
Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya, Adelia Putri, yang kini menjadi mahasiswi, sekaligus konselor sebaya, yang menjadi bagian dari Forum Generasi Berencana di Indonesia. Saya tertarik pada isu kesehatan mental, termasuk tema emotional attachment yang ingin dibagikan berikut ini. Menurut saya, emotional attachment begitu penting dalam relasi antar manusia. Sahabat Ruanita, apa yang terlintas dalam benak kalian, jika mendengar emotional attachment? Dalam pikiran saya pertama kali, terlintas fase pasca mengakhiri hubungan. Bisa jadi ini adalah momen, di mana seseorang masih merasa terikat secara emosional dengan mantan pasangan, meskipun hubungan sudah berakhir. Perasaan ini bisa muncul dalam bentuk rindu, kesulitan melupakan kenangan, atau bahkan ketergantungan emosional. Bisa jadi, mantan pasangannya dulu adalah orang yang menjadi bagian dari rutinitas kehidupan sehari-harinya. Apakah sahabat Ruanita pernah mengalami pengalaman ini juga?
Jika menilik secara harafiah, emotional attachment adalah keterikatan emosional yang membuat seseorang merasa dekat, nyaman, dan bergantung secara psikologis pada seseorang, benda, atau situasi tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari, ini bisa terlihat dalam bentuk seseorang yang selalu ingin bersama orang terdekatnya, sulit melepaskan barang yang memiliki kenangan, atau bahkan perasaan nostalgia terhadap tempat tertentu.
Saya bukan seorang psikolog atau ahli kesehatan mental, tetapi ternyata ada hubungan antara emotional attachment dengan kesehatan mental. Emotional attachment bisa berdampak positif atau pun negatif terhadap kesehatan mental. Jika keterikatan emosional bersifat sehat atau disebut sebagai secure attachment, tentu relasi tersebut bisa memberikan rasa aman, kenyamanan, dan meningkatkan kesejahteraan emosional. Namun, jika terlalu kuat dan tidak seimbang (insecure attachment), bisa menyebabkan kecemasan, depresi, dan kesulitan dalam menghadapi perubahan atau kehilangan. Misalnya, seseorang yang terlalu bergantung pada pasangan bisa mengalami stres berlebihan, saat menghadapi perpisahan.
Pengalaman perpisahan dengan orang terkasih nyatanya bisa berdampak signifikan juga loh dalam kehidupan. Ini pengalaman saya dulu menjadi konselor sebaya bagi teman-teman saya di usia remaja. Saya adalah remaja, yang berpartisipasi dalam program Generasi Berencana (GenRe). Bisa dijelaskan, ini seperti suatu komunitas yang berfokus pada pengembangan dan pemberdayaan remaja. Salah satu program utama dalam GenRe adalah konselor sebaya, di mana para remaja yang terpilih, telah mendapatkan pelatihan sebagai konselor bagi remaja lainnya.
Dalam sesi konseling, permasalahan yang paling sering ditemui adalah seputar romansa. Banyak remaja mengalami emotional attachment yang cukup dalam terhadap pasangan mereka. Jika keterikatan ini terlalu kuat dan tidak seimbang, remaja mengalami kesulitan, seperti terjebak dalam hubungan yang tidak sehat (toxic relationship) atau merasakan kesedihan yang berlebihan, setelah perpisahan. Sebagai bagian dari Generasi Berencana (GenRe), saya sering bertemu dengan berbagai remaja yang mengalami keterikatan emosional dalam hubungan mereka. Hal ini membuat saya lebih peka dalam memahami dinamika perasaan seseorang dan lebih berhati-hati dalam membangun hubungan dengan orang lain. Saya belajar bahwa emotional attachment yang sehat bisa memberikan kenyamanan, tetapi jika terlalu kuat dan tidak seimbang, bisa menyebabkan ketergantungan berlebihan atau bahkan hubungan yang tidak sehat (toxic relationship).
Karena pengalaman ini, saya cenderung lebih sadar akan batasan dalam hubungan, baik dalam pertemanan maupun romansa. Saya berusaha untuk menciptakan hubungan yang saling mendukung, tanpa menjadi terlalu bergantung satu sama lain. Selain itu, saya juga lebih terbuka dalam membahas perasaan dengan orang-orang di sekitar saya, agar keterikatan emosional yang saya alami tetap sehat dan positif. Tentunya, saya juga pernah merasa terlalu terikat atau takut kehilangan seseorang. Perasaan ini bisa sangat menguras emosi, terutama ketika hubungan mengalami masalah atau harus berakhir.
Dampak Emotional Attachment pada Kesehatan Mental
Menurut saya, ada hubungan yang cukup erat antara emotional attachment dan gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan atau depresi. Ketika seseorang memiliki keterikatan emosional yang sangat kuat terhadap seseorang atau sesuatu, perasaan kehilangan atau perubahan dalam hubungan dapat memicu stres berlebihan. Misalnya, seseorang yang terlalu bergantung secara emosional pada pasangannya mungkin akan mengalami kecemasan yang intens ketika hubungan itu berakhir. Jika perasaan ini tidak terkelola dengan baik, bisa berkembang menjadi kesedihan yang berkepanjangan, bahkan depresi. Selain itu, keterikatan emosional yang tidak sehat, seperti dalam hubungan yang toksik, juga bisa menyebabkan tekanan psikologis yang mempengaruhi kesehatan mental seseorang, terutama remaja.
Saya sendiri maupun beberapa orang di sekitar saya pernah mengalami kesulitan dalam melepaskan keterikatan emosional dari seseorang atau sesuatu. Salah satu contoh yang sering terjadi adalah ketika seseorang mengalami perpisahan dalam hubungan, baik itu dengan pasangan, sahabat, atau bahkan kehilangan anggota keluarga. Proses melepaskan keterikatan ini tidak mudah dan bisa memakan waktu lama. Biasanya, tahap awal dipenuhi dengan perasaan sedih, kehilangan, dan kebingungan. Namun, seiring berjalannya waktu, melalui dukungan sosial, refleksi diri, dan menyibukkan diri dengan hal-hal positif, keterikatan tersebut perlahan mulai mereda. Beberapa orang juga menemukan bantuan melalui konseling atau berbicara dengan orang yang mereka percaya untuk mendapatkan perspektif baru dan dukungan emosional.
Dalam menghadapi kehilangan atau perubahan dalam hubungan yang sangat berarti bagi saya, saya mencoba untuk menerima kenyataan dengan perlahan. Saya menyadari bahwa kehilangan adalah bagian dari kehidupan dan setiap hubungan, baik yang bertahan maupun yang berakhir, memiliki pelajaran berharga. Saya biasanya memberi waktu bagi diri sendiri untuk merasakan emosi yang ada tanpa menekannya. Selain itu, saya berusaha menjaga keseimbangan dengan tetap fokus pada hal-hal yang membuat saya berkembang, seperti mengikuti kegiatan komunitas, menulis jurnal, atau melakukan refleksi diri. Yang terpenting, saya belajar untuk tidak terlalu menyalahkan diri sendiri atau terjebak dalam perasaan kehilangan, tetapi menjadikannya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang membantu saya tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat.
Tentu saya sendiri pernah mengalami dampak yang negatif. Saya sering merasa murung, kehilangan semangat dalam menjalani rutinitas sehari-hari, merasa sesak, dan sering melamun. Hal ini terjadi ketika saya terlalu terikat secara emosional pada seseorang, sehingga ketika terjadi konflik atau perpisahan, saya mengalami kesulitan untuk beradaptasi. Perasaan kehilangan yang mendalam membuat saya sulit fokus dan terkadang memengaruhi keseharian saya.
Namun, dari pengalaman ini, saya menyadari pentingnya membangun keseimbangan dalam keterikatan emosional, agar tidak terlalu bergantung pada seseorang untuk kebahagiaan dan ketenangan diri. Pada akhirnya, saya perlu membangun keseimbangan antara keterikatan emosional yang sehat dan hubungan yang mungkin toksik. Saya belajar memahami kapan sebuah hubungan masih sehat dan kapan mulai mengarah ke sesuatu yang tidak baik. Jika hubungan membuat saya merasa terkekang, cemas, atau kehilangan diri sendiri, maka saya mulai mengevaluasi, apakah hubungan tersebut masih layak dipertahankan. Selain itu, saya juga berusaha menghargai diri sendiri dan menjaga harga diri. Saya menyadari bahwa saya tetap berharga, dengan atau tanpa kehadiran seseorang dalam hidup saya.
Cara Mengatasinya
Berdasarkan pengalaman dan pembelajaran saya di komunitas GenRe, saya menemukan beberapa cara untuk mengatasinya:
- Membangun Kemandirian Emosional
Saya berusaha untuk tidak menggantungkan kebahagiaan saya sepenuhnya pada satu orang. Saya belajar untuk menikmati waktu sendiri, mengejar hobi, dan fokus pada pertumbuhan pribadi.
- Mendukung Diri dengan Lingkungan Positif
Saya menyadari bahwa memiliki jaringan pertemanan yang sehat sangat membantu. Ketika saya merasa terlalu terikat atau takut kehilangan seseorang, saya berbagi cerita dengan teman yang bisa dipercaya untuk mendapatkan perspektif baru.
- Memahami bahwa Kehilangan adalah Bagian dari Hidup
Saya mencoba menerima bahwa tidak semua hubungan akan bertahan selamanya. Itu bukan berarti kita tidak bisa bahagia atau berkembang setelahnya. People come and People Go, begitu katanya.
- Menerapkan Teknik Mindfulness dan Self-Reflection
Saya sering melakukan refleksi diri untuk mengenali, apakah keterikatan saya terhadap seseorang masih dalam batas yang sehat atau sudah berlebihan. Jika merasa sudah terlalu bergantung, saya mencoba untuk menarik diri sejenak dan menata ulang emosi saya.
Saya juga memperluas dukungan sosial dengan tidak hanya bergantung pada satu orang, tetapi juga memperkuat hubungan dengan teman, keluarga, dan komunitas, seperti di Generasi Berencana (GenRe). Dengan begitu, saya tidak merasa sendirian saat menghadapi tantangan emosional. Saya pun lebih sering mendengarkan intuisi dan melakukan refleksi diri. Pertanyaannya ke diri sendiri seperti: “Apakah hubungan ini membuat saya lebih bahagia atau justru lebih sering merasa cemas dan tertekan?” Jika jawabannya cenderung negatif, saya tahu bahwa saya perlu menetapkan batas, atau bahkan melepaskan hubungan tersebut.
Untuk mengelola keterikatan emosional dengan lebih baik, saya mencoba menjalani aktivitas yang membuat saya berkembang, seperti belajar keterampilan baru, mengikuti kegiatan komunitas, atau mengejar hobi, agar kebahagiaan saya tidak hanya bergantung pada satu orang. Saya juga sering menulis jurnal atau melakukan refleksi diri, yang membantu saya memahami emosi dengan lebih baik dan menemukan pola pikir yang lebih sehat.
Selain itu, saya berlatih mindfulness dan meditasi untuk melatih kesadaran diri serta lebih menikmati momen saat ini, sehingga saya menjadi lebih stabil secara emosional dan tidak mudah terjebak dalam pikiran negatif tentang masa lalu atau ketakutan akan kehilangan. Berbicara dengan orang yang dipercaya juga menjadi salah satu cara saya untuk mendapatkan perspektif yang lebih objektif, saat saya merasa terlalu terikat atau kesulitan mengelola perasaan. Hal paling penting, saya berusaha mengembangkan kemandirian emosional dengan tidak menjadikan kebahagiaan saya bergantung pada satu orang. Saya merawat kesehatan fisik, mental, dan emosional saya agar bisa menjalani hidup dengan lebih seimbang dan bahagia, baik dengan atau tanpa keterikatan emosional yang mendalam terhadap seseorang.
Norma Sosial di Indonesia dan Penutup
Dalam masyarakat Indonesia, emotional attachment seringkali dipandang sebagai sesuatu yang wajar dan bahkan diharapkan dalam hubungan keluarga, pertemanan, maupun hubungan romantis. Keterikatan emosional dalam keluarga dianggap sebagai bagian penting dari nilai kebersamaan dan gotong royong, di mana hubungan antar anggota keluarga sangat erat. Ketergantungan emosional dianggap sebagai tanda kasih sayang serta kepedulian. Dalam pertemanan, ikatan emosional juga cenderung kuat, terutama dalam lingkup pergaulan yang sudah terjalin lama, seperti sahabat sejak kecil atau rekan dalam komunitas tertentu. Sementara itu, dalam hubungan romantis, emotional attachment sering kali dilihat sebagai hal yang positif. Namun, dalam beberapa kasus, bisa menjadi problematik jika keterikatan tersebut berubah menjadi ketergantungan berlebihan atau hubungan yang tidak sehat.
Saya pernah melihat stigma terhadap seseorang yang dianggap terlalu bergantung secara emosional, terutama dalam hubungan romantis. Orang yang terlalu lekat dengan pasangannya sering kali dicap sebagai “bucin” (budak cinta), yang memiliki konotasi negatif karena dianggap tidak memiliki kemandirian atau terlalu mengorbankan diri demi pasangan. Stigma ini dapat berdampak buruk, terutama jika seseorang yang mengalami keterikatan emosional yang dalam dan justru membutuhkan dukungan, daripada sekadar dihakimi. Selain dalam hubungan romantis, seseorang yang terlalu bergantung secara emosional pada keluarga juga, kadang mendapatkan penilaian negatif, misalnya dianggap kurang mandiri jika terlalu mengandalkan orang tua dalam mengambil keputusan.
Norma sosial di Indonesia juga memengaruhi cara perempuan mengekspresikan dan mengelola emotional attachment. Secara budaya, perempuan sering diajarkan untuk lebih ekspresif dalam menunjukkan kasih sayang dan kepedulian, baik dalam keluarga, pertemanan, maupun hubungan romantis. Namun, di sisi lain, ketika perempuan menunjukkan keterikatan emosional yang dianggap berlebihan, mereka bisa mendapat kritik atau dianggap “lemah” dan “terlalu sensitif.” Tekanan sosial ini membuat banyak perempuan harus menemukan keseimbangan antara mengekspresikan emosi secara alami dan menjaga citra, agar tidak dianggap tidak mandiri atau manja. Selain itu, dalam banyak kasus, perempuan lebih dibebani dengan ekspektasi untuk menjaga keharmonisan hubungan, baik dalam keluarga maupun dalam percintaan, yang bisa membuat mereka lebih sulit untuk melepaskan keterikatan emosional yang tidak sehat.
Saya berharap masyarakat Indonesia dapat lebih memahami bahwa emotional attachment adalah bagian alami dari kehidupan manusia dan bukan sesuatu yang harus distigmatisasi, terutama ketika seseorang mengalami keterikatan emosional yang mendalam. Akan lebih baik jika masyarakat bisa lebih terbuka dalam memberikan dukungan emosional, alih-alih menghakimi atau melabeli seseorang sebagai “lemah”, hanya karena mereka memiliki ketergantungan emosional dalam suatu hubungan. Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental juga perlu ditingkatkan, agar orang-orang yang mengalami kesulitan dalam mengelola keterikatan emosional bisa merasa lebih nyaman untuk mencari bantuan dan tidak merasa sendirian dalam perjuangan mereka.
Jika saya bisa memberikan saran kepada perempuan lain tentang membangun emotional attachment yang sehat, saya ingin mengatakan bahwa tidak apa-apa untuk memiliki keterikatan emosional dengan seseorang, tetapi pastikan bahwa hubungan tersebut tetap memberikan ruang bagi diri sendiri untuk berkembang. Jangan pernah mengorbankan kebahagiaan dan kesejahteraan diri demi mempertahankan keterikatan yang sudah tidak sehat! Penting untuk mengenali tanda-tanda ketika hubungan mulai menjadi tidak seimbang, seperti ketika seseorang mulai kehilangan identitas diri, merasa terus-menerus cemas, atau kesulitan berpisah meskipun tahu bahwa hubungan tersebut tidak lagi baik. Bangun jaringan dukungan yang luas, baik dari keluarga, sahabat, maupun komunitas, sehingga keterikatan emosional tidak hanya terfokus pada satu individu.
Untuk mengadvokasi isu emotional attachment di Indonesia agar lebih banyak perempuan merasa didengar dan dipahami, saya ingin mendorong lebih banyak diskusi terbuka mengenai kesehatan emosional dan mental, terutama di kalangan remaja dan perempuan muda. Salah satu caranya adalah melalui komunitas seperti Generasi Berencana (GenRe), yang sudah memiliki platform untuk mendukung remaja dalam mengelola hubungan secara sehat. Selain itu, saya ingin melihat lebih banyak kampanye atau edukasi melalui media sosial, seminar, atau forum diskusi yang membahas pentingnya membangun keterikatan emosional yang sehat. Dengan berbagi pengalaman dan membuka ruang aman untuk berdiskusi, perempuan bisa lebih percaya diri dalam mengelola emosinya tanpa takut dihakimi. Saya juga berharap lebih banyak perempuan menyadari bahwa mereka memiliki hak untuk mencintai tanpa kehilangan diri sendiri dalam prosesnya.
Penulis: Adelia Putri yang dapat dihubungi lewat akun Instagram @adeliaputrii__, mahasiswa sekaligus konselor sebaya, yang menjadi bagian dari Forum Generasi Berencana (GenRe). Dia tertarik pada berbagai isu, terutama yang berkaitan dengan remaja, kesehatan mental, iklim, dan isu perempuan. Menulis adalah salah satu cara Adelia mengekspresikan pemikiran, dan selalu terbuka untuk diskusi tentang berbagai hal. Ayo berbagi cerita dan bertukar perspektif!