(CERITA SAHABAT) Mulai dari Cerita Horor ke Cerita Supranatural di Turki

Halo, sahabat Ruanita! Kembali lagi dengan saya Karin yang tinggal di Turki. Ini adalah kali ketiga, saya berpartisipasi dalam program cerita sahabat. Tulisan saya yang pertama dan kedua, bisa kalian baca langsung di website Ruanita ya, www.ruanita.com

Kali ini, saya akan berbagi pengalaman yang berbeda. Saya bercerita tentang pengalaman mistis, yang belum tentu mudah dipercayai. Saya sudah lebih dari empat tahun tinggal di Turki. Setelah menikah, pada bulan september 2020, kami pindah ke ‘Apartemen Baru’. Apartemen tersebut benar-benar baru dibangun dan penghuninya hanya ada beberapa orang, termasuk kami. 

Kami tinggal di lantai 2 nomor 9. Bangunan apartemen kami hanya memiliki empat lantai dan letak apartemen kami berada di pojok, dekat dengan lift. Pada hari pertama kami pindah, kebetulan suami saya saat itu punya jadwal shift malam. Saya pun tidur sendirian akhirnya di kamar. Pada pukul 23.30, suami saya berangkat kerja. Setelah suami saya pergi, saya kembali ke kamar untuk siap-siap tidur. Sebelum tidur seperti biasa, saya membaca doa dan mematikan lampu kamar. 

Saat saya tertidur saya bermımpi, dikejar- kejar seorang pria. Dalam mimpi tersebut, pria itu mencekik leher saya dan mendorong saya ke arah pohon besar. Cekikannya terasa sangat kencang sehingga saya susah bernafas dan perlu meminta tolong. Tiba-tiba, almarhum ayah saya datang ke mimpi dan menepuk-nepuk bahu, sambil memanggil panggilan kecil saya (dede). Ayah saya memanggil dengan suaranya bass-nya dan nada medok orang Jawa. Ayah saya memanggil:  ‘De… De… De… Dedeee’. Seketika saya terbangun dengan nafas terengah-engah. Saya merasa lelah sekali saat itu. Saya kemudian cek handphone, ternyata saat itu baru sekitar pukul 02.30 pagi. 

Rasa mengantuk saya kemudian hilang dan bercampur sedih haru. Dalam mimpi itu, saya merasa ayah saya sedang melindungi saya dari kejauhan. Karena saya tidak bisa tidur, akhirnya saya menunggu pagi sampai suami saya pulang bekerja. Saat sarapan, saya bercerita dengan suami. Menurut suami, apa yang saya alami merupakan ‘Sleep Paralysis’ di mana saya merasa seperti tidak bisa bicara dan tidak bisa melakukan apa-apa. Itu seperti pengalaman ketindihan. Secara logika, saya pun setuju karena sleep paralysis bisa dijelaskan secara medis. 

Hari kedua, saya masih tidur sendirian. Saat beranjak tidur, seperti biasa saya berdoa dan hanya menyalakan lampu tidur. Saya tertidur pulas, kemudian tiba-tiba saya terbangun di antara kenyataan atau mimpi. Saya merasa selimut saya tiba-tiba seperti ada yang menekan-nekan di pinggir kedua kaki saya. Saya merasa seperti ada gelombang besar dan dingin di atas selimut. Saya merasa seperti akan menggulung kaki saya. Saat itu, saya dengan sekuat tenaga menendang selimut dan langsung menyalakan lampu, termasuk lampu di kamar mandi. 

Saya melihat jam, ternyata jam menunjukkan pukul 02.30 pagi. Saya mencoba tidur lagi. Kali ini, saya tidur dengan lampu menyala. Tidak lama tertidur, saya terbangun lagi karena dari bawah selimut kaki saya seperti ada gelombang yang dingin. Namun, saya hanya merasa dari kaki sampai betis saja. Seketika saya bangun lagi dan melihat jam pukul  04.00 pagi waktu Turki. Pada akhirnya, saya menunggu sampai pagi atau suami saya tiba di rumah. Saya tidak menceritakan kepada suami karena saya sudah tahu jawabannya. Itu pasti dijawab dengan logika dan tidak akan percaya. 

Follow us

Hari ketiga tinggal di apartemen, saya shalat maghrib dan membaca surat yasin di kamar sebanyak 3 kali. Saat saya mau tidur, saya memegang tasbih dan berzıkir sampai saya tertidur. Alhamdulillah, hari ketiga saya bisa tidur dengan tenang. Selama satu minggu, saya membaca surat yasin sebanyak tiga kali, setelah shalat maghrib. Setelah kejadian itu, saya menanamkan di pikiran saya, bahwa semua itu hanya halusinasi. Mungkin pengalaman itu, disebabkan saya terlalu lelah atau capek. 

Pada tahun 2023, saat musim panas seperti biasa, saya dan suami suka memancing di laut. Sebelum memancing, saya biasanya menyiapkan bekal untuk makan di sana. Saat saya sedang memasak, suami saya mengatakan bahwa dia akan pergi ke parkiran mobil untuk menaruh barang-barang dan membeli umpan ikan. Tak lupa, suami bertanya kalau saya mungkin memerlukan sesuatu karena suami ingin pergi ke supermarket terdekat. Saya pun bersemangat untuk menyahut keperluan yang bisa dibeli di supermarket. Saya menduga suami akan berpergian selama lima belas menit dan segera kembali.

Sekitar lima menit berlalu, ada suara pintu mengetuk. Saya langsung bergegas untuk membuka. Saat saya membuka pintu,  tidak ada siapa-siapa di sana. Saya berpikir itu pasti anak kecil yang suka iseng. Biasanya ada anak kecil yang suka iseng memencet bel pintu. Saya pun segera lanjut memasak dan mengabaikan ketukan pintu tersebut. 

Saat saya lanjut memasak, kembali pintu depan diketuk tetapi bunyinya kali ini lebih kencang dengan dua kali ketukan. Saya pun menjawab ‘sebentar’. Ketika saya membuka pintu, tiba-tiba ada angin segar seperti melewati tubuh saya. Saya langsung merinding saat angin tersebut melewati tubuh saya itu. Padahal saat itu sedang musim panas lebih dari 32 derajat dan waktu itu sekitar pukul dua siang. Karena penasaran, saya pun bergegas keluar pintu mengecek lift dan tangga, apakah ada orang iseng yang mengetuk-ngetuk pintu. Namun, saya tidak menemukan siapa-siapa. 

Saat saya kembali masuk dan melanjutkan memasak yang hampir selesai, tiba-tiba pintu depan seperti membuka kunci pintu. Saya pikir orang itu adalah pencuri seperti dalam film serial Killer, yang mau masuk ke rumah. Ternyata suami saya pulang ke rumah. Di perjalanan memancing, saya bercerita kejadian tersebut. Suami saya merespon bahwa mungkin saja itu anak kecil yang biasanya iseng. Anak kecil biasanya mengetuk pintu, kemudian dia bersembunyi saat saya tidak tahu. Suami pun berujar bahwa dia juga dahulu sering melakukan keisengan serupa, memencet bel pintu tetangga dan langsung kabur. Mendengar penjelasan suami, saya pun mengamini kalau mungkin itu perbuatan anak kecil.

Pada tahun 2024 bulan Agustus, merupakan bulan terakhir musim panas. Kebiasaan saya saat akhir musim panas adalah saya membereskan dan menyimpan pakaian di bawah tempat tidur. Di bawah tempat tidur, ada tempat untuk penyimpanan barang. Saya menjadikannya sebagai tempat untuk menyimpan seprei, selimut, handuk, dan pakaian. 

Saat saya membuka kasur untuk menaruh barang di bawahnya, di atas kasur saya mendengar bunyi yang membuat saya kaget. Saya pun langsung melihat ke atas kasur, ternyata tidak ada apa-apa. Saya masih berpikir positif, bahwa itu mungkin masalah kasur saja. Saya kembali merapikan baju di bawah kasur saya tersebut, kemudian saya bercerita ke suami saya. Suami saya merespon bahwa itu mungkin disebabkan pegas penyangga, karena kami sudah memakainya sekitar empat tahun. Mungkin pula, kami sudah seharusnya  mengganti kasur yang baru. Dalam hati kecil saya, sebenarnya masih ragu apakah pegas kasur kami rusak, padahal kasur tersebut masih sangat layak dan enak dipakai. Saya pun sudah tidak memikirkan hal itu lagi. 

Beberapa hari setelah itu, suami saya mendapatkan giliran masuk shift malam.  Saya kembali tidur sendirian. Pada suatu malam, saya terbangun sekitar pukul 3.30 pagi. Saya mendengar suara tetapi tidak saya gubris. Saya pikir bahwa itu mungkin saja kucing di luar. Saya  pun sangat mengantuk saat itu dan saya tidur kembali. Saya tidak menghiraukan suara-suara tersebut. Pukul 07.00 pagi saya bangun dan pergi ke kamar mandi. Saat saya keluar dari kamar mandi dan hendak mematikan lampu lorong, yang dekat dengan pintu masuk. Saat saya hendak menekan saklarnya, saya melihat lampu bohlam terjatuh. Saya melihat ke atas, ternyata lampu bohlam dekat pintu masuk itu copot. Saya mengambil bohlamnya dan langsung badan saya merinding, teringat akan bunyi semalam. Hal ini yang belum bisa saya jelaskan secara logika, termasuk suami saya. Saat saya bercerita ke suami, dia hanya diam. Lampu bohlam tersebut benar-benar jatuh,  seperti orang mencopot lampu dan tidak ada retak atau goresan apapun. 

Saya selalu berpikir, apabila memang ada energi atau entitas lain, saya tidak peduli, asalkan tidak mengganggu kami di rumah. Karena kejadian-kejadian yang saya alami, saya menjadi lebih rajin membaca kitab suci, terutama saat malam jumat. Saya selalu menanamkan di pikiran saya, bahwa Allah menciptakan  manusia sebagai makhluk paling mulia, apabila kita bertaqwa kepadaNya. Oleh karena itu, saya tidak pernah takut karena saya selalu percaya Allah pasti melindungi saya dari segala marabahaya. Sejak saat itu sampai dengan hari ini saya menulis, tidak pernah ada hal-hal aneh lagi terjadi di apartemen saya. 

Cerita lain, di luar dari apartemen saya adalah, saat saya berkunjung ke usaha jahit milik sepupu suami saya. Tepatnya di pagi hari tahun 2023, saya pergi berkunjung ke sana.  Usaha jahit tersebut terletak di sebuah Ruko, yang berada tepat di bawah apartemen yang berbeda satu blok dengan saya. Saat itu, saya hanya sekedar berkunjung dan berbicara sedikit untuk melatih bahasa Turki saya. 

Di ruko tersebut, ada sepupu suami saya, ada seorang penjahit yang bekerja di sana, dan seorang nenek sedang duduk memegang satu gelas air putih, sambil membacakan mantra.  Selesai dia membacakan mantra, satu gelas yang dipegang nenek diberikan ke sepupu suami saya. Sepupu suami saya membagi air dalam satu gelas tersebut untuk dituang dan dicampurkan ke dalam dua botol air minum besar, berukuran 1.5 liter. Setelah itu, satu botol besar tersebut, sepupu suami saya minum airnya, mencuci mukanya, dan menyipratkan ke seluruh ruangan ruko miliknya. Dia mulai melakukannya mulai dari mesin jahit, komputer, kain-kainnya, benang-benangnya, bangku-bangku, sampai pada jendela yang dicipratkan air tersebut. 

Sisa air yang ada di botol kemudian disiram ke luar, tepatnya di pinggir-pinggir rukonya. Saya pun semakin penasaran dan bertanya ke dalam bahasa Turki. Saya bertanya tentang air tersebut dan mengapa dia melakukan hal tersebut. Saya pun bertanya perihal nenek yang membacakan mantra. Sepupu suami saya merespon pertanyaan saya sambil tersenyum. Dia mengatakan bahwa nenek yang datang membacakan mantra merupakan orang istimewa yang khusus datang untuk membuat air untuk “Nazar”. Nenek itu juga berdoa dengan menggunakan media air, agar dapat menjauhkan orang jahat yang mungkin mau menjatuhkan bisnis sepupu suami saya. Selain itu, sepupu suami saya juga berharap bahwa kehadiran nenek dan apa yang dilakukannya mendatangkan peruntungan, seperti banyak pelanggan yang datang ke usaha jahitnya.  

Saya pun menceritakan kepada sepupu suami bahwa tradisi di Indonesia pun ada dan biasanya mantra yang disampaikan itu berasal dari kitab suci. Sepupu suami saya pun menjawab, apa yang dibacakan nenek tadi pun bersumber dari kitab suci yang berbahasa Turki kuno. 

Hal lain terkait pengalaman mistis. Suami saya pernah ditawarkan oleh temannya untuk berkunjung ke suatu pedesaan di Turki, untuk mendatangi salah seorang ahli spiritual. Teman suami rupanya memiliki bisnis. Istrinya beliau juga orang asing. Mereka bermaksud mendatangi ahli spiritual dengan tujuan melihat peruntungan bisnisnya. Sekali mengunjungi ahli spiritual tersebut, teman suami saya membayar minimal 3000 lira atau sekitar 1.4 juta rupiah. Teman suami saya menjelaskan ahli spiritual tersebut melihat dari tanggal lahir dan astrology kita. Selanjutnya, dia memberitahu apa yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan untuk mendapatkan keberuntungan hidup. 

Suami saya tidak mempercayai hal seperti itu. Menurut logika suami, mungkin saja ahli spiritual tersebut adalah seorang motivator yang menyemangati orang-orang untuk dapat sukses dalam melakukan bisnisnya. Suami juga berpendapat mungkin saja ahli spiritual tersebut sebenarnya adalah seseorang yang bisa memanipulasi pikiran seseorang. Saya berpikir kembali, mungkin saja logika suami saya benar, karena suami saya benar-benar tidak percaya akan ada hal-hal seperti itu.

Sekian cerita dari saya, saya secara pribadi percaya bahwa ada entitas lain di dunia ini yang tidak terlihat secara kasat mata. Namun, percayalah selama kita adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepadaNya, kita tidak akan merasakan takut atau cemas, karena kita yakin bahwa Allah selalu ada untuk melindungi umatnya yang percaya akan kekuasaan-Nya. 

Penulis: Karin yang tinggal di Turki dan dapat dikontak via akun instagram @noviakarina19.

(CERITA SAHABAT) Kata dan Buku adalah Harta Karun Kita

Sahabat Ruanita pernah mendengar istilah tsundoku atau bibliomania?  Saya baru-baru ini saja mengenal istilah-istilah tersebut, tapi tenyata saya sudah lama menjadi salah seorang yang melakukan praktiknya.  Apa sih tsundoku atau bibliomania itu? 

Istilah ini ternyata mengacu pada seseorang yang lebih banyak membeli buku daripada membacanya.  Ya, salah satunya adalah saya. Meskipun sudah mencoba untuk mengurangi belanja buku, tetap saja koleksi buku saya lebih banyak dari waktu yang bisa saya luangkan untuk membacanya.

Dari situ saya sempat terpikir untuk membuat kelompok baca bareng, bahasa kerennya sih book club ya.  Selain untuk memberikan kesempatan buku-buku untuk dibaca orang lain juga, saya juga bermimpi bahwa lewat kegiatan itu saya bisa meluangkan waktu untuk semakin sering membaca dan menemukan teman untuk ngobrol tentang berbagai tema seru.

Beberapa tahun ide ini mengendap di kepala, sampai akhirnya terpikir, sepertinya harus mulai dari versi digital dulu.  Maka lahirlah akun Instagram Wortschatz Book Club (@wortschatz.bookclub) di akhir tahun 2019, yang disusul dengan kanal membaca nyaring di Youtube dengan nama yang sama.  

Mengapa namanya Wortschatz? Apalagi dicampur dengan Book Club, aduh, bahasa Jerman campur bahasa Inggris. Mana bahasa Indonesianya?

Nama ini saya pilih karena pertama, memang tujuan saya adalah sesama orang Indonesia yang tinggal di Jerman, atau orang Jerman yang tertarik akan buku dan bahasa Indonesia, sehingga mereka pasti sudah familiar dengan kata ini. 

Follow us

Alasan kedua, saya suka sekali terjemahan langsung dari kata Wortschatz.  Meskipun kata Wortschatz artinya adalah „kosakata“ dalam bahasa Indonesia, namun jika diterjemahkan mentah-mentah kata ini mengandung sebuah arti yang indah: harta karun kata-kata.  Coba bayangkan, betapa kata-kata adalah harta yang sangat berharga. 

Buku anak sendiri selalu menarik untuk saya karena saya suka sekali melihat dan membaca buku yang berwarna-warni.  Pada waktu saya mulai belajar bahasa Jerman, suami saya – yang pada saat itu bahkan belum berstatus sebagai pacar – membelikan saya sebuah buku anak berbahasa Jerman yang lucu sekali.  Sejak saat itu, saya jadi sering mencoba untuk membaca buku anak untuk menambah kosakata.  

Alasan lain mengapa saya tidak keberatan untuk membeli dan mengumpulkan buku anak adalah untuk memanjakan diri sendiri. 

Meskipun saya tumbuh di dalam keluarga dengan banyak buku dan bahan bacaan di rumah, membeli buku anak dengan kertas tebal, full color dan berhalaman sedikit bukanlah prioritas karena untuk kami termasuk mahal sekali. 

Buku anak masa kini pun isinya sangat beragam.  Tidak seperti di masa kecil saya di mana pilihan kami adalah membaca dongeng nusantara cetakan stensil hitam putih yang penuh dengan titipan pesan moral atau cerita-cerita terjemahan putri-putrian Disney.  Jadilah saya sangat menikmati berbagai buku bacaan anak yang bervariasi, seru dan juga menarik secara visual.

Sewaktu kecil orang tua saya rajin menceritakan dongeng Si Kancil dan membacakan nyaring buku, artikel surat kabar, bahkan serial komik Manusia Laba-Laba yang terbit setiap akhir pekan di koran lokal. 

Karena itulah ketika berpikir-pikir, bagaimana ya caranya „berbagi“ buku tanpa harus mengirim buku fisiknya, saya terpikir untuk melakukan aktivitas membacakan nyaring atau read aloud

Sebagai guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, saya juga merasa bahwa mendengarkan suara orang Indonesia yang membacakan kalimat-kalimat bahasa Indonesia dengan kecepatan yang terkontrol pasti juga membantu untuk memperkuat asosiasi antara tulisan dan ucapan kosakata bahasa Indonesia, melatih pendengaran sekaligus melatih pelafalan.

Saya sangat beruntung, karena saya mendapatkan kontak beberapa penerbit buku anak yang mengijinkan saya untuk membacakan buku-buku anak terbitan mereka, serta menampilkannya di kanal Youtube Wortschatz Book Club sebagai kegiatan non-profit. 

Dalam beberapa tahun terakhir ada juga semakin banyak alternatif bacaan anak berkualitas yang tersedia secara legal secara digital yang boleh digunakan dalam kegiatan literasi anak. 

Kalau kita berbicara tentang membaca, tentunya kita tak bisa lepas dari berbagai tujuan dari kegiatan membaca itu sendiri.  Selain membaca untuk bersantai, bersenang-senang atau masuk ke dunia fantasi, kita juga membaca untuk mengumpulkan informasi. 

Kita semua pasti pernah membaca buku demi menyelesaikan tugas di sekolah atau kampus, atau membaca buku manual untuk mengetahui cara mengoperasikan alat elektronik yang baru dibeli, atau membaca tabloid gosip untuk tahu berita gosip artis terbaru.  Itu semua adalah informasi yang bisa kita dapatkan dari berbagai sumber bacaan.

Untuk menghemat waktu dalam mengumpulkan informasi, ada banyak teknik membaca yang seringkali dirangkum dalam istilah speed reading.  Saya sendiri paling sering menggunakan dua teknik yang bernama scanning dan skimming

Scanning adalah sebuah teknik di mana kita membaca sekilas sebuah teks, atau membaca bagian-bagian tertentu sebuah teks, untuk memahami inti utama dari isi teks tersebut.  Sementara skimming adalah sebuah teknik di mana kita secara khusus mencari informasi tertentu dalam teks, misalnya ketika harus menjawab pertanyaan dalam ujian yang memuat bahan bacaan.  

Menurut saya, penting sekali untuk mengenalkan kegiatan membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan, sekaligus memperkaya pengetahuan.  Oleh karena itu mengambil waktu untuk benar-benar menikmati seluruh aspek dari buku dan kegiatan membaca adalah fokus dari kegiatan membaca pada usia dini. Dalam kegiatan read aloud, kita mengeksplorasi sebuah buku dari gambar sampulnya, warna-warninya, sampai jalan cerita dan rima bahasanya. 

Menanamkan prinsip bahwa kegiatan membaca adalah sesuatu yang menyenangkan ini penting karena pada saat anak mulai masuk sekolah, kegiatan membaca akan lebih banyak bertujuan untuk mengumpulkan informasi dan pelan-pelan bergeser dari „kesenangan“ menjadi „tugas“. 

Pada saat anak mulai banyak membaca di sekolah inilah pelan-pelan bisa diperkenalkan beberapa konsep dasar speed reading, misalnya seperti mengenali bahwa banyak ide utama dalam sebuah paragraf bisa ditemukan di kalimat pertama atau kalimat terakhir dari paragraf tersebut. 

Hal ini di kemudian hari akan membantu anak untuk melakukan teknik scanning atau skimming secara sederhana, meskipun belum mengenal istilahnya.  

Salah satu kelebihan utama dari kegiatan read aloud adalah mendekatkan anak dengan buku dan tulisan jauh sebelum anak bisa membaca sendiri. 

Melalui pendekatan audio dan visual, kombinasi suara orang tua atau pendamping yang membacakan teks dengan ilustrasi dan bentuk huruf-huruf yang ada di halaman buku, anak mulai dibiasakan untuk memahami bahwa teks dan rangkaian huruf di atas kertas memiliki makna.

Dalam teks yang dibacakan nyaring, anak sudah biasa mengenali elemen 5W 1 H; apa yang terjadi, siapa yang melakukannya, di mana kejadiannya, kapan kejadiannya, mengapa terjadi, dan bagaimana bisa terjadi.  Bukankah ini elemen-elemen umum dalam hampir semua cerita dan teks informatif?

Karena itu skill atau kemampuan yang kita dapatkan dari kegiatan read aloud menjadi modal kita untuk memahami teks tertulis ketika kita sudah bisa membaca sendiri, sebuah kelebihan yang juga direkam dalam berbagai penelitian yang dirangkum oleh Jim Trelease dalam bukunya The Read-Aloud Handbook (7th Edition, Penguin Books, New York, 2013).

Dalam kegiatan Wortschatz Book Club sendiri kami sering bertemu dengan banyak keluarga yang sudah secara rutin melakukan kegiatan read aloud di rumah. 

Ada juga yang mengatakan bahwa mereka mempelajari teknik read aloud dari salah satu workshop singkat yang diberikan oleh Wortschatz Book Club dalam rangka Hari Anak Nasional 2021 dan sudah berhasil memraktikkannya di dalam keluarga. 

Senang sekali mendengar sharing seperti ini, karena saya optimis bahwa anak-anak yang sudah biasa menikmati kegiatan membaca nyaring bersama keluarga akan punya kesan positif terhadap kegiatan membaca, dan semoga akan terus membaca sampai mereka dewasa.

Tentu buku cetak konvensional memiliki saingan berat di dunia keseharian.  Perkembangan teknologi bisa menjadi peluang sekaligus tantangan dalam dunia buku. 

Di satu sisi kemajuan teknologi memberikan semakin banyak kesempatan untuk membaca dalam berbagai format dan kesempatan.  Di sisi lain, teknologi juga menciptakan banyak alternatif “hiburan“ yang lebih menarik dan serba instan jika dibandingkan dengan buku.

Saya mungkin sedikit kuno, namun saya cenderung berhati-hati dengan penggunaan AI atau kecerdasan artifisial untuk membantu membaca dan merangkum bahan bacaan.  Meskipun tidak ada salahnya mencoba berbagai teknologi terbaru untuk membantu mempermudah hidup, namun banyak hal dalam kehidupan sehari-hari, termasuk membaca, adalah skill atau kemampuan yang harus terus diasah.  

Kemampuan untuk membaca secara kritis sangatlah penting dalam kehidupan modern yang semakin lama semakin mengaburkan batas antara dunia nyata dan dunia maya. Harapannya tentu saja agar para pembaca mampu dengan cepat mengenali informasi penting di dalam tulisan yang ditemukan di dunia nyata maupun dunia maya, dan tidak sekadar terjebak hanya membaca judulnya saja, alias terkena judul click bait.  

Sejak pertengahan tahun 2023 Wortschatz Book Club juga secara rutin mengadakan kegiatan luring di kota Frankfurt am Main, saat ini fokusnya masih pada literasi anak.  Dalam beberapa kesempatan, ada juga keluarga yang menanyakan mengenai kemungkinan untuk bersama-sama belajar bahasa Indonesia bersama anak-anak keturunan Indonesia. 

Mungkin akan segera terwujud kegiatan ini? Mungkin juga suatu saat di masa depan meluas pada kegiatan literasi untuk seluruh anggota keluarga, bukan anak-anak saja? Mohon dukungan dan bantuan doanya ya, Sahabat Ruanita.  Dan selamat membaca bersama keluarga!

Penulis: Etty Prihantini Theresia, bisa dikontak via @wortschatz.bookclub atau @ep_theresia atau Facebook Etty Prihantini.

(IG LIVE) Refleksi Perempuan Desa dan Akademisi Bagaimana Membangun Perdamaian

Dalam rangka memperingati International Day of Living Together in Peace yang jatuh setiap tanggal 16 Mei, Ruanita Indonesia menyelenggarakan program diskusi secara langsung melalui platform Instagram Live. Diskusi ini mengangkat tema “Membangun Kedamaian di Tengah Keberagaman”, yang menjadi sangat relevan dalam konteks sosial budaya Indonesia yang multietnis dan multireligius.

Acara ini dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita atau yang disapa Rufi dari Ruanita Indonesia. Diskusi IG LIVE menghadirkan dua narasumber perempuan inspiratif: Khaeria Ulfarani Rahman (pendiri Komunitas Perempuan Desa di Indonesia) dan Maria Regina Jaga (akademisi dan kandidat PhD di Amerika Serikat).

Ulfa, membuka diskusi dengan membagikan tantangan yang dihadapi dalam membangun kedamaian di komunitas desa.

Salah satu tantangan utama adalah memperkenalkan konsep penghargaan terhadap keberagaman, baik dalam hal budaya, agama, maupun bahasa. “Kata toleransi itu mudah diucapkan, tapi ketika kita turun langsung ke lapangan, realitasnya tidak sesederhana itu,” ungkapnya.

Menurutnya, perempuan desa sering kali menghadapi hambatan kepercayaan diri dalam mengembangkan potensinya. Melalui Komunitas Perempuan Desa, ia dan rekan-rekannya menginisiasi pendampingan agar perempuan desa dapat bertumbuh dan berdaya, sehingga mampu memahami pentingnya pendidikan dan menjadi agen harmoni dalam komunitas mereka. Pemberdayaan ini tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga mendorong ruang dialog dan penghargaan atas perbedaan.

Follow us

Maria Regina Jaga, yang akrab disapa Inja, memberikan perspektif dari sisi pendidikan karakter. Ia menekankan bahwa pendidikan karakter harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga dan sekolah. Dalam pandangannya, perbedaan suku, etnis, dan agama bukanlah hambatan, tetapi sumber kekuatan yang perlu dirangkul.

Ia menyebut pentingnya peran guru dalam membentuk karakter anak sejak dini. “Guru punya tantangan untuk mempertahankan nilai-nilai baik dari rumah, sembari menanamkan bahwa keberagaman adalah hal yang harus dirangkul,” jelas Inja. Ia juga menyoroti perlunya keberanian dalam menghadapi perbedaan dengan terbuka dan empatik, sesuatu yang bisa dicapai melalui interaksi langsung di lingkungan pendidikan.

Ulfa membagikan cerita tentang perjalanannya bersama komunitas perempuan di berbagai daerah, termasuk di kawasan adat Amatoa Kajang, Sulawesi Selatan. Di komunitas ini, mereka tidak hanya menekankan penghormatan antarsesama manusia, tetapi juga terhadap alam sebagai bagian dari kearifan lokal. Ulfa percaya bahwa ketika perempuan desa diberdayakan dan memiliki kesadaran pendidikan, mereka akan menjadi agen perubahan yang mampu menjaga harmoni sosial.

Ia juga mengisahkan pengalamannya ketika berkunjung ke Kalimantan Timur, di mana ia merasa diterima sepenuhnya oleh komunitas lokal meskipun berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. “Saya Bugis, mereka Dayak. Tapi saya merasa menjadi bagian dari mereka,” katanya. Ini menunjukkan bahwa kedamaian tidak hanya bisa dirasakan, tetapi juga dibangun melalui pengalaman lintas budaya yang penuh penerimaan.

Inja kemudian berbagi pengalaman selama menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Ia menjelaskan bagaimana pendekatan culturally responsive pedagogy diterapkan di sana, yaitu sebuah metode pendidikan yang menghargai keberagaman budaya peserta didik. Anak-anak dilatih menjadi mediator konflik sejak usia dini melalui simulasi konflik dan diskusi solusi.

Menurutnya, pendidikan di AS tidak hanya mengajarkan anak untuk memahami bahwa konflik itu nyata, tetapi juga menyediakan ruang untuk mempelajari bagaimana menghadapi konflik tersebut secara sehat. Di sini empati dan kemampuan mendengarkan menjadi kunci dalam membangun karakter.

Ia juga menceritakan bahwa sebagai pelajar internasional, ia mendapat kesempatan menjadi global ambassador untuk mengenalkan budaya dan nilai-nilai pendidikan dari Indonesia. Dalam proses ini, ia menyadari bahwa meskipun terdapat perbedaan pendekatan, nilai-nilai dasar dalam pendidikan karakter seperti empati, toleransi, dan kejujuran tetap memiliki benang merah yang universal.

Dalam penelitiannya, Inja berfokus pada pendidikan karakter yang berbasis kearifan lokal, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia menyoroti pentingnya menghidupkan kembali budaya tutur seperti cerita rakyat, yang sarat dengan nilai-nilai positif dan keberagaman.

Sayangnya, banyak nilai-nilai tersebut tidak lagi diajarkan secara formal dan mulai tergerus oleh arus modernisasi. “Anak-anak sekarang cenderung melupakan akar dan budaya mereka sendiri,” ujarnya. Dengan merevitalisasi cerita rakyat dan budaya lokal dalam kurikulum pendidikan, ia berharap empati dan penghargaan lintas budaya bisa tumbuh sejak dini.

Ulfa juga menekankan bahwa pemberdayaan yang dilakukan tidak hanya menyasar perempuan secara umum, tetapi juga perempuan dengan disabilitas. Menurutnya, inklusivitas adalah bagian penting dari harmoni sosial. Ia berharap semua individu bisa memiliki hak dan kesempatan yang sama, tanpa ada yang merasa tertinggal atau dianggap berbeda.

“Kita harus menyampaikan bahwa kita semua sama. Kita punya potensi dan kesempatan yang sama,” ujarnya dengan penuh semangat.

Diskusi ditutup dengan penekanan pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan, baik komunitas, akademisi, hingga pemerintah. Kak Inja menyebut bahwa upaya menjaga kedamaian tidak harus melalui tindakan besar. Tindakan kecil di tingkat komunitas pun, jika dilakukan secara konsisten dan kolaboratif, dapat memberikan dampak besar bagi masyarakat luas.

Ulfa menambahkan bahwa perempuan harus bisa saling menguatkan dalam gerakan maupun aksi-aksi lokal. “Cukup kegiatan kecil yang masif di tingkatan desa. Jadilah lilin-lilin kecil yang menerangi sekitar,” tuturnya.

Keduanya sepakat bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam membangun perdamaian. Tidak hanya sebagai penggerak komunitas, tetapi juga sebagai pendidik dan penjaga nilai-nilai empati dan toleransi dalam keluarga dan masyarakat.

Dalam suasana hangat diskusi ini, tersampaikan pesan bahwa perdamaian bukanlah sekadar idealisme, tetapi bisa dibangun dari tindakan konkret sehari-hari. Mulai dari mendengarkan, menghargai perbedaan, hingga memberi ruang kepada mereka yang kerap terpinggirkan. Diskusi ini menjadi bukti nyata bahwa ruang-ruang dialog seperti yang difasilitasi Ruanita Indonesia adalah bentuk kontribusi penting dalam menciptakan masyarakat yang inklusif dan harmonis.

Simak selengkapnya program bulanan Diskusi IG LIVE episode Mei 2025 berikut ini di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi

(CERITA SAHABAT) Menjalani Kehidupan Damai di Tanah Eropa

Hidup bersama dalam damai bagi saya adalah sebuah pencapaian. Itu adalah keadaan di mana kita merasa tenang karena semua kebutuhan dasar, seperti tempat tinggal, telah terpenuhi. Saya bersyukur memiliki rumah yang bebas dari beban utang bank, yang memberi saya kedamaian batin dan rasa aman hingga masa tua. Kedamaian ini bukan hanya soal materi, tetapi juga perasaan bahwa saya dan keluarga memiliki fondasi kuat untuk menjalani hidup.

Ketika berbicara tentang Hungaria, negara tempat saya tinggal saat ini, khususnya di ibu kota Budapest, saya melihat toleransi sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakatnya. Orang-orang Hungaria, umumnya, ramah dan suka membantu, terutama ketika saya membutuhkan informasi atau bantuan kecil lainnya. Meski demikian, saya belum pernah secara langsung menyaksikan konflik yang diselesaikan dengan pendekatan damai. Namun, harmoni yang saya rasakan di sini memberikan pelajaran berharga.

Hungaria juga mengajarkan saya tentang keberagaman. Sebagai orang Indonesia, saya melihat masyarakat di sini sangat menghargai kebebasan berekspresi selama tidak merugikan orang lain. Komunitas Indonesia di Budapest pun dapat menjalankan berbagai kegiatan, seperti pertemuan arisan atau jalan-jalan bersama, tanpa hambatan. Tradisi Hungaria yang menjunjung tenggang rasa ini menjadi landasan penting dalam menciptakan kehidupan yang damai.

Salah satu hal menarik di Hungaria adalah peran seni dan budaya dalam membangun harmoni. Festival musik dan pameran budaya yang rutin digelar setiap tahun menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan keberagaman karakter dan visi mereka. Inisiatif ini, menurut saya, adalah cara yang indah untuk menguatkan kesadaran akan pentingnya hidup bersama dalam damai.

Follow us

Namun, tantangan tetap ada. Belajar untuk benar-benar menerima perbedaan adalah pekerjaan yang tidak mudah, baik di Hungaria maupun di tempat lain. Meski demikian, upaya pemerintah dan organisasi lokal untuk mempromosikan dialog lintas budaya menjadi langkah positif yang layak diapresiasi. Sebagai diaspora Indonesia, saya percaya bahwa berpartisipasi dalam program-program lokal, berinteraksi dengan masyarakat, dan menghargai budaya setempat adalah kontribusi kecil yang dapat berdampak besar.

Pengalaman saya di Hungaria memberikan pelajaran penting yang dapat diterapkan di Indonesia: merangkul keberagaman untuk membangun harmoni sosial. Sebagai bangsa yang plural, kita memiliki potensi besar untuk memperkuat persatuan melalui penghargaan terhadap perbedaan. Pluralisme ini harus dipelihara sebagai aset, di mana kita yang berbeda latar belakang bisa berjalan bersama menuju tujuan yang sama.

Harapan saya untuk masa depan sederhana saja. Saya ingin melihat dunia, termasuk Hungaria dan Indonesia, terus hidup dalam kondisi damai sejahtera. Saya berharap kita semua dapat menjadi teladan dalam mempraktikkan nilai-nilai hidup bersama dalam damai, saling menginspirasi, dan saling menguatkan.

Kepada sahabat Ruanita, pesan saya adalah hidup apa adanya. Nikmati apa yang telah kita miliki, tetap bersyukur, dan bantu orang lain sesuai kemampuan kita. Dengan cara ini, saya percaya, hidup bersama dalam damai bukan hanya sebuah cita-cita, tetapi sebuah kenyataan yang dapat kita wujudkan bersama.

Penulis: Hayati Surjono, tinggal di Budapest dan dapat dikontak via akun Instagram szulcsan.hayati

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Bersama KJRI Mumbai Gelar Diskusi Daring “Perkawinan Campuran Indonesia-India”

MUMBAI, INDIA — Seiring dengan meningkatnya interaksi sosial, ekonomi, dan budaya antara Indonesia dan India, jumlah perkawinan campuran antara warga Indonesia – India pun mengalami peningkatan signifikan. Di balik keindahan kisah cinta lintas budaya ini, terdapat tantangan yang harus dihadapi, mulai dari perbedaan budaya, kompleksitas hukum, hingga tekanan sosial-psikologis.

Berkaitan dengan fenomena sosial tersebut dan guna mempererat hubungan antarwarga Indonesia dan India serta memberikan dukungan nyata bagi pasangan kawin campur, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Mumbai mengadakan acara Diskusi Daring: Perkawinan Campuran Indonesia–India. Acara ini diselenggarakan pada Sabtu, 10 Mei 2025, pukul 10.00 – 12.00 waktu India secara daring melalui platform Zoom Meeting.

Diskusi daring ini menjadi sangat relevan sebagai wadah berbagi pengalaman, mencari solusi praktis, serta memperkuat ketahanan pasangan kawin campur. Selain itu, forum ini juga berfungsi sebagai langkah antisipatif terhadap risiko penipuan dalam relasi daring yang semakin marak.

Diskusi ini akan berfokus pada tiga area penting, antara lain: (1) Membahas bagaimana pasangan dapat mengatasi perbedaan budaya, tradisi, serta sistem kepercayaan yang ada di Indonesia dan India untuk membangun keluarga harmonis. (2). Menjelaskan proses legal formal, pengaturan kewarganegaraan, serta dampak hukum jika terjadi perpisahan atau perceraian. (3). Mengedukasi tentang modus-modus penipuan dalam pertemuan daring dan strategi membangun hubungan lintas negara yang aman. 

Dimoderasi oleh Dianita Pramesti, Koordinator Panitia Penyelenggara dan Relawan Ruanita di India, acara dibuka secara resmi oleh Bapak Eddy Wardoyo, Konsul Jenderal RI di Mumbai.

Beliau menegaskan forum diskusi seperti yang digagas Ruanita Indonesia dapat membangun komunitas pasangan kawin campur untuk saling mendukung, bertukar pengalaman, serta memperkuat solidaritas. KJRI Mumbai yang diwakilkan Dessi Herlin Yudistira juga turut membagikan kekonsuleran yang bermanfaat bagi WNI di bawah area kerja KJRI Mumbai, India.

Follow us

Diskusi pun semakin hangat, dari para pembicara berpengalaman, seperti: Yulian Setiawani, Perwakilan Komunitas Mix Married Indonesia–India, yang berbagi kisah dan praktik baik dalam menjalani perkawinan campuran.

Selanjutnya, Sanchali Sarkar, peneliti dan dosen di India, yang mengulas kultur serta aspek hukum perlindungan perempuan di India. Terakhir, Anggy Eka Pratiwi, mahasiswi PhD di Indian Institute of Technology Jodhpur, yang membahas risiko dan pencegahan penipuan dalam hubungan daring.

Partisipasi dalam acara ini memberikan Anda wawasan praktis, memperluas jaringan pertemanan dan dukungan, serta membantu Anda lebih siap menghadapi dinamika unik dalam kehidupan perkawinan lintas budaya. Ini juga merupakan kesempatan untuk belajar langsung dari para praktisi dan akademisi berpengalaman.

Melalui diskusi ini, diharapkan peserta tidak hanya memahami tantangan perkawinan campuran, tetapi juga memperoleh bekal yang cukup untuk memperkuat hubungan mereka dalam menghadapi dinamika sosial, budaya, dan hukum yang kompleks.

Tentang Ruanita Indonesia sebagai organisasi nirlaba yang berbasis pemanfaatan ruang kolektif digital, dapat dilihat di laman website www.ruanita.com atau semua laman media sosialnya. Ruanita juga aktif mempublikasikan cerita terkait perkawinan campuran, termasuk buku bertema Perkawinan Campuran yang diterbitkan pada tahun 2022.

Dengan jangkauan di berbagai negara, termasuk India, Australia, Jepang, Belanda, dan Amerika Serikat, Ruanita menjadi tempat bernaung bagi perempuan Indonesia yang membangun kehidupan baru di negeri orang.

Melalui kegiatan seperti Diskusi Daring Perkawinan Campuran Indonesia–India ini, Ruanita terus berkomitmen membangun komunitas yang lebih inklusif, kuat, dan berdaya di tengah perubahan global.

Informasi lebih lanjut: info@ruanita.com 

Rekaman acara dapat disimak di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami

SUBSCRIBE ya.

(PODCAST RUMPITA) Pentingnya Storytelling tentang Indonesia untuk Dunia

Dalam episode podcast RUMPITA ke-37 yang tayang di SPOTIFY RUMPITA, kami menghadirkan sosok istimewa, Rane Hafied, seorang penulis, podcaster, dan penggerak literasi yang telah lama menetap di Amerika Serikat, Singapura, dan Thailand.

Diskusi hangat bersama Rane membuka banyak wawasan tentang dunia kepenulisan, tantangan hidup di luar negeri, serta upaya mempertahankan identitas Indonesia lewat cerita.

Sejak muda, Rane sudah akrab dengan dunia menulis. Berawal dari keisengan menulis cerita pendek di majalah sekolah, kecintaannya terhadap dunia literasi tumbuh semakin kuat.

Namun, siapa sangka perjalanan panjang itu membawanya ke berbagai pengalaman menarik, termasuk bekerja di bidang media dan akhirnya memutuskan untuk tinggal di mancanegara.

Salah satu bagian menarik dari perbincangan adalah bagaimana Rane melihat pentingnya menjaga akar budaya Indonesia, bahkan saat tinggal jauh dari tanah air.

Dalam karyanya, ia kerap menyelipkan nuansa Indonesia, baik melalui karakter, latar, maupun nilai-nilai yang diangkat. “Menulis itu buat saya seperti cara menjaga jembatan ke rumah,” kata Rane dalam podcast ini.

Tak hanya soal menulis, Rane juga bercerita tentang dunia podcasting. Ia dikenal sebagai salah satu podcaster senior di Indonesia yang terus konsisten memproduksi konten berbobot, terutama tentang literasi dan budaya.

Lewat podcast-nya, ia berharap bisa menularkan semangat membaca dan menulis kepada lebih banyak orang, terutama generasi muda.

Namun perjalanan ini tentu tidak selalu mulus. Rane mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapinya, mulai dari keterbatasan akses buku berbahasa Indonesia di luar negeri, hingga tantangan mental seperti homesick dan kerinduan akan komunitas lokal.

Menariknya, semua itu justru menjadi bahan bakar kreativitasnya.

Dalam diskusi podcast RUMPITA yang dipandu oleh Kristin dan Anna, Rane juga membagikan tips untuk para calon penulis yang ingin mulai menulis tapi merasa minder atau takut.

Menurutnya, kunci utama adalah konsistensi dan keberanian untuk “menulis dulu, edit kemudian.” Ia menekankan bahwa tulisan pertama tidak harus sempurna.

Yang terpenting adalah menuangkan ide, lalu perlahan memperbaikinya seiring waktu.

Rane juga berbagi pengalamannya membangun komunitas literasi daring. Ia percaya bahwa komunitas sangat penting dalam menjaga semangat menulis dan membaca, apalagi bagi mereka yang tinggal jauh dari tanah air.

Di komunitas ini, para anggotanya saling menyemangati, berbagi karya, dan bertumbuh bersama.

Menariknya, Rane melihat teknologi sebagai peluang, bukan ancaman. Menurutnya, di era digital ini, kesempatan untuk berbagi karya semakin terbuka lebar.

“Tidak perlu lagi menunggu penerbit besar. Kamu bisa mulai dari blog, podcast, atau media sosial. Yang penting konsisten dan tetap autentik,” ungkapnya.

Diskusi santai namun penuh makna bersama Rane Hafied ini memberikan banyak inspirasi, tidak hanya bagi para penulis, tetapi juga siapa saja yang berjuang mempertahankan identitas diri di tengah perubahan zaman.

Kami di RUMPITA merasa beruntung bisa menghadirkan cerita-cerita seperti ini kepada para pendengar setia.

Jangan lewatkan episode lengkapnya di bawah ini dan pastikan FOLLOW akun spotify RUMPITA. Siapapun kamu, di manapun berada, semoga cerita Rane Hafied bisa menjadi pengingat bahwa semangat berkarya dan menjaga akar budaya tak pernah mengenal batas.

(CERITA SAHABAT) Menemukan Harmoni Kawin Campur Indonesia – India Lewat Perjalanan Hidup di Goa, India

Setiap perjalanan hidup adalah untaian cerita unik yang penuh warna. Saya adalah Dian, seorang perempuan Indonesia yang kini menetap di Goa, India, membagikan kisah luar biasa tentang perjuangan, cinta, dan harmoni antarbudaya. 

Di balik tantangan yang dihadapi, saya menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun kehidupan baru yang lebih baik.

Hidup saya diwarnai oleh masa lalu yang kelam. Pernikahan pertama penuh dengan kekerasan rumah tangga, membuat hidup dalam ketakutan setiap hari. Namun, Tuhan punya rencana indah. 

Dalam proses melarikan diri dari penderitaan itu, saya bertemu dengan pria yang kini menjadi suami. Dengan penuh kesabaran, ia membantu saya keluar dari lingkungan penuh kekerasan.

Perjuangan terbesar saya adalah mendapatkan hak asuh kedua putra saya. Setelah melewati banyak tantangan, saya berhasil memperjuangkan kebersamaan mereka. “Bisa kembali bersama anak-anak adalah keajaiban,” itu pikiran saya.

Menikah kembali membawa saya ke Goa, kota pesisir yang terkenal akan keindahan arsitektur masa lalu dan harmoni keberagamannya. Awalnya, saya merasa canggung menghadapi budaya yang sangat berbeda dengan Indonesia. 

Namun, suami, seorang pria yang penuh pengertian, menjadi pendukung terbesar. Ia memberi kebebasan saya untuk bekerja sebagai guru TK dan mendorong saya mandiri.

Follow us

Perlahan, Goa membuka hati saya. Tradisi masyarakat lokal yang menghargai keberagaman mengajarkan saya tentang cara hidup harmonis di tengah perbedaan. Saya menemukan keindahan dalam toleransi dan kesederhanaan.

Hidup di negara asing tidaklah mudah. Saya menghadapi berbagai kendala, mulai dari perbedaan kebiasaan hingga akses transportasi yang kurang memadai dibandingkan di Indonesia.

Misalnya, kebiasaan masyarakat Goa yang bangun lebih siang menjadi tantangan bagi saya yang terbiasa bangun pagi untuk menyiapkan sarapan.

Namun, dari setiap tantangan, saya belajar untuk beradaptasi dan menghargai hal-hal sederhana. Bagi saya, hidup di Goa adalah proses belajar yang terus-menerus.

Di tengah kehidupan baru, saya berkomitmen untuk menjaga warisan budaya Indonesia. Saya mengajarkan anak-anak untuk selalu bersikap sopan santun khas Indonesia, menceritakan dongeng Nusantara, dan mengenalkan tradisi Indonesia. 

Bagi saya, ini cara saya memastikan mereka tidak melupakan akar budaya mereka, sehingga mereka bisa bangga menjadi anak-anak Indonesia, meskipun mereka besar di Goa, India.

Pernikahan antarbudaya memiliki tantangan tersendiri. Saya dan suami kerap menghadapi perbedaan pandangan, tetapi mereka selalu mengutamakan komunikasi. Menurut saya, kunci pernikahan kami adalah saling menghormati dan memahami.

Pesan suami seperti, “Patience, patience, and more patience”, menjadi pegangan saya dalam menjalani hari-hari sulit.

Dengan kesabaran, kami mampu menciptakan hubungan yang harmonis meski berasal dari latar belakang budaya yang berbeda.

Di Goa, saya menemukan dukungan dari komunitas gereja setempat. Mereka menjadi keluarga kedua yang selalu memberikan bantuan dan penguatan.

Kehadiran komunitas ini membuat saya merasa lebih nyaman dan diterima di lingkungan baru saya.

Teruntuk perempuan Indonesia yang mempertimbangkan pernikahan antarbudaya, saya berbagi pesan inspiratif: “Jadilah kuat. Pernikahan antarbudaya membutuhkan kesabaran, komitmen, dan pengertian yang mendalam. Pelajari tradisi pasangan Anda, karena itu adalah langkah awal untuk menciptakan hubungan yang harmonis.”

Melalui perjalanan panjang, saya kini memiliki impian sederhana: membesarkan anak-anak dengan nilai-nilai budaya Indonesia dan India.

Dengan komunikasi dan saling menghormati, saya yakin keluarga kami akan terus kuat dan penuh cinta.

Cerita tentang keteguhan hati dan cinta yang mengatasi perbedaan ini menunjukkan bahwa harmoni dapat tercapai di mana pun, selama ada rasa saling menghargai.

Penulis: Dianita Pramesti, relawan Ruanita Indoenesia, yang dapat dikontak via akun Instagram pramesti.dianita dan sedang tinggal di Goa, India.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Apa yang Bisa Dipelajari dari Pendidikan di Negeri Paling Membahagiakan, Finlandia?

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, program Cerita Sahabat Spesial (CSS) edisi bulan Mei 2025 dari RUANITA – Rumah Aman Kita menghadirkan sosok perempuan inspiratif: Desiree Luhulima, seorang pendidik dan penulis buku pendidikan yang telah tinggal di Finlandia selama hampir tiga dekade.

Melalui program ini, RUANITA mengajak kita menyelami lebih dalam esensi pendidikan dari perspektif orang Indonesia yang telah lama bersentuhan dengan sistem pendidikan Finlandia, salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia.

Salah satu kisah paling membekas yang dibagikan Desiree adalah pengalamannya ketika mengunjungi sebuah daerah di Indonesia. Ia mengamati perilaku anak-anak yang membeli teh kemasan plastik saat istirahat sekolah.

Ketika ditanya ke mana mereka membuang gelas plastik tersebut, anak-anak dengan percaya diri menjawab: “ke tempat sampah, supaya tidak menyebabkan banjir.”

Namun ketika bel masuk berbunyi, gelas-gelas itu justru dilempar ke kali.

Follow us

Kejadian ini menjadi simbol nyata bagi Desiree atas apa yang ia sebut sebagai “keterputusan pendidikan”—yaitu ketidaktersambungan antara pengetahuan yang diajarkan dan perilaku nyata yang diterapkan.

Pendidikan yang mestinya membentuk karakter dan kesadaran lingkungan, justru terjebak pada hafalan dan rutinitas kosong.

Desiree membandingkan pengalamannya sebagai orang tua di Indonesia dan di Finlandia.

Di Indonesia, ia pernah mengalami stres berat sebagai ibu karena dua anak laki-lakinya yang sangat aktif.

Ia merasa harus terus mengontrol agar tidak dimarahi guru. Namun, saat berpindah ke Finlandia, anak-anaknya justru diapresiasi.

“Anak-anak diberi kebebasan, diberi ruang, diberi kepercayaan, diapresiasi, suaranya didengar, dan diberi kesempatan seluas-luasnya,” kata Desiree.

Ia melihat bagaimana kelebihan anak dihargai dan kekurangannya dicarikan solusi, bukan disalahkan.

Menurutnya, sistem pendidikan Indonesia sebenarnya bisa mencapai itu juga.

Tapi ada yang belum kena, yaitu “roh” dari pendidikan itu sendiri, yakni semangat dan nilai-nilai yang menghidupi proses belajar-mengajar.

Desiree menjelaskan bagaimana pendekatan “sambil menyambil” diadopsi dalam sistem pendidikan anak usia dini di Finlandia.

Artinya, matematika, IPA, dan pelajaran lain tidak diajarkan secara kaku, tetapi dimasukkan dalam aktivitas bermain.

Bermain menjadi wahana belajar, dan istirahat bukan hanya jeda, melainkan bagian dari proses pembelajaran yang berharga.

Dalam bermain, anak-anak belajar kecerdasan sosial, mengelola konflik, dan berkolaborasi.

Di TK, jam belajar hanya sekitar empat jam sehari dan 190 hari per tahun, namun sarat makna.

Pembelajaran berbasis pengalaman (experience-based learning) dan kolaborasi antar siswa dijadikan kunci utama.

Di Finlandia, guru bukan sekadar profesi, melainkan peran mulia yang secara sadar dipilih. “Menjadi guru itu keren,” ujar Desiree.

Para guru merasa bahwa mereka sedang membentuk bangsa, bukan hanya mengajar mata pelajaran.

Untuk menjadi guru, Desiree sendiri harus menempuh pendidikan pedagogik setara 60 SKS. Proses seleksinya menekankan pada niat dan jiwa sebagai pendidik. Guru juga tidak bekerja sendiri.

Mereka bekerja kolektif untuk menyelesaikan tugas administratif, saling berbagi ide, dan mendukung satu sama lain. Dalam istilah Desiree, ini bukan “mencontek”, melainkan kolaborasi sadar yang adil dan saling memberi.

Salah satu kritik utama Desiree terhadap sistem pendidikan Indonesia adalah soal penilaian. Menurutnya, penilaian di Indonesia masih bersifat menghakimi dan penuh label negatif.

Misalnya, anak yang tidak rajin langsung disebut “malas”, tanpa melihat konteksnya.

Ia menyebut pentingnya penggunaan kata kerja dalam penilaian seperti “kamu sudah bisa menghitung dari satu sampai sepuluh”, bukan sekadar memberi angka atau nilai ujian.

Desiree juga menyoroti bahaya sistem peringkat (ranking), yang secara tidak sadar menyakiti anak-anak yang tidak masuk peringkat atas, dan menciptakan persaingan yang tidak sehat.

“Orang-orang yang masuk ranking adalah orang-orang yang seragam, dan ketika mereka masuk dunia kerja, mereka saling gontok,” ujarnya.

Inti dari seluruh gagasan yang disampaikan Desiree adalah bahwa pendidikan bukan sekadar alat akademik, melainkan proses membentuk manusia seutuhnya.

Anak-anak bukan untuk dilabeli, dibandingkan, atau ditekan, melainkan didampingi agar mereka tumbuh menjadi individu yang mandiri, percaya diri, dan peduli terhadap sekitarnya.

Ia menekankan pentingnya narasi dalam pendidikan: narasi yang positif, suportif, dan membangun.

“Narasi yang dipakai tidak menjatuhkan, tidak mempermalukan, tidak membuang anak.

Mereka disimulasi untuk berperan di dalam komunitasnya,” kata Desiree.

Cerita Desiree Loholima adalah cermin yang jujur dan penuh harapan.

Ia tidak membandingkan untuk merendahkan, tetapi mengajak kita semua merefleksikan: pendidikan seperti apa yang ingin kita wariskan untuk generasi berikutnya?

Melalui program Cerita Sahabat Spesial, RUANITA terus menghadirkan suara-suara sahabat Indonesia di mancanegara yang berbagi pengalaman, pengetahuan, dan pengamatan untuk dipahami, bukan dihakimi.

Selengkapnya dapat dilihat dalam program cerita sahabat spesial yang di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi:

(SWG) Ketimpangan Upah di Vietnam: Suara Perempuan dari Tengah Masyarakat

Dalam episode ke-3 program Sharing with Guchi (SWG), Cindy Guchi—perempuan Indonesia yang kini tinggal di Vietnam—mengajak penonton menjelajahi tema penting seputar ketimpangan upah di Vietnam melalui wawancara eksklusif bersama Le Thi Ngoc Bau (atau Amy), seorang guru Bahasa Inggris dari kota Quy Nhon.

Diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Buruh Sedunia (1 Mei), episode berdurasi sekitar 30 menit ini ditayangkan dalam bahasa Inggris dan menjadi bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) untuk membuka ruang dialog lintas budaya dari perspektif perempuan dunia.

Dalam obrolan yang hangat dan mendalam, Bau memaparkan bahwa ketimpangan gender dalam upah masih nyata di Vietnam, terutama di sektor privat seperti STEM (sains, teknologi, engineering, dan matematika).

Ia juga mengangkat pengaruh norma tradisional yang membatasi kesempatan perempuan untuk naik jabatan atau mengejar karier profesional.

“Banyak perempuan menikah di usia muda dan akhirnya lebih fokus pada keluarga,” jelas Bau. “Ini secara langsung berdampak pada peluang mereka di dunia kerja.”

Follow us

Selain faktor budaya, keterbatasan akses pendidikan di daerah rural juga menjadi penyebab kesenjangan ini.

Meskipun pemerintah Vietnam telah merancang kebijakan dan program untuk mengatasi diskriminasi dan mendukung pendidikan perempuan, Bau menekankan bahwa perubahan sejati membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan sektor swasta.

Lebih lanjut tentang program Sharing with Guchi episode ke-3 ini, sila disimak berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar bisa berbagi lebih banyak lagi.

Sharing With Guchi adalah program bincang-bincang digital yang diproduksi oleh Ruanita Indonesia. Di sini, kami mengangkat cerita, pengetahuan, dan perspektif yang memperkuat suara perempuan global bersama perempuan Indonesia yang menjadi #relawanruanitaindonesia dalam wacana global. Lewat percakapan hangat dan bermakna, SWG bertujuan mendorong solidaritas, pembelajaran, dan aksi nyata.