
Ruang virtual Instagram Ruanita kembali menjadi tempat hangat berbagi cerita dan inspirasi. Diskusi IG LIVE interaktif bertema “The Joy of Less: Hidup Minimalis dalam Mode dan Fesyen” menghadirkan dua sahabat Ruanita yang tinggal di dua benua berbeda: yakni Rieska Wulandari di Milan, Italia dan Dewi Maya di South Carolina, Amerika Serikat.
Dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita dari Ruanita Indonesia, diskusi ini menelusuri makna hidup minimalis dari sudut pandang keseharian hingga industri kreatif seperti fesyen.
Sebagai jurnalis lepas dan kontributor media, Rizka yang tinggal di kota Rimini, Italia, mengawali dengan menggambarkan bahwa hidup minimalis baginya berarti hidup secara cerdas, efisien, dan berkelanjutan.
“Buat saya, minimalisme bukan sekadar gaya hidup lucu-lucu. Tapi trik untuk menghadapi tantangan hidup,” ujarnya.
Rizka menekankan bahwa hidup di kota di Italia dengan ruang yang terbatas menuntut masyarakat untuk berbagi ruang dan fasilitas.
Dari apartemen kecil hingga taman umum, masyarakat belajar memanfaatkan sumber daya bersama—konsep minimalis yang kolektif, bukan individual.
Uniknya, meski Italia dikenal sebagai pusat mode dunia, Rizka mengungkapkan bahwa masyarakatnya justru sangat sadar akan esensi dan kualitas.
Gaya hidup old money atau professional style menjadi bentuk minimalisme tersendiri: membeli barang berkualitas tinggi sebagai investasi jangka panjang, bukan demi tren sesaat.
Sementara itu, Dewi, seorang desainer yang berbasis di South Carolina, AS, berbagi refleksinya setelah bertahun-tahun terjun di industri fashion. Ia mengaku bahwa kesadaran minimalis datang seiring pengalaman dan kedewasaan.
“Dulu, aku ikut tren terus. Tapi makin ke sini, aku sadar: fungsi lebih penting dari estetika sesaat,” katanya.
Dewi kini fokus mengembangkan karya berbasis slow fashion dan upcycled materials. Ia pernah membuat fashion show yang menggunakan tas-tas daur ulang dari plastik dan aktif bekerja sama dengan UKM Indonesia untuk memproduksi barang handmade dari jarak jauh.
Menurutnya, masyarakat Amerika cukup menghargai produk yang etis dan tahan lama. Kesadaran lingkungan dan preferensi terhadap kualitas menjadi alasan kuat mengapa minimalisme dalam fashion menjadi semakin relevan.
Baik Rizka maupun Dewi sepakat bahwa minimalisme tidak harus berarti “pelit” atau kekurangan. Justru, ini soal menyadari kebutuhan dan memprioritaskan fungsi, nilai, dan keberlanjutan. Beberapa tips yang mereka bagikan:
- Gunakan kembali dan berbagi: dari baju bayi hingga buku, banyak bazar dan platform second-hand di Eropa.
- Pilih bahan berkualitas: barang yang tahan lama bisa menjadi investasi, bahkan bisa diwariskan atau dijual kembali.
- Kurasi lemari baju: lebih baik punya sedikit baju yang cocok dan fungsional daripada lemari penuh tren yang cepat usang.
- Belanja dengan kesadaran: apakah barang ini akan berguna lama? Siapa yang membuatnya? Apa dampaknya bagi lingkungan?
Diskusi IG LIVE ini bukan sekadar tentang gaya atau tren, tapi soal cara memaknai hidup dengan lebih sederhana dan sadar.
“Di Italia, ada musim untuk bekerja keras, dan ada musim untuk istirahat dan menikmati hidup. Itu yang membuat hidup terasa seimbang,” ungkap Rizka sambil tersenyum di sela liburannya di pantai.
Akhir sesi terasa seperti pelukan hangat—dua perempuan Indonesia dari dua benua membuktikan bahwa hidup lebih sedikit bukan berarti kehilangan, tapi justru menemukan kembali makna, kesadaran, dan ruang untuk bernapas.
Simak selengkapnya Diskusi IG LIVE Episode Juli 2025 di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami