(CERITA SAHABAT) Living with my Bipolar: The Long Journey of Dealing with my Emotions

Disclaimer:

Sebelum kalian membaca cerita saya panjang lebar, saya ingin kalian tahu bahwa I don’t speak on behalf of every ODBs. Apa yang saya bagikan di sini adalah pure dari pengalaman dan perasaan saya pribadi. Saya menuliskannya per akhir Oktober 2023 yang mungkin saja minat dan aktivitas saya berbeda ketika kalian membacanya sekarang. Terima kasih kepada Ruanita Indonesia yang memberikan saya ruang untuk berbagi.

***

Halo sahabat Ruanita, nama saya lumayan panjang tetapi saya kerap memperkenalkan diri sebagai Dinda Mahadewi. Beberapa waktu lalu, saya masih berstatus sebagai mahasiswa rantauan dan akhirnya balik ke kampung halaman, Bali. Saat ini, saya merupakan relawan sebuah lembaga bantuan hukum. Kesibukan saya akhir-akhir ini adalah saya sedang mendampingi sebuah kasus yang masih berlangsung di suatu daerah di Bali.

Saya ingin bercerita apa yang saya alami sebagai orang dengan bipolar. Awalnya saya sama sekali tidak ‘ngeh’ bahwa ada yang salah dari diri saya sendiri, sampai akhirnya saya duduk di bangku kuliah. Suatu hari, saat sedang berlangsung materi pengantar ilmu hukum, badan saya bergetar, keringat dingin, jantung berdebar keras, tidak bisa bernapas dengan baik, rasa ingin lari dari bangku menuju pintu ruang kelas terus menderu, saya memegang erat teman yang duduk di bangku sebelah saya. 

Kejadian ini berlangsung kira-kira 5 hingga 10 menit. Setelah kejadian tersebut, saya merasakan lelah yang luar biasa. Itu kejadian pertama, dan beberapa kejadian yang sama terus mengikuti dengan gejala dan durasi yang sama. Mulai saat itu, saya berpikir bahwa ada yang salah dengan diri saya dan saya mencoba menarik benang merah dari kejadian tersebut. 

Saya bukanlah orang yang memiliki penilaian buruk terhadap psikolog ataupun psikiater. Saya netral saja, bila terjadi, terjadilah. Saya merasa ada yang salah dengan kondisi psikologis saya karena rentetan kejadian tersebut. Saya baru tahu kalau itu dinamakan panic attack. Apabila ditarik lebih jauh lagi, mungkin ada hubungannya dengan masa kecil saya yang kemudian memicu saya. Namun, saya akan menceritakan hal-hal yang saya ingat dengan jelas saja. 

Pada masa SMP, saya menggores-goreskan cutter ke tangan kiri saya. Alasannya, saya tidak ingat sama sekali. Namun, saya merasa lega setelah melakukan hal tersebut. Teman-teman saya sadar akan luka di tangan saya dan menyuruh untuk berhenti. Namun, saya tetap tidak berhenti. 

Teman-teman sekelas saya juga menilai bahwa mood saya kerap kali tidak terkendali dan ‘sensian’ bahasa kerennya waktu itu. Beberapa waktu berselang, saya akhirnya berhenti ‘sejenak’ dari aktivitas tersebut dan membuang seluruh cutter yang ada di rumah. 

Pada suatu hari, entah apa yang memicu saya, saya memecahkan piring dan belingnya kembali saya goreskan ke tangan kiri saya. Sampai kini, luka tersebut masih berbekas dan saya juga seolah bisa melihat goretan-goretan ‘hasil karya’ saya yang sudah memudar. 

Masa SMA saya bisa dibilang tidak seindah yang dikatakan orang-orang. Saya mengalami krisis kepercayaan diri dan cenderung menjauh dan enggan untuk berinteraksi dengan orang baru. Selama masa SMA ini, saya sudah ‘taubat’ dari self harming dalam bentuk ‘lukisan di tangan’. 

Selama tiga tahun saya duduk di bangku SMA, beberapa teman sekelas saya menyadari mood saya yang naik turun. Kembali saya menerima narasi dan asumsi, “Dinda, mood kamu naik turun terus ya, kamu Bipolar ya?”. Saat itu, saya sama sekali tidak mengetahui akan buta akan hal menyangkut kesehatan mental.

Setelah mengalami panic attack beberapa kali, saya anggap kehidupan kuliah saya agak mengenaskan, karena adanya krisis kepercayaan diri yang masih mengakar entah sejak kapan. Lalu 2020 pandemi hadir dan saya terpaksa harus menjalani kelas secara daring, yang mana menurut saya ini lebih menegangkan dari pada kelas secara luring. 

Saya beberapa kali panik dan tidak bisa menghadapi dosen dan teman-teman sekelas. Zoom Meeting terasa menyeramkan. Saya sempat akan mengikuti sebuah kompetisi tetapi saya memutuskan bail-out, karena keadaan saya waktu itu tidak cukup kuat lagi.

Desember 2020 merupakan puncak emosi saya yang terpendam muncul kembali. Bisa dikatakan itu semacam relapse. Saya membanting barang, merusak lukisan sendiri, tidur dalam keadaan kamar seperti kapal pecah, dan kepala rasanya penuh akan suara-suara.

Follow us

Februari 2021, saya memutuskan untuk pergi ke psikiater. Seminggu sekali saya kontrol untuk diobservasi dan diberi obat yang katanya “obat tidur”. Pada 5 Maret 2021, saya menerima diagnosa final, F31 Bipolar Affective Disorder. Awalnya saya merasa fine-fine saja karena dari awal psikiater pertama juga membicarakan tentang gangguan bipolar. Saya berasumsi  bahwa hasil observasi saya akan ditulis bipolar. Setelah saya mendapatkan final diagnosa, beberapa minggu setelahnya saya merasakan perasaan tidak terima dengan kondisi tersebut. Saya mempertanyakan apakah benar hasil observasi tersebut. Saya denial.

Dua tahun lamanya, saya berobat ke psikiater pertama tetapi saya merasa masih ada yang mengganjal. Sejak Agustus hingga September 2023, saya merasa sudah tidak “sreg” lagi dengan psikiater saya tersebut. Saya menganggap dia hanya memberikan saran-saran kosong dan hanya sekadar lewat telinga. Saya memutuskan untuk ganti psikiater. Di psikiater baru, saya merasa didengarkan dan diperhatikan, walaupun baru beberapa kali pertemuan. 

Pada pertemuan pertama, saya meminta psikiater baru tersebut untuk merujuk saya untuk menjalani test kejiwaan. Hasilnya menunjukkan bahwa memang saya memiliki spektrum bipolar dengan generalized anxiety yang skornya sangat tinggi. Saya juga merupakan tipe orang yang avoidant. Psikiater baru saya ini masih mengobservasi saya. Selain bipolar, dia mengatakan dengan gamblang bahwa saya juga memiliki indikasi Borderline Personality Disorder. Saya jujur kaget mengetahui fakta bahwa gangguan mental bisa campuran layaknya gado-gado.

Awalnya dalam keluarga, hanya ibu dan adik yang tahu akan gangguan mental saya tersebut. Semenjak ibu tahu, saya merasa ibu cenderung takut untuk melepas saya ke mana-mana sendiri karena ibu takut saya akan hilang kendali. Ibu saya terus menerus menyuruh saya minum obat secara rutin, karena terkadang saya bandel. Adik saya ya tetap begitu, tidak ada perubahan selain menjadi pengamat naik turunnya emosi saya. 

Untuk teman-teman sendiri, saya tidak menceritakan ke banyak orang. Semula saya khawatir, dianggap mengada-ngada, tetapi respon teman-teman saya justru melegakan saya. Mereka tetap menganggap diri saya seperti kebanyakan orang lainnya. Mereka tidak membedakan saya dengan status gangguan mental yang saya miliki.

Bagaimana pun, ada mitos di luar sana tentang gangguan bipolar, seperti orang yang moody dan suka berganti suasana hati. Saya rasa moody/mood swing itu wajar terjadi pada kebanyakan orang lainnya. Bedanya, pada orang dengan bipolar seperti saya yakni,  perubahan mood ekstrem yang terjadi dalam fase waktu tertentu. 

Sepanjang pengetahuan saya, untuk dibilang ‘mudah berganti suasana hati’ sebenarnya, mungkin benar atau mungkin tidak. Kembali lagi, bipolar itu tentang rentang waktu tertentu yang dialami oleh ODB (Orang Dengan Bipolar). Ini hanya berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya saja. Bisa jadi pengalaman dan pendapat ODB lainnya berbeda.

Menurut saya, ODB itu bisa tetap beraktivitas seperti umumnya dan bekerja seperti yang saya lakukan. Saya adalah bukti nyata bahwa seseorang dengan gangguan mental, masih dan tetap bisa bekerja dengan baik, asalkan ditangani dengan baik pula. Hambatan dan gangguan mungkin ada, tetapi hal itu bukan berarti ODB tidak bisa melaksanakan aktivitas seperti umumnya. 

Aktivitas yang sering saya lakukan dan menenangkan hati saya adalah membaca dan menulis. Itu adalah hobi saya, yang membuat saya tetap berada di zona stabil saya. Selama dan setelah pengobatan/terapi berkelanjutan, saya mulai menemukan ketenangan dalam diri saya sendiri. Saya juga mengenal lebih jauh diri sendiri. Saya mulai berdamai dengan diri sendiri dan orang lain, meskipun itu kadang susah tapi harus tetap dijalani. 

Selain itu, saya banyak belajar tentang ikhlas dan bersyukur terhadap hal-hal kecil yang saya alami. Akhir-akhir ini, saya mulai memberanikan diri untuk bertemu orang-orang baru dari berbagai komunitas, tidak ragu lagi untuk menyapa, dan memulai obrolan duluan. Saya juga sudah berani berbicara di telepon untuk waktu yang lumayan panjang. Sebelumnya, saya agak kurang nyaman melakukannya.

Saya tahu itu tidak mudah untuk mendapatkan dukungan sosial dari orang sekitar saya. Saya tidak menuntut orang terdekat saya, untuk selalu ada di setiap menit, jam, dan hari. Namun, hal yang saya hargai adalah bentuk dukungan secara lisan atau tulisan. Bahwa mereka di sini, kapanpun saya butuh berkeluh kesah. Itu yang membuat hati saya tergugah. Selain itu, saya ingin dianggap seperti orang-orang pada umumnya. Tidak ada stigma ini dan itu. Bagi saya, itu merupakan suatu bentuk dukungan. Saya ingin, orang-orang memperlakukan saya, seperti layaknya mereka memperlakukan orang lainnya juga.

Ada kalanya saya mengungkapkan ke seseorang bahwa saya bipolar, lalu mereka menanggapinya: “Oh begitu? Cepat sembuh ya!”. Hal ini kadang membuat saya jengkel. Sebenarnya I have accepted that I have mental disorders and I’m living with it, with my bipolar and possibly BPD. It can not be gone completely but it can be healed and stabilized as time goes by.

Ada rasa jengkel saat orang dengan sembarangan bilang: “Aduh, aku mood-nya naik-turun nih hari ini. Aku bipolar banget”. Padahal nyatanya mereka sama sekali belum pernah pergi ke tenaga profesional untuk mendiagnosis bipolar tersebut. Hal ini memunculkan stigma buruk terhadap ODB yang mengakui secara publik bahwa mereka sebetulnya adalah ODB, bukan dibuat-buat.

Untuk sahabat Ruanita yang membaca cerita saya ini, tolong tidak berpikir bahwa ODB tidak bisa beraktivitas seperti orang-orang pada umumnya. Saya tidak memilih untuk dilahirkan sebagai ODB. Sebagai catatan, bipolar bisa disebabkan karena neurotransmitter di otak tidak seimbang, genetik, kejadian traumatis, pola asuh dan lingkungan, dsb.

Dalam rangka World Bipolar Day, saya berharap besar bahwa kualitas layanan kesehatan seperti psikiater dalam menangani kliennya dapat lebih mendalam dan komprehensif. Untuk dunia kesehatan sendiri, saya berharap masyarakat mulai membangun kesadarannya akan adanya status kesehatan mental. Kesehatan mental itu pun sama pentingnya dengan kesehatan fisik. 

Penulis: Saya ingin dikenal sebagai orang biasa, yang melakukan aktivitas sebagaimana mestinya. Saya tertarik dengan isu bantuan hukum struktural dan bantuan sosial. Selain itu, saya juga tertarik dengan buku dan dunia literasi. Bisa connect dengan handle Instagram @dibacadinda ataupun @dindamhdw.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Naisen Komannossa: Di Bawah Komando Perempuan

Dalam program Cerita Sahabat Spesial episode Maret 2024 mengangkat tema tentang kepemimpinan perempuan yang masih menjadi satu rangkaian perayaan Hari Perempuan Internasional seperti tahun lalu, yakni mempromosikan isu kepemimpinan perempuan Indonesia. Untuk membahasnya lebih dalam, Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia mengundang Sahabat Ruanita yang tinggal di Finlandia dan bekerja di industri tambang.

Sebagaimana kita ketahui bahwa angka partisipasi perempuan yang bekerja di dunia STEM (=Science, Technology, Engineering, and Math) masih sangat rendah. Namun hal ini berbeda seperti yang dialami oleh Selvie yang sudah bekerja di industri tambang sejak dia menyelesaikan kuliah pertambangan di Jakarta, Indonesia.

Follow us

Setelah lama bekerja di dunia pertambangan di Indonesia, Selvie mencoba peruntungan bekerja di pertambangan di luar Indonesia.

Sejak enam tahun lalu, Selvie bekerja dan menetap di Finlandia. Selvie pun mengakui sangat sedikit yang bekerja di dunia pertambangan. Bahkan pada saat Selvie masih studi, hanya 9 mahasiswa perempuan dari 50-an mahasiswa yang studi pertambangan.

Selvie melamar pekerjaan di Finlandia dengan sistem bekerja dua minggu on-side dan dua minggu harus berada di rumah.

Selvie mengakui bahwa perusahaan tambang di Finlandia telah menggalakkan kampanye “Women in Minning”. Selvie berpendapat bisa saja perempuan tidak tertarik bekerja di dunia tambang itu identik dengan pekerjaan yang kotor atau pekerjaan yang berbahaya.

Padahal menurut Selvie, perusahaan pastinya sudah melakukan uji keamanan yang memastikan keselamatan setiap perempuan. Finlandia pun telah menetapkan aturan kesetaraan gender dalam hal profesi pekerjaan.

Selvie pun bangga akan pekerjaannya, termasuk sebagai perempuan Asia yang bekerja di dunia pertambangan yang tidak mudah. Selvie pun pernah diwawancara oleh wartawan Finlandia dan kisahnya dimuat di surat kabar lokal berbahasa Finlandia yang berjudul: Di bawah Komando Perempuan.

Bagaimana Selvie bisa bekerja di dunia tambang? Mengapa tidak banyak perempuan bekerja di dunia tambang? Apa saja faktor-faktor yang membuat perempuan bisa bekerja di dunia tambang di luar Indonesia? Apa saja syarat bekerja di dunia tambang di Finlandia, terutama perempuan? Apa pesan Selvie di Hari Perempuan Internasional.

Simak selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut ini:

Jangan lupa subscribe kanal YouTube kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi!

(IG LIVE) Kepemimpinan Perempuan

Hari Perempuan Internasional yang dirayakan tiap 8 Maret menjadi kesempatan bagi Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia untuk bersuara tentang bagaimana partisipasi perempuan Indonesia, terutama di wilayah global. Ruanita menggelar berbagai program online selama tiga minggu berturut-turut, termasuk di antaranya melakukan diskusi IG Live yang memanfaatkan platform instagram untuk berdiskusi selama 30-40 menit.

Pada episode spesial ini, Ruanita mengangkat tema kepemimpinan perempuan yang menjadi kaitan dengan Workshop Warga Menulis dan Hari Perempuan Internasional di tahun lalu. Ruanita sendiri telah berhasil menerbitkan buku kedua bersama APPIBIPA Jerman, yakni “Warna-warni Kepemimpinan Perempuan” yang ditulis oleh 13 warga Indonesia di Eropa.

Untuk membahas lebih dalam tentang kepemimpinan perempuan, kami mengundang Dyah Kartika Ayu, seorang mahasiswi S3 di The University Australian National University, Monash University, dan tinggal di Australia dan juga Aini Hanafiah, seorang kontributor buku “Warna-warni Kepemimpinan Perempuan” yang tinggal di Norwegia.

Follow us

Dyah Kartika Ayu, atau yang biasa disapa Katy menjelaskan bagaimana dinamika gerakan perempuan Indonesia sudah dimulai sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. Hanya saja potret gerakan perempuan ini tidak banyak dipublikasikan dan lebih banyak menyorot patriotisme kaum laki-laki.

Gerakan perempuan di masa kini sudah banyak di bidang profesionalitas, seperti menjadi pemimpin di perusahaan atau industri usaha kecil/menengah. Katy mengakui sudah terjadi perubahan dinamika kelompok perempuan sesuai ideologi dan keyakinannya masing-masing.

Memang diakui bahwa angka partisipasi perempuan di bidang politik dan pemerintahan terbilang rendah. Berdasarkan penelitian, Katy menyatakan ada kesulitan bagi perempuan untuk mendapatkan posisi sebagai caleg. Misalnya, faktor personal perempuan yang punya kapabilitas sebagai caleg hanya saja terbentur biaya yang tidak murah.

Perempuan yang menjadi caleg kebanyakan adalah mereka yang punya modal cukup besar. Selain itu, masih ada diskriminasi dan bias stigma terhadap caleg perempuan. Diskriminasi dan bias stigma juga masih terjadi di antara sesama perempuan, semisal bagaimana kita masih melihat cara pandang terhadap Bos perempuan.

Pendapat berbeda tentang kepemimpinan perempuan disampaikan oleh Aini Hanafiah yang berfokus bagaimana peran perempuan di area privat atau keluarga. Bahwa masih banyak pandangan bahwa peran ibu adalah pelengkapnya ayah, kenyataannya tidak demikian. Menjalani peran sebagai ibu, Aini memberi pandangan berbeda terutama saat Aini harus menetap di mancanegara dengan berbagai tantangan yang berbeda saat berada di Indonesia.

Bagaimana dinamika perempuan memimipin yang sudah ada dalam sejarah bangsa Indonesia? Bagaimana pandangan Dyah Kartika Ayu tentang kepemimpinan perempuan di bidang legislatif di Indonesia? Apa saja yang membuat perempuan sulit mendapatkan kesempatan memimpin di bidang politik dan pemerintahan? Apakah mungkin perempuan bisa menjadi pemimpin dalam keluarga atau area privat? Tantangan seperti apa yang dihadapi perempuan Indonesia dalam memimpin kehidupannya saat mereka berada di mancanegara?

Simak diskusi IG Live selengkapnya di kanal YouTube kami berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung kami berbagi lebih banyak lagi.

(SIARAN BERITA) Diskusi Daring Perayaan Hari Perempuan Internasional dan Peluncuran Buku “Warna-warni Kepemimpinan Perempuan”

Denmark/Jerman – Menjadi pemimpin merupakan bagian dari hak asasi manusia, baik perempuan maupun laki-laki. Hak asasi merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia. Sebagai hak asasi, akses menjadi pemimpin tidak bisa diabaikan karena alasan gender atau alasan penyerta lainnya, seperti ras, suku, agama, atau kondisi fisik. Urgensi perempuan menjadi pemimpin berpijak pada pentingnya suara perempuan diperhitungkan dan dipertimbangkan dalam proses-proses pembangunan. Jumlah perempuan yang mencapai setengah dari penduduk Indonesia membutuhkan kehadiran perempuan sebagai representasi suara perempuan dalam setiap pengambilan keputusan.

Secara bertahap kepemimpinan perempuan semakin diperhitungkan seiring dengan pengakuan terhadap kualitas perempuan. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa perempuan memiliki kekuatan fisik, intelektual, emosional, dan spiritual yang sama seperti laki-laki. Perempuan juga mampu melakukan hal-hal yang dapat dilakukan oleh laki-laki, baik di bidang professional, sosial, maupun pribadi, termasuk dalam hal kepemimpinan. Namun sayangnya, kepemimpinan perempuan juga masih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan laki-laki.

Follow us

Negara Republik Indonesia memiliki komitmen yang kuat untuk mengarusutamakan gender dalam pembangunan di segala bidang, baik di tingkat nasional, kawasan, maupun global. Sebagai warga Indonesia di mancanegara, Rumah Aman Kita (RUANITA) di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia bekerja sama dengan KJRI Frankfurt, DWP KJRI Frankfurt, yang didukung oleh Afiliansi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (APPBIPA) Jerman, Bildung und Gesundheit für Indonesien e.V. (BUGI), dan Persatuan Masyarakat Indonesia – Frankfurt e.V. (Permif), bermaksud menggelar diskusi daring pada Jumat, 8 Maret 2024. Acara yang bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional ini juga menjadi kesempatan untuk meluncurkan buku kedua RUANITA yang berjudul „Warna-warni Kepemimpinan Perempuan“ yang ditulis oleh 13 warga Indonesia yang tinggal di Eropa, sebagai bagian dari program Warga Menulis di tahun 2023 lalu.

Acara peluncuran buku tersebut dan perayaan Hari Perempuan Internasional ini akan diselenggarakan melalui kanal Zoom pada pukul 16.00-17.45 WIB atau 10.00-11.45 CET, dan terbuka untuk umum bagi warga negara Indonesia di mana pun. Acara ini akan dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, relawan Ruanita dan dibuka secara resmi oleh Tensi Triantoro, ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) Frankfurt. Peluncuran buku akan dilakukan oleh Andi Nurhaina sebagai ketua APPBIPA Jerman. Narasumber acara perayaan Hari Perempuan 2024 adalah Duta Besar RI untuk Denmark dan Lithuania, Dewi Savitri Wahab, yang akan menjelaskan peran KBRI/KJRI dalam mendukung partisipasi perempuan Indonesia di mancanegara.

Narasumber selanjutnya adalah Zakiyatul Mufidah Ahmad, yang adalah penerima beasiswa LPDP, seorang dosen di Indonesia, dan sedang menempuh pendidikan doktoral di Inggris. Dia akan menyampaikan materi tentang bagaimana dinamika kepemimpinan perempuan Indonesia dalam dunia digital. Sebagai penutup, Wendy A. Prajuli, yang adalah dosen di Universitas Bina Nusantara Indonesia, akan memberikan tanggapan dalam diskusi daring tersebut. Tersedia juga sesi tanya jawab dalam diskusi daring ini.

Diskusi daring ini diharapkan dapat mempromosikan partisipasi perempuan Indonesia dalam pembangunan dan berbagi informasi tentang peran perempuan Indonesia sebagai individu yang berdaya, punya potensi dan prestasi, sebagaimana yang menjadi tujuan proyek Ruanita, yakni mencapai kesetaraan gender.

Materi informasi dapat diunduh dengan mengisi formulir ini yang ditautkan.

Rekaman acara tersebut dapat dilihat pada kanal YouTube yang kami tautkan berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung kami.

(PODCAST RUMPITA) Perjalanan Studi S3 dan Keluarga ke Inggris

Diskusi Podcast RUMPITA pada episode ke-23 mengangkat tema yang berkaitan dengan perayaan Hari Perempuan Internasional yang diperingati tiap 8 Maret. Untuk membahas lebih dalam, Ruanita Indonesia mengundang Sahabat Ruanita yang tinggal di Inggris dan sedang menempuh studi S3 di University of Birmingham.

Dia adalah Zakiyatul Mufidah Ahmad yang bekerja sebagai dosen di salah satu provinsi di Indonesia dan juga seorang ibu dari tiga orang putra.

Zakiya, begitu dia disapa, merupakan salah satu penerima beasiswa LPDP yang berkesempatan juga membawa serta keluarganya untuk mendampingi beliau menjalani studi S3 di Inggris.

Dalam kesempatan diskusi podcast, Zakiya mengaku bahwa dia tidak ingin kehilangan momen kebersamaan bersama anak-anaknya, terutama hal-hal yang menyangkut pendidikan non formal yang tidak diterimanya di sekolah.

Pendidikan non formal menurut Zakiya pun sama pentingnya melalui keterlibatan peran orang tua dalam keseharian bersama anak-anak.

Zakiya ingin agar anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan yang sama baiknya seperti dirinya yang sedang menempuh pendidikan lanjutan S3 di Inggris dan dia tidak ingin menelantarkan anak-anak, terutama pendidikan non formal bersama orang tua.

Follow us

Zakiya pun berbagi peran bersama suami untuk mengurus keperluan dan kebutuhan pendidikan anak-anak selama tinggal studi S3. Zakiya mengakui anak-anak tidak mudah beradaptasi dengan situasi di Inggris, apalagi anak-anak dulu di Indonesia tinggal di wilayah rural.

Anak-anak Zakiya pun mengaku mengalami perubahan adaptasi sosial dan budaya, terutama bagaimana anak-anak dipersiapkan untuk bisa mengenyam pendidikan di Inggris.

Apa saja strategi yang dipersiapkan Zakiya agar peran sebagai mahasiswi S3 dengan ibu bisa dapat berjalan seimbang? Apa saja persiapan yang dilakukan Zakiya agar anak-anak dapat beradaptasi sosial dan budaya untuk sekolah baru mereka di Inggris? Tantangan apa yang dihadapi Zakiya dalam menjalani peran tersebut di Inggris? Apa pesan Zakiya dalam perayaan Hari Perempuan Internasional?

Diskusi Podcast selengkapnya dapat disimak berikut ini: