(DATA) Peserta Kartini dalam Kewirausahaan dari 12 Negara

Menindaklanjuti program “Kartini Masa Kini dalam Kewirausahaan” yang pernah dilaksanakan pada 2022 lalu, kami menggelarnya juga di tahun 2024 ini dengan menampilkan profil usaha dari teman-teman perempuan yang ada di luar Indonesia. Mereka tinggal di Jerman, Taiwan, Australia, Turki, Swiss, Belanda, Prancis, Polandia, Amerika Serikat, Norwegia, Korea Selatan, dan Serbia.

Tujuan dari program ini:

1. Menampilkan keragaman usaha yang dikelola oleh perempuan Indonesia sehingga menjadi inspirasi bagi siapa saja.

2. Menjadi “bank data” tentang keragaman usaha teman-teman perempuan di mancanegara yang dapat saling mendukung satu sama lain.

3. Membentuk jaringan sesama perempuan Indonesia di negeri rantau yang dimoderasi oleh Ruanita Indonesia.

Jerman

Nama Pemilik Ratitia Gitanyali
Nama Usaha/Produk Usaha Bali Java Wellness Healing
Lokasi Negara Usaha Jerman
Nama Media Sosial dari Pemilik FB: Tiara Saja I TikTok: @tiarasaja7
Nama Media Sosial dari Usaha/Produk Usaha Instagram: balijava_wellness_healing
Lama berwirausaha (tahun/bulan) Sejak 5 April 2015
Pesan untuk Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha Jangan pernah menyerah!
lebih lengkap, silakan cek di saluran instagram atau Fanpage facebook kami.

Taiwan

Nama Pemilik Zhira
Nama Usaha/Produk Usaha Energy Healing Practitioner
Lokasi Negara Usaha Taiwan
Nama Media Sosial dari Pemilik Instagram: Nazhira atau jiwa.hira
Nama Media Sosial dari Usaha/Produk Usaha Website: http://www.jiwa-hira.com atau FB page: Jiwa Hira
Lama berwirausaha (tahun/bulan) Sejak 2023
Pesan untuk Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha Percaya pada diri sendiri dan visi yang kamu punya. Perhitungkan risiko, gigih, dan jangan pernah takut gagal karena kegagalan sering kali mengarahkan kamu pada pertumbuhan dan pembelajaran. Kelilingi diri kamu dengan sistem pendukung yang kuat, carilah bimbingan, dan terus didik diri kamu dalam industri yang kamu tekuni tersebut. Tetap tangguh, mudah beradaptasi, dan bersemangat terhadap tujuan kamu.
lebih lengkap, silakan cek di saluran instagram atau Fanpage facebook kami.

Australia

Nama Pemilik Shinta Santoso
Nama Usaha/Produk Usaha Tempeh
Lokasi Negara Usaha Australia
Nama Media Sosial dari Pemilik
Nama Media Sosial dari Usaha/Produk Usaha Website: http://www.primasoy.com.au atau Instagram: primasoy
Lama berwirausaha (tahun/bulan) 19 tahun
Pesan untuk Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha
lebih lengkap, silakan cek di saluran instagram atau Fanpage facebook kami.

Turki

Nama Pemilik Rahmawati Susanti
Nama Usaha/Produk Usaha Indo Gastronomy
Lokasi Negara Usaha Turki
Nama Media Sosial dari Pemilik
Nama Media Sosial dari Usaha/Produk Usaha Website: http://www.indogastronomy.com I Facebook: Indo Gastronomy I Instagram: tempeh_tofu_ankara
Lama berwirausaha (tahun/bulan) sekitar 8 tahun
Pesan untuk Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha
lebih lengkap, silakan cek di saluran instagram atau Fanpage facebook kami.

Swiss

Nama Pemilik Anindya Palumbo
Nama Usaha/Produk Usaha Indy’s Kitchen
Lokasi Negara Usaha Swiss
Nama Media Sosial dari Pemilik Instagram: Indyrgras
Nama Media Sosial dari Usaha/Produk Usaha Instagram: indys_kitchen
Lama berwirausaha (tahun/bulan) Sejak 2013
Pesan untuk Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha Saya selalu berpikir dan mengajarkan baik teman maupun anak didik untuk selalu melakukan apa pun yang disuka. Percaya pada diri sendiri. Selalu tekun dalam menjalani sesuatu. Soal hasil, pasti akan mengikuti usaha kita. Jika kalian menyukai apa yang dilakukan, maka kalian tidak pernah merasa terbebani. Contohnya, sekali pun saya pernah bekerja 15-18 jam sehari karena ada event, tetapi saya tetap merasa senang dan sangat menikmati.
lebih lengkap, silakan cek di saluran instagram atau Fanpage facebook kami.

Belanda

Nama Pemilik Vinna Nidia
Nama Usaha/Produk Usaha Buku Anak Nusantara
Lokasi Negara Usaha Belanda
Nama Media Sosial dari Pemilik Instagram: Vinnidia
Nama Media Sosial dari Usaha/Produk Usaha Website: http://www.bukuanaknusantara.nl
Instagram/Facebook: bukuanaknusantara.nl
Lama berwirausaha (tahun/bulan) 1 tahun
Pesan untuk Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha Cari informasi sebanyak mungkin tentang produk yang akan dipasarkan dan aturan di lokasi negara tinggal. Adanya relasi sangatlah penting untuk mempromosikan usaha di tahap awal.
lebih lengkap, silakan cek di saluran instagram atau Fanpage facebook kami.

Prancis

Nama Pemilik Dena Triyana
Nama Usaha/Produk Usaha Bakso Kaki Lima Eropa
Lokasi Negara Usaha Prancis
Nama Media Sosial dari Pemilik Instagram: dena_djajadisastra
Nama Media Sosial dari Usaha/Produk Usaha Instagram: Bakso Kaki Lima Eropa
Lama berwirausaha (tahun/bulan) 1 tahun 6 bulan
Pesan untuk Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha Berwirausaha akan lebih menyenangkan untuk dijalani dengan menjalankan atau melakukan yang kita sukai.
lebih lengkap, silakan cek di saluran instagram atau Fanpage facebook kami.

Polandia

Nama Pemilik Lina Kowalko
Nama Usaha/Produk Usaha Dapur Tempeh Dozo Patisserie
Lokasi Negara Usaha Polandia
Nama Media Sosial dari Pemilik
Nama Media Sosial dari Usaha/Produk Usaha Facebook: Dapur Tempeh
Instagram: dapur_tempeh
I dozo_bialystok
Lama berwirausaha (tahun/bulan) sejak 2021
Pesan untuk Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha, sipakan mental untuk mengatasi berbagai kegagalan dan rintangan yang tidak pernah dialami sebelumnya. Selain itu, coba dan terus mencoba lagi agar konsisten terhadap apa yang sedang dikerjakan. Tidak perlu menjadi nomor satu, tetapi lakukan dengan terbaik.
lebih lengkap, silakan cek di saluran instagram atau Fanpage facebook kami.

Amerika Serikat

Nama Pemilik Dewi Mayasari
Nama Usaha/Produk Usaha Dewi Maya I Tropic Asian Market
Lokasi Negara Usaha Amerika Serikat
Nama Media Sosial dari Pemilik
Nama Media Sosial dari Usaha/Produk Usaha Website: http://www.dewimaya.com I IG: dewimaya.design
Website: http://www.tropicasianmarket.com I IG: Tropic Asian Market
Lama berwirausaha (tahun/bulan) Dewi Maya sudah 5 tahun dan Tropic baru 1 tahun
Pesan untuk Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha Sudah menjadi stereotip perempuan hanya akan berakhir di dapur dan mengurus rumah tangga. Di satu sisi, konstruksi sosial mengatakan dunia usaha
hanya cocok untuk pria. Perempuan dirasa terlalu lemah. Sayangnya, justru sesama perempuan yang mengatakan hal itu.
Kesetaraan gender di era yang semakin maju ini telah membuka peluang besar untuk perempuan berdaya secara financial. Saya merasakan, kerja keras ini semakin melambung tinggi setelah menikah dan punya anak. Banyak juga tantangan yang saya hadapi, terutama di awal merintis usaha di Amerika Serikat. Tantangan internalnya karena saya harus membagi waktu antara mengurus anak. Suami saya memberikan support dan kebebasan penuh pada saya untuk mngemukakan pendapat, mencari solusi, ataupun strategi apa yang saya mau dalam bisinis ini. Karena itu, salah satu support yang suami lakukan
adalah dengan senang hati mengerjakan pekerjaan rumah tangga bersama-sama. Tantangan lain yang lebih berat adalah doktrin yang diucapkan sesama perempuan yang mengatakan bisnis saya tidak
akan maju, seperti: produk Dewi Maya tidak layak ikut fashion show atau pemetaan strata sosial yang
seolah-olah life style seorang designer itu harus punya rumah mewah dan glamour. Hal itu sangat bertolak belakang dengan definisi saya pribadi tentang kesuksesan. Menurut saya, suksesnya pengusaha itu bukan
dari apa yang saya perlihatkan di media sosial, tetapi seberapa banyak perempuan yang terbantu dari
bisnis yang saya miliki. Untuk semua mompreneur, jangan takut mencoba dan cepat menyerah! Kita semua mempunyai potensi yang sama. Good luck for all of us!
lebih lengkap, silakan cek di saluran instagram atau Fanpage facebook kami.

Norwegia

Nama Pemilik Safriani Siregar
Nama Usaha/Produk Usaha NorInd Kitchen: Indonesian Food, Catering & Take Away
Lokasi Negara Usaha Norwegia
Nama Media Sosial dari Pemilik Instagram: leiknessafriani
Nama Media Sosial dari Usaha/Produk Usaha Instagram: norindkitchen
Lama berwirausaha (tahun/bulan) Sejak 2019
Pesan untuk Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha Tetap melangkah dan belajar!
lebih lengkap, silakan cek di saluran instagram atau Fanpage facebook kami.

Korea Selatan

Nama Pemilik Citra Sartika Dewi
Nama Usaha/Produk Usaha Unni Citra
Lokasi Negara Usaha Korea Selatan
Nama Media Sosial dari Pemilik Instagram: citradew1
Nama Media Sosial dari Usaha/Produk Usaha Instagram: warung.unni.citra
Lama berwirausaha (tahun/bulan) Sejak tahun 2021
Pesan untuk Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha Jangan takut dan malu untuk memulai, kerjakan yang disukai agar pada saat melakukan usaha tidak terbebani.
lebih lengkap, silakan cek di saluran instagram atau Fanpage facebook kami.

Serbia

Nama Pemilik Mery Christiani Milutinovic
Nama Usaha/Produk Usaha Cemani Tempeh Serbia
Lokasi Negara Usaha Serbia
Nama Media Sosial dari Pemilik
Nama Media Sosial dari Usaha/Produk Usaha Instagram: cemanitempehserbia
Lama berwirausaha (tahun/bulan) Kurang lebih 3 tahun
Pesan untuk Sahabat Ruanita yang ingin berwirausaha Jangan takut dengan kegagalan ketika memulai sebuah usaha, karena kegagalan yang kita alami adalah pembelajaran untuk memperbaiki usaha kita.
lebih lengkap, silakan cek di saluran instagram atau Fanpage facebook kami.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Tujuh Tahun Terpisah dari Anak, Usai Bercerai di India

Dalam episode cerita sahabat spesial di bulan Juni 2024, Ruanita Indonesia mengangkat cerita dari India terkait pelaksanaan Hari Janda Sedunia, yang diperingati setiap 23 Juni. Oleh karena itu, kami mengundang Dianita Pramesti yang tinggal di India dan bekerja sehari-hari sebagai pengajar di salah satu taman kanak-kanak atau Preschool di Goa, India.

Dianita adalah ibu dari dua orang putra, dari hasil perkawinannya dengan pria asal Goa, India. Di India, anak laki-laki begitu mendapat tempat istimewa dalam keluarga. Menjadi janda, terpisah dari anak kandung dan bertahan hidup di India yang tak mudah bagi Dianita saat itu.

Ini berbeda dengan anak-anak perempuan di India, ketika mereka tumbuh dewasa dan menikah, kebanyakan mereka akan ikut dan tinggal di pihak keluarga suami. Ketika perempuan menikah di India, perempuan pun perlu menyerahkan mas kawin kepada pihak keluarga laki-laki.

Sekelumit cerita Dianita tentang bagaimana dia mengenal betul kultur India, yang menjadi rumah keduanya sekarang. Awalnya, dia bertemu dengan pria berkewarganegaraan India yang kemudian membuatnya untuk menikah dan memutuskan tinggal di India.

follow us

Dianita mengakui dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan pernikahannya, tetapi pada akhirnya mantan suaminya tersebut memutuskan untuk pergi ke negara lain dan bekerja di sana. Mantan suaminya pun telah menemukan tambatan hati yang baru.

Setelah Dianita terpisah dari suaminya, kedua putranya terpaksa tinggal bersama keluarga di pihak mantan suami. Anak-anak Dianita diasuh dan dibesarkan oleh keluarga mantan suami. Sesekali Dianita bisa berkunjung untuk melihat kedua putranya, misalnya kalau mereka berulang tahun.

Keluarga pihak mantan suami tidak mengizinkan kedua putranya Dianita tinggal bersamanya, meskipun ayahnya dari kedua putranya pun tidak ikut mengasuh mereka. Selama tujuh tahun, Dianita berjuang untuk bertahan hidup di India dan memperjuangkan hak asuhnya agar bisa bersatu kembali dengan anak-anaknya.

Dianita mengakui itu tidak mudah, apalagi Dianita saat itu sudah menjadi janda dan harus menghidupi dirinya sendiri. Beruntung ada banyak pihak yang menolong Dianita, sehingga perjuangannya tidak sia-sia. Dia berhasil mendapatkan hak asuh anaknya, walaupun dia harus membayar mahal pihak pengacara di sana.

Kalau Anda bersimpati terhadap cerita Dianita dan ingin membantu secara finansial, silakan mendapatkan kontak Dianita dengan menghubungi email Ruanita Indonesia.

Apa yang terjadi dengan Dianita sehingga dia tinggal dan berpisah dengan suaminya? Bagaimana perjuangan Dianita mendapatkan hak asuh anaknya? Siapa saja stakeholders yang sudah membantu Dianita untuk keluar dari permasalahan hak asuh anaknya? Setelah mendapatkan hak asuh anaknya, bagaimana kehidupan Dianita sekarang? Apa pesan Dianita kepada kita semua?

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut ini:

SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(CERITA SAHABAT) Yoga Tertawa untuk Kesehatan Jasmani dan Rohani

Halo Sahabat Ruanita, saya Ajeng dari Hamburg. Mungkin teman-teman sudah mengenal saya dari cerita-cerita atau tulisan saya dalam program cerita sahabat Ruanita ini. Kali ini, saya mau bercerita pengalaman saya ikut sesi yoga tertawa atau laughter yoga secara daring.

Waktu itu tahun 2022, saya menemukan satu sesi yoga tertawa dari website kampus saya.  Walau aturan pembatasan sosial tidak seketat seperti tahun 2020-2021, tetapi pada tahun 2022 itu masih ada aturan di Jerman, yang mana acara-acara kampus hanya dilangsungkan secara daring. Saya tidak tahu apa yang saya harapkan dari kelas yoga tertawa itu, tetapi saya butuh olahraga untuk kembali sehat secara jasmani dan rohani.

Sesi yoga tertawa dibuka oleh seorang praktisi yoga tertawa. Dia menjelaskan sejarah dan manfaat yoga tertawa ini. Menurutnya, yoga tertawa ini tidak hanya baik untuk kesehatan fisik, tapi juga kesehatan mental. Sepertinya cocok untuk saya, yang mana saya sedang mengalami gangguan mental pada saat itu, dan saya ingin mulai olahraga lagi. 

Yoga tertawa merupakan perpaduan antara gerakan tubuh dan teknik pernafasan yang mungkin kita sudah kenal dari yoga, sehingga bisa membuat banyak oksigen mengalir ke tubuh dan otak kita. Yoga tertawa juga dapat mengurangi stres, menambah rileks, meningkatkan kreativitas, mengaktifkan hormon bahagia (dopamin), memperkuat sistem imun, dan mengurangi tekanan darah.

Mungkin saat kita mendengar istilah yoga tertawa, kita membayangkan orang tertawa sambil duduk bersila. Paling tidak, begitu yang saya bayangkan saat itu. Ternyata saya salah. Kami berlatih dengan duduk dan berdiri, melakukan gerakan-gerakan ringan, sambil diiringi dengan tawa.

Gerakannya sangat sederhana, bisa menepuk tangan, menjentikan jari, berputar, dan sebagainya. Tawanya boleh palsu, karena tubuh kita tidak tahu, apakah tawa yang kita lakukan palsu atau alamiah. Namun, efeknya akan sama-sama menyehatkan badan dan membuat bahagia.

Saya ingat, waktu itu latihan yoga kami dimulai dengan meniru gerakan binatang, misalkan pinguin. Pasti teman-teman tahu dong, bagaimana pinguin berjalan? Nah, itu adalah gerakan yang kami lakukan. Tidak usah berjalan jauh, hanya satu-dua langkah ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, dan berputar. Jangan lupa, dilakukan sambil tertawa. 

Pertama-tama, memang saya merasa aneh sekali melakukan tawa palsu, apalagi bersama orang-orang tidak dikenal. Sebagian besar orang yang hadir bersama saya berlatih yoga ini, mematikan video dan mikrofon. Lama-lama, saya tertawa sendiri, karena lucunya gerakan yang saya lakukan. Saya juga menertawakan yang sedang melakukan tawa palsu. Tawa yang kami lakukan juga beragam, tidak hanya “ha ha ha” tetapi juga “hi hi hi”, “he he he”, dan “ho ho ho”. Jadi, tiap gerakan bisa diganti ragam tawanya agar tidak bosan.

Menurut saya, yoga tertawa ini seperti sedang bermain. Kita bisa saja berfantasi membuat gerakan sendiri. Contohnya, gerakan membuat minuman. Anggap diri sendiri seorang bartender yang sedang mengocok botol minuman. Setiap gerakan mengocok minuman, kita tertawa dengan “ha”, ulangi tiga kali. Setelah itu, lakukan gerakan minum, sambil tertawa “ha ha ha”. Gerakan lain bisa kita ambil dari aktivitas sehari-hari, misalnya bertelepon, mencuci tangan, dan sebagainya. Semuanya bisa dilakukan sambil tertawa.

Setelah 10-15 menit melakukan yoga tertawa, saya benar-benar merasa lelah. Memang, tertawa membutuhkan tenaga, tapi di sisi lain saya merasa lebih “bangun”, menjadi lebih bertenaga, dan juga lebih bahagia. Awalnya, saya merasa aneh dengan tawa palsu, tetapi saya benar tertawa alamiah setelah itu. Mungkin karena gerakan-gerakannya yang lucu (dan aneh). Memang, tertawa itu menular, walaupun palsu. 

Hal lain, yang saya suka dari yoga tertawa adalah kita juga melakukan afirmasi positif ke diri sendiri. Gerakannya sederhana saja, misalnya mengelus lengan kita sambil bilang, “very good”. Atau kita melakukan gerakan lain sambil mengatakan, betapa kerennya kita. Kalau latihannya seperti ini, bagaimana ini tidak baik untuk kesehatan mental kita?

Setelah latihan sekali dengan praktisi yoga tersebut, saya mengajak sahabat saya yang tinggal di luar kota untuk melakukan yoga tertawa ini bersama saya. Kami membuat janji untuk bertemu secara virtual. Syukurnya, latihan yoga tertawa ini benar-benar sudah mendunia, seperti banyak yang ditampilkan di YouTube tentang ini. Awalnya, sahabat saya tertawa geli melihat gerakan-gerakan yang ditampilkan, apalagi dilakukan sambil tertawa palsu, tapi dia tetap mengikuti. 

Pada akhirnya, kami benar-benar tertawa bersama, sambil melakukan yoga tertawa ini. Setelahnya, kami benar-benar lelah, seperti habis melakukan olahraga. Tawa kami bukan lagi palsu, melainkan benar-benar alamiah. Kami sampai merasa takut ditegur tetangga, karena terlampau berisik. Sayangnya setelah itu, kami hanya bertemu secara daring 2-3 kali untuk latihan yoga tertawa, karena kesibukan kami juga.

Yoga tertawa ini juga bisa dilakukan oleh semua umur. Yoga tertawa ini juga sangat cocok untuk anak-anak, karena gerakannya yang mirip seperti permainan. Saat berlibur ke Indonesia, saya sempat melakukan yoga tertawa dengan keponakan saya, yang berumur lima tahun. Kami tidak berhenti tertawa. Orang tua juga bisa melakukan yoga tertawa ini, karena gerakannya sederhana dan bisa dilakukan sambil duduk.

Di Jerman, sudah ada banyak klub atau organisasi yoga tertawa. Mereka adalah praktisi yoga tertawa profesional. Tidak hanya melakukan yoga tertawa di rumah, tapi juga memberikan pelatihan ke orang lain, yang ingin jadi pelatih bersertifikat. Misalnya, orang yang tertarik menerapkan di perusahaan, yang ingin karyawannya bahagia; atau diundang ke acara privat seperti pesta ulang tahun. Praktisi yoga tertawa yang memandu kami di acara kampus juga berasal dari salah satu klub tersebut. Dia memang merupakan pelatih bersertifikat.

Ada juga klub yoga tertawa yang secara rutin latihan di taman umum. Semua orang boleh berpartisipasi dengan memberikan uang secara sukarela. Sampai saat ini sayangnya, saya tidak pernah melakukan yoga tertawa lagi. Saya bahkan lupa ada yoga tertawa ini, kalau tidak ada tema ‘tertawa baik untuk kesehatan mental’ yang dipersiapkan oleh Ruanita. 

Saya ingin sekali suatu saat nanti, saya dapat mengikuti acara yoga tertawa secara langsung. Saya berpikir, mengikuti yoga tertawa daring saja sudah lucu, apalagi dilakukan secara luring. Saya membayangkan, kita dapat tertawa massal bersama orang lain di alam terbuka. Apakah Sahabat Ruanita tertarik untuk coba yoga tertawa?

Penulis adalah Mariska Ajeng. Dia adalah relawan Ruanita, Aktivis Kesehatan Mental, dan tinggal di Hamburg, Jerman. Tulisannya bisa dibaca di website Ruanita dan http://www.mariskaajeng.com.

(CERITA SAHABAT) Menjadi Bahagia dan Ikhlas Lewat Aksi Donor Darah

Halo, sahabat Ruanita. Saya adalah Maria Magdalena Rudatin atau yang mungkin sebagian dari kalian kenal saya dengan nama panggilan Rudatin. Sehari-hari saya bekerja secara sukarela sebagai tenaga admin di Ruanita dan pekerjaan paruh waktu lainnya di Indonesia. Saya juga merawat dan melayani ibu saya yang sudah berusia 86 tahun. Saya senang sekali bisa terlibat dalam program cerita sahabat, apalagi tema yang diangkat adalah donor darah. Boleh dibilang saya adalah pendonor darah tetap dan saya senang melakukannya. 

Setiap ada program donor darah di paroki saya, maka saya akan ikut serta untuk mendonorkan sebagian darah saya. Ya, saya mulai melakukan donor darah sejak saya masih duduk di bangku SMA di Semarang, Jawa Tengah. Saya juga punya kartu donor darah yang diterbitkan oleh Palang Merah Indonesia (PMI). Jumlah donor darah saya hingga saat ini di tahun 2024 sudah mencapai 40 kali banyaknya, berdasarkan kartu donor darah yang ada. Selama saya mendonorkan darah, saya bersyukur Tuhan memberikan darah baru untuk kesehatan saya dan saya bisa membantu sesama saya lainnya.

Saya aktif mendonorkan darah, karena darah manusia pemberian Tuhan, sehingga sangat baik buat saya memberikan darah untuk sesama. Saya yakin Tuhan pasti memberikan darah baru lagi apabila saya mendonorkannya. Aktivitas donor darah adalah aktivitas yang sangat mulia dan berperikemanusiaan kepada sesama manusia.

Follow us

Darah adalah salah satu faktor penentu kesehatan dalam hidup manusia. Itu sebab, kita perlu merawat dan menjaga kesehatan darah, sehingga kita bisa hidup sehat. Darah yang sehat menjadi aset bagi diri sendiri dan sesama yang membutuhkan. 

Ada banyak alasan, mengapa ada orang-orang seperti saya senang sekali mendonorkan darahnya. Pertama, bisa jadi orang tersebut sadar dan sukarela memberikan darahnya sehingga menjadi kebiasaan positif untuk keberlangsungan hidup orang lain. Kedua, ada banyak literatur yang menjelaskan bahwa mendonorkan darah dapat memberikan efek sehat bagi pendonornya sendiri. 

Bagaimanapun,  tubuh pendonor akan memproduksi darah baru lagi setelah 3 bulan donor darah. Oleh karena itu, ada anjuran pula bahwa kegiatan donor darah bisa dilakukan rutin setiap 3 bulan dalam setahun. Alasan terakhir, saya pikir mendonorkan darah adalah ucapan syukur pada Tuhan atas darah yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma. Darah itu gratis yang Tuhan berikan pada kita, sehingga  sudah seyogyanya pendonor, merasa bahagia bila mereka berbagi hidup dengan sesama lainnya melalui donor darah. 

Bagi pendonor seperti saya, donor darah adalah salah satu bentuk solidaritas  kemanusiaan. Saya setuju dengan pendapat tersebut, karena darah adalah sumber utama dalam diri manusia yang sangat dibutuhkan untuk hidup. Darah seperti “bahan bakar” untuk menggerakkan mesin, bila kita umpamakan. 

Darah merupakan daya kekuatan dalam diri manusia untuk melakukan  berbagai aktivitasnya, sehingga manusia sangat diwajibkan untuk menjaga  kesehatan tubuhnya, supaya aliran darah dalam tubuh berjalan dengan  lancar, seperti menjaga pola makan dan minum, melakukan gaya hidup  sehat. Mendonorkan darah adalah bentuk wujud kepedulian manusia kepada sesama manusia, karena manusia disadarkan untuk mau berbagi atau memberi dari kepunyaannya kepada sesama yang sangat membutuhkan darah dalam dirinya. 

Memang betul bahwa tidak semua orang bisa melakukan donor darah. Saya termasuk beruntung bisa mendonorkan darah saya, sejak saya masih duduk di bangku SMA di Indonesia. Di Indonesia, persyaratan usia pendonor darah adalah 17 tahun atau yang memang diizinkan oleh dokter. Pengalaman pertama saya donor darah adalah saat saya masih berusia 16 tahun dan dokter mengizinkan saya melakukan donor darah, meski usia belum genap 17 tahun.

Saat itu, tenaga ahli melakukan pemeriksaan HB yang waktu itu dilakukan di jari dengan ditusuk jarum. HB adalah Hemoglobin, yakni zat dalam darah yang menyebabkan darah cair  atau darah kental. Tetesan darah yang ke luar diteteskan di gelas yang berisi zat penentu HB.  Bila tetesan darah langsung ke dasar gelas maka dinyatakan HB darah termasuk kategori baik. Sebaliknya, bila tetesan darah mengambang pada gelas, maka  dinyatakan HB berkategori rendah. Kegiatan mengukur HB dengan bantuan  cairan dalam gelas ukur berlangsung cukup lama. 

Seingat saya, baru sekitar tahun 2008 sudah ada alat untuk mengukur HB menggunakan secara otomatis. Caranya, yaitu setetes darah diletakkan di kaca kecil, lalu dimasukkan ke alat pengukur HB. Nilai ukuran HB yang diizinkan untuk pendonor darah baik laki-laki maupun perempuan adalah mereka yang memiliki HB sebesar minimal HB 12,5 minimal. Ini pun sudah menunjukkan kategori darah yang baik, karena cair. 

Tata urutan untuk mengikuti donor darah di Indonesia antara lain:

1) Berbadan sehat dengan berat badan minimal 45 kilogram dan berusia minimal 17 tahun. 

2) Bersedia mendaftarkan diri sebagai pendonor dengan mengisi formulir merah jambu dari petugas aksi donor darah. Pendonor wajib menjawab pertanyaan yang disediakan oleh tim Palang Merah Indonesia dan bersedia menandatanganinya. 

3) Pemeriksaan HB (Hemoglobin) oleh petugas dengan menusuk salah satu  jari untuk diambil setetes darah dan diperiksa dalam mesin cek HB selama  3 detik lalu terbaca jumlah HB pendonor. 

4) Pemeriksaan HB sekaligus untuk pemeriksaan golongan darah pendonor (A, B, AB, O). 

5) Pemeriksaan tensi tubuh pendonor harus sesuai aturan Kesehatan adalah  100-160 (Sistole) dan 70-100 (Diastole) yang dilakukan oleh dokter umum. 

6) Dokter Umum menulis jumlah darah yang akan didonorkan sekitar 250 ml – 350 ml setiap pendonor sesuai hasil pemeriksaan Dokter Umum. 

7) Pendonor siap untuk melakukan donor darah dengan berbaring pada tempat tidur dan jarum donor dimasukkan ke lengan pendonor. Untuk aktivitas donor darah, biasanya pendonor memerlukan waktu 8 menit. 

8) Setelah donor darah selesai, pendonor diberikan makanan kecil dan minum  untuk menstabilkan daya tahan tubuh dan kemudian petugas akan menyerahkan Kartu Donor sesuai golongan darah pendonor. 

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, tentu saja aktivitas donor darah bisa bermanfaat bagi pendonor sendiri. Kita bisa meningkatkan imunitas tubuh atau daya tahan tubuh karena terjadi perputaran darah baru yang telah didonorkan. Biasanya saya mengalami tubuh saya merasa lebih segar, asalkan pola makan dan minum kita sesuai dengan pola hidup sehat. 

Tentunya, kita memiliki daya pikir yang lebih positif karena tingkat kesadaran untuk berbagi kepada sesama. Selesai mendonorkan darah, hati saya selalu senang dan bangga bisa melihat sesama  menjadi lebih sehat setelah mendapatkan bantuan donor darah. Ini seperti mengingatkan saya akan tanggung jawab moral dan cinta kasih kepada manusia sesuai keyakinan saya. Bagi saya, donor darah adalah cara saya menghargai arti bahwa “Hidup adalah hadiah Tuhan untuk berbagi”. 

Setelah berkali-kali melakukan aktivitas donor darah, saya pastinya punya pengalaman berkesan dalam hidup. Suatu waktu ada teman se-paroki dengan saya, meminta saya untuk menjadi pendonor darah untuk neneknya yang sudah berusia 90 tahun. Sang nenek saat itu sedang dirawat di salah rumah sakit di  Jakarta. 

Saya bersyukur, petugas menerima saya untuk bisa melakukan aktivitas donor darah setelah dilakukan pemeriksaan  syarat-syarat dari dokter di Palang Merah Indonesia (PMI). Pemeriksaan ini dilakukan di PMI, yang berlokasi di Jalan  Kramat Raya Jakarta Pusat. Sebagai informasi, bila kita ingin melakukan aktivitas donor darah untuk membantu orang lain, maka kita perlu datang ke Palang Merah Indonesia (PMI) yang ada di setiap daerah. 

Singkat cerita, sang nenek tersebut menerima donor darah yang saya bagikan, kemudian nenek kembali sehat.  Hemoglobin si nenek naik. Beberapa hari kemudian, nenek tersebut dipanggil Tuhan. Saya terharu bahwa nenek boleh menerima donor darah dari saya, walaupun pada akhirnya dia harus berpulang. Itu adalah kehendak Tuhan. 

Pengalaman lainnya adalah bahwa saya tidak selalu berhasil mendonorkan darah loh. Saya kadang pernah ditolak, meski niat saya baik untuk mendonorkan darah saya. Biasanya itu terjadi karena masalah kadar HB saya yang tergolong rendah. Itu mungkin disebabkan karena saya kurang mengonsumsi sayuran hijau. Padahal  bila saya berhasil mendonorkan darah, saya merasa bahagia dan ikhlas. 

Berdasarkan data, pengetahuan masyarakat akan donor darah sudah baik hanya  saja kesadaran dan pengalaman mendonorkan darah yang masih belum baik, termasuk ada  berbagai persepsi/mitos yang salah. Oleh karena itu, saya senang Ruanita mengangkat tema donor darah ini dan saya berkesempatan untuk menceritakan pengalaman saya menjadi pendonor darah. 

Menurut saya, kita perlu memberi edukasi sebanyak-banyaknya kepada masyarakat, sebagaimana slogan yang selalu saya ingat setiap aktivitas donor darah. Slogan itu adalah: “Setetes Darahmu, Menghidupkan Sesama.”

Ini mungkin terdengar klise, tetapi saya pikir ide berikut bisa menjadi saran saya sebagai pendonor kepada pemerintah Indonesia. 

a) Membuat materi ajar di bidang pendidikan, misalnya pelajaran agama dan atau pelajaran kewarganegaraan tentang tema mendonorkan darah. 

b) Memperbanyak edukasi dan kampanye bahwa aktivitas donor darah itu menyehatkan dan  menyelamatkan nyawa manusia. 

c) Membuat aksi kemanusiaan donor darah yang digelar di tingkat 

pemerintahan kota dan pemerintahan daerah, mulai tingkat Rukun Warga (RW) hingga Kecamatan.

d) Melakukan kegiatan sosial aksi donor darah di berbagai kesempatan, seperti Tujuhbelasan, Hari Internasional Kesehatan, dsb.  

Sahabat Ruanita yang hebat, kita perlu bersyukur untuk berkat sehat dan nafas  hidup yang kita terima dari Sang Pencipta. Rasa syukur tersebut bisa diwujudnyatakan, salah satunya adalah memberi kehidupan kepada sesama lain melalui aksi donor darah. Dengan mendonorkan darah yang kita miliki, kita sudah menyelamatkan sesama kita.  

Penulis: Rudatin, yang dapat dikontak via info@ruanita.com.

(IG LIVE) Mendiskusikan Self-Compassion dari Keilmuan Psikologi dan Praktik Sehari-hari

Dalam diskusi IG Live Ruanita Indonesia di bulan Juni mengangkat tema self-compassion bersama dua narasumber yang kompeten di bidangnya.

Kedua tamu diskusi IG Live adalah Fransisca Mira, yang adalah akademisi dan peneliti di bidang ilmu psikologi yang tinggal di Jerman dan Monique Aditya, yang adalah penulis buku dan penyintas KDRT yang kini menetap di Singapura.

Diskusi IG Live yang berlangsung sekitar empat puluh menit tersebut dipandu oleh Rida yang sedang menempuh studi S2 di Jerman.

Self-compassion adalah cara kita untuk memperlakukan diri kita, dalam keadaan baik maupun buruk dalam hidup. Demikian Rida mengawali diskusi sebelum membahasnya lebih dalam.

Fransisca mengawali diskusi dengan ilustrasi sosial, yang mana kita sering kali mendapatkan kritikan atau pujian. Secara pribadi, kita tidak mudah menerima pujian dan kritikan sosial juga.

Menurut Fransisca, ini penting untuk memiliki self-compassion, yang secara etimologinya berarti melakukan apa yang kita suka, termasuk ketika kita sedang dalam situasi negatif atau tidak baik-baik saja.

Justru, kita bisa menerima kesulitan dan tetap peduli pada diri sendiri, dengan tidak memberikan kalimat negatif. Self-Compassion menurut Fransisca, secara teori terdiri atas tiga hal yakni: Self-kindness; Common Humanity atau Humannes; dan Mindfulness.

Follow us.

Tahun 2007, Monique mengakui berada di fase yang sulit ketika dia pernah merasa gagal dalam berumah tangga. Monique pun mengajak kedua anaknya untuk melihat keluarga secara utuh, meski tidak ada figur ayah saat itu.

Dengan begitu, Self-compassion membantu Monique untuk mengatasi keterpurukan situasi yang dialaminya. Monique pun mengakui self-compassion itu penting.

Bagaimana kita bisa menyayangi orang lain kalau kita tidak bisa menyayangi diri sendiri? Kita tidak perlu menyalahkan orang lain atau lingkungan, tetapi kita bisa menjadi pribadi yang bertumbuh dan berbahagia.

Begitu pun Fransisca menceritakan pengalaman sulitnya menjadi peneliti di Jerman, di mana kerap ia merasa overthinking pada situasi pekerjaannya.

Bagaimana literatur psikologi tentang self-compassion? Apa saja contoh-contoh self-compassion dalam kehidupan sehari-hari? Apa manfaat self-compassion? Mengapa self-compassion itu begitu penting dalam meningkatkan kesehatan mental?

Simak selengkapnya diskusi IG Live Ruanita tersebut dalam kanal YouTube kami berikut ini:

Subscribe kanal YouTube kami agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.

(CERITA SAHABAT) Bagaimana Self-Compassion Dapat Meningkatkan Kesehatan Mental Saya?

Selama terapi psikologis, hal terpenting yang saya pelajari dari terapis saya adalah cara saya menyayangi diri sendiri atau self-compassion. Terkadang, atau mungkin sering kali, kita terlalu keras ke diri sendiri dengan marah dan mengkritik diri sendiri saat kita berbuat kesalahan.

Jika orang lain padahal berbuat kesalahan, apakah kita akan melakukan hal yang sama ke dia? Atau sebaliknya, kita hanya akan berkata-kata baik ke dia? Mengapa kita bisa baik kepada orang lain, tetapi tidak ke diri sendiri?

Selama terapi, terapis saya tidak pernah mengatakan kalau yang beliau ajarkan ke saya adalah self-compassion atau menyayangi diri sendiri. Sampai pada satu kali sesi, saya minta beliau untuk mengajarkan saya tentang hal tersebut.

Yang beliau ajarkan ke saya adalah cara untuk berkata-kata baik ke diri sendiri, terutama saat saya merasa saya tidak melakukan hal benar. Ternyata, apa yang dilakukan itu adalah bentuk self-compassion.

Oh iya, perkenalkan saya Ajeng. Saya tinggal sudah lebih dari 10 tahun di Hamburg, Jerman. Saya hidup dengan gangguan mental yang sudah ditangani dengah baik di Jerman, melalui psikoterapi dan psikotrofarmaka. Salah satunya adalah Avoidant Personality Disorder (AvPD) atau gangguan kepribadian menghindar yang ditandai dengan pola perilaku yang persisten dari rasa ketidaknyamanan sosial yang ekstrim, rasa tidak mampu, dan rasa takut akan penolakan sosial. Menurut terapis, AvPD saya disebabkan oleh kecemasan sosial yang juga saya miliki.

Di awal terapi, terapis saya meminta saya untuk menyebutkan inner voice yang saya miliki. Saya hanya menyebutkan kalimat-kalimat negatif, seperti “aku bodoh”, “jangan ceroboh”, “harus jadi orang baik”, “jangan malas”, “begitu saja tidak bisa”, “jangan egois”, dan sebagainya.

Singkat cerita, kalimat-kalimat negatif tersebut menjadi salah satu penyebab permasalahan mental saya. Selama terapi, saya bekerja keras untuk mengecilkan kalimat-kalimat negatif dan mengencangkan kalimat-kalimat positif. 

Dulu kalimat-kalimat negatif ini akan aktif dengan sendirinya, begitu saya melakukan kesalahan sekecil apa pun. Misalnya, saya lupa turun di halte bus yang menjadi tujuan, maka saya akan mengatakan kepada diri saya untuk berpura-pura duduk tenang di dalam bus. Alasannya, saya akan merasa malu jika saya terlihat panik. Itu terdengar tidak masuk akal, ya? 

Contoh di atas, hanya salah satu contoh kecil. Contoh besarnya adalah presentasi. Sebelum presentasi, saya harus mempersiapkan dengan benar. Kembali lagi, inner voice seperti “aku tidak boleh malas”, “tidak boleh malu-maluin diri sendiri dan keluarga”, “tidak boleh bikin orang lain berpikir aku bodoh”, “harus lakukan hal benar”, “harus benar kasih presentasi dan menjawab pertanyaan”, dan banyak lagi kewajiban dan larangan yang saya punya untuk diri sendiri.

Follow us

Jika saya melakukan kesalahan, maka saya akan bilang ke diri sendiri, seperti: “aku bodoh dan orang lain tahu aku bodoh”, “persiapan aku seharusnya harus lebih baik lagi”, “dosen dan muridku pasti lihat kalau aku panik”, dan sebagainya.

Kalau orang lain mengatakan presentasi saya bagus dan tidak ada yang perlu saya khawatirkan, justru sebaliknya saya akan berpikir itu hanya manis di mulut. Saya yakin itu tidak benar. Saya menyangkal, apa yang orang lain sampaikan.

Sebelum saya mulai terapi ini, saya sempat menerima terapi Obsessive Compulsive Disorder (=selanjutnya disebut OCD) selama lima hari. Di sana, saya diajarkan, bahwa “monster OCD” ingin saya percaya dengan apa yang dia katakan. Cara saya melawannya adalah dengan memberikan keraguan ke monster ini. Ingatkah dulu di Indonesia ada slogan iklan, “Yang pasti-pasti saja”? 

Nah, untuk melawan “monster OCD”, saya harus melakukan sebaliknya. Jangan ambil yang pasti! Jika dulu, saya tidak mau menyentuh gagang pintu karena “monster OCD” saya mengatakan bahwa gagang pintu pasti kotor, maka saya pasti akan terkontaminasi.

Setelah terapi, saya melawan kemungkinan tersebut dengan, “Mungkin gagang pintu tersebut kotor. Mungkin juga tidak kotor. Aku mengambil risiko dengan menyentuhnya dan aku siap terkontaminasi.” Cara saya berbicara dengan diri sendiri ini yang membuat saya tidak lagi mengalami gangguan OCD. 

Self-compassion juga seperti itu. Sekarang saya baru mengerti, mungkin teknik OCD tersebut memang diadaptasi dari self-compassion, yakni bagaimana kita berbicara hal baik kepada diri sendiri. Misalnya, dulu saya lupa turun di halte bus tujuan, maka saya akan buru-buru loncat dari bus.

Sekarang saya akan mengatakan kepada diri sendiri, “Tidak apa-apa terlihat panik. Mungkin orang lain melihat aku panik, mungkin juga mereka tidak peduli. Mungkin mereka akan mengejekku, karena aku lupa turun, mungkin juga tidak. Aku tidak bisa membaca pikiran orang. Aku juga tidak bisa memaksakan apa yang orang pikirkan tentang aku.” 

Sewaktu saya berhasil turun dari bus dan sadar bagaimana cara berpikir saya berubah, saya menangis. Saya bisa bersikap baik kepada diri saya sendiri, saya menjadi sahabat, yakni diri saya sendiri. Cara saya berbicara kepada diri saya sendiri, ternyata mempunyai pengaruh hebat ke kesehatan mental saya.

Saya mulai bisa menerima diri sendiri dan melakukan apa yang sebenarnya ingin saya lakukan. Saya mempunyai masalah dengan kepercayaan diri, seperti sakit hati dan malu jika melakukan kegagalan. Ini adalah alasan terbesar, mengapa saya dulu menyabotase diri sendiri untuk tidak berusaha mencari kerja, saat sebenarnya saya wajib mencari kerja. 

Tahun lalu, lamaran pekerjaan saya ditolak setelah wawancara. Saya mengatakan ke terapis saya, “Mereka menolak saya, tapi tidak apa-apa. Saya tidak merasa cocok dengan mereka, dan mereka juga tidak merasa cocok dengan saya.” Terapis saya terkejut dan senang mendengar kalimat saya. Padahal setahun sebelumnya, masalah terbesar saya adalah penolakan. 

Cara saya berbicara kepada diri sendiri setelah mendapatkan penolakan juga berubah. Saya tidak lagi mengatakan, “bodoh”, “malu-maluin”, “orang lain lihat kalau kamu tidak bisa kerja”, tetapi berubah menjadi: “mereka tidak melihat potensiku, tidak apa, mungkin orang lain akan melihat potensiku”, dan “mereka menolak aku, mungkin memang pekerjaan ini bukan yang terbaik untukku.”

Jika dulu saya begitu sulit mengungkapkan kebutuhan dan keinginan saya kepada orang lain, maka sekarang saya sudah mulai bisa melakukannya. Dulu saya takut menjadi orang egois jika menomorsatukan diri sendiri, tetapi sekarang saya akan mengatakan, “Kebutuhan dan keinginan aku juga penting. Aku tidak bisa terus-menerus menomorduakan diri sendiri. Aku boleh mengatakan apa yang aku inginkan. Orang lain juga bisa mulai mendengarkan aku, tidak selalu aku yang mendengarkan mereka. Aku tidak egois dengan ingin didengarkan. Aku juga penting dan itu tidak apa-apa.”

Tahun lalu saya berkesempatan menjadi moderator di salah satu acara virtual Ruanita. Setelah acara selesai, saya tidak mengkritik diri saya sendiri, meskipun inner voice negatif saya aktif. Mungkin saat itu saya melakukan kesalahan dan mungkin orang lain melihatnya, tetapi saya tidak ingin peduli.

Mungkin juga tidak ada orang yang melihat kesalahan saya itu. Jika pun ada, ya tidak apa-apa juga. Semua orang boleh melakukan kesalahan. Mungkin waktu itu saya terlihat jelek, tetapi memang begitu wajah saya dan cara bicara saya. Itu tidak apa-apa juga.

Waktu itu, saya juga lebih mengingat-ingat kesuksesan saya dan merayakannya. Boleh kok saya bangga ke diri sendiri, bukan berarti saya sombong. Dan lagi, kalau bukan saya, siapa lagi yang membanggakan diri saya?

Saya juga merasa, jika kecemasan saya berkurang karena melakukan self-compassion. Kalau dulu saya berpikir, teman saya kesal dengan saya dan tidak mau berteman lagi dengan saya, setiap dia lama tidak membalas pesan saya.

Sekarang saya akan berpikir, “Mungkin dia sibuk dan tidak sempat balas, atau lupa. Mungkin juga memang dia sudah tidak mau berteman lagi dengan aku. Kalau memang begitu, ya aku tidak bisa apa-apa. Aku sedih, tapi aku juga tidak bisa memaksakan orang lain untuk berteman denganku.

Saya akan mengulang-ulang kalimat tersebut, jika kecemasan saya datang. Saya lalu mengalihkan pikiran saya ke hal lain. Kecemasan saya memang tidak serta-merta hilang, tetapi ini membuat saya lebih tenang. 

Apakah ini berarti saya sekarang tidak lagi berbicara negatif ke diri sendiri? Tidak. Kalimat negatif tersebut datang secara otomatis. Kadang saya bisa mengidentifikasinya sendiri saat mereka datang, kemudian menggantinya dengan kalimat positif. Kadang juga saya lupa dan ini membuat saya tidak baik-baik saja. 

Sebenarnya semua orang punya kalimat-kalimat negatif dalam dirinya. Itu adalah hal yang normal. Namun, yang terpenting adalah bagaimana cara kita menghadapinya. Apakah kita akan membiarkan kalimat-kalimat negatif menyabotase diri kita sendiri, atau justru sebaliknya? Kita perlu mencoba berbicara tentang hal baik kepada diri sendiri.

Sepahaman saya, inner voice kita adalah kalimat-kalimat yang sering kita dengar dari orang sekitar kita, terutama saat kita masih kecil. Kalimat-kalimat tersebut tanpa sadar menjadi bagian diri kita dan menjadi inner voice.

Sejak menerima terapi psikologis di Jerman, saya juga belajar untuk berbicara baik kepada orang lain, terutama anak-anak. Saya ingin agar mereka juga belajar bagaimana menyayangi diri sendiri, dengan berbicara baik kepada dirinya sendiri.

Untuk teman-teman yang sedang bergelut dengan kata hati negatif dan ingin belajar menyayangi diri sendiri, saya sarankan untuk membaca buku-buku dari Kristin Neff. Dia adalah orang pertama yang melakukan studi tentang self-compassion. Buku-bukunya tidak hanya berisi teori, tapi juga latihan yang bisa dilakukan sendiri. Dia juga bisa ditemukan di website-nya https://self-compassion.org/ dan di Youtube. 

Penulis adalah Mariska Ajeng. Dia adalah relawan Ruanita, Aktivis Kesehatan Mental, dan tinggal di Hamburg, Jerman. Tulisannya bisa dibaca di website Ruanita dan http://www.mariskaajeng.com.

(PODCAST RUMPITA) Berbekal Beasiswa Jadi Dosen di Indonesia, Menyelami Studi Nanoteknologi di Swedia

Melanjutkan program Podcast di episode ke-26, Podcasat RUMPITA by Ruanita Indonesia telah mengundang sahabat Ruanita yang sedang studi dan menetap di Swedia. Dia adalah Jessika yang pernah terlibat dalam diskusi online yang diselenggarakan oleh Ruanita Indonesia beberapa waktu lalu.

Kini Jessika menjelaskan bahwa dia sedang berencana meneruskan untuk studi lanjutan S3 di Swedia, setelah dia berhasil menyelesaikan studi S2 di bidang nanoteknologi.

Diskusi podcast dipandu oleh Fadni, mahasiswi S2 di Jerman dan Anna selama kurang lebih 60 menit. Jessika datang ke Swedia dengan mengikuti jalur beasiswa yang diselenggarakan oleh Kemdikbud untuk para calon dosen di perguruan tinggi di Indonesia. Jessika kini sedang menempuh studi di kampus KTH, Stockholm.

Menurut Jessika, nanoteknology itu adalah semua hal yang berkaitan dengan semua objek di bawah skala mikrometer. Jessika mengenal nanoteknologi pertama kali saat dia berkuliah di jurusan electrical engineering di ITB, Indonesia.

Setelah melamar studi di beberapa negara, Jessika memutuskan untuk mengambil tawaran di Swedia dengan jurusan nanoelectronic.

Follow us

Hal menarik yang diperoleh Jessika selama berkuliah nanoteknologi adalah ilmu yang dipelajarinya benar-benar interdisciplinary dari ilmu eksakta seperti kimia, fisika, dan sebagainya.

Mahasiswa yang berkuliah bersama Jessika pun berasal dari berbagai background akademis. Namun, pastinya berkuliah di Nanoteknologi masih berkaitan dengan STEM – Science, Technology, Engineering, and Mathematics.

Pemerintah Swedia juga tidak mensyaratkan untuk mahasiswa internasional memiliki level kemampuan Bahasa Swedia saat apply visa student. Jessika juga menuturkan tidak ada batasan pula untuk mahasiswa bisa bekerja di Swedia.

Hidup di Stockholm, Swedia telah membuat Jessika nyaman karena hampir sebagian besar masyarakat di sana bisa berbahasa Inggris dengan baik.

Simak selengkapnya diskusi Podcast lebih lanjut dengan Jessika berikut ini: