(CERITA SAHABAT) Dua Dunia, Satu Hati: Perjalanan Menjadi Ibu Indonesia untuk Anak-anak Remaja di Prancis

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Edha, seorang ibu yang bahagia dengan memiliki anak-anak remaja di Prancis. Ada satu hal yang selalu saya yakini sebagai seorang ibu: tidak ada yang pernah selesai dalam perjalanan kita membimbing anak-anak. Kita terus belajar, terus menyesuaikan langkah, terus mencari cara agar bisa hadir bagi mereka, meski dunia yang mereka pijak berubah, bertambah luas, atau bahkan semakin berbeda dari dunia yang kita kenal.

Ketika saya memutuskan untuk ikut program Cerita Sahabat Ruanita Indonesia, ada dorongan kuat dalam diri saya untuk membagikan kisah saya sebagai seorang ibu Indonesia yang membesarkan anak-anak remaja di Prancis. Ini bukan sekadar kisah perpindahan negara, tetapi kisah tentang identitas, keberanian, dan cinta seorang ibu yang berusaha menjaga nilai-nilai Indonesia tetap hidup di tengah budaya Eropa yang sangat berbeda.

Perjalanan kami bukan perjalanan yang mudah. Tapi dari sana, saya menemukan makna baru tentang menjadi ibu, tentang rumah, dan tentang bagaimana dua budaya bisa hidup berdampingan dalam satu keluarga. Inilah cerita saya, sahabat Ruanita!

Sebelum menetap di Prancis, hidup saya sepenuhnya berpusat di Indonesia. Saat itu, saya bekerja sebagai pramugari, sebuah profesi yang sangat saya cintai karena memberi saya kesempatan melihat dunia, bertemu berbagai karakter manusia, dan memahami banyak hal tentang kehidupan. 

Namun, ketika saya menikah dan kemudian dikaruniai anak-anak, saya memilih meninggalkan dunia penerbangan yang pernah menjadi rumah kedua saya. Saya memutuskan untuk sepenuhnya fokus menjadi seorang ibu, sesuatu yang ternyata membawa saya pada perjalanan yang tidak kalah menantangnya dibandingkan pekerjaan saya sebelumnya.

Suami saya adalah seorang pria Prancis yang bekerja sebagai ahli geologi di sebuah perusahaan tambang besar di Indonesia. Pekerjaannya menuntutnya sering berpindah dari satu lokasi eksplorasi ke lokasi lain, yang berarti dalam kehidupan sehari-hari, saya lebih banyak menghabiskan waktu sendiri bersama anak-anak. 

Meski demikian, kehidupan kami tergolong mapan. Anak-anak bersekolah di sekolah negeri dan tumbuh dalam lingkungan yang sangat Indonesia. Bahasa sehari-hari kami adalah bahasa Indonesia, teman bermain mereka adalah anak-anak Indonesia, dan kebiasaan yang mereka serap juga sepenuhnya berakar dari kultur Indonesia. Nilai-nilai yang mereka kenal sejak kecil, seperti: kesopanan, kebersamaan, hormat kepada yang lebih tua, semuanya tercetak dari lingkungan tempat mereka lahir dan tumbuh.

Ketika anak-anak mulai beranjak remaja, saya dan suami menemukan diri kami berada pada sebuah persimpangan besar. Selama bertahun-tahun, anak-anak tumbuh dalam suasana Indonesia yang hangat dan familiar. Namun di balik rutinitas yang mapan itu, kami sama-sama menyadari satu hal: anak-anak kami hanya mengenal salah satu sisi diri mereka, sisi Indonesia.

Di dalam diri mereka sebenarnya ada dua dunia yang berbeda, dua sejarah keluarga, dua bahasa, dan dua budaya. Mereka mewarisi darah Prancis dari ayahnya, tetapi kami sadar bahwa identitas itu belum pernah benar-benar mereka sentuh. Dari sinilah percakapan panjang tentang pindah ke Prancis perlahan mulai mengemuka, kadang singkat, kadang serius, kadang berakhir dengan renungan panjang di malam hari.

Saya ingin anak-anak memahami budaya ayahnya, bukan sekadar sebagai cerita di meja makan, tetapi sebagai sesuatu yang bisa mereka sentuh, rasakan, dan hidupi. Kami membayangkan mereka menguasai bahasa Prancis bukan hanya sebagai pelajaran tambahan, tetapi sebagai bahasa sehari-hari yang menghubungkan mereka dengan keluarga ayah, dengan tanah tempat ia dilahirkan. Kami ingin mereka tumbuh tidak hanya sebagai anak Indonesia atau Prancis, tetapi sebagai anak yang memiliki dua akar, dua perspektif, dan dua tempat pulang.

Namun, meskipun ide itu terasa indah dalam pikiran orang dewasa, kenyataan di hadapan anak-anak jauh lebih kompleks. Ketika kami akhirnya memberi tahu keputusan kami untuk pindah ke Prancis, wajah mereka langsung memperlihatkan campuran emosi yang sulit saya lupakan. Ada kekhawatiran besar dalam mata mereka, kekhawatiran tentang harus meninggalkan teman-temannya, meninggalkan kenyamanan rumah, meninggalkan sekolah yang sudah sangat mereka kenal. 

Mereka bingung bagaimana nanti menjalani hari-hari di negara asing dengan bahasa yang belum pernah mereka kuasai. Saya melihat air mata yang mereka tahan ketika memikirkan betapa jauhnya mereka dari keluarga besar saya, dari nenek-kakek yang biasanya mereka kunjungi setiap minggu. Ada juga ketakutan tentang lingkungan sosial yang sama sekali baru, tentang bagaimana mereka harus mulai dari awal di tempat yang terasa asing.

Sebagai seorang ibu, melihat kecemasan itu membuat hati saya teriris. Anak-anak saya tidak hanya berpindah rumah, mereka juga akan berpindah dunia. Mereka harus meninggalkan sebagian kecil kehidupan yang selama ini memberi mereka rasa aman dan stabil. Saya tahu keputusan ini berat bagi mereka, tetapi saya juga tahu betapa berharganya pengalaman ini nanti bagi mereka, pengalaman menjadi anak yang hidup dalam dua budaya dengan bangga dan utuh.

Kami banyak berdiskusi sebagai keluarga. Malam-malam kami habiskan dengan menjawab pertanyaan mereka satu per satu, mencoba meredakan kegelisahan yang muncul bergantian. Saya memeluk mereka ketika mereka takut, saya mendengarkan mereka ketika mereka marah atau bingung, dan saya memastikan bahwa mereka tahu satu hal: bahwa kami akan melewati ini bersama. Setelah beberapa waktu dan banyak percakapan penuh air mata dan tawa, mereka mulai menerima keputusan itu. Mereka belum sepenuhnya siap, tetapi mereka mulai membuka pintu kecil di hati mereka untuk menyambut kehidupan baru itu.

Meski akhirnya mereka berkata “iya,” saya tetap bisa merasakan rasa berat yang tersisa dalam langkah kecil mereka menjelang keberangkatan. Ada sesuatu yang mereka tinggalkan di Indonesia, sebagian dari masa kecil mereka, tetapi ada pula sesuatu yang menunggu mereka di Prancis: masa remaja yang akan membentuk siapa mereka kelak. Dan di tengah ketidakpastian itu, saya hanya bisa menggenggam tangan mereka lebih kuat, memastikan bahwa meski dunia baru menanti, mereka tidak akan pernah melangkah sendirian.

Hidup sebagai ibu dari anak-anak yang tumbuh di dua budaya membuat saya memahami bahwa menjadi orang tua bukan hanya soal membesarkan, tetapi juga menyeimbangkan. Ketika kami pindah dari Indonesia ke Prancis, anak-anak saya memasuki masa remaja, masa yang penuh pertanyaan dan pencarian jati diri. Dan di tengah perubahan besar itu, saya harus belajar menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar ibu. Saya harus menjadi sahabat.

Tidak selalu mudah menjaga hubungan yang dekat dengan mereka. Ada hari ketika mereka lebih memilih menutup pintu kamar daripada mendengarkan saya. Ada saat-saat ketika nilai-nilai Indonesia yang saya pegang erat bertabrakan dengan cara berpikir mereka yang semakin dipengaruhi budaya Eropa. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan kebebasan berbicara, kemandirian sejak kecil, dan ekspresi diri yang terbuka, sementara saya membawa warisan sopan santun, kerendahan hati, dan kehangatan khas Indonesia. Setiap hari kami seakan menegosiasikan dua dunia itu, mencari cara agar tidak saling meniadakan, tetapi justru saling melengkapi.

Dalam proses itu, saya sadar bahwa saya harus banyak belajar: mendengarkan tanpa menghakimi, memberi batasan dengan lembut, dan menyampaikan nilai-nilai Indonesia dengan cara yang membuat mereka ingin merawatnya, bukan menolaknya. Tidak ada sekolah yang mengajarkan semua itu. Saya belajar sambil berjalan, sering salah langkah, tetapi selalu kembali mencoba lagi.

Namun dari perjalanan ini, saya melihat sesuatu yang sangat indah. Perlahan, identitas keluarga kami terbentuk bukan sebagai Indonesia atau Prancis, tetapi sebagai gabungan utuh keduanya. Anak-anak saya nyaman berbicara dalam dua bahasa, membawa sopan santun Indonesia tetapi juga keberanian ala Prancis, dan tumbuh dengan cara yang membuat saya merasa bangga sekaligus takjub. Mereka belajar mencintai dua budaya yang membentuk mereka, dan saya belajar melepaskan kekeliruan anggapan bahwa mereka harus memilih salah satu.

Untuk perempuan Indonesia yang mungkin mempertimbangkan pindah negara, terutama yang punya anak remaja, saya ingin berpesan: jangan takut pada perubahan besar. Memasuki budaya baru bukan berarti meninggalkan budaya sendiri. Anak-anak kita justru bisa membawa keduanya sebagai kekuatan. Peluklah prosesnya. Tidak semua hari akan mudah, tetapi selalu ada makna di balik tantangan itu. Temukan komunitas, bangun jaringan pertemanan, dan tetap jaga bahasa serta nilai-nilai Indonesia dengan penuh cinta, bukan paksaan.

Dan untuk anak-anakku, jika suatu hari kalian membaca ini, ketahuilah bahwa kalian boleh tumbuh dalam dua dunia, tetapi kalian tidak harus kehilangan siapa diri kalian. Rawatlah nilai Indonesia yang sudah ibu tanamkan sejak kecil. Hargailah budaya lain tanpa menghapus akar kalian. Jangan takut menapaki hal-hal baru; setiap pengalaman, baik yang manis maupun yang sulit, akan membentuk kalian menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak.

Pada akhirnya, hidup dalam dua budaya mengajarkan saya bahwa rumah tidak pernah hanya satu titik di peta. Rumah adalah perjalanan, rumah adalah pelajaran, dan rumah adalah orang-orang yang kita cintai. Dan bagi saya, rumah itu kini hidup di mana pun anak-anak saya berada, di antara bahasa Indonesia dan Prancis, di antara sopan santun dan kebebasan berekspresi, di antara dua dunia yang mereka rangkul dengan hati penuh.

Penulis: Edha, yang tinggal di Prancis, dan dapat dikontak via akun instagram edhadelaby

(CERITA SAHABAT) LDR Parenting: Dari Jakarta ke UK

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Griska Gunara, yang lahir dan besar di Jakarta. Hidup saya penuh dengan perjalanan, bukan hanya secara fisik berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga perjalanan batin yang membentuk siapa saya hingga hari ini. Sejak 2020, saya resmi tinggal di Inggris, sebuah negeri yang awalnya terasa asing, tetapi kini menjadi rumah kedua bagi saya.

Proses di sini cepat sekali karena saya tidak mau overstay. Jadi kami mengurus upgrade visa ke visa family untuk kemudian kami bisa menikah di UK. Alhamdulillah, akhirnya saya tinggal di sini sampai hari ini.

Perjalanan pindah ke Inggris bisa dibilang sangat cepat dan penuh kejutan. Tahun itu, saya bertemu dengan pria yang kini menjadi suami saya. Hubungan kami berkembang pesat, hanya dalam hitungan bulan ia melamar. Dua bulan setelah Itu, saya sudah bersiap untuk mengurus keberangkatan dengan visa turis. Tidak pernah saya bayangkan hidup akan membawa saya sejauh ini, dari Jakarta, ke Bali, dan akhirnya menetap di Inggris.

Namun, sebelum kisah ini berlanjut, ada satu bagian besar hidup saya yang tak bisa saya lepaskan: peran saya. Bahwa saya adalah seorang ibu tunggal sejak 2008, meski kini saya menetap di Inggris.

Ketika putri saya baru berusia tiga tahun, rumah tangga saya berakhir dengan perceraian. Saat itu dunia saya seakan runtuh. Hidup saya berubah drastis, sekejap saja. Dari seorang istri, saya menjadi seorang ibu tunggal yang harus menanggung beban hidup seorang diri, sembari saya tetap memastikan anak tetap tumbuh dalam cinta.

Kalau diceritakan secara lengkap, kisah perjalanan saya sebagai ibu tunggal bisa menjadi sebuah buku tebal. Ada perjuangan, air mata, kelelahan, tetapi juga ada kekuatan yang tidak pernah saya tahu sebelumnya ada dalam diri saya. Putri saya menjadi alasan terbesar untuk terus melangkah.

Saya pernah bekerja di Bali, di sebuah Dive resort. Saat itulah mantan suami meminta agar putri kami tinggal bersamanya dan keluarganya. Karena jarak rumahnya hanya sekitar 20 menit dari rumah ibu saya, saya pun menyampaikan pesan itu. Awalnya sulit menerima, tapi saya belajar untuk percaya bahwa selama ada komunikasi dan doa, ikatan kami tidak akan pernah hilang.

Menjalani peran sebagai ibu jarak jauh adalah salah satu tantangan terbesar dalam hidup saya. Mungkin banyak orang bisa membayangkan, tapi hanya yang benar-benar mengalaminya yang tahu betapa dalam luka dan rindunya. Berpisah secara fisik dengan anak semata wayang itu rasanya seperti kehilangan separuh jiwa.

Lima tahun lamanya saya tidak bertemu langsung dengannya, hingga akhirnya kami bisa berjumpa kembali di akhir tahun 2024. Bayangkan, lima tahun! Rindu itu setiap hari hadir, tak pernah absen. Ada kalanya saya merasa kuat, tapi lebih sering saya harus menelan perasaan bersalah dan kesepian.

Beruntung, kita hidup di era digital. WhatsApp menjadi jembatan cinta kami. Video call, pesan singkat, bahkan sekadar emoji bisa menjadi pengobat rindu. Melalui layar kecil, saya masih bisa mendengar suaranya, melihat ekspresinya, bahkan bercanda meski jarak ribuan kilometer memisahkan. Itu yang membuat saya bertahan.

Namun, tentu saja ada banyak momen penting yang terlewat. Acara sekolah, kenaikan kelas, bahkan momen kecil yang biasanya menjadi rutinitas ibu-anak. Rasanya hampa, seperti ada bagian dari diri saya yang tidak lengkap. Untungnya, saya tetap terhubung dengan grup WhatsApp orang tua murid dan guru di sekolahnya. Dari sana saya bisa mengikuti perkembangan, meski tidak hadir secara fisik.

Saya dibesarkan dalam keluarga Muslim yang kuat dalam iman. Ibu saya selalu mengingatkan, “Jangan pernah meninggalkan ibadah.” Nasihat ini menjadi pondasi saya, bahkan dalam menjalani peran sebagai ibu jarak jauh. Doa adalah dukungan emosional terbesar yang bisa saya berikan kepada putri saya.

Selain itu, saya sering bercerita. Saya percaya, komunikasi bukan hanya soal memberi kabar, tapi juga soal membangun kebiasaan berbagi perasaan. Dengan bercerita, saya memberi ruang bagi putri saya untuk juga terbuka tentang kesehariannya. Dari obrolan sederhana itulah, hubungan kami tetap hangat.

Hidup di Inggris membawa saya pada babak baru: menjadi bagian dari keluarga yang lebih besar. Suami saya memiliki anak-anak dari pernikahan sebelumnya. Dinamika ini menarik sekaligus menantang.

Di sini, aturan tentang pengasuhan anak berbeda dengan Indonesia. Anak-anak tinggal bersama ibu kandung mereka, sementara waktu dengan ayah sudah terjadwal rapi. Saya belajar menyesuaikan diri dengan pola ini. Awalnya canggung, tapi perlahan saya menemukan ritmenya.

Tantangan terbesar adalah bahasa. Anak-anak berbicara cepat dengan kosakata yang kadang belum saya pahami. Saya sering hanya bisa diam ketika mereka bercerita pada ayahnya, lalu pelan-pelan saya belajar. Dari mereka, saya mendapat kesempatan untuk terus berkembang, termasuk dalam bahasa Inggris.

Suami saya sangat mendukung peran saya sebagai ibu dari anak yang tinggal di Indonesia. Ia sering menyemangati anak-anaknya untuk membuat kartu ucapan atau hadiah kecil untuk putri saya. Bahkan saat saya video call, mereka ikut menyapa. Itu membuat saya terharu. Bagaimana tidak?! Bahwa mereka mengakui keberadaan putri saya sebagai bagian dari keluarga kami.

Menjadi ibu kandung sekaligus ibu tiri bukan hal mudah. Sejak awal, saya selalu mengingatkan diri, “Jangan lupakan dirimu.” Saya tahu, secara teknis saya bukan ibu kandung mereka. Namun dengan dukungan penuh dari suami, saya bisa menjalani peran ini dengan lebih ikhlas.

Ada kalanya saya merasa bersalah. Saya merasa gagal sebagai ibu karena tidak selalu bisa hadir untuk putri saya. Saya sering tenggelam dalam pikiran, berdoa siang dan malam agar suatu hari nanti Tuhan mempertemukan kami kembali dalam kehidupan yang utuh.

Belajar manajemen stres menjadi kunci. Saya menemukan ketenangan lewat ibadah, meditasi, dan yoga. Rutinitas ini membantu saya tetap waras, tetap kuat, dan tetap percaya diri menjalani hari-hari.

Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa “ibu” bukan sekadar status biologis. Ibu adalah fondasi, guru pertama dalam keluarga, sumber cinta yang tak bisa tergantikan. Keluarga, bagi saya, adalah paket lengkap: suka, duka, konsekuensi dari setiap pilihan. Yang penting adalah menjaga harmonisasi hati, meski jarak memisahkan.

Saat ini, putri saya sedang menjalani status barunya sebagai mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Saya bangga sekali karena ia sempat berhasil mendapatkan bukan hanya satu, tapi lima beasiswa ke luar negeri. Meski begitu, ia memilih untuk menempuh pendidikan di Indonesia dulu sebelum berencana melanjutkan ke Inggris di tahun ketiganya nanti.

Tentu saja harapan terbesar saya adalah bisa berkumpul kembali dengannya. Tidak ada doa lain yang lebih sering saya panjatkan selain doa untuk pertemuan itu.

Jika suatu hari nanti ia membaca cerita ini, saya ingin ia tahu: “Nikmatilah waktumu dengan rasa senang. Dunia tidak perlu tahu proses perjalanan kita, yang penting kita saling menjaga diri dan berjuang bersama. Roda kehidupan terus berputar, tapi cinta ibu ini akan selalu melekat, nyata, dan terkirim dalam setiap doa.”

Sahabat Ruanita, di akhir kisah saya, saya yakin cerita saya bukan satu-satunya. Banyak perempuan Indonesia di luar sana yang mungkin juga menjalani peran serupa: menjadi ibu jarak jauh, bagian dari blended family, dan berusaha beradaptasi di negeri orang.

Pesan saya sederhana: kuatkan diri.

Sabar itu perlu latihan, dan inilah saatnya melatihnya lebih dalam. Jangan memaksakan diri melakukan sesuatu yang bukan porsimu. Ingat, setiap negara punya cara pandang berbeda soal keluarga.

Jangan ragu mencari dukungan, baik dari sesama ibu sambung maupun komunitas lain. Meski jalannya berbeda, kita bisa saling menguatkan dengan kesadaran mendalam.

Perjalanan saya masih panjang. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Namun, satu hal yang pasti: menjadi ibu, meski dari jarak jauh, tetaplah sebuah panggilan jiwa. Cinta seorang ibu tidak pernah mengenal jarak, waktu, atau batas negara.

Dan inilah cerita saya, yakni tentang cinta, kehilangan, doa, dan harapan dalam menjalani LDR Parenting.

Penulis: Griska Gunara, yang tinggal di UK dan dapat dikontak melalui akun Instagram @griskagunara.

(CERITA SAHABAT) Ciptakan Lingkungan Kerja Inklusif, Tentu Tak Ada Generation Gap

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Ecie yang tinggal di Hamburg, Jerman. Sebagai seorang karyawati di sebuah institusi bahasa yang terdiri atas orang-orang berbagai bangsa di Jerman, istilah generation gap bukan hal asing. Ketika saya mendengar istilah “generation gap” di tempat kerja, yang pertama kali terlintas di pikiran saya adalah perbedaan pandangan, nilai, dan pendekatan kerja di antara generasi yang berbeda. 

Menurut saya, kadang-kadang ini dapat menyebabkan kesalahpahaman atau tantangan dalam berkomunikasi dan berkolaborasi. Di tempat kerja, saya dapat mengamati perbedaan paling mencolok antara generasi yang berbeda. Biasanya ini terlihat dalam cara mereka berkomunikasi dan pendekatan terhadap teknologi. 

Generasi yang lebih tua atau mereka yang senior cenderung lebih formal, misalnya mereka lebih memilih komunikasi tatap muka atau melalui telepon. Ini mungkin disebabkan dengan faktor kenyamanan, menurut saya. Sementara generasi yang lebih muda, mereka lebih mengandalkan komunikasi digital, seperti email, pesan instan, atau platform kolaborasi online. 

Generation gap tidak hanya sampai di situ saja. Saya melihat bahwa generasi yang lebih tua mungkin lebih fokus pada stabilitas dan loyalitas terhadap perusahaan, sementara generasi yang lebih muda seringkali lebih menekankan pada fleksibilitas, Work-life-balance, dan peluang untuk perkembangan pribadi.  Tentunya, generation gap juga menciptakan perbedaan dalam prioritas dan pendekatan terhadap pekerjaan, sehingga bukan tidak mungkin timbul percikan-percikan dalam dunia pekerjaan yang saya amati. 

Saya pernah menyaksikan konflik antar generasi di tempat kerja. Biasanya, konflik tersebut muncul dari perbedaan cara pandang atau metode kerja. Dalam salah satu kasus, situasi tersebut ditangani dengan mengadakan diskusi terbuka di mana setiap generasi diberikan kesempatan untuk berbagi pandangan mereka dan mencari solusi bersama. Kalau menurut kalian, sahabat Ruanita begitu jugakah kalau terjadi generation gap?

Dalam tempat kerja saya, saya tidak hanya dihadapkan dengan perbedaan latar belakang budaya atau yang berbeda saja, tetapi juga usia di antara kami. Bekerja dengan orang-orang dari berbagai generasi, tentunya memberikan keuntungan tersendiri. Saya jadi memiliki perspektif beragam, terutama dalam bekerja yang memerlukan kreativitas dan solusi.

Namun, tentunya bekerja dengan berbagai generasi yang kemudian memunculkan kesenjangan pun menimbulkan kemungkinan terjadinya kesalahpahaman atau ketegangan, akibat perbedaan nilai dan cara kerja. Menurut saya, cara yang paling efektif untuk menjembatani perbedaan pandangan dan gaya kerja antar generasi di tempat kerja adalah dengan mengadakan sesi pelatihan lintas generasi sehingga menciptakan budaya kerja yang inklusif. Maksud saya, kita perlu menghargai dan mendengarkan setiap orang, terlepas dari usia atau latar belakang mereka. 

Saya menilai posisi saya berada di antara keduanya. Demikian pula saya merasa bahwa setiap generasi mungkin saja bisa diuntungkan atau dirugikan dalam lingkungan kerja, tergantung konteksnya. Artinya, ini bergantung pada seberapa baik perusahaan mengakomodasi kebutuhan dan gaya kerja mereka. 

Misalnya, generasi yang lebih muda mungkin merasa diuntungkan dalam hal adaptasi teknologi, sementara generasi yang lebih tua mungkin merasa dirugikan jika mereka tidak mendapatkan dukungan yang cukup untuk mengikuti perkembangan ini. 

Perbedaan dalam penggunaan teknologi seringkali memengaruhi hubungan antar generasi di tempat kerja. Generasi yang lebih muda biasanya lebih cepat beradaptasi dengan teknologi baru, sementara generasi yang lebih tua mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk beradaptasi, yang dapat menciptakan kesenjangan dalam efisiensi kerja dan komunikasi.

Contohnya saja, saya merasa tidak sabar ketika mereka yang berasal dari generasi senior begitu lamban dalam merespon. Mereka bisa mengetik lama sekali karena mereka perlu berpikir lama untuk menjawab email. Contoh lainnya, mereka (generasi senior) ingin sekali belajar Microsoft Excel, tetapi mereka sering “ngeyel” dan ingin lebih cepat selesai. Padahal hasil mereka belum tentu bisa akurat. 

Dalam kaitan tema generation gap, saya percaya kita bisa menjembatani kesenjangan antar generasi ini dengan melakukan program mentoring. Program tersebut bisa berupa pelatihan teknologi bagi generasi yang lebih tua atau mentoring dari generasi yang lebih senior kepada yang lebih muda dalam hal pengembangan karier dan etika kerja. 

Pemberi kerja atau perusahaan juga perlu menyediakan waktu staff meeting untuk saling berbagi perspektif cara kerja masing-masing. Pembekalan cara berkomunikasi dengan rekan kerja juga penting, apalagi saya yang bekerja di tempat kerja dari berbagai latar belakang budaya dan negara. 

Dalam kehidupan digitalisasi seperti sekarang, tentu saya berharap kita dapat menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan harmonis. Kita perlu menciptakan suasana kerja yang saling menghormati satu sama lain, terlepas dari usia atau latar belakang budayanya. Dengan begitu, kita dapat bekerja sama dengan memanfaatkan kekuatan masing-masing. Bukankah itu maksudnya bekerja tim? 

Lewat tema generation gap, saya rasa kita perlu menghasilkan tim yang kuat dan dinamis. Kita perlu menghormati generasi senior dan mengajak mereka agar tidak akan merasa tertinggal dengan pesatnya kemajuan teknologi dan digitalisasi.

Penulis: Ecie, relawan Ruanita yang tinggal di Hamburg dan dapat dikontak via akun IG: ciesa.

(CERITA SAHABAT) Dari Jerman ke Slovenia: Lebih dari Sekadar Pindah Negara

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan, saya Siti Aghata Romizah Yasmin, atau biasa dipanggil Aghata. Saya berasal dari Indonesia dan saat ini melanjutkan studi Master di Slovenia, setelah sebelumnya tinggal di Jerman selama setahun. Perjalanan tiga tahun merantau di Eropa ini bukan sekadar pindah negara, melainkan sebuah proses pembentukan diri yang menguji arti sebenarnya dari ketahanan diri.

Perpindahan saya dari Jerman ke Slovenia adalah sebuah evolusi. Pengalaman saya di Jerman memberi fondasi penting untuk memahami kehidupan di Eropa, namun tujuan saya lebih besar: melanjutkan pendidikan dan menantang diri di lingkungan yang sama sekali berbeda.

Jerman adalah ujian resiliensi pertama saya. Dua bulan awal terasa berat, culture shock membuat saya merindukan kehangatan Indonesia. Namun, dengan dukungan luar biasa dari keluarga angkat, saya belajar bahwa adaptasi bukan sekadar bertahan, tetapi juga tentang menerima dan tumbuh.

Saya sempat berpikir pengalaman di Jerman bisa dijadikan cetak biru untuk negara Eropa lainnya. Ternyata, saya salah besar. Slovenia punya “jiwa” dan ritme yang sama sekali berbeda. Proses adaptasi kali ini terasa lebih lambat, dan saya menyadari penyebabnya ada dua. Pertama, hilangnya “Efek Pelangi” yakni fase euforia di awal yang membuat semua tantangan terasa ringan.

Kedua, “Beban Ekspektasi”, yakni asumsi keliru bahwa karena sudah berpengalaman, semuanya akan mudah. Pengalaman justru membuat saya sedikit lengah dan lupa untuk kembali rendah hati. Saya harus kembali menjadi “murid” dari nol.

Tantangan terbesar saya adalah bahasa dan budaya. Awalnya, saya optimistis karena kemiripan alfabet Slovenia dengan Bahasa Indonesia. Namun, kesulitan sesungguhnya muncul di level lanjutan, saat saya berada di tengah penutur asli bahasa Slavia yang punya keunggulan alami. Ritme kelas yang cepat menguji saya secara akademis dan emosional. Saya harus berjuang dua kali lipat, mengubah rasa minder menjadi motivasi.

Masyarakat Slovenia juga cenderung lebih berhati-hati dengan orang asing. Mereka ramah, tetapi butuh waktu dan konsistensi untuk membangun kepercayaan. Di sinilah saya benar-benar memahami makna resiliensi emosional: kemampuan untuk proaktif memulai interaksi tanpa mengharapkan keterbukaan instan.

Tantangan ini diperkuat dengan tidak adanya komunitas Indonesia yang solid atau kedutaan besar di Slovenia. Ada kalanya saya merindukan keakraban tawa dan bahasa kita. Namun, situasi ini memaksa saya untuk tidak bergantung pada “jaring pengaman” budaya. Saya belajar hal yang paling fundamental: menjadi rumah bagi diriku sendiri. Ini bukan berarti menyendiri, melainkan secara proaktif membangun koneksi baru yang bermakna. Bagi saya, ini terwujud melalui pertemanan lintas budaya dan dengan menyalurkan energi untuk berkontribusi, seperti keterlibatan saya sebagai relawan di Ruanita, yang memberikan saya ruang untuk bertumbuh bersama komunitas.

Tentu, saya punya jangkar penolong. Seni adalah jangkar mental saya. Melukis, menggambar, hingga nail art menjadi ruang aman untuk menenangkan pikiran. Saya juga menulis untuk memaknai setiap tantangan. Dan yang terpenting, suami saya adalah rekan resiliensi saya. Kami tidak hanya saling mendukung secara emosional; kami memandang setiap kesulitan sebagai proyek tumbuh bersama yang harus dihadapi sebagai sebuah tim.

Kini, saya melihat migrasi sebagai proses tanpa akhir untuk membentuk diri. Saya belajar beberapa prinsip penting: kosongkan gelasmu sebelum memasuki lingkungan baru; bangun ekspektasi berdasarkan realitas, bukan ilusi; dan sadari bahwa hubungan adalah investasi berharga yang harus dirawat.

Untuk teman-teman yang sedang berjuang di negara baru, ingatlah: kamu tidak sendiri. Bicarakan apa yang kamu rasakan. Lalu, mulailah dari langkah kecil. Adaptasi bukan perlombaan, melainkan proses menemukan ritme baru. Dan yang paling penting, jadilah rumah bagi dirimu sendiri, di mana pun kamu berada.

Penulis: Siti Aghata Romizah Yasmin, relawan Ruanita Indonesia di Slovenia dan dapat dikontak via akun instagram aghataasasmin.

(CERITA SAHABAT) Saya Menemukan Diriku: Perjalanan Menyadari ADHD di Usia Dewasa

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya Rieska dan seorang jurnalis Indonesia yang tinggal di Italia. Pada 2022, hidup saya berubah drastis setelah mengalami kecelakaan saat bermain ski. Awalnya dokter mengatakan tidak ada patah tulang, tapi rasa nyeri yang luar biasa membuat saya mengalami insomnia dan kesulitan bergerak. 

Saya harus menjalani perawatan intensif, suntik dua kali sehari selama sebulan, terapi gelombang ultrasonik 12 jam sehari selama dua minggu, dan terapi penggeseran posisi tulang. Di bulan kedua, barulah bisa diketahui bahwa dua otot kaki saya putus, menjelaskan sakit yang begitu luar biasa itu.

Selama masa pemulihan, saya mencoba mengalihkan perhatian dengan membaca buku, menulis, menonton dokumenter, dan berdiskusi dengan teman lewat media sosial. Namun, seiring waktu, saya mulai menyadari hal-hal yang aneh terjadi dalam diri saya seperti: saya kesulitan memahami konsep waktu. Selain itu, emosi saya naik turun tanpa alasan jelas. Saya juga merasa otak terasa kabur (brain fog), bahkan sulit mengingat nama teman atau nama  kolega yang baru. Setiap malam, saya mendapay mimpi saya begitu vivid dan bertumpuk, kadang seperti film Inception atau pengalaman keluar dari tubuh, sehingga saat bangun alih-alih segar, saya malah tambah lelah.

Meski demikian, saya menikmati keindahan membaca 3–4 buku sejarah dalam dua minggu hanya untuk menyelesaikan satu atau dua tulisan. Menariknya, kalau sudah terpaku pada buku, saya bisa lupa makan dan minum meski kaki saya nyeri luar biasa. Saya sering bangun tengah malam untuk minum 5–7 gelas air tapi tetap merasa haus, dan ini membuat saya bolak-balik ke kamar mandi, menambah sulit tidur dan rasa sakit.

Kondisi ini menghantam saya secara mental, fisik, bahkan hampir secara seksual, karena rasa sakit berlangsung berbulan-bulan. Hal yang bisa saya nikmati hanyalah kepuasan spiritual, intelektual, dan finansial: menulis semua yang saya rasakan, mencatat kronologi sakit, dan tetap bekerja menulis laporan berita.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai mempertanyakan semua gejala ini, yakni haus berlebihan, kehilangan ingatan, brain fog, sulit fokus tapi kadang hyperfocus, emosi ekstrem, hingga disorientasi, mengalami mental paralyze dan bahkan semacam seizure saat emosi tak dapat dikendalikan. Karena penasaran, saya mengikuti beberapa tes online dan menemukan fakta mengejutkan: saya mengalami ADHD berat.

Saya berseru: Eureka! Semua anomali hidup saya ternyata memiliki jawaban. Saya tidak gila. Psikologi dan neurologi memberikan penjelasan yang sangat masuk akal.

Follow us

Sejak itu, saya mulai fokus pada cara alami meningkatkan dopamin: supaya bisa tidur tenang, saya paksakan olahraga meski rasa sakit tak terhingga, saya seleksi makanan dengan menu khusus yang dapat memicu produksi dopamin, sederhana tapi esensial seperti biji-bijian, kacang mede, ati ayam, daging dan berbagai macam ikan. Saya hanya makan karbohidrat saat makan siang, pagi dan malam saya cukup puas dengan makan buah dan sayur. 

Meski selama sakit, sehari-hari saya hanya berbaring, sebagai jurnalis, saya disiplinkan diri mencatat semua kegiatan harian untuk melihat apakah terapi yang saya buat, bisa memberikan perubahan. Terapi perbaikan posisi tulang memungkinkan saya untuk mulai melakukan olahraga sepeda statis. 

Perlahan tapi pasti, seiring dengan meningkatnya suplai dopamin dalam tubuh, saya mulai bisa mengontrol emosi, meningkatkan kemampuan memori, kabut otak mulai hilang, tidur mulai nyaman karena rasa haus tak lagi menyerang. Dugaan saya, rasa haus yang berlebihan pada penderita ADHD adalah salah satu sinyal yang diberikan tubuh, sebagai indikasi krisis dopamin pada otak akibat rasa sakit yang sangat dan insomnia yang kronik. 

Penemuan ini saya sampaikan kepada dokter, mereka terkesima karena saya bisa dengan jelas menuturkan dan menjelaskan proses penemuan saya, bagaimana saya mencoba bangkit dan mengatasi masalah ini secara natural dan disiplin mencatat semua perkembangannya. 

Dokter berkata bahwa ini adalah salah satu cara paling efektif untuk mengatasi ADHD dan dia juga memuji saya untuk tetap solid, menjadi pribadi yang sepenuhnya memiliki kedaulatan pada kebutuhan dasar dan keluar dari krisis dengan cara paling instingtif tapi sekaligus intelek.

Pendapat dokter ini didengar juga oleh suami yang hadir mendampingi. Dokter memuji saya sebagai pasien yang benar-benar komit mencari penyembuhan yang konkrit, tak sekedar mencari solusi dari segi fisik, tapi juga mental, intelektual  dan spiritual. 

Mendengar itu, suami mendukung penuh. Keluarga besar dan anak-anak kami beri tahu bahwa orang dengan ADHD tidak akan berfungsi penuh di pagi hari, karena ADHD memiliki gen pemburu yang aktif di malam hari, oleh karena itu, di pagi hari, suami mengambil alih situasi.

Ia menyiapkan sarapan dan mengantar anak. Saya mulai menjalankan fungsi sebagai istri, setelah suami dan anak-anak keluar dari rumah. Saya membagi waktu, yaitu pekerjaan intelektual siang hari, aktivitas fisik seperti beberes dan olahraga di malam hari setelah semua tugas rutin dan makan malam selesai. Saya juga mengambil keanggotaan pusat kebugaran untuk jam malam, menyesuaikan ritme tubuh saya dan ternyata tarifnya lebih ekonomis.

Saya cukup beruntung, kini saya dikelilingi orang-orang yang tepat. Saya memiliki tim kerja dan sahabat dekat yang sangat mendukung dalam hal membantu disiplin saya, menyesuaikan jadwal pekerjaan dan pertemuan, sehingga saya bisa tetap produktif tanpa stres.

Sementara itu, saya semakin sering menemukan orang dengan symptom ADHD dan saya langsung bisa mengenali “frekuensi” nya sehingga kami menjadi satu koneksi yang solid dan saya sebut “ADHD Soultribe”. Saya kerap menjadi rujukan bagi teman dan orang tua murid yang menghadapi situasi serupa.

Pelajaran terpenting: ADHD bukan penyakit. Ini adalah kondisi otak yang berbeda atau disebut neurodivergent, cara kerjanya unik, tak sama dengan otak kebanyakan atau neurotypical. 

Kelemahannya yang paling distingtif: Otak ADHD memproduksi dopamin lebih rendah, jadi gaya hidup dan lingkungan yang mendukung sangatlah penting. Kelebihan lain, ADHD  memiliki empati tinggi, kemampuan hyperfocus, dan potensi jenius yang harus dilindungi dari orang abusif (toxic).

Sahabat Ruanita, ini pesan untuk perempuan lain. Pertama, saya berpendapat bahwa ADHD adalah anugerah, bukan kelemahan. Segera juga lindungi diri dari orang yang toksik atau manipulatif. Ketiga, menurut saya, pentingnya untuk mencari lingkungan yang juga ADHD dan teman yang mendukung. Terakhir, saya pikir adalah disiplin diri sebagai kunci untuk thrive.

Seandainya saya tahu sejak dulu, mungkin saya bisa lebih cepat menemukan perlindungan dan lingkungan yang tepat. Namun, sekarang saya bersyukur. Saya merasa hidup ini indah, layak diperjuangkan. Saya bukan produk gagal, melainkan saya adalah produk langka.

Terima kasih, hidup telah mengajarkan saya untuk bangga menjadi diri sendiri.

Penulis: Rieska, jurnalis Indonesia yang tinggal di Italia dan dapat dikontak via akun instagram ri3ska.

(CERITA SAHABAT) Ruang, Rasa, dan Identitas: Menjadi Perempuan Indonesia di Belanda

Halo, sahabat Ruanita! Saat pertama kali datang ke Belanda, saya dibuat terheran-heran. Kota tempat saya tinggal sebenarnya cukup modern, tapi suasananya begitu tenang, nyaris sunyi. Tidak ada suara klakson, tidak ada pedagang yang berteriak, hanya angin dingin dan suara burung dari kejauhan.

Suatu pagi, saya memberanikan diri keluar rumah sendirian untuk belanja ke supermarket. Sepanjang jalan, orang-orang yang saya temui tersenyum dan menyapa, “Hallo!” atau “Goedemorgen!” Sapaan sederhana itu membuat hati saya terasa hangat. Ada rasa diterima. Ada rasa bahwa, meskipun saya baru saja datang dari negeri tropis yang jauh, saya sudah disambut di sini.

Belanda memang negeri para pesepeda. Di jam-jam tertentu, jalanan dipenuhi anak-anak sekolah, pekerja, dan ibu rumah tangga yang bersepeda dengan tenang. Saya jarang sekali mendengar suara bising kendaraan. Kehidupan di sini berjalan dengan teratur dan rapi, tapi tidak kehilangan sisi kemanusiaan yang lembut.

Seiring waktu, saya menyadari bahwa banyak jejak Indonesia tertinggal di negeri ini. Hubungan sejarah panjang antara Indonesia dan Belanda tampak di berbagai ruang publik. Nama-nama jalan, gedung, bahkan tempat makan banyak yang menggunakan istilah Indonesia.

Di kota Utrecht, tempat saya tinggal, ada satu kawasan bernama Lombok. Kawasan ini penuh dengan nama jalan seperti Bandoengstraat, Javastraat, dan Kalimantanstraat. Saat melintasinya, saya merasa seperti sedang berjalan di tengah kenangan, riuhnya lalu lintas, aroma kopi, dan keriangan suasana yang mengingatkan saya pada Pasar Baru di Bandung.

Tak jauh dari sana, ada pula rumah-rumah lansia untuk warga keturunan Indonesia, dengan nama yang juga beraroma tanah air: Roemah Nusantara, Mandala, dan lainnya. Nama-nama itu seolah menjadi pengingat bahwa akar budaya Indonesia tetap hidup di negeri ini, bahkan di antara generasi yang sudah lama menetap di Belanda.

Meskipun jauh dari tanah air, saya tetap berusaha menjadikan rumah sebagai tempat yang berjiwa Indonesia. Dinding rumah dihiasi kain batik, ukiran kayu, dan hiasan wayang kecil yang saya bawa dari Yogyakarta. Di ruang makan, aroma rempah dari dapur selalu menguar, membawa kenangan masa kecil.

Bagi saya, rumah bukan sekadar tempat tinggal, tapi juga ruang untuk menjaga jati diri. Setiap tamu yang datang, baik orang Belanda maupun teman dari negara lain, langsung tahu asal saya. “Wah, rumahmu hangat sekali!” kata mereka. Saya hanya tersenyum. Mungkin, yang mereka rasakan bukan sekadar hangatnya ruangan, tapi juga kehangatan budaya yang saya bawa dari tanah air.

Tinggal di negeri orang tidak berarti harus mengubah diri menjadi orang lain. Bagi saya, menjadi perempuan Indonesia berarti tetap menjaga kehormatan, kesantunan, dan kelembutan dalam bersikap. Saya berusaha untuk tetap berpenampilan sopan, ramah dalam berbicara, dan menghormati setiap orang. Nilai-nilai ketimuran itu saya pegang erat, bahkan ketika berhadapan dengan budaya yang lebih terbuka dan bebas seperti di Eropa.

Saya tidak ingin menjadi “kebarat-baratan”. Sebaliknya, saya belajar untuk menyaring setiap pengaruh baru. Ambil yang baik, buang yang tidak sesuai dengan nilai yang saya yakini. Ketika menghadiri acara keluarga besar suami atau pertemuan kantor, saya sering mengenakan batik atau kebaya sederhana. Banyak yang memuji keanggunan busana Indonesia. Saya merasa bangga, tanpa perlu banyak bicara, orang bisa melihat jati diri saya dari cara berpakaian dan bertutur.

Bahasa Indonesia selalu menjadi jembatan kehangatan, terutama saat berkumpul dengan sesama orang Indonesia di Belanda. Kami bisa tertawa bersama, berbagi cerita, dan seolah jarak ribuan kilometer dengan tanah air menghilang begitu saja. Suami saya pun kini sedang belajar bahasa Indonesia. Kadang ucapannya masih terbata-bata, tapi itu justru membuat suasana rumah semakin hangat. Ia bilang, “Kalau bisa berbicara bahasamu, aku bisa lebih memahami hatimu.” Saya tersenyum mendengar itu. Ternyata, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, ia adalah bentuk cinta.

Saya juga membawa tradisi berbagi makanan ke lingkungan tempat tinggal kami. Setiap Ramadan dan Idul Fitri, saya memasak rendang, ketupat, atau kue kering untuk tetangga. Mereka sangat menyukainya! Kadang mereka pun membalas dengan kue khas Belanda seperti appeltaart atau stroopwafel. Pertukaran ini menjadi jembatan kecil yang mempererat hubungan kami.

Tidak ada yang lebih mudah menyatukan dua budaya selain makanan. Saya percaya, aroma dan rasa memiliki bahasa universal yang bisa dimengerti siapa pun.

Orang Belanda sangat akrab dengan masakan Indonesia. Banyak dari mereka tumbuh dengan cerita atau kenangan tentang nasi goreng, sate, atau rijsttafel yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Saya sering mengadakan acara memasak kecil di rumah. Tetangga-tetangga saya penasaran bagaimana cara membuat sambal atau gado-gado. Saat saya menunjukkan rempah seperti lengkuas, daun jeruk, dan serai, mereka terpesona oleh aromanya. “Inilah rahasia kelezatan Asia Tenggara,” saya bercanda.

Selain itu, saya dan suami rutin mengunjungi Tong Tong Fair atau Pasar Indonesia, dua acara besar yang menampilkan budaya dan kuliner Indonesia di Belanda. Di sana, suasananya benar-benar seperti pasar di Indonesia: ramai, penuh tawa, dan wangi sate yang menggoda. Saya selalu merasa seperti pulang ke rumah, meski hanya untuk satu hari.

Tahun-tahun pertama di Belanda bukan tanpa tantangan. Cuaca dingin, bahasa yang sulit, dan rasa sepi sempat membuat saya merasa terasing. Ada masa di mana saya hanya berdiam di rumah dan menatap salju jatuh di luar jendela sambil menahan rindu pada keluarga di tanah air.

Namun, perlahan semuanya berubah. Saya mulai mengikuti kursus bahasa, bergabung dengan komunitas perempuan Indonesia, dan aktif dalam kegiatan sosial. Dari situ, saya belajar bahwa adaptasi bukan berarti kehilangan jati diri, tetapi menemukan keseimbangan antara dua dunia.

Sekarang, saya sudah merasa lebih “menyatu”. Saya bisa berbicara bahasa Belanda dengan percaya diri, memiliki teman dari berbagai bangsa, dan tetap menjaga hubungan erat dengan keluarga di Indonesia. Setiap panggilan video dengan keluarga selalu mengingatkan saya bahwa jarak tidak mampu memutus rasa cinta.

Sebagai perempuan Indonesia di Belanda, saya belajar bahwa budaya bukan sesuatu yang kaku. Budaya bisa tumbuh, beradaptasi, dan menyatu dengan lingkungan baru, asal kita tetap menjaga akarnya.

Saya mengagumi perempuan Belanda yang mandiri dan percaya diri. Mereka tidak takut berpendapat dan mengambil keputusan. Dari mereka, saya belajar arti keberanian. Namun dari budaya saya sendiri, saya belajar arti kelembutan dan empati. Dua hal ini: barat dan timur, yang kemudian saya padukan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi saya, menjadi perempuan Indonesia di luar negeri berarti menjadi jembatan: antara masa lalu dan masa kini, antara timur dan barat, antara tradisi dan modernitas.

Hubungan antara Indonesia dan Belanda bukan hanya soal sejarah, tapi juga soal kemanusiaan yang terus terjalin hingga kini. Banyak warga Belanda yang menaruh minat besar terhadap Indonesia. Dalam setiap perbincangan, mereka selalu antusias bertanya tentang batik, Bali, atau kuliner Nusantara.

Saya senang berbagi cerita. Kadang dalam percakapan santai, saya menyisipkan filosofi hidup orang Indonesia, seperti gotong royong, rasa syukur, dan pentingnya keluarga. Mereka terkesan, karena di tengah dunia yang semakin individualistis, nilai-nilai itu terasa menyegarkan.

Beberapa kali saya juga diundang berbicara di acara komunitas lokal untuk mengenalkan budaya Indonesia. Dari situ saya belajar, bahwa menjaga budaya bukan selalu dengan hal besar, tapi bisa dimulai dari percakapan sederhana dan sikap sehari-hari.

Kini, setelah bertahun-tahun tinggal di Belanda, saya semakin sadar bahwa koneksi budaya bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang cara kita menjaganya hari ini.

Rumah kecil saya di Utrecht bukan sekadar tempat tinggal. Utrecht adalah ruang di mana dua budaya bertemu dan berdialog setiap hari. Di ruang makan, aroma rendang bertemu dengan roti gandum. Di ruang tamu, batik berpadu dengan vas bunga tulip. Di hati saya, cinta terhadap Indonesia tumbuh berdampingan dengan rasa syukur atas kehidupan baru di Belanda.

Sebagai perempuan perantau, saya hanya berharap agar kita semua, perempuan Indonesia di mana pun berada, tetap bangga dengan akar budaya sendiri. Kita boleh belajar dan beradaptasi, tetapi jangan pernah kehilangan rasa hormat dan kesantunan yang menjadi ciri khas kita.

Hubungan antara Indonesia dan Belanda telah melewati masa panjang. Kini, saatnya kita membangunnya kembali dengan semangat baru: semangat kesetaraan, saling menghormati, dan saling belajar.

Karena di ujungnya, koneksi budaya bukan hanya tentang sejarah yang kita warisi, tetapi tentang cara kita menciptakan jembatan antarhati, dengan senyum, keramahan, dan cinta yang tidak mengenal batas waktu maupun jarak.

Di negeri orang, saya belajar bahwa menjadi perempuan Indonesia bukan sekadar tentang dari mana saya berasal, tetapi tentang bagaimana saya membawa kehangatan, kesantunan, dan cinta dari tanah air ke mana pun saya melangkah.

Penulis: Ristiyanti Handayani, tinggal di Belanda dapat dikontak via akun facebook Ristiyanti Handayani.

(CERITA SAHABAT) Bulutangkis, Persahabatan, dan Keluarga Kedua di Dubai

Halo, sahabat Ruanita! Saya sudah hampir 14 tahun, tinggal di Dubai. Rasanya waktu berjalan begitu cepat sejak pertama kali menjejakkan kaki di kota yang megah sekaligus ramah ini. Saya datang sebagai seorang ibu rumah tangga yang mengikuti suami bekerja di luar negeri. 

Awalnya, kehidupan di tanah rantau tentu penuh penyesuaian. Namun, pelan-pelan saya belajar bahwa kunci untuk bertahan bukan hanya soal mengurus rumah atau keluarga, tetapi juga bagaimana saya bisa menemukan ruang untuk diri sendiri, tempat untuk berkembang, sehat, bahagia, sekaligus menjalin persahabatan.

Saya, Utari Giri, akhirnya menemukan ruang itu melalui bulutangkis. Sebuah olahraga yang sebelumnya tidak terlalu saya kenal, tetapi kini menjadi bagian penting dalam hidup saya. Lebih dari sekadar olahraga, bulutangkis telah membawa saya pada perjalanan yang penuh makna, membentuk komunitas yang kini saya sebut keluarga kedua: Indonesian Ladies Badminton (ILB) di Dubai.

Ceritanya sederhana. Dulu, di akhir pekan, kami sering bermain bulutangkis bersama keluarga. Para suami libur kerja, anak-anak ikut berlarian, sementara para istri mencoba ikut memukul kok sekadar untuk mengisi waktu. Lama-kelamaan, muncul ide dalam hati saya: kenapa tidak dibuat lebih rutin? Kenapa tidak ada wadah khusus bagi perempuan Indonesia di Dubai yang ingin bermain bulutangkis di luar akhir pekan?

Saya pun mengajak beberapa ibu untuk berlatih bersama. Ternyata sambutannya sangat positif. Banyak yang ingin ikut, bahkan ada yang baru pertama kali mencoba olahraga ini. Dari situlah, pada tanggal 26 Mei 2022, lahirlah Indonesian Ladies Badminton (ILB).

Sejak saat itu, bulutangkis bukan lagi sekadar kegiatan pengisi waktu luang, melainkan menjadi rutinitas yang saya dan teman-teman nantikan setiap minggu. Lucunya, saya sendiri baru benar-benar mengenal olahraga ini setelah ILB berdiri. Namun, entah kenapa, saya langsung jatuh cinta.

Sebelum ada ILB, kebersamaan perempuan Indonesia di Dubai sering terwujud dalam kegiatan arisan atau makan-makan. Menyenangkan, tentu saja, tetapi ada rasa yang kurang. Kami butuh aktivitas yang tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga memberi manfaat bagi tubuh dan pikiran.

Bulutangkis ternyata menjawab semua itu. Olahraga ini relatif mudah dipelajari, cepat membakar kalori, dan tidak semahal olahraga lain yang membutuhkan perlengkapan khusus. Namun, lebih dari itu, bulutangkis membuat kami bergerak, tertawa, berteriak bersama di lapangan. Menurut saya, ini sebuah kombinasi yang luar biasa untuk melepas stres.

Pada awalnya, kami berlatih hanya sekali seminggu, setiap hari Kamis. Namun, semakin hari semakin banyak yang ketagihan. “Kok rasanya kurang kalau hanya seminggu sekali,” begitu komentar beberapa teman. Akhirnya, sejak dua tahun terakhir, jadwal bertambah menjadi dua kali seminggu: Selasa dan Kamis.

Tempat latihan pertama kami adalah Zabeel Sport District, tepat di seberang Dubai Mall. Tempat itu punya kenangan yang tidak akan pernah terlupakan. Saya sering menyebutnya sebagai “rumah pertama” ILB. Sayangnya, satu minggu sebelum ulang tahun ILB yang ketiga, tempat itu tutup. Kami sempat sedih, tetapi latihan harus jalan terus. Kini, kami berlatih di Danube Sport World, semacam “rumah baru” ILB yang tak kalah hangat.

ILB terbuka untuk semua perempuan Indonesia di Dubai. Tidak ada syarat khusus selain niat untuk sehat dan semangat untuk konsisten. Hingga kini, anggota aktif kami lebih dari 30 orang, semuanya perempuan dengan rentang usia antara 25 hingga 50 tahun lebih. Mayoritas ibu rumah tangga, tetapi ada juga yang bekerja, bahkan beberapa masih lajang.

Yang membuat saya bangga, meskipun latar belakang berbeda-beda, semangat kami sama: ingin sehat, ingin punya teman, dan ingin bahagia.

Bagi saya pribadi, bulutangkis punya makna yang lebih dalam daripada sekadar olahraga. Dari sini, saya belajar banyak hal: bagaimana bekerja sama dengan pasangan bermain di lapangan, bagaimana menahan ego, bagaimana berpikir cepat untuk mengembalikan kok agar lawan sulit menerima.

Setiap pertandingan, entah menang atau kalah, selalu ada pelajaran tentang sportifitas. Menang tidak boleh membuat sombong, kalah pun tidak boleh membuat putus asa. Pelajaran ini ternyata juga berguna dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam bersosialisasi dengan teman-teman.

Namun, yang paling berharga adalah bagaimana ILB menjadi tempat untuk melepas penat. Saat rutinitas rumah tangga terasa melelahkan, bermain bulutangkis bersama teman-teman seperti mengisi ulang baterai. Tertawa bersama di lapangan adalah terapi yang tidak bisa digantikan. ILB bagi saya dan teman-teman bukan sekadar komunitas, melainkan keluarga. Tiga tahun bersama, bertemu dua kali seminggu, sudah cukup untuk menumbuhkan ikatan yang dalam.

Tentu saja, tidak selalu mulus. Ada kalanya terjadi perbedaan pendapat atau ketegangan kecil. Namun, ketika kami ingat bahwa ILB adalah keluarga, semua bisa diredakan. Justru dari situlah kami belajar saling memahami. Solidaritas kami juga teruji di luar lapangan. Ketika ada anggota yang sakit atau keluarganya berpulang, selalu ada perwakilan yang hadir untuk memberi dukungan. Kalau ada kesulitan, biasanya teman-teman cerita langsung ke saya. Kadang saya simpan, kadang saya bagikan ke grup agar kita bisa mencari solusi bersama.

Selain itu, kami punya kebiasaan kecil yang ternyata sangat berarti: setelah latihan, biasanya kami makan siang bersama di rumah makan Indonesia. Di sanalah muncul diskusi ringan tentang anak, keluarga, pertemanan, bahkan pekerjaan. Dari obrolan santai itu, sering muncul ide-ide baru yang memperkaya kami.

Dubai, menurut saya, adalah kota yang ramah perempuan. Jadi sebenarnya tidak ada tantangan besar untuk perempuan Indonesia tinggal di sini. Justru komunitas-komunitas seperti ILB membuat hidup semakin mudah.

Mungkin kendala yang ada hanya soal waktu. Sebagian besar anggota adalah ibu rumah tangga dengan rutinitas antar jemput anak sekolah. Itulah kenapa jam latihan kami dipilih pukul 10.00 hingga 12.00, agar tetap ada waktu menjemput anak pulang. Kadang saat musim ujian, anak-anak pulang lebih awal, sehingga beberapa teman harus rela absen.

Namun, dukungan keluarga sangat besar. Tidak pernah ada cerita suami yang melarang istrinya bermain bulutangkis. Malah banyak yang mendorong. Saya percaya, melihat istri sehat dan bahagia juga membuat suami dan anak-anak ikut senang.

Ada begitu banyak momen indah bersama ILB. Setiap tahun, kami punya agenda rutin: tukar kado di awal tahun, buka puasa bersama, halal bihalal, ulang tahun ILB, hingga perayaan hari kemerdekaan. Semua acara itu selalu penuh tawa dan meninggalkan kenangan manis.

Kami juga sering mengikuti turnamen. Dua kali kami bertanding persahabatan dengan komunitas ibu-ibu Indonesia di Abu Dhabi. Kami juga rutin ikut turnamen KBRI Abu Dhabi dan KJRI Dubai setiap perayaan hari kemerdekaan. Puncaknya, pada Februari 2025, kami berangkat ke Muscat, Oman, untuk mengikuti Indonesian GCC Tournament. Itu adalah turnamen persahabatan antara orang Indonesia di Timur Tengah. Kami bangga sekali bisa mewakili tim perempuan dari Uni Emirat Arab.

Saya selalu berharap ILB bisa terus menjadi wadah yang menginspirasi perempuan Indonesia di Dubai untuk peduli kesehatan, bergerak, berolahraga, dan tentu saja, menjalin persahabatan.

Saya ingin semakin banyak perempuan bergabung, tetapi dengan niat yang tulus. “Jangan hanya untuk eksis,” begitu pesan saya. Datanglah karena memang ingin berlatih, ingin sehat, ingin bahagia.

Moto kami sederhana: Health – Friendships – Happiness. Dari tiga kata ini saja sudah terlihat bahwa ILB adalah tempat yang tepat untuk siapa pun yang baru datang ke Dubai dan ingin menemukan keseimbangan hidup.

Kalau saya menoleh ke belakang, rasanya ajaib bagaimana bulutangkis bisa membawa perubahan besar dalam hidup saya. Dari sekadar iseng bermain di akhir pekan, kini saya menjadi bagian dari komunitas yang berisi lebih dari 30 perempuan hebat.

Kami tidak hanya memukul kok di lapangan. Kami saling mendukung, saling menguatkan, dan saling menjaga. Di tanah rantau, jauh dari keluarga, kami menemukan rumah kedua.

Bagi saya, ILB bukan hanya tentang olahraga. Ini tentang persahabatan, solidaritas, dan kebahagiaan yang tumbuh dari hati.

Dan, bagi siapa pun perempuan Indonesia yang datang ke Dubai, pintu ILB selalu terbuka. Mari bergabung, mari bergerak, mari sehat bersama. Karena di sini, setiap pukulan kok adalah energi, setiap tawa adalah obat, dan setiap pertemuan adalah berkah.

Penulis: Utari Giri, founder Indonesian Ladies Badminton (ILB) di Dubai. Tinggal di Uni Emirat Arab. Dapat dihubungi melalui Instagram:@utarigiri.

(CERITA SAHABAT) Kisah Melawan Stigma Sosial Janda di Masyarakat

Kata “janda” seperti kata kutukan yang dilemparkan masyarakat tanpa ampun. Istilah “janda” tidak hanya menyiratkan kehilangan pasangan, tetapi juga dibebani dengan prasangka, stereotip, dan stigma yang seolah tak pernah usai. Saya, Conny Salamony, pernah hidup dalam bayang-bayang kata itu. Kini, saya menulis cerita sahabat ini bukan untuk membalas, melainkan untuk mengingatkan bahwa di balik kata “janda”, ada manusia yang juga berhak dihormati, dicintai, dan dikuatkan.

Saya mengenal suami saya lewat Yahoo Chat Room, sebuah tempat yang kini mungkin hanya tinggal sejarah. Kami mulai berkenalan pada 2004, menjalani hubungan jarak jauh, hingga akhirnya dia datang ke Indonesia pada 2006. Kami menikah pada 2007 di Jakarta. Dia adalah pria asal Sri Lanka yang hangat, lucu, dan sabar. Hidup bersamanya membuat saya harus keluar dari zona nyaman, belajar berpergian antar negara sendiri, tinggal di tempat asing seperti Sri Lanka dan Oman, dan belajar berkomunitas dengan cara yang baru.

Pernikahan kami tidak sempurna, tapi dipenuhi cinta dan pelajaran hidup. Meski sebagai istri saya sering sakit-sakitan, suami tetap mendampingi tanpa banyak keluhan. Hingga pada tahun 2017, tiba-tiba hidup kami berubah drastis.

Di pertengahan tahun itu, suami saya jatuh sakit secara mendadak. Diagnosisnya adalah diabetes, dan kondisinya memburuk dengan cepat. Saat itu kami tinggal di Oman, dan ia kemudian dirawat di Sri Lanka, negara asalnya. Saya dan anak kami masih tinggal di Oman.

Saat para tenaga medis memberi kode bahwa ini mungkin adalah akhir, saya mulai mempersiapkan diri secara emosional. Bulan Desember 2017, saya dan anak kami dipanggil ke Sri Lanka. Sayangnya, ia meninggal dunia saat kami masih di pesawat menuju ke sana.

Anak kami saat itu masih kecil. Ia tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi, tapi ia tahu bahwa ibunya sedang terluka dan butuh teman. Ia pun tumbuh menjadi penyemangat saya, bahkan dalam kelucuannya yang kelam. Dalam satu kesempatan, saat teman-temannya berkata “my father is…”, ia menjawab, “my father is dead,” sambil tertawa. Saya tahu, itu cara dia berdamai.

Menjadi janda di Indonesia bukan perkara mudah. Justru di Sri Lanka-lah saya pertama kali merasakan stigma yang paling tajam. Di sana, seorang janda dianggap sebagai “kutukan” yang membawa kematian bagi suaminya. Sebuah pandangan yang membuat saya ingin menghilang.

Namun kembali ke Indonesia pun tidak serta merta membuat saya merasa aman. Saya mendapati diri saya menjadi sasaran prasangka. Kata-kata seperti “janda pelakor”, “lebih mudah diajak tidur”, hingga “lebih nakal karena pernah menikah” menjadi semacam bisikan yang tidak diucap di depan, tapi terasa menyesakkan.

Sebagai janda dari WNA, ada pula ekspektasi aneh. Laki-laki yang mencoba mendekati saya seringkali berasumsi bahwa saya lebih “liar” karena pernah menikah dengan pria asing. Rasanya ingin menampar mereka, tapi saya memilih untuk membangun jarak dan melindungi diri serta anak saya.

Saya bersyukur punya keluarga dan teman-teman yang menjadi support system saya. Tapi tidak semua orang begitu. Saya paham betul mengapa banyak perempuan takut menjadi janda, bukan hanya karena kehilangan pasangan, tetapi karena harus menghadapi dunia yang kejam setelahnya.

Setelah kepergian suami, saya tidak hanya berduka. Saya juga harus berpikir keras tentang bagaimana membesarkan anak dan mencukupi kebutuhan hidup. Beruntung, keluarga saya sangat mendukung, dan saya bisa tinggal bersama mereka. Secara finansial, saya bekerja sebagai virtual assistant, sebuah profesi yang saya bangun pelan-pelan dengan belajar dari komunitas daring.

Negara asal suami saya tidak memberikan dukungan apapun. Di Indonesia pun saya belum pernah mengajukan bantuan seperti KJP karena memang belum sempat. Yang paling menantang tentu saja mengelola keuangan dan memastikan anak saya tetap merasa dicintai, aman, dan diterima.

Saya sadar, anak-anak dari keluarga tunggal sering kali merasa tidak utuh. Sejak awal, saya tanamkan padanya bahwa siapapun yang saya dekati akan dikenalkan padanya. Bahwa dia tetap nomor satu di hidup saya. Keterbukaan dan kejujuran menjadi fondasi hubungan kami.

Sebagai istri WNA, ada tantangan tambahan: birokrasi yang rumit. Misalnya, saya tidak bisa menarik dana dari rekening suami saya di Sri Lanka karena saya bukan warga negara sana. Anak saya bisa, tapi dia masih berusia tujuh tahun saat itu. Jadi, kami hanya bisa tarik uangnya lewat ATM perlahan-lahan, sebelum rekening dibekukan.

Warisan? Tidak ada. Bahkan untuk menjual mobil peninggalan suami di Oman, saya harus mengurus surat kuasa dari notaris agar bisa menjualnya atas nama saya. Untuk paspor anak pun butuh perjuangan. Meski ia punya kewarganegaraan ganda, tetap saja prosesnya berliku dan mahal. Untungnya, sepupu suami yang bekerja sebagai wartawan membantu kami mempermudah beberapa prosedur lewat kenalannya.

Apa yang membuat saya bertahan sampai hari ini? Jawabannya sederhana: anak saya. Ia adalah sumber kekuatan terbesar saya, dan saya ingin menjadi sosok yang bisa ia banggakan. Selain itu, teman dan keluarga juga menjadi pengingat bahwa saya tidak sendiri.

Saya tidak segan memutus hubungan dengan orang-orang yang membawa energi negatif. Teman-teman yang hanya pandai mengomentari tapi tak pernah membantu, saya tinggalkan. Saya memilih menjaga kewarasan dan kesehatan mental, karena saya tahu itu kunci untuk bisa tetap menjadi ibu yang utuh dan manusia yang sehat.

Jika ada satu pesan yang ingin saya sampaikan kepada masyarakat luas, itu adalah: jangan pernah menyalahkan pasangan yang masih hidup atas kematian pasangannya. Banyak orang bertanya kenapa suami saya bisa meninggal duluan. Apakah saya tidak bisa menjaga? Apakah saya tidak becus? Siapa yang bisa melawan takdir Tuhan?

Kematian bukanlah kesalahan pasangan yang ditinggal. Itu adalah keputusan semesta. Tugas kita bukan menghakimi, tapi memberi ruang bagi mereka yang ditinggalkan untuk sembuh.

Buat para perempuan, janganlah menganggap janda itu pelakor. Teruntuk para pria, perempuan nakal itu tidak selalu janda. Banyak janda yang justru menjaga kehormatan dan tahu betul batas tubuhnya.

Saya tahu betapa sulitnya menjadi janda. Namun, saya ingin mengingatkan bahwa kita semua tetap berharga di mata Tuhan. Jangan biarkan stigma membungkam suara kita. Jangan biarkan omongan orang lain menghapus harga diri kita.

Untuk yang masih punya anak kecil, ingatlah: mereka adalah semangat kita. Tidak apa-apa membuang orang-orang yang tidak mengerti perjuangan kita. Kesehatan mental jauh lebih penting daripada memenuhi ekspektasi sosial yang absurd.

Hari Janda Sedunia bukan hanya perayaan, tapi pengingat bahwa perempuan juga manusia, dan kehilangan tidak membuat kita lebih rendah. Kita bukan korban, kita pejuang.

Saya menulis ini bukan sebagai keluhan, tapi sebagai cermin. Masyarakat kita butuh bercermin tentang bagaimana mereka memperlakukan perempuan yang ditinggal mati oleh pasangan mereka.

Janda bukan label yang perlu disembunyikan, bukan status yang harus dibersihkan. Janda adalah status kehidupan, sama seperti “istri”, “ibu”, “anak”, atau “teman”.

Dan saya, Conny Salomony, memilih untuk menjadi janda yang bangga. Bukan karena ditinggal, tapi karena saya bertahan.

Penulis: Conny Salamony, admin komunitas kawin campur dan dapat dikontak via akun instagram connysalamony.

(CERITA SAHABAT) Antara Cinta, Stigma, dan Identitas: Perjalanan Saya sebagai Perempuan Indonesia di Jerman

Halo, sahabat Ruanita! Nama saya Fina Regina Weber, lahir dan besar di Jakarta. Saya pertama kali datang ke Jerman pada tahun 2009. Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 2011, saya resmi menetap di sini setelah menikah. Awalnya, saya bekerja di perusahaan engineering dan konstruksi di bidang Oil & Gas. Dunia kerja yang keras, maskulin, dan penuh tekanan bukanlah hal baru bagi saya. Namun, siapa sangka, perjalanan hidup membawa saya ke tempat yang sama sekali berbeda: menjadi ibu rumah tangga di Jerman.

Saat ini, fokus utama saya adalah keluarga, yakni mengurus dua anak perempuan dan mendampingi mereka tumbuh di lingkungan yang jauh dari tempat saya dibesarkan. Selain itu, saya aktif dalam berbagai kegiatan komunitas Indonesia dan kegiatan sekolah anak-anak. Mungkin dari luar, kehidupan saya tampak tenang dan mapan, tapi di balik itu semua, ada dinamika batin dan tantangan yang tidak selalu terlihat.

Sejak awal menetap di Jerman, saya sudah sering mendengar berbagai stigma tentang perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri. Salah satu pandangan yang paling sering muncul adalah: “Perempuan Indonesia menikah dengan orang asing supaya bisa hidup enak di luar negeri.”

Jujur, mendengar hal seperti itu tidak mudah. Saya tahu stigma itu muncul karena memang ada sebagian kasus yang sesuai dengan narasi tersebut. Namun, yang menyedihkan adalah ketika orang mulai menggeneralisasi, seolah-olah semua perempuan Indonesia di luar negeri punya motif yang sama.

Saya pernah merasakan bagaimana rasanya dianggap “punya kasta visa paling rendah”. Kadang saya merasa seolah identitas saya sebagai perempuan Indonesia di mata orang lain selalu dihubungkan dengan status pernikahan saya. Padahal setiap orang punya cerita dan perjuangan yang berbeda.

Dalam kasus saya, saya bertemu suami di lingkungan kerja profesional di Jakarta, bukan dari aplikasi kencan, bukan juga karena ingin “kabur” ke luar negeri. Kami bertemu secara alami, bekerja bersama, bertukar ide, dan akhirnya jatuh cinta. Tapi stigma tidak pernah memilih korbannya. Sekali seseorang diberi label, sulit untuk menghapusnya, meski kenyataannya berbeda jauh.

Saya menyadari bahwa stigma terhadap perempuan Indonesia di luar negeri muncul baik dari masyarakat Indonesia sendiri maupun dari luar negeri.

Dari sesama WNI, kadang muncul komentar atau cibiran halus, “Wah, enak ya hidup di luar negeri, pasti serba mudah.” Ada pula yang menilai bahwa menikah dengan orang asing adalah cara cepat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Padahal, yang mereka tidak tahu, hidup di luar negeri justru sering lebih berat, terutama karena kita jauh dari keluarga besar, harus menyesuaikan diri dengan budaya yang berbeda, dan belajar berdiri di atas kaki sendiri.

Sementara dari masyarakat Jerman, saya merasakan bahwa mereka sebenarnya tidak terlalu ikut menilai. Orang Jerman pada umumnya lebih santai, cenderung menilai seseorang dari perilakunya sehari-hari, bukan dari asal negara atau latar belakang pernikahannya. Jadi, beban stigma itu justru sering datang dari komunitas sendiri, bukan dari lingkungan tempat tinggal saya sekarang.

Di era media sosial seperti sekarang, persepsi orang bisa terbentuk hanya dari potongan kecil kehidupan yang mereka lihat. Banyak orang mengenal saya hanya dari reels, story, atau postingan media sosial. Dari situ, mereka sering berasumsi. Saya sudah tidak terlalu memikirkan hal itu, karena saya tahu apa yang tampak di layar ponsel hanyalah satu sisi kecil dari kehidupan seseorang.

Dulu saya sempat merasa perlu untuk menjelaskan dan meluruskan semua pandangan miring yang muncul. Tapi seiring waktu, saya belajar untuk melepaskan beban penjelasan itu. Sekarang, fokus saya lebih pada keluarga, anak-anak, dan orang-orang yang benar-benar mengenal saya apa adanya. Hidup terlalu singkat untuk terus membuktikan diri kepada mereka yang sudah memilih untuk menilai tanpa mengenal.

Follow us

Di Jerman, kehidupan saya kini banyak berputar di sekitar sekolah anak-anak. Di sana, para ibu lebih banyak berbicara tentang kegiatan sekolah, makanan sehat, atau kegiatan akhir pekan. Mereka tidak bicara tentang status sosial atau dari mana kami berasal. Itu membuat saya merasa lebih diterima.

Suami saya juga sangat mendukung. Setiap kali kami bertemu koleganya, dia selalu memperkenalkan saya dengan bangga, mengatakan bahwa kami dulu bekerja di perusahaan yang sama di Jakarta. Hal kecil seperti itu ternyata membantu mengubah persepsi orang lain.

Saya juga sadar bahwa dunia sudah berubah. Dengan maraknya online dating dan Tinder, banyak orang kini mengira semua pernikahan campuran bermula dari sana. Padahal tidak selalu. Ada banyak cerita seperti saya, yang dimulai dari pertemuan profesional, tatap muka langsung, lalu jatuh cinta secara alami—face to face and fall in love, seperti kata saya kepada teman-teman yang bertanya.

Sebagai ibu dari dua anak perempuan berdarah Indonesia-Jerman, saya sangat bangga melihat bagaimana mereka mencintai dua budaya yang mereka miliki. Mereka menyukai rambut hitam dan kulit sawo matang mereka, dua hal yang kadang justru menjadi sumber rasa minder bagi anak-anak imigran lain.

Saya selalu menanamkan nilai bahwa memiliki dua budaya berarti memiliki dua rumah, dua cara pandang, dan dua kekuatan. Sejauh ini, mereka tumbuh dengan rasa percaya diri dan rasa bangga terhadap asal-usulnya. Saya berharap mereka akan terus membawa identitas itu dengan kepala tegak, tanpa merasa perlu memilih salah satu.

Salah satu hal yang saya pelajari selama tinggal di luar negeri adalah pentingnya memilih lingkungan yang tepat. Saya tidak menutup diri, tapi saya juga tidak ikut dalam kumpul-kumpul yang hanya menjadi ajang gosip atau perbandingan hidup.

Saya lebih memilih untuk aktif di kegiatan yang punya makna positif, seperti acara yang diadakan oleh konsulat, sekolah, atau komunitas budaya. Di situlah saya bisa menunjukkan bahwa perempuan Indonesia di luar negeri tidak hanya pandai menyesuaikan diri, tetapi juga bisa berkontribusi dan mengharumkan nama bangsa.

Saya sering ikut serta dalam acara seperti Indonesia Frankfurt Festival, Indonesia Street Festival, dan Learn and Batik Expo. Melalui kegiatan semacam itu, kami bisa memperkenalkan keindahan budaya Indonesia kepada masyarakat Jerman, sekaligus memperlihatkan bahwa perempuan Indonesia di luar negeri adalah duta kecil yang tangguh dan berprestasi.

Saya percaya perempuan Indonesia punya daya tahan luar biasa. Kami dikenal tangguh, ramah, dan cepat beradaptasi. Nilai-nilai itu adalah modal besar untuk mengubah stigma negatif menjadi kekuatan positif.

Saya sendiri mencoba melakukannya dalam hal-hal kecil: bersikap sopan, bekerja keras, membantu sesama, dan menjaga nama baik bangsa. Perlahan tapi pasti, orang-orang di sekitar mulai melihat bahwa perempuan Indonesia bukan hanya “istri orang asing”, tetapi juga individu yang berharga dan mampu memberi kontribusi nyata.

Hidup di luar negeri mengajarkan saya banyak hal. Salah satu pelajaran terbesar adalah belajar selektif dalam memilih teman. Dulu, saya selalu berpikir semua orang bisa menjadi teman, tapi sekarang saya tahu tidak semua layak disebut teman.

Saya pernah merasa kecewa oleh orang yang saya anggap dekat, tapi kemudian saya sadar, tidak semua orang akan senang melihat kita bahagia. Dari situ saya belajar makna kalimat sederhana yang kini menjadi pegangan saya: “Friends are what you are.” Teman sejati adalah mereka yang tulus, bukan yang datang hanya ketika butuh sesuatu atau ingin tahu kabar terbaru.

Kepada perempuan Indonesia lain yang mungkin menghadapi stigma atau kesalahpahaman di luar negeri, pesan saya sederhana: jangan terlalu dipikirkan. Fokuslah pada hal-hal yang membuatmu berkembang. Jalani hidup dengan niat baik, lakukan yang terbaik, dan tetap semangat.

Yang penting bukan apa yang orang katakan tentang kita, tapi apa yang kita lakukan setiap hari. Dunia mungkin tidak selalu adil, tapi kita bisa memilih bagaimana cara kita meresponsnya. Jangan biarkan penilaian orang lain merampas kebahagiaan kita.

Saya punya harapan besar, bukan hanya untuk diri saya, tetapi juga untuk masyarakat Indonesia secara umum. Saya ingin melihat hari di mana perempuan Indonesia di mancanegara tidak lagi dipandang dengan curiga atau sinis. Saya ingin orang-orang percaya bahwa setiap pernikahan campuran, setiap perjalanan ke luar negeri, memiliki cerita dan alasan yang berbeda.

Persepsi negatif tidak akan hilang dalam semalam, tapi saya yakin, melalui sikap positif, kerja keras, dan kontribusi nyata, kita bisa mengubah cara dunia memandang kita. Semua tergantung pada bagaimana kita memposisikan diri.

Kalau kita menunjukkan nilai, dedikasi, dan kontribusi yang baik, masyarakat, baik di Indonesia maupun di luar negeri akan menilai kita dengan lebih positif. Pada akhirnya, yang membedakan bukan paspor yang kita pegang, tapi bagaimana kita memperlakukan orang lain dan membawa nama Indonesia dalam setiap langkah.

Lebih dari satu dekade saya tinggal di Jerman. Dalam kurun waktu itu, saya belajar bahwa menjadi perempuan Indonesia di luar negeri bukan hanya tentang beradaptasi, tapi juga tentang mempertahankan jati diri di tengah arus budaya yang berbeda.

Saya tidak ingin dikenal hanya sebagai “istri warga Jerman”, tetapi sebagai Fina, perempuan Indonesia yang berani, tangguh, dan tetap bangga pada akarnya. Saya percaya, selama kita terus melakukan hal yang benar dan membawa niat baik, stigma akan perlahan memudar, berganti dengan penghormatan.

Karena di manapun saya tinggal, satu hal tidak akan pernah berubah: hati saya tetap Indonesia.

Penulis: Fina Regina Weber, tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun instagram misssaucyfoxy.

(CERITA SAHABAT) Membebaskan Diri dari Diam: Perjalanan Saya Keluar dari Silent Treatment

Halo, Sahabat Ruanita! Perkenalkan, nama saya Lily. Saya seorang perempuan Indonesia yang menikah dengan pria berkewarganegaraan India. Saat ini, saya telah tinggal di negeri Bollywood itu selama kurang lebih lima belas tahun. Jika saya ingat kembali, perjalanan saya meninggalkan tanah air bukan hanya perpindahan fisik, melainkan juga awal dari perjalanan batin yang penuh pelajaran, luka, dan pada akhirnya, kekuatan.

Ketika kami menikah, semua terasa indah. Kehidupan rumah tangga di awal berjalan seperti yang saya harapkan. Meskipun tentu ada perbedaan budaya, saya berpikir semua bisa diatasi dengan cinta dan pengertian. Saya tahu bahwa dalam setiap pernikaha, apalagi pernikahan campuran. Jatuh bangun adalah hal yang wajar. Saya percaya bahwa komitmen yang kuat bisa menjadi penopang di tengah perbedaan. Namun, ternyata tidak semua keyakinan saya berjalan sesuai harapan.

Saya masih ingat jelas saat pertama kali tiba di India. Gambaran saya tentang negara ini dibentuk dari film-film Bollywood yang saya tonton sejak kecil. Romantis, penuh warna, dan hangat. Kenyataannya, kehidupan di sini sangat berbeda. Tantangan dimulai sejak saya harus beradaptasi dengan keluarga suami. Pada awalnya, mereka memperlakukan saya dengan baik, setidaknya ketika suami ada. Namun, semua berubah ketika suami mulai sering bepergian, meninggalkan saya di rumah bersama ibu mertua dan kakak ipar. Saat itulah saya mulai merasakan dinginnya jarak dan dinginnya kata yang tak pernah terucap.

Perlakuan yang tadinya ramah berubah menjadi penuh sindiran halus, bahkan fitnah. Mereka mengadu domba, menuduh saya melakukan hal-hal yang tidak pernah saya lakukan, dan yang paling menyakitkan adalah mereka tidak pernah mau mengakui kesalahan, apalagi meminta maaf. Setiap kali saya mencoba menjelaskan kepada suami, saya justru disalahkan. Posisi saya begitu sulit. Di satu sisi ingin membela diri, di sisi lain tahu bahwa suara saya tidak akan pernah mengalahkan loyalitasnya pada keluarganya. Pada akhirnya, saya memilih diam. Bukan karena saya setuju, tetapi karena saya tidak tahu lagi bagaimana cara membuat suara saya didengar.

Follow us

Diam itu, pada mulanya, hanya terjadi sesekali. Namun, perlahan-lahan, ia menjadi pola hubungan. Suami mulai jarang berbicara, lebih sering mengabaikan, hingga akhirnya memutuskan pindah ke negara lain untuk bekerja. Saya dan anak-anak ditinggalkan di India bersama keluarga besarnya. Tidak ada komunikasi hangat, tidak ada perhatian, tidak ada kata-kata dukungan. Yang ada hanya jarak, baik secara fisik maupun emosional. Dan yang lebih menghancurkan, di tengah diam itu saya mengetahui bahwa ia menikahi perempuan lain di negara tempatnya bekerja dan bahkan memiliki anak.

Kabar itu membuat hati saya runtuh. Marah, sakit hati, dan kecewa. Semuanya bercampur jadi satu. Lebih dari itu, saya merasa dikhianati bukan hanya sebagai istri, tapi juga sebagai ibu dari anak-anak kami. Ia tidak memikirkan perasaan mereka, tidak memikirkan bagaimana luka ini akan memengaruhi hidup mereka. Meski begitu, saya tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan saya. Saya percaya akan ada waktu ketika Tuhan menegur dan menyadarkan dia.

Namun, keyakinan itu tidak serta-merta menghapus rasa sakit. Diam yang berkepanjangan ini seperti racun yang meresap perlahan. Saya bingung harus berbuat apa. Saya hidup di negara dengan bahasa dan budaya yang berbeda, jauh dari keluarga dan sahabat di Indonesia. Saya merasa sendirian, terkurung di ruang hening yang menyesakkan. Kondisi psikologis saya memburuk. Saya menjadi cemas, takut berbuat salah, merasa tidak pernah cukup baik. Berat badan saya turun drastis, dan saya mengalami stres hingga depresi. Saya merasa hancur, baik secara mental maupun fisik.

Di tengah semua itu, satu hal yang membuat saya tetap berdiri adalah anak-anak. Mereka tumbuh dengan sehat dan ceria, meski tidak memiliki ayah yang hadir secara emosional maupun fisik. Melihat mereka tersenyum memberi saya alasan untuk tetap bertahan. Mereka adalah pengingat bahwa saya tidak boleh kalah oleh keadaan.

Saya sempat mencoba mencari jalan keluar dengan bercerita kepada teman-teman atau kerabat jauh. Sayangnya, upaya itu justru sering memperburuk keadaan karena terlalu banyak pihak yang ikut campur tanpa benar-benar memahami situasi. Saya juga sempat membalas diam dengan diam, berharap suami menyadari dan memulai pembicaraan. Nyatanya, itu hanya membuat jarak semakin jauh.

Akhirnya, saya menyadari bahwa saya tidak bisa terus hidup dalam lingkaran ini. Saya mulai mencari bantuan dari profesional: konselor, psikolog, dan juga komunitas sosial. Saya bersyukur, di tengah keterasingan ini, Tuhan mempertemukan saya dengan orang-orang yang peduli. Ada teman-teman di gereja, rekan-rekan muslim Indonesia di sini, dan juga sahabat-sahabat di tempat kerja yang menjadi keluarga baru saya. Mereka tidak hanya memberi dukungan moral, tapi juga mengingatkan saya bahwa saya masih berharga.

Tinggal di India memberi saya banyak pelajaran berharga. Saya belajar berani berkata “tidak” terhadap perlakuan yang tidak adil, belajar untuk tidak selalu memprioritaskan perasaan orang lain sampai mengorbankan diri sendiri. Sebagai perempuan Indonesia, saya dulu dikenal ramah dan sulit menolak. Namun, saya mulai sadar bahwa kelembutan yang tidak dibarengi batas bisa dimanfaatkan orang lain. Saya juga memahami bahwa diam, dalam konteks hubungan yang tidak sehat, bukanlah solusi. Diam bisa menjadi hukuman yang merusak, membuat luka semakin dalam. Saya berusaha mengubah diri agar tidak lagi membiarkan masalah membeku tanpa penyelesaian.

Pengalaman ini membuat saya semakin yakin bahwa komunikasi adalah kunci. Konflik memang tak terhindarkan, tetapi cara kita menghadapinya menentukan arah hubungan. Saya berharap bisa lebih berani menyatakan perasaan dan pikiran saya, meski itu berarti menghadapi ketidaknyamanan. Karena saya tahu, diam yang memendam hanya akan menggerogoti hati pelan-pelan.

Sekarang, hidup saya sudah berbeda. Saya tidak lagi bersama suami yang dulu. Tuhan menghadirkan pasangan yang baru, yang mengerti saya dan menerima anak-anak saya. Dengan dia, saya belajar bahwa masalah bisa diselesaikan melalui percakapan, bukan dibiarkan membusuk dalam diam. Anak-anak saya tumbuh di lingkungan yang lebih tenang, lebih aman secara emosional. Meski luka lama tidak sepenuhnya hilang, saya tahu saya berada di jalur pemulihan.

Bagi Sahabat Ruanita yang mungkin sedang berada di situasi serupa, pesan saya sederhana namun penting: jangan biarkan diri terperangkap dalam hubungan yang membungkam. Silent treatment bukan tanda kedewasaan, melainkan tanda ketidakmampuan mengelola konflik. Jika diam dipakai untuk mengontrol atau menghukum, itu adalah bentuk kekerasan emosional. Beranilah memecah kebisuan itu. Mungkin tidak mudah, bahkan mungkin menakutkan, tapi percayalah, suara kita berharga.

Saya pernah gagal mempertahankan hubungan dengan ayah anak-anak saya karena kami tidak pernah benar-benar tinggal bersama secara utuh. Komunikasi kami rapuh, dan diam menjadi jurang yang memisahkan. Namun, kegagalan itu bukan akhir. Bersama pasangan saya sekarang, saya membuktikan bahwa komunikasi yang sehat bisa menyelamatkan hubungan. Tidak ada yang sempurna, tetapi ada perbedaan besar antara berjuang bersama dan dibiarkan berjuang sendirian.

Hari ini, saya berdiri bukan sebagai korban, tetapi sebagai penyintas. Saya ingin setiap perempuan yang membaca kisah ini tahu bahwa keluar dari lingkaran diam itu mungkin. Ada kehidupan yang lebih baik di luar sana, ada cinta yang lebih sehat, ada ruang di mana suara Anda tidak hanya didengar, tetapi juga dihargai.

Sahabat Ruanita, mari kita saling menguatkan. Diam mungkin terlihat seperti pilihan aman, tapi dalam banyak kasus, itu hanya memperpanjang penderitaan. Bicara, cari bantuan, dan lindungi diri Anda. Karena kita semua berhak untuk dicintai dengan cara yang sehat, tanpa kebisuan yang menyiksa.

Penulis: Lily, perempuan Indonesia di India dan dapat dikontak via akun e-mail: info@ruanita.com

(CERITA SAHABAT) Cultural Switching dan Strategi Bertahan Tinggal di Jerman

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan namaku Nurjannah. Aku lahir dan besar di sebuah kota kecil di Nganjuk, Jawa Timur. Setelah lulus SMA, aku merantau ke Jakarta untuk kuliah sekaligus bekerja. Seperti banyak perempuan muda Indonesia lainnya, aku punya mimpi sederhana: belajar, bekerja, dan membangun kehidupan yang lebih baik. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa suatu hari aku akan tinggal jauh di negeri orang, tepatnya di Jerman, selama bertahun-tahun.

Perjalananku ke Jerman dimulai sekitar tujuh tahun lalu. Proses pindah ke luar negeri tidaklah mudah. Ada banyak urusan administrasi, dokumen, dan adaptasi mental yang harus dipersiapkan. Saat itu aku masih bekerja, jadi untuk menghemat waktu aku menggunakan jasa agen untuk membantu mengurus semua persyaratan administratif. Meski begitu, tetap saja prosesnya panjang dan melelahkan. Namun, aku selalu percaya bahwa perjalanan besar memang dimulai dengan langkah-langkah kecil yang penuh perjuangan.

Aku masih ingat jelas, ketika pesawat mendarat di bandara Jerman untuk pertama kalinya, pikiranku penuh tanda tanya. “Apakah aku bisa betah? Bisakah aku menyesuaikan diri dengan orang-orang di sini? Bagaimana kalau aku kesepian?”

Hari-hari pertama memang tidak mudah. Aku harus menghadapi perbedaan budaya yang cukup mencolok. Salah satunya soal menjaga waktu. Di Indonesia, terutama di kampung halamanku, sering ada budaya fleksibilitas waktu. Janji bertemu pukul 10 pagi bisa mundur hingga setengah jam atau bahkan satu jam, dan itu dianggap wajar. Namun di Jerman, semuanya sangat berbeda.

Jika ingin bertemu dengan seseorang, harus ada janji temu yang jelas. Tidak bisa tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan. Ketepatan waktu adalah bentuk penghargaan yang besar terhadap orang lain. Awalnya aku merasa kikuk, bahkan bingung. Namun lama-kelamaan, aku mulai memahami bahwa disiplin waktu bukan sekadar aturan kaku, melainkan bagian dari cara hidup yang menghargai orang lain.

Sahabat Ruanita, mungkin ada yang bertanya-tanya, apa sih sebenarnya cultural switching itu?

Secara sederhana, cultural switching adalah kemampuan seseorang untuk berpindah, menyesuaikan, atau beralih antara satu budaya ke budaya lain, tergantung pada konteks situasi yang dihadapi. Dalam dunia psikologi dan studi lintas budaya, istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan bagaimana individu yang hidup di lingkungan multikultural harus beradaptasi dengan aturan, nilai, dan kebiasaan yang berbeda-beda.

Bagi banyak orang Indonesia yang merantau ke luar negeri, cultural switching adalah keterampilan hidup yang harus dikuasai. Mengapa? Karena budaya Indonesia dan budaya negara tujuan seringkali sangat berbeda. Indonesia dikenal dengan nilai kolektivitas, ramah, penuh toleransi, dan cenderung mengutamakan harmoni dalam hubungan sosial. Sementara itu, budaya Jerman lebih individualis, langsung (to the point), dan realistis.

Follow us

Sebagai contoh, di Indonesia, jika ingin mengkritik seseorang, kita biasanya melakukannya dengan halus agar tidak menyinggung perasaan. Sementara di Jerman, orang terbiasa memberikan kritik langsung tanpa basa-basi. Bagi mereka, kejujuran adalah bentuk penghormatan.

Pada awalnya, aku kaget. Rasanya kok “tajam sekali” ketika orang Jerman menyampaikan pendapat. Tapi setelah dipikir ulang, aku mulai menyadari bahwa itu justru memudahkan. Aku jadi tahu apa yang salah dan apa yang harus diperbaiki, tanpa perlu menebak-nebak maksud di balik ucapan mereka.

Salah satu hal yang paling menantang bagiku adalah bagaimana menerapkan nilai-nilai budaya Indonesia dalam kehidupan sehari-hari di Jerman.

Aku seorang ibu, dan anakku lahir serta tumbuh di sini. Aku ingin anakku mengenal budaya Jerman karena itu adalah lingkungan tempat dia tumbuh besar. Namun di sisi lain, aku juga ingin ia tetap membawa nilai-nilai baik dari Indonesia.

Contoh kecilnya bisa terlihat dari kebiasaan di toilet. Di rumah, aku membiasakan anakku membersihkan diri dengan air, sesuatu yang sangat umum di Indonesia tetapi tidak lazim di Jerman. Ketika di luar rumah, ia bisa beradaptasi dengan kebiasaan setempat, tapi aku selalu mengajarkan bahwa di rumah kita tetap menjaga tradisi dari Indonesia.

Inilah bentuk nyata cultural switching. Anak-anakku belajar bagaimana menyesuaikan diri dengan budaya yang berbeda tanpa kehilangan identitas aslinya.

Yang paling aku syukuri dari pengalaman hidup di Jerman adalah aku jadi lebih percaya diri untuk menjadi diriku sendiri. Di sini, aku merasakan kebebasan untuk mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi. Orang-orang cenderung tidak peduli dengan pilihan pribadi kita selama tidak merugikan orang lain.

Hal ini berbeda dengan sebagian budaya di Indonesia, di mana terkadang masih ada tekanan sosial atau pandangan masyarakat yang mengikat. Misalnya, pilihan gaya berpakaian, keputusan menikah atau tidak menikah, atau pilihan karier perempuan sering kali jadi bahan perbincangan. Di Jerman, aku belajar bahwa setiap orang berhak menentukan jalannya sendiri.

Namun, bukan berarti aku harus melepaskan semua nilai dari Indonesia. Justru aku berusaha membawa hal-hal baik dari tanah air, seperti: keramahan, sopan santun, dan kelembutan dalam berbicara. Ini adalah ciri khas orang Indonesia yang membuatku merasa bangga.

Tidak bisa dipungkiri, hidup di luar negeri penuh tantangan. Ada kalanya aku menghadapi situasi sulit: kesepian, rindu keluarga, atau kebingungan menghadapi masalah sehari-hari.

Di saat-saat seperti itu, aku lebih sering mengadopsi gaya Jerman yang realistis dan langsung pada inti masalah. Kalau ada masalah, aku berusaha mencari solusinya secepat mungkin, bukan hanya mengeluh. Budaya Jerman mengajarkanku untuk lebih rasional, lebih lugas, dan lebih fokus pada solusi.

Ada banyak keuntungan tinggal di Jerman. Salah satunya, aku bisa bepergian ke berbagai negara Eropa tanpa perlu visa khusus. Bagi seorang perempuan yang suka menjelajah, ini adalah kesempatan yang luar biasa.

Namun tentu ada juga tantangan. Bahasa menjadi salah satu yang paling besar. Meski aku sudah belajar bahasa Jerman, tetap saja butuh waktu lama untuk benar-benar fasih. Bahasa bukan hanya soal kosakata, tapi juga soal cara berpikir. Budaya Jerman yang to the point membuat cara mereka berkomunikasi berbeda sekali dengan orang Indonesia.

Karena itu, aku selalu menyarankan kepada perempuan Indonesia lain yang ingin pindah ke Jerman: siapkan bahasa dan mental yang kuat. Jangan takut dengan kritik, karena di sini orang tidak ragu untuk menyampaikan kritik secara langsung. Anggaplah itu sebagai masukan yang membangun.

Dari perjalanan hidupku, ada beberapa hal yang ingin kubagikan kepada Sahabat Ruanita atau perempuan Indonesia lainnya yang punya mimpi tinggal di luar negeri:

1. Tetap jadi diri sendiri. Jangan merasa harus mengubah segalanya hanya untuk diterima.

2. Bawa nilai baik dari Indonesia. Ramah kepada orang lain, lembut dalam berbicara, dan sopan santun adalah kekuatan kita.

3. Belajar bahasa sebaik mungkin. Bahasa adalah kunci untuk membuka pintu interaksi dan peluang baru.

4. Siapkan mental yang kuat. Tinggal jauh dari keluarga tidak selalu mudah, jadi penting untuk punya ketahanan mental.

5. Terbuka terhadap perbedaan. Ingat bahwa cultural switching bukan berarti kehilangan identitas, melainkan kemampuan untuk bergerak luwes di antara dua budaya.

Pada akhirnya, bagiku cultural switching bukanlah soal memilih budaya mana yang lebih baik, melainkan soal membangun jembatan di antara dua dunia.

Aku bersyukur bisa belajar disiplin, kejujuran, dan ketegasan dari budaya Jerman. Di saat yang sama, aku tetap membawa kehangatan, keramahan, dan rasa kebersamaan dari Indonesia. Kedua hal ini berpadu dalam keseharian, membentuk versi terbaik dari diriku yang baru.

Setiap kali aku pulang ke Indonesia, aku membawa cerita tentang kehidupan di Jerman. Sebaliknya, setiap hari di Jerman aku juga membawa sepotong Indonesia dalam hatiku. Inilah yang membuat perjalananku sebagai perempuan Indonesia di negeri orang menjadi penuh warna.

Sahabat Ruanita, perjalanan hidupku mungkin hanya satu dari sekian banyak kisah perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri. Namun aku percaya, setiap cerita punya makna. Bagiku, cultural switching bukan sekadar strategi bertahan hidup, melainkan sebuah proses belajar yang membuatku lebih dewasa, lebih kuat, dan lebih menghargai perbedaan.

Semoga cerita ini bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang tengah bersiap untuk merantau, atau sekadar ingin memahami bagaimana rasanya hidup di antara dua budaya.

Penulis: Nur Jannah, tinggal di Jerman yang dapat dikontak via akun instagram nurjanah_magnus

(CERITA SAHABAT) Ciptakan Ruang Digital Sehat dengan Digital Minimalism

Halo, sahabat Ruanita! Terima kasih atas kesempatannya. Saya sangat senang memiliki kesempatan untuk berbagi cerita dengan sahabat Ruanita disini. Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman saya menjalani praktik digital minimalism serta kaitannya dengan kesehatan mental. Meskipun sebenarnya menulis kedua topik ini cukup menantang bagi saya karena saya bukan seorang expert dan bukan seorang digital minimalst sejati seutuhnya. 

Dalam cerita ini saya ingin berbagi sesuatu dengan jujur dan apa adanya. Tentu, tulisan ini tidaklah sempurna, namun saya berharap, siapapun yang membaca tulisan ini dapat mengambil sesuatu yang mungkin berguna atau bermanfaat dari praktik digital minimalism sederhana yang telah saya jalani selama beberapa tahun terakhir ini. 

Perkenalkan, saya Ihma, sarjana Psikologi lulusan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Aceh. Sejak tahun 2023, saya bekerja sebagai Community Organizer di Yayasan PASKA Aceh, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat lokal di Kabupaten Pidie, Aceh. Saya bertanggung jawab untuk mendampingi Rumah Belajar yaitu komunitas penyintas kekerasan di masa konflik Aceh dari beberapa desa pedalaman di Kabupaten Pidie Jaya. Melalui pekerjaan ini, saya terlibat dalam kerja-kerja pemberdayaan, memberikan dukungan psikososial, serta pendidikan kritis bagi masyarakat di akar rumput. Saya juga terlibat dalam kerja-kerja advokasi kepada pemerintah untuk mendorong pemenuhan hak-hak korban konflik yang selama ini terpinggirkan.

Tahun 2024, saya mendapat kesempatan mengikuti program Learning Exchange ke Jerman yang disponsori oleh Asia Justice and Rights dan Watch Indonesia. Di sana, saya belajar langsung tentang isu-isu Hak Asasi Manusia, memorialisasi, dan budaya mengingat di masyarakat Jerman. Sebuah pengalaman yang memperkaya perspektif saya sebagai aktivis muda dari Aceh. Pada Juli 2025, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari PASKA Aceh karena alasan personal. Meski begitu, semangat saya untuk terus terlibat dalam advokasi dan pemberdayaan masyarakat tidak akan berhenti. Kini, saya tengah menata ulang arah hidup, memperdalam kemampuan bahasa Inggris, dan menjalani hari-hari dengan belajar secara mandiri melalui platform belajar daring.

Kalau ditanya apa yang pertama kali membuat saya tertarik dengan dunia psikologi. Sejujurnya, dulu memilih Psikologi sebagai jurusan kuliah saya bukanlah keputusan yang direncanakan matang. Bisa dibilang, itu pilihan yang cukup spontan. Saat pertama kali mendaftar, saya belum tahu banyak tentang Psikologi. Hal yang saya pahami saat itu sangat sederhana, ilmu psikologi adalah ilmu tentang jiwa manusia, dan entah kenapa saya langsung mengaitkannya dengan “orang gila.” 

Tapi kalau saya melihat ke belakang, khususnya saat masa SMA, ternyata ada satu pengalaman yang secara tidak sadar menjadi awal ketertarikan saya terhadap dunia psikologi. Waktu itu, saya sering membantu abang saya yang kuliah di jurusan Keperawatan mengerjakan tugas-tugas tentang topik halusinasi, delusi dan waham pada pasien dengan gangguan skizofrenia. Tanpa saya sadari, ternyata saya tertarik dengan bagaimana pikiran manusia bekerja, dan bagaimana kita bisa memahami mereka yang dianggap “berbeda.”

Sekarang saya merasa sangat bersyukur pernah membuat keputusan spontan itu. Karena lewat Psikologi, saya belajar banyak hal, terutama tentang diri saya sendiri.
Dulu, saya merasa cukup pendiam, sulit bergaul, dan kurang percaya diri. Tapi dengan memahami Psikologi, saya jadi lebih mengenal diri sendiri, lebih menerima, dan lebih menyayangi diri saya sebagai manusia yang utuh, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ini berdampak besar pada rasa percaya diri dan cara saya menjalani hidup dan bekerja. Psikologi juga mengubah cara saya melihat dunia yang penuh keberagaman. Saya jadi lebih menghargai bahwa setiap individu itu unik, punya latar belakang, budaya, keyakinan, dan pengalaman yang berbeda-beda. Nilai-nilai inilah yang membantu saya ketika bekerja di masyarakat, membangun empati, menjaga toleransi, tetap rendah hati dalam berinteraksi dengan siapa pun dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.

Bicara tentang digital minimalism, saya akan mulai bercerita tentang bagaimana keseharian saya sebelumnya dalam menggunakan teknologi digital. Sebagai bagian dari generasi Z yang memang tumbuh bersama teknologi saya cukup dekat dengan teknologi digital. Bisa dibilang, saya juga sangat bergantung pada media digital. Teknologi sangat membantu saya dalam belajar, berinteraksi, dan mengembangkan keterampilan baru. Tapi di sisi lain, saya juga mengalami dampak negatifnya. Saya termasuk orang yang cenderung sulit lepas dari handphone. Dulu, saya bisa menghabiskan rata-rata 5–6 jam sehari hanya untuk scroll Instagram. Kebiasaan ini mulai terasa mengganggu, terutama saat saya sedang ingin fokus belajar atau bekerja. Bahkan ketika sedang bersama teman-teman, saya sering kali tanpa sadar terus mengecek ponsel dan jadi tidak benar-benar hadir dalam interaksi sosial. Saat itu, saya mulai sadar bahwa meskipun teknologi bisa memberi manfaat besar, tapi kalau tidak digunakan dengan bijak, justru bisa menyabotase waktu, perhatian, dan kualitas hubungan sosial saya sendiri.

Sebenarnya, pertama kali saya berkenalan dengan konsep minimalism secara umum dimulai sejak saya mengikuti akun Instagram lyfewithless di tahun 2020. Namun perkenalan dengan praktik digital minimalsm dimulai pada tahun 2021, saat saya berkesempatan bertemu dengan Asfinawati yang saat itu menjabat sebagai Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dalam sebuah kegiatan yang diselenggarakan di KontraS Aceh. 

Pertemuan pertama dengan Mbak Asfin menjadi titik awal yang sangat berkesan. Saya cukup kaget sekaligus kagum ketika tahu bahwa seorang Asfinawati yang sering saya lihat di banyak media, dikenal lantang menyuarakan isu keadilan, dan memiliki pengetahuan yang luas, ternyata tidak memiliki akun media sosial pribadi seperti Instagram, TikTok, YouTube channel dan sebagainya. Bagi saya saat itu, hal ini cukup menggugah. Di tengah era digital yang serba terhubung dan penuh distraksi, pilihan beliau untuk tidak hadir di media sosial justru terasa sangat kuat dan berani. Dari sanalah saya mulai tertarik mencari tahu lebih jauh tentang gaya hidup minimalis dalam hal penggunaan teknologi dan media digital.

Follow us

Namun jika di ingat kembali, saya bisa bilang bahwa keputusan saya untuk mulai mempraktikkan digital minimalism sangat berkaitan dengan kondisi kesehatan mental yang saya alami. Tepatnya di tahun 2022, saat saya berada di titik hidup yang cukup berat, mengalami krisis eksistensial pasca lulus kuliah dan harus menjalani terapi secara rutin dengan tenaga profesional. Di masa itu, saya mulai belajar kembali tentang diri sendiri, tentang makna hidup, dan nilai-nilai apa yang benar-benar penting bagi saya. Saya masih ingat sekali, setelah menjalani beberapa sesi konsultasi dengan psikiater, saya merasa energi saya jadi cepat sekali habis. Saya menjadi sangat sensitif terhadap emosi dan cerita orang-orang di sekitar saya. Ada satu momen yang membekas, saya pernah menangis tersedu-sedu hanya karena mendengar teman saya bercerita tentang kucing yang mati di jalan. Buat sebagian orang hal itu mungkin sepele, tapi bagi saya saat itu, dunia terasa sangat menyeramkan.

Di tengah kekacauan itu, saya mulai mempertanyakan banyak hal, termasuk kebiasaan saya menggunakan media sosial. Kenapa saya selalu merasa perlu membuka Instagram, Twitter (sekarang X), atau Facebook? Apakah saya benar-benar butuh terkoneksi dengan semua orang? Apakah saya hanya sedang berusaha membuktikan bahwa saya masih “ada”, masih berdaya? Yang paling berat adalah ketika saya tidak bisa menjawab pertanyaan “Kenapa saya harus punya media sosial?”

Pertanyaan-pertanyaan ini terus berputar di kepala saya, hampir setiap hari. Saya merasa dunia bergerak terlalu cepat dan saya tidak punya waktu untuk sekadar menikmati hari-hari saya. Saya lelah. Sampai akhirnya saya mulai mengevaluasi kebiasaan digital saya sendiri, dari tracking waktu penggunaan aplikasi hingga mencoba digital detox kecil-kecilan. Saya kaget ketika tahu bahwa saya bisa menghabiskan 5–6 jam sehari hanya untuk Instagram. 

Dari sana, saya mulai mengurangi waktu penggunaan media sosial, membatasi jadwal, berhenti mem-follow akun media sosial yang saya rasa tidak bermanfaat, menonaktifkan beberapa akun media sosial untuk sementara, bahkan menghapus beberapa aplikasi yang sebenarnya tidak benar-benar saya butuhkan. Dalam proses itu, saya mulai banyak membaca dan mencari tahu tentang digital detox, hingga akhirnya saya tahu bahwa apa yang sedang saya lakukan adalah bagian dari praktik digital minimalism. Dan ternyata, saya tidak sendiri. Ada banyak orang lain yang juga menjalani dan mendapatkan manfaat dari gaya hidup ini.

Saat pertama kali saya mulai membatasi penggunaan media sosial, ada beberapa reaksi dari lingkungan sekitar yang saya dapat. Reaksi dari keluarga cukup santai. Keluarga saya memang bukan tipe keluarga yang terlalu bergantung pada media sosial, jadi perubahan ini tidak menjadi masalah besar bagi mereka. Teman-teman saya juga merespons dengan wajar. Saya hanya perlu menjelaskan bahwa saya sedang mengurangi waktu dengan handphone, jadi mungkin saya akan sedikit lambat dalam membalas pesan atau merespons panggilan mereka. Syukurnya, mereka bisa memahami hal itu tanpa drama.

Yang cukup menantang justru datang dari lingkungan kerja. Reaksinya sangat beragam, ada yang menyindir, ada yang marah, bahkan ada yang sampai berhenti berbicara dengan saya karena saya menolak menerima panggilan telepon di luar jam kerja, atau enggan membahas pekerjaan saat sedang tidak sedang bekerja. 

Awalnya tentu hal itu tidak mudah bagi saya. Tapi seiring waktu, batasan yang saya tetapkan mulai menjadi hal yang biasa. Penolakan saya menjadi sesuatu yang bisa diterima, sama seperti saya juga belajar menerima bentuk batasan atau penolakan dari mereka. Beberapa rekan kerja saja akhirnya memahami bahwa saya tidak sedang mengabaikan mereka, saya hanya sedang belajar menjaga ruang pribadi saya dan memilih untuk memberikan respons di waktu yang saya rasa tepat.

Sebenarnya, praktik digital minimalism yang saya jalani bukanlah sesuatu yang instan atau kaku. Tapi lebih pada proses sadar untuk lebih bijak dalam menggunakan teknologi dengan menyesuaikan kebutuhan, kapasitas, dan kondisi saya sendiri.

Beberapa hal yang saya praktikkan antara lain, seperti :

  1. Membatasi waktu bermain media sosial. Setiap aplikasi media sosial saya atur dengan batas waktu tertentu. Tujuannya agar saya lebih sadar berapa lama waktu yang saya habiskan untuk berselancar, dan tidak terjebak terlalu lama di satu aplikasi.
  2. Mengatur waktu penggunaan handphone, terutama sebelum dan sesudah tidur. Saya berusaha berhenti menggunakan handphone minimal satu jam sebelum tidur. Ini membantu saya mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik dan tidak terdistraksi dengan notifikasi. Saat bangun pagi pun, saya tidak langsung membuka handphone atau mengaktifkan internet. Meskipun saya cukup fleksibel untuk rutinitas pagi, tapi untuk aturan sebelum tidur benar-benar saya jaga.
  3. Menetapkan batasan untuk urusan pekerjaan. Saya mencoba untuk tidak membahas hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan di malam hari, kecuali jika benar-benar mendesak. Ini penting buat saya agar ada ruang istirahat yang utuh, dan tidak membawa beban kerja ke waktu pribadi.
  4. Menghapus aplikasi yang tidak digunakan. Jika dalam waktu tertentu ada aplikasi yang tidak saya buka atau tidak benar-benar bermanfaat, saya akan menghapusnya. Ini memberi ruang lebih di handphone, sehingga saya dapat menggunakan ruang tersebut untuk hal lain yang bermanfaat.
  5. Merapikan file digital, termasuk foto dan dokumen. Saya juga rutin menghapus foto atau dokumen pribadi yang sudah tidak relevan. Untuk file pekerjaan yang mungkin masih dibutuhkan sewaktu-waktu, saya simpan dalam folder khusus agar lebih mudah ditemukan dan tidak bercampur dengan file pribadi.
  6. Lebih berhati-hati dengan penggunaan internet publik. Sekarang saya sudah tidak menggunakan WiFi gratis dari tempat umum seperti warung kopi, restoran, atau layanan umum lainnya. Praktik digital minimalism ternyata juga membuat saya lebih sadar tentang keamanan digital dan pentingnya menjaga privasi.
  7. Lebih selektif sebelum meng-install aplikasi atau menyimpan file. Sebelum mendownload sesuatu, saya akan bertanya dulu pada diri sendiri, apakah ini benar-benar saya butuhkan, atau hanya karena ikut-ikutan tren? Untuk menjawab pertanyaan ini mungkin saya butuh waktu beberapa hari. Tapi kalau akhirnya saya merasa tidak terlalu penting, ya saya memilih untuk tidak meng-install.

Tentu saja, saya tidak selalu berhasil menjalankan semua ini dengan konsisten. Tapi setiap kali mulai lengah, saya selalu berusaha untuk kembali mengingat niat awal saya untuk hidup lebih tenang, lebih sadar, dan lebih hadir, baik untuk diri saya sendiri maupun untuk orang lain. 

Saya tentu saja menetapkan batasan khusus terhadap penggunaan media sosial, ponsel, atau aplikasi tertentu dalam menjalani praktik digital minimalsm ini. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, hampir semua aplikasi media sosial termasuk WhatsApp memiliki batasan waktu khusus. Namun untuk aplikasi seperti Instagram dan TikTok, saya menerapkan batasan yang lebih ketat, karena saya tahu dari pengalaman pribadi bahwa aplikasi-aplikasi ini bisa sangat menyita atensi dan waktu saya. Saya juga menyadari bahwa terlalu lama terpapar konten yang terus-menerus berganti. Terutama yang sifatnya visual dan emosional dapat membuat saya jadi sangat sensitif, mudah terdistraksi, bahkan kadang merasa cemas tanpa alasan yang jelas. 

Selain itu, ada semacam tekanan tidak langsung juga untuk terus ter-update, membandingkan diri dengan orang lain, atau merasa harus “ikut” dengan hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting bagi saya. Dengan menetapkan batasan yang jelas, saya merasa lebih tenang. Saya bisa mengembalikan fokus pada hal-hal yang benar-benar saya pilih untuk diperhatikan. Dan saya juga belajar untuk tidak merasa bersalah jika melewatkan satu dua hal yang sedang ramai dibicarakan atau terjadi di media sosial.

Kunci utama dari memanfaatkan teknologi digital secara bijak terutama untuk mengelola kebutuhan profesional adalah awareness atau kesadaran. Menurut saya, ketika kita tahu dengan jelas apa tujuan kita menggunakan teknologi, apakah untuk riset, membaca, menyusun laporan, atau kebutuhan pekerjaan lainnya, maka kita akan lebih bertanggung jawab dalam menggunakannya. Saya percaya dengan memiliki tujuan yang jelas, kita bisa lebih produktif dan tidak mudah terdistraksi. Dengan melatih awarness terhadap media digital, saya belajar untuk bisa membedakan kapan teknologi menjadi alat bantu yang mempercepat pekerjaan, dan kapan ia justru mengambil alih fokus saya. Bagi saya, teknologi digital bukan sesuatu yang harus dihindari, hanya perlu dikelola dengan bijak supaya tetap bisa meningkatkan kualitas hidup kita, tanpa mengorbankan kesehatan mental, ruang pribadi, atau keseimbangan hidup.

Sebenarnya saya juga punya beberapa rutinitas harian yang sangat membantu saya menjaga batasan penggunaan teknologi digital. Salah satunya adalah olahraga di pagi hari. Setelah bangun tidur, saya biasanya melakukan olahraga seperti jalan dan lari, kemudian melanjutkan dengan bersih-bersih rumah dan mandi sebelum mulai menggunakan media digital. Kalau dipikir-pikir kebiasaan ini dari bangun tidur sampai selesai aktivitas tersebut, saya bisa tidak menyentuh gadget selama 2-3 jam. 

Saya bersyukur rutinitas ini membantu saya untuk memulai hari dengan kondisi yang lebih segar dan fokus. Selain itu, kebiasaan saya pada saat belajar juga membantu saya menjaga digital boundaries. Kalau lagi mau fokus, saya biasanya mengaktifkan mode jangan gangu  di smartphone. Mode ini membantu saya tetap fokus menggunakan teknologi untuk belajar, tanpa terganggu oleh notifikasi dari media sosial atau aplikasi lain. Menurut saya cara ini sangat membantu saya dalam memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan konsentrasi.

Jika membahas mengenai dampak penggunaan digital yang berlebihan terhadap kesehatan mental, menurut saya persoalan ini cukup kompleks. Isu ini telah banyak diteliti, baik di Indonesia maupun di berbagai negara lain, dan mencakup berbagai aspek mulai dari kesejahteraan psikologis, aspek kepribadian, sikap sosial, hingga kaitannya dengan gangguan mental yang lebih serius. 

Namun, kalau kita coba lihat dari sudut pandang yang lebih dekat, kita bisa mulai dengan menilai bagaimana kebiasaan digital seseorang memengaruhi cara pandangnya terhadap dirinya sendiri, serta terhadap dunia di sekitarnya. Salah satu laporan dari WHO berjudul Teens, Screens, and Mental Health menunjukkan bahwa remaja yang menggunakan media sosial secara bermasalah cenderung mengalami penurunan kesejahteraan psikologis, gangguan tidur, dan menurunnya performa akademik.

Penelitian lain oleh Widowati dan Syafiq (2022) juga menemukan dampak psikologis negatif yang timbul akibat penggunaan media sosial secara berlebihan. Salah satu penyebabnya adalah informasi yang datang terlalu cepat dan berlebihan (overstimulasi digital), yang bisa memicu fenomena emotional contagion atau penularan emosi.

Akibatnya, seseorang bisa mengalami peningkatan emosi negatif, konflik interpersonal, kecenderungan menunda pekerjaan, manajemen waktu yang buruk, hingga kesulitan dalam mengendalikan diri. Dengan kata lain, penggunaan media digital yang berlebihan berpotensi membentuk citra diri yang negatif, menurunkan produktivitas, serta mengganggu pola hidup sehat, seperti istirahat yang cukup dan rasa aman secara emosional.

Dari sisi yang lain, kita juga bisa melihat bagaimana pola konsumsi digital memengaruhi cara pandang seseorang terhadap dunia. Menurut laporan dari American Psychological Association (APA), terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial dapat meningkatkan kerentanan terhadap paparan konten yang bersifat berbahaya, seperti informasi palsu, ujaran kebencian, hingga konten yang mengandung rasisme atau diskriminasi. Ini terjadi karena mesin pencari dan algoritma media sosial tidak bebas dari bias, sehingga hal ini dapat memperkuat stereotipe yang sudah ada dalam masyarakat (Social Media Brings Benefits and Risks to Teens, APA, 2023). Dengan kata lain, karena adanya bias algoritma, terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial dapat memperparah kondisi sosial masyarakat, yaitu dengan memperkuat prasangka, dan bahkan ikut berkontribusi pada polarisasi (rasisme) di tengah masyarakat.

Kemudian jika bercerita tentang apa saja manfaat psikologis yang saya rasakan sejak menjalani digital minimalism. Sejujurnya banyak sekali manfaat psikologis yang saya rasa berarti dalam hidup saya. Pertama, saya jadi bisa lebih fokus pada hal-hal yang ada di sekitar saya. Saya memberikan perhatian dan energi secara penuh saat berinteraksi dengan orang lain secara nyata, tanpa harus terdistraksi oleh media sosial. Misalnya, saya bisa duduk tenang dan ngobrol dengan teman tanpa bermain handphone. Kecemasan saya yang dulu sering muncul karena takut tertinggal informasi atau merasa harus selalu update di media sosial, kini jauh berkurang. 

Saya belajar menerima bahwa setiap orang memiliki proses hidupnya masing-masing, dan berhenti membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Saya bisa melihat bahwa orang-orang biasanya cenderung hanya membagikan sesuatu yang menurut mereka baik, sisi-sisi menarik tentang hidup mereka di media sosial. Memahami hal ini, saya belajar untuk meningkatkan rasa keberhargaan diri saya dan melihat manusia dengan kacamata manusia. Bahwa sebagai manusia, kita tidak mungkin dapat selalu sempurna dalam semua hal, dan itu tidak apa-apa. Seperti kata-kata Laura A. King yang pernah saya baca di buku Psikologi “hidup yang tidak sempurna, tetaplah hidup yang berharga”. 

Selain itu, manfaat lain yang saya rasakan sejak menjalani praktik digital minimalsm adalah saya punya lebih banyak waktu untuk belajar hal-hal baru yang membuat saya bahagia, seperti memasak, belajar bahasa baru, dan berbagai aktivitas positif lainnya. Saya merasa lebih bahagia dari sebelumnya. Saya juga belajar melihat realitas secara lebih nyata dan dekat. 

Contohnya, saat mengunggah sebuah konten dan mendapatkan hanya 10 likes, saya berpikir bahwa ada 10 orang nyata yang menyukai konten saya, dan itu sudah lebih dari cukup. Ini mengubah cara saya memandang apresiasi dan ekspektasi sosial. Rasa lega juga datang dari terbebasnya saya dari beban harus memenuhi ekspektasi sosial atau berpura-pura menunjukkan keberdayaan diri di media sosial. Saya jadi punya ruang untuk lebih menerima diri saya apa adanya, dengan segala kekuatan dan kelemahan yang saya miliki.

Manfaat yang paling terasa adalah peningkatan kualitas tidur. Saya tidak lagi cemas sampai susah tidur atau terbangun di tengah malam hanya karena memikirkan konten di media sosial atau hal-hal viral lainnya. Saya belajar untuk menerima bahwa banyak hal di luar kendali saya, dan saya tidak harus mengendalikan semuanya. Saya bertanggung jawab pada hidup saya sendiri, dan saya tidak perlu bertanggung jawab atas bagaimana orang lain menilai saya. Lagi-lagi, saya adalah manusia dan hidup saya berharga.

Jika di tanya apakah saya menggunakan pendekatan psikologis tertentu untuk membantu saya dalam mengurangi ketergantungan digital. Iya, dan saya akan bilang bahwa pendekatan itu sangatlah sederhana dan dapat dilakukan siapa saja; yaitu latihan mindfulness (kesadaran penuh). Mindfulness membantu saya sadar kapan, bagaimana, dan kenapa saya menggunakan teknologi digital, sehingga saya dapat meminimalkan penggunaan media digital tanpa tujuan. Sebagai orang yang juga cenderung cemas, mindfulness membantu saya untuk tetap tenang dan tidak terbawa stres karena overstimulasi digital. 

Contoh latihan mindfullness sederhana yang saya lakukan adalah saya melatih diri untuk tahu kapan harus pakai media digital dan kapan harus berhenti. Kalau sedang tidak terlalu perlu buka handphone, saya memilih untuk mengabaikannya. Dari situ, saya belajar menghargai momen yang ada. Misalnya, saat ngopi bareng teman, saya belajar untuk fokus ngobrol tanpa gangguan hp. Selain itu, saya juga berlatih untuk punya waktu tanpa gadget, misalnya saat makan atau istirahat yaitu dengan mematikan notifikasi dan menjauhkan perangkat digital. Ini sangat membantu saya dalam menjaga keseimbangan dan kesehatan mental saya. Saya percaya dengan latihan ini, kita bisa menggunakan teknologi dengan lebih bijak.

Bicara tentang tantangan dalam menjalani parktik digital minimalsm, hal yang paling menantang bagi saya sebenarnya adalah ketika saya tidak selalu bisa dihubungi dalam situasi penting. Sehingga saya harus bersedia jika hilang dari daftar kontak darurat yang bisa dihubungi orang-orang terdekat saya, karena kebiasaan membatasi penggunaan handphone. Bahkan kadang, saya sengaja tidak membawa gadget saat bepergian, jadi sangat mungkin jika ada hal penting atau mendesak yang terjadi di sekitar saya, saya tidak akan langsung tahu. Saya bersyukur keluarga saya cukup memahami kebiasaan ini. Jadi, jika mereka benar-benar perlu menghubungi saya, biasanya mereka akan mencari tahu lewat orang yang mungkin sedang bersama saya saat itu. 

Meski begitu, saya tidak bisa memungkiri bahwa ada rasa sedih dan bersalah ketika saya terlambat mengetahui kabar penting, terutama jika itu menyangkut orang-orang terdekat saya. Namun saya sadar, ini adalah bagian dari konsekuensi yang harus saya hadapi dalam proses menjaga batasan digital. Saya terus belajar untuk mencari cara agar bisa tetap hadir untuk orang-orang terdekat, tanpa harus mengorbankan keseimbangan dan ketenangan diri yang sedang saya upayakan.

Meskipun telah menjalani praktik digital minimalsm selama beberapa tahun, saya tetap mengakui bahwa saya tidak selalu berhasil mempraktikkannya. Mengingat cara saya dalam menyikapi momen-momen “kambuh” ingin kembali menggunakan media digital secara berlebihan, sangatlah beragam. Contohnya saat saya merasa ingin menonton drama terbaru seharian, maka hal yang saya lakukan waktu itu adalah saya mengunduh aplikasi streaming, menonton sampai saya merasa cukup, lalu menghapus aplikasi tersebut kembali. Namun sebelum itu, saya biasanya akan membuat semacam “perjanjian” dengan diri sendiri. Bahwa saya hanya boleh melakukannya untuk hari ini saja dan harus berhenti sebelum jadwal tidur tiba. Momen seperti ini sebenarnya cukup jarang terjadi, mengingat dulu jadwal dan beban kerja saya lumayan padat.

Contoh lainnya adalah pada saat saya merasa ingin sekali tetap berada di media sosial melebihi batas waktu yang saya tetapkan. Maka cara saya menyikapinya adalah dengan memberi waktu tambahan sekitar 1–10 menit dari batas waktu yang sudah saya tetapkan, agar saya bisa melepas dan merasa cukup. Lalu dapat meninggalkan aplikasi itu dengan tenang, tanpa rasa terpaksa atau menyesal. 

Bagi saya, pelajaran paling berharga dari praktik digital minimalism yang saya jalani adalah bahwa memiliki batasan yang sehat (healthy boundaries) merupakan sebuah kekuatan. Di era yang serba terkoneksi dan cepat seperti sekarang, bisa mengatakan “cukup” pada paparan informasi atau interaksi digital adalah bentuk keberdayaan yang tidak semua orang sadari pentingnya. Saya belajar bahwa tidak semua hal perlu diketahui, tidak semua percakapan perlu diikuti, dan tidak semua notifikasi harus segera ditanggapi. Memilih untuk hadir secara sadar dan utuh dalam kehidupan nyata ternyata jauh lebih bermakna dibanding terus-menerus aktif di dunia digital tapi merasa kosong. Saya juga belajar menerima bahwa terkoneksi secara digital bukan satu-satunya cara untuk merasa terhubung dengan orang lain. Kadang, jeda dan jarak justru membuat hubungan terasa lebih tulus dan berkualitas. Yang tidak kalah penting, saya belajar bahwa menjaga diri, baik dari sisi mental, emosional, maupun waktu adalah bentuk tanggung jawab yang tidak egois. Justru dari situlah saya bisa menjadi pribadi yang lebih tenang, lebih fokus, dan lebih hadir dalam hidup saya sendiri

Untuk perempuan Indonesia di mana pun berada, terutama yang sedang merasa lelah, kewalahan, atau kehilangan arah karena terlalu banyak distraksi digital, saya ingin bilang bahwa tidak apa-apa untuk mengambil jarak. Kadang kita tidak bisa melihat sesuatu dengan jelas jika berada terlalu dekat dengan hal itu. Memberi jarak justru membantu kita untuk melihat sesuatu dengan lebih baik. Digital minimalism bukan tentang menjauh sepenuhnya dari teknologi, tapi tentang memberi ruang untuk diri sendiri untuk menilai kembali apa yang benar-benar penting bagi hidup kita. Bagi saya, ini adalah cara untuk menjaga energi, memulihkan fokus, dan memberi ruang bagi hal-hal yang benar-benar membuat kita tumbuh.

Kita semua tau bahwa saat ini kita hidup di zaman yang sangat cepat dan bising, di mana perhatian mudah sekali tercuri. Tapi kita tetap punya kuasa untuk menciptakan ruang tenang dalam hidup kita masing-masing. Punya batasan yang sehat bukan berarti kita tertutup, namun justru hal itu merupakan bentuk dari keberanian untuk menjaga diri dan tetap hadir dengan utuh. Baik untuk diri sendiri maupun untuk orang-orang yang kita cintai. 

Kalau kamu tertarik untuk belajar mempraktikkan digital minimalism, kamu bisa mulai dari langkah kecil yang sederhana. Kamu bisa mulai dengan menyadari kapan kamu butuh jeda, dan berikan jeda itu untuk dirimu sendiri, lakukan sesuatu yang bisa membuatmu merasa lebih baik. Entah itu melakukan hobi, belajar atau apapun itu. Kalau kamu sudah mulai mencoba mempraktikkannya dan merasa kesulitan, saya ingin memberi tahu kamu bahwa kamu tidak harus mempraktikkan digital minimalsm dengan sempurna. 

Go easy on yourself dan nikmati proses belajar memberi jarak itu. Kamu tau, saya sebenarnya juga tidak selalu melakukannya dengan sempurna dan itu tidak apa-apa.  Bagi saya, praktik digital minimalism bukan tentang kesempurnaan praktiknya, tapi soal memilih hadir dengan sadar, dengan tenang dan dengan penuh kasih dalam hidup yang kita jalani setiap hari.

Dalam tulisan ini, saya juga ingin menyebut tokoh inspirasi favorit saya lainnya, dalam proses belajar digital minimalsm, yaitu Marissa Anita, seorang jurnalis dan aktris yang juga terkenal menerapkan digital minimalism dalam hidupnya. Konten-konten Marissa tentang digital minimalism sangat menggugah dan membuka sudut pandang saya, terutama terkait penggunaan media digital. Kamu bisa menemukan konten-kontennya di Channel YouTube, website, dan platform lainnya. Selain itu, saya juga terinspirasi dari komunitas @lyfewithless di Instagram, sebuah komunitas hidup minimalis yang aktif mengkampanyekan gaya hidup minimalisme, termasuk praktik digital minimalism. Dari sana, saya mengenal beberapa orang yang sama-sama tertarik belajar dan menjalani gaya hidup minimalis seperti saya. 

Kalau bicara soal buku, sebenarnya saya belum banyak membaca buku best seller tentang digital minimalism seperti karya Cal Newport. Namun, salah satu buku yang sangat berkesan bagi saya adalah buku filsafat berjudul Memaknai Digitalitas karya Reza A.A Wattimena. Meski buku ini tidak terlalu terkenal, buku ini memberikan pemikiran-pemikiran kritis tentang bagaimana kita harus menghadapi digitalisasi, menempatkan diri di dalamnya, dan mencari keseimbangan antara dunia nyata dan dunia digital. Intinya, buku ini mengajak saya untuk terus mengembangkan kesadaran dalam menjalani hidup di era digital. Buku ini juga bisa diakses dengan mudah melalui aplikasi Ipusnas.

Bicara tentang hubungan antara perempuan, teknologi, dan kesehatan mental di masa kini. Saya melihat bahwa perempuan hari ini hidup dalam tekanan yang cukup kompleks. Di satu sisi, teknologi membuka banyak peluang untuk belajar, bekerja, berkarya, dan bersuara untuk perempuan. Tapi di sisi lain, arus informasi dan ekspektasi yang terus-menerus muncul lewat media sosial sering kali membuat perempuan merasa tidak cukup. 

Banyak perempuan sering kali merasa tidak cukup pintar, tidak cukup produktif, tidak cukup cantik, tidak cukup “berhasil”. Saya percaya teknologi bisa menjadi alat pemberdayaan bagi perempuan, namun jika tidak disikapi dengan sadar, teknologi juga bisa menjadi sumber tekanan. Terutama bagi perempuan yang terbiasa menempatkan kebutuhan orang lain di atas dirinya sendiri. Terkoneksi terus-menerus bisa membuatnya kehilangan energi dan ruang pribadi yang aman. 

Menurut saya, inilah alasan mengapa penting bagi perempuan untuk mulai membangun relasi yang lebih sehat dengan teknologi. Bukan dengan menolaknya, tapi dengan menggunakan teknologi secara sadar, memilih mana yang benar-benar penting, dan berani mengambil jeda saat dibutuhkan. Bagi saya, perempuan yang bisa menjaga batasannya di dunia digital adalah perempuan yang lebih mampu menjaga kesehatannya, baik fisik, emosional, maupun mental. Dan ini adalah bentuk keberdayaan yang tidak kalah penting dari pencapaian lainnya dalam hidup.

Harapan saya, semoga perempuan dapat semakin menyadari pentingnya menciptakan budaya digital yang sehat. Saya ingin perempuan punya keberanian untuk menetapkan batasan yang melindungi kesehatan mental, energi dan diri mereka secara utuh, tanpa merasa bersalah ketika melakukannya. Dengan demikian, kita bisa menjadikan teknologi tidak hanya sekedar alat bantu, tapi juga sumber kekuatan dan kesejahteraan. 

Saya percaya, ketika perempuan mampu mengelola hubungan mereka dengan dunia digital secara bijak, hal itu akan membawa perubahan positif tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi keluarga dan komunitas di sekitarnya. Terakhir, semoga semakin banyak perempuan yang merasa diberdayakan untuk menciptakan ruang digital yang sehat dan bermakna, bagi dirinya, bagi kita semua.

Penulis: Ihmatul Hidayah, tinggal di Aceh dan dapat dikontak via akun instagram: Ihmatul_hdyh.

(CERITA SAHABAT) Pengalaman Beradaptasi di Dubai, sebagai “Rumah” Multikultural

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan nama saya Ocha Femmerling. Saya seorang istri dan ibu dari tiga anak. Empat tahun lalu, hidup saya dan keluarga berubah ketika kami pindah ke Dubai, Uni Emirat Arab. Keputusan itu datang karena suami mendapat kesempatan kerja di sana, dan saya ikut bersama anak-anak.

Sejujurnya, Dubai sudah lama menjadi salah satu impian kami. Sebelum benar-benar menetap, saya sering mendengar cerita tentang kota ini, seperti: gedung pencakar langit yang megah, kehidupan multikultural, juga keamanan yang terkenal baik. Ketika kesempatan itu datang, saya merasa senang sekaligus bersyukur. Rasanya seperti pintu menuju pengalaman baru terbuka lebar bagi kami sekeluarga.

Tentu saja, pindah negara bukan hanya soal berpindah alamat. Ada proses panjang yang harus dijalani: meninggalkan kenyamanan di tanah air, belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, hingga menemukan ritme kehidupan yang sesuai.

Tahun kepindahan kami ke Dubai bertepatan dengan masa pandemi COVID-19. Bisa dibayangkan betapa penuh tantangan dan rasa cemasnya saat itu. Banyak pertanyaan yang muncul: bagaimana kondisi di negara tujuan, bagaimana sistem kesehatannya, dan apakah aman membawa anak-anak di situasi global yang tidak pasti?

Tapi begitu tiba di Dubai, rasa khawatir itu berangsur berkurang. Pemerintah di sana sigap mengatur penanganan pandemi. Sistem kesehatan berjalan rapi, protokol jelas, dan sebagai pendatang saya merasa terlindungi. Hal itu membuat proses adaptasi kami lebih ringan. Tidak ada rasa takut berlebihan, justru tumbuh keyakinan bahwa kami bisa membangun kehidupan baru di kota ini.

Kalau bicara adaptasi, hal paling terasa tentu soal cuaca. Kami tiba di Dubai tepat pada musim panas. Saya yang terbiasa dengan suhu di Indonesia sekitar 20–30an derajat Celsius bisa membuat kulit terbakar dan keringat bercucuran.

Rasanya keluar rumah sebentar saja bisa membuat keringat mengucur deras. Anak-anak juga butuh waktu untuk terbiasa. Untungnya, hampir semua fasilitas di Dubai didukung sistem pendingin ruangan yang sangat baik, mulai dari rumah, transportasi umum, hingga pusat perbelanjaan. Meski panas ekstrem di luar, ada keseimbangan yang membuat kami tetap bisa beraktivitas dengan nyaman.

Seiring waktu, tubuh pun belajar beradaptasi. Saya jadi tahu kapan waktu yang tepat untuk keluar rumah, bagaimana menyiapkan kebutuhan anak-anak, hingga cara menjaga kesehatan keluarga di tengah suhu ekstrem.

Banyak orang bertanya apakah kami mengalami culture shock saat tinggal di Dubai. Jawaban saya: tidak. Justru saya dan keluarga menikmati proses mengenal budaya baru.

Dubai itu unik. Meski bagian dari Uni Emirat Arab dengan budaya Arab yang kental, kota ini juga menjadi rumah bagi banyak ekspatriat dari berbagai negara. Hasilnya, terbentuklah lingkungan multikultural yang menarik.

Bahasa Inggris menjadi bahasa umum yang dipakai sehari-hari. Kami tidak merasa kesulitan berkomunikasi. Anak-anak di sekolah pun belajar berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai bangsa, bahkan mendapat pelajaran bahasa tambahan yang memperkaya wawasan mereka.

Dari segi budaya lokal, saya merasa aturan-aturan yang ada cukup mudah dipahami. Misalnya pemisahan ruang publik antara laki-laki dan perempuan di beberapa tempat, seperti rumah sakit, ruang tunggu, atau toilet umum. Semua itu justru memberi rasa aman, terutama bagi perempuan.

Bagi saya, Dubai adalah contoh bagaimana sebuah kota bisa merangkul keberagaman, sambil tetap menjaga identitas budayanya sendiri.

Keseharian saya di Dubai berputar di sekitar keluarga. Sebagai ibu, sebagian besar waktu saya tersita untuk mengurus anak-anak, mendampingi mereka sekolah, sekaligus memastikan kebutuhan rumah tangga berjalan lancar.

Namun saya juga belajar menyeimbangkan peran sebagai ibu rumah tangga dengan kebutuhan bersosialisasi. Sesekali saya keluar bersama teman-teman, baik dari komunitas Indonesia maupun kenalan dari negara lain. Aktivitas ini penting untuk menjaga kesehatan mental, apalagi ketika tinggal jauh dari tanah air.

Dari segi kualitas hidup, saya merasakan banyak hal positif. Dubai menawarkan standar pendidikan yang baik untuk anak-anak, akses gizi dan kesehatan yang memadai, serta lingkungan multikultural yang kaya pengalaman. Rasanya anak-anak saya mendapat kesempatan berharga untuk tumbuh di kota dengan dinamika budaya seperti ini.

Berbicara soal transportasi umum di Dubai menurut saya sudah sangat baik. Ada banyak pilihan seperti metro, bus, taksi. Taksi di Dubai menggunakan mobil-mobil mewah seperti Tesla, Lexus, Mercy, dll bahkan mobil patroli polisi pun menggunakan Lamborghini dan Ferrari. Saat ini pemerintah Dubai sedang uji coba taxi drone sebagai alat transportasi baru untuk masa depan. Hal ini dilakukan mengingat slogan “Habibi Come To Dubai”. Oh ya, di Dubai ada transportasi pakai taksi perahu (water taxi) juga loh.

Setelah dua tahun tinggal di Dubai, saya mulai aktif bergabung dengan berbagai komunitas. Ada DWP KJRI Dubai, pengajian, Indonesia Ladies Badminton (ILB), komunitas bowling, hingga arisan.

Bergabung dengan komunitas memberi saya dua hal penting. Pertama, kesempatan untuk networking, mengenal lebih banyak orang, dan saling mendukung sesama perantau. Kedua, komunitas menjadi cara untuk tetap terhubung dengan budaya Indonesia. Melalui kegiatan bersama, rasa rindu tanah air sedikit terobati.

Kegiatan ini juga memperlihatkan betapa eratnya solidaritas di antara perempuan Indonesia di luar negeri. Kami saling mendukung, saling mengingatkan, dan bersama-sama menjaga identitas sebagai orang Indonesia.

Meski sudah menetap lama di Dubai, saya tetap menjaga hubungan dengan keluarga dan teman di Indonesia. Teknologi memudahkan semua itu. Lewat videocall, voicecall, WhatsApp group, atau interaksi di media sosial, jarak ribuan kilometer terasa lebih dekat.

Bagi saya, koneksi ini penting bukan hanya untuk menjaga hubungan kekeluargaan, tetapi juga sebagai pengingat bahwa identitas saya tetap berakar di tanah air.

Salah satu hal yang paling saya rasakan di Dubai adalah perlindungan terhadap perempuan. Prinsip ladies first benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di sini ada banyak fasilitas khusus perempuan: taksi khusus, antrian khusus, bahkan ruang tunggu terpisah. Perempuan juga bisa menolak berada di lift sendirian bersama lawan jenis. Bahkan berjalan sendirian di tengah malam pun terasa aman. Jika ada gangguan, laporan ke polisi akan langsung ditangani dengan cepat.

Hal ini membuat saya sebagai perempuan Indonesia merasa nyaman. Tidak ada rasa takut, tidak ada keterbatasan yang menghalangi aktivitas. Lingkungan Dubai sangat ramah bagi pendatang, sehingga saya merasa diterima dengan baik.

Ada pepatah yang selalu saya pegang: “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Hidup di luar negeri berarti belajar menyesuaikan diri dengan aturan dan budaya setempat.

Misal penduduk Indonesia di Dubai dan Emirate Utara ada sekitar 80rb-an orang. Disini jika kami kangen dengan masakan Indonesia ada beberapa restoran Indo yang bisa menjadi pilihan seperti Dapoer Kita, Little Bali, Betawi Resto, Bandung Resto dll. 

Saya percaya, kita tetap harus membawa identitas sebagai orang Indonesia, tapi dengan cara yang selaras dengan budaya lokal. Jangan sampai kita menentang aturan negara yang kita tinggali. Sebaliknya, kita harus menunjukkan sikap baik, karena setiap tindakan kita akan dilihat sebagai cerminan bangsa.

Hal lain yang penting dipersiapkan sebelum tinggal di Dubai adalah ketahanan menghadapi cuaca ekstrim. Dari panas terik musim panas hingga dingin musim dingin, perbedaan suhu bisa sangat tajam. Selain itu, kita harus terbiasa mengikuti peraturan setempat, sekecil apapun itu.

Bagi keluarga kami, Dubai bukan hanya persinggahan sementara. Kami berencana tinggal di sini dalam jangka panjang. Selain karena pekerjaan suami, kami juga ingin anak-anak mendapat pendidikan terbaik untuk masa depan mereka.

Saya bisa menggambarkan Dubai dalam tiga kata: aman, nyaman, menyenangkan. Ketiga hal itu sudah cukup untuk membuat kami merasa betah dan ingin terus melanjutkan kehidupan di sini.

Bagi saya, menjadi perempuan Indonesia di Dubai adalah pengalaman berharga. Saya belajar banyak hal tentang adaptasi, menghargai perbedaan, dan menjaga identitas bangsa di tengah lingkungan multikultural.

Pesan saya untuk perempuan Indonesia di manapun berada: tetaplah menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya kita. Di mana pun kita tinggal, identitas itu akan selalu menjadi bagian dari kita.

Penulis: Ocha Femmerling, yang tinggal di Dubai UEA dan dapat dikontak via IG: @oca_ozi.

(CERITA SAHABAT) Aku, Pekerja Migran, dan Hak untuk Hidup yang Layak

Halo, sahabat Ruanita! Namaku Dewi Novita Sari Lubis, banyak yang memanggilku Dewi Lubis. Aku lahir di Batam dan aku merantau ke Singapura sebagai pekerja migran, sejak 2019. Sampai hari ini, aku telah bekerja dengan tiga pemberi kerja, dan kini sedang menjalani kontrak kedua di majikan ketiga. Di sela-sela bekerja, aku juga melanjutkan pendidikan jarak jauh di Universitas Terbuka, mengambil Ilmu Hukum. Ini seperti cita-cita masa kecil yang tidak pernah padam, sekaligus misi kemanusiaan yang ingin kujalani seumur hidup.

Bagiku, menjadi pekerja migran bukan hanya tentang bekerja dan mengirim uang ke rumah. Ini tentang bertahan, belajar, dan perlahan memahami bahwa sebagai perempuan, aku juga punya hak atas kehidupan yang layak, bermartabat, dan setara.

Pengalaman menjadi relawan dan pendamping sesama sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum aku menginjakkan kaki di Singapura. Saat masih di Malaysia, banyak cerita yang datang kepadaku, mulai dari tetangga, teman kerja, hingga orang asing yang tiba-tiba mengetuk pintu rumah hanya untuk bercerita dan meminta bantuan. Ada yang sekadar ingin didengarkan, sampai ada yang benar-benar terjebak dalam masalah besar.

Salah satu peristiwa paling membekas dalam hidupku adalah saat seorang teman kerja meninggal dunia di Malaysia. Rumah sakit membutuhkan data keluarga korban, sementara kami semua tidak tahu harus menghubungi siapa. Aku yang akhirnya berusaha mencari jejak keluarganya. Prosesnya rumit, melelahkan, dan penuh cerita yang sulit dijelaskan dengan logika. Pada akhirnya, orang tua korban datang ke rumahku. Ada kisah yang ambigu, nyaris seperti cerita horor. Namun, aku percaya bahwa mungkin ini jalan yang Tuhan tentukan agar aku belajar tentang empati, tanggung jawab, dan arti kemanusiaan.

Tak lama setelah itu, aku mendapat kabar duka dari seorang tetangga yang bekerja di Singapura. Kabar itu menjadi titik balik, mendorongku untuk berpindah negara dan memulai hidup baru di sini. Sejak saat itu, tanpa sadar, aku kembali berada di jalur yang sama: mendengarkan, menemani, dan membantu.

Hingga hari ini, sudah puluhan aduan yang kuterima. Tidak dengan aksi besar, tidak dengan suara lantang. Aku membantu lewat cara sederhana seperti: mengadvokasi, membimbing, dan memberi semangat lewat percakapan WhatsApp. Kadang hanya dengan kalimat pendek, tapi penuh makna: “Kamu tidak sendiri.”

Perempuan, Hak, dan Kenyataan di Lapangan

Ketertarikanku pada isu kesetaraan berangkat dari satu keyakinan sederhana: aku perempuan, dan aku berhak hidup layak. Setiap kehidupan patut dihargai dan diperjuangkan. Jika seseorang sudah rela berkorban demi orang lain, entah itu keluarga, anak, orang tua, maka mengapa ia tidak layak mendapatkan penghargaan dan kesempatan yang semestinya?

Sayangnya, kenyataan di lapangan sering kali tidak seindah teori. Banyak ucapan, janji, bahkan aturan tertulis yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Aku tidak ingin melihat penderitaan, apalagi pembatasan hak antara perempuan dan laki-laki, atau diskriminasi berdasarkan status sosial, kasta, atau label apa pun. Bagiku, semua orang setara.

Aku pernah melihat dan mendengar langsung cerita kekerasan, ketidakadilan, dan diskriminasi yang dialami teman-temanku. Hal-hal semacam ini bukan cerita langka. Salah satu yang paling mengejutkanku adalah kisah tentang perbedaan upah berdasarkan gender. Seorang pekerja migran Indonesia (PMI) perempuan menjaga seorang nenek dengan upah 850 dolar Singapura per bulan. Ketika ia pulang dan digantikan oleh pekerja laki-laki, upahnya langsung naik sekitar 250 dolar, dengan alasan “tenaganya lebih kuat untuk mengangkat nenek”.

Aku terkejut. Tapi aku juga sadar, dalam posisi kami sebagai pekerja migran, sering kali tidak banyak yang bisa dilakukan.

Bertahan, Bersyukur, dan Tetap Kritis

Aku bersyukur, di majikan tempatku bekerja saat ini, kondisiku relatif baik. Akses komunikasi terbuka, gaji transparan, makanan layak, dan tempat istirahat memadai. Namun, ada yang sangat berarti bagiku, yakni kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Tentu ada hal-hal kecil yang menurutku seharusnya tidak terjadi, tapi aku belajar menerima satu kenyataan: hidup tidak pernah sempurna.

Bagiku, prinsip give and take penting. Tidak semua keinginan bisa terwujud persis seperti harapan. Selama hak-hak dasar terpenuhi, seperti: gaji cukup, waktu istirahat, kesempatan berkembang, maka aku merasa sudah berada di posisi yang layak. Bisa sekolah dan tetap dekat dengan keluarga saja, menurutku sudah lebih dari cukup.

Namun, bukan berarti aku menutup mata terhadap kerentanan yang dialami banyak PMI lain.

Pendidikan, Skill, dan Daya Tawar

Sebagai pekerja migran, aku melihat salah satu akar utama kerentanan upah adalah minimnya pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan. Ini menciptakan perbedaan daya saing yang sangat besar, baik antar-PMI maupun dengan pekerja dari negara lain.

Di Singapura, misalnya, pekerja migran dari Filipina yang memiliki sertifikasi caregiver bisa mendapatkan upah 700 hingga 1.500 dolar Singapura. Sementara banyak PMI baru hanya menerima 550–580 dolar. Perbedaannya terlihat jelas dari kemampuan bahasa Inggris dan cara kerja. Ini bukan soal siapa lebih rajin, tapi soal akses terhadap peningkatan kapasitas.

Status sosial juga sangat memengaruhi. Bahkan di antara sesama orang Indonesia di Singapura, perbedaan itu terasa. Mereka yang sudah lama menetap biasanya punya pekerjaan dan upah lebih baik. Dalam relasi dengan majikan, ada yang sangat manusiawi, tapi ada juga yang terang-terangan berkata, “Kamu helper, aku majikan. Kita tidak sama.”

Kalimat seperti itu mungkin terdengar sederhana, tapi dampaknya seperti menciptakan jarak, rasa kecil, dan ketakutan untuk bersuara.

Intimidasi yang Masih Nyata

Kesenjangan antara pekerja formal dan non-formal masih sangat terasa. Meski sering digaungkan bahwa “semua sama”, di lapangan intimidasi masih terjadi. Ada saudari yang gajinya dipotong karena masakannya dianggap tidak enak, atau karena dituduh tidak rajin. Padahal pemotongan gaji semacam itu tidak dibenarkan oleh aturan Ministry of Manpower Singapura.

Ada juga kasus ketika barang majikan rusak tanpa sebab jelas, tapi pekerja yang disalahkan. Ketidaktahuan hak membuat banyak PMI memilih diam, takut kehilangan pekerjaan.

Hukum, Negara, dan Celah yang Berbahaya

Menurut pengamatanku, Indonesia sebenarnya sudah berupaya memperjuangkan kesetaraan dan perlindungan PMI melalui undang-undang dan kebijakan. KBRI juga banyak membantu menyelesaikan kasus. Singapura sendiri punya regulasi yang kuat. Namun, selalu ada celah yang dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab, termasuk sindikat perdagangan orang atau sponsor.

Salah satu polemik besar adalah direct hire. Di Singapura, ini legal. Di Indonesia, sering dianggap bermasalah karena data PMI tidak tercatat dengan baik. Akibatnya, muncul masalah seperti potongan gaji tidak transparan, atau PMI yang tidak terlindungi secara administratif.

Aku percaya, solusi hanya bisa dicapai lewat kerja sama bilateral yang jelas, pendataan terintegrasi, dan sosialisasi masif kepada PMI dan majikan.

Dalam keterbatasanku, aku memilih satu hal: memberi keberanian. Ketika teman mengeluh gaji terlambat, aku tidak menyuruh mereka marah. Aku ajak bicara dengan sopan. Misalnya, mengirim pesan sederhana: “Mam, besok tanggal 20 ya gajiannya. Terima kasih.”

Tiga bulan terakhir, aku mendampingi dua saudari yang awalnya sangat takut. Sekarang mereka lebih berani menyampaikan hak setelah menunaikan kewajiban. Hal kecil, tapi berdampak besar.

Aku juga melihat bagaimana posisi tawar perempuan sering dilemahkan oleh relasi personal. Banyak PMI perempuan tertipu bujuk rayu pasangan, yang berujung pemecatan, penipuan, bahkan kekerasan. Ada yang membawa pasangan ke rumah majikan, ada yang diintimidasi pacar. Dari cerita-cerita ini, aku belajar satu hal: fokus pada tujuan. Bekerja, mencari nafkah, dan pulang dengan selamat.

Keterbatasan bahasa, skill, dan kepekaan terhadap lingkungan membuat perempuan semakin rentan. Karena itu, strategi terpenting adalah terus belajar.

Pesan untuk Perempuan Pekerja Migran

Aku percaya, perempuan harus terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Jangan takut bermimpi lebih tinggi. Kita tidak harus selamanya berada di posisi yang sama. Jika skill meningkat, beranilah melangkah ke posisi yang lebih baik. Jangan terjebak zona nyaman.

Kesetaraan bukan soal menuntut kuasa. Ini tentang hak untuk bahagia, aman, dan dihargai.

Untuk seluruh Perempuan Indonesia Pekerja Migran di Singapura dan di mana pun berada:
kalian hebat. Jalan kita tidak selalu lurus dan mulus. Tapi setiap tetes keringat adalah bukti cinta dan pengorbanan. Kalian pantas bahagia. Kejar mimpi kalian. Jangan takut belajar, jangan takut berubah. Masa lalu adalah pelajaran, dan masa depan masih bisa diperjuangkan.

Kalian bukan hanya pahlawan devisa. Kalian adalah perempuan tangguh yang layak hidup setara dan bermartabat.

Penulis: Dewi Lubis, Pekerja Migran di Singapura, Penulis, Mahasiswa Hukum di UT, Founder Komunitas FPMI-SG  (Forum Penulis Migran Indonesia Singapura), Tim Relawan Advokasi SBMI DPLN Singapura, serta Relawan Ruanita di Singapura. Dewi dapat dikontak via akun instagram dewi_lubis1.

(CERITA SAHABAT) Dari Jerman ke Vietnam: Menjadi New Mom Abroad

Halo, sahabat Ruanita! Aku, Cindy, perempuan Indonesia yang kini menjalani babak baru kehidupan sebagai ibu di Vietnam. Kisahku bermula lebih dari tiga belas tahun lalu, ketika tahun 2012 aku berangkat ke Jerman untuk menempuh kuliah S1 jurusan Arsitektur di Hannover. Aku melanjutkan S2 di Cologne dan aku bertemu dengan suamiku, seorang pria Jerman. Setelah lulus, aku bekerja selama tiga tahun di sebuah perusahaan pemerintahan di Jerman.

Tahun 2023, hidupku memasuki fase baru. Aku menikah dengan suamiku dan tak lama kemudian, kami mendapat kabar bahwa pekerjaannya membawa kami ke Vietnam, tepatnya ke kota pantai kecil bernama Quy Nhon.

Perusahaan Jerman tempatnya bekerja menugaskannya mengurus pabrik di sana. Aku mendukung penuh keputusan ini, karena aku pun menyukai pengalaman mengenal budaya dan negara baru. Jadilah kami memulai petualangan baru di Vietnam.

Hidup di Vietnam sangat berbeda dengan di Jerman. Di Jerman, aku terbiasa menikmati udara segar, keindahan empat musim, dan ketenangan kota-kota kecil. Aku dan suamiku sering mendadak pergi hiking atau menjelajah kota tetangga.

Di Quy Nhon, meski ada pantai yang indah, aku merindukan suasana hijau, dingin, dan adem-ayem ala Jerman. Vietnam terasa lebih riuh, semrawut, dan sulit dijangkau secara bahasa.

Komunikasi menjadi tantangan karena kami tidak bisa berbahasa Vietnam, membuat interaksi sosial terasa terbatas. Natal dan Paskah yang biasa dirayakan dengan hangat di Jerman, di sini terasa tidak ada artinya.

Kehamilan pertamaku menjadi tantangan besar, terlebih di negeri orang. Tiga bulan pertama adalah masa yang berat. Aku mengalami mual hebat, muntah-muntah, bahkan bau makanan atau air pun membuatku pusing. Aku berhenti dari pekerjaan online-ku karena kesehatan tidak memungkinkan. Yang paling terasa adalah rasa sepi, karena tidak ada keluarga atau teman dekat di sini. Mungkin juga aku terkendala oleh bahasa di sini.

Untungnya, ketika usia kandungan memasuki empat bulan, aku sempat pulang ke Indonesia selama sebulan. Itu menjadi momen yang sangat menyenangkan sekaligus mengisi energi untukku. Aku juga merasa beruntung memiliki seorang teman Vietnam yang selalu menemani setiap kali kontrol kehamilan. Ia menjadi penerjemah, karena dokter di kota kecil seperti Quy Nhon jarang bisa berbahasa Inggris. Meski fasilitas medis di sini cukup modern, kebersihannya tidak sebaik di Jerman. Namun, biaya layanan medis di Vietnam sangat terjangkau, bahkan tanpa asuransi pun tidak terasa memberatkan.

Di Quy Nhon, tidak ada satu pun orang Indonesia. Teman-teman kami sebagian besar adalah ekspatriat atau orang Vietnam yang bisa berbahasa Inggris. Dukungan mereka terasa berarti, terutama saat mendampingi kami menghadapi proses kehamilan dan persalinan. Mereka membantu menjadi penerjemah, memberikan informasi rumah sakit, bahkan sekadar berbagi pengalaman.

Pengalaman melahirkan di Vietnam juga sangat berbeda. Rumah sakit tidak menyediakan perlengkapan dasar seperti popok, selimut, sabun, hingga alat mandi bayi. Semua harus dibawa sendiri. Layanan seperti membersihkan ibu pascaoperasi, memandikan bayi, atau mengganti sprei harus dipesan secara terpisah. Bahkan makanan untuk pasien pun tidak disediakan, karena keluarga biasanya yang merawat pasien. Di sisi lain, biaya rumah sakit jadi jauh lebih murah, karena yang dibayar hanya paket operasi, dokter, dan kamar rawat inap.

Selama tinggal di Jerman, aku terbiasa dengan budaya mandiri. Semua urusan rumah dan anak dikerjakan sendiri tanpa bantuan nanny. Yang istimewa, pemerintah memberikan fasilitas Vater/Mutterzeit, atau yang disebut sebagai cuti melahirkan dan mengasuh anak dengan gaji tetap, sehingga orang tua punya waktu berkualitas bersama bayi. Fasilitas umum pun mendukung, seperti taman hijau, playground, serta kursus ibu dan anak.

Di Indonesia atau Vietnam, budaya kekeluargaan lebih kental. Anak biasanya diasuh bersama kakek-nenek, atau dititipkan di daycare dengan biaya relatif terjangkau. Namun, fasilitas hijau untuk anak bermain tidak banyak. Di Indonesia, anak lebih sering diajak ke mal atau dikenalkan dengan gadget sejak dini.

Di Vietnam, aku sempat kaget dengan kebiasaan mereka bicara dengan nada keras, bahkan kepada bayi. Kadang bayi diberikan mainan yang sangat berisik sebagai hiburan. Selain itu, anak-anak di sini umumnya masuk daycare sejak usia satu tahun karena kedua orang tua bekerja. Daycare bahkan buka hingga Sabtu, sehingga anak menghabiskan sedikit waktu dengan orang tuanya.

Follow us

Saat aku memesan layanan memandikan bayi, ada tradisi unik. Bayi ditempelkan daun-daunan yang dibakar, katanya untuk kesehatan dan kehangatan tubuh. Aku dan suami memilih pendekatan campuran. Tidak sepenuhnya gaya Eropa, Indonesia, atau Vietnam, tapi yang penting kami punya waktu berkualitas dengan anak.

Suamiku, meskipun sibuk bekerja, ikut terlibat penuh mengurus bayi. Kami berbagi tugas secara setara. Aku ingin anak kami tumbuh dekat dengan alam dan tidak terlalu sibuk dengan gadget.

Masa setelah melahirkan adalah fase paling berat. Setelah keluargaku yang sempat datang dua minggu kembali ke Indonesia, aku merasakan kesepian yang luar biasa. Suamiku sering harus mengambil cuti untuk membantu mengurus bayi yang selalu menangis. Tidur hanya tiga jam per malam, tangan pegal karena harus menggendong terus, payudara bengkak karena aktivitas menyusui semuanya terasa melelahkan.

Aku juga sempat merasa kehilangan diriku sendiri. Hidup seolah hanya berputar pada bayi. Mau mandi atau makan pun harus cepat-cepat sebelum bayi menangis, apalagi kami sendirian di Vietnam tanpa keluarga dan terkendala bahasa. Aku sangat khawatir, jika kami berdua sakit, siapa yang akan menolong untuk mengurus bayi kami.

Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku melakukan yang benar? Apakah aku cukup baik sebagai ibu?

Suamiku menjadi penopang utama, baik fisik maupun mental. Ia rela bangun tengah malam untuk mengganti popok agar aku bisa sedikit beristirahat setelah menyusui. Saat akhir pekan, ia sepenuhnya mengurus bayi supaya aku bisa punya me-time. Aku bersyukur karena meski waktu berdua nyaris tidak ada, dia tetap sabar dan memahami perubahan besar yang kami alami.

Kehamilan dan kelahiran membuatku banyak merenung. Kenapa aku ingin punya anak? Jawabannya sederhana, yakni karena aku ingin mencintai manusia kecil ini tanpa pamrih. Seorang bayi tidak pernah meminta dilahirkan, maka sudah seharusnya aku memberikan seratus persen cintaku tanpa mengharapkan balasan.

Sekarang aku menjadi sangat menghargai peran seorang ibu, apalagi mereka yang punya banyak anak dan tetap harus mengurus keperluan rumah tangga. Walaupun terkadang capek dan berat di awal, pengalaman dan peran menjadi seorang ibu untukku sangat berharga. Aku kini sangat bahagia menjalaninya. Rasanya bahagia sekali melihat senyum bayi hanya karena hal-hal kecil. Menjadi orang tua juga berarti punya kesempatan untuk mengenalkan dunia pada anak.

Di Vietnam, aku tidak menemukan komunitas Indonesia secara offline, tapi aku sangat terbantu dengan komunitas daring, terutama grup ibu menyusui di Indonesia. Aku sangat terbantu dengan teman-teman di Jerman dan Indonesia.  Aku juga sering berbagi cerita dengan teman-teman di Jerman, kakak, ibuku, bahkan teman Vietnam yang berpengalaman hamil di kota ini.

Sharing sangat penting agar tidak merasa sendirian. Aku juga selalu jujur dengan suamiku, apalagi soal kelelahan atau rasa sedih. Aku berharap bisa menjadi orang tua yang baik dan sabar, meskipun lelah. Aku ingin cinta dengan suami tetap tumbuh seiring kehadiran anak kami.

Di negara asing ini, kami belajar menjadi tim yang kuat, menghadapi tantangan bersama, dan tetap bisa menikmati petualangan. Hari-hariku kini sepenuhnya untuk bayi. Keluar rumah hanya saat malam atau akhir pekan. Weekend bersama keluarga adalah momen berharga. Kami pergi ke pantai atau kafe sekadar mencari suasana baru. Awalnya rutinitas ini terasa berat, tapi melihat bayi kami tumbuh dan belajar hal baru setiap minggu, aku merasa semua lelah terbayar.

Aku memilih berbicara dengan bayiku dalam bahasa Indonesia. Aku juga ingin mengenalkan budaya Indonesia sejak dini. Suamiku sudah cukup mengenal budaya ini, karena sering berinteraksi dengan keluargaku. Aku berharap bisa sering pulang ke Indonesia dan Jerman agar anakku lebih dekat dengan akar budayanya.

Kisah ini adalah catatan perjalanan seorang ibu baru di negeri asing. Tidak mudah, tapi ada kebahagiaan di setiap peluh dan air mata. Seperti kata orang, menjadi ibu adalah pekerjaan paling berat sekaligus paling membahagiakan di dunia.

Penulis: Cindy, relawan Ruanita dan sekarang sedang menetap di Vietnam. Cindy dapat dikontak melalui akun instagram cinguch atau kanal YouTube-nya Cindy Guchi.