Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan aku Mery Christiani, yang pernah tinggal di Jakarta dan kini menetap di Serbia. Sehari-hari, aku beraktivitas seperti umumnya ibu rumah tangga dan mengelola usaha rumahan tempe. Setiap hari aku membuat tempe dan melakukan pengiriman setiap Senin dan Kamis, dikarenakan aku ingin tempe masih fresh saat diterima. Pengiriman tempe memerlukan satu hari ke lokasi tujuan.
Selain membuat tempe, aku juga sibuk dengan berkebun di belakang rumah. Aku punya tanaman kentang dan lainnya, seperti kebun buat kebutuhan sehari-hari keluarga. Tak hanya itu, aku ‚kan tidak tinggal di kota besar seperti Beograd, ibukota Serbia, aku pun mengelola peternakkan milik keluarga.
Sejak aku tinggal di Serbia, aku menilai warga di sini sebagian besar penduduk Serbia beragama Kristen Ortodoks, tetapi ada juga yang beragama Katolik dan Islam. Sepanjang saya tinggal di Serbia, menurut saya, orang-orang Serbia di lingkungan sekitar saya tinggal merupakan orang-orang yang tidak terlalu religius.
Di Indonesia, umumnya orang-orang merayakan Natal di tanggal 25 Desember, tetapi mereka di sini merayakannya pada tanggal 7 Januari. Itu sebab, mereka merayakan tahun baru itu dua kali, yaitu tanggal 1 Januari atau 13 Januari. Kenapa mereka di Serbia merayakan Natal dan Tahun Baru berbeda dengan negara-negara lainnya? karena Serbia menggunakan perhitungan kalender Julian.
Berdasarkan pengamatanku selama tinggal di Serbia, mereka memiliki satu makanan khas yang selalu dinikmati setiap tahun baru. Namanya Česnica. Itu semacam roti yang di dalamnya diberikan koin. Namun, tidak setiap roti diberikan koin. Mereka yang beruntung, tentu akan mendapatkan roti berisi koin.
Itu artinya, mereka yang mendapatkan roti berisi koin akan mendapatkan good luck sepanjang tahun. Roti ”tahun baru” yang dimaksud dibentuk dengan berbagai macam. Ada yang berbentuk bunga, ada yang berbentu mahkota, dan lain-lain yang kemudian diberikan koin di dalam roti tersebut.
Di sini juga terdapat makanan pembuka sebagai starter. Namanya meze. Di Serbia, meze mencakup berbagai macam makanan kecil yang biasanya disajikan sebelum hidangan utama.
Hidangan meze di Serbia sering kali disajikan di acara-acara sosial dan pertemuan keluarga, dan dimaksudkan untuk dinikmati bersama dengan minuman seperti rakija (brendi buah lokal) atau anggur.
Ada makanan favorit saya yakni Punjena Paprika. Paprika besar yang sudah dibuang bijinya tersebut kemudian diisi dengan campuran daging cincang, beras, bawang bombay, paprika bubuk, garam, dan tomat. Setelah itu, paprika terisi, kemudian disusun ke dalam panci.
Lalu, panci diisi dengan air dan direbus sampai airnya menyusut. Setelah itu, kami masukkan ke dalam oven. Jika sudah matang, biasanya kami menikmatinya dengan sour cream dan roti. Itu sudah yummy!
Makanan kedua favorit lainnya adalah Sarma. Ini hampir sama dengan Punjena Paprika, tetapi Sarma menggunakan kol atau kubis. Isiannya bisa dengan campuran daging cincang, beras, bawang bombay, paprika bubuk, garam, dan tomat. Setelah terisi di lembaran kol atau kubis, tahapan mengolahnya sama seperti memasak Punjena Paprika.
Kalau soal makanan di tahun baru, aku juga suka sekali dengan goulash, yang sebenarnya ini menu yang umum ada di negara Eropa lainnya. Ada juga yang menyebutnya Paprikash. Ini seperti sup daging. Orang-orang di Serbia umumnya suka makanan daging atau masakan olahan daging.
Oleh karena itu, mereka sering kali mengadakan acara seperti barbeque untuk memanggang daging bersama. Di sini banyak sekali penjual kambing guling dan babi guling.
Acara barbeque buat orang-orang di Serbia menjadi penanda kebersamaan untuk menikmati waktu bersama. Orang Serbia mengatakan daging guling atau daging yang digunakan sebagai barbeque merupakan daging terbaik di dunia, karena binatang yang dijadikan daging guling diberi makan secara organik dan natural.
Itu sebab, daging guling di sini begitu tasty. Satu lagi sebagai gambaran, hampir sebagian besar masakan dan makanan Serbia sama dengan Turkies Cuisines, karena dahulu Yugoslavia sempat dijajah oleh negara Turki cukup lama.
Secara garis besar, tradisi tahun baru seperti layaknya di negara lain, mereka berkumpul dengan keluarga juga di malam penutupan tahun. Kami biasanya berkumpul merayakan pesta bersama keluarga seperti mengadakan pesta barbeque, satay daging atau makanan seafood sambil ngobrol-ngobrol satu sama lain.
Malam pergantian tahun juga diisi dengan pesta kembang api untuk menghitung waktu mundur pergantian tahun, seperti waktu saya berada di Indonesia dulu. Hanya saja yang berbeda adalah kami biasanya dansa (dancing) di Serbia atau bernyanyi, ini yang tidak dilakukan seperti di Indonesia dulu.
Tradisi lainnya adalah kami biasanya bersulang merayakan tahun baru dengan minuman lokal yang mengandung alkohol, namanya Raki. Sambil bersulang, kami memberikan ucapan keberuntungan di tahun yang baru seperti: good health, good wealth, long life dan semacamnya.
Selama tinggal di Serbia, tradisi menyalakan kembang api hampir ada di tiap rumah di sini. Hanya saja, saya dan keluarga biasanya pergi ke semacam City Center untuk melihat perayaan kembang api. Di City Center tersebut, terdapat pesta kembang api dan juga konser musik.
Sementara dulu di Indonesia, saya tidak terlalu merayakan kemeriahan tahun baru. Saya sudah kapok berpergian di malam pergantian tahun baru, justru mendapati macet di mana-mana. Setelah itu, saya tidak ingin keluar lagi dalam merayakan tahun baru.
Seperti umumnya perayaan pesta kembang api di kota-kota besar, di Serbia pun demikian. Biasanya saya hanya menyaksikan dari televisi, pesta kembang api di pusat kota Beograd. Pesta kembang api dilaksanakan di waterfront di Beograd dan terlihat sangat indah saat saya melihatnya di televisi.
Stasiun televisi seperti TVRI di Indonesia, namanya RTS, yang berisi berbagai program selama jelang tahun baru. Programnya itu bisa berisi komedi, musik atau hiburan berbagai artis, yang kemudian ditutup dengan menghitung mundur perayaan pergantian tahun baru.
Sahabat Ruanita, biasanya di awal tahun selalu terselip harapan dan resolusi di awal tahun. Begitu pun warga di Serbia. Orang-orang di Serbia biasanya mengucapkan: ” Srećna Nova godina! – Selamat Tahun Baru!” sambil bersulang.
Berdasarkan pengamatan saya, mereka biasanya mengutamakan kesehatan untuk harapan di awal tahun yang baru. Kalau kita tidak sehat, bagaimana kita bisa menikmati hidup dan bekerja. Kalau sahabat Ruanita, apa harapan dan resolusi di awal tahun yang baru?
Penulis: Merry Christiani yang tinggal di Serbia dan dapat dikontak via akun Instagram: cemanitempehserbia.
Menutup akhir tahun 2024, Ruanita Indonesia menggelar diskusi ig live yang diselengggarakan tiap bulan dengan beragam tema yang menarik. Nah, program diskusi ig live ruanita juga meningkatkan promosi tema parenting yang mungkin belum banyak dibahas, mengingat tema ini masih dipandang personal. Hal ini termasuk tentang bagaimana pengalaman ibu melahirkan prematur dalam tema yang dibahas berikut ini.
Diskusi IG LIVE episode Desember 2024 mengundang sahabat Ruanita yang tinggal di Jerman dan di Indonesia untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan seputar kelahiran bayi prematur yang mereka hadapi. Bagaimana mereka bertukar cerita dan informasi, sehingga memperkaya diskusi IG LIVE kali ini tentang pentingnya literasi kesehatan ibu dan anak, agar ibu dan anak sama-sama sehat.
Diawali dengan cerita Siwi yang melahirkan anak prematur di Jerman. Ia bercerita bagaimana pihak rumah sakit dan pemerintah Jerman begitu mendukung fasilitas pada saat ia melahirkan bayi prematur. Siwi merasakan bahwa pengalamannya ini tidak mudah dan begitu mengkhawatirkan baginya saat itu.
Bagi Siwi, kehadiran suami sangat berarti untuk mendukung pemulihan kondisinya setelah melahirkan bayi premature. Hal serupa juga dialami oleh Mosi yang menekankan pentingnya dukungan suami dan keluarga besar saat ibu baru saja melahirkan bayi premture.
Mosi merasa kagum dengan cerita Siwi tentang bagaimana kehadiran negara lewat fasilitas yang diterima Siwi setelah melahirkan. Siwi bahkan mendapatkan perhatian ekstra karena kelahiran bayi prematur, seperti asisten rumah tangga selama dua minggu hingga kondisinya pulih dan adanya tenaga ahli seperti dokter dan bidan yang membantu merawat bayinya yang masih prematur.
Bagi Siwi dan Mosi, kehadiran social support system seperti pasangan hidup, keluarga besar, hingga support group yang mengalami kelahiran prematur sangat membantu untuk meningkatkan pemahaman bagaimana menghadapi bayi yang lahir prematur, terutama persoalan psikologis yang tidak mudah dihadapi oleh para ibu yang memiliki bayi prematur.
Simak Diskusi IG Live selengkapnya berikut ini dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube kami:
Salam kenal, Sahabat Ruanita. Saya adalah Mosi Retnani dan dapat dikontak via akun instagram @mosiretnani. Saya, suami, dan anak kami yang saat ini masih balita, tinggal di Sleman, Yogyakarta, Indonesia. Tahun ini masuk tahun keempat kami tinggal di desa, sebuah wilayah yang dari segi budaya, bahasa, ritme harian, bahkan makanannya berbeda dengan Jakarta, tempat kami tinggal sebelumnya. Ya, meski perbedaannya tidak sampai 180 derajat sih.
Kalau semua berjalan aman sentosa, saya dan suami sudah memiliki tiga anak. Namun kami kehilangan janin-janin di dua kehamilan pertama, yang umurnya berakhir hanya sampai di minggu kedelapan. Kehilangan tersebut terjadi pada tahun pertama pernikahan kami. Jangan ditanya bagaimana rasanya, setelah diberi bahagia, lalu diambil, dan diganti dengan kesedihan, dikali dua.
Setelah dua peristiwa tersebut, kami memutuskan untuk menjeda sejenak dari semua hal yang berkaitan dengan ‘hamil’. Masuk tahun kedua pernikahan, kami mulai mempertimbangkan ikut program hamil. Kami mendatangi tiga dokter kandungan untuk konsultasi. Namun tak dipungkiri, jenuh pun melanda kami karena merasa program hamil berjalan begitu-begitu saja. Minum suplemen, konsultasi dokter, jaga makanan dan sebagainya, rasanya berlangsung monoton, bahkan jadi sering muncul pikiran paranoia seperti bila jajan di kaki-lima akan membuat program kami gagal. Di sisi lain, saya akui sebenarnya program hamil ini baik karena mendorong perbaikan gaya hidup, tetapi bagi kami, jadi malah tidak bahagia dalam menjalaninya. Yang seharusnya dijalani dengan sukacita, tetapi malah terasa monoton dan membebani. Ini bukan contoh yang baik untuk dijadikan acuan pasangan promil, ya.
Saya lupa di tahun keberapa tepatnya, kami memutuskan untuk berhenti mengikuti promil. Kami memutuskan untuk tidak lagi fokus soal keturunan. Fokus ke membangun rumah tangga bahagia meski semisal Allah SWT memang tidak menghendaki kami memiliki keturunan. Saya masih ingat malam sebelum kami memutuskan untuk berhenti promil, saya mengambil wudhu lalu sholat tahajud. Dalam doa, saya berucap: Ya Rabb, bila Engkau memang tidak berkehendak kami memiliki keturunan, kami ikhlas, insyaallah. Karena Engkau lah yang lebih tahu tentang hidup kami. Lapangkan hati hamba dan suami dalam menerima setiap kehendak-Mu. Setelahnya, saya merasa lebih plong dalam menjalani kehidupan rumah tangga, lebih tangguh, dan legowo menghadapi setiap pertemuan keluarga besar atau sekedar menjawab ujaran tetangga sekitar rumah. Kala itu, kami tidak memilih program IVF, karena anggaran tidak menyokong ke arah sana.
Di suatu pagi di tahun keenam pernikahan kami, alat testpack yang biasanya membuat kami merespon datar usai melihat hasilnya, pagi itu membuat saya bengong sejenak. Dua garis. Saya lalu membangunkan suami,“Be, ih bangun ini lihat. Masa aku hamil, kata testpack. Beneran gak sih??”. Suami hanya merespon dengan gumaman di bawah pengaruh alam bawah sadar. Usai salat subuh berjamaah, kami masih tidak percaya melihat hasilnya namun memutuskan tidur lagi. Saya pikir kalau memang beneran hamil, toh tinggal pergi konsul ke obgyn, tidak perlu yang harus gimana-gimana.
Sekitar pukul sembilan pagi, saya bangun dan kembali mengecek testpack. Ternyata betul, dua garis biru, nyata. Saya Kembali membangunkan suami, “Be ini beneran, aku hamil!” Dan dia hanya merespon,”Alhamdulillah. Tapi aku lanjut bobo dulu ya, sejam lagi deh,” ujarnya. Saya tidak marah, malah mengiyakan ikhlas, karena malamnya dia habis lembur.
Sorenya kami konsultasi ke dokter kandungan yang ketiga. Alasannya standar, dekat dari rumah dan kami sudah nyaman dengan dokter itu. Ketika melihat layar mesin USG, sekilas trauma kegagalan hamil menyeruak di pikiran saya. Saya coba tangkis dengan berpikir positif. Hanya sepenggal kalimat “Selamat ya bu,” dari dokter itu saja yang saya ingat usai keluar dari ruang konsultasi. Sampai di rumah pun, kami tidak langsung bersukacita mengabari para orang tua tentang kehamilan yang menahun dinanti mereka. Mungkin karena kala itu trauma dua kali kehilangan janin masih mendominasi pikiran kami. Kata suami, saya tak usah banyak kepikiran, dia yang akan mengabari orang tua kami.
Hari-hari kehamilan yang kami jalani terasa biasa saja, hanya perut saya saja yang perlahan melendung. Saya yang kala itu masih terikat kontrak dengan salah satu media online untuk mengelola konten media sosialnya bersama teman, malah merasa terhibur dengan kesibukan kerjaan, di sela nafsu makan yang menguap. Setiap hari suami membawa oleh-oleh air kelapa dan air jahe sepulang kerja. Air jahe mempan mengatasi mual saya, sementara air kelapa mengikuti saran dokter. Selain itu, saya disarankan mengkonsumsi susu yang dipasteurisasi, alih-alih susu khusus kehamilan atau UHT. Alasan dokter karena susu pasteurisasi tidak mengalami proses pengolahan yang panjang untuk bisa dikonsumsi. Kami juga selalu diresepkan suplemen asam folat organik dan lainnya.
Masuk pekan ke-35 kehamilan, kehamilan saya ternyata disimpulkan bermasalah karena beberapa hal terlihat tidak wajar. Bengkak di kedua kaki saya terlihat janggal dan berlebihan, menurut bidan pendamping di kelas senam hamil. “Kita tensi dulu ya Bu, saya biar bisa memastikan apakah ini wajar atau tidak,” ujar bidan. Ternyata hasil tensi saya tinggi, sekitar 120-an. Bidan kembali bertanya, ”Bu, apa merasa pusing?”. Saya menggeleng. Lalu bidan meminta saya menunggu sejam untuk kembali ditensi, sementara ia menghubungi dokter kandungan kami. “Kita tunggu dulu ya Bu, khawatirnya tensi ibu tinggi karena habis senam hamil,” ujar bidan setelah mengecek riwayat tensi saya selama kehamilan selalu berada di posisi normal.
Ternyata tensi saya tidak kunjung turun, memang betulan tinggi. Bidan kembali menghubungi dokter untuk kembali mengobservasi saya. Saya diminta datang keesokan harinya tanpa perlu membuat janji temu lagi, karena hari itu dokternya sedang persiapan penanganan operasi lahiran.
Setelah cek laboratorium berjenjang atas anjuran dokter, kehamilan saya disimpulkan masuk kategori preeklamsia. Artinya, janin harus segera dikeluarkan karena akan membahayakan ibu dan janin. Setiap hari sampai hari persalinan, saya harus kembali menjalani beberapa prosedur seperti pemantauan detak jantung bayi, penyuntikan pematang paru-paru janin sebanyak dua kali karena dia akan lahir prematur, pemantauan tensi saya, dan lainnya. Dokter pun segera menjadwalkan operasi caesar, “Bu, jadwal caesar-nya Sabtu ini ya. Pagi. Tapi kalau ternyata ibu merasa tidak fit atau kenapa-kenapa, ibu harus langsung saja datang ke IGD sini. Sampai ketemu Sabtu insyaallah ya bu,” kata dokter dengan raut wajah tenangnya.
Jujur saya sempat panik karena baju-baju bayi dan peralatan lainnya belum semua disiapkan. “Nanti adek tidak ada baju habis lahir, terus gimana?”. Paniknya sebatas itu, bukan yang cemas takut perut harus dibuka tujuh lapis atau kepanikan lainnya. Namun alhamdulillah emosi kami berdua terbilang stabil. Kakak-kakak dan ibu saya memberi dukungan penuh, sehingga sampai hari persalinan membuat kami merasa cukup tenang.
Bayi premature BBLR kami lahir dengan berat 1,9 kilogram pada tahun 2019 lalu. Usai persalinan yang jatuh di usia kehamilan 35 minggu, bayi saya harus masuk inkubator di ruang perinatologi. Setelah mendapat kabar bahwa bayi kami sehat dan organnya berfungsi dengan baik meski prematur, kami lega dan bersyukur. Selama masa pemulihan, suamilah yang bolak-balik antara ruang perinatologi dan kamar inap saya. Dua kakak saya dan ibu bergantian menjenguk saat suami harus ngantor. Oleh dokter anak, bayi kami dianjurkan diberi susu khusus tinggi lemak agar bobot badannya yang tergolong rendah (1,9 kg) bisa cepat naik sekaligus tandem dengan ASI saya. “Nanti setelah bobotnya cukup di angka aman, susu suplemennya dihentikan ya bu. Cukup ASI saja,” kata dokter anak yang ikut mendampingi dokter kandungan dalam persalinan.
Susu impor yang dimaksud ternyata harganya ‘wow’ dan sulit dicari di sekitaran rumah sakit. Setelah konsultasi dengan dokter anak, boleh memakai merek lokal yang fungsi dan kandungannya mirip, meskipun harganya yang juga cukup tinggi haha!
Di ruang perinatologi tiap menunggui bayi kami, saya diajari lagi cara perlekatan yang tepat untuk mulut anak ke payudara meski sebelumnya saya sudah tiga kali mengikuti kelas laktasi di rumah sakit yang sama atas rekomendasi dokter kandungan.
Setelah tiga hari dirawat inap, dokter menyatakan jahitan tidak bermasalah serta fisik saya sudah cukup pulih, saya dibolehkan pulang. Namun bayi kami masih harus menetap di perinatologi karena dinilai belum cukup kuat untuk hidup di luar inkubator. Sedih dan pilu kembali merayapi ruang emosi. Bagaimana tidak, selama di rumah sakit pun kami tidak bisa berdampingan dalam satu ruang seperti pasien bersalin lainnya, momen yang sangat kami dambakan. Malah setelah pulang pun masih terpisah atap. Hal yang sama juga dirasakan suami. Dia yang paling semangat usai melihat bayi kami lahir di dunia, jadi gundah saat tahu kabar tersebut. “Bapak dan ibu tidak perlu kawatir atau sedih ya, karena ini kan untuk kebaikan adik bayi,” ujar perawat di ruang perinatologi usai kami berpamitan. Sesampainya di rumah, saya tidak bisa tidur tenang, teringat bayi kami. Belum ada 24 jam saja saya sudah rindu. “Aku aja yang antar ASI ke rumah sakit. Kamu istirahat, biar luka operasi cepat kering,” kata suami keesokan paginya. Meski rindu dan gusar, saya harus realistis karena kalau tidak cepat pulih, saya tidak akan bisa optimal merawat bayi bila waktunya ia dibolehkan pulang nanti. Menjelang sore, telepon seluler suami berdering. Ternyata bayi kami sudah dibolehkan pulang usai diobservasi dokter anak, salah satunya karena bobotnya dinilai cukup untuk tidak lagi dirawat di perinatologi. Rasanya senang luar biasa.
Rumah sakit jaraknya tak sampai 2 kilometer dari rumah kami. Usai ashar, kami menjemput bayi kami ke rumah sakit. Sebelumnya, ibu menyarankan untuk tinggal sementara di rumahnya agar kami ada yang membantu merawat bayi. Dan kami pun menurut. “Ibu ini baju-baju bayinya masih pada kebesaran ya, tapi enggak apa-apa malah jadi awet dan hemat ya nak ya,” ujar bidan dengan nada bercanda sambil menyerahkan bayi kami. Kami tertawa kecil menanggapinya, karena baju tidur model wearpack ukuran bayi baru lahir yang kami siapkan untuk si bayi pulang, terlihat longgar di tubuhnya. Perawat sampai menggulung bagian lengan dan kakinya beberapa kali agar tidak mengganggu geraknya karena kepanjangan.
Baik bidan atau dokter tidak menyarankan menyediakan alat pendukung khusus bagi bayi kami, namun ada beberapa hal penting yang wajib dilakukan di rumah. Pertama, memperbanyak kontak kulit dengan kulit (skin to skin) dengan metode kanguru (kangaroo care). Metode ini dinilai mampu mengurangi stres bayi prematur terutama bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dalam merespon lingkungan luarnya yang baru. Suara dan detak jantung orang tuanya akan menenangkan si bayi, selain memberi kehangatan di tubuhnya. Kangaroo care juga membantu menstimulasi produksi ASI di badan ibu agar membantu bobot bayi prematur cepat naik.
Kedua, jaga suhu tubuh bayi BBLR ini dengan cara membedong dan rajin mengecek suhu tubuhnya. Bayi prematur, terutama dengan kondisi BBLR, belum mempunyai cukup lemak untuk membantu tubuhnya beradaptasi dengan suhu lingkungannya yang baru. Karena itu saya selalu meletakkan thermometer digital di sisi bantal bayi karena suatu hari usai beberapa hari kepulangannya, saya pernah panik ketika memegang kaki dan tangannya yang mendadak dingin. Hal ini sempat kami konsultasikan ke dokter anak dan jawabannya demikian yang dijelaskan sebelumnya.
Ketiga, bayi prematur bisa dibilang gemar tidur sehingga kami harus membuat jadwal minum susu yang konsisten yang ketika tiba waktu menyusu. Kalau bayi masih tidur, maka wajib dibangunkan untuk disusui. Ini adalah saran dari perawat bayi di ruang perinatologi, yang diberikan sebelum kami pulang. Bagian ini yang cukup menantang bagi kami karena selalu ada pergulatan rasa tidak tega dan realita yang harus kami jalani untuk menopang kebutuhan susunya.
Keempat, pemberian suplemen zat besi yang dosisnya disesuaikan dengan bobot bayi. Berdasarkan literasi yang saya baca kala itu dan dokter anak yang membersamai komunitas Prematur Indonesia, pemberian suplemen zat besi sesuai rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bermanfaat untuk membantu memenuhi kebutuhan tubuh bayi prematur/ prematur BBLR yang sangat rentan mengalami defisiensi zat besi. Menurut dokter, suplemen zat besi ini sebaiknya mulai diberikan pada bayi prematur pada usia 1 bulan.
Kelima, kami juga disarankan memeriksa mata bayi -terutama pemeriksaan retina, bila memungkinkan- secara rutin ke dokter mata anak. Hal ini karena beberapa bayi prematur memiliki potensi penyakit mata yang disebut retinopati prematuritas (ROP), sebuah kondisi dimana penglihatan mata anak akan terganggu bila tidak sejak dini ditangani. Selain itu, bayi premature juga lebih sering mengalami risiko mata juling dibanding bayi tipikal.
Karena banyak kondisi yang harus kami jaga, maka kami memutuskan keluar rumah hanya untuk keperluan ke rumah sakit saja, sampai bayi kami cukup kuat beradaptasi dengan lingkungan barunya di luar rahim. Di sisi lain, kami sangat bersyukur karena keluarga di lingkaran utama memberi dukungan penuh dan mau memahami kondisi bayi yang berbeda dari para sepupunya kala masih bayi. Ibu dan kakak-kakak saya terus kami informasikan apa saja yang wajib mereka ketahui dalam membantu merawat bayi kami. Selain memberi dukungan moral dalam merawat bayi, mereka juga mendukung dalam mengurus pekerjaan rumah seperti membantu menjemur dan menyetrika pakaian dan mengirim makanan setiap hari ke rumah setelah kami memutuskan untuk kembali ke rumah, sampai kami dinilai cukup mandiri untuk melakukan rutinitas harian seperti sebelum ada bayi.
Harapan saya, teman-teman perempuan yang harus merasakan persalinan awal dan melahirkan bayi prematur menjadi tidak merasa sendiri dan berani untuk meminta tolong kepada suami, saudara, orang tua dan teman akrab kita, juga jangan segan meminta pertolongan kepada tenaga medis saat memang membutuhkannya. Bagi para ibu yang mengalami kondisi serupa, jangan ragu untuk bergabung dalam komunitas prematur yang ada di lingkungan sekitar atau secara daring, karena saya akui dampaknya cukup signifikan terutama dari segi literasi dan pengalaman yang dibagikan sesama anggota komunitas, sehingga menghapus “rasa sendiri” dalam merawat dan membesarkan bayi prematur berbagai kondisi, termasuk bayi prematur BBLR.
Untuk pemerintah, saya berharap semakin giat dalam mensosialisasikan dan membagi literasi persalinan dini dari segi pemicu, risiko pada ibu dan bayi, serta cara menangani bayi pasca persalinan. Peran pemerintah juga penting dalam meningkatkan keterampilan tenaga medis dan menyediakan tenaga ahli psikologi di berbagai pelosok agar mendukung tumbuh kembang bayi prematur dan menjaga kondisi emosi ibu. Demikian, semoga tulisan saya bermanfaat untuk para Sahabat Ruanita.
Penulis: Aini Hanafiah, relawan Ruanita di Norwegia, dikontak via akun instagram: aini_hanafiah, dan menulis berdasarkan wawancara dengan Mosi Retnani.
Sebagai perempuan Indonesia yang tinggal di luar Indonesia, Ruanita Indonesia kembali menayangkan program PODCAST terbaru dalam siaran Bahasa Inggris. Para podcaster ini adalah Aini Hanafiah (akun instagram: aini_hanafiah) yang tinggal di Norwegia dan Kristina Ayuningtias (akun instagram: kayuningtias) yang saat itu tinggal di Prancis, akan bercerita pengalaman serunya mencari tempat tinggal, ketika menjejakkan kaki pertama kali di negara tujuan.
Kristina bercerita bagaimana ia mengalami perbedaan antara pengalaman mencari rumah tinggal di Bratislava, Slowakia dengan mencari rumah tinggal di Marseille, Prancis. Rupanya tiap negara di Eropa memiliki ketentuan yang berbeda-beda, termasuk juga bagaimana standar prosedur yang diberlakukan oleh pihak penyewa tempat tinggal.
Sebagai orang asing, tentunya tidak mudah mencari tempat tinggal mengingat mereka kerap dihadapkan pada scammers atau penipu. Aini bercerita serba-serbi pengalamannya pindah bersama keluarga, mulai dari Penang, Malaysia hingga sempat di Amerika Serikat. Status suami yang dianggap mahasiswa di negara tujuan kadang membuat Aini frustrasi mencari tempat tinggal bersama buah hatinya.
Hal menarik bagi Aini ketika dia mulai mencari tempat tinggal di Amerika Serikat. Dia mengatakan negeri paman sam menerapkan seleksi ketat yang dibutuhkan penyewa, mulai dari ketersediaan bus atau transportasi umum hingga lokasi yang aman dari predator kejahatan seksual.
Pengalaman berbeda kembali Aini hadapi saat dia dan keluarganya pindah ke Norwegia. Misalnya, Aini berhadapan dengan bagaimana harus tersedia uang di muka sebagai deposit di awal ketika akan mencari tempat tinggal.
Kristina sendiri menggunakan jaringan media sosial yang berisi komunitas Indonesia di negara tujuan untuk mencari tahu tentang sewa tempat tinggal. Bergabung dalam grup di media sosial bisa juga membantu untuk mengetahui bagaimana trik dan tips cari tempat tinggal saat berada di luar negeri.
Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad
Podcast audio berbahasa Inggris ini inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional.
Keterangan foto: Ruang aman terbangun dari assurance akan hadirnya rasa aman dalam hubungan atau dalam dinamika sebuah kelompok. Namun beda kultur, bisa beda pula konsep ruang amannya. Salah satu kultur nordic percaya bahwa interaksi dengan alam bisa menurunkan kadar stress dan membuat orang semakin rileks, sehingga kegiatan bonding yang dilakukan di alam terbuka dipercaya dapat membantu terbentuknya hubungan yang sehat dan menjadi ruang aman untuk sesama.
Di banyak kelompok support group untuk perempuan imigran di Norwegia, kegiatan hiking bersama sering diadakan untuk bonding sekaligus mengenalkan salah satu konsep lokal tentang ruang aman: bahwa alam di Norwegia itu aman dan inklusif untuk semua orang. Selain itu, biasanya orang Norwegia baru bisa rileks dan mengobrol banyak justru ketika hiking.
Lucunya, kegiatan hiking ini dinilai cukup menantang secara fisik bagi banyak perempuan imigran yang mengikuti support group lokal.
Mereka terbiasa membangun safe space lewat acara memasak dan makan bersama (kitchen table talk). Akhirnya hiking dan kitchen table talk dibuat berselang-seling dalam program support group lokal, untuk mengakomodir kebutuhan menghadirkan ruang aman dalam proses integrasi.
Menutup kampanye 16 Hari Tanpa Kekerasan yang menjadi bagian dari program AISIYU (=AspIrasikan Suara dan Inspirasi nyatamU) tahun 2024, Ruanita mengundang sahabat Ruanita yang kini sedang menempuh studi S3 di Belanda. Dia adalah Widya Tuslian yang memiliki latar belakang sebagai socio-legal studies, dengan fokus penelitian di bidang social welfare dan social justice.
Dalam penelitian yang sedang dilakukan, Widya berfokus pada bagaimana tata kelola sumber daya air di masyarakat miskin Urban Jakarta dalam perspektif socio-legal. Meskipun sumber daya air di Indonesia berlimpah, tetapi masalahnya bukan pada ketiadaan air, tetapi bagaimana air bisa dinikmati oleh setiap warga tanpa terkecuali.
Jakarta terkenal dengan infrastruktur development yang paling maju dibandingkan kota-kota lainnya di Indonesia. Namun, di sudut-sudut kota Jakarta, permasalahan air masih sangat pelik, yang terkait dengan tata kelola air. Bagaimana pun aliran air yang keluar itu untuk semua manusia tanpa terkecuali.
Air seharusnya adalah hak dasar semua orang yang menyangkut human dignity, terpaksa menjadi begitu sulit di area poor urban Jakarta karena kebijakan dan tata kelola yang tidak tepat. Selain policy makers, hal ini dipersulit oleh para pebisnis yang hanya memikirkan kepentingan pribadi, dibandingkan hajat hidup orang banyak.
Di Hari Hak Asasi Manusia Sedunia, kita diingatkan lagi bagaimana keadilan sosial bagi seluruh warga Indonesia lewat distribusi air. Air bersih menjadi impian banyak orang, yang seharusnya bisa dinikmati oleh siapa saja. Kenyataannya, air bersih begitu sulit diakses bagi mereka yang tinggal di Poor Urban Jakarta.
Simak selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut ini:
Keterangan foto: Duduk sendiri di sebuah taman merupakan juga tempat teraman wanita ketika rasa jenuh melanda.
Sekedar hanya duduk melihat keadaan sekitar pun bisa menjadi pelipur rasa karena menghirup udara segar, mendengar kicauan burung, dan berdiam sejenak bisa membuat kita untuk recovery sesaat.
Keterangan foto: Like a child, a sense of security is also important for a woman to be able to develop fully and be able to provide a sense of comfort to other people around.
Keterangan foto: In classrooms and playgrounds, laughter should be the only sound. But under the cruel shadow of colonialism, Palestinian children’s laughter was silenced by the deafening roar of war.
Their schools, once sanctuaries of learning, became battlefields. Amidst the ruins of their cities, a haunting question lingers: can these children ever feel safe, truly human, in their own land, where their only good memories are lost?
Judul foto: Self Potrait (kiri) dan Hadiah Ulang Tahun dari Penganiaya (kanan)
Keterangan foto: (Kiri) Dipotret oleh seorang difabel menggunakan ujung lidah, yang juga adalah penyintas kekerasan. Sejak kecelakaan mobil tahun 2017, saya lumpuh total dari leher ke bawah dan dirawat di rumah oleh suster.
Beberapa suster perawat melakukan kekerasan, dari pelecehan fisik hingga pelecehan sek***** pada terakhir Agustus 2024 lalu.
Semua suster perawat yang terlibat sudah diproses hukum.
(kanan) Salah satu suster perawat tetap saya cuti 6 minggu, dan seorang suster perawat pengganti datang pada pertengahan Agustus 2024.
Dia melakukan pelecehan sek**** dan memberi saya hadiah ulang tahun berupa lukisan diri saya, yang menggambarkan seorang gadis kecil tela*****, jongkok dengan tangan memegang kepala, kesakitan, karena rambut panjangnya yang hitam pekat ditarik.
1 Desember diperingati setiap tahunnya sebagai World AIDS Day di seluruh dunia. Bagaimana pun HIV & AIDS masih menimbulkan stigma sosial bagi orang dengan AIDS (ODHA), terutama di masyarakat yang tidak mendapatkan literasi dan informasi yang benar dan tepat tentang isu ini.
Lewat program podcast RUMPITA, Rumpi bersama RUANITA, Anna dan Novi sebagai pemandu diskusi podcast pada episode ini mengajak sahabat Ruanita untuk peduli tentang HIV & AIDS dan mematahkan mitos-mitos yang tidak benar di masyarakat.
Episode ke-32 Podcast RUMPITA mengundang Restituti Betaubun atau yang akrab disapa sebagai Chichi, yang masih aktif menjadi aktivis yang mendukung sesamanya yang hidup dengan positif HIV. Chichi sendiri pernah bekerja di program HIV & AIDS selama lebih dari 10 tahun dengan berbagai posisi, di Yayasan Peduli AIDS di Timika, Papua Tengah.
Chichi juga bercerita bahwa ia sempat menjadi dosen lokal di sebuah perguruan tinggi di Timika dari 2013 hingga 2015, tetapi aktivitasnya untuk menjadi social support program HIV & AIDS telah memberikan banyak pengalaman berharga, agar stigma sosial di masyarakat Papua dapat dipatahkan.
Kampanye yang dibuat oleh Chichi dikhususkan untuk anak-anak muda sebagai bentuk preventif terhadap HIV & AIDS. Chichi banyak bersentuhan tentang bagaimana melakukan kampanye yang benar dan tepat kepada anak-anak muda yang menjadi penerima manfaat program tersebut.
Sebelum kehadiran Komisi Penanggulangan AIDS di Papua, Chichi bercerita bagaimana masyarakat masih merasa awam terhadap AIDS, sehingga perilaku salah menimbulkan stigma sosial kepada ODHA.
Sejak munculnya program HIV & AIDS di Papua, Chichi merasa keterlibatan tokoh masyarakat dan tokoh agama sangat membantu untuk mematahkan stigma sosial tersebut.
Simak diskusi podcast RUMPITA episode ke-32 berikut ini di saluran Spotify berikut ini: