
Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan saya Anonim yang tinggal di luar Indonesia. Sejak Agustus 2010, saya menetap di salah satu negara di benua biru. Saya senang bisa mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi di sini, terutama berbagi pengalaman dan tips tentang Healthy Relationship.
Berbicara tentang Healthy Relationship tidak selalu berkaitan dengan relasi percintaan atau kehidupan perkawinan saja loh, tetapi bisa juga dijabarkan dalam relasi kita sebagai sesama orang Indonesia di perantauan. Bagaimanapun, kita yang hidup di luar Indonesia saat ini perlu untuk menjalin relasi dengan sesama orang Indonesia lainnya agar kita tidak merasa sendirian.
Seperti yang disampaikan tadi, relasi yang sehat saat kita menjadi seorang perantau atau diaspora tidak hanya dengan keluarga inti saja atau pasangan hidup dan keluarga besar pasangan kita. Namun, kita juga perlu menjalin relasi yang baik dengan tetangga sekitar dan lebih luas seperti komunitas yang berkaitan dengan kita. Relasi yang sehat bisa diperluas lagi saat kita bekerja secara profesional atau secara sosial dengan dengan sesama pendatang dari tanah air sendiri.
Menurut saya, membangun relasi yang sehat itu penting. Secara prinsip, sebetulnya sederhana, seperti: saling menghargai, jujur, empati, saling mendukung, terbuka, atau siap berkolaborasi. Namun kenyataannya, banyak perantau merasa gagal. Alih-alih, sesama perantau bisa berkolaborasi, ini malah bersaing secara tidak sehat.
Secara jujur, saya katakan kalau saya sendiri belum mencapai relasi yang sehat tersebut di antara sesama perantau di mancanegara. Saya memerhatikan kalau relasi antara sesama perantau itu justru banyak mengalami konflik.
Berdasarkan pengamatan saya, sesama diaspora saling berpikir negatif satu sama lain. Sesama diaspora pun tidak mengenal secara pribadi, tetapi mereka lebih memercayai rumor yang berkembang. Ini sangat menyedihkan. Antar sesama diaspora juga mempraktikkan persaingan yang tidak sehat, bahkan mengintimidasi. Saya bingung. Mengapa mereka saling menjatuhkan dan sibuk meraih eksistensi diri yang semu?
Perantau dari tanah air yang bermukim di mancanegara semakin banyak saja, dengan berbagai tujuan dan alasan seperti: studi, penelitian, pekerjaan, atau karena jodoh. Apapun motifnya, secara natural kita cenderung akan mencari teman sebangsa dan setanah air selama tinggal di tanah rantau ini. Bisa jadi, itu sebagai obat penawar rindu. Pendapat saya, kita sebaiknya jangan terlalu polos dan lugu. Tidak serta merta loh, Anda bisa langsung cocok atau langsung diterima oleh komunitas WNI tersebut.
Relasi antar sesama orang Indonesia mungkin akan menjadi toxic atau tidak lagi Healthy Relationship, apabila:
1. Anda harus selalu berusaha menyenangkan orang lain. Relasi ini tidak reciprocal. Artinya, mereka tidak peduli dengan perasaan dan hal-hal menyenangkan yang sudah Anda lakukan.
2. Tidak semua orang memiliki selera humor yang sama. Harap perhatikan ketika Anda bercanda bersama mereka, apakah mereka tersinggung? Kalau ya, itu artinya level humor Anda tidak sama. Carilah komunitas yang memililki level humor yang sama.
3. Tidak bisa menerima kata “tidak” dari Anda. Mereka marah bila Anda tidak bersedia. Itu berarti mereka tidak menghormati batasan-batasan yang Anda terapkan.
4. Mereka bergosip tentang Anda kemudian mereka marah ketika Anda mencoba untuk mengklarifikasinya langsung pada mereka. Artinya, mereka memang tidak sayang pada Anda.
5. Saling mengintimidasi. Jika lingkungan Anda menganut sistem senioritas dan ada semacam aroma “penggojlogan dan intimidasi” sebagai anak baru, sebaiknya tinggalkan saja lingkungan yang demikian.
Namun demikian, sebaiknya kita perlu melengkapi diri dengan karakter berikut ini sebelum kita masuk dalam sebuah komunitas sesama diaspora, seperti:
- Jujur dan hindari tindakan kriminal.
Jangan sampai niat kita semula berteman tetapi malah mencuri atau mengambil barang teman. Ingat, mencuri meski kecil sudah termasuk dalam tindakan kriminal dan berat sekali hukumannya. Anda bahkan bisa dideportasi.
- Saling Menghormati.
Tiap orang memiliki latar belakang, kisah, dan caranya sendiri yang memungkinkan dia bisa menetap di tanah asing. Jangan mudah mencela atau menghina cerita orang lain, karena itu bisa menghasilkan konflik yang tidak perlu. Toh, apapun kisah mereka – selama cerita itu tidak menyakiti Anda – itu adalah kisah perjuangan sesama manusia.
- Jauhi rasa iri dan dengki.
Usahakanlah untuk turut merasa bahagia apabila ada teman yang sukses, berhasil, dan mampu mengatasi tantangannya. Suatu saat Anda juga berhasil, mereka pun turut berbahagia juga.
- Mendengarkan.
Jika diundang dalam sebuah pertemuan komunitas, cobalah untuk mendengarkan dan memerhatikan apa yang sedang dibicarakan oleh lawan bicara. Cobalah untuk mengingat agar saat Anda bertemu lagi, Anda bisa “menanyakan updated info” yang membuat pembicaraan selanjutnya berjalan lebih lancar.
- Memberi kebebasan pada setiap individu.
Setiap individu memiliki caranya sendiri dalam menghadapi krisis dan mencari jalan keluar. Bila perlu, kita mendorong mereka supaya mereka bisa menemukan solusi yang out of the box dan lebih efektif.
- Melakukan kegiatan bersama.
Untuk menumbuhkan rasa kompak, kita bisa juga melakukan kegiatan bersama, seperti misalnya berburu barang vintage di pasar antik, atau thrift shop yang memiliki koleksi yang menarik dengan harga ekonomis.
- Kebaikan selalu berbuah kebaikan.
Kalau ada teman yang memerlukan bantuan dan Anda bisa melakukannya, maka lakukanlah dengan tulus dan sepenuh hati.
- Memiliki value dan passion pada hal yang sama.
Nah, kalau Anda menemukan orang-orang yang memiliki karakter seperti di atas, sebaiknya jangan dilepaskan. Mereka itu bagaikan berlian.
Melalui cerita sahabat ini, saya berharap agar ada forum komunikasi yang tidak sekedar hanya „Meminta Pertolongan“ saja pada komunitas diaspora. Saya berharap agar ada forum pelatihan atau semacamnya yang mengasuh atau berbagi/sharing. Peran ini mungkin bisa dilakukan oleh perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri.
Semoga apa yang saya bagikan ini membantu Anda dalam mencari komunitas pertemanan yang sehat di tanah rantau! Sekali lagi, semoga bermanfaat. Salam dari dari perantauan.
Penulis: Anonim yang tinggal di perantauan dan menjadi korban intimidasi