(CERITA SAHABAT) Semua Itu Butuh Waktu Untuk Beradaptasi dengan Situasi

Banyak keluarga dan kolega menyayangkan keputusanku untuk pindah mengikuti suami ke Jerman. “Sayang, sudah kuliah mahal-mahal akhirnya tidak bekerja,” begitu kata mereka ketika aku memutuskan untuk resign dari pekerjaanku di Indonesia. Bagiku, orang bebas berkomentar apapun, namun kita lah yang mempunyai kendali penuh atas hidup kita. 

Sebelum memutuskan pindah ke Jerman tentunya aku sudah mempertimbangkan segala baik buruknya. Selain itu, aku juga membekali diri dengan belajar Bahasa Jerman dan mencari informasi seputar hidup dan bekerja di Jerman. 

Aku percaya pindah ke Jerman bukanlah akhir dari karierku. Setelah tiba di Jerman dan semua berkas kependudukan selesai diurus, aku mulai mendaftar untuk Annerkennung (=pengakuan ijazah). Sebagai seorang dokter umum, aku perlu melakukan Annerkennung sebelum bisa bekerja di Jerman. Tetapi karena suatu hal, saat ini aku belum bisa mendaftar Annerkennung. Hal ini tidak menyurutkan semangatku untuk berkarir di sini, malahan aku bisa memanfaatkan waktu ini untuk lebih mendalami Bahasa Jerman. 

Namun seiring dengan berjalannya waktu, antusiasmeku mulai memudar. Sebagai orang yang terbiasa bekerja 40-50 jam seminggu, aku mulai merasa membosankan ketika aku tidak bekerja. Di saat yang sama teman-temanku satu per satu mulai melanjutkan pendidikan atau mendapat promosi di karirnya. Sedangkan aku stuck di sini.

Follow us @ruanita.indonesia

Komentar negatif dari keluarga dan kolega ketika aku resign juga terus membayangiku. Hingga aku merasa cemas dan selalu bertanya pada diri sendiri, apakah keputusan pindah ke Jerman adalah hal yang tepat. Everything felt so overwhelming, and I couldn’t stop thinking: what am I even doing here?

Rasa cemas ini sering kali datang, terlebih bila aku sedang sendiri. Terlebih aku tinggal di kota kecil sehingga tidak mudah bagiku untuk mencari komunitas dan bertemu orang-orang baru. Sebelumnya, aku tidak menyangka tinggal di luar negeri bisa membuat kita merasa kesepian seperti ini. Namun aku bersyukur, suami dan teman-teman di sini sangat suportif terhadapku. 

Selain itu, Journaling membantuku mengatasi rasa cemasku. Meluapkan perasaan negatif ke dalam tulisan membuatku lebih tenang. Aku tersadar kalau setiap orang punya mimpinya masing-masing. Penting bagiku untuk fokus pada mimpiku sendiri. Semakin aku membandingkan diriku dengan hidup orang lain, semakin membuatku terus merasa kurang dan hanya akan membuatku berganti-ganti tujuan.

Realita pindah dan ikut tinggal bersama suami di luar negeri memang tidak seindah jalan cerita film komedi romantis. Namun, pindah ke luar negeri dapat membuka kesempatan yang mungkin tidak bisa kita dapatkan di negeri sendiri. 

Penulis: Gita Feddersen, tinggal di Jerman dan dapat dikontak di akun IG: gitafdsn

(RUMPITA) Cerita WNI di Singapura yang Setia pada Indonesia

Pada episode 16 di bulan Agustus 2023, Podcast RUMPITA – Rumpi bersama RUANITA mengundang Influencer asal Singapura, Virda Lestari yang dapat dikontak via akun Instagram: chuplayavirda dan telah menetap lebih dari 5 tahun di negeri tetangga Indonesia tersebut.

Virda, begitu disapa, sempat meneruskan studi S2 di Singapura dan menikah dengan pria berkebangsaan Rusia. Virda pun memutuskan untuk tinggal di Singapura. Dalam episode ini, Fadni yang adalah mahasiswi S2 di Jerman didampingi oleh Anna untuk sementara waktu.

Fadni membaca baru-baru ini hampir 4.000 WNI yang berganti kewarganegaraan menjadi WNA Singapura dan sempat menjadi pemberitaan di harian Indonesia. Berdasarkan fenomena tersebut, RUANITA mengundang Virda untuk berbagi pendapat dan pengalaman selama tinggal di Singapura.

Menurut Virda, pemerintah Singapura tidak menjanjikan apa-apa untuk menjadi warga negaranya. Virda berpendapat bahwa alasan orang memilih menjadi warga negara Singapura lebih pada kekuatan paspor Singapura untuk bisa berpergian dan mengunjungi berbagai negara di dunia.

Follow us ruanita.indonesia

Alasan selanjutnya menurut Virda, orang memilih menjadi warga negara Singapura dikarenakan benefits yang diperoleh oleh WNA Singapura dibandingkan mereka yang telah memiliki permanent resident di Singapura.

Benefits yang menjanjikan mulai dari tunjangan pekerjaan, pendidikan, properti, hingga kesehatan pada akhirnya membuat banyak orang tergiur untuk WNA Singapura, meskipun Anna menjelaskan kalau fenomena ini sudah ada dari sepuluh tahun lalu. Fadni mengamini kalau tiap tahun angka permintaan kewarganegaraan menjadi WNA Singapura dari Indonesia menjadi semakin bertambah.

Virda pun sempat terpikir untuk berganti kewarganegaraan, apalagi suami Virda pun sudah tinggal di Singapura lebih dari 20 tahun. Alasan yang mendominasi ingin berganti kewarganegaraan lebih pada kemudahan untuk traveling.

Virda berpendapat tidak mudah juga untuk mengajukan pergantian kewarganegaraan menjadi WNA Singapura, sama seperti mengajukan ijin tinggal di Singapura. Contohnya suami Virda yang berasal dari Rusia pun pernah ditolak menjadi WNA Singapura.

Diskusi ini juga membahas tentang nasionalisme sebagai orang Indonesia yang tinggal di luar Indonesia. Apakah ada terpikir oleh Virda yang masih WNI untuk berganti kewarganegaraan menjadi WNA Singapura atau WNA Rusia seperti suami?

Apa saja yang diperlukan kalau mau tinggal di Singapura? Bagaimana Virda memandang sesama WNI yang sudah berganti WNA Singapura? Apa pesan Virda sebagai WNI yang tinggal di Singapura dalam rangka Hari Kemerdekaan ke-78 Negara Kesatuan Republik Indonesia?

Simak diskusi Podcast RUMPITA episode 16 selengkapnya berikut ini:

Follow us di RUMPITA by RUANITA.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Promosi Indonesia di Luar Indonesia dan Tantangannya

Dalam rangka merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78, RUANITA mengundang Eka Moncarre yang tinggal hampir 30 tahun di Prancis dan telah lama bergiat di bisnis promosi pariwisata Indonesia di luar Indonesia.

Setelah menyelesaikan studi di Sekolah Menengah Industri Pariwisata (SMIP) di Indonesia, Eka kemudian melanjutkan kuliahnya di Prancis untuk menekuni bidang pariwisata, terutama memperkenalkan Indonesia di Eropa. Eka bahkan pernah ditunjuk sebagai VITO (=Visit Indonesia Tourism Officer) sebagai agen perwakilan promosi Indonesia di mancanegara.

Pengalaman Eka dalam dunia pariwisata dan budaya sudah tidak diragukan lagi. Eka bercerita kalau dia pernah dipercaya untuk mendampingi perhelatan COP tahun 2021 di Paris.

Keinginannya semakin kuat untuk mempromosikan Indonesia di Eropa, setelah dia berhasil membuat business plan untuk merintis House of Indonesia atau yang dikenal La Maison De L’Indonesie di Paris.

Eka adalah Fouder dan CEO untuk rumah budaya di Paris yang banyak mempromosikan Indonesia lewat industri kopi, kuliner, produk-produk kerajinan orang Indonesia, ekspo budaya, hingga pariwisata.

Follow us ruanita.indonesia

Dalam video berdurasi 5 menit, Eka bercerita bagaimana awal mulanya dia ingin memperkenalkan kopi asal Indonesia yang tidak dikenal kafe-kafe di Eropa padahal Indonesia adalah produsen kopi terbesar di dunia.

Eka menyadari bahwa merintis promosi Indonesia pun tidak mudah. Salah satunya, Eka berpendapat penting untuk melihat poin of view orang-orang bukan Indonesia tentang Indonesia sendiri.

Selain itu, Eka berpendapat pentingnya promosi sebagai investasi, bukan lagi memandang promosi sebagai membayar atau tidak membayar. Eka menyadari berbisnis pariwisata dan budaya bukan hal yang mudah.

Apa saja tantangan Eka dalam merintis usahanya di Paris, Prancis? Bagaimana sebaiknya peran pemerintah Indonesia dalam mempromosikan Indonesia di luar Indonesia? Apa saja kunci keberhasilan Eka dalam mengelola usaha yang dirintisnya? Apa harapan Eka agar promosi pariwisata dan budaya Indonesia tidak “jalan di tempat”?

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut ini:

LIKE dan SUBSCRIBE kanal YouTube kami ya!

(IG LIVE) Bagaimana Membedakan Perilaku Orang Tua dengan Perilaku Child Shaming?

Dalam episode IG Live bulan Agustus 2023 RUANITA mengambil tema Child Shaming yang mungkin dilakukan oleh sebagian orang tua, tanpa disadari. Child Shaming sendiri diartikan sebagai metode orang tua untuk menumbuhkan rasa malu pada anak-anak yang menyebabkan anak-anak membatasi perilaku dan perasaan negatif mereka sendiri. Hal ini bisa termasuk komentar langsung atau tidak langsung tentang apa yang anak lakukan.

Child Shaming itu menurut orang tua dianggap efektif untuk mendisiplinkan anak karena dilakukan melalui verbal atau lisan, dari pada hukuman fisik. Baik hukuman fisik maupun hukuman verbal seperti Child Shaming sebetulnya sangat membahayakan bagi masa depan anak di kemudian hari. Seiring dengan penggunaan media sosial, banyak orang tua juga melakukan Child Shaming yang kemudian ditampilkan lewat akun media sosialnya.

Oleh karena itu, RUANITA lewat akun Instagram ruanita.indonesia mengundang tamu yang adalah seorang ibu, penulis, dan Content Creator yang kini menetap di Norwegia. Dia adalah Savitry “Icha” Khairunnisa lewat akun instagram ichasavitry. Diskusi IG Live ini diselenggarakan pada Sabtu, 12 Agustus 2023 pukul 10.00 CEST lalu dan dipandu oleh Dina Diana, mahasiswi S3 di Jerman. Icha begitu tamu IG Live disapa, menyadari bahwa banyak orang tua telah melakukan Child Shaming dalam pengamatannya karena beban orang tua, pengalaman masa kecil, keyakinan pola asuh, dan faktor lainnya.

Follow akun Instagram ruanita.indonesia

Contoh misalnya, anak mengalami tantrum di supermarket atau anak memiliki nilai ujian yang kurang memuaskan, kemudian orang tua membuat malu dengan memarahi, membentak, atau membuat kalimat-kalimat yang membuat anak semakin malu. Padahal orang tua di budaya barat misalnya, mereka akan membiarkan anak ketika anak mengalami tantrum. Perbedaan budaya ini juga sangat memengaruhi dalam perilaku orang tua melakukan Child Shaming.

Jaman memang sudah berubah, di mana penggunaan media sosial juga memengaruhi perilaku orang tua dalam melakukan Child Shaming. Melalui media sosial misalnya orang tua menghukum anak, menghadap ke tembok karena anak terlalu banyak main gadget. Orang tua merekam hukuman tersebut untuk memperlihatkan bagaimana orang tua bersikap tegas dan disiplin terhadap anak, padahal video perekaman hukuman terhadap anak itu sudah termasuk Child Shaming. Demikian pendapat Icha Savitry, yang memiliki seorang putra dan kini telah berusia remaja.

Saran Icha, sebagai orang tua perlu mendiskusikan dalam pelaksanaan peraturan atau kebijakan di rumah. Anak perlu dilibatkan agar orang tua tidak otoriter dan anak juga tidak merasa dipermalukan dengan kalimat verbal yang diberikan di depan umum atau dipublikasikan lewat media sosial. Icha berharap orang tua untuk lebih bijak untuk menempatkan diri seperti anak ketika akan mengeluarkan kalimat-kalimat yang membuat anak malu atau ketika akan memposting sesuatu di media sosial yang melibatkan anak.

Bagaimana cara orang tua untuk membuat disiplin anak tanpa melakukan Child Shaming? Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan agar orang tua tidak melakukan Child Shaming? Bagaimana orang tua perlu lebih bijak menggunakan media sosial sehingga tidak membuat perilaku Child Shaming untuk anak-anaknya? Apa saran Icha juga sebagai orang tua dan penulis buku bertema parenting?

Simak selengkapnya dalam diskusi IG Live berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi.

(CERITA SAHABAT) Ini Tips dan Pengalaman Saya Latih Anak Tidak Mengompol Lagi Pada Fase Toilet Training

Nama saya Inez, saat ini berdomisili di Jerman sejak dari Juli 2022. Sebelum pindah ke Jerman – kurang lebih 6,5 tahun – kami sekeluarga tinggal di Austria. Semenjak menikah, saya tidak bekerja kantoran lagi tetapi saya ikut suami bekerja di Austria. Sekarang saya menjadi ibu rumah tangga. Aktivitas sehari – hari saya seperti ibu rumah tangga umumnya, mulai dari menyiapkan suami berangkat kerja dan anak berangkat ke Kindergarten (=taman kanak-kanak dalam Bahasa Jerman), menyiapkan bekal untuk sarapan dan makan siang hingga selanjutnya saya menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, masak dan  menjemput anak dari Kindergarten. Di sela-sela, itu saya juga membuat konten video & mengedit video untuk YouTube Channel saya. 

Mengenai Bedwetting selama fase Toilet Training, menurut saya hal yang wajar. Perilaku mengompol anak saya saat usia 1,5 tahun ke atas, lebih disebabkan anak dalam masa transisi. Anak diperkenalkan dari yang terbiasa memakai popok sejak bayi sampai di usia 1,5 -2 tahun sampai anak saya dilatih untuk BAK (=Buang Air Kecil) dan BAB (=Buang Air Besar) di toilet. Jadi dia terlanjur mengompol di celana hehehe.

Mengompol di usia 2-4  tahun menurut saya masih batas hal yang wajar ya. Ini bukan karena stres, trauma atau masalah medis. Masa transisi anak dari terbiasa memakai popok ke pelan- pelan lepas popok butuh waktu, dan dalam proses tersebut pasti ada masa anak mengompol. Jadi tidak perlu langsung berfikir anak mengompol karena stress atau ada masalah medis dulu ya. 

Pada saat anak berusia 2 tahun, dia masih agak kesulitan berbicara lancar untuk mengatakan ke toilet hehe. Terkadang anak belum fokus mengatakan keinginannya padahal dia sudah mulai merasakan ingin pipis atau poop. Bisa jadi anak asyik bermain, kemudian tiba-tiba dia mengompol, sementara dia lupa kalau tidak pakai popok lagi hehe.

Follow us ruanita.indonesia

Pada masa transisi, anak saya berusia 1,5 tahun menuju 2 tahun ya, dia hanya memakai popok di malam hari. Dari pagi hingga sore hari, dia hanya memakai celana dalam khusus training. Pada masa itu, anak mengompol dalam 1 hari bisa 2 sampai 3 kali. Penyebabnya, menurut saya, selesai anak minum susu atau air, dia mengalami kebelet pipis. Namun, anak belum bisa lancar berkomunikasi sehingga terjadi mengompol di celana. Penyebab mengompol lainnya dari pengamatan saya, anak belum bisa menahan pipis saat anak sedang berjalan menuju ke toilet. 

Setelah anak pelan-pelan sudah terbiasa ke toilet, saya kemudian melatih untuk melepas popok di malam hari secara perlahan.  Sebelum tidur, anak terbiasa minum susu. Saya kemudian meletakkan alas tidur di atas kasur – semacam perlak – supaya tidak tembus air ke Kasur kalau dia mengompol. 

Pada masa latihan tersebut, anak masih mengompol beberapa hari. Setelah 1-2 minggu kemudian, anak sudah mengerti. Kalau anak sudah merasa ingin pipis, dia harus membangunkan saya sebagai ibunya untuk mengantarkannya ke toilet. Menurut saya, pada masa transisi fase toilet training ini, jika anak masih mengompol maka kita belum perlu berkonsultasi ke ahli ya. Kita mungkin perlu datang berkonsultasi ke ahli kalau  anak telah berusia 5 tahun ke atas dan masih sering kedapatan mengompol. 

Berdasarkan pengalaman saya, saya tidak berkonsultasi kepada siapa pun. Saya menjalani proses Latihan toilet training ke anak secara mandiri. Saya pikir, kuncinya adalah orang tua harus sabar dan belajar mencari tahu tentang proses toilet training tersebut lewat literatur yang tersedia. Sebagai orang tua, kita perlu menyiapkan diri apa saja yang diperlukan anak dalam fase toilet training tersebut. 

Berikut ini adalah persiapan saya melatih anak untuk tidak mengompol di fase Toilet Training:

  • Toilet mini anak (potty chair

Potty chair punya anak saya bahkan ada musik yang membuat dia merasa nyaman dan senang saat dia pipis atau poop. Kalau dia merasa berhasil, maka keluar musik. Teknik selanjutnya Pretend Play, di mana anak juga bisa diperkenalkan tentang tombol flush seperti layaknya toilet orang dewasa. Ini membantu anak tahu bagaimana menggunakan toilet pada umumnya. 

  • Toilet chair 

Setelah anak sudah memahami kapan waktunya BAK atau BAK, kita bisa perlahan mengajak anak untuk ke toilet orang dewasa umumnya. Kita bisa membelikan toilet chair dengan motif yang disukai anak-anak. Ini biasa digunakan hingga dia berusia 5 tahun. Anak juga bisa menggunakan tangga dengan variasi model yang disukai anak-anak dan nyaman untuknya. 

  • Training pant 

Di awal fase belajar, karena anak masih terbiasa dengan popok. Orang tua bisa menggantikan popok dengan training pant ini sebagai masa transisi untuk mengenakan celana dalam. Kalau anak masih mengompol, orang tua dengan mudah mencucinya.  

  • Perlak atau seprai anti air

Menurut saya, kita perlu untuk meletakkan alas semacam perlak atau seprei anti air. Pada masa fase ini, anak sudah mulai belajar untuk tidak mengenakan popok lagi saat tidur di malam hari.   

  • Buku bacaan untuk anak tentang Toilet Training

Saya sengaja membeli buku cerita bergambar untuk anak sehingga anak bisa memahami soal kebersihan diri seperti menyikat gigit atau BAK/BAB. Di sini anak bisa melihat gambar dan orang tua bisa mendampingi anak untuk memahami kebiasaan-kebiasaan tersebut.

  • Catatan observasi waktu anak BAB/BAK

Orang tua perlu memantau waktu jam BAB/BAK sehingga lebih memudahkan untuk memberitahukan ke anak. Kita bisa mencatat frekuensi anak memerlukan toilet. Kita melatih bagaimana anak duduk di toilet. Catatan ini saya buat di hape saya saja. Kalau malam hari, saya kadang bangun dan mengecek keinginan anak untuk pipis misalnya. 

  • Sering berkomunikasi ke anak

Ajari anak untuk memahami mengapa dia harus BAB/BAK di tempat sebenarnya. Ajari anak mengapa dia perlu tahu menggunakan toilet. Saya katakan padanya bahwa dia perlu belajar sendiri karena dia perlu pergi ke Krabbelstube – semacam PAUD di Indonesia. Usia anak saya saat itu masih 1,5 tahun.

Banyak pula mitos yang berkembang di masyarakat di Indonesia, perihal mengompol pada anak. Misalnya pusar anak perlu digigit capung untuk menghentikan kebiasaan mengompol. Mitos lainnya mengatakan kalau anak dilarang untuk mengonsumsi makanan pedas atau asam, supaya anak tidak terlalu banyak minum yang jadi penyebab mengompol. Saya sendiri lebih memilih tidak terlalu memercayai mitos yang beredar perihal kebiasaan mengompol. 

Ada juga pendapat yang mengatakan kalau kebiasaan mengompol anak dikarenakan History dalam keluarga seperti ayah atau ibu yang memang mengompol pada masa anak-anak. Sejujurnya, saya tidak ingat tentang pengalaman masa kecil saya. Apakah saya pernah mengompol atau tidak saat saya masih anak-anak tersebut? Saya rasa hampir semua orang di masa kanak-kanak pernah mengompol ya ‘kan.

Sebagai orang tua, kita tidak perlu mengkhawatirkan berlebihan tentang kebiasaan mengompol anak di fase Toilet Training sepanjang anak masih berusia 1-4 tahun dan dalam batas wajar. Seperti yang disampaikan sebelumnya, orang tua perlu mengamati dan memahami apa yang menjadi penyebab anak mengompol. Misalnya anak terlalu banyak minum susu atau air sehingga dia malas untuk bangun dan berjalan ke toilet. Selama perilaku mengompol anak hanya 1-2 kali dan tidak terlalu sering, kita bisa menganggap hal tersebut dalam batas wajar kok. 

Kita perlu mengecek dan berkonsultasi ke ahli, apabila anak masih memiliki kebiasaan mengompol yang intens padahal anak sudah berusia di atas 5 tahun, bahkan hingga anak berusia 7 tahun. Saran saya, sebelum kita berkonsultasi ke ahli, kita bisa bertanya ke anak. Tanyakan ke anak, mengapa dia masih mengompol. Apakah anak mengalami keterlambatan perkembangan seperti komunikasi, berjalan, atau lainnya?

Menurut saya, anak seharusnya bisa memahami apa yang disampaikan oleh orang tua agar anak dapat pipis atau poop di tempat yang tepat. Kalau anak belum memahami apa yang disampaikan orang tua, kita bisa bertindak untuk mengatur pertemuan dengan ahli.

Untuk Sahabat RUANITA yang memiliki anak sedang dalam fase toilet training dan anak masih mengompol, pastikan anak dan orang tua siap dan sabar. Karena di fase toilet training, orang tua perlu bolak-balik membersihkan celana bekas pipis atau poop. Kita perlu sering bangun di malam hari untuk mengecek anak. Bisa jadi kita pun kesal atau lelah dengan proses tersebut yang kemudian bisa berdampak ke anak juga loh. Kalau sudah begitu, anak bisa jadi takut untuk belajar. 

Saya bersyukur bahwa saya dan anak dapat melewati fase toilet training berjalan lancar dan aman, dimulai pada saat anak berusia 1,5 tahun. Semoga pengalaman dan cerita saya ini bermanfaat untuk semua. 

Penulis: Inez, tinggal di Jerman. Dia dapat dikontak via instagram @inez_ck dan pengelola kanal YouTube Inez CK

(PELITA) Tantangan Single Mom yang Tinggal di Luar Indonesia

Salah satu program yang dilakukan oleh RUANITA adalah program Parentingtalks with RUANITA atau yang disingkat PELITA. Program ini biasa dibawakan oleh Stephany Iriana Pasaribu, seorang mahasiswi S3 di salah satu universitas di Belanda dan juga seorang Single Mom.

Mulai episode 9 Stephany akan membawakan format baru, yang mana PELITA tidak lagi dalam bentuk monolog. PELITA akan menjadi dialog antara Stephany dengan narasumber yang diundangnya untuk membahas tema pengasuhan dari sisi berbeda.

Pada episode 9 ini, Stephany mengundang Sekar Istianingrum yang sudah sepuluh tahun tinggal di Swiss. Selama tujuh tahun, Sekar menikah dengan pria berkewarganegaraan Swiss yang kemudian kandas setelah kelahiran anak semata wayangnya.

Follow us: @ruanita.indonesia

Sekar bercerita bagaimana dia dan mantan suami telah berupaya untuk melakukan konseling untuk menyelesaikan permasalahan rumah tangganya. Sayangnya, Sekar dan mantan suaminya tidak bisa lagi mempertahankannya. Sekar dan mantan suami kemudian memutuskan menjalani konsep co-parenting.

Sebagai awalan, Stephany juga menanyakan aktivitas sehari-hari Sekar yang menghabiskan 80% waktunya dalam seminggu untuk bekerja. Sisanya sekar menghabiskan waktu bersama anak semata wayangnya. Sekar pun memiliki kiat khusus agar life balanced dapat berjalan optimal bagi kesejahteraan dirinya dan buah hatinya.

Bagaimana perjalanan Sekar hingga tiba di Swiss? Apa saja tantangan yang dihadapinya sebagai Single Mom selama tinggal di luar Indonesia? Bagaimana Sekar mengatasi problema hidup yang dijalaninya sebagai Single Mom? Apa saja bentuk dukungan dari Pemerintah Swiss untuk Sekar sebagai Single Mom? Lalu apa saja pesan Sekar untuk Single Mom yang tinggal di Indonesia dan luar Indonesia?

Simak jawabannya dalam kanal YouTube kami berikut ini.

(CERITA SAHABAT) Cara Mendidik Anak? Padahal Itu Child Shaming

Halo Sahabat Ruanita, namaku Ratna dan tinggal di sebuah negara di benua Eropa. Aku ingin berbagi cerita pengalamanku tentang menjadi korban child shaming. Saat diminta bercerita tentang tema ini, aku punya konflik batin. Apakah aku pernah menjadi korban child shaming? Namun, saat aku melihat contoh-contoh child shaming yang aku temukan di internet, aku punya beberapa pengalaman yang bisa aku bagi.

Hal yang paling aku ingat sampai sekarang berkaitan dengan fisikku. Dari kecil, aku memang bertubuh pendek dan lebih gemuk dari saudara-saudaraku. Keluargaku bilang badanku mirip dengan nenek dari pihak ayah, karena ada beberapa tante dan omku yang punya fisik seperti aku. Aku ingat, waktu aku masih remaja, keluargaku pernah bilang pulpen yang dia punya seperti aku, gendut. Waktu itu aku pura-pura tidak mendengar dan bersembunyi di kamar. Aku sedih sekali mendengarnya, karena tubuhku diejek seperti pulpen yang bagian tengahnya besar.

Sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan tubuhku. Aku menganggap keacuhanku itu sebagai karunia. Kalau tidak, mungkin aku sekarang mempunyai gangguan makan karena aku merasa tidak pernah merasa puas dengan tubuhku. Sekarang ini tubuhku lebih gemuk daripada sebelumnya. Namun, hal yang membuatku sedih adalah aku merasa sangat gendut, padahal dulu beratku 20 kilogram lebih ringan daripada sekarang ini.  

Aku tidak percaya diri dengan tubuhku karena omongan orang-orang di lingkunganku. Sekarang aku sadar, seberapapun berat badanku dan seberapa besarnya bentuk badanku, maka selalu ada orang terdekat yang menyebutku gendut dan menyuruhku diet. Oleh karena itu, aku mencoba untuk tidak mendengar mereka. Aku ingin kurus karena aku ingin sehat, bukan karena mereka. 

Tidak hanya fisik, keluargaku juga mengkritik apa yang aku lakukan. Jika aku salah melakukan sesuatu, ibu akan bilang „Gini saja gak bisa! Gimana sih kamu?“ di depan saudara-saudaraku. Aku pernah juga mengalaminya di depan sepupu, tante, dan omku yang sedang datang berkunjung. Jika aku tidak bisa menemukan barang yang dicari orang tuaku, mereka juga akan marah dan bilang aku mencarinya tidak pakai mata.

Di keluargaku, menangis adalah suatu hal yang tabu. Setiap kali aku sedang sedih, aku berusaha untuk menahan tangisku. Walaupun tangisku terpaksa keluar, jangan sampai diketahui siapapun! Sering kali ibuku menyuruh aku untuk berhenti menangis dengan kalimat, „Tidak usah menangis! Masak begitu saja kamu menangis, sih! Apa kamu tidak malu dilihat orang?“. Atau sering juga aku mendengarkan mereka bilang kalau tangisanku bisa didengar orang-orang satu kampung. 

Kakakku juga sering menyuruh anak-anaknya untuk berhenti menangis dengan cara seperti itu. Aku sebagai perempuan mungkin cukup „beruntung“ dengan stigma anak perempuan cengeng. Sebaliknya anak laki-laki seperti keponakanku, mereka diajarkan untuk tidak menangis karena mereka laki-laki. Padahal laki-laki juga punya emosi dan boleh menangis untuk mengungkapkan rasa sedih mereka.

Follow us: @ruanita.indonesia

Bukan hanya di rumah, child shaming juga rentan terjadi di sekolah oleh guru-guru. Entah bagaimana anak-anak sekarang, tetapi dulu saat aku masih di SMP seringkali guru-guru menitip dibelikan makanan di kantin sekolah. Aku benci dititipi belanja oleh mereka. Jika belanjaan salah, mereka tidak maklum dengan aku, tetapi mencemooh. Atau muka mereka terlihat kesal dan kecewa. Aku juga menjadi kesal dan kecewa dengan diriku karena tidak punya ingatan tajam dan tidak becus melakukan tugas dari mereka.

Di kelas pun tidak jarang guru-guru mencemooh murid-muridnya. Kejadian yang paling aku ingat adalah saat aku masih SD, ada satu teman sekelas yang disebut bodoh oleh guru karena tidak bisa menjawab pertanyaan. Waktu kelas tiga SMA, guru matematika aku bilang, „Kalau di antara kalian ada yang menjadi dokter, ibu tidak akan pernah mau berobat ke kalian. Soal matematika begini saja, kalian tidak ada yang bisa mengerjakannya! Ibu tidak percaya kalian bisa (jadi dokter yang kompeten)“.  Aduh, mendalam sekali nggak sih mendengar guru sendiri bilang seperti itu?

Ada satu hal yang aku rasa pernah dialami semua orang dan mungkin pernah dilakukan semua orang tua ke anaknya, yaitu membandingkan anak sendiri dengan anak lain. Aku punya teman yang sering bilang ke anak laki-lakinya kalau kakak perempuannya lebih baik dari dia. Nilai di sekolah lebih bagus, perilakunya lebih tenang, dan lebih penurut dibandingkan dia. Aku sedih sekali setiap mendengar dia membanding-bandingkan anaknya karena aku teringat dengan pengalaman pribadi kalau aku sering dibandingkan dengan saudara-saudara lainnya juga. Padahal itu berdampak negatif yang akan dirasakan anak laki-lakinya itu. 

Secara pribadi, aku melihat diriku tidak pernah merasa cukup. Aku cukup perfeksionis di banyak hal, karena aku merasa tidak berharga dan menganggap saudara-saudaraku lebih baik dariku. Mereka lebih pintar, lebih penurut, lebih cantik, lebih kurus, dan lainnya. Aku khawatir anak laki-laki temanku itu kelak menjadi anak yang juga tidak merasa cukup, karena merasa kakaknya lebih baik dari dia.

Menceritakan kembali percakapan pribadi dengan anak ke orang lain juga termasuk child shaming, loh! Aku beruntung waktu aku kecil belum ada media sosial. Lihat saja zaman sekarang saat semua orang pakai media sosial dan berlomba-lomba mendapatkan jempol terbanyak. Banyak sekali akun-akun media sosial dengan profil anak-anak yang dikelola oleh orang tuanya. Foto, video, dan percakapan anak-anak tersebut diumbar ke banyak orang, tidak jarang juga sebenarnya memalukan anak-anaknya. Mungkin mereka lupa anak-anak akan tumbuh menjadi dewasa dan kelak akan melihat apa saja yang orang tuanya publikasi ke publik tanpa persetujuan dia. 

Seorang temanku mengingatkan, memposting foto atau video anak ke media sosial juga berpotensi untuk menjadikan anak korban child/body shaming oleh orang asing. Sebagai orang tua, kita mudah saja mengejek anak kita, apalagi orang lain yang hanya melihat anak kita di media sosial. Dia bercerita tentang pasangan artis Indonesia yang rajin posting foto-foto anaknya di Instagram. Suatu saat tiba-tiba mereka bilang ada orang yang sering mengejek anak mereka di kolom komentar di Instagram dan Youtube mereka dengan menyebut anaknya idiot. Setelah diselidiki, pelakunya adalah seorang ibu dan guru. Aduh, miris sekali ya! Ibu yang punya anak kandung dan anak didik, tetapi melakukan child shaming dengan alasan iseng. Pelaku tidak sadar bahwa yang menjadi korban bukan hanya orang tuanya, tetapi anak berumur satu tahun yang belum mengerti apa-apa.

Sekarang saat menjadi orang dewasa yang tumbuh dengan child shaming, aku berhati-hati jika berbicara dengan anak-anak. Aku takut melakukan apa yang dulu dilakukan orang dewasa terhadapku. Aku juga tidak suka jika mendengar orang dewasa menyebut anak-anak dengan „wild child“ karena anak tersebut aktif. Aku pernah mendengar anak temanku A, yang berumur tujuh tahun menyebut anak temanku yang lainnya B, yang berumur dua tahun dengan sebutan „wild“. Temanku si A tersenyum mengamini ucapan anaknya. Di sisi lain, aku juga tahu temanku si B juga sering bercanda dengan mengatakan begini begitu, seperti misalnya „Iya, memang anakku susah makan“.

Child shaming sering kali dilakukan untuk mendidik anak. Membuat anak menjadi merasa bersalah dan malu dan berharap mereka akan mengubah perilakunya seperti yang orang tua inginkan. Orang tua lupa atau mungkin tidak mengerti, child shaming berdampak buruk. Aku yang sering diejek gendut, menjadi tidak cinta diriku sendiri. Saat orang lain memuji fisikku, aku tidak percaya dengan mereka. 

Dulu aku tidak pernah diajarkan untuk menangis kalau aku sedang merasa sedih. Aku malu untuk menangis saat orang terdekatku meninggal dunia, sehingga aku perlu pergi ke psikolog untuk belajar menangis. Aku tidak pernah mengajukan pertanyaan di kelas, karena aku takut guru atau dosenku bilang pertanyaanku bodoh. Aku juga tidak pernah percaya diri untuk menjawab pertanyaan dosen dengan alasan takut jawabanku salah dan mereka bilang aku bodoh. Padahal kenyataannya sebaliknya, jawabanku benar dan teman sekelasku salah. 

Tidak banyak orang yang sadar bagaimana cara kita mendidik anak adalah cerminan dari bagaimana orang tua kita dahulu mendidik kita. Aku sering kali ingin bilang ke anak-anak, „Ini gampang, masak kamu begini saja tidak bisa!“. Padahal mereka membutuhkan motivasi, bukan cemooh. Mungkin juga temanku yang sering membandingkan anak-anaknya pernah mengalami hal yang sama sewaktu kecil. Mungkin dia juga merasa bersaing dengan saudara-saudaranya. 

Sekarang aku ingin menjadi orang dewasa yang memutuskan jeratan child shaming. Aku belajar bagaimana memberikan kalimat positif ke anak-anak, belajar memuji, dan memanggil mereka dengan panggilan sayang sehingga mereka merasa cukup dan belajar tidak memberikan label pada anak mereka kelak. Jika anak tidak mau salaman dengan orang yang lebih tua, bukan berarti dia anak tidak sopan. Dia hanya membutuhkan waktu untuk mengenal orang baru. 

Dari sumber-sumber yang kubaca disebutkan, anak-anak yang mengalami child shaming dari orang tuanya akan tumbuh menjadi orang yang mencari validasi. Temanku yang juga punya pengalaman menjadi korban child shaming bilang, „Aku pernah sangat berusaha mencari validasi dari luar, tetapi tidak pernah merasa cukup. Begitu ibuku memujiku, aku merasa puas dan tidak lagi berusaha mencari validasi dari luar“. 

Mendengar hal itu, membuatku bercermin. Mungkin rasa “haus akan pujian” terjadi karena aku butuh validasi dari keluarga. Suatu hal yang tidak pernah aku dapatkan saat aku masih kecil.

Penulis : Ratna di Eropa