(CERITA SAHABAT) Ini Cara Saya Melalui Midlife Crisis

Sahabat Ruanita, perkenalkan saya Griska Gunara, yang kini berusia sudah kepala empat alias 40-an. Saya telah menetap di Inggris selama beberapa tahun dan menjalani kehidupan yang dinamis, sebagai seorang ibu, praktisi yoga dan meditasi, dan photojournalist, serta juga menjadi kontributor di media online, termasuk juga di program cerita sahabat Ruanita loh. Seiring berjalannya usia, tentu saya pun menghadapi berbagai tantangan yang membuat saya melakukan refleksi diri.


Salah satu fase yang sering dihadapi manusia, namun jarang dibahas secara terbuka, adalah midlife crisis. Oleh karena itu, saya ingin berbagi pendapat dan pengalaman saya tersebut. Dulu, di usia 20-an, saya menganggap quarterlife crisis sebagai sesuatu yang menakutkan dan negatif. Namun, setelah mengalaminya sendiri, saya menyadari bahwa ini adalah fase transisi psikologis yang alami terjadi dalam diri manusia. Berbicara tentang Midlife crisis, umumnya terjadi antara usia 40 dan 60 tahun dan ditandai dengan perasaan tidak puas, kegelisahan, serta pencarian makna hidup. Ini bukan sekadar gangguan emosional, tetapi refleksi diri yang mendalam mengenai identitas, pencapaian, dan tujuan hidup ke depan.

Follow us

Saat mengalami quarterlife crisis di usia 20-an, saya berjuang mencari jati diri, menghadapi tekanan dari lingkungan, dan mencari tahu arah hidupnya. Berbeda dengan itu, midlife crisis atau yang disebut “krisis paruh baya” lebih berkaitan dengan refleksi mendalam tentang perjalanan hidup yang sudah ditempuh dan bagaimana seseorang ingin menjalani sisa hidupnya. Hal ini sejalan dengan istilah “Krisis paruh baya” dicetuskan pertama kali pada tahun 1960-an oleh Psikolog asal Kanada. Menurut saya, krisis yang dihadapi ini bukanlah pengalaman universal dan hanya berbeda fase pada Midlife-Crisis dan Quarterlife-Crisis.

Menurut saya, beberapa tanda dan gejala umum dari midlife crisis meliputi:

  • Ketidakseimbangan emosional
  • Kegelisahan dan kecemasan
  • Keinginan untuk mengubah hidup secara signifikan
  • Mempertanyakan identitas dan pencapaian diri
  • Kesadaran tentang penuaan dan keterbatasan hidup
  • Gangguan fisik seperti insomnia atau perubahan berat badan drastis

Setiap individu memiliki pemicu yang berbeda dalam menghadapi midlife crisis. Saya mengalaminya setelah ada perubahan dalam keluarga, terutama ketika putri saya akan segera lulus SMA dan melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Selain itu, perbedaan budaya antara Indonesia dan Inggris juga memberikan tantangan tersendiri dalam menavigasi peran saya sebagai ibu dan perempuan yang ingin terus berkembang. Saya menilai, terkadang kurangnya penghargaan atas kontribusi dalam proyek kolaboratif juga bisa menjadi pemicu ketidakpuasan diri.


Sahabat Ruanita, saya menilai tantangan terbesar dalam menghadapi midlife crisis adalah diri sendiri. Terkadang, seseorang tanpa sadar menciptakan hambatan yang menghalangi pertumbuhan pribadi. Oleh karena itu, menyeimbangkan kehidupan, memiliki waktu untuk diri sendiri (me-time), serta menjaga kesehatan mental menjadi hal yang sangat penting. Seperti yang saya lakukan sebagai praktisi yoga dan meditasi, tentunya sangat membantu saya mengenali diri saya sendiri. 


Dengan kemajuan digitalisasi, masyarakat Indonesia, terutama di perkotaan, mulai lebih sadar akan adanya fenomena ini. Namun, masih ada stigma dan pandangan tabu terkait midlife crisis, terutama bagi perempuan. Misalnya, munculnya istilah puber kedua atau menopause yang sering kali dikaitkan dengan perubahan psikologis dan emosional pada perempuan usia paruh baya. Apakah sahabat Ruanita pernah mendengar atau mengalami hal ini?


Menurut saya, terdapat perbedaan mendasar antara cara perempuan Indonesia dan Inggris dalam menghadapi midlife crisis. Budaya di Inggris cenderung lebih individualistis, jadi banyak perempuan yang menghadapi midlife crisis dengan mencari perubahan yang lebih personal, seperti beralih karier, traveling, atau mengejar hobi baru. Terapi & self-care lebih umum karena lebih diterima secara luas, sehingga lebih banyak perempuan yang mencari bantuan profesional untuk mengatasi perasaan kehilangan arah atau ketidakpuasan dalam hidup. Tekanan sosial untuk tetap menjalankan peran tradisional sebagai istri atau ibu lebih rendah dibandingkan di Indonesia. 

Perempuan Inggris dapat lebih bebas menentukan pilihan hidup – keterbukaan ini yang membuat mereka merasa lebih leluasa untuk bercerai, pindah kota, atau mengubah gaya hidup tanpa merasa terlalu terikat oleh ekspektasi masyarakat. Isu seperti menopause, kesehatan mental depresi, atau perubahan hormonal dapat diperbincangkan lebih terbuka, sehingga perempuan di Inggris merasa lebih didukung dan memiliki lebih banyak sumber daya untuk menghadapinya.

Berdasarkan pengalaman, ini beberapa cara yang bisa membantu seseorang menghadapi midlife crisis dengan lebih positif, antara lain:

  1. Menjelajahi Minat Baru
    • Belajar keterampilan baru seperti bahasa, seni, atau musik.
    • Menulis jurnal reflektif untuk mencatat perjalanan hidup.
  2. Meningkatkan Koneksi Spiritual & Emosional
    • Praktik yoga dan meditasi untuk menenangkan pikiran.
    • Melakukan retreat atau perjalanan spiritual.
  3. Menjalin Koneksi Sosial Baru
    • Menghadiri agenda pertemuan di organisasi kemasyarakatan.
    • Berbagi pengalaman dengan orang lain melalui mentorship.
  4. Merawat Kesehatan Fisik & Mental
    • Mencoba olahraga baru seperti hiking atau bersepeda.
    • Mengadopsi pola makan sehat dan memasak makanan bergizi.
  5. Mengeksplorasi Karier & Kreativitas
    • Mencari peluang karier baru yang lebih bermakna.
    • Mengeksplorasi kegiatan kreatif seperti fotografi atau menulis.
    • Traveling untuk menemukan perspektif baru dalam hidup.


Seiring dengan perjalanan menghadapi midlife crisis, saya merasakan perubahan cara pandang terhadap diri sendiri dan kehidupan. Saya menjadi lebih percaya diri, tidak lagi terlalu bergantung pada validasi eksternal, dan lebih sadar akan pentingnya keseimbangan hidup. Saya menyadari bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang pencapaian materi atau prestasi, tetapi juga tentang penerimaan diri dan kedamaian batin.


Di akhir, saya ingin memberikan pesan yang inspiratif kepada sahabat Ruanita, terutama perempuan Indonesia yang sedang menghadapi midlife crisis:

“Beranilah menghadapi diri sendiri dan berikan ruang untuk refleksi. Hidup tidak berhenti sampai di sini—ini justru awal dari babak baru yang lebih matang dan bermakna. Tidak selalu harus kuat atau mengutamakan orang lain; merawat diri sendiri bukanlah tindakan egois, tetapi bentuk mencintai diri sendiri. Jangan takut menghadapi perubahan, karena keindahan seorang perempuan tidak ditentukan oleh usia. Dunia belum berakhir—justru babak baru yang luar biasa menanti untuk dituliskan dalam perjalanan hidup kita.”


Jadi sahabat Ruanita, Midlife crisis bukanlah akhir, melainkan kesempatan untuk menata ulang hidup dengan lebih sadar dan bermakna. Semoga cerita saya dapat menginspirasi banyak perempuan untuk menghadapi fase ini dengan keberanian, kesadaran, dan kebahagiaan yang lebih dalam.

Penulis: Griska Gunara, tinggal di Inggris dan dapat dihubungi via akun instagram @griskagunara.

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Gelar Diskusi Online Untuk Perkuat Solidaritas Orang Indonesia di Finlandia dan Estonia

HELSINKI, 28 September – Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Helsinki menyelenggarakan diskusi online bertajuk “Resiliensi Bermigrasi di Finlandia” yang dihadiri sejumlah warga Indonesia di Finlandia dan di Estonia serta berbagai warga Indonesia lainnya yang tertarik dengan tema psikologi dan budaya.

Kegiatan ini menghadirkan ruang berbagi inspirasi, tantangan, serta strategi adaptasi bagi warga Indonesia yang merantau di Finlandia maupun masyarakat yang tertarik dengan isu migrasi.

Migrasi tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan fisik, tetapi juga sebagai proses panjang yang melibatkan penyesuaian sosial, budaya, dan psikologis. Bagi orang Indonesia di Finlandia, keberhasilan dalam studi, karier, maupun kehidupan sosial kerap ditentukan oleh resiliensi, strategi coping, dan pemahaman budaya lokal.

Melalui diskusi ini, Ruanita Indonesia berharap dapat menghadirkan ruang reflektif dan interaktif, sekaligus memberikan inspirasi nyata dari pengalaman para perantau yang telah sukses membangun kehidupan di negeri rantau.

Acara ini dibuka oleh Dubes RI untuk Finlandia dan Estonia, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi berbagi pengalaman dari Evita Haapavaara, seorang wiraswasta asal Indonesia yang berhasil membangun usaha di Helsinki. Diskusi juga menghadirkan Desiree Luhulima, praktisi pendidikan dasar di Finlandia yang menguraikan nilai-nilai pendidikan sebagai fondasi penting dalam membangun resiliensi dan keterampilan sosial di lingkungan baru.

Selain itu, Yuniar Paramita Sari, peneliti di bidang migran di Hong Kong, yang memaparkan perspektif sosial dan budaya tentang tantangan migrasi yang aman dan bijak, serta pentingnya dukungan komunitas dalam proses adaptasi.

Diskusi ini dimoderasi oleh Ari Nursenja, mahasiswa doktoral di Helsinki, dan ditutup dengan sesi tanya jawab serta penarikan benang merah dari keseluruhan pembahasan. Program ini terbuka bagi siapa saja yang ingin memahami lebih jauh dinamika kehidupan perantau di Finlandia dan Estonia.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan dapat memperoleh wawasan praktis, inspirasi, serta memperluas jejaring komunitas yang dapat memperkuat solidaritas sesama orang Indonesia di negeri rantau. Informasi lebih lanjut dan pendaftaran dapat diakses melalui situs resmi Ruanita Indonesia di www.ruanita.com.

Simak rekaman acara berikut di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Emotional Attachment: Bucin, Manja, Tidak Mandiri, Hingga Relasi yang Toksik

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Adelia Putri, yang kini menjadi mahasiswi, sekaligus konselor sebaya, yang menjadi bagian dari Forum Generasi Berencana di Indonesia. Saya tertarik pada isu kesehatan mental, termasuk tema emotional attachment yang ingin dibagikan berikut ini. Menurut saya, emotional attachment begitu penting dalam relasi antar manusia. Sahabat Ruanita, apa yang terlintas dalam benak kalian, jika mendengar emotional attachment? Dalam pikiran saya pertama kali, terlintas fase pasca mengakhiri hubungan. Bisa jadi ini adalah momen, di mana seseorang masih  merasa terikat secara emosional dengan mantan pasangan, meskipun hubungan  sudah berakhir. Perasaan ini bisa muncul dalam bentuk rindu, kesulitan melupakan  kenangan, atau bahkan ketergantungan emosional. Bisa jadi, mantan pasangannya dulu adalah orang yang menjadi bagian dari rutinitas kehidupan sehari-harinya. Apakah sahabat Ruanita pernah mengalami pengalaman ini juga?

Jika menilik secara harafiah, emotional attachment adalah keterikatan emosional yang membuat seseorang merasa dekat,  nyaman, dan bergantung secara psikologis pada seseorang, benda, atau situasi tertentu.  Dalam kehidupan sehari-hari, ini bisa terlihat dalam bentuk seseorang yang selalu ingin  bersama orang terdekatnya, sulit melepaskan barang yang memiliki kenangan, atau bahkan  perasaan nostalgia terhadap tempat tertentu. 

Saya bukan seorang psikolog atau ahli kesehatan mental, tetapi ternyata ada hubungan antara emotional attachment dengan kesehatan mental. Emotional attachment bisa berdampak positif atau pun negatif terhadap kesehatan mental.  Jika keterikatan emosional bersifat sehat atau disebut sebagai secure attachment, tentu relasi tersebut bisa memberikan rasa  aman, kenyamanan, dan meningkatkan kesejahteraan emosional. Namun, jika terlalu kuat  dan tidak seimbang (insecure attachment), bisa menyebabkan kecemasan, depresi, dan  kesulitan dalam menghadapi perubahan atau kehilangan. Misalnya, seseorang yang terlalu  bergantung pada pasangan bisa mengalami stres berlebihan, saat menghadapi perpisahan. 

Pengalaman perpisahan dengan orang terkasih nyatanya bisa berdampak signifikan juga loh dalam kehidupan. Ini pengalaman saya dulu menjadi konselor sebaya bagi teman-teman saya di usia remaja. Saya adalah remaja, yang berpartisipasi dalam program Generasi Berencana (GenRe). Bisa dijelaskan, ini seperti suatu komunitas yang berfokus pada pengembangan dan pemberdayaan remaja. Salah satu  program utama dalam GenRe adalah konselor sebaya, di mana para remaja yang terpilih, telah  mendapatkan pelatihan sebagai konselor bagi remaja lainnya. 

Dalam sesi konseling, permasalahan yang paling sering ditemui adalah seputar romansa.  Banyak remaja mengalami emotional attachment yang cukup dalam terhadap pasangan  mereka. Jika keterikatan ini terlalu kuat dan tidak seimbang, remaja mengalami  kesulitan, seperti terjebak dalam hubungan yang tidak sehat (toxic relationship) atau  merasakan kesedihan yang berlebihan, setelah perpisahan. Sebagai bagian dari Generasi Berencana (GenRe), saya sering bertemu dengan  berbagai remaja yang mengalami keterikatan emosional dalam hubungan mereka. Hal  ini membuat saya lebih peka dalam memahami dinamika perasaan seseorang dan lebih berhati-hati dalam membangun hubungan dengan orang lain. Saya belajar bahwa  emotional attachment yang sehat bisa memberikan kenyamanan, tetapi jika terlalu kuat  dan tidak seimbang, bisa menyebabkan ketergantungan berlebihan atau bahkan  hubungan yang tidak sehat (toxic relationship). 

Karena pengalaman ini, saya cenderung lebih sadar akan batasan dalam hubungan,  baik dalam pertemanan maupun romansa. Saya berusaha untuk menciptakan hubungan  yang saling mendukung, tanpa menjadi terlalu bergantung satu sama lain. Selain itu,  saya juga lebih terbuka dalam membahas perasaan dengan orang-orang di sekitar saya, agar keterikatan emosional yang saya alami tetap sehat dan positif. Tentunya, saya juga pernah merasa terlalu terikat atau takut kehilangan seseorang. Perasaan ini bisa sangat menguras emosi, terutama ketika  hubungan mengalami masalah atau harus berakhir. 

Dampak Emotional Attachment pada Kesehatan Mental

Menurut saya, ada hubungan yang cukup erat antara emotional attachment dan gangguan  kesehatan mental, seperti kecemasan atau depresi. Ketika seseorang memiliki keterikatan  emosional yang sangat kuat terhadap seseorang atau sesuatu, perasaan kehilangan atau  perubahan dalam hubungan dapat memicu stres berlebihan. Misalnya, seseorang yang  terlalu bergantung secara emosional pada pasangannya mungkin akan mengalami  kecemasan yang intens ketika hubungan itu berakhir. Jika perasaan ini tidak terkelola  dengan baik, bisa berkembang menjadi kesedihan yang berkepanjangan, bahkan depresi.  Selain itu, keterikatan emosional yang tidak sehat, seperti dalam hubungan yang toksik, juga  bisa menyebabkan tekanan psikologis yang mempengaruhi kesehatan mental seseorang,  terutama remaja. 

Saya sendiri maupun beberapa orang di sekitar saya pernah mengalami kesulitan dalam  melepaskan keterikatan emosional dari seseorang atau sesuatu. Salah satu contoh yang  sering terjadi adalah ketika seseorang mengalami perpisahan dalam hubungan, baik itu  dengan pasangan, sahabat, atau bahkan kehilangan anggota keluarga. Proses  melepaskan keterikatan ini tidak mudah dan bisa memakan waktu lama. Biasanya, tahap awal dipenuhi dengan perasaan sedih, kehilangan, dan kebingungan. Namun, seiring  berjalannya waktu, melalui dukungan sosial, refleksi diri, dan menyibukkan diri dengan  hal-hal positif, keterikatan tersebut perlahan mulai mereda. Beberapa orang juga  menemukan bantuan melalui konseling atau berbicara dengan orang yang mereka  percaya untuk mendapatkan perspektif baru dan dukungan emosional. 

Dalam menghadapi kehilangan atau perubahan dalam hubungan yang sangat berarti bagi  saya, saya mencoba untuk menerima kenyataan dengan perlahan. Saya menyadari bahwa  kehilangan adalah bagian dari kehidupan dan setiap hubungan, baik yang bertahan maupun  yang berakhir, memiliki pelajaran berharga. Saya biasanya memberi waktu bagi diri sendiri  untuk merasakan emosi yang ada tanpa menekannya. Selain itu, saya berusaha menjaga  keseimbangan dengan tetap fokus pada hal-hal yang membuat saya berkembang, seperti  mengikuti kegiatan komunitas, menulis jurnal, atau melakukan refleksi diri. Yang terpenting,  saya belajar untuk tidak terlalu menyalahkan diri sendiri atau terjebak dalam perasaan  kehilangan, tetapi menjadikannya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang membantu  saya tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat. 

Tentu saya sendiri pernah mengalami dampak yang negatif. Saya  sering merasa murung, kehilangan semangat dalam menjalani rutinitas sehari-hari,  merasa sesak, dan sering melamun. Hal ini terjadi ketika saya terlalu terikat secara  emosional pada seseorang, sehingga ketika terjadi konflik atau perpisahan, saya  mengalami kesulitan untuk beradaptasi. Perasaan kehilangan yang mendalam membuat  saya sulit fokus dan terkadang memengaruhi keseharian saya. 

Namun, dari pengalaman ini, saya menyadari pentingnya membangun keseimbangan  dalam keterikatan emosional, agar tidak terlalu bergantung pada seseorang untuk  kebahagiaan dan ketenangan diri. Pada akhirnya, saya perlu membangun keseimbangan antara keterikatan emosional yang sehat dan hubungan yang mungkin toksik. Saya belajar memahami kapan sebuah hubungan masih sehat dan kapan mulai mengarah  ke sesuatu yang tidak baik. Jika hubungan membuat saya merasa terkekang, cemas, atau  kehilangan diri sendiri, maka saya mulai mengevaluasi, apakah hubungan tersebut masih layak dipertahankan. Selain itu, saya juga berusaha menghargai diri sendiri dan menjaga harga  diri. Saya menyadari bahwa saya tetap berharga, dengan atau tanpa kehadiran seseorang dalam hidup saya. 

Cara Mengatasinya

Berdasarkan pengalaman dan  pembelajaran saya di komunitas GenRe, saya menemukan beberapa cara untuk  mengatasinya: 

  1. Membangun Kemandirian Emosional

Saya berusaha untuk tidak menggantungkan  kebahagiaan saya sepenuhnya pada satu orang. Saya belajar untuk menikmati waktu  sendiri, mengejar hobi, dan fokus pada pertumbuhan pribadi. 

  1. Mendukung Diri dengan Lingkungan Positif

Saya menyadari bahwa memiliki jaringan  pertemanan yang sehat sangat membantu. Ketika saya merasa terlalu terikat atau takut  kehilangan seseorang, saya berbagi cerita dengan teman yang bisa dipercaya untuk  mendapatkan perspektif baru. 

  1. Memahami bahwa Kehilangan adalah Bagian dari Hidup

Saya mencoba menerima  bahwa tidak semua hubungan akan bertahan selamanya. Itu bukan berarti kita tidak bisa bahagia atau berkembang setelahnya. People come and People Go, begitu  katanya. 

  1. Menerapkan Teknik Mindfulness dan Self-Reflection 

Saya sering melakukan refleksi  diri untuk mengenali, apakah keterikatan saya terhadap seseorang masih dalam batas yang sehat atau sudah berlebihan. Jika merasa sudah terlalu bergantung, saya  mencoba untuk menarik diri sejenak dan menata ulang emosi saya. 

Saya juga memperluas dukungan sosial dengan tidak hanya bergantung pada satu orang, tetapi juga memperkuat hubungan dengan teman, keluarga, dan komunitas, seperti di  Generasi Berencana (GenRe). Dengan begitu, saya tidak merasa sendirian saat  menghadapi tantangan emosional. Saya pun lebih sering mendengarkan intuisi dan melakukan refleksi diri. Pertanyaannya ke diri sendiri seperti: “Apakah hubungan ini membuat saya lebih  bahagia atau justru lebih sering merasa cemas dan tertekan?” Jika jawabannya cenderung  negatif, saya tahu bahwa saya perlu menetapkan batas, atau bahkan melepaskan  hubungan tersebut. 

Untuk mengelola keterikatan emosional dengan lebih baik, saya mencoba menjalani  aktivitas yang membuat saya berkembang, seperti belajar keterampilan baru, mengikuti  kegiatan komunitas, atau mengejar hobi, agar kebahagiaan saya tidak hanya bergantung  pada satu orang. Saya juga sering menulis jurnal atau melakukan refleksi diri, yang  membantu saya memahami emosi dengan lebih baik dan menemukan pola pikir yang lebih  sehat. 

Selain itu, saya berlatih mindfulness dan meditasi untuk melatih kesadaran diri serta lebih  menikmati momen saat ini, sehingga saya menjadi lebih stabil secara emosional dan tidak  mudah terjebak dalam pikiran negatif tentang masa lalu atau ketakutan akan kehilangan.  Berbicara dengan orang yang dipercaya juga menjadi salah satu cara saya untuk  mendapatkan perspektif yang lebih objektif, saat saya merasa terlalu terikat atau kesulitan  mengelola perasaan. Hal paling penting, saya berusaha mengembangkan kemandirian emosional dengan tidak  menjadikan kebahagiaan saya bergantung pada satu orang. Saya merawat kesehatan  fisik, mental, dan emosional saya agar bisa menjalani hidup dengan lebih seimbang dan  bahagia, baik dengan atau tanpa keterikatan emosional yang mendalam terhadap  seseorang. 

Norma Sosial di Indonesia dan Penutup

Dalam masyarakat Indonesia, emotional attachment seringkali dipandang sebagai sesuatu yang wajar dan bahkan diharapkan dalam hubungan keluarga, pertemanan, maupun  hubungan romantis. Keterikatan emosional dalam keluarga dianggap sebagai bagian penting dari nilai kebersamaan dan gotong royong, di mana hubungan antar anggota keluarga sangat erat. Ketergantungan emosional dianggap sebagai tanda kasih sayang serta kepedulian.  Dalam pertemanan, ikatan emosional juga cenderung kuat, terutama dalam lingkup  pergaulan yang sudah terjalin lama, seperti sahabat sejak kecil atau rekan dalam komunitas  tertentu. Sementara itu, dalam hubungan romantis, emotional attachment sering kali dilihat  sebagai hal yang positif. Namun, dalam beberapa kasus, bisa menjadi problematik jika keterikatan tersebut berubah menjadi ketergantungan berlebihan atau hubungan yang tidak  sehat. 

Saya pernah melihat stigma terhadap seseorang yang dianggap terlalu bergantung  secara emosional, terutama dalam hubungan romantis. Orang yang terlalu lekat dengan  pasangannya sering kali dicap sebagai “bucin” (budak cinta), yang memiliki konotasi  negatif karena dianggap tidak memiliki kemandirian atau terlalu mengorbankan diri demi  pasangan. Stigma ini dapat berdampak buruk, terutama jika seseorang yang mengalami  keterikatan emosional yang dalam dan justru membutuhkan dukungan, daripada sekadar  dihakimi. Selain dalam hubungan romantis, seseorang yang terlalu bergantung secara  emosional pada keluarga juga, kadang mendapatkan penilaian negatif, misalnya  dianggap kurang mandiri jika terlalu mengandalkan orang tua dalam mengambil  keputusan. 

Norma sosial di Indonesia juga memengaruhi cara perempuan mengekspresikan dan  mengelola emotional attachment. Secara budaya, perempuan sering diajarkan untuk lebih  ekspresif dalam menunjukkan kasih sayang dan kepedulian, baik dalam keluarga,  pertemanan, maupun hubungan romantis. Namun, di sisi lain, ketika perempuan menunjukkan keterikatan emosional yang dianggap berlebihan, mereka bisa mendapat  kritik atau dianggap “lemah” dan “terlalu sensitif.” Tekanan sosial ini membuat banyak  perempuan harus menemukan keseimbangan antara mengekspresikan emosi secara alami dan menjaga citra, agar tidak dianggap tidak mandiri atau manja. Selain itu,  dalam banyak kasus, perempuan lebih dibebani dengan ekspektasi untuk menjaga  keharmonisan hubungan, baik dalam keluarga maupun dalam percintaan, yang bisa  membuat mereka lebih sulit untuk melepaskan keterikatan emosional yang tidak sehat. 

Saya berharap masyarakat Indonesia dapat lebih memahami bahwa emotional  attachment adalah bagian alami dari kehidupan manusia dan bukan sesuatu yang  harus distigmatisasi, terutama ketika seseorang mengalami keterikatan emosional yang  mendalam. Akan lebih baik jika masyarakat bisa lebih terbuka dalam memberikan  dukungan emosional, alih-alih menghakimi atau melabeli seseorang sebagai “lemah”, hanya karena mereka memiliki ketergantungan emosional dalam suatu hubungan.  Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental juga perlu ditingkatkan, agar orang-orang yang mengalami kesulitan dalam mengelola keterikatan emosional bisa merasa  lebih nyaman untuk mencari bantuan dan tidak merasa sendirian dalam perjuangan  mereka. 

Jika saya bisa memberikan saran kepada perempuan lain tentang membangun emotional  attachment yang sehat, saya ingin mengatakan bahwa tidak apa-apa untuk memiliki  keterikatan emosional dengan seseorang, tetapi pastikan bahwa hubungan tersebut  tetap memberikan ruang bagi diri sendiri untuk berkembang. Jangan pernah  mengorbankan kebahagiaan dan kesejahteraan diri demi mempertahankan keterikatan  yang sudah tidak sehat! Penting untuk mengenali tanda-tanda ketika hubungan mulai  menjadi tidak seimbang, seperti ketika seseorang mulai kehilangan identitas diri, merasa  terus-menerus cemas, atau kesulitan berpisah meskipun tahu bahwa hubungan tersebut  tidak lagi baik. Bangun jaringan dukungan yang luas, baik dari keluarga, sahabat,  maupun komunitas, sehingga keterikatan emosional tidak hanya terfokus pada satu  individu. 

Untuk mengadvokasi isu emotional attachment di Indonesia agar lebih banyak  perempuan merasa didengar dan dipahami, saya ingin mendorong lebih banyak diskusi  terbuka mengenai kesehatan emosional dan mental, terutama di kalangan remaja dan  perempuan muda. Salah satu caranya adalah melalui komunitas seperti Generasi  Berencana (GenRe), yang sudah memiliki platform untuk mendukung remaja dalam  mengelola hubungan secara sehat. Selain itu, saya ingin melihat lebih banyak kampanye  atau edukasi melalui media sosial, seminar, atau forum diskusi yang membahas  pentingnya membangun keterikatan emosional yang sehat. Dengan berbagi pengalaman  dan membuka ruang aman untuk berdiskusi, perempuan bisa lebih percaya diri dalam  mengelola emosinya tanpa takut dihakimi. Saya juga berharap lebih banyak perempuan  menyadari bahwa mereka memiliki hak untuk mencintai tanpa kehilangan diri sendiri  dalam prosesnya.


Penulis: Adelia Putri yang dapat dihubungi lewat akun Instagram @adeliaputrii__, mahasiswa sekaligus konselor sebaya, yang menjadi bagian dari Forum Generasi Berencana (GenRe). Dia tertarik pada berbagai isu, terutama yang berkaitan dengan remaja, kesehatan mental, iklim, dan isu perempuan. Menulis adalah  salah satu cara Adelia mengekspresikan pemikiran, dan selalu terbuka untuk diskusi tentang  berbagai hal. Ayo berbagi cerita dan bertukar perspektif!

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Gelar Workshop Online Craft Therapy “Berdamai dengan Diri Sendiri”

JAKARTA, September 2025 – Sebagai bagian dari kampanye global 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Ruanita Indonesia menghadirkan program AISIYU – AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamU 2025 yang dijalankan tiap tahun sejak 2021 lalu. Tahun ini berupa kegiatan utama Workshop Online berbentuk Craft Therapy.

Workshop ini difokuskan pada produk: Affirmation Cards – Berdamai dengan Diri Sendiri, yang diikuti perempuan Indonesia di berbagai lokasi.

Kegiatan ini telah berlangsung dalam dua sesi pada 13 September dan akan dilakukan lagi pada 27 September 2025 secara online melalui Zoom Meeting.

Untuk memperluas jangkauan penerima manfaat dari workshop ini, acara ini didukung oleh komunitas perempuan Indonesia, antara lain: For.Mujeres (Front Santri Melawan Kekerasan Seksual) dan Puan Floresta Bicara. 

Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong kesadaran tentang pentingnya dukungan emosional bagi penyintas kekerasan berbasis gender.

Dengan mengangkat tema “Berdamai dengan Diri Sendiri”, workshop ini mengajak peserta untuk menciptakan affirmation cards yang sarat pesan positif dan memberdayakan, menggunakan media seni kolase dan journaling dari bahan daur ulang.

Dua fasilitator inspiratif, Fransiska Orris-Beding (pembuat kartu handmade di Makau) dan Maria Nelden (praktisi Psikologi Budaya di Jerman) yang memandu peserta menggali afirmasi diri melalui refleksi kreatif.

Workshop ini juga menghadirkan sesi berbagi pengalaman dan presentasi karya, dengan dukungan moderator Asti Tyas Nurhidayati, relawan Ruanita di Islandia.

“Melalui AISIYU, kami ingin menunjukkan bahwa proses pemulihan bagi penyintas kekerasan dimulai dari keberanian untuk berdamai dengan diri sendiri. Setiap kartu afirmasi yang dihasilkan adalah suara perlawanan dan simbol penyembuhan,” ujar tim Asti selaku perwakilan Ruanita Indonesia.

Sebagai penutup, karya para peserta akan dikurasi dan dipamerkan secara digital pada kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (25 November – 10 Desember 2025) di saluran media sosial Ruanita.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Merayakan Perdamaian Lewat Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal

Ruanita Indonesia melalui program Cerita Sahabat Spesial (CSS) terus mengukuhkan diri sebagai penggerak perubahan positif di masyarakat dengan mengangkat tema-tema yang inspiratif dan relevan setiap bulannya.

Untuk edisi September 2025, CSS menghadirkan sosok Maria Regina Jaga, seorang praktisi dan aktivis pendidikan anak usia dini asal Nusa Tenggara Timur yang telah mengabdikan lebih dari satu dekade hidupnya untuk membangun pendidikan berbasis kearifan lokal.

Dalam percakapan hangat dan mendalam ini, Maria mengajak kita untuk merefleksikan kembali hakikat pendidikan, tidak sekadar sebagai upaya mentransfer ilmu pengetahuan, namun sebagai sarana menanamkan nilai-nilai luhur seperti perdamaian, gotong royong, dan penghargaan terhadap perbedaan.


Maria membuka ceritanya dengan sebuah pernyataan kuat: “Kearifan lokal adalah kekuatan.” Ia meyakini bahwa di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi, pendidikan harus tetap berpijak pada nilai-nilai lokal yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat.

Menurutnya, pendidikan karakter yang sejati justru tumbuh dari pemahaman dan penghargaan terhadap kebudayaan sendiri, bukan dari adopsi mentah-mentah model pendidikan luar.


Sebagai seorang master pendidikan anak usia dini, Maria telah lama menerapkan pendekatan ini dalam praktik. Ia memanfaatkan cerita rakyat dan permainan tradisional sebagai media pembelajaran yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga kaya akan makna.

Melalui cerita-cerita lokal, anak-anak belajar memahami nilai persatuan dalam keberagaman, pentingnya kontribusi individu dalam komunitas, dan cara hidup yang selaras dengan lingkungan sosial-budaya mereka.

Gotong Royong sebagai Nilai Universal

Maria menyoroti pentingnya gotong royong, sebuah nilai yang ia temukan masih sangat kuat dalam tradisi masyarakat Nusa Tenggara Timur, khususnya saat membangun rumah adat.

Dalam proses ini, semua elemen masyarakat, baik tua, muda, laki-laki, maupun perempuan, berpartisipasi tanpa merasa lebih dominan satu sama lain.

Nilai gotong royong ini menjadi contoh konkret bagaimana pendidikan karakter bisa muncul dari praktik budaya.

“Setiap individu dihargai atas kontribusinya. Tidak ada yang lebih menonjol,” katanya.

Dalam dunia pendidikan, hal ini dapat diterjemahkan sebagai pendekatan inklusif yang memberi ruang bagi setiap anak untuk berpartisipasi dan berkembang sesuai potensinya.

Pendidikan Damai dalam Praktik Sehari-hari

Salah satu poin paling menyentuh dalam cerita Maria adalah pengalamannya menyaksikan harmoni lintas agama dalam perayaan keagamaan.

Saat umat Katolik merayakan Natal dan Paskah, komunitas Muslim dan penganut agama lain turut serta menjaga keamanan dan membantu pelaksanaan acara.

Bagi Maria, inilah contoh nyata bahwa perdamaian bukan sekadar absennya konflik, tetapi hadir dalam bentuk penghargaan terhadap perbedaan dan kerjasama antarkomunitas.

Ini adalah jenis pendidikan damai yang tidak hanya diajarkan lewat buku teks, tetapi melalui pengalaman langsung dalam kehidupan bermasyarakat.

Kurikulum Inklusif dan Relevan Budaya

Maria juga mengkritisi bagaimana kurikulum nasional saat ini masih terlalu berat sebelah, dengan banyak referensi yang hanya mewakili budaya Indonesia bagian barat.

Ia menekankan pentingnya pemerataan representasi budaya dalam materi pelajaran agar anak-anak dari Indonesia Timur pun merasa diwakili dan dihargai.

Ia menyarankan agar lokal konten seperti legenda daerah, cerita rakyat, serta adat istiadat lokal dimasukkan secara sistematis dalam pembelajaran, khususnya dalam mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia.

Hal ini tidak hanya akan memperkuat identitas budaya anak, tetapi juga menumbuhkan empati dan penghargaan terhadap budaya lain.

Teknologi dan Tradisi: Bukan Pilihan, tapi Harmoni

Maria tidak menolak kemajuan teknologi. Ia menyadari bahwa dunia saat ini menuntut generasi muda untuk melek digital dan siap bersaing di era global. Namun, ia menegaskan bahwa teknologi dan tradisi bukanlah dua kutub yang harus dipertentangkan.

“Teknologi harus menjadi alat bantu, bukan satu-satunya sumber pembelajaran,” ujarnya. Ia mengajak para pendidik untuk tetap mengintegrasikan nilai-nilai lokal dalam proses digitalisasi pendidikan, agar kemajuan teknologi tetap berpijak pada akar budaya sendiri.

Pendidikan untuk Perdamaian Lintas Generasi

Salah satu visi besar Maria adalah menciptakan pendidikan yang mampu menjembatani generasi tua dan muda dalam membangun perdamaian.

Pendidikan yang baik menurutnya adalah yang memungkinkan interaksi lintas usia dalam proses belajar-mengajar, misalnya dengan melibatkan para tetua adat atau pengrajin tradisional dalam kelas-kelas tematik.

Dalam dunia yang semakin individualistik, pembelajaran semacam ini menjadi oase yang menghidupkan kembali nilai-nilai kebersamaan dan keberlanjutan antar generasi.

Harapan dan Seruan kepada Pemerintah

Di akhir sesi, Maria menyampaikan harapannya kepada pemerintah Indonesia agar lebih membuka ruang bagi para pendidik, terutama dari wilayah timur Indonesia, untuk terlibat dalam perumusan dan implementasi kebijakan pendidikan.

Ia meminta agar suara dari daerah tidak hanya dijadikan formalitas dalam dokumen, tetapi benar-benar dirasakan dalam praktik lapangan.

Kurikulum nasional, menurutnya, harus lebih dari sekadar dokumen teknis. Ia harus menjadi cerminan dari identitas kolektif bangsa, yang menghormati dan merayakan keragaman budaya sebagai kekayaan yang memperkuat, bukan memecah.

Ruanita Indonesia dan CSS: Mengangkat Suara Pinggiran

Program Cerita Sahabat Spesial (CSS) adalah program bulanan, diprakarsai oleh Ruanita Indonesia memang dikenal sebagai ruang yang memberi panggung bagi cerita-cerita yang jarang terdengar di media arus utama.

Melalui CSS, Ruanita menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif seperti Maria yang membagikan pengalaman dan gagasannya demi membangun Indonesia yang lebih adil, inklusif, dan damai.

Dalam konteks ini, CSS edisi September 2025 bukan sekadar sesi berbagi, melainkan seruan kuat agar pendidikan di Indonesia berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan, budaya, dan perdamaian.

Simak selengkapnya dalam kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:

(PODCAST IN ENGLISH) Merantau demi Mimpi: Cerita Perjuangan Usai Studi di Jerman

Apa yang terjadi setelah lulus kuliah di luar negeri? Apakah karier langsung melesat, atau justru penuh tantangan yang tak terduga?

Pertanyaan ini menjadi benang merah dari perbincangan hangat antara Aini, host Jibber-Jabber dari Norwegia, dan Atika, seorang perempuan Indonesia yang baru menyelesaikan studi magisternya di Jerman.

Di episode keempat ini, Atika membagikan kisahnya yang jujur, inspiratif, dan penuh pembelajaran, tentang berani keluar dari zona nyaman, meniti pendidikan di negeri orang, hingga realita keras dunia kerja internasional.

“Merantau” adalah kata kunci yang mengawali perjalanan Atika. Lahir dan besar di Yogyakarta, ia memutuskan melanjutkan pendidikan S2 di Jerman untuk mengejar pertumbuhan pribadi dan profesional.

“Aku ingin keluar dari zona nyaman,” katanya. Alasan lainnya? Jerman menawarkan banyak program magister tanpa biaya kuliah dan biaya hidup yang relatif terjangkau dibanding negara Eropa Barat lainnya.

Atika mengambil program Development Studies di Universitas Passau, sebuah bidang interdisipliner yang mencakup ekonomi, politik, sosiologi, hingga isu-isu keberlanjutan global.

Tujuannya jelas: membangun karier di bidang kerja sama pembangunan internasional (international development cooperation), sebuah bidang yang sejalan dengan pengalamannya bekerja sebelum S2.

Namun, seperti banyak dari kita, arah karier ini tidak langsung terbentuk sejak awal kuliah. Justru pengalaman kerja di lapanganlah yang memperkuat keinginannya melanjutkan pendidikan dan memperluas jejaring global.

Meski lulus dengan semangat dan rencana, Atika menghadapi realita pasar kerja di Jerman yang kompetitif dan tidak selalu ramah pada internasional.

“Lingkungan kerja di sini masih banyak yang mensyaratkan bahasa Jerman bisnis,” ujarnya. Belum lagi kompleksitas visa, preferensi terhadap kewarganegaraan tertentu, serta dinamika politik global yang memengaruhi proyek-proyek pembangunan internasional.

Bahkan di bidang yang identik dengan kerja sama antarnegara seperti international development, Atika tetap merasakan tantangan tinggi sebagai warga negara asing. Kompetisi tidak hanya datang dari sesama mahasiswa internasional, tetapi juga dari lulusan lokal dan global lainnya.

Dari semua strategi pencarian kerja yang ia coba—magang, career fair, dan LinkedIn, Atika menekankan satu hal: jaringan (networking).

“Dulu aku nggak punya network di Jerman sama sekali. Sekarang, aku sudah punya beberapa orang yang bisa aku hubungi, minta feedback, atau sekadar diskusi,” ujarnya.

Prosesnya memang lambat, penuh keraguan, dan terkadang menyulitkan mental. Tapi justru dari langkah-langkah kecil inilah peluang besar muncul.

“Yang penting mulai dulu. Satu langkah membawa ke langkah berikutnya. Jangan tunggu semuanya siap.”

Bagi Atika, merantau bukan hanya tentang pencapaian profesional, tapi juga perjalanan menuju versi terbaik dirinya.

“Kadang kita gagal dan merasa belum berhasil. Tapi sebenarnya kegagalan itu adalah pencapaian juga, karena kita belajar dari situ,” katanya menutup obrolan dengan refleksi yang menyentuh hati.

Baby steps. One step at a time. Karena sering kali kita terlalu keras sama diri sendiri, padahal kita sedang tumbuh.”

Podcast audio Jibber-Jabber berbahasa Inggris ini inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui audio podcast Jibber-Jabber, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional.

(CERITA SAHABAT) Resign atau Bertahan: Pengalaman Kerjaku di Austria

Halo, sahabat Ruanita! Aku, biasa dipanggil Anna, yang kini menetap di negeri suami sejak tahun 2017. Sebelum merantau ke Austria, aku bekerja di sebuah perusahaan Food & Beverage di Jakarta.

Posisiku saat itu adalah Asisten Manajer di bidang penjualan dan marketing. Boleh dibilang, karierku dulu di Jakarta cukup memuaskan. Tak pernah terbayang dalam hidupku, aku dapat menjalani pekerjaan di luar negeri.

Pernikahan telah membawaku terbang ribuan kilometer dari tanah air. Dari dulu, aku terbiasa memiliki uang sendiri, sehingga aku pun ingin melakukan hal yang sama saat aku berada di negeri suami. Perjalanan karierku di Austria dimulai dari sebuah kebetulan.

Untuk tinggal dan bertahan hidup di Austria, aku harus meningkatkan kemampuan Bahasa Jermanku. Setiba di sini, aku pun meneruskan Bahasa Jermanku kembali. Suatu malam, ketika aku baru saja menyelesaikan kursus bahasa Jerman, tawaran kerja kudapatkan. Saat itu, aku sedang menunggu suami menjemputku di sebuah restoran cepat saji. 

Sahabat Ruanita, aku tinggal di kota kecil, yang mana transportasi umum di daerah tempat tinggalku sangat terbatas. Sambil menunggu suami pada malam itu, seorang manajer restoran menghampiriku. Dia bertanya tentang latar belakangku. Setelah mengobrol lama, dia pun menawariku pekerjaan. 

Awalnya, aku cukup ragu, bagaimana mungkin aku bisa bekerja di negeri asing ini. Keraguanku lainnya adalah soal bahasa Jermanku yang masih buruk saat itu. Namun, manajer restoran itu tetap meyakinkanku bahwa kemampuan Bahasa Jerman bukan masalah besar.

Aku pun meminta waktu untuk mempertimbangkan tawaran itu. Yeay! dua minggu kemudian, aku mulai bekerja di restoran, yang mana pihak manajer menawariku. 

Meski aku punya pengalaman sebelumnya bekerja di bidang makanan juga, tetapi apa yang kuhadapi sehari-hari antara Indonesia dengan Austria jelas berbeda. Lingkungan kerja di restoran cepat saji sangat berbeda dengan apa yang pernah aku alami di Indonesia. Aku sempat frustrasi dan stres saat itu. 

Bekerja di situ, semuanya harus cepat dan tepat waktu. Tidak ada waktku untuk santai dan bermalas-malasan. Sebagai orang Indonesia yang terkenal ramah di dunia, demikian pula aku dikenal sebagai pribadi yang selalu tersenyum, ramah, dan humoris. Aku pikir itu adalah sifat khas orang Indonesia umumnya. 

Sahabat Ruanita, aku menilai pekerjaan pertamaku di restoran itu cukup berat. Aku bertanggung jawab atas kebersihan, antara lain: membersihkan meja tiap pelanggan, membersihkan lantai restoran, membuang sampah, hingga membersihkan toilet. Pulang kerja di hari pertama, aku menangis.

Aku kaget bahwa realita bekerja di negeri asing tidak seindah seperti yang kubayangkan sebelumnya. Ini semua membuatku frustrasi. Mungkin, aku memang belum menguasai Bahasa Jerman sepenuhnya di tempat kerja. Tak patah arang dan aku terus menguatkan diri. Bagaimana pun aku harus tetap bekerja di Austria, untuk diriku dan membantu kehidupan orang tuaku di Indonesia.

Setelah empat bulan bekerja di restoran tersebut, aku dipindahkan ke bagian pelayanan pelanggan. Pengalaman ini membentuk mentalku dan membantuku meningkatkan kemampuan Bahasa Jerman. Ini menjadi kesempatan buatku belajar Bahasa Jerman lebih baik lagi, pikirku.

Meski begitu, aku tahu bahwa ini tidak mudah. Aku selalu berpikir, jika pekerjaan sudah tidak nyaman dan tidak bisa dikompromikan lagi, maka aku harus mencari pekerjaan baru. Benar saja, aku mulai mencari peluang pekerjaan lain, apalagi pekerjaan di situ telah mengganggu kondisi mentalku.  

Akhirnya, aku mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan besar asal Jerman. Perbedaan terbesar antara pekerjaan lama dan baru adalah penghasilan, jam kerja yang lebih teratur, serta lingkungan kerja yang lebih profesional. Aku mendapatkan informasi lowongan kerja dari suamiku. Aku kemudian mencoba melamar dan ternyata aku diterima bekerja di situ. Wow!

Sahabat Ruanita, pastinya penasaran bagaimana aku bisa bekerja di situ. Aku berhasil melewati wawancara kerja. Saat wawancara, mereka bertanya tentang kemampuan komputer, kemampuan bekerja dalam tim, dan kemampuan bahasa Jerman. Rupanya, pengalaman kerja di restoran sebelumnya telah membantuku menghadapi tantangan di tempat kerja baru.

Bekerja di Austria telah memberiku banyak pelajaran berharga. Aku menjadi lebih disiplin, tepat waktu, dan bekerja dengan cepat serta akurat. Aku bangga bisa menunjukkan bahwa orang Indonesia adalah pekerja keras, cepat belajar, dan mampu beradaptasi dengan ritme kerja di luar negeri. Aku juga melihat bahwa ada banyak peluang karier bagi pendatang di Austria, selama kita mau belajar dan bekerja keras.

Untuk perempuan Indonesia yang ingin bekerja di luar negeri, pesanku adalah selalu menjaga kesehatan mental. Jika pekerjaan mulai membuat stres dan tidak nyaman, carilah yang baru.

Mental baja sangat diperlukan, begitu juga dengan kemauan untuk belajar, disiplin, dan kemampuan mengatur keuangan. Jangan konsumtif, karena hidup di luar negeri membutuhkan perhitungan matang dalam setiap aspek.

Pesan terakhirku untuk sahabat di Ruanita: selalu baca dengan teliti sebelum menandatangani kontrak apa pun. Hal ini sangat penting karena bisa berdampak fatal.

Oleh karena itu, menguasai bahasa negara tempat kita tinggal adalah keharusan. Jangan takut untuk belajar dan berusaha, karena setiap langkah kecil akan membawa kita lebih dekat kepada impian.

Penulis: Yuliana, dapat dikontak di akun instagram @yuliana.syamsudin dan tinggal di Austria.

(SIARAN BERITA) Bagaimana Membangun Ruang Aman bagi “Ibu Baru” di Negeri Rantau?

PARIS, 14 September – Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Kesmenesia, komunitas youarenotalone.mom di Prancis, serta Komunitas Pasangan Indonesia–Prancis, menyelenggarakan diskusi daring bertema Parenting di Prancis melalui platform Zoom.

Acara ini dimaksudkan sebagai media virtual support group bagi “New Mom” yang sedang berada di mancanegara dalam menavigasikan tema parenting, yang kontekstual dan transnasional. 

Kegiatan ini diinisiasi sebagai respon atas berbagai tantangan yang dialami perempuan Indonesia, khususnya ibu baru, yang menetap di Prancis, yang kemudian hampir dialami “New Mom” orang Indonesia di negeri rantau.

Menjadi ibu di negara asing bukan hanya pengalaman transformatif, tetapi juga penuh dengan dinamika emosional, adaptasi budaya, hingga keterbatasan akses terhadap dukungan sosial maupun layanan kesehatan. 

Di Prancis, sistem pengasuhan anak sangat dipengaruhi oleh nilai kemandirian serta struktur dukungan formal seperti crèche dan assistantes maternelles, yang berbeda dengan pola pengasuhan kolektif khas Indonesia.

Kondisi ini kerap menimbulkan rasa isolasi, baby blues, hingga depresi pascapersalinan bagi ibu baru yang jauh dari keluarga besar dan lingkungan budaya yang familiar.

Ruang interaktif digital ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang. Carolina Shinta, relawan Ruanita sekaligus pendiri komunitas youarenotalone.mom di Prancis, berbagi pengalaman pribadi sebagai ibu baru di negeri rantau dan pentingnya membangun komunitas pendukung.

Selanjutnya, Demira Shaifa, psikolog klinis anak yang kini menetap di Spanyol, memaparkan bagaimana orang tua dapat menavigasi perbedaan nilai dan norma dalam pola pengasuhan lintas budaya. 

Berkaitan dengan tumbuh kembang anak secara psikologis, dibawakan oleh Ranindra Anandita, psikolog lulusan Université de Bordeaux, yang kini berpraktik di Prancis.

Ia membahas kesehatan mental ibu baru dan bagaimana melakukan pola asuh yang sesuai usia perkembangan anak, beserta sistem dukungan kesehatan anak di Prancis.

Acara ini ditujukan bagi siapa saja yang tertarik dengan tema parenting, transnasional, atau lintas budaya, dan psikologi perkembangan anak, terutama ibu baru maupun calon ibu.

Melalui interaksi virtual ini, Ruanita Indonesia berharap dapat menciptakan ruang diskusi yang aman, suportif, sekaligus membuka jalan terbentuknya komunitas informal new moms abroad yang dapat saling mendukung dalam perjalanan menjadi ibu di luar negeri.

Acara ini tidak direkam. Ikuti berbagai program kami melalui berbagai platform media sosial yang tersedia. Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini dapat diakses melalui kanal resmi Ruanita Indonesia.

(IG LIVE) Peran Perempuan Indonesia dalam Literasi Global

Dalam rangka memperingati Hari Literasi Internasional, Ruanita Indonesia kembali (@ruanita.indonesia) mengadakan diskusi IG Live dengan tema besar: “Peran Perempuan dalam Perkembangan Literasi Global”.

Acara diskusi bulanan tersebut dipandu oleh tim Ruanita, Zukhrufi Syasdawita, acara ini menghadirkan dua narasumber inspiratif: Alda Trisda, seorang penulis buku anak seri Niko, saat ini menetap di Belgia. Selanjutnya adalah Anna Puspaningtyas – Inisiator aplikasi literasi digital Lentera, kini berbasis di Singapura.

Alda bercerita bahwa keinginannya menulis buku anak sudah ada sejak lama, terinspirasi dari minimnya koleksi buku anak di Indonesia pada awal 2000-an. Melalui berbagai proses, mulai dari mengikuti workshop hingga mengirimkan naskah ke penerbit Canisius, akhirnya lahirlah seri Niko, yang terinspirasi dari anaknya sendiri.

Menurut Alda, menulis buku anak bukan perkara mudah. Ia harus mempertimbangkan tingkat pemahaman, ilustrasi, serta pesan yang tidak menggurui. Ia menekankan pentingnya variasi buku anak dengan jumlah kata yang bertahap, agar anak-anak terbiasa membaca sesuai perkembangan usianya.

Alda juga menyoroti kebutuhan buku bertema neurodiversitas, misalnya tentang autisme, yang lebih inklusif, tidak sekadar menempelkan label atau stereotip. Baginya, literasi anak harus mampu membuka ruang penerimaan dan empati.

Berbeda dengan Alda, Anna berangkat dari keresahan pribadinya selama pandemi. Saat tinggal di Meksiko, ia kesulitan menemukan bacaan fiksi Indonesia secara digital. Dari situ lahirlah ide membuat aplikasi Lentera: platform literasi berbasis digital yang memungkinkan pembaca mengakses buku secara gratis, bahkan tanpa internet (mode offline).

Bagi penulis, Lentera memberikan kesempatan self-publishing dengan sistem royalti yang adil. Anna berharap aplikasi ini bisa menjadi solusi pemerataan akses literasi di daerah-daerah yang minim toko buku maupun distribusi bacaan.

Menariknya, Lentera juga menghadirkan tim editor yang siap memberi masukan kepada para penulis muda. Alih-alih membiarkan karya ditolak mentah-mentah, penulis diberi feedback agar terus berkembang.

Kedua narasumber sepakat bahwa perempuan memegang peranan penting dalam ekosistem literasi. Dari rumah tangga hingga komunitas, ibu atau perempuan seringkali menjadi role model bagi anak-anak dalam membangun kebiasaan membaca.

Alda menekankan perlunya komunitas literasi, baik berupa perpustakaan kecil di desa maupun aplikasi digital—agar anak-anak memiliki akses bacaan yang beragam. Sementara Anna menyoroti tren generasi muda yang kini lebih banyak menulis di platform digital. Menurutnya, justru ini peluang besar: mereka sudah berani berkarya, tinggal bagaimana dibimbing agar kualitas tulisan meningkat.

Diskusi ini membuka mata kita bahwa literasi tidak hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga akses, keberagaman, dan inklusivitas. Perempuan, dengan berbagai peran yang dijalankan, menjadi motor penting dalam membangun generasi yang kreatif dan berdaya.

Ruanita Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang-ruang diskusi literasi. Karena kami percaya, setiap buku, setiap tulisan, dan setiap cerita punya kuasa untuk mengubah dunia.

Simak selengkapnya melalui kanal YouTube dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:

(CERITA SAHABAT) Kebebasan Membaca dan Melawan Stigma Book Shaming

Perkenalkan saya, Maria Frani Ayu Andari Dias, dan banyak orang memanggil saya dengan panggilan, Maria atau Ayu. Saya adalah seorang perawat, dengan konsentrasi keilmuan pada ilmu keperawatan jiwa, yang pada saat ini sedang melayani dan berkarya pada tingkat pendidikan tinggi. Selain aktivitas sehari-hari sebagai seorang pengajar, saya juga senang memanfaatkan waktu luang dengan menulis di Blog, dan membaca buku. 

Membaca buku dan menulis di blog adalah bagian dari aktivitas harian yang sudah lama saya jalankan. Dapat dipastikan bahwa kedua aktivitas ini adalah bagian yang tidak terpisahkan dari hidup saya sehari-hari. Membaca buku seperti memberi makan jiwa, dan menulis seperti memberi tanda pada dunia tentang eksistensi saya di dunia. Suara saya dalam bentuk tulisan-tulisan yang pada saat ini dengan nyaman saya temukan dari blog.  

Berkaitan dengan dunia literasi, kalau diingat kembali, sejak kecil saya memang sudah ditakdirkan hidup bersama buku. Ketika masih bayi dan mendapatkan baptisan pertama, Pastor yang membaptis saya menghadiahkan buku sebagai hadiah. Buku tersebut berjudul, “Aneka Cerita tentang Don Bosco”, yang merupakan salah satu buku cerita anak-anak tentang sosok Santo Yohanes Bosco. Buku ini, tentu saja baru dapat saya lahap ketika saya sudah bisa mulai membaca, dan buku ini termasuk salah satu buku yang menemani masa-masa kecil saya. 

Selain itu, saya beruntung karena tumbuh di keluarga yang juga mencintai buku dan menulis. Ibu dan ayah adalah orang tua yang senang menghabiskan waktu dengan membaca, dan mengoleksi buku-buku bacaan yang menyenangkan. Ayah adalah orang yang senang menulis, meskipun tulisannya tidak banyak dipublikasikan, Ia senang menulis untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya. Tulisan-tulsan beliau, menjadi inspirasi sendiri untuk melanjutkan hidup, dan ketika menghadapi situasi-situasi yang sulit. 

Saya belajar dari kedua orang tua saya untuk membaca, menulis, dan melihat serta merasakan  keuntungan yang dapat saya peroleh dari dua kegiatan ini, yang kemudian menjadi bagian tidak terpisahkan dari hidup. Meskipun demikian, kebiasaan membaca ini belum menjadi sebuah kebiasaan yang teratur. Saya hanya membaca karena ada waku luang saja. Sampai kemudian, ketika saya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, Guru Bahasa Indonesia saya waktu itu memberikan tantangan dengan meminta kami menuliskan di cermin tulisan, “Sudahkah Anda membaca buku hari ini?”. Saya ikuti saran beliau waktu itu, dan lambat laun saya menjadikan membaca sebagai sebuah kebiasaan, sampai akhirnya, saya berada pada titik, saya tidak bisa menjadi normal kembali kalau saya tidak membaca. 

Kalau saya mau menjadi waras, saya harus mengambil buku untuk membacanya. Keadaan ini berlanjut sampai saat ini, yaitu ketika membaca sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kebiasaan harian saya. Membaca, bahkan menulis sudah menjadi seperti kebiasaan fisiologis, yang membuat saya menjadi aman dan nyaman. 

Sebagai seorang perawat kesehatan jiwa, tentu saja ada hubungan yang erat antara kecintaan saya terhadap membaca-menulis dengan profesi saya saat ini. Pertama, Sebagai perawat, belajar terus menerus adalah salah satu syarat dapat bertahan dalam profesi ini, dan kegiatan membaca dan menulis memastikan bahwa “belajar terus menerus sepanjang hayat” ini menjadi semakin mudah untuk dijalankan. 

Kedua, sebagai seorang perawat kesehatan jiwa, yang merawat pasien dengan masalah gangguan mental dan emosional dari berbagai latar belakang, saya harus memiliki pengetahuan yang cukup dalam dan luas, untuk dapat mengakomodasi segala kebutuhan mem-fasilitasi diskusi dan konseling dengan pasien-pasien yang datang. Ketiga, membaca, digabungkan dengan menulis, adalah kegiatan untuk menenangkan jiwa. Dua kegiatan ini, jika dikombinasikan memiliki kekuatan yang sangat besar untuk membuat saya siap dengan berbagai tantangan atau turbulensi emosi karena berbagai hal yang ada di depan sana, termasuk keadaan pasien yang tidak menentu. 

Berkaitan dengan book shaming, tentunya Sahabat Ruanita pernasaran, apakah saya pernah mengalaminya? Ya, saya pernah menyaksikan fenomena book shaming, dan syukurnya belum pernah mengalami efek negatif karena kejadian book shaming pada buku yang saya tulis atau buku yang saya baca dan ulas. 

Dulu, karena saya membaca buku fiksi seperti “Fifhy Shades of Gray”, orang-orang yang saya kenal langsung berubah pemikirannya tentang saya, dan tidak menyangka bahwa saya adalah “orang yang seperti itu” dan “bisa membaca buku-buku seperti itu”. Kejadian ini, jika dipikir-pikir lagi adalah kejadian book shaming, yang mungkin tidak sengaja dilakukan dan terjadi pada saya. 

Dalam kejadian book shaming, setidaknya ada dua korban, pertama adalah buku dan kedua adalah orang yang membaca buku. Sejauh ini, tentang buku yang saya baca, saya tidak menemukan secara langsung kejdian book shaming. Meskipun jika saya cari di Internet, ada banyak kejadian ketika buku dianggap tidak layak untuk dibaca, bahkan disebarkan di masyarakat, yang jujur saja adalah tindakan yang mengejutkan. 

Kalau dipikir lagi, selain buku Fifty Shades of Grey, saya pernah membaca dan mendapatkan reaksi yang cukup ketika saya membaca buku “The Da Vinci Code” yang ditulis oleh Dan Brown. Buku yang dianggap cukup kontroversial ini dianggap sedang mengolok-olok ajaran gereja Katolik dan masih banyak lagi. Namun, buku-buku ini saya baca dengan senang hati, dan saya menikmatinya. Tidak ada masalah bagi saya. Buku-buku yang dinilai “di luar kebiasaan” adalah buku-buku yang dapat secara langsung digolongkan ke dalam buku yang memiliki potensi mengalami book shaming

Selama ini, saya membaca berbagai jenis buku, mulai dari fiksi sampai non-fiksi, dan saya merasa tidak memiliki masalah dengan berbagai buku yang saya lahap. Setiap buku ditulis dengan berbagai intensi penulisnya, dan setiap buku memiliki target pembacanya sendiri-sendiri. Memang, hal yang mungkin dikhawatirkan banyak orang adalah kekuatan buku untuk mengubah seseorang, atau bahkan sekelompok orang. Namun, kekuatan buku seperti ini sangatlah bergantung pada individu yang membaca dan memproses buku tersebut. 

Saya rasa, saya sependapat dengan apa yang dikatakan oleh banyak orang bahwa, “bukan salah bukunya”, tetapi salah orang yang membaca, menyerap dan mempersepsikan buku tersebut. Bagi saya, buku yang saya baca adalah ladang kesempatan untuk mengkritisi apapun yang ada didalamnya. Ini berlaku tidak hanya pada buku, tetapi juga pada berbagai catatan yang saya baca. Ketika membaca buku, setiap informasi yang ada didalamnya harus diproses, dan dikritisi- yang baik dilahap, dan yang tidak baik silakan jangan diserap juga- apalagi diaplikasikan dalam hidup sehari-hari. Wah, sudah tidak benar ini!

Untuk anak-anak yang masih belajar membaca, harus ada “pendampingan” untuk memahami apa yang dibaca. Demikian juga dengan orang dewasa, perlu sekali untuk membandingkan buku bacaannya dengan buku bacaan lainnya, jangan hanya berhenti di satu buku bacaan saja. Lagipula, membaca itu adalah kegiatan memperluas perspektif dan adalah pekerjaan untuk memahami. Memahami bagaimana dunia ini bekerja, termasuk apapun yang ada didalamnya. 

Menurut saya, ada banyak hal atau faktor yang menyebabkan mengapa book shaming terjadi di masyarakat kita. Pertama, adalah pengetahuan yang kurang atau tidak memadai. Pengetahuan yang tidak mencukupi ini akan menyebabkan seseorang menjadi “sombong” dan hanya menganggap hanya buku-buku yang dibaca saja yang terbaik. Parahnya, menganggap buku-buku milik orang lain atau yang dibaca orang lain itu tidak baik. 

Kedua, yang hampir sejalan dengan alasan pertama adalah, sifat rendah hati yang minim. Seperti yang sebelumnya pernah saya sampaikan bahwa, setiap tulisan bahkan buku memiliki takdirnya sendiri-sendiri, dan ada pembaca yang menjadi sasarannya. Ketidakmampuan untuk menyadari hal ini, membuat kita menjadi tinggi hati, dan tidak mampu melihat ada permata-permata yang tersimpan dibalik kata-kata dalam hampir setiap tulisan atau buku.

Ketiga, kita bersikap tidak bijak untuk memberikan penilaian, yang kembali didasarkan dari ketidaktahuan kita juga. Mereka yang tahu, mengerti atau yang berpengetahuan, adalah mereka yang akan menahan diri untuk tidak melontarkan penilaian bahwa buku ini tidak baik, buku ini tidak layak baca, dan seterusnya.

Well, yes! Ada banyak stereotip terhadap berbagai jenis buku yang menjadi sasaran book shaming. Buku-buku yang dianggap terlalu kekanak-kanakan, terlalu abstrak, terlalu mudah untuk dipahami, dan masih banyak lagi. Buku seperti Harry Potter Series adalah salah satu contoh buku yang dinilai terlalu “imaginatif” dan bahkan dikatakan “merusak” mental anak-anak. 

Sterotip yang datang dari banyak book shamers adalah kalau buku masuk dalam kelompok “terlalu”, dan ini sungguh sangat subjektif, dan kalau meluas bisa menjadi pemahaman kolektif yang dapat merugikan banyak pihak, mulai dari penulis, rumah produksi, sampai pembaca potensial lainnya. 

Stereotip ini pun sangat dipengaruhi oleh individu sendiri, pengetahuan, dan pengalamannya, serta sangat tidak terhindarkan. Jadi, saat ini yang tersisa adalah pembaca. Apakah pembaca adalah pembaca yang sadar, yang kritis, yang baik dan lembut hatinya? Apakah pembaca adalah seseorang yang mengolah apa yang dibacanya? Atau, hanya seorang pembaca yang mentah-mentah menerima apa yang dibaca dan mudah digerakkan oleh pendapat/opini orang lain? Well, pertanyaan saya kembalikan kepada pembaca. 

Sebagai perawat jiwa, tentunya saya punya pendapat tersendiri terkait book shaming yang menimpa orang-orang yang berjuang dengan kesehatan mentalnya. Orang-orang yang sedang berjuang dengan kesehatan mentalnya, adalah orang-orang yang terluka, sedang terluka dan masih terluka. Mereka rapuh dan sangat sensitif dengan hampir apapun yang ada di sekitar mereka. Ketika book shaming terjadi pada mereka, mereka akan “berdarah dan terluka” kembali. Tentu saja, ini akan kembali membebani mereka. 

Ada banyak banyak cara yang dapat diusahakan untuk menghadapi masalah mental dan book shaming. Jalan pintas untuk menghadapi masalah seperti ini adalah “melepaskan kemelekatan” pada apapun, bahkan termasuk dan terhadap buku yang kita baca atau bahkan apapun yang kita anggap sebagai milik. Dengan melepaskan kemelekatan, kita tidak merasa bertanggung jawab atas apa yang kita miliki. Dalam hal ini maksudnya adalah bahkan ketika buku yang kita baca dan kita cintai diinjak-injak oleh orang lain, diambil, bahkan dihilangkan, kita menerimanya sebagai bagian dari hidup, dan tetap berjalan lagi. Mencapai titik ini memang sangatlah tidak mudah, tetapi sangat bisa diusahakan. 

Memilih buku apa yang ingin kita baca, adalah sebuah kebebasan dan juga kenikmatan yang dapat kita syukuri pada hidup di masa ini. Ketika kita membawa buku dengan tema-tema tertentu, motifnya akan berbeda-beda, dan sangat personal sifatnya. Banyak kali memang, buku dipilih berdasarkan kebutuhan. Misalkan, ketika kita sedang berada dalam keadaan patah hati, kita akan mencari buku-buku yang membuat kita bangkit kembali dari rasa terpuruk, atau mungkin mencari buku-buku yang dapat menjelaskan apa yang kita rasakan dan masih banyak lagi.  Semuanya sifatnya sangat personal memang. 

Terkait book shaming di blog saya, seingat saya, saya belum pernah menuliskan tentang pengalaman atau opini tentang book shaming di blog saya. Mungkin pernah dan saya tidak pernah menyadarinya, entahlah. Berhubung selama ini, menulis di blog itu, just comes naturaly untuk saya. Saya menulis dan membagikan apa yang saya pikirkan karena saya menginginkannya, seperti itu saja, termasuk buku yang saya baca. 

Tulisan mengenai buku, dan ulasan-ulasan dari buku yang saya tulis, saya tuliskan dengan tujuan sebagai pengingat. Saya senang dengan reaksi saya sendiri ketika menyadari bahwa, “Oh, saya pernah membaca buku ini ya? Begini isinya ya?” Menyenangkan saja menurut saya. Jika ada pembaca blog yang terbantu dengan ulasan yang saya buat, bagi saya itu adalah bonus. 

Media sosial, memiliki keunggulannya sendiri, yang tentu saja menitikberatkan pada memanjakan indra audio-visual. Konten-konten yang diproduksi di media sosial, yang semakin hari semakin bervariasi membuat orang-orang (pembaca) memiliki lebih banyak perspektif terhadap buku yang mereka baca. Banyaknya perspektif ini, kemudian menghasilkan variasi pendapat, yang akan menarik pembaca pada keputusan ikut melakukan book shaming atau tidak. Namun, pilihan pendapat ini pun sangat bergantung pada keadaan si individu juga. Oleh karena itu, saya sangat menyarankan pemberi ulasan buku, atau penilai buku untuk bersikap baik. Kalau pun memberikan kritik, mereka memberikan kritik yang membangun. 

Selain media sosial, ada blog. Blog memiliki halaman yang lebih luas untuk menilai dan memberikan ulasan tentang buku. Jika media sosial memiliki keterbatasan kolom untuk menulis, dan banyak bergantung pada foto atau video, maka blog memiliki ruang yang lebih luas dari itu. Meskipun demikian, blog jelas kalah popular saat ini, dibandingkan media sosial lain seperti Intagram, dan seterusnya.

Sama seperti media sosial, blog juga banyak dikatakan sebagai media sosial. Prinsipnya sama. Sebagai pengguna, gunakan dengan bijak terutama untuk mengedukasi orang lain tentang buku dan isi bukunya. Kedua, jika sebagai content creator, buatlah content yang memang memiliki tujuan untuk mengedukasi dan mencerahkan, bukan membuat content yang malah menggiring opini publik menuju hal yang tidak baik. Kalau pun proses penggiringan opini ini tidak bisa terelakkan, beberapa content creator menggunakan disclaimer seperti “gunakan akal sehat yang baik untuk mencerna isi ulasan” dan masih banyak lagi. 

Membaca itu adalah kegiatan untuk menyerap, memproses dan mengolah. Membaca pun dapat diartikan sebagai aktivitas untuk menciptakan. Menciptakan pengalaman, dan bahkan kehidupan yang baru. Menciptakan jalan yang baru, dan melakukan perubahan. 

Saya merasa, tugas pembaca adalah bertransformasi bersama buku atau tulisan-tulisan yang dibaca. Sebuah proses untuk menjadi, tentunya jelas adalah proses yang personal. Orang-orang di luar kita adalah variabel pelengkap, yang dapat saja membantu atau bahkan mengganggu proses ini. Jadi, bijaklah untuk memilih, menyaring, dan memperlakukan orang lain. 

Pada dasarnya, kita ini sama-sama pengembara, untuk mengetahui, memahami, dan mencari tahu eksistensi kita di planet Bumi ini. Kita perlu saling mendukung dalam kebaikan dan saling menasihati dalam kesulitan dan kesusahan. Diri, individu, self, adalah yang lebih penting, dari pada buku atau tulisan yang kita permalukan, yang kita nilai hanya dengan keterbatasan kita. Be good!  

Membaca adalah kegiatan untuk memperluas perspektif, dan memperkaya diri dengan kebijaksaan. Saat kita atau bahan bacaan menjadi target dari Book shaming, ambillah kejadian ini sebagai pelajaran. Belajar untuk memahami bahwa, tidak semua orang memiliki perspektif yang sama seperti kita, atau berlari dengan sepatu yang sama seperti kita. Lanjutkan membaca, lanjutkan mengeksplorasi keajaiban dari kata-kata, dan dunia yang kita huni saat ini. Nikmati prosesnya! 

Jika buku atau bahan bacaan kita menjadi target, ingatlah bahwa buku juga memiliki takdir atau tujuan pembacanya masing-masing. Mungkin di tangan orang-orang itu, buku ini tidak mendapatkan rumahnya. Mungkin hanya pada tangan-tangan orang seperti Anda, saya, kita, buku ini menemukan tempatnya. 

Jika orang lain memiliki pendapat yang berbeda tentang buku atau bacaan yang sama seperti yang ada di tangan kita, nikmati, dan rayakanlah perbedaan ini. Ini bukti betapa kaya buku yang kita lahap saat ini dan rangkullah buku ini sesuai dengan tujuannya.

Jika buku yang kita lahap sudah tidak lagi menarik, berikan kepada orang lain yang memang membutuhkan. Mungkin kata-kata yang tertulis dalam buku tersebut sudah menjadi bagian dari kita, menjadi satu dengan kita. Tentu saja, buku ini sudah mencapai tujuannya. Mungkin buku tersebut membutuhkan rumah baru untuk kembali diproses. 

Membacalah untuk diri kita sendiri terlebih dahulu, sebelum kita membaca untuk orang lain. Ini adalah saran saya untuk para pembaca yang ingin membangun iklim membaca yang supportive dan terbuka. Ini berarti membacalah untuk memenuhi kebutuhan akan informasi untuk diri kita terlebih dahulu. 

Selanjutnya, cari dan temukan book club yang memang mendukung aktivitas membaca harian kita. Jika tidak menemukan book club yang cocok, jangan dipaksa. Kita memiliki gaya membaca, kecepatan membaca, dan bahkan jenis buku untuk dibaca yang berbeda-beda. Jadi, santai saja. 

Lalu, membacalah karena kita memang ingin membaca! Bukan karena dipaksa, atau karena harus memenuhi target tertentu. Di awal-awal, pemaksaan untuk menghabiskan satu atau dua buku dalam waktu tertentu dapat berjalan dengan baik, tetapi lambat laun kebiasaan ini seharusnya sudah berubah menjadi ‘kebutuhan’. Kita membaca buku karena kita membutuhkannya. Kalau tidak membaca, kita mungkin tidak bisa sepenuhnya dikatakan hidup. 

Sejauh pengalaman saya membaca, sangat disayangkan saya tidak memiliki buku yang dapat saya rekomendasikan untuk dijadikan referensi tentang book shaming atau tentang kebebasan dalam membaca. Namun, sahabat Ruanita bisa mencoba untuk membaca buku dengan judul “The Gifts of Impection” dari Brene Brown. Buku ini tidak secara langsung membahas tentang perilaku book shaming, tetapi buku ini cukup menjelaskan tentang “the concept of shame” dan bagaimana mengolah penerimaan diri (self-acceptance). Ini akan sangat bermanfaat dalam menghadapi masalah-masalah yang ada hubungannya dengan perasaan dipermalukan, termasuk book shaming

Penulis: Maria Frani Ayu Andari Dias, seorang perawat jiwa, Blogger yang dapat dibaca tulisannya lewat blog Mariafraniayu.com dan dapat dikontak via akun instagram @mariafraniayu.

(PODCAST RUMPITA) Literasi Anak di Tengah Dunia Digital yang Mengglobal

Dalam program bulanan diskusi Podcast RUMPITA – Rumpi bersama Ruanita, Anna sebagai Podcaster didampingi oleh relawan Ruanita lainnya yakni Etty P. Theresia yang tinggal di Frankfurt, Jerman.

Diskusi podcast episode bulan September ini, dilakukan dalam rangka memperingati Hari Literasi Sedunia dengan menghadirkan kisah inspiratif dari perempuan Indonesia yang menjadi pemerhati dunia literasi anak-anak.

Informan dalam diskusi podcast RUMPITA episode ke-41 adalah Azizah Seiger, atau akrab disapa Zee, yang menetap di Austria sejak 14 tahun lalu dan merupakan co-founder Seger Reading Club, sebuah komunitas literasi anak yang baru berdiri tapi penuh semangat dan visi besar di Indonesia.

Sebelum menyelami kisah Zee, Etty sempat berbagi tentang inisiatifnya mendirikan klub membaca buku anak di Jerman, yang dikenal Wortschatzbook Klub, komunitas membaca bersama yang aktif sejak 2019 dan kini rutin mengadakan pertemuan luring dua bulan sekali di Frankfurt. Menariknya, “Wordschatz” berasal dari bahasa Jerman Wortschatz, yang berarti “kosa kata”.

Fokus pada klub membaca yang dikelola oleh Zee, diberi nama Seger Reading Club, yang lahir dari kolaborasi antara Zee di Austria dan sahabatnya di Indonesia, yang berlokasi di Dusun Seger, Indonesia.

Kisah lahirnya komunitas ini bermula dari unggahan sahabatnya tersebut di media sosial yang menunjukkan anak-anak membaca dan menggambar di halaman rumahnya. “Langsung saya japri dan bilang: yuk kita bikin Reading Club,” cerita Zee penuh semangat.

Nama “Seger” sendiri ternyata bukan plesetan dari “Seiger” (nama belakang Zee), melainkan nama dusun tempat kegiatan membaca ini berlangsung.

Menurut Zee, berdirinya Seger Reading Club dilandasi dua jenis motivasi:

  1. Motivasi eksternal: terinspirasi dari pejuang literasi di Lombok Utara, keluarga besar guru, serta semangat sahabatnya sendiri.
  2. Motivasi internal: keinginan mendalam untuk menjadi bagian dari perubahan positif, didorong oleh nilai pribadi, hobi menulis, dan semangat memberi makna hidup.

“Ada keberanian yang harus kita miliki untuk menciptakan sesuatu yang berdampak. Dan keberanian itu datang dari kepercayaan diri dan mindset positif,” ujar Zee.

Sebagai ibu dari Yuna, balita 3 tahun yang tumbuh trilingual (bahasa Indonesia, Jerman, dan Inggris), Zee sangat memperhatikan penguatan literasi sejak dini. Ia konsisten membacakan buku, menciptakan rutinitas bedtime stories, dan memperhatikan pelafalan dalam setiap komunikasi.

Menariknya, Zee juga tidak menolak penggunaan teknologi. “Yuna belajar banyak dari kanal seperti Miss Rachel,” ujarnya. Namun, ia selektif, hanya memperbolehkan screen time lewat TV, bukan gadget genggam, untuk menjaga fokus dan keseimbangan bermain.

Yuna kini mampu mengenali huruf-huruf sejak usia dua tahun dan membaca kata-kata sederhana, bukti bahwa dukungan literasi di rumah bisa menghasilkan dampak besar bahkan sejak usia dini.

Di Seger Reading Club, anak-anak yang terbiasa dengan gadget awalnya tampak kurang tertarik pada buku. Untuk menyiasatinya, para relawan membacakan cerita dengan penuh ekspresi dan gerakan.

Sahabat Zee sendiri dan tim juga membuat video dongeng untuk diputar bersama menggunakan laptop. Ke depan, program akan menggunakan proyektor agar anak-anak bisa menonton bersama-sama.

“Banyak anak sekarang mengalami speech delay karena kebanyakan screen time,” tutur Zee. Seger Reading Club menjadi ruang alternatif yang bukan hanya menyenangkan, tapi juga menstimulasi kemampuan bahasa dan komunikasi.

Apa yang dilakukan oleh Zee di Seger Reading Club dan Etty di Wordschatzbook club, menunjukkan bahwa gerakan literasi bisa dimulai dari ruang sekecil apapun, asal ada tekad, keberanian, dan kolaborasi.

“Tanpa keberanian, tidak akan ada karya. Tanpa keinginan membantu, tidak akan ada perubahan,” kata Zee. Di tengah dominasi layar dan tantangan suara perempuan Indonesia di negeri rantau, menjadi pengingat bahwa kita semua bisa menjadi bagian dari solusi.

Simak diskusi PODCAST RUMPITA episode ke-41 berikut di kanal SPOTIFY dan pastikan FOLLOW agar kami dapat berbagi lebih lagi: