(CERITA SAHABAT SPESIAL) Tangan Perempuan, Napas Hutan: Cerita dari Balik Konservasi Orangutan

Di bulan Agustus ini, program video podcast cerita sahabat spesial yang hadir setiap bulan menayangkan tema yang spesial dalam peringatan Hari Orangutan Sedunia, setiap 19 Agustus. upaya menjaga alam sering kali identik dengan kerja lapangan yang berat dan didominasi oleh laki-laki. Namun, di balik itu semua, ada pendekatan yang pelan namun kuat, tumbuh dari ruang yang selama ini kerap terabaikan, yakni ruang perempuan. Bagi Francisca Ariantiningsih, perubahan besar dalam konservasi justru berakar dari dalam rumah.

Francisca lahir dan besar di Manokwari, Papua. Ketertarikannya pada dunia satwa liar sudah tumbuh sejak masa kuliah, ketika ia mulai melakukan penelitian terkait kehidupan satwa dan habitatnya. Ketertarikan itu membawanya melanjutkan studi hingga ke Australia, dan kini ia tengah menempuh pendidikan doktoral di Rutgers University, Amerika Serikat. Di sela studinya, ia tetap aktif bekerja di sebuah lembaga konservasi yang berfokus pada penyelamatan orangutan dan habitatnya di Sumatera.

Baginya, konservasi tidak pernah sesederhana melindungi satu spesies. Orangutan memang sering dijadikan simbol atau pintu masuk untuk meningkatkan kesadaran publik, tetapi sesungguhnya yang dijaga adalah keseluruhan keanekaragaman hayati di dalam suatu ekosistem. Hutan, satwa, dan manusia adalah satu kesatuan yang saling terhubung. Karena itu, pendekatan konservasi tidak bisa hanya berhenti pada perlindungan satwa, tetapi harus menyentuh aspek sosial, ekonomi, hingga budaya masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Pengalaman Francisca bekerja bersama lembaga konservasi lokal di Sumatera memperkuat keyakinannya akan pentingnya peran masyarakat setempat. Lembaga tersebut lahir dari inisiatif anak-anak muda lokal sejak awal tahun 2000-an, dan hingga kini tetap bertumpu pada kekuatan sumber daya manusia setempat. Mereka percaya bahwa masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan yang seharusnya menjadi aktor utama dalam upaya pelestarian. Tradisi, pengetahuan lokal, dan hubungan turun-temurun dengan alam menjadi fondasi yang tidak tergantikan.

Di tengah perjalanan itu, muncul satu pertanyaan penting yang kemudian mengubah arah pendekatan program: mengapa perempuan? Dalam banyak komunitas di Indonesia, ruang perempuan untuk terlibat dalam kegiatan konservasi sering kali terbatas oleh norma dan budaya. Namun di sisi lain, perempuan memegang peran yang sangat besar di dalam keluarga. Mereka bukan hanya pengelola rumah tangga, tetapi juga pendidik pertama bagi anak-anaknya. Ketika pengetahuan tentang konservasi diberikan kepada perempuan, nilai-nilai itu tidak berhenti pada satu individu, melainkan mengalir ke generasi berikutnya.

Dari pemahaman inilah lahir berbagai inisiatif yang secara khusus melibatkan perempuan. Salah satunya adalah pembentukan kelompok restorasi ekosistem berbasis perempuan. Dalam program ini, perempuan desa dilibatkan secara langsung dalam proses pembibitan, penanaman, hingga perawatan tanaman. Mereka bahkan menggunakan gedebok pisang sebagai media tanam, menggantikan polybag plastik yang selama ini umum digunakan. Pendekatan ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga dekat dengan keseharian mereka.

Seiring waktu, dampak dari program ini melampaui tujuan awalnya. Keterlibatan perempuan dalam kegiatan restorasi ternyata juga membuka peluang ekonomi baru. Bagi sebagian perempuan, terutama mereka yang kehilangan suami sebagai tulang punggung keluarga, program ini menjadi jalan untuk bertahan dan bangkit. Mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga penghasilan yang memungkinkan mereka memenuhi kebutuhan keluarga, bahkan menyekolahkan anak hingga jenjang yang lebih tinggi.

Perjalanan tersebut kemudian berkembang ke pendekatan lain yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu pengembangan kebun rumah atau home garden. Melalui program ini, perempuan didorong untuk memanfaatkan lahan kecil di sekitar rumah guna menanam kebutuhan pangan keluarga. Hasilnya tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan nutrisi, tetapi juga bisa dijual jika ada kelebihan. Dalam konteks masyarakat yang ruang geraknya terbatas, pendekatan ini menjadi solusi yang relevan sekaligus memberdayakan.

Bagi Francisca, pendekatan terhadap perempuan bukan sekadar strategi alternatif, melainkan kunci penting dalam keberhasilan konservasi jangka panjang. Ia melihat bahwa ketika perempuan diberi ruang yang tepat, mereka mampu menjadi penggerak perubahan yang efektif. Di tengah dominasi laki-laki dalam isu perlindungan kawasan dan satwa, pendekatan berbasis perempuan justru membuka pintu baru yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, konservasi tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terkait dengan kehidupan manusia dalam berbagai dimensinya. Apa yang dilakukan setiap hari, sekecil apa pun, memiliki dampak terhadap lingkungan. Kebiasaan sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik atau membawa tas belanja sendiri menjadi bagian dari upaya menjaga alam yang lebih besar.

Cerita Francisca mengingatkan bahwa harapan untuk masa depan lingkungan tidak selalu datang dari langkah besar atau kebijakan besar. Ia bisa tumbuh dari rumah, dari halaman kecil, dari tangan perempuan yang dengan sabar menanam, merawat, dan mengajarkan. Di sanalah, masa depan konservasi perlahan dibangun dengan cara yang mungkin sederhana, tetapi penuh makna.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya program cerita sahabat spesial episode Agustus 2026 di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Di Ujung Dunia, Anak-Anakku Tumbuh Tangguh

Halo, Sahabat Ruanita. Aku Aini Hanafiah. Saat ini aku tinggal di kota Bergen, Norwegia, bersama suami dan dua anak perempuan kami. Si sulung berusia 15 tahun, si bungsu 5 tahun. Kami sudah berpindah-pindah negara: mulai dari Malaysia, Amerika Serikat, hingga akhirnya menetap di Norwegia. Di sini, aku sedang menempuh pendidikan S2. Sebelumnya, aku bekerja sebagai perawat dan asisten guru TK.

Perjalanan keluarga kami bermula ketika aku ikut suami merantau ke Malaysia setelah menikah. Anak pertama kami lahir di sana. Setelah lima tahun, kami pindah ke Tromsø, sebuah kota kecil di lingkar Kutub Utara. Kami juga sempat tinggal di New Brunswick, Amerika Serikat, sebelum akhirnya kembali ke Norwegia dan menetap di Bergen.

Saat pindah ke Tromsø, si sulung baru berusia 2,5 tahun. Sebelumnya kami tinggal berpindah-pindah antara Penang dan Jakarta. Karena belum pernah masuk daycare atau playgroup, dia tidak terlalu memiliki keterikatan sosial. Jadi, tidak banyak reaksi ketika berpindah tempat. Tapi pindah ke Tromsø berbeda. Kami datang dari lingkungan hangat dan ramai, ke tempat yang dingin, sepi, dan gelap. Saat itu Februari, puncak musim dingin. Termometer menunjukkan -20℃, dan kami terkurung di rumah selama tiga hari karena badai salju.

Si sulung sering mengamuk. Kami kelelahan. Dua hari perjalanan dari Jakarta dengan empat kali transit cukup membuat kami, orang dewasa, limbung. Apalagi si kecil. Setibanya di Oslo, dia berteriak, melempar semua jaket dan sweater karena kedinginan. Kami harus berlari-lari mengejar penerbangan terakhir sambil menggendong anak yang menangis, dua ransel, dan jaket-jaket berserakan.

Aku pikir, dua minggu saja cukup untuk adaptasi. Ternyata salah besar. Anak-anak butuh waktu lebih lama. Untuk orang dewasa, bisa saja melihat salju dan aurora itu menyenangkan. Tapi untuk anak balita? Yang dia tahu hanya dingin, sepi, dan tidak ada nenek-kakek yang biasa dia temui.

Selain tantangan cuaca, tantangan terbesar adalah aku sendiri. Aku mengira karena sudah terbiasa merantau sejak kecil, aku bisa membawa anak merantau dengan mudah. Aku salah. Dulu aku hanya bertanggung jawab atas diriku. Kini, ada anak kecil yang sangat bergantung pada kondisi psikologisku. Anak-anak menyerap energi orang tua. Ketika aku berusaha terlihat tegar, tapi sebenarnya lelah dan kesepian, si sulung ikut merasakannya.

Hari-hari kami di Tromsø diisi dengan videocall ke keluarga di Indonesia, main di dalam rumah, dan kelelahan emosional. Setelah dua bulan, barulah si sulung mulai terbiasa dengan udara dingin. Kami mulai keluar rumah ke taman, danau, atau jalan kaki ke kampus. Begitu cuaca menghangat, ia mulai masuk barnehage (TK) di bulan Agustus. TK-nya adalah friluftsliv barnehage, dengan banyak kegiatan luar ruang. Ini sangat membantu, karena ia mulai terbiasa bertemu teman sebaya dan guru yang ramah.

Guru-guru TK-nya membuatkan buku bergambar berisi kosakata bahasa Norsk dan Inggris untuk membantunya belajar bahasa. Kami masih menyimpan buku itu sampai sekarang, dan digunakan lagi saat si bungsu masuk TK.

Pengalaman si bungsu berbeda. Ia lahir di Bergen saat keluarga kami lebih stabil. Tapi ia lahir beberapa bulan sebelum pandemi COVID-19. Ketika masuk TK di usia dua tahun, dia sangat takut bertemu orang. Ia hanya mengenal ayah, ibu, dan kakaknya. Butuh waktu empat bulan untuk beradaptasi. Di enam minggu pertama, sering kali aku harus menjemputnya lebih awal karena ia menangis terus. Untung guru-guru sangat suportif dan meyakinkan bahwa ini sementara.

Kini, si bungsu akan masuk SD. Ia tumbuh menjadi anak yang lembut, gemar hiking, dan menyukai ketenangan. Beda anak, beda tantangan, beda pula bentuk resiliensinya.

Salah satu pengalaman yang paling mengena adalah ketika aku harus belanja di tengah musim dingin. Si sulung tidak mau dipakaikan jaket. Ia meraung-raung. Aku kelelahan. Akhirnya, aku duduk saja di tepi jalan bersalju, membiarkan dia menangis. Aku tahu, memarahinya tidak akan membantu. Aku hanya duduk diam, menikmati sedikit sinar matahari yang muncul setelah musim dingin panjang.

Setelah tangisnya reda, dia tertidur di stroller. Sejak saat itu, aku mulai menyadari pentingnya self-soothing. Saat anak mengamuk, aku belajar menenangkan diri dulu. Kadang aku ke balkon, duduk sebentar. Tidak meninggalkan anak, tapi menjauh agar bisa lebih tenang. Lama-lama, si sulung mulai mengikuti, bahkan berusaha memakai jaketnya sendiri untuk ikut ke luar.

Langkah konkret lainnya adalah menciptakan rutinitas yang stabil. Bangun tidur, bereskan selimut, makan, mandi, lalu berangkat sekolah. Pulang sekolah, makan, istirahat, lalu boleh bermain. Tidak ada screentime di hari biasa. Kami juga membiasakan ngobrol saat makan malam. Obrolan ini jadi ruang untuk berbagi cerita, masalah, atau sekadar bercanda. Kami ajarkan bahwa semua emosi boleh, tapi tidak semua perilaku diperbolehkan.

Aku juga menjaga identitas budaya Indonesia lewat makanan. Akhir pekan, kami isi dengan memasak makanan Indonesia. Si sulung bahkan bangga bisa makan sambal korek, katanya itu prestasi. Kami juga rajin membaca buku berbahasa Indonesia, videocall dengan keluarga, dan ikut pengajian bulanan dengan komunitas Indonesia di Bergen.

Kami percaya, identitas budaya anak bisa ditanam lewat rasa, cerita, dan koneksi emosional. Meski tinggal di negara barat, kami ajarkan batasan dan nilai-nilai lewat kebiasaan dan contoh sehari-hari.

Soal kesehatan mental, aku pernah konsultasi ke psikolog Indonesia secara online. Di Norwegia sempat mencoba, tapi tidak cocok karena kendala bahasa dan biaya. Untuk si sulung, sekolah membantu mengakses layanan psikolog remaja. Suatu hari ia bilang, “I think I need help.” Kami langsung bantu. Saat itu aku merasa, semua table talk selama ini ternyata tidak sia-sia.

Aku belajar bahwa kebutuhan emosional anak saat migrasi adalah rasa aman. Dan rasa aman itu tidak bisa muncul kalau orang tuanya sendiri belum merasa aman.

Makna resiliensi buat anak-anak kami bukan soal “baik-baik saja,” tapi tentang bisa mengelola emosi, merasa cukup, dan tahu kapan dan bagaimana meminta bantuan.

Akhirnya, aku sadar bahwa menjadi orang tua di perantauan tidak hanya soal bertahan hidup, tapi juga tentang membangun ulang diri. Unlearning itu sama pentingnya dengan learning.

Untuk orang tua yang akan merantau, siapkan diri secara sadar. Jangan hanya tergoda citra di media sosial. Hidup di luar negeri memang banyak peluang, tapi juga penuh tantangan. Pelajari sistem negara tujuan, cari tahu jalur bantuan, dan bangun komunitas sehat. Jangan lupa, punya batasan yang sehat juga penting.

Karena saat kita sudah merasa cukup, kita bisa hadir penuh untuk anak-anak. Dan saat itulah, resiliensi mulai tumbuh, perlahan, tapi pasti.

Penulis: Aini Hanafiah, yang dapat dikontak via akun instagram @aini_hanafiah.

(PODCAST RUMPITA) Mengajarkan Bahasa Indonesia dari Kelas ke Kamera

Program audio bulanan Podcast RUMPITA (Rumpi bersama Ruanita) kembali hadir dengan diskusi inspiratif yang membuka wawasan tentang pendidikan, karier internasional, dan dunia konten digital. Episode kali ini dipandu oleh Anna, relawan Ruanita yang menetap di Jerman, bersama Griska Gunara, relawan Ruanita Indonesia yang berdomisili di Inggris (UK). Dalam diskusi santai namun penuh makna, Podcast RUMPITA menghadirkan tamu spesial, Boy Tri Rizky. Dia adalah seorang konten kreator sekaligus edukator asal Indonesia yang kini menetap di Jerman. Boy dikenal aktif membagikan wawasan seputar studi, bahasa, dan kehidupan di Eropa melalui berbagai platform digital.

Griska membuka diskusi dengan memperkenalkan latar belakang akademik Boy yang mengesankan. Boy merupakan lulusan Master of Arts Intercultural German Studies (German as a Foreign Language) dari Universität Göttingen. Tak berhenti di situ, Boy mengungkapkan bahwa saat ini ia tengah menempuh studi doktoral (S3) di Berlin, dengan rencana jangka panjang untuk kembali dan berkontribusi di Indonesia. Perjalanan Boy ke Jerman berawal dari profesinya sebagai pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Latar pendidikan S1-nya adalah pendidikan Bahasa Jerman. Setelah lulus, ia mengikuti seleksi dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan terpilih sebagai pengajar bahasa Indonesia untuk penugasan luar negeri.

“Saya ditempatkan di KBRI Copenhagen, Denmark. Dari sana kemudian lanjut kuliah ke Jerman, dan setelah lulus saya mengajar di KBRI Berlin dan Rumah Budaya Indonesia,” tutur Boy.

Ia menjelaskan bahwa program pengiriman pengajar BIPA luar negeri merupakan program resmi pemerintah, meski saat ini belum kembali dibuka setelah pandemi COVID-19. Dalam studi doktoralnya, Boy meneliti penilaian bahasa dalam masyarakat, dengan mengambil contoh perbandingan antara Jakarta dan Berlin. Ia menyoroti bagaimana bahasa sering kali menjadi simbol status sosial.

“Di Jakarta, orang yang berbicara bahasa Inggris sering dianggap lebih berpendidikan. Sementara bahasa Indonesia dianggap biasa saja, dan bahasa daerah kadang dipandang rendah,” jelasnya.

Penelitian ini menjadi salah satu fondasi konten edukatif yang juga ia bagikan melalui media sosial. Ketertarikan Boy pada dunia konten digital bermula ketika ia kembali ke Indonesia setelah lulus S2. Ia mulai membagikan pengalaman hidup, studi, dan gegar budaya di Jerman. Tak disangka, konten-konten tersebut mendapatkan respons tinggi dari audiens.

“Saat aku konsisten upload, terutama tentang gegar budaya dan kuliah di Jerman, engagement-nya naik drastis,” ujarnya.

Dari pengalaman itu, Boy menyimpulkan bahwa konsistensi adalah kunci utama menjadi konten kreator. Ia menargetkan unggahan minimal tiga kali seminggu agar tetap relevan di algoritma media sosial. Kini, kontennya tak hanya membahas kehidupan di Jerman, tetapi juga fenomena bahasa, riset akademik, serta isu-isu sosial yang jarang diangkat. Dalam diskusi, Boy membedakan peran antara konten kreator dan edukator. Menurutnya, konten kreator berfokus pada engagement dan daya tarik visual, sementara edukator menitikberatkan pada isi dan nilai pembelajaran.

“Aku selalu berusaha supaya orang bukan cuma terhibur, tapi juga belajar sesuatu dari kontenku,” katanya.

Ia pun menekankan pentingnya personal branding. Sejak awal, Boy memosisikan dirinya sebagai pendidik. Ia menghindari konten yang berpotensi memicu perundungan dan selalu menjaga etika, terutama terkait privasi, yang sangat dijunjung tinggi di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya. Menutup perbincangan, Boy menyampaikan pesan kuat bagi generasi muda Indonesia: jangan takut mencoba hal baru. Menurutnya, pengalaman hidup di luar negeri membuka cara pandang yang lebih luas tentang dunia dan diri sendiri.

“Kesuksesan itu bukan buat orang paling pintar, tapi buat orang yang mau berjuang sampai akhir,” ujarnya. Ia mengaku bahwa nilai akademiknya dulu tidak selalu menonjol. Namun, keberanian mencoba, melangkah, dan tidak takut gagal menjadi pembeda dalam hidupnya.

“Selama ada kesempatan, kenapa nggak dicoba?” pungkasnya.

Melalui Podcast Diskusi RUMPITA, Ruanita kembali menghadirkan ruang diskusi yang jujur, reflektif, dan inspiratif, sehingga menjadi jembatan cerita perempuan dan laki-laki Indonesia lintas negara untuk saling belajar dan menguatkan. Simak selengkapnya diskusi podcast RUMPITA berikut dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Dua Dunia, Satu Hati: Perjalanan Menjadi Ibu Indonesia untuk Anak-anak Remaja di Prancis

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Edha, seorang ibu yang bahagia dengan memiliki anak-anak remaja di Prancis. Ada satu hal yang selalu saya yakini sebagai seorang ibu: tidak ada yang pernah selesai dalam perjalanan kita membimbing anak-anak. Kita terus belajar, terus menyesuaikan langkah, terus mencari cara agar bisa hadir bagi mereka, meski dunia yang mereka pijak berubah, bertambah luas, atau bahkan semakin berbeda dari dunia yang kita kenal.

Ketika saya memutuskan untuk ikut program Cerita Sahabat Ruanita Indonesia, ada dorongan kuat dalam diri saya untuk membagikan kisah saya sebagai seorang ibu Indonesia yang membesarkan anak-anak remaja di Prancis. Ini bukan sekadar kisah perpindahan negara, tetapi kisah tentang identitas, keberanian, dan cinta seorang ibu yang berusaha menjaga nilai-nilai Indonesia tetap hidup di tengah budaya Eropa yang sangat berbeda.

Perjalanan kami bukan perjalanan yang mudah. Tapi dari sana, saya menemukan makna baru tentang menjadi ibu, tentang rumah, dan tentang bagaimana dua budaya bisa hidup berdampingan dalam satu keluarga. Inilah cerita saya, sahabat Ruanita!

Sebelum menetap di Prancis, hidup saya sepenuhnya berpusat di Indonesia. Saat itu, saya bekerja sebagai pramugari, sebuah profesi yang sangat saya cintai karena memberi saya kesempatan melihat dunia, bertemu berbagai karakter manusia, dan memahami banyak hal tentang kehidupan. 

Namun, ketika saya menikah dan kemudian dikaruniai anak-anak, saya memilih meninggalkan dunia penerbangan yang pernah menjadi rumah kedua saya. Saya memutuskan untuk sepenuhnya fokus menjadi seorang ibu, sesuatu yang ternyata membawa saya pada perjalanan yang tidak kalah menantangnya dibandingkan pekerjaan saya sebelumnya.

Suami saya adalah seorang pria Prancis yang bekerja sebagai ahli geologi di sebuah perusahaan tambang besar di Indonesia. Pekerjaannya menuntutnya sering berpindah dari satu lokasi eksplorasi ke lokasi lain, yang berarti dalam kehidupan sehari-hari, saya lebih banyak menghabiskan waktu sendiri bersama anak-anak. 

Meski demikian, kehidupan kami tergolong mapan. Anak-anak bersekolah di sekolah negeri dan tumbuh dalam lingkungan yang sangat Indonesia. Bahasa sehari-hari kami adalah bahasa Indonesia, teman bermain mereka adalah anak-anak Indonesia, dan kebiasaan yang mereka serap juga sepenuhnya berakar dari kultur Indonesia. Nilai-nilai yang mereka kenal sejak kecil, seperti: kesopanan, kebersamaan, hormat kepada yang lebih tua, semuanya tercetak dari lingkungan tempat mereka lahir dan tumbuh.

Ketika anak-anak mulai beranjak remaja, saya dan suami menemukan diri kami berada pada sebuah persimpangan besar. Selama bertahun-tahun, anak-anak tumbuh dalam suasana Indonesia yang hangat dan familiar. Namun di balik rutinitas yang mapan itu, kami sama-sama menyadari satu hal: anak-anak kami hanya mengenal salah satu sisi diri mereka, sisi Indonesia.

Di dalam diri mereka sebenarnya ada dua dunia yang berbeda, dua sejarah keluarga, dua bahasa, dan dua budaya. Mereka mewarisi darah Prancis dari ayahnya, tetapi kami sadar bahwa identitas itu belum pernah benar-benar mereka sentuh. Dari sinilah percakapan panjang tentang pindah ke Prancis perlahan mulai mengemuka, kadang singkat, kadang serius, kadang berakhir dengan renungan panjang di malam hari.

Saya ingin anak-anak memahami budaya ayahnya, bukan sekadar sebagai cerita di meja makan, tetapi sebagai sesuatu yang bisa mereka sentuh, rasakan, dan hidupi. Kami membayangkan mereka menguasai bahasa Prancis bukan hanya sebagai pelajaran tambahan, tetapi sebagai bahasa sehari-hari yang menghubungkan mereka dengan keluarga ayah, dengan tanah tempat ia dilahirkan. Kami ingin mereka tumbuh tidak hanya sebagai anak Indonesia atau Prancis, tetapi sebagai anak yang memiliki dua akar, dua perspektif, dan dua tempat pulang.

Namun, meskipun ide itu terasa indah dalam pikiran orang dewasa, kenyataan di hadapan anak-anak jauh lebih kompleks. Ketika kami akhirnya memberi tahu keputusan kami untuk pindah ke Prancis, wajah mereka langsung memperlihatkan campuran emosi yang sulit saya lupakan. Ada kekhawatiran besar dalam mata mereka, kekhawatiran tentang harus meninggalkan teman-temannya, meninggalkan kenyamanan rumah, meninggalkan sekolah yang sudah sangat mereka kenal. 

Mereka bingung bagaimana nanti menjalani hari-hari di negara asing dengan bahasa yang belum pernah mereka kuasai. Saya melihat air mata yang mereka tahan ketika memikirkan betapa jauhnya mereka dari keluarga besar saya, dari nenek-kakek yang biasanya mereka kunjungi setiap minggu. Ada juga ketakutan tentang lingkungan sosial yang sama sekali baru, tentang bagaimana mereka harus mulai dari awal di tempat yang terasa asing.

Sebagai seorang ibu, melihat kecemasan itu membuat hati saya teriris. Anak-anak saya tidak hanya berpindah rumah, mereka juga akan berpindah dunia. Mereka harus meninggalkan sebagian kecil kehidupan yang selama ini memberi mereka rasa aman dan stabil. Saya tahu keputusan ini berat bagi mereka, tetapi saya juga tahu betapa berharganya pengalaman ini nanti bagi mereka, pengalaman menjadi anak yang hidup dalam dua budaya dengan bangga dan utuh.

Kami banyak berdiskusi sebagai keluarga. Malam-malam kami habiskan dengan menjawab pertanyaan mereka satu per satu, mencoba meredakan kegelisahan yang muncul bergantian. Saya memeluk mereka ketika mereka takut, saya mendengarkan mereka ketika mereka marah atau bingung, dan saya memastikan bahwa mereka tahu satu hal: bahwa kami akan melewati ini bersama. Setelah beberapa waktu dan banyak percakapan penuh air mata dan tawa, mereka mulai menerima keputusan itu. Mereka belum sepenuhnya siap, tetapi mereka mulai membuka pintu kecil di hati mereka untuk menyambut kehidupan baru itu.

Meski akhirnya mereka berkata “iya,” saya tetap bisa merasakan rasa berat yang tersisa dalam langkah kecil mereka menjelang keberangkatan. Ada sesuatu yang mereka tinggalkan di Indonesia, sebagian dari masa kecil mereka, tetapi ada pula sesuatu yang menunggu mereka di Prancis: masa remaja yang akan membentuk siapa mereka kelak. Dan di tengah ketidakpastian itu, saya hanya bisa menggenggam tangan mereka lebih kuat, memastikan bahwa meski dunia baru menanti, mereka tidak akan pernah melangkah sendirian.

Hidup sebagai ibu dari anak-anak yang tumbuh di dua budaya membuat saya memahami bahwa menjadi orang tua bukan hanya soal membesarkan, tetapi juga menyeimbangkan. Ketika kami pindah dari Indonesia ke Prancis, anak-anak saya memasuki masa remaja, masa yang penuh pertanyaan dan pencarian jati diri. Dan di tengah perubahan besar itu, saya harus belajar menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar ibu. Saya harus menjadi sahabat.

Tidak selalu mudah menjaga hubungan yang dekat dengan mereka. Ada hari ketika mereka lebih memilih menutup pintu kamar daripada mendengarkan saya. Ada saat-saat ketika nilai-nilai Indonesia yang saya pegang erat bertabrakan dengan cara berpikir mereka yang semakin dipengaruhi budaya Eropa. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan kebebasan berbicara, kemandirian sejak kecil, dan ekspresi diri yang terbuka, sementara saya membawa warisan sopan santun, kerendahan hati, dan kehangatan khas Indonesia. Setiap hari kami seakan menegosiasikan dua dunia itu, mencari cara agar tidak saling meniadakan, tetapi justru saling melengkapi.

Dalam proses itu, saya sadar bahwa saya harus banyak belajar: mendengarkan tanpa menghakimi, memberi batasan dengan lembut, dan menyampaikan nilai-nilai Indonesia dengan cara yang membuat mereka ingin merawatnya, bukan menolaknya. Tidak ada sekolah yang mengajarkan semua itu. Saya belajar sambil berjalan, sering salah langkah, tetapi selalu kembali mencoba lagi.

Namun dari perjalanan ini, saya melihat sesuatu yang sangat indah. Perlahan, identitas keluarga kami terbentuk bukan sebagai Indonesia atau Prancis, tetapi sebagai gabungan utuh keduanya. Anak-anak saya nyaman berbicara dalam dua bahasa, membawa sopan santun Indonesia tetapi juga keberanian ala Prancis, dan tumbuh dengan cara yang membuat saya merasa bangga sekaligus takjub. Mereka belajar mencintai dua budaya yang membentuk mereka, dan saya belajar melepaskan kekeliruan anggapan bahwa mereka harus memilih salah satu.

Untuk perempuan Indonesia yang mungkin mempertimbangkan pindah negara, terutama yang punya anak remaja, saya ingin berpesan: jangan takut pada perubahan besar. Memasuki budaya baru bukan berarti meninggalkan budaya sendiri. Anak-anak kita justru bisa membawa keduanya sebagai kekuatan. Peluklah prosesnya. Tidak semua hari akan mudah, tetapi selalu ada makna di balik tantangan itu. Temukan komunitas, bangun jaringan pertemanan, dan tetap jaga bahasa serta nilai-nilai Indonesia dengan penuh cinta, bukan paksaan.

Dan untuk anak-anakku, jika suatu hari kalian membaca ini, ketahuilah bahwa kalian boleh tumbuh dalam dua dunia, tetapi kalian tidak harus kehilangan siapa diri kalian. Rawatlah nilai Indonesia yang sudah ibu tanamkan sejak kecil. Hargailah budaya lain tanpa menghapus akar kalian. Jangan takut menapaki hal-hal baru; setiap pengalaman, baik yang manis maupun yang sulit, akan membentuk kalian menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak.

Pada akhirnya, hidup dalam dua budaya mengajarkan saya bahwa rumah tidak pernah hanya satu titik di peta. Rumah adalah perjalanan, rumah adalah pelajaran, dan rumah adalah orang-orang yang kita cintai. Dan bagi saya, rumah itu kini hidup di mana pun anak-anak saya berada, di antara bahasa Indonesia dan Prancis, di antara sopan santun dan kebebasan berekspresi, di antara dua dunia yang mereka rangkul dengan hati penuh.

Penulis: Edha, yang tinggal di Prancis, dan dapat dikontak via akun instagram edhadelaby

(IG LIVE) Jarak Bukan Penghalang: Menjaga Waras dan Ikatan Emosional dalam LDR Parenting

Menjalani peran sebagai orang tua pembuat keputusan tunggal di rumah sementara pasangan berada di belahan bumi lain bukanlah perkara mudah. Komunitas Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) membedah tuntas realita ini melalui program diskusi IG Live terbarunya. Bersama pemandu acara Rufi, diskusi hangat berdurasi 30 hingga 40 menit ini menghadirkan dua narasumber luar biasa: Mila Siena, seorang ibu yang kini menetap di Bangladesh, dan Reneta Kristiani, seorang psikolog sekaligus mahasiswa PhD yang berbasis di Melbourne, Australia.

Mila Siena membuka cerita dengan membagikan pengalamannya saat terpaksa menjalani Long-Distance Relationship (LDR) Parenting bersama sang suami yang bekerja di Korea Selatan. Terjebak di tengah situasi pandemi COVID-19 dari tahun 2019 hingga 2022, Mila merasakan isolasi yang luar biasa di apartemennya yang terletak dua jam dari Seoul.

“Anak saya saat itu baru berusia empat tahun, sulit berbicara, dan kurang bersosialisasi karena lingkungan kami sepi anak-anak,” kenang Mila.

Keputusan untuk membawa sang anak pulang ke Indonesia pada tahun 2022 ternyata membawa tantangan baru. Perbedaan cuaca dan makanan membuat anaknya sering jatuh sakit setiap bulan. Kondisi fisik anak yang drop ini memicu gesekan emosional dengan sang suami di seberang sana.

“Setiap hari kami bertengkar lewat telepon. Suami selalu mempertanyakan apa yang anak makan, mengapa bisa sakit, dan banyak hal lainnya,” tambah Mila.

Dampak psikologis yang paling menyedihkan bagi Mila adalah keengganan anaknya untuk berkomunikasi dengan sang ayah. Setiap kali melakukan panggilan video (video call), sang anak hanya mau menyapa singkat sebelum akhirnya berpaling dan menyudahi obrolan. Jarak yang membentang perlahan sempat mengaburkan figur ayah di mata sang anak.

Sebagai seorang psikolog, Renetta Christiani meluruskan bahwa setiap anak memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengekspresikan kerinduan dan kecemasan mereka saat terpisah dari orang tua. Reaksi anak yang menolak melakukan video call, seperti yang dialami anak Mila bukan berarti mereka tidak sayang.

“Anak-anak sering kali mencoba mengatasi rasa sakit hati dan rindu mereka dengan cara tetap sibuk bermain. Mengharuskan anak duduk diam menatap layar dalam waktu lama sering kali tidak efektif,” jelas Reneta Kristiani.

Reneta Kristiani menambahkan, anak-anak yang terpisah dari salah satu orang tuanya rentan merasa tidak aman (insecure). Mereka kerap menunjukkan kecemasan berlebih, seperti mengalami gangguan tidur atau menjadi sangat manja dan protektif kepada orang tua yang ada di dekatnya karena takut kehilangan figur tersebut.

Salah satu momen krusial yang disoroti Renetta adalah fase adaptasi sosial di sekolah. Anak-anak akan memperhatikan lingkungan sekitar mereka. Saat melihat teman-temannya diantar oleh kedua orang tua secara lengkap di ruang kelas, anak yang menjalani LDR parenting akan mulai bertanya-tanya dan merasakan kekosongan.

Bagaimana cara menjaga kesehatan mental keluarga dan meregulasi emosi anak dari jarak jauh? Renetta dan Mila membagikan beberapa tips praktis:

  • Gunakan Alternatif Komunikasi: Jika anak bosan atau menolak video call, beralihlah ke pesan suara (voice note) atau buat proyek kecil bersama yang dinantikan anak saat waktu mengobrol tiba.
  • Melibatkan Pasangan dalam Aktivitas: Mila menerapkan strategi rutin menelepon suami sebelum anak tidur. Ia juga aktif mengirimkan foto, video tugas sekolah, dan melibatkan suami dalam rapat sekolah anak secara daring.
  • Merawat Memori Masa Lalu: Orang tua di rumah bisa sesekali memutar foto atau video lama untuk memicu ingatan anak tentang momen-momen indah bersama ayahnya, seperti momen makan barbekyu bersama saat sang anak masih balita.
  • Ekspresikan Emosi Lewat Seni: Bantu anak meluapkan emosi, kemarahan, atau kesedihan mereka melalui musik, bernyanyi, atau membuat karya seni bersama.

Di akhir sesi diskusi, Mila menekankan bahwa fondasi terpenting dari keberhasilan LDR parenting adalah kepercayaan penuh dan kesepakatan mutlak antara suami dan istri. Anak-anak, terutama yang masih kecil, sangat membutuhkan kehadiran fisik orang tua mereka. Oleh karena itu, pasangan yang menjalani LDR juga perlu memiliki rencana yang jelas tentang kapan mereka bisa berkumpul kembali sebagai satu keluarga utuh.

“Suami istri harus saling percaya, tidak boleh mudah salah paham, dan selalu mendiskusikan kebutuhan anak bersama-sama. Jangan mengambil keputusan sepihak,” tegas Mila.

Melalui ruang diskusi yang diinisiasi oleh Ruanita Indonesia ini, para ibu dan perempuan lintas negara diingatkan kembali bahwa LDR parenting sangat mungkin dijalani dengan sukses, asalkan komunikasi antar-pasangan tetap terjaga kuat demi stabilitas tumbuh kembang dan kesehatan mental anak.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!

(CERITA SAHABAT) LDR Parenting: Dari Jakarta ke UK

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Griska Gunara, yang lahir dan besar di Jakarta. Hidup saya penuh dengan perjalanan, bukan hanya secara fisik berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga perjalanan batin yang membentuk siapa saya hingga hari ini. Sejak 2020, saya resmi tinggal di Inggris, sebuah negeri yang awalnya terasa asing, tetapi kini menjadi rumah kedua bagi saya.

Proses di sini cepat sekali karena saya tidak mau overstay. Jadi kami mengurus upgrade visa ke visa family untuk kemudian kami bisa menikah di UK. Alhamdulillah, akhirnya saya tinggal di sini sampai hari ini.

Perjalanan pindah ke Inggris bisa dibilang sangat cepat dan penuh kejutan. Tahun itu, saya bertemu dengan pria yang kini menjadi suami saya. Hubungan kami berkembang pesat, hanya dalam hitungan bulan ia melamar. Dua bulan setelah Itu, saya sudah bersiap untuk mengurus keberangkatan dengan visa turis. Tidak pernah saya bayangkan hidup akan membawa saya sejauh ini, dari Jakarta, ke Bali, dan akhirnya menetap di Inggris.

Namun, sebelum kisah ini berlanjut, ada satu bagian besar hidup saya yang tak bisa saya lepaskan: peran saya. Bahwa saya adalah seorang ibu tunggal sejak 2008, meski kini saya menetap di Inggris.

Ketika putri saya baru berusia tiga tahun, rumah tangga saya berakhir dengan perceraian. Saat itu dunia saya seakan runtuh. Hidup saya berubah drastis, sekejap saja. Dari seorang istri, saya menjadi seorang ibu tunggal yang harus menanggung beban hidup seorang diri, sembari saya tetap memastikan anak tetap tumbuh dalam cinta.

Kalau diceritakan secara lengkap, kisah perjalanan saya sebagai ibu tunggal bisa menjadi sebuah buku tebal. Ada perjuangan, air mata, kelelahan, tetapi juga ada kekuatan yang tidak pernah saya tahu sebelumnya ada dalam diri saya. Putri saya menjadi alasan terbesar untuk terus melangkah.

Saya pernah bekerja di Bali, di sebuah Dive resort. Saat itulah mantan suami meminta agar putri kami tinggal bersamanya dan keluarganya. Karena jarak rumahnya hanya sekitar 20 menit dari rumah ibu saya, saya pun menyampaikan pesan itu. Awalnya sulit menerima, tapi saya belajar untuk percaya bahwa selama ada komunikasi dan doa, ikatan kami tidak akan pernah hilang.

Menjalani peran sebagai ibu jarak jauh adalah salah satu tantangan terbesar dalam hidup saya. Mungkin banyak orang bisa membayangkan, tapi hanya yang benar-benar mengalaminya yang tahu betapa dalam luka dan rindunya. Berpisah secara fisik dengan anak semata wayang itu rasanya seperti kehilangan separuh jiwa.

Lima tahun lamanya saya tidak bertemu langsung dengannya, hingga akhirnya kami bisa berjumpa kembali di akhir tahun 2024. Bayangkan, lima tahun! Rindu itu setiap hari hadir, tak pernah absen. Ada kalanya saya merasa kuat, tapi lebih sering saya harus menelan perasaan bersalah dan kesepian.

Beruntung, kita hidup di era digital. WhatsApp menjadi jembatan cinta kami. Video call, pesan singkat, bahkan sekadar emoji bisa menjadi pengobat rindu. Melalui layar kecil, saya masih bisa mendengar suaranya, melihat ekspresinya, bahkan bercanda meski jarak ribuan kilometer memisahkan. Itu yang membuat saya bertahan.

Namun, tentu saja ada banyak momen penting yang terlewat. Acara sekolah, kenaikan kelas, bahkan momen kecil yang biasanya menjadi rutinitas ibu-anak. Rasanya hampa, seperti ada bagian dari diri saya yang tidak lengkap. Untungnya, saya tetap terhubung dengan grup WhatsApp orang tua murid dan guru di sekolahnya. Dari sana saya bisa mengikuti perkembangan, meski tidak hadir secara fisik.

Saya dibesarkan dalam keluarga Muslim yang kuat dalam iman. Ibu saya selalu mengingatkan, “Jangan pernah meninggalkan ibadah.” Nasihat ini menjadi pondasi saya, bahkan dalam menjalani peran sebagai ibu jarak jauh. Doa adalah dukungan emosional terbesar yang bisa saya berikan kepada putri saya.

Selain itu, saya sering bercerita. Saya percaya, komunikasi bukan hanya soal memberi kabar, tapi juga soal membangun kebiasaan berbagi perasaan. Dengan bercerita, saya memberi ruang bagi putri saya untuk juga terbuka tentang kesehariannya. Dari obrolan sederhana itulah, hubungan kami tetap hangat.

Hidup di Inggris membawa saya pada babak baru: menjadi bagian dari keluarga yang lebih besar. Suami saya memiliki anak-anak dari pernikahan sebelumnya. Dinamika ini menarik sekaligus menantang.

Di sini, aturan tentang pengasuhan anak berbeda dengan Indonesia. Anak-anak tinggal bersama ibu kandung mereka, sementara waktu dengan ayah sudah terjadwal rapi. Saya belajar menyesuaikan diri dengan pola ini. Awalnya canggung, tapi perlahan saya menemukan ritmenya.

Tantangan terbesar adalah bahasa. Anak-anak berbicara cepat dengan kosakata yang kadang belum saya pahami. Saya sering hanya bisa diam ketika mereka bercerita pada ayahnya, lalu pelan-pelan saya belajar. Dari mereka, saya mendapat kesempatan untuk terus berkembang, termasuk dalam bahasa Inggris.

Suami saya sangat mendukung peran saya sebagai ibu dari anak yang tinggal di Indonesia. Ia sering menyemangati anak-anaknya untuk membuat kartu ucapan atau hadiah kecil untuk putri saya. Bahkan saat saya video call, mereka ikut menyapa. Itu membuat saya terharu. Bagaimana tidak?! Bahwa mereka mengakui keberadaan putri saya sebagai bagian dari keluarga kami.

Menjadi ibu kandung sekaligus ibu tiri bukan hal mudah. Sejak awal, saya selalu mengingatkan diri, “Jangan lupakan dirimu.” Saya tahu, secara teknis saya bukan ibu kandung mereka. Namun dengan dukungan penuh dari suami, saya bisa menjalani peran ini dengan lebih ikhlas.

Ada kalanya saya merasa bersalah. Saya merasa gagal sebagai ibu karena tidak selalu bisa hadir untuk putri saya. Saya sering tenggelam dalam pikiran, berdoa siang dan malam agar suatu hari nanti Tuhan mempertemukan kami kembali dalam kehidupan yang utuh.

Belajar manajemen stres menjadi kunci. Saya menemukan ketenangan lewat ibadah, meditasi, dan yoga. Rutinitas ini membantu saya tetap waras, tetap kuat, dan tetap percaya diri menjalani hari-hari.

Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa “ibu” bukan sekadar status biologis. Ibu adalah fondasi, guru pertama dalam keluarga, sumber cinta yang tak bisa tergantikan. Keluarga, bagi saya, adalah paket lengkap: suka, duka, konsekuensi dari setiap pilihan. Yang penting adalah menjaga harmonisasi hati, meski jarak memisahkan.

Saat ini, putri saya sedang menjalani status barunya sebagai mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Saya bangga sekali karena ia sempat berhasil mendapatkan bukan hanya satu, tapi lima beasiswa ke luar negeri. Meski begitu, ia memilih untuk menempuh pendidikan di Indonesia dulu sebelum berencana melanjutkan ke Inggris di tahun ketiganya nanti.

Tentu saja harapan terbesar saya adalah bisa berkumpul kembali dengannya. Tidak ada doa lain yang lebih sering saya panjatkan selain doa untuk pertemuan itu.

Jika suatu hari nanti ia membaca cerita ini, saya ingin ia tahu: “Nikmatilah waktumu dengan rasa senang. Dunia tidak perlu tahu proses perjalanan kita, yang penting kita saling menjaga diri dan berjuang bersama. Roda kehidupan terus berputar, tapi cinta ibu ini akan selalu melekat, nyata, dan terkirim dalam setiap doa.”

Sahabat Ruanita, di akhir kisah saya, saya yakin cerita saya bukan satu-satunya. Banyak perempuan Indonesia di luar sana yang mungkin juga menjalani peran serupa: menjadi ibu jarak jauh, bagian dari blended family, dan berusaha beradaptasi di negeri orang.

Pesan saya sederhana: kuatkan diri.

Sabar itu perlu latihan, dan inilah saatnya melatihnya lebih dalam. Jangan memaksakan diri melakukan sesuatu yang bukan porsimu. Ingat, setiap negara punya cara pandang berbeda soal keluarga.

Jangan ragu mencari dukungan, baik dari sesama ibu sambung maupun komunitas lain. Meski jalannya berbeda, kita bisa saling menguatkan dengan kesadaran mendalam.

Perjalanan saya masih panjang. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Namun, satu hal yang pasti: menjadi ibu, meski dari jarak jauh, tetaplah sebuah panggilan jiwa. Cinta seorang ibu tidak pernah mengenal jarak, waktu, atau batas negara.

Dan inilah cerita saya, yakni tentang cinta, kehilangan, doa, dan harapan dalam menjalani LDR Parenting.

Penulis: Griska Gunara, yang tinggal di UK dan dapat dikontak melalui akun Instagram @griskagunara.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Makna Kartu Ucapan Mulai dari Relasi Hingga Kesehatan Mental

Di zaman ketika hampir semua ucapan berpindah ke layar ponsel, seorang perempuan Indonesia di Makau tetap memilih cara lama untuk menyampaikan perasaannya, yaitu melalui selembar kartu buatan tangan. Bagi Fransiska Orris-Beding, yang biasa disapa Siska, membuat kartu bukan sekadar hobi. Ia menyebutnya sebagai “cara untuk mengekspresikan diri dan menjaga kewarasan”.

“Membuat kartu itu buat saya bisa mengekspresikan sangat banyak. Tidak hanya kata-kata, tapi juga gambar, kesan saya terhadap seseorang, bentuk perhatian dan penghargaan terhadap orang lain,” kata Siska menegaskan.

Siska sudah tinggal di Makau selama lebih dari 16 tahun. Namun cintanya pada kartu ucapan dimulai jauh sebelum itu, ketika ia masih berusia sekitar 10 tahun.

Saat kecil, ia sering melihat sang kakak membuat kartu kecil untuk diberikan kepada teman-teman. Suatu hari, sang kakak berkata padanya, “Kamu kan sudah lihat saya buat. Kamu pasti bisa. Ini bahan-bahannya, coba kamu bikin sendiri.” Sejak saat itu, Siska mulai membuat kartu untuk Natal dan Valentine. Dari sana lahir kebiasaan yang ia teruskan hingga kini.

Bagi Siska, selembar kartu bukan sekadar media untuk menyampaikan pesan. Ia menyebutnya sebagai potongan kecil dari dirinya sendiri, yaitu sesuatu yang lahir dari waktu, perhatian, dan kasih sayang. Dalam setiap kartu, ia berusaha memasukkan elemen yang menggambarkan penerimanya. Jika seseorang menyukai warna tertentu atau memiliki karakter khas, Siska akan menyesuaikan desain kartunya. “Itu bentuk ekspresi penghargaan dan cinta,” ujarnya.

Ia percaya, hubungan personal antara pembuat dan penerima adalah inti dari makna sebuah kartu. Oleh karena itu, setiap karyanya selalu dibuat dengan hati. Selama masa pandemi, ketika Makau menutup diri dari dunia luar selama hampir tiga tahun, kegiatan sederhana membuat kartu menjadi penyelamat bagi kesehatan mental Siska. Sebagai warga non-residen, ia tidak bisa meninggalkan Makau tanpa risiko tak bisa kembali. Isolasi dan keterbatasan membuat banyak orang kewalahan. Bagi Siska, membuat kartu menjadi terapi yang menenangkan.

Ia menyadari, aktivitas kreatif ini bukan hanya menyehatkan bagi pembuat, tetapi juga memberi dampak positif bagi penerimanya. Kartu menjadi sarana komunikasi emosional dan bentuk perhatian yang hangat di masa-masa sulit. Lebih dari sekadar karya seni, kartu adalah ruang sunyi tempat perasaan diolah dan disampaikan dengan lembut. “Memberi kartu itu menjadi sarana untuk menyatakan perasaan yang sulit diucapkan secara langsung,” katanya. Dalam proses menulis pesan di dalam kartu, seseorang mengambil waktu: berpikir, menimbang kata, dan menulis dengan hati-hati.

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) merupakan tayangan video berdurasi sekitar 10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube Ruanita Rumah Aman Kita dan dikelola oleh Ruanita Indonesia, sebagai ruang aman berbagi cerita inspiratif perempuan Indonesia dari berbagai penjuru negeri. Program ini mengangkat pengalaman nyata, perjuangan, serta refleksi para perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mendorong promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Digagas oleh Anna Knöbl di Jerman, CSS menjadi wadah yang memperkuat suara perempuan, membangun solidaritas, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keadilan serta kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:

(CERITA SAHABAT) Ciptakan Lingkungan Kerja Inklusif, Tentu Tak Ada Generation Gap

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Ecie yang tinggal di Hamburg, Jerman. Sebagai seorang karyawati di sebuah institusi bahasa yang terdiri atas orang-orang berbagai bangsa di Jerman, istilah generation gap bukan hal asing. Ketika saya mendengar istilah “generation gap” di tempat kerja, yang pertama kali terlintas di pikiran saya adalah perbedaan pandangan, nilai, dan pendekatan kerja di antara generasi yang berbeda. 

Menurut saya, kadang-kadang ini dapat menyebabkan kesalahpahaman atau tantangan dalam berkomunikasi dan berkolaborasi. Di tempat kerja, saya dapat mengamati perbedaan paling mencolok antara generasi yang berbeda. Biasanya ini terlihat dalam cara mereka berkomunikasi dan pendekatan terhadap teknologi. 

Generasi yang lebih tua atau mereka yang senior cenderung lebih formal, misalnya mereka lebih memilih komunikasi tatap muka atau melalui telepon. Ini mungkin disebabkan dengan faktor kenyamanan, menurut saya. Sementara generasi yang lebih muda, mereka lebih mengandalkan komunikasi digital, seperti email, pesan instan, atau platform kolaborasi online. 

Generation gap tidak hanya sampai di situ saja. Saya melihat bahwa generasi yang lebih tua mungkin lebih fokus pada stabilitas dan loyalitas terhadap perusahaan, sementara generasi yang lebih muda seringkali lebih menekankan pada fleksibilitas, Work-life-balance, dan peluang untuk perkembangan pribadi.  Tentunya, generation gap juga menciptakan perbedaan dalam prioritas dan pendekatan terhadap pekerjaan, sehingga bukan tidak mungkin timbul percikan-percikan dalam dunia pekerjaan yang saya amati. 

Saya pernah menyaksikan konflik antar generasi di tempat kerja. Biasanya, konflik tersebut muncul dari perbedaan cara pandang atau metode kerja. Dalam salah satu kasus, situasi tersebut ditangani dengan mengadakan diskusi terbuka di mana setiap generasi diberikan kesempatan untuk berbagi pandangan mereka dan mencari solusi bersama. Kalau menurut kalian, sahabat Ruanita begitu jugakah kalau terjadi generation gap?

Dalam tempat kerja saya, saya tidak hanya dihadapkan dengan perbedaan latar belakang budaya atau yang berbeda saja, tetapi juga usia di antara kami. Bekerja dengan orang-orang dari berbagai generasi, tentunya memberikan keuntungan tersendiri. Saya jadi memiliki perspektif beragam, terutama dalam bekerja yang memerlukan kreativitas dan solusi.

Namun, tentunya bekerja dengan berbagai generasi yang kemudian memunculkan kesenjangan pun menimbulkan kemungkinan terjadinya kesalahpahaman atau ketegangan, akibat perbedaan nilai dan cara kerja. Menurut saya, cara yang paling efektif untuk menjembatani perbedaan pandangan dan gaya kerja antar generasi di tempat kerja adalah dengan mengadakan sesi pelatihan lintas generasi sehingga menciptakan budaya kerja yang inklusif. Maksud saya, kita perlu menghargai dan mendengarkan setiap orang, terlepas dari usia atau latar belakang mereka. 

Saya menilai posisi saya berada di antara keduanya. Demikian pula saya merasa bahwa setiap generasi mungkin saja bisa diuntungkan atau dirugikan dalam lingkungan kerja, tergantung konteksnya. Artinya, ini bergantung pada seberapa baik perusahaan mengakomodasi kebutuhan dan gaya kerja mereka. 

Misalnya, generasi yang lebih muda mungkin merasa diuntungkan dalam hal adaptasi teknologi, sementara generasi yang lebih tua mungkin merasa dirugikan jika mereka tidak mendapatkan dukungan yang cukup untuk mengikuti perkembangan ini. 

Perbedaan dalam penggunaan teknologi seringkali memengaruhi hubungan antar generasi di tempat kerja. Generasi yang lebih muda biasanya lebih cepat beradaptasi dengan teknologi baru, sementara generasi yang lebih tua mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk beradaptasi, yang dapat menciptakan kesenjangan dalam efisiensi kerja dan komunikasi.

Contohnya saja, saya merasa tidak sabar ketika mereka yang berasal dari generasi senior begitu lamban dalam merespon. Mereka bisa mengetik lama sekali karena mereka perlu berpikir lama untuk menjawab email. Contoh lainnya, mereka (generasi senior) ingin sekali belajar Microsoft Excel, tetapi mereka sering “ngeyel” dan ingin lebih cepat selesai. Padahal hasil mereka belum tentu bisa akurat. 

Dalam kaitan tema generation gap, saya percaya kita bisa menjembatani kesenjangan antar generasi ini dengan melakukan program mentoring. Program tersebut bisa berupa pelatihan teknologi bagi generasi yang lebih tua atau mentoring dari generasi yang lebih senior kepada yang lebih muda dalam hal pengembangan karier dan etika kerja. 

Pemberi kerja atau perusahaan juga perlu menyediakan waktu staff meeting untuk saling berbagi perspektif cara kerja masing-masing. Pembekalan cara berkomunikasi dengan rekan kerja juga penting, apalagi saya yang bekerja di tempat kerja dari berbagai latar belakang budaya dan negara. 

Dalam kehidupan digitalisasi seperti sekarang, tentu saya berharap kita dapat menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan harmonis. Kita perlu menciptakan suasana kerja yang saling menghormati satu sama lain, terlepas dari usia atau latar belakang budayanya. Dengan begitu, kita dapat bekerja sama dengan memanfaatkan kekuatan masing-masing. Bukankah itu maksudnya bekerja tim? 

Lewat tema generation gap, saya rasa kita perlu menghasilkan tim yang kuat dan dinamis. Kita perlu menghormati generasi senior dan mengajak mereka agar tidak akan merasa tertinggal dengan pesatnya kemajuan teknologi dan digitalisasi.

Penulis: Ecie, relawan Ruanita yang tinggal di Hamburg dan dapat dikontak via akun IG: ciesa.

(SIARAN BERITA) Peringati Hari Anak Nasional melalui Diskusi Dwi Kewarganegaraan dan Identitas Anak Indonesia di Keluarga Internasional

ISLAMABAD, 26 Juli 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional Indonesia 2026, Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Anak Global, Identitas Nasional: Memahami Dwi Kewarganegaraan dan Masa Depan Anak Indonesia di Keluarga Internasional” pada Minggu (26/7). Kegiatan yang berlangsung melalui Zoom Meeting ini diikuti sekitar 40 peserta yang berasal dari berbagai negara, terdiri atas orang tua, perempuan Indonesia di luar negeri, pemerhati anak, akademisi, serta masyarakat umum.

Diskusi diselenggarakan sebagai ruang edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai isu dwi kewarganegaraan, perlindungan hukum anak hasil perkawinan campuran, serta pentingnya membangun identitas nasional bagi anak-anak Indonesia yang tumbuh dalam lingkungan multikultural.

Acara diawali dengan pembukaan oleh Rahmat Hindiarta Kusuma, Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Islamabad, Pakistan, yang menegaskan pentingnya perlindungan hak-hak anak Indonesia di luar negeri, termasuk anak-anak yang berada dalam keluarga dengan latar belakang kewarganegaraan ganda. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa Fungsi Pensosbud KBRI memiliki peran dalam memberikan pendampingan, informasi, dan fasilitasi terkait berbagai persoalan sosial dan kekonsuleran yang dihadapi WNI di luar negeri, termasuk isu yang berkaitan dengan status kewarganegaraan anak hasil perkawinan campuran.

Setelah pembukaan tersebut, moderator Dewi N. S. Lubis, Mahasiswa Hukum Universitas Terbuka di Singapura, mengawali diskusi dengan menekankan bahwa Hari Anak Nasional menjadi momentum penting untuk memperhatikan hak-hak anak Indonesia, termasuk mereka yang tinggal di luar negeri dan menghadapi dinamika identitas sebagai bagian dari keluarga internasional.

Pada sesi pertama, Maudy Noor Fadhlia, dosen Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya, memaparkan aspek perlindungan hukum internasional bagi anak berkewarganegaraan ganda. Ia menjelaskan berbagai regulasi yang mengatur status kewarganegaraan anak Indonesia, tantangan administrasi, serta pentingnya perlindungan negara terhadap hak-hak anak di tengah mobilitas masyarakat global.

Sesi berikutnya menghadirkan Rina Harahap, Relawan Ruanita Indonesia di Pakistan, yang membagikan pengalaman keluarga Indonesia di Pakistan dalam mengurus dokumen kewarganegaraan anak serta berbagai tantangan administrasi yang dihadapi keluarga lintas negara. Ia menekankan pentingnya memperoleh informasi yang akurat agar orang tua dapat memenuhi hak-hak sipil anak sejak dini.

Pengalaman serupa disampaikan oleh Rindu Ragilia, content creator yang berdomisili di Portugal. Sebagai ibu yang menikah dengan warga Pakistan dan membesarkan anak-anak yang lahir di negara ketiga, ia berbagi kisah mengenai pengasuhan lintas budaya, pengenalan bahasa Indonesia, serta upaya menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada anak-anak yang tumbuh di lingkungan internasional.

Perspektif psikologis disampaikan oleh Reneta, psikolog yang berdomisili di Australia. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa anak-anak birasial dan multikultural memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai individu yang adaptif dan terbuka terhadap keberagaman. Namun demikian, dukungan keluarga tetap menjadi faktor penting dalam membangun rasa percaya diri, identitas diri yang sehat, serta keterikatan terhadap budaya asal.

Diskusi berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab yang membahas berbagai persoalan, mulai dari prosedur kewarganegaraan, hak-hak anak dalam keluarga lintas negara, hingga strategi membangun identitas nasional tanpa mengabaikan realitas sebagai warga dunia.

Melalui kegiatan ini, Ruanita Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang edukasi dan berbagi pengalaman bagi perempuan Indonesia dan keluarga Indonesia di berbagai belahan dunia. Diskusi ini juga diharapkan dapat meningkatkan literasi masyarakat mengenai isu dwi kewarganegaraan, memperkuat jejaring dukungan bagi keluarga Indonesia di luar negeri, serta menjadi referensi publik melalui dokumentasi yang akan ditayangkan di kanal YouTube Ruanita Indonesia.

Peringatan Hari Anak Nasional tahun ini menjadi pengingat bahwa setiap anak Indonesia, di mana pun mereka tumbuh, memiliki hak yang sama untuk memperoleh perlindungan, pengakuan identitas, serta kesempatan berkembang tanpa kehilangan akar budaya dan kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Simak selengkapnya rekaman diskusi daring yang tayang di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami

(PRODUK) Buku Kumpulan Cerita Fiksi Kolektif: Gema dari Ruang Hening

Buku ini merupakan kumpulan cerita fiksi yang lahir dari pengalaman batin, refleksi, dan imajinasi 25 perempuan Indonesia yang hidup tersebar di 14 negara. Berakar dari kampanye digital Ruanita Indonesia dalam rangka Hari Perempuan Internasional Maret 2026, karya ini menjadi ruang bersama untuk merayakan suara perempuan sebagai warga global yang melintasi batas geografis, budaya, dan identitas.

Setiap cerita menghadirkan potret kehidupan perempuan Indonesia di perantauan: tentang rindu yang tak sederhana, pergulatan identitas di negeri orang, relasi rumah tangga yang kompleks, hingga perjuangan menghadapi diskriminasi, kekerasan, dan kesepian. Di sisi lain, kisah-kisah ini juga menampilkan ketangguhan, keberanian mengambil keputusan, pencarian makna diri, serta upaya membangun mimpi dan kemandirian di tengah keterbatasan.

Dari konflik keluarga, tekanan sosial, hingga pertemuan lintas budaya, para tokoh dalam buku ini bergerak di antara dua dunia, yakni mempertahankan akar sekaligus beradaptasi dengan realitas baru. Ada suara-suara yang dulu dipendam kini menemukan jalannya: tentang menjadi anak perempuan pertama, menjadi istri di tanah konflik, menjadi pekerja migran yang terpinggirkan, hingga menjadi individu yang berani mendefinisikan ulang kebahagiaan dan identitasnya.

Disunting dari hasil Workshop Online Warga Menulis Fiksi, buku ini bukan sekadar kumpulan cerita melainkan arsip hidup tentang pengalaman perempuan Indonesia di panggung global. Ini menjadi bukti bahwa setiap pengalaman perempuan adalah pengetahuan, setiap luka adalah narasi, dan setiap kata adalah bentuk keberanian.


Buku ini mengajak pembaca untuk tidak hanya membaca, tetapi juga mendengar dan merasakan, bahwa di balik jarak dan perbedaan, ada benang merah yang menghubungkan antara perjuangan untuk menjadi diri sendiri dan dunia yang lebih setara.

Nantikan buku ini yang akan dijadikan dalam versi audio dalam produksi bersama secara sukarela dalam waktu dekat.

(PODCAST IN ENGLISH) Dari Lulusan Keperawatan di Indonesia Menjadi Paramedis di Amerika Serikat: Perjalanan Memulai Lagi dari Nol

“Saya pikir memindahkan ijazah ke Amerika Serikat akan mudah. Ternyata tidak.”

Kalimat itu diucapkan Eka Nilawati tanpa dramatisasi. Setelah lebih dari satu dekade berkarier sebagai perawat di Indonesia, termasuk menjadi kepala perawat ICU dan ia membayangkan pengalamannya akan menjadi modal untuk melanjutkan profesi yang sama di Amerika Serikat. Namun, kenyataan berkata lain. Ketika pindah ke Amerika Serikat pada 2016 melalui visa keluarga setelah menikah dengan warga negara Amerika, Eka mendapati bahwa pengalaman profesional yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun tidak otomatis diakui. Di balik statusnya sebagai tenaga kesehatan berpengalaman, ia kembali menjadi seseorang yang harus memulai semuanya dari awal. Perjalanan itu bukan sekadar soal administrasi atau penyetaraan ijazah. Ia adalah kisah tentang identitas, migrasi, menjadi ibu, menjadi mahasiswa lagi, hingga belajar menerima bahwa memulai dari nol bukan berarti gagal.

Banyak perempuan Indonesia yang bermigrasi berharap dapat melanjutkan profesinya di negara tujuan. Namun, bagi tenaga kesehatan, proses tersebut jauh lebih kompleks dibanding sekadar menerjemahkan ijazah. Eka menjelaskan bahwa setiap negara bagian di Amerika Serikat memiliki regulasi berbeda terkait pengakuan profesi keperawatan. Proses verifikasi pendidikan, pengalaman kerja, hingga lisensi harus dilakukan melalui lembaga resmi, dan sering kali membutuhkan komunikasi langsung antara institusi di Indonesia dengan otoritas di Amerika. Ketika ia menjalani proses tersebut, Indonesia masih berada dalam masa transisi dari sistem administrasi manual menuju digital. Tidak adanya titik kontak yang jelas untuk proses verifikasi membuat langkahnya terhambat selama bertahun-tahun.

“Yang saya bayangkan sederhana, ternyata membutuhkan waktu, biaya, dan kesabaran yang luar biasa.”

Alih-alih menyerah, Eka memilih jalan lain. Karena belum dapat bekerja sebagai perawat, ia menerima pekerjaan sebagai caregiver di panti lansia. Pekerjaan yang secara administratif hanya membutuhkan ijazah sekolah menengah itu menjadi pintu masuknya kembali ke dunia pelayanan kesehatan. Dari sana, ia mengikuti pelatihan menjadi Certified Nursing Assistant (CNA), kemudian meningkatkan sertifikasinya agar dapat bekerja di rumah sakit.

Lima tahun bekerja sebagai CNA memberinya pengalaman baru mengenai sistem kesehatan Amerika Serikat sekaligus memperlihatkan bahwa perjalanan karier tidak selalu bergerak lurus. Kadang seseorang harus mundur beberapa langkah agar dapat melangkah lebih jauh. Di balik perjalanan profesional tersebut, ada kehidupan lain yang terus berjalan. Eka juga menjalani peran sebagai ibu dari dua anak, bekerja, sekaligus kembali menjadi mahasiswa. Setelah kelahiran anak keduanya, ia memutuskan kembali ke bangku kuliah untuk menentukan arah karier berikutnya.

“Target saya bukan menjadi mahasiswa dengan nilai sempurna. Target saya adalah menyelesaikan pendidikan.”

Pernyataan sederhana itu menggambarkan perubahan cara pandang yang dialami banyak perempuan setelah bermigrasi. Standar kesempurnaan yang selama ini melekat sering kali harus dinegosiasikan dengan realitas kehidupan sehari-hari. Ada waktu ketika buku kuliah harus ditutup karena anak membutuhkan perhatian. Ada saat ketika tugas kuliah dikerjakan setelah semua pekerjaan rumah selesai. Dan ada hari-hari ketika keberhasilan diukur bukan dari nilai A, melainkan dari kemampuan bertahan menjalani semuanya.

Awalnya, Eka berencana kembali menjadi perawat. Namun pandemi mengubah segalanya. Ibunya di Indonesia mengalami stroke. Tidak adanya sistem layanan darurat seperti 911 menyebabkan penanganan medis terlambat diberikan. Tak lama kemudian, ayahnya meninggal dunia akibat komplikasi diabetes setelah mengalami keterlambatan mendapatkan pertolongan. Peristiwa itu mengubah arah hidupnya. Alih-alih kembali menempuh jalur keperawatan, Eka memilih menjadi paramedis. Baginya, profesi tersebut bukan sekadar pekerjaan baru, melainkan cara untuk memahami sistem layanan darurat yang suatu hari nanti ingin ia bawa pulang ke Indonesia. Mimpi itu mungkin masih jauh. Namun justru dari pengalaman personal itulah lahir gagasan tentang perubahan.

Bagi perempuan Indonesia yang ingin melanjutkan karier tenaga kesehatan di Amerika Serikat, Eka memiliki satu pesan utama: persiapan harus dimulai bahkan sebelum meninggalkan Indonesia. Kemampuan bahasa Inggris, sertifikasi seperti IELTS atau TOEFL, memahami persyaratan lisensi di negara bagian tujuan, hingga membangun komunikasi dengan universitas asal merupakan langkah yang dapat menghemat banyak waktu dan biaya. Menurutnya, proses tersebut tidak murah. Namun biaya terbesar justru datang ketika seseorang berangkat tanpa informasi yang memadai.

Di luar seluruh proses administrasi dan pendidikan, ada satu hal yang menurut Eka jauh lebih penting. Bekerja di sektor kesehatan tidak bisa hanya didorong oleh alasan ekonomi. Merawat seseorang pada masa paling rentan dalam hidupnya membutuhkan empati, kesabaran, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Ia juga menyoroti pentingnya perlindungan privasi pasien di Amerika Serikat melalui regulasi seperti HIPAA. Bagi tenaga kesehatan, menjaga kerahasiaan informasi pasien bukan sekadar etika, melainkan kewajiban hukum yang dapat menentukan keberlangsungan profesi.

Baginya, budaya menghormati privasi pasien merupakan salah satu pelajaran penting yang layak terus diperkuat di berbagai sistem kesehatan, termasuk di Indonesia. Perjalanan Eka menunjukkan bahwa migrasi bukan hanya perpindahan geografis. Ia adalah proses menegosiasikan ulang identitas profesional, membangun kembali rasa percaya diri, dan menerima bahwa pengalaman panjang sekalipun kadang tidak langsung diakui di tempat baru. Namun, memulai dari awal tidak selalu berarti kehilangan arah. Kadang justru dari titik nol itulah seseorang menemukan alasan baru untuk terus melangkah. Dan bagi banyak perempuan Indonesia di perantauan, keberanian untuk terus belajar, beradaptasi, serta membuka kemungkinan-kemungkinan baru mungkin menjadi bekal paling berharga dalam perjalanan lintas negara.

Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad

Podcast audio berbahasa Inggris ini merupakan inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional, sebagaimana yang digagas oleh Anna Knöbl.

Simak selengkapnya di kanal SPOTIFY dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Dari Jerman ke Slovenia: Lebih dari Sekadar Pindah Negara

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan, saya Siti Aghata Romizah Yasmin, atau biasa dipanggil Aghata. Saya berasal dari Indonesia dan saat ini melanjutkan studi Master di Slovenia, setelah sebelumnya tinggal di Jerman selama setahun. Perjalanan tiga tahun merantau di Eropa ini bukan sekadar pindah negara, melainkan sebuah proses pembentukan diri yang menguji arti sebenarnya dari ketahanan diri.

Perpindahan saya dari Jerman ke Slovenia adalah sebuah evolusi. Pengalaman saya di Jerman memberi fondasi penting untuk memahami kehidupan di Eropa, namun tujuan saya lebih besar: melanjutkan pendidikan dan menantang diri di lingkungan yang sama sekali berbeda.

Jerman adalah ujian resiliensi pertama saya. Dua bulan awal terasa berat, culture shock membuat saya merindukan kehangatan Indonesia. Namun, dengan dukungan luar biasa dari keluarga angkat, saya belajar bahwa adaptasi bukan sekadar bertahan, tetapi juga tentang menerima dan tumbuh.

Saya sempat berpikir pengalaman di Jerman bisa dijadikan cetak biru untuk negara Eropa lainnya. Ternyata, saya salah besar. Slovenia punya “jiwa” dan ritme yang sama sekali berbeda. Proses adaptasi kali ini terasa lebih lambat, dan saya menyadari penyebabnya ada dua. Pertama, hilangnya “Efek Pelangi” yakni fase euforia di awal yang membuat semua tantangan terasa ringan.

Kedua, “Beban Ekspektasi”, yakni asumsi keliru bahwa karena sudah berpengalaman, semuanya akan mudah. Pengalaman justru membuat saya sedikit lengah dan lupa untuk kembali rendah hati. Saya harus kembali menjadi “murid” dari nol.

Tantangan terbesar saya adalah bahasa dan budaya. Awalnya, saya optimistis karena kemiripan alfabet Slovenia dengan Bahasa Indonesia. Namun, kesulitan sesungguhnya muncul di level lanjutan, saat saya berada di tengah penutur asli bahasa Slavia yang punya keunggulan alami. Ritme kelas yang cepat menguji saya secara akademis dan emosional. Saya harus berjuang dua kali lipat, mengubah rasa minder menjadi motivasi.

Masyarakat Slovenia juga cenderung lebih berhati-hati dengan orang asing. Mereka ramah, tetapi butuh waktu dan konsistensi untuk membangun kepercayaan. Di sinilah saya benar-benar memahami makna resiliensi emosional: kemampuan untuk proaktif memulai interaksi tanpa mengharapkan keterbukaan instan.

Tantangan ini diperkuat dengan tidak adanya komunitas Indonesia yang solid atau kedutaan besar di Slovenia. Ada kalanya saya merindukan keakraban tawa dan bahasa kita. Namun, situasi ini memaksa saya untuk tidak bergantung pada “jaring pengaman” budaya. Saya belajar hal yang paling fundamental: menjadi rumah bagi diriku sendiri. Ini bukan berarti menyendiri, melainkan secara proaktif membangun koneksi baru yang bermakna. Bagi saya, ini terwujud melalui pertemanan lintas budaya dan dengan menyalurkan energi untuk berkontribusi, seperti keterlibatan saya sebagai relawan di Ruanita, yang memberikan saya ruang untuk bertumbuh bersama komunitas.

Tentu, saya punya jangkar penolong. Seni adalah jangkar mental saya. Melukis, menggambar, hingga nail art menjadi ruang aman untuk menenangkan pikiran. Saya juga menulis untuk memaknai setiap tantangan. Dan yang terpenting, suami saya adalah rekan resiliensi saya. Kami tidak hanya saling mendukung secara emosional; kami memandang setiap kesulitan sebagai proyek tumbuh bersama yang harus dihadapi sebagai sebuah tim.

Kini, saya melihat migrasi sebagai proses tanpa akhir untuk membentuk diri. Saya belajar beberapa prinsip penting: kosongkan gelasmu sebelum memasuki lingkungan baru; bangun ekspektasi berdasarkan realitas, bukan ilusi; dan sadari bahwa hubungan adalah investasi berharga yang harus dirawat.

Untuk teman-teman yang sedang berjuang di negara baru, ingatlah: kamu tidak sendiri. Bicarakan apa yang kamu rasakan. Lalu, mulailah dari langkah kecil. Adaptasi bukan perlombaan, melainkan proses menemukan ritme baru. Dan yang paling penting, jadilah rumah bagi dirimu sendiri, di mana pun kamu berada.

Penulis: Siti Aghata Romizah Yasmin, relawan Ruanita Indonesia di Slovenia dan dapat dikontak via akun instagram aghataasasmin.

(IG LIVE) Memahami ADHD Lebih dari Sekadar “Tidak Bisa Fokus”: Ketika Dukungan dan Apresiasi Menjadi Kunci

Dalam rangka memperingati International ADHD Awareness Day yang diperingati setiap 13 Juli, Ruanita Indonesia kembali menghadirkan ruang diskusi digital melalui program Instagram Live. Diskusi ini mengajak masyarakat untuk memahami Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) secara lebih utuh, baik dari perspektif profesional maupun pengalaman langsung keluarga yang mendampingi anak dengan ADHD.

Diskusi yang berlangsung selama sekitar 30–40 menit tersebut menghadirkan Lovely Christy Zega, seorang psikolog klinis yang tinggal di Jerman, serta Lena, seorang ibu yang memiliki anak dengan ADHD dan saat ini tinggal di Austria. Keduanya berbagi perspektif mengenai ADHD, mulai dari tantangan mengenali gejala, proses mendapatkan dukungan profesional, hingga pentingnya membangun lingkungan yang menerima dan mendukung individu neurodivergen.

Dalam diskusi tersebut, Lovely menjelaskan bahwa ADHD kerap dipahami secara terlalu sederhana. Banyak orang langsung mengaitkan ADHD dengan anak yang aktif atau sulit diam. Padahal, ADHD memiliki spektrum gejala yang lebih luas, termasuk kesulitan dalam mempertahankan perhatian, impulsivitas, serta tantangan dalam mengelola berbagai aktivitas sehari-hari.

Salah satu tantangan terbesar adalah membedakan ADHD dari kondisi lain yang juga dapat memengaruhi konsentrasi dan kemampuan menyelesaikan tugas. Kesulitan fokus, misalnya, juga dapat muncul ketika seseorang mengalami depresi atau berada dalam kondisi psikologis tertentu. Perbedaannya, ADHD merupakan kondisi neurodevelopmental yang berlangsung secara menetap dan dapat memengaruhi kehidupan seseorang dalam jangka panjang.

Seseorang dengan ADHD mungkin memiliki kemampuan intelektual yang baik, bahkan mampu berprestasi dan memiliki kompetensi tinggi di bidang tertentu. Namun, untuk menyelesaikan tugas yang bagi orang lain terasa sederhana, mereka bisa membutuhkan energi, waktu, dan usaha yang jauh lebih besar.

Tantangan tersebut juga dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang mungkin memiliki banyak minat dan ide, tetapi kesulitan menyelesaikan satu tugas hingga tuntas. Di sisi lain, ketika berhadapan dengan hal yang benar-benar diminati, seseorang dengan ADHD bahkan dapat mengalami hyperfocus, fokus yang sangat intens terhadap sesuatu yang menarik perhatian mereka.

Pengalaman Lena sebagai seorang ibu menunjukkan bahwa proses mengenali ADHD tidak selalu mudah. Pada awalnya, ia lebih memperhatikan sensitivitas anaknya terhadap suara dan lingkungan sekitar dibandingkan tingkat aktivitasnya.

Follow us

Menurut Lena, anak-anak pada umumnya memang aktif. Karena itu, anak yang banyak bergerak tidak serta-merta dapat disebut mengalami ADHD. Dalam pengalaman keluarganya, tantangan menjadi lebih terlihat ketika anak harus berhadapan dengan situasi yang menuntutnya untuk duduk, berkonsentrasi, dan menyelesaikan tugas yang tidak menarik baginya.

Sebelumnya, anak Lena mengikuti lingkungan belajar yang sangat fleksibel dan berpusat pada anak. Ia dapat belajar melalui permainan, memilih aktivitas yang sesuai dengan minatnya, serta mendapatkan dukungan terhadap kebutuhan sensoriknya. Dalam lingkungan seperti itu, tidak tampak masalah besar. Namun, ketika memasuki jenjang pendidikan yang menuntut lebih banyak struktur, tantangan mulai muncul. Anak Lena mengalami kesulitan menyelesaikan tugas-tugas yang sebenarnya mampu ia kerjakan. Situasi tersebut kemudian menimbulkan frustrasi, baik bagi sang anak maupun ibunya.

“Dia tahu bahwa dia bisa melakukannya, tetapi dia tidak bisa menyelesaikan tugas yang sebenarnya sederhana,” menjadi salah satu pengalaman yang menggambarkan tantangan tersebut.

Bagi Lena, situasi itu tidak hanya melelahkan secara praktis, tetapi juga emosional. Ia melihat anaknya merasa takut dan bingung karena tidak mampu menyelesaikan sesuatu yang sebenarnya ia pahami. Dari sinilah komunikasi dengan sekolah menjadi sangat penting. Lena berdiskusi dengan guru untuk memahami apa yang terjadi dan mencari bentuk dukungan yang sesuai. Sekolah kemudian mendorongnya untuk mencari bantuan profesional dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Dalam diskusi, Lovely menjelaskan bahwa proses mengenali dan mendiagnosis ADHD tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan satu atau dua gejala. Pemeriksaan perlu mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan seseorang, termasuk riwayat perkembangan, kondisi psikologis, serta dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari. Karena itu, prosesnya dapat melibatkan berbagai profesional. Pemeriksaan medis dan diagnosis dapat melibatkan dokter atau neurolog, sementara dukungan psikologis dan terapi dapat diberikan oleh psikolog sesuai kebutuhan individu.

Penanganan ADHD juga tidak dapat disamaratakan. Kebutuhan setiap orang berbeda-beda. Ada yang membutuhkan terapi, ada yang memerlukan dukungan medis, dan ada pula yang sangat terbantu oleh perubahan lingkungan. Dalam konteks anak, lingkungan sekolah dan keluarga memiliki peran besar. Dukungan sederhana, seperti memberikan ruang belajar yang lebih sesuai, mengurangi distraksi suara, menyediakan waktu tambahan, atau menyesuaikan cara belajar, dapat memberikan dampak yang besar.

Ketika ditanya mengenai berapa lama terapi ADHD perlu dilakukan, Lovely menekankan bahwa tidak ada jawaban tunggal. Durasi dan bentuk dukungan sangat bergantung pada kondisi individu serta lingkungan tempat ia berada. Lingkungan yang mendukung dapat membantu seseorang mengembangkan strategi untuk mengelola tantangan ADHD. Sebaliknya, lingkungan yang tidak memahami kebutuhan neurodivergen dapat membuat tantangan menjadi semakin berat. Dengan demikian, dukungan tidak hanya berfokus pada individu dengan ADHD. Keluarga, sekolah, tempat kerja, dan masyarakat juga perlu mendapatkan pemahaman yang memadai.

Bagi Lena, salah satu bentuk dukungan terbesar yang dapat diberikan kepada anak dengan ADHD adalah apresiasi. Anak-anak neurodivergen sering kali menerima lebih banyak koreksi, label, dan kritik dibandingkan apresiasi. Mereka mungkin lebih sering mendengar bahwa dirinya “nakal”, “tidak bisa diatur”, “malas”, atau “tidak berusaha cukup keras”. Padahal, banyak hal yang tampak sederhana bagi orang lain dapat membutuhkan usaha yang sangat besar bagi seseorang dengan ADHD.

Karena itu, orang tua perlu melihat anak sebagai manusia secara utuh, bukan hanya berdasarkan apa yang mampu atau tidak mampu mereka lakukan. Apresiasi tidak harus selalu menunggu pencapaian besar. Usaha kecil, keberanian mencoba, kemampuan bertahan, dan proses belajar juga layak dihargai. Ketika seorang anak hanya menerima apresiasi setelah mencapai sesuatu, ia dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya hanya berharga ketika berhasil. Sebaliknya, apresiasi yang konsisten dapat membantu anak mengenali kekuatan dan potensinya.

Diskusi Ruanita Indonesia ini juga menjadi pengingat bahwa ADHD bukanlah sebuah label untuk menentukan nilai seseorang. Memiliki ADHD tidak berarti seseorang tidak cerdas, tidak mampu berprestasi, atau tidak memiliki masa depan. Banyak individu dengan ADHD memiliki kemampuan, kreativitas, minat, dan keunggulan yang kuat di bidang tertentu. Yang dibutuhkan adalah pemahaman terhadap cara kerja mereka, dukungan yang tepat, serta lingkungan yang tidak buru-buru menghakimi.

Mengenali ADHD dengan lebih baik berarti memahami bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam belajar, bekerja, berkomunikasi, dan menjalani kehidupan. Dengan memperluas pengetahuan dan mengurangi stigma, masyarakat dapat menciptakan ruang yang lebih aman bagi individu neurodivergen untuk berkembang. Melalui ruang diskusi seperti Instagram Live, Ruanita Indonesia terus menghadirkan percakapan penting mengenai kesehatan mental, pengalaman hidup orang Indonesia di perantauan, serta isu-isu yang relevan bagi masyarakat Indonesia di luar negeri.

Program Diskusi IG LIVE dikelola oleh Ruanita setiap bulan dengan berbagai tema yang bervariasi, sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) antara orang Indonesia di luar Indonesia dan orang Indonesia di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi bersama, yang memanfaatkan ruang digital seperti platform instagram. Durasi berlangsung sekitar 30 menit yang berlangsung lewat instagram @ruanita.indonesia dan bersama informan lainnya. Pastikan follow akun Instagram @ruanita.indonesia untuk mendapatkan ruang diskusi digital lainnya yang menarik. Simak juga rekaman selengkapnya di kanal YouTube Ruanita-Rumah Aman Kita dan jangan lupa subscribe, ya!

(CERITA SAHABAT) Saya Menemukan Diriku: Perjalanan Menyadari ADHD di Usia Dewasa

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya Rieska dan seorang jurnalis Indonesia yang tinggal di Italia. Pada 2022, hidup saya berubah drastis setelah mengalami kecelakaan saat bermain ski. Awalnya dokter mengatakan tidak ada patah tulang, tapi rasa nyeri yang luar biasa membuat saya mengalami insomnia dan kesulitan bergerak. 

Saya harus menjalani perawatan intensif, suntik dua kali sehari selama sebulan, terapi gelombang ultrasonik 12 jam sehari selama dua minggu, dan terapi penggeseran posisi tulang. Di bulan kedua, barulah bisa diketahui bahwa dua otot kaki saya putus, menjelaskan sakit yang begitu luar biasa itu.

Selama masa pemulihan, saya mencoba mengalihkan perhatian dengan membaca buku, menulis, menonton dokumenter, dan berdiskusi dengan teman lewat media sosial. Namun, seiring waktu, saya mulai menyadari hal-hal yang aneh terjadi dalam diri saya seperti: saya kesulitan memahami konsep waktu. Selain itu, emosi saya naik turun tanpa alasan jelas. Saya juga merasa otak terasa kabur (brain fog), bahkan sulit mengingat nama teman atau nama  kolega yang baru. Setiap malam, saya mendapay mimpi saya begitu vivid dan bertumpuk, kadang seperti film Inception atau pengalaman keluar dari tubuh, sehingga saat bangun alih-alih segar, saya malah tambah lelah.

Meski demikian, saya menikmati keindahan membaca 3–4 buku sejarah dalam dua minggu hanya untuk menyelesaikan satu atau dua tulisan. Menariknya, kalau sudah terpaku pada buku, saya bisa lupa makan dan minum meski kaki saya nyeri luar biasa. Saya sering bangun tengah malam untuk minum 5–7 gelas air tapi tetap merasa haus, dan ini membuat saya bolak-balik ke kamar mandi, menambah sulit tidur dan rasa sakit.

Kondisi ini menghantam saya secara mental, fisik, bahkan hampir secara seksual, karena rasa sakit berlangsung berbulan-bulan. Hal yang bisa saya nikmati hanyalah kepuasan spiritual, intelektual, dan finansial: menulis semua yang saya rasakan, mencatat kronologi sakit, dan tetap bekerja menulis laporan berita.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai mempertanyakan semua gejala ini, yakni haus berlebihan, kehilangan ingatan, brain fog, sulit fokus tapi kadang hyperfocus, emosi ekstrem, hingga disorientasi, mengalami mental paralyze dan bahkan semacam seizure saat emosi tak dapat dikendalikan. Karena penasaran, saya mengikuti beberapa tes online dan menemukan fakta mengejutkan: saya mengalami ADHD berat.

Saya berseru: Eureka! Semua anomali hidup saya ternyata memiliki jawaban. Saya tidak gila. Psikologi dan neurologi memberikan penjelasan yang sangat masuk akal.

Follow us

Sejak itu, saya mulai fokus pada cara alami meningkatkan dopamin: supaya bisa tidur tenang, saya paksakan olahraga meski rasa sakit tak terhingga, saya seleksi makanan dengan menu khusus yang dapat memicu produksi dopamin, sederhana tapi esensial seperti biji-bijian, kacang mede, ati ayam, daging dan berbagai macam ikan. Saya hanya makan karbohidrat saat makan siang, pagi dan malam saya cukup puas dengan makan buah dan sayur. 

Meski selama sakit, sehari-hari saya hanya berbaring, sebagai jurnalis, saya disiplinkan diri mencatat semua kegiatan harian untuk melihat apakah terapi yang saya buat, bisa memberikan perubahan. Terapi perbaikan posisi tulang memungkinkan saya untuk mulai melakukan olahraga sepeda statis. 

Perlahan tapi pasti, seiring dengan meningkatnya suplai dopamin dalam tubuh, saya mulai bisa mengontrol emosi, meningkatkan kemampuan memori, kabut otak mulai hilang, tidur mulai nyaman karena rasa haus tak lagi menyerang. Dugaan saya, rasa haus yang berlebihan pada penderita ADHD adalah salah satu sinyal yang diberikan tubuh, sebagai indikasi krisis dopamin pada otak akibat rasa sakit yang sangat dan insomnia yang kronik. 

Penemuan ini saya sampaikan kepada dokter, mereka terkesima karena saya bisa dengan jelas menuturkan dan menjelaskan proses penemuan saya, bagaimana saya mencoba bangkit dan mengatasi masalah ini secara natural dan disiplin mencatat semua perkembangannya. 

Dokter berkata bahwa ini adalah salah satu cara paling efektif untuk mengatasi ADHD dan dia juga memuji saya untuk tetap solid, menjadi pribadi yang sepenuhnya memiliki kedaulatan pada kebutuhan dasar dan keluar dari krisis dengan cara paling instingtif tapi sekaligus intelek.

Pendapat dokter ini didengar juga oleh suami yang hadir mendampingi. Dokter memuji saya sebagai pasien yang benar-benar komit mencari penyembuhan yang konkrit, tak sekedar mencari solusi dari segi fisik, tapi juga mental, intelektual  dan spiritual. 

Mendengar itu, suami mendukung penuh. Keluarga besar dan anak-anak kami beri tahu bahwa orang dengan ADHD tidak akan berfungsi penuh di pagi hari, karena ADHD memiliki gen pemburu yang aktif di malam hari, oleh karena itu, di pagi hari, suami mengambil alih situasi.

Ia menyiapkan sarapan dan mengantar anak. Saya mulai menjalankan fungsi sebagai istri, setelah suami dan anak-anak keluar dari rumah. Saya membagi waktu, yaitu pekerjaan intelektual siang hari, aktivitas fisik seperti beberes dan olahraga di malam hari setelah semua tugas rutin dan makan malam selesai. Saya juga mengambil keanggotaan pusat kebugaran untuk jam malam, menyesuaikan ritme tubuh saya dan ternyata tarifnya lebih ekonomis.

Saya cukup beruntung, kini saya dikelilingi orang-orang yang tepat. Saya memiliki tim kerja dan sahabat dekat yang sangat mendukung dalam hal membantu disiplin saya, menyesuaikan jadwal pekerjaan dan pertemuan, sehingga saya bisa tetap produktif tanpa stres.

Sementara itu, saya semakin sering menemukan orang dengan symptom ADHD dan saya langsung bisa mengenali “frekuensi” nya sehingga kami menjadi satu koneksi yang solid dan saya sebut “ADHD Soultribe”. Saya kerap menjadi rujukan bagi teman dan orang tua murid yang menghadapi situasi serupa.

Pelajaran terpenting: ADHD bukan penyakit. Ini adalah kondisi otak yang berbeda atau disebut neurodivergent, cara kerjanya unik, tak sama dengan otak kebanyakan atau neurotypical. 

Kelemahannya yang paling distingtif: Otak ADHD memproduksi dopamin lebih rendah, jadi gaya hidup dan lingkungan yang mendukung sangatlah penting. Kelebihan lain, ADHD  memiliki empati tinggi, kemampuan hyperfocus, dan potensi jenius yang harus dilindungi dari orang abusif (toxic).

Sahabat Ruanita, ini pesan untuk perempuan lain. Pertama, saya berpendapat bahwa ADHD adalah anugerah, bukan kelemahan. Segera juga lindungi diri dari orang yang toksik atau manipulatif. Ketiga, menurut saya, pentingnya untuk mencari lingkungan yang juga ADHD dan teman yang mendukung. Terakhir, saya pikir adalah disiplin diri sebagai kunci untuk thrive.

Seandainya saya tahu sejak dulu, mungkin saya bisa lebih cepat menemukan perlindungan dan lingkungan yang tepat. Namun, sekarang saya bersyukur. Saya merasa hidup ini indah, layak diperjuangkan. Saya bukan produk gagal, melainkan saya adalah produk langka.

Terima kasih, hidup telah mengajarkan saya untuk bangga menjadi diri sendiri.

Penulis: Rieska, jurnalis Indonesia yang tinggal di Italia dan dapat dikontak via akun instagram ri3ska.

(PODCAST RUMPITA) Menembus Dunia Hospitality Global: Cerita Inspiratif dari Bandung ke Swiss

Program diskusi bulanan Audio Podcast RUMPITA, Rumpi bersama Ruanita, kembali hadir dengan diskusi inspiratif lintas negara. Dipandu oleh Anna, host Podcast yang menetap di Jerman, episode kali ini mengangkat tema yang semakin relevan di era global: dunia hospitality, kepemimpinan, dan entrepreneurship.

Seperti biasa, Anna didampingi oleh relawan Ruanita Indonesia lainnya, Griska Gunara, yang saat ini berdomisili di Inggris (UK). Pengalaman panjang Griska di dunia kerja internasional membuat diskusi terasa lebih kaya dan kontekstual.

Griska membuka diskusi dengan refleksi pengalamannya di industri hospitality sejak pertengahan 2000-an. Menurutnya, hospitality memang berakar pada pelayanan, namun praktiknya sangat bergantung pada budaya, regulasi, dan standar di masing-masing negara.

Diskusi pun semakin menarik ketika Anna memperkenalkan tamu spesial dari Swiss, sosok muda Indonesia yang tengah menekuni dunia hospitality secara akademik dan praktis.

Informan yang diundang adalah Diva Arya Saskia Putri, mahasiswa Magister Hospitality, Entrepreneurship, and Innovation di Glion Institute of Higher Education, Swiss. Diva merupakan penerima Beasiswa LPDP, alumni Bandung, sekaligus Ketua PPI Swiss–Liechtenstein periode 2024–2025.

Tak hanya aktif secara akademik dan organisasi, Diva juga dikenal sebagai figur muda inspiratif yang memadukan dunia studi, kepemimpinan, dan bisnis digital.

Dalam diskusi, Diva membagikan perjalanan pendidikannya yang tidak instan. Keinginannya untuk kuliah di luar negeri sudah tumbuh sejak SMA. Ia akhirnya memilih International Class di ITB, dengan satu tahun masa studi di Inggris. Latar belakang akademiknya adalah business school, yang sama sekali belum bersinggungan langsung dengan hospitality.

Meski begitu, ketertarikannya pada dunia kuliner, traveling, dan pariwisata terus terpendam. Setelah lulus S1 di usia yang sangat muda, sekitar 19 tahun, Diva memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu, sesuai arahan orang tua, demi memahami dunia profesional sebelum benar-benar terjun membangun bisnis sendiri. Ia menghabiskan hampir lima tahun bekerja di dunia startup dan e-commerce di Jakarta sebelum akhirnya kembali mengejar mimpi lamanya: menempuh pendidikan hospitality di Swiss.

Sebagai mahasiswa magister, ketua organisasi pelajar, sekaligus pebisnis, Diva mengakui pentingnya manajemen waktu. Ia membagikan prinsip sederhana namun konsisten yang ia pegang. Menurutnya, semua orang memiliki 24 jam yang sama. Perbedaannya terletak pada bagaimana waktu tersebut dikelola. Ia membagi hari menjadi tiga bagian besar: waktu tanggung jawab (belajar atau bekerja), waktu istirahat, dan waktu personal yang menentukan kualitas hidup.

“Lima jam sisa itu yang bikin perbedaan. Mau dipakai untuk berkembang atau habis untuk scrolling,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya to-do list harian, kalender digital, dan evaluasi rutin sebelum tidur untuk menjaga produktivitas tanpa kehilangan keseimbangan hidup.

Pengalaman lintas negara memberi Diva perspektif baru tentang hospitality. Menurutnya, setiap negara memiliki cara berbeda dalam memberikan layanan. Swiss, yang kerap disebut sebagai “jantung hospitality dunia”, memberikan kesan mendalam baginya.

Salah satu pengalaman paling berkesan adalah kunjungan ke sebuah vila retreat di Swiss yang menerapkan konsep disconnect from technology. Para tamu diajak kembali menyatu dengan alam, tanpa internet, tanpa distraksi digital.

“Di situ aku sadar, hospitality bukan cuma soal profit, tapi juga sustainability, lingkungan, dan memberi dampak ke masyarakat,” tuturnya dengan emosional.

Menutup diskusi, Diva menyoroti tren besar di industri hospitality dan bisnis: AI, big data, dan personalisasi layanan. Menurutnya, hospitality modern menuntut empati yang didukung teknologi, mengenal tamu lebih dalam bahkan sebelum mereka datang.

Ia juga berpesan kepada generasi muda bahwa menjadi entrepreneur tidak selalu berarti langsung membangun bisnis besar. Entrepreneur adalah mindset: berani mengambil risiko, memahami diri sendiri, dan terus belajar.

“Sebelum melangkah, kenali diri kita. Lakukan assessment, pahami kekuatan dan kelemahan. Dari situ baru tentukan strategi,” pungkasnya.

Simak selengkapnya diskusi berikut ini di kanal SPOTIFY RUMPITA dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami.