(CERITA SAHABAT) Aku Tetap Orang Indonesia, walau Tak Berpaspor Indonesia

Halo Sahabat Ruanita, namaku Azizah. Aku tinggal di Jerman sudah 20 tahun lamanya, sejak aku berumur tiga tahun. Aku di sini karena ibuku pindah ke Jerman untuk ikut tinggal bersama ayah, yang sudah tinggal di sini sejak beliau masih remaja.

Kami adalah keluarga Indonesia. Ibu dan ayah mendidik aku dan adik-adikku dengan budaya Indonesia. Ayahku sudah 33 tahun tinggal di Jerman dan masih memegang paspor Indonesia. Ibu dan ayah berencana untuk menghabiskan masa tua di Indonesia kelak. Oleh karena itu, mereka tidak mau mengganti paspornya.

Menurut mereka, ini akan lebih gampang untuk mereka pindah ke Indonesia jika masih menjadi warga negara Indonesia. Memang pernah ada obrolan dari ayah untuk ganti kewarganegaraannya, tetapi tema tersebut sangat singkat dan tidak pernah dibicarakan lagi. 

Berbeda dengan ibu dan ayah, sejak tiga tahun lalu aku melepas paspor Indonesiaku dan menggantinya dengan paspor Jerman. Ada beberapa hal yang membuatku memutuskan untuk mempunyai paspor Jerman. Alasan pertama adalah kebebasan ber-traveling dan aku sangat suka traveling.

Aku sudah memikirkan perpidahan kewarganegaraan ini sejak berumur 15-16 tahun, masa di mana aku mengerti paspor Jerman adalah salah satu yang terkuat di dunia. Tentu saja ini mempermudah pemegangnya untuk berpergian ke mana saja. 

Waktu aku duduk di kelas 12, kelasku mengadakan karya wisata ke Irlandia. Aku adalah satu-satunya murid yang harus membuat visa untuk ke sana. Sebenarnya bukan hal yang sulit mengurus visa ke Irlandia, karena ini untuk keperluan sekolah dan guruku yang akan mengurusnya. Sayangnya, waktu itu guruku tidak mengurus salah satu dokumen yang dibutuhkan dan dia hanya menuliskannya sendiri.

Follow us

Hal ini menjadi masalah saat kami tiba di bandara di Irlandia. Aku panik sekali sewaktu  melihat semua teman-temanku sudah melewati cek imigrasi, hanya aku yang ditahan karena kurangnya dokumen tersebut. Akhirnya aku diperbolehkan untuk masuk Irlandia dengan surat probation. Kejadian ini memang bukan karena paspor Indonesiaku tapi karena keteledoran guruku.

Namun, tetap saja ini menjadi pertimbanganku untuk ganti kewarganegaraan. Pertimbangan ini semakin kuat saat aku kuliah dan harus ikut semester di luar Jerman. Tentunya, akan lebih mudah jika aku punya paspor Jerman dari pada paspor Indonesia. Tahun ini, aku berkesempatan untuk kuliah tiga bulan di Korea Selatan. Proses imigrasi sangat mudah karena aku pemegang paspor Jerman. 

Alasan kedua adalah aku ingin terus tinggal di Jerman selama hidupku. Mungkin di masa depan aku akan tinggal di negara lain, tetapi hampir tidak mungkin di Indonesia. Menurutku Indonesia adalah negara yang sangat indah dengan banyak tempat cantik, tapi aku besar di Jerman. Sistem dan kehidupan di Jerman sudah aku kenal baik.

Jika aku pindah ke Indonesia, akan banyak sekali yang berbeda, seperti gaya hidup misalnya. Di Indonesia, orang harus naik mobil jika ingin ke mana-mana, sistem kesehatannya masih belum bagus, dan sayangnya kualitas hidupnya juga rendah. Walau begitu, aku masih cinta Indonesia. Aku akan selalu ke sana untuk berlibur dan mengunjungi keluarga besarku.

Selain kedua alasan tersebut, menurutku kewarganegaraan atau nasionalisme seseorang tidak bisa dinilai dari selembar kertas. Sebaliknya, selembar kertas itu tidak bisa membuatku menjadi orang Indonesia atau orang Jerman. Aku masih orang Indonesia, walaupun aku mempunyai paspor Jerman.

Dua tahun terakhir ini, aku aktif bermain angklung di konsulat untuk belajar lebih banyak tentang Indonesia dan mempromosikan kebudayaan Indonesia kepada teman-teman Jermanku. Jiwa keindonesiaanku saat masih menjadi warga Indonesia dan sekarang setelah menjadi warga Jerman masih sama, tidak berkurang sedikitpun. Setiap berkenalan dengan orang baru juga, aku selalu bilang, aku orang Indonesia yang tinggal dan besar di Jerman. Aku tidak pernah dan tidak akan pernah bilang aku orang Jerman. 

Proses ganti kewarganegaraan cukup mudah dan cepat. Aku hanya perlu mengirimkan beberapa dokumen yang mereka minta dan formulir yang aku harus isi, lalu datang ke imigrasi sesuai dengan jadwal yang sudah aku buat sebelumnya. Petugas imigrasi di sana menjelaskan proses naturalisasi, lalu membacakan sumpah yang harus aku setujui.

Kalau tidak salah, ada dua kalimat yang aku harus ulangi untuk sumpah, setelah itu aku menjadi orang Jerman. Petugas menggunting sampul paspor Indonesiaku menjadi segitiga. Saat itu, aku merasa sedikit sakit hati atau tidak enak melihat paspor Indonesiaku dirusak olehnya, walau sebenarnya tidak parah juga. Jujur, setelah aku mendapatkan paspor Jerman, aku tidak merasa senang ataupun kecewa. Aku merasa netral saja. Menurutku, itu hanya selembar kertas atau dokumen untuk berpergian dengan mudah.

Aku juga merasa bersyukur punya keluarga yang menghargai keputusanku. Saat aku memutuskan untuk berganti kewarganegaraan, ibu dan ayah tidak menentang. Namun, mereka khawatir apakah ini keputusan yang tepat untukku. Aku bisa mengerti kekhawatiran mereka tetapi waktu itu aku sudah yakin dengan keputusanku. Keluarga besarku di Indonesia juga punya kekhawatiran yang sama, tetapi mereka bisa mengerti keputusanku setelah aku menceritakan alasan-alasanku. 

Aku punya banyak teman-teman Indonesia yang lahir dan besar di sini. Ketika mereka mendengar keputusanku berganti kewarganegaraan, tidak ada yang kasih tanggapan khusus karena mereka juga mempunyai pengalaman dan masalah denganku yang sama saat traveling ke luar negeri.

Ada juga dari mereka yang bilang, bahwa mereka sedang menimbang-nimbang ingin ganti kewarganegaraan. Namun, ada juga yang bilang mereka akan tetap menjadi warga negara Indonesia karena mereka nanti ingin tinggal di Indonesia. Apa pun keputusan mereka, aku bisa mengerti. 

Teman-teman Jermanku juga tidak memberikan komentar negatif tentang perpindahan kewarganegaraanku. Mereka semua sangat positif dan bisa mengerti keputusan dan alasannya. Mereka tidak heran atau bereaksi aneh. Mereka netral. Untuk tulisan ini, aku sempat bertanya ke teman-temanku, bagaimana mereka melihatku.

Mereka bilang, aku adalah orang Indonesia yang besar di sini. Alasan mereka adalah aku tidak lahir di Jerman, orang tuaku orang Indonesia, dan secara kultur aku lebih Indonesia dari pada Jerman. Apa yang mereka lihat dariku sama seperti yang aku rasakan, aku tetap orang Indonesia. 

Penulis: Mariska Ajeng, penulis blog www.mariskaajeng.com yang menulis berdasarkan wawancara dengan Azizah. Azizah dapat dikontak ke akun Instagram azi_zaaah atau email info@ruanita.com