(CERITA SAHABAT) Kanker, Cinta, dan Harapan Baru di Swedia

Halo, sahabat Ruanita! Saya Rizki, atau biasa dipanggil Kiki. Saya pindah ke Swedia sejak empat tahun lalu, terhitung sejak September ini. Sekarang saya bekerja full time di Swedia. Saya senang bisa berpartisipasi dalam program cerita sahabat yang dikelola Ruanita Indonesia, apalagi tema ini adalah tentang hari kepedulian kanker sedunia. Saya adalah caregiver dari suami yang meninggal beberapa tahun lalu, karena terminal kanker liver.

Saat saya pertama kali menginjakkan kaki di Swedia, saya tak pernah membayangkan perjalanan hidup saya akan penuh dengan cobaan besar. Suami, yang saya kenal sebagai sosok pekerja keras dan penuh kasih, adalah segalanya bagi saya. Namun, hidup memiliki cara tersendiri untuk menguji kita.

Musim panas 2021 menjadi awal dari perubahan besar dalam hidup saya. Suami saya yang selama ini tampak sehat, mulai sering diare. Awalnya, kami menganggapnya masalah biasa, mungkin efek makanan atau intoleransi laktosa. Namun, diare itu tidak kunjung sembuh, ditambah demam tinggi setiap malam. Di tengah kebingungan, kami bolak-balik ke dokter, menjalani berbagai tes hingga akhirnya ditemukan tumor di livernya.

Diagnosis awal menyebutkan tumor itu tidak ganas, dan rencana operasi segera disusun. Harapan kami tumbuh kembali. Tapi, tiga bulan kemudian, hasil tes lanjutan memberi kami pukulan yang tidak pernah kami duga: kanker liver stadium terminal. Dokter memperkirakan usianya tinggal enam bulan.

Diawali dengan diare yang terus-menerus hingga demam tinggi setiap malam, kami mengira ini hanya masalah pencernaan biasa. Namun, rangkaian kunjungan ke rumah sakit mengungkap kenyataan pahit: ada tumor di livernya. Hasil awal menyatakan tumor itu tidak ganas, tapi kondisinya terus memburuk. Setelah tiga bulan, diagnosis akhir menyatakan kanker hati stadium terminal. Dokter memprediksi usianya hanya tersisa enam bulan.

Saya hancur mendengar kabar itu. Tetapi dia—suami saya—memilih untuk tegar. Di tengah air mata saya yang tak terbendung, dia menggenggam tangan saya, memberi ketenangan yang rasanya jauh dari jangkauan saya saat itu.

Menjadi caregiver bukanlah sesuatu yang pernah saya bayangkan, apalagi dalam kondisi berada di negara asing. Setiap hari, saya belajar menjadi perawat darurat—mempersiapkan obat, memberi suntikan, hingga merawatnya di rumah. Melihat tubuhnya melemah, bekas suntikan yang membiru di perutnya, rasanya hati saya pecah. Tapi saya tahu, saya harus kuat. Saya harus ada di sana untuknya.

Sistem kesehatan di Swedia sangat membantu, memberikan kami akses langsung ke dokter dan perawat khusus. Tapi, sebagai seorang pendatang, kendala bahasa dan budaya sering membuat saya merasa terasing. Dia selalu berusaha menguatkanku, bahkan meminta istri sahabatnya mengajak saya keluar rumah untuk sekadar menghirup udara segar. “Kamu perlu keluar, meskipun hanya sebentar,” katanya.

Momen paling sulit dalam hidup saya adalah saat-saat terakhirnya. Saya  ingat malam itu, ketika suhu tubuhnya tak kunjung turun meskipun sudah diberi obat. Saya memeluknya erat, berdoa tanpa henti, berharap ada mukjizat. Dalam detik-detik terakhir, dia menggenggam tanganku dan berbisik, “Aku mencintaimu. Semua akan baik-baik saja.” Saya tahu itu caranya berpamitan, memberi saya kekuatan untuk melanjutkan hidup.


Saya mendapati diri saya berada di medan yang tidak pernah saya siapkan. Merawat seseorang yang Anda cintai saat ia perlahan melemah adalah perjuangan fisik dan mental yang tiada duanya. Setiap hari saya belajar melakukan banyak hal: memberikan suntikan, menyiapkan makanan, hingga memastikan ia nyaman di tengah rasa sakitnya. Semua itu dilakukan tanpa memikirkan diri sendiri.

Sulit berada di negara asing tanpa dukungan yang saya butuhkan. Bahasa menjadi kendala, dan saya sering merasa sendirian. Namun, dia selalu menemukan cara untuk mendukung saya, bahkan dalam kondisi tubuhnya yang semakin lemah. “Pergilah keluar sebentar, ngopi dengan istri sahabatku,” katanya. Meski berat meninggalkannya, saya tahu dia ingin saya tetap kuat.

Dari perjalanan ini, saya belajar banyak hal. Saya belajar untuk menghargai setiap momen, sekecil apa pun. Saya belajar untuk mencintai tanpa syarat dan berdoa tanpa henti. Kehilangan memang menyakitkan, tapi cinta yang kami miliki membuat segalanya lebih ringan.

Tiga minggu setelah diagnosis terminal, dia meninggal dunia. Momen itu begitu cepat, tapi sekaligus melegakan karena saya tahu ia tak lagi merasakan sakit. Sebelum ia pergi, ia menggenggam tangan saya erat dan berbisik, “I love you. Everything will be okay.”

Dalam kehilangan, saya belajar banyak tentang kekuatan cinta dan doa. Saya belajar untuk selalu menghargai waktu bersama orang-orang yang kita sayangi, sekecil apa pun momennya. Perjuangan kami melawan kanker adalah pengingat bahwa setiap hari adalah anugerah.

Pesan untuk Hari Kanker Sedunia

Saya ingin berbagi pesan kepada siapa pun yang menghadapi perjalanan ini: jangan pernah berhenti berdoa, berharap, dan mencintai. Sebagai caregiver, kita bisa menjadi pilar kekuatan bagi orang yang kita cintai. Jangan ragu untuk meminta bantuan dari keluarga atau teman, dan luangkan waktu untuk menjaga kesehatan mental Anda sendiri.

Untuk Sahabat Ruanita, mari kita tunjukkan kepedulian kepada mereka yang berjuang melawan kanker, baik pasien maupun caregiver. Terkadang, dukungan kecil seperti mendengarkan atau memberi pelukan hangat bisa membuat perbedaan besar.

Hari Kanker Sedunia bukan hanya tentang kesadaran akan penyakit ini, tetapi juga tentang cinta, keteguhan, dan harapan. Semoga cerita saya dapat menjadi pelita kecil bagi mereka yang sedang berjalan di jalan penuh duri ini.

Penulis: Kiky, relawan Ruanita Indonesia di Swedia yang dapat dikontak via akun instagram: little_monkey2016.