(CERITA SAHABAT) Transfernya Sedikit, Manfaatnya Banyak

Sahabat RUANITA, saya senang sekali bisa terlibat dalam program cerita sahabat terutama yang berkaitan dengan pengalaman dan pengetahuan saya selama ini. Perkenalkan saya Nijhas, seorang perempuan asal Indonesia yang menetap di Jerman sejak 2017. Awal mulanya saya datang ke Jerman karena ingin melanjutkan studi Magister di Jerman. Kini saya bekerja di salah satu Organisasi Non Profit di kota terbesar di Jerman, Berlin.

Family remittances atau pengiriman uang ke keluarga di Indonesia merupakan tema menarik, tidak hanya karena berkaitan dengan studi yang saya tekuni tetapi juga pengalaman saya selama ini sebagai anggota keluarga untuk transfer uang ke keluarga Indonesia. Setiap bulan, saya rutin mengirimkan uang untuk kakak saya yang tinggal di Indonesia. Transfer yang saya lakukan biasanya lewat transfer antar bank, salah satu bank di Indonesia. Jadi saya transfer tetap pakai mata uang rupiah. Tentu saya sudah transfer uang gaji saya di Jerman ke rekening bank pribadi saya di Indonesia.

Kalau ditanya tujuan saya transfer, paling banyak tentu untuk kebutuhan sehari-hari seperti bagaimana keluarga kakak saya dapat memenuhi kebutuhan sembako atau membayar tagihan listrik, air dan lainnya. Saya hanya membantu sedikit dari pengeluaran keuangan dia. Saya tidak pernah memperhitungkan nominalnya, tetapi itu rupanya sangat membantu perekonomian Indonesia juga loh. Dengan kita mengirimkan uang ke keluarga di Indonesia, secara tidak kita sadari, transaksi tersebut mendorong perekonomian di Indonesia. 

Dengan uang yang kita kirimkan ke keluarga di Indonesia, keluarga kita bisa menggunakan uang tersebut untuk dibelanjakan, misalnya untuk membeli kebutuhan makanan pokok, untuk bayar uang sekolah (Edukasi), untuk bayar BPJS Kesehatan (Kesehatan), untuk bayar kontrakan rumah (Well-Being). Mungkin kita tidak berpikir bahwa apa yang kita lakukan itu ternyata mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kita. Bagaimanapun nilai transfer kecil kita itu berpengaruh untuk terus menghidupkan usaha kecil dan rumah tangga yang memang memerlukan yang ada di Indonesia.

Saya beri contoh misalnya bagaimana mata uang asing yang saya terima sebagai pekerja di Jerman itu dikonversi, dari Euro ke Rupiah maka akan berdampak positif juga pada ekonomi kita. Mau tidak mau permintaan akan Rupiah akan naik. Hal ini menjaga kestabilan perekonomian kita. Bahkan apa yang kita lakukan itu menaikkan nilai tukar rupiah terhadap uang asing. 

Follow us: @ruanita.indonesia

Di era moderen seperti sekarang, saya pikir kita sudah semakin dimudahkan untuk melakukan transaksi perbankan, termasuk mengirimkan uang ke keluarga di Indonesia dari negara tempat kita tinggal dan bekerja. Contohnya teman-teman saya bercerita tentang berbagai aplikasi transfer kekinian yang kata mereka juga paling cepat, murah dan aman. Meski kita juga harus mempertimbangkan kalau keluarga di Indonesia itu gampang juga akses internetnya, tahu bagaimana menggunakan aplikasinya dan memang diterima secara langsung (tanpa pihak ketiga). 

Realita menunjukkan bahwa kondisi kesejahteraan keluarga meningkat ketika ada anggota keluarga yang bekerja di luar negeri. Kita tidak lepas dari cara pandang di Indonesia kalau keluarga itu begitu penting, termasuk bagaimana kita juga ikut membantu perekonomian keluarga. Menurut pendapat saya ini hal yang bagus dan saya mendukung cara pandang tersebut. 

Saya juga melihat bagaimana status ekonomi keluarga yang memiliki anggota keluarga bekerja di luar negeri ternyata ikut terdongkrak status ekonominya di mata masyarakat. Ini jelas kalau kesejahteraan pekerja migran pun ikut mengalami perbaikan. Saya juga sering mendengar juga kalau teman-teman yang bekerja di luar negeri pada akhirnya bisa bangun rumah, membayar sekolah anak-anak, bisa membeli baju bermerek, membuat toko kelontong sampai ada yang berinvestasi saham juga. 

Pekerja migran membuktikan bahwa nasib mereka menjadi lebih baik ketika mereka mau bersusah payah di negeri orang dan bisa membantu keluarga di Indonesia yang membutuhkan. Saya menyayangkan saja kalau uang yang diberikan dari anggota keluarga di luar negeri tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Kita bisa loh gunakan uang tersebut untuk investasi seperti membeli tanah atau properti. Ide lain misalnya membuka usaha atau membuat bisnis produktif lainnya yang sekarang juga sudah marak di indonesia. 

Kita perlu ingat kalau kita tak selamanya bekerja terus di luar negeri. Suatu saat kita ingin pulang ke Indonesia. Nah, kalau uang yang kita kirimkan hasil kerja keras di Indonesia bisa dipergunakan untuk investasi misalnya, bukan tidak mungkin itu menjadi bekal ketika kita kembali pulang ke Indonesia saat sudah pensiun bekerja di luar negeri. Jadi teman-teman yang bekerja di luar negeri juga bisa mengingatkan anggota keluarganya untuk bersikap ekonomis dan memanfaatkan peluang itu dengan baik. 

Saya pikir tidak semua orang punya kemampuan untuk mengelola uang. Keterlibatan pemerintah atau LSM bisa turut memberikan kapasitas atau pelatihan soal manajemen keuangan atau kewirausahaan. Tidak hanya itu, pentingnya juga mengingatkan gaya hidup yang berlebihan dan konsumtif yang justru tidak menghasilkan benefit di masa depan. 

Di akhir cerita saya, saya berharap di hari International Day of Family Remittances yang kita rayakan ini pemerintah juga mampu memberantas kelompok-kelompok  penyedia jasa layanan pengiriman uang yang ilegal atau terkesan bodong. Hal ini sungguh merusak manakala mereka mengiming-imingi biaya yang rendah kepada anggota masyarakat yang mudah terpengaruh. Perlu juga kita memberantas bank-bank gelap yang menawarkan biaya rendah tetapi menipu. Hal ini masih ditemukan pada kasus-kasus pekerja migran yang tergiur jasa mereka. 

Literasi tentang perbankan dan manajemen keuangan juga diperlukan oleh pekerja migran agar mereka tahu bagaimana mengelola penghasilannya secara tepat guna. Pemerintah diharapkan dapat memberikan penyuluhan remitansi yang benar kepada masyarakat Indonesia, terutama masyarakat yang memiliki anggota keluarga bekerja di luar negeri.

Terakhir untuk Sahabat RUANITA, saya menyarankan bahwa selagi kita mampu bekerja di luar negeri, bantulah keluarga kita di Indonesia karena apa yang kita lakukan tidak hanya membantu keluarga saja tetapi juga perekonomian bangsa juga. 

Penulis: Nijhas, studi dan bekerja soal keuangan dan kini bekerja di Berlin, Jerman.