
Apa yang terjadi setelah lulus kuliah di luar negeri? Apakah karier langsung melesat, atau justru penuh tantangan yang tak terduga?
Pertanyaan ini menjadi benang merah dari perbincangan hangat antara Aini, host Jibber-Jabber dari Norwegia, dan Atika, seorang perempuan Indonesia yang baru menyelesaikan studi magisternya di Jerman.
Di episode keempat ini, Atika membagikan kisahnya yang jujur, inspiratif, dan penuh pembelajaran, tentang berani keluar dari zona nyaman, meniti pendidikan di negeri orang, hingga realita keras dunia kerja internasional.
“Merantau” adalah kata kunci yang mengawali perjalanan Atika. Lahir dan besar di Yogyakarta, ia memutuskan melanjutkan pendidikan S2 di Jerman untuk mengejar pertumbuhan pribadi dan profesional.
“Aku ingin keluar dari zona nyaman,” katanya. Alasan lainnya? Jerman menawarkan banyak program magister tanpa biaya kuliah dan biaya hidup yang relatif terjangkau dibanding negara Eropa Barat lainnya.
Atika mengambil program Development Studies di Universitas Passau, sebuah bidang interdisipliner yang mencakup ekonomi, politik, sosiologi, hingga isu-isu keberlanjutan global.
Tujuannya jelas: membangun karier di bidang kerja sama pembangunan internasional (international development cooperation), sebuah bidang yang sejalan dengan pengalamannya bekerja sebelum S2.
Namun, seperti banyak dari kita, arah karier ini tidak langsung terbentuk sejak awal kuliah. Justru pengalaman kerja di lapanganlah yang memperkuat keinginannya melanjutkan pendidikan dan memperluas jejaring global.
Meski lulus dengan semangat dan rencana, Atika menghadapi realita pasar kerja di Jerman yang kompetitif dan tidak selalu ramah pada internasional.
“Lingkungan kerja di sini masih banyak yang mensyaratkan bahasa Jerman bisnis,” ujarnya. Belum lagi kompleksitas visa, preferensi terhadap kewarganegaraan tertentu, serta dinamika politik global yang memengaruhi proyek-proyek pembangunan internasional.
Bahkan di bidang yang identik dengan kerja sama antarnegara seperti international development, Atika tetap merasakan tantangan tinggi sebagai warga negara asing. Kompetisi tidak hanya datang dari sesama mahasiswa internasional, tetapi juga dari lulusan lokal dan global lainnya.
Dari semua strategi pencarian kerja yang ia coba—magang, career fair, dan LinkedIn, Atika menekankan satu hal: jaringan (networking).
“Dulu aku nggak punya network di Jerman sama sekali. Sekarang, aku sudah punya beberapa orang yang bisa aku hubungi, minta feedback, atau sekadar diskusi,” ujarnya.
Prosesnya memang lambat, penuh keraguan, dan terkadang menyulitkan mental. Tapi justru dari langkah-langkah kecil inilah peluang besar muncul.
“Yang penting mulai dulu. Satu langkah membawa ke langkah berikutnya. Jangan tunggu semuanya siap.”
Bagi Atika, merantau bukan hanya tentang pencapaian profesional, tapi juga perjalanan menuju versi terbaik dirinya.
“Kadang kita gagal dan merasa belum berhasil. Tapi sebenarnya kegagalan itu adalah pencapaian juga, karena kita belajar dari situ,” katanya menutup obrolan dengan refleksi yang menyentuh hati.
“Baby steps. One step at a time. Karena sering kali kita terlalu keras sama diri sendiri, padahal kita sedang tumbuh.”
Podcast audio Jibber-Jabber berbahasa Inggris ini inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen menciptakan ruang aman bagi perempuan Indonesia di perantauan. Melalui audio podcast Jibber-Jabber, Ruanita Indonesia ingin menghadirkan refleksi perempuan Indonesia dengan interseksionalitas yang dialaminya dalam konteks transnasional.