(CERITA SAHABAT SPESIAL) Kemeriahan Imlek di Taiwan

Program Cerita Sahabat Spesial tayang tiap bulan yang mengundang partisipasi berbagai perempuan Indonesia untuk bercerita sesuai tema yang beragam, termasuk tema yang sedang terjadi pada hari ini, yakni Chinese Lunar New Year. Di Indonesia, Chinese Lunar New Year disebut juga Imlek yang tentunya bisa jadi pengalaman berharga bagi orang Indonesia yang tinggal di Taiwan.

Dia adalah sahabat Ruanita yang kini menetap di Taiwan sejak sebelas tahun lalu, di Kota Taipeh. Dia bernama Lili, yang awal mulanya datang ke Taiwan untuk belajar bahasa Taiwan. Lili sendiri mengatakan bahwa perayaan Imlek mendapat hati bagi warga Taiwan, karena durasinya yang lama untuk merayakannya bersama keluarga.

Warga Taiwan biasanya menyambutnya dengan membersihkan rumah sebelum Imlek datang. Namun, Lili menekankan membersihkan rumah hanya sebelum datangnya Imlek, bukan pada jelang H min satu hari dari Chinese Lunar New Year karena hal itu malahan akan menghilangkan keberuntungan di tahun yang baru.

Tak hanya membersihkan rumah, mereka di Taiwan juga mendekorasi rumah mereka sesuai shio yang akan datang pada tahun tersebut. Mereka juga kadang menggantungkan tulisan-tulisan keberuntungan secara terbalik agar keberuntungan datang ke dalam rumah.

Hal menarik yang diceritakan Lili adalah bagaimana warga Taiwan menyiapkan hidangan yang semuanya ditujukan untuk mendatangkan rezeki, keberuntungan, dan kebahagiaan untuk penghuni rumah. Tak hanya itu, Lili juga menjelaskan makna pemberian uang angpo hingga jumlah yang disarankan untuk warga di Taiwan agar bisa mendatangkan keberuntungan.

Seperti apa kemeriahan perayaan Imlek di Taiwan, simak selengkap di kanal YouTube berikut dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube agar dapat berbagi lebih banyak lagi

(CERITA SAHABAT) Analisis Konsumsi Politik Generasi Z dalam Perspektif Herd Mentality

Di tengah gempuran media sosial, anak muda kerap membutuhkan validasi dari  pengguna media sosial lainnya untuk meningkatkan value diri. Fenomena ini diikuti dengan  maraknya fomo (fear of missing out) yang menyebabkan hadirnya trend-trend baru untuk  menarik perhatian anak-anak muda, pada Gen Z khususnya. Dengan intensitas interaksi  digital yang tinggi, generasi Z banyak hidup dan mengelola media sosial. Hal ini kemudian  membuat istilah herd mentality mulai menguap kembali ke media massa. 

Herd mentality merupakan sebuah fenomena di mana adanya kecenderungan  seseorang untuk menyesuaikan diri dengan kelompok sosial di sekitarnya, agar mudah  diterima. Fenomena ini semakin intensif beberapa dekade belakang, terlebih dalam studi ilmu  sosial seperti psikologi, sosiologi, serta ekonomi.

Herd mentality menjadi relevan  pembahasannya dalam bidang ilmu pengetahuan karena menyangkut pola hidup, perilaku,  serta persepsi atau pendapat dari diri sendiri. Hal ini dapat terjadi disebabkan oleh tekanan  sosial, pengaruh ketimpangan status sosial, serta pengaruh algoritma di sosial media. Dalam  tulisan ini, saya akan mencoba menuliskan terkait skema gen z dalam persepsi diri untuk  mengupas pusaran herd mentality sebagai salah satu hal yang menggerakkan dinamika trend  di media sosial. 

Gen Z sebagai salah satu generasi yang besar pengaruhnya dan tengah berada di  masa-masa produktif, banyak mengelola kegiatannya di media sosial. Seiring dengan  perkembangan zaman, penggunaan media sosial semakin intensif.

Seperti pada agenda politik  terkait ‘Peringatan Darurat’ yang dimulai dari X di tanggal 21 Agustus 2024, saya juga turut  berpartisipasi dalam kampanye tersebut. Sebelum ikut serta, saya mencoba mencari tahu  konteks dan tujuannya. Selain itu, penggunaan icon peringatan darurat juga mulai gencar  disuarakan di Instagram dan platform-platform lainnya. 

Di satu sisi, popularitas dinaikkannya isu ‘Peringatan Darurat” di media massa  membawa konsekuensi yang kurang menyenangkan, seperti serangan dan kritikan. Hal  tersebut banyak dialami oleh mutual-an saya lainnya.

Di sisi lain, hal ini juga menunjukkan  bahwa isu politik sangat menarik perhatian publik serta mampu menggerakkan massa dalam  jumlah yang besar di seluruh penjuru negeri.

Meskipun terdapat kekhawatiran yang saya rasakan, namun semangat untuk mengedukasi dan berpartisipasi dalam demokrasi mendorong  saya untuk tetap aktif bersuara di berbagai platform media sosial yang saya miliki. Di luar dari konteks politik, perilaku herd mentality sering terjadi dalam kehidupan  sehari-hari, termasuk dalam lingkungan akademik.

Misalnya, dalam diskusi kelas, banyak  mahasiswa yang cenderung mengikuti pendapat teman sekelas atau dosen, tanpa mengalami  proses berpikir kritis. Hal ini menunjukkan kurangnya sikap skeptis dan keinginan untuk  mencari informasi lebih jauh lagi.

Dengan demikian, banyak bahan kajian dan obrolan yang  semestinya diutarakan di dalam kelas, menjadi hanya tersimpan di lingkup kelompok diskusi  yang lebih kecil, atau lebih parahnya lagi hanya tersimpan di kepala masing-masing. 

Perilaku herd mentality yang juga melingkupi anak muda, terkhusus gen z dalam  melakukan pembelian item tertentu. Salah satu contohnya adalah pembelian merchandise  politik yang marak terjadi di kalangan gen Z. Melalui media sosial, gen z mudah terdapat  berbagai macam konten politik, mulai dari informasi aksi, opini, hingga promosi partai atau  kelompok tertentu.

Akibatnya, sering kali banyak yang tidak membatasi diri dan merasa  skeptic, sehingga mudah terpapar informasi apa saja di media sosial. Hal ini juga  berhubungan dengan trend-trend tertentu untuk menaikkan frekuensi minat gen z terhadap  suatu individu yang mewakili partai tertentu. 

Dengan demikian, hal-hal yang tengah banyak diikuti oleh sebagian kelompok  masyarakat di media sosial, tidak harus turut kita ikuti juga. Dalam hal ini, ketika individu  memiliki prinsip diri yang kuat, hal-hal diluar kebutuhan diri akan dapat dikontrol dengan  mudah. Seperti skema herd mentality yang banyak menjangkit anak-anak muda seperti ini,  dapat dengan mudah menggoyahkan kenyamanan diri dan keamanan diri sendiri.

Perilaku  herd mentality yang perlu di filter dapat dilakukan dengan cara membuat kelompok dengan  prinsip hidup yang sama, agar terhindar dari perilaku konsumtif dan membahayakan, serta  dapat menahan diri untuk tidak turut menyebarkan informasi yang tidak dapat dipahami latar  belakangnya. Hal ini mencegah terjadinya penyebaran misinformasi di kalangan yang sama. 

Ketika mengkaji mengenai herd mentality, kerap hal ini disangkut pautkan dengan  konformitas, padahal kedua hal tersebut cukup berbeda. Konformitas merupakan  kecenderungan individu untuk menyesuaikan diri dengan norma sosial dalam suatu kelompok,  hal seperti ini biasanya terjadi ketika kita pindah ke lingkungan yang baru.

Sedangkan herd  mentality biasanya mengarah ke tindakan tanpa berpikir kritis yang kerap terjadi karena  pengaruh tekanan sosial. Hal ini biasanya terjadi ketika ada informasi yang baru diterima dan  tidak ditelaah latar belakangnya. Sebagai individu yang tinggal di berbagai macam latar  belakang budaya yang berbeda, tentu saja perilaku herd mentality dalam beberapa aspek kerap terjadi kepada saya, seperti ketika adanya isu politik yang mencuat tanpa kajian terlebih  dahulu.

Perilaku ini dapat menimbulkan kekacauan publik apabila tidak ditelaah lebih dalam. Selain itu, herd mentality lebih cenderung terpengaruh kepada masyarakat kolektif,  hal ini diakibatkan lekatnya budaya yang dirawat secara turun menurun. 

Masyarakat kolektif  lebih banyak menekan kelompok tertentu untuk mengikuti aturan budaya yang ada. Seperti  masih banyaknya yang beranggapan bahwa perempuan dalam ranah politik merupakan aib  bagi sebagian masyarakat adat. Padahal itu merupakan bentuk keterwakilannya  suara politik perempuan di lingkup yang lebih luas.

Pendidikan politik juga belum bisa  sepenuhnya mewadahi aspirasi perempuan, terlebih pada kelompok kolektif. Hal yang patut dipelajari dalam menghadapi fenomena herd mentality adalah  pembiasaan diri dengan mengedepankan prinsip hidup dan tingginya sikap skeptisme dalam  berbagai macam hal. Sikap tersebut dapat membangun prinsip hidup yang lebih kuat daripada  tidak sama sekali.

Hal paling mudah yang dapat dilakukan guna meningkatkan kesadaran diri  adalah, dengan membaca kembali informasi-informasi yang beredar di media massa. Menyaringnya dengan berpikir kritis dan kembali mendiskusikannya dengan orang-orang  terdekat. 

Tentang penulis: Nila merupakan mahasiswa yang menempuh pendidikan S1 di jurusan ilmu komunikasi. Memiliki minat besar dalam bidang media dan tulisan, hal tersebut tertuang dalam tulisan tulisannya di laman pribadinya. Informasi tulisan medium.com/@morisdeala dan instagram.com/@nila.docx

(SIARAN BERITA) Percepat Aksi Untuk Kesetaraan Gender, Ruanita dengan KJRI Melbourne dan Komnas Perempuan Gelar Workshop Online

MELBOURNE – Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2025, Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia, bekerja sama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Melbourne dan Komnas Perempuan Indonesia, sukses menyelenggarakan workshop online bertajuk “From Words to Power: Accelerate Action”. Tema ini sejalan dengan semangat Hari Perempuan Internasional 2025 yang mengajak seluruh pihak untuk mempercepat aksi menuju kesetaraan gender.

Workshop Warga Menulis Puisi ini bertujuan untuk memberdayakan warga Indonesia melalui puisi sebagai sarana untuk mengatasi hambatan sistemik dalam mencapai kesetaraan gender, seperti kesenjangan upah, akses terbatas ke pendidikan, dan kurangnya representasi perempuan dalam kepemimpinan, yang sejalan dengan tema Hari Perempuan Internasional 2025.

Workshop dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom dalam dua sesi, yaitu pada Sabtu, 25 Januari dan 1 Februari 2025. Pada sesi pertama, Kuncoro Giri Waseso selaku Konjen RI Melbourne menyampaikan apresiasinya terhadap partisipasi aktif warga Indonesia dalam program ini. Beliau menekankan pentingnya puisi sebagai alat advokasi dan komunikasi yang efektif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat Indonesia di mancanegara.

Komisioner Komnas Perempuan, Veryanto Sitohang, menyoroti pentingnya kekuatan kata-kata dalam mempercepat perubahan menuju kesetaraan gender, terutama di era digital. Dalam sesi selanjutnya, Yacinta Kurniasih, dosen Monash University dan relawan Ruanita, berbagi wawasan tentang teknik menulis puisi yang efektif untuk mendukung advokasi dan inklusi.

Natasha Hartanto bertindak sebagai moderator dalam workshop ini. Hasil karya puisi peserta akan ditampilkan dalam kampanye digital peringatan Hari Perempuan Internasional 2025 di platform media sosial Ruanita. Workshop ini berhasil menarik lebih dari lima puluh peserta dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Tentang Ruanita Indonesia: RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah organisasi nirlaba yang memanfaatkan platform digital untuk memberikan dukungan sosial dan berbagi praktik baik hidup di mancanegara. Sejak berdiri pada tahun 2021, Ruanita berharap bisa mendorong partisipasi dan aksi warga Indonesia untuk memanfaatkan ruang digital secara aman untuk promosi psikoedukasi dan kesetaraan gender.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi: info@ruanita.com atau kunjungi situs web kami di https://ruanita.com.

(IG LIVE) Bahas Tuntas Single Shaming

Melanjutkan diskusi IG Live yang tayang setiap bulan, pada bulan Januari 2025 Ruanita – Rumah Aman Kita – Indonesia menggelar diskusi yang tak kalah seru untuk membahas status single, bersama dua sahabat Ruanita yang berada di dua lokasi negara berbeda.

Tentunya, diskusi IG Live tetap dipandu oleh Zukhrufi Sysdawita yang membahasnya secara menarik bersama Ecie Linasari dan Nissa Vidyanita. Pandangan single shaming bisa dilihat dalam perspektif budaya dan atau psikologi, tetapi apakah benar ini disebabkan ketidaksetaraan gender?

Ecie meyakini bahwa pertanyaan tentang status single yang disandangnya lebih banyak diperoleh dari orang-orang Indonesia, meski dia berada di Jerman. Batasan yang tegas memang diperlukan untuk merespon pertanyaan orang-orang sekitar atau membuat komentar negatif yang tidak tepat.

Sementara Vidya memahami bahwa Single Shaming mudah terjadi di masyarakat, yang masih menempatkan perempuan pada posisi marjinal. Vidya tidak mengalami single shaming saat berada di Irlandia. Perempuan yang tidak berpasangan masih dianggap sebagai bentuk kegagalan.

Single shaming juga masih dipandang kuat dalam perspektif budaya, sehingga hal itu tidak terjadi pada masyarakat di Jerman atau di Irlandia. Menurut Ecie, orang asing yang tak kenal di Indonesia bisa saja dengan mudahnya bertanya tentang status pernikahan padanya.

Vidya pun berpesan kepada sahabat Ruanita yang menyimak Diskusi IG Live untuk percaya bahwa tidak ada yang salah menjadi single. Berikan pula batasan yang menandakan bahwa kita harus bisa menghargai diri sendiri dan orang lain.

Simak selengkapnya diskusi IG Live berikut ini:

(CERITA SAHABAT) Pelukan: Bahasa Cinta yang Tak Perlu Berbahasa

Nama saya Siwi, biasa dipanggil Siwi oleh teman-teman dekat. Saya tinggal di Jerman, tepatnya di kota Berlin, dan sudah menetap di sini selama kurang lebih 10 tahun. Minat saya beragam, mulai dari membaca buku, memasak, serta mendalami budaya setempat. Pekerjaan sehari-hari saya adalah sebagai ibu, mahasiswi dan juga business developer di sebuah perusahaan tas di Berlin.

Di keluarga saya sendiri, berpelukan antara orang tua dan anak-anak atau antar kerabat sudah menjadi hal yang biasa. Budaya ini berasal dari nilai-nilai kekeluargaan yang kuat di Indonesia, di mana berpelukan dimaknai sebagai cara untuk menunjukkan kasih sayang dan dukungan emosional. 

Ketika saya pulang ke Indonesia, saya selalu merasakan kehangatan dalam pelukan orang tua dan suami saya setiap dia pulang kerja. Pelukan bagi kami seperti obat, untuk menunjukan rasa cinta, rindu, dan saling menguatkan. Saya berpikir, kami sudah bekerja keras selama berbulan-bulan dan momen berpelukan menjadi simbol pencapaian dan kerja sama yang erat. 

Dari sudut pandang budaya, berpelukan ini menunjukkan rasa keakraban dan solidaritas, sedangkan secara psikologis, ini memberi saya rasa dihargai dan diperhatikan, menguatkan ikatan emosional kami.

Sebagai ibu baru di perantauan merasa bahwa setiap tangan yang terulur adalah seperti harapan, begitu juga pelukan. Pelukan yang sederhana menyimpulkan banyak cinta, hangat, dan penghargaan. Berpelukan dalam budaya Indonesia sering kali dianggap sebagai tanda keakraban dan kasih sayang. 

Budaya kita sangat menghargai kedekatan emosional, dan berpelukan adalah salah satu cara untuk mengekspresikan rasa hormat dan cinta. Ini berbeda dengan budaya lain yang mungkin lebih menekankan pada kesantunan dengan cara yang lebih formal.

Menurut saya, berpelukan dalam budaya Indonesia sering kali dianggap sebagai tanda keakraban dan kasih sayang. Budaya kita sangat menghargai kedekatan emosional, dan berpelukan adalah salah satu cara untuk mengekspresikan rasa hormat dan cinta. Ini berbeda dengan budaya lain yang mungkin lebih menekankan pada kesantunan dengan cara yang lebih formal.

Saya memahami bahwa ada anggapan bahwa berpelukan hanya dilakukan sesama gender atau menyiratkan romantisme. Namun, bagi saya, berpelukan lebih dari sekadar aspek romantis. Ini adalah cara untuk menunjukkan dukungan, kasih sayang, dan keakraban tanpa memandang gender. Pandangan ini sangat penting untuk membangun hubungan yang sehat dan harmonis.

Secara psikologis, berpelukan memberikan banyak manfaat bagi saya. Ini membantu mengurangi stres, meningkatkan perasaan nyaman, dan memperkuat ikatan sosial. Berpelukan juga dapat merangsang produksi hormon oksitosin, yang dikenal sebagai “hormon cinta”, yang membantu meningkatkan mood dan rasa bahagia.

Saya pernah mengalami situasi di mana seseorang enggan untuk dipeluk. Hal ini terjadi saat saya ingin memeluk seorang teman yang baru saja kehilangan anggota keluarganya. Saya memahami bahwa tidak semua orang nyaman dengan kontak fisik. Alasan mereka mungkin beragam, termasuk perbedaan budaya, pengalaman pribadi, atau preferensi individu.

Di tempat kerja, saya juga pernah melihat budaya berpelukan diterapkan untuk menciptakan suasana yang lebih informal dan setara. Saya setuju dengan pendekatan ini karena dapat membantu mengurangi ketegangan dan membangun hubungan kerja yang lebih baik. Namun, penting untuk selalu menghormati batasan pribadi dan memastikan bahwa semua orang merasa nyaman.

Selama pandemi Covid-19, keterbatasan dalam kontak sosial, termasuk berpelukan, sangat mempengaruhi saya. Saya merasakan kehilangan kehangatan dan kedekatan yang biasanya dirasakan melalui pelukan. Berpelukan sangat penting dalam konteks kesehatan mental karena memberikan rasa nyaman dan mendukung kesejahteraan emosional, terutama di masa-masa sulit.

Kepada Sahabat Ruanita, saya ingin menyampaikan bahwa berpelukan memiliki banyak manfaat baik dari perspektif budaya maupun psikologis. Ini membantu memperkuat hubungan sosial, memberikan dukungan emosional, dan meningkatkan kesejahteraan mental. Jangan ragu untuk menunjukkan kasih sayang melalui pelukan, selama itu dilakukan dengan rasa hormat dan kesadaran akan batasan pribadi. 

“Hugs are the heartbeat from the soul to the soul.” — Terri Guillemets. Dan seperti banyak bahasa cinta yang dilakukan oleh manusia, pelukan adalah bahasa cinta yang tidak perlu berbahasa: hanya butuh dua tangan yang terulur dan empati.

Penulis: Siwi yang tinggal di Berlin, Jerman dan dapat dikontak via akun Instagram @swdiary95. 

(SIARAN BERITA) Workshop Jamu: Warisan Budaya Indonesia untuk Kesehatan Musim Dingin di Eropa

JERMAN – Hari ini, (15/01) Workshop Jamu yang bertemakan “Jamu: Warisan Penyembuhan Tradisional Indonesia untuk Kesehatan di Musim Dingin” resmi dibuka. Acara ini diperkenalkan kepada para mahasiswa internasional di Universitas Passau sebagai seni penyembuhan tradisional Indonesia melalui jamu, yang juga merupakan bagian penting dari warisan budaya tak benda Indonesia.

Pembukaan acara diawali oleh sambutan dari Perwakilan KJRI Frankfurt melalui video, yang menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif ini meskipun tidak dapat hadir secara langsung. Sebagai informasi, KJRI Frankfurt telah memfasilitasi workshop jamu ini agar acara berjalan sukses.

Selain itu, hadir di lokasi, Dr. rer. grout. Roniyus Marjunus, S.Si., M.Sc., Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin tampak memenuhi undangan untuk memberikan sambutan setelah KJRI Frankfurt.

Dalam sambutannya, Atdikbud KBRI Berlin menekankan pentingnya jamu sebagai simbol warisan budaya dan potensinya dalam mempererat hubungan akademik serta diplomatik antara Indonesia dan komunitas internasional.

Workshop ini bertujuan untuk memperkenalkan jamu sebagai solusi kesehatan yang alami dan berkelanjutan, terutama di tengah musim dingin. Selama sesi interaktif yang berlangsung selama tiga jam, para peserta tidak hanya belajar teori tentang jamu, tetapi juga berkesempatan untuk mempraktikkan pembuatan dan mencicipinya secara langsung.

Melalui acara ini, diharapkan tercipta pemahaman budaya yang lebih baik dan penguatan hubungan antara Indonesia dengan komunitas akademik internasional, khususnya di Jerman. Selain itu, program ini juga menjadi langkah strategis dalam mempromosikan potensi ekspor jamu dan relevansinya dalam diskusi kesehatan global masa kini.

Workshop Jamu ini merupakan salah satu program unggulan yang diinisiasi oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Frankfurt, bekerja sama dengan Universitas Passau, guna memupuk dialog lintas budaya dan jembatan pendidikan serta membangun kerja sama yang lebih kuat di masa mendatang.

(CERITA SAHABAT) Hormati Prinsip Seseorang yang Stay Single, Bukan Malahan Lakukan Single Shaming

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan namaku Nita dan sekarang tinggal di Indonesia. Aku hampir 6 tahun menetap di Jerman untuk melanjutkan studi. Di tahun 2024, aku kembali tinggal di Indonesia. Sehari-hari, aku bekerja sebagai pengajar bahasa di kota kecil di Jawa Tengah. Tahun ini, aku akan berumur 36 tahun.

Senang sekali dapat bersuara lewat tema Single Shaming dalam program cerita sahabat ini. Bagaimana pun aku merasa tertekan dan tidak nyaman saat orang lain membahas status single aku, kehidupan privasiku atau latar belakang ceritaku sendiri. Sejak aku tinggal di Eropa, kehidupanku di sana seolah-olah mengajarkan bahwa ada beberapa hal yang termasuk ranah privasi dan tidak seharusnya orang lain ikut campur lebih dalam. 

Salah satunya adalah hal yang menyangkut status dan hubungan. Selain itu, aku juga punya kisah mengenai hubungan yang tidak mengenakkan di masa lalu sehingga mempengaruhi keputusanku untuk stay single sampai sekarang. Alasan ini pun bersifat pribadi sehingga orang lain tidak perlu tahu. Kedua alasan inilah yang menyebabkan rasa tidak nyaman itu muncul ketika orang lain membahas status Single aku.

Tidak mudah untuk mempertahankan prinsip, terlebih menyangkut status hubungan “stay single” ini. Biasanya orang-orang di sekitarku merespon beragam ketika mereka tahu aku masih single. Ada yang merasa kasihan, ada yang mengolok-olok, tetapi ada juga yang bersikap biasa saja. 

Terkadang aku merasa orang-orang di sekitarku menghakimiku hanya karena statusku yang masih lajang. Contohnya, ketika aku berkumpul dengan teman-teman lama dari masa sekolah dulu. Sebagian besar dari mereka yang sebenarnya tidak dekat denganku akan bertanya padaku. Apakah aku sudah menikah atau belum? Mereka kemudian memberikan komentar negatif yang bernada menyalahkan dan menuduh aku yang terlalu pemilih. Ada juga yang beranggapan status akademikku yang menurut mereka terlalu tinggi, hingga tidak ada pria yang berani mendekatiku. 

Aku sendiri tidak ambil pusing pendapat atau komentar orang lain terhadap statusku yang masih melajang. Kadang aku tidak memberikan jawaban yang serius. Kadang aku bawa jadi guyonan saja, daripada aku merasa sakit hati pada akhirnya. Aku menyadari bahwa orang Indonesia memang belum siap apabila mendapat jawaban yang serius dan bersifat kritik pedas, ketika mereka bertanya atau berkomentar tentang status single orang lain. 

Di sisi lain, aku merasa ada momen di mana aku seperti dipaksa untuk segera mencari pasangan. Hal ini lebih kuat datang justru dari keluargaku sendiri, terutama ibuku. Berulang kali aku mencoba untuk memberikan pengertian ke ibuku, bahwa saat ini aku memang tidak fokus untuk mencari pasangan. Aku sekarang sedang lebih fokus untuk membangun karir terlebih dahulu. Kadang aku juga cuma bercanda dengan merespon: “Aku mau menikah dengan siapa, wong pacar aja tidak punya”. 

Menurutku, masyarakat sah saja memiliki pandangan yang kuat tentang pentingnya memiliki pasangan. Itu mungkin berkaitan dengan kultur dan kepercayaan orang Indonesia yang masih kolot (tradisional). Mereka masih menganggap bahwa perempuan mempunyai masa expired berdasarkan umur. Pendapat ini tentu saja dikaitkan dengan kemampuan reproduksi seorang perempuan. Jika seseorang tidak memiliki pasangan, maka orang tersebut merupakan outlier atau outcast di masyarakat yang perlu dikasihani, karena mereka tidak seperti orang-orang kebanyakan. 

Beruntungnya, masih ada saja orang yang bersedia mendukung keputusanku untuk fokus pada karier. Dari keluarga, justru kakak iparku yang mendukungku untuk fokus membangun karier terlebih dahulu. Setelah berkarier, aku kemudian bisa memutuskan untuk mempunyai pasangan dan menikah. Selain itu, di luar keluarga masih ada sahabat-sahabatku yang mengetahui perjalanan hidupku. Mereka juga mendukungku untuk menjalani hidup sesuai dengan pace-nya saja. Mereka selalu mendengar, jika aku bercerita dan memberikan afirmasi positif terhadap semua keputusan yang aku ambil. 

Aku perlu memperhatikan kebahagiaanku sendiri, meskipun itu tidak mudah menghadapi tekanan di tengah lingkungan sekitar terhadap status lajangku. Caraku menjaga kepercayaan diri adalah dengan menyibukkan diri dengan pekerjaanku saat ini. Aku juga selalu bertemu dengan banyak orang. Walaupun aku belum punya pasangan, aku bisa menunjukkan kalau aku adalah orang yang mudah bergaul di lingkungan manapun. Selain itu, aku juga berusaha menikmati setiap proses kehidupan dan menikmati hari-hariku dengan teman-temanku. Aku pun senang melakukan hobiku. 

Kembali lagi soal tema single shaming, aku pernah berbicara secara langsung dengan orang yang melakukannya padaku. Kebetulan orang tersebut berasal dari saudara jauhku. Ketika aku memberikan pendapatku, mereka langsung terdiam. Akhirnya, mereka hanya bisa bilang “iya juga ya”. Seolah-olah komentar mereka itu hanyalah basa-basi saja, yang tidak ada efeknya. Padahal mereka seharusnya berpikir terlebih dulu tentang perasaanku, sebelum berbicara. 

Lewat cerita sahabat ini, aku ingin menyampaikan pesan kepada mereka yang sering memberikan komentar negatif tentang status single seseorang. Tolong normalisasi bahwa urusan status single seseorang itu adalah suatu privasi. Artinya, orang lain tidak perlu berkomentar atau mempertanyakan lebih lanjut, apabila hanya untuk basa-basi atau olok-olok semata. Bagaimana pun kalian tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dengan orang tersebut, sehingga mereka memilih untuk stay single. Hargai prinsip hidup seseorang tersebut yang (mungkin) masih memilih untuk berstatus single

Penulis: Nita dan dapat dikontak via akun instagram msiyuun_

(SWG) Bagaimana Kesetaraan Gender di India?

Melanjutkan episode ke-2 program Sharing with Guchi (SWG), Cindy Guchi yang menjadi host dari program ini mengundang sahabat Ruanita, yakni perempuan berkebangsaan India yang tinggal di West Bengali dan berprofesi seagai Researcher dan Lecturer sekarang. Dia bernama Sanchali Sarkar yang dapat dikontak lewat akun instagram sanchali_s yang juga kini sedang menempuh pendidikan PhD di Jerman.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Cindy, program ini bertujuan untuk memberikan ruang untuk diskusi antara Cindy sebagai perempuan Indonesia dan perempuan dari negara lain tentang topik menarik dan bagaimana perspektif mereka terkait dengan tema yang ditawarkan di negara mereka.

Pada episode ke-2, Cindy mengangkat tema kesetaraan gender di India yang masih menjadi isu yang kompleks dan bagaimana implementasinya, sepanjang pengamatan dan pengetahuan dari informan yang juga menjadi dosen keseteraan gender di salah satu universitas di India.

Berbicara tentang kesetaraan gender, Sanchali menyatakan bahwa masih ada ketimpangan gender di negara tempat tinggalnya. Menurut informan, ada banyak faktor yang menyebabkan ketimpangan terjadi seperti: masalah keluarga, agama, seksualitas, kasta, dan benturan budaya yang membuatnya sulit diimplementasikan.

Misalnya, pernikahan anak di India yang sudah dilarang sejak tahun 2006 tetapi faktanya masih saja terjadi pernikahan anak yang terjadi di masyarakat di negara tinggal Sanchali. Padahal, aturan menikah sudah jelas ketat yakni laki-laki berumur 21 tahun dan perempuan berusia 18 tahun, tetapi antara peraturan dan implementasi begitu timpang.

Sanchali mengakui bahwa struktur di masyarakat tempat tinggalnya begitu sangat patriakal, meskipun banyak juga yang mengakui bahwa undang-undang yang dibuat oleh pemerintah India sudah berpihak pada perempuan. Dalam realitanya, itu begitu sulit bagi orang-orang untuk mengaksesnya.

Tema-tema menarik apa saja yang dibahas dalam antara Cindy dengan Sanchali? Mengapa kesetaraan gender di India begitu sulit diterapkan? Apa pesan Sanchali kepada perempuan India dan perempuan seluruh dunia?

Simak selengkapnya program Sharing with Guchi (SWG) episode ke-2 berikut ini dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi.

Sharing With Guchi adalah program bincang-bincang digital yang diproduksi oleh Ruanita Indonesia. Di sini, kami mengangkat cerita, pengetahuan, dan perspektif yang memperkuat suara perempuan global bersama perempuan Indonesia yang menjadi #relawanruanitaindonesia dalam wacana global. Lewat percakapan hangat dan bermakna, SWG bertujuan mendorong solidaritas, pembelajaran, dan aksi nyata.

(CERITA SAHABAT) Terima Kasih Itu Bukan Hanya Perlu, Melainkan Harus

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan nama saya Theresia Indri Noviatun Assenheimer. Saya biasa dipanggil Iin. Saat ini, saya tinggal di Dietzenbach, suatu kota kecil 15 Kilometer dari Frankfurt, Jerman

Sejak tahun 1993, saya tinggal di Dietzenbach. Saya lahir dan dibesarkan di Yogyakarta dan telah menyelesaikan pendidikan sarjana di IKIP Sanata Dharma Yogyakarta.

Saya adalah ibu dari dua orang putra yang sudah dewasa. Anak pertama sudah bekerja, sedangkan anak kedua masih menyelesaikan studi Master di Universitas St. Gallen, Swiss.

Sejak anak pertama saya berusia 11 bulan, saya bekerja paruh waktu di suatu toko kado dan peralatan rumah tangga di Offenbach. Sejak tahun 1998 sampai sekarang, saya bekerja 25 jam per minggu di suatu Supermarket di Offenbach. Meskipun hanya separuh hari, tetapi saya dipercaya untuk memegang Backstation atau Bakery.

Di waktu senggang saya suka menulis kecil-kecilan dan sederhana di kompasiana. Kesenangan menulis baru saya mulai pada saat pandemi Covid-19 lalu. Selain itu, saya juga aktif melayani di paroki di mana kami tinggal. Tanggung jawab saya seperti menata bunga di sekitar altar di gereja. Untuk merangkai bunga di gereja ini memang sudah saya lakukan sejak di Yogyakarta. Hobi ini berlanjut  pada tahun 1995, saya mengikuti kursus merangkai bunga di VHS di Dietzenbach.

Saya juga aktif melayani di Komunitas Masyarakat Katolik di Frankfurt sebagai kuster atau menyiapkan perayaan Misa. Saya tergerak menuliskan tema “Terima Kasih” yang sudah menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Kata terima kasih sangat penting bagi saya. 

Suatu saat, saya bertemu dengan seorang rekan kerja lama, yang mana kami sama-sama. pernah bekerja di supermarket yang sama. Rekan kerja saya itu terkesan pada saya, karena saya selalu bilang terima kasih. Misalnya, saat saya duduk di kasir dan memanggil rekan kerja lainnya agar kasir berikutnya dapat dibuka, bila antrian sudah panjang. Rupanya rekan kerja saya terkesan, karena saya tidak hanya memanggil nama sambil  berkata Bitte (Silakan, dalam Bahasa Indonesia), tetapi juga selalu diakhiri dengan Danke (terima kasih). 

Rekan kerja saya tersebut berpendapat, bahwa panggilan mikrofon yang saya lakukan selalu ada kata Bitte dan diakhir dengan Danke. Sebisa mungkin saya mengucapkan terima kasih juga untuk hal-hal sederhana. Misalnya, saya selalu berucap terima kasih kepada seseorang yang menahan pintu, ketika kami memasuki suatu ruangan. 

Ucapan terima kasih merupakan penghargaan kepada orang lain. Nyatanya, itu tidak mudah untuk mampu mengucapkan terima kasih dengan tulus dari hati. Saya merasa kuncinya adalah kerendahan hati. Menurut saya, seseorang yang memiliki kerendahan hati tidak sulit untuk mengucapkan terima kasih.

Dalam ucapan terima kasih tersirat rasa syukur, seperti syukur karena kebaikan orang lain. 

Jadi, menurut saya mengucapkan terima kasih itu perlu,  bahkan harus.

Budaya mengucapkan terima kasih bagus karena membuat hubungan dengan orang lain lebih nyaman. Ucapan terima kasih, baik yang diterima maupun diberikan, membuat nyaman yang menerimanya, meskipun kadang dikatakan tanpa senyuman. Bagi kita orang timur, kata terima kasih selalu diiringi dengan tersenyum.

Sering saya mendapati orang-orang tidak mengucapkan terima kasih. Menurut saya, mungkin saja mereka tidak terbiasa mengucapkan terima kasih. Misalnya, saat mereka sedang membayar di kasir dan uangnya tidak cukup, masih beberapa Cent. Kekurangan beberapa Cent tersebut saya ikhlaskan, meskipun orang tersebut tidak saya kenal. Setelah saya relakan beberapa Cent kepada orang tersebut, dia tidak mengatakan terima kasih sama sekali. Dia hanya cukup mengatakan „Ok“.

Ada kemungkinan mereka tidak terbiasa. Mungkin saja mereka begitu tiba-tiba, sehingga mereka bisa saja tidak terpikir bilang terima kasih. Ada kemungkinan lain orang tersebut tidak bisa Bahasa Jerman. Sekarang, Jerman telah menjadi negara multikultural dan banyak orang juga bukan orang Jerman yang bisa jadi tidak mengerti Bahasa Jerman.

Kalau kita melakukan sesuatu yang baik pada orang lain, kemudian orang tersebut tidak mengucapkan terima kasih, maka ya sudahlah! Saya selalu berpikir memberi saja dan membuat kebaikan saja,  tidak perlu berharap orang mengucapkan terima kasih. 

Sejak kecil di rumah, anak- anak saya telah terbiasa mengucapkan terima kasih mulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, setelah kami selesai makan bersama, maka anak-anak hampir selalu mengatakan „Danke Mama für leckere Essen„  atau “Terima kasih mama untuk makanan yang enak.”

Demikian juga saya mengatakan terima kasih untuk anak- anak, apabila anak-anak membantu saya membereskan meja makan, dan lain sebagainya. Saat ini, anak- anak tidak tinggal di rumah lagi. Bila mereka datang, saya mengucapkan terima kasih juga untuk waktunya dan kedatangan mereka. 

Dalam keluarga, terkadang kita menyepelekan dan sudah biasa tidak perlu mengucapkan terima kasih, karena hubungan sangat dekat. Tidak! Menurut saya, terima kasih itu perlu dalam relasi apa pun, seperti suami istri, orang tua dan anak, anak dan orang tua, dan seterusnya.

Saya yakin ucapan terima kasih yang biasa dan sederhana akan menyenangkan dan membahagiakan. Kalau hal ini dibiasakan dari rumah, maka anak-anak pun tidak sulit untuk mengucapkan terima kasih di luar rumah.

Menurut saya, ucapan terima kasih sangatlah perlu. Ucapan terimakasih disampaikan di mana saja, bila diperlukan, bahkan dengan orang yang tidak dikenal. Dari ucapan terima kasih yang biasa dan sederhana ini, tentu akan membuat nyaman siapa saja.

Penulis: Iin Assenheimer yang tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun Instagram iinassenheimer.

(PODCAST RUMPITA) Berbagi Cerita Merantau Bersama “The Perantau” di Australia

Program RUMPITA – Rumpi bersama Ruanita – dalam episode berikut dipandu oleh Anna dan Putri yang tinggal di Jerman, yang membahas tentang pengalaman merantau di luar negeri. Untuk memperkaya cerita merantau, Anna mengundang Founder of The Perantau, yakni podcast yang dikhususkan untuk berbagi cerita merantau di seputaran benua Australia.

Billy sendiri telah berhasil menyelesaikan studi S1 dan S2 di salah satu universitas di Melbourne, Australia. Rekaman Podcast sudah dilakukan sejak tahun lalu. Selain mengelola Podcast “The Perantau”, Billy juga bekerja sebagai Digital and Social Journalist dan University Tutor. Lainnya, Billy aktif sebagai research assistant di Australia.

Dengan pengetahuannya di bidang komunikasi dan keahliannya, Billy mengajak teman-temannya untuk mengelola podcast “The Perantau” yang berisi serba-serbi kehidupan merantau di Australia. Bagi warga di Indonesia, Podcast “The Perantau” kini juga hadir di platform “Noice” dan APPLE PODCAST.

Berawal dari pengalamannya selama Pandemi Covid-19, Billy menemukan aktivitas barunya dengan membuat rekaman Podcast bersama orang-orang Indonesia di sekitarnya. Tentunya, begitu mudah bagi Billy bertemu dengan sesama orang Indonesia karena Melbourne banyak dihuni oleh perantau dari Indonesia. Selain itu, Billy juga aktif di PPI Australia, yang beragam jumlah dan jenisnya.

Billy menyebutkan ada sekitar dua ribu mahasiswa Indonesia di Melbourne. Belum lagi, Billy juga bisa menjumpai restoran khas masakan Indonesia, yang tentunya hal ini tidak mudah didapat di negara lain. Suasana merantau yang berbeda dibandingkan mereka yang merasa sendirian di negeri rantauan.

Lewat Podcast “The Perantau”, Billy menjumpai sesama perantau Indonesia yang sudah lebih puluhan tahun tinggal di Melbourne atau merintis usaha di negeri rantauan. Bagi Billy, setiap cerita yang dikemas dalam “The Perantau” selalu ada tujuan dan maksud yang ingin disampaikan, meski Billy tidak menyebutkan target market pendengarnya.

Apa yang mendasari Billy mengelola Podcast “The Perantau”? Apa saja strategi yang dikembangkan Billy dalam membagi waktu antara mengelola Podcast dengan pekerjaannya sehari-hari? Apa saja yang ditawarkan Billy lewat podcast ini? Apa pesan Billy bagi sahabat Ruanita yang ingin merantau, terutama merantau ke Melbourne, Australia?

Simak selengkapnya dalam diskusi podcast RUMPITA berikut ini:

(DISKUSI ONLINE) Awali Tahun 2025, Ruanita dan Komunitas Indonesia di Eropa Gelar Diskusi Inspiratif

Frankfurt, JERMAN – Memulai tahun baru dengan semangat positif, Ruanita Indonesia bekerja sama KJRI FRANKFURT, ALZI Nederland, komunitas ALZI Jerman, dan SELINDO mengadakan diskusi bauran/hybrid bertema “Awali Tahun Agar Aktif dan Produktif Sejak Usia Emas”.

Acara ini dirancang untuk menginspirasi warga Indonesia di Eropa, agar tetap sehat, produktif, dan terhubung secara sosial. Acara ini akan diselenggarakan pada Sabtu, 4 Januari 2025, pukul 11.00–13.00 CET (17.00–19.00 WIB) melalui platform Zoom Meeting.

Banyak warga Indonesia yang tinggal di Eropa menghadapi tantangan khas, seperti keterbatasan dukungan sosial dan perubahan gaya hidup. Dalam diskusi ini, peserta akan diajak untuk mengeksplorasi cara menjaga kesehatan fisik dan mental serta mempererat solidaritas dalam komunitas.

Konjen RI untuk Frankfurt, Antonius Yudi Triantoro berkesempatan membuka acara diskusi ini dan menjelaskan bahwa acara ini dirancang untuk memberikan ruang berbagi dan belajar. “Kami berharap diskusi ini dapat memberikan inspirasi baru bagi warga senior untuk menjalani hidup lebih bermakna dan terhubung,” ujarnya.

Diskusi ini akan menghadirkan pemateri terkemuka, di antaranya:

  • Antonius Yudi Triantor (Konjen RI Frankfurt), yang akan memberikan sambutan pembuka.
  • Danny Yatim, penulis buku Tetap Aktif di Usia Emas dan psikolog.
  • dr. Dara R. Pabittei, Elderly Care Physician dan penggiat Alzheimer Demensia dari ALZI Nederland, yang akan berbagi wawasan tentang kesehatan otak.
  • Rusdin Sumbajak, perwakilan SELINDO (Senior Lansia Indonesia di Jerman), yang akan menjadi penanggap diskusi.

Diskusi ini mencakup sesi inspiratif dan interaktif, termasuk pembahasan tentang:

  • Menjaga produktivitas di usia emas oleh Danny Yatim.
  • Kesehatan otak dan cara mencegah demensia oleh dr. Dara R. Pabittei.
  • Sesi tanya jawab interaktif untuk berbagi pengalaman hidup di usia lanjut.

Acara ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memulai tahun baru dengan semangat aktif dan produktif. “Melalui kolaborasi lintas komunitas ini, kami ingin memperkuat solidaritas dan dukungan sosial bagi warga Indonesia di Eropa,” tambah Teti Arndt, komunitas ALZI Jerman.

Untuk materi informasi diskusi, silakan simak di kanal YouTube kami dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi: