
Hai, nama saya Yuanita Nurdiana dan biasa dipanggil Nita. Saat ini, saya tinggal di Bogor sejak lulus SMP tahun 2004 hingga sekarang. Aktivitas saya sekarang bekerja di Perusahaan Jasa Keuangan Syariah sebagai Kepala Bagian Recruitment & Assessment.
Kegiatan sehari hari adalah menjalani kehidupan bekerja full time semenjak lulus kuliah, menikah, dan akhirnya memiliki buah hati. Sebelumnya, saya dan suami masih tinggal bersama orang tua saya, sehingga keberadaan mereka sangat membantu dalam menjaga anak ketika saya dan suami bekerja. Suatu hari, saya mendapatkan kabar adik ibu saya lebih membutuhkan bantuan ibu disebabkan dia harus menjalani pengobatan kanker. Selain itu, hasil test kehamilan menyatakan saya mengandung anak kedua.
Kondisi tersebut membuat saya stres, bukan hanya karena keadaan dalam keluarga melainkan di saat yang bersamaan saya sedang menjalani masa promosi kenaikan jabatan setelah 5 tahun bekerja. Saya merasa sangat sedih, kacau, dan berpikir mengapa tidak ada seorang pun yang me-support kebutuhan saya. Setelah berdiskusi dengan suami dan keluarga, akhir tahun 2019 dengan berat hati saya menolak promosi kenaikan jabatan dan mengundurkan diri dari tempat bekerja.
Awalnya saya menikmati menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT), saya merasa santai dan bebas ingin melakukan apa saja tanpa harus menunggu weekend yang tentunya sambil menunggu kelahiran buah hati anak kedua kami. Tidak lama setelah anak kedua kami lahir, saya dan suami memutuskan untuk tinggal terpisah dari orang tua dan belajar hidup mandiri.
Saya merasa sangat senang, setidaknya saya bisa membuktikan kepada lingkup sosial kami bahwa kami pun bisa hidup mandiri. Namun seiring berjalannya waktu, aktivitas sehari-hari saya menjadi sangat monoton. Saya merasa bosan dan lelah dengan aktivitas yang sama setiap harinya, yaitu mengurus 2 anak sekaligus. Saya merasa jenuh dengan keadaan ini yang sangat berbeda ketika saya bekerja.
Saya merasa kecewa karena saya merasa tidak bisa berinteraksi dengan orang dewasa. Setiap hari yang saya hadapi adalah dua anak kecil. Saya merasa depresi sampai berkonsultasi ke profesional via online, tetapi saya merasa tidak lebih baik.Akhir tahun 2019 bertepatan dengan issue yang mengawali datangnya pandemi membuat dunia saya semakin kecil. Ketika pemerintah memutuskan untuk memberlakukan Work From Home (WFH), menutup, atau bahkan sangat membatasi aktivitas di luar rumah, di situ saya merasa semakin stres lagi.
Saya harus mengurus Toddler dan bayi tanpa bantuan orang lain, kecuali suami. Sistem WFH memang sepanjang waktu suami ada di rumah, tetapi tidak menjadi lebih banyak waktu untuk bisa membantu mengurus anak. Bahkan suami tidak jarang weekend pun masih harus menghadiri meeting online.
Kondisi tersebut sangat menguras emosi saya, tidak jarang saya sedikit berteriak ketika berbicara ke anak. Saya merasa sedih tetapi saya pun merasa tidak tahu bagaimana cara mengatasinya.Tahun 2022 kami harus pindah ke rumah ibu mertua saya disebabkan oleh beberapa hal. Setelah ayah mertua meninggal tahun 2021, ibu mertua memutuskan untuk pindah dari Surabaya ke Bogor, kota tempat tinggal kami. Selain itu, hanya kami yang memungkinkan untuk pindah menemani beliau. Jujur saya akui kalau kondisi inilah yang membuat saya semakin drop, merasa useless, dan stagnant berada di rumah mertua tanpa pekerjaan.
Saya merasakan hal yang sama setiap harinya, kurang berinteraksi dengan orang dewasa, sehingga membuat saya benar-benar bosan, jenuh, dan kurang bersemangat. Namun, saya tidak bisa mengekspresikan diri karena saya tinggal dengan ibu mertua. Saya merasa sangat depresi. Saya mengalami emosi yang tidak stabil, seringkali saya melimpahkannya ke anak-anak. Saat itu, hanya ada media sosial yang bisa menghibur saya. Namun, hal baru yang saya peroleh adalah saya belajar untuk berjualan mukena secara online. Walaupun hanya di saat tertentu seperti momen Idul Fitri dan Idul Adha tetapi saya cukup senang dengan hasil yang diperoleh.
Tidak hanya itu, hubungan yang sangat baik dengan kakak dan adik saya sangat menolong dan dapat menstabilkan emosional saya. Setiap weekend kakak selalu mengajak saya keluar walaupun hanya minum di coffee shop. Ketika ada kesempatan santai di rumah, waktu tersebut saya usahakan untuk bisa menghubungi teman atau sahabat. Bertukar cerita dengan mereka membuat saya merasa tidak sendirian menjalani hidup yang seperti ini.Mempelajari hal baru yaitu berjualan secara online adalah hasil positif di tengah kondisi emosi yang sangat tidak stabil.
Saya juga pernah diundang menjadi pembicara di kelas Psikologi Industri & Organisasi oleh teman yang juga seorang dosen di salah satu Universitas Swasta di Kota Depok. Berbagi cerita dan pengalaman sebagai seorang HRD kepada mahasiswa membuat saya senang dan merasa diri masih mampu dan berguna meski sekedar berbagi ilmu dengan teman dan adik-adik mahasiswa.
Dari keseluruhan kondisi yang saya alami, besar dampaknya pada beberapa hal dalam diri saya. Beberapa diantaranya emosi menjadi tidak stabil, merasa sangat tidak berdaya, jenuh, lelah, dan sangat bosan dengan aktivitas sehari-hari yang monoton. Bahkan sampai seringkali saya merasa “stuck” dan tidak tahu lagi harus bagaimana. Hal yang sangat saya syukuri adalah peran pasangan dan keluarga yang benar-benar memahami, mengerti, bahkan membantu yang tentunya dengan cara mereka. Saya merasa kunci utama untuk diri saya bisa bertahan dan menjalani semua ini adalah pasangan. Dia yang selalu menguatkan, memotivasi, dan mendukung apapun pilihan yang akan saya jalani nantinya.
Begitupun dengan keluarga, mereka tidak mempermasalahkan status saya yang menjadi Ibu Rumah Tangga. Ibu saya berkata, “Sebagai wanita, kita tidak boleh bergantung seratus persen pada suami dalam hal finansial, karena kita tidak akan pernah mengetahui apa yang akan terjadi suatu saat nanti”.
Tidak sampai di situ, menurut saya peran pasangan dan keluarga sangat berpengaruh terhadap kesehatan, baik fisik maupun mental. Jangan meremehkan kegiatan yang kita jalani sekarang! Emotionally Drained Mental Clutter ini sebagai dampak nyata dari kesediaan saya mengalah dan berada pada kondisi di luar keinginan hati nurani.
Tantangan dan kendala yang saya hadapi pada kondisi tersebut adalah bagaimana caranya supaya saya dapat melihat dan menjalani hal tersebut menjadi sesuatu yang “biasa” dan tidak menimbulkan efek stres berkepanjangan. Saya melakukan aktivitas yang monoton, tidak bisa berinteraksi dengan orang sebaya, merasa stagnan bahkan seringkali merasa insecure pada diri sendiri. Saya sampai merasa iri melihat dan mendengar perkembangan karier teman-teman di luar.
Saya kemudian beradaptasi dan berdamai dengan rutinitas sebagai Stay at Home Mom. Cara saya mengatasi tantangan dan kendala tersebut adalah dengan memperbanyak ibadah, banyak bersyukur, healing bersama keluarga dan juga mengurangi bermain media sosial, terutama Instagram.Harapan saya kepada keluarga dan pasangan, semoga kalian bisa menjadi garda terdepan yang selalu support. Sebagaimana saya menjalani peran menjadi stay at home Mom, itu bukan hal yang mudah.
Untuk ranah sosial, saya berharap kita tidak perlu membandingkan siapa yang paling baik atau melelahkan antara ibu pekerja dengan ibu rumah tangga karena kita semua sudah berada di posisi terbaik saat ini, apapun itu pilihannya.
Pesan saya untuk teman-teman yang mengalami kondisi hampir sama dengan efek Emotionally Drained Mental Clutter, saya percaya bahwa kita mampu untuk mengatasinya. Khusus untuk teman-teman yang tinggal di luar negeri, dengan terbatasnya support keluarga dikarenakan beda negara, saya yakin tingkat kesulitannya menjadi berlipat.
Saya hanya ingin sampaikan bahwa Tuhan tidak pernah salah menempatkan kita dalam kondisi apapun, seperti yang disampaikan dalam ayat Al Quran yg selalu menguatkan saya ketika saya down yaitu Surat Al-Baqarah ayat 286 “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Terima kasih!
Penulis: Inur Darham, tinggal di Swiss dan dapat dikontak di akun IG: inur_darham berdasarkan wawancara seorang sahabat, Yuanita Nurdiana yang tinggal di Bogor.