(CERITA SAHABAT) Living with my Bipolar: The Long Journey of Dealing with my Emotions

Disclaimer:

Sebelum kalian membaca cerita saya panjang lebar, saya ingin kalian tahu bahwa I don’t speak on behalf of every ODBs. Apa yang saya bagikan di sini adalah pure dari pengalaman dan perasaan saya pribadi. Saya menuliskannya per akhir Oktober 2023 yang mungkin saja minat dan aktivitas saya berbeda ketika kalian membacanya sekarang. Terima kasih kepada Ruanita Indonesia yang memberikan saya ruang untuk berbagi.

***

Halo sahabat Ruanita, nama saya lumayan panjang tetapi saya kerap memperkenalkan diri sebagai Dinda Mahadewi. Beberapa waktu lalu, saya masih berstatus sebagai mahasiswa rantauan dan akhirnya balik ke kampung halaman, Bali. Saat ini, saya merupakan relawan sebuah lembaga bantuan hukum. Kesibukan saya akhir-akhir ini adalah saya sedang mendampingi sebuah kasus yang masih berlangsung di suatu daerah di Bali.

Saya ingin bercerita apa yang saya alami sebagai orang dengan bipolar. Awalnya saya sama sekali tidak ‘ngeh’ bahwa ada yang salah dari diri saya sendiri, sampai akhirnya saya duduk di bangku kuliah. Suatu hari, saat sedang berlangsung materi pengantar ilmu hukum, badan saya bergetar, keringat dingin, jantung berdebar keras, tidak bisa bernapas dengan baik, rasa ingin lari dari bangku menuju pintu ruang kelas terus menderu, saya memegang erat teman yang duduk di bangku sebelah saya. 

Kejadian ini berlangsung kira-kira 5 hingga 10 menit. Setelah kejadian tersebut, saya merasakan lelah yang luar biasa. Itu kejadian pertama, dan beberapa kejadian yang sama terus mengikuti dengan gejala dan durasi yang sama. Mulai saat itu, saya berpikir bahwa ada yang salah dengan diri saya dan saya mencoba menarik benang merah dari kejadian tersebut. 

Saya bukanlah orang yang memiliki penilaian buruk terhadap psikolog ataupun psikiater. Saya netral saja, bila terjadi, terjadilah. Saya merasa ada yang salah dengan kondisi psikologis saya karena rentetan kejadian tersebut. Saya baru tahu kalau itu dinamakan panic attack. Apabila ditarik lebih jauh lagi, mungkin ada hubungannya dengan masa kecil saya yang kemudian memicu saya. Namun, saya akan menceritakan hal-hal yang saya ingat dengan jelas saja. 

Pada masa SMP, saya menggores-goreskan cutter ke tangan kiri saya. Alasannya, saya tidak ingat sama sekali. Namun, saya merasa lega setelah melakukan hal tersebut. Teman-teman saya sadar akan luka di tangan saya dan menyuruh untuk berhenti. Namun, saya tetap tidak berhenti. 

Teman-teman sekelas saya juga menilai bahwa mood saya kerap kali tidak terkendali dan ‘sensian’ bahasa kerennya waktu itu. Beberapa waktu berselang, saya akhirnya berhenti ‘sejenak’ dari aktivitas tersebut dan membuang seluruh cutter yang ada di rumah. 

Pada suatu hari, entah apa yang memicu saya, saya memecahkan piring dan belingnya kembali saya goreskan ke tangan kiri saya. Sampai kini, luka tersebut masih berbekas dan saya juga seolah bisa melihat goretan-goretan ‘hasil karya’ saya yang sudah memudar. 

Masa SMA saya bisa dibilang tidak seindah yang dikatakan orang-orang. Saya mengalami krisis kepercayaan diri dan cenderung menjauh dan enggan untuk berinteraksi dengan orang baru. Selama masa SMA ini, saya sudah ‘taubat’ dari self harming dalam bentuk ‘lukisan di tangan’. 

Selama tiga tahun saya duduk di bangku SMA, beberapa teman sekelas saya menyadari mood saya yang naik turun. Kembali saya menerima narasi dan asumsi, “Dinda, mood kamu naik turun terus ya, kamu Bipolar ya?”. Saat itu, saya sama sekali tidak mengetahui akan buta akan hal menyangkut kesehatan mental.

Setelah mengalami panic attack beberapa kali, saya anggap kehidupan kuliah saya agak mengenaskan, karena adanya krisis kepercayaan diri yang masih mengakar entah sejak kapan. Lalu 2020 pandemi hadir dan saya terpaksa harus menjalani kelas secara daring, yang mana menurut saya ini lebih menegangkan dari pada kelas secara luring. 

Saya beberapa kali panik dan tidak bisa menghadapi dosen dan teman-teman sekelas. Zoom Meeting terasa menyeramkan. Saya sempat akan mengikuti sebuah kompetisi tetapi saya memutuskan bail-out, karena keadaan saya waktu itu tidak cukup kuat lagi.

Desember 2020 merupakan puncak emosi saya yang terpendam muncul kembali. Bisa dikatakan itu semacam relapse. Saya membanting barang, merusak lukisan sendiri, tidur dalam keadaan kamar seperti kapal pecah, dan kepala rasanya penuh akan suara-suara.

Follow us

Februari 2021, saya memutuskan untuk pergi ke psikiater. Seminggu sekali saya kontrol untuk diobservasi dan diberi obat yang katanya “obat tidur”. Pada 5 Maret 2021, saya menerima diagnosa final, F31 Bipolar Affective Disorder. Awalnya saya merasa fine-fine saja karena dari awal psikiater pertama juga membicarakan tentang gangguan bipolar. Saya berasumsi  bahwa hasil observasi saya akan ditulis bipolar. Setelah saya mendapatkan final diagnosa, beberapa minggu setelahnya saya merasakan perasaan tidak terima dengan kondisi tersebut. Saya mempertanyakan apakah benar hasil observasi tersebut. Saya denial.

Dua tahun lamanya, saya berobat ke psikiater pertama tetapi saya merasa masih ada yang mengganjal. Sejak Agustus hingga September 2023, saya merasa sudah tidak “sreg” lagi dengan psikiater saya tersebut. Saya menganggap dia hanya memberikan saran-saran kosong dan hanya sekadar lewat telinga. Saya memutuskan untuk ganti psikiater. Di psikiater baru, saya merasa didengarkan dan diperhatikan, walaupun baru beberapa kali pertemuan. 

Pada pertemuan pertama, saya meminta psikiater baru tersebut untuk merujuk saya untuk menjalani test kejiwaan. Hasilnya menunjukkan bahwa memang saya memiliki spektrum bipolar dengan generalized anxiety yang skornya sangat tinggi. Saya juga merupakan tipe orang yang avoidant. Psikiater baru saya ini masih mengobservasi saya. Selain bipolar, dia mengatakan dengan gamblang bahwa saya juga memiliki indikasi Borderline Personality Disorder. Saya jujur kaget mengetahui fakta bahwa gangguan mental bisa campuran layaknya gado-gado.

Awalnya dalam keluarga, hanya ibu dan adik yang tahu akan gangguan mental saya tersebut. Semenjak ibu tahu, saya merasa ibu cenderung takut untuk melepas saya ke mana-mana sendiri karena ibu takut saya akan hilang kendali. Ibu saya terus menerus menyuruh saya minum obat secara rutin, karena terkadang saya bandel. Adik saya ya tetap begitu, tidak ada perubahan selain menjadi pengamat naik turunnya emosi saya. 

Untuk teman-teman sendiri, saya tidak menceritakan ke banyak orang. Semula saya khawatir, dianggap mengada-ngada, tetapi respon teman-teman saya justru melegakan saya. Mereka tetap menganggap diri saya seperti kebanyakan orang lainnya. Mereka tidak membedakan saya dengan status gangguan mental yang saya miliki.

Bagaimana pun, ada mitos di luar sana tentang gangguan bipolar, seperti orang yang moody dan suka berganti suasana hati. Saya rasa moody/mood swing itu wajar terjadi pada kebanyakan orang lainnya. Bedanya, pada orang dengan bipolar seperti saya yakni,  perubahan mood ekstrem yang terjadi dalam fase waktu tertentu. 

Sepanjang pengetahuan saya, untuk dibilang ‘mudah berganti suasana hati’ sebenarnya, mungkin benar atau mungkin tidak. Kembali lagi, bipolar itu tentang rentang waktu tertentu yang dialami oleh ODB (Orang Dengan Bipolar). Ini hanya berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya saja. Bisa jadi pengalaman dan pendapat ODB lainnya berbeda.

Menurut saya, ODB itu bisa tetap beraktivitas seperti umumnya dan bekerja seperti yang saya lakukan. Saya adalah bukti nyata bahwa seseorang dengan gangguan mental, masih dan tetap bisa bekerja dengan baik, asalkan ditangani dengan baik pula. Hambatan dan gangguan mungkin ada, tetapi hal itu bukan berarti ODB tidak bisa melaksanakan aktivitas seperti umumnya. 

Aktivitas yang sering saya lakukan dan menenangkan hati saya adalah membaca dan menulis. Itu adalah hobi saya, yang membuat saya tetap berada di zona stabil saya. Selama dan setelah pengobatan/terapi berkelanjutan, saya mulai menemukan ketenangan dalam diri saya sendiri. Saya juga mengenal lebih jauh diri sendiri. Saya mulai berdamai dengan diri sendiri dan orang lain, meskipun itu kadang susah tapi harus tetap dijalani. 

Selain itu, saya banyak belajar tentang ikhlas dan bersyukur terhadap hal-hal kecil yang saya alami. Akhir-akhir ini, saya mulai memberanikan diri untuk bertemu orang-orang baru dari berbagai komunitas, tidak ragu lagi untuk menyapa, dan memulai obrolan duluan. Saya juga sudah berani berbicara di telepon untuk waktu yang lumayan panjang. Sebelumnya, saya agak kurang nyaman melakukannya.

Saya tahu itu tidak mudah untuk mendapatkan dukungan sosial dari orang sekitar saya. Saya tidak menuntut orang terdekat saya, untuk selalu ada di setiap menit, jam, dan hari. Namun, hal yang saya hargai adalah bentuk dukungan secara lisan atau tulisan. Bahwa mereka di sini, kapanpun saya butuh berkeluh kesah. Itu yang membuat hati saya tergugah. Selain itu, saya ingin dianggap seperti orang-orang pada umumnya. Tidak ada stigma ini dan itu. Bagi saya, itu merupakan suatu bentuk dukungan. Saya ingin, orang-orang memperlakukan saya, seperti layaknya mereka memperlakukan orang lainnya juga.

Ada kalanya saya mengungkapkan ke seseorang bahwa saya bipolar, lalu mereka menanggapinya: “Oh begitu? Cepat sembuh ya!”. Hal ini kadang membuat saya jengkel. Sebenarnya I have accepted that I have mental disorders and I’m living with it, with my bipolar and possibly BPD. It can not be gone completely but it can be healed and stabilized as time goes by.

Ada rasa jengkel saat orang dengan sembarangan bilang: “Aduh, aku mood-nya naik-turun nih hari ini. Aku bipolar banget”. Padahal nyatanya mereka sama sekali belum pernah pergi ke tenaga profesional untuk mendiagnosis bipolar tersebut. Hal ini memunculkan stigma buruk terhadap ODB yang mengakui secara publik bahwa mereka sebetulnya adalah ODB, bukan dibuat-buat.

Untuk sahabat Ruanita yang membaca cerita saya ini, tolong tidak berpikir bahwa ODB tidak bisa beraktivitas seperti orang-orang pada umumnya. Saya tidak memilih untuk dilahirkan sebagai ODB. Sebagai catatan, bipolar bisa disebabkan karena neurotransmitter di otak tidak seimbang, genetik, kejadian traumatis, pola asuh dan lingkungan, dsb.

Dalam rangka World Bipolar Day, saya berharap besar bahwa kualitas layanan kesehatan seperti psikiater dalam menangani kliennya dapat lebih mendalam dan komprehensif. Untuk dunia kesehatan sendiri, saya berharap masyarakat mulai membangun kesadarannya akan adanya status kesehatan mental. Kesehatan mental itu pun sama pentingnya dengan kesehatan fisik. 

Penulis: Saya ingin dikenal sebagai orang biasa, yang melakukan aktivitas sebagaimana mestinya. Saya tertarik dengan isu bantuan hukum struktural dan bantuan sosial. Selain itu, saya juga tertarik dengan buku dan dunia literasi. Bisa connect dengan handle Instagram @dibacadinda ataupun @dindamhdw.