(IG LIVE) Mendengar, Memahami, dan Mencegah: Menemukan Jalan Keluar dari Kegelapan

Peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia pada 10 September menjadi momentum bagi Ruanita Indonesia untuk membuka ruang percakapan mengenai kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri. Melalui program diskusi Instagram Live, Ruanita Indonesia mengangkat tema mendengar, memahami, dan mencegah, dengan menghadirkan pengalaman personal sekaligus perspektif profesional mengenai mereka yang pernah berada dalam masa-masa paling gelap dalam hidupnya.

Diskusi tersebut menghadirkan Miystica Rosa, seorang praktisi kesehatan mental yang berada di Irlandia, serta Vita, seorang penyintas yang saat ini tinggal di Islandia. Dipandu oleh Zukhrufi Syasdwaita atau disapa Rufi dari Ruanita Indonesia, perbincangan berlangsung sekitar 30 hingga 40 menit dan membuka kesempatan bagi penonton untuk turut berpartisipasi melalui kolom komentar

Percakapan dimulai dari sebuah pengingat sederhana bahwa setiap manusia memiliki alasan dan tujuan keberadaannya. Kehidupan seseorang dipandang tetap memiliki arti, apa pun latar belakang dan situasi yang sedang dihadapinya. Bahkan ketika seseorang sedang berada dalam kondisi yang sangat sulit, keberadaannya tetap penting. Dalam konteks pencegahan bunuh diri, pemaknaan terhadap kehidupan menjadi salah satu pesan penting yang muncul dalam diskusi. Masa-masa gelap tidak dipandang sebagai keadaan yang akan berlangsung selamanya. Kesulitan memang dapat membuat seseorang merasa seolah-olah tidak ada jalan keluar, tetapi kegelapan tersebut tidak harus menjadi akhir dari perjalanan hidup seseorang.

Peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia kemudian tidak hanya dimaknai sebagai momentum untuk mengingat mereka yang meninggal akibat bunuh diri. Lebih jauh, momen ini menjadi ajakan untuk kembali menghargai kehidupan dan menyadari bahwa setiap orang masih memiliki kesempatan untuk menjalani, memperbaiki, dan melanjutkan hidupnya.

Salah satu bagian penting dalam diskusi adalah pembahasan mengenai berbagai anggapan keliru yang berkembang di masyarakat tentang bunuh diri. Salah satunya adalah keyakinan bahwa bunuh diri merupakan topik yang tidak seharusnya dibicarakan secara terbuka. Pandangan semacam itu justru dapat membuat seseorang yang sedang mengalami krisis semakin terisolasi. Percakapan mengenai bunuh diri perlu dibuka dengan hati-hati agar orang yang sedang berada dalam kegelapan dapat menyadari kondisi yang sedang dialaminya dan memiliki kesempatan untuk mendapatkan pertolongan.

Diskusi juga menyinggung anggapan bahwa hanya profesional tertentu yang dapat membantu seseorang yang memiliki pikiran untuk bunuh diri. Perspektif yang muncul justru menekankan pentingnya peran lingkungan sekitar. Mendengarkan, hadir, membangun koneksi, dan membantu seseorang menemukan akses menuju pertolongan merupakan bagian penting dari upaya pencegahan. Karena itu, membicarakan kondisi seseorang bukan berarti memperburuk keadaan. Sebaliknya, percakapan dapat menjadi langkah awal untuk membuat seseorang menyadari bahwa ia tidak sendirian dan bahwa ada jalan untuk keluar dari situasi yang sedang dihadapinya.

Pengalaman Vita memberikan dimensi personal pada pembahasan tersebut. Ia menggambarkan masa tergelap dalam hidupnya sebagai periode yang dipenuhi stres, depresi, dan kecemasan. Dalam kondisi itu, aktivitas sehari-hari terasa sangat berat. Keinginan untuk melakukan apa pun menghilang dan tidur menjadi pilihan untuk menghindari kenyataan. Perasaan tersebut juga membuatnya menarik diri dari lingkungan. Ia memilih berada di rumah dan menghindari pertemuan dengan orang lain, termasuk anak-anaknya. Isolasi menjadi bagian dari pengalaman ketika seseorang merasa tidak memiliki energi maupun kemampuan untuk menghadapi kehidupan sebagaimana biasanya.

Di balik kondisi tersebut terdapat berbagai persoalan yang saling berkelindan. Kehilangan pasangan, persoalan finansial, tekanan hidup, hingga berbagai pengalaman traumatis dapat membuat seseorang merasa semakin kehilangan harapan. Dalam kondisi krisis, kemampuan untuk melihat masa depan pun dapat menyempit. Seseorang mungkin tidak lagi mampu membayangkan adanya jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapinya.

Vita juga menggambarkan betapa sulitnya mengungkapkan kondisi batin ketika seseorang berada dalam situasi tersebut. Ada perasaan yang begitu berat sehingga sulit diterjemahkan menjadi kata-kata. Justru karena itulah kehadiran orang lain dan ruang yang aman untuk berbicara menjadi sangat penting.

Titik balik dalam pengalaman Vita muncul ketika ia menyadari bahwa dirinya membutuhkan pertolongan. Dalam situasi yang terasa sudah runtuh, ia akhirnya menghubungi layanan bantuan krisis Pieta yang tersedia selama 24 jam di tempat ia berada. Keputusan untuk menelepon menjadi sebuah langkah penting karena ia menyadari bahwa dirinya tidak dapat terus berada dalam kondisi tersebut.

Pengalaman tersebut juga memperlihatkan pentingnya kejujuran dalam menjawab pertanyaan sederhana mengenai keadaan seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari, pertanyaan tentang kabar sering kali dijawab secara otomatis dengan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, di balik jawaban tersebut bisa saja terdapat pergulatan yang tidak terlihat. Bagi seseorang yang sedang mengalami krisis, keberanian untuk mengatakan kondisi sebenarnya dapat menjadi awal untuk memperoleh bantuan. Mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja bukan tanda kelemahan, melainkan sebuah bentuk kesadaran bahwa bantuan diperlukan.

Dalam diskusi tersebut, kesehatan mental juga ditempatkan dalam konteks kehidupan yang lebih luas. Krisis bunuh diri tidak selalu muncul akibat satu persoalan tunggal. Masalah kesehatan fisik atau penyakit kronis, kecemasan, depresi, kehilangan pekerjaan, persoalan keuangan, trauma, maupun masalah dalam keluarga dapat menjadi bagian dari beban yang dirasakan seseorang. Ketika berbagai tekanan menumpuk, seseorang dapat kehilangan harapan dan merasa tidak berdaya. Situasi menjadi semakin berisiko ketika seseorang yang sedang berada dalam kondisi tersebut merasa sendirian dan tidak melihat adanya alternatif untuk keluar dari masalah.

Karena itu, pencegahan bunuh diri tidak cukup dilakukan dengan menunggu seseorang meminta bantuan. Lingkungan sekitar perlu membangun hubungan yang memungkinkan seseorang merasa aman untuk berbicara mengenai apa yang sedang dialaminya. Salah satu pesan terkuat dari diskusi Ruanita Indonesia adalah pentingnya keberanian untuk mendengarkan. Ketika seseorang menunjukkan tanda-tanda sedang berada dalam kondisi sangat gelap, orang-orang di sekitarnya tidak perlu langsung memiliki semua jawaban atau solusi.

Pencegahan pada akhirnya berkaitan dengan membangun koneksi. Ketika seseorang merasa terjebak dalam kegelapan, hubungan dengan teman, keluarga, komunitas, maupun layanan bantuan profesional dapat menjadi bagian dari jalan untuk keluar. Diskusi tersebut menekankan pentingnya menghubungi orang lain dan mencari layanan bantuan ketika dukungan dari lingkungan terdekat belum mencukupi. Hotline atau layanan krisis dapat menjadi salah satu pintu menuju pertolongan yang lebih tepat.

Pesan ini membuat peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pencegahan bukan hanya tentang tindakan besar atau intervensi profesional. Ia juga dapat dimulai dari keberanian untuk hadir, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, memperhatikan perubahan pada orang di sekitar, dan membantu seseorang terhubung dengan pertolongan yang dibutuhkan.

Pada akhirnya, percakapan Ruanita Indonesia mengingatkan bahwa seseorang yang sedang berada dalam kegelapan mungkin tidak selalu mampu menemukan jalan keluarnya seorang diri. Kehadiran orang lain dapat menjadi titik awal. Sebuah percakapan dapat membuka kesadaran. Sebuah panggilan dapat menghadirkan bantuan. Dan sebuah koneksi dapat menjadi jembatan agar seseorang kembali melihat kemungkinan untuk melanjutkan hidup.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!

(IG LIVE) Jarak Bukan Penghalang: Menjaga Waras dan Ikatan Emosional dalam LDR Parenting

Menjalani peran sebagai orang tua pembuat keputusan tunggal di rumah sementara pasangan berada di belahan bumi lain bukanlah perkara mudah. Komunitas Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) membedah tuntas realita ini melalui program diskusi IG Live terbarunya. Bersama pemandu acara Rufi, diskusi hangat berdurasi 30 hingga 40 menit ini menghadirkan dua narasumber luar biasa: Mila Siena, seorang ibu yang kini menetap di Bangladesh, dan Reneta Kristiani, seorang psikolog sekaligus mahasiswa PhD yang berbasis di Melbourne, Australia.

Mila Siena membuka cerita dengan membagikan pengalamannya saat terpaksa menjalani Long-Distance Relationship (LDR) Parenting bersama sang suami yang bekerja di Korea Selatan. Terjebak di tengah situasi pandemi COVID-19 dari tahun 2019 hingga 2022, Mila merasakan isolasi yang luar biasa di apartemennya yang terletak dua jam dari Seoul.

“Anak saya saat itu baru berusia empat tahun, sulit berbicara, dan kurang bersosialisasi karena lingkungan kami sepi anak-anak,” kenang Mila.

Keputusan untuk membawa sang anak pulang ke Indonesia pada tahun 2022 ternyata membawa tantangan baru. Perbedaan cuaca dan makanan membuat anaknya sering jatuh sakit setiap bulan. Kondisi fisik anak yang drop ini memicu gesekan emosional dengan sang suami di seberang sana.

“Setiap hari kami bertengkar lewat telepon. Suami selalu mempertanyakan apa yang anak makan, mengapa bisa sakit, dan banyak hal lainnya,” tambah Mila.

Dampak psikologis yang paling menyedihkan bagi Mila adalah keengganan anaknya untuk berkomunikasi dengan sang ayah. Setiap kali melakukan panggilan video (video call), sang anak hanya mau menyapa singkat sebelum akhirnya berpaling dan menyudahi obrolan. Jarak yang membentang perlahan sempat mengaburkan figur ayah di mata sang anak.

Sebagai seorang psikolog, Renetta Christiani meluruskan bahwa setiap anak memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengekspresikan kerinduan dan kecemasan mereka saat terpisah dari orang tua. Reaksi anak yang menolak melakukan video call, seperti yang dialami anak Mila bukan berarti mereka tidak sayang.

“Anak-anak sering kali mencoba mengatasi rasa sakit hati dan rindu mereka dengan cara tetap sibuk bermain. Mengharuskan anak duduk diam menatap layar dalam waktu lama sering kali tidak efektif,” jelas Reneta Kristiani.

Reneta Kristiani menambahkan, anak-anak yang terpisah dari salah satu orang tuanya rentan merasa tidak aman (insecure). Mereka kerap menunjukkan kecemasan berlebih, seperti mengalami gangguan tidur atau menjadi sangat manja dan protektif kepada orang tua yang ada di dekatnya karena takut kehilangan figur tersebut.

Salah satu momen krusial yang disoroti Renetta adalah fase adaptasi sosial di sekolah. Anak-anak akan memperhatikan lingkungan sekitar mereka. Saat melihat teman-temannya diantar oleh kedua orang tua secara lengkap di ruang kelas, anak yang menjalani LDR parenting akan mulai bertanya-tanya dan merasakan kekosongan.

Bagaimana cara menjaga kesehatan mental keluarga dan meregulasi emosi anak dari jarak jauh? Renetta dan Mila membagikan beberapa tips praktis:

  • Gunakan Alternatif Komunikasi: Jika anak bosan atau menolak video call, beralihlah ke pesan suara (voice note) atau buat proyek kecil bersama yang dinantikan anak saat waktu mengobrol tiba.
  • Melibatkan Pasangan dalam Aktivitas: Mila menerapkan strategi rutin menelepon suami sebelum anak tidur. Ia juga aktif mengirimkan foto, video tugas sekolah, dan melibatkan suami dalam rapat sekolah anak secara daring.
  • Merawat Memori Masa Lalu: Orang tua di rumah bisa sesekali memutar foto atau video lama untuk memicu ingatan anak tentang momen-momen indah bersama ayahnya, seperti momen makan barbekyu bersama saat sang anak masih balita.
  • Ekspresikan Emosi Lewat Seni: Bantu anak meluapkan emosi, kemarahan, atau kesedihan mereka melalui musik, bernyanyi, atau membuat karya seni bersama.

Di akhir sesi diskusi, Mila menekankan bahwa fondasi terpenting dari keberhasilan LDR parenting adalah kepercayaan penuh dan kesepakatan mutlak antara suami dan istri. Anak-anak, terutama yang masih kecil, sangat membutuhkan kehadiran fisik orang tua mereka. Oleh karena itu, pasangan yang menjalani LDR juga perlu memiliki rencana yang jelas tentang kapan mereka bisa berkumpul kembali sebagai satu keluarga utuh.

“Suami istri harus saling percaya, tidak boleh mudah salah paham, dan selalu mendiskusikan kebutuhan anak bersama-sama. Jangan mengambil keputusan sepihak,” tegas Mila.

Melalui ruang diskusi yang diinisiasi oleh Ruanita Indonesia ini, para ibu dan perempuan lintas negara diingatkan kembali bahwa LDR parenting sangat mungkin dijalani dengan sukses, asalkan komunikasi antar-pasangan tetap terjaga kuat demi stabilitas tumbuh kembang dan kesehatan mental anak.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!

(IG LIVE) Memahami ADHD Lebih dari Sekadar “Tidak Bisa Fokus”: Ketika Dukungan dan Apresiasi Menjadi Kunci

Dalam rangka memperingati International ADHD Awareness Day yang diperingati setiap 13 Juli, Ruanita Indonesia kembali menghadirkan ruang diskusi digital melalui program Instagram Live. Diskusi ini mengajak masyarakat untuk memahami Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) secara lebih utuh, baik dari perspektif profesional maupun pengalaman langsung keluarga yang mendampingi anak dengan ADHD.

Diskusi yang berlangsung selama sekitar 30–40 menit tersebut menghadirkan Lovely Christy Zega, seorang psikolog klinis yang tinggal di Jerman, serta Lena, seorang ibu yang memiliki anak dengan ADHD dan saat ini tinggal di Austria. Keduanya berbagi perspektif mengenai ADHD, mulai dari tantangan mengenali gejala, proses mendapatkan dukungan profesional, hingga pentingnya membangun lingkungan yang menerima dan mendukung individu neurodivergen.

Dalam diskusi tersebut, Lovely menjelaskan bahwa ADHD kerap dipahami secara terlalu sederhana. Banyak orang langsung mengaitkan ADHD dengan anak yang aktif atau sulit diam. Padahal, ADHD memiliki spektrum gejala yang lebih luas, termasuk kesulitan dalam mempertahankan perhatian, impulsivitas, serta tantangan dalam mengelola berbagai aktivitas sehari-hari.

Salah satu tantangan terbesar adalah membedakan ADHD dari kondisi lain yang juga dapat memengaruhi konsentrasi dan kemampuan menyelesaikan tugas. Kesulitan fokus, misalnya, juga dapat muncul ketika seseorang mengalami depresi atau berada dalam kondisi psikologis tertentu. Perbedaannya, ADHD merupakan kondisi neurodevelopmental yang berlangsung secara menetap dan dapat memengaruhi kehidupan seseorang dalam jangka panjang.

Seseorang dengan ADHD mungkin memiliki kemampuan intelektual yang baik, bahkan mampu berprestasi dan memiliki kompetensi tinggi di bidang tertentu. Namun, untuk menyelesaikan tugas yang bagi orang lain terasa sederhana, mereka bisa membutuhkan energi, waktu, dan usaha yang jauh lebih besar.

Tantangan tersebut juga dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang mungkin memiliki banyak minat dan ide, tetapi kesulitan menyelesaikan satu tugas hingga tuntas. Di sisi lain, ketika berhadapan dengan hal yang benar-benar diminati, seseorang dengan ADHD bahkan dapat mengalami hyperfocus, fokus yang sangat intens terhadap sesuatu yang menarik perhatian mereka.

Pengalaman Lena sebagai seorang ibu menunjukkan bahwa proses mengenali ADHD tidak selalu mudah. Pada awalnya, ia lebih memperhatikan sensitivitas anaknya terhadap suara dan lingkungan sekitar dibandingkan tingkat aktivitasnya.

Follow us

Menurut Lena, anak-anak pada umumnya memang aktif. Karena itu, anak yang banyak bergerak tidak serta-merta dapat disebut mengalami ADHD. Dalam pengalaman keluarganya, tantangan menjadi lebih terlihat ketika anak harus berhadapan dengan situasi yang menuntutnya untuk duduk, berkonsentrasi, dan menyelesaikan tugas yang tidak menarik baginya.

Sebelumnya, anak Lena mengikuti lingkungan belajar yang sangat fleksibel dan berpusat pada anak. Ia dapat belajar melalui permainan, memilih aktivitas yang sesuai dengan minatnya, serta mendapatkan dukungan terhadap kebutuhan sensoriknya. Dalam lingkungan seperti itu, tidak tampak masalah besar. Namun, ketika memasuki jenjang pendidikan yang menuntut lebih banyak struktur, tantangan mulai muncul. Anak Lena mengalami kesulitan menyelesaikan tugas-tugas yang sebenarnya mampu ia kerjakan. Situasi tersebut kemudian menimbulkan frustrasi, baik bagi sang anak maupun ibunya.

“Dia tahu bahwa dia bisa melakukannya, tetapi dia tidak bisa menyelesaikan tugas yang sebenarnya sederhana,” menjadi salah satu pengalaman yang menggambarkan tantangan tersebut.

Bagi Lena, situasi itu tidak hanya melelahkan secara praktis, tetapi juga emosional. Ia melihat anaknya merasa takut dan bingung karena tidak mampu menyelesaikan sesuatu yang sebenarnya ia pahami. Dari sinilah komunikasi dengan sekolah menjadi sangat penting. Lena berdiskusi dengan guru untuk memahami apa yang terjadi dan mencari bentuk dukungan yang sesuai. Sekolah kemudian mendorongnya untuk mencari bantuan profesional dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Dalam diskusi, Lovely menjelaskan bahwa proses mengenali dan mendiagnosis ADHD tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan satu atau dua gejala. Pemeriksaan perlu mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan seseorang, termasuk riwayat perkembangan, kondisi psikologis, serta dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari. Karena itu, prosesnya dapat melibatkan berbagai profesional. Pemeriksaan medis dan diagnosis dapat melibatkan dokter atau neurolog, sementara dukungan psikologis dan terapi dapat diberikan oleh psikolog sesuai kebutuhan individu.

Penanganan ADHD juga tidak dapat disamaratakan. Kebutuhan setiap orang berbeda-beda. Ada yang membutuhkan terapi, ada yang memerlukan dukungan medis, dan ada pula yang sangat terbantu oleh perubahan lingkungan. Dalam konteks anak, lingkungan sekolah dan keluarga memiliki peran besar. Dukungan sederhana, seperti memberikan ruang belajar yang lebih sesuai, mengurangi distraksi suara, menyediakan waktu tambahan, atau menyesuaikan cara belajar, dapat memberikan dampak yang besar.

Ketika ditanya mengenai berapa lama terapi ADHD perlu dilakukan, Lovely menekankan bahwa tidak ada jawaban tunggal. Durasi dan bentuk dukungan sangat bergantung pada kondisi individu serta lingkungan tempat ia berada. Lingkungan yang mendukung dapat membantu seseorang mengembangkan strategi untuk mengelola tantangan ADHD. Sebaliknya, lingkungan yang tidak memahami kebutuhan neurodivergen dapat membuat tantangan menjadi semakin berat. Dengan demikian, dukungan tidak hanya berfokus pada individu dengan ADHD. Keluarga, sekolah, tempat kerja, dan masyarakat juga perlu mendapatkan pemahaman yang memadai.

Bagi Lena, salah satu bentuk dukungan terbesar yang dapat diberikan kepada anak dengan ADHD adalah apresiasi. Anak-anak neurodivergen sering kali menerima lebih banyak koreksi, label, dan kritik dibandingkan apresiasi. Mereka mungkin lebih sering mendengar bahwa dirinya “nakal”, “tidak bisa diatur”, “malas”, atau “tidak berusaha cukup keras”. Padahal, banyak hal yang tampak sederhana bagi orang lain dapat membutuhkan usaha yang sangat besar bagi seseorang dengan ADHD.

Karena itu, orang tua perlu melihat anak sebagai manusia secara utuh, bukan hanya berdasarkan apa yang mampu atau tidak mampu mereka lakukan. Apresiasi tidak harus selalu menunggu pencapaian besar. Usaha kecil, keberanian mencoba, kemampuan bertahan, dan proses belajar juga layak dihargai. Ketika seorang anak hanya menerima apresiasi setelah mencapai sesuatu, ia dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya hanya berharga ketika berhasil. Sebaliknya, apresiasi yang konsisten dapat membantu anak mengenali kekuatan dan potensinya.

Diskusi Ruanita Indonesia ini juga menjadi pengingat bahwa ADHD bukanlah sebuah label untuk menentukan nilai seseorang. Memiliki ADHD tidak berarti seseorang tidak cerdas, tidak mampu berprestasi, atau tidak memiliki masa depan. Banyak individu dengan ADHD memiliki kemampuan, kreativitas, minat, dan keunggulan yang kuat di bidang tertentu. Yang dibutuhkan adalah pemahaman terhadap cara kerja mereka, dukungan yang tepat, serta lingkungan yang tidak buru-buru menghakimi.

Mengenali ADHD dengan lebih baik berarti memahami bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam belajar, bekerja, berkomunikasi, dan menjalani kehidupan. Dengan memperluas pengetahuan dan mengurangi stigma, masyarakat dapat menciptakan ruang yang lebih aman bagi individu neurodivergen untuk berkembang. Melalui ruang diskusi seperti Instagram Live, Ruanita Indonesia terus menghadirkan percakapan penting mengenai kesehatan mental, pengalaman hidup orang Indonesia di perantauan, serta isu-isu yang relevan bagi masyarakat Indonesia di luar negeri.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!

(IG LIVE) Ketika Menjadi Janda Bukan Akhir Cerita: Belajar Memilih Empati di Hari Internasional Janda

Mungkin tidak banyak tahu kalau ada peringatan Hari Internasional Janda yang diperingati tiap 23 Juni. Tentunya, kami mengambil momen ini untuk para perempuan agar bisa bersuara tentang bagaimana pengalaman dan tantangannya dalam status pernikahan yang disebut janda tersebut. Bahkan status janda itu masih menjadi stigma sosial yang memang perlu terus disuarakan, seperti melalui program diskusi IG LIVE bulan Juni ini. Program ini berhasil mengundang Telda Hille, yang bercerai dari suaminya di Jerman dan Barbie Nouva, seorang perempuan Indonesia yang memilih menjadi Single Mom by Choice di Rumania.

Melihat perempuan sendirian bersama anak tampaknya masih memberikan pertanyaan pribadi, seperti: “Ayahnya mana?”; “Kok bisa jadi ibu tunggal?”; “Nggak kasihan anaknya?” dan lain sebagainya. Bagi sebagian orang, pertanyaan itu mungkin hanya basa-basi. Namun bagi perempuan yang sedang berjuang membesarkan anak seorang diri, setiap kalimat itu bisa menjadi pengingat bahwa masyarakat masih lebih mudah menghakimi daripada memahami.

Itulah benang merah yang mengalir sepanjang diskusi Instagram Live Ruanita Indonesia dalam rangka memperingati Hari Internasional Janda yang diperingati setiap 23 Juni. Selama hampir satu jam, dua perempuan Indonesia yang kini tinggal di Eropa membuka lembar kehidupan yang selama ini jarang diceritakan kepada publik. Bukan untuk mencari simpati, melainkan untuk mengajak kita melihat bahwa di balik status “janda” atau “single mom” selalu ada kisah yang jauh lebih kompleks daripada apa yang tampak di permukaan.

Barbie menjadi orang pertama yang berbagi cerita. Dengan suara yang tenang, ia mengenang bagaimana impiannya membangun keluarga harus berubah arah ketika pasangan yang dicintainya meninggal dunia. Kepergian itu memang menghapus banyak rencana, tetapi tidak menghilangkan keinginannya untuk menjadi seorang ibu. Ia memilih melanjutkan mimpi tersebut melalui keputusan yang telah mereka rencanakan bersama. Keputusan yang bagi dirinya lahir dari cinta, tetapi bagi sebagian orang justru memunculkan banyak tanda tanya.

Menariknya, selama tinggal di Eropa, Barbie hampir tidak pernah merasa harus menjelaskan pilihan hidupnya kepada siapa pun. Tidak ada yang sibuk bertanya siapa ayah anaknya atau mengapa ia membesarkan anak sendirian. Orang-orang menghormati ruang pribadi dan percaya bahwa setiap keluarga memiliki cerita yang tidak harus diketahui orang lain.

Namun suasananya berubah ketika ia lebih sering berada di Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan mulai berdatangan. Bukan sekali dua kali, tetapi hampir setiap kali bertemu orang baru. Dari mana ayah anaknya? Apakah masih berkomunikasi? Mengapa memilih jalan hidup seperti itu? Awalnya Barbie mencoba menjawab dengan sabar. Lama-kelamaan ia menyadari bahwa yang melelahkan bukanlah memberikan penjelasan, melainkan menghadapi rasa ingin tahu yang seolah tidak ada habisnya.

Meski demikian, ia tidak pernah mengatakan bahwa membesarkan anak seorang diri adalah perjalanan yang mudah. Ada saat-saat ketika putranya mulai membutuhkan figur laki-laki dalam kehidupannya. Beruntung, ia memiliki saudara laki-laki yang hadir sebagai teladan bagi sang anak. Dukungan keluarga dan sahabat terdekat menjadi pengingat bahwa seorang ibu tidak harus menjalani semuanya sendirian. Kadang, kekuatan datang dari orang-orang yang memilih tinggal ketika yang lain hanya datang untuk bertanya.

Cerita berikutnya datang dari Telda. Jika Barbie berbicara tentang kehilangan, maka Telda berbicara tentang keberanian meninggalkan hubungan yang tidak lagi sehat. Saat memutuskan bercerai, anaknya masih sangat kecil. Di masa itu, ia bukan hanya harus menata ulang hidupnya, tetapi juga berusaha tetap menjadi tempat paling aman bagi buah hatinya.

Yang paling berat ternyata bukan proses perceraian itu sendiri. Yang jauh lebih menguras tenaga adalah komentar orang-orang di sekitarnya. Demi menjaga kesehatan mental, Telda memilih menutup akun media sosialnya. Ia tidak ingin setiap hari membaca penilaian dari orang-orang yang bahkan tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik rumah tangganya. Baginya, diam bukan berarti menyerah. Diam adalah cara bertahan agar dirinya tetap bisa menjadi ibu yang utuh bagi anaknya.

Di tengah masa yang penuh ketidakpastian itu, justru lingkungan tempat ia tinggal di Jerman menghadirkan pengalaman yang berbeda. Rekan kerja membantunya menemukan tempat perlindungan bagi perempuan. Teman-temannya bersedia menjaga anak ketika ia harus menjalani pemeriksaan di rumah sakit. Tidak banyak pertanyaan yang diajukan. Yang lebih sering terdengar justru kalimat sederhana, “Apa yang bisa kami bantu?” Dukungan seperti itulah yang perlahan memulihkan rasa percaya dirinya.

Dalam diskusi tersebut, baik Barbie maupun Telda sama-sama menyoroti satu hal yang menurut mereka sangat membedakan pengalaman hidup di Eropa dan Indonesia, yaitu cara masyarakat memandang kehidupan pribadi seseorang. Di banyak negara Eropa, status sebagai ibu tunggal bukanlah identitas yang harus diperdebatkan. Sementara di Indonesia, status tersebut masih sering menjadi bahan penilaian sosial. Padahal tidak seorang pun benar-benar mengetahui luka, perjuangan, maupun alasan yang membawa seseorang sampai pada titik itu.

Ketika diminta menyampaikan pesan kepada masyarakat Indonesia, Telda tidak berbicara tentang perubahan besar. Ia hanya mengajak kita belajar satu hal yang sederhana: empati. Menurutnya, masyarakat tidak harus selalu memiliki jawaban atas kehidupan orang lain. Tidak semua masalah membutuhkan komentar. Tidak semua kisah membutuhkan penilaian. Kadang seseorang hanya membutuhkan telinga yang mau mendengar dan hati yang bersedia memahami.

Ucapan itu terasa begitu emosional ketika Telda mengenang bagaimana komentar negatif yang pernah ia terima masih membekas hingga hari ini. Ia mengaku berusaha tidak menangis di depan orang lain karena ingin terlihat kuat. Namun sesampainya di rumah, semua rasa sakit itu tetap mencari jalannya sendiri. Saat itulah ia menyadari bahwa kata-kata dapat meninggalkan luka yang tidak terlihat, tetapi sangat lama sembuhnya.

Meski demikian, keduanya sepakat bahwa alasan mereka terus melangkah selalu kembali kepada anak-anak mereka. Melihat anak tumbuh sehat, tertawa, bermain, dan menjalani hidup dengan bahagia menjadi sumber tenaga yang membuat semua perjuangan terasa berarti. Mereka tidak sedang mengejar pengakuan sebagai perempuan yang hebat. Mereka hanya ingin menjadi ibu yang hadir sepenuh hati bagi anak-anaknya.

Hari Internasional Janda pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang perempuan yang kehilangan pasangan. Hari ini mengingatkan kita bahwa di sekitar kita ada banyak perempuan yang setiap hari sedang bertarung melawan kesepian, stigma, dan berbagai prasangka yang tidak mereka pilih. Mungkin kita tidak mampu menghapus semua beban yang mereka pikul. Namun kita selalu punya pilihan untuk tidak menambah bebannya. Sebab sebelum mengajukan pertanyaan, mungkin kita perlu mengingat satu hal: setiap orang sedang membawa cerita yang tidak seluruhnya bisa kita lihat. Sering kali, bentuk kasih yang paling sederhana adalah memilih untuk mendengarkan, bukan menghakimi.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(IG LIVE SPESIAL) Tung Tung Sahur: Ketika Bunyi dari Gang Ramadan Indonesia Menjadi Memori Kolektif Dunia

Dalam program diskusi IG LIVE spesial antarbudaya Indonesia-Italia kali ini, berhasil mempertemukan Indonesia dan Italia. Suara sederhana yang selama puluhan tahun akrab di telinga masyarakat Indonesia mendadak menjadi bahan diskusi lintas budaya. Diskusi antarbudaya yang melibatkan antarabudaya Indonesia-Italia berbicara bukan tentang politik, bukan pula tentang ekonomi, melainkan tentang bunyi.

Tiga ketukan sederhana itu kini terdengar jauh melampaui gang-gang kecil di Indonesia. Tung. Tung. Tung. Sahur. Bunyi yang selama puluhan tahun menjadi penanda waktu sahur di bulan Ramadan tiba-tiba melompat ke ruang digital global, muncul dalam ribuan meme, video, dan percakapan lintas negara. Dari Jakarta hingga Roma, dari TikTok hingga Instagram, bunyi itu tidak lagi hanya milik masyarakat Indonesia. Ia telah menjadi bagian dari percakapan dunia.

Fenomena inilah yang menjadi topik diskusi IG Live Antarbudaya Indonesia–Italia yang diselenggarakan Ruanita Indonesia. Dipandu oleh Rieska Wulandari, jurnalis sekaligus relawan Ruanita Indonesia di Italia, diskusi menghadirkan Luigi Monteranni, peneliti asal Italia yang tengah menempuh studi doktoral dan meneliti musik Nusantara. Bagi Luigi, fenomena Tung Tung Sahur menarik bukan semata karena viralitasnya, melainkan karena ia menunjukkan bagaimana sebuah bunyi dapat bergerak melintasi batas budaya dan bahasa.

Menurut Luigi, daya tarik Tung Tung Sahur justru terletak pada kesederhanaannya. Banyak orang yang ikut membagikan, menirukan, atau membuat meme tentangnya tanpa benar-benar memahami konteks Ramadan di Indonesia. Mereka tidak mengenal tradisi membangunkan sahur, tidak mengetahui sejarahnya, bahkan mungkin tidak memahami arti kata yang mereka ucapkan. Namun mereka mengingat bunyinya. Dan dalam dunia digital hari ini, sering kali itu sudah cukup untuk membuat sesuatu menjadi viral.

Ia menjelaskan bahwa fenomena tersebut memiliki kekuatan sensorik yang sangat kuat. Bunyi yang sederhana, ritmis, dan mudah diingat akan lebih cepat menempel di kepala seseorang dibandingkan penjelasan panjang tentang asal-usulnya. Ketika seseorang mendengar “Tung Tung Sahur”, ada pengalaman mendengar yang langsung bekerja sebelum logika sempat mencari makna. Bunyi itu menjadi semacam pengait yang membuat orang ingin terus mengulanginya.

Bagi Luigi, hal ini mengingatkannya pada fenomena Om Telolet Om beberapa tahun lalu. Saat itu, dunia internet dibuat penasaran oleh ribuan komentar berisi kalimat yang terdengar asing bagi orang luar Indonesia. Banyak orang Eropa bertanya-tanya apa arti “telolet” dan mengapa kata itu memenuhi akun media sosial musisi internasional. Namun pada akhirnya, bukan makna katanya yang pertama kali menarik perhatian dunia, melainkan bunyi khas klakson bus yang menjadi inti dari fenomena tersebut.

Persamaan antara Om Telolet Om dan Tung Tung Sahur, menurut Luigi, adalah hadirnya unsur misteri. Internet menyukai sesuatu yang belum sepenuhnya dipahami. Ketika sebuah fenomena datang dari budaya yang tidak familiar, rasa penasaran menjadi semakin besar. Orang ingin tahu apa artinya, dari mana asalnya, dan mengapa begitu banyak orang membicarakannya. Dalam konteks ini, Indonesia menawarkan sesuatu yang menarik bagi dunia: ruang misteri yang belum seluruhnya terjelaskan.

Luigi menilai bahwa Indonesia masih memiliki banyak elemen budaya yang belum terlalu dikenal secara global. Berbeda dengan Italia yang identik dengan pizza, pasta, atau Colosseum, Indonesia sering kali hadir sebagai sesuatu yang baru dan tidak terduga bagi banyak orang. Justru karena belum sepenuhnya dikenali, berbagai ekspresi budaya Indonesia kerap memunculkan rasa ingin tahu yang kuat di kalangan pengguna internet internasional.

Namun di balik viralitas itu, Luigi mengingatkan bahwa Tung Tung Sahur sesungguhnya bukan sekadar bunyi lucu atau bahan meme. Di Indonesia, bunyi tersebut merupakan bagian dari memori kolektif masyarakat. Ia lahir dari tradisi sosial yang telah hidup lama di berbagai daerah selama bulan Ramadan. Ada kebersamaan warga, semangat gotong royong, dan pengalaman budaya yang melekat di dalamnya. Bunyi tersebut mengandung cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar tren media sosial.

Ketika tradisi lokal memasuki ruang digital global, selalu ada dua kemungkinan yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, makna budaya yang mendalam bisa menyusut menjadi sekadar hiburan. Namun di sisi lain, viralitas juga membuka pintu bagi orang-orang untuk mengenal budaya yang sebelumnya tidak pernah mereka ketahui. Mereka mungkin datang karena meme, tetapi bisa saja bertahan karena rasa ingin tahu yang lebih besar terhadap Indonesia.

Dalam pandangan Luigi, fenomena seperti ini seharusnya tidak hanya dilihat sebagai hiburan sesaat. Ia juga dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia dengan cara yang organik. Indonesia memiliki sejarah panjang dalam menyebarkan pengaruh budaya, baik melalui musik, batik, kuliner, maupun tradisi-tradisi keseharian yang unik. Kini, di era algoritma, salah satu jalannya bisa jadi melalui bunyi.

Diskusi malam itu akhirnya membawa satu kesimpulan menarik. Di tengah banjir informasi yang terus bergerak cepat, dunia ternyata masih bisa terhubung oleh sesuatu yang sangat sederhana. Sebuah suara. Sebuah ritme. Sebuah bunyi yang berasal dari tradisi lokal di Indonesia. Dan mungkin, itulah kekuatan budaya yang sesungguhnya: mampu menciptakan ingatan bersama, bahkan bagi orang-orang yang belum pernah bertemu dan hidup di belahan dunia yang berbeda.

Ketika Tung Tung Sahur terus bergema di ruang digital, yang sedang terjadi bukan sekadar tren internet. Ada sebuah memori kolektif yang sedang melakukan perjalanan. Berangkat dari gang-gang kecil Indonesia, melintasi layar ponsel jutaan orang, lalu menemukan makna baru di berbagai sudut dunia. Ingin tahun lebih banyak, silakan simak diskusi IG LIVE spesial antarbudaya Indonesia-Italia yang akan membahas fenomena budaya dari dua sisi.

(IG LIVE) Belajar Mengurangi Kebisingan Digital, demi Pikiran yang Lebih Tenang

Notifikasi yang terus berbunyi, kebiasaan membuka media sosial tanpa sadar, grup percakapan yang tidak ada habisnya, hingga tekanan untuk selalu mengikuti informasi terbaru perlahan menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Di tengah derasnya arus digital tersebut, ruang untuk benar-benar tenang sering kali semakin sempit.

Fenomena inilah yang diangkat dalam program bulanan Diskusi IG LIVE yang dikelola akun Instagram Ruanita Indonesia pada episode Mei 2026 bertajuk Digital Declutter. Diskusi ini menghadirkan dua narasumber Indonesia yang tinggal di Eropa, yakni Aghata Yasmin, mahasiswa Informatika di Slovenia, serta Fransisca Hapsari, peneliti teknologi pendidikan dan mahasiswa doktoral di Jerman.

Diselenggarakan menjelang peringatan World Telecommunication and Information Society Day pada 17 Mei, diskusi tersebut membahas bagaimana kehidupan digital yang semakin padat tidak hanya memengaruhi fokus dan kesehatan mental, tetapi juga keamanan data pribadi.

Dalam percakapan tersebut, Yasmin menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar di era digital adalah cognitive load atau beban mental akibat terlalu banyak informasi yang masuk setiap hari. Menurutnya, meskipun notifikasi atau informasi digital tidak tampak secara fisik, otak manusia tetap memproses semuanya secara terus-menerus.

Follow us

Ia menggambarkan kondisi tersebut seperti meja kerja yang terlalu penuh. Ketika terlalu banyak hal menumpuk secara bersamaan, seseorang menjadi sulit fokus dan lebih cepat merasa lelah. Hal serupa terjadi dalam kehidupan digital ketika seseorang terus-menerus menerima notifikasi media sosial, pesan instan, atau konten baru tanpa jeda.

Pengalaman tinggal di Slovenia juga membuat Yasmin melihat perbedaan budaya dalam penggunaan media sosial. Jika di Indonesia banyak aktivitas sehari-hari cenderung langsung dibagikan ke dunia digital, ia merasa kehidupan di Slovenia lebih memberi ruang untuk hadir secara utuh dalam interaksi nyata.

Ia mulai membiasakan diri menikmati aktivitas tanpa harus terus mendokumentasikan semuanya. Saat pergi hiking bersama teman, misalnya, ia memilih menyimpan telepon genggam di tas agar dapat benar-benar menikmati percakapan dan suasana sekitar.

Selain membatasi paparan digital, Yasmin juga menerapkan kebiasaan sederhana seperti mematikan data internet selama beberapa waktu setiap hari, mengatur ulang galeri foto agar lebih terorganisasi, hingga menyimpan dokumen pribadi di penyimpanan digital yang lebih aman dan terkontrol.

Sementara itu, Fransisca Hapsari menyoroti sisi lain dari kehidupan digital yang sering diabaikan, yakni keamanan data pribadi. Menurutnya, perkembangan teknologi yang sangat cepat dalam dua dekade terakhir tidak hanya membuka peluang positif, tetapi juga meningkatkan risiko kejahatan siber.

Ia menjelaskan bahwa banyak pengguna internet masih menggunakan teknologi secara tidak sadar, mulai dari memberikan data pribadi secara sembarangan hingga menggunakan kata sandi yang sama untuk berbagai aplikasi. Kebiasaan tersebut membuat pengguna lebih rentan terhadap penipuan digital, peretasan, maupun pencurian identitas.

Fransisca membagikan pengalamannya ketika menerima ancaman digital setelah terjadi kebocoran data dari sebuah platform belanja daring di Indonesia. Saat itu ia sempat panik karena menerima pesan yang mengklaim mengetahui kata sandinya dan meminta sejumlah uang. Pengalaman tersebut membuatnya lebih sadar pentingnya keamanan digital dan pengelolaan data pribadi.

Menurutnya, digital declutter bukan hanya soal membersihkan file atau mengurangi penggunaan media sosial, tetapi juga tentang membangun kesadaran terhadap teknologi yang digunakan setiap hari. Ia mengajak pengguna untuk lebih kritis terhadap aplikasi yang diunduh, izin akses yang diberikan, serta kebiasaan digital yang sebenarnya tidak lagi diperlukan.

Diskusi tersebut juga menyinggung bagaimana media sosial memengaruhi kesehatan mental, terutama munculnya rasa lelah, FOMO (fear of missing out), hingga kecenderungan membandingkan hidup dengan orang lain. Yasmin memperkenalkan konsep JOMO atau joy of missing out, yakni kemampuan menikmati hidup tanpa merasa harus selalu mengikuti semua informasi dan tren yang beredar. Menurutnya, ketika seseorang mulai membatasi paparan digital, fokus dan kejernihan berpikir perlahan kembali terbentuk.

Fransisca menambahkan bahwa penggunaan media sosial tanpa tujuan yang jelas sering kali membuat seseorang masuk dalam pola mindless scrolling yang menguras energi mental tanpa disadari. Ia mengingatkan pentingnya membangun kebiasaan digital yang lebih sadar, termasuk membatasi penggunaan gawai sebelum tidur dan mengurangi paparan cahaya layar yang dapat mengganggu kualitas istirahat.

Selain berbicara tentang individu, diskusi ini juga menyoroti pentingnya peran keluarga dalam membangun kebiasaan digital yang sehat. Yasmin menekankan pentingnya menciptakan momen bersama tanpa gawai, seperti makan bersama, memasak, atau berbincang tanpa gangguan layar. Menurutnya, teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu kehidupan manusia, bukan sebaliknya mengendalikan manusia. Karena itu, kesadaran untuk memilih apa yang dikonsumsi secara digital menjadi semakin penting di tengah banjir informasi saat ini.

Melalui Diskusi IG LIVE bulanan, Ruanita Indonesia menghadirkan ruang percakapan lintas negara yang membahas berbagai isu keseharian perempuan Indonesia secara reflektif dan relevan dengan perkembangan zaman. Episode tentang digital declutter ini menjadi pengingat bahwa di tengah kehidupan yang semakin terkoneksi, menjaga ketenangan pikiran dan batas sehat dengan dunia digital merupakan bentuk perawatan diri yang juga penting dilakukan.

Simak selengkapnya rekaman program diskusi IG LIVE berikut ini di kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(IG LIVE) Menjadi Ibu Baru di Negeri Orang: Antara Bahagia, Sepi, dan Bertahan

Melanjutkan program bulanan Diskusi IG LIVE, Ruanita Indonesia di bulan April 2026 hadir dengan tema parenting. Di balik unggahan manis seorang ibu bersama bayinya di luar negeri, ada kisah-kisah yang tak selalu terlihat. Ada rasa syukur, haru, lelah, bingung, bahkan kesepian yang datang bersamaan. Menjadi ibu baru saja sudah menghadirkan perubahan besar, apalagi jika dijalani jauh dari kampung halaman, keluarga, dan budaya yang selama ini menjadi tempat bersandar.

Dalam diskusi Instagram Live Program Bulanan Ruanita Indonesia, topik “New Mom Abroad” menjadi ruang berbagi yang hangat sekaligus reflektif. Bersama dua narasumber inspiratif, antara lain: Ranindra, seorang psikolog sekaligus co-founder Kesmenesia yang tinggal di Prancis. Didampingi Dina, fashion director & stylist sekaligus ibu muda di Amerika Serikat. Diskusi ini menyingkap realitas menjadi ibu baru di negeri orang.

Bagi Dina, perjalanan menjadi ibu di luar negeri dimulai pada masa pandemi COVID-19. Kehamilan yang seharusnya menjadi kabar bahagia justru dibayangi stres administratif dan ketidakpastian sistem kesehatan. Ia mengisahkan bagaimana kebingungan soal asuransi membuat dirinya harus berhadapan dengan proses birokrasi yang melelahkan. Ketidaktahuan terhadap sistem setempat bahkan sempat membuat kunjungannya ke fasilitas kesehatan disalahartikan sebagai permintaan layanan aborsi.

Di tengah situasi pandemi, setiap pemeriksaan kehamilan menjadi sumber kecemasan tersendiri. Namun tantangan terbesar datang saat persalinan. Rencana melahirkan normal berubah drastis menjadi operasi caesar darurat. Kehabisan banyak darah, harus menjalani transfusi, dan terpisah sehari penuh dari sang bayi yang masuk NICU menjadi pengalaman yang begitu membekas.

“Waktu itu rasanya benar-benar seperti di ambang hidup dan mati,” ungkapnya.

Di tengah kondisi fisik dan mental yang rapuh, Dina juga menghadapi tekanan sosial yang datang tanpa empati. Salah satunya ketika seorang sesama orang Indonesia di luar negeri yang justru menghakimi keputusannya memberi susu formula. Komentar semacam itu menjadi contoh nyata bagaimana seorang ibu baru sering kali harus menghadapi ekspektasi dan penilaian, bahkan dari orang yang tak mengetahui perjuangan di balik keputusannya.

Ranindra menyoroti bahwa kesehatan mental ibu baru sering kali mulai terguncang sejak proses persalinan itu sendiri. Banyak perempuan datang ke ruang bersalin dengan harapan tertentu: ingin melahirkan normal, ingin suasana yang tenang, ingin pengalaman yang sesuai impian. Namun realitas tak selalu berjalan seperti rencana.

Ketika proses persalinan berubah mendadak karena alasan medis, ibu harus menghadapi rasa kehilangan atas ekspektasi yang telah dibangun. Menurut Ranindra, ini adalah bentuk grief, yakni duka atas pengalaman yang tidak sesuai harapan yang sering kali tidak disadari.

Di sisi lain, perubahan hormon pasca melahirkan, terutama penurunan estrogen, turut berperan dalam munculnya baby blues. Emosi menjadi naik turun, tubuh kelelahan, dan tekanan tanggung jawab baru datang bersamaan. Sayangnya, kondisi ini sering diremehkan dengan kalimat seperti, “Yang penting ibu dan anak sehat.” Padahal, seperti ditegaskan Ranindra, kesehatan anak berawal dari kesehatan ibunya.

Follow us

Menjadi ibu baru di luar negeri menambah lapisan tantangan yang unik. Di banyak negara Barat, budaya individualisme sangat kuat. Tidak ada keluarga besar yang siap membantu, tidak ada asisten rumah tangga, dan tidak ada tradisi “diurus” pasca melahirkan seperti yang umum di Indonesia.

Seorang ibu harus mengurus bayi, membersihkan rumah, memasak, hingga menyesuaikan diri dengan ritme hidup baru, sering kali hanya bersama pasangan. Selain itu, perbedaan budaya dalam membesarkan anak juga menjadi tantangan besar.

Di negara-negara Barat, kemandirian anak didorong sejak sangat dini: tidur di kamar sendiri, makan sendiri, hingga dibiasakan menyampaikan pendapat secara langsung. Sementara banyak ibu Indonesia tumbuh dengan nilai kebersamaan, kelekatan, dan pola asuh yang lebih penuh sentuhan. Perbedaan ini kerap memunculkan kebingungan, bahkan konflik kecil dalam keluarga multikultural. Bagi Ranindra, tantangan terbesarnya justru ada pada bagaimana mempertahankan nilai-nilai yang diyakini, sambil tetap terbuka terhadap sistem baru.

“Bukan berarti budaya mereka salah. Tapi saya perlu menjelaskan kenapa saya memilih cara yang sesuai dengan nilai yang saya kenal,” ujarnya.

Saat ditanya tentang cara bertahan, keduanya menekankan pentingnya support system. Bagi Ranindra, satu orang yang benar-benar memahami, terutama pasangan, sudah menjadi penopang besar. Tidak perlu banyak orang, tetapi perlu seseorang yang bisa menjadi tempat bersandar. Dina sendiri merasa beruntung memiliki pasangan yang suportif dan penuh humor, yang membuat masa-masa awal menjadi ibu terasa lebih ringan.

Menjadi ibu baru di negeri orang bukan sekadar soal merawat bayi. Ini adalah perjalanan mengenali diri, menerima ketidaksempurnaan, dan menemukan cara baru untuk merasa utuh. Ada hari-hari penuh tawa, ada malam-malam penuh tangis. Ada rasa bangga, tapi juga rindu. Ada cinta yang besar, namun juga kelelahan yang tak terucap.

Namun dari semua itu, para ibu belajar satu hal penting: rumah tidak selalu berarti tempat. Kadang, rumah adalah rasa aman yang dibangun dalam diri sendiri. Dan bagi para new mom abroad, perjalanan ini bukan hanya tentang membesarkan anak tetapi juga tentang bertumbuh menjadi versi diri yang lebih kuat, lebih lembut, dan lebih berani. Karena pada akhirnya, setiap ibu sedang belajar. Dan itu sudah lebih dari cukup.

Simak selengkapnya rekaman program diskusi IG LIVE berikut ini di kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(IG LIVE) Mengenal Lebih Dalam Tuberkulosis dan Patahkan Stigma Sosial di Peringatan Hari TB Sedunia

Dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia yang jatuh setiap 24 Maret, Ruanita Indonesia kembali menghadirkan diskusi Instagram Live yang sarat makna. Dipandu oleh Rufi, ruang digital itu berubah menjadi wadah belajar bersama, tentang penyakit yang masih menjadi tantangan besar kesehatan global: tuberkulosis (TB).

Dengan menghadirkan dua narasumber dari latar belakang berbeda, antara lailn: dr. Sharifah Janatin Aliyah SpP, seorang dokter spesialis paru, dan Hilda Amanda Safir, mahasiswa kedokteran di Tiongkok, diskusi ini menjembatani ilmu medis dan perspektif lapangan lintas negara.

“Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis,” jelas dr. Aliyah membuka diskusi. Ia menekankan bahwa TB bukan hanya penyakit paru, tetapi bisa menyerang hampir seluruh organ tubuh, mulai dari otak, tulang belakang, hingga usus.

Penularannya pun terbilang mudah. Bakteri menyebar melalui udara ketika penderita TB aktif batuk, bersin, atau bahkan berbicara. Namun menariknya, tidak semua orang yang terpapar akan langsung sakit.

Sekitar 90% orang mampu melawan bakteri ini dengan sistem imun mereka. Sisanya, sekitar 10–20%, berisiko mengembangkan infeksi laten, di mana bakteri “tidur” dalam tubuh dan bisa aktif kembali ketika daya tahan tubuh menurun.

“Di sinilah TB menjadi unik sekaligus menantang. Bakterinya bisa bersembunyi dari sistem imun,” tambahnya.

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan TB adalah gejala yang sering tidak disadari. Batuk lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, keringat malam, dan demam ringan adalah tanda-tanda umum, tetapi sering dianggap sepele.

Padahal, keterlambatan diagnosis bisa berujung pada komplikasi serius.

Kini, metode diagnosis sudah semakin canggih. Tes cepat molekuler memungkinkan deteksi bakteri sekaligus mengetahui resistensi obat hanya dalam waktu singkat. Ini menjadi kemajuan besar dibanding metode lama yang memerlukan waktu berminggu-minggu.

TB bukan penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Namun, proses pengobatannya membutuhkan komitmen tinggi.

“Pengobatan standar berlangsung minimal enam bulan dan harus diminum setiap hari,” tegas dr. Aliyah.

Masalahnya, banyak pasien berhenti di tengah jalan, entah karena merasa sudah sembuh atau karena tekanan sosial. Hal ini berbahaya, karena dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten terhadap obat.

Hilda, mahasiswa kedokteran yang tengah menempuh studi di Tiongkok, membagikan perspektif menarik tentang bagaimana negara tersebut menangani TB.

Di sana, pasien TB langsung masuk ke dalam sistem pelaporan nasional yang terintegrasi. Data dipantau secara real-time oleh lembaga kesehatan nasional, sehingga pengobatan dapat diawasi secara ketat.

“Pasien tidak hanya diobati, tapi juga dipantau kepatuhannya. Bahkan keluarga dilibatkan sebagai pengawas minum obat,” jelas Hilda.

Pendekatan ini dikenal sebagai Directly Observed Treatment Short Course (DOTS), di mana pasien tidak minum obat sendiri tanpa pengawasan.

Selain itu, strategi preventif juga diperkuat melalui:

  • Screening aktif pada kelompok berisiko tinggi
  • Edukasi berbasis komunitas
  • Kampanye digital melalui platform populer
  • Program kampus seperti seminar dan pemeriksaan gratis

Meski sistemnya kuat, Tiongkok tetap menghadapi tantangan serupa dengan Indonesia:
akses layanan yang belum merata, edukasi yang belum menyentuh semua lapisan masyarakat, dan yang paling sulit adalah lagi-lagi stigma sosial.

Bahkan di era digital, misinformasi masih beredar. Hilda menyinggung konten viral yang mengklaim TB bisa disembuhkan hanya dengan obat herbal, sebuah contoh nyata bagaimana informasi keliru bisa membahayakan.

Melalui diskusi hangat ini, Ruanita Indonesia tidak hanya memperingati Hari TB Sedunia, tetapi juga menghidupkan semangat kolektif untuk melawan TB.

Karena pada akhirnya, perjuangan melawan TB bukan hanya soal obat dan diagnosis, tetapi juga tentang keberanian untuk peduli, memahami, dan bergerak bersama.

“TB bisa disembuhkan, asal kita tidak berhenti di tengah jalan, baik sebagai pasien, tenaga kesehatan, maupun masyarakat,” menjadi pesan yang menggema di akhir sesi.

Selengkapnya tentang diskusi IG LIVE episode Maret dapat disimak di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(IG LIVE)Bijak di Balik Layar: Media Sosial, Kesehatan Mental, dan Realita Perempuan Masa Kini

Di era digital hari ini, batas antara dunia nyata dan dunia maya semakin tipis. Media sosial bukan lagi sekadar ruang berbagi foto atau cerita, tetapi telah menjadi tempat berekspresi, membangun jejaring, bahkan sumber penghidupan, terutama bagi perempuan. Namun, di balik segala peluangnya, media sosial juga menyimpan tekanan yang sering kali tak disadari.

Itulah yang dibahas dalam diskusi Instagram Live Ruanita Indonesia bersama Zukhrufi Syasdawita sebagai host, menghadirkan dua narasumber perempuan inspiratif: Nettie Kurnia, Content Creator yang tinggal di Serbia, dan Carissa Dimilow, psikolog klinis yang menetap di Jerman. Diskusi ini mengajak kita melihat media sosial secara lebih jujur, bukan hanya sisi terangnya, tetapi juga bayangan gelap di balik layar.

Bagi Carissa, media sosial adalah ruang untuk tetap terhubung. Tinggal jauh dari keluarga di Indonesia membuat media sosial menjadi jembatan emosional yang penting. Secara profesional, media sosial juga membuka akses edukasi, termasuk edukasi kesehatan mental, yang dulu terasa jauh dan kaku.

Namun, Carissa mengakui bahwa tekanan dari media sosial adalah sesuatu yang hampir pasti pernah dialami semua orang. Tuntutan untuk selalu terlihat bahagia, produktif, dan sukses sering kali membuat kita lupa bahwa apa yang kita lihat hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang.

Hal senada disampaikan oleh Netti. Menurutnya, media sosial lebih sering menampilkan “yang baik-baik saja”. Influencer atau pengguna media sosial hanya menunjukkan beberapa menit dari 24 jam hidup mereka. Oleh karena itu, menyamakan media sosial dengan realita adalah kesalahan yang kerap berdampak pada kesehatan mental.

Sebagai kreator konten yang sering berbagi tentang kehidupan di Serbia, Netti sangat sadar akan batasan. Ia memilih untuk tidak mengekspos kehidupan pribadi, termasuk keluarganya. Setiap kali akan mengunggah sesuatu, ia selalu bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ini perlu dibagikan? Apakah ini akan bermanfaat ke depannya?

Pengalaman masa lalu, ketika ia melihat kembali unggahan di era Friendster dan Facebook telah membuat Netti lebih reflektif. Apa yang dulu terasa wajar, kini justru tampak berlebihan dan tak relevan. Dari sana, ia belajar bahwa jejak digital bersifat panjang, dan kita perlu bertanggung jawab atas apa yang kita unggah hari ini.

Ia juga menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menyebarkan informasi, terutama di era banjir hoaks dan kecanggihan AI. Salah berbagi informasi bukan hanya menyesatkan orang lain, tetapi juga menjadi beban moral bagi diri sendiri.

Menurut Carissa, dampak media sosial terhadap kesehatan mental sangat besar, terutama bagi generasi muda yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri. Di satu sisi, media sosial memberi ruang berekspresi, akses informasi, dan peluang membangun jaringan. Namun di sisi lain, ia juga memicu overthinking, kecemasan sosial, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan “highlight hidup” orang lain.

Anak muda yang terbiasa mencari validasi melalui likes dan komentar menjadi lebih rentan terhadap rasa tidak cukup. Bahkan, kebahagiaan bisa perlahan bergantung pada respons dunia digital, bukan pada realita yang dijalani.

Dari pengalaman dan sudut pandang psikologi, para narasumber merangkum beberapa prinsip penting:

Versi Nettie Kurnia:

  1. Sadari bahwa media sosial bukan kehidupan nyata.
  2. Batasi waktu penggunaan secara tegas.
  3. Lakukan digital detox lewat aktivitas dunia nyata yang bermakna.

Versi Carissa Dimilow:

  1. Saring konten dan akun yang diikuti.
  2. Buat batas digital, terutama sebelum tidur.
  3. Lakukan check-in dengan diri sendiri: setelah membuka media sosial, apakah perasaan kita lebih ringan atau justru lebih berat?

Media sosial sejatinya hanyalah alat, yang bisa menjadi sarana koneksi, edukasi, dan hiburan. Sebaliknya media sosial justru sumber tekanan dan kecemasan. Perbedaannya terletak pada kesadaran kita sebagai pengguna.

Diskusi IG LIVE setiap bulan yang diselenggarakan ruanita.indonesia menjadi pengingat penting bahwa menjaga kesehatan mental di dunia digital bukan hal yang mustahil, tetapi perlu diperjuangkan. Dengan batas yang jelas, kesadaran diri, dan keberanian untuk kembali terhubung dengan dunia nyata, kita bisa tetap hadir di media sosial tanpa kehilangan diri sendiri.

Simak selengkapnya rekaman diskusi IG LIVE di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(IG LIVE) Bongkar Mitos Seputar Kehamilan: Jangan Asal Percaya!

Pada awal tahun, Ruanita Indonesia mengawali program diskusi Instagram Live dengan tema parenting, khususnya mereka yang sedang hamil atau menantikan kehamilan. Topiknya sederhana tetapi penuh intrik budaya: “Bongkar Mitos Seputar Kehamilan – Jangan Asal Percaya.” Dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, sesi ini mengulas bagaimana mitos kehamilan beredar, bagaimana ia memengaruhi cara kita memandang tubuh perempuan, dan bagaimana ilmu pengetahuan kadang perlu turun tangan untuk menertibkan persepsi yang keliru.

Dua sahabat Ruanita yang bergabung kali ini hadir dari dua negara yang berbeda. Natalia Eka Putri, seorang ibu dan dokter gigi spesialis anak yang kini tinggal di Belanda, dan Merry, seorang ibu rumah tangga yang kini berdomisili di Portugal. Merry juga telah berpengalaman hamil di beberapa negara. Kehadiran keduanya membuka ruang diskusi lintas budaya yang hangat dan informatif.

Salah satu mitos yang langsung dibahas adalah anggapan bahwa setiap kehamilan berarti satu gigi ikut tanggal. Mitos yang terdengar dramatis ini ternyata tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak benar. Natalia menjelaskan bahwa memang ada ibu hamil yang mengalami kehilangan gigi, tetapi jumlahnya tidak sebanyak yang dibayangkan.

Secara statistik, hanya sekitar empat belas hingga dua puluh satu persen ibu hamil yang mengalaminya. Penyebabnya pun bukan karena janin “mengambil kalsium dari gigi ibu,” melainkan karena perubahan hormon selama kehamilan yang memicu pembengkakan gusi, sensitivitas, hingga infeksi yang tidak dikelola dengan baik.

Menurut Natalia, sekitar enam puluh hingga tujuh puluh lima persen ibu hamil mengalami pembengkakan gusi atau gingivitis gravidarum. Kondisi ini membuat gusi mudah berdarah, terasa sensitif, dan rentan mengalami peradangan lebih lanjut.

Jika tidak ditangani, infeksi dapat merambat ke tulang penyangga gigi dan berakhir pada gigi yang goyang hingga tanggal. Lebih jauh lagi, kesehatan gusi ternyata dapat memengaruhi hasil kehamilan. Beberapa penelitian menemukan hubungan antara infeksi gusi kronis dengan kelahiran prematur serta bayi dengan berat badan rendah.

Hal yang menarik, di tengah semua perubahan tubuh tersebut, perilaku makan ibu hamil juga ikut berubah. Rasa lapar yang muncul lebih sering, selera yang meningkat terhadap makanan manis, serta kebutuhan emosional untuk mencari kenyamanan melalui makanan adalah bagian dari respon hormonal tubuh.

Fenomena “ngidam” yang sering dianggap sekadar budaya ternyata memiliki penjelasan biokimia yang jelas. Namun ketika mengidam itu berujung pada konsumsi gula berlebih, risiko gigi berlubang pun ikut meningkat. Meski demikian, Natalia menegaskan bahwa kehamilan bukanlah penyebab gigi melemah. Perlu diperhatikan hal yang menentukan adalah bagaimana ibu hamil menjaga dan merawat kesehatan mulutnya.

Di Belanda, pemeriksaan gigi justru dianjurkan secara berkala selama kehamilan. Perawatan seperti pembersihan karang gigi, penambalan, hingga ronsen dapat dilakukan dengan aman sepanjang memperhatikan tahap kehamilan dan perlindungan yang memadai.

Kesadaran ini masih belum merata di banyak negara, termasuk Indonesia, di mana sebagian ibu hamil cenderung menghindari dokter gigi karena ketakutan atau mitos yang diwariskan keluarga.

Setelah membahas dari perspektif medis, sesi IG Live beralih ke pengalaman personal lewat cerita Merry. Pengalamannya menarik karena ia menjalani kehamilan di lingkungan dan negara yang berbeda, dari Singapura hingga Arab Saudi dan kemudian Portugal.

Merry mengaku tidak terlalu mengikuti mitos-mitos kehamilan, tetapi ia beberapa kali bersentuhan dengan saran-saran unik dari keluarga, teman, maupun lingkungan budaya tempat ia tinggal.

Salah satu pengalaman yang masih melekat dalam ingatannya terjadi ketika ia hamil di Singapura. Menjelang proses persalinan, bayinya tiba-tiba berhenti bergerak dalam waktu yang cukup lama. Dokter menyarankan untuk segera datang ke rumah sakit pada malam hari.

Setelah pemeriksaan detak jantung, perawat memberikan segelas air dingin dan beberapa saat kemudian bayi kembali merespon dengan tendangan. Pengalaman sederhana ini mematahkan salah satu larangan populer di Indonesia yang menyebutkan bahwa ibu hamil tidak boleh minum air dingin.

Berbeda dengan Singapura, ketika Merry menjalani kehamilan di Arab Saudi, pendekatannya jauh lebih medis dan minim omongan mitos. Di sana, pemeriksaan darah berkala menjadi standar, sehingga perjalanan kehamilannya terasa lebih klinis dan terstruktur.

Justru ketika Merry pulang ke Indonesia yang paling terasa adalah kehadiran mitos yang lebih bernuansa mistis: larangan keluar rumah pada malam hari, larangan mengikuti pemakaman, hingga saran membawa benda tajam saat berada di tempat tertentu untuk menghindari gangguan makhluk halus. Merry menyikapinya dengan santai. Baginya, penting untuk tetap menghargai kekhawatiran keluarga, namun juga penting menjaga batas agar ibu hamil tidak justru terbebani secara mental.

Diskusi ditutup dengan catatan penting bahwa mitos kehamilan tidak pernah muncul dari ruang kosong. Ia tumbuh dari budaya, ketakutan, dan warisan informasi turun-temurun yang terkadang dimaksudkan untuk menjaga, tetapi tidak jarang justru membingungkan.

Di sisi lain, ilmu pengetahuan hadir untuk membantu ibu hamil membedakan antara kekhawatiran yang perlu dan yang tidak perlu. Perpaduan keduanya, yakni kebijaksanaan budaya dan pengetahuan medis, merupakan bekal penting bagi perempuan yang sedang menjalani kehamilan.

Melalui program IG Live ini, terlihat jelas bahwa kehamilan bukan hanya proses biologis, tetapi juga pengalaman sosial yang membentuk cara perempuan mengenali tubuhnya sendiri. Dan di tengah segala suara yang datang dari berbagai arah, perempuan berhak memilih informasi yang paling membuatnya tenang, sehat, dan berdaya.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(IG LIVE SPESIAL) Awal Tahun, Resolusi, dan Kesehatan Mental: Belajar Lebih Selaras dengan Diri

Memasuki awal tahun 2026, Ruanita berkolaborasi dengan Kesmenesia menghadirkan IG Live Spesial yang mengangkat topik yang sangat relevan bagi banyak orang: resolusi awal tahun dan kaitannya dengan kesehatan mental. Diskusi ini dipandu oleh Nadia, Co-Founder Kesmenesia sekaligus konselor, dan menghadirkan dua narasumber dengan latar belakang dan perspektif yang berbeda namun saling melengkapi.

Hadir sebagai pembicara adalah Andi Pratiwi, seorang psikolog klinis dan praktisi Brainspotting yang berdomisili di Brisbane, Australia, dan Sven Juda Co-Founder Kesmenesia, yang juga merupakan mahasiswa S2 Psikologi di Maastricht University, Belanda, dan saat ini berada di Jerman. Diskusi lintas negara ini memberikan sudut pandang yang kaya mengenai resolusi, motivasi, serta tekanan sosial yang kerap muncul di awal tahun.

Resolusi Awal Tahun: Antara Harapan dan Realita

Dalam pembukaannya, Nadia menyoroti bagaimana resolusi awal tahun sering kali menjadi tradisi tahunan. Namun, di balik semangat “awal yang baru”, tidak sedikit orang justru merasa terbebani ketika resolusi tersebut tidak tercapai.

Andi menjelaskan bahwa resolusi kerap dipandang sebagai outcome yang kaku, misalnya target berat badan atau pencapaian tertentu. Cara pandang ini berisiko memunculkan jarak antara actual self dan ideal self, yang pada akhirnya dapat memicu stres dan rasa gagal.

“Resolusi akan lebih sehat untuk mental jika dilihat sebagai intensi, bukan sekadar target,” ujar Andi. Menurutnya, fokus pada nilai (values) seperti kesehatan, keseimbangan hidup, atau self-love jauh lebih berkelanjutan, dibandingkan target yang terlalu spesifik dan kaku.

Hal ini juga berlaku dalam konteks kesehatan mental. Alih-alih menetapkan resolusi seperti “berhenti cemas” atau “tidak boleh overthinking”, Andi menyarankan untuk menggeser fokus ke arah membangun relasi yang lebih penuh welas asih dengan diri sendiri. Menurutnya, itu adalah bagian alami dari manusia dan tidak bisa dihapus begitu saja.

Mengapa Resolusi Sering Gagal di Tengah Jalan?

Dari perspektif psikologi industri organisasi, Sven menyoroti fenomena honeymoon phase dalam resolusi awal tahun, di mana semangat tinggi di awal sering kali meredup dalam beberapa minggu. Salah satu penyebab utamanya adalah target yang tidak realistis dan perencanaan yang terlalu abstrak.

“Kita sering punya niat besar, tapi tidak diikuti dengan rencana yang konkret,” jelas Sven. Ia menekankan pentingnya concrete planning, seperti menentukan hari dan frekuensi aktivitas, agar resolusi tidak berhenti sebagai wacana.

Namun, Sven juga mengingatkan bahwa konsistensi tidak harus identik dengan kesempurnaan. Ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan, misalnya karena sakit atau kondisi tertentu, hal tersebut tidak serta-merta berarti kegagalan. Di sinilah peran self-compassion menjadi krusial.

Menariknya, Sven juga membagikan temuan riset bahwa membangun kebiasaan baru tidak sesingkat yang sering dibayangkan. Dibutuhkan waktu antara 2–3 bulan, bahkan hingga 200 hari untuk kebiasaan yang lebih kompleks. Ekspektasi yang terlalu tinggi dalam waktu singkat justru dapat melemahkan motivasi.

Konsistensi Lebih Penting daripada Kesempurnaan

Andi menambahkan bahwa dalam membangun resolusi, prinsip konsistensi pelan-pelan jauh lebih sehat dibandingkan tuntutan untuk langsung sempurna. Target yang terlalu tinggi berisiko membuat seseorang jatuh lebih sakit ketika gagal mencapainya.

Diskusi ini menekankan bahwa resolusi sebaiknya dipandang sebagai proses belajar. Ketika tidak berjalan sesuai rencana, itu bukan akhir, melainkan bagian dari pembelajaran dan penyesuaian diri.

Hidup di Luar Negeri: Perspektif Baru tentang Produktivitas

Pada segmen kedua, diskusi bergeser ke pengalaman hidup sebagai perantau di luar negeri dan pengaruhnya terhadap kesehatan mental. Andi membagikan pengalamannya di Brisbane, di mana budaya hidup terasa lebih santai dan present. Jam kerja yang jelas, kebiasaan pulang tepat waktu, serta keberanian mengambil cuti saat sakit menjadi pelajaran berharga baginya.

“Di sini aku belajar bahwa dunia tidak harus selalu terburu-buru,” ujar Andi. Ia melihat bahwa produktivitas tidak selalu berarti bekerja lebih lama, tetapi mampu menjaga keseimbangan antara kerja, kesehatan, dan kehidupan pribadi.

Hal ini diamini oleh Nadia, yang menyoroti bagaimana kemampuan menikmati momen sehari-hari, yang sering dianggap membosankan, tetapi justru merupakan seni hidup yang sering terlupakan.

Menutup Awal Tahun dengan Lebih Penuh Kesadaran

IG Live Spesial Ruanita dan Kesmenesia ini menjadi pengingat bahwa resolusi awal tahun tidak harus menjadi sumber tekanan. Dengan memahami nilai diri, membangun motivasi internal, membuat rencana yang realistis, serta mempraktikkan self-compassion, resolusi dapat menjadi alat untuk tumbuh, bukan untuk menyalahkan diri.

Awal tahun bukan tentang menjadi versi “sempurna” dari diri kita, melainkan tentang berjalan lebih selaras dengan diri sendiri, satu langkah kecil pada satu waktu.

Ikuti terus konten reflektif dan diskusi kesehatan mental lainnya hanya di www.ruanita.com dan simak selengkapnya di kanal YouTube Kesmenesia berikut. Pastikan SUBSCRIBE ya untuk mendukung kami.

(IG LIVE) Kesedihan dan Kesepian di Hari Raya: Ruanita Indonesia Bahas Realita Emosional Perayaan di Perantauan

Ruanita Indonesia kembali menggelar program bulanan Diskusi IG Live episode Desember 2025 dengan tema yang jarang disentuh namun sangat relevan: kesedihan dan kesepian di hari raya.

Gelaran rutin bulanan ini menghadirkan percakapan santai tetapi penuh makna bersama para narasumber yang memiliki pengalaman hidup di luar negeri, khususnya dalam merayakan hari-hari besar tanpa keluarga dan dalam konteks budaya yang berbeda.

Dipandu oleh Bernadeta Dwiyani, Praktisi Kesehatan Mental di Spanyol dan Co-founder Kesmenesia, sesi ini menghadirkan dua pembicara: Firman, psikolog klinis sekaligus co-founder Kesmenesia yang menetap di Jerman dan Vero, pengajar BIPA yang tinggal di Tiongkok

Topik ini dianggap penting karena di tengah hingar-bingar Natal dan Tahun Baru, sempat terlupakan bahwa perayaan tidak selalu identik dengan kebahagiaan. Banyak orang merasakan tekanan emosional, kehilangan, bahkan isolasi; terutama mereka yang tinggal jauh dari keluarga.

Follow us

Ketika diminta menggambarkan suasana Natal di Tiongkok, Vero menjelaskan bahwa perayaan tersebut tidak menjadi bagian dari tradisi mayoritas. Ia menerangkan bahwa: Natal lebih dirayakan sebatas simbol dan dekorasi di pusat perbelanjaan. Selain itu, esensi dan nilai spiritualnya kurang dipahami oleh masyarakat lokal. Perayaan agama di Tiongkok cenderung diatur ketat oleh pemerintah, sehingga umat harus merayakan secara terbatas.

Meski begitu, ia mencatat bahwa dalam beberapa tahun terakhir terjadi perubahan: dekorasi Natal mulai terlihat lebih terbuka dan kehadiran orang asing meningkat sehingga toleransi terhadap perayaan semakin membaik.

Namun, ketika bicara tentang pengalaman emosional, Vero tak menampik adanya rasa rindu kampung halaman: kerinduan pada masakan khas, keluarga, serta kegiatan seperti ibadah bersama menjadi pemicu kesedihan yang kerap muncul setiap menjelang hari raya.

Dalam kesempatan ini, Firman memberi penjelasan mendalam tentang mengapa hari raya dapat memicu rasa sedih atau kesepian.

Menurut Firman ada berbagai faktor, antara lain:

  • situasi hari raya sebenarnya netral, namun makna yang kita berikan bersifat personal;
  • ekspektasi sosial, termasuk gambaran ideal yang kita lihat dari iklan, budaya, dan media sosial—membentuk tekanan bahwa kita harus bahagia;
  • kehilangan, proses berduka, atau pengalaman masa lalu dapat muncul kembali ketika rutinitas berhenti dan kita punya waktu untuk merenung;
  • rasa kesepian tidak selalu berarti sendirian secara fisik—bahkan di tengah keluarga pun, seseorang dapat merasa hampa.

Firman menegaskan bahwa rasa sedih di hari raya adalah sesuatu yang normal, bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, momen libur dapat menjadi kesempatan untuk: memproses emosi yang selama ini terpendam, mempertanyakan ulang idealisasi perayaan, memahami kebutuhan pribadi, menetapkan batasan (boundaries), dan mencari keseimbangan antara koneksi dan waktu untuk diri sendiri.

Dalam diskusi, kedua narasumber menyentuh isu yang dialami banyak pengikut Ruanita Indonesia: merayakan hari raya sebagai migran atau ekspatriat.

Tantangannya meliputi: perbedaan budaya dan norma sosial, keterbatasan kebebasan beragama, minimnya akses ke komunitas, jarak fisik dari keluarga, dan kesepian yang muncul karena “perbandingan” dengan suasana kampung halaman

Firman mendorong audiens untuk: menerima bahwa tidak semua emosi harus ceria, mengenali fase adaptasi yang sedang dijalani, membuka diri terhadap komunitas lokal atau orang-orang Indonesia di negeri tersebut, fleksibel antara kebutuhan pribadi dan sosialisasi

Diskusi IG Live ini menjadi ruang aman bagi migran, mahasiswa, dan pekerja perantauan untuk saling berbagi pengalaman. Tema yang jarang diangkat ini justru menyoroti sisi kemanusiaan hari raya: bahwa tidak semua orang bahagia, dan itu wajar.

Perayaan bukan sekadar simbol, tetapi tentang koneksi, keseimbangan, dan penerimaan diri.

Simak rekaman selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung:

(IG LIVE SPESIAL) Memutus Stigma dan Meningkatkan Solidaritas di Hari AIDS Sedunia

Pada 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia, sekaligus masih menjadi rangkaian kampanye digital 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Sebelum diskusi dimulai, Ruanita Indonesia turut menyampaikan belasungkawa atas bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

Acara ini dipandu oleh Rufi, begitu disapa untuk Zukhrufi Syasdawita dari Ruanita Indonesia, menghadirkan dua narasumber perempuan inspiratif:

  • Chichi Betaubun – aktivis HIV/AIDS Yapeda, Papua, yang kini tengah menempuh studi S2 di Swiss.
  • Ayu Oktariani – aktivis HIV dan penggerak isu perempuan, dikenal lewat platform edukasinya di media sosial.

Memulai diskusi, Chichi memberikan gambaran situasi HIV & AIDS di Papua. Ia menjelaskan bahwa di kota-kota besar seperti Jayapura dan Timika, edukasi HIV relatif mudah dijangkau berkat dukungan sekolah, fasilitas publik, dan komunitas.

Namun tantangan terbesar masih muncul di wilayah pedalaman dan kampung-kampung, di mana pembicaraan tentang HIV masih dianggap tabu. Banyak masyarakat masih mengaitkan HIV dengan kutukan, penyakit kotor, atau perilaku “nakal”. Tidak sedikit yang tidak menyadari bahwa banyak anak terlahir dengan HIV karena penularan dari orang tua.

Di sisi lain, misinformasi masih menjadi hambatan serius. Konten-konten menyesatkan tentang penularan HIV, termasuk isu lama seputar jarum suntik di makanan/minuman—masih dipercaya sebagian masyarakat, meski tidak berdasar.

“Informasi menyesatkan ini bertahan bertahun-tahun dan masih dipercaya hingga kini,” ujar Chichi “Karena itu edukasi tidak boleh berhenti.”

Tinggal di Swiss memberikan perspektif baru bagi Chichi. Ia menuturkan bahwa negara tersebut kini memiliki perlindungan hukum kuat bagi orang yang hidup dengan HIV.

Follow us for more

“Kesadaran publik tinggi, informasinya tepat, dan pemerintah memastikan tidak ada hambatan hukum bagi orang yang hidup dengan HIV,” jelasnya.

Namun ia menekankan bahwa hal terpenting tetaplah kehadiran komunitas, hal yang juga sudah kuat di Papua, seperti kelompok dukungan Melati Support Group.

Ayu kemudian berbagi kisah personalnya. Tahun depan menandai 17 tahun ia hidup dengan HIV, setelah terinfeksi dari suami yang menggunakan jarum suntik tidak steril. Ia menekankan bahwa HIV tidak mengenal batas perilaku, karena semua orang memiliki potensi risiko.

Awalnya, ia tidak punya niat menjadi aktivis. Ia hanya ingin bertahan, mencari informasi, dan menghindari depresi. Kebiasaan membaca sejak kecil membuatnya cepat memahami HIV secara ilmiah, bukan melalui stigma.

Bergabung dengan kelompok dukungan sebaya menjadi titik balik baginya.

“Di sana saya sadar bahwa nilai saya sebagai manusia tidak berkurang sedikit pun. Saya tetap bisa berkarya, sekolah, bekerja, punya mimpi,” tuturnya.

Dari pengalaman itu, ia mulai terjun ke advokasi kebijakan, isu perempuan, serta menyediakan ruang aman bagi komunitas melalui kedai kopi miliknya di Bandung.

Ayu memaparkan tantangan berlapis yang dihadapi perempuan dengan HIV, terutama karena budaya patriarkal yang masih kuat:

1. Stigma lebih berat dibanding laki-laki

Perempuan dengan HIV lebih sering dianggap penyebab masalah atau diasosiasikan dengan perilaku buruk, meski kenyataannya banyak terinfeksi dari pasangan.

2. Minimnya kontrol atas tubuh sendiri

Keputusan tentang menikah, hamil, melahirkan, hingga menyusui sering diambil oleh keluarga atau masyarakat, bukan oleh perempuan itu sendiri.

3. Beban pengasuhan ganda

Perempuan dianggap penanggung jawab utama kesehatan keluarga, sehingga sering mengabaikan kesehatannya sendiri.

4. Risiko kekerasan dan penolakan

Beberapa perempuan mengalami kekerasan atau penolakan setelah diagnosis, terutama jika pasangan menolak tes atau tidak menerima kenyataan.

“HIV itu memiskinkan, bukan hanya materi, tapi juga moral dan batin,” ujarnya.
“Karena itu penanganannya harus holistik, tidak bisa hanya dianggap sebagai persoalan medis.”

HIV tidak bisa dikenali dari fisik seseorang.

Satu-satunya cara mengetahui status HIV adalah tes darah.

Menebak-nebak status HIV seseorang berdasarkan bentuk tubuh, kulit, atau penampilan termasuk bentuk stigma yang perlu dihentikan.

Yang bisa dilakukan masyarakat adalah:

  • mencari informasi yang benar,
  • menghindari asumsi, dan
  • mendorong orang berisiko untuk tes tanpa menghakimi.

Diskusi IG Live Ruanita Indonesia ini menjadi pengingat penting bahwa perjuangan melawan HIV & AIDS bukan hanya soal obat, tetapi juga tentang kemanusiaan, empati, dan ruang aman bagi setiap orang.

Edukasi berkelanjutan, kebijakan inklusif, serta komunitas yang solid menjadi kunci untuk menciptakan masyarakat yang bebas stigma dan diskriminasi.

Selamat Hari AIDS Sedunia.
Mari bersama memutus stigma dan menguatkan solidaritas.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung keberlangsungan kami.

(IG LIVE SPESIAL) Pengalaman dan Tantangan Mendampingi Perempuan Penyintas Kekerasan di Mancanegara

Dalam rangka memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Kesmenesia, organisasi profesi tenaga kesehatan mental orang Indonesia di Eropa, mengadakan sesi IG LIVE bertema “Pengalaman Pendampingan Perempuan Penyintas Kekerasan di Luar Negeri.” Acara ini disiarkan dari tiga negara berbeda: Spanyol, Jerman, dan Inggris, mempertemukan perspektif lintas-budaya mengenai isu kekerasan berbasis gender, terutama yang dialami perempuan Indonesia di luar negeri.

Acara dipandu oleh Bernadia Dwiyani, Co-founder Kesmenesia yang kini bermukim di Spanyol. Dua narasumber yang hadir adalah Mala Holland, seorang psychotherapist di Inggris yang bekerja dengan perempuan dan anak penyintas kekerasan, serta Nelden Djakababa-Gericke, pendamping penyintas sekaligus praktisi kesehatan mental di Jerman.

Bernadia mengingatkan bahwa sejak 1993, PBB telah menetapkan 25 November sebagai International Day for the Elimination of Violence Against Women. Ia juga menyoroti laporan kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia yang pada April 2023 mencapai 5.949 kasus, angka yang menunjukkan betapa seriusnya persoalan ini.

Menurut Mala, hari ini menjadi pengingat bahwa masih banyak perempuan, di sekitar kita dan di seluruh dunia, yang hidup dalam ketakutan. “Kesetaraan gender bukan hanya soal hak yang sama, tapi juga soal rasa aman yang sama,” katanya.

Budaya yang menormalkan penderitaan perempuan membuat kekerasan sering dianggap wajar atau bahkan perlu, padahal perempuan membutuhkan ruang aman untuk menjadi diri mereka sendiri tanpa rasa takut.

Nelden menambahkan bahwa fakta kita masih membutuhkan hari peringatan ini menunjukkan bahwa kekerasan berbasis gender belum selesai. “Kalau kita benar-benar setara, hari seperti ini sudah tidak diperlukan lagi,” ujarnya.

Ia menyoroti bahwa sejak kecil, perempuan dibesarkan dengan kewaspadaan berlebih atas keselamatan diri, sebuah beban yang tidak dialami laki-laki secara setara.

Mala, yang bekerja di sektor amal di Inggris, mengungkapkan bahwa kekerasan terhadap perempuan hampir selalu berdampak pada anak.

Trauma yang dialami ibu akan memengaruhi cara mereka mengasuh, cara mengambil keputusan, hingga persepsi anak terhadap relasi dan keselamatan. Sejak 2022, anak yang menyaksikan kekerasan pada ibunya kini diakui sebagai victim of domestic abuse, meski tidak mengalami kekerasan secara langsung.

Ia menjelaskan bahwa siklus kekerasan tidak otomatis berhenti ketika hubungan berakhir. Banyak pelaku menggunakan jalur hukum, finansial, atau tekanan sosial untuk terus mengontrol mantan pasangan. “Kadang kekerasan justru semakin meningkat setelah hubungan itu putus,” jelasnya.

Mala memaparkan bahwa perempuan migran menghadapi lapisan kesulitan tambahan, seperti:

  • Hambatan bahasa, yang membuat mereka sulit menceritakan pengalaman atau memahami hak hukum.
  • Ketidakpastian status tinggal, yang sering dimanfaatkan pelaku untuk mengancam.
  • Minimnya jaringan sosial, terutama bila tinggal di kota kecil.
  • Tekanan budaya dan agama, yang kadang mendorong perempuan kembali ke hubungan berbahaya demi menjaga “keutuhan keluarga”.

Lebih jauh, ia menyoroti adanya normalisasi kekerasan dalam sebagian keluarga migran. Bagi sebagian orang, kekerasan dipandang sebagai disiplin rumah tangga, sehingga perempuan tidak mengenali bahwa mereka sedang mengalami relasi berbahaya.

Saat ditanya bagaimana mencegah kekerasan terjadi kembali, Mala menekankan satu hal penting: “Pencegahan bukan tanggung jawab korban. Tanggung jawab ada pada pelaku.”

Ia menolak narasi yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang harus “lebih hati-hati”.

Follow us

Menurutnya, pelaku yang harus mengakui perbuatannya, mengikuti terapi, dan berkomitmen berubah.

Namun, bagi penyintas, yang paling penting adalah:

  • Mengetahui nomor bantuan darurat
  • Memahami batas dan red flags
  • Menyadari bahwa permintaan maaf pelaku tidak selalu berarti perubahan
  • Mengutamakan keselamatan diri dan anak

Menurut Mala, sebelum memulai terapi, penyintas harus merasa aman secara eksternal. Pemulihan tidak mungkin terjadi jika mereka masih berada dalam lingkungan berbahaya.

Beberapa langkah penting:

  1. Keamanan fisik: tempat tinggal aman, akses pangan, kesehatan, dan pendidikan anak.
  2. Keamanan hukum: akses terhadap shelter, bantuan hukum, atau sistem perlindungan setempat.
  3. Keamanan emosional: proses terapi yang membantu penyintas menemukan kembali rasa percaya diri dan martabat.

“Terapi adalah proses membangun kembali keamanan dari dalam,” kata Mala. Namun fondasinya tetap pada keamanan eksternal yang stabil.

Acara ditutup dengan penegasan bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan hanya isu personal, tetapi persoalan sosial yang berdampak lintas generasi. Trauma perempuan hari ini dapat membentuk masa depan anak-anak mereka, dan pada akhirnya masyarakat secara keseluruhan.

Melalui dialog lintas negara ini, Ruanita Indonesia dan Kesmenesia kembali menegaskan komitmen untuk menyediakan ruang aman bagi penyintas dan meningkatkan kesadaran publik mengenai kekerasan terhadap perempuan, terutama dalam konteks migrasi.

Simak selengkap di kanal YouTube Kesmenesia dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(IG LIVE) Cerita Ibu Baru dari Prancis & Dukungan untuk Ibu Menyusui Indonesia

Ruanita Indonesia kembali mengadakan diskusi Instagram Live pada edisi parenting pada bulan November dengan tema “Parenting: Berbagi Pengalaman dan Pengetahuan Menyusui”.

Acara ini dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, Relawan Ruanita Indonesia dan menghadirkan dua narasumber inspiratif: Caroline Shinta, relawan Ruanita Indonesia yang kini tinggal di Prancis dan baru saja menjadi ibu baru, serta Mia Ilmiawati Sadah, konselor menyusui sekaligus pendiri Bubu Institute.

Selama kurang lebih 40 menit, diskusi berlangsung hangat dan penuh wawasan, membahas tantangan, kebahagiaan, serta dukungan yang dibutuhkan para ibu dalam proses menyusui. Mengawali sesi berbagi, Caroline menceritakan pengalamannya menjadi ibu baru di Prancis tanpa kehadiran keluarga besar.

“Kalau di Indonesia ada budaya gotong royong untuk membesarkan anak, di sini saya dan pasangan benar-benar mengurus bayi 100% sendiri,” ujar Caroline.

Ia menggambarkan masa-masa awal menyusui sebagai periode yang sangat menantang, seperti: puting lecet, bayi kesulitan menghisap, kurang tidur, dan rasa lelah tanpa henti.

“Setiap dua jam sekali harus menyusui, lalu memompa ASI ketika bayi tidur. Rasanya non-stop dan melelahkan,” kenangnya.

Namun di balik tantangan itu, ia juga merasakan kehangatan luar biasa dari momen kedekatan dengan bayinya.

“Meski melelahkan, ada rasa bahagia yang tidak tergantikan karena bisa memiliki kontak fisik dan ikatan emosional yang kuat dengan bayi,” tambahnya.

Caroline juga mengapresiasi sistem dukungan pemerintah Prancis terhadap ibu menyusui. Menurutnya, layanan laktasi sudah terintegrasi dalam sistem kesehatan. Sebelum melahirkan, calon ibu diwajibkan mengikuti kelas laktasi bersama bidan, dan setelah melahirkan mereka mendapat pendampingan 24 jam di rumah sakit.

“Ada lembaga milik pemerintah bernama PMI (Protection Maternelle et Infantiles) yang mirip posyandu di Indonesia. Mereka memberikan layanan konsultasi gratis dan mudah diakses, bahkan ada bidan yang datang ke rumah untuk kontrol,” jelasnya.

Narasumber kedua, Mia Ilmiawati Sadah, berbagi kisah di balik pendirian Bubu Institute, platform edukasi menyusui berbasis media sosial.

“Saya berlatar belakang tenaga kesehatan dan ingin terus berkontribusi untuk ibu dan anak meski sering berpindah negara karena pekerjaan suami. Dari situ lahir ide untuk membuat wadah edukasi yang fleksibel dan mudah diakses,” tutur Mia.

Menurutnya, kebutuhan akan konselor menyusui di Indonesia masih tinggi. Kurikulum kesehatan di Indonesia belum memberi porsi cukup besar untuk edukasi menyusui, sehingga banyak tenaga kesehatan belum memiliki kompetensi khusus di bidang ini.

Selain mengelola Bubu Institute, Mia juga aktif di Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)—organisasi yang menyediakan layanan konseling dan dukungan bagi ibu menyusui di seluruh Indonesia.

“Kadang ibu bukan tidak tahu caranya, tapi butuh teman dan penguatan. Dukungan emosional sangat penting agar ibu percaya diri dan tidak merasa sendirian,” ujarnya.

Baik Caroline maupun Mia sepakat bahwa keberhasilan menyusui tidak hanya bergantung pada ibu, melainkan juga dukungan lingkungan.

Caroline berharap masyarakat dapat lebih menghargai perjuangan ibu menyusui. Sementara itu, Mia menekankan pentingnya implementasi kebijakan yang sudah ada.

“Secara nasional, kebijakan dukungan menyusui sudah banyak, termasuk cuti melahirkan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2024. Tapi yang penting sekarang adalah penerapannya, di kantor, di daerah, di lingkungan kerja,” tegasnya.

Mia juga mengingatkan bahwa menyusui adalah tanggung jawab bersama. Menutup sesi diskusi, Caroline berpesan agar para ibu mempercayai diri sendiri dan menikmati proses menyusui tanpa tekanan.

Diskusi IG Live Ruanita Indonesia adalah program diskusi setiap bulan yang memanfaatkan ruang virtual seperti instagram untuk memberikan banyak inspirasi dan pengetahuan baru dari berbagai sudut pandang pengalaman, pengetahuan, dan praktik baik.

Diskusi IG LIVE pada bulan November ini bercerita pentingnya dukungan sosial, emosional, dan struktural bagi ibu menyusui. Dari kisah Caroline di Prancis hingga perjuangan Mia di Indonesia, semuanya menegaskan satu hal penting: menyusui adalah perjalanan yang membutuhkan empati, edukasi, dan kebersamaan.

Simak selengkapnya program diskusi IG LIVE di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami: