Ruanita Indonesia baru saja meluncurkan program Podcast terbaru dalam Bahasa Inggris.
Program podcast yang berbicara seputar peran dan pengalaman perempuan di mancanegara akan dimoderasi oleh Aini Hanafiah dan Kristina Ayuningtyas yang sama-sama tinggal di mancanegara untuk mendampingi suami yang bertugas di mancanegara.
Aini sudah lebih lama ikut mendampingi suami bertugas sejak lebih dari sepuluh tahun. Kini Aini menetap bersama keluarganya di Norwegia.
Sedangkan Kristin baru saja ikut serta mendampingi suami bertugas di Slowakia. Keduanya terlibat obrolan asyik seputar bagaimana persiapan dokumen melalui visa penyatuan keluarga.
Aini mengatakan bahwa berpindah dari satu negara ke negara lainnya menjadi pengalaman menarik sekaligus menantang.
Mungkin tidak semua orang mudah beradaptasi dan memulai kehidupan yang baru di suatu negara yang berbeda kultur dan bahasa sehari-harinya.
Aini bisa memahami pengalaman culture shock yang tentunya tidak mudah dialami dari satu negara ke negara lainnya.
Kristin berbicara tentang bagaimana dokumen yang juga harus dilengkapi, termasuk tahapan yang cukup melelahkan mengingat panjangnya birokrasi dan tuntutan dokumen yang dipenuhi.
Kristin sampai tidak bisa berbicara banyak, bagaimana upayanya untuk bisa tetap mendampingi suami bertugas di mancanegara.
Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad
Podcast audio berbahasa Inggris ini inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional.
Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan nama saya Rinatu Siswi, atau biasa dipanggil dengan sebutan Tutus. Sekarang saya menetap di Slowakia sejak tahun 2022 dan sehari-hari saya bekerja sebagai pramusaji di bar dan restoran sebuah hotel di Slowakia. Banyak orang Indonesia yang bertanya, bagaimana saya bisa memiliki kesempatan menjadi pekerja migran di Slowakia. Mungkin saja, sahabat Ruanita tidak banyak mengenal negara yang saya tempati ini.
Ini semua berawal dari keinginan saya untuk tinggal bersama dengan suami. Suami sendiri telah bekerja selama sebelas tahun menjadi pekerja migran. Setelah kami menikah pada tahun 2018, prinsipnya, saya tidak ingin hidup berpisah dengan suami. Oleh karena itu, saya pun memutuskan untuk ikut suami dan tinggal di Slowakia.
Untuk tinggal bersama suami di Slowakia, saya putuskan untuk mengajukan visa kumpul keluarga. Pada akhirnya, saya pun bisa menetap di Slowakia. Seiring berjalannya waktu, saya pribadi merasa kurang nyaman hanya berdiam di rumah. Bagaimana pun saya di Indonesia memiliki riwayat selalu bekerja, meskipun saya melakukan kuliah sambil bekerja.
Kebetulan saat itu, di musim panas, ada lowongan pekerjaan di tempat suami saya bekerja. Saya pun memutuskan untuk bekerja kembali, walaupun subjek pekerjaan yang saya pelajari sebelumnya, itu sangat berbeda dengan kebutuhan tempat kerja saya yang sekarang.
Selanjutnya, pihak manajemen di tempat saya bekerja pun mengupayakan perubahan visa. Semula visa saya adalah visa kumpul keluarga, kini visa saya menjadi visa kerja. Boleh dibilang, saya sudah satu setengah tahun bekerja sebagai pekerja migran di Slowakia.
Kalau ditanya, mengapa saya memilih negara Slowakia untuk bekerja. Alasan utamanya adalah agar saya dapat tinggal bersama dengan suami. Tentunya, sahabat Ruanita pun penasaran dengan prosedur untuk warga negara Indonesia (WNI) yang ingin bekerja di Slowakia. Menurut pengetahuan saya, bekerja di Slowakia dapat ditempuh dengan dua jalur.
Jalur pertama adalah menggunakan agen penyalur kerja dan jalur kedua adalah melakukannya secara mandiri. Apa yang saya alami adalah mendapatkan pekerja di Slowakia lewat jalur mandiri. Ternyata, meskipun jenis visa yang diajukan pertama kali adalah jenis visa keluarga, tetapi prosedurnya pun tidak jauh berbeda dengan visa kerja.
Apabila kalian sudah dinyatakan mendapatkan pekerjaan yang dilamar di suatu negara, pertama kali, menurut saya adalah memastikan terlebih dahulu kebenaran dari informasi tersebut. Mengapa? Hal ini dilakukan untuk menghindari penipuan kerja yang sedang marak belakangan ini. Meskipun sulit, tetapi kita harus mengecek dulu agar tidak menjadi korban penipuan.
Setelah itu, kita wajib memiliki sertifikat kompetensi yang berkaitan dengan posisi yang akan kita lamar. Kita perlu mendaftarkan ke notaris kopi sertifikat kompetensi sebagai proses legalisasi. Usahakan kalian mengecek daftar notaris yang dipersyaratkan di tiap kedutaan yang menjadi lokasi negara tinggal. Proses
legalisasi ini diperlukan agar kita layak dan kompetensi kita diakui secara internasional (apostille). Setelah proses legalisasi di notaris selesai, kalian bisa mengirimkan dokumen tersebut ke negara terkait untuk diterjemahkan ke dalam bahasa resmi negara tujuan.
Apabila dokumen selesai diterjemahkan, dokumen tersebut akan dikirim lagi ke Indonesia yang disertai surat-surat yang berkaitan dengan perusahaan, misalnya kontrak kerja, surat kuasa, pihak sponsor dari perusahaan, dsb.
Selanjutnya, kita akan mendapatkan undangan wawancara dengan pihak konsulat (di kedutaan negara tujuan yang berada di Indonesia). Saat wawancara, kita perlu membawa serta pelengkapan dokumen yang dibutuhkan. Selesai wawancara, akan ada proses perekaman sidik jari. Visa kerja akan terbit setelah proses di atas selesai dilakukan.
Menurut saya, tantangan terbesar saya bekerja sebagai pekerja migran adalah bahasa. Lingkup saya bekerja dibedakan menjadi dua jenis. Jenis pertama yaitu rekan-rekan kerja yang menggunakan Bahasa Hungaria sebagai bahasa sehari-hari, dan jenis kedua adalah customer yang menggunakan Bahasa Slowakia.
Baik Bahasa Hungaria maupun Bahasa Slowakia merupakan dua bahasa yang sangat berbeda. Saya harus saya mempelajarinya dalam waktu yang sama. Ditambah lagi, pronounce kedua bahasa tersebut yang terkadang tidak sama dengan bahasa baku. Pada situasi tersebut, saya berusaha menjelaskan sesuatu dengan Bahasa Inggris.
Meskipun hampir tujuh puluh persen, customer yang datang tidak bisa berbahasa Inggris, tetapi saya masih terbantu dengan komunikasi bahasa tubuh. Untuk hal-hal yang masih belum dapat dipahami, saya biasanya memakai bahasa tubuh seperti mengangguk, menggerakkan tangan, dsb. Kalau customer tidak memahami komunikasi saya, saya biasanya meminta bantuan rekan kerja saya.
Hal yang paling dirasa berbeda dari budaya Indonesia adalah budaya ketegasan. Mungkin di Indonesia sangat melekat dengan “rasa kurang enak” sehingga teguran disampaikan secara lebih lembut , yang pada akhirnya menjadikan seseorang kurang jera.
Di tengah kesulitan dalam pekerjaan, saya berusaha membentengi diri dengan banyak berdoa dan mendengarkan Firman Tuhan (meskipun lewat YouTube). Saya selalu berbagi segala sesuatu, uneg-uneg di tempat kerja, yang saya rasakan kepada suami. Memang masalahnya tidak cepat selesai, tetapi ini berefek memberi kelegaan.
Awalnya keluarga saya merasa berat hati karena sejak lulus SMA saya sudah meninggalkan rumah untuk melanjutkan studi dan bekerja di luar kota.
Namun, keputusan untuk tinggal bersama dengan suami adalah hal yang paling tepat, ketimbang hidup terpisah setelah menikah. Seiring berjalannya waktu, keluarga malah merasa terharu dan bangga, karena saya adalah satu-satunya anak yang bisa bekerja di luar negeri.
Menurut saya, sebelum memutuskan untuk menjadi pekerja migran dan menandatangani kontrak kerja, kita perlu mengecek dengan lebih detil terhadap kontrak kerja yang disepakati.
Misalnya, tentang job description, target jumlah jam kerja dalam satu bulan, nominal gaji yang akan diterima, fasilitas apa saja yang akan didapatkan, dsb. Hal ini harus dilakukan agar kita tidak menimbulkan konflik atau perselisihan di kemudian hari. Bagaimana pun, kontrak kerja adalah landasan yang membentengi kita sebagai pekerja migran, apabila suatu hari nanti terjadi sesuatu yang tidak kita harapkan.
Berkaitan dengan kekerasan atau diskriminasi di tempat kerja, saya merasa sepanjang kita bisa berlaku sopan dan bertingkah laku wajar, warga lokal akan menghargai kita juga.
Pesan saya untuk sahabat Ruanita yang ingin menjadi pekerja migran di Eropa dan Slowakia pada khususnya, kita harus memiliki mental kuat dan fisik yang prima. Mengapa kita perlu bermental kuat? Kita berhadapan dengan budaya yang sangat berbeda.
Selain itu, fisik yang prima juga membantu kita mengatasi cuaca dan empat musim di Eropa sangat ekstrim, berbeda dengan Indonesia.
Penulis: Rinatu Siswi atau Tutus, pekerja migran di Slowakia dan dapat dikontak di akun sosial media Instagram @rinatusiswi atau facebook Rinatu Siswi.
Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan saya adalah Berta yang lahir dan tumbuh besar di Bandung, Indonesia. Saya sekarang berdomisili di kota Aalborg, Denmark sejak Juli 2022. Saat ini, pekerjaan saya sebagai tenaga sukarela (volunteer) di rumah sakit Aalborg dan juga menjadi ibu rumah tangga.
Awal mulanya, suami dan saya bertemu di platforma penfriends online di tahun 2000, hingga akhirnya kami pun berlanjut ke jenjang pernikahan pada tahun 2007, yang membuat saya tinggal di Belanda. Tahun 2022, suami saya mendapatkan pekerjaan baru di kota Aalborg dan kami pun pindah ke sini.
Saya begitu bersemangat untuk bercerita pengalaman saya membesarkan anak-anak yang menarik dan sedikit menantang. Sedini mungkin, anak-anak saya paham tentang identitas mereka sebagai anak kawin campur, ibu dari Indonesia dan ayah dari Belanda.
Misalnya saja, pada usia mereka masih di bawah 5 tahun, saya sudah mengenalkan kepada anak-anak kalau mereka itu memiliki darah campuran Belanda dan Indonesia. Sepertinya, mereka tidak memiliki masalah dengan identitas campur mereka.
Ketika anak pertama saya lahir, saya pun menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan anak, sedangkan suami menggunakan Bahasa Belanda. Namun ternyata menurut pengamatan dari biro konsultasi anak di Belanda, anak saya mengalami keterlambatan bicara.
Mereka pun menganjurkan kami sebagai orang tua hanya menggunakan satu bahasa saja, yaitu Bahasa Belanda. Lalu, anak yang kedua dan ketiga pun tumbuh dengan satu bahasa saja. Ketika anak-anak memasuki usia sekolah dasar, saya pun sedikit memperkenalkan Bahasa Indonesia, tapi tidak sampai tingkat penggunaan bahasa untuk percakapan sehari-hari; hanya sekedar memperkenalkan bahasa ibu saja.
Kembali lagi, soal anggapan banyak orang tentang kebingungan anak menggunakan bahasa sehari-hari, saya pikir itu semua bergantung pada preferensi pribadi masing-masing. Setelah anak pertama mengalami keterlambatan bicara, kami memutuskan untuk menggunakan satu bahasa saja untuk berkomunikasi sehari-hari.
Lalu ketika mereka bertumbuh besar, saya memperkenalkan bahasa Indonesia sedikit demi sedikit. Namun, saya juga mendengar, banyak keluarga perkawinan campur yang berhasil mendidik anak-anaknya fasih multi bahasa, tanpa mengalami kesulitan atau kebingungan bahasa.
Saya pribadi mengajarkan kepada anak-anak untuk menggunakan panggilan seperti “kakak”, “abang”, “om”, “tante”, ketika mereka berbicara dengan orang yang lebih tua. Hal ini sulit buat anak-anak karena anak-anak tidak pernah menggunakan panggilan tersebut di Belanda, tidak seperti kebiasaan di Indonesia.
Anak-anak di Belanda memanggil nama untuk orang yang lebih tua, kecuali guru di sekolah. Anak-anak saya tumbuh besar dengan menu nasi dan lauk pauk mirip dengan Indonesia, kecuali makanan yang pedas. Jadi, mereka jarang sekali makan makanan seperti orang di Belanda, misalnya kentang rebus.
Itu baru soal makanan anak-anak sehari-hari, lalu bagaimana soal identitas anak sebagai anak kawin campur? Jujur, kami tidak berdiskusi terlalu larut tentang identitas campur dari anak-anak. Anak-anak pun tidak pernah bertanya terlalu rumit soal identitas campur mereka. Ketika kami berlibur di Indonesia, kami mencoba memperkenalkan sedikit lebih jauh bagaimana Indonesia dan kebiasaannya.
Kami lebih banyak mengajarkan kepada anak-anak soal tata krama dan sopan santun. Kami mengajarkan misalnya, bagaimana mereka berkomunikasi dengan orang lain, bertanya yang sopan atau berterima kasih ketika mereka menerima sesuatu. Mereka pun mencoba untuk menerapkan ajaran kami tersebut baik, di dalam maupun di luar rumah. Ketika mereka “lupa”, kami akan terus mengingatkan mereka.
Agar anak memahami perkembangan identitas sebagai anak kawin campur, yakni anak yang berasal ibu dan ayah yang berbeda budaya dan bahasa, dari awal suami dan saya memperkenalkan kepada anak-anak bahwa mereka mempunyai dua keluarga besar, di Belanda dan di Indonesia. Mereka memiliki kakek dan nenek dari dua negara. Jadi, anak-anak belajar untuk memanggil opa dan oma untuk kakek dan nenek dari Belanda, dan “ompung” untuk kakek dan nenek dari Indonesia.
Kami pun memperkenalkan kepada anak-anak bahwa mereka memiliki dua paspor, karena mereka memiliki orang tua dari dua negara yang berbeda. Namun, ketika usia mereka 18 tahun, mereka pun harus melepaskan salah satu paspor tersebut. Kami menganjurkan anak-anak untuk melepas paspor Indonesia, dengan alasan yang sederhana.
Mereka lahir dan besar di Belanda, mereka sudah terbiasa dengan sistem Belanda. Mereka tentunya akan menghadapi kendala-kendala tertentu ketika mereka melepas kewarganegaraan Belanda dan pindah ke Indonesia. Namun, darah Indonesia mereka tidak akan pernah hilang dan tali silaturahmi dengan keluarga di Indonesia pun tidak akan pernah putus.
Berbicara dengan pengalaman anak-anak dalam lingkungan sosial mereka, rupanya anak-anak saya tidak pernah mendapatkan pengalaman buruk di sekolah terkait dengan identitas campur mereka. Anak pertama dan kedua pernah mendapat tugas untuk memberikan presentasi di kelas, dan mereka memilih untuk mempresentasikan tentang Indonesia.
Mereka pun membawa kerajinan asli Indonesia seperti wayang, angklung, gamelan, dan batik yang kami punya di rumah. Guru dan teman-teman di kelas sangat terkesan dengan presentasi tentang Indonesia, yang dibawakan anak saya.
Ada pengalaman lucu sebenarnya yang dialami oleh anak bungsu saya. Waktu itu, ada temannya datang bermain ke rumah. Ketika mereka sedang bermain, anak bungsu saya ini memanggil kakak sulungnya dengan panggilan “kakak”. Teman sepermainan anak saya ini bingung, lalu kami jelaskan apa maksud panggilan “kakak” tersebut.
Sejak saat itu, setiap kali teman anak bungsu saya ini datang bermain ke rumah, dia pun ikut memanggil anak sulung saya dengan sebutan “kakak”. Bagaimanapun, budaya bentuk sapaan seperti kakak, adik, bapak, ibu, dan lainnya merupakan budaya Indonesia, yang ini berbeda dengan kebiasaan dengan orang-orang di sini.
Tentunya sebagai orang tua, kami perlu bekerja sama sebagai ayah dan ibu untuk terus mengingatkan anak-anak, bahwa mereka adalah anak-anak yang beruntung dengan memiliki identitas campur. Mereka harus bangga dengan identitas mereka. Namun, tantangan yang paling berat adalah menerapkan ajaran tata krama dan sopan santun di tengah-tengah masyarakat yang terlalu menerapkan kebebasan yang agak berlebihan.
Misalnya di Denmark, remaja usia 16 tahun sudah diijinkan untuk membeli minuman beralkohol dengan batas tertentu, seperti bir di supermarket. Anak sulung kami sudah berusia 16 tahun. Kami pun terus mengajarkan bahwa minuman beralkohol itu sangat tidak baik untuk kesehatan. Sama halnya kami mengajarkan tentang perilaku merokok pada remaja, baik itu rokok yang umum maupun rokok elektrik seperti vape.
Menurut saya, fondasi anak-anak dari pengasuhan dalam keluarga sangat penting, sebelum mereka keluar rumah. Anak-anak harus terus diajarkan dan diingatkan, mana yang baik dan mana yang buruk.
Anak-anak harus terus diajarkan untuk tidak terpengaruh dengan teman-teman sekitarnya, terus diajarkan untuk berani berkata tidak, kalau mereka diajak untuk berbuat sesuatu yang salah. Orang tua perlu mengajarkan kebiasaan-kebiasaan yang baik dari kedua negara, dalam hal ini Belanda dan Indonesia.
Ketika anak-anak masuk ke tengah-tengah masyarakat di Denmark, mereka telah beradaptasi dengan kebiasan-kebiasaan baik yang diajarkan orang tua. Seperti contoh, hierarki itu hampir tidak ada di Denmark. Anak-anak memanggil guru bahkan kepala sekolah langsung dengan nama, dan sampai saat ini anak-anak saya tidak terbiasa dengan kebiasaan itu.
Mereka menghindari untuk memanggil guru dengan nama langsung. Di sisi lain, Denmark memiliki budaya “janteloven”, di mana mereka tidak pernah memamerkan harta benda, kemewahan yang mereka miliki. Sebagai orang tua, ini kebiasaan baik yang kami bisa terapkan untuk anak-anak di rumah ketiga mereka, Denmark.
Anak-anak pun belajar untuk tidak pamer dengan kemewahan, bahkan tidak pamer dengan kepintaran yang dimiliki, tetap down to earth. Intinya, kami mengajarkan kepada anak-anak untuk tidak pernah lupa dengan apa yang kami ajarkan dan asal usul mereka sebagai anak kawin campur, di manapun kami tinggal atau mereka akan tinggal nantinya ketika mereka dewasa.
Penulis: Berta Situmeang, yang tinggal di Denmark dan dapat dihubungi via media sosial Facebook: Berta Situmeang atau Instagram: adenk_bvs.
Dalam diskusi IG Live episode Juli 2024 mengangkat tema generasi sandwich, yang mungkin banyak relate dengan sahabat Ruanita yang tinggal di luar Indonesia dan sedang berada dalam posisi ini.
Namun begitu, tak banyak juga yang tahu istilah generasi sandwich tetapi kita telah berperan sebagai generasi sandwich meski tinggal jauh berada di luar Indonesia.
Untuk membahas lebih dalam, kami mengundang sahabat Ruanita yakni Ranindra Anandita, seorang Psikolog yang bermukim di Prancis dan Alfa Kurnia, seorang Mom Blogger yang tinggal di Brunei Darussalam.
Diskusi IG Live ini sepenuhnya dimoderasi oleh Rida Luthfiana Zahra, seorang relawan Ruanita yang sedang menempuh studi S2 di Jerman.
Banyak orang awam beranggapan bahwa generasi sandwich hanya terjadi di Indonesia atau Asia saja, padahal Ranindra menegaskah ada juga posisi generasi sandwich terjadi di Eropa atau Amerika saja.
Namun, cara pandang budaya di Asia atau Indonesia justru memperkuat dan menegaskan bahwa anak perlu bertanggung jawab kepada orang tua yang sudah melahirkan dan merawat sebelumnya.
Sementara di budaya barat, peran ini ada tetapi diperkuat lagi dengan fasilitas yang tersedia bahwa orang-orang tua pun bisa mandiri atau tinggal di panti jompo.
Sementara Alfa Kurnia juga menceritakan bahwa tinggal di luar Indonesia itu tidak mudah dan tidak murah. Hal ini banyak tidak dipahami keluarga-keluarga di Indonesia yang menganggap tinggal di luar Indonesia itu lebih dari berkecukupan daripada tinggal di Indonesia.
Padahal berada dalam posisi generasi sandwich dan tinggal di luar Indonesia adalah dilema yang membuat mereka terbebani, bahkan tidak mungkin menjadi burnout.
Generasi sandwich ini juga bisa memunculkan intergenerational traumatic akibat anak-anak mengamati bagaimana relasi orang tua dengan nenek-kakeknya selama ini. Kita perlu memperhatikan bagaimana anak-anak memandang hal tersebut.
Peran menjadi generasi sandwich tidak hanya seputar tanggung jawab moral saja, tetapi juga tanggung jawab financial yang tidak mudah juga. Kita perlu bersikap hati-hati agar tidak memunculkan mindset yang berujung ke trauma untuk generasi berikutnya.
Lalu apa sih sebenarnya generasi sandwich itu? apakah generasi sandwich hanya terjadi di Indonesia atau Asia saja? Apakah benar generasi sandwich itu bisa menimbulkan burnout atau masalah mental di kemudian hari? Bagaimana sebaiknya kita bisa menyiasati tinggal di luar Indonesia tetapi masih terbenani dengan posisi generasi sandwich? Apa pesan dua tamu diskusi IG Live ini untuk sahabat Ruanita yang sedang menjalani peran generasi sandwich?
Simak diskusi IG Live selengkapnya di kanal YouTube kami sebagai berikut:
Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan, nama saya Alfa Kurnia, yang biasa dipanggil Alfa. Saya berasal dari Sidoarjo, Jawa Timur, tetapi sekarang saya tinggal di Brunei Darussalam. Saya bersama keluarga tinggal tepatnya di mukim Kuala Belait, sebuah kota kecil tempat eksplorasi migas yang berada di ujung Brunei. Kota saya berbatasan dengan Miri, Sarawak, Malaysia.
Saya mulai tinggal di Brunei sejak tahun 2012, karena saya mengikuti suami yang bekerja di sebuah perusahaan kontraktor migas. Aktivitas sehari-hari saya adalah mengurus rumah, anak, dan suami. Saya juga seorang blogger yang menulis di blog pojokmungil.com.
Di waktu luang saya berolahraga dan bersama beberapa teman sesama WNI di Kuala Belait. Kami juga seminggu sekali memasak dan menyiapkan nasi-nasi box untuk program Jumat Berkah. Oh ya, Sahabat Ruanita, saat ini saya berusia 43 tahun dan telah memiliki dua orang anak yang berusia 16 dan 11 tahun.
Berbicara tentang istilah generasi sandwich, menurut saya, istilah ini seperti sebuah sandwich pula. Generasi Sandwich adalah suatu generasi di mana seseorang yang telah dewasa harus menanggung, membiayai, atau merawat orang tua yang sudah lanjut usia(=lansia), dirinya, dan anak-anaknya. Seperti sebuah sandwich, posisi orang dewasa tersebut berada di tengah.
Boleh dibilang, posisinya terhimpit oleh orang tuanya dan anaknya. Saya secara pribadi berpendapat bahwa terjadinya generasi sandwich disebabkan oleh faktor ekonomi dan sosial. Dari faktor ekonomi, generasi orang tua biasanya tidak mampu lagi merawat dan menghidupi diri mereka sendiri. Sedangkan dari faktor sosial, muncul anggapan umum bahwa anak harus berbakti kepada orang tua.
Sebagaimana kita tahu, masih banyak orang tua yang menganggap, bahwa anak adalah aset. Anggapan ini yang mendorong anak harus bertanggung jawab, mengurus dan menafkahi orang tua, apalagi setelah mereka mandiri dan menghasilkan uang sendiri. Ini seperti ‘imbalan’ karena orang tua dulu telah menafkahi dan menyekolahkan anak saat masih kecil.
Generasi sandwich saat ini banyak terjadi, ya. Beberapa kasus yang saya amati misalnya, ketika orang tua sudah tidak lagi memiliki penghasilan dan tabungan, sementara kebutuhan hidup mereka masih tinggi.
Itu sebab, anak yang sudah berkeluarga harus menghidupi orang tuanya, sekaligus memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dan menafkahi anak-anaknya.
Contoh lain generasi sandwich yang saya amati juga, misalnya beberapa keluarga muda harus menafkahi sekaligus juga harus merawat orang tua lansia yang sakit atau tidak mampu lagi merawat diri sendiri.
Meski orang tua lansia ini sehat, anak yang sudah tumbuh dewasa dan berkeluarga ini seperti wajib juga melakukan tugasnya, menafkahi dan merawat orang tuanya. Padahal di saat bersamaan, dia pun masih dihadapkan pada tugas lainnya, yakni anaknya yang masih bayi/balita yang perlu perhatian dan pengawasan.
Generasi sandwich ini seperti sudah terbiasa terjadi dalam budaya di Indonesia. Kita perlu menjadi anak dan orang tua yang baik sesuai norma yang berlaku di masyarakat. Dalam budaya Indonesia, anak punya kewajiban untuk merawat orang tua, baik secara finansial maupun fisik.
Meskipun secara pribadi, saya tidak punya pengalaman merawat orang tua yang sudah lansia, karena saya tinggal jauh dari orang tua saya. Sampai saat ini, saya fokus hanya mengasuh anak.
Setiap situasi, pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Menjadi generasi sandwich, menurut saya ada beberapa sisi positifnya, yaitu:
1. Kedekatan keluarga: Generasi sandwich memiliki kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan anak-anak dan orang tua mereka. Hal ini dapat memberikan rasa cinta, dukungan, dan kebersamaan yang kuat.
2. Pembelajaran dan pengembangan: Generasi sandwich dapat belajar banyak dari pengalaman mereka dalam mengasuh anak dan merawat orang tua. Hal ini dapat membantu mereka untuk mengembangkan keterampilan baru, seperti kesabaran, ketahanan, dan empati.
3. Warisan: Generasi sandwich dapat mewariskan nilai-nilai dan tradisi keluarga kepada anak-anak mereka. Hal ini dapat membantu untuk menjaga keluarga tetap terhubung dan kuat.
4. Peluang untuk membuat perubahan: Belajar dari pengalaman, generasi sandwich memiliki peluang untuk memutus siklus ini dengan mengatur keuangan lebih baik dan berinvestasi untuk dana pensiun kelak.
Apakah generasi sandwich itu hanya terjadi di Indonesia? Tidak juga. Ada juga kasus lain yang terjadi di beberapa pekerja migran asal Indonesia (=PMI) yang saya kenal. Ketika mereka bekerja di luar negeri, lalu gaji mereka harus dikirim ke kampung untuk menghidupi orang tua dan anak mereka yang tinggal di sana.
Saya pun turut prihatin, ketika keluarga mereka di kampung, menganggap kerja di luar negeri itu gajinya besar. Padahal tak jarang teman-teman PMI ini pun harus rela hidup pas-pasan di negeri orang, supaya mereka bisa mengirim uang ke keluarga, setiap kali mereka membutuhkan.
Namun, memang ada pula sisi positifnya. Mereka bercerita bahwa mereka bisa membangun rumah di kampung dan menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke pendidikan tinggi, meskipun mereka tidak bisa menabung untuk kehidupan mereka sendiri. Sebaliknya, ketika anak-anak mereka nanti dewasa dan bekerja, mereka pun kembali berharap dari anak-anak yang akan menghidupi mereka. Menurut saya, siklus generasi sandwich ini akan terus berulang.
Di Asia sendiri, sepertinya istilah “sandwich generation” dianggap sebagai hal yang umum. Artinya, memang kondisi ini wajar terjadi dan bukan suatu masalah. Anak memiliki tanggung jawab untuk merawat orang tua, ketika mereka lansia, meskipun di saat yang bersamaan anak yang sudah dewasa itu sedang membangun rumah tangga mereka sendiri.
Kembali lagi bahwa generasi sandwich ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, saya pernah membaca bahwa budaya barat pun ada. Istilah “sandwich generation” pertama kali digunakan pada tahun 1981 oleh Dorothy A. Miller, seorang profesor dan direktur praktikum di University of Kentucky, Lexington, Amerika Serikat. Artikelnya berjudul “The ‘Sandwich’ Generation: Adult Children of the Aging”, yang menunjukkan bahwa generasi sandwich juga terjadi di budaya barat. Tidak sedikit juga literasi tentang generasi sandwich yang diterbitkan oleh ilmuwan-ilmuwan budaya barat. Penelitian yang dilakukan oleh The Pew Research Centre menunjukkan bahwa ada 1 dari 8 orang di Amerika yang berusia 40 – 60 tahun membesarkan anak mereka sekaligus merawat orang tua lansia. Rasanya jumlah ini cukup banyak juga ya.
Tentu, mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich menghadapi berbagai tantangan yang tak mudah seperti, pertama yakni tantangan finansial. Dengan adanya beban biaya ganda, pastinya akan memunculkan kondisi keuangan yang sulit, mulai dari berkurangnya tabungan, tidak adanya atau hilangnya investasi, sampai munculnya hutang. Tantangan kedua adalah emosional dan fisik yang menguras energi. Mengurus anak dan merawat orang tua yang lansia secara bersamaan dapat menimbulkan stres. Tak jarang, ini sampai menimbulkan depresi, karena merasa terbebani oleh tanggung jawab mereka. Mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich juga dapat merasa kelelahan, karena kurangnya waktu untuk diri mereka sendiri. Tantangan ketiga adalah kehidupan sosial. Mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich pun sibuk mencari nafkah, sekaligus mengurus anak dan merawat orang tua, sehingga membuat mereka kesulitan dalam menjalin hubungan dengan orang lain.
Menyimak tantangan yang dihadapi oleh generasi sandwich, rasanya mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich mungkin akan mengalami kondisi yang stressful. Bagaimana tidak?! Ketika mereka sedang menanggung beban ganda tersebut, sementara saudara lainnya bisa hidup bebas, tanpa harus mengkhawatirkan keadaan orang tua mereka sendiri.
Saya percaya, ketika anak semakin besar, maka kebutuhan mereka pun semakin bertambah. Di sisi lain, kebutuhan orang tua juga tidak berkurang dan penghasilan kita tidak berubah. Tentunya, mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich akan merasa semakin sulit mengatur keuangan. Selain kondisi keuangan yang sudah memicu stres, belum lagi generasi sandwich memiliki beban merawat orang tua yang sedang sakit, ditambah beban mengasuh anak yang membutuhkan banyak sekali energi dan kesabaran.
Perhatikan pula dampak dari generasi sandwich yang bisa memunculkan toxic family di kemudian hari. Misalnya saja, muncul rasa iri terhadap saudara yang lain, rasa lelah harus menanggung semuanya sendiri, atau tekanan dari orang tua lansia yang menuntut, tentunya hal ini bisa membuat hubungan keluarga menjadi tidak baik
Sahabat Ruanita, jika kalian sudah merasa kewalahan dalam menanggung beban ganda tersebut, sebaiknya segera kalian mencari pertolongan ahli atau tenaga profesional. Tanda-tanda yang mungkin dialami seperti: kelelahan fisik dan emosional yang parah, memiliki perasaan marah, frustasi dan kesepian, mengalami penurunan kualitas pekerjaan, hingga punya pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain, maka kalian perlu meminta bantuan ahli untuk mengatasinya.
Menurut saya, komunikasi dan kerjasama antar anggota keluarga menjadi kunci menyeimbangkan tugas dan tanggung jawab mengasuh anak dan merawat orang tua lansia sekaligus. Saya berpikir, siapa pun yang berada dalam posisi generasi sandwich sekarang, segera bicarakan dengan pasangan, saudara, dan orang tua tentang situasi masing-masing anggota keluarga. Diskusikan siapa yang paling mungkin merawat orang tua kita. Saya pikir, kita perlu juga melibatkan yang lain juga untuk berkontribusi merawat orang tua lansia.
Berada dalam posisi generasi sandwich tidaklah mudah, apalagi menjadi tulang punggung keluarga yang pasti melelahkan. Namun percayalah, ketika kita diberi tanggung jawab, Allah tahu kita mampu. Meski berat, anggap saja ini ladang pahala. Mengurus dan berada dekat dengan orang tua adalah kesempatan yang tidak didapatkan oleh semua orang. Tentunya, ada hal-hal baik yang datang, jika kita ikhlas melakukannya.
Sahabat Ruanita, kalian juga tidak sendirian. Banyak orang lain yang mengalami situasi yang sama. Carilah komunitas yang dapat saling menguatkan, jika kalian sudah mulai lelah. Berkomunikasi secara terbuka kepada keluarga tentang kebutuhan dan harapan kita. Tetapkan batasan dan jangan ragu berkata “tidak” ketika kita tidak mampu. Minta bantuan profesional ya, jika dibutuhkan. Ingat, kita kuat dan mampu! Fase ini akan berlalu, dan kita akan menjadi lebih kuat karenanya.
Penulis: Alfa Kurnia, blogger dan tinggal di Brunei Darussalam. Alfa dapat dikontak lewat akun IG alfakurnia. Tulisan-tulisannya dapat dikunjungi di www.pojokmungil.com.
Pada episode ke-27 ini, Podcast RUMPITA mengundang Dyah Anggraini C. yang kini menetap di Islandia.
Sebagai seorang ibu dan pekerja yang berkarier internasional, Dyah membagikan pengalaman hidupnya bagaimana studi pertama kali di mancanegara, yang dimulai dari Inggris.
Dyah pun sempat kembali ke Indonesia, dan kemudian memutuskan tinggal di Islandia.
Pernah bekerja di bidang financial and banking di Indonesia, Dyah pun mendalami studinya di Inggris.
Dyah pun tidak merasakan perbedaan yang besar antara berkuliah di Inggris dengan berkuliah di Islandia.
Mungkin perbedaan yang mencolok yang dialami seperti sistem penilaian yang berbeda, antara berkuliah di Inggris dengan di Islandia.
Alasan keluarga membuat Dyah memutuskan pindah ke Islandia dan melanjutkan studi kembali di Islandia.
Tinggal di Reykjavic, ibukota Islandia, tentunya berbeda sekali dengan iklim dan suasana alamnya yang dirasakan Dyah, terutama saat musim panas atau musim dingin.
Dyah pun menceritakan bagaimana dukungan pemerintah Islandia saat dia sedang menyelesaikan studi dan baru saja melahirkan anaknya.
Tentunya, dukungan suami dan pengelolaan peran sangat diperlukan agar seimbang, sehingga kini Dyah pun tetap bekerja secara global bersama dengan orang-orang dari berbagai negara.
Apa saja perbedaan studi antara di Inggris dengan di Islandia? Bagaimana pendapat Dyah tentang iklim dan budaya orang-orang Islandia? Apa saja potensi yang bisa dilakukan warga Indonesia bila ingin studi atau berkarier di Islandia? Apa saja tantangan dan kesan yang dialami Dyah studi dan tinggal di Islandia? Apa pesan Dyah untuk orang Indonesia yang ingin wisata, studi, atau bekerja di Islandia?
Simak selengkapnya dalam diskusi Podcast RUMPITA, Rumpi bersama Ruanita, berikut ini:
Halo sahabat Ruanita, saya seorang WNI yang saat ini berdomisili di salah satu negara di Eropa barat dan saat ini keseharian saya mengikuti kursus bahasa di tempat saya tinggal. Saya ingin menceritakan pengalaman saya mengenai siblings rivalry.
Menurut kamus American Psycology Association, siblings rivalry adalah persaingan antar saudara kandung untuk mendapatkan perhatian, persetujuan, atau kasih sayang dari salah satu atau kedua orang tuanya atau untuk pengakuan atau penghargaan lain, seperti di bidang olahraga atau akademik.
Hal ini umumnya terjadi dalam keluarga yang mempunyai anak lebih dari satu. Menurut pengamatan saya, biasanya terjadi pada keluarga dengan anak yang jarak umurnya tidak jauh dari satu anak dengan anak yang lainnya.
Saya adalah anak tertua dari tiga bersaudara, kebetulan perbedaan umur saya dan kedua adik saya tidak terlalu jauh. Kedua orang tua saya tergolong workaholic parents.
Sejak kecil, kami sudah terbiasa ditinggal dengan pengasuh atau anggota keluarga lainnya, ketika orang tua saya harus bekerja. Ketika kecil, hal ini tidak begitu mengganggu saya, bahkan sebaliknya saya merasa sangat beruntung punya saudara yang selalu bisa diajak bermain bersama.
Namun, semua hal tersebut perlahan-lahan berubah, ketika saya memasuki usia remaja. Saya selalu merasa kalau orang tua saya lebih mencurahkan perhatian mereka kepada kedua adik saya.
Contohnya, ketika ada acara kumpul keluarga, di mana yang akan selalu dibanggakan adalah kedua adik saya. Padahal kalau dibandingkan kedua adik saya, secara akademis saya lebih baik dibandingkan mereka berdua.
Hal ini membuat saya mempunyai rasa cemburu terhadap kedua adik saya. Namun, sebagai anak tertua saya selalu berusaha menutupi hal tersebut, yang berdampak terhadap kemampuan saya dalam berkomunikasi dengan orang tua.
Hal ini membuat saya menjadi lebih tertutup saat di rumah dan lebih memilih menghabiskan waktu saya dengan teman-teman di luar rumah.
Saat itu, orang tua saya menganggap hal tersebut adalah hal yang wajar terjadi. Sebagai kakak, saya selalu diminta untuk mengalah, apabila terjadi pertikaian dengan saudara-saudara saya.
Sebagai seorang remaja yang sedang membutuhkan banyak perhatian, tentu saja saya merasa frustasi dan sedih karena harus memendam berbagai macam emosi yang saya rasakan sendiri.
Saya cukup beruntung karena hal tersebut tidak membuat saya terjebak dalam hal-hal negatif, karena bisa saja terjadi pada seorang remaja.
Menurut saya, orang tua berperan besar dalam terjadinya siblings rivalry antar saudara. Setelah bertahun-tahun kemudian, saya akhirnya menemukan jawaban mengapa orang tua bisa menjadi penyebab terjadinya siblings rivalry.
Dalam buku Scattered Minds, Gabor Mate menjelaskan bahwa kondisi orang tua dalam menyambut kehadiran tiap anak akan berbeda-beda dan hal tersebut sangat berpengaruh terhadap perlakuan orang tua terhadap masing-masing anak.
Bisa saja kesiapan secara mental dan financial orang tua saya lebih baik, ketika kedua adik saya lahir dibandingkan saat saya lahir. Saya sendiri saat ini sudah berdamai dengan hal tersebut dan berusaha memahami bahwa, di tengah keterbatasan orang tua saya saat itu, mereka tetap menjadi orang tua yang selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan anak anaknya.
Berdasarkan apa yang saya alami, menurut saya tidak selamanya siblings rivalry itu memiliki dampak yang buruk. Saya menjadi belajar untuk lebih mandiri dan selalu berusaha tidak bergantung pada orang lain.
Selain itu, saya jadi lebih berani dalam mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidup saya, meskipun terkadang saya masih meminta pendapat keluarga saya.
Namun, setiap keputusan yang saya ambil tidak bergantung pada pendapat orang lain. Saat ini, saya merasa siblings rivalry yang dulunya saya alami, tidak terlalu mengganggu pikiran saya lagi, ketika saya sedang tinggal jauh dari keluarga.
Dari pengalaman dan pengamatan saya, siblings rivalry bisa terjadi di keluarga manapun, karena hal tersebut juga terjadi dalam keluarga suami saya. Namun seperti yang saya alami, hal tersebut perlahan-lahan akan berkurang, bahkan hilang seiring bertambahnya usia, terutama saat kami masing-masing telah berkeluarga.
Menurut saya, siblings rivalry adalah hal yang tidak bisa dihindari. Namun tentu saja, ada hal-hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir dampak buruk dari siblings rivalry.
Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah: memberikan perhatian terhadap kebutuhan tiap anak, mengajarkan kepada anak menyelesaikan konflik yang terjadi di antara mereka, tidak membanding-bandingkan satu anak dengan anak lainnya di depan orang lain, dan menghabiskan waktu dengan masing-masing anak agar tiap anak merasakan kedekatan dengan orang tuanya.
Nah, sahabat Ruanita begitulah pendapat dan pengalaman saya tentang siblings rivalry yang mungkin bisa membantu.