(CERITA SAHABAT) Mengatasi Bullying pada Anak: Kasih Sayang dan Dukungan Keluarga

 Di sebuah kota kecil di Swiss, tinggal seorang anak bernama Daniel. Daniel adalah seorang anak yang cerdas dan penuh semangat. Dia memiliki tekad yang kuat untuk belajar dan selalu ingin berbagi pengetahuannya dengan teman-temannya. Namun, hidupnya berubah ketika dia masuk ke kelas lima. Di kelas barunya, Daniel bertemu dengan Kevin, seorang anak yang sering merasa cemburu pada kecerdasan dan kepopuleran Daniel. Kevin merasa terancam oleh kemampuan Daniel dan memutuskan untuk mengubahnya menjadi sasaran bullying

Awalnya, bullying itu terjadi secara halus, dengan cemoohan dan ejekan di balik punggung Daniel. Pertama kali, Daniel merasakan adanya sesuatu yang tidak beres adalah ketika dia mulai kehilangan teman-temannya. Mereka menghindari Daniel dan berpaling kepada Kevin, karena takut menjadi korban selanjutnya. Daniel merasa sendirian dan takut. Dia merasa tidak berdaya menghadapi sikap Kevin dan mulai merasa rendah diri.  

Perubahan dalam perilaku Daniel mulai terlihat. Dia menjadi lebih tertutup, sering merasa sedih, dan prestasinya di sekolah mulai menurun. Pada suatu hari, ketika Daniel pulang dari sekolah dengan mata yang merah karena menahan air mata, ibunya, Lisa, melihat perubahan ini dan memutuskan untuk mengajak bicara Daniel. Setelah beberapa saat keraguannya luluh, Daniel akhirnya menceritakan pengalaman bullying yang dialaminya dari Kevin. 

Mendengar cerita Daniel, hati Lisa teriris. Dia merasa sedih melihat anaknya yang sedang menderita. Lisa dengan tegas meyakinkan Daniel bahwa dia tidak sendirian dan bahwa mereka akan menghadapi masalah ini bersama-sama.

Follow us: @ruanita.indonesia

Bullying adalah tindakan yang sangat tidak menyenangkan dan berdampak negatif bagi korban. Saya percaya bahwa bullying adalah masalah serius yang perlu segera diatasi. Bullying dapat merusak harga diri dan kesejahteraan mental seseorang, dan mempengaruhi perkembangan mereka secara keseluruhan.

Penting bagi kita sebagai masyarakat untuk bersama-sama mengambil tindakan dan mengedukasi anak-anak tentang pentingnya menghormati dan menghargai orang lain. Hanya dengan menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung, kita dapat menghentikan kejadian bullying.

Dari pengalaman yang dialami Daniel dan Lisa, orang tua memiliki peran penting dalam membantu anak mereka yang menjadi korban bullying. Berikut adalah beberapa tindakan yang dapat diambil:

  1. Dengarkan dengan empati

Dengarkan cerita anak Anda dengan penuh perhatian dan empati. Berikan mereka ruang untuk berbicara tentang pengalaman mereka tanpa interupsi. Ini akan membantu anak merasa didengar dan didukung.

  1. Berikan dukungan dan cinta

Berikan dukungan dan cinta tanpa syarat pada anak Anda. Jelaskan bahwa mereka tidak salah dan tidak sendirian. Pastikan anak merasa aman dan terlindungi di lingkungan keluarga mereka.

  1. Ajari strategi penanganan konflik

Bantu anak Anda untuk mengembangkan keterampilan sosial dan strategi penanganan konflik yang efektif. Ajari mereka cara mengkomunikasikan perasaan mereka secara positif dan mencari bantuan dari orang dewasa ketika dibutuhkan.

  1. Koordinasi dengan sekolah

Sampaikan masalah ini kepada pihak sekolah dan ajak mereka berpartisipasi dalam menyelesaikan masalah ini. 

Penyebab bullying pada anak bisa bermacam-macam, dan seringkali merupakan hasil dari beberapa faktor yang saling berinteraksi. Kurangnya pemahaman tentang empati dan penghargaan terhadap perbedaan orang lain, memiliki masalah kepercayaan diri dan harga diri rendah, pengaruh lingkungan seperti keluarga yang tidak mendukung atau pola perilaku agresif dalam lingkungan sekitar anak, tekanan sosial dan dorongan untuk menunjukkan dominasi atau kuasa atas orang lain, dan yang juga seringkali dilupakan adalah kurangnya memberikan pemahaman tentang dampak buruk dari tindakan bullying.

Dengan niat ingin berbagi pengalamannya, Lisa memiliki beberapa saran untuk orang tua korban Bullying, antara lain :

Yang pertama, dengarkan dan percayai anak Anda. Berikan mereka kesempatan untuk berbicara tentang pengalaman mereka dan pastikan mereka merasa didengar dan didukung. Kemudian berikutnya, jaga komunikasi terbuka dengan sekolah. Koordinasikan dengan guru dan staf sekolah untuk mengambil langkah-langkah yang tepat dalam menangani bullying.

Kita juga perlu mendorong anak untuk mengembangkan keterampilan sosial dan kepercayaan diri yang kuat melalui kegiatan yang positif, seperti olahraga, seni, atau klub-klub yang diminati. Jangan lupa ajari anak Anda tentang pentingnya penghargaan terhadap perbedaan orang lain dan bagaimana bertindak dengan empati. 

Dan jangan ragu untuk mencari bantuan profesional jika diperlukan. Konsultasikan dengan psikolog atau konselor yang berpengalaman untuk membantu anak Anda mengatasi trauma dan membangun kembali kepercayaan diri mereka.Terus berikan dukungan dan cinta tanpa syarat. Ingatkan anak Anda bahwa mereka berharga dan tidak sendirian dalam menghadapi masalah ini.

Lisa juga berbicara dengan Daniel tentang pentingnya menghargai diri sendiri dan memperkuat kepercayaan diri. Mereka mencari kegiatan ekstrakurikuler yang diminati Daniel, seperti bergabung dengan klub sains dan drama di sekolah. Melalui kegiatan ini, Daniel bertemu dengan teman-teman baru yang mendukung dan menghargainya.

Selain itu, Lisa terus memberikan dukungan emosional pada Daniel. Dia selalu siap mendengarkan keluh kesah dan kekhawatiran Daniel, serta memberikan nasihat dan dorongan yang dibutuhkan. Lisa juga mengajarkan Daniel tentang pentingnya empati dan penghargaan terhadap orang lain, sehingga Daniel dapat memahami bahwa tindakan Kevin bukan salahnya.

Dalam beberapa bulan, dengan dukungan yang tak tergoyahkan dari ibunya dan tindakan yang diambil oleh sekolah, situasi mulai berubah bagi Daniel. Bullying yang dialaminya mulai mereda. Kevin mendapatkan pemahaman tentang dampak negatif yang ditimbulkan oleh tindakannya. Mereka berdua mendapatkan kesempatan untuk berdamai dan memperbaiki hubungan mereka.

Daniel belajar banyak dari pengalaman ini. Dia tumbuh menjadi anak yang lebih kuat dan penuh kepercayaan diri. Dia juga mulai memahami bahwa kebaikan, empati, dan dukungan adalah senjata yang paling ampuh dalam menghadapi bullying.

Melalui kesabaran, kasih sayang, dan tindakan yang tepat, Lisa membantu Daniel mengatasi pengalaman bullying yang dialaminya. Mereka membuktikan bahwa dengan mendukung satu sama lain, kita dapat mengatasi tantangan yang sulit dalam hidup dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Untuk Sahabat Ruanita yang mungkin anaknya mengalami bullying sama seperti yang dialami Daniel, Lisa berpesan bahwa: “Ingatlah setiap situasi bullying adalah unik, dan solusi efektif mungkin berbeda untuk setiap anak. Kita harus tetap tunjukan empati, tanggap dan berkomunikasi dengan anak Anda. Dengan dukungan yang tepat, anak dapat menghadapi pengalaman ini dengan kekuatan dan membangun kepercayaan diri yang kokoh.’’

Penulis: Nadiya Dewantari, Freelancer, dan ibu dari dua orang anak. Nadiya juga fasih berbicara dalam Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, dan Bahasa Jepang.  Nadiya pernah tinggal di Jepang, kini menetap di Jerman. 

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Kenali Ragam dan Bentuk Human Trafficking yang Tak Tampak

Dalam rangka Hari Internasional Anti Perdagangan Manusia Sedunia yang jatuh tiap 30 Juli, RUANITA mengundanga Sahabat RUANITA yang tinggal di Inggris dan pernah menyelesaikan studi S3 terkait Human Trafficking atau Trafficking in Persons dengan studinya dilakukan di Indonesia. Dia adalah Gopala Sasie Rekha yang kini menjadi pengajar di Faculty of Law, Crime & Justice, Universitas of Winchester, Inggris. Dengan nama panggilan Rekha atau Sasie, dia menjelaskan tentang perbudakaan di masa lalu dan masa kini yang terjadi dalam berbagai bentuk.

Di awal, Rekha menjelaskan tentang bagaimana perbudakan atau Slavery pada jaman kolonial terjadi dan mengapa bisa terjadi pada masa itu. Rekha pun menjelaskan bagaimana nenek moyangnya dari India telah membawanya hingga ke Indonesia akibat pada masa itu. Menurut Rekha, orang terpaksa menjalani perbudakan karena terjadi otomatis.

Perbudakan pertama yang terjadi adalah Racial Slavery atau perbudakan berdasarkan kulit, yang kemudian disusul perbudakan berdasarkan agama, ekonomi, status sosial, dsb. Pada akhirnya, perbudakan sudah dilarang sejak tahun 1800-an.

Follow us: @ruanita.indonesia

Pada masa kini, Rekha mengakui terjadi berbagai bentuk “perbudakan moderen” yang tampak seperti payung yang lebih fokus pada “perbudakaan ekonomi”, yang terdiri atas berbagai macam istilah seperti Human Trafficking, Child Exploitation, Labor Exploitation, dan lainnya yang banyak ragamnya.

Bahkan istilah trafficking bisa merujuk pada drugs trafficking, organ trafficking, dan lainnya sehingga ini termasuk sebagai organized crime. Kebanyakan awam memandang Human Trafficking hanya pada area internasional, kenyataannya tidak demikian. Kebutuhan akan permintaan orang dengan berbagai tujuan bermunculan setiap saat yang tidak tampak seperti Bride Trafficking yang mungkin dianggapnya adalah seperti pernikahan impian.

Ketika perempuan tersebut menjadi korban Bride Trafficking, dia tidak menyadari bahwa ada banyak pekerjaan rumah tangga yang dipikulnya dan tidak mengetahui hak-haknya untuk hidup dan tinggal di negara tujuan. Tak jarang korban Bride Trafficking pun harus mengalami penyiksaan dan kekerasan dari pasangan.

Rekha juga menambahkan istilah Human Smuggling yang kini dianggap menjadi jalan seseorang untuk keluar dari negaranya. Di jaman seperti sekarang, kasus Human Smuggling masih terjadi karena tradisi, ritual atau Honor Killing yang menyebabkan seseorang terpaksa keluar dari negaranya tersebut. Rekha juga berpendapat kalau Human Smuggling ini pasti ilegal dan tidak ada dokumen penyertanya.

Lalu mengapa istilah “Slavery” tidak tepat digunakan dalam konteks sekarang? Mengapa Human Trafficking disebut sebagai organized crime? Apa bedanya Human Trafficking dengan Human Smuggling? Apa maksudnya Honor Killing itu? Apa yang sebaiknya kita lakukan agar terhindar dari jerat perdagangan manusia ini?

Simak video selengkapnya di kanal YouTube berikut ini:

(GALERI FOTO) Kunjungan ke Sahabat Suan Ny di Jerman

Dalam rangka Hari Persahabatan Internasional yang jatuh tiap 30 Juli, RUANITA yang diwakilkan oleh Anna datang berkunjung ke sahabat RUANITA yang tinggal di Jerman. Dia adalah Suan Ny, perempuan Indonesia yang hidup dengan Tetraplegia.

Tetraplegia adalah kondisi seseorang akibat cedera yang terjadi pada otak, sumsum tulang belakang atau salah satunya sehingga orang tersebut mengalami kelumpuhan dari otot leher hingga seluruh anggota tubuhnya.

Suan Ny telah menikah dengan pria berkewarganegaraan Jerman dan tinggal di Jerman sejak tahun 2010. Suan Ny dikaruniai seorang putra, yang juga bersama-sama dengan Suan Ny pada saat kecelakaan yang fatal tersebut. Anak kedua Suan Ny meninggal tiga puluh menit setelah dilahirkan.

Beruntung putra dan seorang teman Suan Ny yang duduk di sebelah bangku kemudi tidak mengalami kondisi yang parah. Sementara Suan Ny yang menyetir mobil sempat mengalami mati suri, koma, hingga berakibat Tetraplegia.

Follow us @ruanita.indonesia

Kecelakaan terjadi di salah satu area di Jerman. Suan Ny tidak menyerah dengan kondisinya. Dia berhasil mengembalikan suaranya yang sempat hilang, menggerakkan sedikit tangan kanannya, dan berusaha bangkit dengan kondisinya sebagai Single Mom. Akibat kecelakaan tersebut, Suan Ny kehilangan pekerjaan dan suaminya.

Suami Suan Ny meninggalkan Suan Ny pada saat dia masih terbaring koma di rumah sakit untuk perawatan. Dengan kegigihannya, Suan Ny bisa bangkit untuk menjadi Single Mom dan hidup mandiri di Jerman.

Cerita selengkapnya dan donasi untuk Suan Ny langsung ke website betterplace.me pada link yang ditautkan tersebut.

(CERITA SAHABAT) Ular Mengganti Kulitnya Untuk Menjadi Ular yang Lebih Besar Lagi

Semua dimulai ketika saya mengikuti program Ausbildung. Ausbildung adalah proses pendidikan vokasional yang dilaksanakan pemerintah Jerman untuk periode tertentu. Saya berangkat bersama salah satu teman sekampus saya. Kami tidak begitu dekat, tetapi selama proses Ausbildung kami menjadi dekat. Kami merasa saling berempati karena masa Ausbildung yang kami lewati sangat berat. Sedih dan senang kami lalui bersama.

Suatu hari, ia bertengkar hebat dengan atasan kami. Ia merasa tertekan, lalu kami mengobrol di ruang tertutup. Ia bercerita pada saya bahwa dia akan pulang ke Indonesia. Saya mengatakan untuk jangan berhenti di tengah jalan karena hanya tinggal 1 tahun lagi sampai kelulusan. Lalu ia mengatakan bahwa ibunya tengah sakit dan ia lebih baik pulang daripada meneruskan program ini. Mendengar alasan itu, saya hanya terdiam dan mengiyakan kepulangannya ke Indonesia.

Hari di mana ia pulang, saya mengantarkannya ke bandara Hamburg, dan membantu mendorong koper besarnya. Hari itu saya bahkan tidak masuk sekolah dan berbohong dengan alasan sakit demi mengantarnya. Sesampainya di bandara, saya mengatakan bahwa jika nanti ia sampai di Indonesia dan teman-teman lain ingin tahu tentang hidup saya, tanyakan langsung pada saya, saya akan menjawab sendiri.

Sebelumnya mereka sudah penasaran dengan kehidupan saya di Jerman.  Saya tidak ingin ia terganggu dengan pertanyaan tidak penting mereka. Ia pun mengangguk. 

Beberapa bulan setelah kepulangannya, kami masih sempat mengobrol baik. Suatu hari ia mengutarakan isi hatinya selama ini di dalam grup whatsapp kami dan teman lainnya. Ia mengatakan bahwa ia sudah muak kepada saya.

Saya dituduh menjelek-jelekkannya di depan kolega kerja lainnya sehingga mereka membencinya. Saya juga disebut sebagai alasan mengapa ia pulang ke Indonesia. Tidak hanya saya, semua teman di grup tersebut ia umbar keburukannya. Saya sangat geram, bahwa tidak seharusnya ia mefitnah kami di depan lainnya seperti itu.

Saya mengatakan jika ia memang kesal dengan saya, mengapa tidak dari dulu saja ia utarakan isi hatinya. Mengapa baru sekarang ia berperilaku demikian? Alasannya sederhana, dia sedang menstruasi sehingga emosinya saat ini berapi-api. Itu tidak masuk akal.

Saya sebagai ketua grup langsung mengeluarkan dia karena hal tersebut telah membuat saya kesal. Saat itu juga saya langsung mengatakan jika ada yang merasa kesal satu sama lain, silakan menyelesaikannya secara pribadi. Jangan sampai orang lain tahu karena itu tidak baik. Detik itu juga saya blokir semua kontak dan media sosialnya. 

Ternyata ia tidak berhenti sampai di situ. Ia mengontak teman-teman sekelas kami di Berufsschule dan menanyakan keberadaan ijazah kelas duanya yang tentu saja ada pada saya. Mereka pun berdatangan dan bertanya apakah kami sedang bertengkar.

Teman-teman pun bercerita bahwa pada awalnya ia sebenarnya sudah tahu keberadaan ijazahnya ada pada saya kemudian ia menjelek-jelekkan saya pada teman-teman lainnya.

Suatu hari saya mendapat kabar dari salah seorang teman kampus saya bahwa tingkahnya semakin hari semakin aneh. Dari menolak lamaran kerja karena  dia tidak suka Jobdesc-nya sampai mengutarakan bahwa ia menjalin hubungan dengan seseorang yang fiktif.

Saya sangat tahu keadaannya saat ini, di mana ia sedang stres karena uang mulai menipis dan ia masih belum juga bekerja. Saya justru merasa iba dengan cerita tersebut sampai kami kembali bertengkar hebat dalam grup kampus.

Semula berawal ketika akhirnya ia mengaku „dikerjain“ sepupunya yang mengedit fotonya dengan pria asing lalu disebar dalam grup kampus. Ia juga mengatakan bahwa aplikasi Tinder tidak selalu buruk, ia menyebut nama saya sebagai buktinya. Ia seolah-olah kembali menyeret saya dalam permainannya, dan saya tidak senang.

Follow us: @ruanita.indonesia

Saya yang selama ini diam, langsung menanyakan padanya mengapa ia mefitnah saya dan mengatakan hal jahat tentang saya  pada orang lain? Bahkan ia mengumbar  rahasia yang selama ini saya simpan padanya di depan banyak orang.

„Kamu sendiri yang mengatakan kamu tidak baik. Bahkan orang tuamu saja sampai menitipkanmu padaku karena mereka tidak sanggup mengurusmu!“.

Saya sangat terkejut dan langsung menanyakan kebenaran itu lewat orang tua saya. Ibu saya mengatakan tidak mendapat pesan apapun tetapi ayah saya lah yang menerimanya. Ayah saya mengatakan bahwa beliau sempat dikontak olehnya dan mengatakan bahwa saya sekarang memiliki seorang kekasih.

Ia memohon ayah saya untuk menasihati saya dan dan mengatakan „Dosa seorang ayah tidak bisa menasehati anak perempuannya“. Ayah saya sempat berterima kasih kepadanya dan mengatakan bahwa itu bukan urusannya. 

Kejadian tersebut meninggalkan bekas luka yang mendalam untuk saya. Sampai saat ini saya belum membuka hati untuk mencari teman baru. Pasangan saya pun sedih  dan selalu meminta untuk mencari teman baru tetapi selalu saya tolak. Saya belum siap karena luka tersebut membuat saya trauma.

Suatu hari saya melihat sebuah video yang mengatakan „Jangan membuka peluang sekali lagi untuk seseorang yang sudah menghancurkan hubungan dalam segi pertemanan, keuangan atau percintaan! Ular mengubah kulitnya untuk menjadi ular yang lebih besar lagi“. 

Penulis: Brina Weis tinggal di Jerman dan dapat dikontak di Instagram @svasthi_

(IG LIVE) Bagaimana Perkembangan Slow Fashion versus Fast Fashion?

Diskusi IG LIVE episode Juli 2023 yang diangkat oleh RUANITA lewat akun Instagram ruanita.indonesia adalah tentang Fast Fashion. Sebagaimana kita ketahui, perkembangan fashion begitu cepat seiring dengan tuntutan gaya hidup, permintaan pasar, hingga harga yang terjangkau turut serta memicu kehadiran fenomena sosial ini. Tentu saja Fast Fashion yang dibahas dalam IG LIVE ini bukan hanya menyangkut mode semata, melainkan saja isu lingkungan hidup dan kemanusiaan yang kian hari mengancam.

Untuk membahas lebih detil, RUANITA mengundang praktisi fesyen antara lain: Vanny Tousignant yang tinggal di Amerika Serikat lewat akun Instagram vannytousignant dan Eugenia Putri Stederi yang tinggal di Jerman lewat akun Instagram utte_tee. Vanny sendiri adalah seorang Founder dan Fashion Producer dari New York Indonesia Fashion Week yang berdiri sejak 2017. Sedangkan Eugenia atau biasa disapa Ute adalah Supporter Local Labels yang sering diminta menjadi model voluntary untuk karya fesyen.

Vanny telah banyak berpengalaman dalam mempromosikan brand fashion Indonesia yang memiliki potensi untuk masuk ke pasar mode New York. Vanny telah 21 tahun bekerja di Amerika Serikat sehingga menjabat Restaurant Manager kemudian beralih ke mode. Vanny berpendapat bahwa pilihan hidup fast and slow fashion itu berada di tangan konsumen.

Follow us: ruanita.indonesia

Desainer Indonesia sudah merancang pakaian-pakaian ternama dan akan berkembang pesat dalam dunia fesyen. Menurut Vanny, dia menjadi konsultan mode agar nama Indonesia dikenal lebih luas di dunia. Vanny ingin memerkenalkan mode Indonesia seperti tenun atau busana tradisional Indonesia ke kancah dunia Internasional.

Sementara Ute sejak 2016 mulai menggiatkan produk lokal di Jerman terutama penggunaan barang secondhand dan layak pakai. Tahun 2020 Ute mulai merambah untuk mempromosikan label lokal di Indonesia. Ute sendiri lebih memilih mode yang nyaman dipakai dan tidak memikirkan opini atau pendapat orang tentang pilihan pakaian yang dikenakannya.

Vanny menyarankan agar pemerintah dapat giat mempromosikan pengrajin lokal di daerah yang kaya akan tradisi seperti tenun, perhiasan, dan berbagai produk lokal. Sebagai konsumen, kita pun perlu bijak dengan membeli karya pengrajin lokal sehingga mendongkrak perekonomian negara Indonesia juga. Indonesia tidak hanya sebagai konsumen fesyen saja, tetapi Vanny menilai Indonesia punya potensi yang besar juga dalam dunia fesyen di masa mendatang.

Apa yang dimaksud dengan fast fashion sebenarnya? Bagaimana tantangan dunia fashion sekarang ini dalam melihat perkembangan mode yang kian cepat? Apa langkah praktisi fashion seperti Vanny dan Ute dalam menekan laju fast fashion? Apa harapan mereka sebagai praktisi fesyen untuk kita sebagai konsumen?

Silakan subscribe kanal YouTube kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi.

(CERITA SAHABAT) Ini Pendapatku dan Teman-Temanku Soal Fast Fashion, Kalau Kamu?

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan nama saya Euginia Putri Stederi atau terbiasa dipanggil Uti. Saya berdomisili sejak 2007 di Hannover, Jerman. Latar pendidikan saya sebenarnya adalah Ingenieur of Electrotechnics, tetapi sejak 2014 saya sangat tertarik dengan tema fesyen. Sejak 2016 saya memutuskan untuk lebih memperhatikan fashion yang saya pakai. 

Sejak 2016, saya mulai untuk membeli barang- barang secondhand untuk kepentingan fashion saya seperti sepatu, celana, dan baju. Sejak 2019 saya mulai bekerja, saya memutuskan untuk mendukung produk-produk local fashion baik yang berasal dari Jerman maupun Indonesia. Selain itu, saya juga berusaha memerhatikan produk-produk yang mendukung tema Recycle, Reuse dan Reduce

Memang saya belum berhasil 100% untuk tidak membeli barang dari fast fashion, tetapi setidaknya 70%-80% produk fesyen yang saya punya sekarang berasal dari seconhandshop ataupun produk-produk lokal.

Melalui kesempatan ini, saya mau sharing pendapat saya dan teman-teman saya tentang tema Fast Fashion yang akhir-akhir ini marak di dunia. Sebenarnya, apa sih Fast Fashion itu?

Follow us: ruanita.indonesia

Dari sudut pandang saya, definisi Fast Fashion adalah produksi massal dari barang-barang tekstil untuk berbagai macam ragam produk fesyen dan silih berganti, dengan waktu yang cepat. Contohnya saya tidak bisa menyebutkan nama merek di sini, tetapi kalian pasti tahu.

Ada pun pendapat teman saya tentang Fast Fashion, yakni Natasya Metta W.: “Industri yang mengikuti trend yang artinya berubah secara cepat setiap musimnya.” Lainnya Shahista K berpendapat: “Baju murah, diproduksi massal, dan selalu cepat berubah.”

Secara psikologis, mengapa ya orang tertarik dengan Fast Fashion? Menurut saya, sebagian orang tertarik karena ada faktor dorongan sosial. Mereka akan terlihat lebih trendy, gaul, dan tampak kekinian sekali. Selain itu, orang lain akan lebih „tertarik“ secara sosial dengan mereka. 

Teman-teman saya lainnya seperti Anastasia R. yang mengatakan kalau harga juga memengaruhi orang untuk membeli Fast Fashion. Pendapat lainnya seperti Cia, yang mengatakan kalau iklan yang memanfaatkan Influencer yang mengikuti tren juga mendorong untuk melakukan Fast Fashion

Namun begitu, saya sependapat kalau Fast Fashion itu berbahaya bagi lingkungan hidup. Pihak perusahaan ketiga, yang memenuhi pesanan ini dari perusahaan Fast Fashion, sayangnya tidak memiliki sistem pengaturan pembuangan limbah yang tepat. 

Misalnya saja, limbah kain atau pewarna tekstil dibuang ke sungai, tanpa pengolahan sebelumnya. Pendapat ini disampaikan oleh seorang Designer lokal di Hannover, Lorena W dalam Bahasa Jerman yang dikutip berikut ini „C02 austoß, wasserverschwendung, umweltverschmutzung, chemikalien im Wasser.“

Itu baru soal lingkungan hidup, dampak lainnya soal kemanusiaan loh. Secara kemanusiaan, bisnis Fast Fashion itu tidak baik juga. Menurut opini saya, kebanyakan bisnis Fast Fashion menggunakan jasa dari orang lain atau tepatnya negara lain, terutama negara berkembang yang menawarkan upah yang sangat minimum. 

Mengapa ini berbahaya? karena hampir semua pekerja tidak mempunyai asuransi dan mendapatkan perlindungan yang semestinya, baik untuk perlindungan fisik maupun psikis. 

Cia, teman saya, berpendapat demikian dalam Bahasa Inggris: “Unregulated 3rd companies that fulfill these fast fashion orders usually not regulated and see their workers as disposable workforce, thus the working conditions are inhuman and the workers are paid per clothes they managed to finish with minimum payment.

Nah, Sahabat Ruanita bisa paham kalau kita perlu mengatasi Fast Fashion sebelum bertambah buruk lagi. Menurut saya, kita bisa membatasi pembelian barang-barang fesyen dari Fast Fashion. Cara lainnya adalah berusaha untuk memperbaiki pakaian yang rusak. Kita bisa juga memberi atau menjual ulang ke orang lain. 

Selain itu, saya secara pribadi, kita bisa membeli dari secondhand shop atau produk-produk lokal. Hal terpenting juga kalau kita ingin tampil bergaya kekinian, kita bisa memanfaatkan Slow Fashion yang tak kalah keren juga.

Terakhir nih, pesan saya untuk Sahabat Ruanita semua yang ingin mengikuti gaya hidup kekinian tetapi ramah lingkungan. Kita tidak perlu membeli atau mengikuti segala hal yang serba kekinian. Jika kita tidak mengikuti tren, bukan berarti kita tidak bisa masuk dalam lingkungan sekitar ‘kan. 

We can be smart dengan membuat padu padan barang-barang fesyen yang dimiliki. Kita bisa tampil percaya diri juga dengan apa pun yang kita kenakan. Bagaimana pun barang-barang fesyen juga akan terbuang percuma seberapa pun mahal dan kekiniannya barang tersebut. 

Hal terpenting dalam berpakaian menurut saya, kita perlu mengonsumsi barang-barang fesyen yang ramah lingkungan. Dengan begitu secara tidak langsung, kita sudah ambil bagian dalam proses merawat lingkungan hidup sekecil apapun itu.

Penulis: Uti dapat dikontak via akun IG: utt_tee dan tinggal di Jerman.

(RUMPITA) Pengalaman Studi Kedokteran Ayurveda di Delhi, India

Di bulan Juli 2023 Podcast RUMPITA mengundang Sahabat RUANITA yang tinggal di India dan sekarang sedang menempuh studi kedokteran yang berfokus pada Ayurveda. Dia adalah Rakanita Arifah yang berasal dari Tangerang dan kini menetap di India untuk mendalami pengobatan tertua di dunia, yang dikenal Ayurveda. Nita, demikian beliau disapa, mengenal Ayurveda sejak dia mengikuti jejak ibunya yang adalah guru Yoga di Bali.

Banyak orang Indonesia belum memahami dan tidak mengenali Ayurveda, di bawah Kementerian Ayush di India, Central Council of Indian Medicine, dan kurikulum pembelajarannya diatur oleh lembaga yang bernama CCIM (=Central Coucil Indian Medicine) sejak 1971. Nita pertama kali belajar bahasa Sansekreta untuk memelajari dasar-dasar Ayurveda, anatomi tubuh, fisiologis dan lainnya di tahun pertama studi.

Follow us: @ruanita.indonesia

Dalam Ayurveda, kita perlu memahami bahwa setiap orang bisa memiliki pengobatan yang berbeda meski memiliki penyakit yang sama dengan orang lain karena semua tergantung pada tipe tubuhnya.

Menurut Nita, konten pengobatan Ayurveda ini universal meski pendekatan yang dipakai seperti dalam ajaran agama Hindu. Pada tahun ketiga, Nita pun mulai mendalami kasus dan praktik klinis langsung di rumah sakit yang ditemani oleh dosen.

Di tahun keempat, Nita mulai menjalani praktik klinis langsung di rumah sakit sebagai tahun terakhir. Untuk praktik klinis langsung, Nita akan mendapatkan giliran bersama mahasiswa lainnya.

Nita banyak menggunakan bahasa pengantar Bahasa Inggris terutama untuk hal-hal yang masih belum dipahami selama pembelajaran.

Nita berharap usai studi Ayurveda dapat diaplikasikan di Indonesia terutama masyarakat Indonesia yang bisa menjadi alternatif pengobatan. Indonesia sendiri telah mulai diperkenalkan Ayurveda sebagai pengobatan sejak lama.

Bagaimana Nita menjalani studi kedokteran Ayurveda? Bagaimana Nita menjelaskan Ayurveda sebagai pengobatan untuk masyarakat yang belum banyak diketahui secara umum di Indonesia? Apa yang akan dilakukan oleh Nita setelah selesai studi?

Simak selengkapnya di Podcast RUMPITA – Rumpi bersama RUANITA berikut ini:

(CERITA SAHABAT) Kebingungan Saya Memutuskan Sesuatu

Halo Sahabat Ruanita, nama saya Ajeng dan tinggal di Hamburg, Jerman. Mungkin kalian sudah pernah membaca tulisan-tulisan saya di Cerita Sahabat Ruanita. Kali ini, saya mau bercerita tentang kesulitan saya memutuskan sesuatu.

Saya baru menyadari kesulitan tersebut setelah saya tinggal jauh dari rumah. Sebelumnya saya berkuliah di Bandung dan pulang ke rumah orang tua di Tangerang. Perjalanan ini bisa ditempuh dengan cepat dengan bus atau mobil travel. Jadi kalau saya perlu apa-apa, saya hanya perlu pulang. Ketika saya bingung memutuskan sesuatu, tinggal tanya ibu saya.

Begitu saya tinggal di Jerman, saya kebingungan saat membeli pakaian atau sepatu. Ini bukan hanya soal modelnya saja, tetapi juga ukurannya. Tidak hanya itu, hal kecil lain yang membuat saya harus memilih pun membuat saya overwhelmed.

Jika saya ingat-ingat, banyak sekali pengalaman saya saat saya bingung memilih barang. Saya selalu harus bertanya ke teman-teman dan keluarga (ibu dan adik perempuan) dengan cara mengirimkan foto-foto barang tersebut ke mereka. Saya meminta mereka memilihkannya untuk saya.

Follow us: @ruanita.indonesia

Tidak jarang, saya akan memesan atau membeli semua pakaian atau sepatu yang saya suka untuk dicoba di rumah dulu. Tentu saja, saya mencobanya tidak sendirian. Saya akan mengirimkan foto-fotonya ke teman-teman saya atau bahkan menelepon video dengan mereka agar mereka melihat saya saat mengenakan pakaian tersebut. Untungnya, teman-teman saya ini mempunyai selera yang bagus tentang fesyen sehingga bisa saya andalkan. 

Bulan lalu, saya memesan sepatu di online shop. Saya memesan tiga sepatu dengan dua model dan dua ukuran berbeda untuk saya coba di rumah teman. Ya, di rumah teman. Saya juga mengirim langsung ke rumah dia. Selain karena saya jarang di rumah, saya ingin agar teman saya itu bisa melihat langsung saat saya memakainya. Padahal, saya sudah mengirimkan foto layar sepatu itu  sebelumnya ke dia. Akhirnya, setelah saya melihat dan mencoba langsung, semua sepatu tersebut saya kembalikan. 

Ditemani dengan teman saya itu, kami pergi ke toko sepatu dan menemukan sepasang sepatu yang nyaman. Tentu saja, itu atas bantuan dia. Dia yang memilih warna dan modelnya untuk saya. Oh ya, toko sepatu yang kami datangi ada cabangnya di mana-mana. Beberapa hari sebelumnya,  saya sudah mengunjungi ke salah satu cabang tokonya tetapi tidak menemukan apa-apa.

Sepatu tersebut tidak saya pakai sampai dua minggu loh. Saya menunggu dempul ortopedi saya selesai, karena akan disesuaikan dengan sepatu tersebut. Setelah insole dimasukkan, saya memakai sepatu tersebut untuk keluar rumah. Ujung-ujungnya, saya menyesal membelinya. Pada waktu itu, saya memang membeli satu ukuran lebih besar agar insole bisa masuk. Sebagai catatan, sepatu tersebut punya insole yang bisa dilepas. Memang sih setelah sepatu disesuaikan, insole tersebut masuk. Namun, bagian lain kaki saya menjadi sakit karena sepatu itu ternyata terlalu besar.

Sebelum membeli barang, biasanya saya juga akan membaca deskripsi barang dan review dengan teliti. Saya akan memasukkan barang dengan rating bagus ke keranjang belanja digital sebelum membaca deskripsinya. Barang-barang yang saya maksudkan ini biasanya bukan hanya pakaian, tetapi lebih ke peralatan dapur, rumah tangga, atau barang elektronik. Saya merasa hanya sedikit barang-barang di rumah yang saya beli tanpa bertanya ke orang lain atau membaca deskripsinya terlebih dahulu.

Saya memang tidak terlalu senang pergi langsung ke toko pakaian atau sepatu. Menurut saya, banyaknya pilihan di toko maka membuat saya memerlukan waktu lama untuk berpikir. Bisa jadi, di toko saya akan sibuk memasukan banyak pilihan barang ke keranjang, berkeliling di toko tersebut sambil menimbang yang mana pilihan saya, atau apakah saya benar-benar membutuhkan dan mau membeli barang tersebut?

Saya juga selalu menyimpan struk belanja. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi kalau saya mungkin  mengembalikan barang tersebut. Bisa jadi, saya akan melihat-lihat barang di toko online terlebih dahulu, kemudian mengunjungi ke toko sebenarnya untuk melihat langsung barang tersebut. Setelah itu, saya mungkin akan meletakan barang itu kembali di Display, lalu saya pulang untuk kembali melihatnya di toko online dan berpikir ulang.

Ini tidak hanya persoalan membeli barang. Membeli makanan di restoran juga, itu membingungkan untuk saya. Biasanya saya akan memesan makanan yang sudah pernah saya makan. Kalau di restoran baru, saya akan mengecek terlebih dulu di google review atau website restoran tersebut sebelumnya sehingga saya bisa berpikir lebih lama. Atau saya akan minta rekomendasi dari teman, jika mereka pernah makan di sana. 

Memasak juga kadang menjadi hal yang sulit bagi saya. Kadang-kadang, saya akan bertanya ke keluarga di Indonesia atau suami di Denmark apa yang saya harus saya masak, walaupun hanya saya yang makan sendiri. Suami saya sudah enggan meresponnya karena dia tidak mengerti masakan Indonesia. Selain itu, pertanyaan saya terdengar “receh” juga. 

Tidak hanya itu, saya juga sulit memutuskan apa yang harus saya lakukan. Contohnya, apakah saya harus menyeberang jalan saat lampu lalu lintas merah sebentar lagi, atau nanti saja? Kalau di tempat kerja, saya bingung memutuskan prioritas apa yang harus saya kerjakan terlebih dulu. Saya sudah tidak ingat lagi contoh-contoh lainnya. Ujung-ujungnya, saya akan terlihat seperti orang linglung, karena saya bisa jadi berputar-putar sendirian di tempat yang sama. 

Karena setahun terakhir ini saya sakit kaki, akhirnya saya bikin janji juga di fisioterapi di dekat rumah. Fisioterapis yang praktik di sana ada banyak. Saya memilih fisioterapis yang paling atas di dalam daftar. Mengapa? Semakin saya melihat ke bawah daftar fisioterapis, saya  semakin bingung. 

Ternyata tepat sekali, jadwal fisioterapis yang saya pilih memang yang paling cepat. Di hari pertama, fisioterapis tersebut mengatakan kalau di sana saya bisa bebas memilih fisioterapis siapa pun. Fisioterapis akan menyesuaikan dengan jadwal saya. Di hari yang sama saya langsung booked empat janji lainnya dengan dia dan satu janji dengan terapis lainnya. Itupun karena jadwal janji terapis pertama tidak sesuai dengan saya. Iya, saya keukeuh membuat jadwal dengan dia lagi untuk menghindari  kebingungan mencari fisioterapis baru. 

Kemarin adalah jadwal saya dengan fisioterapis yang kedua. Ternyata lebih enak dibandingkan terapis yang pertama. Saya merasa menyesal juga tidak mencoba ke fisioterapis yang lain, karena dari sana saya akan belajar teknik baru untuk latihan otot kaki. Setiap jadwal dengan fisioterapis pertama, dia akan memberikan pijatan di kaki saya yang sakit.

Baru-baru ini saya baru mengerti, bahwa kesulitan saya memutuskan sesuatu itu berhubungan juga dengan ketakutan. Saya takut sepatu yang saya pakai tidak enak dipakai dan tidak bagus, karena itu saya tanya teman. Saya memesan atau memasak makanan yang itu-itu saya karena saya takut makanan lain tidak enak dan saya tidak menikmatinya. Saya takut lari menyeberang di zebra cross yang hampir merah, karena saya malu orang lain melihat saya panik atau takut tiba-tiba mobil akan jalan saat saya masih di tengah jalan. Takut salah, takut malu, dan takut menyesal, itu tiga alasan kebimbangan saya.

Walau saya selalu bertanya ke teman tentang pakaian dan sepatu yang akan dibeli, saya tidak selalu mendengarkan kata mereka. Saya pernah membeli sepatu kulit, walaupun teman saya bilang tidak. Alasannya, dia punya pengalaman kaki menjadi sakit dan lecet saat dia memakai sepatu kulit. Saat sepatu itu datang (lagi-lagi ke rumah teman saya), saya suka sekali. 

Sejujurnya, saya merasa sedikit sedih dan takut, kalau pilihan saya sendiri ini salah. Apalagi, setelah saya melihat reaksi teman saya yang tidak tertarik saat saya memakai sepatu itu. Sampai sekarang, saya tidak menyesal mengenakan sepatu tersebut, walaupun memang kaki saya menjadi sakit dan berubah bentuk. By the way, sakit kaki yang tadi diceritakan di atas itu bukan karena sepatu kulit ini. Memang saya sudah mengalami sakit kaki sebelumnya.

Soal alasan psikologis kesulitan memilih, saya baru mengetahui awal tahun ini. Saat itu, terapis psikologis saya mengajukan banyak pertanyaan saat dia sedang melakukan diagnosa. Salah satu pertanyaannya adalah apakah saya susah memutuskan sesuatu. Contoh yang dia maksudkan adalah memilih baju atau makanan dalam kegiatan sehari-hari. Alhamdulillah, saya belum masuk ke tahap tersebut. Saya bisa memutuskan keduanya itu dengan cepat, walaupun pada akhirnya saya selalu memakai baju atau memesan masakan yang sama. 

Setelah saya mengetahui indecisiveness berhubungan dengan psikologis saya, saya semakin berusaha untuk menguranginya. Trik saya adalah tidak terlalu banyak memikirkan hal tersebut. Jika saya mau memesan sepatu atau pakaian, saya memesan saja langsung model yang disukai. Hanya saja, saya memesan dua ukuran berbeda agar bisa dicoba dulu di rumah. 

Saat saya memesan barang di online shop, saya masih mencari barang yang memiliki ulasan yang bagus dan membacanya tidak lagi detil. Saya sering juga memasukan dua atau tiga barang tersebut di keranjang lalu saya menunggunya hingga sebulan. Setelah itu, biasanya saya malah tidak lagi punya keinginan untuk memesan.  

Hal yang lebih susah mungkin, memutuskan hal yang tidak bisa dibeli atau ditukar, seperti fisioterapis itu. Inginnya saya bisa bertanya ke mereka atau resepsionis tentang fisioterapis mana yang lebih bagus yang disarankan untuk saya. Tentunya, jawaban mereka akan sama saja, seperti kami punya standar yang sama.  Sayangnya, di aplikasi cari dokter/terapis belum ada sistem ulasan pasien mereka.

Sebelum menikah, saya diserang oleh indecisiveness yang sangat kuat. Saya takut salah pilih. Rasanya saya mau bertanya ke semua orang dan meminta mereka memutuskannya untuk saya. Namun, tentu saja itu tidak bisa dilakukan. Alhamdulillah, saya tidak menyesali keputusan tersebut sampai sekarang. Kalau pun ada, saya masih punya alasan kuat untuk bahagia bersama suami.

Untuk Sahabat Ruanita, ini pesan saya. Kalau kamu juga memiliki problem indecisiveness seperti saya, cobalah untuk tidak terlalu memikirkan baik dan buruk dari pilihan kita. Sekali-sekali, cobalah bersikap spontan melakukan atau membeli sesuatu! Jangan juga memberikan kesempatan kepada kita untuk bersikap overthinking! Kita bisa loh mengikuti kata hati.

Penulis: Mariska Ajeng, tinggal di Hamburg dan penulis di http://www.mariskaajeng.com

(RUMPITA) Tantangan Ibu Pekerja di Jerman Tanpa Asisten Rumah Tangga

Pada episode bulan Juni 2023, program Podcast RUMPITA atau Rumpita bersama RUANITA kali ini mengangkat tema tentang tantangan perempuan sebagai ibu pekerja di Jerman dalam membagi waktu dan peran. Untuk membahas diskusi lebih lanjut, Nadia yang menjadi host mengundang Euginia Putri Stederi Martenelli yang bekerja di salah satu institusi pemerintahan di Jerman setelah Utte, begitu beliau disapa, menyelesaikan studi Bachelor di Jerman.

Sejak 2021 Utte mendapatkan peran baru sebagai ibu dari seorang putri. Utte memahami bahwa peran sebagai pekerja dan ibu tidak mudah terutama dalam membagikan waktu dan peran, tanpa bantuan asisten rumah tangga dan keluarga besar. Utte mengakui bahwa pemberi kerja di tempatnya telah memberikan dukungan sosial bagi para ayah atau ibu baru dalam membagikan perannya sebagai orang tua. Utte bekerja hanya 4-5 jam saja dalam sehari.

Follow us: @ruanita.indonesia

Utte mengakui bahwa biaya untuk mengeluarkan asisten rumah tangga sangat mahal di Jerman. Selama Utte bekerja di kantor, anak dititipkan di Daycare yang memang menjadi salah satu program pemerintah Jerman. Semakin besar gaji orang tuanya, maka semakin besar pula biaya pengeluarannya di Daycare. Misalnya, suami Utte bekerja fulltime sedangkan Utte bekerja sebagai paruh waktu sehingga dia mendapatkan level ke-4 dalam pembiayaan Daycare.

Bagaimana pengalaman Utte untuk mengakses waktu cuti menjadi orang tua di Jerman? Simak juga bagaimana Utte mendapatkan tunjangan pemerintah di Jerman dalam mengasuh anak? Apa saja kiat-kiat Utte untuk mengatasi tantangan sebagai pekerja dan ibu di Jerman? Apa saja strategi yang diperlukan pekerja dan ibu apabila kita ingin tinggal di Jerman?

Simak penjelasan lebih lanjut dalam diskusi Podcast berikut ini:

(GALERI FOTO) Diskusi Offline dengan PPI Hamburg dan KJRI Hamburg

Dalam rangka memperkuat kerja sama program pemberdayaan warga Indonesia di Hamburg, RUANITA mengadakan diskusi tatap muka dengan sejumlah volunteer di Hamburg yang tergabung dalam DIG Hamburg, IKAT Agentur, dan PPI Hamburg. Acara ini dimaksudkan untuk mendiskusikan program awal yang melibatkan warga Indonesia di Hamburg untuk meningkatkan kapasitas diri dan wawasan selama tinggal di luar negeri.

Follow us: @ruanita.indonesia

Pada hari Senin (3/7) lalu, RUANITA juga berhasil mengadakan diskusi tatap muka dengan Konjen dan Staf KJRI Hamburg untuk memperkuat kerja sama dalam perlindungan warga Indonesia, terutama kelompok rentan di Hamburg. Diskusi ini mendapatkan respon yang positif untuk menindaklanjuti program yang berkelanjutan sebagai mitra pemerintah Indonesia di luar negeri.

(CERITA SAHABAT) Kemampuan Bahasa Jerman Adalah Kunci Integrasi Budaya di Jerman

Saat mendapat tawaran menulis CERITA SAHABAT, saya memilih tema integrasi budaya,  ketimbang dua tema lainnya. Padahal kursus integrasi saya ikuti 10 tahun lalu. Apakah pengalaman  saya tersebut masih relevan saat ini? Awalnya saya pikir saya bisa bercerita menarik mengenai kursus integrasi budaya, ternyata sampai sebulan  tenggat waktu yang diberikan, saya belum juga selesai menulis. 

Nama saya Nella Silaen, berusia 44 tahun dan ibu dari dua anak (usia 8 tahun & 6 tahun). Saya tinggal di Chemnitz,  Sachsen. Saya tinggal di Jerman sejak Mei 2011. Aktivitas keseharian selain sebagai ibu rumah  tangga, saya sedang mengikuti kursus B2-Deutschkurs Beruf. Saya memiliki hobi berkebun dan mengerti sedikit cara merawat anggrek. Karena hobi berkebun tersebut, saya kerap mendapat panggilan untuk  mengurus kebun orang Jerman. 

Saya datang ke Jerman sebagai imigran cinta. Saya bertemu suami di online date. Kita saling cocok  secara online lalu dia datang dua kali mengunjungi saya di Jakarta. Saya kemudian pergi ke Jerman bertemu  keluarganya. Saya kembali ke Jakarta dan mengurus semua surat untuk menikah di Jerman. 

Saat kami tiba di Jerman untuk menetap, kita mendaftarkan diri di kantor imigrasi (Ausländerbehörde) nanti  kita diberitahu wajib ikut kursus integrasi. Petugas akan memberikan daftar tempat kursus yang berada di wilayah tempat tinggal kita. Atau kalau kita mau cari sendiri tempat kursusnya, pun bisa juga.  

Setelah setahun tinggal di Jerman dan akan memperpanjang izin tinggal, petugas imigrasi akan  menanyakan sertifikat kelulusan kursus integrasi. Atau, kalau mau apply izin tinggal tak terbatas di Jerman maka kita harus menunjukkan sertifikat lulus B1.

Follow us: ruanita.indonesia

Apa itu Kursus Integrasi (Integrationskurs)?  

Kursus integrasi adalah kursus yang wajib diikuti oleh pendatang di Jerman (warga non EU), kursus ini terdiri dari kursus bahasa dan kursus orientasi. Saat ini kursus Integrasi memiliki 700 jam  pelajaran. Biaya € 2,29 per jam pelajaran. Kursus Integrasi 600 jam dan kursus orientasi 100 jam. 

Tahun 2012, saya mengikuti kursus integrasi masih 660 jam dan biaya 1 Euro/jam pelajaran. 1 jam  pelajaran 45 menit. Ujian akhir gratis. 

Kursus Integrasi wajib diikuti sampai tingkat B1. Mulai A1, A2 dan B1. Biaya kursus tidak dibayar  sekaligus, tetapi tiap 100 jam pelajaran barulah kita bayar. Jika kita lulus ujian B1 maka kita  kita mendapat kembali 50% uang kursus tersebut. Jadi pemerintah menanggung 50% nya. Jika peserta kursus tidak lulus ujian B1 maka kita bisa mengulang kursusnya dan tidak membayar lagi. Namun tidak ada pengembalian 50% uang kursus. 

Kalau kita sudah bisa bahasa Jerman, atau dari Indonesia sudah mempunyai sertifikat lulus ujian C1 atau C2 maka kita tidak perlu ikut kursus integrasi lagi, mungkin perlu ikut kursus orientasi (100 jam). 

Mengapa pendatang di Jerman wajib ikut kursus integrasi? 

Jika kita ingin tinggal di Jerman, kita harus berbicara bahasa Jerman. Integrationskurs (Kursus  Integrasi) wajib diikuti para migran dan pendatang sejak tahun 2005. Kalau kita tidak paham Bahasa Jerman, bagaimana keseharian kita? 

Tentu saja ini akan merepotkan karena orang Jerman hanya mau bicara bahasa mereka saja. Kalau di Belanda, masih banyak orang mau berbahasa Inggris. Di Jerman jangan sakit hati dicuekin kalau tidak bisa bahasa Jerman! 

Ya, mungkin di kota besar yang banyak expat seperti di Berlin, München atau Frankfurt bisa pakai Bahasa Inggris. Namun kalau kita berurusan dengan petugas kantor pemerintahan, misalnya mau urus surat apapun, penting bagi kita bisa berbahasa Jerman. 

Pengetahuan bahasa Jerman membantu kita ketika mencari pekerjaan, bagaimana cara menulis surat lamaran, saat wawancara pekerjaan, harus mengisi formulir di kantor Imigrasi misalnya, atau mau  membuka rekening bank, mau mendaftar sekolah anak, berbelanja, kunjungan ke dokter, ke kantor pos,  menonton tv, menyapa orang asing, dan berbagai hal. Dalam keseharian, kita membutuhkan  kemampuan Bahasa Jerman. 

Pada kursus integrasi selain belajar bahasa Jerman dari tingkat dasar A1 kita juga belajar tentang  negara Jerman, seperti sejarah, budaya, dan sistem hukumnya diajarkan dalam kursus orientasi. 600  jam belajar Bahasa Jerman. 100 jam nya adalah kursus orientasi. Ujian akhir ada 2, yakni ujian B1 dan ujian orientasi. 

Pelajaran Bahasa Jerman di kursus integrasi menurut saya menarik. Kita mendapat buku yang isinya pelajaran membaca (lesen), menulis (schreiben), mendengar (hören) dan berbicara (sprechen). Tiap bab berbeda temanya. Misal bagian awal diajarkan bagaimana cara menyapa orang dengan sopan,  bagaimana cara berkenalan, cara membuat janji dengan dokter, dan berbagai tema menarik lainnya seperti berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. 

Deutsch ist eine schwere Sprache! Sebaiknya kita tidak bolos satu kalipun dari kursus. Kalau kita pernah bolos dan terlewat bagian pelajaran penting, maka kita akan sangat kesulitan ikut bab berikutnya. Kerjakan semua PR yang diberikan dan bisa cari contoh ujian di internet. 

Bagian kursus orientasi 

Kita belajar tentang negara Jerman seperti sejarah, budaya, dan sistem hukumnya. Selain itu, kita  belajar mengetahui tipikal orang Jerman seperti apa. Misal budaya Jerman tepat waktu, jangan jam  ngaret seperti di Indonesia dibawa ke Jerman. Kita akan kena omelan kalau tidak tepat waktu,  meskipun oleh keluarga sendiri. Saat saya mendapat undangan makan, kita datang telat, suami dan saya pernah loh kena marah ibu mertuaku haha… 

Budaya bikin termin di Jerman. Kalau di Indonesia mau berkunjung ke tetangga, teman dekat,  teman kantor bisa saja tiba-tiba datang ‘kan. Nah, kalau di Jerman kita wajib bikin janji terlebih dahulu. Jangan sakit hati kalau kalau nge-bel rumah sahabatmu, walau yang bersangkutan ada di dalam rumah, dia tidak akan membukakan pintu haha. 

Budaya memisahkan sampah di Jerman. Kalau di Indonesia semua sampah disatukan di tempat  yang sama. Nah, di Jerman bisa sampai 5 jenis dipisahkannya di tiap rumah tangga. Sampah kertas  ada tong khusus, sampah plastik, sampah organik, botol & gelas terpisah, dan sampah tidak bisa didaur  ulang (rest müll). Baju bekas mau disumbangkan pun ada tempat khusus.  

Sampah elektronik ada tempat khususnya. Kalau kita tidak memisahkan sampah menurut jenisnya,  seringkali petugas angkut sampah buka tutup tong sampah dilihat sekilas isinya. Kalau tidak sesuai  isinya, mereka tidak mau angkut. Atau kita dikasih kertas peringatan. Kalau kita mendapat beberapa kali peringatan maka kita kena denda deh!

Oh iya, botol beling bekas dibuang pun ada aturannya loh. Ada tong khusus sesuai warna botolnya  haha. Ada tempat botol hijau, coklat, dan bening. Sebaiknya, kita melepas tutup botolnya juga. Bukan di Jerman memang, kalau itu tidak bikin ribet!

Kalau di Indonesia, kebanyakan suami tugasnya mencari uang di luar rumah dan ibu rumah tangga  mengurus anak, masak dan beberes rumah. Nah, pria di Jerman selain mencari uang dan membantu  istrinya, dia perlu mengurus anak, mandiin anak, memberi makan, dan ajak anak jalan-jalan. Ini agar si ibu punya waktu istirahat sebentar. Suami di Jerman juga mau disuruh masak, bebersih rumah dan menjemur cucian. 

Orang Jerman itu to the point, bicara apa adanya. Kalau istri bertanya „Bagus mana, rambut pendek  atau panjang. Baju mana  yang lebih bagus dan seterusnya?“  jangan kamu mengharapkan jawaban yang menyenangkan dari suami. Sebaiknya jangan tanya pendapat orang Jerman, kecuali kalau siap sakit hati atau tidak sesuai yang ingin kamu dengar. 

Orang Jerman kerap menegur kalau ada yang salah. Misal, tetangga menegur karena kita salah membuang sampah. Kita naik  sepeda saat malam lalu lampu sepeda tidak nyala terkadang ada yang menegur. 

Jangan heran juga kalau tetangga datang atau lapor polisi saat kita ribut bikin gaduh di jam tenang (Ruhezeit). Jam tenang yakni jam 10 malam hingga jam 7 pagi. Jam 1 siang hingga jam 3 sore jam pun termasuk jam tenang juga. Hari Minggu & tanggal merah satu hari pun dianggap jam tenang. Jadi kita tidak boleh bikin ribut. 

Hati-hati ya, kalau mau masak yang bau-bau seperti goreng ikan asin, bikin sambal terasi, goreng  ikan teri! Waspada kita ditegur tetangga karena aroma masakan tersebut mengganggu mereka haha. Jangan kaget kalau kita didatangi polisi karena tetangga lapor ada cium bau mayat. Padahal kamu sedang goreng ikan asin.

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.“ Kita sebaiknya bisa menyesuaikan diri dengan  lingkungan di mana kita tinggal. Dalam hal ini, kita tinggal di Jerman. Apa yang boleh saja dilakukan di Indonesia,  bisa saja tidak biasa di Jerman :). 

Pesan saya, kalau kita mau ikut kursus integrasi, penting kita mengetahui budaya orang Jerman. Saat kita mampu  berbahasa Jerman dengan baik, kita bisa mengemukakan pendapat kita sendiri. Kalau apa yang kita  lakukan benar sesuai aturan di Jerman, JANGAN takut untuk melawan orang Jerman juga hehe:) Jangan takut untuk komplain, seperti saya pernah menjawab tetanggaku yang rese teriakin dua anakku yang main di kebun kita. Anak-anakku disuruh tidak ribut. Padahal anak-anakku bermain bukan di jam tenang loh.  

Si tetangga lansia rese itu sudah lebih dari 2 kali teriakin anak saya. Jadi saya melawan. Saya menjawab saja kalau anak-anak berhak main dan bisa bikin ribut. Saya pun pernah beberapa kali komplain ke kasir karena kurang uang kembalian atau berbagai komplain lainnya. Ya, itu karena saya mengerti Bahasa Jerman. 

Penulis: Nella Silaen, penulis di http://www.pursuingmydreams.com.