
Dalam upaya meningkatkan partisipasi perempuan Indonesia dalam pendidikan internasional, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan DAAD Indonesia dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia menggelar diskusi interaktif melalui Instagram Live pada bulan Juli 2025.
Acara ini merupakan bagian dari rangkaian program kolaboratif Ruanita dan PPI Dunia untuk mempromosikan kesetaraan gender dalam akses pendidikan global.
Diskusi IG Live dipandu oleh Zukhrufi Sysdawita, relawan Ruanita Indonesia, penerima beasiswa DAAD Indonesia dan lulusan M.A. Universität Passau, Jerman.
Diskusi kali ini menghadirkan dua narasumber utama: Syafa Humairah Ramadhani dari DAAD Indonesia dan Diva Putri, penerima beasiswa dari LPDP yang saat ini menempuh studi di Swiss dan menjabat sebagai Ketua PPI Swiss dan Liechenstein.
Keduanya membagikan pengalaman, wawasan, serta strategi praktis bagi perempuan Indonesia yang ingin menempuh pendidikan tinggi di luar negeri.
Syafa membuka diskusi dengan menegaskan bahwa DAAD, sebagai lembaga penyedia beasiswa Jerman, sangat mendukung kesetaraan akses, termasuk bagi perempuan.
Menurutnya, dalam proses seleksi, DAAD tidak hanya mempertimbangkan latar belakang akademik tetapi juga kondisi personal para pelamar, seperti apakah mereka sedang merawat keluarga, memiliki disabilitas, atau baru saja melahirkan.
“Beasiswa dari DAAD sangat terbuka untuk semua, tanpa diskriminasi. Kami mempertimbangkan latar belakang pelamar secara menyeluruh agar dapat memberikan kesempatan yang setara bagi perempuan dari berbagai kondisi,” jelas Syafa.
Menariknya, Syafa menyampaikan bahwa pada tahun 2025, sekitar 50% dari penerima Batch 1 adalah perempuan. Bidang studi yang paling banyak diminati adalah sains alam dan teknik (sekitar 60%), disusul ilmu sosial, pembangunan, seni, dan arsitektur.
Diva Putri membagikan pengalamannya sebagai pelajar perempuan di Swiss. Ia menekankan pentingnya membangun komunitas dan support system selama studi di luar negeri, terutama karena jauh dari keluarga dan lingkungan yang familiar.
“Salah satu tantangan utama adalah rasa kesepian. Tapi saya menemukan rumah kedua melalui komunitas pelajar Indonesia dan menjadi aktif di PPI Swiss. Dari situ saya belajar bahwa kita bisa bertahan dan berkembang jika punya komunitas yang mendukung,” tutur Diva.
Selain tantangan emosional, ia juga menyoroti pentingnya keterbukaan terhadap budaya baru. “Yang paling menarik dari belajar di luar negeri adalah bertemu teman dari berbagai negara dan budaya. Kita belajar bukan hanya di kelas, tapi juga dalam interaksi sehari-hari.”
Diskusi kemudian mengarah pada jenis-jenis beasiswa yang tersedia. Syafa menjelaskan bahwa DAAD memiliki dua jenis pendanaan utama: individual funding (pendanaan individu) dan project funding (pendanaan proyek).
Salah satu contoh beasiswa berbasis proyek adalah DSXLib yang ditujukan bagi dekan perempuan baru di institusi pendidikan tinggi.
Meski DAAD tidak memiliki beasiswa khusus untuk perempuan secara umum, mereka pernah mengadakan Aceh Excellence Scholarship pascatsunami 2004, yang ditujukan untuk pelajar perempuan dari Aceh.
Di luar DAAD, banyak program beasiswa lain yang memang ditujukan untuk kelompok marginal seperti beasiswa afirmasi, beasiswa disabilitas, dan beasiswa pemuda Papua dari LPDP.
Diva menambahkan bahwa dalam memilih beasiswa, penting untuk memahami tujuan pribadi dalam pendidikan. “Beasiswa adalah alat bantu untuk mencapai tujuan pendidikan. Jadi kita harus tahu dulu mau ke mana, baru memilih beasiswa yang paling sesuai.
Tips Sukses Mendaftar Beasiswa
Dalam sesi tanya-jawab, para narasumber juga membagikan tips penting untuk proses aplikasi beasiswa:
- Lakukan Riset Mendalam
Diva menekankan pentingnya memahami persyaratan beasiswa secara detail, termasuk dokumen yang dibutuhkan, tenggat waktu, dan tes pendukung seperti TOEFL atau IELTS. “Persiapan idealnya dimulai minimal enam bulan sebelum aplikasi.” - Bangun Rencana Studi yang Jelas
Salah satu alasan umum kegagalan adalah tidak jelasnya rencana studi. Diva belajar dari kegagalan pertamanya untuk lebih konkret dalam menjelaskan rencana kontribusi pascastudi. - Perkuat Motivasi dan Kesiapan Mental
Menurut Diva, memiliki mental tangguh sangat penting karena proses aplikasi bisa panjang dan melelahkan. Ia menekankan pentingnya sikap pantang menyerah: “Kegagalan bukan masalah, yang penting kita bangkit lagi dan belajar dari kesalahan.” - Perhatikan Persyaratan Teknis dan Administratif
Syafa mengingatkan bahwa banyak pelamar gagal di tahap awal karena dokumen tidak lengkap atau tidak sesuai persyaratan. Salah satu kesalahan umum adalah dokumen yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau Jerman.
Apa yang Dicari dalam Seleksi Beasiswa?
Syafa memaparkan tiga aspek utama yang menjadi penilaian dalam seleksi beasiswa DAAD:
- Kualifikasi Akademik
Termasuk IPK, pengalaman kerja, dan kesesuaian dengan program studi yang dilamar. - Kualitas Rencana Studi
DAAD sangat menekankan keselarasan antara program studi sebelumnya dan yang akan diambil. “Studi lintas bidang yang tidak relevan biasanya kurang disarankan.” - Potensi Pribadi Pelamar
Penilaian ini dilakukan melalui motivation letter dan wawancara. Komite seleksi ingin melihat apakah pelamar punya ketahanan, motivasi, dan kesesuaian dengan lingkungan akademik di Jerman.
Diskusi ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara komunitas seperti Ruanita, institusi beasiswa seperti DAAD, dan organisasi pelajar seperti PPI Dunia dapat menjadi jembatan penting dalam menciptakan akses pendidikan global yang lebih inklusif.
Dengan informasi yang tepat, strategi yang matang, serta semangat pantang menyerah, semakin banyak perempuan Indonesia yang bisa mengakses peluang pendidikan tinggi internasional yang tidak hanya memperkaya pengalaman pribadi, tetapi juga memperkuat kontribusi mereka dalam pembangunan bangsa.
Simak selengkapnya diskusi interaktif tersebut di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE agar tidak ketinggalan program yang menarik lainnya.