Dalam rangka menjangkau lebih banyak orang-orang Indonesia di mancanegara, Ruanita Indonesia hadir membagikan keberadaannya lewat program Live Talkshow yang menjadi salah satu program TVRI World dalam siaran berbahasa Inggris. Ruanita Indonesia diwakilkan oleh Hernita Oktarini dan Anna Knöbl menceritakan tentang bagaimana awal mula terbentuknya Ruanita Indonesia sebagai social support system untuk warga Indonesia, terutama perempuan di mancanegara.
Siaran TVRI World ini sudah tayang di sejumlah negara di dunia, termasuk Eropa melalui misi kebudayaan yang memperkenalkan Indonesia lebih mendunia dalam siaran berbahasa Inggris.
Diskusi IG Live Episode September 2023 mengambil tema Hari Alzheimer Sedunia sebagai bagian dari kampanye sepekan yang digelar Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia bersama Yayasan Alzheimer Indonesia di Belanda (ALZI Ned) dan Komunitas Alzheimer Indonesia di Jerman (ALZI Jerman). Diskusi IG Live yang berlangsung selama 35 menit ini menggunakan platform akun Instagram lewat akun ruanita.indonesia yang dipandu oleh Anna.
Kedua narasumber yang hadir dalam diskusi IG Live ini merupakan perwakilan dari ALZI Ned dan ALZI Jerman yakni: dr. I Putu Widhi Yuda Yadnya atau lebih dikenal dengan dokter Yuda yang mengambil spesialisasi penyakit dalam, tinggal di Jerman dan begitu aktif dalam komunitas SELINDO (Senior Lansia Indonesia) di Jerman serta komunitas ALZI Jerman.
Narasumber kedua adalah seorang tenaga profesional juga atau perawat untuk lansia yang tinggal dan bekerja di Belanda. Dia adalah Deasy Velner yang telah menetap lebih dari 20 tahun di Belanda. Deasy adalah perwakilan dari ALZI Ned yang juga merupakan Caregiver dari ibu kandungnya yang tinggal di Indonesia. Ibu dari Deasy adalah orang dengan demensia atau ODD dan kini mendapatkan perawatan khusus dengan biaya sekitar 16 – 19 juta rupiah setiap bulan di Indonesia.
Dokter Yuda menjelaskan tentang Alzheimer dan Demensia yang tidak terpisahkan, bahkan sebetulnya tidak bisa dibedakan sebagaimana anggapan orang awam umumnya. Dokter Yuda kemudian menjelaskan 10 tanda mengenali gejala-gejala Alzheimer yang semuanya ini dapat diperoleh dengan mudah.
Apabila kita mengunjungi laman resmi Yayasan Alzheimer Indonesia atau Yayasan Alzheimer Indonesia di Belanda. Bagaimana pun kepedulian kita sebagai anggota keluarga sangat membantu secara signifikan untuk terapi sosial yang diperlukan ODD.
Meski kita tinggal jauh dari tanah air, bukan tidak mungkin kita tetap peduli pada masalah keluarga seperti yang dialami oleh Deasy sendiri. Dalam kesehariannya sebagai perawat mengurus orang-orang lanjut usia di Belanda yang semuanya ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah Belanda, justru mendorong Deasy agar ibunya yang tinggal di Indonesia bisa mendapatkan perawatan yang berkualitas juga.
Sayangnya itu tidak mudah. Deasy mengamati bahwa Indonesia belum siap memberikan layanan berkualitas untuk ODD sehingga Deasy memutuskan untuk membayar ekstra kebutuhan perawatan sang ibu di Indonesia.
Jumlah yang fantastis tiap bulan harus dikucurkannya demi kebaikan sang ibu. Tentunya ini bergantung dengan kondisi dan tingkatan Alzheimer yang dialami ODD sendiri. Bukan tidak mungkin ada biaya tambahan lain seperti biaya obat-obatan dan biaya perawat khusus yang menjaganya 24 jam.
Dokter Yuda menjelaskan bagaimana penanganan ODD di Jerman dengan sistem kesehatan yang berlaku. Tidak jarang tenaga kesehatan perawat lansia untuk ODD menjadi biaya khusus yang harus dibayarkan keluarga demi penanganan intensif.
Di Jerman dan Belanda yang sudah memiliki layanan kesehatan untuk kelompok lanjut usia dan kelompok ODD diharapkan bisa menjadi harapan untuk orang Indonesia yang berada di perantauan seperti kita. Seperti pesan Deasy bahwa bangsa yang baik adalah bangsa yang bisa menghormati para orang tuanya dengan menyediakan layanan kesehatan yang berkualitas.
Bukan tidak mungkin orang-orang Indonesia yang sekarang tinggal di luar negeri suatu saat akan kembali ke tanah air dan berharap ada perbaikan layanan kesehatan untuk kelompok lansia dan ODD sehingga menjadi jaminan kesehatan buat seluruh kelompok usia.
Selengkapnya tentang diskusi IG Live dapat disimak dalam rekaman berikut ini:
Subscribe kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.
Halo Sahabat Ruanita, aku Nurul tinggal dan bekerja di Hamburg. Aku ingin berbagi cerita tentang pengalamanku bekerja di klinik psikiatri geriatri (panti werdha) sebagai kepala perawat. Aku bekerja di sana sejak akhir tahun 2016, lebih tepatnya ketika aku masih sekolah vokasi di jurusan keperawatan lansia.
Walau namanya panti werdha atau jompo, jangan bayangkan panti werdha di Indonesia, ya, karena ini berbeda sekali. Saat aku masih kuliah di Bandung, aku pernah mengunjungi salah satu panti werdha di sana. Satu kamar tidur diisi oleh 6-8 orang, seperti bangsal. Di Jerman tidak begitu. Setiap kamar maksimal diisi oleh dua pasien yang bisa mereka dekorasi sesuai keinginan mereka. Ruang makan seperti restoran dan pasien mendapatkan four-course meal yang disesuaikan dengan diet mereka. Selain itu juga dilengkapi dengan taman, lift untuk menuju lantai lain, fisioterapi, dan salon. Stigma negatif tentang panti werdha di Indonesia ini yang membuat keluargaku dulu sulit memberikan izin untukku untuk bersekolah dan bekerja di bidang ini.
Sebagai perawat bersertifikat, tugasku adalah membuat rencana penanganan pasien, perawatan luka, suntik-menyuntik (obat dan insulin), kunjungan bersama dokter klinik dan dokter syaraf yang datang secara rutin, konsultasi keluarga pasien, komunikasi dengan toko alat kesehatan dan terapis dari luar (fisioterapi dan terapi wicara), dokumentasi untuk audit eksternal untuk asuransi kesehatan, perawatan paliatif, menyiapkan dan memberikan obat sesuai dengan resep dokter. Selain itu, aku juga membantu makan dan perawatan sehari-hari, seperti mandi misalnya.
Penanganan pasien di sini tidak sembarangan. Penanganan perawatan setiap pasien tidak sama, tetapi disesuaikan dengan profil mereka (pekerjaan, hobi, keluarga, dll), masalah/penyakit mereka, juga berdasarkan dengan diskusi dengan keluarga dan dokter mereka. Sebisa mungkin sistem perawatan kami disesuaikan dengan kebutuhan setiap pasien. Namun, itu juga tergantung dengan kondisi pasien itu sendiri, apakah mereka masih bisa memahami situasi sekarang, atau tidak sama sekali. Semua ini harus direncanakan dengan matang karena mereka akan tinggal di klinik kami selamanya.
Hampir semua pasien kami adalah orang dengan demensia, atau dalam bahasa awam sering disebut dengan pikun. Demensia adalah bentuk dari penurunan fungsi otak, karena mereka itu pelupa, kebingungan, dan disorientasi. Demensia mempunyai beragam tipe berdasarkan penyebabnya. Contohnya, Alzheimer yang menjadi tipe demensia terbanyak. Demensia juga bisa dipicu oleh makanan, alkohol, rokok, kegemukan, darah tinggi, dan/atau penyakit sebelumnya seperti luka dalam kepala, stroke, serangan jantung, epilepsi, dan parkinson. Kurangnya kontak sosial saat mereka muda dulu juga bisa menjadi pemicu. Umur juga berpengaruh, walaupun juga ada kasus demensia anak. Pasien di tempatku rata-rata berumur di atas 80 tahun. Ada yang baru masuk di umur 97 tahun karena dia baru terkena demensia. Demensia bisa dimulai dari tahap awal, atau langsung ke tahap lanjutan, tergantung dari pemicunya.
Tahapan demensia pasien-pasien yang aku tangani juga berbeda-beda. Sampai saat ini, demensia yang aku tangani masih dalam level baik, seperti momen saat mereka masih nyaman dan mengerti obrolan kami. Ada juga pasien yang sudah tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa berbaring di tempat tidur, tetapi ada juga yang seperti orang normal dan bisa dicintai. Dari situ aku tahu bahwa mereka juga manusia yang dahulu pernah punya jiwa yang sehat. Itulah alasan aku suka bekerja dengan lansia, meskipun juga berat bekerja dengan mereka.
Kami pernah mempunyai pasien yang senang bermusik. Musik membantu dia untuk bangkit lagi, sampai dia meninggal. Saat pertama datang ke klinikku, kondisi badan dia masih sehat dan fit. Aku dan rekan kerjaku sesama orang Indonesia sering meluangkan waktu setelah jam kerja untuk bermain musik dan gitar dengan dia, meskipun saat itu dia sudah tidak bisa pegang gitar lagi. Beberapa tahun kemudian, kondisi kesehatan dia menurun dan jatuh koma di rumah sakit.
Dokter menyarankan istrinya untuk melepaskan alat bantu pernafasan. Dia menolak, lalu datang ke klinik kami. Aku dan rekan berinisiatif meminta istrinya untuk mencoba memperdengarkan musik-musik yang dia suka dan video saat kami dulu bermain musik bersama. Tidak lama setelah dia mendengarkan musik-musik itu, dia menunjukan reaksi dan perkembangan. Sampai akhirnya, dia kembali lagi ke klinik kami, walaupun dengan keadaan tidak terawat dan tidak bisa melakukan apa-apa.
Kami melatih lagi kemampuan fisiknya dengan bantuan fisioterapis dan terapi wicara. Tiga bulan kemudian, dia bisa berdiri dan berbicara lagi. Sayangnya sekitar 6-8 bulan kemudian, kesehatan fisiknya menurun dan hanya bisa berbaring di tempat tidur. Tidak lama kemudian dia meninggal di kamarnya di klinik kami, sesuai dengan keinginannya.
Aku punya banyak sekali pengalaman menarik selama bekerja di klinik panti werdha. Yang paling aku suka adalah saat mereka bercerita tentang masa lalu dan masa muda mereka sambil menunjukan foto album mereka. Aku suka sekali dengan The Beatles. Baru-baru ini aku membantu pasien yang pindah dari kamar untuk berdua ke kamar sendiri. Dia termasuk pasien yang dekat denganku.
Dia pernah terkena stroke yang menyebabkan gangguan bicara. Oleh karena itu, dia sering teriak-teriak, tetapi itu bukan karena dia marah. Saat aku membereskan album foto, aku menemukan album The Beatles dengan tanda tangan asli mereka. Dia bilang, dia bertemu The Beatles saat mereka konser di Jerman. Saat itu lagu-lagu The Beatles baru diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman.
Cerita lucu juga aku punya banyak. Sebagai bentuk penanganan orang dengan demensia, aku sering harus bermain peran seperti aktris film. Pernah ada satu nenek yang bercerita kalau barangnya dicuri. Aku pun berperan sebagai petugas keamanan dan membantu dia untuk menelepon polisi.
Dengan pasien lain, yang dulu adalah seorang guru SD, aku berperan sebagai kepala sekolah. Oleh karena itu, dia bercerita bahwa murid-muridnya yang berjumlah 23 orang itu tidak bisa diam. Jika ada pasien yang tidak mau disuntik, aku akan datang lima menit kemudian untuk berganti peran menjadi anaknya atau siapa pun untuk membujuknya.
Setiap hari, aku harus pintar-pintar berganti peran. Teknik yang dinamakan validasi ini merupakan teknik penting dalam menangani orang dengan demensia. Jika mereka diteriaki, mereka akan memblokir dirinya dengan pura-pura tidak mendengar, karena orang di seberangnya melawan keinginannya. Itu sebab, aku berbaur dengan dunia mereka dan mengikuti peran sesuai dengan yang mereka inginkan. Jika pasien bercerita anaknya sakit, aku akan memvalidasinya dengan bertanya, „Anak ibu yang sakit di mana?“. Aku juga akan ikut „mencari“ anaknya tersebut.
Cerita tidak mengenakkan juga pernah aku alami di klinik. Kami pernah punya pasien berumur 103 tahun yang masih sehat secara fisik dan jiwanya. Aktivitas sehari-hari bisa dilakukan sendiri tanpa bantuan orang lain, tetapi dia narsisnya tidak ada dua. Dia menjulukiku „die kleine Schwarze“ (si hitam kecil) dan rekan kerjaku „die Kleine mit Kopftuch“ (si kecil berjilbab).
Dia menolak menerima penanganan dari kami. Dia hanya ingin ditangani oleh orang Jerman. Hal ini tentu tidak memungkinkan karena tidak ada perawat di tempatku yang seratus persen berdarah Jerman. Kepala layanan keperawatan kami mengundang keluarganya untuk berdiskusi. Menurut anak-anaknya, ibu mereka merasa dirinya kuat. Dia mengalami dua perang dunia dan berhasil mendidik anak-anaknya sendirian, karena suaminya ikut berperang. Anak-anaknya sampai menjadi dokter.
Akhirnya aku bilang ke pasienku ini, bahwa aku hanya melakukan tugasku. Kami tidak perlu berbicara apa-apa. Aku harus profesional dan tahu batasanku sendiri. Aku juga menolak untuk menangani dia kalau aku tidak mau. Lama-lama dia sendiri mengakui kalau aku dan rekan kerjaku memang baik. Kami tidak pernah balik meneriaki dia, setiap dia melakukan tindakan rasis.
Menurutku, pengalaman paling tidak mengenakan adalah ketika ada pasien meninggal. Aku tidak mengenal mereka hanya satu atau dua minggu saja tetapi sudah bertahun-tahun. Ada beberapa pasien yang mempunyai chemistry yang pas denganku. Aku tahu, di dunia keperawatan kita boleh berempati tetapi jangan bersimpati dengan pasien. Dikhawatirkan jika terjadi sesuatu dengan pasien tersebut, aku juga yang sulit melepaskannya.
Secara profesional hal ini mudah. Namun pasienku manusia dan aku bekerja dengan hati. Aku pasti sedih dan tidak jarang juga menangis, jika ada yang meninggal, apalagi kalau dia adalah pasien yang dekat denganku. Walaupun begitu, di hari mereka meninggal aku tetap profesional. Aku tidak memperlihatkan kesedihanku dan aku masih bisa mengontak keluarga, layananan kematian, dan dokternya. Aku harus kuat. Aku tidak bisa larut dalam kesedihan kemudian aku tidak bekerja.
Hal ini tentu tidak datang serta-merta. Awal aku bekerja di bidang ini, aku juga tidak tahu harus bagaimana jika ada pasien meninggal. Pengalaman pertamaku kehilangan pasien, aku menjaga jarak dan tidak mengunjungi dia di kamarnya. Aku tidak mau lihat dia. Lama-lama, aku terbiasa. Menurutku, itu hal yang manusiawi kalau aku sedih dan menangis.
Kembali ke tema demensia. Demensia sebenarnya bisa dicegah dengan gaya hidup sehat – gizi seimbang dan olahraga rutin. Pergi piknik dan kontak dengan orang lain juga bisa membantu. Begitu pun dengan melakukan aktivitas otak, seperti membaca buku, mengerjakan kuis, mengisi TTS (Teka-Teki Silang), dan puzzle untuk melatih otak agar tidak ada syaraf otak yang tidak terpakai dan lama-kelamaan mati. Kegiatan pasien di klinik kami juga seperti itu. Mereka dibacakan novel atau koran setiap pagi.
Untuk mengetahui apakah seseorang terkena demensia, kita bisa mengetahui dari aktivitas dan orientasinya sehari-hari. Ada pasienku, yang dulu saat masih tinggal sendiri, sering lupa mematikan kompor. Dia berulang kali memasak makanan yang sama karena dia lupa sebelumnya baru saja memasak itu. Anaknya yang sadar dengan perubahan ibunya itu kemudian membawa ibunya tinggal di klinik kami. Itu seperti keinginan ibunya, sebelum dia terkena demensia.
Kehilangan ingatan jangka pendek juga salah satu ciri-cirinya. Ingatan yang disimpan 30 tahun saat otak dan badan masih sehat bisa bertahan dibandingkan dengan yang disimpan setahun lalu. Hal ini berat untuk para lansia yang pernah mengalami perang dunia. Banyak dari mereka yang terpicu traumanya jika mendengar suara petasan atau kembang api di tahun baru. Itu disebabkan apa yang tersimpan di ingatannya adalah peristiwa perang saat mereka masih muda.
Banyak juga lansia yang lupa dengan wajah anak-anaknya, karena yang tersimpan adalah wajah anak-anaknya saat masih kecil. Sedangkan wajah anak-anak mereka saat dewasa, mereka tidak menyimpannya. Dia ingat dia punya anak, tetapi dalam benak dia adalah muka anaknya saat masih kecil. Oleh karena itu, album foto sangat penting bagi mereka. Dengan melihat-lihat album foto, mereka terpancing untuk ingat lagi kejadian baru-baru ini.
Menurutku, cara untuk membantu orang dengan demensia adalah dengan memberikan mereka waktu dalam berbagai hal. Semakin kita memaksakan mereka sesuatu, semakin mereka akan melawan. Oleh karena itu, kesabaran juga sangat penting. Caraku mencoba berperan dengan menyesuaikan situasi pasien, bisa dicoba untuk menangani anggota keluarga dengan demensia.
Aku menekankan bahwa ini tidak bisa diaplikasikan ke semua orang dengan demensia, terutama ke orang dengan demensia agresif. Demensia agresif ini termasuk juga ke dalam tipe demensia. Hal itu terjadi karena ada gangguan di otak bagian depan yang bisa menyebabkan perubahan kepribadian. Misalnya, semula orang tersebut baik hati tetapi saat terkena demensia menjadi agresif, seperti sering teriak-teriak atau marah-marah.
Aku berharap semakin banyak lagi penyuluhan tentang demensia di Indonesia. Ini bisa dimulai dari pengertian, penyebab, ciri-ciri, dan cara penangannya. Penambahan wawasan ini penting tidak hanya untuk orang tua atau lansia saja, tetapi juga pihak keluarga, agar kita bisa mengenal ciri-cirinya dengan mandiri dan sedini mungkin.
Penyuluhan ini juga penting untuk mematahkan stigma di masyarakat. Jangan lagi ada ucapan, “Nenek dia jadi gila”, karena sering teriak-teriak atau melakukan sesuatu tidak normal. Hal ini tentu saja tidak mengenakan untuk keluarga mereka juga. Demensia tidak sama dengan gila. Ini bukan disebabkan oleh gangguan psikologis, tetapi terpicu karena syaraf di otaknya yang tidak lagi bekerja sepenuhnya.
Untuk Sahabat Ruanita yang ingin bekerja di bidang ini, aku sarankan untuk mencari tahu terlebih dahulu tentang demensia dan cakupan bidang keperawatan lansia. Kita juga harus siap bekerja dengan mereka. Tidak jarang orang yang bilang ingin bekerja menjadi perawat di bidang ini, sayangnya harus berakhir di tengah jalan karena merasa berat.
Penanganan di sini berbeda dengan di rumah sakit umumnya. Di rumah sakit, mungkin pentingnya adalah pemberian obat, sedangkan di panti penanganan dimulai dari pasien bangun tidur sampai tidur lagi. Selain itu, penting juga kita mempunyai kesabaran dan empati yang banyak, ramah, profesional, berhati besar, rajin, dan pengertian. Kita harus memahami bahwa yang mereka lakukan itu karena mereka sakit, bukan karena mereka benci kita.
Ditulis oleh Mariska Ajeng (www.mariskaajeng.com) berdasarkan cerita dari Nurul Vaoziyah yang bisa dihubungi via info@ruanita.com atau langsung ke Instagram pribadinya @nurulvaoziyah.
Halo, perkenalkan nama saya Wati Chaeron dan berusia 42 tahun. Saya adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Saya lahir dan dibesarkan di Belanda. Saat ini, saya tinggal di Delft. Saya adalah caregiver untuk ibu saya sendiri, yang telah meninggal dunia pada tahun 2021. Beliau tutup usia di umur 77 tahun. Sebagai caregiver, saya memahami isu Alzheimer sejak saya merawat ibu saya, yang adalah orang dengan demensia (ODD).
Ibu saya pindah ke Belanda, sekitar tahun 1970. Ibu saya bekerja sebagai guru di Sekolah Indonesia di Den Haag (SIDH) selama 20 tahun. Ibu dan bapak saya berkontribusi besar dalam komunitas Masjid Indonesia di Den Haag. Beliau mempunyai tiga orang putri. Setelah ibu pensiun bekerja, bapak saya meninggal dunia pada tahun 2005.
Awal mula saya mengenali gejala ibu sebagai orang dengan demensia itu sekitar tahun 2013. Saya mengamati karakter ibu yang berubah, di awal munculnya gejala tersebut. Beliau terlihat sering merasa bingung dan mudah jatuh. Hal itu, membuat kami membawa beliau ke Huisarts (dokter keluarga). Huisarts melakukan semacam tes IQ kepada ibu saya. Dari situ, ibu disarankan untuk melakukan pemeriksaan CT scan. Dari CT scan, ibu terdiagnosis Vaskuler demensia.
Hasil CT scan juga menunjukkan bahwa ibu mengalami TIA* (Transient Ischemic Attack) sehingga diperlukan revalidasi. Setelah revalidasi, ibu diperbolehkan pulang ke rumah. Namun, kami tetap harus memantau kondisinya. (*TIA, sering juga disebut mini stroke, merupakan kondisi yang menyerupai stroke, dengan tanda dan gejala yang mirip stroke.)
Selain para putrinya yang memantau kondisi ibu saya, ibu juga mendapat bantuan profesional thuiszorg (home care) di rumah. Namun, kondisi ibu semakin buruk dan tidak aman lagi untuk tinggal di rumah. Oleh karena itu, melalui Casemanager Demensia, kami diminta untuk mengontak beberapa verzorginghuis (rumah perawatan/nursing home).
Alhamdullilah, kami mendapatkan tempat di dekat rumah. Kebetulan juga di verzorginghuis ini memiliki ruang-ruang dengan nama Indonesia. Ruang ibu saya adalah Ruang Bunga. Kami sangat bersyukur, ibu boleh tinggal di tempat tersebut. Kami boleh memasak masakan Indonesia di sana. Selain itu, kami juga boleh menengok ibu kapan saja. Bahkan, kami juga boleh menginap. Bagi kami saat itu, yang paling penting adalah kondisi rumahnya seperti berada di Indonesia.
Meskipun ibu sudah ada di dalam rumah perawatan, kami melihat bahwa kondisi ibu semakin memburuk. Beliau tidak lagi bisa berkomunikasi dengan kami dan lebih banyak diam. Selain itu, beliau juga kurang bergerak. Beliau lebih banyak duduk di kursi roda. Namun yang saya ingat adalah mata ibu. Ini juga salah satu pengalaman indah dalam merawat ibu. Setiap kali saya datang, terlihat mata ibu bersinar dan senyumnya selalu ada. Meskipun ibu tidak mampu lagi berkomunikasi secara lisan, tetapi kami masih berkomunikasi melalui sentuhan kulit, sentuhan di tangan, dan di pipi. Kami juga masih berkomunikasi melalui mata.
Sebagai caregiver, sebenarnya saya ingin ada organisasi seperti ALZI Ned, yang banyak memberikan informasi mengenai demensia dan penyakit Alzheimer. Ketika saya merawat ibu saya, saya tidak banyak mengetahui tentang demensia. Dulu, saya terkadang kurang sabar merawat ibu. Kadang saya marah, mengapa ibu begini dan begitu. Menurut saya, informasi tentang demensia dan Alzheimer sangat penting untuk diberikan kepada publik umum sehingga orang bisa siap bila bertemu dengan orang yang tiba-tiba berubah karakter atau melakukan hal-hal yang ‘tidak normal’. Kita harus waspada, siap untuk membantu, dan harus bersabar.
Selain informasi, saya sebenarnya juga memerlukan bantuan dari keluarga dan komunitas. Alhamdullilah, saya mendapat dukungan dari kakak-kakak saya. Saya juga mendapat dukungan dari komunitas Masjid yang memberikan siraman rohani kepada ibu yang juga selalu rajin beribadah. Bagi saya, dukungan keluarga dekat dan komunitas sangatlah penting.
Dalam rangka Hari Alzheimer Sedunia, saya berharap semua calon dan yang sudah menjadi caregiver ODD memiliki pengetahuan yang cukup untuk membimbing dan membantu ODD sebagaimana mestinya. Para caregiver dapat menjadi duta pendukung ODD dan keluarganya yang tangguh, sabar, dan terbuka untuk meminta bantuan bilamana kondisinya menjadi berat atau darurat.
Kiranya pemerintah Indonesia atau perwakilannya di negara lain bisa mendukung inisiatif-inisiatif masyarakat yang membantu membangun kesadaran mengenai Alzheimer dan demensia. Dukungan lainnya seperti memberi sponsor bagi kegiatan-kegiatan yang membantu dan mendukung kondisi ODD beserta caregiver agar hidupnya lebih nyaman dan tentram juga diperlukan. Selain itu, pemerintah juga dapat memberikan dukungan dan sponsor bagi research and development mengenai penyakit Alzheimer dan demensia lainnya, baik medis maupun kebutuhan sosial.
Penulis: Wati Chaeron menetap di Delft, Belanda dan seorang Caregiver.
Dalam rangka Hari Alzheimer Sedunia 2023, Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia bekerja sama dengan Yayasan Alzheimer Indonesia di Nederland (ALZI Ned) dan Komunitas ALZI Chapter Jerman (ALZI Jerman) menggelar kolaborasi kampanye selama sepekan. Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan Alzheimer yang tidak banyak diketahui umumnya oleh masyarakat Indonesia.
Seperti yang disampaikan oleh Amalia Fonk-Utomo, Chair of ALZI Ned yang berpendapat bahwa isu Alzheimer masih dipandang sebelah mata dan menganggap pikun sebagai gejala normal untuk orang tua.
Padahal satu anggota keluarga yang terkena demensia, seluruh anggota keluarga akan terkena dampaknya. Itu sebab Amalia yang dibantu oleh ALZI Ned gencar melakukan kampanye “Jangan Maklum dengan Pikun!” yang sudah dilakukan sejak beberapa tahun belakangan ini.
Kampanye sepekan ini juga dilakukan untuk menindaklanjuti diskusi online yang pernah dilaksanakan tahun lalu dan bekerja sama dengan KJRI Frankfurt.
Hal ini dirasakan penting mengingat isu Alzheimer bisa dilihat dalam konteks lintas budaya seperti yang dikampanyekan oleh Tim ALZI Ned yang telah banyak melakukan program sosial di Belanda dan sekitarnya.
Selain itu, pendekatan lintas budaya untuk orang Indonesia sebagai migran di luar Indonesia dirasakan penting agar ada keterlibatan peran perwakilan pemerintah Indonesia seperti KBRI/KJRI yang dapat membantu mengatasi permasalahan ODD (=orang dengan Demensia) ini.
Amalia juga menyoroti pentingnya pemerintah Indonesia menyediakan layanan berkualitas untuk para lansia asal Indonesia yang ingin menghabiskan masa tua mereka di tanah air.
Amalia mengakui layanan ini masih kurang menjadi perhatian, terutama apabila kelompok lansia ini menjadi ODD setibanya di tanah air.
Lebih lanjut tentang penjelasan Amalia ini dapat dilihat dalam video yang ditayangkan di kanal YouTube kami berikut ini:
Silakan subscribe kanal YouTube kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi.
INDONESIA – Berdasarkan laporan permasalahan dan tantangan hidup tinggal di luar Indonesia, Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia pada hari Rabu (20/9) melakukan kunjungan ke Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Hadir dari tim Ruanita Indonesia antara lain: Natasha Hartanto, Hernita Oktarini, dan Anna Knöbl.
Dalam kesempatan tersebut, juru bicara dari Ruanita Indonesia yakni Natasha menjelaskan: profil Ruanita Indonesia, permasalahan dan tantangan warga Indonesia di luar Indonesia, dan harapan Ruanita Indonesia terhadap Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia.
Diskusi dan audiensi dari Kemlu dihadiri oleh Ardian Wicaksono, Fungsional Diplomat Madya di Amerika I, Ditjen Amerop; Chairul dari Direktorat Perlindungan WNI; dan Faisal dari Direktorat Eropa II.
Mereka mengapresiasi kinerja Ruanita Indonesia yang banyak terlibat untuk melakukan fungsi psikosial dan pendampingan permasalahan perempuan Indonesia di luar Indonesia, terutama area domestik.
Pada kesempatan tersebut, Kemlu RI memperkenalkan tentang aplikasi peduli yang diperuntukkan untuk warga Indonesia yang tinggal lebih dari 6 bulan dan bukan sebagai turis di negara tujuan. Aplikasi ini dilengkapi dengan fitur pelayanan lapor diri hingga tombol darurat yang dapat menginformasikan titik koordinat GPS bila warga Indonesia memerlukan bantuan darurat.
Sebagai contoh, ada seorang warga Indonesia yang tinggal di Jepang dan mengalami serangan jantung. Lalu dia menekan tombol darurat yang langsung terhubung dengan KBRI/KJRI terdekat. Alhasil, pertolongan pun datang sehingga dia tidak mendapatkan hal yang fatal. Sebenarnya lapor diri juga diperlukan untuk memastikan keberadaan warga Indonesia dan dapat dikenakan sanksi bila tidak melakukan lapor diri.
Aplikasi lain yang diperkenalkan Kemlu RI adalah aplikasi Safe Travel yang diluncurkan saat pandemi Covid-19 lalu. Aplikasi ini diperuntukkan untuk warga Indonesia yang tinggal kurang dari 6 bulan atau sebagai turis. Aplikasi ini memudahkan warga Indonesia untuk mengetahui situasi darurat di negara tujuan atau kontak perwakilan Indonesia di luar negeri.
Ruanita Indonesia mengharapkan adanya standar prosedur bagi warga Indonesia di luar negeri untuk melaporkan kejahatan/kriminalitas/permasalahan hukum yang dihadapi; fungsi konsuler yang aktif dan responsif dalam situasi darurat; memberikan sosialisasi dan edukasi yang mendalam dalam rangka preventif untuk permasalahan domestik; informasi dan komunikasi yang efektif tentang kondisi dan peraturan imigrasi negeri asing, dan perlindungan hak-hak WNI.
Dalam diskusi terbuka antara Ruanita Indonesia dengan Kemlu RI disebutkan pula tentang perlunya dukungan psikososial dan kapasitas knowledge yang diperlukan para diplomat KBRI/KJRI yang bertugas tentang masalah hukum yang menyangkut area domestik seperti hak asuh anak, perceraian, kekerasan dan pelecehan seksual sehingga hak hukum mereka dapat terpenuhi.
Selain itu, Kemlu diharapkan dapat membangun dialog hukum seputar hak-hak warga Indonesia di luar negeri yang lebih sering dengan melibatkan komunitas diaspora atau organisasi kemasyarakatan seperti Ruanita Indonesia. Ruanita Indonesia juga berharap Kemlu dapat memiliki standar yang jelas dalam mengatasi pelanggaran hukum yang dilakukan seseorang dengan gangguan kesehatan mental.
Kesulitan warga Indonesia di luar negeri dalam memenuhi hak hukum dikarenakan kondisi finansial seperti tidak ada biaya untuk membayar pengacara setempat dan tidak ada biaya untuk penerjemah kasus hukumnya pun dibahas dalam diskusi terbuka.
Kemlu RI menyebutkan beberapa kasus hukum yang ditangani negara, apabila warga Indonesia dapat segera melaporkan permasalahan hukum yang ditanganinya.
Kemlu RI berharap sosialisasi terhadap aplikasi perlindungan WNI di luar negeri dapat ditingkatkan lagi, pembekalan untuk staf KBRI/KJRI dapat diperkuat untuk area domestik dan pemenuhan hak-hak perempuan di luar negeri dengan melibatkan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), dan lebih sering mengadakan dialog kemasyarakatan dengan melibatkan organisasi seperti Ruanita Indonesia lewat program-programnya.
INDONESIA – Pada hari Senin (18/9) Ruanita Indonesia melakukan audiensi dan diskusi bersama Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan yang bertempat di kantor Komnas Perempuan di Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Ruanita diwakilkan oleh Anna Knöbl selaku Founder of Ruanita Indonesia yang didampingi oleh para relawan seperti: Hernita Oktarini, Natasha Hartanto, dan Stephanie Iriana Pasaribu.
Kedatangan tim Ruanita Indonesia disambut dengan baik oleh Komnas Perempuan yang dipimpin oleh Ketua Subkomisi Partisipasi Masyarakat , Veryanto Sitohang dan didamping oleh Staf Komnas Perempuan lainnya. Dalam kesempatan tersebut, Komnas Perempuan mengapresiasi kerja Ruanita Indonesia yang selama ini telah berupaya untuk membuat program terstruktur dalam mengatasi kekerasan yang terjadi pada perempuan Indonesia di luar Indonesia.
Hernita Oktarini, selaku juru bicara dalam Tim Ruanita Indonesia menjelaskan tentang profil Ruanita Indonesia yang baru saja menginjak usia 2 tahun. Pada Maret 2023, Ruanita Indonesia telah berbadan hukum di bawah Pemerintah Indonesia dengan nama: Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia dan bekerja secara digital untuk terhubung dengan berbagai perempuan Indonesia di mancanegara.
Hernita juga menjabarkan tentang permasalahan dan tantangan yang dihadapi perempuan Indonesia selama ini di luar Indonesia seperti: status izin tinggal, kultur (bahasa dan budaya), psikologis, pekerjaan, krisis sosial dan identitas kebangsaan, keamanan hingga keluarga dan pengasuhan anak.
“Tinggal di negara yang memiliki budaya, bahasa, dan sistem pemerintahan yang berbeda tentu mendapatkan beragam tantangan. Mulai dari aspek psikologosi, saat tinggal di luar negeri, hingga kekerasan yang dialami oleh perempuan-perempuan yang terikat dalam perkawinan campuran,” kata Anna menambahkan penjelasan Hernita.
Selain itu, Ruanita Indonesia berharap kepada Komnas Perempuan untuk memberikan dukungan dan perlindungan kepada perempuan Indonesia di luar negeri melalui dukungan psikosial, dukungan informasi dan edukasi tentang hak-hak perempuan di luar negeri, pemberdayaan ekonomi, dan advokasi hak-hak perempuan seperti menjadi perantara dengan KBRI/KJRI dalam mengakses layanan kekonsuleran. Ruanita Indonesia berharap dapat menindaklanjuti kerja sama dengan Komnas Perempuan sehingga menjadi program terintegrasi dan menyeluruh untuk memerangi kekerasan terhadap perempuan.
Lebih lanjut, Komnas Perempuan yang diwakilkan oleh Veryanto Sitohang menjelaskan: “Kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi, baik di luar negeri atau melibatkan warga negara asing lebih rumit untuk ditangani karena mempertimbangkan sistem hukum kedua negara.”
Acara ditutup dengan diskusi terbuka antara Ruanita Indonesia dengan Komnas Perempuan untuk menindaklanjuti kampanye bersama yang sudah dijalankan oleh Ruanita Indonesia setiap 25 November tiap tahun pada saat peringatan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan.
Saya bernama Debora dan berprofesi sebagai guru piano. Ibu saya bernama, L S Veronica Sinaga. Ibu saya adalah ODD (=Orang Dengan Demensia) yang berusia 83 tahun dan tinggal di Indonesia. Saya merawat ibu saya secara jarak jauh. Ibu saya ditemani oleh 2 caregiver yang dibayar. Ibu saya mulai tidak mengenali saya pada tahun 2015. Secara rutin, saya melakukan komunikasi dengan ibu dan kedua orang caregiver tersebut secara jarak jauh melalui telepon atau panggilan video. Ini dilakukan hampir setiap hari dan kebanyakan dilakukan di malam hari waktu setempat.
Saya juga terapis musik di klinik. Saya kemudian menemukan cara jitu untuk berkomunikasi dengan ibu saya, yaitu dengan bermain piano. Dengan bermain piano, saya menarik perhatian ibu saya untuk terus berkomunikasi melalui telepon atau panggilan video. Sampai akhirnya, ibu saya kurang memiliki minat dan perhatian untuk berbicara melalui telepon. Karena kondisi ibu ini, bapak saya pun sudah meninggal baru-baru ini. Saya menyempatkan pulang ke Indonesia, sebisa mungkin untuk bertemu langsung dengan ibu.
Sampai saat ini, ibu saya tidak menyadari atau memahami bahwa bapak saya sudah meninggal. Kadang dia bertanya, “Suami saya kemana?” dan ada beberapa kali “bright moment”, ibu menyadari kalau bapak sudah tidak ada.
Mengapa penting mengenali Alzheimer sedini mungkin?
Penyakit Alzheimer memang belum ada obatnya. Ini terjadi secara perlahan, tidak hanya menyebabkan penurunan daya ingat saja. Alzheimer juga membuat gangguan kemampuan berbicara dan perubahan perilaku. Menurut pengalaman saya, Alzheimer seperti menghancurkan keluarga. Apalagi dalam keluarga saya, ibu adalah pilar keluarga yang menyatukan keluarga. Dengan cepatnya gejala Alzheimer mengurangi ingatan dan merubah perilaku ibu saya. Efek ini juga dirasakan oleh keluarga saya. Ngobrol dengan ibu sudah tidak bisa seperti dulu lagi. Beliau seperti berbicara pada orang asing atau orang yang tidak dia kenal.
Tidak mudah bagi saya untuk bekerja sama dengan kakak-adik dalam merawat ibu. Kesadaran akan penyakit Alzheimer menurut mereka, dianggap sebagai proses penuaan yang memang wajar pada lansia. Saat ini, ibu sudah semakin sulit diajak bicara. Kemampuan dia mengerti kalimat sudah sangat menurun. Kita seperti berbicara pada anak balita. Beliau hanya mampu merespon atau memahami pembicaraan dengan kalimat pendek saja.
Mengenali Alzheimer sejak dini, menerapkan perawatan, dan penanganan yang terarah untuk ODD memang tidak sempat kami laksanakan untuk ibu saya. Setelah hal ini kami terapkan, terlihat ini sangat membantu ingatan dan perilaku ibu saya.
Pesan di Hari Alzheimer Sedunia 2023
Bagi saya, bulan Alzheimer ini bagaikan penyemangat bagi saya dan kakak saya untuk bisa terus merawat ibu saya. Ada masa-masa saya dan kakak saya sedih dengan kondisi ibu, tetapi akhirnya kami tergerak untuk mengubah mindset kami. Kami menerima kondisi ini dengan hati yang gembira, walaupun ini tidak mudah. Saya menerima kondisi ibu. Saya memperkaya diri dengan pengetahuan tentang Alzheimer, membaca buku, dan melalui berbagai organisasi, seperti Alzheimer Society, Alzheimer Indonesia, atau ALZI cabang San Francisco.
Saya bertekad memberikan kasih sayang dan cinta yang dulu saya terima dari ibu saya, walau pun saat ini ibu sering kali tidak mengenali saya. Saya percaya, dalam hati ibu ada saya. Walau pun ibu tidak mengenali saya, saya bertekad untuk selalu mengingat semua kenangan bersama ibu saya.
Dalam rangka Hari Alzheimer Sedunia 2023, kita harus menyayangi orang tua dan selalu berkomunikasi dengan mereka. Jika orang tua terdeteksi Alzheimer, persatukan keluarga untuk bersama-sama menyamakan pikiran dan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas hidup. Bukan saja ODD, tetapi juga suami/istri yang menjadi caregiver langsung, juga anak-anak, cucu yang jauh, dan dekat dapat bersatu merawat ODD bersama-sama.
Pada tahun 2017, saya menghadiri acara ALZI (=Alzheimer) di Jenewa, Swiss. Saat itu, kak DY menceritakan tentang ibunya yang mengalami Demensia Alzheimer. Dari situ, saya baru mengerti bahwa Alzheimer merupakan penyakit yang harus mendapatkan perhatian penuh oleh keluarga. Saya kemudian tergerak untuk menjadi member dari ALZI untuk membantu meningkatkan kesadaran masyarakat di Jenewa, Swiss dan sekitarnya agar dapat meningkatkan kualitas hidup Orang Dengan Demensia (ODD).
Mengapa penting mengenali Alzheimer sedini mungkin?
Sangat penting bagi kita untuk mengenali dan mengerti apa itu Alzheimer sedini mungkin. Dengan adanya pemahaman dini dan disertai pengetahuan tentang gejala-gejala Alzheimer, maka kita dapat mengambil langkah-langkah pertama untuk mencegah penyakit Alzheimer itu berkembang dengan cepat.
Kita dapat belajar bagaimana sebaiknya mendampingi ODD supaya mereka merasa nyaman dan mengurangi rasa stres mereka. Begitu juga, apa saja aktivitas-aktivitas yang baik untuk diberikan kepada ODD agar dapat menstimulasi daya pikir mereka dan menjaga badan sehat. Hal ini dapat menolong untuk memperlambat perkembangan Demensia Alzheimer.
Peran anggota keluarga sebagai caregivers utama itu sangat penting. Dengan mereka mengenali Alzheimer sedini mungkin, kita bisa menciptakan suasana saling mengerti antara ODD dan caregivers.
Dalam rangka Hari Alzheimer Sedunia, mari kita semua ikut aktif membantu organisasi ALZI dalam menjalankan visi dan misinya. Kita bisa membangun komunitas lansia sehat di mana pun kita berada dan mengajak generasi muda untuk ikut terlibat aktivitas-aktivitas organisasi ALZI agar memperoleh pemahaman dini tentang penyakit Alzheimer, serta bagaimana menghadapinya. Jangan maklum dengan pikun!
Interaksi saya dengan Alzheimer Indonesia dimulai saat saya mendampingi perwakilan ALZI untuk menghadiri undangan sebagai narasumber dalam konferensi internasional di Qatar. Dalam dialog dan diskusi, saya terinspirasi oleh ketulusan dan semangat seorang DY Suharya (Founder ALZI).
Didasari motivasi ingin berbagi ilmu dan berkontribusi sebagai seorang dokter umum dan Health Educator, saya bergabung menjadi relawan ALZI sejak tahun 2018. Selama itu, saya mendapatkan banyak pengalaman berharga dan mengharukan terkait pendampingan dan perawatan Orang Dengan Demensia (ODD).
Mengapa penting mengenali Alzheimer sedini mungkin?
Jumlah ODD diperkirakan akan terus meningkat, apalagi pasca pandemi COVID-19 lalu membuat banyak perubahan gaya hidup yang menjadi faktor risiko Demensia. Ini berarti, akan lebih banyak ODD dari yang mungkin diperkirakan. Demensia sendiri dapat disebabkan oleh beberapa kondisi gangguan dan penyakit, di mana kondisi terbanyak adalah jenis Demensia Alzheimer mencakup 60 hingga 70% kasus. Demensia Alzheimer adalah penyakit kronis neurodegeneratif yang umumnya dialami oleh mereka yang berusia diatas 65 tahun.
Namun, beberapa hal dapat memungkinkan terjadi pada usia yang lebih muda bila terdapat faktor risiko dan kondisi komorbid yang memicunya terjadinya Demensia Alzheimer. Demensia Alzheimer berdampak tidak hanya pada orang yang mengalaminya, tetapi juga pada keluarganya.
Penurunan fungsi kognitif dan gangguan perilaku dapat muncul dan memberikan pengaruh signifikan pada yang merawat dan mendampinginya. Pengetahuan dasar perihal penyakit, gejala, dan penanganannya sangat penting dimiliki agar semakin banyak orang dapat melakukan pencegahan atau mempertahankan kondisi untuk menghindari komplikasi yang lebih buruk.
Keterampilan merawat dan mendampingi orang dengan demensia menjadi esensial bagi keluarga demi pengasuhan yang efektif dan menjaga kesehatan mental caregiver yang mendampingi.
Pesan di Hari Alzheimer Sedunia 2023
Untuk memperingati Hari Alzheimer Sedunia, mari bersama kita mengenali Demensia Alzheimer dan melakukan :
Pencegahan dengan pola hidup sehat, stimulasi otak, dan silaturahmi sebagai bentuk interaksi sosial.
Deteksi dini dan penanganan yang komprehensif untuk ODD.
Bersama sebagai komunitas, kita dukung ODD dan caregiver dengan kepedulian, menawarkan bantuan, atau perhatian.
Menyebarluaskan awareness ini di masyarakat demi terciptanya kualitas hidup yang lebih baik untuk ODD dan caregiver.
Episode Podcast RUMPITA yang ke-17 mengangkat tema tentang pengajaran bahasa asing untuk kemanusiaan, dalam rangka Hari Internasional Aktivitas Charity. Itu sebab kami mengundang tamu yakni Debora Sisca, yang berprofesi sehari-hari sebagai pengajar bahasa Jerman untuk pendatang, yang akan menetap di Jerman.
Sisca adalah warga Indonesia yang berasal dari Parakan, Temanggung. Kini dia menetap di Leipzig, Jerman atau sekitar dua jam kalau kita naik kereta dari ibu kota Jerman.
Sisca sudah menyukai pelajaran bahasa asing sejak duduk di Sekolah Dasar, yakni pelajaran Bahasa Inggris. Berawal dari tugas pertukaran budaya melalui program Au Pair, Sisca datang di tahun 2015.
Di situ, Sisca mendalami Bahasa Jerman bersama keluarga yang menjadi Host Family di area Freiburg. Ternyata pelajaran Bahasa Jerman yang dikuasainya sejak di Indonesia pun mengalami kendala karena Bahasa Jerman di tempat tinggalnya memiliki dialek.
Setelah menyelesaikan program Au-Pair dan kursus Bahasa Jerman di level C1, Sisca melanjutkan studi di Jena. Au-Pair menjadi batu loncatan untuk mimpi Sisca melanjutkan impian studi di Jerman. Sisca terinspirasi untuk meneruskan studi di Jerman, yang masih berkaitan dengan Germanistik, tepatnya jurusan Bahasa Jerman untuk Penutur Asing.
Penutur Asing yang dimaksud adalah mereka yang datang ke Jerman untuk memulai hidup baru. Sisca menjelaskan bahwa kebanyakan pemelajar adalah mereka yang datang dari negara-negara konflik, atau karena keadaan sehingga mereka harus pindah ke Jerman.
Sebagai pengajar, Sisca mengalami banyak pengalaman menarik dan juga menantang. Menurut Sisca, tugas pengajar itu adalah seperti “memasak” atau meramu agar siswa didiknya bisa memahami apa yang disampaikan pengajar.
Sisca mengajar Bahasa Jerman yang menjadi bagian dari program integrasi budaya, yang memang diwajibkan oleh pemerintah Jerman. Pemelajar harus hadir setiap Senin hingga Jumat selama durasi 7 bulan. Sementara bagi Fadni, kemampuan bahasa asing itu karena kebiasaan. Sisca menyarankan untuk tidak menertawakan pemelajar yang salah berkomunikasi saat belajar bahasa asing.
Bagaimana Sisca menjelaskan metode pengajaran bahasa asing untuk orang asing demi kemanusiaan? Apa saja tantangan yang dihadapi oleh Sisca menghadapi orang-orang yang berbeda latar belakang negara dan budaya? Apa pengalaman menarik dari pengajaran bahasa asing untuk orang-orang yang berbeda latar belakang akademis dan kebutuhan pemelajar? Apa lesson learned dari Sisca sebagai pengajar bahasa asing di Jerman?
“You can always say no when you don’t want to”, itu adalah kalimat yang sangat sering diucapkan mertua saya kepada saya. Awalnya kalimat tersebut tidak berarti apapun kepada saya. Namun beberapa tahun belakangan ini kalimat tersebut menjadi sesuatu yang sangat sering muncul di kepala saya, ketika melakukan sesuatu atau mengambil sebuah keputusan.
Hai, saya A WNI yang saat ini tinggal di Jerman and yes I am a people pleaser, not proud of that but it is what it is.
Saya adalah anak pertama sekaligus cucu pertama dari keluarga ibu saya. Sebagai anak dan cucu pertama tanpa saya sadari saya adalah role model untuk adik-adik sekaligus sepupu-sepupu saya. Sejak kecil secara tidak langsung saya dituntut menjadi anak yang baik, harus bersikap baik, sopan terhadap orang tua, menyayangi adik-adik serta sepupu-sepupu saya, selalu harus mengalah, harus memiliki nilai akademis yang baik, dan masih banyak lagi.
Saya harus selalu mengikuti atau menuruti semua perkataan keluarga saya dan terkadang mengorbankan banyak hal untuk menyenangkan mereka.
Sejak kecil hingga menginjak usia 30 tahun, saya tidak merasa ada yang salah dengan hal tersebut, namun tanpa saya sadari saya tumbuh menjadi seorang pembohong.
Meskipun sering saya jadikan bahan candaan dengan suami saya, kalau saya adalah pembohong yang tidak akan masuk neraka karena berbohong untuk kebaikan, tetapi berbohong tetap hal yang tidak baik untuk dilakukan.
Menjadi people pleaser membuat saya bahkan sering berbohong kepada diri saya sendiri, bahkan terkadang kepada orang lain. Menjadi people pleaser seringkali membuat saya tidak menjadi diri sendiri di hadapan orang lain.
Saya sangat sulit untuk berkata tidak, hal ini membuat saya menjadi kewalahan dalam menjalani kehidupan saya, terutama ketika saya bekerja dan harus selalu melakukan semua pekerjaan yang diperintahkan oleh atasan saya. Saya kemudian menjadi orang yang sering menggerutu dan pemarah hingga sering menyalahkan diri saya sendiri ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan apa yang saya harapkan.
People pleaser sering menemukan kebahagiaan orang lain sebagai sumber kebahagiaan mereka, sehingga membuat mereka sangat sulit menemukan kebahagiaan mereka sendiri. Setelah pindah ke Jerman, saya menyadari kalau ternyata kalimat yang sering diucapkan mertua saya itu sangatlah penting, that’s how human should function, know your limit.
Saat ini tentu saja saya masih sering menemukan kebahagiaan saya di dalam kebahagiaan orang lain. Namun setelah bertahun-tahun, saya akhirnya bisa secara perlahan-lahan menjadi seseorang yang lebih jujur dalam mengambil keputusan.
Saya mencoba lebih rasional dalam mengambil keputusan dan menjadi lebih bijak untuk mengartikulasikan alasan saya ketika saya harus mengatakan tidak kepada seseorang. Tidak mudah bagi saya yang besar dalam kebudayaan timur yang sangat kental untuk secara lantang mengatakan tidak atau menolak seseorang, terutama orang terdekat saya.
Menurut saya, menjadi people pleaser bukanlah hal yang sehat. Kita bisa tetap menjadi seseorang yang baik tanpa harus menyenangkan orang lain, karena tentu saja definisi baik menurut tiap orang akan berbeda-beda.
Berhenti menjadi people pleaser bukan berarti membuat kita menjadi orang yang jahat dan tidak sopan, tetapi kita hanya perlu mengetahui kapasitas diri kita dan membatasi hal-hal apa saja yang mampu kita lakukan dan tidak mampu kita lakukan.
Saya rasa menjelaskan dengan baik kepada seseorang tentang penolakan dengan alasan yang logis dan tulus akan lebih baik dibandingkan kita berbohong untuk menghindari melakukan penolakan. At the end of the day, you create your own happiness, therefore it’s better to find it within yourself.
Talkshow bertajuk: Kepemimpinan Perempuan dalam Literasi ini diselenggarakan di studio RRI Pro 1 FM Jakarta dan dipandu oleh Vely Syukran. Acara ini diadakan pada hari Sabtu, 9 September 2023.
Talkshow ini terbagi dalam 3 segmen yakni (1). Apa itu RUANITA yang menjadi ruang kolektif Perempuan di mancanegara? (2). Apa yang melatarbelakangi buku “Warna-warni kepemimpinan Perempuan” dan bagaimana peran perempuan Indonesia dalam literasi? (3). Apa harapan dan pesan di Hari Literasi Sedunia?
Sebagai warga Indonesia yang sudah delapan tahun hidup di Jerman, jalan hidup yang saya tempuh mampu mengajarkan saya banyak hal secara lebih mendalam. Saya rasa, keragaman manusia dan fenomena sosial yang terjadi di Jerman, merupakan faktor yang mendorongnya.
Meninggalkan zona nyaman di Indonesia untuk menghadapi lingkungan sosial yang lebih luas dan lebih kompleks memang tidak mudah dan rasanya campur aduk. Namun sejalan dengan prosesnya, ternyata pengalaman ini mampu memperluas perspektif saya sebagai manusia. “Ketidaknyamanan“ ini justru saya pandang sebagai “hak istimewa“ yang sangat saya syukuri.
Saya mengawali perjalanan di Jerman pada tahun 2015. Waktu itu, saya mengikuti program AuPair (hidup dengan keluarga lokal Jerman untuk belajar bahasa dan budaya setempat). Lantas saya mengikuti suara hati saya untuk berkuliah Master di Friedrich-Schiller-Universität Jena; jurusan Bahasa Jerman sebagai bahasa asing. Saya menggemari bahasa sudah sejak kecil. Kegemaran itulah yang mengantarkan saya hingga sejauh ini. Saat ini, saya bekerja sebagai Guru Bahasa Jerman bagi Penutur Asing di kota Leipzig.
Ketika diundang oleh RUANITA untuk mengurai cerita bertema “Charity”, secara tidak langsung saya juga terundang untuk menilik ulang perjalanan hidup saya, karena pengalaman rantau saya sering kali bersinggungan dengan tema tersebut. Setelah menerima tawaran menulis, saya tidak langsung bergegas mengumpulkan ide. Namun, saya justru memberi jarak dengan tema tersebut karena saya ingin melihat ulang dan mendokumentasikan cerita saya dengan lebih jernih.
“Charity” lazimnya diartikan sebagai “amal” dalam Bahasa Indonesia. Namun menurut saya, kata tersebut masih terlalu sempit untuk menggambarkan makna mulia dari “memberi tanpa pamrih“. Karena berdasarkan pengamatan saya, kebanyakan orang memandang aksi beramal sebagai sebuah transaksi; dengan harapan agar di masa depan ia mendapatkan “imbalan“ hal baik.
Karena saya ingin melihat tema ini secara lebih mendalam, lantas saya melakukan riset dan memilih satu kata dalam Bahasa Sansekerta yakni “Sanātana Dharma“ sebagai dasar tulisan saya. Mengingat bahasa ini juga merupakan salah satu unsur pembentuk Bahasa Indonesia.
“Sanātana Dharma“ berarti hukum yang mendasari eksistensi kehidupan dan menyangkut sifat alami kemanusiaan. Jika dibandingkan dengan hukum lainnya, misalnya hukum sosial; Sanātana Dharma tidak bersifat generasional yang harus diadaptasi bagi setiap generasi. Selain itu, Sanātana Dharma juga tidak bersifat transaksional seperti dalam proses jual beli.
Saya pribadi memaknai ber-dharma sebagai kelaziman, karena kesadaran berbagi kepada sesama sudah saya dapatkan dari rumah. Saya tumbuh dalam sebuah keluarga yang gemar memberi, meskipun kadang keadaan kami sendiri belum stabil. Semangat memberi itulah yang lantas saya bawa sepanjang perjalanan saya hingga sekarang.
Kilas balik pada Desember 2016, ketika masih menjadi mahasiswi di Jerman; saya dipercaya untuk menjadi ketua acara “Malam Budaya Indonesia dan Penggalangan Dana untuk Perpustakaan Keliling di Aceh dan Sumba Timur“. Kala itu, saya yang baru saja pindah ke kota yang baru dan mulai belajar beradaptasi dengan budaya perkuliahan di Jerman, langsung memberanikan diri untuk memimpin acara tersebut. Meskipun saya tahu bahwa aktivitas saya akan semakin padat, karena saya berkuliah sambil bekerja, tetapi saya tidak menghentikan langkah. Saya menikmati prosesnya.
Inspirasi datang ketika saya melihat postingan Instagram teman saya, yang kala itu menjadi pendidik sukarelawan di daerah terluar Indonesia. Ia mengadakan kegiatan membaca bersama anak-anak di Aceh dan Sumba Timur. Menurut laporannya, masih banyak anak-anak Indonesia usia Sekolah Dasar di kedua daerah tersebut yang belum lancar membaca, karena secara geografis mereka tidak mendapatkan akses ke perpustakaan atau toko buku.
Semesta bergerak terlalu indah. Dalam waktu yang bersamaan, saya sedang mencari alamat untuk menyalurkan dana yang akan kami kumpulkan melalui penjualan tiket acara. Setelah memilah berbagai organisasi, saya menjatuhkan pilihan pada Program Perpustakaan Keliling tersebut. Ketika teman saya mengirimkan beberapa video keadaan di lapangan, hati saya langsung tergerak. Suara hati saya mengatakan, bahwa karya kami di Jerman harus mampu memberikan dampak positif bagi sesama; khususnya bagi anak-anak di daerah-daerah terluar Indonesia.
Perjalanan ber-dharma saya tidak berhenti di situ saja. Saat ini, saya sedang aktif ber-dharma sosial di sebuah komunitas pendidikan “Gemar Teghing Academy“ (GTA), yang dirintis oleh seorang teman baik saya dari Bengkulu yang kini tinggal di Berlin. Dalam komunitas ini, saya dipercaya untuk memimpin bagian Divisi Mitra Kerja sama dan Kolaborasi. Program-program kami saat ini meliputi:
Kolaborasi dengan Bengkulu Express TV setiap hari Minggu dalam acara “Meraih Mimpi“, di mana diaspora Indonesia berbagi pengalaman kepada generasi muda tentang tema berkuliah atau bekerja di manca negara.
Pengenalan Bahasa Jerman dasar secara gratis.
Webinar seputar tema: Mental Health dan Intercultural Communication Competence.
Kerja sama dengan organisasi seperti PPI Dunia, PPI TV, PPI Berlin/Brandenburg; bahkan dengan lembaga pendidikan seperti Universitas Negeri Semarang dan Universiti Malaysia Sabah.
Hal yang mendasari saya untuk ikut ambil bagian dalam komunitas ini adalah spirit yang melatarbelakanginya. Ketika pandemi dan lockdown berlangsung, pendiri GTA merefleksi diri dan melihat ulang masa sekolahnya. Seperti saya pribadi, ia tidak memiliki kesempatan untuk belajar banyak hal di luar sekolah karena keterbatasan ekonomi keluarga. Lalu ia tergerak untuk menyediakan platform belajar daring bagi generasi muda di Indonesia.
Selain itu, saya juga ber-dharma kepada “Ibu Bumi“ melalui “Save Soil Movement“: Sebuah gerakan global yang menyuarakan pentingnya revitalisasi kesuburan tanah, karena tanah merupakan dasar dan sumber kehidupan kita di planet bumi. Dalam komunitas ini, saya bekerja secara mobile dan internasional bagi Save Soil Jerman dan Indonesia. Karena saya bekerja sama dengan berbagai manusia dari berbagai macam latar belakang, maka kecakapan komunikasi antar budaya saya juga bisa terlatih.
Pengalaman ber-dharma menjadi sukarelawan mengajarkan saya banyak hal. Saya mampu mengubah pola pikir dan kepribadian saya. Saya menyadari, bahwa ketika saya bersedia untuk memberikan diri seutuhnya tanpa embel-embel “imbalan“ hal baik, di sana saya merasakan kebahagiaan yang utuh. Konsep bahagia yang saya miliki bukan perihal materi, melainkan batiniah. Saya merasa menjadi manusia seutuhnya, ketika saya tidak hanya memikirkan diri saya sendiri; namun ketika saya juga turut berorientasi kepada kesejahteraan sesama manusia bahkan non manusia (misalnya alam).
Sayangnya kesediaan ber-dharma sebagai sukarelawan belum banyak diminati. Bahkan parahnya lagi, gerakan aktivis kadang masih dipandang skeptis oleh beberapa kalangan. Padahal menurut saya, generasi muda saat ini memiliki banyak potensi dan kemungkinan untuk memulai gerakan-gerakan konstruktif yang bisa membawa perbaikan bagi masa depan.
Saya berharap agar pemerintah Indonesia dan dunia bersedia mendengarkan aspirasi, memberikan lebih banyak dukungan, serta penghargaan kepada organisasi atau komunitas yang digerakkan secara sukarela. Para sukarelawan hebat ini memiliki semangat dan kepedulian terhadap penyelesaian berbagai masalah, serta rela menginvestasikan waktu dan energi mereka untuk mencari solusi. Oleh karena itu, sudah sepantasnya jika mereka diberi dukungan secara menyeluruh, agar gerakan yang mereka suarakan bisa membawa perubahan atau perbaikan bagi masa depan.
Kembali ke konsep “Sanātana Dharma“ di atas. Sanātanaberarti timeless (tak terbatas waktu), dan Dharmaberarti law (hukum). Menurut pandangan budaya Hindu dan Buddha, hukum ini yang mendasari kehidupan dan merupakan sifat alami kemanusiaan. Ini bukan tentang transaksi (memberi menerima), tetapi tentang memahami sifat alami eksistensi kita sebagai manusia.
Sudah saatnya, kita belajar mengasah sensibilitas diri terhadap hal-hal yang perlu dilakukan bagi kebaikan bersama. Karena sensibilitas itu mampu menuntun kita kepada “rasa ingin memberi“ (sense of giving), yang dengannya kita bisa membuka berbagai kemungkinan dan menemukan fungsi keberadaan kita sebagai manusia. Dalam hal ini, kita memang harus mau dan mampu mengupas ego dan pergi ke arah “tanpa pamrih“ (selflessness). Apabila kita mampu melihat hal-hal yang melebihi kebutuhan diri kita sendiri, lantas melakukan sesuatu yang diperlukan untuk hal tersebut secara ikhlas, maka kita menjalankan dharma secara utuh.
Jika ditanya, mengapa saya memilih jalan ber-dharma; maka jawaban saya akan sangat sederhana. “Dharma-based way of living can bring me back to my natural existence as human being; since Sanātana Dharma is the way, how the nature of existence functions”
Penulis: Debora Sisca. Dia adalah Volunteer, Intercultural Speaker, and German as Foreign Language Teacher in Leipzig, Germany.