(CERITA SAHABAT) Lagom dan Pengalaman Saya Tinggal di Swedia yang Perlu Kamu Tahu

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan nama saya Kiki, yang sekarang menetap di Swedia sejak 4 tahun lalu. Saya berasal dari Jakarta. Sebelum menetap di Swedia, saya pernah tinggal di Penang, Malaysia selama 2 tahun. Di Swedia, saya bekerja sebagai Full Time Employment di Start Up company yang bergerak di industri electronic recycling. Maaf, kalau cerita saya bercampur antara Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris. 

Berbicara soal Lagom, saya tentu dengan senang hati menjelaskannya kepada kalian. Lagom is a Swedish word that means balance living  “not too little, not too much, just right”. It provides simple solutions by living in harmony to juggle everyday priorities, reduce stress, eat well, and save money, with lessons on the importance of downtime, being outdoors and Sweden’s coffee break culture.

Jatuhnya, Lagom menurut saya lebih pada keseimbangan hidup dalam mencapai kesejahteraan batin. Banyak orang di luar sana berpendapat, bahwa orang-orang Swedia senang dengan lingkungan hidup dan keberlanjutan, seperti Greta Thunberg, anak muda yang aktif menyuarakan Friday for Future demi keberlanjutan bumi. Saya merasakan itu betul sekali.

Swedish people like balance in all aspects, for example recycling, they love their nature and they keep their environment clean from trash. So recycling trash has become a habit and part of their life.  As I mentioned, they love their nature, they want to keep their nature preserved and clean from trash and grow their own food. 

Di Indonesia, untuk melihat nyata filosofi Lagom dalam kehidupan sehari-hari, bisa kita lihat di produk-produk yang ditawarkan di IKEA. Orang-orang Swedia memang begitu adanya membangun alam lewat produk-produk mereka yang simpel. Swedish people like to “build”. It’s in their nature.

So Ikea is one of their concepts in life, Ikea is great innovation and also affordable. I also like Ikea, they made us think and to be creative to resemble our own purchase.

It’s common here to see Ikea products in all houses because it is affordable. They also like to build their own house and garden by hand, they do it by themselves for years. 

Follow us

Speaking of Lagom, it’s all about a balanced lifestyle. Exercise while being fit is important for everybody due to keeping your mind healthy from work stress, specially with long winter time, it’s easy to get depressed just by staying at home, so being more active is important. 

By living lagom you can:

Improve your work-life balance

Free your home from clutter

Become a more conscious consumer

Savor good food the Swedish way

Enjoy healthy exercise in nature

Live a happier and more balance lifestyle

Lagom memang hal yang baru buat saya, yang dulu sibuk bekerja sebelum tinggal di Swedia. Namun di sini, kita harus bisa hidup dalam harmoni dan banyak melakukan aktivitas outdoors, bahkan hanya sekedar “Fika”, kebiasaan orang-orang Swedia untuk menikmati istirahat sembari minum kopi.

Lagom or balance is applied to their life, such as work balance, personal life balance too.They also have Fika habits at the workplace, like in my workplace, we have in a day 2 times fika time, 1 time quick break (elva fika), and lunch break.

I didn’t have this in Indonesia, but here it is important to have fika, so you don’t work all the time and get stressed but you also have balance to do break/fika. These are only a few examples.

Awalnya, saya merasa tidak mudah juga beradaptasi dengan budaya di Swedia. Boleh dibilang ini seperti crossed culture buat saya. 

Tantangan saya tinggal di Swedia seperti Bahasa Swedia yang tidak mudah dan bagaimana beradaptasi untuk menyesuaikan budaya kerja orang-orang Swedia sendiri. 

In a relationship, man and woman they are equal, they share home chores and even financially and take care of children equally. Orang Swedia amat menjunjung kesetaraan gender antara laki-laki dengan perempuan.

Ada sejarahnya di mana laki-laki dan perempuan, sama-sama punya andil dalam membangun negara Swedia. Women and men are equal here. And I see many women here are more independent than women in Asia. They try to build this culture and values from a long way to make women have equal rights from men. 

Ada yang menarik ketika tinggal di Swedia. Banyak orang berpendapat, orang Swedia cenderung pemalu. Itu betul, mungkin tidak mudah juga buat mereka membangun komunikasi dengan orang asing. Most yes, but not everyone. Its common here to see Swedish people don’t show their expression or emotion, they are very well reserved, but after 2 or 3 drinks they will talk and become friendly hahahhahaha…..

Ini tipsku terhadap orang-orang Swedia: Respect and be nice are the basic fundamentals to make friendship or engage with people”. Never afraid to say Hello first and smiling as Indonesian identity. You need to speak up if things are slow or incorrect. Buat kalian yang tidak bisa Bahasa Swedia, no worries. Mereka bisa Bahasa Inggris dengan baik.

You need to learn the language so you can communicate with Swedish people who can not speak English, also it helps you to find an easy job.

Menurut saya, orang Swedia cenderung menghindari konfrontasi. They avoid confrontation, yes, but it’s not common for Swedish people to show expression or emotional feelings, most of them are very reserved people.  Hal menarik lainnya adalah bagaimana mereka menempatkan anak-anak mereka di keranjang bayi, meskipun itu adalah musim dingin.

Mungkin kita berpikir, anak-anak akan masuk angin dibiarkan ditaruh dalam keranjang bayi di luar, tetapi tidak untuk mereka. Additionally, in Sweden you will see many men/fathers taking their babies out with strollers to park or out to nature and that’s a common view here. 

The last, Sweden is a beautiful country no matter what the season is, alot to explore and to learn from it. Ini saran saya kalau ingin memahami negara Swedia umumnya. You need to learn patience because sometimes the Swedish system is very slow.

You need to understand that you live in a different country and life, so respect locals and respect their system and culture. It’s a big challenge but also an adventure, especially for young people to study here. It’s a big opportunity to learn a lot of new things, don’t keep closed minded but be open, always give respect and enjoy the ride even with the long winter time. Hope it informs!

Penulis: Kiki, tinggal di Swedia dan dapat dikontak via akun IG: little_monkey2016

(IG LIVE) Mendiskusikan Partisipasi Perempuan dalam Dunia STEM

Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia memiliki program diskusi IG Live yang dilaksanakan tiap bulan dengan tema-tema menarik. Di bulan Mei 2024, Ruanita Indonesia mengangkat tema perempuan dalam dunia STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematics), terutama melihat peluang karier dan kewirausahaan untuk perempuan Indonesia.

Dalam membahas tema ini, kami mengundang Zakiyatul Mufidah Ahmad yang adalah seorang dosen di Indonesia yang juga adalah penerima beasiswa LPDP. Zakiya, begitu dipanggil, sedang menempuh studi S3 di Inggris dengan topik penelitian berfokus pada aktivis perempuan dalam dunia digital.

Zakiya menjelaskan alasan mengapa dia tertarik untuk meneliti topik tersebut, karena kegelisahannya melihat partisipasi perempuan perempuan yang masih terbilang rendah dan belum ramah pada perempuan.

Dengan latar belakang kajian gender di masa studi S1 dan S2, Zakiya berharap kajian gender di dunia digital akan membantunya untuk memetakan bagaimana permasalahan dan kebutuhan perempuan Indonesia. Perempuan dalam dunia STEM cenderung rendah dapat difokuskan pada ideologi pemerintah Indonesia yang menempatkan peran perempuan dalam domestik, yang jauh dari dunia digital.

Follow us: ruanita.indonesia

Meski dalam diskusi IG Live tidak berhasil mengundang Lany disebabkan oleh masalah teknis, tetapi diskusi tetap berjalan terlebih pada fokus peran perempuan dalam dunia digital. Pemerintah dapat meningkatkan keterampilan vokasional untuk melibatkan perempuan dalam dunia digital, bersama NGO/LSM.

Menurut Zakiya, di Indonesia, perempuan begitu sulit dan takut untuk menjadi aktivis dalam dunia digital, selain masih banyak keterbatasan infrastruktur digital di area remote di Indonesia. Penting juga tools dan fasilitas yang dapat mendorong perempuan dapat lebih aktif di dunia digital, tentunya pemerintah dapat memberikan fasilitas tersebut di masa mendatang.

Bagaimana angka partisipasi perempuan Indonesia dalam dunia digital? Bagaimana kebijakan pemerintah dalam mendukung partisipas perempuan dalam dunia digital? Apa saja yang perlu dilakukan perempuan agar dapat meningkatkan peluang karier dan kewirausahaan di dunia STEM di Indonesia? Apa pesan dan harapan para tamu dalam diskusi ini?

Simak rekaman selanjutnya dalam kanal YouTube kami berikut

Jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi.

(CERITA SAHABAT) Ayo, Jadi Indonesian Cultural Agents, di Manapun Berada!

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan Rufi, seorang Mahasiswi S2 yang sedang studi di Jerman. Saya tertarik menuliskan cerita sahabat bertema Cultural Diversity berdasarkan hasil wawancara saya berikut. Orang yang saya wawancarai bernama Anky. Dia adalah seorang Researcher dan Mahasiswa Postgraduate di  Delft di Belanda. Sejak 5 bulan lalu, dia pindah dan menetap di Belanda. 

Berbicara tentang Cultural Diversity, pertama-tama, kita ingin tahu dulu definisi dari Cultural Diversity tersebut. Menurut pengamatan Anky, Cultural Diversity adalah keanekaragaman pemikiran atau pola pikir, kebiasaan, dan sikap yang membentuk adanya keunikan pada diri setiap orang. Saya sependapat sih, bahwa setiap orang itu pada dasarnya unik. 

Namun, mengapa ya Cultural Diversity itu perlu dilestarikan dan dijaga? Ada empat hal yang saya tangkap dari Anky. Pertama, Cultural Diversity dapat membuat kita mengenal dan belajar tentang keberagaman budaya tersebut. Kedua, tentunya keragaman budaya dapat menciptakan sikap respect satu sama lainnya.

Ketiga, Cultural Diversity pun dapat semakin menguatkan identitas diri kita. Tentunya, kita dapat menentukan apakah perbedaan yang ditemui tersebut sesuai dengan nilai-nilai atau identitas yang sudah terbentuk pada diri kita atau tidak. 

Hmm, apakah mungkin Cultural Diversity akan punah? Menurut Anky tidak bisa. Cultural Diversity merupakan hal yang  sudah melekat pada setiap diri setiap individu. Anky percaya kalau kodratnya setiap manusia mempunyai keunikan masing-masing. Misalnya, cara berpikir seseorang yang unik dan beragam dan merupakan hal yang akan terus exist.

Hal tersebut juga diperoleh dari kebudayaan  yang telah melekat pada setiap diri manusia sejak lama. Contoh lainnya konteks agama, Anky menjelaskan terdapat banyak dalil-dalil yang ada dan cara setiap individu dalam menginterpretasikan dalil-dalil tersebut, yang tentunya akan berbeda-beda. Mengapa? Hal ini dikarenakan dari kebudayaan yang sudah melekat dari setiap individu.

Dalam praktik kehidupan sehari-hari, misalnya Anky saat ini sedang berkuliah di Belanda, tentunya dari cara Anky  menyampaikan pendapat pada saat di kelas pun dipengaruhi  oleh kultur saat Anky belajar di Indonesia. Begitupun teman-teman kelas Anky  yang berasal dari negara-negara yang berbeda.

Menurut Anky, cara mereka yang berbeda-beda juga terbawa oleh nilai-nilai dan keunikan identitas masing-masing yang  dipengaruhi oleh perbedaan budaya. Jadi, cultural diversity itu akan terus ada (exist) dan tidak bisa punah. 

Tidak usah jauh-jauh berbicara tentang keanekaragaman budaya di negara lain, Indonesia sendiri punya semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Anky berpendapat, ini akan terus exist dan sulit untuk terkisis.

Namun, tentunya bisa terus dilestarikan keberadaannya. Salah satu caranya, adalah kita bisa menyadari keberagaman adalah hal yang akan terus ada. Kita harus respect dengan setiap individu yang beragam tersebut. 

Menurut Anky, dimana pun dia berada, maka dia sudah merepresentasikan keberagaman budayanya sendiri. Contohnya, kultur main hape di depan kasir di Jakarta adalah hal yang biasa saja. Namun, pada saat Anky kemarin  lagi berbelanja di toko Turki, dia ditegur untuk jangan bermain hape pada  saat di depan kasir.

Follow us

Tentunya, ini merupakan contoh kecil dari dua kultur yang  berbeda. Pastinya kita menjadi respect dan menghormati  keberagaman budaya tersebut.

Meski begitu, keragaman budaya masih saja memiliki tantangan tersendiri, terutama buag sebagian orang yang masih malu dengan budayanya sendiri, apalagi  saat kita tinggal di luar Indonesia. Hal ini cukup relate dengan salah satu materi kuliah yang Anky sedang pelajari.  Jadi, di setiap tempat ada terms institution (Rule in use).

Hal tersebut berkaitan dengan bagaimana masyarakat mempraktikkan peraturan  dalam kehidupan sehari-hari. Setiap tempat punya institusi (norma/peraturan) yang berbeda-beda.

Oleh karena itu, yang terpenting  adalah bagaimana caranya kita dapat flexible dan beradaptasi dengan  institusi yang ada, di tempat kita berada saat ini. Namun, jika konteks  dari aturan tersebut bertentangan dengan budaya Indonesia dan personal values yang telah kita pegang selama ini, menurut Anky,  sebaiknya kita tidak meng-adjust begitu saja aturan-aturan tersebut. 

Baik saya maupun Anky, sama-sama warga Indonesia yang sedang ada di luar Indonesia. Kita berharap agar warga Indonesia di mana saja sadar akan keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia.

Menurut Anky, kita perlu membangun perasaan seperti: “merasa memiliki atau bangga” akan kebudayaan Indonesia melalui berbagai cara.  Salah satunya nih, kita bisa melakukan melalui campaign yang bertujuan untuk  membangun awareness kepada setiap warga, bahwa budaya Indonesia itu sangat beragam dan kaya.  

Sahabat Ruanita tahu tidak, kalau ada Hari Keanekaragaman Budaya Sedunia loh. Pesan kami berdua, adalah mari kita mengajak Global Southern countries untuk bersatu haluan bersama! “Teruntuk Global Northern countries, less your ego and show more  respect to others!”

Kita adalah perempuan-perempuan keren! Karena kita mampu untuk relatively hidup  independen di negara-negara yang diverse ini. Kita harus tetap semangat memperjuangkan hak-hak perempuan dan gender equality! Ayo, terus  semangat menjadi Indonesian culture agent di mana pun kita berada.  

Penulis: Zukhrufi Syasdawita, atau yang sering dipanggil dengan nama Rufi yang menulis berdasarkan  wawancara dengan Anky. Rufi adalah seorang mahasiswa di University of Passau, Jerman.  Dapat terhubung dengan Rufi melalui akun instagram zsyasdawita. 

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Bagaimana Partisipasi Perempuan dalam Dunia STEM?

Sejalan dengan program kecakapan hidup dan advokasi yang dijalankan Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia, kami menggelar setiap tahun Workshop Karier dan Kewirausahaan. Tahun ini kami mengusung Workhsop yang berfokus pada peningkatan kapasitas perempuan dalam dunia digital bagi pemula.

Salah satu pemateri dalam workshop ini adalah Puput Cibro yang bekerja sebagai ahli dalam dunia digital marketing dan menetap di Ceko. Workshop telah berhasil digelar selama tiga kali pertemuan daring, bekerja sama dengan DWP KBRI Berlin baru-baru ini. Dengan siaran berita, dapat dicek pada pranala yang ditautkan.

Puput Cibro menjelaskan bahwa angka partisipasi perempuan di dunia STEM (=Science, Technologi, Engineering, and Mathematic) masih rendah. Hal ini menurut Puput, masih disebabkan oleh minat atau interest perempuan yang tidak tinggi dibandingkan oleh pria, terutama di bidang teknologi.

Minat ini juga menentukan angka lulusan perempuan yang studi tentang teknologi pun masih rendah untuk masuk ke pasar tenaga kerja. Misalnya, dari seribu orang lulusan di bidang ICT, mungkin hanya 24 saja yang termasuk kelompok perempuan.

Follow us: ruanita.indonesia

Di Uni Eropa sudah ada kebijakan untuk menerapkan komposisi perempuan dan laki-laki di perusahaan teknologi, agar bisa mendorong perempuan lebih banyak lagi bekerja di dunia ICT. Dengan begitu, perempuan memiliki banyak role model untuk membantunya tertarik dan terlibat lebih banyak lagi.

Dalam program video Cerita Sahabat Spesial berdurasi kurang dari sepuluh menit ini, Puput juga menjelaskan tentang bagaimana perempuan bisa melihat peluang yang bisa dilakukan perempuan dalam dunia ICT. Perempuan juga perlu bersikap bijak saat membagikan data di dunia digital.

Apa yang menyebabkan perempuan kurang tertarik dalam dunia digital? Apa saja peluang perempuan untuk bekerja dan berwirausaha di dunia digital? Bagaimana perempuan dapat tetap aman (=secure) memanfaatkan dunia digital untuk berkarier dan berwirausaha? Bagaimana membuat personal branding di dunia digital? Apa pesan Puput Cibro sebagai Digital Marketing Expert dan Architect untuk perempuan Indonesia?

Simak selengkapnya dalam video program CSS (=Cerita Sahabat Spesial) berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi.

(CERITA SAHABAT) Berawal dari Kuliah Teknik Informatika di Jerman, hingga Ide Berwirausaha di Dunia Digital di Indonesia

Halo semuanya sahabat Ruanita, nama saya Natasha Hartanto dan sekarang saya tinggal di Jakarta, Indonesia sejak tahun 2023. Sekitar delapan tahun saya menetap di Jerman, saya akhirnya memutuskan kembali ke Indonesia. Saat ini saya sedang membangun usaha saya di bidang pendidikan dan teknologi kesehatan. 

Saya berkuliah di jurusan Informatika (IT) atau dalam Bahasa Inggris studi saya dikenal sebagai Computer Science di Universität Passau, Jerman. Awalnya, saya tertarik masuk jurusan itu saat diperkenalkan pertama kali dengan kompleksnya programming saat saya berada di Studienkolleg di Halle, Jerman. Saya masuk kuliah pada saat Wintersemester 2017/2018. Menurut saya, berkuliah di jurusan Informatika itu sepertinya susah-susah gampang.

Kesulitan studi saya sebenarnya lebih pada bagaimana mencari solusi untuk setiap masalah, yang perlu diselesaikan dengan programming. Hal yang membuat studi saya cenderung lebih mudah dari jurusan lain adalah karena Bahasa Jerman yang digunakan tidak terlalu mendalam. Mayoritas kosakata dalam studi saya masih menggunakan Bahasa inggris, atau langsung bahasa pemograman dan matematika. Kemampuan Bahasa Jerman saya tidak perlu semahir seperti jurusan lain di kampus saya, seperti misalnya jurusan filsafat atau hukum. Sebagaimana informasi berseliweran yang sudah sering didengar di Jerman, kalau jurusan teknik dan matematika itu sulit sekali. Jadi, kalau kalian ingin berkuliah di jurusan IT, semangat ya! 

follow us

Setelah saya berhasil menyelesaikan studi, saya sempat bekerja di Jerman beberapa tahun untuk mendapatkan pengalaman kerja. Saya pun kembali ke Indonesia dan saya sekarang berharap bisa mendirikan usaha saya sendiri. Saya sangat berharap usaha saya dapat sukses, setidaknya saya bisa membantu minimal 50 juta penduduk Indonesia, terutama anak muda dalam menavigasi masa depan mereka. Usaha saya dimulai dari membuat sistem agar cara berpikir kita semakin strategis, untuk membuat keputusan yang lebih baik (strategic decision making), dan tentunya juga di bidang kesehatan mental dan fisik. Misalnya, cara menghindari break outs, agar bisa lebih memahami siklus biologis tubuh.

Saya merasa beruntung dengan adanya perkembangan kecerdasan artifisial (AI) yang sangat pesat sekarang ini, sehingga progress proyek-proyek saya cukup terbantu. Selain itu, saya juga merasa koneksi dengan banyak orang itu sangat penting. Jadi, itu yang saya lakukan sekarang. Bila ada kesempatan, saya ingin berusaha untuk mengenal lebih banyak orang yang mungkin bisa berjalan, berdampingan dengan visi dan misi saya.

Kalau saya mengingat jurusan saya dulu, saya berkuliah IT di Universität Passau dengan proporsi jumlah mahasiswa perempuan sekitar 10%  sampai 20% dari keseluruhan jurusan IT di angkatan saya. Saya setuju bahwa minat di bidang teknik informatika secara general kurang banyak diminati mahasiswa perempuan, terutama di bidang IT dan mesin. Menurut saya, hal itu sangat dapat dimengerti. Saya dan beberapa mahasiswa perempuan yang berkuliah di jurusan teknik informatika (IT) yang dikenal, juga menyadari perbedaan angka partisipasi perempuan yang ingin studi di jurusan teknik informatika. 

Berdasarkan pengamatan saya, peluang perempuan untuk bekerja di dunia digital di Jerman sangat besar. Alasan ini yang selalu memotivasi saya dan para mahasiswa perempuan di jurusan teknik informatika (IT) untuk mencoba peruntungan. Kami tahu, bahwa ada kebijakan di banyak perusahaan untuk menerima karyawan perempuan. Ditambah pula, bekerja di bidang teknologi informatika juga memiliki pendapatan yang tidaklah kecil.

Definisi dunia digital menurut saya cukup luas. Apabila yang dimaksudkan dengan dunia digital dalam jurusan Teknik informatika, maka sejujurnya saya sebagai seorang perempuan, merasa bahwa programming itu seringkali membosankan. Contohnya, saya harus bisa bertahan dan terus berpikir secara logical thinking untuk memecahkan masalah dengan rumus matematika di balik layar komputer. Dalam sehari 12 jam misalnya, saya bisa bekerja dengan hampir tidak ada komunikasi dengan manusia lain kecuali bila ada masalah. Umumnya, bagi perempuan ini tidak mudah. 

Saya merasa bahwa perempuan secara evolusioner lebih membutuhkan banyak koneksi dan komunikasi dengan manusia lain. Saya pun menyadari hal ini, setelah saya bekerja beberapa lama sebagai programmer. Saya sadar bahwa saya butuh lebih banyak interaksi. Oleh karena itu, wajar bila perempuan lebih memilih pekerjaan yang butuh banyak interaksi dengan orang lain seperti: guru, dokter atau psikolog misalnya.

Di kantor, tempat saya bekerja dulu di Jerman lebih banyak didominasi oleh laki-laki. Dalam hal pengalaman kerja bersama rekan kerja lainnya, saya merasa sangat dihargai sebagai perempuan. Mereka sangat menghormati saya. Bahkan, saya sering diprioritaskan dalam banyak hal, seperti mereka selalu menanyakan pendapat saya dalam membuat beberapa perubahaan, dsb. Mereka sangat respek pada kita, walaupun saya sangat sering berbuat salah. Sebagai orang asing, sering kali saya tidak mengerti beberapa hal –mengingat bahwa kemampuan Bahasa Jerman saya masih di bawah kemampuan mereka, yang notabene sebagai Native Speaker. Namun, mereka selalu sabar dan tidak pernah meremehkan kemampuan saya.

Untuk meningkatkan minat dalam dunia digital, menurut saya, perempuan perlu lebih banyak lagi mendapat informasi, pelajaran, atau pelatihan tentang bidang-bidang yang berkaitan di dunia digital. Ini diperlukan agar perempuan lebih bisa memahami peluang yang ada, menimbang peluang tersebut, sebelum mereka memutuskan untuk terjun langsung di bidang digital. 

Tentunya, saya sepakat dengan perkembangan dunia digital yang diiringi oleh kecerdasan artifisial (AI) yang pesat, bahwa perempuan memiliki peluang kewirausahaan yang besar. Menurut saya, perempuan bisa menggabungkan aspek logika dan kreativitas yang dimilikinya, sehingga ini menjadi keunggulan untuk meraih kesuksesan. 

Bagi kalian yang tertarik ingin terjun di dunia digital, jangan takut! Kalian tidak harus paham segala hal untuk bisa berkuliah, bekerja, atau berwirausaha di bidang digital. Saya pun menyadari bahwa saya masih perlu belajar banyak hal. Kalian bisa mencari teman atau kenalan, yang mungkin bisa membantu kalian untuk meraih cita-cita atau kesuksesan.

Bagi kalian yang ingin bertanya lebih lanjut tentang dunia digital, kalian dapat menghubungi saya melalui kontak formulir di website saya, di akhir artikel. Jangan lupa, kalian perlu menuliskan topik yang ingin dibahas dan mention nama saya ya;)


Penulis: Natasha Hartanto, yang dapat dikontak di Website skyttenh.com dan juga mengelola kanal YouTube youtube.com/@natashahartanto.

(CERITA SAHABAT) Kecanduan Bergosip di Perantauan Antar Sesama Orang Indonesia, Membuat Saya Difitnah Dua Kali

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan nama panjang saya, Novia Karina Irna Wati. Saya biasa dipanggil Karin. Saya lahir di Jakarta, 33 tahun lalu dan kini saya menetap di Turki. Saya adalah lulusan Sarjana Hukum Universitas Pakuan Bogor tahun 2011 lalu. Sebelum saya menikah dan masih tinggal di Indonesia, saya adalah pekerja swasta di perusahaan asal Korea, yang memproduksi sepatu seperti Nike. Karier saya dimulai pada tahun 2011 – 2012, dengan jabatan terakhir sebagai Senior Staff di bagian Human Resources Department (HRD). Setelah lulus kuliah, saya pindah bekerja ke salah satu perusahaan asal Korea juga di area Subang, Jawa Barat. Saya bekerja di sana selama 2013 – 2021, dengan jabatan terakhir saya sebagai Assistant Manager di bagian Sustainability Manufacturing.

Singkatnya, pekerjaan saya berhubungan dengan peraturan kerja dan pekerja, yang mana harus comply  dengan aturan Nike Code of Leadership Standart (NCOC). Nike adalah Buyer  yang memberikan order kepada perusahaan, tempat saya bekerja. Salah satu aturan, yang perlu dipatuhi adalah TİDAK BOLEH ADANYA KEKERASAN DAN PELECEHAN Dİ LİNGKUNGAN KERJA. Saat itu, saya adalah ketua dari Tim Anti Kekerasan dan Pelecehan. Saya sekaligus adalah penyusun prosedur anti kekerasan dan pelecehan di lingkungan kerja, baik secara fisik, lisan maupun seksual. Saya pun adalah seorang Trainer bersertifikasi dari Badan Ketenagakerjaan Indonesia, karena saya adalah seorang Kader Norma Ketenagakerjaan (KNK) tingkat utama. 

Hal lain, yang saya kerjakan adalah merumuskan PKB (Peraturan Kerja Bersama), di antara pihak Management dengan  pihak Serikat pekerja. Pekerjaan saya di perusahaan terakhir ini, cakupan job description-nya cukup luas. Saya banyak menghadapi tekanan-tekanan pekerjaan, mulai dari tuntutan perusahaan, karyawan yang banyak melakukan pelanggaran, pertanggungjawaban laporan untuk dikirimkan kepada Buyer setiap bulannya, melakukan dinas luar untuk meeting dengan vendor-vendor dari perusahaan lain, yang ingin bekerja sama dengan perusahaan.

Follow us.

Agar menjadi perusahaan rekanan, di dalam meeting, tugas saya memastikan vendor perusahaan tersebut juga comply atau patuh dengan peraturan ketenagakerjaan Indonesia. Misalnya, perusahaan harus comply  dengan peraturan pengupahan, atau perusahaan tidak boleh membayar upah pekerja di bawah upah minimum. Walaupun, pekerjaan saya tergolong berat dan banyak mendapat tekanan, saya sangat mencintai pekerjaan saya. Hal ini karena, didukung oleh lingkungan kerja saya yang sangat nyaman. Atasan saya langsung adalah warga negara asing dari Korea, yang selalu memberikan support kepada saya. 

Saya juga memiliki 3 orang staf yang dapat bekerja sama dengan baik. Dua staf adalah lulusan dari Sarjana Hukum dan 1 orang staf adalah lulusan ilmu Psikologi. Setiap minggu, kita selalu mengadakan meeting  untuk saling mengoreksi pekerjaan. Apabila ada hal-hal yang perlu dikoreksi, kami selalu mengoreksi bersama, serta mencari solusi bersama. Kalau di dalam tim, terjadi complaint terhadap saya sebagai atasan, mereka tidak sungkan berbicara langsung. Mereka tidak berbicara di belakang saya. 

Hampir seminggu sekali, kami makan malam bersama. Setahun sekali, kami melakukan team building yang disponsori oleh perusahaan. Sampai saat ini, saya masih berhubungan baik dengan mereka. Terkadang, saya support mereka dari jauh, apabila mereka bertanya mengenai pekerjaan. Di tempat kerja, saya belajar dan mengajarkan bagaimana menciptakan lingkungan kerja yang nyaman, saling menghormati, dan tidak saling menjatuhkan antar sesama tim. 

Saat itu, karir saya bisa dibilang cemerlang, yang mana saya berpenghasilan baik dan memiliki mobil pribadi. Saya juga salah satu generasi ‘sandwich’ yang harus memberikan belanja bulanan untuk ibu, mulai dari belanja kebutuhan pokok, membayar asisten rumah tangga bulanan, iuran pokok bulanan, serta kebutuhan-kebutuhan mendadak lainnya. Setiap minggu, saya dan ibu saya biasa berjalan-jalan untuk makan di luar. Sesekali, saya ajak ibu berlibur, saat saya mendapat cuti tahunan. Ketika saya ingin menikah dengan pria asal Turki, saya seperti di ambang dua pilihan. Saya bingung di antara saya mengambil promosi menjadi Manager atau menikahi pria asal Turki, yang kemudian menjadi ibu rumah tangga. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk menikah dan kini menetap di Turki.      

Sejak saya menjadi ibu rumah tangga, aktivitas setiap hari seperti ibu rumah tangga pada umumnya. Sesekali, saya juga mengantar sekolah keponakan saya yang masih TK (taman kanak-kanak). Aktivitas lainnya, saya dan suami suka menonton film action, dokumenter, ataupun drama, yang ada di Netflix. Sesekali kalau cuaca bagus, kami pun pergi memancing di laut. Setiap tahun, suami saya mendapat cuti selama 30 hari. Cuti tahunan dipakai untuk berlibur ke tempat-tempat yang belum pernah kami kunjungi di Turki. Kami sangat suka berlibur ke pantai dan ke tempat bersejarah. Tahun 2022 lalu, saya dan suami berlibur ke Jakarta dan Bali.  

Bulan Agustus 2022 – Februari 2023, saya ikut kursus Bahasa Turki, yang dilangsungkan setiap Senin sampai Kamis. Di situ, saya mengenal banyak orang asing dan terkadang saya ikut acara gathering yang diselenggarakan dari tempat kursus. Orang-orang asing yang saya kenal berasal dari Rusia, Ukraina, Maroko, Bulgaria, dan Aljazair. Biasanya gathering dilakukan ‘Summer Time’ (musim panas). Kita makan bersama di suatu tempat, setelah itu minum Turkish coffee bersama. 

Saya juga memiliki dua orang teman dari Turki, yang dekat dengan saya karena persamaan hobi kami yang suka berlibur keluar kota. Tahun depan, saya berencana akan mendaftarkan diri lagi kursus Bahasa Turki. Sayapun memiliki dua teman baik asal Indonesia. Terkadang, kami berkumpul secara bergantian untuk masak-masak di rumah, liburan bersama dengan suami-suami ke suatu daerah. Karena kami berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia, kami lebih banyak bercerita, mulai pengalaman di negeri perantauan serta kendala-kendala yang terjadi selama tinggal di Turki. 

Setiap dua minggu sekali, saya dan suami datang berkunjung ke ibu dan bapak mertua untuk makan bersama, berbincang-bincang, terkadang ibu mertua mengajak ke kebun untuk mengambil sayuran atau buah-buahan yang ditanam di taman kecilnya. Waktu luang saya digunakan untuk berkomunikasi dengan sahabat-sahabat saya di Indonesia melalui video call. Hal yang kami bicarakan mengenai perkembangan anak-anak mereka, keadaan Indonesia, sampai dengan diskusi mengenai pekerjaan. Sebagian besar teman-teman saya adalah pekerja kantoran di bidang yang sama dengan saya. Hal lain yang saya lakukan adalah membaca berita di Turki dan İndonesia, mendengarkan podcast-podcast, mencari peluang bisnis yang bisa saya lakukan, dan saya juga suka melihat konten-konten kuliner di sosial media. 

Cerita awal bertemu dan berkenalan dengan suami, hingga tiba di Turki

Awal mula saya berkenalan dengan suami pada tanggal 26 Agustus 2019 melalui aplikasi “interpals”, yang saya ketahui dari teman kantor saya. Saya download aplikasi tersebut tanggal 24 Agustus 2019. Setelah itu, tanggal 26 Agustus 2019 saya mendapatkan email dari suami saya, yang isinya mengajak kenalan, kemudian kami bertukar nomor Whatsapp, dan melanjutkan komunikasi melalui video call. Selama 1 sampai 2 minggu saya berkomunikasi intens setiap hari, kami mengobrol tentang kehidupan, bertukar pendapat, serta berbicara tentang hobi kita yang sama yaitu traveling. 

Suami saya menjelaskan bahwa dirinya bekerja di salah satu perusahaan pabrik kaca terbesar di Turki. Dia adalah lulusan dari salah satu universitas di Turki, Jurusan Design Graphis. Kebetulan saat itu, saya masih memiliki sisa cuti tahunan sekitar 5 hari. Tadinya, saya hendak memakainya untuk traveling ke Thailand sebagai sisa cuti tahunan. Suami, yang dulu masih berteman, dia menawarkan untuk jalan-jalan keliling ke lstanbul dan berkenalan dengan orang tua dia. Saya senang sekaligus takut. Saya berpikir selama seminggu. Dalam satu minggu itu, saya meminta suami saya mengirimkan lD card tempat dia bekerja, foto kartu identitasnya, alamat kantor dan rumahnya. Saya pun meminta foto kartu identitas ibu dan ayahnya, untuk memastikan mereka tinggal di alamat yang sama. Setelah saya yakin, saya pun booking tiket pesawat ke Turki. 

Untuk berjaga-jaga semua informasi tentang suami, saya berikan kepada teman, sahabat, dan keluarga karena saya masih berpikir kemungkinan terburuk dapat menimpa saya.  Tanggal 16 November 2019 kami bertemu di lstanbul, tepatnya di Taksim. Saya pergi liburan, berkenalan dengan orang tuanya, kakak perempuannya, dan keponakan-keponakannya. Saat itu, saya sangat senang dan yakin bahwa suami dan keluarganya adalah orang baik. Suami dan keluarganya bukan seratus persen orang Turki. Mereka adalah campuran dari Bulgaria. Kesan yang saya rasakan saat pertemuan pertama, keluarganya jauh dari budaya ketimuran dan lebih kepada kebarat-baratan. 

Saat saya masih tinggal di Indonesia, saya berharap menikah dengan lelaki yang baik dan mapan. Awalnya, saya memiliki tunangan orang Indonesia, tetapi seiring berjalannya waktu kami putus dan gagal menikah. Sejak itu, saya berkenalan dengan pria berbagai negara dari Amerika, Korea, Malaysia, Kanada, dan Belanda. Mereka semua baik dan mapan. Namun, jodoh menggiring saya berlabuh ke pria asal Turki. Saya berharap apabila saya menikah dengan orang asing dan menetap di luar negeri, saya dapat circle pertemanan lebih luas. Mungkin saya bisa membuka bisnis bersama dengan orang Indonesia yang tinggal di luar negeri, seperti membuka bisnis kuliner ataupun  agen travel.  

Realita yang terjadi begitu tiba di Turki

Saya menikah pada tahun 2020. Awalnya kami ingin tinggal di rumah mertua selama 6 bulan, dengan tujuan agar saya bisa belajar bahasa dan budaya. Selama seminggu, saya tinggal serumah dengan mertua. Saya merasa tidak nyaman tinggal bersama mertua. Ini bukan karena mertua saya jahat, melainkan mertua saya punya budaya dan kebiasaan berbeda, seperti perbedaan selera masakan dan cara membersihkan rumah, dll. Terkadang, saya malu sendiri karena tidak bisa membantu maksimal. Mertua saya tidak pernah marah, kesal, atau jahat kepada saya. Justru sebaliknya, mereka merasakan saya tidak nyaman tinggal bersama mereka karena perbedaan tersebut. 

Seminggu kemudian, kami pindah rumah yang dekat dengan perusahaan tempat suami bekerja. Rumah kami berada dalam satu komplek dengan kakak ipar saya yang adalah perempuan. Selama 3 tahun, saya tidak pernah bertengkar atau berkonflik apapun, karena kakak ipar saya bekerja dari Senin sampai Jumat, sehingga kami jarang berkomunikasi, walaupun rumah kami berdekatan. Saya dan kakak ipar selalu saling membantu. Sesekali saya dan kakak ipar berlibur bersama, seperti kami berlibur ke Cappadocia dan Ankara. 

Saya merasakan keluarga suami saya sangatlah baik dan hangat. Mereka tidak pernah ikut campur urusan rumah tangga kami. Apapun yang kami lakukan selama hal itu baik, mereka selalu menjadi support system. Namun, banyak cerita dari teman-teman orang Indonesia dan cerita dari orang Turki sendiri yang ribut dengan keluarga suaminya. Saya disebut tergolong perempuan yang beruntung karena saya memiliki keluarga orang Turki yang baik, meskipun agama yang dianut keluarga suami berbeda dengan Islam di Indonesia. Hal yang diajarkan keluarga suami saya, dalam hal agama adalah untuk kontrol diri menjadi orang baik. Menurut mereka, apapun agamanya, yang penting menjadi orang baik adalah hal terpenting. 

Hal lain adalah realita di Turki, tempat saya tinggal di provinsi Kırklaerli. Kotanya bernama Lüleburgaz, dan tergolong kota kecil. Semula saya berpikir, saya bisa merintis hobi memasak dan ingin memperkenalkan masakan Indonesia, seperti rendang, soto, atau apapun itu, tetapi ternyata orang di sini tidak begitu menyukai masakan Asia. Mereka tidak suka makanan pedas dan rempah.  Saya belajar makanan apa yang mereka suka, ternyata adalah makanan yang manis. Apabila saya membuat nastar, bolu, brownis, atau makanan manis lainnya, mereka tentu saja suka. Sayapun sulit mencari pekerjaan di Turki karena saya harus berasal dari lulusan akademis. Misalnya, saya adalah sarjana hukum dan ingin berkerja sebagai guru Bahasa Inggrıs di sekolah swasta, itu tidak bisa. Hal ini karena saya bukan lulusan Pendidikan Bahasa Inggris. Apabila saya lulusan sarjana Pendidikan Bahasa İnggris, mereka dapat  mempertimbangkannya. Saya sempat mendapat tawaran menjadi guru Bahasa Inggris di suatu sekolah swasta tetapi yang diterima orang dari Afrika, karena beliau adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris.

Adapun, pekerjaan yang ditawarkan oleh keluarga suami adalah bekerja di salah satu pabrik garmen. Suami saya tidak mengizinkan karena dia mengetahui bekerja di pabrik dan mengoperasikan mesin berbeda dengan apa yang saya kerjakan di balik meja, seperti menggunakan komputer. Pernah juga KJRI membuka lowongan untuk menjadi volunteer administasi , saya ingin mengirimkan CV saya tetapi lagi-lagi suami saya tidak mengijinkan. Alasannya, lokasi jaraknya jauh. Awalnya, saya sedikit marah dengan suami saya, mengapa dia terkesan seperti menghalang-halangi saya untuk berkembang. Setelah kami berdiskusi, suami saya ingin agar saya bekerja sesuai dengan minat saya. 

Dia tidak ingin, saya bekerja untuk mengisi waktu saja sampai bekerja jauh ke luar kota. Apabila saya bekerja di luar kota, saya harus berpisah dengan suami. Menurut dia, mungkin seminggu sekali saya pulang. Sebenarnya, kebutuhan dan keinginan saya selalu terpenuhi oleh suami. Akhirnya, saya pun patuh pada suami saya. Realita lainnya yang saya rasakan selama tinggal di Turki, saya sangat sulit menemukan teman sebangsa yang satu pemahaman dan pemikiran. Saya banyak mendengar bahkan melihat beberapa pertengkaran di antara sesama orang-orang Indonesia. Pernah saya berdiskusi dengan KJRI Istanbul dan bertanya mengapa kita sesama orang Indonesia sulit untuk bersatu dan berpikir positif satu sama lain. 

Pertemanan saya dengan sesama orang Indonesia dan non orang Indonesia di Turki

Sebelum saya menikah, saya bertemu dengan satu orang Indonesia. Sampai saat ini, saya beruntung karena dia adalah salah satu teman terbaik yang saya kenal di negeri perantauan ini. Saya bertemu pertama kali, di salah satu optik yang berada di shopping mall, kota tinggal saya. Walaupun, umurnya lebih muda dari saya tetapi dia sudah menikah dan tinggal lebih lama di Turki. Semula kami tinggal satu kota. Suami dia adalah seorang guru, yang mana suaminya dipindahtugaskan ke kota lain, sehingga kami terpisah kota. Namun, komunikasi kami tetap terjalin baik sampai pada saat ini. Melalui perantara dia, saya mengenal teman-teman orang Indonesia lain, termasuk teman-teman mahasiswa/i Indonesia yang kuliah di Turki. 

Teman saya ini adalah seorang ibu muda beranak satu yang selalu support ataupun menyemangati saya dalam keadaan apapun. Banyak cerita inspiratif yang dia berikan dan memberikan pengetahuan mengenai kehidupan di Turki. Dahulu beliau pernah berkuliah jurusan accounting, sebelum menikah dia juga pernah bekerja di Turki. Di tempat kerjanyalah, dia bertemu dengan suaminya. Beliau pun memperkenalkan saya dengan beberapa orang Indonesia lainnya. Ternyata teman-temannya tidaklah sepositif kami. Saya dan dia kadang berpikir, setiap orang sama seperti kami yang tidak memiliki rasa iri dan dengki. Namun, ternyata kami salah. Orang-orang yang kami berikan support dan kebaikan dibalas dengan berbicara buruk di belakang kami dan disebarluaskan kepada orang lain. 

Salah satu orang Indonesia pernah saya laporkan ke KJRI Istanbul karena orang tersebut berbicara buruk tentang kami di sosial media. Pada akhirnya, KJRI Istanbul memberikan teguran dan pengarahan (terima kasih untuk KJRI Istanbul). Tidak sampai di situ, saya pun kembali mendapatkan fitnah dari orang Indonesia lain. Terjadi adu domba dengan sesama teman Indonesia, termasuk kami yang diadu domba. Beruntungnya, kami sudah mengenal satu sama lain, kami tidak termakan omongan orang-orang yang bermulut jahat tersebut. Sebaliknya, kami saling membela dan support satu sama lain. Saat kejadian tersebut, saya sempat ‘down’ dan overthinking, mengapa saya diperlakukan seperti ini. Sampai suamipun turut ikut campur dalam masalah saya. Suami saya berani melaporkan hal tersebut ke kantor polisi. Suami saya pun menggertak ke suami-suami mereka. Pada akhirnya, mereka meminta maaf kepada saya dan suami dan mereka meminta untuk tidak diperkarakan ke polisi. 

Saya dan suami tidak memperkarakan hal tersebut dan memilih untuk berdamai. Ketika saya difitnah, dada saya sangat sesak karena saya baru pertama kalinya diperlakukan seburuk ini. Saat itu, saya menangis dan menahan kesal, karena apa yang mereka tuduhkan sangatlah jahat. Suami saya menghubungi teman baik saya di sini dan menanyakan apa yang terjadi, apakah benar istrinya tersebut melakukan hal yang buruk kepada sesama orang Indonesia. Teman saya  menjelaskan bahwa saya tidak pernah melakukan hal buruk apapun. Dia menjelaskan sedikit tentang kejadian sebenarnya. Setelah kejadian tersebut, suami membatasi pergaulan saya dengan orang-orang Indonesia agar tidak terjadi konflik. 

Berbeda halnya dengan teman-teman mahasiswa/i di sini, selama kurang lebih tiga tahun saya kenal. Setiap saya berkenalan dengan teman-teman mahasiswa/i Indonesia, tidak ada satupun yang bermasalah dengan saya, walaupun sering kami berkumpul, masak-masak bersama, dan berdiskusi seputar ilmu pengetahuan, politik, dan budaya. Sampai-sampai, saya mendengarkan cerita mereka akan masa depan yang ingin dicapai jika lulus kuliah nanti. Bergaul dengan teman-teman mahasiswa/i membuat aura saya merasa muda dan teringat akan masa-masa kuliah saya dulu. Saya sampai berpikir, apakah saya bisa berkuliah lagi di negeri ini? Setelah saya berpikir kembali, saya urungkan dan saat ini yang harus saya kerjakan adalah bagaimana untuk mencari kegiatan dan bertemu dengan orang-orang positif yang dapat membuat hidup saya berkembang lebih baik. 

Sejak awal saya datang ke Turki sampai detik ini, hal yang menurut saya menarik adalah pertemanan saya dengan dengan mahasiswa/i Indonesia, karena bergaul dengan mereka membawa ke arah positif dan rasa keingintahuan mereka yang tinggi tentang budaya dan politik Internasional. Ini membuat saya dapat berdiskusi secara luas. Umur mereka dan jiwa mereka yang muda telah membuat jiwa saya merasa muda seperti ‘forever 21’.  

Dahulu saya berpikir, kita tidak boleh mendiskriminasikan level pendidikan seseorang ataupun latar belakangnya. Setelah beberapa kejadian yang menimpa saya seperti saya difitnah, digunjingkan, digosipkan, saya begitu sulit mencari teman yang selevel dan sefrekuensi dengan saya. Saya tidak menyatakan, bahwa saya adalah orang pintar atau saya adalah super power, TİDAK! Saya adalah orang yang suka berdiskusi tentang hal-hal yang dapat menambah ilmu dan wawasan. Saya suka berpergian dan saya suka mencoba hal-hal baru. Setelah saya meninjau kembali circle saya dengan teman-teman saya di Indonesia, saya tidak pernah sekalipun berkonflik dengan siapapun. Setiap saya pulang ke Indonesia, kami pasti berkumpul dan berdiskusi tentang kehidupan masing-masing. Oleh karena itu, saya berterimakasih kepada teman-teman saya di Indonesia yang selalu support saya, terutama sahabat-sahabat yang hampir setiap hari selalu menyemangati dan mengingatkan saya, agar saya jangan sampai down. 

Menurut saya, untuk pertemanan dengan sesama orang Indonesia di sini, kita harus sangat berhati-hati karena kita tidak mengetahui latar belakang mereka. Lebih parahnya lagi, banyak dari mereka yang mungkin hidup dalam kebencian, keirian dan kedengkian. Bahkan, mereka butuh pengakuan sosial, mereka berbohong akan status sosialnya. Mereka seperti berbicara seolah-olah dirinya itu adalah seseorang yang super power. Kenyataannya adalah sebaliknya. Mereka hidup dalam kekurangan, ketidakbahagiaan serta kesengsaraan. Satu contoh yang saya kenal, orang Indonesia yang mengaku-ngaku memiliki sebuah pabrik. Katanya dia kenal dekat dengan tokoh politik ternama di Indonesia, bahkan dia sampai mengaku kalau orang tuanya sangat berpengaruh di Indonesia. Semua itu adalah kebohongan berdasarkan halusinasi dari pikirannya. Orang seperti ini, menurut saya seharusnya mendapatkan treatment  khusus. Apa yang saya lihat dari keluarganya sendiripun acuh tak acuh. Hal-hal lain contohnya, banyak keirian dan kedengkian yang mengalir di diri mereka, sehingga saya sadar untuk ekstra berhati-hati dan selektif memilih teman. 

Pertemanan saya dengan orang asing atau orang-orang non Indonesia di perantauan, jauh lebih baik. Saya mendapatkan banyak wawasan lebih, misalnya teman saya yang berasal dari Ukraina dan tinggal di Turki, disebabkan negaranya sedang perang. Teman saya tersebut, menceritakan bagaimana kondisi di Ukraina. Dia juga mengaku sulit mendidik anak-anaknya untuk beradaptasi di Turki karena berbeda budaya dan bahasa. Saya juga berdiskusi dengan guru Bahasa Turki saya tentang kebiasaan orang Turki dan sejarahnya. Kami berdiskusi tentang traveling di Turki, Eropa, dan tempat-tempat makan yang enak di sekitaran kota, serta berbagi cerita dan resep makanan khas mereka. Kamipun sesekali bercanda tentang culture shock  yang kami alami di Turki. Misalnya, orang Turki yang sangat suka minum teh dan bersıh-bersih yang berlebihan. Orang Turki dalam membersihkan rumah sangatlah bersih. Selama saya berteman dengan orang Turki, tidak ada satu rumah mereka yang berdebu atau berantakan, walaupun mereka memiliki anak kecil. Selama tiga tahun saya di sini, pertemanan saya dengan orang non Indonesia tidak pernah ada masalah, karena saya memilih untuk berteman yang memiliki satu hobi dengan saya. Frekuensi berkumpul dengan merekapun tergolong sering.

Pesan dan harapan saya 

Sahabat Ruanita, ini pesan saya. Pertama, kita perlu mengenali dahulu pasangan hidup, keluarga, kota dia dibesarkan. Kedua, kita menghindari IMAM NIKAH ATAU NIKAH SİRİ. Hindari kalau kita mengenal pasangan hidup, cukup lewat sosial media kemudian langsung memutuskan untuk menikah secara agama. Sayapun seorang muslim. Saya sarankan agar kalian tidak hanya menikah secara agama saja, karena tidak ada perlindungan hukumnya. Jangan pula, kita langsung menikah secara sipil dengan hanya mengetahui pasangan di media sosial. Ada beberapa kasus yang saya ketahui, banyak yang mengenal pasangannya hanya di media sosial kemudian menikah resmi. Ternyata pasangannya tidak sesuai dengan harapan, bahkan tidak sedikit yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Namun, sekali lagi MEMANG TİDAK SEMUA yang bertemu pertama kali, langsung menikah hidupnya kemudian pernikahannya sengsara atau menderita. Ada pula yang bahagia. Saya hanya memberikan pandangan agar kita lebih berhati-hati dalam memilih pasangan hidup. Sedikit saya share pengalaman sebelum memutuskan untuk menikah, saya bertemu dengan kedua orang tuanya terlebih dahulu. Saya mengetahui kota di mana suami saya tinggal, saya mengetahui pekerjaan suami, serta gajinya. Kurang lebih setahun kemudian, kami memutuskan untuk menikah.

Alhamdullilah, selama 3 tahun menikah, suami dan keluarganya baik kepada saya. Hal lain yang harus benar-benar diperhatikan, adalah bagaimana cara pasanganmu berkomunikasi. Saya dan suami menjalin komunikasi dengan baik, yaitu setiap ada masalah kami selalu berdiskusi dan menekan ego masing-masing. Di tahun awal pernikahan, kami membutuhkan adaptasi bersama. Seiring berjalannya waktu, kami memahami karakter masing-masing. Kunci dari keharmonisan adalah menerima kelebihan dan kekurangan pasangan masing-masing. Selanjutnya, pelajari makanan di Turki ini. Dari segi makanan, ini sangat berbeda dengan masakan Indonesia. Di tahun awal pernikahan, kami sempat “ribut” perihal makanan. Ini terdengar lucu tetapi memang itu kenyataannya. Suami saya adalah pemilih soal makanan. Saya sebagai istri sudah bersusah payah memasak untuk suami. Apabila suami tidak suka dari aroma, bentuk, ataupun rasanya maka secuil pun dia tidak akan memakan masakan yang saya buat. Lambat laun, saya mengetahui selera suami saya yang sangat jauh bebeda dengan saya. Saya belajar dari YouTube dan bertanya kepada ibu Mertua, kakak ipar, serta keluarga suami lainnya mengenai masakan Turki. Perlu diketahui, ternyata setiap kota di Turki memiliki budaya makanan yang berbeda di setiap daerah. 

Dalam membangun pertemanan, saya berpesan kepada orang-orang newbie seperti agar mengenali dulu orang tersebut dan sangat BERHATI-HATI dalam berbicara. Terkadang kita bermaksud baik, tetapi salah dipahami. Kita bermaksud kita berbagi kesenangan, tapi bagi mereka itu merupakan ria atau pamer. Jangan terlalu positif dan baik! Berperilakulah sewajarnya saja karena setiap orang tidak pantas mendapatkan kebaikan dan perhatian. Kita kadang perlu bersikap “seni bodo amat”. Saya sudah dua kali mengalami difitnah dan dijadikan bahan bergunjing, itu sudah cukup untuk saya belajar lebih selektif memilih teman.  Carilah teman yang memang TULUS dan mereka ingin berteman dengan karena mereka membawa energi positif ke dalam diri kita. 

Harapan saya untuk KBRI /KJRI untuk membangun komunitas Indonesia yang produktif adalah sering membuat training secara daring ataupun tatap muka untuk orang-orang İndonesia. Misalnya,  bagaimana cara berkomunikasi dan bersosialisasi dengan baik. Apabila memungkinkan training tersebut, minimal dilakukan 1 – 3 bulan sekali dan terbuka untuk seluruh orang Indonesia yang menetap di Turki. Di dalam sesi training, dijelaskan juga tracking record  kasus-kasus dan keluh kesah yang sering terjadi dengan menjelaskan sebab-akibatnya sebagai bahan untuk pelajaran dan pengawasan diri sendiri.    

Terima kasih untuk tim Ruanita yang memberikan saya kesempatan menulis, terutama kepada Mbak Anna dalam sesi konseling online. Terima kasih kepada teman-teman di Turki yang saya kenal selama tiga tahun, seperti Mbak Lina dan Mita yang menjadi support system saya di negeri perantauan ini. Beribu-ribu terima kasih kepada sahabat-sahabatku di Indonesia yaitu Faras, Elisabeth, Felicia, Monica, Sofie, Kitty, Fanny, Reina, dan sahabat-sahabat lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, yang selalu ada buat saya, penguat mental saya dan support system terbesar dalam kehidupan saya. 


Penulis: Karin, tinggal di Turki.

(PODCAST RUMPITA) Pengalaman Pertukaran Belajar dan Budaya di Polandia

Melanjutkan program diskusi Podcast RUMPITA, pada episode ke-25 Podcaster Fadni yang adalah mahasiswi S2 di Berlin, Jerman berkesempatan mengundang tamu yang pernah mengikuti program IISMA. IISMA merupakan singkatan dari Indonesia International Student Mobility Award dan memiliki 67 host universitas di seluruh dunia, untuk program mahasiswi S1 dan pendidikan vokasi.

Program IISMA difasilitasi oleh Kemdikbud dan LPDP RI. Tamu podcast tersebut adalah Yacinta Putri, yang sempat menjadi mahasiswi internasional di Universitas Warsawa, Polandia. Program IISMA yang dijalani Yacinta dilakukan selama tiga bulan dan tinggal di sebuah asrama mahasiswa.

Yacinta adalah mahasiswi S1 di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta, yang sedang menjalani semester ke-5 pada saat berangkat ke Polandia, negara tujuan. Syarat untuk mengikuti program IISMA adalah mahasiswa yang terdaftar di universitas di Indonesia, memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang dipersyaratkan, dan nilai IPK yang sesuai dengan persyaratan program IISMA, yang tercantum di website Kemdikbud. Selengkapnya dapat dicek di Home (kemdikbud.go.id).

Follow us

Program ini berlangsung selama tiga bulan di negara tujuan dan memiliki dua bentuk fasilitas pembiayaan. Pertama, siswa mendapatkan pembiayaan penuh seratus persen ditanggung oleh pemerintah Indonesia. Pembiayaan kedua disebut co-funding, yang mana siswa yang terpilih wajib memenuhi pembiayaan yang dipersyaratkan.

Meski Yacinta telah kembali dari Polandia, tentu ada banyak pengalaman berharga dan pembelajaran yang bisa direkomendasikan di perguruan tinggi asal. Yacinta merasa senang bisa mendapatkan kesempatan belajar dan budaya di Polandia, yang mana Yacinta bisa memahami perspektif lain dari warga asing tentang ilmu pengetahuan.

Fadni pun mengamini bagaimana Yacinta mengalami perubahan cara berpikir dan gaya belajar yang berbeda dibandingkan di Indonesia. Fadni mengatakan bahwa dia harus membaca teks yang diberikan dosen sebelum pembelajaran di kelas dimulai dan diskusi antar mahasiswa membantu Fadni dan Yacinta untuk berpikir kritis.

Culture shock untuk Yacinta tampak dari bagaimana dia berelasi dengan mahasiswa Polandia, yang terlihat serius, dingin, tidak ramah, dan sulit membangun pertemanan di awal. Budaya orang Polandia yang lebih individualis sangat kontras dengan budaya kolektif di masyarakat Indonesia, yang juga ramah kepada siapa saja. Yacinta juga sulit untuk beradaptasi dengan makanan Polandia, yang sangat berbeda sekali dengan Indonesia.

Apa saja pengalaman menarik dan berharga yang dialami Yacinta di Polandia? Bagaimana Yacinta menilai pembelajaran dan budaya di Polandia? Apa saja gegar budaya (culture shock) yang dialami selama Yacinta selama tinggal di Polandia? Bagaimana Yacinta mengatasi tantangan belajar dan budaya di Polandia? Apa pesan Yacinta untuk sahabat Ruanita yang ingin mengikuti program pertukaran budaya dan belajar?

Simak selengkapnya diskusi podcast berikut ini dan jangan lupa follow podcast kami: