JERMAN, 29 Juni 2025 — Ruanita Indonesia, melalui platform daringwww.ruanita.com, menyelenggarakan sebuah diskusi online bertajuk “Mengenal Lebih Dekat Program Au Pair di Eropa Barat dan Skandinavia: Peluang, Pengalaman, dan Aspek Hukum” pada Minggu, 29 Juni 2025, pukul 10.00–12.00 CET (15.00–17.00 WIB).
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Ruanita dalam menyuarakan perlindungan dan pemberdayaan perempuan Indonesia di luar negeri melalui edukasi dan ruang berbagi yang aman.
Program Au Pair telah menjadi salah satu jalur populer bagi generasi muda Indonesia untuk meraih pengalaman internasional.
Melalui skema ini, peserta—yang biasanya berusia muda—memiliki kesempatan tinggal di luar negeri, tinggal bersama keluarga angkat (host family), belajar bahasa baru, serta memahami budaya lokal secara langsung.
Namun, kenyataan di lapangan tidak selalu semulus yang dibayangkan. Banyak calon Au Pair yang melangkah tanpa informasi cukup, bahkan hanya bermodalkan keinginan untuk “keluar negeri secepatnya”, tanpa mengetahui hak dan kewajiban, risiko hukum, dan tantangan hidup sebagai Au Pair di negara asing.
Akibatnya, tidak sedikit yang mengalami kesulitan—bahkan potensi eksploitasi—akibat minimnya bekal informasi dan dukungan.
Melihat fenomena ini, Ruanita Indonesia merasa perlu menghadirkan forum terbuka dan edukatif untuk memberikan informasi yang akurat, serta memperkuat pemahaman calon peserta terhadap realita program Au Pair, khususnya di kawasan Eropa Barat dan Skandinavia.
Acara ini menghadirkan pembicara dari berbagai latar belakang—baik mereka yang tertarik dengan program pertukaran budaya, mereka yang pernah menjadi peserta Au Pair, akademisi yang berminat akan budaya, maupun pihak berwenang dari pemerintah.
Diskusi akan dimoderatori oleh Asti Tyas Nurhidayati, relawan Ruanita Indonesia yang saat ini berdomisili di Islandia.
Susunan acara akan dimulai dengan sambutan dari Irjen Pol. (Purn) Desy Andriani, Deputi Perlindungan Hak Perempuan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA RI), yang memberikan pengantar mengenai pentingnya perlindungan hukum dan edukasi sebelum mengikuti program internasional seperti Au Pair.
Dua pembicara utama yang akan membagikan pengalaman langsung adalah:
Lina Herliana, mantan peserta Au Pair dan kini mahasiswa di Finlandia. Ia memaparkan perjalanannya dari proses pendaftaran hingga kehidupan pasca-Au Pair.
Puji Sumarno, Au Pair yang saat ini sedang berada di Norwegia, yang berbagi tantangan dan keseharian sebagai bagian dari keluarga angkat di Eropa Utara.
Diskusi juga akan mendapatkan perspektif hukum dan perlindungan dari perwakilan pemerintah, yaitu Satriyo Pringgodhani, Koordinator Perlindungan WNI dan Konsuler di KBRI Berlin.
Ia menjelaskan bagaimana KBRI Berlin mendampingi WNI yang menjadi peserta Au Pair dan pentingnya mengikuti jalur resmi.
Selain itu, akan hadir seorang penanggap dari kalangan akademisi, yakni Vivid F. Argarini memberikan tinjauan sosial-budaya serta mengamati program Au Pair sebagai program pertukaran budaya, yang diminati oleh mahasiswa yang mencari peluang karier dan hidup di mancanegara.
Menurut Asti Tyas Nurhidayati, diskusi ini bukan sekadar forum berbagi cerita, melainkan juga “benteng informasi dan pelindung” bagi generasi muda Indonesia yang tertarik mengikuti program internasional.
“Melalui pengalaman nyata dan pembahasan legalitas, kami ingin memastikan bahwa adik-adik kita berangkat bukan hanya dengan semangat, tapi juga dengan bekal pengetahuan yang cukup,” ujarnya.
Diskusi ini terbuka untuk mahasiswa, lulusan baru, komunitas pecinta bahasa asing, serta masyarakat umum yang ingin mengetahui lebih dalam tentang pertukaran budaya melalui jalur Au Pair.
Peserta tidak hanya dapat mengikuti acara melalui Zoom, tetapi juga dapat menyimak melalui YouTube Live di kanal Ruanita – Rumah Aman Kita.
Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) merupakan komunitas digital dan organisasi relawan yang berbasis manajemen nilai dan intervensi komunitas, dengan fokus pada perlindungan, pendidikan, dan penguatan advokasi perempuan Indonesia di luar negeri. Berbagai kegiatan telah dilakukan sejak pendiriannya, seperti diskusi daring, kampanye kesadaran hak migran, pelatihan keterampilan daring, hingga publikasi e-book edukatif.
Acara ini merupakan bagian dari program reguler yang mendorong keterlibatan aktif perempuan Indonesia dalam isu-isu global, sekaligus memperkuat perlindungan sosial dan hukum di ranah migrasi internasional.
Informasi lebih lanjut: Asti Tyas Nurhidayati (e-mail: info@ruanita.com)
Rekamannya dapat dilihat di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar mendukung keberlangsungan program kami:
Dalam rangka memperingati Micro, Small, and Medium-sized Enterprises Day yang jatuh pada 27 Juni, Ruanita Indonesia mengadakan diskusi Instagram Live bertema Kewirausahaan Perempuan di Negeri Rantau. Diskusi ini menghadirkan dua narasumber inspiratif: Sherly, pelaku usaha makanan dari Taiwan, dan Yeti, pemilik Toko Beta di Polandia.
Tantangan dan Awal Perjalanan Usaha
Sherly memulai bisnis kerupuk di Taiwan tanpa latar belakang hukum bisnis lokal, sehingga tantangan utamanya adalah memahami regulasi pemerintah setempat, terutama karena ia menjual produk makanan yang pengawasannya ketat.
Ia mengaku menjalani prosesnya secara learning by doing dan terus menyesuaikan diri dengan peraturan.
Sementara itu, Yeti memulai usaha karena kesulitan mendapatkan produk Indonesia di kota tempat tinggalnya di Polandia.
Bermodal kebutuhan pribadi dan dorongan suami, ia mulai berjualan secara informal pada 2021, lalu berkembang menjadi toko resmi.
Tantangan utamanya adalah memahami sistem perpajakan Polandia, yang diatasinya dengan latar belakang akuntansi dan kerja sama dengan tenaga profesional.
Kedua sahabat Ruanita tersebut menekankan pentingnya mengenal kebutuhan pelanggan. Sherly, misalnya, memperluas lini produknya dengan menjual sambal sebagai pelengkap kerupuk.
Ia juga menyebut bahwa pendekatan personal kepada pelanggan penting, karena banyak yang berasal dari komunitas Indonesia dan merindukan rasa “rumah”.
Yeti menjelaskan bahwa Toko Beta memanfaatkan berbagai saluran pemasaran: mulai dari media sosial, website, kartu nama, hingga marketplace lokal Polandia.
Produk yang ditawarkan juga makin beragam dan menjangkau konsumen lintas negara di Eropa, baik warga Indonesia maupun warga lokal.
Menariknya, baik Sherly maupun Yeti menemukan bahwa produk makanan Indonesia ternyata disukai juga oleh warga setempat.
Tempe, nasi goreng, hingga rendang menjadi jembatan budaya yang memperkenalkan Indonesia lewat cita rasa.
Tips untuk Perempuan Indonesia yang Ingin Berwirausaha di Luar Negeri
Sherly menyarankan untuk memulai dari skala kecil (start small) dan tetap tekun.
Ia juga menyoroti keunggulan perempuan dalam berbisnis, seperti kepekaan terhadap kebutuhan pelanggan dan ketekunan dalam menghadapi tantangan.
Yeti menambahkan pentingnya menjalankan bisnis sesuai dengan minat dan hobi agar semangat tetap terjaga.
Ia menekankan bahwa dukungan moral dari lingkungan terdekat sangat penting untuk keberlangsungan usaha.
Penutup: Bisnis Sebagai Bentuk Diplomasi Budaya
Diskusi ini menyoroti bahwa perempuan Indonesia di luar negeri tidak hanya berperan sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga sebagai duta budaya.
Melalui bisnis kuliner dan toko bahan makanan, mereka memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia.
Ruanita Indonesia mengajak seluruh perempuan Indonesia di perantauan untuk terus berani bermimpi, mulai dari langkah kecil, dan konsisten dalam mewujudkan usaha yang berdampak—bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga dalam membangun identitas dan komunitas.
Simak selengkapnya diskusi IG LIVE episode Juni 2025 berikut di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE agar kami dapat berbagi lebih banyak lagi.
Halo, sahabat Ruanita! Saya senang sekali bisa berpartisipasi dalam program cerita sahabat yang dikelola oleh Ruanita Indonesia. Saat ini, saya tinggal di Bangladesh dan mau bercerita tentang bagaimana pengalaman berwirausaha di sini. Ini semua berawal dari masa Pandemi COVID-19 yang melanda semua orang di dunia, termasuk saya di Bangladesh.
Tahun 2020 adalah tahun yang penuh tantangan bagi banyak orang, termasuk saya. Pandemi COVID-19 membuat kehidupan sehari-hari berubah drastis. Sebagai seorang WNI yang tinggal di Bangladesh, saya juga merasakan dampaknya. Kebijakan “Stay Home” membatasi aktivitas di luar rumah, dan teman-teman saya, sesama WNI, kesulitan mendapatkan produk Indonesia yang biasa mereka beli di pasar DCC Market.
Awalnya, saya hanya membantu mereka dengan belanja titipan. Namun, semakin sering mereka meminta bantuan, saya mulai berpikir bahwa ini adalah peluang. Teman-teman menyarankan agar saya mulai berjualan online, agar mereka tidak perlu sungkan menitip terus. Dengan niat ingin membantu dan menyediakan akses mudah ke produk Indonesia, saya memutuskan untuk memulai usaha online kecil-kecilan. Itulah awal dari perjalanan bisnis saya.
Saat pertama memulai, saya tidak pernah menyangka bahwa antusiasme teman-teman WNI di sini akan sebesar itu. Awalnya, pelanggan saya hanyalah teman-teman dekat di sekitar rumah. Namun, berkat grup WhatsApp komunitas WNI, informasi tentang usaha saya menyebar dengan sangat cepat. Dalam waktu singkat, permintaan datang dari berbagai daerah di Bangladesh, termasuk mereka yang tinggal jauh dari Dhaka.
Namun, perjalanan ini tidak sepenuhnya mulus. Salah satu tantangan terbesar adalah pengiriman barang, terutama selama masa lockdown. Banyak pelanggan di luar Dhaka harus menunggu lebih lama untuk menerima pesanan mereka. Ada kalanya pengiriman yang biasanya hanya memakan waktu sehari menjadi tertunda hingga beberapa hari. Meski begitu, saya terus mencari cara untuk memastikan barang sampai dengan selamat, dan pelanggan tetap merasa puas.
Saya fokus menjual bahan pangan khas Indonesia, seperti Indomie, kecap, dan tepung tapioka, yang sangat diminati oleh komunitas WNI di sini. Untuk mempermudah transaksi, saya memanfaatkan teknologi lokal seperti aplikasi pembayaran Bkash, yang memungkinkan transfer uang dengan mudah. Selain itu, saya menggunakan WhatsApp dan Facebook sebagai media utama untuk promosi. Saya selalu memastikan foto produk dan daftar harga diperbarui agar pelanggan bisa melihat dengan jelas apa yang saya tawarkan.
Teknologi juga sangat membantu dalam hal pengiriman. Saat ini, jasa pengiriman di Bangladesh sudah cukup variatif, sehingga saya bisa memilih layanan yang sesuai dengan lokasi pelanggan. Dengan strategi ini, saya bisa menjangkau pelanggan di berbagai wilayah, bahkan yang berada di luar kota.
Saya bersyukur karena perjalanan bisnis ini tidak saya lalui sendirian. Saya bekerja sama dengan eksportir lokal untuk mendatangkan produk Indonesia, memastikan ketersediaan barang selalu terjaga. Saya juga mendapat dukungan besar dari komunitas WNI di sini, termasuk mahasiswa Indonesia di BRAC University. Mereka membantu mempromosikan usaha saya di lingkungan kampus, memperluas jangkauan pelanggan hingga ke teman-teman mereka yang berasal dari negara lain.
Keluarga suami saya juga menjadi pilar penting dalam usaha ini. Mereka tidak hanya memberikan dukungan moral, tetapi juga menjadi pelanggan setia. Produk seperti Indomie menjadi favorit mereka, dan hal ini semakin memotivasi saya untuk terus berkembang.
Bagi saya, wirausaha adalah pengalaman yang seru dan penuh pelajaran. Sebagai seorang ibu rumah tangga, saya merasa penting untuk tetap produktif. Usaha ini tidak hanya membantu teman-teman mendapatkan produk Indonesia, tetapi juga memberi saya kesempatan untuk belajar dan menghadapi tantangan baru. Selain bahan pangan, saya mulai menjual makanan homemade, seperti nastar, lontong sayur, dan cilok. Saya menikmati proses menciptakan sesuatu yang membawa rasa nostalgia kampung halaman bagi pelanggan saya.
Meski menghadapi banyak kendala, seperti ketika akses internet di Bangladesh sempat dimatikan selama dua minggu pada Juli 2024 akibat gejolak politik, saya terus berusaha untuk mempertahankan bisnis ini. Saat itu, komunikasi dan pengiriman barang menjadi sangat sulit. Namun, saya belajar bahwa dengan kesabaran dan tekad, semua hambatan bisa diatasi.
Perjalanan ini mengajarkan saya banyak hal. Saya menyadari bahwa wirausaha tidak hanya tentang mencari keuntungan, tetapi juga tentang membangun hubungan, memahami kebutuhan orang lain, dan memberikan solusi. Melihat teman-teman WNI di seluruh Bangladesh bisa menikmati produk Indonesia membuat saya merasa bahagia. Saya merasa menjadi bagian dari upaya menjaga rasa kebersamaan dan memori kampung halaman bagi mereka.
Ke depan, saya berharap barang-barang Indonesia bisa lebih mudah masuk ke Bangladesh, sehingga variasi produk yang saya tawarkan bisa semakin beragam. Saya juga ingin terus meningkatkan keterampilan memasak agar bisa menghadirkan lebih banyak pilihan makanan khas Indonesia bagi pelanggan saya.
Bagi siapa saja yang ingin memulai usaha, terutama di negara berkembang, pesan saya sederhana: jangan takut mencoba. Gali potensi diri, pahami lingkungan sekitar, dan jangan ragu untuk belajar dari pengalaman. Setiap tantangan yang dihadapi adalah peluang untuk tumbuh. Perjalanan saya membuktikan bahwa dengan niat baik dan kerja keras, kita bisa menciptakan sesuatu yang bermakna, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain.
Penulis: Elia Qudo, perempuan Indonesia yang tinggal di Bangladesh dan dapat dikontak via akun Instagram @eliaqudo88.
Hari Yoga Sedunia yang diperingati setiap 21 Juni menjadi momentum penting bagi banyak komunitas untuk merayakan harmoni tubuh dan jiwa melalui praktik yoga. Di bulan Juni 2025 ini, Ruanita Indonesia menghadirkan edisi khusus Cerita Sahabat Spesial yang menyoroti tema yang mendalam dan penuh makna: Trauma-Informed Yoga.
Bersama Bernadia, seorang fasilitator yoga dan terapi somatik yang telah menjalani perjalanan panjang lintas negara dan budaya, kita diajak memahami bentuk yoga yang ramah, inklusif, dan menyentuh sisi terdalam dari penyembuhan emosional.
Mengenal Sosok Bernadia
Bernadia kini tinggal di Pulau Fuerteventura, Kepulauan Canary, Spanyol. Sebelumnya ia menetap di Swedia untuk mendalami studi tentang pendidikan luar ruang (outdoor education) dan keberlanjutan (sustainability).
Perjalanannya dalam bidang yoga dan terapi somatik telah mempertemukannya dengan berbagai pendekatan yang memperluas makna yoga bukan hanya sebagai olahraga atau praktik spiritual, tetapi juga sebagai jalan penyembuhan dari luka trauma.
“Saat ini aku fokus pada yoga, trauma, dan terapi somatik,” ujarnya.
Ia kemudian memperkenalkan konsep trauma-informed yoga, sebuah pendekatan yang sangat personal dan empatik dalam memfasilitasi individu, khususnya mereka yang memiliki pengalaman trauma, agar bisa menjadikan yoga sebagai alat bantu penyembuhan, bukan pemicu luka lama.
Trauma-informed yoga (TIY) bukanlah jenis yoga baru dengan teknik atau gerakan berbeda, melainkan pendekatan yang merangkul prinsip inklusivitas, kesadaran tubuh, dan keamanan emosional.
Dalam praktiknya, fasilitator TIY memahami bahwa trauma tersimpan dalam tubuh dan memengaruhi cara kerja otak.
Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan pun sangat hati-hati, mempertimbangkan sensitivitas peserta terhadap pengalaman traumatis masa lalu.
“Trauma adalah respons emosi dari peristiwa negatif yang tersimpan dalam tubuh dan mempengaruhi kelanjutan kerja otak kita,” kata Bernadia.
Otak yang pernah mengalami trauma bisa mudah mengalami reaksi fight, flight, atau freeze saat merasa terancam, walau ancaman itu tidak selalu nyata secara fisik.
Dalam kelas trauma-informed yoga, Bernadia menekankan pentingnya menghadirkan rasa aman. Ini termasuk dalam cara berbicara, menyusun ruang, hingga memilih kata-kata.
Tidak digunakan istilah-istilah dalam bahasa Sanskrit seperti pada yoga tradisional, demi menghindari alienasi atau rasa tidak nyaman bagi peserta yang tidak familiar.
Empat Pilar Trauma-Informed Yoga
Bernadia membagikan empat tema utama dalam trauma-informed yoga yang menjadi fondasi dari pendekatan ini:
Mengalami Momen Saat Ini Fokus utama adalah membangun kesadaran penuh terhadap keberadaan di saat ini (being present). Trauma membuat seseorang sering terjebak dalam masa lalu atau cemas akan masa depan. Lewat latihan ini, peserta diajak untuk kembali hadir, merasakan tubuh, nafas, dan emosi saat ini.
Membuat Pilihan Peserta diberikan hak penuh untuk memilih gerakan yang paling sesuai bagi dirinya. Tidak ada paksaan atau tekanan untuk mengikuti gerakan yang sulit atau tidak nyaman. “Setiap orang boleh memilih gerakan yang paling aksesibel untuk mereka,” jelas Bernadia. Ini adalah bentuk pemulihan rasa kendali yang sering hilang dalam pengalaman trauma.
Mengambil Aksi yang Efektif Ini berkaitan erat dengan membuat pilihan—di mana setiap aksi dalam gerakan yoga harus terasa bermanfaat dan membawa rasa nyaman, bukan sekadar mengikuti instruksi. TIY memfasilitasi peserta untuk memahami apa yang benar-benar dibutuhkan oleh tubuh mereka.
Membangun Ritme dan Keterhubungan Kelas TIY biasanya menggunakan sekuens gerakan yang konsisten dan berulang untuk menciptakan rasa ritmis dan aman. Ritme ini juga menjadi jembatan untuk membangun keterhubungan antara fasilitator dan peserta.
Praktik yang Lembut dan Aksesibel
Trauma-informed yoga berbeda dengan kelas yoga konvensional yang kadang menekankan pada performa atau bentuk sempurna.
Di sini, tidak ada istilah “pose harus sempurna”. Sebaliknya, fokusnya adalah pada body awareness atau kesadaran tubuh, seperti mengenali sensasi dingin, panas, nyeri, atau ketegangan di tubuh, dan belajar untuk tidak mengabaikannya.
Selain itu, Bernadia membuka ruang dialog sejak awal kelas.
Ia mempersilakan peserta menyampaikan kebutuhan atau ketidaknyamanan, misalnya jika cahaya lampu terlalu redup atau musik tertentu membangkitkan kenangan traumatis. “Kita bangun lingkungan yang aman dan nyaman sejak awal,” katanya.
Penggunaan istilah gerakan dalam bahasa sehari-hari juga menjadi strategi penting.
Alih-alih menyebut Balasana atau Utkatasana, misalnya, fasilitator akan mengatakan “gerakan seperti duduk di kursi” atau “posisi anak”. Ini membantu peserta lebih memahami dan tidak merasa terasing.
Tidak Mengkualifikasi Pengalaman
Dalam trauma-informed yoga, pengalaman setiap orang tidak dibandingkan atau dinilai.
Tidak ada yang disebut “nafas yang benar” atau “gerakan yang dalam”. Justru TIY menghindari penggunaan kata-kata yang bisa mengandung nilai, seperti “lebih dalam”, “lebih kuat”, atau “lebih baik”.
“Pengalaman tiap orang berbeda.
Tidak perlu menyamakan. Yang penting, apakah itu terasa aman dan nyaman untukmu?” jelas Bernadia.
Peran Fasilitator yang Empatik
Fasilitator TIY memiliki pelatihan khusus untuk memahami respons tubuh terhadap trauma, termasuk bagaimana menghadapi situasi ketika peserta mengalami trigger, yaitu munculnya kembali kenangan atau emosi menyakitkan karena suatu stimulus, seperti suara, posisi tubuh tertentu, atau bahkan aroma.
Seorang guru trauma-informed yoga tidak hanya mengajarkan gerakan, tetapi juga memahami batasan peserta dan tahu cara memberikan dukungan.
Mereka menyadari bahwa tidak semua trauma bisa diselesaikan melalui yoga, dan kerap mendorong peserta untuk tetap menjalin hubungan dengan tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater.
Ruang untuk Menolak dan Meninggalkan
Salah satu nilai penting dalam TIY adalah memberi izin kepada peserta untuk tidak ikut. Peserta diperbolehkan meninggalkan kelas kapan saja jika merasa tidak nyaman.
Ini sangat kontras dengan banyak kelas yoga yang secara tidak langsung memberi tekanan sosial untuk bertahan sampai selesai.
Bernadia mengungkapkan bahwa ia sendiri pernah merasa takut untuk meninggalkan kelas yoga ketika tidak nyaman, dan pengalaman itu sangat membekas.
Karena itu, ia menekankan kepada siapa pun yang ingin bergabung di kelasnya untuk merasa bebas meninggalkan ruang saat dibutuhkan—tanpa rasa bersalah.
“Kalau teman-teman mau ikut kelasku, silakan kontak dulu. Nggak perlu cerita masalah traumanya apa, cukup kenalan dulu untuk tahu apakah vibenya cocok atau nggak,” ujarnya.
Yoga Sebagai Pendekatan Pelengkap
Perlu ditekankan bahwa trauma-informed yoga bukan pengganti terapi profesional. Ini adalah pendekatan pelengkap yang bisa mendukung proses pemulihan secara menyeluruh.
Yoga memberikan ruang untuk menyentuh kembali tubuh yang mungkin selama ini dihindari karena trauma, dan membangun kembali rasa aman serta keterhubungan diri.
Komitmen Ruanita Indonesia
Program Cerita Sahabat Spesial merupakan bagian dari komitmen Ruanita Indonesia dalam menyediakan ruang aman, suportif, dan inklusif bagi komunitas untuk tumbuh dan pulih bersama.
Melalui platform ini, kisah-kisah inspiratif dan pendekatan penyembuhan yang beragam dibagikan untuk membuka percakapan, membangun empati, dan memperluas wawasan tentang kesehatan mental dan kesejahteraan emosional.
Edisi kali ini adalah pengingat bahwa yoga bukan sekadar soal fleksibilitas tubuh, tapi juga tentang self-care pada diri sendiri. Tentang pilihan, kesadaran, dan koneksi.
Lebih lanjut, simak program cerita sahabat spesial berikut ini di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE agar kami berbagi lebih banyak lagi
Halo, sahabat Ruanita! Saya adalah Priskila, yang berasal dari Bandung, Jawa Barat dan kini menetap di Hamburg, Jerman. Saya adalah singer sekaligus songwriter juga. Dalam rangka World Music Day, saya ingin berbagi kisah tentang bagaimana musik telah menjadi bagian penting dalam perjalanan saya. Bagi saya, musik sangat berarti, terutama dalam mengatasi tantangan kesehatan mental.
Musik bagi saya bukan sekadar pekerjaan, melainkan medium untuk menyampaikan emosi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Sahabat Ruanita, saya percaya musik memiliki peran sebagai bahasa universal yang dapat menyentuh hati setiap orang, bahkan melampaui batas-batas budaya dan bahasa.
Ketika saya pertama kali pindah ke Jerman, saya merasa fase adaptasi yang berat. Saya sempat mengalami fase depresi, yang akhirnya memotivasi saya untuk menemukan cara penyembuhan atau healing.
Saya kemudian menjalani pendidikan musik di Pop Akademie Hamburg. Pada akhirnya, saya menemukan bahwa bermain musik bersama band di studio setiap hari, menyanyikan dan memainkan lagu ciptaan sendiri, ternyata memberikan efek penyembuhan yang luar biasa. Musik membantu memulihkan kepercayaan diri saya, yang sempat hilang, akibat tekanan di masa-masa sulit.
Melalui pengalaman itu, saya menyadari bahwa genre musik tertentu memiliki efek berbeda pada setiap individu. Ada yang merasa lega dengan mendengarkan musik metal atau rock, sementara yang lain, seperti saya, lebih menemukan kenyamanan dalam lagu pop atau balada. Kalau sahabat Ruanita, suka genre musik yang mana?
Musik kini menjadi bagian dari keseharian saya, baik sebagai pekerjaan maupun bentuk pelayanan sosial. Saya mengajar gitar di sekolah musik, memberi les privat, dan tampil di berbagai acara musik di Jerman, termasuk festival musik dan acara komunitas Indonesia.
Lebih dari itu, saya juga terlibat dalam kegiatan yang menggunakan musik sebagai alat untuk mendukung kesehatan mental. Saya memimpin kelompok bernyanyi di sebuah tempat tinggal bagi individu dengan gangguan mental. Bersama mereka, saya menyanyikan lagu-lagu yang mereka kenal atau pilih sendiri. Bagi saya, ini seperti menciptakan suasana yang penuh semangat dan kebersamaan.
Saya berpendapat bahwa musik adalah sarana untuk mengungkapkan isi hati yang sulit dijelaskan. Bahkan tanpa memahami bahasa sebuah lagu, orang tetap bisa merasakan jiwa yang terkandung di dalamnya. Musik menjadi alat untuk menyalurkan emosi yang terpendam, memberikan kepuasan tersendiri, dan membantu meningkatkan suasana hati.
Meskipun saya bukan terapis atau dokter, saya telah menyelesaikan pelatihan sebagai pendamping pemulihan, yang disebut dalam Bahasa Jerman, sebagai Genesungsbegleiter. Lewat peran ini, saya mendukung individu dengan gangguan kesehatan mental, berbagi pengalaman pribadi, dan menggunakan musik sebagai salah satu pendekatan kreatif untuk membantu mereka.
Sahabat Ruanita, saya percaya bahwa setiap orang membutuhkan sesuatu yang membuat hidup lebih berwarna. Itu bisa berarti sesuatu yang mereka cintai dan passionate terhadapnya. Tidak hanya musik, tetapi juga hobi atau aktivitas lain seperti menggambar, menulis, olahraga, atau mendaki gunung.
Pesan saya sederhana: temukan passion Anda. Sahabat Ruanita bisa melakukan apa yang disukai sebagai cara untuk meringankan stres, menghidupkan gairah, atau sekadar memberikan kesenangan.
Melalui program cerita sahabat ini, saya ingin menyampaikan bahwa harapan selalu ada, meski kadang terasa jauh. Temukan alasan untuk bertahan dan lakukan apa yang dicintai. Dengan begitu, hidup akan terasa lebih indah.
Terima kasih kepada Ruanita Indonesia yang telah memberi saya kesempatan untuk berbagi cerita ini. Saya harap pengalaman saya bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang sedang berjuang.
Penulis: Priskila Wowor, Singer/songwriter, menetap di Hamburg, Jerman dan dapat dikontak via akun instagram priskila_wowor.
Dalam dunia yang terus berubah dan berkembang, perempuan Indonesia kini tampil lebih berani melangkah ke ranah global. Podcast Jibber-Jabber edisi ketiga, hasil kolaborasi Ruanita Indonesia dan PPI Dunia, menghadirkan kisah inspiratif dari Widhi—seorang mahasiswi PhD di Bordeaux, Prancis—yang berbagi pengalaman hidup dan belajarnya di berbagai negara Eropa.
Studi di luar negeri kini bukan lagi sekadar mimpi, melainkan peluang nyata yang semakin terbuka bagi perempuan Indonesia. Widhi memulai kisahnya dengan menjelaskan bahwa fenomena ini sejalan dengan perubahan paradigma di masyarakat. “Sekarang bukan lagi bertanya ‘bisakah saya?’, tetapi ‘di mana saya bisa mulai?’,” ujarnya.
Menurutnya, perempuan Indonesia kini lebih sadar akan potensi mereka. Mereka tidak hanya mengejar pendidikan tinggi di luar negeri, tetapi juga terlibat aktif dalam penelitian, mendirikan startup, bahkan berperan di lembaga internasional. PPI Dunia, tempat Widhi berperan sebagai Kepala Divisi Teknologi dan Industri, menjadi salah satu platform penting dalam mendukung aspirasi perempuan Indonesia di luar negeri.
Meski penuh peluang, jalan untuk belajar di luar negeri tidak selalu mulus. Tantangan datang dalam berbagai bentuk: perbedaan budaya, kendala bahasa, hingga kerinduan pada keluarga. Widhi membagikan pengalamannya tinggal di berbagai negara—Polandia, Prancis, Belgia, hingga Inggris—yang masing-masing memiliki bahasa dan budaya berbeda.
Salah satu tantangan unik yang ia hadapi sebagai perempuan berhijab adalah bagaimana orang-orang asing menanyakan alasan ia mengenakan jilbab. “Itu jadi momen refleksi dan edukasi juga,” ungkapnya. Di sisi lain, tantangan bahasa menjadi masalah praktis sehari-hari. Widhi menekankan pentingnya mempelajari bahasa lokal agar bisa berintegrasi lebih baik dalam masyarakat dan dunia kerja.
“Jika ingin bekerja di negara Eropa, mengenal bahasanya adalah nilai tambah besar. Ini menunjukkan kita berusaha untuk menghargai dan menyatu dengan budaya mereka,” tambahnya.
Beradaptasi dengan sistem pendidikan yang berbeda juga bukan hal mudah. Widhi menyoroti bahwa sistem akademik di Eropa mendorong kemandirian dan partisipasi aktif dalam diskusi. “Kita didorong untuk mengajukan ide, mengkritisi teori, dan membela argumen kita—meski kita sendiri belum yakin sepenuhnya,” katanya sambil tersenyum.
Baginya, ini sangat berbeda dari sistem di Indonesia yang cenderung lebih terstruktur dan berorientasi pada instruksi. Namun, ia melihat ini sebagai bentuk pertumbuhan intelektual yang membentuk kemandirian dan ketangguhan.
Selain tantangan akademik, aspek personal juga menjadi ujian tersendiri. Hidup jauh dari keluarga, mengatur keuangan sendiri, serta menghadapi momen-momen penting seperti Idul Fitri tanpa keluarga adalah hal yang tidak mudah.
Namun Widhi menemukan cara untuk mengubah kerinduan menjadi kekuatan. Di hari raya, ia memasak rendang dan opor, lalu mengundang teman-teman dari berbagai negara untuk makan bersama. “Saya ingin menciptakan rasa rumah, meski jauh dari rumah. Ini juga jadi momen untuk memperkenalkan budaya kita ke dunia,” jelasnya.
Lebih dari sekadar berbagi makanan, momen seperti ini menjadi bukti bahwa ‘rumah’ tidak lagi sebatas tempat asal, tapi sesuatu yang bisa diciptakan, dibawa, dan dibagikan.
Di balik tantangan, banyak pula pengalaman yang memperkaya. Widhi mengaku salah satu momen paling membanggakan adalah saat ia melakukan riset di perusahaan global Umicore di Belgia. Di sana, ia terlibat langsung dalam pengembangan material baterai generasi terbaru. “Saya merasa semua teori yang saya pelajari akhirnya menjadi nyata dan berguna,” ujarnya.
Ia juga menjalani magang musim panas di Slovenia, yang membantunya menemukan passion-nya dalam bidang riset elektrolit untuk baterai. “Di sinilah saya benar-benar menemukan siapa saya dan apa yang ingin saya capai ke depan,” tambahnya.
Salah satu pesan penting dari Widhi dalam podcast ini adalah pentingnya memperluas lingkaran pertemanan lintas negara. “Banyak pelajar Indonesia yang hanya berteman dengan sesama orang Indonesia. Padahal pengalaman terbaik justru datang saat kita membuka diri untuk belajar dari budaya lain,” katanya.
Melalui interaksi dengan teman-teman dari India, Prancis, Jerman, dan negara lainnya, Widhi belajar memahami berbagai perspektif dan cara hidup. Ini, katanya, adalah pelajaran kehidupan yang tak ternilai dari studi di luar negeri.
Di akhir sesi, Widhi memberikan pesan penuh semangat: perempuan Indonesia tidak hanya mampu bersaing di kancah global, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata. “Kita tidak hanya belajar untuk diri sendiri, tapi juga untuk membawa perubahan, baik secara akademik maupun sosial.”
Podcast ini bukan sekadar dokumentasi perjalanan pribadi, tapi juga seruan kolektif bahwa perempuan Indonesia mampu, layak, dan siap untuk berdiri di panggung dunia.
Tentang Podcast Jibber-Jabber Indonesian Women Abroad
Podcast audio berbahasa Inggris ini inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui Jibber-Jabber, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional.
Simak diskusi seru berbahasa Inggris berikut ini yang dipandu oleh Aini Hanafiah, relawan Ruanita di Norwegia:
Halo, sahabat Ruanita! Namaku Lina Herliana. Aku perempuan Indonesia yang saat ini tinggal di Finlandia dan sedang menjadi mahasiswi di tingkat akhir. Perjalananku ke sini bukan sesuatu yang langsung terjadi begitu saja. Ada banyak hal yang kualami—kegagalan, penolakan, kesepian, musim dingin yang tak mudah, dan juga berbagai tantangan yang muncul ketika aku berani mencoba lagi hingga di titik ini sekarang.
Kali ini ini, aku ingin bercerita pada sahabat Ruanita semua tentang bagaimana aku bisa menjadi peserta program Au Pair di usia 27 tahun, yang mana pada saat ini batas usia program Au Pair adalah 26 tahun, lalu akhirnya aku bisa berstatus sebagai mahasiswi di negeri yang jauh dari tanah air.
Semuanya bermula dari satu keinginan: aku ingin tinggal di Belanda. Alasan utamanya karena aku ingin bisa lebih sering bertemu nenekku yang tinggal di sana. Namun, waktu itu usiaku sudah 27 tahun, dan banyak program tinggal di luar negeri—termasuk program au pair—yang memiliki batasan usia maksimal 26 tahun. Aku sempat bingung, sehingga aku mulai mencari cara lain agar bisa tetap ke Eropa, terutama ke Belanda.
Dari hasil berselancar di Google dan nonton beberapa channel YouTube, aku mengenal program Au Pair. Aku mulai mencari tahu lebih dalam dan akhirnya mendaftar di situs aupairworld.com. Aku sempat beberapa kali wawancara dengan calon host family di Belanda, tapi sayangnya tidak berhasil. Akhirnya, aku memutuskan untuk tetap pergi ke Belanda menggunakan visa schengen dan mendaftarkan diri sebagai relawan di organisasi migran dan multikultural di sana.
Aku sempat tinggal di Belanda selama lebih dari sebulan, menjadi volunteer, dan dari situ temanku menyarankan untuk mencoba lagi untuk mendaftar Au Pair. Aku kembali membuka akun lamaku di situs Au Pair, dan tanpa ekspektasi besar, aku mengubah lokasi ke Finlandia. “Siapa tahu beruntung,” pikirku waktu itu.
Ternyata benar. Dalam waktu 24 jam, aku langsung mendapat balasan dari salah satu keluarga di Finlandia. Kami berdiskusi dan dalam satu hari kami sudah sepakat. Bulan berikutnya, aku pun berangkat ke Finlandia. Sebagai informasi, Finlandia menerapkan batas maksimal apply program Au Pair adalah 30 tahun. Beruntungnya, saat aku apply di Finlandia, usiaku masih belum sampai 30 tahun.
Awalnya aku masuk Finlandia masih dengan visa schengen dari Belanda. Baru kemudian aku mengajukan visa au pair dari Finlandia langsung. Prosesnya tidak mudah. Pengajuanku sempat ditolak oleh imigrasi Finlandia karena sertifikat bahasa yang aku lampirkan dianggap kurang resmi.
Untungnya, host family-ku sangat mendukung. Mereka sampai menyewa pengacara untuk mengajukan banding. Kami harus menunggu hampir dua tahun sampai visa itu akhirnya keluar. Aku mengajukan permohonan pada Maret 2019, dan baru mendapat visa pada Januari 2021. Proses panjang itu benar-benar menguji kesabaran, tapi aku bersyukur, host family-ku tetap percaya dan memperjuangkan aku.
Setelah beberapa waktu tinggal di kota Tampere, aku pindah ke Helsinki. Di sana aku bekerja penuh waktu di sebuah restoran cepat saji. Restoran itu juga yang membantu proses perpanjangan izin tinggalku. Sambil aku menunggu perpanjangan visa, ibuku wafat di Indonesia. Aku benar-benar sedih saat itu, karena aku tidak bisa pulang untuk menunggu proses pengajuan perpanjangan visa yang belum selesai.
Selain itu, pengalaman tidak mengenakkan sempat terjadi, di mana aku ditolak lagi oleh imigrasi. Namun, aku berhasil mendapat bantuan dari pengacara publik (yang di sini gratis), dan akhirnya berhasil mendapatkan keputusan positif. Saat itu, aku bekerja selama enam bulan sambil mencoba mendaftar kuliah—sekadar mencoba keberuntungan saja.
Aku memang sejak dulu tertarik dengan dunia kuliner. Suatu hari, iklan pendaftaran kuliah muncul di timeline Instagram-ku. Padahal waktu itu pendaftaran sebenarnya sudah tutup. Aku tetap coba apply, dan tiga bulan kemudian aku mendapat undangan wawancara. Ternyata, aku diterima!
Katanya, karena ada mahasiswa yang keluar, dan mereka kekurangan orang. Rasanya seperti tidak dapat dipercaya, aku bisa berkuliah di Finlandia. Aku akhirnya menjadi mahasiswi di bidang culinary di Finlandia.
Salah satu hal yang membuatku bersyukur bisa belajar di sini adalah karena sistem pendidikan Finlandia yang sangat baik. Untuk pemegang izin tinggal tipe A seperti aku, kami bisa mengakses pendidikan secara gratis, bahkan mendapat bantuan dari pemerintah. Aku menerima housing allowance dan study support yang cukup untuk membantuku bertahan hidup di sini. Tentu, aku tetap harus mandiri dalam hal makan dan transportasi, tapi dukungan itu sangat berarti—terutama bila dibandingkan dengan apa yang aku bisa akses di negara sendiri.
Budaya Finlandia juga sangat berbeda. Salah satu culture shock paling besar adalah soal sauna. Di sini, sauna adalah bagian penting dari kehidupan. Mereka biasa beramai-ramai masuk sauna tanpa busana. Aku tidak bisa dan sampai sekarang belum pernah ikut sauna bareng orang lain. Buatku, aku bisa memiliki batas pribadi yang tetap aku jaga karena aku adalah orang Indonesia.
Soal bahasa, aku justru senang. Aku memang suka belajar bahasa baru, jadi tidak kesulitan berkomunikasi. Namun, hal yang sulit justru datang dari musim dingin yang panjang dan ekstrem. Di bulan November dan Desember, Finlandia sangat gelap dan dingin—matahari hampir tidak muncul. Rasanya sangat sepi dan menekan. Tahun-tahun pertama aku tidak terlalu terpengaruh, tapi setelah 3-4 tahun tinggal di sini, dampak musim dingin itu mulai terasa secara mental.
Untuk menjaga kewarasan, aku biasanya mencoba menghibur diri. Anak-anak di keluarga – tempat aku tinggal – mereka suka sekali bermain salju. Jadi, kami sering bermain bersama. Kadang juga kami pergi ke Lapland, ke tempat Santa Claus, dan mencoba olahraga musim dingin. Itu lumayan mengangkat suasana hatiku karena musim dingin di Finlandia.
Sahabat Ruanita, aku pernah juga mengalami hal yang menyakitkan sebagai Au Pair. Pengalaman paling menyakitkan selama menjadi Au Pair, terjadi di bulan terakhir masa tugasku. Hanya karena aku menolak ikut ke summer cottage untuk mengasuh anak-anak, host family-ku tiba-tiba memintaku keluar dari rumah. Aku bahkan tidak menerima uang saku di bulan itu. Rasanya seperti ditendang tanpa peringatan.
Untungnya, aku sudah punya keluarga baru yang siap menerima aku dua minggu kemudian. Sambil menunggu mereka yang sedang liburan, aku kembali ke Belanda untuk sementara. Setelah itu, aku kembali ke Finlandia dan langsung pindah ke rumah host family yang baru.
Pengalaman itu sangat memengaruhi kondisi psikologisku. Namun, di sisi lain, itu juga membuatku lebih kuat dan lebih sadar bahwa hidup di perantauan membutuhkan ketegasan dalam membangun batas diri. Aku belajar untuk tidak bergantung pada orang lain dan harus siap dengan segala kemungkinan.
Sebagai mahasiswi kuliner yang juga seorang muslim, aku pernah khawatir akan diminta memasak makanan yang bertentangan dengan prinsipku. Tapi ternyata, kekhawatiran itu tidak terbukti. Di sini, para pengajar sangat menghormati pilihan pribadi. Aku selalu terbuka dan jujur tentang apa yang bisa dan tidak bisa aku lakukan, dan mereka justru mencari pengganti bahan yang sesuai.
Toleransi di Finlandia cukup tinggi. Selama kita jujur dan terbuka, mereka tidak akan memaksa. Itu hal yang membuatku semakin nyaman belajar di sini.
Finlandia sering disebut sebagai negara paling bahagia di dunia. Namun, kalau aku tanya langsung ke orang Finlandia, mereka sendiri sering merasa tidak selalu bahagia. Tingkat depresi di sini juga cukup tinggi. Tapi yang membuat Finlandia layak disebut negara bahagia adalah karena kesejahteraan warganya sangat terjamin, sistem pendidikannya bagus, dan mereka sangat mencintai alam.
Dan aku pun merasa bahagia di sini. Aku merasa disupport secara nyata—sesuatu yang tidak aku dapatkan di negara sendiri.
Kalau kamu ingin datang ke Finlandia sebagai Au Pair atau mahasiswa, ada dua hal yang harus kamu siapkan: fisik dan mental menghadapi musim dingin, serta kesiapan menghadapi masyarakat yang sangat introvert. Orang Finlandia tidak suka basa-basi. Mereka tidak mudah tersenyum atau memulai percakapan. Jadi, jangan cepat merasa ditolak.
Selain itu, kamu juga harus open-minded, terutama dalam menghadapi perbedaan budaya dan agama. Jangan terlalu kaku dengan aturan pribadi yang tidak fleksibel, karena justru itu yang bisa membuatmu kesulitan beradaptasi.
Dan yang tak kalah penting, dukungan keluarga juga sangat berarti. Tidak semua orang tua Indonesia rela melepas anaknya tinggal di luar negeri, apalagi ikut program au pair yang belum terlalu umum.
Aku berharap pemerintah Indonesia bisa lebih memperhatikan para Au Pair di luar negeri, terutama di negara-negara seperti Finlandia yang belum punya badan perlindungan resmi. Kalau terjadi sesuatu seperti yang kualami dulu—diusir tanpa alasan yang jelas—tidak ada tempat bagi kami untuk mengadu.
Kalau bisa, dibuatlah kerja sama bilateral agar ada sistem pengawasan dan perlindungan yang jelas. Program Au Pair ini sebenarnya positif. Banyak orang Indonesia yang mendapat pengalaman dan peluang hidup baru dari sini. Sayang sekali kalau potensi itu tidak dimaksimalkan atau malah membiarkan risiko-risiko tanpa perlindungan hukum.
Sahabat Ruanita, itulah sepotong perjalanan hidupku yang penuh putaran, dari Indonesia ke Belanda, lalu akhirnya ke Finlandia. Dari relawan, menjadi Au Pair, hingga kini menjalani hidup sebagai mahasiswi di negara yang memberiku ruang untuk tumbuh dan belajar.
Mungkin sahabat Ruanita yang membaca ini juga sedang mencari jalan. Kalau iya, semoga kisahku bisa jadi pengingat: jalan itu mungkin panjang dan berliku, tapi bukan berarti tidak bisa ditempuh.
Penulis: Lina Herliana, yang tinggal di Finlandia dan dapat dikontak via akun instagram linaherl_
Diskusi Podcast RUMPITA – Rumpi bersama Ruanita – hadir setiap bulan dengan berbagai tema, termasuk di bulan Juni ini dengan tema lingkungan hidup.
Melanjutkan episode ke-38, diskusi podcast RUMPITA mengundang sahabat Ruanita yang baru saja menyelesaikan studi S2 di Milan, Italia. Dia adalah Ni Made Asri Wahyuni, yang meneliti keterkaitan Tri Hita Karana dengan perilaku buang sampah di Bali.
Diskusi Podcast RUMPITA dipandu oleh Novi di Norwegia dan Anna. Kebetulan Novi pernah menggeluti bidang lingkungan hidup sewaktu masih bekerja di Indonesia.
Novi sendiri mengamati saat berlibur di Bali beberapa waktu lalu, bahwa objek wisata yang dikenal dunia itu sudah banyak mengalami perubahan, termasuk tumpukan sampah yang tak sedap dilihat.
Bagi Asri yang lahir dan besar di Bali, perilaku membuang sampah orang Bali kini mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman, seperti penggunaan plastik yang dianggap praktis dan efisien.
Padahal dulu orang Bali lebih menggunakan daun dan menyatukan sampah organik begitu saja, karena hanya sampah dapur dan sampah ritual upacara adat.
Ketertarikan Asri meneliti perilaku membuang sampah didasari oleh fenomena sosial tentang Bali yang kotor oleh tumpukan sampah.
Sebagai pusat pariwisata dunia, Asri yang juga kerap disapa Made ini juga mengingatkan kearifan lokal warga Bali, yang terpaut dengan perspektif Tri Hita Karana.
Asri atau Made pernah bergabung sebagai aktivis lingkungan sebelum dia melanjutkan studi S2 di Italia.
Beliau merasa telah banyak banjar atau komunitas masyarakat di Bali yang menerapkan pemilahan sampah atau menerapkan pemanfaatan sampah organik untuk kebutuhan masyarakat sendiri.
Dari pengamatannya tersebut, Asri pun meneliti perilaku membuang sampah dengan perspektif kearifan lokal yang sudah dialami oleh warga Bali sendiri.
Apa itu Tri Hita Karana? Bagaimana keterkaitan Tri Hita Karana dengan perilaku membuang sampah? Apa hasil penelitian Asri sendiri untuk rekomendasi masyarakat di Bali? Apa pesan Asri yang juga menjadi aktivis lingkungan di Hari Lingkungan Hidup Sedunia?
Sahabat Ruanita, saya menggunakan dating apps selama lebih dari enam tahun untuk mencari jodoh di Jerman. Saya bertemu dengan beragam laki-laki dari sana. Laki-laki pertama yang saya temui baik dan kami saling menyukai.
Walau pada akhirnya tidak berakhir dengan baik, tapi kali menyelesaikannya dengan baik-baik dan pamit. Laki-laki selanjutnya ada yang mirip, ada juga berbeda, ada mereka menghilang begitu saya tanpa jejak. Perilaku seperti ini sekarang disebut dengan ghosting.
Makna dari ghosting sendiri adalah menghilang tanpa jejak. Seperti hantu (ghost), orang yang melakukan ghosting tidak terlihat tanpa jejak. Menurut saya di-ghosting itu tidak enak. Saya sendiri sudah tidak ingat lagi berapa kali di-ghosting, tapi yang paling membekas di ingatan saya adalah kejadian pada tahun 2017-2018.
Waktu itu saya dekat dengan seorang laki-laki yang berbeda negara dengan saya. Dia tinggal di Belanda dan saya tinggal di Jerman. Kami pernah bertemu satu kali, saat saya ke Belanda untuk mengunjungi teman baik saya.
Kota tempat tinggal laki-laki ini sebenarnya hanya sekitar satu jam dari kota teman saya, tapi saat itu dia sebenarnya sedang tugas di Inggris. Dia sengaja pulang ke Belanda untuk bertemu saya di kota tetangga. Duh, bikin ge-er sekali ‘kan?
Sebelum dan setelah bertemu semuanya berjalan baik. Setiap hari kami berkomunikasi via tulisan atau telepon. Di telepon kami juga sudah membicarakan, bahwa perkenalan yang kami lakukan ini bertujuan untuk menikah, bukan hanya sekedar main-main saja.
Waktu itu kebetulan mendekati acara wisuda saya dari salah satu universitas di Jerman. Dia bersedia datang menjadi pendamping wisuda saya. Dia sudah setuju untuk mengambil penerbangan pagi dari Belanda ke Jerman karena acara wisuda baru di sore hari pukul 16.30.
Namun dua minggu sebelum saya wisuda, dia menghilang begitu saja tanpa kabar. Ketika itu kami sudah kenal kurang-lebih enam bulan, bukan waktu yang singkat.
Saya ingat, pesan saya di Whatsapp waktu itu berhari-hari belum contreng biru. Mungkin saking ingin menghindar dari saya, dia sampai tidak membuka pesan saya di handphone-nya, jadi hanya membacanya di smartwatch saja. Mungkin.
Itu hanya fantasi saya. Suatu saat tiba-tiba pesan tersebut bercontreng biru dan saya mendapatkan balasan dari dia, yang hanya bilang dia sedang sibuk. Mungkin dia tidak sengaja membuka pesan saya jadi terpaksa harus membalasnya. Mungkin. Itu adalah pesan terakhir yang saya dapatkan dari dia.
Selama saya menggunakan dating apps, saya pernah juga beberapa kali di-ghosting beberapa laki-laki, tapi laki-laki ini satu-satunya yang membuat saya sangat patah hati dan kecewa karena di-ghosting.
Mungkin karena saya sudah berharap banyak dari dia. Saya butuh waktu lama untuk sembuh dari patah hati saya. Sampai sekarang kejadian tersebut masih membuat saya sedih dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan dia.
Jujur, saya juga pernah ghosting ke orang lain, tapi biasanya yang baru mengobrol atau mungkin pernah bertemu sekali, tapi tidak pernah berbicara masalah serius, apa lagi sampai tentang niat menikah.
Benar-benar masih dalam tahap perkenalan awal. Saya melakukan itu biasanya karena tidak tahu dan tidak enak untuk menolak orang, jadi saya menghindari mereka dengan menghilang dari mereka.
Saya juga beberapa kali di-ghosting orang saat di tahap yang sama, tapi itu juga tidak terlalu membekas di ingatan saya. Mungkin karena memang masih baru kenal dan/atau saya sendiri juga tidak suka dengan mereka.
Tapi apa yang laki-laki di Belanda lakukan itu menurut saya kejam sekali. Saya sering memikirkan apa yang salah dari saya sampai dia tidak mengatakan langsung ke saya.
Apakah saya terlalu dominan? Mengapa dia menghilang begitu saja? Saya salah apa? Apa dia juga merasa tidak enak memutuskan saya, makanya menghilang? Apa dia ilfil a.ka hilang feeling ke saya? Begitu buruknya kah saya sampai dia ilfil dan ghosting saya? Dan pikir-pikiran lain yang membuat saya sedih juga tidak percaya diri.
Saya sempat mengirimkan pesan mengkonfrontasi dia. Saya bertanya mengapa dia keeping distance ke saya dan sebagai orang dewasa sebenarnya kita bisa berbicara jika ada masalah.
Saya juga bilang kalau saya merasa dia tidak punya respect ke saya karena apa yang dia lakukan. Hasilnya nihil, dia tetap tidak bergeming untuk membalas pesan saya. Saya sebenarnya juga ingin menuliskan hal lain ke dia, tentang saya memaafkan dia walau permintaan maaf itu tidak pernah saya dapatkan, tapi untungnya sahabat saya melarang saya untuk mengirimkannya.
Oh iya, mungkin 1-2 bulan, sejak dia ghosting saya, dia aktif lagi di dating app tempat kami berkenalan, padahal sebelumnya saat bersama saya sudah tidak aktif lagi.
Saya memerlukan waktu lama sampai akhirnya bisa mulai melupakan dia. Saat itu saya senang mencari quotes di Instagram yang bisa mewakili isi hati saya. Saya follow seseorang di Instagram yang banyak menulis komik strip tentang patah hati.
Suatu hari dia pos sebuah komik hanya dengan satu paragraf, “Was I not worth a goodbye?”. Saya menangis saat membaca itu. Ini seperti berasal dari hati terdalam saya. Apakah saya tidak berharga sampai seorang laki-laki berhenti menghubungi saya tanpa bilang apa pun?
Mungkin waktu itu saya me-repost komik tersebut di Whatsapp story saya, saya tidak ingat lagi, tapi seingat saya ada kenalan laki-laki, yang waktu itu dekat dengan saya dan tahu cerita saya di-ghosting laki-laki sebelumnya, menenangkan saya dengan bilang, “It’s not the worth of your, he showed his worth.”
Kata-kata itu menyejukkan saya yang sedang mellow. Mungkin sejak itu saya mulai bisa berdamai dengan diri sendiri. Apa pun alasan dia ghosting saya waktu itu, dia hanya menunjukkan buruknya nilai atau kualitas dia.