(CERITA SAHABAT) Ini Kisah Saya Ikutan Program Pertukaran Pelajar

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan nama saya Yasinta Putri Cinta Aryanti. Saya biasa dipanggil Cinta. Saya merupakan mahasiswi yang pernah tinggal di Warsawa, Polandia selama tiga bulan. Saya berada di sana untuk mengikuti program pertukaran pelajar dari bulan September hingga Desember 2023.

Pada awalnya, saya merasa takut dan ingin kembali ke rumah ketika saya mengalami perbedaan budaya antara Indonesia dengan Polandia. Saya pikir itu adalah masa-masa culture shock, walaupun saya merasa sudah  mempersiapkan diri dengan baik sebelum berangkat, ternyata ada beberapa perasaan baru yang muncul tanpa bisa saya prediksi.

Misalnya saja di minggu pertama, saya kerap merasa ketakutan di tengah kerumunan orang, karena tubuh saya yang jauh lebih pendek dari kebanyakan orang-orang di sana. 

Hal itu diperparah juga dengan raut wajah warga lokal yang tampak dingin, berbanding terbalik dengan orang Indonesia yang selalu tampak ramah dan penuh senyum. Saya lumayan setuju dengan anggapan, bahwa warga Polandia cenderung berwajah serius. Namun, berwajah dingin dan tampak serius bukan berarti hal buruk atau tidak hangat.

Ketika saya berbicara dan mengenal lebih jauh dengan orang Polandia, mereka menjadi terbuka dan lebih hangat. Bahkan, saya memiliki flatmate yang sangat ramah dan selalu membantu, bila ada masalah dengan kamar asrama. Mereka juga mudah tersenyum ketika diajak berbicara dan terbuka dalam mengutarakan pikiran, tanpa berbasa-basi. Menurut saya, raut wajah tersebut sebenarnya memang kebiasaan yang ada.

Berbicara soal kuliner, cita rasa makanan Polandia sangat berbeda dengan Indonesia. Menurut saya, makanan di Polandia cenderung memiliki rasa asam, dibandingkan rasa makanan Indonesia yang menjadi favorit saya, kebanyakan berasa pedas dan manis.

Selain itu, bumbu-bumbu yang digunakan pada makanan orang-orang Polandia cenderung lebih ringan, daripada masakan Indonesia yang kuat akan rasa rempah.

Saya sendiri memerlukan waktu hampir sebulan untuk menyesuaikan lidah saya dengan masakan lokal dan bumbu yang ada. Hal ini juga membuat saya sangat merindukan rumah.

Namun, setelah saya mengerti dan menerima perbedaan budaya yang ada, saya merasa bahwa saya memiliki “rumah kedua”, yaitu Polandia. Saya banyak belajar mendapatkan hal-hal positif selama tinggal di sana.

Follow us

Masyarakat Polandia juga cenderung sangat menghargai waktu, sehingga saya harus selalu tepat waktu ketika menghadiri kelas dan berbagai acara. Oh ya, yang saya tahu, mereka juga suka berjalan kaki dan menggunakan kendaraan umum.

Untuk pembelajaran di kelas, masyarakat Polandia lebih mengutamakan metode self-study, sehingga kami mendapatkan kebebasan dalam belajar. Namun, kita tetap harus bertanggung jawab untuk mengikuti pelajaran dengan baik, misalnya dengan cara membaca buku dan jurnal secara mandiri. 

Menjalani misi pertukaran pelajar juga memberikan saya banyak pengalaman menarik selama belajar di Polandia. Salah satu pengalaman paling menarik, ketika saya mendapatkan mata kuliah tentang penulisan secara akademik.

Saya sempat mengalami kesulitan dan harus mengulang kerangka tulisan dari awal. Walau begitu, dosen yang mengajarkan mata kuliah tersebut mau membimbing dan memberikan masukan sekaligus selalu menyemangati saya.

Bagi saya, ini sangat berkesan, karena saya merasa kalau progress dari setiap mahasiswa amat sangat diperhatikan di Polandia.

Sebagai warga Indonesia, saya tentunya tidak lupa memperkenalkan budaya Indonesia juga kepada mereka. Menurut saya, ini merupakan salah satu hal penting yang dapat WNI lakukan di luar negeri, supaya budaya tanah air dapat terus dilestarikan dan semakin dikenal masyarakat global.

Selain itu, terkadang memperkenalkan budaya ke warga negara asing dapat membuka kesempatan untuk berinteraksi, bertukar pengalaman, dan juga memperdalam pemahaman mengenai budaya satu sama lain secara mutual. 

Untuk memperkenalkan budaya Indonesia, saya bersama teman-teman awardees IISMA di University of Warsaw lainnya mengadakan dua acara yaitu Indonesian Day dan Batik Day. Selama Indonesian Day, kami mempersembahkan tarian Indonesia, makanan khas Indonesia, menampilkan aneka kain batik dan memberikan edukasi mengenai budaya di Indonesia.

Selanjutnya, sebagai orang Indonesia tentu kita bangga akan batik. Nah, saat Batik Days, kami mengajarkan cara menulis batik kepada teman-teman dari Ukraina, yang juga sedang berada di Polandia.

Saya dan teman-teman juga mengajarkan membuat pernak-pernik dari batik kepada sesama International Students di University of Warsaw.

Jika saya punya kesempatan untuk datang ke Eropa lagi, saya ingin kembali untuk belajar di Polandia. Saya menilai para pengajarnya berdedikasi untuk mendidik dan mau membimbing siswa-siswinya. Yang saya suka, mereka menuntun mahasiswanya untuk berpikir secara kritis.

Walaupun, metode belajar yang diterapkan lebih ke arah self-study, mereka tetap akan membantu. Oh ya, jika mahasiswa ada pertanyaan, kita bisa bertanya pada jam-jam yang ditentukan. Selain itu, perkembangan mahasiswa, baik di dalam maupun di luar kelas, juga amat sangat didukung. Saya pikir, ini semua karena ketersediaan sarana, prasarana, dan tenaga pengajar yang berkualitas. 

Sebagai tamu yang sedang berada di negara orang lain, menurut saya, kita harus selalu menghargai kebiasaan dan budaya setempat. Kita sebaiknya bisa beradaptasi dalam berperilaku sesuai kebiasaan yang ada.

Contohnya, kita bisa menciptakan suasana tenang, ketika kita naik public transportation, sebagaimana kebiasaan semua orang di sana yang biasa tenang di kendaraan umum.

Contoh lainnya, kebiasaan untuk membersihkan sisa bekas piring makanan dari meja, ketika kita datang berkunjung ke restoran self-service.

Nah, Sahabat Ruanita mungkin saja tertarik untuk mengikuti program pertukaran pelajar seperti yang saya lakukan. Tentu saja, kita harus selalu mematuhi aturan dan menghargai budaya yang ada, karena kita tinggal di negara orang.

Menurut saya, kita perlu memiliki pikiran dan pandangan yang terbuka juga. Ini penting, supaya kita dapat menghindari culture shock yang berkepanjangan. Selain itu, kita perlu mempersiapkan diri sebelum tinggal di luar negeri dengan cara mempelajari bahasa lokal, yakni bahasa sehari-hari yang digunakan warga di sana. 

Oh ya, kita perlu belajar cara memasak jugal loh. Bagi teman-teman yang ingin tinggal di luar negeri, saya menyarankan untuk belajar cara memasak. Ini supaya kalian tidak kesulitan dalam mencari makanan Indonesia.

Satu lagi nih yang penting, kita perlu juga belajar cara membersihkan rumah, supaya kita tidak merepotkan orang lain. Jangan lupa, kita selalu tetap bersemangat! Kita perlu memiliki pikiran yang terbuka dalam setiap langkahnya. Terakhir, jangan terlalu lama bersedih ketika hal-hal yang ditemui di negara orang berbeda dengan apa yang ada di rumah!

Terakhir, saya tentu senang sekali pernah menjadi bagian dari program pertukaran pelajar yang difasilitasi pemerintah Indonesia. Saya berharap semoga program ini selalu didukung dan terus diperbaiki dari tahun ke tahun agar nantinya exposure budaya Indonesia dapat semakin meluas di kancah internasional.

Penulis: Cinta, pernah menjadi peserta pertukaran pelajar di Polandia, dapat dikontak di akun Instagram yp_cinta.

(SIARAN BERITA) Tingkatkan Kapasitas Perempuan dalam Digital Marketing, Ruanita Indonesia Gelar Workshop Online

Jerman – Kemudahan internet di masa kini telah memberikan peluang banyak orang untuk melakukan wirausaha, apalagi jumlah pengguna internet pun semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kuantitas penggunaan internet yang meningkat ini pun semakin mendukung banyak orang, terutama perempuan Indonesia untuk melihat peluang memasarkan produk dan jasa lewat digital marketing.

Dengan maksud mewujudkan kesetaraan gender yang menjadi tujuan proyek, Ruanita Indonesia telah menyelenggarakan seri diskusi dan workshop tentang karier dan kewirausahaan perempuan. Setiap tahun, momen ini dilaksanakan dalam berbagai bentuk yang melibatkan perempuan Indonesia di berbagai negara.

Pada 2004 ini, Ruanita Indonesia telah bekerja sama dengan DWP KBRI Berlin menggelar Workshop Digital Marketing untuk tahap pemula yang digelar secara daring dalam tiga kali pertemuan, masing-masing dua jam. Pertemuan pertama (27/4) dihadiri oleh Ketua DWP KBRI Berlin, Sartika Oegroseno yang memberikan motivasi dan sambutan pembuka acara Workshop.

Dalam sambutannya, Sartika berpendapat bahwa industri kreatif terus mengalami perkembangan yang sangat pesat di masa kini dengan berkembangnya teknologi. Di era 5.0 saat ini hampir semua hal beralih ke digital.

Penggunaan smartphone dan akses internet yang meluas dimanfaatkan menjadi salah satu cara dalam memperkenalkan bisnis. Tentunya, hal yang paling berdampak adalah bagaimana berkomunikasi dan memasarkan produk atau jasa yang dialihkan ke digital.

Follow us

Tentunya, bila kita masih menggunakan marketing yang masih tradisional seperti pamflet, brosur, papan reklame, dan lainnya, bisa jadi itu tidak mudah, tidak murah, dan tidak maksimal karena dan ruang geraknya yang sangat terbatas.

Cara terbaik dan lebih efektif adalah dengan menggunakan strategi digital marketing yang lebih efisien dalam hal tenaga, waktu, biaya atau keuangan, dan juga operasional, seperti yang menjadi harapan dari workshop digital marketing yang digelar oleh Ruanita Indonesia ini.

Pemateri workshop adalah Puput Cibro, M.B.A yang adalah Digital Marketing yang tinggal di Ceko dan Singapura. Selain itu, pemateri juga didampingi oleh relawan Ruanita Indonesia lainnya yang adalah E-commerce Consultant yang tinggal dan bekerja di Berlin, Jerman. Dia adalah Putri Trapsiloningrum M.A. Sesi awal workshop dimoderasi oleh relawan Ruanita Indonesia lainnya, yakni Sesilia Susi M.A.

Peserta yang hadir di workshop terdiri atas para perempuan yang sedang memulai usaha tangible atau produk/jasa non consultant. Mereka tinggal di Indonesia, Jerman, Belgia, Hungaria, Spanyol, Belanda, dan Prancis. Harapannya, peserta mampu membuat produk digital marketing yang akan ditampilkan oleh Ruanita Indonesia di masa mendatang.

(IG LIVE) Bagaimana Adaptasi Budaya dan Sekolah Anak yang Pindah Sekolah ke Mancanegara?

Dalam diskusi IG Live yang diselenggarakan pada bulan April 2024, Ruanita Indonesia mengambil tema parenting, yang khususnya tentang bagaimana adaptasi sosial dan budaya pada anak apabila anak berpindah sekolah ke luar negeri.

Bagaimana pun urusan kepindahan sekolah anak ke luar negeri, ternyata bukan hanya soal administrasi saja.

Melalui diskusi sekitar tiga puluh lima menit, Ruanita Indonesia mengajak orang tua untuk berbagi saran dan pengalaman agar dapat mengatasi permasalahan sosial dan budaya yang dihadapi anak.

Dalam diskusi yang dipandu oleh Rida Luthfiana Zahra, yang adalah mahasiswi S2 di Jerman, mengundang dua tamu yang tinggal di Jerman dan Korea Selatan.

Mereka adalah Citra Dewi, seorang ibu yang tinggal di Korea Selatan dan Nadiya Dewantari, seorang ibu yang tinggal di Jerman. Nadiya merasa kesulitan juga untuk menjelaskan ke anak-anak bahwa mereka harus pindah ke negara lain, padahal anak-anak sudah merasa nyaman di Jepang, negara pertama sebelum pindah ke Jerman.

Nadiya membuat contoh-contoh yang mudah dicerna anak ketika anaknya sedang berusia lima tahun untuk berpindah sekolah ke Jerman, dari negara Jepang.

Citra menjelaskan bahwa perpindahan sekolah anak ke Korea Selatan, bukan hal yang direncanakan. Citra mengakui bahwa tantangan yang dihadapi anak saat pindah, lebih pada kesulitan anak mempelajari Bahasa Korea.

Citra berusaha untuk mengatasi tantangan perpindahan sekolah anak ke Korea Selatan dengan datang ke Multicultural Centre.

Follow us

Menurut Nadiya, kunci perpindahan sekolah anak ke luar negeri ada di orang tua, seperti berbagi peran antara ibu dan ayah untuk memberikan motivasi kepada anak-anak, yang disesuaikan dengan cara pandang dan usia perkembangan anak.

Sedangkan Citra berpendapat, orang tua tidak perlu khawatir apabila ingin membawa serta anak ke mancanegara dalam rangka bertugas. Selain itu, saran Citra orang tua perlu aktif untuk mencari tahu bagaimaan situasi sosial dan budaya yang menjadi negara tujuan anak agar anak tidak mengalami permasalahan.

Apa saja yang diperlukan bagi ibu untuk mempersiapkan kepindahan sekolah anak ke luar negeri? Apa saja tantangan yang dihadapi anak yang pindah sekolah ke Jepang, Jerman, atau Korea Selatan?

Bagaimana peran orang tua untuk membantu anak menyesuaikan budaya dan sosial saat anak berpindah sekolah? Apa saran Nadiya dan Citra untuk orang tua yang bertugas ke mancanegara dan perlu membawa serta anak-anak untuk pindah sekolah?

Simak diskusi IG Live selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut ini:

Silakan subscribe kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(CERITA SAHABAT) Usahaku Untuk Punya Anak

Sahabat Ruanita, perkenalkan namaku Renata. Aku tinggal di Belanda bersama suamiku dan anak kami yang berumur dua tahun. Aku dan suamiku menikah sejak tahun 2016, saat umurku sudah 34 tahun. Sejak itu kami berusaha untuk hamil, tetapi berkali-kali gagal. Pada akhirnya di tahun 2022, aku berhasil hamil dan anak kami lahir.

Setelah menikah, aku datang ke dokter kandunganku untuk minta rujukan ke klinik reproduksi, karena umurku yang waktu itu sudah tidak muda lagi. Beliau tidak langsung memenuhi permintaanku, tetapi menyuruh kami berusaha dulu sendiri selama satu tahun. Saat itu, suamiku dan aku masih tinggal terpisah karena alasan pekerjaan. Walaupun suamiku orang Jerman, tapi dia tinggal di Belanda, sedangkan aku tinggal di utara Jerman. Dokter kandunganku juga memberikan tips agar cepat hamil, sayangnya tidak berhasil.

Setahun kemudian, aku kembali ke dokterku, ternyata dia sudah pensiun dan diganti dokter lain. Sebelum memberikan rujukan, dia menyarankanku untuk tes ini dan itu, untuk mencari tahu penyebab susah hamil yang aku alami. Aku menolak, karena aku sudah mencoba secara alami seperti saran dokter sebelumnya dan biasanya di klinik reproduksi juga akan dicek semuanya. Akhirnya, aku dapat surat rujukan itu. 

Di klinik reproduksi, (Kinderwunschzentrum dalam bahasa Jerman) aku dijelaskan tentang tahap-tahap program punya anak sesuai dengan asuransiku. Aku hanya mempunyai asuransi umum, karena program kehamilan itu juga terbatas. Pada tahap pertama, kami dijelaskan penyebab-penyebab susah hamil. Selain tes hormon, rahimku juga diperiksa oleh mereka. Menurut mereka, tubafalopi kiriku tertutup dan ada polip di sana. Oleh karena itu, mereka melakukan operasi kecil untuk membuka pintu jalan tubafalopi itu ke rahimku dan mengangkat tiga polip yang sebesar buah ceri. Setelah itu, aku tidak boleh berhubungan seks selama tiga bulan.

Usai pasca operasi, aku kembali ke sana. Ternyata mereka menemukan polip lain, sehingga aku harus kembali ke ruang operasi. Setelah operasi pengangkatan, tetap saja aku belum hamil. Baru saat itulah, mereka menyarankan agar suamiku juga diperiksa. Hasilnya adalah sperma suamiku bermasalah. Kami susah hamil karena ada masalah dengan rahimku dan sperma suamiku. Setelah proses ini, kami kemudian bisa merencanakan proses inseminasi. Pengalamanku membuat janji di klinik reproduksi untuk proses ini tidak mudah, ditambah suamiku tinggal di negara lain. Di tahun 2017, aku pindah kerja ke Düsseldorf, sebuah kota di perbatasan Jerman dengan Belanda, agar bisa bertemu lebih sering dengan suamiku. Proses inseminasi ini dilanjutkan di sana. 

Asuransi umum di Jerman memberikan kesempatan delapan kali inseminasi dalam waktu dua tahun. Setelah kesempatan ini habis, baru proses bayi tabung bisa direncanakan. Total aku melakukan empat kali inseminasi. Dua kali berhasil hamil, tetapi keduanya aku keguguran. Aku putus asa, walau dokter bilang aku mengalami kemajuan karena terbukti bisa hamil.

Follow us

Aku meminta dokterku untuk langsung mencoba program bayi tabung karena umurku yang tidak lagi muda. Dokter kemudian membuat rencana program bayi tabung dan memberikan kami perkiraan biaya, yaitu sebesar 12.000-15.000 Euro yang harus kami bayar sendiri. Menurut hasil pemeriksaan mereka, hanya suamiku yang punya masalah sehingga aku susah hamil. Padahal menurut hasil pemeriksaan di kota sebelumnya, aku juga punya masalah. Sayangnya, suamiku tidak punya asuransi di Jerman, sehingga biaya tersebut harus kami tanggung sendiri. 

Setelah diskusi tersebut, kami berpikir untuk mencoba juga di Belanda. Sebelum aku memulai program bayi tabung, aku sempat hamil alami. Aku senang sekali bisa hamil sendiri tanpa bantuan, tapi sayangnya aku keguguran lagi. Waktu itu, aku posisinya baru pindah ke Belanda. Aku tidak mengerti harus ke mana, karena tidak seperti di Jerman yang banyak klinik dokter kandungan. Di lokasi tinggalku Belanda, aku tidak tahu di mana. Semua harus diurus di rumah sakit. Akhirnya, aku buat janji lagi dengan dokterku di Düsseldorf. Sayangnya, aku keguguran sebelum sempat ke sana untuk periksa kehamilan. 

Aku ingat, hari itu adalah hari sabtu. Praktik dokter tutup dan aku mengalami pendarahan saat berada di rumah kami di Belanda. Akhirnya, aku dan suamiku pergi ke Unit Gawat Darurat (UGD) di Düsseldorf. Menurut dokter jaga, wajar berdarah saat hamil, dan detak jantung janin juga masih ada. Malam itu, kami kembali ke rumah kosku di Düsseldorf. 

Keesokan harinya pendarahanku semakin parah, kami kembali ke UGD. Di sana dokter mengatakan detak jantung janinku sudah tidak ada. Duniaku runtuh, seperti lantai ditarik dari kakiku. Aku masih menyangkal dengan berpikir, “Masak sih? Kemarin masih ada (detak jantungnya). Salah kali alatnya. Salah kali dokternya.” Kami pulang kembali ke rumah kosku.  

Jam tiga pagi aku terbangun karena perutku sakit. Saat di atas toilet, aku merasa ada yang keluar. Aku pegang, bentuknya kecil seperti gummy bear. Saat itu aku tidak tahu itu apa. Antara sadar dan tidak sadar, aku flush dia ke dalam toilet. Belakangan aku baru sadar, kenapa waktu itu aku flush dia dan tidak  aku makamkan? Namun, pada saat kejadian tersebut, aku masih dalam fase penyangkalan. Dan semua itu terasa seperti mimpi. Aku masih berpikir itu bukan bayiku, bayiku masih di dalam rahimku. Setelah itu, aku langsung membangunkan suamiku, karena aku mengalami pendarahan hebat. Pada malam tersebut, aku dikuret di rumah sakit dan dirawat inap satu malam. Dokter di UGD menyarankan aku untuk melakukan pemeriksaan genetik, setelah dia tahu bahwa ini adalah keguguranku yang ketiga. Keguguran ini juga membuatku mengalami depresi dan sempat menerima terapi psikologi.

Beberapa bulan setelah keguguran ini, aku mendatangi klinik di Jerman untuk pemeriksaan genetik, seperti yang disarankan oleh dokter UGD. Tes hormon dilakukan untuk mengetahui alasan keguguran yang aku alami tiga kali. Dari pemeriksaan, ditemukan aku mengalami antiphospolipid syndrome (APS) pada kehamilan, yang membuat tubuhku melihat janin sebagai benda asing. Untuk mengusir “benda asing” ini, terjadi pengentalan darah di rahimku. Mereka memberikan saran, kalau aku hamil lagi aku harus dapat suntikan pengencer darah.

Sambil pemeriksaan ini, aku juga mendatangi klinik reproduksi di Belanda. Aku ceritakan tentang diagnosa tersebut, dokternya berkata “Tugas saya hanya membuat orang hamil, bukan mempertahankan kehamilan.” Namun, dia juga mendiskusikan hal ini ke dokter kandungan. 

Program hamil di Belanda sedikit berbeda dengan di Jerman. Di Belanda, semua biaya di-cover oleh asuransi. Tidak ada istilah, siapa yang “salah” dia yang harus bayar program hamil. Padahal saat di Jerman, kami disodori perkiraan biaya karena suami “penyebab” aku susah hamil. Oh ya, sebelum program bayi tabung dimulai, suami dites kembali oleh klinik reproduksi di Belanda. Hasilnya, dia sehat dan spermanya baik-baik saya. Hal ini bertentangan dengan dua hasil tes di Jerman. Batas umur di Belanda juga lebih tinggi, yaitu 43 tahun, sedangkan di Jerman 40 tahun. Di Belanda, aku mempunyai tiga kali jatah untuk program bayi tabung. Semuanya gratis.

Saat pertama kali datang ke klinik reproduksi, aku langsung dikasih resep obat suntik untuk menstimulasi hormon tubuh agar sel telurku keluar. Obat ini harus aku suntikan ke diriku sendiri selama 10 hari, dimulai dari hari pertama menstruasi. Mereka juga memberikan checklist, apa saja yang aku harus lakukan setiap hari, termasuk jam berapa aku harus disuntik. Setelah 10 hari pemberian suntikan, aku diminta datang lagi ke klinik untuk dicek, apakah ada sel telur yang siap untuk keluar.

Program pertama ini seperti percobaan untuk mengetahui berapa dosis yang sebenarnya dibutuhkan tubuhku. Dalam program pertama ini aku tidak hamil, karena dosisnya terlalu kecil untuk tubuhku, sehingga tidak ada reaksi apa pun. Pada program kedua, dokter memberikan dosis dua kali lebih besar dari dosis pertama. Dokter mengatakan itu adalah dosis tertinggi. Aku tidak akan diberikan lebih dari dosis tersebut. 

Berbeda dengan program pertama, di mana sel telurku tidak muncul, pada program kedua ini sel telurku ditemukan di tubafalopi kanan dan kiri. Jumlah dan ukuran mereka juga, ada yang siap untuk keluar dari tubafalopi. Setelah dilakukan pengecekan, aku diminta untuk tidak menyuntik lagi malam itu. Sebagai penggantinya, aku diberikan suntikan agar merangsang sel telur untuk keluar keesokan harinya. Aku diminta untuk menyuntik sendiri di rumah pada jam yang sudah ditentukan klinik. Mereka sudah memperhitungkan agar sel telur keluar saat aku berada untuk proses pengambilan sel telur dari folikel. Setelah sel telur diambil lewat vagina, pembuahan dilakukan saat itu juga. Suamiku datang 30 menit sebelumnya, agar spermanya bisa dibersihkan dan dipilih yang paling baik. 

Di Belanda, sel telur yang sudah dibuahi akan dikembalikan ke rahim setelah tiga hari, sedangkan di Jerman lima hari. Perbedaan lain, Belanda lebih hemat menggunakan obat bius pada saat proses pengambilan sel telur. Hanya bius lokal, bukan bius total seperti di Jerman. Pemeriksaan darah dan USG juga lebih hemat. Waktu aku hamil inseminasi di Jerman, aku periksa darah setiap dua hari. Di Belanda tidak seperti itu. Aku harus menunggu delapan minggu sampai aku boleh periksa darah dan USG untuk mengetahui, apakah ada detak jantung janinku atau tidak. Aku merasakannya, delapan minggu terlama di hidupku. Apakah janin berkembang atau tidak, kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi, menurut pendapat dokter kandunganku di Belanda. Bagaimana pun, itu sudah menjadi takdir. Alhamdulillah, aku benar-benar hamil. 

Di awal kehamilan, aku kembali ke Düsseldorf untuk pemeriksaan genetik. Aku diberikan obat pengencer darah yang harus aku suntikkan setiap hari hingga enam minggu setelah melahirkan. Selama hamil, aku juga lima kali harus diopname karena pendarahan. Akibat obat pengencer darah itu, memang aku gampang berdarah. Karena aku sedang hamil dan masih di bawah berusia tiga bulan, kami langsung ke UGD untuk pemeriksaan. Waktu itu, aku tidak ada pilihan lain, sehingga aku menjalaninya saja. Aku juga berpikir, semua ini akan selesai begitu anakku lahir. Selama kehamilan, aku mengatakan ke suami, kalau aku hanya ingin hamil sekali ini saja. Namun, begitu anakku sudah lahir, aku lupa sakitnya berbagai suntikan-suntikan itu.

Adopsi juga merupakan salah satu opsi untuk aku dan suamiku. Bahkan sampai sekarang, suamiku masih bilang untuk mengadopsi anak kedua. Begitu kami dihadapi pada pilihan tersebut, kami sejujurnya merasa sulit juga memutuskan, karena kami tidak tahu latar belakang keluarga dan kesehatannya. Selain itu, anak adopsi pun tidak lahir dari rahimku sendiri, sehingga aku takut tidak bisa menyayanginya seperti menyayangi anak kandung sendiri. Namun, sekarang saat aku sudah punya anak kandung, apakah aku bisa adil dengan anak kandung dan anak adopsi? Jawabannya tidak mungkin untukku. Jika anakku mungkin sudah besar, aku akan mempertimbangkannya lagi.

Kami memang ingin memiliki anak lagi. Di Belanda, jika program hamil berhasil, maka orang tua kembali mempunyai tiga kali kesempatan untuk mencoba program hamil. Setahun anakku lahir, kami mencoba lagi. Sayangnya gagal. Bulan Januari tahun ini, kami juga mencoba lagi untuk kedua kalinya. Sayangnya, kembali gagal. Kami sebenarnya masih punya satu kali kesempatan lagi, tetapi sepertinya tidak akan kami ambil lagi, karena perubahan situasi hidup kami. Suamiku kembali bekerja dan tinggal di Jerman, sedangkan aku dan anakku masih tinggal di Belanda sampai kontrak kerjaku di Belanda selesai pada pertengahan tahun ini.

Untuk Sahabat Ruanita yang sedang berusaha untuk hamil, jangan menyerah! Aku tahu bagaimana rasanya, seperti jatuh ke jurang setiap menstruasi. Ini seumpama, kita berusaha naik ke lembah jurang tersebut, setiba di atas, kita sudah jatuh ke jurang lagi, karena ternyata kita menstruasi lagi. Teknologi kesehatan zaman sekarang sudah maju sekali. Aku sendiri takjub dengan majunya teknologi kehamilan saat ini. Kita bisa mencari tahu penyebab gagalnya kehamilan dan keguguran, meskipun kita mungkin tidak mendapatkan jawaban dan solusinya. Aku bersyukur bahwa aku mendapatkan rujukan untuk tes genetik dan mendapatkan solusi agar keguguran tidak lagi terjadi, yaitu suntik hormon selama sembilan bulan kehamilan.

Aku juga bersyukur bahwa aku tinggal di luar Indonesia, sehingga tidak ada yang sering bertanya, “Kapan hamil?”. Menurutku, pertanyaan tersebut tidak sensitif sama sekali sekali. Kita tidak tahu, apa yang mereka hadapi, sehingga membuatnya susah hamil. Selama ini, aku menghibur diriku sendiri dengan mengatakan, setidaknya  tidak ada yang bertanya “Kapan hamil?”. Awalnya, orang tua dan saudaraku juga bertanya tentang kehamilanku. Setelah aku menjelaskan masalahnya, mereka berhenti bertanya. Sepertinya, itu sudah takdir. 

Aku juga bersyukur, ada asuransi kesehatan, sistem, dan fasilitas klinik reproduksi di Jerman dan di Belanda. Di sini, aku bisa berusaha tanpa kendala biaya karena itu gratis. Kita hanya perlu rajin mencari tahu tentang prosesnya saja. Kalau ada Sahabat Ruanita yang berumur di atas 40-an dan ingin mencoba program bayi tabung, bisa langsung menegosiasikan ke dokter, karena pihak asuransi akan mendengarkan dokter terlebih dulu. Dahulu aku patuh dengan aturan (asuransi) di Jerman, sehingga sepertinya banyak waktu terbuang untuk birokrasi. Mungkin jika saat itu aku tidak pindah ke Belanda, kami akan mengusahakan program bayi tabung dengan biaya yang disebut oleh dokter kami di Düsseldorf.

Dari satu keguguran ke keguguran lain, telah membuatku sulit menerimanya. Pada akhirnya, aku berpikir memang itu belum takdirnya saja. Bisa jadi, itu merupakan bentuk proteksi pada diri kita sendiri dan calon bayi. Aku juga belajar, ini bukan hanya usaha ibu untuk hamil, melainkan usaha bayi untuk bertahan hidup. Setiap bayi yang lahir sudah berjuang sangat kuat sejak dini. Setelah pembuahan, baik kehamilan alami atau buatan, belum tentu dia akan menjadi embrio. Kalau pun menjadi embrio, belum tentu dia bisa bertahan dalam rahim. Kalau pun dia bertahan, bisa jadi juga kromosomnya lebih atau kurang. Jika ini terjadi, bayi yang lahir belum tentu bisa berjuang hidup. Berdasarkan hasil refleksiku tersebut, jika anakku mulai rewel, maka aku sering menarik nafas dan mengingat lagi, bagaimana usahaku memiliki anak. Namanya juga anak kecil, dia mungkin sering rewel.

Seandainya aku bisa berbicara ke my younger self, aku mau mengatakan, kamu perlu menikmati hidup sebelum hamil. Saat hamil, kamu mungkin sudah tidak bisa melakukan ini dan itu. Misalnya, kamu mendapatkan menstruasi saat sedang berusaha hamil, itu tidak apa-apa untuk merasa sedih. Namun, jangan berlarut-larut! Dahulu, aku berkutat pada rencana kehamilanku. Setiap merencanakan sesuatu, aku selalu berpikir “Bagaimana kalau aku hamil?”. Aku pernah berpikir, “Liburan ke Indonesia sekarang saja, kayaknya karena tahun depan aku hamil.” Begitu aku tidak hamil, sakit sekali rasanya. Aku seperti tidak menikmati momen saat sedang tidak hamil itu. Jangan sampai kita bergantung pada pertanyaan, “Bagaimana kalau hamil?”.

Diceritakan oleh Renata, ibu anak satu yang tinggal di Belanda. Ditulis oleh Mariska Ajeng, relawan Ruanita Indonesia dan mengelola program Cerita Sahabat di Ruanita. (www.mariskaajeng.com).

(CERITA SAHABAT) Pengalaman Ibu Bersekolah S3, Anak-anak pun Ikut Bersekolah

Halo sahabat Ruanita, perkenalkan nama saya Zakiyatul Mufidah. Saya berasal dari Blitar Jawa Timur. Saat ini, saya sedang studi PhD di University of Birmingham di Inggris dan telah memasuki tahun kedua saya berada di negeri Harry Potter ini. Pada September 2022 lalu, saya mendapatkan beasiswa LPDP. Selain mengerjakan studi PhD, kesibukan saya sehari-hari dimulai sejak pagi, yakni mempersiapkan anak-anak berangkat ke sekolah, mengantar mereka ke sekolah dan saya lanjut menuju ke kampus. 

Sebagai seorang ibu, saya berusaha memberikan hak anak-anak saya mendapatkan waktu dari saya. Oleh karena itu, saya berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan waktu bersama mereka sebelum bersekolah. Ini adalah waktu saya bersama anak-anak, sebelum mengerjakan tugas kampus dan riset saya di kampus, sampai saat  saya kembali menjemput anak-anak dari sekolah. 

Selepas sekolah, kembali saya bersama dengan anak-anak. Saya membersamai mereka belajar, mengaji, sholat sampai selesai Isya’ dan free time. Setelah anak-anak tidur, kemudian saya bisa membuka laptop lagi (dengan catatan jika saya tidak ikut terlelap juga sampai pagi, hehehe…

Sebelum berbicara tentang bagaimana proses penyesuaian anak, perlu saya ceritakan sedikit tentang latar belakang anak-anak saya, karena saya melihat latar belakang anak sangat berpengaruh pada proses penyesuaiannya. Misalnya, anak saya adalah anak desa (anak kampung) karena mereka tinggal di lingkungan perkampungan. Anak-anak saya tidak terbiasa dengan dengan jadwal padat les ini itu, dsb. Mereka pergi sekolah, lanjut bermain, mengaji di madrasah, bermain lagi, pergi ke Musholla, dst. Mereka juga terbiasa hidup komunal dengan tetangga atau teman sebaya di lingkungan kami. Dan, satu lagi, anak-anak tidak terbiasa terpapar dengan Bahasa Inggris dalam kesehariannya. Nah, proses penyesuaian saat anak-anak masuk sekolah di sini cukup menantang. 

Saya bisa merasakan tentunya berat untuk anak-anak saya, dari segi bahasa, sebagai satu-satunya alat berkomunikasi. Anak-anak saya sampai sekarang masih struggling dengan Bahasa Inggris. Namun untungnya, sistem sekolah di sini sangat inklusif, tidak judgmental dan lebih “encouraging” ke setiap anak, sehingga anak-anak tetap bersemangat, tidak merasa stres atau tertekan.

Selain itu, persoalan budaya dan kebiasaan juga cukup menantang pada tahap penyesuaian ini. Contoh kecil, kebiasaan makan nasi. Anak yang masih duduk di Year 1 sampai Year 4, itu masih dapat free lunch dari sekolah. Tentu, konsep lunch di sini berbeda dengan lunch di Indonesia, yang berarti makan nasi, lengkap dengan lauk pauknya. Di sini lunch dari sekolah biasanya sandwich, hotdog, potato, pizza, dll. Pastinya jarang sekali ada nasi. Nah, selama proses penyesuaian tersebut, kami harus menyiapkan bekal nasi dan lauk pauk untuk dibawa ke sekolah, karena anak-anak belum mau free school meal tersebut. Ini cukup merepotkan, karena saya harus masak besar di pagi hari. Setelah 4-5 bulan, sedikit demi sedikit anak-anak mau mencoba school meal dan tidak perlu membawa bekal nasi ke sekolah lagi.

Proses perpindahan sekolah anak dari Indonesia ke Inggris juga tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Sistem sekolah di sini cukup ketat, dan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh city council. Tidak ada sistem “titip”. Karena anak-anak menyusul saya pada akhir September lalu, maka mereka saat mendaftar sekolah masuk ke in-year admission. Mereka tidak bisa ikut mendaftar online, seperti jika masuk pada awal tahun akademik. Jadi, kami mendatangi sekolah yang dekat dengan tempat kami tinggal. 

Untuk mendaftar sekolah, syaratnya cukup dengan paspor dan bukti alamat tempat tinggal. Kuota diberikan berdasarkan zona. Setelah mengisi formulir pendaftaran dan melampirkan dokumen yang diminta, lalu ada visit dari sekolah. Kunjungan sekolah ini untuk memastikan jika kami benar-benar tinggal di alamat tersebut dan anak-anak mempunyai tempat tinggal yang layak. Kebetulan anak saya gendernya sama semua, sehingga mereka tidak harus punya kamar sendiri-sendiri.  Selanjutnya, mereka bisa langsung masuk sekolah pada keesokan harinya, tanpa wajib memakai seragam sekolah. Seragam mereka cukup baju basic yang bisa didapatkan dengan mudah di toko serba ada, di dekat rumah. 

Selanjutnya, pengelompokan usia sekolah di sini cukup berbeda dengan di Indonesia. Anak saya di Indonesia masuk ke dalam kelas 5 SD, tetapi di sini masuk kelompok Year 6 atau kelas 6. Anak kedua, yang masih TK B di Indonesia, di sini masuk kelompok usia Year 2. Lalu, anak ketiga masih TK A di Indonesia, tetapi di sini masuk kelompok Year 1. Gap kelompok usia ini cukup berpengaruh pada mental dan kemampuan kognitif anak. Ini yang menyebabkan anak-anak butuh effort yang lumayan untuk penyesuaian. Alhamdulillah, semuanya sudah bisa masuk sekolah, setelah menunggu 3 minggu.

Keputusan menyekolahkan anak-anak di Inggris, sejalan dengan keputusan membawa keluarga ikut tinggal di Inggris selama masa studi saya. Saya pernah menjalani LDR dengan anak di tahun pertama studi. Dan itu beratnya luar biasa. Di satu sisi raga saya di sini, tetapi di sisi lain hati dan pikiran saya ada di tanah air. Itu sebab, saya pun tidak bisa totalitas beraktivitas di kampus. Beratnya berpisah dengan buah hati menjadi salah satu alasan saya, memboyong mereka ke sini. 

Alasan kedua adalah saya merasakan betapa pendidikan di sini sangat bagus dan berkualitas. Kalaupun di tanah air ada yang seperti di sini, itu pasti berada di kota besar dengan biaya yang tidak murah. Saya ingin sekali, tidak hanya saya saja sendiri yang bisa merasakan dan mengenyam pendidikan di sini, tetapi anak-anak saya juga. Tentunya, itu diiringi dengan drama dan tantangan-tantangan yang menyertainya.

Everything takes time. Tantangan-tantangan selama proses perpindahan memang tidak mudah. Sebagai orang tua, kami berusaha selalu berpikiran positif. Saya selalu mengajak ngobrol anak-anak dan menanyakan apa dan bagaimana perasaannya, agar mereka tidak sampai stres. Tantangan terberat tentu saat merespon anak yang homesick dan ingin pulang ke Indonesia saja.  Namun, kami selalu berusaha menguatkan anak-anak. Bahwa segala sesuatu butuh waktu, butuh proses, dan selalu tidak mudah di awal, apalagi dengan budaya yang sama sekali baru dan belum menguasai Bahasa Inggris. Sebagai orang tua, kami harus terus mengingatkan untuk sabar. Kami mengingatkan kembali tujuan kami semua datang ke sini,  yaitu menuntut ilmu. Menuntut ilmu itu wajib bagi tiap mukmin, baik laki-laki maupun perempuan.

Follow us

Saat memutuskan membawa serta anak-anak dan pindah sekolah ke luar negeri, sebagai orang tua, kita perlu memperhatikan sejumlah faktor. Pertama, kita perlu memberi pemahaman kepada anak-anak bagaimana lingkungan dan budaya yang akan menjadi tempat tinggal barunya. Ini bisa dilakukan dengan sounding jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga mereka punya gambaran dan bayangan tentang lingkungan yang akan mereka tempati. Kedua, kita perlu memberi pemahaman kepada mereka bahwa tidak hanya budaya, tetapi aturan-aturannya juga berbeda. Contohnya, aturan di sekolah, di lingkungan sosial, dan di tempat umum. Ketiga, sebagai orang tua, kita tidak lelah menemani dan harus lebih kuat mental, apalagi saat anak-anak sedang tantrum atau bad mood. Mereka juga butuh diperhatikan, terutama kesehatan mentalnya. Oleh karena itu, kita perlu saling mengingatkan tentang motivasi apa yang membuat kita sekeluarga bisa berada di Inggris. Mengingatkan kembali bahwa, ini adalah visi dan tujuan keluarga. Ini bukan hanya visi ibu atau ayah atau anak-anak saja. Berada di sini, survive di sini, dan berproses di sini adalah visi Bersama.

Dua hal yang paling sering dirindukan anak-anak saya dan kadang menjadi trigger homesick bagi mereka. Pertama, suasana dan lingkungannya. Mereka terbiasa bermain lepas di luar bersama teman-temanya. Istilahnya, mereka adalah anak petualang seperti: bersepeda keliling kampung, beli jajan/makanan kecil di warung, atau sesederhana main bola atau main layangan di lapangan. Sementara saat mereka sudah tinggal di Inggris, mereka merasa “terkungkung” di dalam rumah. Mereka keluar harus ditemani orang tua dan main bola di park  harus dibungkus dengan jaket tebal. Mereka tidak menemukan abang-abang yang berjualan di pinggir jalan, dst. 

Kedua, mereka beberapa kali bilang kangen dengan camilan atau makanan Indonesia. Cara saya mengatasinya, saya coba mengajak mereka explore tempat-tempat baru sebulan sekali atau jika ada waktu luang. Sementara untuk makanan, saya coba buatkan masakan Indonesia dengan bahan yang ada. Kadang kalau camilan, saya biasanya jastip ke teman yang pulang ke Indonesia. Upaya tersebut sudah lumayan dan cukup mengobati rasa kangen mereka.

Ada cerita menarik dari anak saya tentang  proses adaptasinya di sekolah. Hal ini terjadi saat anak saya berulang tahun. Dia terheran-heran karena ada anjuran dari sekolah yang dikirim via email orang tua, agar anak yang berulang tahun tidak membawa makanan dan membagi-bagikan makanan kepada teman-temannya di sekolah. Saya mengerti aturan ini. Mungkin hal ini terkait  food allergens yang menjadi isu penting di sekolah. Namun, anak saya lalu bilang: “Kok, di sini tidak boleh berbagi ya ma? Padahal kalau di Indonesia, ada yang berulang tahun, biasanya kita bawa nasi kuning atau kue untuk dibagikan ke teman-teman di sekolah. Itu lebih seru atau biasanya mereka yang berulang tahun, traktir makan di kantin.”

Menurut saya, ada beberapa kelebihan memindahkan anak bersekolah ke luar negeri. Pertama, kita bisa tetap dekat dan memantau perkembangan anak, baik fisik, akademik, mental, dan spiritualnya. Kedua, anak menjadi belajar tentang keberagaman dalam hal apapun, seperti cara hidup, bentuk tubuh, warna kulit, agama, kepercayaan, pilihan hidup, bahkan sistem atau peraturannya. Hal ini bisa membuat anak belajar beradaptasi dan menyesuaikan dengan adat/kebiasaan di mana dia tinggal. Anak lebih menghormati dan menghargai keberagaman. Ketiga, anak mempunyai pengalaman hidup yang akan dikenang seumur hidupnya, memiliki proses hidup dan belajar yang menantang, mengajarkan mereka untuk lebih siap dengan berbagai kemungkinan dan dinamisnya kehidupan. Keempat, mereka bisa merasakan bagaimana sistem belajar dan pendidikan di luar negeri yang cenderung inklusif dan tidak judgmental yang mengukur kinerja siswa dengan standar yang sama. Mereka lebih didorong untuk berkompetisi dengan dirinya sendiri, bukan dengan temannya. Setiap progress meskipun kecil sangat diapresiasi dan dihargai.

Terakhir, ini juga tidak kalah penting adalah kelebihan sekolah di sini. Sekolah di sini sangat mendorong anak menjadi suka membaca. Saya kurang tahu bagaimana persisnya, tetapi saya melihat anak-anak saya lebih cenderung suka membaca. Saat jalan keluar pun mereka lebih bersemangat menghabiskan waktu di toko buku, daripada di toko baju atau sepatu. 

Saran saya, bagi sahabat Ruanita yang berniat membawa anak-anaknya ke luar negeri, adalah segerakan, jangan ditunda! Kuatkan niat yang baik untuk menuntut ilmu, berproses menjadi manusia yang tangguh dan unggul. Jangan lupa menjaga keseimbangan antara hati, pikiran, dan mental supaya tidak mudah lelah dan menyerah saat hidup sedang tidak berpihak pada kita. Sebagai orang tua, kita harus lebih siap saat anak-anak menghadapi masa-masa penyesuaian, lebih sabar dan berpikiran positif. Terakhir, ini tak kalah penting juga untuk selalu ditanamkan dalam diri kita dan anak-anak, bahwa tiap proses yang kita jalani, semuanya tidak terlepas dari kuasa dan kehendak Tuhan. 

Penulis: Zakiyatul Mufidah Ahmad, Mahasiswi PhD di Inggris dan dapat dikontak di akun IG: zakiyatulmufidahahmad

(PODCAST RUMPITA) Bagaimana Pengalaman Mahasiswi Asal Jerman Magang dan Tinggal di Indonesia?

Memasuki episode ke-24 dari diskusi Podcast Rumpita, Ruanita Indonesia mengundang Sahabat Ruanita yang berasal dari Jerman dan pernah tinggal di Indonesia untuk bekerja magang dan ikut program pertukaran pelajaran ketika dia sedang remaja.

Dia adalah Leonie, yang pernah ikut program pertukaran pelajar di Sumatera Utara selama setahun dan tinggal bersama keluarga Indonesia. Oleh sebab itu, Leonie bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan mendorongnya untuk mencoba melamar program magang di Indonesia.

Follow us

Saat magang di Indonesia selama enam bulan, Leonie bekerja di area Menteng, Jakarta Pusat. Banyak hal menarik bagaimana Leonie bekerja sama dengan orang-orang Indonesia di tempat kerja. Contoh yang mengesankannya bagi Leonie adalah “jam karet” yang sangat berbeda dengan ketepatan waktu untuk orang-orang di Jerman. Menurut Leonie, kebiasaan ‘jam karet’ itu tidak sopan dalam budaya orang-orang di Jerman.

Lainnya, adalah penggunaan WhatsApp untuk berkomunikasi dalam situasi pekerjaan. Namun, Leonie mengakui kehangatan dan keramahan orang-orang Indonesia sangat membantu Leonie mengatasi culture shock Indonesia dan mengenali budaya Indonesia lebih baik lagi.

Leonie sangat menyukai Soto Medan, yang membuatnya bisa membedakan dengan baik, Soto Jakarta yang menggunakan santan. Leonie pun suka dengan sambal dan makanan pedas.

Leonie pun melakukan hal yang sama dengan menambahkan cabai setiap makanan, yang membuat anggota keluarganya merasa terkejut ketika Leonie kembali lagi ke Jerman. Leonie sangat senang dengan kuliner Indonesia yang membuatnya kerap merindukannya dan dia tidak punya masalah dengan kuliner Indonesia.

Orang Indonesia berkomunikasi dengan tidak direct, dibandingkan dengan orang-orang Jerman yang berkomunikasi langsung. Leonie juga mengakui bahwa orang-orang Jerman tampak serius dan tidak mudah juga membangun pertemanan.

Leonie berpesan untuk orang-orang Indonesia yang ingin bekerja dan tinggal di Jerman agar tidak malu berlatih Bahasa Jerman. Supaya tidak merasa kesepian, mahasiswa asal Indonesia di Jerman bisa bergabung dengan kelompok mahasiswa di universitas atau bersabar untuk membangun pertemanan dengan rekan-rekan kerja di kantor.

Diskusi Podcast ini dipandu oleh Fadni, Mahasiswi S2 di Jerman dan Anna. Mengapa Leonie ingin magang dan tinggal di Indonesia? Mengapa Leonie suka akan budaya Indonesia? Pengalaman berkesan apa yang ditemuinya selama magang dan tinggal di Indonesia? Apa pendapatnya tentang Bahasa Indonesia yang dipelajarinya selama ini? Apa pesan dan harapan Leonie sebagai perempuan Jerman kepada orang-orang Indonesia yang dikenalnya? 

Selengkapnya diskusi Podcast RUMPITA dalam kanal Spotify berikut ini dan jangan lupa follow kanal SPOTIFY kami:

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Resiliensi Ibu di Belgia yang Memiliki Anak dengan Autisme

Dunia memperingati Hari Peduli Autisme Sedunia pada 2 April agar publik mendapatkan informasi yang benar dan tepat tentang Autisme, termasuk mengadvokasi anak dengan Autisme yang masih mendapatkan stigma dan diskriminasi.

Oleh karena itu, Ruanita Indonesia mengundang Alda Trisda yang tinggal di Belgia untuk berbagi pengalaman dan perjuangannya sebagai ibu dalam membesarkan anak dengan Autisme.

Alda mengakui di awal ketika anaknya didiagnosa sebagai anak dengan Autisme, dia tidak berkoordinasi dengan suami dalam mendapatkan penanganan yang tepat untuk anaknya. Alda berpesan agar orang tua yang memiliki anak dengan Autisme dapat bekerja sama antara ayah dan ibunya dalam merawat anak dengan Autisme. Alda menyebut istilahnya adalah ayah dan ibu punya level pengetahuan yang sama dalam membesarkan anak dengan Autisme.

Follow us

Di Belgia sendiri, Alda menyadari bahwa pemerintahnya sangat peduli terhadap anak berkebutuhan khusus. Meskipun diakui Alda, fasilitas dan sarananya tidak sebaik seperti negara-negara Eropa lainnya yang ada di sekitar Belgia.

Alda mendapatkan tunjangan finansial yang cukup baik dari Pemerintah Belgia, dalam membesarkan anak dengan Autisme, seperti menyediakan sarana belajar di rumah. Bahkan Alda mengambil kelas khusus sebagai orang tua yang memiliki anak dengan Autisme.

Pemerintah Belgia sangat peduli terhadap anak berkebutuhan khusus, termasuk anak dengan Autisme. Alda sering mendapatkan kunjungan dari institusi perlindungan anak berkebutuhan khusus di Belgia untuk memastikan kebutuhan yang tepat untuk anak dengan Autisme.

Pemerintah Belgia juga menyediakan lokasi khusus yang membantu anak dengan Autisme tumbuh secara mandiri sosial yang mulai dari usia anak di bawah 18 tahun dan mereka yang sudah berusia di atas 18 tahun.

Alda lebih memilih untuk merawat dan membesarkan anaknya di rumah, sambil dia banyak mencari tahu bagaimana menangani anak dengan Autisme di rumah. Alda merasakan berbagai tantangan yang tak mudah sebagai ibu yang memiliki anak dengan Autisme.

Resiliensi sebagai ibu itu dirasakannya lebih sulit, dibandingkan membesarkan anak dengan Autisme. Hal terpenting ketika ada anak dengan Autisme di keluarga, adalah bagaimana kita menerima apa adanya dan kesabaran yang tinggi.

Bagaimana cara Alda dalam menyiapkan sarana belajar di rumah sehingga anak dengan Autisme dapat tumbuh mandiri? Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua ketika memiliki anak dengan Autisme? Apa saja kebijakan yang berlaku di Belgia dan negara-negara sekitarnya di Eropa terhadpa kebijakan anak berkebutuhan khusus, terutama anak dengan Autisme? Apa pesan Alda di Hari Peduli Autisme Sedunia?

Simak selengkapnya dalam video program Cerita Sahabat Spesial berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami untuk mendukung program-program kami ya!

(CERITA SAHABAT) Mendampingi Anak Saat Masa Mengompol Sekunder

Mengompol atau yang lebih dikenal dengan nocturnal enuresis adalah suatu kondisi keluarnya urin secara tidak sengaja. Mengompol Sekunder adalah mengompol yang kembali terjadi setelah sang anak tidak pernah mengompol lagi setidaknya dalam kurun waktu setelah 6 bulan dari masa mengompol primer atau mengompol usia bayi.

Pada tahun 2018,  kami sekeluarga pindah ke Jepang. Saat itu, usia anak pertama kami 3 tahun. Kami lalu menapaki lembar kehidupan baru dengan segala ritme dan kultur baru bagi kami. Alhamdulillah, anak kami sudah lulus toilet training sejak usia 2 tahun. Selama di Jepang, singkat cerita adaptasi terjadi dengan cepat dan sangat baik bagi semua, terutama untuk anak kami.  

Pada tahun 2021, kami sekeluarga pindah ke Berlin, Jerman. Saat itu, anak pertama hampir berusia 6 tahun dan anak kedua berusia hampir 3 tahun. Penyesuaian diri pun tak elak kami lakukan. Penggunaan bahasa di rumah pun mengalami perubahan, Bahasa Jepang lalu Bahasa Jerman yang tentunya sangat berbeda. Sistem bahasa di rumah kami, One Parent One Language, mengalami sedikit perubahan. Dengan ayahnya, anak-anak tetap berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris.

Sedangkan dengan ibunya, komunikasi yang digunakan semula Bahasa Jepang, kini saya putuskan beralih ke Bahasa Jerman. Hal ini dilakukan untuk kepentingan mendukung proses adaptasi, terutama di lingkungan sekolah. Begitu kami tiba, di tahun anak kami menginjak usia sekolah dasar.  Inilah juga awal cerita mengenai mengompol sekunder yang dialami anak saya. 

Tahun 2021 juga bertepatan dengan masa transisi Pandemik ke Endemik. Kami datang ke kota dan negara baru yang bertepatan dengan tahun ajaran Sekolah Dasar dimulai. Ternyata, ini menjadi babak yang mungkin ‘spektakuler´ untuk anak pertama kami. Pada beberapa hari pertama sekolah, pengalaman anak masih lumayan smooth dan terjadilah mengompol sekunder ini, terutama ketika malam hari.

Beruntung, ketika dia mulai merasa berkemih, dia cepat terbangun dan lari ke toilet. Memang tidak merembes banyak tetapi dengan sifat perfeksionisnya, ternyata ini lumayan membuat dia frustasi. Ini terjadi setidaknya hampir seminggu. 

Pada siang hari, beberapa kali pun sempat terjadi tetapi sekedar terlambat menyadari dan kemudian bisa ditahan, lalu dia berlari menuju toilet. Awalnya, saya melihat ini sesuatu yang biasa. Namun ketika ini terlihat berulang, mulailah saya merasa cemas. Pembawaan sosok saya yang sering disebut tegas, pun turut campur. Ternyata ini pun menjadi salah satu pemicu yang membuat frustasi anak menjadi terasa lebih berat.  

Untuk anak usia sekolah dasar,  yang kemudian dilakukan ibu biasanya adalah membantu mengingatkan lagi tentang rutinitas seperti membiasakan berkemih sebelum tidur dan mengingatkan untuk tidak menahan keinginan berkemih jika sedang asyik bermain. Dalam kondisi anak yang merasa frustasi, pada diri anak yang dilihat adalah “Mama yang Cerewet”. Dengan ketidakmengertian, tidak memahami, dan jauh dari kesan membantu sehingga ini membuat saya patah hati.

Follow us

Sebagai ibu di zaman sekarang ini, sikap open minded saya pikir penting sekali. Selama beberapa hari dengan tujuan Bonding ibu dan anak, saya mencairkan suasana dengan sengaja menjemput dia lebih awal dari sekolah. Anak tidak mengikuti kegiatan daycare after school.

Saya mengajak dia makan siang berdua, bermain di taman sambil berpiknik, pergi ke tempat-tempat favoritnya, hingga kami pergi menonton film di bioskop hanya berdua saja. Kami melakukan banyak pelukan, mengusap kepala, bahkan bercanda lembut, mengucapkan banyak kata penuh makna kasih sayang, dan mengapresiasi atas segala hal baik yang dia lakukan. 

Tentu selama ´bonding´ ini, observasi tetap berjalan sambil sedikit demi sedikit mengeksplorasi perasaannya seperti masalah-masalah yang sedang dia hadapi. Namun, saya berusaha untuk tidak langsung ´frontal´menelisik pada masalah mengompol sekunder ini. Saya berasumsi pada saat itu, anak saya pun tidak memahami apa yang menjadi penyebab dia bisa mengompol lagi.

Saya berpikir, sangat tidak tepat rasanya pada kondisi tersebut bertanya: “mengapa bisa begini, begitu…’” pada anak. Toh,  anak pasti tidak bisa menjawabnya. Walaupun pertanyaan tersebut adalah bentuk kecemasan dengan sedikit kesal dari ibu, tetapi percayalah kita tidak akan mendapatkan jawaban dari anak.  

Yang terjadi adalah ibu dan anak akan sama-sama terjebak pada area debat kusir yang bercampur emosi.  Mungkin, ini bisa terjadi setelah terdapat “dinding pemisah tinggi dan tebal” yang terbangun antara ibu dengan anak. Oleh karena itu, kita sebagai ibu harus berusaha tenang sebisa mungkin meskipun berbagai rasa cemas, penasaran serta emosi lain yang dirasakan. 

Berjalan beberapa hari, saya mulai melihat ada titik terang. Lalu, saya datang kepada dua teman saya yang berprofesi sebagai Dokter dan Psikolog Anak. Saya datang berkonsultasi tentang masalah dan membawa beberapa kesimpulan hasil Bonding dan observasi yang sudah saya lakukan.

Dari konsultasi bersama ahli tersebut, saya semakin memahami mengenai mengompol sekunder. Selain itu, saya jadi memahami bahwa mengompol pada anak harus mendapatkan penanganan yang benar. 

Anak yang mengompol bukanlah anak yang malas atau nakal. Ada beberapa penyakit atau hal psikologis yang bisa terkait. Walaupun memang kebanyakan anak-anak yang mengompol tidak memiliki masalah kesehatan, mengompol biasanya akan membuat stres untuk orang tua. Namun patut diingat bahwa stres juga terjadi pada anak itu sendiri dan membuat anak tumbuh jadi anak yang tidak percaya diri apabila tidak ditangani dengan benar.

Pada kasus anak saya, mengompol sekunder ini terjadi pada masa-masa proses adaptasi lingkungan  dan sekolah baru, di mana ada rasa sedih yang mendalam terkait perpindahan dari Jepang ke Jerman. Usianya pada saat itu sudah memahami merasakan jalinan pertemanan, memiliki bonding dengan lingkungannya tetapi kemudian harus pindah ke tempat baru dan meninggalkan itu semua. 

Ketika datang ke lingkungan baru, ada banyak hal yang harus dicerna, budaya, kebiasaan – kebiasaan serta bahasa yang tentunya begitu berbeda. Begitu banyak hal yang harus dicerna dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, mungkin membuat jadi letih berlebih dan berimbas terhadap pengendalian diri dalam berkemih.

Berdasarkan teman – teman saya tadi, saya mendapat insight bahwa mengompol sekunder terjadi diduga karena ada masalah atau penyakit lain yang mendasarinya. Oleh karena itu, masalah atau penyakit yang mendasarinya ini yang harus dulu ditangani, sehingga diharapkan gangguan mengompol tidak terjadi lagi.

Karena masalahnya adalah psikologis, maka yang anak saya butuhkan adalah dukungan dan kehadiran sosok ibu yang menemani, meraih genggaman tangannya saat dia merasa tidak aman, mendekap erat saat dia merasa cemas, dan menyemangati dia. Benar saja, setelah masa-masa adaptasi awal ini terlewati dengan baik, dia tidak mengompol lagi. 

Pentingnya mencari tahu dengan bertanya kepada ahli atau membaca juga berpengaruh sekali bagi ibu untuk bisa tetap tenang. Oleh karena itu, saya pun mencari tahu dan mendalami mengenai mengompol pada anak. Banyak artikel saya baca dan video-video saya tonton.

Sebagai penguatan batin sebagai ibu, saya pun membaca banyak artikel dan cerita mengenai luar biasanya seorang ibu. Meneladani kisah-kisah tersebut bahkan sepenggal quotes ringan tentang ibu pun saya baca hampir setiap hari. 

Pesan saya untuk Sahabat Ruanita, menjadi ibu memanglah tidak mudah. Namun tetaplah optimis dan tanamkan selalu sifat mau terus belajar. Karena jiwa yang sedang kita besarkan bukan hanya sejiwa ini, tetapi ada jiwa lain yakni jiwa anak kita. Sebagai orang tua, kita perlu mendampingi anak melewati masa-masa sulit yang juga bagian dari tumbuh kembang.

Penulis: Nadiya Dewantari, Freelancer, dan ibu dari dua orang anak. Nadiya juga fasih berbicara dalam Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, dan Bahasa Jepang.  Nadiya pernah tinggal di Jepang, kini menetap di Jerman.