(CERITA SAHABAT) Pengalaman Digigit Anjing di India: Antara Takut dan Cemas pada Rabies

Halo, Sahabat Ruanita! Perkenalkan namaku D, perempuan asal Jawa Timur yang sudah hampir sembilan tahun tinggal di India. Aku menikah dengan pria India dan saat ini bekerja sebagai pengajar di salah satu sekolah swasta di sana. Selama tinggal di negeri orang, tentu banyak pengalaman yang aku alami. Namun, ada dua kejadian di tahun 2026 yang sampai hari ini masih membekas dalam ingatanku. Tentunya, ini berkaitan dengan tema cerita sahabat yang ingin kuceritakan. Ya, itu adalah pengalaman terkait gigitan anjing dan kekhawatiran akan rabies.

Kejadian pertama terjadi sekitar beberapa bulan lalu di malam hari. Saat itu aku sedang mengunjungi rumah seorang teman untuk mengantarkan makanan sebelum menghadiri acara kebaktian di rumah jemaat yang masih berada di daerah yang sama. Kami hanya berdiri di dekat pagar rumah sambil berbincang sebentar. Tiba-tiba seekor anjing peliharaan yang berada di luar rumah mendekat dan langsung menggigit kakiku.

Aku sangat terkejut. Saat diperiksa, lukanya hanya berupa goresan kecil tanpa darah, tetapi jujur di dalam hati aku sangat panik. Setelah itu, aku tetap pergi menghadiri kebaktian sambil terus berdoa. Suamiku berusaha menenangkan aku sepanjang perjalanan. Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan luka tersebut.

Keesokan harinya aku memfoto luka itu dan mengirimkannya kepada dokter yang aku kenal. Setelah melihat kondisinya, beliau menyarankan agar aku segera datang ke rumah sakit swasta dekat tempatku bekerja. Syukurlah prosesnya cepat karena ada dokter kenalan yang membuatku merasa lebih nyaman. Setelah diperiksa, dokter menyarankan aku menjalani vaksin anti rabies sebagai tindakan pencegahan.

Aku akhirnya menjalani lima kali suntikan vaksin anti rabies di India. Puji Tuhan, semua proses pengobatan berjalan dengan baik. Namun ternyata pengalaman itu belum berhenti sampai di situ. Tak sampai di situ, suamiku juga mengalami kejadian yang jauh lebih serius. Kami memiliki tiga anjing peliharaan yang semuanya sudah mendapatkan vaksin rabies enam bulan sebelumnya. Hari itu, suamiku membawa salah satu anjing kami bernama Brutus ke rumah sakit hewan karena ada benjolan di tubuhnya dan perlu diperiksa lebih lanjut.

Setelah Brutus dibius dan diambil darahnya, kakak iparku meminta suamiku membangunkannya karena sangat menyayangi hewan tersebut. Padahal sebenarnya jika dibiarkan beberapa saat, Brutus akan sadar sendiri dengan tenang. Karena masih setengah sadar akibat pengaruh bius, Brutus terkejut dan langsung menggigit wajah suamiku.

Kami tidak bisa marah karena hewan itu sedang tidak sadar sepenuhnya. Tetapi sebagai istri, tentu aku sangat syok melihat wajah suamiku penuh luka dan darah. Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan lukanya lalu menghubungi dokter kami. Setelah melihat kondisi luka yang cukup serius, dokter menyarankan agar suamiku segera dibawa ke rumah sakit pemerintah karena membutuhkan penanganan khusus.

Jujur, aku cukup takut dengan rumah sakit pemerintah di India karena prosesnya terkenal panjang dan berbeda dengan di Indonesia. Selain itu, kendala bahasa juga sering menjadi tantangan karena banyak orang menggunakan bahasa daerah. Kadang ketika mereka tahu kita orang asing dan tidak mengerti bahasa setempat, biaya bisa terasa lebih mahal.

Tetapi Puji Tuhan, hari itu suamiku langsung mendapatkan penanganan cepat. Ia menerima 11 jahitan di wajah dan enam suntikan pada hari pertama, lalu dilanjutkan dengan empat suntikan berikutnya sesuai jadwal. Walaupun suntikan terakhir sempat terlewat karena lupa, perawat mengatakan kondisinya tetap aman karena dosis penting sudah diberikan sebelumnya. Sampai hari ini, suamiku dalam keadaan sehat.

Dari dua pengalaman tersebut, aku belajar bahwa gigitan hewan tidak boleh dianggap sepele, bahkan jika hanya berupa goresan kecil tanpa darah. Banyak orang berpikir luka kecil tidak berbahaya, padahal risiko rabies tetap ada. Saat aku digigit, rasa cemas langsung muncul, apalagi setelah melihat berbagai video dan cerita orang yang tidak mendapatkan suntikan rabies tepat waktu. Untuk mengatasi rasa takut dan overthinking, aku mencoba menyibukkan diri dan terus berpikir positif.

Pengalaman ini juga membuatku lebih berhati-hati, terutama saat berkunjung ke rumah orang atau berkendara di India karena terkadang ada anjing yang mengejar di jalan. Selain anjing, di beberapa daerah juga banyak monyet berkeliaran sehingga kewaspadaan memang sangat penting.

Untuk Sahabat Ruanita yang sedang atau akan tinggal di luar negeri, aku ingin mengatakan bahwa hidup jauh dari rumah memang tidak selalu mudah. Ada rindu yang dipendam sendiri, air mata yang jatuh diam-diam, dan perjuangan yang tidak semua orang pahami. Tetapi percayalah, kamu hebat karena mampu bertahan sejauh ini.

Jangan pernah merasa sendirian. Di balik semua luka dan pengorbanan, ada versi dirimu yang sedang tumbuh menjadi perempuan yang lebih kuat, lebih berani, dan lebih dewasa. Tetap jaga hati dan jangan kehilangan dirimu sendiri karena kerasnya dunia. Sejauh apa pun kita pergi, doa orang tua dan tanah kelahiran akan selalu memeluk kita.

Sejak kejadian digigit anjing itu, aku belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak takut, tetapi mampu tetap melangkah dengan lebih hati-hati dan penuh kewaspadaan. Kadang sebuah luka justru mengajarkan kita untuk lebih menjaga diri dan lebih menghargai keselamatan. Hati-hati ya, Sahabat Ruanita. Kalau pergi ke India, terutama ke daerah yang banyak hewan berkeliaran, jangan lupa tetap waspada dan jaga diri baik-baik.

Penulis: D yang tinggal di India dan dapat dikontak via e-mail info@ruanita.com

(CERITA SAHABAT) Dari Merawat Lansia di Taiwan hingga Menjaga Impian

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan, saya Irma, tapi teman-teman biasa memanggil saya Mbok. Saya berasal dari Jawa Barat, tepatnya Sukabumi, daerah Jampang Kulon. Saat ini saya sedang bekerja di Taiwan sebagai pekerja informal di bidang perawatan lansia atau orang-orang biasa menyebutnya elderly care. Sudah hampir satu tahun saya tinggal di sini. Alhamdulillah, saya sudah mulai merasa lebih nyaman menjalani kehidupan di negeri orang.

Kalau ditanya aktivitas sehari-hari, hari-hari saya di Taiwan cukup padat tapi juga penuh pembelajaran. Saya merawat seorang lansia di rumah majikan, membantu kebutuhan sehari-harinya, mulai dari makan, kebersihan, sampai mengawasi kondisi kesehatannya. Kadang juga harus siap kalau ada kondisi darurat kecil, jadi memang butuh kesabaran dan ketelitian ekstra.

Sebelum berangkat ke Taiwan, saya tinggal dan bekerja di Jakarta. Waktu itu, saya bekerja di sebuah perusahaan distributor lensa kacamata. Namun kemudian, perusahaan tempat saya bekerja mengalami krisis. Saya dan teman-teman mulai mengalami pengurangan karyawan dan juga pengurangan jam kerja. Gaji yang saya terima pun sebenarnya sudah di bawah UMR. Ini buat saya semakin terasa berat.

Di situ saya mulai berpikir, “Bagaimana hidup saya selanjutnya ya?” Pengeluaran tetap jalan, tetapi pemasukan makin kecil. Dari situlah saya mulai membuka diri untuk mencoba peluang kerja di luar negeri.

Awal tahun lalu, saya mulai mencari informasi tentang kerja ke luar negeri, khususnya ke Taiwan atau Hong Kong. Saya juga sempat tanya-tanya ke teman yang sudah punya pengalaman kerja di luar negeri. Dari situ saya dapat gambaran. Menurut teman saya itu, kalau bekerja di Hong Kong, tuntutannya lebih tinggi. Semua harus serba bisa, termasuk masak. Sedangkan saya merasa belum siap di bagian itu. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencoba ke Taiwan.

Sebenarnya saya tidak punya latar belakang sebagai perawat profesional. Tapi sebelumnya saya pernah merawat bos dari adik saya yang terkena stroke, walaupun pekerjaan itu hanya sekitar setengah tahun. Dari situ saya punya sedikit gambaran tentang merawat orang sakit, meskipun waktu itu saya sempat merasa kewalahan karena pasiennya cukup sulit dan temperamental.

Setelah memutuskan berangkat ke Taiwan, saya masuk ke penampungan. Orang bilang kayak agency begitu selama tiga bulan. Di sana saya belajar bahasa, terutama bahasa Mandarin dasar, serta beberapa keterampilan dasar untuk pekerjaan perawatan.

Walaupun sudah belajar, ternyata ketika sampai di Taiwan tetap tidak mudah. Bahasa yang digunakan sehari-hari terasa berbeda. Misalnya, saya banyak mendengar logat, cara pengucapan, dan semuanya butuh penyesuaian lagi. Jadi, tantangan terbesar di awal memang soal bahasa.

Selain bahasa, saya juga harus belajar banyak hal baru, terutama dalam hal perawatan kesehatan. Di Taiwan, saya belajar secara otodidak menggunakan alat-alat medis sederhana, seperti alat sedot dahak. Ini pengalaman baru buat saya, karena di Indonesia saya tidak pernah mendapatkan pelatihan seperti ini secara formal.

Kalau dibandingkan dengan kerja di Indonesia, perbedaannya cukup jauh. Dulu di Indonesia, pekerjaan saya lebih sederhana, hanya menjaga pasien dan menemani ke rumah sakit. Tapi di Taiwan, tanggung jawabnya lebih besar dan lebih kompleks.

Untuk soal makanan, awalnya saya agak khawatir, terutama karena banyak makanan yang mengandung babi. Alhamdulillah, orang Taiwan cukup pengertian. Mereka biasanya memberi tahu kalau ada makanan yang mengandung babi. Walaupun kadang mereka belum sepenuhnya paham soal penggunaan minyak babi, tapi niat mereka untuk menghargai sudah terasa.

Selain itu, ada juga banyak warung atau toko Indonesia di sini. Jadi, kalau kangen masakan rumah masih bisa sedikit terobati. Kalau ditanya soal stres, jujur saja, itu pasti ada. Tapi bukan karena pekerjaan atau majikan. Alhamdulillah, majikan saya baik dan tidak banyak menuntut. Mereka justru berusaha membuat saya nyaman.

Justru tekanan terbesar datang dari jauh dari Indonesia, terutama soal keluarga dan anak. Anak saya sempat mengalami masalah kesehatan, setelah saya tiga bulan di sini. Waktu itu saya sempat berpikir untuk pulang. Tapi keluarga menyarankan saya untuk tetap bertahan. Mereka bilang, semoga kondisi anak saya bisa membaik. Di situ saya belajar untuk kuat secara mental, karena ternyata bekerja di luar negeri bukan hanya soal fisik, tapi juga hati.

Sebagai perempuan, saya merasa cukup aman tinggal di Taiwan. Lingkungannya tertib, orang-orangnya sopan, dan jarang ada gangguan. Bahkan kalau keluar malam pun masih terasa aman. Saya juga merasa dihargai sebagai pekerja. Untuk perlindungan kesehatan, saya mendapatkan asuransi. Pernah suatu waktu saya mengalami masalah kulit, dan saya bisa menggunakan kartu asuransi untuk berobat. Bahkan majikan juga membantu dalam hal biaya. Walaupun mungkin tidak semua orang seberuntung itu, tapi pengalaman saya sejauh ini cukup baik.

Selama di Taiwan, saya mendapatkan banyak pengalaman berharga. Saya bertemu dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda, belajar bahasa baru, dan juga mendapatkan pengetahuan tentang dunia kesehatan. Kalau dipikir-pikir, di Indonesia mungkin untuk belajar hal seperti ini harus sekolah dulu. Tapi di sini, saya bisa belajar langsung dari pengalaman sehari-hari. Walaupun tidak mudah, tapi sangat berharga.

Kontrak kerja saya masih sekitar tiga tahun. Awalnya saya berpikir tidak akan menghabiskan kontrak, tapi melihat kondisi ekonomi sekarang, sepertinya saya akan menyelesaikannya. Semua ini saya jalani demi masa depan yang lebih baik, terutama untuk keluarga.

Buat sahabat Ruanita yang sedang mempertimbangkan untuk bekerja di luar negeri, saya ingin berbagi sedikit pesan. Jangan hanya melihat enaknya saja dari media sosial, seperti di TikTok yang terlihat serba indah dan menyenangkan. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Bekerja di luar negeri membutuhkan kesiapan fisik dan mental. Bahasa itu sangat penting. Usahakan benar-benar belajar sebelum berangkat. Hal yang paling penting, mental harus kuat, karena kita akan jauh dari keluarga, menghadapi lingkungan baru, dan harus bisa berdiri sendiri.

Namun, balik semua itu, kalau dijalani dengan niat dan kesabaran, pasti ada banyak hal baik yang bisa kita dapatkan.

Penulis: Irma, yang jadi Elderly Care Practitioner di Taiwan yang dapat dikontak melalui akun Facebook Mbo.

(CERITA SAHABAT) Menjejak dari Bandung ke Belanda, Berlabuh di Denmark

Halo sahabat Ruanita, aku mau ajak kamu duduk santai sejenak, sambil ngopi atau ngeteh, dan ngobrol tentang perjalanan hidupku dari Bandung terus ke Belanda, lalu akhirnya menetap di Denmark. Cerita ini bukan sekadar soal pindah negara, tapi soal memulai hidup dari awal berkali-kali, belajar beradaptasi, dan tetap bertahan meskipun kadang rasanya ingin menyerah. Semoga cerita ini bisa jadi teman untuk kamu yang mungkin lagi berada di persimpangan hidup di luar negeri, atau sekadar penasaran tentang seperti apa sih rasanya hidup di negeri Nordik yang katanya bahagia itu.

Namaku Bertha. Aku lahir dan besar di Bandung, di suasana kota yang hangat, penuh hiruk pikuk, macet, kulineran, dan keluarga besar. Dua puluh tahun lalu, hidup membawaku jauh ke benua Eropa. Tidak langsung ke Denmark. Perhentian pertamaku adalah Belanda, negeri kincir angin, jalan sempit berbatu, dan orang-orang yang terbuka.

Aku ke Belanda mengikuti suami. Cukup berat saat itu, tentu saja, tapi aku masih punya kemewahan: ada keluarga suami yang siap membantu proses adaptasiku. Jadi meskipun harus menaklukkan bahasa Belanda, birokrasi, dan kultur baru, aku tidak merasa benar-benar sendirian. Ada tangan-tangan yang menyambut dan memeluk.

Sampai kemudian, belasan tahun kemudian, hidup kembali mengajakku pindah. Kali ini ke Denmark. Suamiku mendapat pekerjaan baru, dan kami memutuskan untuk mulai babak baru.

Dan di sinilah cerita “survival” itu benar-benar dimulai.

Saat mendengar kata Denmark untuk pertama kali, aku jujur… panik. Bayanganku langsung pada bahasa Danish yang terdengar sulit, seolah huruf-hurufnya bercampur, dan setiap kata seperti setengah dibisikin. Belum lagi fakta bahwa kami tak punya keluarga sama sekali di sana. Kalau di Belanda dulu ada tempat untuk bertanya, curhat, atau sekadar minta tolong, maka di Denmark semuanya serba dari nol.

Aku masih ingat rasa canggung saat menyapa tetangga pertama kali. Mereka sopan, tapi tidak terbuka seperti di Belanda. Ada batas yang tebal dan jelas. Circle pertemanan mereka kecil dan tertutup, dan untuk masuk ke dalamnya bukan perkara mudah. Apalagi kalau kamu orang asing dan belum bisa bahasa Denmark dengan lancar.

Tapi pindah negara tidak memberi kita pilihan selain berusaha. 

Kalau kamu bertanya negara mana yang lebih enak, jawabanku tidak sesederhana membandingkan satu lebih baik dari yang lain. Dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan, dan dua-duanya meninggalkan jejak pada cara pandangku.

Yang paling terasa adalah ritme hidup. Di Belanda, masyarakat bergerak dalam ritme yang cepat dan kompetitif. Ada tuntutan sosial dan tekanan prestasi yang membuat orang seakan harus selalu produktif. Di Denmark, ritme hidup terasa jauh lebih santai dan rileks. Work–life balance bukan sekadar slogan; orang-orang benar-benar menghargainya. Mereka pulang kerja tepat waktu tanpa merasa bersalah, dan kehidupan keluarga mendapatkan porsi yang besar.

Sistem sosial pun menjadi pembeda. Di Belanda, birokrasi memang terasa lambat dan kadang membuat frustrasi. Namun, saat tiba di Denmark, aku baru menyadari bahwa proses administrasi bisa menjadi lebih lambat lagi. Meski begitu, di balik kelambatan itu ada konsep negara kesejahteraan yang kuat, yang menjamin pendidikan dan kesehatan bagi warganya, sehingga pada akhirnya kita belajar untuk bersabar.

Untuk urusan pembauran sosial, Belanda jelas lebih ramah terhadap orang asing. Di sana, berbicara dengan tetangga atau memulai percakapan dengan orang baru terasa lebih mudah. Di Denmark, masyarakatnya cenderung tertutup dan membentuk lingkaran pertemanan kecil, yang butuh waktu lama untuk dimasuki pendatang. Meskipun begitu, aku melihat bahwa anak-anak justru lebih mudah menembus batas-batas sosial itu, sehingga memiliki anak dalam keluarga sedikit banyak mempermudah proses adaptasi.

Pendidikan dan dunia kerja pun memiliki nuansa yang berbeda. Di Belanda, tekanan akademik cukup kuat dan standar pendidikan terasa lebih menekan. Di Denmark, pendekatannya lebih santai dan manusiawi, dengan fokus pada kesejahteraan siswa. Namun, kebebasan yang diberikan kepada remaja seringkali membuatku khawatir sebagai seorang ibu. Hal-hal seperti alkohol dan vape dianggap biasa oleh remaja di sana, yang tentu saja membuatku harus lebih waspada dan banyak berdialog dengan anak-anak.

Semua perbedaan itu membuatku menyadari bahwa setiap negara membawa budaya dan nilai yang berbeda, dan kita sebagai pendatang harus belajar untuk menerima tanpa harus kehilangan diri sendiri.

Bahasa Denmark adalah tantangan terbesar.
Aku belajar bersama keluarga, tapi tetap… sulit. Lidahku rasanya perlu latihan khusus. Orang Denmark bisa bicara super cepat, dan aku berkali-kali bingung. Tapi mereka sangat menghargai usaha, dan itu jadi motivasi.

Lalu ada tantangan lain yang bikin aku benar-benar stress: kultur remaja.

Di Denmark, minum alkohol, vape, atau snus di usia gymnasium itu… normal. Sebagai ibu dari tiga remaja, ini hal paling menegangkan. Aku belajar berdialog tanpa menghakimi, tapi tetap tegas. Aku harus membuka mata, tapi menjaga batas. Itu seni yang sampai sekarang masih kupelajari.

Dan terakhir: musim dingin. Di Belanda dingin? Iya. Di Denmark dingin + gelap + berangin.

Musim dingin di sini bukan sekadar dingin, tapi bisa membuat mood turun drastis. Winter depression itu nyata. Matahari jarang muncul. Dan kamu bisa bangun dalam gelap, lalu pulang kerja/school pick-up dalam gelap lagi.

Untungnya, Denmark punya pantai di mana-mana. Dari rumahku ke pantai terdekat cuma 30 menit. Setidaknya ada tempat kabur buat melihat horizon dan merasa kembali bernapas.

Adaptasi bukan soal seberapa siap kamu, tapi seberapa besar kamu mau bertahan. Namun, aku punya beberapa penyelamat, seperti: komunitas Indonesia, komunitas internasional, kunjungan rutin ke Belanda, pantai Denmark, atau keluarga inti sendiri

Ketika kangen kuliner, kangen ngobrol dengan tetangga, kangen suasana hangat… kami kadang balik ke Belanda. Itu jadi vitamin nostalgia.

Tapi di Denmark, aku belajar mandiri. Belajar bahasa. Belajar pajak. Belajar sistem kesehatan. Belajar menerima budaya. Dan di atas semuanya: belajar percaya diri. Meski banyak tantangan, aku harus akui: Denmark memberi rasa aman.

Udara yang bersih, sekolah negeri gratis, akses kesehatan yang hampir tanpa biaya karena subsidi besar, masyarakat yang menghargai privasi, dan ritme hidup yang berimbang, semuanya menciptakan lingkungan yang membuatku merasa cukup dan berkecukupan.

Dari Belanda, aku merindukan komunikasi hangat dengan tetangga, pilihan bahan pangan yang melimpah dengan harga yang lebih bersahabat, serta keramahtamahan yang terasa berbeda.

Di Denmark, makanan impor atau produk tertentu tersedia tapi harganya bisa sangat mahal dan pilihannya terbatas.

Sedangkan dari Indonesia? Ah, itu tidak perlu ditanya: keluarga, makanan, cuaca, dan kebersamaan yang tidak pernah tergantikan.

Pindah negara mengajarkanku satu hal besar: adaptasi itu bukan pilihan, tapi kebutuhan.

Dan setiap kali aku merasa lelah, aku selalu ingat: kalau kita mau bertahan, kita akan menemukan cara.

Tidak ada garis finish dalam adaptasi. Kita tidak pernah selesai belajar. Kita cuma semakin tangguh.

Sahabat Ruanita, Aku percaya kita hebat.Bukan karena kita sempurna, tapi karena kita selalu belajar berdiri setiap kali jatuh.

Harapanku: perempuan Indonesia menemukan tujuan, tetap berdaya, tetap menjadi berkat, dan tidak kehilangan jati diri

Dimanapun kita tinggal, di Bandung, di Belanda, di Denmark, atau di negeri mana pun, rumah bukan soal lokasi. Rumah adalah tentang bagaimana kita membuat hidup tetap berarti.

Sekarang, ketika aku melihat kembali perjalanan dua puluh tahun ini, aku tahu satu hal:Jika dulu aku tidak berani pindah, aku mungkin tidak pernah belajar sebanyak ini.

Denmark mengajariku: bersabar, beradaptasi, menghargai privasi, dan menikmati hidup lebih pelan. Belanda mengajariku: terbuka, komunikatif, dan tidak takut membangun relasi.

Sementara, Indonesia mengajariku: hangat, keluarga, dan ketahanan mental. Semua itu membentuk siapa aku sekarang.

Jadi, sahabat Ruanita, kalau kamu sedang berada di titik bingung, takut, atau terasing di negeri orang, ingat: Kita mungkin mulai dari nol. Tapi kita tidak nol. Kita membawa kekuatan dari semua tempat yang pernah kita tinggali.

Dan seperti yang kubilang: survival to the fittest. Kita bisa. Kita mampu. Kita tangguh.

Dari Bandung ke Belanda lanjut ke Denmark, aku masih berjalan. Dan aku percaya, perempuan Indonesia di manapun berada, akan selalu menemukan jalannya.

Penulis: Bertha Situmeang, relawan Ruanita di Denmark dan dapat dikontak via akun instagram adenk_bvs.

(CERITA SAHABAT) Supaya Tidak Stres Jadi Pekerja Migran, Ikuti Kultur Kerja yang Ada

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya Nana, bukan nama sebenarnya. Saya adalah seorang perempuan Indonesia dengan latar belakang pendidikan Administrasi Bisnis yang kini menetap di Swedia.

Untuk bekerja di negeri IKEA ini, menurut saya, merupakan keputusan besar dalam hidup saya sendiri. Meski menurut saya, ini bukan pertama kalinya saya bekerja di luar negeri.

Sebelumnya, saya juga sempat menghabiskan dua tahun di salah satu negara Asia sebagai seorang administrator. Sekarang saya berkarier sebagai seorang profesional di sebuah perusahaan di Swedia.

Keputusan saya untuk tinggal di Swedia bukan hanya didorong oleh keinginan mengejar karier semata, tetapi juga kebutuhan untuk mendapatkan izin tinggal tetap. Bekerja adalah salah satu cara agar saya bisa mandiri dan bertahan di negara dengan budaya yang sangat berbeda dari tanah kelahiran, Indonesia.

Saat pertama kali bekerja di Swedia, saya merasakan perbedaan besar dalam budaya kerja dibandingkan dengan Indonesia.

Di Swedia, suasana kerja jauh lebih santai dan kurang menuntut. Tidak ada tekanan berlebihan untuk memenuhi tenggat waktu dan tingkat stres secara umum lebih rendah, dibandingkan dengan pengalaman kerja selama masih di Indonesia dulu.

Selain itu, saya senang di Swedia ada Serikat Buruh yang juga memiliki peran besar dalam melindungi hak-hak pekerja. Sahabat Ruanita, tidak ada yang lebih mudah juga tinggal dan bekerja di Swedia. Saya harus menghadapi berbagai tantangan lain yang harus dihadapi. Hambatan pertama tentu saja adalah Bahasa Swedia.

Saya memang fasih dan lancar berbahasa Inggris, tetapi komunikasi dengan kolega lokal tentu saja sulit. Bagaimana pun mereka lebih nyaman menggunakan Bahasa Swedia.

Selain itu, ritme kerja yang lambat terkadang membuat saya frustrasi. Saya terbiasa bekerja cepat dan efisien. Namun di lingkungan baru ini, saya harus belajar untuk terus menyesuaikan diri.

Salah satu pengalaman yang paling menantang bagi saya adalah ketika saya harus menyelesaikan tugas saya dalam satu hari, padahal rekan-rekannya memberikan estimasi waktu beberapa hari.

Respons dari mereka tidak selalu positif. Saya dicap sebagai orang yang “terlalu cepat bekerja” dan dianggap tidak mengikuti ritme kerja yang sudah berlaku.

Saya merasa aneh dan menjadi bingung. Di satu sisi, Saya hanya ingin melakukan pekerjaannya dengan baik, tetapi di sisi lain, kecepatan dan efisiensinya justru membuatnya terlihat “berbeda” dari yang lain.

Saya juga merasakan bahwa budaya egaliter Swedia memengaruhi cara orang berkomunikasi. Di Swedia, tidak ada hirarki yang terlalu menonjol di tempat kerja.

Semua orang diperlakukan setara, termasuk dalam berkomunikasi dengan atasan. Ini adalah hal yang positif, tetapi juga membuatnya harus menyesuaikan diri dengan cara yang berbeda dalam menyampaikan pendapat atau bekerja dengan rekan kerja.

Bekerja di lingkungan yang sangat berbeda memiliki dampak psikologis dan stres tersendiri bagi saya. Saya mengalami trust issues dan merasa kesulitan membangun hubungan dengan rekan-rekan kerja.

Ada momen di mana saya merasa diisolasi dan didiskriminasi karena statusnya sebagai pekerja imigran. Salah satu hal yang paling membuat saya merasa tertolak adalah ketika rekan-rekan kerja enggan menggunakan bahasa Inggris, meskipun mereka sebenarnya bisa.

Merasa sulit beradaptasi, saya mulai menarik diri. Saya lebih memilih untuk fokus pada pekerjaannya dan tidak terlalu memikirkan hubungan sosial di tempat kerja.

Menurut saya, strategi terbaik dalam bekerja adalah “just do my job and go home.” Saya menghindari konfrontasi dan mencoba untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Meski penuh tantangan, saya akhirnya menemukan cara untuk beradaptasi. Saya mulai memahami bahwa bekerja di Swedia berarti menyesuaikan diri dengan prinsip lagom, yaitu keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Istilah ini sangat mencerminkan budaya kerja di Swedia, antara lain: tidak terlalu sedikit, tidak terlalu banyak, tetapi cukup.

Saya juga mulai menikmati kebiasaan-kebiasaan baru, seperti fika time, yaitu waktu istirahat untuk minum kopi dan berbincang dengan rekan kerja. Hal ini membantu saya untuk lebih rileks dan memahami bahwa tidak semua hal harus dilakukan dengan terburu-buru.

Selain itu, komunitas Indonesia di Swedia turut membantu saya dalam beradaptasi. Saya mendapat saran untuk tidak terlalu memaksakan diri agar “blending in,” tetapi lebih kepada menghormati budaya kerja yang ada tanpa kehilangan profesionalisme.

Dari semua pengalaman ini, saya belajar bahwa setiap lingkungan kerja memiliki tantangannya sendiri. Saya menyadari bahwa bekerja di perusahaan internasional sangat berbeda dengan bekerja di perusahaan lokal Swedia.

Jika ingin bertahan, seseorang harus mampu beradaptasi dengan sistem yang ada.

Sebagai seorang profesional, saya juga belajar untuk menjadi lebih rendah hati dan tidak menonjolkan diri terlalu berlebihan.

Di satu sisi, saya bangga dengan kemampuan diri yang melebihi ekspektasi perusahaan. Namun, di sisi lain, saya sadar bahwa terlalu menunjukkan keunggulan dapat membuatnya semakin terasing.

Ada satu momen yang membuat saya bangga: ketika saya dipercaya untuk menjadi perwakilan pegawai dalam sesi wawancara dengan konsultan internasional selama proses sertifikasi perusahaan.

Meski pun saya sering merasa diri kurang dihargai di lingkungan kerja saat ini, momen ini mengingatkannya bahwa keahlian tetap memiliki nilai.

Bagi perempuan Indonesia yang ingin bekerja di luar negeri, khususnya di negara dengan budaya yang sangat berbeda, saya memiliki beberapa pesan penting.

Hal pertama adalah belajar bahasa lokal sebelum memutuskan untuk bekerja di luar negeri. Penguasaan bahasa yang baik bisa membuka lebih banyak peluang dan membuat proses adaptasi menjadi lebih mudah.

Hal kedua, saya berpesan untuk bersabar dan belajar menyesuaikan diri. Tidak perlu berusaha keras untuk “blending in,” tetapi cukup dengan bersikap profesional dan menghormati budaya kerja yang ada.

Dan yang terakhir, tetaplah teguh dengan nilai-nilai diri sebagai orang Indonesia. Jangan kehilangan identitas diri sebagai orang Indonesia dan tetaplah berpegang pada prinsip profesionalisme di mana pun berada.

Jika bisa berbicara kepada diri sendiri saat pertama kali datang ke Swedia, saya ingin mengatakan: It will be a roller coaster, so be prepared. Don’t give up easily. Stand up and speak up for yourself. Keep your professionalism at work and do your best. Bring positive values everywhere you go, and never lose your identity!

Penulis: Nana yang tinggal di Swedia dan dapat dikontak via email info@ruanita.com.

(CERITA SAHABAT) Homeschooling di Negeri Bollywood: Perjalanan Pembelajaran Bersama Dua Buah Hati 

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan nama saya Anni,  yang menjalani selama delapan tahun terakhir hidup sebagai seorang istri, ibu, sekaligus pendidik di rumah bagi kedua anak saya di India. Saya menikah dengan seorang pria Kashmir, dan sejak awal pernikahan kami menjalani hubungan jarak jauh. Suami bekerja di India sedangkan saya masih mengajar di Indonesia. Selama tiga tahun, kami menjalani rutinitas yang mungkin tidak umum bagi pasangan baru: dia datang dua kali setahun ke Indonesia, sedangkan saya menyusulnya ke India ketika jadwal mengajar mengizinkan. 

Pada akhirnya, setelah perjalanan LDM yang panjang, kami memutuskan untuk hidup bersama, khususnya demi memulai program kehamilan. Saya pindah ke India, memulai hidup baru, dan dalam keseharian membesarkan dua anak yang kini menjadi pusat dunia saya. Tinggal di India membuka banyak pengalaman baru, mulai dari budaya, gaya hidup, hingga sistem pendidikan yang berbeda antara Indonesia dan tempat saya menetap sekarang. 

Sebagai guru yang pernah lebih dari sepuluh tahun berkecimpung dalam pendidikan dasar di Indonesia, saya tidak bisa tidak memperhatikan perbedaan kurikulum antara dua negara ini. Di India, beban akademik untuk pendidikan dini jauh lebih berat. Anak-anak mulai dikenalkan pada beban akademik sejak usia yang sangat muda; bahkan sebelum masuk sekolah dasar, mereka telah melalui jalur pendidikan dengan struktur yang ketat: mulai dari pre-nursery (2+), Nursery (3+), LKG (4+), hingga UKG (5+). Selain itu, ada pula kultur tuitions, semacam les tambahan yang diberikan hampir setiap hari setelah jam sekolah. Bagi saya yang terbiasa dengan model pendidikan di Indonesia yang lebih seimbang antara bermain dan belajar, sistem ini terasa begitu menuntut, bahkan berlebihan bagi anak-anak usia dini. 

Saya dan suami pun sepakat untuk memberikan “pondasi kesiapan belajar” sejak dini, untuk menumbuhkan rasa cinta belajar, agar anak-anak tidak mengalami tekanan besar ketika masuk sekolah formal India. Namun titik balik terbesar bagi kami adalah masa pandemi. Di India, anak usia dua tahun umumnya disekolahkan ke lembaga pre-nursery, tetapi ketika pandemi datang, semua pembelajaran beralih ke kelas online. Sungguh tidak efektif bagi seorang preschooler untuk duduk menatap layar, mendengarkan instruksi melalui video call, dan diminta memahami konsep akademik lewat monitor. Di sinilah keputusan besar muncul: kami memutuskan untuk melakukan homeschooling. 

Homeschooling sebenarnya sudah lama saya persiapkan, terutama dalam ranah pendidikan agama. Tapi pandemi memberikan dorongan yang lebih besar untuk menerapkan homeschooling secara penuh untuk pendidikan dini. Saya tidak ingin anak-anak “sekolah online” hanya demi mengikuti sistem, sementara masa usia emas mereka menghilang tanpa pengalaman bermain, bergerak, menyentuh dunia, dan merasakan ritme pembelajaran yang alami. 

Kami pun menciptakan rutinitas homeschooling sendiri. Setiap hari, pembelajaran berlangsung lewat aktivitas yang menyenangkan. Saya merancang stimulasi motorik kasar seperti berlari, melompat, memanjat, bermain sepeda, hingga skating. Untuk motorik halus, seperti anak-anak bermain playdough, menggunting, memindahkan benda dengan sendok, dan menulis di atas garam. 

Saya juga mengenalkan keterampilan hidup seperti gosok gigi, mandi mandiri, memakai baju dan sepatu sendiri, menyapu, hingga membuat omelette atau cookies, atau aktivitas sederhana yang melatih koordinasi sekaligus membangun kepercayaan diri mereka. 

Kognisi kami latih lewat puzzle, memory games, permainan warna, alphabet matching, hingga aktivitas menjodohkan benda. Pendidikan agama menjadi bagian yang tidak pernah terlewat. Dari doa-doa pendek, hafalan surat, belajar sholat, hingga membaca Qur’an, fiqih dan aqidah, semuanya kami ajarkan perlahan dalam kehangatan di rumah, juga bersama komunitas di masjid untuk kegiatan tertentu. Salah satu area yang paling penting bagi kami adalah speaking skill, terutama karena anak pertama sempat mengalami riwayat speech delay. Latihan oromotor, permainan bercerita, dan dialog interaktif kami lakukan setiap hari. Sekarang, anak pertama sudah percaya diri mengikuti berbagai speech event di sekolah.

Pendekatan yang kami gunakan sebagian besar terinspirasi dari Montessori, meski saya tidak menerapkan seluruh aparatus Montessori yang standar. Saya lebih senang menyebutnya sebagai belajar lewat bermain (learning through play). Media belajar kami beragam, mulai dari mainan edukatif baik buatan sendiri 

maupun yang tersedia di market, bahan kerajinan, alam terbuka, kunjungan ke science center, museum, hingga buku-buku anak dari berbagai jenis. Gadget pun kami gunakan, tetapi secara terbatas dan hanya untuk aplikasi edukatif yang relevan. 

Tantangan terbesar homeschooling bukanlah pada materi atau kurikulum, tetapi pada diri saya sebagai ibu. Menjadi comfort provider sekaligus discipline establisher bukanlah hal mudah. Bagaimana menjaga agar suasana tetap menyenangkan tetapi tetap memiliki struktur? Bagaimana menjadi tempat yang aman sekaligus mentor dalam aktivitas pembelajaran? Pertanyaan-pertanyaan ini terus saya pelajari setiap hari. Tidak adanya ART di masa lockdown juga membuat manajemen waktu menjadi tantangan tersendiri. 

Dari sisi sosial, anak-anak tidak terlalu mengalami kesulitan karena memang sejak awal kami hidup sebagai keluarga perantau. Kami terbiasa berpindah dari satu state ke state lain karena pekerjaan suami, sehingga lingkup sosial keluarga kami memang kecil. Namun justru dari situ terjalin ikatan keluarga yang semakin kuat antara saya, suami, dan anak-anak. 

Secara teknis, homeschooling relatif mudah kami jalankan karena bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa nasional di India, sehingga tidak ada kendala bahasa. Namun untuk bahasa Urdu dan Hindi, kami mengenalkannya sebagai bahasa kedua, sambil tetap mengajarkan bahasa Indonesia. Internet cepat dan murah, jadi pembelajaran daring pun tidak bermasalah. Satu hal yang saya rasakan cukup menantang: harga educational toys di India cenderung lebih mahal dibandingkan di Indonesia. 

Hal yang paling saya syukuri dari homeschooling adalah kreativitas yang tumbuh dari diri saya sendiri. Saya yang dulu perfeksionis belajar untuk melepaskan harapan yang berlebihan. Melihat anak bermain tepung yang berantakan, playdough yang melekat di mana-mana, bentuk cookies yang tak beraturan, atau buku bertebaran di lantai. Itu semua kini menjadi tanda bahwa anak sedang belajar. Saya belajar menerima kekacauan sebagai bagian dari proses tumbuh. Saya belajar bahwa rumah yang “berantakan” bukanlah bukti kegagalan menjadi ibu, tetapi bukti anak sedang mengasah imajinasi dan kemampuan motoriknya. 

Hubungan kami sebagai keluarga pun terasa lebih dalam. Tanpa homeschooling, saya tidak tahu bagaimana kami bisa melewati masa pandemi yang penuh ketidakpastian itu. Homeschooling menjadi cara kami melewati hari dengan penuh makna. Aktivitas yang mempertemukan kami sebagai keluarga, memperkuat komunikasi, dan mengisi waktu dengan kegiatan positif yang dilakukan bersama. 

Setelah pandemi mereda, anak pertama masuk sekolah formal (LKG), sementara saya melanjutkan stimulasi homeschooling untuk anak kedua. Pendidikan akademik formal kami “outsourcing” kepada lembaga sekolah, tetapi sisanya pendidikan agama, life skills, dan kegiatan bermain, tetap kami lakukan di rumah. Berbeda dari kebiasaan keluarga India pada umumnya, kami memilih untuk tidak mengirim anak-anak ke tuitions. Kami 

tetap mempertahankan semangat belajar bersama dalam lingkungan keluarga. Saat ini, setengah jam setelah makan malam adalah bonding rutin belajar bersama, saya dan anak-anak sedang semangat belajar Bahasa Hindi dan Bahasa Kannada, suami semangat dengan Bahasa Jepang. 

Jika ada orang tua Indonesia lain yang ingin mencoba homeschooling, pesan saya adalah: pastikan ayah dan ibu berada pada kesepakatan yang sama. Homeschooling bukan soal materi belajar semata, tetapi soal tujuan, jalur, dan pendekatan. Orang tua perlu memutuskan apakah homeschooling dilakukan sebagai jalur utama atau pendamping pendidikan formal, bagaimana proses administrasinya, dan siapa yang menjadi fasilitator pembelajaran. Belajarlah dari keluarga lain yang lebih dulu menjalankannya, dan jangan takut untuk beradaptasi. 

Pengalaman yang paling unik bagi saya adalah melihat rumah kami perlahan berubah menjadi “laboratorium kecil” yang penuh mainan, alat peraga, bahan art and craft, kardus, botol bekas, dan segala macam benda yang mungkin dianggap sampah bagi orang lain, tetapi bagi kami adalah harta karun kreativitas. Kadang saya harus menguatkan hati untuk melakukan decluttering, tetapi pada dasarnya setiap benda yang ada di rumah memiliki potensi menjadi media belajar.

Jika harus merangkum perjalanan homeschooling kami dalam satu kalimat, saya akan mengatakan: homeschooling menjadi “survival mode” keluarga kami untuk melewati pandemi dan sekaligus strategi menemukan sumber kebahagiaan dan kebermaknaan dalam keluarga untuk terus bertumbuh dalam semangat belajar sepanjang hayat. 

Penulis: Anni’mah tinggal di India yang dapat dikontak via akun instagram zahrazeebee. 

(CERITA SAHABAT) Mengapa Penting Jadi Guru SD di Islandia?

Namaku Asti Tyas Nurhidayati, perempuan asal Yogyakarta yang kini tinggal dan bekerja  sebagai guru sekolah dasar di Islandia. Aku lahir dan besar di Jogja, menyelesaikan studi Teknik Elektro di Universitas Gadjah Mada.

Saat kuliah, aku aktif menjadi relawan di Griya  Lentera PKBI Yogyakarta, memberikan penyuluhan pencegahan HIV/AIDS dan kesehatan  reproduksi, termasuk kepada para pekerja seks dan pelanggannya di Pasar Kembang.  Dari pengalaman ini, aku mulai tertarik pada pekerjaan sosial yang melibatkan interaksi  langsung dengan masyarakat, terutama kelompok rentan.

Setelah lulus sebagai Sarjana Teknik, aku memilih jalur karir yang berbeda dari pendidikanku. Aku bekerja di Jakarta sebagai staf Behavior Change Intervention untuk  pencegahan HIV/AIDS di bawah Program Aksi Stop AIDS Family Health International  (FHI) dari tahun 2002 hingga 2009.

Di sana, aku menjadi fasilitator pelatihan bagi  pekerja lapangan yang melakukan penyuluhan kepada kelompok risiko tinggi. Karena  merasa perlu dukungan akademik yang lebih sesuai, aku melanjutkan kuliah S2  Komunikasi Pemasaran di FISIP Universitas Indonesia.

Lulus dari UI, aku bergabung dengan Rare Conservation Indonesia sebagai  Communication Manager, fokus pada konservasi lingkungan dan perikanan  berkelanjutan. Selain mengelola komunikasi organisasi, aku juga melatih staf lembaga  pemerintah dan organisasi nirlaba di Indonesia, Malaysia, dan Timor Leste.

Aku bekerja  sama dengan tim Rare dari Asia, Mikronesia, Afrika, hingga Amerika Latin. Aku sangat  menikmati pekerjaan ini dari tahun 2009 hingga 2016, sampai akhirnya aku menikah  dengan pria Islandia dan pindah ke Reykjavík pada pertengahan Ramadan, Juni 2016.

Di Islandia, aku memulai semuanya dari nol. Aku belajar Bahasa Islandia, yang rumit  karena setiap kata berubah tergantung gender, fungsi, dan waktu. Aku mulai bekerja  sebagai staf frístundaheimili, program after school untuk murid kelas 1 dan 2 SD, lalu  lanjut kursus bahasa.

Aku sempat putus asa karena keterbatasan bahasa. Aku pernah  bekerja di Kedutaan Besar India di Reykjavík tapi merasa tidak cocok dengan lingkungan  kerja yang kaku.

Aku kembali bekerja sebagai asisten guru TK, tetapi lagi-lagi terbentur kemampuan  bahasa. Anak-anak pernah bilang, “Ég skil ekki hvað þú talar (Aku tidak ngerti kamu ngomong apa)” atau “Þú talar íslensku  mjög léleg (Kamu ngomong Bahasa Islandia jelek banget)”.

Aku akhirnya memutuskan kuliah S1 Bahasa Islandia secara formal di  University of Iceland agar bisa belajar dengan terstruktur.

Setiap pagi dan siang aku kuliah, lalu sore kerja di frístundaheimili. Teori kuliah langsung  kupakai dalam pekerjaan dan obrolan dengan anak-anak. Setelah lulus, aku lanjut ke  program S2 Pendidikan Guru SD untuk mendapatkan surat izin mengajar dari  pemerintah Islandia.

Alasan terbesar aku memilih jadi guru adalah karena kondisi kesehatan reproduksi tidak memungkinkan aku untuk bisa hamil dan melahirkan anak. Tapi dari situ, aku merasa bahwa Allah memberiku jalan lain yaitu mendidik anak-anak orang lain.

Lapangan kerja di sektor pendidikan di Islandia terbuka, terutama  karena kekurangan guru TK dan SD. Saat ini banyak anak berusia 2 tahun harus menunggu antrian tersedianya tempat di TK.

Ini karena proporsi jumlah anak yang lebih besar daripada jumlah kursi di TK berikut jumlah guru dan staf TK. Orang tua sampai harus berhenti kerja atau bahkan jadi guru dan staf TK agar anak mereka  diprioritaskan.

Menurutku, menjadi guru adalah proses belajar tanpa akhir. Selain sebagai pengajar, pendidik dan fasilitator, seorang guru harus bisa jadi psikolog, motivator, entertainer, perawat, bahkan detektif untuk menangani beragam hal yang terjadi pada anak-anak di sekolah setiap harinya. Bagaimana pun, pekerjaan ini juga sangat menguras fisik dan mental.

Tantangan utamaku sebagai guru di Islandia adalah Bahasa Islandia. Meskipun aku sudah  kuliah S1 jurusan ini, aku masih sering salah grammar dan pengucapan. Kadang masih minder kalau harus bicara dengan orang tua murid asli Islandia.

Tapi suamiku dan teman-teman  Islandia juga sering salah, bahkan aku pernah mengoreksi mereka, dan itu sedikit  banyak membuatku percaya diri.

Sistem pendidikan inklusif di Islandia juga menantang. Semua anak, termasuk  yang berkebutuhan khusus, berhak masuk SD umum terdekat di lingkungan tempat tinggalnya.

Saat ini aku mengajar di kelas 2 SD dimana murid-muridku kebanyakan berusia 7-8 tahun. Namun di kelasku tersebut aku juga punya murid yang baru pindah dari Vietnam dengan diagnosa cerebral palsy, tak bisa bicara, terbatas gerak fisik dan secara kognitif setara anak usia dua tahun. Meski  didampingi asisten, aku harus menyesuaikan bahan ajar dan strategi untuk semua murid di kelas, termasuk bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Islandia merupakan negara kecil, hanya sekitar 400.000 jiwa dengan sekitar 20% adalah imigran. Lonjakan  jumlah imigran belum diimbangi infrastruktur pendidikan yang memadai, termasuk  sekolah khusus. Anak berkebutuhan khusus bisa menunggu satu tahun untuk masuk  sekolah khusus, dan selama itu mereka tetap belajar di sekolah umum.

Anak-anak lain juga beragam: ada yang ADHD, autis, punya gangguan belajar, gangguan  bahasa, gangguan pengendalian mental dan lainnya. Tahun pertamaku mengajar profesional sangat menantang. Suamiku pernah protes karena aku terlalu banyak waktu untuk kerja dan sedikit waktu  untuk keluarga. Aku terus belajar membagi waktu dan menjaga keseimbangan.

Sebagai imigran, aku ingin menunjukkan bahwa kami juga bisa berkontribusi positif bagi masyarakat setempat sebagai tenaga kerja profesional berpendidikan tinggi dan bersertifikat yang bisa menaiki jenjang karir. Bukan hanya pekerja kasar yang mengandalkan otot dan waktu dan dihargai dengan upah minimum.

Sistem pendidikan di Islandia tidak mengenal ujian kenaikan kelas. Anak tetap naik  kelas sesuai usia. Tes hanya untuk mengukur dan mengevaluasi pengajaran, bukan  menentukan kelulusan. Sistem ini ramah anak, tapi bisa jadi tantangan jika murid  dengan kemampuan rendah tetap naik kelas.

Yang paling kusukai dari profesiku adalah aku bisa jadi contoh bahwa imigran juga bisa  jadi guru. Sekitar 70% murid dan orang tua muridku adalah imigran dari berbagai negara.  Saat wawancara dengan orang tua, aku kadang perlu bantuan penerjemah. Tapi itu juga  membuatku merasa terhubung.

Aku suka budaya sekolah di sini yang flat dan casual. Semua dipanggil nama depan,  termasuk kepala sekolah. Anak-anak pun memanggilku “Asti” atau “Kennari (Guru)”.

Filosofi hidup orang Islandia adalah “þetta reddast” (semua akan baik-baik saja). Mereka  bekerja sesuai jam kerja dan tak bawa pekerjaan ke rumah. Aku masih belajar untuk  menerapkan ini karena aku sering belum bisa lepas dari urusan kerja setelah jam  pulang. Bahkan di rumah pun, aku masih sering mencari berbagai ide untuk menyiapkan bahan ajar bagi murid-muridku di sekolah.

Sebagai guru kelas, aku harus membuat laporan harian online tentang perilaku murid,  terutama jika ada insiden. Aku juga harus menghubungi orang tua jika ada anak terluka atau melukai anak lain. Ini menguras energi karena aku harus mengingat insiden yang terjadi dan menuliskannya dalam Bahasa  Islandia, yang aturannya kompleks.

Aku mengajar di lingkungan multikultural, banyak dari keluarga ekonomi menengah ke  bawah. Menurut pengamatanku, banyak murid-muridku yang kurang pengawasan, pendidikan, dukungan bahkan kasih sayang dari orang tua mereka di rumah karena orang tua sibuk bekerja mencari nafkah dan melalaikan peran penting mereka dalam mendidik anak. Akibatnya, aku harus  bekerja ekstra dalam manajemen kelas.

Sering aku kehilangan suara akibat radang tenggorokan, apalagi saat musim dingin atau Ramadan, karena kerap berteriak untuk menertibkan kelas. Itu sebabnya aku banyak menggunakan alat bantu dan berbagai teknik manajemen kelas. Classroom Screen misalnya, efektif membantuku untuk menulis instruksi di laptop dan menayangkannya di whiteboard supaya murid-murid bisa membacanya dan guru tidak perlu selalu bicara keras.

Pernah juga aku diprotes beberapa orang tua, dilaporkan ke kepala sekolah dan meminta anaknya dipindah ke kelas lain. Namun, manajemen sekolah selalu mendukungku dan mencarikan solusi tanpa harus memindahkan anak ke kelas lain.

Sebagai guru di Islandia, aku merasa punya peran dalam perkembangan akademik dan  emosional anak-anak. Kami mengajarkan mereka bersosialisasi, mengelola emosi, dan  belajar mandiri. Anak-anak diajak belajar lewat bermain, berpikir kritis, eksplorasi dan mencari solusi.

Sekolah memberi ruang untuk kreativitas dan waktu istirahat yang cukup. Kolaborasi  dengan orang tua dan komunitas juga penting, termasuk menyediakan penerjemah saat  rapat jika orang tua tidak bisa Bahasa Islandia atau Inggris.

Sebagai perempuan Indonesia, aku membawa nilai gotong royong, sopan santun, dan menghargai keanekaragaman. Rekan kerja dan orang tua murid menghargai latar belakangku. Bahkan, beberapa murid Muslim dari negara lain merasa lebih nyaman karena tahu aku juga Muslim.

Menurut pengamatanku, orang tua di Islandia memberi banyak kebebasan dan  kepercayaan pada anak. Mereka tidak terlalu menuntut prestasi akademik, tapi lebih  fokus pada karakter, kemandirian dan berpikir kritis. Aku belajar bahwa keseimbangan hidup sangat  penting.

Masyarakat Islandia juga sangat mengedepankan kesetaraan sejak dini bagi anak laki-laki maupun perempuan, supaya kelak dapat berpartisipasi aktif dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.

Anak perempuan punya kesempatan belajar di sekolah menjadi ahli mesin, ahli listrik atau tukang batu misalnya; sedangkan anak lak-laki juga punya kesempatan belajar menjadi koki, perias, penata rambut, penjahit atau perawat. Islandia secara konsisten menjadi negara paling unggul dalam kesetaraan gender di dunia, dengan 90% perempuan usia produktif bekerja, 50% anggota parlemen adalah perempuan.

Islandia merupakan negara pertama di dunia dengan presiden wanita. Saat ini, presiden dan perdana menteri Islandia juga wanita.

Pesanku untuk perempuan Indonesia yang ingin jadi guru di luar negeri: jangan takut  mulai dari nol, terus belajar, dan percaya diri. Pengalaman pendidikan di Islandia bisa  diterapkan di Indonesia, terutama soal ramah anak dan keberagaman. Gaya  pengasuhan di Islandia yang menekankan kemandirian dan berpikir kritis  layak  dicontoh.

Untuk para orang tua, ayo terlibat dalam pendidikan anak, jalin komunikasi dengan guru,  dan hargai setiap proses belajar sebagai bagian penting dari tumbuh kembang anak-anak  kita. Guru dan orang tua adalah tim. Tanpa kerja sama, anak akan kehilangan arah dalam  proses belajarnya. Mari tumbuh bersama, demi anak-anak kita.

Penulis: Asti Tyas Nurhidayati, Guru SD di Islandia, relawan Ruanita di Islandia, dan  dapat dikontak via akun instagram @asti.tyas.nurhidayati

(CERITA SAHABAT) Di Ujung Dunia, Anak-Anakku Tumbuh Tangguh

Halo, Sahabat Ruanita. Aku Aini Hanafiah. Saat ini aku tinggal di kota Bergen, Norwegia, bersama suami dan dua anak perempuan kami. Si sulung berusia 15 tahun, si bungsu 5 tahun. Kami sudah berpindah-pindah negara: mulai dari Malaysia, Amerika Serikat, hingga akhirnya menetap di Norwegia. Di sini, aku sedang menempuh pendidikan S2. Sebelumnya, aku bekerja sebagai perawat dan asisten guru TK.

Perjalanan keluarga kami bermula ketika aku ikut suami merantau ke Malaysia setelah menikah. Anak pertama kami lahir di sana. Setelah lima tahun, kami pindah ke Tromsø, sebuah kota kecil di lingkar Kutub Utara. Kami juga sempat tinggal di New Brunswick, Amerika Serikat, sebelum akhirnya kembali ke Norwegia dan menetap di Bergen.

Saat pindah ke Tromsø, si sulung baru berusia 2,5 tahun. Sebelumnya kami tinggal berpindah-pindah antara Penang dan Jakarta. Karena belum pernah masuk daycare atau playgroup, dia tidak terlalu memiliki keterikatan sosial. Jadi, tidak banyak reaksi ketika berpindah tempat. Tapi pindah ke Tromsø berbeda. Kami datang dari lingkungan hangat dan ramai, ke tempat yang dingin, sepi, dan gelap. Saat itu Februari, puncak musim dingin. Termometer menunjukkan -20℃, dan kami terkurung di rumah selama tiga hari karena badai salju.

Si sulung sering mengamuk. Kami kelelahan. Dua hari perjalanan dari Jakarta dengan empat kali transit cukup membuat kami, orang dewasa, limbung. Apalagi si kecil. Setibanya di Oslo, dia berteriak, melempar semua jaket dan sweater karena kedinginan. Kami harus berlari-lari mengejar penerbangan terakhir sambil menggendong anak yang menangis, dua ransel, dan jaket-jaket berserakan.

Aku pikir, dua minggu saja cukup untuk adaptasi. Ternyata salah besar. Anak-anak butuh waktu lebih lama. Untuk orang dewasa, bisa saja melihat salju dan aurora itu menyenangkan. Tapi untuk anak balita? Yang dia tahu hanya dingin, sepi, dan tidak ada nenek-kakek yang biasa dia temui.

Selain tantangan cuaca, tantangan terbesar adalah aku sendiri. Aku mengira karena sudah terbiasa merantau sejak kecil, aku bisa membawa anak merantau dengan mudah. Aku salah. Dulu aku hanya bertanggung jawab atas diriku. Kini, ada anak kecil yang sangat bergantung pada kondisi psikologisku. Anak-anak menyerap energi orang tua. Ketika aku berusaha terlihat tegar, tapi sebenarnya lelah dan kesepian, si sulung ikut merasakannya.

Hari-hari kami di Tromsø diisi dengan videocall ke keluarga di Indonesia, main di dalam rumah, dan kelelahan emosional. Setelah dua bulan, barulah si sulung mulai terbiasa dengan udara dingin. Kami mulai keluar rumah ke taman, danau, atau jalan kaki ke kampus. Begitu cuaca menghangat, ia mulai masuk barnehage (TK) di bulan Agustus. TK-nya adalah friluftsliv barnehage, dengan banyak kegiatan luar ruang. Ini sangat membantu, karena ia mulai terbiasa bertemu teman sebaya dan guru yang ramah.

Guru-guru TK-nya membuatkan buku bergambar berisi kosakata bahasa Norsk dan Inggris untuk membantunya belajar bahasa. Kami masih menyimpan buku itu sampai sekarang, dan digunakan lagi saat si bungsu masuk TK.

Pengalaman si bungsu berbeda. Ia lahir di Bergen saat keluarga kami lebih stabil. Tapi ia lahir beberapa bulan sebelum pandemi COVID-19. Ketika masuk TK di usia dua tahun, dia sangat takut bertemu orang. Ia hanya mengenal ayah, ibu, dan kakaknya. Butuh waktu empat bulan untuk beradaptasi. Di enam minggu pertama, sering kali aku harus menjemputnya lebih awal karena ia menangis terus. Untung guru-guru sangat suportif dan meyakinkan bahwa ini sementara.

Kini, si bungsu akan masuk SD. Ia tumbuh menjadi anak yang lembut, gemar hiking, dan menyukai ketenangan. Beda anak, beda tantangan, beda pula bentuk resiliensinya.

Salah satu pengalaman yang paling mengena adalah ketika aku harus belanja di tengah musim dingin. Si sulung tidak mau dipakaikan jaket. Ia meraung-raung. Aku kelelahan. Akhirnya, aku duduk saja di tepi jalan bersalju, membiarkan dia menangis. Aku tahu, memarahinya tidak akan membantu. Aku hanya duduk diam, menikmati sedikit sinar matahari yang muncul setelah musim dingin panjang.

Setelah tangisnya reda, dia tertidur di stroller. Sejak saat itu, aku mulai menyadari pentingnya self-soothing. Saat anak mengamuk, aku belajar menenangkan diri dulu. Kadang aku ke balkon, duduk sebentar. Tidak meninggalkan anak, tapi menjauh agar bisa lebih tenang. Lama-lama, si sulung mulai mengikuti, bahkan berusaha memakai jaketnya sendiri untuk ikut ke luar.

Langkah konkret lainnya adalah menciptakan rutinitas yang stabil. Bangun tidur, bereskan selimut, makan, mandi, lalu berangkat sekolah. Pulang sekolah, makan, istirahat, lalu boleh bermain. Tidak ada screentime di hari biasa. Kami juga membiasakan ngobrol saat makan malam. Obrolan ini jadi ruang untuk berbagi cerita, masalah, atau sekadar bercanda. Kami ajarkan bahwa semua emosi boleh, tapi tidak semua perilaku diperbolehkan.

Aku juga menjaga identitas budaya Indonesia lewat makanan. Akhir pekan, kami isi dengan memasak makanan Indonesia. Si sulung bahkan bangga bisa makan sambal korek, katanya itu prestasi. Kami juga rajin membaca buku berbahasa Indonesia, videocall dengan keluarga, dan ikut pengajian bulanan dengan komunitas Indonesia di Bergen.

Kami percaya, identitas budaya anak bisa ditanam lewat rasa, cerita, dan koneksi emosional. Meski tinggal di negara barat, kami ajarkan batasan dan nilai-nilai lewat kebiasaan dan contoh sehari-hari.

Soal kesehatan mental, aku pernah konsultasi ke psikolog Indonesia secara online. Di Norwegia sempat mencoba, tapi tidak cocok karena kendala bahasa dan biaya. Untuk si sulung, sekolah membantu mengakses layanan psikolog remaja. Suatu hari ia bilang, “I think I need help.” Kami langsung bantu. Saat itu aku merasa, semua table talk selama ini ternyata tidak sia-sia.

Aku belajar bahwa kebutuhan emosional anak saat migrasi adalah rasa aman. Dan rasa aman itu tidak bisa muncul kalau orang tuanya sendiri belum merasa aman.

Makna resiliensi buat anak-anak kami bukan soal “baik-baik saja,” tapi tentang bisa mengelola emosi, merasa cukup, dan tahu kapan dan bagaimana meminta bantuan.

Akhirnya, aku sadar bahwa menjadi orang tua di perantauan tidak hanya soal bertahan hidup, tapi juga tentang membangun ulang diri. Unlearning itu sama pentingnya dengan learning.

Untuk orang tua yang akan merantau, siapkan diri secara sadar. Jangan hanya tergoda citra di media sosial. Hidup di luar negeri memang banyak peluang, tapi juga penuh tantangan. Pelajari sistem negara tujuan, cari tahu jalur bantuan, dan bangun komunitas sehat. Jangan lupa, punya batasan yang sehat juga penting.

Karena saat kita sudah merasa cukup, kita bisa hadir penuh untuk anak-anak. Dan saat itulah, resiliensi mulai tumbuh, perlahan, tapi pasti.

Penulis: Aini Hanafiah, yang dapat dikontak via akun instagram @aini_hanafiah.

(CERITA SAHABAT) Dua Dunia, Satu Hati: Perjalanan Menjadi Ibu Indonesia untuk Anak-anak Remaja di Prancis

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Edha, seorang ibu yang bahagia dengan memiliki anak-anak remaja di Prancis. Ada satu hal yang selalu saya yakini sebagai seorang ibu: tidak ada yang pernah selesai dalam perjalanan kita membimbing anak-anak. Kita terus belajar, terus menyesuaikan langkah, terus mencari cara agar bisa hadir bagi mereka, meski dunia yang mereka pijak berubah, bertambah luas, atau bahkan semakin berbeda dari dunia yang kita kenal.

Ketika saya memutuskan untuk ikut program Cerita Sahabat Ruanita Indonesia, ada dorongan kuat dalam diri saya untuk membagikan kisah saya sebagai seorang ibu Indonesia yang membesarkan anak-anak remaja di Prancis. Ini bukan sekadar kisah perpindahan negara, tetapi kisah tentang identitas, keberanian, dan cinta seorang ibu yang berusaha menjaga nilai-nilai Indonesia tetap hidup di tengah budaya Eropa yang sangat berbeda.

Perjalanan kami bukan perjalanan yang mudah. Tapi dari sana, saya menemukan makna baru tentang menjadi ibu, tentang rumah, dan tentang bagaimana dua budaya bisa hidup berdampingan dalam satu keluarga. Inilah cerita saya, sahabat Ruanita!

Sebelum menetap di Prancis, hidup saya sepenuhnya berpusat di Indonesia. Saat itu, saya bekerja sebagai pramugari, sebuah profesi yang sangat saya cintai karena memberi saya kesempatan melihat dunia, bertemu berbagai karakter manusia, dan memahami banyak hal tentang kehidupan. 

Namun, ketika saya menikah dan kemudian dikaruniai anak-anak, saya memilih meninggalkan dunia penerbangan yang pernah menjadi rumah kedua saya. Saya memutuskan untuk sepenuhnya fokus menjadi seorang ibu, sesuatu yang ternyata membawa saya pada perjalanan yang tidak kalah menantangnya dibandingkan pekerjaan saya sebelumnya.

Suami saya adalah seorang pria Prancis yang bekerja sebagai ahli geologi di sebuah perusahaan tambang besar di Indonesia. Pekerjaannya menuntutnya sering berpindah dari satu lokasi eksplorasi ke lokasi lain, yang berarti dalam kehidupan sehari-hari, saya lebih banyak menghabiskan waktu sendiri bersama anak-anak. 

Meski demikian, kehidupan kami tergolong mapan. Anak-anak bersekolah di sekolah negeri dan tumbuh dalam lingkungan yang sangat Indonesia. Bahasa sehari-hari kami adalah bahasa Indonesia, teman bermain mereka adalah anak-anak Indonesia, dan kebiasaan yang mereka serap juga sepenuhnya berakar dari kultur Indonesia. Nilai-nilai yang mereka kenal sejak kecil, seperti: kesopanan, kebersamaan, hormat kepada yang lebih tua, semuanya tercetak dari lingkungan tempat mereka lahir dan tumbuh.

Ketika anak-anak mulai beranjak remaja, saya dan suami menemukan diri kami berada pada sebuah persimpangan besar. Selama bertahun-tahun, anak-anak tumbuh dalam suasana Indonesia yang hangat dan familiar. Namun di balik rutinitas yang mapan itu, kami sama-sama menyadari satu hal: anak-anak kami hanya mengenal salah satu sisi diri mereka, sisi Indonesia.

Di dalam diri mereka sebenarnya ada dua dunia yang berbeda, dua sejarah keluarga, dua bahasa, dan dua budaya. Mereka mewarisi darah Prancis dari ayahnya, tetapi kami sadar bahwa identitas itu belum pernah benar-benar mereka sentuh. Dari sinilah percakapan panjang tentang pindah ke Prancis perlahan mulai mengemuka, kadang singkat, kadang serius, kadang berakhir dengan renungan panjang di malam hari.

Saya ingin anak-anak memahami budaya ayahnya, bukan sekadar sebagai cerita di meja makan, tetapi sebagai sesuatu yang bisa mereka sentuh, rasakan, dan hidupi. Kami membayangkan mereka menguasai bahasa Prancis bukan hanya sebagai pelajaran tambahan, tetapi sebagai bahasa sehari-hari yang menghubungkan mereka dengan keluarga ayah, dengan tanah tempat ia dilahirkan. Kami ingin mereka tumbuh tidak hanya sebagai anak Indonesia atau Prancis, tetapi sebagai anak yang memiliki dua akar, dua perspektif, dan dua tempat pulang.

Namun, meskipun ide itu terasa indah dalam pikiran orang dewasa, kenyataan di hadapan anak-anak jauh lebih kompleks. Ketika kami akhirnya memberi tahu keputusan kami untuk pindah ke Prancis, wajah mereka langsung memperlihatkan campuran emosi yang sulit saya lupakan. Ada kekhawatiran besar dalam mata mereka, kekhawatiran tentang harus meninggalkan teman-temannya, meninggalkan kenyamanan rumah, meninggalkan sekolah yang sudah sangat mereka kenal. 

Mereka bingung bagaimana nanti menjalani hari-hari di negara asing dengan bahasa yang belum pernah mereka kuasai. Saya melihat air mata yang mereka tahan ketika memikirkan betapa jauhnya mereka dari keluarga besar saya, dari nenek-kakek yang biasanya mereka kunjungi setiap minggu. Ada juga ketakutan tentang lingkungan sosial yang sama sekali baru, tentang bagaimana mereka harus mulai dari awal di tempat yang terasa asing.

Sebagai seorang ibu, melihat kecemasan itu membuat hati saya teriris. Anak-anak saya tidak hanya berpindah rumah, mereka juga akan berpindah dunia. Mereka harus meninggalkan sebagian kecil kehidupan yang selama ini memberi mereka rasa aman dan stabil. Saya tahu keputusan ini berat bagi mereka, tetapi saya juga tahu betapa berharganya pengalaman ini nanti bagi mereka, pengalaman menjadi anak yang hidup dalam dua budaya dengan bangga dan utuh.

Kami banyak berdiskusi sebagai keluarga. Malam-malam kami habiskan dengan menjawab pertanyaan mereka satu per satu, mencoba meredakan kegelisahan yang muncul bergantian. Saya memeluk mereka ketika mereka takut, saya mendengarkan mereka ketika mereka marah atau bingung, dan saya memastikan bahwa mereka tahu satu hal: bahwa kami akan melewati ini bersama. Setelah beberapa waktu dan banyak percakapan penuh air mata dan tawa, mereka mulai menerima keputusan itu. Mereka belum sepenuhnya siap, tetapi mereka mulai membuka pintu kecil di hati mereka untuk menyambut kehidupan baru itu.

Meski akhirnya mereka berkata “iya,” saya tetap bisa merasakan rasa berat yang tersisa dalam langkah kecil mereka menjelang keberangkatan. Ada sesuatu yang mereka tinggalkan di Indonesia, sebagian dari masa kecil mereka, tetapi ada pula sesuatu yang menunggu mereka di Prancis: masa remaja yang akan membentuk siapa mereka kelak. Dan di tengah ketidakpastian itu, saya hanya bisa menggenggam tangan mereka lebih kuat, memastikan bahwa meski dunia baru menanti, mereka tidak akan pernah melangkah sendirian.

Hidup sebagai ibu dari anak-anak yang tumbuh di dua budaya membuat saya memahami bahwa menjadi orang tua bukan hanya soal membesarkan, tetapi juga menyeimbangkan. Ketika kami pindah dari Indonesia ke Prancis, anak-anak saya memasuki masa remaja, masa yang penuh pertanyaan dan pencarian jati diri. Dan di tengah perubahan besar itu, saya harus belajar menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar ibu. Saya harus menjadi sahabat.

Tidak selalu mudah menjaga hubungan yang dekat dengan mereka. Ada hari ketika mereka lebih memilih menutup pintu kamar daripada mendengarkan saya. Ada saat-saat ketika nilai-nilai Indonesia yang saya pegang erat bertabrakan dengan cara berpikir mereka yang semakin dipengaruhi budaya Eropa. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan kebebasan berbicara, kemandirian sejak kecil, dan ekspresi diri yang terbuka, sementara saya membawa warisan sopan santun, kerendahan hati, dan kehangatan khas Indonesia. Setiap hari kami seakan menegosiasikan dua dunia itu, mencari cara agar tidak saling meniadakan, tetapi justru saling melengkapi.

Dalam proses itu, saya sadar bahwa saya harus banyak belajar: mendengarkan tanpa menghakimi, memberi batasan dengan lembut, dan menyampaikan nilai-nilai Indonesia dengan cara yang membuat mereka ingin merawatnya, bukan menolaknya. Tidak ada sekolah yang mengajarkan semua itu. Saya belajar sambil berjalan, sering salah langkah, tetapi selalu kembali mencoba lagi.

Namun dari perjalanan ini, saya melihat sesuatu yang sangat indah. Perlahan, identitas keluarga kami terbentuk bukan sebagai Indonesia atau Prancis, tetapi sebagai gabungan utuh keduanya. Anak-anak saya nyaman berbicara dalam dua bahasa, membawa sopan santun Indonesia tetapi juga keberanian ala Prancis, dan tumbuh dengan cara yang membuat saya merasa bangga sekaligus takjub. Mereka belajar mencintai dua budaya yang membentuk mereka, dan saya belajar melepaskan kekeliruan anggapan bahwa mereka harus memilih salah satu.

Untuk perempuan Indonesia yang mungkin mempertimbangkan pindah negara, terutama yang punya anak remaja, saya ingin berpesan: jangan takut pada perubahan besar. Memasuki budaya baru bukan berarti meninggalkan budaya sendiri. Anak-anak kita justru bisa membawa keduanya sebagai kekuatan. Peluklah prosesnya. Tidak semua hari akan mudah, tetapi selalu ada makna di balik tantangan itu. Temukan komunitas, bangun jaringan pertemanan, dan tetap jaga bahasa serta nilai-nilai Indonesia dengan penuh cinta, bukan paksaan.

Dan untuk anak-anakku, jika suatu hari kalian membaca ini, ketahuilah bahwa kalian boleh tumbuh dalam dua dunia, tetapi kalian tidak harus kehilangan siapa diri kalian. Rawatlah nilai Indonesia yang sudah ibu tanamkan sejak kecil. Hargailah budaya lain tanpa menghapus akar kalian. Jangan takut menapaki hal-hal baru; setiap pengalaman, baik yang manis maupun yang sulit, akan membentuk kalian menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak.

Pada akhirnya, hidup dalam dua budaya mengajarkan saya bahwa rumah tidak pernah hanya satu titik di peta. Rumah adalah perjalanan, rumah adalah pelajaran, dan rumah adalah orang-orang yang kita cintai. Dan bagi saya, rumah itu kini hidup di mana pun anak-anak saya berada, di antara bahasa Indonesia dan Prancis, di antara sopan santun dan kebebasan berekspresi, di antara dua dunia yang mereka rangkul dengan hati penuh.

Penulis: Edha, yang tinggal di Prancis, dan dapat dikontak via akun instagram edhadelaby

(CERITA SAHABAT) LDR Parenting: Dari Jakarta ke UK

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Griska Gunara, yang lahir dan besar di Jakarta. Hidup saya penuh dengan perjalanan, bukan hanya secara fisik berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga perjalanan batin yang membentuk siapa saya hingga hari ini. Sejak 2020, saya resmi tinggal di Inggris, sebuah negeri yang awalnya terasa asing, tetapi kini menjadi rumah kedua bagi saya.

Proses di sini cepat sekali karena saya tidak mau overstay. Jadi kami mengurus upgrade visa ke visa family untuk kemudian kami bisa menikah di UK. Alhamdulillah, akhirnya saya tinggal di sini sampai hari ini.

Perjalanan pindah ke Inggris bisa dibilang sangat cepat dan penuh kejutan. Tahun itu, saya bertemu dengan pria yang kini menjadi suami saya. Hubungan kami berkembang pesat, hanya dalam hitungan bulan ia melamar. Dua bulan setelah Itu, saya sudah bersiap untuk mengurus keberangkatan dengan visa turis. Tidak pernah saya bayangkan hidup akan membawa saya sejauh ini, dari Jakarta, ke Bali, dan akhirnya menetap di Inggris.

Namun, sebelum kisah ini berlanjut, ada satu bagian besar hidup saya yang tak bisa saya lepaskan: peran saya. Bahwa saya adalah seorang ibu tunggal sejak 2008, meski kini saya menetap di Inggris.

Ketika putri saya baru berusia tiga tahun, rumah tangga saya berakhir dengan perceraian. Saat itu dunia saya seakan runtuh. Hidup saya berubah drastis, sekejap saja. Dari seorang istri, saya menjadi seorang ibu tunggal yang harus menanggung beban hidup seorang diri, sembari saya tetap memastikan anak tetap tumbuh dalam cinta.

Kalau diceritakan secara lengkap, kisah perjalanan saya sebagai ibu tunggal bisa menjadi sebuah buku tebal. Ada perjuangan, air mata, kelelahan, tetapi juga ada kekuatan yang tidak pernah saya tahu sebelumnya ada dalam diri saya. Putri saya menjadi alasan terbesar untuk terus melangkah.

Saya pernah bekerja di Bali, di sebuah Dive resort. Saat itulah mantan suami meminta agar putri kami tinggal bersamanya dan keluarganya. Karena jarak rumahnya hanya sekitar 20 menit dari rumah ibu saya, saya pun menyampaikan pesan itu. Awalnya sulit menerima, tapi saya belajar untuk percaya bahwa selama ada komunikasi dan doa, ikatan kami tidak akan pernah hilang.

Menjalani peran sebagai ibu jarak jauh adalah salah satu tantangan terbesar dalam hidup saya. Mungkin banyak orang bisa membayangkan, tapi hanya yang benar-benar mengalaminya yang tahu betapa dalam luka dan rindunya. Berpisah secara fisik dengan anak semata wayang itu rasanya seperti kehilangan separuh jiwa.

Lima tahun lamanya saya tidak bertemu langsung dengannya, hingga akhirnya kami bisa berjumpa kembali di akhir tahun 2024. Bayangkan, lima tahun! Rindu itu setiap hari hadir, tak pernah absen. Ada kalanya saya merasa kuat, tapi lebih sering saya harus menelan perasaan bersalah dan kesepian.

Beruntung, kita hidup di era digital. WhatsApp menjadi jembatan cinta kami. Video call, pesan singkat, bahkan sekadar emoji bisa menjadi pengobat rindu. Melalui layar kecil, saya masih bisa mendengar suaranya, melihat ekspresinya, bahkan bercanda meski jarak ribuan kilometer memisahkan. Itu yang membuat saya bertahan.

Namun, tentu saja ada banyak momen penting yang terlewat. Acara sekolah, kenaikan kelas, bahkan momen kecil yang biasanya menjadi rutinitas ibu-anak. Rasanya hampa, seperti ada bagian dari diri saya yang tidak lengkap. Untungnya, saya tetap terhubung dengan grup WhatsApp orang tua murid dan guru di sekolahnya. Dari sana saya bisa mengikuti perkembangan, meski tidak hadir secara fisik.

Saya dibesarkan dalam keluarga Muslim yang kuat dalam iman. Ibu saya selalu mengingatkan, “Jangan pernah meninggalkan ibadah.” Nasihat ini menjadi pondasi saya, bahkan dalam menjalani peran sebagai ibu jarak jauh. Doa adalah dukungan emosional terbesar yang bisa saya berikan kepada putri saya.

Selain itu, saya sering bercerita. Saya percaya, komunikasi bukan hanya soal memberi kabar, tapi juga soal membangun kebiasaan berbagi perasaan. Dengan bercerita, saya memberi ruang bagi putri saya untuk juga terbuka tentang kesehariannya. Dari obrolan sederhana itulah, hubungan kami tetap hangat.

Hidup di Inggris membawa saya pada babak baru: menjadi bagian dari keluarga yang lebih besar. Suami saya memiliki anak-anak dari pernikahan sebelumnya. Dinamika ini menarik sekaligus menantang.

Di sini, aturan tentang pengasuhan anak berbeda dengan Indonesia. Anak-anak tinggal bersama ibu kandung mereka, sementara waktu dengan ayah sudah terjadwal rapi. Saya belajar menyesuaikan diri dengan pola ini. Awalnya canggung, tapi perlahan saya menemukan ritmenya.

Tantangan terbesar adalah bahasa. Anak-anak berbicara cepat dengan kosakata yang kadang belum saya pahami. Saya sering hanya bisa diam ketika mereka bercerita pada ayahnya, lalu pelan-pelan saya belajar. Dari mereka, saya mendapat kesempatan untuk terus berkembang, termasuk dalam bahasa Inggris.

Suami saya sangat mendukung peran saya sebagai ibu dari anak yang tinggal di Indonesia. Ia sering menyemangati anak-anaknya untuk membuat kartu ucapan atau hadiah kecil untuk putri saya. Bahkan saat saya video call, mereka ikut menyapa. Itu membuat saya terharu. Bagaimana tidak?! Bahwa mereka mengakui keberadaan putri saya sebagai bagian dari keluarga kami.

Menjadi ibu kandung sekaligus ibu tiri bukan hal mudah. Sejak awal, saya selalu mengingatkan diri, “Jangan lupakan dirimu.” Saya tahu, secara teknis saya bukan ibu kandung mereka. Namun dengan dukungan penuh dari suami, saya bisa menjalani peran ini dengan lebih ikhlas.

Ada kalanya saya merasa bersalah. Saya merasa gagal sebagai ibu karena tidak selalu bisa hadir untuk putri saya. Saya sering tenggelam dalam pikiran, berdoa siang dan malam agar suatu hari nanti Tuhan mempertemukan kami kembali dalam kehidupan yang utuh.

Belajar manajemen stres menjadi kunci. Saya menemukan ketenangan lewat ibadah, meditasi, dan yoga. Rutinitas ini membantu saya tetap waras, tetap kuat, dan tetap percaya diri menjalani hari-hari.

Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa “ibu” bukan sekadar status biologis. Ibu adalah fondasi, guru pertama dalam keluarga, sumber cinta yang tak bisa tergantikan. Keluarga, bagi saya, adalah paket lengkap: suka, duka, konsekuensi dari setiap pilihan. Yang penting adalah menjaga harmonisasi hati, meski jarak memisahkan.

Saat ini, putri saya sedang menjalani status barunya sebagai mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Saya bangga sekali karena ia sempat berhasil mendapatkan bukan hanya satu, tapi lima beasiswa ke luar negeri. Meski begitu, ia memilih untuk menempuh pendidikan di Indonesia dulu sebelum berencana melanjutkan ke Inggris di tahun ketiganya nanti.

Tentu saja harapan terbesar saya adalah bisa berkumpul kembali dengannya. Tidak ada doa lain yang lebih sering saya panjatkan selain doa untuk pertemuan itu.

Jika suatu hari nanti ia membaca cerita ini, saya ingin ia tahu: “Nikmatilah waktumu dengan rasa senang. Dunia tidak perlu tahu proses perjalanan kita, yang penting kita saling menjaga diri dan berjuang bersama. Roda kehidupan terus berputar, tapi cinta ibu ini akan selalu melekat, nyata, dan terkirim dalam setiap doa.”

Sahabat Ruanita, di akhir kisah saya, saya yakin cerita saya bukan satu-satunya. Banyak perempuan Indonesia di luar sana yang mungkin juga menjalani peran serupa: menjadi ibu jarak jauh, bagian dari blended family, dan berusaha beradaptasi di negeri orang.

Pesan saya sederhana: kuatkan diri.

Sabar itu perlu latihan, dan inilah saatnya melatihnya lebih dalam. Jangan memaksakan diri melakukan sesuatu yang bukan porsimu. Ingat, setiap negara punya cara pandang berbeda soal keluarga.

Jangan ragu mencari dukungan, baik dari sesama ibu sambung maupun komunitas lain. Meski jalannya berbeda, kita bisa saling menguatkan dengan kesadaran mendalam.

Perjalanan saya masih panjang. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Namun, satu hal yang pasti: menjadi ibu, meski dari jarak jauh, tetaplah sebuah panggilan jiwa. Cinta seorang ibu tidak pernah mengenal jarak, waktu, atau batas negara.

Dan inilah cerita saya, yakni tentang cinta, kehilangan, doa, dan harapan dalam menjalani LDR Parenting.

Penulis: Griska Gunara, yang tinggal di UK dan dapat dikontak melalui akun Instagram @griskagunara.

(CERITA SAHABAT) Ciptakan Lingkungan Kerja Inklusif, Tentu Tak Ada Generation Gap

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Ecie yang tinggal di Hamburg, Jerman. Sebagai seorang karyawati di sebuah institusi bahasa yang terdiri atas orang-orang berbagai bangsa di Jerman, istilah generation gap bukan hal asing. Ketika saya mendengar istilah “generation gap” di tempat kerja, yang pertama kali terlintas di pikiran saya adalah perbedaan pandangan, nilai, dan pendekatan kerja di antara generasi yang berbeda. 

Menurut saya, kadang-kadang ini dapat menyebabkan kesalahpahaman atau tantangan dalam berkomunikasi dan berkolaborasi. Di tempat kerja, saya dapat mengamati perbedaan paling mencolok antara generasi yang berbeda. Biasanya ini terlihat dalam cara mereka berkomunikasi dan pendekatan terhadap teknologi. 

Generasi yang lebih tua atau mereka yang senior cenderung lebih formal, misalnya mereka lebih memilih komunikasi tatap muka atau melalui telepon. Ini mungkin disebabkan dengan faktor kenyamanan, menurut saya. Sementara generasi yang lebih muda, mereka lebih mengandalkan komunikasi digital, seperti email, pesan instan, atau platform kolaborasi online. 

Generation gap tidak hanya sampai di situ saja. Saya melihat bahwa generasi yang lebih tua mungkin lebih fokus pada stabilitas dan loyalitas terhadap perusahaan, sementara generasi yang lebih muda seringkali lebih menekankan pada fleksibilitas, Work-life-balance, dan peluang untuk perkembangan pribadi.  Tentunya, generation gap juga menciptakan perbedaan dalam prioritas dan pendekatan terhadap pekerjaan, sehingga bukan tidak mungkin timbul percikan-percikan dalam dunia pekerjaan yang saya amati. 

Saya pernah menyaksikan konflik antar generasi di tempat kerja. Biasanya, konflik tersebut muncul dari perbedaan cara pandang atau metode kerja. Dalam salah satu kasus, situasi tersebut ditangani dengan mengadakan diskusi terbuka di mana setiap generasi diberikan kesempatan untuk berbagi pandangan mereka dan mencari solusi bersama. Kalau menurut kalian, sahabat Ruanita begitu jugakah kalau terjadi generation gap?

Dalam tempat kerja saya, saya tidak hanya dihadapkan dengan perbedaan latar belakang budaya atau yang berbeda saja, tetapi juga usia di antara kami. Bekerja dengan orang-orang dari berbagai generasi, tentunya memberikan keuntungan tersendiri. Saya jadi memiliki perspektif beragam, terutama dalam bekerja yang memerlukan kreativitas dan solusi.

Namun, tentunya bekerja dengan berbagai generasi yang kemudian memunculkan kesenjangan pun menimbulkan kemungkinan terjadinya kesalahpahaman atau ketegangan, akibat perbedaan nilai dan cara kerja. Menurut saya, cara yang paling efektif untuk menjembatani perbedaan pandangan dan gaya kerja antar generasi di tempat kerja adalah dengan mengadakan sesi pelatihan lintas generasi sehingga menciptakan budaya kerja yang inklusif. Maksud saya, kita perlu menghargai dan mendengarkan setiap orang, terlepas dari usia atau latar belakang mereka. 

Saya menilai posisi saya berada di antara keduanya. Demikian pula saya merasa bahwa setiap generasi mungkin saja bisa diuntungkan atau dirugikan dalam lingkungan kerja, tergantung konteksnya. Artinya, ini bergantung pada seberapa baik perusahaan mengakomodasi kebutuhan dan gaya kerja mereka. 

Misalnya, generasi yang lebih muda mungkin merasa diuntungkan dalam hal adaptasi teknologi, sementara generasi yang lebih tua mungkin merasa dirugikan jika mereka tidak mendapatkan dukungan yang cukup untuk mengikuti perkembangan ini. 

Perbedaan dalam penggunaan teknologi seringkali memengaruhi hubungan antar generasi di tempat kerja. Generasi yang lebih muda biasanya lebih cepat beradaptasi dengan teknologi baru, sementara generasi yang lebih tua mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk beradaptasi, yang dapat menciptakan kesenjangan dalam efisiensi kerja dan komunikasi.

Contohnya saja, saya merasa tidak sabar ketika mereka yang berasal dari generasi senior begitu lamban dalam merespon. Mereka bisa mengetik lama sekali karena mereka perlu berpikir lama untuk menjawab email. Contoh lainnya, mereka (generasi senior) ingin sekali belajar Microsoft Excel, tetapi mereka sering “ngeyel” dan ingin lebih cepat selesai. Padahal hasil mereka belum tentu bisa akurat. 

Dalam kaitan tema generation gap, saya percaya kita bisa menjembatani kesenjangan antar generasi ini dengan melakukan program mentoring. Program tersebut bisa berupa pelatihan teknologi bagi generasi yang lebih tua atau mentoring dari generasi yang lebih senior kepada yang lebih muda dalam hal pengembangan karier dan etika kerja. 

Pemberi kerja atau perusahaan juga perlu menyediakan waktu staff meeting untuk saling berbagi perspektif cara kerja masing-masing. Pembekalan cara berkomunikasi dengan rekan kerja juga penting, apalagi saya yang bekerja di tempat kerja dari berbagai latar belakang budaya dan negara. 

Dalam kehidupan digitalisasi seperti sekarang, tentu saya berharap kita dapat menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan harmonis. Kita perlu menciptakan suasana kerja yang saling menghormati satu sama lain, terlepas dari usia atau latar belakang budayanya. Dengan begitu, kita dapat bekerja sama dengan memanfaatkan kekuatan masing-masing. Bukankah itu maksudnya bekerja tim? 

Lewat tema generation gap, saya rasa kita perlu menghasilkan tim yang kuat dan dinamis. Kita perlu menghormati generasi senior dan mengajak mereka agar tidak akan merasa tertinggal dengan pesatnya kemajuan teknologi dan digitalisasi.

Penulis: Ecie, relawan Ruanita yang tinggal di Hamburg dan dapat dikontak via akun IG: ciesa.

(CERITA SAHABAT) Dari Jerman ke Slovenia: Lebih dari Sekadar Pindah Negara

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan, saya Siti Aghata Romizah Yasmin, atau biasa dipanggil Aghata. Saya berasal dari Indonesia dan saat ini melanjutkan studi Master di Slovenia, setelah sebelumnya tinggal di Jerman selama setahun. Perjalanan tiga tahun merantau di Eropa ini bukan sekadar pindah negara, melainkan sebuah proses pembentukan diri yang menguji arti sebenarnya dari ketahanan diri.

Perpindahan saya dari Jerman ke Slovenia adalah sebuah evolusi. Pengalaman saya di Jerman memberi fondasi penting untuk memahami kehidupan di Eropa, namun tujuan saya lebih besar: melanjutkan pendidikan dan menantang diri di lingkungan yang sama sekali berbeda.

Jerman adalah ujian resiliensi pertama saya. Dua bulan awal terasa berat, culture shock membuat saya merindukan kehangatan Indonesia. Namun, dengan dukungan luar biasa dari keluarga angkat, saya belajar bahwa adaptasi bukan sekadar bertahan, tetapi juga tentang menerima dan tumbuh.

Saya sempat berpikir pengalaman di Jerman bisa dijadikan cetak biru untuk negara Eropa lainnya. Ternyata, saya salah besar. Slovenia punya “jiwa” dan ritme yang sama sekali berbeda. Proses adaptasi kali ini terasa lebih lambat, dan saya menyadari penyebabnya ada dua. Pertama, hilangnya “Efek Pelangi” yakni fase euforia di awal yang membuat semua tantangan terasa ringan.

Kedua, “Beban Ekspektasi”, yakni asumsi keliru bahwa karena sudah berpengalaman, semuanya akan mudah. Pengalaman justru membuat saya sedikit lengah dan lupa untuk kembali rendah hati. Saya harus kembali menjadi “murid” dari nol.

Tantangan terbesar saya adalah bahasa dan budaya. Awalnya, saya optimistis karena kemiripan alfabet Slovenia dengan Bahasa Indonesia. Namun, kesulitan sesungguhnya muncul di level lanjutan, saat saya berada di tengah penutur asli bahasa Slavia yang punya keunggulan alami. Ritme kelas yang cepat menguji saya secara akademis dan emosional. Saya harus berjuang dua kali lipat, mengubah rasa minder menjadi motivasi.

Masyarakat Slovenia juga cenderung lebih berhati-hati dengan orang asing. Mereka ramah, tetapi butuh waktu dan konsistensi untuk membangun kepercayaan. Di sinilah saya benar-benar memahami makna resiliensi emosional: kemampuan untuk proaktif memulai interaksi tanpa mengharapkan keterbukaan instan.

Tantangan ini diperkuat dengan tidak adanya komunitas Indonesia yang solid atau kedutaan besar di Slovenia. Ada kalanya saya merindukan keakraban tawa dan bahasa kita. Namun, situasi ini memaksa saya untuk tidak bergantung pada “jaring pengaman” budaya. Saya belajar hal yang paling fundamental: menjadi rumah bagi diriku sendiri. Ini bukan berarti menyendiri, melainkan secara proaktif membangun koneksi baru yang bermakna. Bagi saya, ini terwujud melalui pertemanan lintas budaya dan dengan menyalurkan energi untuk berkontribusi, seperti keterlibatan saya sebagai relawan di Ruanita, yang memberikan saya ruang untuk bertumbuh bersama komunitas.

Tentu, saya punya jangkar penolong. Seni adalah jangkar mental saya. Melukis, menggambar, hingga nail art menjadi ruang aman untuk menenangkan pikiran. Saya juga menulis untuk memaknai setiap tantangan. Dan yang terpenting, suami saya adalah rekan resiliensi saya. Kami tidak hanya saling mendukung secara emosional; kami memandang setiap kesulitan sebagai proyek tumbuh bersama yang harus dihadapi sebagai sebuah tim.

Kini, saya melihat migrasi sebagai proses tanpa akhir untuk membentuk diri. Saya belajar beberapa prinsip penting: kosongkan gelasmu sebelum memasuki lingkungan baru; bangun ekspektasi berdasarkan realitas, bukan ilusi; dan sadari bahwa hubungan adalah investasi berharga yang harus dirawat.

Untuk teman-teman yang sedang berjuang di negara baru, ingatlah: kamu tidak sendiri. Bicarakan apa yang kamu rasakan. Lalu, mulailah dari langkah kecil. Adaptasi bukan perlombaan, melainkan proses menemukan ritme baru. Dan yang paling penting, jadilah rumah bagi dirimu sendiri, di mana pun kamu berada.

Penulis: Siti Aghata Romizah Yasmin, relawan Ruanita Indonesia di Slovenia dan dapat dikontak via akun instagram aghataasasmin.

(CERITA SAHABAT) Saya Menemukan Diriku: Perjalanan Menyadari ADHD di Usia Dewasa

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya Rieska dan seorang jurnalis Indonesia yang tinggal di Italia. Pada 2022, hidup saya berubah drastis setelah mengalami kecelakaan saat bermain ski. Awalnya dokter mengatakan tidak ada patah tulang, tapi rasa nyeri yang luar biasa membuat saya mengalami insomnia dan kesulitan bergerak. 

Saya harus menjalani perawatan intensif, suntik dua kali sehari selama sebulan, terapi gelombang ultrasonik 12 jam sehari selama dua minggu, dan terapi penggeseran posisi tulang. Di bulan kedua, barulah bisa diketahui bahwa dua otot kaki saya putus, menjelaskan sakit yang begitu luar biasa itu.

Selama masa pemulihan, saya mencoba mengalihkan perhatian dengan membaca buku, menulis, menonton dokumenter, dan berdiskusi dengan teman lewat media sosial. Namun, seiring waktu, saya mulai menyadari hal-hal yang aneh terjadi dalam diri saya seperti: saya kesulitan memahami konsep waktu. Selain itu, emosi saya naik turun tanpa alasan jelas. Saya juga merasa otak terasa kabur (brain fog), bahkan sulit mengingat nama teman atau nama  kolega yang baru. Setiap malam, saya mendapay mimpi saya begitu vivid dan bertumpuk, kadang seperti film Inception atau pengalaman keluar dari tubuh, sehingga saat bangun alih-alih segar, saya malah tambah lelah.

Meski demikian, saya menikmati keindahan membaca 3–4 buku sejarah dalam dua minggu hanya untuk menyelesaikan satu atau dua tulisan. Menariknya, kalau sudah terpaku pada buku, saya bisa lupa makan dan minum meski kaki saya nyeri luar biasa. Saya sering bangun tengah malam untuk minum 5–7 gelas air tapi tetap merasa haus, dan ini membuat saya bolak-balik ke kamar mandi, menambah sulit tidur dan rasa sakit.

Kondisi ini menghantam saya secara mental, fisik, bahkan hampir secara seksual, karena rasa sakit berlangsung berbulan-bulan. Hal yang bisa saya nikmati hanyalah kepuasan spiritual, intelektual, dan finansial: menulis semua yang saya rasakan, mencatat kronologi sakit, dan tetap bekerja menulis laporan berita.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai mempertanyakan semua gejala ini, yakni haus berlebihan, kehilangan ingatan, brain fog, sulit fokus tapi kadang hyperfocus, emosi ekstrem, hingga disorientasi, mengalami mental paralyze dan bahkan semacam seizure saat emosi tak dapat dikendalikan. Karena penasaran, saya mengikuti beberapa tes online dan menemukan fakta mengejutkan: saya mengalami ADHD berat.

Saya berseru: Eureka! Semua anomali hidup saya ternyata memiliki jawaban. Saya tidak gila. Psikologi dan neurologi memberikan penjelasan yang sangat masuk akal.

Follow us

Sejak itu, saya mulai fokus pada cara alami meningkatkan dopamin: supaya bisa tidur tenang, saya paksakan olahraga meski rasa sakit tak terhingga, saya seleksi makanan dengan menu khusus yang dapat memicu produksi dopamin, sederhana tapi esensial seperti biji-bijian, kacang mede, ati ayam, daging dan berbagai macam ikan. Saya hanya makan karbohidrat saat makan siang, pagi dan malam saya cukup puas dengan makan buah dan sayur. 

Meski selama sakit, sehari-hari saya hanya berbaring, sebagai jurnalis, saya disiplinkan diri mencatat semua kegiatan harian untuk melihat apakah terapi yang saya buat, bisa memberikan perubahan. Terapi perbaikan posisi tulang memungkinkan saya untuk mulai melakukan olahraga sepeda statis. 

Perlahan tapi pasti, seiring dengan meningkatnya suplai dopamin dalam tubuh, saya mulai bisa mengontrol emosi, meningkatkan kemampuan memori, kabut otak mulai hilang, tidur mulai nyaman karena rasa haus tak lagi menyerang. Dugaan saya, rasa haus yang berlebihan pada penderita ADHD adalah salah satu sinyal yang diberikan tubuh, sebagai indikasi krisis dopamin pada otak akibat rasa sakit yang sangat dan insomnia yang kronik. 

Penemuan ini saya sampaikan kepada dokter, mereka terkesima karena saya bisa dengan jelas menuturkan dan menjelaskan proses penemuan saya, bagaimana saya mencoba bangkit dan mengatasi masalah ini secara natural dan disiplin mencatat semua perkembangannya. 

Dokter berkata bahwa ini adalah salah satu cara paling efektif untuk mengatasi ADHD dan dia juga memuji saya untuk tetap solid, menjadi pribadi yang sepenuhnya memiliki kedaulatan pada kebutuhan dasar dan keluar dari krisis dengan cara paling instingtif tapi sekaligus intelek.

Pendapat dokter ini didengar juga oleh suami yang hadir mendampingi. Dokter memuji saya sebagai pasien yang benar-benar komit mencari penyembuhan yang konkrit, tak sekedar mencari solusi dari segi fisik, tapi juga mental, intelektual  dan spiritual. 

Mendengar itu, suami mendukung penuh. Keluarga besar dan anak-anak kami beri tahu bahwa orang dengan ADHD tidak akan berfungsi penuh di pagi hari, karena ADHD memiliki gen pemburu yang aktif di malam hari, oleh karena itu, di pagi hari, suami mengambil alih situasi.

Ia menyiapkan sarapan dan mengantar anak. Saya mulai menjalankan fungsi sebagai istri, setelah suami dan anak-anak keluar dari rumah. Saya membagi waktu, yaitu pekerjaan intelektual siang hari, aktivitas fisik seperti beberes dan olahraga di malam hari setelah semua tugas rutin dan makan malam selesai. Saya juga mengambil keanggotaan pusat kebugaran untuk jam malam, menyesuaikan ritme tubuh saya dan ternyata tarifnya lebih ekonomis.

Saya cukup beruntung, kini saya dikelilingi orang-orang yang tepat. Saya memiliki tim kerja dan sahabat dekat yang sangat mendukung dalam hal membantu disiplin saya, menyesuaikan jadwal pekerjaan dan pertemuan, sehingga saya bisa tetap produktif tanpa stres.

Sementara itu, saya semakin sering menemukan orang dengan symptom ADHD dan saya langsung bisa mengenali “frekuensi” nya sehingga kami menjadi satu koneksi yang solid dan saya sebut “ADHD Soultribe”. Saya kerap menjadi rujukan bagi teman dan orang tua murid yang menghadapi situasi serupa.

Pelajaran terpenting: ADHD bukan penyakit. Ini adalah kondisi otak yang berbeda atau disebut neurodivergent, cara kerjanya unik, tak sama dengan otak kebanyakan atau neurotypical. 

Kelemahannya yang paling distingtif: Otak ADHD memproduksi dopamin lebih rendah, jadi gaya hidup dan lingkungan yang mendukung sangatlah penting. Kelebihan lain, ADHD  memiliki empati tinggi, kemampuan hyperfocus, dan potensi jenius yang harus dilindungi dari orang abusif (toxic).

Sahabat Ruanita, ini pesan untuk perempuan lain. Pertama, saya berpendapat bahwa ADHD adalah anugerah, bukan kelemahan. Segera juga lindungi diri dari orang yang toksik atau manipulatif. Ketiga, menurut saya, pentingnya untuk mencari lingkungan yang juga ADHD dan teman yang mendukung. Terakhir, saya pikir adalah disiplin diri sebagai kunci untuk thrive.

Seandainya saya tahu sejak dulu, mungkin saya bisa lebih cepat menemukan perlindungan dan lingkungan yang tepat. Namun, sekarang saya bersyukur. Saya merasa hidup ini indah, layak diperjuangkan. Saya bukan produk gagal, melainkan saya adalah produk langka.

Terima kasih, hidup telah mengajarkan saya untuk bangga menjadi diri sendiri.

Penulis: Rieska, jurnalis Indonesia yang tinggal di Italia dan dapat dikontak via akun instagram ri3ska.

(CERITA SAHABAT) Ruang, Rasa, dan Identitas: Menjadi Perempuan Indonesia di Belanda

Halo, sahabat Ruanita! Saat pertama kali datang ke Belanda, saya dibuat terheran-heran. Kota tempat saya tinggal sebenarnya cukup modern, tapi suasananya begitu tenang, nyaris sunyi. Tidak ada suara klakson, tidak ada pedagang yang berteriak, hanya angin dingin dan suara burung dari kejauhan.

Suatu pagi, saya memberanikan diri keluar rumah sendirian untuk belanja ke supermarket. Sepanjang jalan, orang-orang yang saya temui tersenyum dan menyapa, “Hallo!” atau “Goedemorgen!” Sapaan sederhana itu membuat hati saya terasa hangat. Ada rasa diterima. Ada rasa bahwa, meskipun saya baru saja datang dari negeri tropis yang jauh, saya sudah disambut di sini.

Belanda memang negeri para pesepeda. Di jam-jam tertentu, jalanan dipenuhi anak-anak sekolah, pekerja, dan ibu rumah tangga yang bersepeda dengan tenang. Saya jarang sekali mendengar suara bising kendaraan. Kehidupan di sini berjalan dengan teratur dan rapi, tapi tidak kehilangan sisi kemanusiaan yang lembut.

Seiring waktu, saya menyadari bahwa banyak jejak Indonesia tertinggal di negeri ini. Hubungan sejarah panjang antara Indonesia dan Belanda tampak di berbagai ruang publik. Nama-nama jalan, gedung, bahkan tempat makan banyak yang menggunakan istilah Indonesia.

Di kota Utrecht, tempat saya tinggal, ada satu kawasan bernama Lombok. Kawasan ini penuh dengan nama jalan seperti Bandoengstraat, Javastraat, dan Kalimantanstraat. Saat melintasinya, saya merasa seperti sedang berjalan di tengah kenangan, riuhnya lalu lintas, aroma kopi, dan keriangan suasana yang mengingatkan saya pada Pasar Baru di Bandung.

Tak jauh dari sana, ada pula rumah-rumah lansia untuk warga keturunan Indonesia, dengan nama yang juga beraroma tanah air: Roemah Nusantara, Mandala, dan lainnya. Nama-nama itu seolah menjadi pengingat bahwa akar budaya Indonesia tetap hidup di negeri ini, bahkan di antara generasi yang sudah lama menetap di Belanda.

Meskipun jauh dari tanah air, saya tetap berusaha menjadikan rumah sebagai tempat yang berjiwa Indonesia. Dinding rumah dihiasi kain batik, ukiran kayu, dan hiasan wayang kecil yang saya bawa dari Yogyakarta. Di ruang makan, aroma rempah dari dapur selalu menguar, membawa kenangan masa kecil.

Bagi saya, rumah bukan sekadar tempat tinggal, tapi juga ruang untuk menjaga jati diri. Setiap tamu yang datang, baik orang Belanda maupun teman dari negara lain, langsung tahu asal saya. “Wah, rumahmu hangat sekali!” kata mereka. Saya hanya tersenyum. Mungkin, yang mereka rasakan bukan sekadar hangatnya ruangan, tapi juga kehangatan budaya yang saya bawa dari tanah air.

Tinggal di negeri orang tidak berarti harus mengubah diri menjadi orang lain. Bagi saya, menjadi perempuan Indonesia berarti tetap menjaga kehormatan, kesantunan, dan kelembutan dalam bersikap. Saya berusaha untuk tetap berpenampilan sopan, ramah dalam berbicara, dan menghormati setiap orang. Nilai-nilai ketimuran itu saya pegang erat, bahkan ketika berhadapan dengan budaya yang lebih terbuka dan bebas seperti di Eropa.

Saya tidak ingin menjadi “kebarat-baratan”. Sebaliknya, saya belajar untuk menyaring setiap pengaruh baru. Ambil yang baik, buang yang tidak sesuai dengan nilai yang saya yakini. Ketika menghadiri acara keluarga besar suami atau pertemuan kantor, saya sering mengenakan batik atau kebaya sederhana. Banyak yang memuji keanggunan busana Indonesia. Saya merasa bangga, tanpa perlu banyak bicara, orang bisa melihat jati diri saya dari cara berpakaian dan bertutur.

Bahasa Indonesia selalu menjadi jembatan kehangatan, terutama saat berkumpul dengan sesama orang Indonesia di Belanda. Kami bisa tertawa bersama, berbagi cerita, dan seolah jarak ribuan kilometer dengan tanah air menghilang begitu saja. Suami saya pun kini sedang belajar bahasa Indonesia. Kadang ucapannya masih terbata-bata, tapi itu justru membuat suasana rumah semakin hangat. Ia bilang, “Kalau bisa berbicara bahasamu, aku bisa lebih memahami hatimu.” Saya tersenyum mendengar itu. Ternyata, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, ia adalah bentuk cinta.

Saya juga membawa tradisi berbagi makanan ke lingkungan tempat tinggal kami. Setiap Ramadan dan Idul Fitri, saya memasak rendang, ketupat, atau kue kering untuk tetangga. Mereka sangat menyukainya! Kadang mereka pun membalas dengan kue khas Belanda seperti appeltaart atau stroopwafel. Pertukaran ini menjadi jembatan kecil yang mempererat hubungan kami.

Tidak ada yang lebih mudah menyatukan dua budaya selain makanan. Saya percaya, aroma dan rasa memiliki bahasa universal yang bisa dimengerti siapa pun.

Orang Belanda sangat akrab dengan masakan Indonesia. Banyak dari mereka tumbuh dengan cerita atau kenangan tentang nasi goreng, sate, atau rijsttafel yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Saya sering mengadakan acara memasak kecil di rumah. Tetangga-tetangga saya penasaran bagaimana cara membuat sambal atau gado-gado. Saat saya menunjukkan rempah seperti lengkuas, daun jeruk, dan serai, mereka terpesona oleh aromanya. “Inilah rahasia kelezatan Asia Tenggara,” saya bercanda.

Selain itu, saya dan suami rutin mengunjungi Tong Tong Fair atau Pasar Indonesia, dua acara besar yang menampilkan budaya dan kuliner Indonesia di Belanda. Di sana, suasananya benar-benar seperti pasar di Indonesia: ramai, penuh tawa, dan wangi sate yang menggoda. Saya selalu merasa seperti pulang ke rumah, meski hanya untuk satu hari.

Tahun-tahun pertama di Belanda bukan tanpa tantangan. Cuaca dingin, bahasa yang sulit, dan rasa sepi sempat membuat saya merasa terasing. Ada masa di mana saya hanya berdiam di rumah dan menatap salju jatuh di luar jendela sambil menahan rindu pada keluarga di tanah air.

Namun, perlahan semuanya berubah. Saya mulai mengikuti kursus bahasa, bergabung dengan komunitas perempuan Indonesia, dan aktif dalam kegiatan sosial. Dari situ, saya belajar bahwa adaptasi bukan berarti kehilangan jati diri, tetapi menemukan keseimbangan antara dua dunia.

Sekarang, saya sudah merasa lebih “menyatu”. Saya bisa berbicara bahasa Belanda dengan percaya diri, memiliki teman dari berbagai bangsa, dan tetap menjaga hubungan erat dengan keluarga di Indonesia. Setiap panggilan video dengan keluarga selalu mengingatkan saya bahwa jarak tidak mampu memutus rasa cinta.

Sebagai perempuan Indonesia di Belanda, saya belajar bahwa budaya bukan sesuatu yang kaku. Budaya bisa tumbuh, beradaptasi, dan menyatu dengan lingkungan baru, asal kita tetap menjaga akarnya.

Saya mengagumi perempuan Belanda yang mandiri dan percaya diri. Mereka tidak takut berpendapat dan mengambil keputusan. Dari mereka, saya belajar arti keberanian. Namun dari budaya saya sendiri, saya belajar arti kelembutan dan empati. Dua hal ini: barat dan timur, yang kemudian saya padukan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi saya, menjadi perempuan Indonesia di luar negeri berarti menjadi jembatan: antara masa lalu dan masa kini, antara timur dan barat, antara tradisi dan modernitas.

Hubungan antara Indonesia dan Belanda bukan hanya soal sejarah, tapi juga soal kemanusiaan yang terus terjalin hingga kini. Banyak warga Belanda yang menaruh minat besar terhadap Indonesia. Dalam setiap perbincangan, mereka selalu antusias bertanya tentang batik, Bali, atau kuliner Nusantara.

Saya senang berbagi cerita. Kadang dalam percakapan santai, saya menyisipkan filosofi hidup orang Indonesia, seperti gotong royong, rasa syukur, dan pentingnya keluarga. Mereka terkesan, karena di tengah dunia yang semakin individualistis, nilai-nilai itu terasa menyegarkan.

Beberapa kali saya juga diundang berbicara di acara komunitas lokal untuk mengenalkan budaya Indonesia. Dari situ saya belajar, bahwa menjaga budaya bukan selalu dengan hal besar, tapi bisa dimulai dari percakapan sederhana dan sikap sehari-hari.

Kini, setelah bertahun-tahun tinggal di Belanda, saya semakin sadar bahwa koneksi budaya bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang cara kita menjaganya hari ini.

Rumah kecil saya di Utrecht bukan sekadar tempat tinggal. Utrecht adalah ruang di mana dua budaya bertemu dan berdialog setiap hari. Di ruang makan, aroma rendang bertemu dengan roti gandum. Di ruang tamu, batik berpadu dengan vas bunga tulip. Di hati saya, cinta terhadap Indonesia tumbuh berdampingan dengan rasa syukur atas kehidupan baru di Belanda.

Sebagai perempuan perantau, saya hanya berharap agar kita semua, perempuan Indonesia di mana pun berada, tetap bangga dengan akar budaya sendiri. Kita boleh belajar dan beradaptasi, tetapi jangan pernah kehilangan rasa hormat dan kesantunan yang menjadi ciri khas kita.

Hubungan antara Indonesia dan Belanda telah melewati masa panjang. Kini, saatnya kita membangunnya kembali dengan semangat baru: semangat kesetaraan, saling menghormati, dan saling belajar.

Karena di ujungnya, koneksi budaya bukan hanya tentang sejarah yang kita warisi, tetapi tentang cara kita menciptakan jembatan antarhati, dengan senyum, keramahan, dan cinta yang tidak mengenal batas waktu maupun jarak.

Di negeri orang, saya belajar bahwa menjadi perempuan Indonesia bukan sekadar tentang dari mana saya berasal, tetapi tentang bagaimana saya membawa kehangatan, kesantunan, dan cinta dari tanah air ke mana pun saya melangkah.

Penulis: Ristiyanti Handayani, tinggal di Belanda dapat dikontak via akun facebook Ristiyanti Handayani.

(CERITA SAHABAT) Bulutangkis, Persahabatan, dan Keluarga Kedua di Dubai

Halo, sahabat Ruanita! Saya sudah hampir 14 tahun, tinggal di Dubai. Rasanya waktu berjalan begitu cepat sejak pertama kali menjejakkan kaki di kota yang megah sekaligus ramah ini. Saya datang sebagai seorang ibu rumah tangga yang mengikuti suami bekerja di luar negeri. 

Awalnya, kehidupan di tanah rantau tentu penuh penyesuaian. Namun, pelan-pelan saya belajar bahwa kunci untuk bertahan bukan hanya soal mengurus rumah atau keluarga, tetapi juga bagaimana saya bisa menemukan ruang untuk diri sendiri, tempat untuk berkembang, sehat, bahagia, sekaligus menjalin persahabatan.

Saya, Utari Giri, akhirnya menemukan ruang itu melalui bulutangkis. Sebuah olahraga yang sebelumnya tidak terlalu saya kenal, tetapi kini menjadi bagian penting dalam hidup saya. Lebih dari sekadar olahraga, bulutangkis telah membawa saya pada perjalanan yang penuh makna, membentuk komunitas yang kini saya sebut keluarga kedua: Indonesian Ladies Badminton (ILB) di Dubai.

Ceritanya sederhana. Dulu, di akhir pekan, kami sering bermain bulutangkis bersama keluarga. Para suami libur kerja, anak-anak ikut berlarian, sementara para istri mencoba ikut memukul kok sekadar untuk mengisi waktu. Lama-kelamaan, muncul ide dalam hati saya: kenapa tidak dibuat lebih rutin? Kenapa tidak ada wadah khusus bagi perempuan Indonesia di Dubai yang ingin bermain bulutangkis di luar akhir pekan?

Saya pun mengajak beberapa ibu untuk berlatih bersama. Ternyata sambutannya sangat positif. Banyak yang ingin ikut, bahkan ada yang baru pertama kali mencoba olahraga ini. Dari situlah, pada tanggal 26 Mei 2022, lahirlah Indonesian Ladies Badminton (ILB).

Sejak saat itu, bulutangkis bukan lagi sekadar kegiatan pengisi waktu luang, melainkan menjadi rutinitas yang saya dan teman-teman nantikan setiap minggu. Lucunya, saya sendiri baru benar-benar mengenal olahraga ini setelah ILB berdiri. Namun, entah kenapa, saya langsung jatuh cinta.

Sebelum ada ILB, kebersamaan perempuan Indonesia di Dubai sering terwujud dalam kegiatan arisan atau makan-makan. Menyenangkan, tentu saja, tetapi ada rasa yang kurang. Kami butuh aktivitas yang tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga memberi manfaat bagi tubuh dan pikiran.

Bulutangkis ternyata menjawab semua itu. Olahraga ini relatif mudah dipelajari, cepat membakar kalori, dan tidak semahal olahraga lain yang membutuhkan perlengkapan khusus. Namun, lebih dari itu, bulutangkis membuat kami bergerak, tertawa, berteriak bersama di lapangan. Menurut saya, ini sebuah kombinasi yang luar biasa untuk melepas stres.

Pada awalnya, kami berlatih hanya sekali seminggu, setiap hari Kamis. Namun, semakin hari semakin banyak yang ketagihan. “Kok rasanya kurang kalau hanya seminggu sekali,” begitu komentar beberapa teman. Akhirnya, sejak dua tahun terakhir, jadwal bertambah menjadi dua kali seminggu: Selasa dan Kamis.

Tempat latihan pertama kami adalah Zabeel Sport District, tepat di seberang Dubai Mall. Tempat itu punya kenangan yang tidak akan pernah terlupakan. Saya sering menyebutnya sebagai “rumah pertama” ILB. Sayangnya, satu minggu sebelum ulang tahun ILB yang ketiga, tempat itu tutup. Kami sempat sedih, tetapi latihan harus jalan terus. Kini, kami berlatih di Danube Sport World, semacam “rumah baru” ILB yang tak kalah hangat.

ILB terbuka untuk semua perempuan Indonesia di Dubai. Tidak ada syarat khusus selain niat untuk sehat dan semangat untuk konsisten. Hingga kini, anggota aktif kami lebih dari 30 orang, semuanya perempuan dengan rentang usia antara 25 hingga 50 tahun lebih. Mayoritas ibu rumah tangga, tetapi ada juga yang bekerja, bahkan beberapa masih lajang.

Yang membuat saya bangga, meskipun latar belakang berbeda-beda, semangat kami sama: ingin sehat, ingin punya teman, dan ingin bahagia.

Bagi saya pribadi, bulutangkis punya makna yang lebih dalam daripada sekadar olahraga. Dari sini, saya belajar banyak hal: bagaimana bekerja sama dengan pasangan bermain di lapangan, bagaimana menahan ego, bagaimana berpikir cepat untuk mengembalikan kok agar lawan sulit menerima.

Setiap pertandingan, entah menang atau kalah, selalu ada pelajaran tentang sportifitas. Menang tidak boleh membuat sombong, kalah pun tidak boleh membuat putus asa. Pelajaran ini ternyata juga berguna dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam bersosialisasi dengan teman-teman.

Namun, yang paling berharga adalah bagaimana ILB menjadi tempat untuk melepas penat. Saat rutinitas rumah tangga terasa melelahkan, bermain bulutangkis bersama teman-teman seperti mengisi ulang baterai. Tertawa bersama di lapangan adalah terapi yang tidak bisa digantikan. ILB bagi saya dan teman-teman bukan sekadar komunitas, melainkan keluarga. Tiga tahun bersama, bertemu dua kali seminggu, sudah cukup untuk menumbuhkan ikatan yang dalam.

Tentu saja, tidak selalu mulus. Ada kalanya terjadi perbedaan pendapat atau ketegangan kecil. Namun, ketika kami ingat bahwa ILB adalah keluarga, semua bisa diredakan. Justru dari situlah kami belajar saling memahami. Solidaritas kami juga teruji di luar lapangan. Ketika ada anggota yang sakit atau keluarganya berpulang, selalu ada perwakilan yang hadir untuk memberi dukungan. Kalau ada kesulitan, biasanya teman-teman cerita langsung ke saya. Kadang saya simpan, kadang saya bagikan ke grup agar kita bisa mencari solusi bersama.

Selain itu, kami punya kebiasaan kecil yang ternyata sangat berarti: setelah latihan, biasanya kami makan siang bersama di rumah makan Indonesia. Di sanalah muncul diskusi ringan tentang anak, keluarga, pertemanan, bahkan pekerjaan. Dari obrolan santai itu, sering muncul ide-ide baru yang memperkaya kami.

Dubai, menurut saya, adalah kota yang ramah perempuan. Jadi sebenarnya tidak ada tantangan besar untuk perempuan Indonesia tinggal di sini. Justru komunitas-komunitas seperti ILB membuat hidup semakin mudah.

Mungkin kendala yang ada hanya soal waktu. Sebagian besar anggota adalah ibu rumah tangga dengan rutinitas antar jemput anak sekolah. Itulah kenapa jam latihan kami dipilih pukul 10.00 hingga 12.00, agar tetap ada waktu menjemput anak pulang. Kadang saat musim ujian, anak-anak pulang lebih awal, sehingga beberapa teman harus rela absen.

Namun, dukungan keluarga sangat besar. Tidak pernah ada cerita suami yang melarang istrinya bermain bulutangkis. Malah banyak yang mendorong. Saya percaya, melihat istri sehat dan bahagia juga membuat suami dan anak-anak ikut senang.

Ada begitu banyak momen indah bersama ILB. Setiap tahun, kami punya agenda rutin: tukar kado di awal tahun, buka puasa bersama, halal bihalal, ulang tahun ILB, hingga perayaan hari kemerdekaan. Semua acara itu selalu penuh tawa dan meninggalkan kenangan manis.

Kami juga sering mengikuti turnamen. Dua kali kami bertanding persahabatan dengan komunitas ibu-ibu Indonesia di Abu Dhabi. Kami juga rutin ikut turnamen KBRI Abu Dhabi dan KJRI Dubai setiap perayaan hari kemerdekaan. Puncaknya, pada Februari 2025, kami berangkat ke Muscat, Oman, untuk mengikuti Indonesian GCC Tournament. Itu adalah turnamen persahabatan antara orang Indonesia di Timur Tengah. Kami bangga sekali bisa mewakili tim perempuan dari Uni Emirat Arab.

Saya selalu berharap ILB bisa terus menjadi wadah yang menginspirasi perempuan Indonesia di Dubai untuk peduli kesehatan, bergerak, berolahraga, dan tentu saja, menjalin persahabatan.

Saya ingin semakin banyak perempuan bergabung, tetapi dengan niat yang tulus. “Jangan hanya untuk eksis,” begitu pesan saya. Datanglah karena memang ingin berlatih, ingin sehat, ingin bahagia.

Moto kami sederhana: Health – Friendships – Happiness. Dari tiga kata ini saja sudah terlihat bahwa ILB adalah tempat yang tepat untuk siapa pun yang baru datang ke Dubai dan ingin menemukan keseimbangan hidup.

Kalau saya menoleh ke belakang, rasanya ajaib bagaimana bulutangkis bisa membawa perubahan besar dalam hidup saya. Dari sekadar iseng bermain di akhir pekan, kini saya menjadi bagian dari komunitas yang berisi lebih dari 30 perempuan hebat.

Kami tidak hanya memukul kok di lapangan. Kami saling mendukung, saling menguatkan, dan saling menjaga. Di tanah rantau, jauh dari keluarga, kami menemukan rumah kedua.

Bagi saya, ILB bukan hanya tentang olahraga. Ini tentang persahabatan, solidaritas, dan kebahagiaan yang tumbuh dari hati.

Dan, bagi siapa pun perempuan Indonesia yang datang ke Dubai, pintu ILB selalu terbuka. Mari bergabung, mari bergerak, mari sehat bersama. Karena di sini, setiap pukulan kok adalah energi, setiap tawa adalah obat, dan setiap pertemuan adalah berkah.

Penulis: Utari Giri, founder Indonesian Ladies Badminton (ILB) di Dubai. Tinggal di Uni Emirat Arab. Dapat dihubungi melalui Instagram:@utarigiri.

(CERITA SAHABAT) Kisah Melawan Stigma Sosial Janda di Masyarakat

Kata “janda” seperti kata kutukan yang dilemparkan masyarakat tanpa ampun. Istilah “janda” tidak hanya menyiratkan kehilangan pasangan, tetapi juga dibebani dengan prasangka, stereotip, dan stigma yang seolah tak pernah usai. Saya, Conny Salamony, pernah hidup dalam bayang-bayang kata itu. Kini, saya menulis cerita sahabat ini bukan untuk membalas, melainkan untuk mengingatkan bahwa di balik kata “janda”, ada manusia yang juga berhak dihormati, dicintai, dan dikuatkan.

Saya mengenal suami saya lewat Yahoo Chat Room, sebuah tempat yang kini mungkin hanya tinggal sejarah. Kami mulai berkenalan pada 2004, menjalani hubungan jarak jauh, hingga akhirnya dia datang ke Indonesia pada 2006. Kami menikah pada 2007 di Jakarta. Dia adalah pria asal Sri Lanka yang hangat, lucu, dan sabar. Hidup bersamanya membuat saya harus keluar dari zona nyaman, belajar berpergian antar negara sendiri, tinggal di tempat asing seperti Sri Lanka dan Oman, dan belajar berkomunitas dengan cara yang baru.

Pernikahan kami tidak sempurna, tapi dipenuhi cinta dan pelajaran hidup. Meski sebagai istri saya sering sakit-sakitan, suami tetap mendampingi tanpa banyak keluhan. Hingga pada tahun 2017, tiba-tiba hidup kami berubah drastis.

Di pertengahan tahun itu, suami saya jatuh sakit secara mendadak. Diagnosisnya adalah diabetes, dan kondisinya memburuk dengan cepat. Saat itu kami tinggal di Oman, dan ia kemudian dirawat di Sri Lanka, negara asalnya. Saya dan anak kami masih tinggal di Oman.

Saat para tenaga medis memberi kode bahwa ini mungkin adalah akhir, saya mulai mempersiapkan diri secara emosional. Bulan Desember 2017, saya dan anak kami dipanggil ke Sri Lanka. Sayangnya, ia meninggal dunia saat kami masih di pesawat menuju ke sana.

Anak kami saat itu masih kecil. Ia tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi, tapi ia tahu bahwa ibunya sedang terluka dan butuh teman. Ia pun tumbuh menjadi penyemangat saya, bahkan dalam kelucuannya yang kelam. Dalam satu kesempatan, saat teman-temannya berkata “my father is…”, ia menjawab, “my father is dead,” sambil tertawa. Saya tahu, itu cara dia berdamai.

Menjadi janda di Indonesia bukan perkara mudah. Justru di Sri Lanka-lah saya pertama kali merasakan stigma yang paling tajam. Di sana, seorang janda dianggap sebagai “kutukan” yang membawa kematian bagi suaminya. Sebuah pandangan yang membuat saya ingin menghilang.

Namun kembali ke Indonesia pun tidak serta merta membuat saya merasa aman. Saya mendapati diri saya menjadi sasaran prasangka. Kata-kata seperti “janda pelakor”, “lebih mudah diajak tidur”, hingga “lebih nakal karena pernah menikah” menjadi semacam bisikan yang tidak diucap di depan, tapi terasa menyesakkan.

Sebagai janda dari WNA, ada pula ekspektasi aneh. Laki-laki yang mencoba mendekati saya seringkali berasumsi bahwa saya lebih “liar” karena pernah menikah dengan pria asing. Rasanya ingin menampar mereka, tapi saya memilih untuk membangun jarak dan melindungi diri serta anak saya.

Saya bersyukur punya keluarga dan teman-teman yang menjadi support system saya. Tapi tidak semua orang begitu. Saya paham betul mengapa banyak perempuan takut menjadi janda, bukan hanya karena kehilangan pasangan, tetapi karena harus menghadapi dunia yang kejam setelahnya.

Setelah kepergian suami, saya tidak hanya berduka. Saya juga harus berpikir keras tentang bagaimana membesarkan anak dan mencukupi kebutuhan hidup. Beruntung, keluarga saya sangat mendukung, dan saya bisa tinggal bersama mereka. Secara finansial, saya bekerja sebagai virtual assistant, sebuah profesi yang saya bangun pelan-pelan dengan belajar dari komunitas daring.

Negara asal suami saya tidak memberikan dukungan apapun. Di Indonesia pun saya belum pernah mengajukan bantuan seperti KJP karena memang belum sempat. Yang paling menantang tentu saja mengelola keuangan dan memastikan anak saya tetap merasa dicintai, aman, dan diterima.

Saya sadar, anak-anak dari keluarga tunggal sering kali merasa tidak utuh. Sejak awal, saya tanamkan padanya bahwa siapapun yang saya dekati akan dikenalkan padanya. Bahwa dia tetap nomor satu di hidup saya. Keterbukaan dan kejujuran menjadi fondasi hubungan kami.

Sebagai istri WNA, ada tantangan tambahan: birokrasi yang rumit. Misalnya, saya tidak bisa menarik dana dari rekening suami saya di Sri Lanka karena saya bukan warga negara sana. Anak saya bisa, tapi dia masih berusia tujuh tahun saat itu. Jadi, kami hanya bisa tarik uangnya lewat ATM perlahan-lahan, sebelum rekening dibekukan.

Warisan? Tidak ada. Bahkan untuk menjual mobil peninggalan suami di Oman, saya harus mengurus surat kuasa dari notaris agar bisa menjualnya atas nama saya. Untuk paspor anak pun butuh perjuangan. Meski ia punya kewarganegaraan ganda, tetap saja prosesnya berliku dan mahal. Untungnya, sepupu suami yang bekerja sebagai wartawan membantu kami mempermudah beberapa prosedur lewat kenalannya.

Apa yang membuat saya bertahan sampai hari ini? Jawabannya sederhana: anak saya. Ia adalah sumber kekuatan terbesar saya, dan saya ingin menjadi sosok yang bisa ia banggakan. Selain itu, teman dan keluarga juga menjadi pengingat bahwa saya tidak sendiri.

Saya tidak segan memutus hubungan dengan orang-orang yang membawa energi negatif. Teman-teman yang hanya pandai mengomentari tapi tak pernah membantu, saya tinggalkan. Saya memilih menjaga kewarasan dan kesehatan mental, karena saya tahu itu kunci untuk bisa tetap menjadi ibu yang utuh dan manusia yang sehat.

Jika ada satu pesan yang ingin saya sampaikan kepada masyarakat luas, itu adalah: jangan pernah menyalahkan pasangan yang masih hidup atas kematian pasangannya. Banyak orang bertanya kenapa suami saya bisa meninggal duluan. Apakah saya tidak bisa menjaga? Apakah saya tidak becus? Siapa yang bisa melawan takdir Tuhan?

Kematian bukanlah kesalahan pasangan yang ditinggal. Itu adalah keputusan semesta. Tugas kita bukan menghakimi, tapi memberi ruang bagi mereka yang ditinggalkan untuk sembuh.

Buat para perempuan, janganlah menganggap janda itu pelakor. Teruntuk para pria, perempuan nakal itu tidak selalu janda. Banyak janda yang justru menjaga kehormatan dan tahu betul batas tubuhnya.

Saya tahu betapa sulitnya menjadi janda. Namun, saya ingin mengingatkan bahwa kita semua tetap berharga di mata Tuhan. Jangan biarkan stigma membungkam suara kita. Jangan biarkan omongan orang lain menghapus harga diri kita.

Untuk yang masih punya anak kecil, ingatlah: mereka adalah semangat kita. Tidak apa-apa membuang orang-orang yang tidak mengerti perjuangan kita. Kesehatan mental jauh lebih penting daripada memenuhi ekspektasi sosial yang absurd.

Hari Janda Sedunia bukan hanya perayaan, tapi pengingat bahwa perempuan juga manusia, dan kehilangan tidak membuat kita lebih rendah. Kita bukan korban, kita pejuang.

Saya menulis ini bukan sebagai keluhan, tapi sebagai cermin. Masyarakat kita butuh bercermin tentang bagaimana mereka memperlakukan perempuan yang ditinggal mati oleh pasangan mereka.

Janda bukan label yang perlu disembunyikan, bukan status yang harus dibersihkan. Janda adalah status kehidupan, sama seperti “istri”, “ibu”, “anak”, atau “teman”.

Dan saya, Conny Salomony, memilih untuk menjadi janda yang bangga. Bukan karena ditinggal, tapi karena saya bertahan.

Penulis: Conny Salamony, admin komunitas kawin campur dan dapat dikontak via akun instagram connysalamony.