(CERITA SAHABAT) Meninggalkan Pekerjaan Demi Mengejar Passion

Halo, Sahabat Ruanita! Saya adalah Karin yang tinggal di Turki. Ini adalah kali ke-2, saya berpartisipasi dalam program cerita sahabat. Tulisan saya yang pertama, saya membagikan pengalaman tentang “Kecanduan Begosip”. Sekarang, saya akan membagikan cerita tentang “Meninggalkan pekerjaan demi Mengejar Passion”. Sebelumnya mau sedikit bercerita, bahwa saya pernah gagal melangsungkan pernikahan sebanyak 2 kali yakni, di tahun 2016 – 2017. Setelah itu, saya benar-benar fokus untuk bekerja, sampai usia saya sudah memasuki hampir 30 tahun. Namun, saya belum juga memiliki pasangan hidup. Hal ini membuat ibu dan keluarga besar saya cemas. Mulai saat itu, saya berpikir mencari pasangan untuk menjalin hubungan yang benar-benar serius. 

Pada tahun 2019, Tuhan mempertemukan saya dengan suami saya sekarang. Saat itu, saya dan suami bertemu dan kami berdiskusi panjang, yang membuat kami berdua sepakat untuk berumah tangga. Umur saya waktu itu adalah 29 tahun dan suami saya berumur 31 tahun.  Suami berjanji saat menikah nanti, akan bertanggung jawab sepenuhnya atas kehidupan saya. Oleh karena itu, saya siap untuk menikah, tetapi dengan syarat saya tetap ingin melakukan aktivitas/bekerja saat saya menikah nanti. Suamipun menyetujuinya selama aktivitas tersebut membuat saya senang dan berkembang. 

Di benak saya, saya ingin menjadi seorang ‘entrepreneur’ setelah menikah. Mengingat salah satu hobi saya adalah traveling dan sebagian besar orang Indonesia suka dengan negara Turki, maka saya melihat peluang usaha travel agent di Turki. Sebagai awalan, saya jadi pemandu wisata dulu deh. Sayangnya, kenyataan tidak semudah seperti yang saya bayangkan, mulai dari kendala bahasa, biaya hingga minimnya pengetahuan saya tentang aturan pemerintah tentang pariwisata di Turki. Oh ya, bahasa Turki itu penting, karena tidak banyak orang Turki bisa berbahasa Inggris.

Pada tahun ke-2 pernikahan, saya pernah mendapatkan tawaran dari travel agent di Bali, milik salah satu teman saya. Beliau meminta saya untuk memandu wisata di Turki, selama kurang lebih 5 hari, dengan wisatawan adalah sekitar dua puluhan anak International School, di tingkat Sekolah Menengah Pertama. Saya pun menyetujuinya, kemudian saya pun membuat itinerary, mengecek restoran, serta hotelnya. Teman saya tersebut meminta saya untuk memastikan hotel harus punya  kolam renang. Saya dan suami mencoba menghubungi beberapa travel agent yang bisa bekerja sama dengan kami, sesuai dengan Itenary  yang kami kirimkan. 

Namun, travel agent yang kami hubungi hampir semua tidak bisa mengabulkan permintaan yang kami buat. Mereka hanya bertanggung jawab untuk makan pagi di hotel, makan siang, dan makan malam. Travel Agent hanya mengantarkan saja sesuai dengan permintaan restoran yang kami minta. Harga yang diberikan terbilang cukup mahal daripada travel agent yang langsung dari Indonesia.  Sampai sekarang, kendala terbesar saya adalah ketidaklancaran saya berbahasa Turki, sehingga saya hanya bisa mengandalkan suami untuk berkomunikasi dan negosiasi.

Travel Agent di Turki yang kami hubungi, mereka tidak menerima uang muka. Apabila kami setuju dengan penawaran yang diberikan, maka kami harus melunasi langsung seluruh biayanya. Saya telah berdiskusi dengan teman saya itu, apakah saya berkesempatan untuk memandu wisata kliennya di Turki. Ternyata ada aturan untuk memandu wisata di Turki, harus tetap dipandu oleh pemandu wisata bersertifikasi dari pemerintah Turki, menguasai berbagai bahasa, dan harus ada perusahan travel agent yang legal. Jadi, kita tidak boleh sembarangan memandu wisata walaupun kita mengetahui tempat wisata yang bagus dan mengerti sejarahnya, kecuali memandu wisata untuk keluarga sendiri yang jumlahnya di bawah 15 orang. 

Karena keterbatasan pengetahuan saya dan suami tentang aturan pariwisata di Turki, dengan berat hati saya batalkan tawaran teman saya tersebut. Saya hanya memberi itinerary sebagai bahan informasi tempat-tempat wisata yang bagus di Turki, kemudian saya merekomendasikan teman saya itu, untuk menghubungi travel agent kerabat tante saya yang memang sudah expert di bidang perjalanan luar negeri.  

Saat itu, perasaan saya sedikit kecewa, karena saya merasa seperti tidak bisa melakukan apa-apa di sini. Tidak seperti saat saya di Indonesia, di mana saya bisa bekerja sambil sesekali mengambil sambilan sebagai pemandu wisata, khususnya untuk pimpinan-pimpinan perusahaan. Perbedaannya di Indonesia adalah saya bisa berkomunikasi secara detil dengan travel agent, dan mereka lebih fleksibel serta responsif. Kita bisa request Itenary, restoran, dan hotel. Mereka yang kemudian mengaturnya sesuai kebutuhan kita. Berbeda dengan travel agent di Turki, mereka yang menentukan semuanya. Hal ini merupakan pelajaran dan tantangan bagi kami ke depannya. 

Hal lain yang saya coba lakukan adalah memasak makanan dan menjualnya secara daring. Saya suka memasak sambal, lauk pauk Indonesia, seperti: nasi uduk, rendang, ayam kecap, tempe orek, sambal goreng kentang, soto, dll. Saya juga membuat aneka cemilan khas Indonesia, seperti: kue cubit, bakwan, risoles, siomay, dimsum, dll. Saya juga suka ‘Baking’ cake and cookies. Saya memperkenalkan makanan Indonesia ke keluarga dan teman- teman Turki. Respon yang paling diterima dan diminati adalah saat saya membuat cake, nastar, dan risoles ragout isi ayam.

Saya juga sambil iseng-iseng menawarkan mereka apabila mau pesan, saya bisa membuatkannya. Seandainya saya bisa juga menjangkau lebih banyak lagi mahasiswa asal Indonesia yang belajar di Turki. Sayangnya, lokasi rumah saya sulit dijangkau. Mahasiswa asal Indonesia yang sedang belajar di Turki mengatakan mereka memiliki grup WhatsApp, yang mana salah satu di antara mereka berjualan seperti mie ayam, ayam geprek, dan siomay. 

Saya juga pernah mencoba membuat tempe sendiri. Membuat tempe itu begitu mudah, tetapi proses fermentasinya susah bagi saya. Suhunya harus benar-benar sesuai dan tempatnya pun harus bersih. Bila tidak sesuai atau sedikit lalai, tempe bisa terkontaminasi atau rusak seluruhnya.  Setelah berhasil praktik tempe, saya kemudian menjualnya ke teman saya yang tinggal berbeda kota. Ternyata saat pengirimannya sampai di lokasi tujuan, tempe yang saya buat sudah “berlendir” di bagian atasnya. Bisa dikatakan, saya gagal untuk pengiriman tempe. 

Pada bulan Januari 2024, saya kembali ke Indonesia untuk berlibur selama tiga bulan. Saya bisa bertemu dengan keluarga dan sahabat-sahabat saya. Mereka banyak memberikan saran dan nasehat baik untuk saya, terutama sahabat saya yang memang pekerjaannya sebagai ‘entrepreneur’. Dia bercerita tentang pentingnya membangun ‘Personal Branding’ di awal merintis usaha. 

Itu bukan hal yang mudah kecuali memiliki ‘Privilege’. Sahabat saya tersebut bercerita, entah sudah berapa banyak kerugian yang dialaminya untuk merintis usahanya. Walaupun saya belum berhasil mewujudkan goals saya saat ini, saya sadar mengejar ‘passion’ tanpa Privilege itu perlu usaha lebih keras lagi. Saya tetap berjuang mencari jalan saya sendiri, berdoa, menikmati setiap prosesnya, dan sadar diri. Artinya, saya sadar dengan banyaknya kekurangan yang saya miliki, maka saya harus mencari hal-hal apa saja yang dibutuhkan dan harus dilakukan untuk pengembangan diri saya. 

Menurut saya, saat saya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan demi mengejar passion saya, itu bukan berarti saya gegabah. Maksudnya, orang (mungkin) berpikir saya gegabah  karena saya langsung mau menikah dengan pria Turki atau saya (mungkin) dianggap gegabah karena menikah atas desakan orang tua yang khawatir akan usia saya.

Seperti yang dikatakan di awal, ketika saya dan suami sepakat memutuskan untuk menikah, kami sepakat bahwa suami sepenuhnya bertanggung jawab untuk financial dan saya bertanggung jawab mengatur kebutuhan rumah tangga. Kami hidup cukup meskipun, kami tidak hidup bergelimangan harta. Kami tetap memiliki rencana dan tabungan untuk masa depan. 

Akhir kata, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada RUANITA yang telah memberikan saya kesempatan untuk menulis pengalaman-pengalaman saya dan sahabat-sahabat yang membaca ini. Semoga tulisan saya bermanfaat untuk kalian. Kita harus memberi semangat buat siapa saja yang di luar sana dan masih berjuang untuk mengejar ‘passion-nya’. Ayo, kita bisa! Ora et Labora. 

Penulis: Karin, tinggal di Turki.

(SWG) Bagaimana Standar Kecantikan di Jepang?

Cantik itu relatif. Mungkin kalimat ini sering kita dengar di masyarakat pada umumnya. Namun, bagaimana standar kecantikan di negeri matahari terbit? Bagaimana masyarakat menilai dan menentukan standar kecantikan untuk seorang perempuan?

Dalam episode pertama SWG, Sharing with Guchi, Cindy Guchi yang menjadi host dari program ini mengundang sahabat Ruanita di Jepang. Dia adalah Chiharu Ooshiro, perempuan Jepang yang sedang menempuh studi di salah satu universitas di Jepang.

Menurut Chiharu, standar kecantikan adalah bagaimana perempuan bisa menjadi diri mereka sendiri dan menerima diri mereka. Namun, standar kecantikan yang diinginkan oleh Chiharu nyatanya berbeda dari kebanyakan masyarakat di Jepang umumnya.

Contohnya, perempuan digambarkan sebagai perempuan yang lembut dan berwajah kecil. Bahkan perempuan banyak melakukan massage agar wajah mereka lebih kecil. Selain berwajah kecil, perempuan digambarkan cantik dengan kulit yang cerah.

Tak jarang, perempuan tidak makan makanan banyak agar tidak mengalami kelebihan berat badan dan bisa diterima sebagai standar kecantikan.

Perempuan di Jepang mendapatkan tantangan tentang bagaimana mereka perlu berpenampilan sempurna untuk lingkungan di mana mereka berada. Mereka tak ragu untuk memakai make-up setiap hari, karena masyarakat pun memandang hal itu sebagai perempuan yang menarik.

Sharing With Guchi adalah program bincang-bincang digital yang diproduksi oleh Ruanita Indonesia. Di sini, kami mengangkat cerita, pengetahuan, dan perspektif yang memperkuat suara perempuan global bersama perempuan Indonesia yang menjadi #relawanruanitaindonesia dalam wacana global. Lewat percakapan hangat dan bermakna, SWG bertujuan mendorong solidaritas, pembelajaran, dan aksi nyata.

Simak selengkapnya rekaman diskusi Cindy Guchi, perempuan Indonesia yang kini tinggal di Vietnam dan Chiharu Ooshiro:

(IG LIVE) Bagaimana Sadari Alzheimer Sedini Mungkin?

Dalam rangka memperingati Hari Alzheimer Sedunia yang diperingati tiap 21 September, Ruanita Indonesia mengundang dua sahabat Ruanita yang tinggal di Belanda dan di Australia.

Tema yang diskusi IG LIVE yang diangkat adalah kenali dan sadari Alzheimer sedini mungkin, yang masih dipandang awam oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.

Diskusi IG Live lewat akun instagram ruanita.indonesia yang dipandu oleh Rida Luthfiana Zahra yang baru saja menyelesaikan studi S2 di Jerman.

Sebagai awalan, Rida bertanya tentang perbedaan Alzheimer dan Demensia yang masih belum banyak diketahui oleh masyarakat umumnya.

Seiring dengan kemajuan zaman, risiko Alzheimer pun sudah mulai ditunjukkan di usia sekitar 30 – 40 tahun. Resiko Alzheimer semakin tinggi ketika seseorang sudah berusia lebih dari 65 tahun. Di Belanda sendiri, menurut Manik, telah ada 15 ribu orang yang didiagnosa Alzheimer.

Menurut Yacinta, kita perlu mengetahui riwayat keluarga apakah anggota keluarga punya risiko Alzheimer, agar kita bisa mengetahui sedini mungkin.

Sebagaimana tema tahun ini, yang dijelaskan oleh Manik, yakni Time to Act yang menjadi aksi bersama untuk mencegah Alzheimer sedini mungkin.

ALZI NEDERLAND punya tiga pilar antara lain: komunikasi, edukasi, dan juga outreach, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan demensia dan Alzheimer.

Selain memperkuat kesadaran akan Alzheimer, ALZI NED juga menjadi jembatan dengan keluarga kita di Indonesia dan situasi di Belanda.

Hal yang penting diingat adalah Alzheimer itu berkaitan dengan culture yang membantu orang dengan Alzheimer dapat memulihkan kondisinya.

Itu sebab, pentingnya kesadaran akan Alzheimer ini ditingkatkan agar menjadi aksi gerak bersama untuk keluarga yang memiliki orang dengan Alzheimer dan pemerintah.

Simak selengkapnya diskusi IG Live Ruanita episode September 2024 berikut ini di kanal YouTube kami:

Subscribe kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi.

(CERITA SAHABAT) Bagaimana Membangun Sikap Toleransi dalam Perkawinan Campuran?

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan nama saya Cindy Guchi atau biasa  dipanggil Cindy, tetapi banyak juga teman saya yang memanggil saya  Guchi. Sejak dua belas tahun yang lalu saya menetap di Jerman. Saya adalah  seorang arsitek dan proyek manager, lulusan perguruan tinggi di  Jerman.

Untuk sampingan saya juga bekerja sebagai  freelancer social media management.  Kegemaran sehari-hari saya yaitu pergi jalan-jalan menikmati  alam bersama suami.  Saya juga suka berkreasi membuat konten  video untuk kanal YouTube saya.  

Saya senang sekali bisa berpartisipasi dalam program cerita sahabat,  untuk berbagi pengalaman mengenai toleransi dalam perkawinan  campur. Saya bertemu suami berawal dari perkenalan secara online,  sewaktu saya masih berkuliah S2 di Jerman. Saat itu, saya banyak  memiliki tugas menulis di perkuliahan, yang semuanya memerlukan  kemampuan Bahasa Jerman tingkat profesional.

Saya telah  berusaha mencari teman di perkuliahan yang bisa membantu saya di  waktu luang, tetapi saya tidak bisa menemukannya. Saya juga merasa  tidak enak hati, mengingat mereka juga memiliki deadline tugas yang  sama. Oleh karena itu, saya membutuhkan seorang native speaker di  luar sana yang bisa menolong saya mengoreksi tugas tersebut.  

Akhirnya, saya mendaftarkan diri ke aplikasi belajar bahasa online.  Singkat cerita, saya menemukan suami saya di aplikasi belajar bahasa  online tersebut. Suami saya juga ingin belajar bahasa asing. Selain itu, dia selalu ingin membantu orang asing di Jerman dalam hal bahasa  dan integrasi. Saya melihat kepribadian baik suami yang senang  membantu orang lain. Kami berdua memang memiliki kesamaan tipe,  yakni senang belajar hal baru dan terbuka dengan kultur asing.  

Lama kelamaan kami pun menjadi dekat secara online. Selama kami berkomunikasi online dan belum  pernah bertemu, kami sudah mulai jatuh cinta. Dari sini saya belajar, bahwa cinta tidak hanya berawal dari fisik semata saja,  tetapi juga dari karakter. Setelah akhirnya kami bertemu offline, kami  memutuskan untuk berpacaran, meskipun saat itu kami  tinggal berbeda kota.

Selama enam tahun berpacaran, saya sudah  pernah mengajaknya ke Indonesia dua kali, agar dia dapat bertemu  dengan keluarga besar saya dan tentunya supaya dia lebih mengenal  budaya Indonesia. Dalam masa pacaran kami yang cukup lama, kami  semakin mengenal sifat dan karakter satu sama lain, seperti perbedaan cara berpikir yang pastinya dipengaruhi oleh kultur dan budaya  masing-masing.  

Sampai akhirnya tahun 2023 lalu, kami memutuskan untuk menikah  karena kami ingin membangun keluarga. Sebelum menikah, tantangan  terbesar kami saat itu adalah bagaimana cara kami memandang suatu  agama dan iman. Indonesia mempunyai tingkat budaya agama yang  sangat religius.

Apalagi ada peraturan di Indonesia untuk menikah  dengan pasangan yang memiliki satu agama. Sedangkan, di  Jerman tidak demikian. Kami memiliki perbedaan keyakinan dan cara  pandang. Namun, kami tahu itu bukan penghalang. Selama enam  tahun, kami telah belajar saling mencintai, dengan menghargai  perbedaan tersebut.  

Ketika awal saya berpacaran dengan suami yang berkewarganegaraan  Jerman, keluarga saya merasa agak khawatir. Hal ini berkaitan  terutama dengan gaya hidup bebas orang Jerman dan agama kami yang berbeda. Saya berusaha mengkomunikasikannya dengan  keluarga saya supaya mereka percaya tentang pilihan hidup  saya sendiri. Saya  juga sering melibatkan suami dalam acara keluarga saya, sehingga  mereka juga bisa mengenal pribadi suami saya dengan baik.  

Saya dan suami tidak punya pengalaman menjalin relasi dengan orang  yang berkewarganegaraan sama, jadi kami tidak bisa membedakan  mana yang lebih sulit. Namun kami selalu melihat perbedaan di antara  kami, sebagai hal yang bermakna.

Bagaimanapun, karakter dan sifat  masing-masing manusia akan selalu berbeda-beda. Menurut saya, hal  itu bisa dipengaruhi oleh faktor kultur dan budaya. Selain itu, kami juga  melihat faktor pengasuhan dalam keluarga yang menentukan 

perbedaan karakter setiap orang. Ada orang yang berpendapat kalau  perbedaan budaya itu merupakan hal yang negatif dalam suatu  hubungan. Sementara, kami melihat perbedaan budaya ini justru  sebagai sesuatu yang positif. Perbedaan budaya membuat kami lebih 

berusaha untuk bersikap toleransi. Boleh dibilang toleransi yang  cenderung lebih besar atau lebih bersifat fleksibel ini,  disebabkan karena kami sudah mengetahuinya dari awal bahwa kami  itu berbeda.  

Bagaimana mungkin kami bisa saling mencintai, kalau kami tidak  berusaha memahami satu sama lain, pribadi yang dicintai. Toleransi  diperlukan bukan hanya karena kami berbeda budaya, melainkan juga  perbedaan sifat dan karakter di antara kami.

Oleh karena itu, kami  berkomunikasi secara terbuka tentang apa yang kami butuhkan.  Contohnya, bagaimana kami menyampaikan keinginan kami satu sama  lain. Dengan budaya individualistik di Jerman, orang tidak perlu merasa  tidak enak dengan orang lain. Segala keputusan ditanggung secara  personal, bukan komunal.

Misalnya, kalau ada kunjungan dari keluarga  atau kerabat suami di rumah, maka saya tidak perlu merasa tidak enak  untuk bercengkrama bersama mereka. Saya bisa berbicara jujur  dengan suami, bahwa saya tidak perlu berlama-lama dengan tamu. 

Sebaliknya, bila situasi itu terjadi di Indonesia, tidak demikian. Saya  selalu menyampaikan ke suami bahwa orang Indonesia sebisa  mungkin mengutamakan kebersamaan, karena menjunjung tinggi  budaya kolektif.  

Jerman itu dianggap dari barat, sedangkan Indonesia dari timur.  Saat berpacaran dengan suami, salah satu perbedaan  nilai yang saya rasakan adalah prinsip hubungan seksualitas sebelum  menikah. Saya memegang  prinsip kemurnian sebelum menikah.

Prinsip ini menjadi hal yang  menantang dan tidak mudah, apalagi kami tinggal di barat (=Jerman).  Di Jerman relasi intim laki-laki dan perempuan dalam berpacaran  adalah sesuatu yang sangat penting. Itu adalah hal yang  normal di Jerman, tetapi tidak untuk saya. Beruntungnya, suami (dulu  adalah pacar) menghargai keputusan saya, karena itu prinsip saya. 

Hal yang sangat menyentuh saya lainnya adalah bagaimana dia  mendukung saya untuk menggapai mimpi-mimpi saya. Meski demi  mencapai mimpi saya saat itu, kami sempat hidup terpisah berbulan bulan, suami sangat mendukung dan mempercayai saya. Jadi, tidak  ada istilah suami yang harus memimpin istri atau suami melarang istri.  Kami berpikir bahwa relasi kami setara. Suami atau istri bisa memilih  masing-masing.  

Dalam hal agama, ini juga sangat berkesan bagi saya. Di Jerman,  agama adalah hal yang pribadi (=privat). Tentu saja, ada hal-hal yang  membuat saya sedih ketika saya tidak bisa merayakan hari-hari  keagamaan bersama-sama seperti layaknya di Indonesia.

Tapi karena  sudah lama tinggal di Jerman, saya sudah bisa memahami alasan dari  kultur yang berbeda ini. Sebaliknya, suami saya juga belajar dari saya tentang perilaku  beragama dan beriman yang saya anut. Setelah berkomunikasi  terbuka, dia sangat tahu bahwa saya adalah orang yang religius.

Suami  juga tahu, terkadang saya perlu teman untuk pergi ke gereja bersama.  Suami akhirnya bisa memahami pentingnya budaya kebersamaan  dalam beriman seperti di Indonesia. Dan, saya tahu dia melakukannya  dengan tulus. 

Oh ya, kami juga sudah berkomunikasi terbuka tentang anak-anak  kami di masa depan. Anak-anak tidak perlu memilih mau ikut budaya  yang mana, karena mereka bisa belajar dari kedua budaya yang  berbeda dari kami. Kami ingin mengajari mereka bahwa tidak ada  budaya yang paling benar atau paling salah. Ini tentu saja berlaku  untuk kami sebagai orang tua nanti.

Kami akan berusaha  memperkenalkan dua budaya ini, secara sadar pada anak-anak sejak  dini. Jika mereka besar, mereka tahu ada dua cara pandang berbeda.  Mereka pun bisa memilih mana yang terbaik untuk mereka. Atau,  mungkin saja mereka akan menggabungkan dua budaya ini untuk  membentuk cara pandang baru mereka sendiri.  

Menurut saya, kunci perkawinan campur adalah komunikasi,  toleransi, saling percaya, saling mendukung, dan tidak memaksakan  kehendak pribadi. Seperti yang saya sampaikan di atas, faktor budaya  sebenarnya bukan tantangan utama karena setiap individu manusia 

memang berbeda, punya kekurangan dan kelebihan. Asalkan kita mau  belajar satu sama lain, peduli dan empati, niscaya kita pasti bisa  menghadapi perbedaan ini. Usahakan bicara jujur apa keinginan kita  dan dengarkan apa keinginan pasangan hidup kita. Perbedaan selalu  bisa dikompromi.

Kalau tujuannya untuk saling mencintai yang tulus,  pasti semuanya berakhir dengan baik. Saran saya, jangan jadikan  perbedaan budaya sebagai kambing hitam jika kita punya masalah!  Jadikan itu sebagai motivasi kita untuk lebih mau berusaha memahami  dan menghargai cara pandang hidup pasangan yang berbeda.  

Menurut saya, toleransi itu diperlukan karena kita adalah makhluk  sosial. Menikah dengan orang Indonesia yang berbeda suku pun pasti butuh toleransi, karena pasti ada cara pandang berbeda  yang dipengaruhi keluarga dan lingkungannya juga. Jadi dalam  perkawinan campur berbeda negara pun juga sama.

Jika tidak ada  toleransi, menurut saya akan sangat sulit untuk saling mencintai satu  sama lain, karena setiap pihak merasa paling benar. Jika tidak ada  toleransi, tentu menjadi sulit untuk berkompromi dan berdiskusi  menemukan jalan keluar dari masalah.  

Toleransi itu bisa dipelajari dan diusahakan. Contohnya, mencoba  berempati dan memahami apa yang dirasakan oleh pasangan.  Kuncinya sekali lagi adalah komunikasi terbuka, sehingga kita tahu  alasan dia/saya melakukan atau berpikir seperti itu.

Solusi berpisah  menurut saya adalah jalan terakhir, jika salah satu dari pasangan tidak  lagi mau belajar untuk bersikap toleransi, apalagi hal ini sampai  merugikan pasangan secara mental dan fisik. Menurut saya, untuk  mencapai relasi sehat antara suami istri diperlukan kedua belah pihak,  bukan satu pihak. It takes two Tango! 

Sebelum menikah, sebaiknya kenalilah pribadi pasangan sedalam dalamnya. Penting juga untuk kita mengenal keluarga dan budaya  pasangan sebelumnya, sehingga kita bisa lebih mengerti latar belakang  pasangan. Segera komunikasikan keinginan, pendapat, dan keluhan  kita dari awal, terutama saling tukar cerita dan pandangan hidup. 

Sebelum menikah, penting juga untuk membicarakan tentang masa  depan seperti: hal keuangan, lokasi negara tinggal setelah menikah, hal  mengurus anak, dll. Ingat, jadikan perbedaan menjadi bumbu  semangat untuk lebih mencintai pasangan 🙂 

Penulis: Cindy Guchi, sekarang tinggal di Vietnam. Jika ingin mengontaknya, bisa DM di Instagram @cinguch atau YouTube di link: https:// http://www.youtube.com/@cindyguchi/videos.

(CERITA SAHABAT) Tua itu Hanya Angka, Semangat dan Hati Tetap Muda

Halo, sahabat Ruanita! Saya senang sekali bisa diberikan kesempatan untuk berbagi cerita sahabat, ketika Tim Ruanita menawari saya tema ageing, karena saya sendiri pun sudah memasuki usia di atas enam puluh tahun.

Perkenalkan nama saya Maya, lebih lengkapnya nama saya adalah Endang Sri Maya Rochayati. Sewaktu di Indonesia, saya memiliki latar belakang pekerjaan sebagai awak kabin penerbangan nasional. 

Saya pun kemudian menikah dengan pria berkewarganegaraan Prancis dan tidak lagi bekerja di Indonesia. Sejak tahun 2001, saya tinggal di Prancis. Tentunya, tinggal di luar Indonesia membuat saya banyak melakukan segala pekerjaan, tanpa asisten rumah tangga.

Selain pekerjaan domestik di rumah, saya juga tentu harus membantu aktivitas suami di rumah mulai dari bertukang, berkebun hingga membantu menyimpan kayu bakar. Karena latar belakang pengalaman kerja di Indonesia yang tak mudah untuk diterapkan di Prancis dan kemampuan bahasa Prancis yang tak mudah buat saya, saya putuskan untuk menjadi ibu rumah tangga saja.

Pada akhirnya, saya pun seratus persen memilih untuk menyibukkan diri menjadi pengelola rumah lama yang sudah kosong. Ya, saya mencoba menjadi Host AirBnB sejak tahun 2017, di mana saat itu pun usia saya sudah mencapai enam puluh tahun.

Sebagai informasi, saya juga inisiator dan administrator grup Facebook Komunitas Kawin Campur pasangan Indonesia – Prancis. Hobi saya berselancar di dunia maya dan bersosialisasi di internet, sehingga saya senang menghimpun teman-teman saya dan membuat grup di Facebook dan Instagram, mulai dari grup teman sekolah, eks kolega kerja, hingga kelompok masyarakat Indonesia yang tinggal di wilayah saya di Prancis, yakni Nouvelle Aquitaine.

Setiap orang punya pendapat tersendiri terkait usia tua dan penuaan. Ketika orang mendengar “usia tua”, itu semua dikaitkan dengan perubahan fisik yang tidak lagi muda seperti dulu, misalnya rambut yang semula hitam kini tumbuh uban dan mungkin berbagai fungsi kemampuan tubuh mengalami penurunan.

Bagi saya,  tua hanyalah hitungan angka. Meski tidak dipungkiri bahwa penuaan mulai saya rasakan, apalagi ketika saya sudah memasuki usia enam puluh plus plus hehehe..

Saya bersyukur bahwa saya tidak mengalami penurunan fungsi pendengaran dan daya ingat. Rambut saya pun sudah mulai berganti warna putih, alias uban yang hampir merata.

Oh ya, dua tahun yang lalu, saya sempat menjalani operasi katarak. Saya pikir itu mungkin salah satu tanda penuaan. Selain itu, saya juga merasa mudah lelah. Tubuh tidak seperti dulu lagi. 

Mungkin masih ada anggapan dalam masyarakat di Asia tentang orang yang sudah tua dengan lebih memilih untuk mengurus keluarga, seperti cucu misalnya, daripada beraktivitas di luar rumah. Menurut saya, itu sah saja. Saya mengamati hal tersebut dari kakak sulung saya.

Namun, saya belajar dari dia bahwa cucu bukan satu-satunya alasan untuk kakak sulung saya yang sudah menjadi orang yang tua untuk tidak bersosialisasi di luar rumah. Pendapat kakak sulung saya: “Si cucu ‘kan masih punya orang tua”. Sementara saya sendiri memang tidak akan pernah merasakan punya cucu.

Dengan usia yang tidak lagi muda seperti sekarang, saya justru termotivasi dengan perempuan-perempuan di Prancis yang sudah memasuki usia senja.

Bahkan saya melihat mereka, ada yang berusia delapan puluh tahun dan masih fit dan sehat. Mereka tetap cantik, bugar, dan masih mengemudikan mobil.

Memasuki usia senja seperti sekarang, saya dan suami pernah membahas usia tua baru-baru ini. Di Prancis sendiri, ada banyak tantangan yang sedang dihadapi para generasi lanjut usia. Kami pun mendiskusikannya terkait biaya hidup, kekeluargaan, hingga terpikir niat untuk menghabiskan masa tua di Indonesia.

Pada akhirnya, kami berdua sepakat nantinya kami berencana menghabiskan masa tua di Indonesia. Kami merencanakannya sejak usia kami memasuki tujuh puluh lima tahun ke atas, bila kami masih hidup. 

Urusan usia adalah misteri, tetapi sebenarnya ada banyak faktor yang membuat orang yang memasuki usia senja seperti saya untuk tetap fit dan sehat. Seperti yang disampaikan sebelumnya, bahwa kita perlu tetap menjaga aktivitas tubuh dan pikiran sejak kita masih muda.

Meski saya merasa lelah dengan pekerjaan di rumah, tetapi saya tetap mengusahakan olahraga ringan, seperti senam atau berjalan kaki secara teratur. Tinggal di luar Indonesia, bukan berarti kita bisa bersikap manja dan berpikir ada yang membantu dalam urusan pekerjaan domestik.  

Sebagai orang yang sudah tua, saya punya pengalaman yang menyentuh. Ketika saya di Indonesia, orang-orang selalu memberikan saya tempat duduk saat sedang berada di kendaraan umum. Sebaliknya, hal ini tidak terjadi di Prancis. Sepertinya, masyarakat tidak percaya dan meragukan usia saya, jika mereka melihat penampilan saya.

Bahkan saya perlu menunjukkan paspor saya untuk membuktikan berapa usia saya saat itu. Sebagai orang Indonesia, saya merasa bangga berada di tengah masyarakat Prancis karena saya selalu dianggap masih muda. 

Ada orang yang menghubungkan masalah makan dengan penambahan usia. Soal makanan, kebetulan saya tidak pernah memiliki masalah hingga sekarang. Hal lainnya yang menarik, saya pernah menjadi tenaga relawan lima tahun terakhir.

Waktu itu saya membantu tim dapur pada acara festival senior di desa tetangga. Jarak lokasinya kurang lebih enam kilometer dari tempat saya. Hal lainnya tentang kehidupan di Prancis adalah masalah toleransi yang saya rasakan ketika saya menjalani bulan puasa Ramadhan.

Berbicara soal usia yang tidak lagi muda, banyak orang di masyarakat yang kadang tidak ingin menjadi tua dan selalu ingin “Forever Young”, seperti melakukan operasi plastik atau menyangkal usianya yang tidak lagi muda.

Menurut saya, itu sah dan wajar saja, bilamana ada orang yang ingin merasa dianggap muda, hingga mengecat rambut mereka, melakukan operasi plastik, dan sebagainya. Meskipun pendapat saya mengatakan bahwa hal itu menipu diri sendiri dan banyak orang.

Sebaliknya, saya pribadi lebih memilih menjadi tua secara alami. Saya bersyukur bahwa saya telah memasuki usia yang tidak lagi muda. Saya selalu mengatakan kepada teman-teman saya bahwa usia hanyalah hitungan angka, tetapi semangat dan hati harus tetap muda.

Terakhir, ini pesan saya kepada sahabat Ruanita semua terkait usia tua dan penuaan. Kita harus menerima dengan ikhlas ketika kita tidak lagi muda.

Jangan pula kita berusaha menjadi “orang yang tua”, hanya karena kita mengharapkan belas kasihan orang yang muda. Selain itu, saya juga berharap kepada pemerintah Republik Indonesia agar bisa memberi peluang dan kesempatan seluas-luasnya kepada para senior untuk tetap berkarya dan berkreasi, bukan malahan disisihkan sebagai makhluk yang tidak lagi berguna. 

Penulis: Sri Maya, tinggal di Prancis dan dapat dihubungi via akun Facebook Sri Maya G Ranoesoedirdjo.

(PODCAST RUMPITA) Kembali ke Indonesia, Jadi Konsultan di Bidang Lingkungan Hidup

Dalam program Podcast RUMPITA di bulan September 2024, kami mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Belanda untuk membahas pengalaman tinggal di Belanda dan rencana usai studi.

Sebagaimana kita ketahui, Belanda telah menjadi impian bagi banyak generasi muda Indonesia untuk merasakan pengalaman studi di mancanegara, sebagaimana yang dialami oleh Zukrufi Sysdawita atau yang disapa Rufi yang ikut memandu diskusi Podcast episode ini.

Tamu yang diundang adalah Farhan Kurniawan, yang adalah mahasiswa di IHE Delft Institute for Water Education, di Belanda dan sedang menyelesaikan Thesis S2. Farhan juga dikenal sebagai konsultan di bidang lingkungan hidup.

Farhan mengakui bahwa syarat-syarat lamar studi di Belanda tidak diperlukan pengakuan kemampuan Bahasa Belanda, meski Farhan sempat ikut les Bahasa Belanda sebelum studi.

Farhan mengamati bahwa kecenderungan orang-orang Belanda yang mau open dan friendly kepada orang asing, terutama adanya program Buddy yang diselenggarakan antara pihak universitas dengan warga lokal.

Lainnya adalah tentang bagaimana orang-orang Belanda suka sekali bersepeda, bahkan Farhan bisa menjelaskan dengan baik berdasarkan ilmu alam tentang bersepeda.

Selain pengalaman hidup, Farhan juga menjelaskan tentang sistematika penilaian di kampus yang dimulai dari 1-10 dengan angka 10 sebagai angka sempurna.

Namun, Farhan mengakui bahwa tidak mudah untuk mendapatkan nilai yang bagus di kampusnya.

Oh ya, Farhan mengakui bahwa kampusnya adalah satu-satunya kampus yang tidak memiliki orang Belanda yang studi di sana.

Saat rekaman Podcast berlangsung, Farhan sedang menekuni Thesis-nya dengan tema water flow yang membantu untuk estimasi bencana banjir misalnya.

Itu sebab, tema yang dikembangkannya memang disesuaika dengan kebutuhan di Indonesia seperti di Jakarta yang rawan banjir.

Usai studi di Belanda di tahun ini, Farhan ingin kembali ke Indonesia dan mulai mengembangkan pengetahuan yang diperolehnya di Belanda.

Farhan sendiri bercerita bagaimana prosesnya dia mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Belanda. Dia pun menjelaskan bagaimana perjuangannya mendapatkan beasiswa tersebut.

Simak selengkapnya dalam diskusi Podcast RUMPITA berikut ini dan jangan lupa FOLLOW akun podcast kami:

(CERITA SAHABAT) Mulai dari Pengalaman Konselor Sebaya hingga Inisiatif Program Konselor Sebaya di Jerman

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan nama saya Alexandra Shafira. Saya biasa dipanggil Pia oleh keluarga dan teman-teman saya. Sekarang, saya tinggal di Hamburg, Jerman. Saya sudah berada di Jerman sekitar 4 tahun.

Awalnya, saya datang ke Jerman untuk mengikuti program Au Pair, yakni program pertukaran budaya yang mana saya tinggal di keluarga orang Jerman dan belajar budaya Jerman untuk periode setahun.

Saya kemudian melanjutkan pendidikan vokasional (dalam Bahasa Jerman disebut Ausbildung) di bidang Pflegefachfrau, yang dapat dijelaskan dalam Bahasa Indonesia sebagai perawat di rumah sakit.

Saat ini, saya melanjutkan pendidikan saya di HAW Hamburg, semacam University of Applied Science di Hamburg, Jerman Saya sekarang berkuliah di jurusan interdisziplinäre Gesundheitsversorgung und Management.

Selain berkuliah, saya bekerja di rumah sakit terbesar di Hamburg, Universitätsklinikum Eppendorf. Selain kuliah dan bekerja, saya menyempatkan diri untuk berkontribusi di organisasi kemasyarakatan seperti PPI Hamburg dan Ruanita Indonesia.

Berbicara tentang konselor sebaya, saya pernah menjadi salah satu peer-counselor saat saya masih duduk di bangku pertama SMA di Riau. Saya menjadi konselor sebaya selama satu periode yakni satu tahun.

Program konselor sebaya pada saat itu diberi nama, Remaja Teman Sebaya Anti Narkoba, yang diselenggarakan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Saat itu, sekolah saya menjadi mitra dari BNN untuk melaksanakan program pencegahan terhadap bahaya narkoba di kalangan pelajar.

Para konselor sebaya yang terpilih kemudian diundang untuk mendapatkan pelatihan sebagai konselor sebaya, dengan biaya ditanggung sepenuhnya oleh BNN. 

Sebagai konselor sebaya, tentunya saya memiliki pengalaman berkesan. Saya pernah menjadi konselor sebaya untuk teman dekat saya sendiri. Kesulitan yang saya hadapi sebagai konselor sebaya adalah bagaimana bisa tetap bersikap netral dan tidak menghakimi, walaupun saya tahu apa yang diceritakannya tidak sepenuhnya benar.

Namun, saya paham bahwa tugas saya bukan untuk memberikan solusi, yang bisa jadi tidak bisa dilakukan dalam hidup si pencerita masalah, melainkan menjadi social support yang mengarahkan pencerita masalah untuk tidak mengambil langkah yang menjerumuskan.

Dalam praktiknya, tugas sebagai konselor sebaya bukan tugas yang mudah. Saya perlu untuk menjadi pendengar aktif dan tidak menghakimi seperti yang disampaikan sebelumnya. 

Bagaimana pun,  kecenderungan kita ingin menggurui, menasihati, atau justru ikut serta bergosip adalah hal yang umum dan biasa terjadi ketika seseorang sedang bercerita masalahnya, apalagi saya sendiri merasa bahwa apa yang dilakukan pencerita sudah jelas-jelas salah.

Muncul pula perasaan dan keinginan untuk memotong pembicaraan dan memberikan solusi, sehingga tugas sebagai konselor sebaya adalah pengalaman yang menantang, yang paling sering saya alami.

Lalu, apa pentingnya peran konselor sebaya untuk mereka yang terbilang remaja saat itu ketimbang konselor profesional? Berbeda dengan konselor profesional, konselor sebaya menjadi bagian dari kelompok tersebut sehingga para konselor sebaya mengetahui dan terjun langsung di komunitas tersebut.

Sedangkan, konselor profesional tidak. Adanya perbedaan gaya komunikasi antara konselor sebaya dengan konselor profesional, membuat konselor sebaya lebih mudah diterima dalam komunitas tersebut. 

Adanya pola pikir yang serupa pula lah, konselor sebaya bisa memberikan dukungan yang sesuai dan dibutuhkan untuk pencerita masalah. Ditambah lagi, para pencerita yang masih remaja, lebih sulit untuk menemukan konselor profesional karena terkendala biaya yang tidak sedikit.

Selain itu, kesan yang beredar di masyarakat Indonesia yang berpendapat, bahwa orang yang menemui Psikolog atau Psikiater adalah “orang gila”. Hal ini, membuat semakin banyak remaja indonesia yang enggan menggunakan jasa profesional.

Tugas saya sebagai konselor sebaya adalah mendengarkan. Menurut saya, banyak pencerita masalah yang sebenarnya sudah tahu harus melakukan apa, tetapi mereka butuh validasi dan penguatan, agar dapat menyelesaikan permasalahannya. Oleh karena itu, konselor sebaya membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan aktif dan perhatian.

Tentunya, saya mendapat kebahagiaan tersendiri, bila saya bisa membantu orang lain. Selain itu, saya banyak belajar untuk melihat masalah dari berbagai perspektif dan kacamata yang berbeda. Saya juga sering terpukau oleh kemampuan berbagai orang untuk menganalisa situasi yang dapat membuka wawasan saya lebih baik lagi. 

Buat saya, hal terpenting dari kehadiran konselor sebagai adalah dukungan emosional ketika seseorang memiliki permasalahan.

Menurut saya, masih banyak orang yang tidak bisa mendapatkan dukungan emosional dari orang-orang terdekat mereka ketika mereka dihadapi berbagai masalah. Bagaimanapun, dukungan emosional sama pentingnya dengan dukungan fisik atau pun dukungan financial.

Berdasarkan pengalaman saya sebagai konselor sebaya tersebut, saya berpendapat bahwa perlu ada kriteria tertentu dalam memilih konselor sebaya yang baik.

Menurut saya, seorang konselor sebaya harus memiliki empati, bisa menjadi pendengar yang baik, memiliki kemampuan menganalisa dan berpikir kritis, serta kemauan untuk belajar. Menjadi konselor sebaya diperlukan kerelaan untuk membantu orang lain, sehingga pencerita masalah tidak merasa dihakimi atau dipergunjingkan dalam komunitas mereka.

Saya setuju dengan apa yang sudah dirintis Ruanita, sebagai social support system untuk orang-orang Indonesia di luar Indonesia.

Bersama Ruanita, saya merencanakan program konselor sebaya untuk kelompok orang muda Indonesia yang sedang merantau ke luar negeri, khususnya di Jerman sebagai rumah kedua saya sekarang. 

Mereka yang disebut kelompok muda adalah mereka yang memasuki usia perkembangan dewasa muda, 18-30 tahun. Saya berharap KJRI/KBRI dapat mendukung program ini dengan memfasilitasi kebutuhan pelatihan konselor sebaya yang berkelanjutan dan memperkenalkan program konselor sebaya sebagai bagian dari inisiatif warga Indonesia di luar Indonesia.

Penulis, Alexandra. Saya adalah anak rantau yang mengejar cita-cita di Jerman. Temui saya di Instagram shafira1809 untuk berbagi cerita dan pengalaman saya selama merintis karier di Jerman. 

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Pernikahan Kedua di Usia Senja, Mengapa Tidak?

Dalam program Cerita Sahabat Spesial episode September 2024 kali ini, kami mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Prancis. Dia adalah Rosy Daulay yang pernah tinggal lebih dari 14 tahun di Denmark dan sekarang pindah setelah pernikahan keduanya.

Rosy yang pernah bekerja sebagai Paedogogue di Denmark, bercerita bagaimana dia pada akhirnya bertemu dengan suami kedua di usia yang tidak lagi muda. Rosy menegaskan bahwa ia membutuhkan seorang teman hidup untuk mengisi hari-hari tuanya.

Tidak ada kata terlambat untuk membangun biduk bahtera rumah tangga, termasuk Rosy yang mengenal suaminya saat dia sudah memasuki usia yang terbilang tak muda lagi. Bagi Rosy yang sudah lama tinggal di Eropa, kehadiran partner hidup bukan lagi terhitung frekuensi pernikahan atau usia yang tidak lagi muda, tetapi bagaimana komitmen untuk membangun hidup bersama.

Rosy juga tidak ingin orang-orang sekitar lebih memberikan cap buruk pada perempuan apabila ada kegagalan pernikahan, bukan lagi memahami mengapa pernikahan mereka tidak berjalan harmonis.

Ketika menjalani pernikahan keduanya, Rosy merasa tidak perlu minta ijin pada siapa pun atau meminta pendapat orang lain. Dia merasa bahwa dia sudah cukup dewasa untuk memutuskan yang terbaik untuk hidupnya.

Apa yang membuat Rosy memutuskan untuk menikah kedua kalinya? Apa yang terjadi dengan pernikahan sebelumnya? Apakah Rosy tidak khawatir atau merasa malu untuk menikah di usia yang tak lagi muda? Apa pesan Rosy bagi orang-orang yang ingin menikah di usia senja?

Simak selengkapnya di kanal berikut ini:

(SIARAN BERITA) Workshop Online Fotografi Pakai Ponsel Bertema Ruang Aman Perempuan

Jerman – Salah satu program yang diusung Ruanita Indonesia sejak tahun 2021 adalah program jangka panjang AISIYU (AspIrasikan Suara dan Inspira nYatamu). Banyaknya laporan yang diterima Ruanita Indonesia tentang kasus pelecehan seksual, diskriminasi dan kekerasan domestik yang dialami perempuan Indonesia di luar negeri melatarbelakangi dibuatnya kampanye AISIYU ini.

Melalui program AISIYU, Ruanita Indonesia ingin meningkatkan kesadaran publik tentang masalah kekerasan terhadap perempuan yang terjadi tidak hanya di Indonesia saja, tetapi juga di luar Indonesia. Upaya ini dilakukan untuk mengubah sikap dan budaya di masyarakat yang sayangnya masih menganggap kekerasan terhadap perempuan adalah suatu hal yang biasa terjadi.

Adapun program AISIYU dibuat sebagai kampanye tahunan yang diadakan bertepatan dengan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang jatuh setiap tanggal 25 November.  Kampanye tahunan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat Indonesia untuk proaktif melaporkan tindak kekerasan terhadap perempuan dan berbagi dukungan sosial untuk para penyintas kekerasan.

Kampanye AISIYU dilangsungkan lewat platform digital melalui media sosial Ruanita Indonesia dalam bentuk konten edukatif, informatif, dan inspiratif. Kampanye AISIYU akan dilangsungkan selama 16 hari, mulai dari tanggal 25 November hingga 10 Desember 2024.

Diharapkan selama durasi masa kampanye ini, semakin besar pula peluang untuk membuat perubahan sosial, budaya, dan politik yang diperlukan untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia, terutama di Indonesia. Lewat kampanye AISIYU pula masyarakat dapat diajak untuk berkontribusi dalam menciptakan ruang aman bagi perempuan, bebas dari ancaman dan kekerasan.

Setiap tahunnya Ruanita Indonesia menggunakan media yang berbeda untuk berkampanye. Pada tahun 2023, Ruanita Indonesia mengadakan visual art workshop yang menghasilkan 16 produk seni kolase. Kampanye AISIYU tahun 2024 ini mengusung tema “Ruang Aman Perempuan” lewat media fotografi. Di era digital ini, membuat foto dengan ponsel berkamera sangat mudah dilakukan.

Ditambah lagi penggunaan media sosial untuk saling berbagi foto terbukti menjangkau banyak orang dan dapat dijadikan media kampanye yang positif.  Hal inilah yang mendasari Ruanita Indonesia untuk menggunakan fotografi sebagai media kampanye anti kekerasan terhadap perempuan tahun di 2024.

Rangkaian Kampanye AISIYU 2024 akan diadakan dalam bentuk online workshop dan pameran digital (media sosial Ruanita). Tahun ini Ruanita Indonesia menghadirkan online workshop keterampilan fotografi praktis menggunakan kamera ponsel. Workshop fotografi praktis ini akan dibagi dalam dua pertemuan pada tanggal 7 dan 14 September 2024, yang dibuka secara resmi oleh Renata Siagian, Konjen KJRI Hamburg di Jerman.

Pada pertemuan pertama, Bahrul Fuad selaku Komisioner Komnas Perempuan, akan menyampaikan konsep ruang aman bagi perempuan sebagai panduan tema untuk peserta dalam mengambil foto. Selanjutnya, Yogi Cahyadi selaku Redaktur Foto Republika Network, akan menyampaikan teori dan teknik dasar fotografi, termasuk pengambilan foto menggunakan fitur-fitur dalam kamera ponsel. Diharapkan peserta workshop tidak hanya mampu membuat foto estetik, tapi juga mampu menyuarakan isu pentingnya menciptakan ruang aman bagi perempuan.

Topik teori dan teknik dasar fotografi menggunakan ponsel akan diteruskan pada pertemuan kedua. Di akhir workshop, peserta diminta untuk membuat dan mengirimkan minimal dua buah foto menggunakan ponsel sesuai dengan tema “Ruang Aman Perempuan”.

Dari foto-foto yang masuk akan dipilih 16 foto yang nantinya akan dipublikasikan pada pameran digital di media sosial Ruanita pada tanggal 25 November hingga 10 Desember 2024. Program Workshop Fotografi diselenggarakan Ruanita Indonesia dalam kerja sama bersama KJRI Hamburg, KBRI Berlin, dan Komnas Perempuan.

Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang ditujukan untuk berbagi dan berdiskusi pengetahuan, pengalaman, pengamatan, dan praktik kehidupan di mancanegara.

Program Ruanita dikelola berdasarkan manajemen berbasis nilai, intervensi komunitas, dan menggunakan Bahasa Indonesia. Proyek kami berfokus pada isu kesehatan mental dan kesetaraan gender sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Sejak berdiri pada 2021, Ruanita Indonesia telah menjadi social support system, untuk warga Indonesia di luar Indonesia, terutama perempuan.

Info lebih lanjut: Aini Hanafiah, yang dapat dikontak info@ruanita.com

(CERITA SAHABAT) Hanya Aku, Dia, dan Anak-anak

What others think of you is none your business. Dalam bahasa Indonesia bisa dijelaskan bahwa apa yang dipikirkan orang lain bukan menjadi urusan saya. Begitu yang saya terapkan dalam hidup saya agar hidup saya tidak disibukkan berbagai prasangka-prasangka yang belum tentu benar.

Saya memutuskan hal ini bukan tanpa alasan. Bahkan saat ini saya pun memutuskan untuk menyimpan rapat-rapat pernikahan saya dengan warga negara asing yang sudah dijalani selama tiga tahun. Pernikahan kedua ini adalah off the record alias tidak diketahui oleh keluarga besar saya di Indonesia. 

Orang Indonesia memiliki budaya kekeluargaan dan kebersamaan yang kental. Itu betul dan saya setuju dengan pendapat itu. Begitu kental dan akrabnya keluarga besar saya sehingga saya tahu bahwa mereka memiliki standar terbaik yang sudah ditetapkan bersama. Anehnya, kami semua harus mengikuti standar yang ditetapkan tersebut demi terjalinnya rasa kekeluargaan. Bagi saya, hidup itu tidak semestinya dibuat standar yang belum tentu itu baik bagi semua orang. 

Sayangnya keakraban itu sering dicurahkan dalam bentuk intervensi. Tidak hanya kepada saya, tetapi juga keluarga lain yang dianggap lebih muda. Hal ini sudah membuat saya jengah dan memutuskan untuk tidak terlalu mengakrabkan diri dengan keluarga besar saya. Keputusan ini diambil setelah saya mengakhiri pernikahan pertama saya dengan pria asal Indonesia. 

Siapa pun yang menikah selalu berharap yang terbaik hingga maut memisahkan, tetapi siapa bisa menebak jalannya takdir kehidupan. Sebagai survivor kekerasan dalam rumah tangga dengan level cukup membuat bulu kuduk bergidik, dan sebagian besar dilakukan di depan anak-anak kami, membuat saya memutuskan bahwa enough is enough, tidak akan ada lagi kekerasan terjadi. Setelah memutuskan bercerai, fokus saya adalah bekerja dan berusaha memperbaiki akibat yang telah ditimbulkan karena trauma atas kekerasan ayah mereka terhadap saya. 

Dengan didampingi Lembaga Swadaya Masyarakat, saya berhasil menggugat cerai suami pertama. Saya berhasil mendapatkan hak asuh kedua putra saya. Saya tidak meneruskan kasus perlakuan kekerasan mantan suami ke ranah hukum karena mantan suami mengalami gangguan psikologis. Alasan gangguan psikologis ini seperti menjadi alibinya melakukan kekerasan kepada saya. Setelah saya bercerai dari suami pertama, saya putuskan untuk mencari kebahagiaan untuk saya dan anak-anak. 

Saya merasa bahwa pengalaman pahit berkeluarga di pernikahan pertama tentu mengajari saya banyak hal termasuk cara saya berkomunikasi dengan keluarga besar saya. Saya berkomunikasi dengan mereka hanya sebatas peristiwa-peristiwa penting saja. Saya pun tidak ikut campur dalam konflik yang muncul dalam keluarga besar saya. Saya tidak merasa berutang budi atau uang kepada mereka. Saya putuskan untuk mencari kebahagiaan dengan cara sendiri. 

Menjadi single mother bukan hal yang mudah pun sulit. Saya bersyukur disibukkan dengan pekerjaan yang membuat saya tidak terlalu ikut campur dengan masalah keluarga besar. Di tengah kesibukan bekerja, saya bertemu dengan pria berkewarganegaraan Amerika, yang kini menjadi suami kedua.

Awalnya saya ragu untuk membangun bahtera rumah tangga dengannya mengingat pernikahan sebelumnya terus terang membuat saya mempunyai masalah dengan kepercayaan terhadap orang lain, terutama untuk menjalin hubungan baru. 

Namun pria ini begitu berbeda. Dia adalah pria yang jujur, setia, terbuka, dan apa adanya. Saya suka dengan gaya simple life yang dia jalani. Hal terpenting yang membuat saya jatuh hati adalah kesediaan dia untuk menerima anak-anak saya menjadi bagian dari hidupnya. 

Saya harus menyembuhkan diri saya akan trust issue, apalagi selama belasan tahun sendiri, saya sudah menemukan kebebasan, tidak perlu memikirkan hubungan yang melibatkan emosi. Mengapa saya harus menambah masalah dalam hidup saya? Akan tetapi, waktu membuktikannya bahwa kami bisa bersama. 

Kami memang berbeda secara budaya dan latar belakang, tetapi banyak hal yang membuat kami sejalan dalam pola pikir dan interest yang membangun minat kami. Kesamaan ini yang mendorong saya untuk menerima pinangan darinya. 

Kesetiaannya benar-benar ditunjukkan ketika saya perlu waktu untuk menyelesaikan masa lalu saya dan keluarga besar saya. Tekadnya untuk menunggu dan rasa kepeduliannya untuk memahami pekerjaan saya telah meluluhkan hati untuk membangun rumah tangga untuk kali kedua. 

Masa lalu sudah berlalu. Kini saya punya masa sekarang dan masa depan. Kami putuskan untuk tinggal bersama anak-anak di negeri tetangga. Saya jalani hidup tanpa intervensi dari keluarga besar. Saya pun menutup rapat-rapat cerita pernikahan kedua saya karena saya tidak ingin kisah pernikahan saya selanjutnya memunculkan potensi konflik. 

Saya sudah bahagia dengan suami dan anak-anak kini, mengapa saya perlu menunjukkan kebahagiaan ini pada keluarga besar dan dunia? Itu pendapat saya.

Beruntunglah, suami memahami keputusan saya untuk menyimpan rapat-rapat pernikahan saya dengannya. Dia menghargai apa yang saya putuskan. Bagi saya, komunikasi adalah hal terpenting dalam suami-istri terutama perkawinan campuran lintas budaya seperti ini. Sekecil apa pun masa lalu yang pernah terjadi, keduanya perlu bercerita jujur agar tidak menimbulkan prasangka dan konflik. 

Mungkin orang-orang sekitar saya bertanya, mengapa saya masih tetap merahasiakan pernikahan kedua saya. Jawaban saya, ini adalah keputusan berdua. Saya hanya tidak ingin menimbulkan prasangka tentang apa yang terjadi dalam hidup saya. Seperti yang saya sampaikan di awal, biarlah kebahagiaan itu hanya milik saya, dia, dan anak-anak saya. Saya hanya ingin hidup harmonis dan tanpa konflik yang bisa memperkeruh hubungan suami-istri. 

Keluarga besar memang penting yang membentuk solidaritas satu sama lain. Namun, kita perlu membatasi seberapa jauh bisa menjalin hubungan kekerabatan dengan mereka. Hal ini perlu agar bisa hidup seperti yang kita mau. Bagaimana pun saya tidak bisa membahagiakan semua orang. Saya sudah lelah mengikuti standar terbaik yang ditetapkan. Prinsip saya, menjadi diri sendiri sudah cukup membuat saya bahagia. 

Bahagia itu bukan yang kemarin atau mengikuti standar yang ditetapkan. Bahagia itu adalah sekarang, saat saya bisa merasa bebas menjadi diri sendiri, tanpa konflik keluarga atau standar yang ditetapkan keluarga. 

Penulis: Lorelai, tinggal di Singapura dan cerita ini bisa ditemukan dalam buku yang sudah diterbitkan oleh Ruanita dan Padmedia Publisher berjudul: Cinta Tanpa Batas: Kisah Cinta Lintas Benua.