(KNOWLEDGE SHARING) Bagaimana Membangun Kesadaran Berisiko dalam Relasi?

Jakarta, 20 Juni 2026 – Ruanita Indonesia yang memfasilitasi grup profesi/akademisi/asosiasi orang Indonesia di mancanegara yang berlatarbelakang psikologi atau kesehatan mental hari ini menyelenggarakan kegiatan Knowledge Sharing bertajuk “Relational Risk Awareness: Pengambilan Keputusan, Batasan, dan Keamanan dalam Relasi; Online, Offline, Lokal, maupun Jarak Jauh” secara daring dengan menghadirkan Family and Marriage Counselor, Leya Trajanoska, sebagai narasumber utama. Sebagai informasi, Leya lulusan S1 Psikologi dan profesi Psikolog penjurusan klinis Anak dan Remaja, Leya kemudian melanjutkan studi S2 Psikologi di Kanada dengan penjurusan Family and Marriage.

Kegiatan ini hadir sebagai respons terhadap semakin kompleksnya dinamika relasi interpersonal yang dihadapi orang Indonesia dewasa muda, baik yang tinggal di Indonesia maupun di luar negeri. Relasi saat ini dapat dimulai melalui berbagai jalur, mulai dari lingkungan kerja, komunitas, keluarga, hingga platform digital dan hubungan jarak jauh lintas negara. Di balik peluang membangun hubungan yang bermakna, terdapat pula risiko manipulasi emosional, penipuan, hingga eksploitasi personal maupun finansial yang semakin sering terjadi.

Melalui pendekatan berbasis bukti yang mengintegrasikan psikologi klinis, neuroscience pengambilan keputusan, dan literatur tentang manipulasi interpersonal, kegiatan ini dirancang sebagai ruang psikoedukasi yang netral, inklusif, dan tidak menghakimi. Fokus utama kegiatan bukan pada bentuk relasi tertentu, melainkan pada keterampilan universal yang dibutuhkan untuk membangun hubungan secara sadar, aman, dan sehat.

Dalam sesi ini, peserta akan mempelajari bagaimana keterlibatan emosional memengaruhi proses pengambilan keputusan, mengenali pola manipulasi seperti love bombing, urgency pressure, dan inkonsistensi perilaku, hingga memahami berbagai bentuk penipuan relasional seperti romance scam, sextortion, dan investment fraud yang dapat terjadi dalam konteks online maupun offline. Sebelum dimulai, peserta diwajibkan untuk mengisi lembar elektronik sebagai assesment kebutuhan pemateri.

Selain itu, peserta juga akan mendapatkan kerangka praktis untuk menilai relasi sehat dan tidak sehat, memahami pentingnya batasan dalam hubungan interpersonal, serta strategi pengambilan keputusan yang lebih sadar dan aman. Kegiatan akan diselenggarakan secara daring dengan format psikoedukasi interaktif, studi kasus aplikatif, diskusi kelompok kecil, dan sesi tanya jawab terstruktur. Sasaran kegiatan adalah orang Indonesia dewasa berusia 23 tahun ke atas, termasuk profesional muda, pekerja, mahasiswa pascasarjana, dan masyarakat umum yang sedang berada pada tahap kehidupan di mana keputusan relasional jangka panjang menjadi relevan.

Menurut Anna Knöbl, panitia penyelenggara, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang belajar yang aman dan reflektif bagi peserta untuk memahami dinamika relasi interpersonal secara lebih sadar di tengah perkembangan relasi modern yang semakin kompleks dan lintas konteks budaya maupun geografis.

“Relasi yang sehat tidak hanya dibangun atas dasar ketertarikan emosional, tetapi juga membutuhkan kesadaran, kemampuan mengenali risiko, serta keterampilan menetapkan batasan yang aman,” ujar Anna, selaku penyelenggara.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan memiliki kerangka berpikir yang lebih jernih untuk menilai pola dalam relasi, mengenali tanda manipulasi sejak dini, mengambil keputusan dengan lebih sadar, serta memperoleh pengetahuan aplikatif yang relevan untuk jangka panjang. Untuk informasi lebih lanjut mengenai jadwal pelaksanaan dan pendaftaran, masyarakat dapat mengikuti informasi resmi melalui kanal media sosial dan platform Ruanita Indonesia.

(SIARAN BERITA) Trauma Masa Kecil: Mengenali, Memahami, dan Menyikapi dengan Sehat

Jakarta, 31 Mei – Kegiatan psikoedukasi bertajuk “Trauma Masa Kecil: Mengenali, Memahami, dan Menyikapi dengan Sehat” telah sukses dilaksanakan secara daring melalui Zoom dengan melibatkan pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri dan masyarakat Indonesia lainnya. Kegiatan ini menjadi wadah edukatif sekaligus reflektif dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya memahami dampak pengalaman masa kecil terhadap kehidupan dewasa.

Selama dua jam pelaksanaan, peserta memperoleh pemaparan mengenai konsep trauma masa kecil, bentuk-bentuknya, serta bagaimana pengalaman tersebut dapat memengaruhi relasi interpersonal, regulasi emosi, hingga cara individu menghadapi tantangan akademik maupun sosial. Materi disampaikan secara komprehensif dengan pendekatan yang sensitif dan berbasis ilmu psikologi.

Salah satu hal yang menonjol dari kegiatan ini adalah terjadinya interaksi yang hangat dan bermakna antara pemateri dan peserta. Dalam sesi diskusi, peserta secara aktif membagikan pengalaman, pertanyaan, serta refleksi pribadi terkait dinamika trauma yang mereka rasakan atau sadari dalam kehidupan sehari-hari. Interaksi ini memperlihatkan besarnya kebutuhan akan ruang dialog yang aman, suportif, dan bebas stigma.

Kegiatan difasilitasi oleh Lovely Christi Zega, Psikologi Klinis di Jerman, dan berharap ini tidak hanya menjadi forum pembelajaran, tetapi juga menghadirkan safe space yang mendorong peserta untuk lebih bijak dalam memandang pengalaman masa lalu. Peserta diajak memahami bahwa mengenali respons emosional diri merupakan langkah awal yang penting, sekaligus menyadari bahwa proses pemulihan membutuhkan pendekatan yang tepat dan tidak selalu dapat dijalani sendiri.

Follow us

Melalui sesi ini, peserta juga didorong untuk mengambil langkah profesional dalam memahami status situasi pengalamannya terkait trauma. Kesadaran untuk mencari bantuan dari tenaga kesehatan mental yang kompeten ditegaskan sebagai bentuk keberanian dan tanggung jawab terhadap diri sendiri, bukan sebagai tanda kelemahan.

Dengan terlaksananya kegiatan ini, diharapkan semakin banyak pelajar Indonesia di luar negeri yang memiliki pemahaman lebih baik mengenai kesehatan mental, serta berani membangun langkah-langkah sehat dalam menghadapi pengalaman emosional yang kompleks. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa proses mengenali luka masa lalu bukan untuk terjebak di dalamnya, melainkan sebagai jalan menuju pertumbuhan yang lebih sehat, sadar, dan berdaya.

Sebagai catatan penting, tujuan dari Psikoedukasi online ini sebagai bagian dari program Knowledge Sharing yang diinisiasi Anna Knöbl. Yakni program untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari para praktisi kesehatan mental Indonesia di berbagai negara, dengan menghadirkan ruang aman untuk mempromosikan kesehatan mental yang inklusif dan selaras dengan nilai-nilai Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

Bila Anda memerlukan materi tertulis sebagai rangkuman acara ini, silakan mengisi permohonan formulir elektronik materi informasi, sebagaimana Link yang ditautkan. Setelah mengisi formulir elektronik tersebut, kirimkan email permohonan ke info@ruanita.com ya.

(KNOWLEDGE SHARING) Lelah Tapi Nggak Bisa Berhenti: Saatnya Kita Belajar Mendengar Diri Sendiri

Hannover, 26 April – Di balik layar-layar laptop yang menyala pada Minggu pagi, 26 April 2026, puluhan peserta dari berbagai latar belakang berkumpul dalam satu ruang virtual. Bukan sekadar untuk belajar, tetapi untuk berhenti sejenak. Ini adalah sesuatu yang selama ini terasa sulit dilakukan. Melalui program knowledge sharing yang diinisiasi oleh Ruanita Indonesia, sesi bertajuk “Lelah Tapi Nggak Bisa Berhenti” menjadi ruang refleksi yang hangat sekaligus membuka mata.

Selama dua jam di Zoom, peserta diajak menyelami satu pertanyaan sederhana namun sering diabaikan: kenapa kita tetap berjalan, bahkan saat sudah sangat lelah? Sinyal bahwa ada kebutuhan yang belum terpenuhi. Sinyal bahwa ada batas yang mungkin sudah lama terlewati.

Bagi banyak orang, lelah bukan sekadar kondisi fisik. Kelelahan hadir sebagai akumulasi dari peran yang terus bertambah, sebagai pekerja, anak, pasangan, teman, sekaligus individu dengan mimpi pribadi. Namun alih-alih berhenti, banyak justru terus melangkah.

Dalam sesi ini, Bayu Prihandito mengajak peserta melihat lelah dari sudut pandang berbeda. “Lelah bukan kelemahan,” ujarnya, “melainkan sinyal.”

Diskusi kemudian mengalir ke pola-pola internal yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat memengaruhi perilaku sehari-hari. Mulai dari kebiasaan people-pleasing, rasa tidak enak untuk berkata “tidak”, hingga dorongan untuk selalu memberi lebih, bahkan saat diri sendiri kosong.

Beberapa peserta berbagi pengalaman. Ada yang merasa bersalah saat beristirahat, ada pula yang baru menyadari bahwa kelelahan yang dialami bukan semata karena pekerjaan, tetapi karena sulit menetapkan batasan.

Di titik ini, sesi berubah menjadi ruang yang sangat personal. Bukan hanya mendengar, tetapi juga merasa dipahami. Diskusi kemudian mengalir ke pola-pola internal yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat memengaruhi perilaku sehari-hari. Mulai dari kebiasaan people-pleasing, rasa tidak enak untuk berkata “tidak”, hingga dorongan untuk selalu memberi lebih, bahkan saat diri sendiri kosong.

Beberapa peserta berbagi pengalaman. Ada yang merasa bersalah saat beristirahat, ada pula yang baru menyadari bahwa kelelahan yang dialami bukan semata karena pekerjaan, tetapi karena sulit menetapkan batasan. Di titik ini, sesi berubah menjadi ruang yang sangat personal. Bukan hanya mendengar, tetapi juga merasa dipahami.

Peserta juga diperkenalkan pada cara-cara praktis untuk mulai menetapkan batasan. Mulai dari komunikasi asertif hingga mengenali tanda-tanda awal kelelahan emosional sebelum menjadi burnout. Program ini tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga ruang aman untuk berbagi. Tawa kecil, anggukan setuju, hingga cerita yang nyaris serupa menciptakan rasa kebersamaan yang kuat.

Di akhir sesi, banyak peserta tidak hanya membawa pulang pemahaman baru, tetapi juga kesadaran bahwa mereka tidak sendiri.

Sebagai catatan penting, tujuan dari program Knowledge Sharing adalah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari para praktisi kesehatan mental Indonesia di berbagai negara, dengan menghadirkan ruang aman untuk mempromosikan kesehatan mental yang inklusif dan selaras dengan nilai-nilai Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

(KNOWLEDGE SHARING) Mengenal Teknik Kesadaran dalam Kehidupan Sehari-hari Melalui ReAttach Method

Dublin, 14 Maret – Peringatan Hari Perempuan Internasional menjadi momentum penting bagi Ruanita Indonesia untuk menyelenggarakan berbagai ruang digital untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman perempuan. Salah satunya, melalui komunitas praktisi kesehatan mental Indonesia di mancanegara, Ruanita menggelar program Knowledge Sharing yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting.

Kegiatan yang berlangsung hangat dan interaktif ini diikuti oleh para peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari praktisi kesehatan mental, pekerja sosial, hingga individu yang memiliki minat pada isu kesehatan mental dan pengembangan diri. Dalam paparannya, Mystica Rosa menyoroti pentingnya memahami kesehatan mental secara holistik, tidak hanya sebagai persoalan psikologis individu, tetapi juga sebagai pengalaman yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial, budaya, dan dinamika kehidupan modern.

Salah satu materi penting yang disampaikan dalam sesi ini adalah mengenai pendekatan multidisipliner dalam intervensi ReAttach. Dalam presentasinya dijelaskan bahwa intervensi ReAttach bertujuan untuk mengoptimalkan proses pengolahan informasi (information processing) serta mendukung perkembangan individu secara menyeluruh. Pendekatan ini menekankan bahwa proses pemulihan psikologis sering kali bersifat kompleks sehingga membutuhkan strategi terapi yang tidak hanya berfokus pada satu aspek saja.

Melalui pendekatan multidisipliner tersebut, seorang terapis diharapkan mampu menjalankan beberapa fungsi sekaligus dalam proses terapi. Hal ini meliputi kemampuan untuk mengatur tingkat arousal atau aktivasi emosi klien, mengaktifkan berbagai proses sensorik, melatih keterampilan kognitif sosial, serta membantu penyesuaian pola pikir kognitif yang lebih adaptif. Pendekatan ini bertujuan membantu individu memproses pengalaman secara lebih terstruktur sehingga mendukung keseimbangan emosi, perilaku, dan cara berpikir.

Materi ini juga memberikan gambaran bagaimana pendekatan terapi modern semakin mengintegrasikan aspek neurologis, psikologis, dan sosial dalam proses intervensi. Mystica Rosa menekankan bahwa pendekatan seperti ReAttach menunjukkan pentingnya fleksibilitas dan kreativitas terapis dalam membantu klien mengembangkan kapasitas diri, terutama dalam menghadapi tekanan hidup yang semakin kompleks di era global saat ini.

Selain pemaparan materi, sesi ini juga memberikan ruang diskusi yang aktif. Para peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertukar pengalaman, mengajukan pertanyaan, serta merefleksikan tantangan yang sering dihadapi dalam praktik kesehatan mental, khususnya bagi komunitas Indonesia yang tinggal di luar negeri. Diskusi ini memperlihatkan bahwa kebutuhan akan ruang dialog yang aman dan suportif semakin relevan di tengah kompleksitas kehidupan global saat ini.

Atmosfer pertemuan berlangsung hangat dan reflektif. Banyak peserta mengungkapkan bahwa kegiatan ini tidak hanya memberikan wawasan profesional, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan antarpraktisi dan orang Indonesia yang memiliki perhatian pada isu kesehatan mental.

Sebagai catatan penting, tujuan dari program Knowledge Sharing adalah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari para praktisi kesehatan mental Indonesia di berbagai negara, dengan menghadirkan ruang aman untuk mempromosikan kesehatan mental yang inklusif dan selaras dengan nilai-nilai Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

(KNOWLWDGE SHARING) Memahami Keberagaman Cara Kerja Otak

Frankfurt, 14 Februari – Ruanita Indonesia menyelenggarakan sesi Knowledge Sharing bertajuk “Neurodiversitas: Memahami Keberagaman Cara Kerja Otak”, sebuah ruang belajar daring yang mengajak peserta untuk melihat keberagaman neurologis secara lebih inklusif, empatik, dan membumi. Kegiatan ini diselenggarakan pada Sabtu, 14 Februari 2026, pukul 10.00 CET, melalui Zoom Meeting dengan durasi 120 menit.

Sesi ini menghadirkan Lovely Christi Zega, Psikolog Klinis yang berbasis di Jerman, sebagai pemateri. Dengan pendekatan psikoedukasi dan knowledge sharing yang bersifat non-layanan terapi, sesi ini dirancang untuk memperluas pemahaman dasar tentang neurodiversitas, mengurangi stigma terhadap individu neurodivergen, serta mengajak peserta merefleksikan peran diri dalam menciptakan ruang yang lebih ramah dan aman, baik di keluarga, kampus, maupun lingkungan kerja.

Acara diawali dengan pembukaan yang menekankan penciptaan ruang aman, penyamaan ekspektasi, serta penegasan bahwa sesi ini tidak bertujuan untuk diagnosis dan terapi individual.

Pengantar mengenai konsep neurodiversitas kemudian disampaikan, mencakup asal-usul istilah, perbedaannya dengan diagnosis medis, serta pengenalan istilah neurodivergen dan neurotipikal. Peserta diajak memahami mengapa pembahasan neurodiversitas menjadi semakin relevan dalam konteks kehidupan hari ini.

Dalam sesi berikutnya, pemateri mengulas ragam neurodiversitas yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti autisme, ADHD, Asperger, disleksia, serta variasi neurologis lainnya. Pembahasan difokuskan pada kekuatan dan tantangan yang kerap muncul, sekaligus membongkar mitos yang masih melekat di masyarakat. Penekanan diberikan bahwa materi ini tidak ditujukan untuk self-diagnosis dan pelabelan.

Sesi refleksi interaktif menjadi ruang penting bagi peserta untuk berhenti sejenak dan meninjau kembali cara pandang personal dan sosial. Melalui pertanyaan reflektif yang bersifat opsional dan tanpa kewajiban berbagi, peserta diajak bertanya pada diri sendiri, seperti tentang apa yang selama ini dianggap “tidak biasa”, serta sejauh mana lingkungan yang mereka alami sudah cukup ramah bagi keberagaman cara berpikir.

Diskusi kemudian diperluas ke konteks Indonesia dan lintas budaya. Tantangan yang dihadapi individu neurodivergen dalam budaya kolektivistik, ekspektasi keluarga dan pendidikan, hingga pengalaman tinggal, belajar, atau bekerja di luar negeri dibahas dengan menekankan pentingnya sensitivitas budaya. Dari sini, peserta diajak melihat bahwa inklusivitas tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial yang melingkupinya.

Pada bagian praktis, sesi ini mengajak peserta untuk merefleksikan langkah-langkah sederhana namun berdampak dalam membangun sikap yang lebih inklusif. Mulai dari cara berkomunikasi, menjadi rekan atau anggota keluarga yang suportif, hingga memahami batas empati, dan bagaimana membantu tanpa memaksakan. Fokus tetap diarahkan pada sikap dan perilaku sehari-hari, bukan intervensi klinis.

Sesi tanya jawab berlangsung dengan panduan yang jelas untuk menjaga keamanan psikologis bersama. Pertanyaan difokuskan pada pemahaman dan sikap, tanpa membahas kasus personal secara mendetail atau meminta diagnosis. Acara ditutup dengan rangkuman poin kunci dan pesan reflektif dari pemateri, sebagai ajakan untuk terus belajar dan bertumbuh bersama.

Sebagai catatan penting, tujuan dari program Knowledge Sharing adalah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari para praktisi kesehatan mental Indonesia di berbagai negara, dengan menghadirkan ruang aman untuk mempromosikan kesehatan mental yang inklusif dan selaras dengan nilai-nilai Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

(SIARAN BERITA) Winter Depression: Tantangan Mental Pelajar Indonesia di Negara Bersalju

Jakarta, 31 Januari – Bagi banyak pelajar Indonesia yang menempuh studi di luar negeri, hidup di negara dengan empat musim bukan sekadar menyesuaikan diri dengan cuaca yang dingin atau salju yang menumpuk. Ada tantangan yang lebih halus, tetapi berdampak signifikan terhadap keseharian mereka: Winter Depression atau yang juga dikenal sebagai Seasonal Affective Disorder (SAD).

Kondisi ini muncul akibat berkurangnya paparan cahaya matahari, perubahan ritme biologis tubuh, hingga tekanan adaptasi sosial dan budaya. Gejalanya bisa muncul dalam bentuk perasaan sedih yang berkepanjangan, penurunan energi, gangguan tidur, hingga kesulitan berkonsentrasi. Sayangnya, kurangnya pemahaman tentang Winter Depression kerap membuat pelajar terlambat mendapatkan penanganan, yang akhirnya memengaruhi kesehatan mental, performa akademik, dan kualitas hidup mereka.

Menyadari hal ini, Ruanita menggandeng Kesmenesia berkolaborasi dengan PPI Dunia untuk menyelenggarakan psikoedukasi daring bertajuk “Winter Depression: Kenali, Pahami, dan Hadapi dengan Lebih Sehat”. Acara ini dijadwalkan pada Sabtu, 31 Januari 2026, pukul 10.00 CET atau 16.00 WIB, melalui Zoom Meeting, dan terbuka untuk pelajar Indonesia baik di luar negeri maupun di dalam negeri, serta pengurus dan anggota PPI.

Acara akan diawali oleh salam pembuka dan pengantar dari Ashlee Quissa, anggota PPI Dunia di Malaysia, yang memperkenalkan tujuan dan alur kegiatan. Selanjutnya, Aulia Farsi, pemateri ahli dalam bidang kesehatan mental, akan membimbing peserta untuk memahami Winter Depression secara mendalam. Mulai dari definisi, perbedaan dengan depresi biasa, hingga gejala emosional, fisik, dan perilaku yang dapat memengaruhi kehidupan akademik dan sosial pelajar.

Lebih dari sekadar teori, sesi ini juga membahas faktor risiko yang spesifik dialami pelajar Indonesia, seperti adaptasi budaya, homesickness, tekanan akademik, serta minimnya paparan sinar matahari di negara empat musim. Peserta akan diajak mengeksplorasi strategi koping praktis, termasuk perubahan gaya hidup, pentingnya dukungan sosial, hingga kapan dan bagaimana mencari bantuan profesional.

Tak ketinggalan, sesi tanya jawab interaktif memberi ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman dan mengajukan pertanyaan baik secara tertulis di kolom Chat maupun formulir elektronik yang disediakan oleh Ruanita Indonesia sejak pendaftaran.

Menurut Aulia Farsi, tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan pemahaman yang kontekstual dan relevan bagi pelajar Indonesia. “Kami ingin mereka tidak hanya mengenali gejala, tetapi juga siap menghadapi Winter Depression dengan strategi yang nyata dan dukungan yang memadai,” ujarnya.

Melalui kolaborasi ini, Ruanita bersama Kesmenesia dan PPI Dunia berharap pelajar Indonesia dapat lebih sadar akan tantangan kesehatan mental yang mungkin muncul selama studi di luar negeri dan mampu menjaga kesejahteraan mereka secara lebih efektif.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

(KNOWLEDGE SHARING) Dongeng Sebagai Ruang Bermain Imajinasi

Melbourne, 10 Januari – Ruanita Indonesia menggelar program Knowledge Sharing secara daring pada Sabtu, 10 Januari 2026, pukul 16.00–18.00 WIB, dengan materi pertama bertajuk “Dongeng dan Bermain Imajinasi”.

Sesi ini mengangkat peran dongeng dari perspektif keilmuan, budaya, serta praktik kreatif untuk mendukung perkembangan imajinasi dan kesejahteraan psikologis.

Materi dibuka dengan penjelasan mengenai apa itu dongeng dan bagaimana dongeng memiliki manfaat keilmuan bagi perkembangan kognitif, emosional, dan sosial.

Peserta diajak melihat bagaimana cerita lisan dapat menjadi medium untuk pemaknaan nilai, pengolahan emosi, serta penyusunan skenario mental dalam kehidupan sehari-hari.

Pemateri kemudian menguraikan dongeng sebagai ruang bermain imajinasi, termasuk bagaimana imajinasi mendukung fleksibilitas berpikir, kemampuan problem-solving, dan pemahaman sosial.

Pada bagian ini diperkenalkan pula pendekatan Conceptual PlayWorld (CPW) yang mengintegrasikan permainan, imajinasi, dan pembentukan konsep dalam pengalaman belajar.

Sesi diperkuat dengan penjelasan tentang mendongeng sebagai seni dan praktik kultural, mencakup:

  • dasar-dasar mendongeng
  • seni menyampaikan cerita secara lisan
  • menghidupkan tokoh dan emosi
  • menyampaikan pesan moral
  • relevansi dalam budaya Indonesia

Andri, Founder Indolanan, turut menyampaikan pemaparan mengenai mendongeng dari perspektif praktik, termasuk penggunaan media permainan, relasi dengan dunia imajinatif, serta nilai-nilai yang dapat diinternalisasi melalui narasi. Materi juga mengaitkan konsep dari The Fleer’s untuk memahami bagaimana dunia cerita dapat menjadi wadah belajar dan eksplorasi.

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab serta praktik mendongeng bersama peserta, yang menghadirkan pengalaman langsung mengenai bagaimana teknik mendongeng dapat digunakan sebagai alat kreativitas, koneksi emosional, serta peningkatan rasa percaya diri. Sesi berlangsung selama dua jam dengan suasana hangat, inklusif, dan partisipatif.

Sebagai catatan penting, tujuan dari program Knowledge Sharing adalah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari para praktisi kesehatan mental Indonesia di berbagai negara, dengan menghadirkan ruang aman untuk mempromosikan kesehatan mental yang inklusif dan selaras dengan nilai-nilai Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.