(CERITA SAHABAT SPESIAL) Apa yang Bisa Dipelajari dari Pendidikan di Negeri Paling Membahagiakan, Finlandia?

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, program Cerita Sahabat Spesial (CSS) edisi bulan Mei 2025 dari RUANITA – Rumah Aman Kita menghadirkan sosok perempuan inspiratif: Desiree Luhulima, seorang pendidik dan penulis buku pendidikan yang telah tinggal di Finlandia selama hampir tiga dekade.

Melalui program ini, RUANITA mengajak kita menyelami lebih dalam esensi pendidikan dari perspektif orang Indonesia yang telah lama bersentuhan dengan sistem pendidikan Finlandia, salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia.

Salah satu kisah paling membekas yang dibagikan Desiree adalah pengalamannya ketika mengunjungi sebuah daerah di Indonesia. Ia mengamati perilaku anak-anak yang membeli teh kemasan plastik saat istirahat sekolah.

Ketika ditanya ke mana mereka membuang gelas plastik tersebut, anak-anak dengan percaya diri menjawab: “ke tempat sampah, supaya tidak menyebabkan banjir.”

Namun ketika bel masuk berbunyi, gelas-gelas itu justru dilempar ke kali.

Follow us

Kejadian ini menjadi simbol nyata bagi Desiree atas apa yang ia sebut sebagai “keterputusan pendidikan”—yaitu ketidaktersambungan antara pengetahuan yang diajarkan dan perilaku nyata yang diterapkan.

Pendidikan yang mestinya membentuk karakter dan kesadaran lingkungan, justru terjebak pada hafalan dan rutinitas kosong.

Desiree membandingkan pengalamannya sebagai orang tua di Indonesia dan di Finlandia.

Di Indonesia, ia pernah mengalami stres berat sebagai ibu karena dua anak laki-lakinya yang sangat aktif.

Ia merasa harus terus mengontrol agar tidak dimarahi guru. Namun, saat berpindah ke Finlandia, anak-anaknya justru diapresiasi.

“Anak-anak diberi kebebasan, diberi ruang, diberi kepercayaan, diapresiasi, suaranya didengar, dan diberi kesempatan seluas-luasnya,” kata Desiree.

Ia melihat bagaimana kelebihan anak dihargai dan kekurangannya dicarikan solusi, bukan disalahkan.

Menurutnya, sistem pendidikan Indonesia sebenarnya bisa mencapai itu juga.

Tapi ada yang belum kena, yaitu “roh” dari pendidikan itu sendiri, yakni semangat dan nilai-nilai yang menghidupi proses belajar-mengajar.

Desiree menjelaskan bagaimana pendekatan “sambil menyambil” diadopsi dalam sistem pendidikan anak usia dini di Finlandia.

Artinya, matematika, IPA, dan pelajaran lain tidak diajarkan secara kaku, tetapi dimasukkan dalam aktivitas bermain.

Bermain menjadi wahana belajar, dan istirahat bukan hanya jeda, melainkan bagian dari proses pembelajaran yang berharga.

Dalam bermain, anak-anak belajar kecerdasan sosial, mengelola konflik, dan berkolaborasi.

Di TK, jam belajar hanya sekitar empat jam sehari dan 190 hari per tahun, namun sarat makna.

Pembelajaran berbasis pengalaman (experience-based learning) dan kolaborasi antar siswa dijadikan kunci utama.

Di Finlandia, guru bukan sekadar profesi, melainkan peran mulia yang secara sadar dipilih. “Menjadi guru itu keren,” ujar Desiree.

Para guru merasa bahwa mereka sedang membentuk bangsa, bukan hanya mengajar mata pelajaran.

Untuk menjadi guru, Desiree sendiri harus menempuh pendidikan pedagogik setara 60 SKS. Proses seleksinya menekankan pada niat dan jiwa sebagai pendidik. Guru juga tidak bekerja sendiri.

Mereka bekerja kolektif untuk menyelesaikan tugas administratif, saling berbagi ide, dan mendukung satu sama lain. Dalam istilah Desiree, ini bukan “mencontek”, melainkan kolaborasi sadar yang adil dan saling memberi.

Salah satu kritik utama Desiree terhadap sistem pendidikan Indonesia adalah soal penilaian. Menurutnya, penilaian di Indonesia masih bersifat menghakimi dan penuh label negatif.

Misalnya, anak yang tidak rajin langsung disebut “malas”, tanpa melihat konteksnya.

Ia menyebut pentingnya penggunaan kata kerja dalam penilaian seperti “kamu sudah bisa menghitung dari satu sampai sepuluh”, bukan sekadar memberi angka atau nilai ujian.

Desiree juga menyoroti bahaya sistem peringkat (ranking), yang secara tidak sadar menyakiti anak-anak yang tidak masuk peringkat atas, dan menciptakan persaingan yang tidak sehat.

“Orang-orang yang masuk ranking adalah orang-orang yang seragam, dan ketika mereka masuk dunia kerja, mereka saling gontok,” ujarnya.

Inti dari seluruh gagasan yang disampaikan Desiree adalah bahwa pendidikan bukan sekadar alat akademik, melainkan proses membentuk manusia seutuhnya.

Anak-anak bukan untuk dilabeli, dibandingkan, atau ditekan, melainkan didampingi agar mereka tumbuh menjadi individu yang mandiri, percaya diri, dan peduli terhadap sekitarnya.

Ia menekankan pentingnya narasi dalam pendidikan: narasi yang positif, suportif, dan membangun.

“Narasi yang dipakai tidak menjatuhkan, tidak mempermalukan, tidak membuang anak.

Mereka disimulasi untuk berperan di dalam komunitasnya,” kata Desiree.

Cerita Desiree Loholima adalah cermin yang jujur dan penuh harapan.

Ia tidak membandingkan untuk merendahkan, tetapi mengajak kita semua merefleksikan: pendidikan seperti apa yang ingin kita wariskan untuk generasi berikutnya?

Melalui program Cerita Sahabat Spesial, RUANITA terus menghadirkan suara-suara sahabat Indonesia di mancanegara yang berbagi pengalaman, pengetahuan, dan pengamatan untuk dipahami, bukan dihakimi.

Selengkapnya dapat dilihat dalam program cerita sahabat spesial yang di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi: