(IG LIVE) Simak Tunjangan dan Cuti Jadi Orang Tua di Islandia dan di Jerman

Pada diskusi IG Live episode Desember 2023, Ruanita Indonesia mengambil tema tunjangan dan cuti menjadi orang tua di Eropa. Sebagaimana diketahui, masing-masing pemerintah di Eropa memiliki kebijakan tersendiri untuk mendukung orang tua dalam merawat dan membesarkan anak. Bahkan ada pemerintah yang sudah mulai memberikan dukungan ketika si ibu sudah hamil, di mana ibu dibebaskan untuk membayar perawatan medis selama hamil dan melahirkan.

Untuk membahasnya lebih detil, diskusi mengundang ibu yang tinggal di Jerman yakni Amanda Patricia dan ibu yang tinggal di Islandia yakni Dyah Anggraini C. Diskusi dipandu oleh Rida Lutfhfiana Zahra, mahasiswi S2 di Jerman.

Di Jerman, pemerintah mewajibkan pemberi kerja untuk menyediakan cuti menjadi orang tua bagi mereka yang bekerja. Bahkan pemerintah Jerman menyediakan dukungan dan bantuan bagi orang tua yang tidak sanggup merawat dan mengurus anaknya. Amanda yang bekerja sebagai perawat orang tua dan kini masih mengambil cuti menjadi orang tua, yang disebut Elternzeit. Elternzeit yang diambil Amanda sekitar 3 tahun.

Tunjangan untuk menjadi orang tua diberikan pemerintah Jerman yang dapat dipilih satu tahun atau dua tahun. Itu berdasarkan pengalaman Amanda, yang tentu berbeda-beda dari negara bagian. Tunjangan ini senilai 70% – 80% gaji. Kalau orang tua ingin mendapatkan tunjangan selama dua tahun, pilihannya bisa dibagi dua gaji yang diterima sekitar 50% dari gaji.

Follow us

Belum lagi ayah yang bekerja bisa mendapatkan cuti ayah, yang disesuaikan dengan kebijakan dan sistem perusahaan. Keputusan untuk mengambil cuti ayah pun bergantung pada keputusan orang tua dan besaran gaji. Laki-laki pun dilibatkan dalam mengurus dan merawat anaknya.

Di Islandia, setiap orang tua mendapatkan 6 bulan dan tunjangan 80% gaji. Cuti melahirkan sudah diambil ketika trimester akhir dan tetap mendapatkan gaji meski di rumah. Minimal gaji adalah 6000 Kronu Islandia. Amanda pun akhirnya memutuskan untuk mengambil cuti dan tunjangan orang tua kemudian tinggal di Indonesia, yang biaya hidupnya lebih murah.

Menurut Dyah kondisi anak, seperti anak adopsi, anak mengalami keguguran, atau anak mengalami situasi khusus pun tetap orang tua berhak mendapatkan tunjangan dan cuti orang tua. Sedangkan Amanda yang berasal dari Indonesia dan sang suami Amanda berasal dari Prancis, mengakui tidak ada perbedaan tunjangan dan cuti orang tua, apakah orang tua itu berkewarganegaraan Jerman atau tidak.

Simak selengkapnya rekaman diskusi IG Live di kanal YouTube kami berikut:

Tolong subscribe kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(PELITA) Sempat Jadi Single Mom, Kini Menetap di Inggris Demi Membesarkan Anak dengan Berkebutuhan Khusus

Dalam episode 11 Parentingtalks with Ruanita atau PELITA, Stephanie Iriana Pasaribu mengundang sahabat Ruanita yang kini menetap di Inggris untuk berdiskusi tentang merawat dan membesarkan anak dengan berkebutuhan khusus.

Dia adalah Anastasia Betty yang pernah menjadi guru selama dua puluh lima tahun di Jakarta. Kemudian Betty kini berfokus pada kariernya sebagai Nursery Practitioners atau Council Nursery selama dua tahun di London. Di Indonesia, pekerjaan Betty dinilai seperti guru taman kanak-kanak.

Sejak Betty masih berada di Indonesia, dia sudah menyadari kalau anaknya dengan Autisme. Betty sempat menyadari kalau anaknya tuli karena anaknya tidak merespon pembicaraan. Perlahan Betty memperhatikan perkembangan anaknya yang menyusun balok dengan sempurna dan senang memperhatikan dengan detil air mancur atau kipas angin.

Follow us

Betty sempat mengalami kendala dari mantan suaminya yang menolak status anaknya dengan berkebutuhan khusus. Betty pun harus sembunyi-sembunyi untuk membawanya ke terapi yang diperlukan.

Mantan suami Betty tidak mendukung apa yang diperjuangkan Betty untuk biaya terapi yang sangat mahal. Betty pun menyadari mantan suami tidak mendukung untuk anaknya mendapatkan layanan yang tepat dan sesuai untuk kebutuhannya.

Betty melihat bahwa anaknya memiliki masalah dalam motorik halusnya, sehingga anaknya sampai sekarang tidak bisa memecahkan telur atau menggunting. Betty menduga permasalahan dengan anaknya terkendala karena tidak ada komunikasi yang baik dengan anak.

Betty hampir putus asa dengan kondisi anaknya dan permasalahan perkawinannya dengan mantan suaminya. Berbekal pendidikan dan pengalamannya sebagai guru, Betty merawat dan membesarkan anaknya agar dapat bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya.

Setelah bercerai dari mantan suami pertama, Betty mengurus dan membesarkan anaknya selama sebelas tahun sebelum akhirnya dia pindah ke Inggris.

Bagaimana perjuangan Betty membesarkan anaknya? Apa yang terjadi sehingga Betty memutuskan membawa anaknya ke Inggris? Bagaimana pengurusan anak dengan kebutuhan khusus di Inggris? Apa saja bentuk dukungan pemerintah Inggris terhadap Betty untuk merawat dan membesarkan anaknya?

Lebih lanjut tentang diskusi ini, dapat dilihat di kanal YouTube ini:

Untuk mendukung kami, silakan subscribe kanal YouTube kami.

(RUMPITA) Memahami Negara Kolombia yang Bebas Visa Untuk WNI

Melanjutkan diskusi Podcast RUMPITA episode ke-20, Fadni yang menjadi Host mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Kolombia. Dia adalah Efi Yanuar, seorang kreator digital yang tinggal di Kolombia. Tentunya, Efi yang sudah menetap di Kolombia merasakan berbagai pengalaman menarik dan menantang selama di sana.

Barangkali diskusi podcast kali ini membuat sahabat Ruanita semakin penasaran untuk datang ke Kolombia dan mengetahui kebenaran sesungguhnya dari stereotip tentang orang-orang Kolombia. Cerita-cerita Efi tentang Kolombia bisa ditemukan di akun Instagramnya efi.di.kolombia.

Untuk datang sebagai turis, warga Indonesia tidak memerlukan turis tetapi cukup tiket pesawat pulang-pergi saja. Visa untuk warga Indonesia berlaku 90 hari dan bisa diperpanjang hingga 90 hari kemudian. Iklim dan cuaca negara Kolombia seperti layaknya di Indonesia, yang memiliki musim hujan dan musim panas. Efi sendiri mengakui tidak begitu sulit buat orang Indonesia untuk beradaptasi karena cuaca di Kolombia mirip dengan Indonesia. Ini berbeda dengan kota Bogota, yang berada di pegunungan atau dataran tinggi.

Bahasa yang digunakan warga Kolombia adalah Bahasa Spanyol, meskipun bahasa ini sedikit berbeda dengan Bahasa Spanyol di negara Spanyol seperti perbedaan kosakata. Perbedaan lainnya seperti subyek. Dalam Bahasa Spanyol ada 6 subyek, sedangkan dalam Bahasa Kolombia ada 5 subyek. Di Kolombia tidak ada sapaan seperti kakak, ibu, dan bapak seperti Bahasa Indonesia.

Soal kuliner di Kolombia, Efi merasakan sangat berbeda dengan Indonesia. Masakan Kolombia bisa saja memasukkan kacang merah, alpukat, singkong, jagung, atau pisang dan tidak banyak menggunakan rempah-rempah. Hal ini berbeda dengan kacang merah, alpukat atau singkong yang banyak digunakan dalam kuliner Indonesia sebagai dessert.

Follow us

Ada festival yang mirip di Kolombia seperti di Indonesia, yakni perayaan Semana Santa di Flores, Indonesia yang dilangsungkan selama tujuh hari dan menjelang Paskah. Stereotip yang selama ini dimunculkan pada telenovela atau opera sabun sewaktu Anna dan Fadni di Indonesia ternyata memang benar adanya, seperti kriminalitas di Kolombia. Efi pun mengakui tingkat kriminalitas di Kolombia pun cukup tinggi.

Bagaimana orang-orang Indonesia mempersepsikan negara Kolombia? Apakah Efi juga sempat mengalami culture shock selama tinggal di sana? Apa yang membuat Efi bertahan dan menyukai kehidupan bersama orang-orang Kolombia? Apa yang menarik dan menantang selama tinggal di Kolombia? Lalu apa yang perlu dipersiapkan kalau mau traveling ke Kolombia, yang mana WNI tidak perlu visa untuk berkunjung ke sana?

Lebih lanjut dan detilnya, silakan mendengarkan rekaman diskusi Podcast berikut ini:

(CERITA SAHABAT) Bagaimana Sistem Parental Leave Dapat Mendorong Ayah Berperan Aktif dan Membantu Pemulihan Ibu?

Pengalaman melahirkan dua anak di dua negara membukakan mata saya akan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Kenyataannya, keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak bukanlah masalah mindset semata tetapi ini erat kaitannya dengan kebijakan yang diterapkan oleh negara dalam urusan parental leave.

Istilah parental leave atau cuti untuk orang tua mencakup cuti melahirkan untuk ibu, cuti ayah, maupun cuti adopsi. Parental leave mengacu kepada tunjangan untuk karyawan yang baru memiliki anak, di mana persyaratan kelayakan dan besarannya ditentukan oleh undang-undang negara. Orang tua berhak mendapatkan cuti sehubungan dengan kelahiran atau setelah kelahiran anak. Selain itu, orang tua juga berhak mendapatkan tunjangan selama mengambil cuti tersebut; dengan ini, mereka tetap mendapatkan pemasukan dan tidak kehilangan pekerjaan mereka ketika kondisi mengharuskan mereka merawat anak atau memulihkan diri setelah melahirkan. Antara ibu dan ayah juga bisa menggabungkan klaim tunjangan ini. 

Ketika anak pertama kami lahir di Malaysia di tahun 2010, kala itu suami saya bekerja sebagai staf akademik di universitas dan ia hanya mendapatkan cuti berbayar (paid paternity leave) selama tujuh hari. Sementara saya yang saat itu belum kembali bekerja, tidak mendapatkan tunjangan apapun. Oleh suami, jatah ‘cuti ayah’ ini diambil di hari ketika anak pertama kami lahir. 

Kalau ditanya apakah tujuh hari saja cukup, jujur saja ya tidak cukup. Seminggu pertama setelah kelahiran si kecil habis untuk kami bolak-balik ke rumah sakit bersalin untuk mengecek kondisi si kecil yang terkena kuning dan saya juga kesulitan untuk menyusui. Rasanya melelahkan sekali. Ketika si kecil mulai pulih, suami sudah harus kembali bekerja. Untungnya, saat itu ada ibu saya yang datang menjenguk selama dua minggu. Namun ketika ibu saya kembali ke tanah air, bisa dibilang saya sepenuhnya bergantung kepada suami untuk bisa ‘berfungsi’ kembali, memulihkan diri sampai berbulan-bulan kemudian, sekaligus merawat si kecil.

Follow us

Lagi-lagi, untungnya, supervisor suami sangat memaklumi kondisi kami sehingga beliau memberikan keringanan untuk suami saya membagi waktu bekerjanya antara di rumah dan di kampus. Saya ingat, beliau bilang kalau menjadi orang tua baru itu sudah cukup menantang, apalagi kalau di perantauan dan tidak ada sanak keluarga yang membantu. Masih segar dalam ingatan saya, pagi hari kami dimulai dengan suami memastikan saya sarapan cukup sambil menggendong si kecil yang sudah kenyang disusui. Setelah saya kenyang, barulah kami memandikan si kecil bersama-sama. Setelah si kecil bersih wangi, giliran saya yang mandi (sementara suami yang memakaikan baju dan popok). Kemudian barulah suami saya membersihkan semuanya, menyiapkan makan siang untuk kami berdua, lalu bersiap-siap pergi ke kampus. Sore harinya, suami saya pulang membawa takeaways untuk kami makan malam bersama. Sesampainya di rumah, ia langsung cuci tangan & ganti baju, menjerang air untuk mandi si kecil, lalu menggendong si kecil sambil memeriksanya apakah butuh ganti popok. Sementara saya disuruh makan malam duluan.

Saya tahu bahwa sedari awal, suami saya tidak pernah keberatan mengurus saya dan si kecil karena menurutnya itu sudah ‘kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar’. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kelelahan di masa awal-awal menjadi orang tua itu bukan hanya ibu yang mengalaminya. Saya bisa melihat kalau suami juga lelah sepulang dari kerja, apalagi harus membagi waktu antara pekerjaan dan mengurus kami di rumah. Tetapi seandainya ia punya jatah ‘cuti ayah’ dengan jangka waktu yang lebih panjang, tentunya kerepotan ini bisa jauh diminimalisir.

Fast forward sembilan tahun kemudian ketika saya hamil anak kedua di Norwegia. Semuanya serba baru dan sangat-sangat berbeda dengan pengalaman ketika saya mengandung si sulung. Di Norwegia, kandungan baru mulai diperiksakan setelah memasuki usia kehamilan 12 minggu, dan diperiksanya pun oleh jordmor (bidan) di klinik helsestasjon (posyandu untuk ibu dan anak). Ibu hamil hanya diminta memeriksakan diri ke dokter umum atau spesialis di rumah sakit jika butuh tes klinis, dan untuk USG fetal screening. Selama tidak ditemukan kondisi-kondisi khusus selama kehamilan, intervensi medis benar-benar diupayakan seminimal mungkin. 

Ketika kehamilan memasuki usia 24 minggu, jordmor bertanya apakah saya sudah mengecek persyaratan untuk mengajukan cuti dan tunjangan orang tua, yang mana bisa dibaca di situs milik NAV (Arbeids- og velferdsetaten atau The Norwegian Labour and Welfare Agency). Adapun cuti dan tunjangan ini berlaku untuk baik ibu maupun ayah.  Ya, di Norwegia baik ibu maupun ayah berhak untuk mendapatkan parental leave atau foreldrepermisjon. Dalam situs disebutkan bahwa tunjangan yang dialokasikan selama orang tua mengambil permisjon dapat berupa foreldrepenger atau engangsstønad. Orang tua yang bekerja dapat mengambil permisjon hingga 49 minggu dengan kompensasi 100% gaji, atau 59 minggu dengan kompensasi 80% gaji. Foreldrepenger yang disalurkan oleh badan NAV akan mengompensasikan gaji tersebut. Dalam 49 atau 59 minggu permisjon tersebut, untuk ibu bekerja dapat mengambil permisjon selama 3 minggu sebelum melahirkan dan enam minggu pertama setelah melahirkan untuk pemulihan pasca bersalin (ini wajib diambil oleh ibu). Lalu ada juga slot waktu 15 minggu yang disebut sebagai pappakvote atau kuota cuti yang harus diambil oleh sang ayah. Adapun pappakvoten ini tidak bisa dialihkan untuk menambah jatah cuti ibu; jika tidak diambil, maka akan hangus. Sementara untuk orang tua dengan penghasilan di bawah 59310 kroner per tahun (ibu rumah tangga masuk dalam kategori ini) dapat mengajukan tunjangan engangsstønad.

Saya yang kala itu bekerja sebagai freelance editor awalnya tidak yakin bisa mendapatkan parental benefits sesuai peraturan di Norwegia tersebut. Namun setelah membaca informasi di situs Arbeidstilsynet (The Norwegian Labour Inspection Authority) bahwa wisausahawan, orang tua yang sedang menempuh studi maupun pekerja lepasan juga dapat mengajukan tunjangan orang tua, saya pun mengecek persyaratannya di situs nav.no. Sesuai dengan persyaratan minimum jumlah penghasilan per tahun, saya berhak untuk mendapatkan engangsstønad. Sementara suami saya dapat mengajukan foreldrepermisjon & foreldrepenger

Tiga bulan setelah anak kedua kami lahir, suami memulai masa permisjon. Kala itu suami memutuskan untuk mengambil jatah permisjon 59 minggu. Di saat yang sama, saya didiagnosis post-partum depression, ditambah beberapa minggu kemudian pandemi pun merebak. Kombinasi situasi ‘ajaib’ yang tidak pernah terbayangkan oleh saya bagaimana cara coping-nya sendirian. Kata suami, saya tidak perlu khawatir karena dengan masa permisjon yang panjang dan kondisi ekonomi keluarga tetap aman terjaga, saya cukup fokus saja untuk meneruskan terapi & upaya pengobatan.

Di Norwegia saya melihat sendiri bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak bukan hanya bergantung pada mindset ayahnya saja, tetapi juga dipermudah oleh aturan & kebijakan yang dibuat negara. Seperti adanya pappakvoten yang tidak hanya mendorong ayah untuk berperan aktif sejak awal usia kehidupan anak, namun juga mendorong kesetaraan gender dalam pengasuhan anak. Selain itu pemberian engangsstønad untuk ibu rumah tangga pun menunjukkan bahwa upaya melahirkan, merawat dan membesarkan anak adalah salah satu ‘pekerjaan’ besar yang membutuhkan tenaga, sumber daya dan stamina fisik maupun mental yang tidak sedikit, sehingga apapun status ekonomi orang tuanya, mereka berhak mendapatkan bantuan yang dibutuhkan untuk menjamin kesejahteraan keluarga, terutama di masa terpenting dalam tahap awal kehidupan anak. 

Penulis: Aini Hanafiah, relawan Ruanita Indonesia yang tinggal di Norwegia. Aini dapat dikontak via akun Instagram (aini_hanafiah).

(CERITA SAHABAT) Kecemasan Saya Ketika Menjadi Ibu di Jerman

Halo, sahabat RUANITA! Saya Brina Weis, asal Tangerang yang kini menetap di Jerman sejak 2018. 

Dahulu saya tidak memiliki rencana untuk memiliki keturunan. Saya berpikir saat itu adalah saya berasal dari negara lain yang juga memiliki budaya yang berbeda. Ini pasti akan sulit jika saya harus mengajari anak dengan dua budaya dan bahasa sekaligus. Bahkan saya tidak memiliki pikiran untuk menikah dengan seorang pria Jerman. Hingga pada akhirnya ketika saya berkali-kali gagal menjalin hubungan dengan pria asal negara sendiri, saya mencoba peruntungan untuk menjalin hubungan dengan lelaki Jerman yang kemudian sekarang menjadi suami.

Akhirnya, kecemasan saya satu per satu mulai muncul ketika kami dikaruniai seorang anak perempuan di tahun 2022. Itu dimulai dari mengurus dokumen-dokumen untuk berbagai keperluan hingga menghadapi rumitnya alur birokrasi di sini. Namun tidak hanya itu, kecemasan lainnya yang muncul di kepala saya salah satunya adalah bahasa dan budaya.

Saya memang sudah tinggal di Jerman sejak tahun 2018. Bahasa Jerman sendiri adalah jurusan kuliah yang saya ambil saat masih belajar di universitas pada tahun 2013 silam. Namun, tetap saja saya merasa bahwa bahasa Jerman saya terbatas. Saya merasa takut jika harus berbicara atau mengajarkan Bahasa Jerman kepada anak saya. 

Mengapa saya belum mengajarkan Bahasa Indonesia? Saya memiliki prinsip bahwa kami saat ini tinggal di Jerman dan anak kami akan bersekolah dan mengenyam pendidikan di sini. Jadi untuk sementara, saya lebih memprioritaskan Bahasa Jerman dahulu ketimbang bahasa ibu saya sendiri. Saya juga sempat membaca sebuah artikel di mana jika anak diajarkan dua bahasa sekaligus, kemungkinan ia bisa mengalami speech delay atau terlambat berbicara. Saya tidak ingin hal itu terjadi.

Follow us

Ketika di rumah, saya berusaha berbicara Bahasa Jerman dengan anak saya. Jika saya rasa ada sedikit kesalahan, saya akan mengulangi kalimat tersebut kembali dengan struktur yang benar. Memang itu terkesan sulit. Suami saya pun selalu mengoreksi jika saya salah mengucapkan sesuatu dalam Bahasa Jerman. Saya juga terkadang suka tidak sengaja berbicara bahasa bayi kepada anak saya seperti memanggilnya dengan sebutan „tantik“ yang seharusnya „cantik“ dan „cayang“ yang maksudnya adalah „sayang“. Terlebih lagi ini adalah kata-kata dalam Bahasa Indonesia. Kadang saya pun bingung, apa sebenarnya mau saya.

Belum lagi perbedaan budaya dan pola pikir antara saya dengan suami. Saya pernah bertanya pada suami, apa reaksinya jika suatu saat nanti anak kami memilih untuk menyukai sesama jenisnya. Atau pertanyaan seperti jika anak kami memilih untuk memeluk agama yang berbeda dari kami, apa reaksinya nanti. Banyak pertanyaan-pertanyaan  konyol yang kadang muncul di pikiran ketika saya memikirkan masa depan anak kami. 

Kecemasan lainnya adalah ketika saya harus berpergian sendiri dengan menggunakan transportasi umum. Saya selalu merasa cemas jika di tengah perjalanan, anak saya merasa tidak nyaman sehingga membuatnya menangis. Saya membayangkan tatapan tajam para penumpang lain kepada saya saja sudah membuat saya takut. Hal inilah yang akhirnya membuat saya berkali-kali membatalkan janji bertemu dengan kawan-kawan lainnya dan lebih memilih untuk berada di rumah dengan anak saya.

Tidak hanya itu, saya sendiri kadang merasa rindu dengan tanah air. Saya selalu membayangkan jika saja orang tua saya ada di sini mungkin akan lebih mudah, dalam mengasuh anak dan mengurus rumah karena mereka akan dengan senang hati ikut membantu. Namun saya kembali sadar bahwa saya di sini sendirian. Ditambah lagi setelah beberapa bulan kelahiran anak kami, kami memutuskan untuk pindah ke sebuah kampung kecil di Jerman selatan, tempat di mana mertua saya tinggal. Artinya, saya harus melepas pekerjaan baru saya kala itu dan juga berpamitan dengan teman-teman Indonesia saya di tempat lama. Saya benar-benar merasa sendiri.

Saat ini pun saya masih dalam masa cuti mengurus anak yang sudah berlangsung hampir satu tahun. Saya juga bersyukur bahwa anak kami mendapat tempat di Kinderkrippe (sebutan untuk tempat penitipan anak sebelum masuk TK) dan itu pun tidak otomatis ia langsung masuk saat itu juga. Ia akan masuk pada bulan September dan saya selesai cuti pada bulan Juni. Artinya, selama beberapa bulan saya harus meninggalkan anak dengan orang lain atau pengasuh untuk beberapa jam karena saya dan suami harus bekerja. 

Kami tidak bisa meninggalkan anak dengan mertua karena ibu mertua saya pun masih bekerja sedangkan bapak mertua saya punya kegiatan lain. Saya sendiri pun memilih untuk bekerja karena saya ingin membantu ekonomi keluarga kecil kami agar suami tidak berat sebelah dalam hal finansial.

Ditambah lagi, kadang saya dituntut oleh orang-orang terdekat saya untuk melakukan atau mengajarkan sesuatu kepada anak saya, seperti dia harus tidur sendiri, dia sudah bisa minum sendiri, dan lain-lain. Saya takut bila tuntutan-tuntutan itu tidak bisa saya turuti, mereka akan kecewa. Terlebih lagi mertua saya mewanti-wanti kami untuk tidak boleh salah dalam mendidik anak, berhubung anak kami adalah generasi perempuan satu-satunya dalam keluarga besar suami says. Jadi, bisa dikatakan anak kami sebagai „anak emas“ mereka.

Kecemasan-kecemasan itu akan selalu mengikuti ke mana pun langkah saya karena saya ingin menjadi orang tua yang baik untuk anak kami. Mungkin bagi orang lain terkesan terlalu berlebihan karena saya pun juga belum terbiasa. Semakin berjalannya waktu, saya mulai mencoba berdamai dengan kecemasan saya sendiri dan mencoba untuk berani menghadapinya. Semoga benang kusut dalam kepala saya satu per satu akan terurai. Semoga.

Penulis: Brina Weis, tinggal di Jerman dan dapat dihubungi melalui instagram @svasthi_

(AISIYU) Salahkan Korban

Pembuat karya: Putri Ayusha

Akun Instagram: Kertasiun

Judul karya: Salahkan Korban

Deskripsi:

‘Lagian ngapain kamu keluar malam-malam’

‘Emang kamu pakai baju apa waktu itu’

‘Kok, baru lapor sekarang?’

‘Kenapa gak ngelawan atau teriak minta tolong?’

adalah beberapa contoh pernyataan dan pertanyaan yang dilontarkan kepada para korban pelecehan atau kekerasan seksual.

Pernyataan/pertanyaan tersebut seringkali terucap baik dari petugas kesehatan, kepolisian, maupun dari orang-orang terdekat korban. Alih-alih bersimpati atau berempati terhadap situasi yang dialami korban, baik sengaja atau tidak, mereka cenderung menyalahkan korban atas kejadian tersebut.

Korban seringkali juga menyalahkan diri mereka sendiri untuk alasan yang sama dengan orang lain. Akan tetapi, menyalahkan diri sendiri seperti itu tidak sehat dan bisa berdampak serius. Kekerasan seksual adalah murni kesalahan pelaku dan tidak pernah menjadi kesalahan korban.

Dalam beberapa waktu terakhir ini, mungkin tema ini telah banyak dibahas. Beberapa pihak berwenang dan media telah mengubah cara mereka menangani korban. Namun, jalan kita masih panjang, sampai kita sama sekali terbebas dari kekerasan.

(AISIYU) Perempuan: Di Antara Bayang-Bayang Stereotip dan Hak Kesehatan Reproduksi yang Ditanggalkan

Pembuat karya: Yenik Wahyuningsih

Akun Instagram: journalananda (dan) anandazeezeny

Judul karya: Perempuan – Di Antara Bayang-bayang Stereotip dan Hak Kesehatan Reproduksi yang ditinggalkan

Deskripsi:

Kupu-kupu merepresentasikan tentang harmoni perbedaan. Adanya perbedaan warna seharusnya menjadi hal yang indah dan disyukuri. Ini berkaitan dengan stereotip, standar kecantikan perempuan.

Perempuan dengan gambar kaktus di bawah merepresentasikan isu hak reproduksi pada perempuan, karena kerap kali perempuan tidak diberikan hak atas reproduksinya

Perempuan disambung dengan  gambar baground merah dan sedikit tulisan dan tersenyum merepresentasikan adanya kebebasan. Dia merasa bebas saat menulis apa yang selama ini masih mengganjal dalam pikirannya.

(AISIYU) Hands, Voices, Freedom

Pembuat karya: Putri Silitonga

Akun Instagram: qqutri

Judul karya: Hands, Voices, Freedom

Deskripsi: Kolase yang memiliki frase “Merdeka dari Kekerasan” menampilkan gambaran perempuan menahan sentuhan yang tidak diinginkan dan dikelilingi oleh tangan yang menggambarkan sifat invasif kekerasan terhadap wanita. Adanya bahan pangan di latar belakang mewakili esensi hak dan kebutuhan dasar perempuan untuk hidup aman. Terakhir, mikrofon di bagian belakang mewakili kepentingan untuk memperkuat suara perempuan, mendorong mereka bersuara, serta mengadvokasi pembebasan mereka.

(AISIYU) Sekutu di Awan Biru

Pembuat karya: Corinthiani

Akun Instagram: corin_sinulingga

Judul karya: Sekutu di Awan Biru

Deskripsi: Di sini ada awan biru sebagai bentuk ruang bebas, di mana langit selalu memberi kesempatan kepada siapapun manusia, termasuk seorang korban kekerasan. Bahkan, seorang korban punya kebebasan untuk menemukan support system atau women support women, membantunya untuk membatasi hubungan berkedok mengendalikan dan menjatuhkan.

(AISIYU)  Memutus Tali Kekang

Pembuat karya: Anonim

Akun Instagram: Tidak ada

Judul karya: Memutus Tali Kekang

Deskripsi: Kolase ini bercerita tentang pentingnya lebih banyak tindakan nyata untuk memastikan perempuan dalam segala keragamannya (diwakili oleh kupu-kupu dalam berbagai bentuk dan warna) hidup bebas dari kekerasan dan pemaksaan. Dampak kekerasan terhadap kesehatan dapat berlangsung seumur hidup, mempengaruhi kesehatan fisik, mental, seksual, dan reproduksi.

(AISIYU) Menyembuhkan Diri, Mencari Jalan Keluar dari Kekerasan

Pembuat karya: Nurfadni Mutiah

Akun Instagram: fadniiiii

Judul karya: Menyembuhkan Diri, Mencari Jalan Keluar dari Kekerasan

Deskripsi: Saya punya pengalaman, dari seorang rekan yang sedang hamil dan mengalami kekerasan. Kekerasan fisik terhadap perempuan yang sedang hamil, tentunya menciptakan situasi traumatis yang berpotensi merugikan ibu dan janin. Pilihan antara tetap tinggal atau mencari tempat aman menjadi dilema sulit. Belum lagi dia perlu mempertimbangkan kesehatan mental dan fisik yang rentan. Penting untuk mencari dukungan dari keluarga, teman, atau lembaga yang kompeten dalam membantu korban kekerasan domestik. Menemukan tempat yang lebih aman dan berusaha menyembuhkan diri adalah langkah penting menuju pemulihan dan keselamatan jangka panjang.

(AISIYU) Belari Walau Terikat

Pembuat karya: Anonim Judul karya: Berlari Walau Terikat Deskripsi: Karya ini menceritakan tentang keprihatinan saya terhadap tingginya kasus kekerasan dalam hubungan, baik itu kekerasan dalam berpacaran maupun kekerasan dalam rumah tangga di mana seringkali perempuan menjadi korbannya. Saya memilih gambar mata yang memar dan kaki yang terikat sebagai simbol kekerasan yang dialami oleh perempuan korban […]

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Tak Patah Arang, Bangkit dari Kondisi Tetraplegia dan Selesaikan S2 di Jerman

Program Cerita Sahabat Spesial di bulan Desember 2023 mengangkat tema Hari Internasional Penyandang Disabilitas yang jatuh tiap 3 Desember. Ruanita Indonesia mengundang Suan Ny yang tinggal di Jerman dan tinggal di kursi roda akibat kondisi tetraplegia.

Kondisi tetraplegia adalah Tetraplegia adalah kondisi seseorang akibat cedera yang terjadi pada otak, sumsum tulang belakang atau salah satunya sehingga orang tersebut mengalami kelumpuhan dari otot leher hingga seluruh anggota tubuhnya.

Suan Ny mengalami kecelakaan mobil ketika dia bersama anak dan temannya ingin berkunjung ke suatu karnaval di Jerman. Sejak kejadian tersebut, Suan Ny harus hidup di kursi roda. Sebelum kecelakaan terjadi, Suan Ny adalah ibu rumah tangga yang bekerja paruh waktu sebagai pengajar Bahasa Indonesia di VHS dan guru les untuk siswa-siswi Jerman. Suan Ny sendiri sempat mengalami mati suri akibat kecelakaan tersebut.

Follow us

Dengan tekad dan semangatnya, Suan Ny berusaha untuk bisa menggerakkan kepala, leher, bahu, dan tangannya meskipun dia masih harus tetap hidup di kursi roda. Suan Ny bertekad untuk menyelesaikan studi S2 yang sudah dia mulai di tahun 2015. Dalam kondisi yang terbatas, Suan Ny berhasil mendapatkan kelulusan di salah satu universitas di Jerman.

Suan Ny pun sempat merasa terluka dan kecewa karena suami Suan Ny pun berusaha meninggalkan dia. Suaminya datang ke rumah sakit, saat Suan Ny masih dirawat intensif. Dia mengatakan bahwa pengacara akan mengurus perceraian mereka. Suan Ny semakin hancur ketika anaknya pun tidak mengenalinya sejak dia dirawat lama di rumah sakit.

Suan Ny berpesan: “Save yourself first, before save the others!”. Beruntungnya pemerintah Jerman membantu dan mendukung kebutuhan Suan Ny untuk bisa bertahan hidup sebagai Single Mom seorang diri.

Bagaimana kecelakaan yang menimpa Suan Ny terjadi? Apa yang membuat Suan Ny bangkit dan termotivasi sebagai Single Mom, termasuk menyelesaikan studi S2? Apa saja yang ditunjang dan dibantu oleh Pemerintah Jerman untuk Suan Ny sebagai penyandang disabilitas? Apa pesan Suan Ny untuk pemerintah Indonesia dalam rangka Hari Internasional Penyandang Disabilitas?

Simak selengkapnya dalam program Cerita Sahabat Spesial di kanal YouTube kami berikut ini:

Subscribe kanal kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi.

(AISIYU) Bebas Mimpi Buruk

Pembuat karya: Putri Ayusha

Akun Instagram: kertasiun

Judul Karya: Bebas Mimpi Buruk

Deskripsi: Kekerasan yang dialami oleh perempuan dapat menyebabkan trauma yang mendalam dan berdampak jangka panjang pada kesehatan mental dan emosional. Efek dari trauma tersebut bisa sangat mendalam, yang menyebabkan mimpi buruk dan gejala lain yang sulit diatasi. Kolase ini bercerita tentang mimpi buruk yang selalu hadir setiap malam dan menghantui hidup para korban kekerasan. Para korban tentunya sangat berharap bahwa suatu hari mereka dapat terbebas (seperti burung yang terbang bebas di langit biru pada gambar) dari mimpi buruk dan trauma yang mereka alami pasca kejadian kekerasan, serta dapat melanjutkan hidup dengan penuh harapan dan ketangguhan.

(AISIYU) Merdeka Melawan Kekerasan Seksual di Pesantren

Pembuat karya: Msy

Akun Instagram: for.mujeres

Judul karya: Merdeka Melawan Kekerasan Seksual di Pesantren

Deskripsi: Kasus kekerasan seksual bisa terjadi di mana saja. Pelaku dan korbannya pun bisa siapa saja. Komnas Perempuan mencatat lembaga pendidikan pesantren menempati urutan kedua terbanyak dalam hal kasus kekerasan seksual dalam periode 2015-2020. Pada perayaan 16HAKTP 2023, melalui kolase ini saya menyampaikan hormat kepada semua para santri yang sudah berjuang melawan kekerasan seksual yang ada di pesantren.