(CERITA SAHABAT) Mudik dan Kematian Senyap

Setiap tahun banyak keluarga diaspora yang bermukim di Belanda berlibur ke Indonesia, termasuk saya. Selain untuk berwisata, kami biasanya bersilaturahmi dan melepas kerinduan bersama keluarga di Tanah Air. Selain itu, tentu saja memanjakan lidah dengan menikmati aneka kuliner tradisional khas Indonesia.

Sejak tahun lalu, begitu banyak perubahan global yang terjadi sebagai dampak wabah corona. Pergerakan dan perpindahan atau migrasi penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain, mengalami perubahan yang sangat drastis. Boleh dibilang semua mengalami hambatan sejak Covid-19 mewabah. 

Banyak negara memberlakukan lockdown, sistem karantina yang cukup lama, sarana transportasi udara yang tidak lagi terjadwal baik, bahkan lebih banyak pesawat terparkir di hanggar airport, dan beragam dampak pandemi lainnya. Itu pada akhirnya membuat banyak keluarga diaspora termasuk saya memutuskan untuk menunda liburan ke Tanah Air. Meski kerinduan pada orang tua, keluarga, kerabat, sahabat, teman, dan tetangga di begitu besar, namun demi kebaikan bersama, memang akan lebih baik menunda mudik hingga corona terkendali. 

Sejak pandemi dimulai tahun lalu, begitu banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Bukan saja beragam aspek kehidupan yang berubah, melainkan juga berdampak pada aspek kesehatan masyarakat, yang berujung pada aspek spiritual kematian.

Pandemi ini mengabarkan berita kematian yang tak biasa silih berganti. Varian Delta mengganas dan menular dengan sangat cepat dan mematikan. Isolasi/karantina mandiri menjadi salah satu alternatif terakhir, setelah begitu banyak rumah sakit yang kehabisan daya tampung pasien. Banyak negara yang pada akhirnya memberlakukan pembatasan kegiatan kemasyarakatan. 

Follow us @ruanita.indonesia

Pandemi telah menggerus sebagian tatanan nilai dan norma kehidupan bermasyarakat. Salah satunya tata nilai kesakralan sebuah kematian. Di antara berita Covid-19, seakan muncul kultur baru yaitu kematian yang senyap. Itu sebuah kultur kematian yang seakan terpangkas dari akar spiritual keagamaan dan kultur budaya. Seperangkat aturan dan protokol kesehatan yang diberlakukan secara global menjadi salah satu penyebab prosesi kematian seseorang tanpa salam perpisahan.

Secara mental, setiap orang mungkin merasakan ruang hampa nan sunyi karena beragam pembatasan dalam melakukan kontak sosial secara ragawi. Kehampaan itu masih tetap terasa meski beragam jaringan komunikasi online kerap dilakukan. Meski sedikit mengobati kesunyian, namun tidak bisa menggantikan rasa bahagia saat bersua keluarga, tetangga, teman, sahabat, dan kolega. Itu sekarang berganti menjadi keriuhan suara dan keelokan gambar di layar gadget

Saya yang memiliki keluarga besar di Indonesia, tidak hanya kesunyian yang dirasakan, tetapi juga kekhawatiran. Sejak varian Delta merebak di beberapa negara, termasuk di Indonesia, kabar kematian dari orang-orang yang dikenal pun memenuhi inbox gadget saya. Paman, tante, tetangga, sahabat, kerabat, dan teman terdekat lainnya, meninggal karena corona. 

Begitu banyak orang yang tertular virus itu dan akhirnya harus karantina mandiri. Kebutuhan akan oksigen melonjak! Tabung oksigen menjadi barang yang begitu berharga untuk menyambung nyawa. 

Begitu banyak kisah kematian yang membuat hati miris. Di beberapa kasus, sekeluarga meninggal dalam masa karantina mandiri di rumah mereka, atau meninggal sendirian di apartemen, dan kasus-kasus lainnya yang menjadi berita. 

Kesedihan saya semakin dalam karena hampir semua kematian karena corona, menjadikan keluarga yang ditinggalkan tidak bisa melepas kepergian orang yang dicintai dengan prosesi kematian yang wajar, khidmat, dan sakral. Saya yang pernah merasakan kehilangan ditinggal ibu dan kakak laki-laki karena penyakit yang lain, dapat membayangkan trauma kehilangan yang dirasakan ayah, ibu, anak, paman, tante, tetangga, kerabat, sahabat, dan teman yang ditinggalkan karena virus itu. 

Rasa kehilangan itu akan membekas begitu dalam karena kepergian untuk selamanya tanpa prosesi perpisahan yang normal untuk jenazah, dan pembatasan kunjungan langsung pada keluarga yang ditinggalkan, meski untuk sekadar mengungkapkan rasa duka dan saling menguatkan. Sebuah kultur kematian tercabut.

Secara psikososial kematian seseorang biasanya menjelma menjadi kedukaan bersama. Tak heran bila orang-orang yang ada di sekitar keluarga yang berduka bergandengan tangan, saling menguatkan, dan berbagi rasa optimistis akan masa depan. Namun, di masa pandemi ini, mencegah kemungkinan wabah semakin meluas, setiap orang atau kelompok orang seakan menjaga jarak. Setiap orang dibayangi dengan pemikiran dan ketakutan tiba giliran mereka meninggal dalam kesendirian, sunyi tanpa sempat mengucap salam perpisahan pada orang-orang yang dicintai. 

Bagaimanapun fase kematian akan menghampiri setiap yang bernyawa. Meski demikian, kematian yang indah dan baik tetap menjadi impian dalam hidup seseorang. Prosesi kematian bukan saja layak bagi yang meninggal, melainkan juga penting buat keluarga yang ditinggal pergi. Setidaknya, mereka mempersiapkan ruang kosong dalam kehidupan setelah ditinggal pergi orang terkasih supaya tidak hampa dan tetap optimistis. 

Semoga pandemi ini segera dapat teratasi dan semua memulai kembali kehidupan sosial secara normal. Dengan demikian, kelak bisa meninggal dalam keikhlasan dan dapat sekadar mengucap salam perpisahan pada orang-orang tersayang. Kehidupan memang begitu berharga, namun kematian pun menempati ruang yang penting dalam aspek sosial kemasyarakatan. 

Saya berharap dapat segera mudik dalam situasi normal. Saya sudah tidak sabar melepas segala rindu dengan pelukan hangat dan eratnya jabat tangan di tanah air. 

Penulis: Risti Handayani, tinggal di Belanda dan dapat dikontak via Facebook Ristiyanti Handayani. Tulisan ini sudah diterbitkan dalam buku berjudul: Cinta Tanpa Batas – Kisah Cinta Lintas Benua yang merupakan kerja sama antara RUANITA dengan Padmedia Publisher. 

(PODCAST RUMPITA) Mengenali Reiki, Pendekatan Kesehatan Komplementer dari Jepang

Dalam diskusi Podcast RUMPITA pada episode ke-21 ini, Ruanita Indonesia mengangkat tema tentang Reiki, yang dianggap sebagai terapi komplementer untuk kesehatan manusia sebagai pendekatan Holistik.

Untuk membahas lebih dalam Reiki, yang berasal dari Jepang ini, Ruanita Indonesia mengundang sahabat Ruanita yang menetap di Jerman dan telah menjadi Master Reiki.

Master Reiki adalah satu tingkatan lebih tinggi dari praktisi Reiki, yang telah menyelesaikan serangkaian pelatihan dan dianggap telah berhasil memberikan energi ke yang lain.

Master Reiki yang diundang untuk membahasnya lebih dalam adalah Ratitia, yang juga owner dari salon dan spa di Jerman. Ratitia menjelaskan bahwa Reiki berasal dari Jepang, sehingga disebut sebagai Reiki dari kata Rei dan Ki, yang berarti menjadi energi kekuatan.

Kalau energi kita rendah atau lemah, kita menjadi sakit. Reiki itu adalah kita semua dan ada di dalam diri kita semua. Kita yang bahagia adalah orang yang punya energi tinggi.

Untuk mendapatkan energi yang bagus adalah orang bisa belajar Reiki atau dia juga bisa ‘Gift’ sehingga tuned in dalam dirinya. Kalau energi yang dihasilkan adalah positif, maka kita menjadi lebih sehat, lebih bahagia, dan tidak mudah terserang penyakit.

Reiki membersihkan, meluruskan, dan memperbaiki jalur energi tersebut sehingga menjadi cara yang alamiah.

Reiki membuat kita relaksasi, aman, sejahtera dalam hidup. Meski sederhana dipelajari, tidak bisa diajarkan biasa tetapi diteruskan (attunement) atau pengisian energi yang diberikan oleh Master Reiki, kecuali orang tersebut memiliki “Gift” yang mungkin dia tahu bagaimana mengelolanya.

Reiki bisa dikombinasikan dengan terapi lainnya, karena Reiki hanya meletakkan tangan ke badan pasien. Ratitia juga mengajari terapis spa yang menjadi karyawannya untuk memberikan energi Reiki agar mereka tidak mudah sakit.

Follow us @ruanita.indonesia

Bagaimana kita bisa belajar Reiki untuk pemula? Apa yang membedakan Reiki dengan terapi komplementer lainnya untuk kesejahteraan batin dan well-being? Apakah mungkin Reiki bisa dilakukan dalam kondisi jarak jauh? Dalam kehidupan digital, apakah Reiki bisa dilakukan juga lewat media digital? Berapa besaran biaya untuk belajar Reiki dan mendapatkan “attunement” dari Master Reiki?

Diskusi Podcast selengkapnya dapat disimak sebagai berikut:

(IG LIVE) Patahkan Perilaku Body Shaming Dimulai dari Diri Sendiri dan Bangun Lingkungan yang Supportive

Sebagaimana program rutin tiap bulan, diskusi IG Live pada bulan Januari 2024 kali ini membahas tema Body Shaming, yang dipandu oleh Rida Lutfiana Zahra, Mahasiswi S2 di Jerman. Selanjutnya Ruanita Indonesia mengundang narasumber yakni: Firman Martua Tambunan, Psikolog Klinis di Jerman dan Anna Mitzi yang bekerja di Jakarta, Indonesia.

Awalnya Mitzi bercerita tentang pengalamannya yang pernah mendapatkan komentar negatif terhadap tubuhnya di area publik, ketika dia sedang memasuki masa pubertas. Mitzi sempat diberi komentar negatif karena merasa badannya terlalu kecil dan kurus, sehingga Mitzi menjadi insecure dan mulai memakai baju-baju yang menutupi tubuhnya. Pada akhirnya body shaming telah membentuk pikiran negatif dan citra diri yang negatif, sebagaimana yang disetujui oleh Rida sendiri. Body shaming di masa pubertas itu bisa menjadi memori yang membekas, apalagi komentar negatif.

Firman pun menjelaskan tentang penyebab perilaku melakukan body shaming dalam keilmuan psikologi. Dalam psikologi sosial, ada proses belajar dari orang-orang sekitarnya untuk melakukan tindakan body shaming juga di masa depan. Ada pula karakteristik narsistik yang membuat perilaku body shaming sebagai kompensasi untuk menjatuhkan orang lain. Selain itu, Firman juga menegaskan bahwa perilaku body shaming bisa terjadi karena pernah menjadi korban body shaming.

Kita bisa mengalihkan fokus dari body shaming terhadap hal-hal yang menjadi pencapaian dalam diri sendiri seperti prestasi akademik, talenta atau bakat yang perlu dipertajam. Sebagai makhluk sosial, kita perlu menentukan siapa orang-orang sekitar yang supportive sehingga tidak membuat citra diri yang buruk.

follow us

Menurut Mitzi, kita bisa punya kontrol terhadap komentar di sosial media tentang body shaming dengan bersikap asertif. Misalnya: “Terima kasih perhatian kamu. Aku sudah berusaha untuk menambahkan berat badan, tetapi memang tubuhku seperti ini.” Orang-orang yang peduli dengan kita adalah orang-orang yang memberikan value, bukan hanya memberikan komentar negatif. Kita juga perlu melakukan penerimaan diri, seperti Mitzi berdiri di depan kaca setelah mandi untuk mengenali diri sendiri, sehingga kita bisa mencintai diri kita sepenuhnya.

Apakah body shaming itu juga dipengaruhi oleh budaya? Apakah ada pengaruh lainnya seperti standar kecantikan dalam industri hiburan juga turut memicu perilaku body shaming? Apakah perilaku body shaming bisa dihentikan? Bagaimana kita bisa mengontrol diri sendiri agar terhindar dari body shaming? Apa saran para narasumber agar perilaku body shaming tidak berlarut-larut sehingga memperkuat standar kecantikan di masyarakat atau media sosial yang tidak realistis?

Rekaman diskusi IG Live selengkapnya dapat dilihat dalam kanal YouTube

Subscribe us untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Ini Pesan Saya Sebagai Korban Body Shaming

Halo Sahabat Ruanita, saya senang sekali bisa terlibat dalam program Cerita Sahabat. Nama saya Nena dan berumur 42 tahun. Saya sudah pernah merasakan tinggal di Singapura, Australia, dan sekarang di Amerika Serikat selama kurang lebih masa kanak-kanak dan remaja. Kini aktivitas saya sehari-hari adalah ibu rumah tangga yang bekerja tetapi tidak full time

Tak hanya itu, saya mengisi waktu lowong dengan menjadi praktisi Pilates dan relawan Kanker yang dialami oleh remaja dan orang dewasa. Dalam cerita sahabat ini, saya ingin membagikan tema body shaming yang saya alami sendiri. Pengalaman pertama kali body shaming berupa ujaran kebencian yang saya rasakan ketika saya masih berusia 8 tahun. Mereka bilang kalau saya itu kurus, hitam, dekil, hidung oplas (=operasi plastik), dan lainnya. Saya tidak tahu mengapa mereka bilang hidung saya seperti itu. Mungkin hidung saya panjang seperti hidung pinokio. Entahlah.

Body shaming itu masih saya alami hingga sekarang. Karena begitu banyak, saya sampai menganggap itu sebagai hal biasa. Tak hanya body shaming, saya juga kadang mendapatkan ujaran kebencian seperti: Stupid, bodoh banget, dan lainnya. Pelaku biasanya orang Indonesia yang sudah dewasa, tetapi yang bilang seperti itu dari orang asing mungkin hanya satu atau dua orang saja. 

Menurut saya, pelaku body shaming melakukannya karena dia sendiri merasa tidak percaya diri dengan dirinya. Itu sebab, mereka punya kebiasaan untuk menyerang orang lain. Saya berpikir pelaku body shaming mungkin bisa jadi kurang bahagia atau tidak bahagia saat mereka masih kecil. 

Selain itu, saya melihat bahwa pelaku body shaming yang suka melakukan bullying ini sepertinya melampiaskan kekecewaannya pada orang lain. Bisa jadi pelaku pernah mengalami trauma masa kecil yang tidak atau belum terselesaikan. Mungkin saja dia pernah menjadi korban bullying juga. Seperti pengalaman saya, saya melihat pelaku body shaming itu pernah menjadi korban bullying dalam keluarga. Korban body shaming itu tidak pernah mengenal usia, menurut pengalaman saya.

Karena sedari kecil saya sudah mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan seperti itu, maka saya sudah punya ilmu bagaimana harus menangkal hal-hal tersebut. Saya belajar dari ibu saya. Intinya, kalau mereka serang maka kita tidak perlu diam saja. Nanti, kita akan terus diinjak dan dilecehkan. Ibaratnya kalau mereka menyerang mental saya, mereka berpikir saya penakut.

Sejak kecil, saya sudah diikutsertakan ibu untuk olahraga bela diri. Mungkin itu yang mendasari saya untuk tidak takut ketika ada orang yang berusaha menyerang saya, termasuk menyerang psikis saya.

Follow us

Beruntungnya saya tidak sampai depresi hanya karena body shaming. Saya mendengar banyak korban body shaming yang mengalami depresi hingga bunuh diri. Saya bisa membayangkan bahwa pelaku body shaming menyerang mental korban sehingga tidak tertahankan lagi. Kondisi mental seseorang memang berbeda-beda setiap orang sehingga tidak bisa dipukul rata. Ketika ada orang yang menjadi korban body shaming berhasil menangkalnya seperti saya, sementara lainnya tidak.

Untuk mengatasi body shaming nyatanya itu tidak mudah. Saya bukan ahli kejiwaan yang bisa dengan mudah menjawab ini. Saya berpikir bahwa pelaku diberi hukuman penjara saja, belum tentu menjadi jaminan kalau dia tidak melakukannya lagi. Mungkin Tuhan “menyentil” para pelaku ini sehingga mereka sadar dan tidak melakukan body shaming lagi. 

Sebagai korban body shaming, saya berpesan kepada kalian yang juga korban body shaming bahwa kalian tidak sendirian. Ayo, bangkit untuk memikirkan diri sendiri, bukan para pelaku body shaming yang bertujuan menjatuhkan mental kita. Ketika psikis kita terganggu, maka kita menjadi rentan terserang penyakit juga. Sebagai korban body shaming, saya ingin mendorong siapa saja untuk melakukan aktivitas yang lebih positif ketimbang menyerang tubuh orang lain. 

Jangan takut untuk kehilangan pertemanan! Adalah sebuah kemenangan ketika kita berhasil keluar dari lingkaran pertemanan toxic. Ganti circle pertemanan. Ingat, jangan mudah menyerah atau putus asa. Semoga Sahabat Ruanita selalu berbahagia!

Penulis: Nena yang dapat dikontak di akun IG nenamichelllee

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Bagaimana Memahami Identitas Anak Birasial?

Dalam program Cerita Sahabat Spesial episode Januari 2024, kami mengundang Lara Dewi yang tinggal di Austria, Jerman, dan di musim panas dia tinggal di Guatemala. Lara memiliki ibu seorang Jerman dan ayahnya adalah seorang Indonesia. Menurut Lara, kedua orang tuanya bertemu saat mereka kuliah di universitas di Jerman. Lara sempat tinggal di Jerman dan di Indonesia semasa kecil.

Lara terbiasa berkomunikasi dalam Bahasa Jerman dengan kedua orang tuanya. Lara baru belajar Bahasa Indonesia ketika dia tumbuh remaja, saat dia menempuh studi di Jerman. Lara merasa komunikasi Bahasa Indonesianya kurang lancar dibandingkan Bahasa Jerman atau Bahasa Inggris.

Semasa kecil, Lara sempat merasa pengalaman tidak mengenakkan karena orang-orang di sekitar dia menganggap dia tampak berbeda atau seperti orang asing. Di Jerman, Lara merasa orang-orang sekitarnya tidak menganggap dia sepenuhnya orang Jerman. Sebaliknya saat Lara berada di Indonesia untuk tinggal beberapa waktu lamanya, orang-orang sekitarnya menganggap Lara begitu berbeda dan tidak sepenuhnya orang Indonesia.

Pertanyaan seperti: “Dari mana?” atau “Orang mana?” adalah pertanyaan yang sering dilontarkan orang-orang sekitar Lara saat bertemu dengan Lara. Lara sempat tinggal di Indonesia untuk belajar budaya, makanan, tarian, dan kain batik. Lara suka juga tinggal di Indonesia.

Follow us

Setelah tumbuh dewasa, Lara mengakui bahwa anak birasial adalah “Gift” yang tidak semua orang memilikinya. Lara pun mulai menerima identitas dirinya.

Lara berpikir lebih terbuka, fleksibel, toleran terhadap keragaman dunia. Lara bisa memahami bagaimana anak birasial merasa kesulitan berkomunikasi dan bingung menentukan identitas dirinya.

Bagaimana pengalaman Lara semasa kecil sebagai anak birasial? Apa saja tantangan yang dihadapi Lara semasa kecil tinggal di Jerman dan di Indonesia? Apakah Lara mengalami krisis identitas untuk menentukan siapa dirinya sebagai anak birasial? Bagaimana proses Lara memutuskan kewarganegaraannya dan menerima jati dirinya? Apa harapan Lara yang lahir dan besar sebagai anak birasial kepada dunia dan pemerintah Indonesia?

Simak selengkapnya dalam program Cerita Sahabat Spesial berikut ini:

Untuk mendukung kami, silakan subscribe kanal YouTube kami.

(CERITA SAHABAT) Aku Tetap Orang Indonesia, walau Tak Berpaspor Indonesia

Halo Sahabat Ruanita, namaku Azizah. Aku tinggal di Jerman sudah 20 tahun lamanya, sejak aku berumur tiga tahun. Aku di sini karena ibuku pindah ke Jerman untuk ikut tinggal bersama ayah, yang sudah tinggal di sini sejak beliau masih remaja.

Kami adalah keluarga Indonesia. Ibu dan ayah mendidik aku dan adik-adikku dengan budaya Indonesia. Ayahku sudah 33 tahun tinggal di Jerman dan masih memegang paspor Indonesia. Ibu dan ayah berencana untuk menghabiskan masa tua di Indonesia kelak. Oleh karena itu, mereka tidak mau mengganti paspornya.

Menurut mereka, ini akan lebih gampang untuk mereka pindah ke Indonesia jika masih menjadi warga negara Indonesia. Memang pernah ada obrolan dari ayah untuk ganti kewarganegaraannya, tetapi tema tersebut sangat singkat dan tidak pernah dibicarakan lagi. 

Berbeda dengan ibu dan ayah, sejak tiga tahun lalu aku melepas paspor Indonesiaku dan menggantinya dengan paspor Jerman. Ada beberapa hal yang membuatku memutuskan untuk mempunyai paspor Jerman. Alasan pertama adalah kebebasan ber-traveling dan aku sangat suka traveling.

Aku sudah memikirkan perpidahan kewarganegaraan ini sejak berumur 15-16 tahun, masa di mana aku mengerti paspor Jerman adalah salah satu yang terkuat di dunia. Tentu saja ini mempermudah pemegangnya untuk berpergian ke mana saja. 

Waktu aku duduk di kelas 12, kelasku mengadakan karya wisata ke Irlandia. Aku adalah satu-satunya murid yang harus membuat visa untuk ke sana. Sebenarnya bukan hal yang sulit mengurus visa ke Irlandia, karena ini untuk keperluan sekolah dan guruku yang akan mengurusnya. Sayangnya, waktu itu guruku tidak mengurus salah satu dokumen yang dibutuhkan dan dia hanya menuliskannya sendiri.

Follow us

Hal ini menjadi masalah saat kami tiba di bandara di Irlandia. Aku panik sekali sewaktu  melihat semua teman-temanku sudah melewati cek imigrasi, hanya aku yang ditahan karena kurangnya dokumen tersebut. Akhirnya aku diperbolehkan untuk masuk Irlandia dengan surat probation. Kejadian ini memang bukan karena paspor Indonesiaku tapi karena keteledoran guruku.

Namun, tetap saja ini menjadi pertimbanganku untuk ganti kewarganegaraan. Pertimbangan ini semakin kuat saat aku kuliah dan harus ikut semester di luar Jerman. Tentunya, akan lebih mudah jika aku punya paspor Jerman dari pada paspor Indonesia. Tahun ini, aku berkesempatan untuk kuliah tiga bulan di Korea Selatan. Proses imigrasi sangat mudah karena aku pemegang paspor Jerman. 

Alasan kedua adalah aku ingin terus tinggal di Jerman selama hidupku. Mungkin di masa depan aku akan tinggal di negara lain, tetapi hampir tidak mungkin di Indonesia. Menurutku Indonesia adalah negara yang sangat indah dengan banyak tempat cantik, tapi aku besar di Jerman. Sistem dan kehidupan di Jerman sudah aku kenal baik.

Jika aku pindah ke Indonesia, akan banyak sekali yang berbeda, seperti gaya hidup misalnya. Di Indonesia, orang harus naik mobil jika ingin ke mana-mana, sistem kesehatannya masih belum bagus, dan sayangnya kualitas hidupnya juga rendah. Walau begitu, aku masih cinta Indonesia. Aku akan selalu ke sana untuk berlibur dan mengunjungi keluarga besarku.

Selain kedua alasan tersebut, menurutku kewarganegaraan atau nasionalisme seseorang tidak bisa dinilai dari selembar kertas. Sebaliknya, selembar kertas itu tidak bisa membuatku menjadi orang Indonesia atau orang Jerman. Aku masih orang Indonesia, walaupun aku mempunyai paspor Jerman.

Dua tahun terakhir ini, aku aktif bermain angklung di konsulat untuk belajar lebih banyak tentang Indonesia dan mempromosikan kebudayaan Indonesia kepada teman-teman Jermanku. Jiwa keindonesiaanku saat masih menjadi warga Indonesia dan sekarang setelah menjadi warga Jerman masih sama, tidak berkurang sedikitpun. Setiap berkenalan dengan orang baru juga, aku selalu bilang, aku orang Indonesia yang tinggal dan besar di Jerman. Aku tidak pernah dan tidak akan pernah bilang aku orang Jerman. 

Proses ganti kewarganegaraan cukup mudah dan cepat. Aku hanya perlu mengirimkan beberapa dokumen yang mereka minta dan formulir yang aku harus isi, lalu datang ke imigrasi sesuai dengan jadwal yang sudah aku buat sebelumnya. Petugas imigrasi di sana menjelaskan proses naturalisasi, lalu membacakan sumpah yang harus aku setujui.

Kalau tidak salah, ada dua kalimat yang aku harus ulangi untuk sumpah, setelah itu aku menjadi orang Jerman. Petugas menggunting sampul paspor Indonesiaku menjadi segitiga. Saat itu, aku merasa sedikit sakit hati atau tidak enak melihat paspor Indonesiaku dirusak olehnya, walau sebenarnya tidak parah juga. Jujur, setelah aku mendapatkan paspor Jerman, aku tidak merasa senang ataupun kecewa. Aku merasa netral saja. Menurutku, itu hanya selembar kertas atau dokumen untuk berpergian dengan mudah.

Aku juga merasa bersyukur punya keluarga yang menghargai keputusanku. Saat aku memutuskan untuk berganti kewarganegaraan, ibu dan ayah tidak menentang. Namun, mereka khawatir apakah ini keputusan yang tepat untukku. Aku bisa mengerti kekhawatiran mereka tetapi waktu itu aku sudah yakin dengan keputusanku. Keluarga besarku di Indonesia juga punya kekhawatiran yang sama, tetapi mereka bisa mengerti keputusanku setelah aku menceritakan alasan-alasanku. 

Aku punya banyak teman-teman Indonesia yang lahir dan besar di sini. Ketika mereka mendengar keputusanku berganti kewarganegaraan, tidak ada yang kasih tanggapan khusus karena mereka juga mempunyai pengalaman dan masalah denganku yang sama saat traveling ke luar negeri.

Ada juga dari mereka yang bilang, bahwa mereka sedang menimbang-nimbang ingin ganti kewarganegaraan. Namun, ada juga yang bilang mereka akan tetap menjadi warga negara Indonesia karena mereka nanti ingin tinggal di Indonesia. Apa pun keputusan mereka, aku bisa mengerti. 

Teman-teman Jermanku juga tidak memberikan komentar negatif tentang perpindahan kewarganegaraanku. Mereka semua sangat positif dan bisa mengerti keputusan dan alasannya. Mereka tidak heran atau bereaksi aneh. Mereka netral. Untuk tulisan ini, aku sempat bertanya ke teman-temanku, bagaimana mereka melihatku.

Mereka bilang, aku adalah orang Indonesia yang besar di sini. Alasan mereka adalah aku tidak lahir di Jerman, orang tuaku orang Indonesia, dan secara kultur aku lebih Indonesia dari pada Jerman. Apa yang mereka lihat dariku sama seperti yang aku rasakan, aku tetap orang Indonesia. 

Penulis: Mariska Ajeng, penulis blog www.mariskaajeng.com yang menulis berdasarkan wawancara dengan Azizah. Azizah dapat dikontak ke akun Instagram azi_zaaah atau email info@ruanita.com

(CERITA SAHABAT) Stalking atau Penguntitan Itu Kejahatan Serius

Trigger warning: Konten berikut mungkin membuat pembaca tidak nyaman.

Halo, Sahabat Ruanita. Nama saya Amel dan saya adalah seorang penyintas kekerasan dalam hubungan berpacaran. Sebelumnya, saya tidak pernah membayangkan kalau saya mengalami kekerasan dalam bentuk apapun. Dalam relasi papa dan mama saya, saya tidak pernah melihat papa melayangkan tangannya ke mama. 

Saya juga sempat berpacaran selama empat tahun, tetapi saya pun tidak pernah mengalami kekerasan dari mantan pacar saya tersebut. Saya tidak pernah menceritakan kejadian ini kepada siapapun, apalagi ke orang tua. Saya tidak ingin membuat mereka khawatir karena saya tinggal di negeri orang. Namun sekarang, saya berani membagikan kisah ini agar berguna untuk sesama perempuan lainnya.

Pada tahun 2008, saya pindah ke Italia karena saya mendapat beasiswa kuliah di Politeknik di kota Torino. Ketika saya baru tiba setahun di Italia, saya berkenalan dengan seorang teman yang berlatar belakang agama yang sama. Ini membuat saya bahagia karena saya bisa melakukan banyak aktivitas bersama-sama dia, seperti beribadah dan mengaji bersama-sama. 

Kalau kami ngobrol, pun ‘nyambung’ sehingga pertemanan kami berlanjut menjadi berpacaran. Inilah yang kemudian menjadi titik mula munculnya tindak kekerasan. Setelah kami berpacaran, saya mulai melihat perbedaan di antara kami. Walaupun agama kami sama, tetapi latar belakang budaya kami memanglah berbeda. 

Namun, ia sama sekali tidak bisa menerima perbedaan ini. Suatu saat ketika dia marah, dia langsung menjambak rambut saya, kemudian menyeret saya ke kamar mandi. Sambil dia menjambak rambut saya, dia menyuruh saya untuk melihat ke cermin kamar mandi. Dia berteriak kepada saya dan berkata: “Vedi la puttana sei!’. Dalam Bahasa Indonesia dapat diterjemahkan: “Lihat tuh, kamu pe*****!”

Follow us

Sejak kejadian itu, saya pun langsung memutuskan hubungan dengan dia. Namun, dia tidak terima. Di situlah dia mulai menguntit atau stalking saya. Di saat yang sama, saya sedang melakukan praktik kerja di luar kota. Jaraknya sekitar 30 menit kalau saya naik kereta. 

Dia menguntit saya hingga saya naik kereta. Dia berada di gerbong berikutnya. Di kantor tempat saya bekerja pun, teman-teman saya bingung dan bertanya, siapa orang yang berdiri di luar kantor yang sedang menunggu saya. Saya mulai merasa takut dan stres karena dia terus menguntit saya. Ini yang membuat saya untuk pindah apartemen. 

Ketika skripsi saya sudah selesai, saya berpikir untuk pulang ke Indonesia. Seorang teman, yang kini telah menjadi suami saya, menyarankan saya untuk mencoba dulu di Italia. Dia berpendapat bahwa saya berbakat. Menurutnya, sayang sekali saya malah pulang ke Indonesia. Dia pun menawarkan saya untuk tinggal sementara di rumah ibunya agar aman. Ternyata penguntitan tersebut belum berakhir. 

Mantan pacar saya itu kembali menguntit saya hingga ke rumah ibu teman saya. Padahal rumah ibu teman saya ini letaknya jauh di luar kota. Itu sekitar tiga sampai empat jam naik mobil atau kereta. Saya semakin merasa ketakutan dan dan tidak enak juga. Saya sudah tinggal menumpang di rumah tersebut, tetapi saya malah membuat ibu teman saya ini ikut khawatir, karena saya dikuntit mantan pacar. Teman saya ini pun melaporkan penguntitan ini ke polisi.

Menurut teman yang kini adalah suami saya, penguntitan adalah masalah yang sangat serius. Di Eropa, sudah banyak kejadian stalking yang berujung pada pembunuhan atau femisida. Jadi femisida atau pembunuhan terhadap perempuan telah banyak kasusnya terjadi di Eropa. 

Teman saya ini pun berusaha meyakinkan saya agar saya bisa keluar dari situasi tersebut. Dia ingin saya berani dan segera meminta pertolongan ke polisi. Saya pun melaporkan kasus ini ke polisi Italia.

Kekerasan stalking atau penguntitan menyebabkan target atau korban merasa ketakutan dan frustasi. Stalking sama sekali bukanlah bentuk kepedulian apalagi kasih sayang, melainkan sebuah tindak kejahatan karena penguntitan dilakukan oleh pelaku stalker secara sistematik. 

Pelaku biasanya memiliki dengan niatan dan taktik yang dirancang untuk menekan dan memelihara relasi yang tidak dikehendaki oleh target atau korban. Setelah kejadian penguntitan tersebut, saya butuh waktu untuk bisa kembali merasa aman. Begitu pula bagaimana saya bisa mengembalikan kepercayaan diri saya lagi. 

Ada masa di mana saya merasa bahwa semua ini terjadi karena kesalahan saya, apalagi ketika teringat dia menyebut saya sebagai sebagai pelacur. Kejadian ini sudah tiga belas tahun berlalu dan saya butuh waktu lama untuk mampu keluar dari rasa bersalah dan takut ini. 

Namun, teman sekaligus suami saya sekarang telah berusaha menyakinkan. Saya berhak untuk merasa aman dan mendapatkan yang terbaik. Dia juga mengingatkan saya untuk mengisi waktu dengan kegiatan positif untuk membantu pemulihan. 

Bagi Sahabat Ruanita, ingat selalu bahwa kita itu berharga. Jangan pernah takut untuk keluar dari situasi buruk! Jangan biarkan kalian hilang asa!

Penulis: Aini Hanafiah, relawan Ruanita Indonesia seperti yang disampaikan oleh Amelia yang berprofesi sebagai perancang perhiasan dan tinggal di Italia. Artikel ini disusun berdasarkan video program Cerita Sahabat Spesial yang ditayangkan pada bulan November 2022.