Pernah mendengar istilah cancel culture? Menurut Fadologi, blog yang membahas frasa populer di media sosial menyebutkan istilah cancel culture merujuk pada aksi, gerakan menolak seorang publik figur atau perusahaan akibat perilaku atau pernyataan yang dianggap tidak pantas. Aksi ini umumnya terjadi di kalangan pengguna media sosial.
Alih-alih digunakan untuk memberi efek jera, cancel culture tak jarang berubah menjadi perilaku bullying pada pelakunya. Akibatnya mereka yang terkena imbasnya menjadi depresi dan memilih menarik diri dari lingkungan.
Cancel culture bisa menyebabkan seseorang kehilangan rasa empati. Fenomena ini juga menimbulkan masalah sosial lain berupa kekhawatiran takut akan penolakan.
Cancel culture terdapat dalam konsep Habermas tentang ruang publik(1962). Pada bukunya The structural transformation of the public sphere: An inquiry into a category of bourgeois society menyebutkan bahwa ruang publik dikuasai oleh kaum elit.
Saat itu, produser, sutradara serta sejumlah penguasa memiliki kemampuan untuk memilih pekerja di industri media, mengatur headline berita, memboikot dan membuat daftar hitam bagi mereka yang tidak diinginkan.
Zaman berganti internet membuat keterbatasan menjadi tak terbatas. Kini siapa saja dengan mudah mengakses dan berbagi informasi peran media menjadi kontrol sosial pun menjadi bias.
Fenomena cancel culture tak hanya menjadi masalah sosial tapi juga kesehatan. Pada dasarnya kita adalah makhluk sosial yang hidup berdampingan berdasarkan rasa empati dan tolong menolong. Namun sikap penolakan ini tentu akan menimbulkan emosi negatif bagi orang-orang yang terlibat.
Walau begitu beberapa kasus cancel culture berhasil memerangi kasus seksisme dan rasisme. Salah satunya peristiwa yang menimpa pedangdut Saipul Jamil, ia diboikot untuk tampil di acara televisi usai bebas dari penjara karena terjerat kasus pedofilia.
Akibat peristiwa tersebut masyarakat Indonesia kini menjadi lebih peduli terhadap kasus penyimpangan seks ini dan menjadi lebih awas dalam melindungi anak.
Penulis: Farah Fuadona, WNI yang saat ini berdomisili di Ankara, Turki. Suka menulis dan berteman untuk menambah pengalaman.
Melanjutkan episode ke-18 di bulan Oktober, Podcast Rumpita mengangkat tema pengalaman menjadi seorang ibu pertama kali saat dia jauh dari keluarga besar di Indonesia dan tinggal di perantauan.
Untuk membahasnya lebih mendalam, Fadni yang menjadi Host dari Podcast Rumpita mengundang rekan Host lainnya, yakni Nadia yang saat ini sedang off dari Podcast Rumpita. Nadia dikabarkan sedang menjalani peran baru sebagai seorang ibu sehingga sedang mengambil cuti dari Podcast Rumpita.
Nadia telah tinggal lebih dari 10 tahun di Jerman sejak dia memulai studi S1. Tak disangka, Nadia pun menikah dan membangun keluarga di Jerman. Nadia pun merasakan berbagai perasaan yang menakutkan ketika dia mengetahui dirinya hamil. Perasaan cemas, khawatir, tidak percaya diri, hingga menyangsikan kemampuan diri sendiri sebagai ibu pun muncul dalam pikiran Nadia.
Bagi Nadia, tugas menjadi ibu adalah seumur hidup dalam menjalin ikatan batin antara ibu dengan anak. Nadia bertemu dengan suami, yang juga sesama pelajar asal Indonesia di Jerman, kemudian memulai hidup baru berkeluarga di Jerman. Tak hanya soal perasaan yang dialaminya, Nadia juga menceritakan pengalamannya untuk menyiapkan diri menjadi ibu seorang diri.
Nadia sempat didiagnosa punya kadar diabetes tinggi saat hamil. Dia pun harus wanti-wanti untuk mengonsumsi apa yang dinikmatinya selama hamil. Bagi Nadia, ketidakhadiran ibu dan keluarga besar di Indonesia membuat dia merasa was-was menantikan sang buah hati.
Di Indonesia, kita terbiasa mendapatkan berbagai segudang nasihat untuk ibu hamil. Belum lagi banyak sekali bentuk perhatian dan dukungan sosial yang diberikan keluarga besar. Namun, Nadia tidak mengalaminya saat dia seorang diri tinggal di perantauan.
Bagaimana pengalaman Nadia menyiapkan diri untuk tidak takut menghadapi proses kehamilan? Apa saja yang harus dipersiapkan kalau seorang perempuan pendatang seperti Nadia, hamil dan melahirkan di Jerman? Mengapa Nadia merasa cemas dan khawatir sebelum persalinan? Bagaimana proses persalinan pada umumnya di Jerman? Siapa yang membantu persalinan Nadia di Jerman?
Selengkapnya diskusi Podcast dapat didengar berikut ini:
Hai, nama saya Yuanita Nurdiana dan biasa dipanggil Nita. Saat ini, saya tinggal di Bogor sejak lulus SMP tahun 2004 hingga sekarang. Aktivitas saya sekarang bekerja di Perusahaan Jasa Keuangan Syariah sebagai Kepala Bagian Recruitment & Assessment.
Kegiatan sehari hari adalah menjalani kehidupan bekerja full time semenjak lulus kuliah, menikah, dan akhirnya memiliki buah hati. Sebelumnya, saya dan suami masih tinggal bersama orang tua saya, sehingga keberadaan mereka sangat membantu dalam menjaga anak ketika saya dan suami bekerja. Suatu hari, saya mendapatkan kabar adik ibu saya lebih membutuhkan bantuan ibu disebabkan dia harus menjalani pengobatan kanker. Selain itu, hasil test kehamilan menyatakan saya mengandung anak kedua.
Kondisi tersebut membuat saya stres, bukan hanya karena keadaan dalam keluarga melainkan di saat yang bersamaan saya sedang menjalani masa promosi kenaikan jabatan setelah 5 tahun bekerja. Saya merasa sangat sedih, kacau, dan berpikir mengapa tidak ada seorang pun yang me-support kebutuhan saya. Setelah berdiskusi dengan suami dan keluarga, akhir tahun 2019 dengan berat hati saya menolak promosi kenaikan jabatan dan mengundurkan diri dari tempat bekerja.
Awalnya saya menikmati menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT), saya merasa santai dan bebas ingin melakukan apa saja tanpa harus menunggu weekend yang tentunya sambil menunggu kelahiran buah hati anak kedua kami. Tidak lama setelah anak kedua kami lahir, saya dan suami memutuskan untuk tinggal terpisah dari orang tua dan belajar hidup mandiri.
Saya merasa sangat senang, setidaknya saya bisa membuktikan kepada lingkup sosial kami bahwa kami pun bisa hidup mandiri. Namun seiring berjalannya waktu, aktivitas sehari-hari saya menjadi sangat monoton. Saya merasa bosan dan lelah dengan aktivitas yang sama setiap harinya, yaitu mengurus 2 anak sekaligus. Saya merasa jenuh dengan keadaan ini yang sangat berbeda ketika saya bekerja.
Saya merasa kecewa karena saya merasa tidak bisa berinteraksi dengan orang dewasa. Setiap hari yang saya hadapi adalah dua anak kecil. Saya merasa depresi sampai berkonsultasi ke profesional via online, tetapi saya merasa tidak lebih baik.Akhir tahun 2019 bertepatan dengan issue yang mengawali datangnya pandemi membuat dunia saya semakin kecil. Ketika pemerintah memutuskan untuk memberlakukan Work From Home (WFH), menutup, atau bahkan sangat membatasi aktivitas di luar rumah, di situ saya merasa semakin stres lagi.
Saya harus mengurus Toddler dan bayi tanpa bantuan orang lain, kecuali suami. Sistem WFH memang sepanjang waktu suami ada di rumah, tetapi tidak menjadi lebih banyak waktu untuk bisa membantu mengurus anak. Bahkan suami tidak jarang weekend pun masih harus menghadiri meeting online.
Kondisi tersebut sangat menguras emosi saya, tidak jarang saya sedikit berteriak ketika berbicara ke anak. Saya merasa sedih tetapi saya pun merasa tidak tahu bagaimana cara mengatasinya.Tahun 2022 kami harus pindah ke rumah ibu mertua saya disebabkan oleh beberapa hal. Setelah ayah mertua meninggal tahun 2021, ibu mertua memutuskan untuk pindah dari Surabaya ke Bogor, kota tempat tinggal kami. Selain itu, hanya kami yang memungkinkan untuk pindah menemani beliau. Jujur saya akui kalau kondisi inilah yang membuat saya semakin drop, merasa useless, dan stagnant berada di rumah mertua tanpa pekerjaan.
Saya merasakan hal yang sama setiap harinya, kurang berinteraksi dengan orang dewasa, sehingga membuat saya benar-benar bosan, jenuh, dan kurang bersemangat. Namun, saya tidak bisa mengekspresikan diri karena saya tinggal dengan ibu mertua. Saya merasa sangat depresi. Saya mengalami emosi yang tidak stabil, seringkali saya melimpahkannya ke anak-anak. Saat itu, hanya ada media sosial yang bisa menghibur saya. Namun, hal baru yang saya peroleh adalah saya belajar untuk berjualan mukena secara online. Walaupun hanya di saat tertentu seperti momen Idul Fitri dan Idul Adha tetapi saya cukup senang dengan hasil yang diperoleh.
Tidak hanya itu, hubungan yang sangat baik dengan kakak dan adik saya sangat menolong dan dapat menstabilkan emosional saya. Setiap weekend kakak selalu mengajak saya keluar walaupun hanya minum di coffee shop. Ketika ada kesempatan santai di rumah, waktu tersebut saya usahakan untuk bisa menghubungi teman atau sahabat. Bertukar cerita dengan mereka membuat saya merasa tidak sendirian menjalani hidup yang seperti ini.Mempelajari hal baru yaitu berjualan secara online adalah hasil positif di tengah kondisi emosi yang sangat tidak stabil.
Saya juga pernah diundang menjadi pembicara di kelas Psikologi Industri & Organisasi oleh teman yang juga seorang dosen di salah satu Universitas Swasta di Kota Depok. Berbagi cerita dan pengalaman sebagai seorang HRD kepada mahasiswa membuat saya senang dan merasa diri masih mampu dan berguna meski sekedar berbagi ilmu dengan teman dan adik-adik mahasiswa.
Dari keseluruhan kondisi yang saya alami, besar dampaknya pada beberapa hal dalam diri saya. Beberapa diantaranya emosi menjadi tidak stabil, merasa sangat tidak berdaya, jenuh, lelah, dan sangat bosan dengan aktivitas sehari-hari yang monoton. Bahkan sampai seringkali saya merasa “stuck” dan tidak tahu lagi harus bagaimana. Hal yang sangat saya syukuri adalah peran pasangan dan keluarga yang benar-benar memahami, mengerti, bahkan membantu yang tentunya dengan cara mereka. Saya merasa kunci utama untuk diri saya bisa bertahan dan menjalani semua ini adalah pasangan. Dia yang selalu menguatkan, memotivasi, dan mendukung apapun pilihan yang akan saya jalani nantinya.
Begitupun dengan keluarga, mereka tidak mempermasalahkan status saya yang menjadi Ibu Rumah Tangga. Ibu saya berkata, “Sebagai wanita, kita tidak boleh bergantung seratus persen pada suami dalam hal finansial, karena kita tidak akan pernah mengetahui apa yang akan terjadi suatu saat nanti”.
Tidak sampai di situ, menurut saya peran pasangan dan keluarga sangat berpengaruh terhadap kesehatan, baik fisik maupun mental. Jangan meremehkan kegiatan yang kita jalani sekarang! Emotionally Drained Mental Clutter ini sebagai dampak nyata dari kesediaan saya mengalah dan berada pada kondisi di luar keinginan hati nurani.
Tantangan dan kendala yang saya hadapi pada kondisi tersebut adalah bagaimana caranya supaya saya dapat melihat dan menjalani hal tersebut menjadi sesuatu yang “biasa” dan tidak menimbulkan efek stres berkepanjangan. Saya melakukan aktivitas yang monoton, tidak bisa berinteraksi dengan orang sebaya, merasa stagnan bahkan seringkali merasa insecure pada diri sendiri. Saya sampai merasa iri melihat dan mendengar perkembangan karier teman-teman di luar.
Saya kemudian beradaptasi dan berdamai dengan rutinitas sebagai Stay at Home Mom. Cara saya mengatasi tantangan dan kendala tersebut adalah dengan memperbanyak ibadah, banyak bersyukur, healing bersama keluarga dan juga mengurangi bermain media sosial, terutama Instagram.Harapan saya kepada keluarga dan pasangan, semoga kalian bisa menjadi garda terdepan yang selalu support. Sebagaimana saya menjalani peran menjadi stay at home Mom, itu bukan hal yang mudah.
Untuk ranah sosial, saya berharap kita tidak perlu membandingkan siapa yang paling baik atau melelahkan antara ibu pekerja dengan ibu rumah tangga karena kita semua sudah berada di posisi terbaik saat ini, apapun itu pilihannya.
Pesan saya untuk teman-teman yang mengalami kondisi hampir sama dengan efek Emotionally Drained Mental Clutter, saya percaya bahwa kita mampu untuk mengatasinya. Khusus untuk teman-teman yang tinggal di luar negeri, dengan terbatasnya support keluarga dikarenakan beda negara, saya yakin tingkat kesulitannya menjadi berlipat.
Saya hanya ingin sampaikan bahwa Tuhan tidak pernah salah menempatkan kita dalam kondisi apapun, seperti yang disampaikan dalam ayat Al Quran yg selalu menguatkan saya ketika saya down yaitu Surat Al-Baqarah ayat 286 “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Terima kasih!
Penulis: Inur Darham, tinggal di Swiss dan dapat dikontak di akun IG: inur_darham berdasarkan wawancara seorang sahabat, Yuanita Nurdiana yang tinggal di Bogor.
Program Workshop Visual Arts – Seni Kolase diselenggarakan Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Komnas Perempuan Republik Indonesia yang bertujuan agar mendorong partisipasi warga melalui karya seni sebagai gerakan global untuk menyuarakan anti kekerasan terhadap perempuan, sehingga tercapai kesetaraan gender yang menjadi fokus proyek.
Program Workshop Seni Kolase 2023 diselenggarakan pada Sabtu, 4 & 11 November 2023 pukul 10.00 – 12.00 CET/ pukul 16.00 – 18.00 WIB melalui zoom meeting. Harapannya peserta dapat mengambil bagian dalam kampanye 16 Hari untuk memperingati Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap perempuan yang berlangsung 25 November – 10 Desember 2023.
Program Workshop Seni Kolase 2023 ini hanya untuk 30 peserta. Mohon peserta menuliskan alasan kuat mengikuti workshop ini sehingga menjadi pertimbangan panitia untuk memilih Anda. Pendaftaran ditutup hingga tanggal 2 November 2023.
Ketentuan peserta:
Warga Indonesia berusia minimal 18 tahun.
Bersedia hadir penuh dan tepat waktu dalam pertemuan 1 dan 2.
Bersedia menyerahkan hasil karyanya setelah workshop kedua selesai.
Bersedia mengambil foto/scan karya yang diproduksinya dan mengirimkannya ke panitia penyelenggara via email info@ruanita.com.
Bersedia menuliskan deskripsi singkat (3-5 kalimat) tentang karya yang dibuat dan dicantumkan (nama & akun media sosialnya) pada saat kampanye berlangsung.
Bersedia menyediakan peralatan seperti: gunting, cutter, lem kertas, isolasi, doubletape, kertas gambar ukuran A4, penggaris, alas pemotong dan bahan seperti: majalah/brosur/koran bekas, dll.
Bersedia mengisi formulir berikut
Pengiriman produk workshop sebagai partisipasi kampanye dilakukan selama 11 – 14 November 2023 via email info@ruanita.com. Sebagai tindak lanjut, 15 karya terbaik dari peserta akan dipilih panitia dan ditampilkan di akun media sosial IG, FB, dan website Ruanita Indonesia dan di-repost oleh akun Komnas Perempuan Indonesia. Karya peserta juga bisa dilihat di website www.ruanita.com.
Program cerita sahabat spesial digelar oleh Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia setiap bulan melalui video berkisar 5-10 menit yang ditampilkan di kanal YouTube. Pada episode Oktober 2023 ini, Ruanita Indonesia mengundang Mala Holland yang telah bekerja di Inggris sebagai Psikoterapis. Sebagai tenaga profesional untuk Trauma Care Practitioner, Mala melakukan pendekatannya melalui play and creative arts dalam melayani kliennya dari berbagai kelompok usia.
Menurut Mala, trauma terjadi sebagai respon tubuh terhadap peristiwa yang pernah dialami. Mala menyadari bahwa tidak mudah bagi tiap orang untuk menceritakan persoalan trauma yang dialaminya. Bahkan Mala pernah mendapatkan klien usia anak-anak yang sama sekali belum dapat mengkomunikasikan apa yang dialaminya akibat peristiwa yang menyebabkan dia trauma.
Melalui pendekatan Play and Creative Art Therapy, Mala membantu para kliennya untuk mengkomunikasikan apa yang mereka alami dan rasakan. Menurut Mala, creative art atau playdough bisa membantu klien menggali hal yang tidak disadarinya yang ada di bagian ketidaksadaran manusia.
Trauma menurut Mala terjadi pada memori yang fragmented dan mungkin saja “tidak utuh” sehingga perlu dibantu untuk mengenali apa yang membuat seseorang itu merasa trauma. Setiap orang mengalami trauma yang tidak mudah dan perlu penanganan ahli/profesional melalui berbagai pendekatan. Mala sendiri juga menyebutkan berbagai trik yang bisa membantu seseorang untuk keluar dari traumanya.
Pergi ke terapi atau bertemu dengan tenaga ahli adalah sebagian kecil yang memang membantu seseorang untuk keluar dari trauma. Namun, sebagian besar waktu yang diperlukan keluar dari trauma bergantung pada orang tersebut dan dukungan sosial dari orang-orang sekitarnya seperti keluarga.
Mala menyarankan agar kita perlu mencari tahu mana terapi yang cocok dengan kebutuhan kita. Bahkan Mala meminta kita untuk mengecek policy yang dimiliki si terapi dalam membantu kliennya. Kita bisa saja pergi mencari bantuan ke piskoterapi lainnya, bilamana dirasakan tidak cocok.
Bagaimana pendekatan play and creative art therapy dalam membantu klien mengatasi trauma? Apa saja yang diperlukan orang yang mengalami trauma untuk mengatasinya? Apa yang sebaiknya dilakukan keluarga dan social support system dalam membantu orang sekitar yang mengalami trauma? Berapa besaran biaya dan cara mendapatkan terapi untuk mengatasi trauma?
Pada episode Oktober 2023, Ruanita Indonesia mengambil tema tentang kesehatan mental dalam program diskusi IG Live yang diselenggarakan setiap bulan sekali. Sebagaimana program yang digelar oleh Ruanita Indonesia setiap peringatan Hari Kesehatan Mental, Anna selaku Host of IG Live menyebutkan rentetan acara yang pernah digelar.
Tahun 2021 Ruanita Indonesia bekerja sama dengan PPI Kiel dan KJRI Hamburg menggelar diskusi online bertema kekerasan dan pelecehan seksual. Hadir dalam kesempatan tersebut adalah Psikolog dari Yayasan Pulih dan Wakil Ketua LPSK RI. Di tahun 2022 Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Swedish Indonesian Society (SIS) dan KBRI Stockholm menggelar diskusi online, berjudul: “Kesehatan Mental – Wajib Tahu, Bukan Tabu.”
Pada tahun 2023 ini, relawan Ruanita Indonesia berinisiatif membuat program yang berbeda melalui film pendek yang berjudul “Dua Kali”. Film pendek ini dikerjakan secara daring oleh relawan yang semuanya perempuan Indonesia di tiga kota berbeda, Jakarta, Passau, dan Hamburg. Pengambilan gambar untuk film “Dua Kali” adalah kota Hamburg. Film ini juga didukung oleh KJRI Hamburg.
Untuk membahas detil tentang proses pembuatan film ini, IG Live menampilkan dua tim film yakni: koordinator tim film, Mariska Ajeng (akun IG: mrskadj) dan Sutradara film, Ullil Azmi (akun IG: ullilazmi). Tentunya, ada alasan yang melatarbelakangi ide pembuatan film. Film ini juga mendapatkan dukungan 2 warga negara Jerman sebagai peran pembantu.
Berawal dari status kesehatan mental yang dialami oleh Ajeng ketika dunia dilanda pandemi Covid-19, Ajeng betul-betul merasakan berbagai problematik cara pandang dari pihak keluarga, orang-orang sekitar, hingga mungkin cara pandang budaya yang masih memandang negatif terhadap kesehatan mental. Psikolog di Jerman, negara tinggal Ajeng sekarang, mendiagnosa Ajeng dengan depresi dan fobia sosial pada 2021.
Selama bergulat dengan status kesehatan mental, Ajeng mendapatkan dukungan sepenuhnya secara sosial dari Ullil yang adalah perawat psikiatri di salah satu klinik di Jerman. Setelah mendapatkan penanganan khusus di rumah sakit, Ajeng kembali lagi didiagnosa memiliki OCD (=Obsesissve Compulsive Disorder). Tentunya, hal ini tidak mudah bagi Ajeng yang menjalaninya di saat situasi dunia dilanda pandemi Covid-19.
Berawal dari kisah nyata, film “Dua Kali” ini diproduksi oleh perempuan Indonesia yang menjadi relawan di Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia. Mereka memproduksi film ini di sela-sela waktu lowong mereka. Tim Film “Dua Kali” terdiri atas: Mariska Ajeng; Ullil Azmi; Roshandeani Rosmananda; Nurul Vaoziyah; dan Stephanie Iriana Pasaribu.
Apa saja tantangan yang dihadapi oleh tim film dalam memproduksinya? Apakah maksud pembuatan film pendek bertema kesehatan mental ini? Apakah betul ada perspektif mixed-culture dalam memproduksi film bertema kesehatan mental ini? Apa pesan yang ingin disampaikan oleh tim Film? Mengapa judul film ini adalah “Dua Kali”?
Simak diskusi IG Live selengkapnya di kanal YouTube Ruanita – Rumah Aman Kita berikut ini:
Untuk mendukung kami, subscribe kanal YouTube kami.
Halo, perkenalkan nama saya Robin. Jujur, saya ingin menjaga anonimitas saya sehingga saya tidak ingin Sahabat Ruanita mengetahui nama saya sebenarnya. Saya kembali menetap di Indonesia sudah 3 tahun lamanya. Sebenarnya, saya sudah pernah tinggal di Italia lebih lama tetapi baru-baru ini saya memutuskan untuk pindah lagi kembali ke Indonesia. Sebelumnya, saya tinggal di Italia cukup lama. Meskipun cukup sering berpindah-pindah lokasi, sebagian besar waktu saya habiskan tinggal di Italia, tepatnya di Bologna. Sekarang saya tinggal di daerah Seturan. Rutinitas saya sehari-hari adalah bekerja dari pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore. Saya bekerja hampir sepanjang waktu, tetapi terkadang saya bekerja dari pukul 10 hingga sampai pukul 19.00 malam. Intinya, saya bekerja sekitar delapan jam setiap hari. Saya juga melakukan hobi di waktu senggang.
Berbicara tentang hal traumatis, saya ingin bercerita terkait pekerjaan. Oleh karena itu, saya tidak menyebutkan nama perusahaannya, meskipun saya akan menceritakan detil apa yang membuat saya trauma. Pengalaman trauma saya dimulai ketika saya bekerja di Indonesia. Saya bekerja di suatu perusahaan di sana. Saya senang bisa bekerja di perusahaan tersebut karena ada teman saya juga yang bekerja di sana. Prinsipnya, kami saling mempercayai satu sama lain.
Namun, dia “menikam” juga dari belakang. Yang pada akhirnya perbuatannya itu telah menjebloskan saya ke dalam penjara. Sungguh hal itu telah membuat saya sangat trauma. Terlebih lagi karena saya pernah mengalami hal-hal traumatis yang berhubungan dengan tempat kerja dan bullying di tempat kerja.
Saya merasa dikhianati oleh seseorang yang sangat dipercayai. Bagaimana mungkin pengkhianatannya telah menjerumuskan saya ke dalam penjara. Syukurlah, saya sudah pulih sekarang. Namun, tentu masih ada “luka” yang mendalam di mana saya hampir tidak bisa mempercayai orang lain lagi seperti dulu. Saya mencoba berusaha sekuat tenaga untuk menemukan pekerjaan dimana tidak ada orang yang saya kenal di perusahaan tersebut. Saya menghindari bekerja dengan orang-orang yang sudah saya kenal sebelumnya. Walaupun, saya butuh rekomendasi dan tawaran pekerjaan ketika saya tiba kembali ke Indonesia lagi. Saya tidak ingin trauma saya kembali lagi.
Spesifiknya, saya ceritakan detil tentang penyebab trauma saya. Jadi, saya pernah bekerja di suatu perusahaan di Jakarta selama kurang lebih satu tahun. Empat bulan pertama semua tampak baik-baik saja. Setelah itu, saya sering bekerja lembur, bahkan saya pernah bekerja lebih dari 12 jam sehari. Hal itu menjadi pemicu permasalahan dalam rumah tangga saya. Hubungan saya dengan anak-anak di rumah mulai terganggu. Tentu, itu sangat menyedihkan buat saya karena saya juga tidak bisa pulang. Saya seperti terpisah dari semua orang.
Baik sekarang ataupun dulu, saya bahkan tidak bisa mempercayai rekan kerja. Kita bekerja seperti seolah-olah harus waspada dan terus mengawasi satu sama lain untuk memastikan kalau semua pekerjaan baik-baik saja dan terselesaikan. Menurut saya, hal itu tidak baik dan tidak ideal dalam bekerja. Kondisinya semakin parah ketika kantor saya mulai membuka cabang baru sehingga saya harus bekerja 22-23 jam per hari. Setidaknya, saya bekerja lembur selama 6 bulan sebelum akhirnya saya memutuskan berhenti dan mengundurkan diri.
Saya merasa tidak layak dan tidak cukup baik untuk mencapai kesuksesan dalam hidup. Saya merasa hidup saya sia-sia dan tidak ada gunanya. Saya bahkan tidak mempercayai orang lain hingga depresi menghantui saya saat ini. Saya berusaha mengatasinya agar bisa melewati hal-hal sulit. Saya seperti mati rasa. Saya tidak tahu persis apa yang terjadi dalam kepala saya karena saya tidak punya kata-kata untuk menjelaskannya. Saya seperti tersesat dan tidak berdaya.
Saya sudah pergi ke psikolog. Ya, itu membantu tetapi sebenarnya tidak cukup. Psikolog hanya berkata: “Kamu harus bisa membantu dirimu sendiri. Kamu harus percaya pada dirimu sendiri dalam prosesnya.” Psikolog tidak menjelaskan bagaimana caranya? Ya, dia menjelaskannya tetapi saya tidak dapat mengikutinya. Mengapa? Karena itu sebenarnya di luar kemampuan saya. Itu pendapat saya.
Saat orang mendapatkan tekanan psikologis, memang kita perlu pergi ke Psikolog. Itu membantu tetapi hanya sebagian kecil menurut saya. Hal yang perlu dilakukan adalah mengembangkan coping mechanism untuk bisa mengatasi persoalan dalam diri tersebut. Pertama, saya mengatasinya dengan menggambar, kemudian beralih ke menulis. Saya pikir saya dapat mengekpresikan perasaan saya lewat tulisan. Sayangnya, seseorang mengetahui tulisan saya sehingga dia seperti mengejek saya sehingga membuat saya merasa semakin buruk. Saya pun tidak pernah menulis lagi. Saya lanjutkan dengan berolahraga seperti bersepeda, berenang, atau lari. Saya juga coba pergi ke tempat fitness.
Tidak sampai di situ saja, saya pun berusaha mencari social support group di Indonesia. Itu sedikit membantu karena di sana saya bisa sedikit berbagi namun kurang efektif karena tidak ada orang seperti Psikolog yang akan memberi assessment tentang masalah kita. Pada akhirnya, saya tidak melakukan apa pun untuk mengatasi trauma saya. Saya tidak punya cara lain untuk mengatasi diri sendiri. Saya merasa tidak nyambung dengan keluarga saya karena saya merasa masih tidak mampu untuk menyampaikan apa yang saya alami kepada mereka. Saya tidak ingin membuat banyak masalah lagi. Saya hanya memendamnya dan semakin lama itu menghancurkan saya.
Peristiwa traumatis itu tentu saja telah membuat saya marah. Saya punya banyak kemarahan dalam diri saya dan pada diri saya sendiri. Meskipun itu hanya masa lalu, tetapi saya tidak berdaya karena hal traumatis itu seperti berada dalam benak saya. Saya pun tidak bisa menjelaskannya dengan baik kepada orang-orang sekitar saya, bahkan Psikolog sekalipun. Saya bingung bagaimana saya menjelaskan hal traumatis ini.
Di balik itu semua, saya tetap mengambil hikmahnya. Dengan begitu, saya menjadi lebih tangguh daripada sebelumnya. Saya menjadi pekerja keras sekarang karena peristiwa trauma tersebut. Saya masih bersyukur meskipun saya tetap berharap efek trauma ini dapat berkurang pada akhirnya. Ketika ada sesuatu yang menjadi “trigger” trauma saya kembali, saya berusaha menghindari konfrontasi tersebut. Saya cukup memperhatikan bagaimana saya menilai situasi dan orang lain berperilaku terhadap saya agar perasaan traumatis itu tidak muncul.
Setelah kejadian traumatis itu, saya berhenti kerja dan melamar pekerjaan baru saat itu Namun, saya mengalami kesulitan untuk mengatasi masalah dengan tempat kerja dan lingkungan kerja. Akhirnya, saya “ditendang” bekerja di sana dan di sini. Saya benar-benar terpuruk dan kontrak saya pun tidak diperpanjang. Mereka menolak mempekerjakan saya karena saya dinilai tidak cocok untuk bekerja di perusahaan-perusahaan itu. Saya merasa seperti “orang tidak berguna” saat ini.
Terakhir ini pesan saya untuk Sahabat Ruanita yang juga punya pengalaman traumatis seperti saya. Saya sampaikan berikut ini dalam Bahasa Inggris saja. I think that is going to be a bit difficult. I can only say this actually: if you want to trust someone, don’t regret it. Just do it with all your might, with everything you have. If you decide to trust someone, do not regret it. Because regret is actually really painful and you are destroying yourself in the process. But if you made a bad decision, I need to remind myself over and over that it’s actually their choice not mine. I could not control what those other people would do to me because, again, it is their choice to do so. I can’t control it. I can control my reaction. Even though it is easier said than done, I would always try that. So trusting them, it’s going to be my choice but proving me wrong is their choice not mine. I should not prove that they are wrong or I should not prove that I am wrong or I was wrong to trust them. No. If I can say this you need to be able to separate your professional life and your personal life. And if that is not enough then you can have like a second layer of personal life that only you would know. And I think it’s gonna be able to make it better than what I have received so far.
Di hari kesehatan mental sedunia, saya ingin dunia menjadi lebih baik. Saya tahu kita perlu lebih banyak tenaga profesional terkait kesehatan mental. Namun, saya berpikir itu tidak mudah dan murah. Kebanyakan dari mereka punya tarif yang agak mahal seperti Psikolog saya. Jadi, saya berharap agar ada institusi kesehatan mental yang mudah diakses dan dilakukan secara kolektif sehingga ini bisa membantu semua orang untuk kesehatan mental yang lebih baik.
Penulis: Nita (akun IG: msiyuun_) berdasarkan hasil wawancara seorang teman yang tidak ingin disebutkan namanya.
Pada episode ke-10 di bulan Oktober 2023 program PELITA mengambil tema tentang Childfree yang terjadi di Indonesia. Untuk membahas lebih dalam, Ruanita (=Rumah Aman Kita) Indonesia mengundang dua narasumber yang menjadi penggiat Childfree di Indonesia.
Mereka adalah Ratu Victoria Tunggono yang adalah penulis buku “Childfree” dan lainnya adalah Kei Savourie yang adalah seorang founder dari Kelascinta.
Stephanie mengawali diskusi tentang bagaimana asal mula mereka memilih menjadi Childfree di Indonesia.
Victoria sendiri telah menemukan buku dan komunitas yang membahas lebih dalam tentang Childfree sehingga dia bisa membedakan apa itu childfree dan childless.
Sedangkan Kei lebih menekankan untuk memilih hidup tidak harus sesuai dengan apa yang terjadi pada kebanyakan masyarakat di Indonesia, termasuk memilih Childfree. Kei sendiri akhirnya berhasil memilih ketika dia menemukan istri yang akhirnya menyepakati pilihan Childfree setelah menikah.
Kei juga menjelaskan bahwa pilihan Childfree muncul ketika dunia sudah diperkenalkan dengan pilihan kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.
Kei dan Victoria menyadari bahwa mereka dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua yang sangat baik sebagai role model, sedangkan mereka berdua merasa tidak yakin bisa menjadi orang tua yang baik.
Baik Victoria maupun Kei menyadari bahwa masyarakat Indonesia memiliki big pressure sebagai orang tua. Meski demikian, diskusi terbuka seperti yang digagas Ruanita Indonesia ini sangat efektif untuk menepis mitos-mitos yang berkembang di masyarakat. Contohnya, masyarakat memandang perempuan dianggap egois kalau memilih Childfree.
Victoria sangat menghormati orang-orang yang sudah memilih menjadi orang tua dan berharap agar pilihan orang tua sebagai ikatan batin seumur hidup. Menjadi orang tua harus bertanggung jawab terhadap pilihan tersebut dan tidak menjadikan anak sebagai “eksperimen” atau coba-coba.
Subscribe kanal YouTube kami ya untuk mendukung program kami.
Pada 4 Oktober 2023, Ruanita (=Rumah Aman Kita) Indonesia yang diwakilkan oleh Anna Knöbl melakukan kunjungan ke kantor LPSK (=Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) Republik Indonesia yang bertempat di Jakarta. Sambutan yang hangat diterima oleh Wakil Ketua LPSK RI, Livia DF Istania Iskandar. Livia sendiri pernah mengisi acara dalam dialog online yang digagas Ruanita Indonesia bersama KJRI Hamburg dan PPI Kiel beberapa waktu lalu.
Diskusi antara Ruanita Indonesia dengan Wakil Ketua LPSK RI berfokus pada bagaimana standar pelaporan kasus yang terjadi pada warga Indonesia yang sedang berada di luar Indonesia, tetapi kasus tersebut terkait dengan situasi di Indonesia. Contoh yang pernah ditangani oleh LPSK RI seperti kasus penipuan kerja di luar negeri dan kasus perdagangan orang yang memang terjadi di luar Indonesia.
Wakil LPSK RI mendukung untuk mengadakan lebih banyak dialog hukum dan diseminasi tentang standar pelaporan untuk WNI yang tinggal di luar negeri dengan melibatkan organisasi kemasyarakaratan seperti Ruanita Indonesia. Selain itu, penting bagi para staf diplomat untuk bisa memiliki skill dan pengetahuan yang baik tentang penanganan kasus-kasus domestik yang terjadi di luar negeri.
Halo Sahabat RUANITA, perkenalkan nama saya Rakanita Arifah. Saya biasa dipanggil Nita. Saat ini saya sedang menempuh studi di New Delhi, India dengan jurusan Bachelor of Ayurvedic Medicine and Surgery (BAMS) atau yang lebih dikenal dengan Kedokteran Ayurveda. Saya memulai perkuliahan di India sejak 2019.
Sebelum mengutarakan pendapat, mari kita kenali dulu apa itu Ayurveda? Ayurveda merupakan sistem pengobatan tradisional yang sudah ada sejak 5000 tahun lalu.
World Health Organization (WHO) menetapkan Ayurveda sebagai pengobatan tradisional tertua di dunia. Walaupun begitu, ilmu Ayurveda terus berkembang dengan banyaknya penelitian yang mendukung keilmuan dari konsep Ayurveda. Itu sebab, Ayurveda tetap eksis dan relevan sampai pada era saat ini.
Mengapa saya tertarik mendalami pengobatan Ayurveda? Mungkin sebagian Sahabat RUANITA bertanya-tanya. Pertama kali, saya mengenal Ayurveda yaitu pada saat saya duduk di bangku SD. Pada saat itu, saya sedang mengikuti ibu saya untuk belajar yoga di Bali. Saat itu, saya pun berkesempatan untuk melihat langsung proses pengobatan Ayurveda. Singkat cerita, saya mulai mencari tahu lebih dalam lagi tentang Ayurveda di bangku SMA.
Saya melihat Ayurveda ini unik sekali, berbeda dengan pengobatan modern yang sudah marak di manapun. Lalu saat saya mendekati waktu kelulusan SMA, saya mulai mencari informasi detil tentang pendidikan Kedokteran Ayurveda di India. Ini yang menguatkan niat dan tekad saya untuk apply beasiswa.
Saya studi di India melalui AYUSH Scholarship, yang bekerja sama dengan ICCR (Indian Council for Cultural Relations). Prosesnya sepertinya hampir sama dengan beasiswa pada umumnya. Pertama, kita harus menyiapkan beberapa dokumen seperti paspor, ijazah yang sudah diterjemahkan, recommendation letter, medical certificate, dsb.
Semua informasi tersebut bisa diakses langsung di website ICCR. Proses pengurusan Visa Student saya pada saat itu tergolong cepat dan efektif karena pihak ICCR Jakarta pun turut membimbing hingga proses pembuatan visa selesai.
Tak mudah memang tinggal jauh dari keluarga. Itu menjadi hal yang begitu berat untuk saya pribadi. Namun saya bersyukur bahwa saya memiliki keluarga yang selalu support pada apapun keputusan dalam hidup saya. Salah satunya adalah melanjutkan studi ke India.
Tahun pertama menjadi tahun yang paling challenging bagi saya, karena saya harus beradaptasi dengan lingkungan baru, teman baru, dan juga bahasa baru. But like people said, “No pain, no gain!” Walau saya kuliah merantau diiringi dengan seribu tantangan, tetapi saya tetap menikmati prosesnya.
Kembali lagi soal pengobatan Ayurveda, tujuan dari Ayurveda sendiri bukan hanya mengobati penyakit, melainkan juga membantu manusia dalam menjaga kesehatan dengan memelihara keseimbangan pikiran, raga, dan spiritual. Kita sendiri mungkin mengenal berbagai pengobatan tradisional di dunia.
Nah, salah satu hal unik dari Ayurveda yang membedakannya dari pengobatan tradisional lainnya adalah Ayurveda menerapkan konsep TRI DOSHA atau 3 sistem fungsional tubuh. TRI DOSHA ini yang berfungsi sebagai penyangga dan mengontrol sistem tubuh dalam kehidupan, yang mana jika dalam keadaan tidak seimbangakan mengakibatkan penyakit dalam tubuh.
Terlebih lagi, Ayurveda melihat tiap individu memiliki karakteristik dasar tubuh yang berbeda-beda. Itu yang menjadikan Ayurveda unik dalam mengobati penyakit karena tiap individu bisa mendapat penanganan yang berbeda baik dalam obat-obatan maupun terapinya.
Perkembangan bidang kesehatan baik itu moderen maupun tradisional, pasti memiliki tujuan yang sama yaitu untuk menciptakan inovasi yang lebih efektif untuk menangangani masalah kesehatan.
Ayurveda hadir sebagai salah satu pilihan pengobatan untuk mengobati penyakit, yang mana sistem pengobatannya menggunakan pendekatan holistik dan natural. Obat-obatan Ayurveda juga terbuat dari bahan-bahan natural sehingga peluang akan efek samping yang didapat cenderung lebih kecil.
Selama saya belajar Ayurveda, saya banyak mendapatkan pengalaman berkesan di India seperti memelajari dan membuat obat dari tanaman herbal salah satunya.
Pada tahun kedua pembelajaran, kami – mahasiswa Kedokteran Ayurveda atau BAMS – memelajari Dravya Guna. Mata kuliah ini memelajari tentang obat-obatan atau pharmacology khususnya tanaman herbal.
Salah satu fasilitas yang dimiliki kampus kami adalah herbal garden, di mana berisi tanaman-tanaman obat Ayurveda. Pada saat jadwal praktik, kami bersama-sama melakukan observasi tanaman obat guna mengetahui akan morfologi tanaman, manfaat tanaman, dsb. Itu merupakan salah satu pembelajaran yang sangat berkesan bagi saya pribadi.
Menurut saya pribadi, kita yang tinggal di Indonesia sangat bisa untuk mempraktikkan pengobatan Ayurveda. Hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia masih erat dengan ilmu empirisnya. Di era modern ini, tidak sedikit masyarakat yang menerapkan “back to nature”.
Pengobatan Ayurveda menggunakan sumber daya alam untuk bahan dasar obat-obatannya. Dengan minim efek samping, saya percaya Ayurveda dapat menjadi pilihan masyarakat dalam mengobati penyakitnya ataupun yang ingin hidup sehat bersama Ayurveda.
Sebagai orang yang sedang belajar ilmu pengobatan, saya berharap kita semua bisa mendapatkan kualitas kesehatan yang lebih baik. Selain itu, saya berharap kita bisa mendapatkan pengobatan yang aman, efektif, mudah, dan murah bagi pasien. Tentunya, harapan saya tidak hanya seputar pengobatan saja, tetapi juga kita harus berfokus pada faktor pencegahan.
Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? Point-point tersebut linear dengan tujuan dari pengobatan Ayurveda sendiri. Saya yakin, Ayurveda dapat menjadi salah satu solusi tepat dalam menangani masalah kesehatan yang ada.
Untuk Sahabat RUANITA yang tertarik studi pengobatan Ayurveda seperti saya sekarang, silakan untuk mengunjungi website ICCR yang membahas info studi lebih lanjut.
Orang Indonesia yang kini menjadi lulusan kedokteran Ayurveda dari India terhitung 7 orang. Kami tergabung dalam sebuah organisasi yang dikenal Organisasi Profesi Tenaga Kesehatan Tradisional – AYURVEDA VAIDYA INDONESIA (AVINDO).
Jika teman-teman tertarik dengan pengobatan Ayurveda, bisa kunjungi website kami yaitu www.avindo.org atau di Instagram kami @avindo_org untuk info lebih lanjut.
Penulis: Rakanita Arifah atau biasa dipanggil Nita. Saat ini, Nita sedang tinggal di New delhi, India untuk menempuh studi S1 jurusan Bachelor of Ayurvedic Medicine and Surgery (BAMS). Nita dapat dikontak via akun Instagram: @rakanitaarifah.