(CERITA SAHABAT) Perempuan di Industri Tambang: Di Bawah Komando Perempuan

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya adalah Selvi Tandirerung, yang sekarang tinggal di Finlandia sudah lebih dari lima tahun lalu. Saya adalah perempuan Indonesia yang juga berprofesi sebagai  Mining Engineer atau Insinyur Pertambangan.

Saya ingin berbagi pengalaman dan inspirasi lewat program cerita sahabat ini, tentang peran perempuan dalam industri tambang. Sebagaimana kita sudah tahu, bahwa dunia tambang itu selalu dianggap sebagai dunia laki-laki.

Saat saya memulai karir saya di dunia pertambangan, memang sangat sedikit perempuan yang berminat untuk bekerja di pertambangan. Ya, contohnya saja dalam kuliahan itu kita hanya ada dari 56 atau 59 siswa dalam satu kelas.

Hanya ada 9 siswa perempuan dalam angkatan perkuliahan saat itu. Sahabat Ruanita, kita bisa melihat betapa jomplangnya antara mahasiswa peminat pertambangan berdasarkan gender. Kebanyakan mayoritas itu adalah mahasiswa laki-laki.

Mengapa saya sampai tiba di Finlandia? Awalnya, saya coba-coba saja untuk melamar ke perusahaan-perusahaan di luar seperti di Australia, di Amerika, di Turki.

Waktu itu, saya hanya tahu perusahaan tambang itu adanya di sekitar situ saja. Intinya, saya tidak pernah berpikir bahwa ada perusahaan pertambangan di negara Eropa.

Pada suatu hari, saya menemukan lowongan pekerjaan. Lowongan tersebut tertulis bahwa mereka membutuhkan untuk resident permit untuk bekerja di pertambangan di Finlandia.

Saya coba melamar dan kebetulan mereka tertarik dengan saya. Akhirnya, saya tiba di negara ini.

Di tempat kerja saya itu, sistem bekerjanya untuk saya sendiri adalah dua minggu  bekerja dan 2 minggu kerja on-site. Dua minggu tersebut, saya harus berada di site dan 1 minggu itu saya harus ada di rumah.

Hal yang suka dari tempat saya bekerja, perusahaan tambang telah menggalakkan campaign seperti Women in Mining.

Oleh karena itu, mereka pun mulai menerima beberapa perempuan yang dianggap bisa berkontribusi di dalam dunia pertambangan. 

Mengapa perempuan enggan atau kurang berminat bekerja di perusahaan pertambangan?

Menurut saya, hal ini mungkin disebabkan mereka berpikir bahwa perusahaan pertambangan itu identik dengan tanah kotor.

Ada juga yang berpendapat, bahwa kondisinya terlalu berbahaya untuk perempuan.

Dokumen pribadi milik Selvie Tandirerung.

Saya sendiri berpendapat, bekerja di tambang itu semua sudah diperhitungkan untuk sistem safety-nya.

Perusahaan tambang tentunya telah mempersiapkan kita yang bekerja agar risiko dan bahaya dapat diminimalisir terjadinya.  

Ada juga yang berpikir bahwa pekerjaan di industri tambang, hanya untuk pekerjaan laki-laki.

Di Finlandia, memang ada peraturan perundang-undangan yang menjelaskan bahwa perempuan itu mempunyai hak yang sama dengan laki-laki dalam hal apapun.

Level perempuan untuk bekerja, itu setara dengan laki-laki.

Kalau laki-laki bisa jadi presiden, perempuan juga bisa jadi presiden.

Itulah mengapa di Finlandia juga ada, perdana menteri perempuan. Perdana menteri perempuan yang saya maksud adalah Sanna MIrella Marin, yang menjabat 2019-2023.

Sahabat Ruanita, di Finlandia tidak ada statement yang bisa mengatakan bahwa hanya laki-laki yang bisa menduduki posisi direktur.

Atau, tidak ada pernyataan di Finlandia hanya laki-laki saja yang bisa bekerja di dunia pertamangan. Jadi, perempuan dan laki-laki memiliki level yang sama.

Di akhir cerita saya, saya cukup bangga bisa berkarier sebagai seorang perempuan Indonesia di Finlandia.

Satu kebanggaan, buat saya dan orang tua saya adalah saat koran lokal memuat berita tentang saya yang bekerja di industri tambang.

Judul artikel koran tersebut adalah naisen komenosa. Kalau teman-teman mau translate, judul artikel tersebut berarti di bawah komando seorang perempuan.

Penulis: Selvi Tandirerung, bekerja di industri tambang di Finlandia dan bisa dikontak via instagram exoticgirltravel.