
Senjata Puan Itu Lukanya
jiwa puan seperti peta perang
dan raganya adalah sisa lebam yang tak mungkin semula
kadang cuma menuntut diam,
kadang menuntut tunduk
kuat, kuat, kuat,
begitu orang cuma minta ia kuat;
bekas belur lebur itu kini mirip ruhnya
ruh yang tak selalu bertutur itu
ia tutup rapat dalam peti cekung pipinya
menelan duka dalam punggung tunggal
seakan malam tak pernah menagih air mata
di punggungnya tertulis besar-besar :
“tidak nenerima lelah”
dalam hening yang ia peluk erat
ada bara menyala lirih
bukan untuk melawan
hanya untuk mengingat—
luka melewati simbol kekalahan
ia pagar gahar tanpa kelakar.
Oleh Silvani Andalita (IG @silvaniandalita)