diskusi terbuka bagi peserta dari berbagai belahan dunia untuk mengkritisi dan merefleksikan kembali penerapan ilmu psikologi yang lebih kontekstual di Indonesia.

Kegiatan ilmiah ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Lahir ke-5 Ruanita Indonesia yang diperingati setiap tanggal 24 Agustus. Sebagai organisasi yang fokus pada isu psikologis, sosial, dan budaya dalam konteks transnasional, Ruanita Indonesia terus berkomitmen mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam sektor kesehatan yang baik dan kesetaraan gender melalui penguatan kapasitas berbasis komunitas.

Hadir sebagai narasumber utama, Ayu Prabasari, seorang konselor Ruanita Indonesia dan mahasiswa Master Program dari Australian Institute of Professional Counsellors. Dalam pemaparannya, Ayu menyoroti bagaimana perkembangan ilmu psikologi modern saat ini masih sangat didominasi oleh paradigma, teori, dan praktik yang berasal dari negara-negara Barat. Menurutnya, pendekatan tersebut sering kali tidak sepenuhnya selaras dengan konteks sosial, budaya, bahasa, nilai, serta pengalaman hidup masyarakat Indonesia yang sangat majemuk.

“Gerakan dekolonisasi psikologi ini bukan bertujuan untuk menolak mentah-mentah psikologi modern Barat,” tegas Ayu dalam sesi penyampaian materi. “Melainkan, gerakan ini mendorong adanya integrasi yang kuat antara bukti-bukti ilmiah universal dengan realitas budaya lokal di tempat praktik psikologi itu dijalankan, seperti nilai kekeluargaan, norma sosial, komunitas, hingga aspek spiritualitas yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.”

Acara yang berlangsung selama dua jam dari pukul 15.00 hingga 17.00 WIB ini mendapatkan antusiasme yang luar biasa dari berbagai kalangan. Mereka adalah mahasiswa, psikolog, konselor, tenaga kesehatan, pendidik, pekerja sosial, hingga pegiat komunitas aktif terlibat dalam diskusi interaktif dan sesi tanya jawab mengenai peluang pengembangan layanan kesehatan mental yang lebih peka budaya.

Program strategis ini juga mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari Anna Knöbl selaku Founder Ruanita Indonesia. Beliau menegaskan bahwa forum seperti Knowledge Sharing Meeting ini memegang peranan krusial sebagai wadah untuk bertukar pengetahuan serta meninjau praktik psikologi sehari-hari agar tetap berjalan beriringan dengan konteks riil dan value asli yang dianut oleh masyarakat Indonesia.

Melalui penyelenggaraan acara ini, Ruanita Indonesia berharap dapat terus memperluas jejaring pembelajaran inklusif antara akademisi, praktisi, dan masyarakat awam. Selain itu, luaran dari diskusi ini diharapkan mampu mendongkrak literasi global mengenai pentingnya sudut pandang budaya dalam intervensi serta praktik kesehatan mental di tanah air.

Simak selengkapnya di kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE ya mendukung kami.

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Berhasil Perkuat Kesiapan Profesional dan Interkultural Perawat Indonesia di Negara Berbahasa Jerman

Berlin, 28 Juni – Workshop online bertajuk “Praktik Nyata Perawat Indonesia di Eropa” sukses diselenggarakan dalam dua sesi pada Minggu, 28 Juni 2026 dan Minggu, 5 Juli 2026, pukul 10.00–12.00 CEST, melalui platform Zoom Meeting yang difasilitasi oleh Ruanita Indonesia. Kegiatan ini menghadirkan Henny Silalahi, dosen keperawatan di Jerman, sebagai pemateri utama, dengan fokus pada penguatan kompetensi profesional, komunikasi klinis, serta kesiapan interkultural bagi perawat Indonesia yang bekerja atau akan berkarier di negara-negara berbahasa Jerman seperti Jerman, Swiss, dan Austria.

Workshop ini terbuka bagi perawat Indonesia dari berbagai jalur karier, termasuk mereka yang sedang mempersiapkan keberangkatan ke Jerman untuk meniti profesi keperawatan. Dengan pendekatan berbasis bukti (evidence-based insight), simulasi kasus nyata, dan refleksi pengalaman peserta, kegiatan ini dirancang untuk menjawab tantangan riil yang dihadapi perawat migran Indonesia di Eropa.

Selama ini, dunia keperawatan antarbudaya lebih banyak menekankan sisi administrasi dan kompetensi bahasa asing saja, padahal praktik nyata lebih daripada itu. Workshop daring ini menjawab kebutuhan komunikasi dan kompetensi yang masih ada gap di antara perawat-perawat di negara berbahasa Jerman.

Pada sesi pertama, workshop dibuka secara resmi oleh Deputy Chief of Mission (DCM) KBRI Berlin, Bapak Fajar Wirawan Harijo. Bapak Fajar Wirawan Harijo mengapresi ruang-ruang digital yang dibangun oleh Ruanita Indonesia untuk menyediakan ruang belajar sesama orang Indonesia, seperti workshop daring keperawatan antarbudaya. Ia menilai program ini bisa terus dilanjutkan di kemudian hari untuk membantu para perawat Indonesia beradaptasi dengan situasi negara tujuan, seperti Jerman.

Di hari pertama, peserta mendalami tema Intercultural Nursing Practice (Indonesia vs Jerman) yang membahas perbedaan budaya kerja, pola komunikasi, otonomi pasien, serta tanggung jawab hukum perawat di sistem kesehatan Jerman. Diskusi berkembang pada dinamika hubungan profesional antara tenaga kesehatan, termasuk bagaimana gaya komunikasi langsung dalam budaya Jerman dapat dipersepsikan berbeda oleh tenaga kesehatan asal Indonesia.

Sesi kedua mengangkat topik Clinical Communication & Workplace Survival, yang menitikberatkan pada keterampilan komunikasi efektif di lingkungan klinis, termasuk penggunaan metode SBAR, interaksi dengan pasien lansia, hingga strategi menghadapi konflik komunikasi dalam tim interprofesional. Peserta juga mengikuti simulasi handover dan latihan kalimat klinis yang relevan untuk konteks rumah sakit di Jerman.

Setiap sesi dirancang selama dua jam dengan struktur pembelajaran 20 persen konsep inti, 50 persen studi kasus dan simulasi, serta 30 persen diskusi dan refleksi pengalaman. Model ini memungkinkan peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga memperoleh alat praktis yang dapat diterapkan langsung di tempat kerja.

Sebagai luaran, peserta memperoleh berbagai perangkat pendukung seperti checklist adaptasi budaya klinis, template komunikasi praktis, serta kumpulan frasa kunci yang umum digunakan dalam pelayanan kesehatan di Jerman.

Anna Knöbl, Founder Ruanita Indonesia, yang turut mengoordinasikan jalannya kegiatan, menegaskan bahwa workshop ini lahir dari kebutuhan nyata komunitas perawat Indonesia di Eropa.

“Perawat Indonesia di negara-negara berbahasa Jerman membutuhkan ruang belajar yang tidak hanya membahas teori, tetapi juga praktik nyata di lapangan. Workshop ini menjadi jembatan untuk memperkuat kesiapan profesional, adaptasi budaya, dan strategi karier yang realistis bagi mereka,” ujar Founder Ruanita Indonesia, Anna Knöbl yang tinggal di Jerman. Lebih lanjut Anna menekankan pentingnya kolaborasi lintas budaya dalam membangun ekosistem pendukung bagi tenaga kesehatan migran.

“Kami ingin menghadirkan forum yang relevan dan berdampak langsung. Tantangan terbesar bukan hanya bahasa, tetapi bagaimana memahami sistem kerja, komunikasi profesional, dan budaya klinis yang berbeda. Inilah kompetensi yang perlu dipersiapkan sejak awal,” jelas Anna Knöbl sekali lagi. Melalui workshop ini, diharapkan peserta menjadi lebih siap menghadapi culture shock, mampu berkomunikasi lebih efektif di rumah sakit, serta memiliki strategi karier yang lebih terarah di negara-negara berbahasa Jerman.

Keberhasilan penyelenggaraan program ini menandai semakin pentingnya ruang pengembangan kapasitas bagi tenaga kesehatan Indonesia di ranah global, sekaligus membuka peluang untuk penyelenggaraan program lanjutan yang lebih spesifik sesuai kebutuhan komunitas profesional Indonesia di Eropa.

(SIARAN BERITA) Seminar Daring “Youth Diplomacy and Digital Literacy” Berlangsung Interaktif dan Inspiratif yang Berdampak Inklusif

Sabtu, 23 Mei 2026 — Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan Seminar Online bertajuk “Youth Diplomacy and Digital Empowerment” melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan yang berlangsung selama dua jam ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang yang antusias mempelajari diplomasi praktis dan pemanfaatan media digital untuk gerakan sosial.

Seminar daring ini diselenggarakan sebagai ruang belajar interaktif bagi generasi muda dan komunitas untuk memahami pentingnya diplomasi dalam pembangunan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kemampuan literasi digital dalam memperkuat advokasi sosial.

Acara dibuka dengan salam pembuka dari Aurelia Vinton, PPI Amerop, yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas komunitas dan pemanfaatan teknologi digital untuk menciptakan dampak sosial yang lebih luas dan berkelanjutan. Harapannya, ruang-ruang digital seperti ini akan memperkaya pengetahuan dan pengalaman terkait tema-teman pembangunan sosial yang inklusif dan berkelanjutan, seperti yang baru saja dilaksanakan.

Pada sesi pertama, Hernita Oktarini, Relawan Ruanita Indonesia sekaligus lulusan Development Studies di Jerman dan peneliti independen isu pesisir serta sustainability, membawakan materi mengenai konsep diplomasi dalam pembangunan berkelanjutan. Hernita menjelaskan bagaimana individu dan komunitas dapat berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), termasuk melalui kolaborasi internasional dan penguatan isu masyarakat pesisir serta nelayan.

Peserta juga diajak memahami tantangan dan peluang dalam membangun kemitraan global untuk mendukung komunitas lokal. Diskusi berlangsung aktif dengan berbagai pertanyaan terkait strategi membangun jejaring internasional dan praktik diplomasi di tingkat komunitas. Sesi kedua menghadirkan Veronica Christamia, dosen di Tiongkok sekaligus founder Komunitas Netra dan Nasi Bungkus Gratis Jogja. Veronica membagikan pengalaman mengenai pentingnya literasi digital untuk gerakan sosial dan strategi membangun narasi yang impactful di media sosial.

Follow us

Dalam paparannya, Veronica menjelaskan berbagai pendekatan sederhana namun efektif dalam membuat konten advokasi, mulai dari storytelling, reels, hingga kampanye digital berbasis komunitas. Peserta juga mendapatkan wawasan mengenai penggunaan platform digital untuk memperluas awareness terhadap isu sosial. Salah satu bagian yang paling menarik dalam workshop ini adalah sesi mini workshop, di mana peserta diminta menyusun konsep kampanye sosial berbasis digital. Peserta merancang ide kampanye dengan menentukan isu yang diangkat, target audiens, strategi kolaborasi, platform digital yang digunakan, hingga contoh caption dan ide konten kampanye.

Melalui praktik tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga pengalaman langsung dalam merancang kampanye sosial yang relevan dan aplikatif. Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi, foto bersama, serta harapan agar workshop ini dapat menjadi awal lahirnya berbagai ide kolaborasi dan gerakan sosial yang lebih kreatif, inklusif, dan berdampak positif bagi masyarakat.

Ruanita Indonesia berharap kegiatan ini dapat terus mendorong generasi muda untuk aktif membangun perubahan sosial melalui diplomasi, kolaborasi, dan pemanfaatan teknologi digital secara bijak dan berkelanjutan. Lebih lanjut, rekaman pemaparan materi dapat disimak melalui kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita berikut:

(SIARAN BERITA) Perawat Indonesia Berbagi Pengalaman dan Praktik Baik di Tingkat Global

Banjarbaru, Kalimantan Selatan – Dalam rangka memperingati Hari Perawat Sedunia (International Nurses Day), Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia berkolaborasi dengan Institut Kesehatan Suaka Insan menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Global Nurse Migration: Opportunity, Protection, and Ethics” atau “Perawat Indonesia di Panggung Global: Pengalaman, Etika, dan Kesehatan Mental.”

Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 16 Mei 2026 ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa keperawatan, tenaga kesehatan, hingga masyarakat umum. Acara dibuka oleh Ketua DPK PPNI Rumah Sakit Suaka Insan, Sutikno Ners., M.Kes.; Rektor IKES Suaka Insan, Sr. Imelda Ingir, PhD; Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia, Sesilia Susi.

Diskusi ini menghadirkan para perawat Indonesia yang telah berkarier di berbagai negara, seperti Denmark, Amerika Serikat, dan Uni Emirat Arab, serta akademisi keperawatan di Taiwan. Para narasumber berbagi pengalaman langsung terkait praktik kerja di luar negeri, tantangan adaptasi, hingga pembelajaran yang mereka dapatkan selama berkarier secara global.

Dalam diskusi ini, dibahas bagaimana kebutuhan tenaga perawat dunia yang terus meningkat membuka peluang besar bagi perawat Indonesia. Dengan jumlah tenaga keperawatan yang cukup besar, Indonesia memiliki potensi strategis untuk berkontribusi di tingkat global.

Follow us

Namun demikian, para pembicara menekankan bahwa migrasi perawat tidak hanya berbicara tentang peluang ekonomi, tetapi juga kesiapan kompetensi, pemahaman etika, serta perlindungan hukum. Peserta diajak untuk melihat migrasi sebagai bagian dari pertukaran pengetahuan, di mana pengalaman internasional dapat menjadi bekal untuk memperkuat sistem kesehatan di Indonesia.

Selain peluang karier, isu perlindungan dan etika menjadi sorotan utama dalam diskusi. Para narasumber mengangkat berbagai tantangan yang sering dihadapi perawat di luar negeri, seperti perbedaan budaya kerja, hambatan komunikasi, hingga tekanan psikologis.

Kesehatan mental perawat menjadi topik penting yang dibahas secara terbuka. Para pembicara membagikan pengalaman dalam menghadapi culture shock, beban kerja, serta cara menjaga keseimbangan emosional di lingkungan kerja yang baru. Diskusi ini juga menekankan pentingnya dukungan sistem, baik dari institusi pendidikan, organisasi profesi, maupun lingkungan kerja, untuk membantu perawat tetap sehat secara mental dan profesional.

Kegiatan ini dikemas dalam bentuk pemaparan materi, sharing pengalaman, serta sesi tanya jawab interaktif yang berlangsung aktif. Peserta tidak hanya mendapatkan wawasan baru, tetapi juga kesempatan untuk berdialog langsung dengan para narasumber. Selain itu, kegiatan ini turut menjadi ruang untuk memperkuat jejaring antarperawat dan calon tenaga kesehatan, baik di dalam maupun luar negeri.

Melalui kegiatan ini, Anna Knöbl sebagai penyelenggara berharap para perawat Indonesia semakin siap menghadapi tantangan global dengan bekal kompetensi, pemahaman etika, serta ketahanan mental yang lebih baik. Diskusi ini menjadi pengingat bahwa perawat tidak hanya berperan dalam pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai bagian penting dari sistem kesehatan global yang terus berkembang.

Simak rekaman diskusi daring peringatan Hari Perawat Internasional di Kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(SIARAN BERITA) Workshop Daring Menulis PMI Perempuan: Dorong Suara Perempuan Migran Lewat Tulisan

Singapura, Mei 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Buruh Sedunia, Ruanita Indonesia dan komunitas FPMI di Singapura menyelenggarakan kegiatan Workshop Daring Menulis bertajuk “From Zero to Hero: Bersuara Lewat Tulisan untuk Pekerja Migran Indonesia (PMI) Perempuan”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 3, 10, dan 17 Mei 2026 secara daring melalui platform Zoom Meeting.

Workshop ini bertujuan untuk menyediakan ruang aman dan produktif bagi PMI perempuan untuk mendokumentasikan pengalaman hidup mereka di perantauan melalui tulisan, sekaligus memperkuat kapasitas literasi sebagai bagian dari upaya advokasi dan produksi pengetahuan berbasis pengalaman.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura, yang dihadiri oleh Maradona A Runtukahu, Koordinator Protokol dan Kekonsuleran, dan Komnas Perempuan sebagai lembaga nasional yang fokus pada perlindungan perempuan.

Dalam sesi pembukaan, perwakilan KBRI Singapura menyampaikan pentingnya peningkatan kapasitas dan ruang ekspresi bagi PMI, khususnya perempuan, sebagai bagian dari upaya penguatan perlindungan dan pemberdayaan. KBRI Singapura juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung program-program yang memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan dan perlindungan pekerja migran Indonesia di Singapura.

Sementara itu, Komnas Perempuan, yang diwakili oleh Komisioner Devi Rahayu, menyoroti pentingnya perspektif perlindungan berbasis gender dalam konteks migrasi tenaga kerja. Dalam paparannya, Komnas Perempuan menekankan bahwa pengalaman perempuan migran tidak hanya terkait aspek ekonomi, tetapi juga mencakup isu kerentanan, kekerasan berbasis gender, serta pentingnya akses terhadap keadilan dan perlindungan yang komprehensif.

Workshop ini menghadirkan pemateri pertama Dr. Nor Ismah, PostDoctoral Fellow di Asian Research Institute National University of Singapore (NUS) yang memberikan pelatihan teknis menulis dan storytelling berbasis pengalaman. Pemateri kedua adalah Anna Knöbl, PhD Student di Universität Passau, Germany yang menyampaikan pentingnya narasi dalam mendokumentasikan pengalaman hidup.

Melalui rangkaian workshop selama 3 kali pertemuan, peserta tidak hanya belajar menulis, tetapi juga akan mendapatkan pendampingan (mentoring) hingga menghasilkan karya tulisan yang akan dihimpun dalam sebuah buku bersama sebagai output akhir kegiatan. Program ini juga membuka ruang jejaring (networking) antar PMI perempuan, serta memberikan sertifikat elektronik bagi peserta.

Selain itu, kegiatan dimoderasi oleh Dewi Lubis, PMI di Singapura dan Founder komunitas penulis migran. Acara ini juga menghadirkan sesi diskusi, refleksi, dan mentoring penulisan yang diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun komunitas penulis PMI perempuan, sekaligus memperkuat suara dan narasi perempuan migran Indonesia di ruang publik.

(SIARAN BERITA) Peringati Hari Kartini, Diskusi Daring KBRI Dhaka Soroti Peran Perempuan di Masa Kini

Dhaka, 21 April – Dalam rangka memperingati Hari Kartini, diskusi daring bertajuk “Peran Perempuan pada Masa Kartini Modern: Menginspirasi Perempuan untuk Berkarya dan Berdaya” telah diselenggarakan pada Selasa (21/4/2026).

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia dan KBRI Dhaka, serta didukung oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Dhaka. Acara dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan diikuti oleh peserta dari berbagai negara.

Acara resmi dimoderasi oleh Pelaksana Fungsi Sosial dan Budaya KBRI Dhaka, Sahid Nurkarim, yang memberikan salam pembuka dan menyampaikan tujuan kegiatan serta pentingnya peran perempuan dalam berbagai sektor, termasuk diplomasi budaya.

Sambutan kehormatan disampaikan oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Bangladesh dan Nepal, Y.M. Ibu Listyowati. Dalam sambutannya, ia menegaskan komitmen KBRI Dhaka dalam mendukung peran perempuan sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia di kawasan Bangladesh dan Nepal.

Pengantar diskusi disampaikan oleh Ketua Dharma Wanita Persatuan KBRI Dhaka, Verra Fastriana, yang menyoroti kontribusi aktif DWP dalam berbagai kegiatan diplomasi budaya, khususnya yang melibatkan perempuan Indonesia di luar negeri.

Diskusi kemudian menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi. Dosen Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya, Maudy Noor Fadhlia, memaparkan peran perempuan dalam diplomasi budaya dari perspektif akademik, termasuk analisis kritis mengenai posisi perempuan dalam hubungan internasional.

Sementara itu, Ari Nursenja, pendiri Rumah BIPA Bandung sekaligus relawan Ruanita dan mahasiswa doktoral di Finlandia, membagikan pengalaman mengenai peran komunitas dan organisasi dalam memperkuat diplomasi berbasis perempuan.

Dari lapangan, dua relawan Ruanita turut berbagi pengalaman langsung. Risti Putri yang berdomisili di Nepal dan Eliawati di Bangladesh memaparkan praktik nyata keterlibatan perempuan dalam kegiatan sosial dan budaya yang berdampak pada penguatan hubungan masyarakat Indonesia dengan komunitas lokal.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh Sahid Nurkarim. Peserta aktif mengajukan pertanyaan yang kemudian dijawab oleh para narasumber, mencerminkan tingginya antusiasme terhadap isu pemberdayaan perempuan di ranah global.

Acara ditutup dengan kesimpulan yang menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam membangun diplomasi budaya, tidak hanya melalui institusi formal, tetapi juga melalui komunitas dan inisiatif individu. Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat Kartini terus hidup dalam bentuk nyata, yakni perempuan yang berdaya, berkarya, dan mampu memberikan kontribusi positif di tingkat nasional maupun internasional.

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Fasilitasi Workshop Online tentang Empati, Gender, dan Keadilan Sosial dalam Konteks Banda Neira

Jakarta, April 2026 – Ruanita Indonesia bersama Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Amerop telah menyelenggarakan workshop online bertajuk “The Forgotten Banda Neira: Women, Gender, Inclusivity & Social Justice in Island Community” pada Sabtu–Minggu, 18–19 April 2026 melalui platform Zoom.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan program pengabdian masyarakat ke Banda Neira, dengan fokus pada penguatan perspektif etika, kesadaran gender, serta keadilan sosial bagi peserta yang berasal dari berbagai negara studi.

Workshop difasilitasi oleh Fransisca Ariantiningsih, PhD student di Amerika Serikat dan aktivis lingkungan hidup; Zakiyatul Mufidah, PhD student di Inggris sekaligus dosen di Indonesia; serta fasilitator Ferdyani Atikaputri dan Anna Knöbl.

Selama dua hari pelaksanaan, workshop menghadirkan ruang diskusi yang mendorong peserta untuk memahami Banda Neira tidak hanya sebagai lokasi geografis atau destinasi sejarah, tetapi sebagai komunitas dengan kompleksitas sosial yang dipengaruhi oleh warisan kolonial, dinamika ekonomi, serta relasi gender.

Peserta diajak untuk merefleksikan berbagai pertanyaan kunci, antara lain:

  • Bagaimana cara berkunjung tanpa mengeksotisasi komunitas lokal?
  • Siapa yang diuntungkan dari narasi tentang Banda Neira?
  • Bagaimana sejarah kolonial masih memengaruhi kehidupan sosial saat ini?

Pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif, melalui diskusi kelompok, refleksi kritis, serta pemetaan gagasan secara kolektif.

Workshop juga menekankan pentingnya memahami isu gender dalam konteks yang lebih luas melalui pendekatan interseksionalitas, yang mempertimbangkan keterkaitan antara gender, kelas, geografi, dan akses terhadap sumber daya.

Dalam sesi diskusi, peserta mengeksplorasi konsep kerja tak terlihat (invisible labor), khususnya peran perempuan dalam menopang kehidupan sosial dan ekonomi yang sering tidak tercatat dalam narasi dominan.

Selain itu, peserta didorong untuk mengembangkan kesadaran terhadap posisi dan peran mereka sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas, serta potensi bias dalam praktik pengabdian masyarakat.

Salah satu fokus utama workshop adalah membangun kesadaran tentang etika representasi dan risiko eksotisasi dalam dokumentasi maupun narasi tentang komunitas.

Peserta diajak untuk membedakan antara empati dan pendekatan yang berpotensi memosisikan masyarakat sebagai objek, serta untuk menghindari narasi yang bersifat heroik atau paternalistik.

Sebagai bagian dari proses ini, peserta juga menyusun komitmen etis yang akan menjadi panduan dalam pelaksanaan kegiatan lapangan.

Sebagai tindak lanjut, peserta diharapkan membentuk kelompok kerja untuk mengembangkan karya kolektif, ssebagai medium yang etis dan tidak eksploitatif, sekaligus menjadi arsip pembelajaran kolektif peserta.

Komitmen terhadap Pembelajaran Kritis

Melalui workshop ini, Ruanita Indonesia menegaskan komitmennya dalam mendorong pendekatan pengabdian masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan lapangan, tetapi juga pada proses pembelajaran kritis, reflektif, dan berkelanjutan.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi peserta untuk menjalankan program pengabdian dengan kesadaran sosial yang lebih mendalam, serta membangun praktik yang lebih adil dan inklusif dalam berinteraksi dengan komunitas.

(SIARAN BERITA) Diskusi Hari Kesehatan Sedunia Soroti Peran Gigi dalam Tumbuh Kembang dan Penuaan

Den Haag, 11 April — Dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Sedunia 2026, Ruanita Indonesi kembali hadir menggelar diskusi daring yang berfokus pada kesehatan gigi. Tema acara yang diambil yakni: “Kupas Tuntas Kesehatan Gigi dari Balita ke Lansia” memberikan pemahaman yang mendalam perihal kesehatan gigi yang terabaikan. Diskusi daring yang hangat tentang kesehatan gigi dan mulut mengalir selama dua jam penuh, mempertemukan orang tua, caregiver, anggota komunitas lansia seperti ALZI Ned, hingga pemerhati kesehatan dalam satu ruang virtual.

Kegiatan ini menjadi refleksi bahwa kesehatan gigi dan mulut bukan sekadar urusan estetika, melainkan bagian tak terpisahkan dari kualitas hidup. Momentum Hari Kesehatan Sedunia dimanfaatkan untuk menyoroti isu yang kerap luput dari perhatian, padahal dampaknya terasa sejak usia dini hingga lanjut usia.

Diskusi dibuka oleh moderator, Dessy de Waal-Ekarini, tenaga kesehatan yang bermukim di Belanda. Dalam pengantarnya, ia mengajak peserta melihat kesehatan gigi sebagai investasi jangka panjang. “Perawatan gigi bukan hanya soal hari ini, tetapi tentang masa depan anak-anak kita dan kualitas hidup saat menua,” ujarnya, mengawali sesi dengan penuh semangat.

Sesi pertama menghadirkan Drg. Natalia Ekaputri dari Belanda yang mengupas kesehatan gigi anak-anak. Ia menekankan bahwa masalah gigi berlubang pada balita dan anak usia sekolah masih menjadi tantangan serius, termasuk di komunitas diaspora. Menurutnya, peran orang tua sangat krusial dalam membentuk kebiasaan sejak dini. Orang tua memerhatikan kebiasaan si kecil mulai dari membatasi konsumsi gula, membiasakan menyikat gigi dua kali sehari, hingga rutin memeriksakan gigi ke dokter.

Dengan gaya penyampaian yang komunikatif, ia menjelaskan bagaimana gangguan gigi dapat memengaruhi tumbuh kembang anak, konsentrasi belajar, bahkan kepercayaan diri. “Rasa sakit pada gigi bisa membuat anak sulit makan dan tidur. Dalam jangka panjang, ini memengaruhi nutrisi dan perkembangan mereka,” jelasnya. Para orang tua tampak antusias, terlihat dari deretan pertanyaan yang mulai memenuhi kolom chat bahkan sebelum sesi berakhir.

Memasuki sesi kedua, Drg. Asti Sutanto dari Belgia memperluas perspektif ke kelompok dewasa dan lansia. Ia mengingatkan bahwa masalah gigi tidak berhenti ketika seseorang beranjak dewasa. Penyakit gusi, kehilangan gigi, hingga infeksi mulut dapat berkaitan erat dengan penyakit kronis seperti diabetes dan gangguan jantung. Pada lansia, tantangannya semakin kompleks, terutama bagi mereka yang mengalami penurunan fungsi kognitif atau berisiko demensia.

Ia juga menyoroti pentingnya dukungan keluarga dan caregiver dalam merawat kesehatan mulut lansia, terutama yang memiliki keterbatasan fisik. “Kesehatan mulut memengaruhi kemampuan makan, berbicara, dan bersosialisasi. Pada lansia, ini sangat berhubungan dengan kualitas hidup,” paparnya.

Sesi tanya jawab menjadi bagian paling dinamis. Peserta dari komunitas parenting dan komunitas lansia seperti ALZI Ned aktif berbagi pengalaman, mulai dari anak yang sulit menyikat gigi hingga orang tua lanjut usia yang menolak memakai gigi tiruan. Diskusi berkembang menjadi ruang saling belajar, tidak hanya antara narasumber dan peserta, tetapi juga antarpeserta.

Beberapa peserta mengaku baru menyadari kaitan erat antara kesehatan gigi dan risiko penyakit sistemik. Ada pula yang terinspirasi untuk mulai menerapkan jadwal pemeriksaan rutin keluarga setelah mengikuti diskusi ini.

Kegiatan ditutup dengan rangkuman pesan kunci dari kedua pemateri bahwa pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Edukasi harus dimulai sejak dini serta berlanjut sepanjang hayat. Semangat kolaborasi lintas komunitas terasa kuat, membuka peluang kerja sama berkelanjutan dalam program promotif dan preventif di masa mendatang.

Dessy de Waal-Ekarini sebagai moderator menyatakan bahwa diskusi daring ini bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan pengingat bahwa senyum sehat adalah cerminan kepedulian terhadap diri sendiri dan orang-orang terkasih. Dari balita hingga lansia, kesehatan gigi dan mulut terbukti menjadi fondasi penting bagi hidup yang lebih berkualitas, yang selama ini masih kurang menjadi perhatian kesehatan secara keseluruhan.

Rekaman acara dapat disimak di kanal kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.