(IG LIVE SPESIAL) Memutus Stigma dan Meningkatkan Solidaritas di Hari AIDS Sedunia

Pada 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia, sekaligus masih menjadi rangkaian kampanye digital 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Sebelum diskusi dimulai, Ruanita Indonesia turut menyampaikan belasungkawa atas bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

Acara ini dipandu oleh Rufi, begitu disapa untuk Zukhrufi Syasdawita dari Ruanita Indonesia, menghadirkan dua narasumber perempuan inspiratif:

  • Chichi Betaubun – aktivis HIV/AIDS Yapeda, Papua, yang kini tengah menempuh studi S2 di Swiss.
  • Ayu Oktariani – aktivis HIV dan penggerak isu perempuan, dikenal lewat platform edukasinya di media sosial.

Memulai diskusi, Chichi memberikan gambaran situasi HIV & AIDS di Papua. Ia menjelaskan bahwa di kota-kota besar seperti Jayapura dan Timika, edukasi HIV relatif mudah dijangkau berkat dukungan sekolah, fasilitas publik, dan komunitas.

Namun tantangan terbesar masih muncul di wilayah pedalaman dan kampung-kampung, di mana pembicaraan tentang HIV masih dianggap tabu. Banyak masyarakat masih mengaitkan HIV dengan kutukan, penyakit kotor, atau perilaku “nakal”. Tidak sedikit yang tidak menyadari bahwa banyak anak terlahir dengan HIV karena penularan dari orang tua.

Di sisi lain, misinformasi masih menjadi hambatan serius. Konten-konten menyesatkan tentang penularan HIV, termasuk isu lama seputar jarum suntik di makanan/minuman—masih dipercaya sebagian masyarakat, meski tidak berdasar.

“Informasi menyesatkan ini bertahan bertahun-tahun dan masih dipercaya hingga kini,” ujar Chichi “Karena itu edukasi tidak boleh berhenti.”

Tinggal di Swiss memberikan perspektif baru bagi Chichi. Ia menuturkan bahwa negara tersebut kini memiliki perlindungan hukum kuat bagi orang yang hidup dengan HIV.

Follow us for more

“Kesadaran publik tinggi, informasinya tepat, dan pemerintah memastikan tidak ada hambatan hukum bagi orang yang hidup dengan HIV,” jelasnya.

Namun ia menekankan bahwa hal terpenting tetaplah kehadiran komunitas, hal yang juga sudah kuat di Papua, seperti kelompok dukungan Melati Support Group.

Ayu kemudian berbagi kisah personalnya. Tahun depan menandai 17 tahun ia hidup dengan HIV, setelah terinfeksi dari suami yang menggunakan jarum suntik tidak steril. Ia menekankan bahwa HIV tidak mengenal batas perilaku, karena semua orang memiliki potensi risiko.

Awalnya, ia tidak punya niat menjadi aktivis. Ia hanya ingin bertahan, mencari informasi, dan menghindari depresi. Kebiasaan membaca sejak kecil membuatnya cepat memahami HIV secara ilmiah, bukan melalui stigma.

Bergabung dengan kelompok dukungan sebaya menjadi titik balik baginya.

“Di sana saya sadar bahwa nilai saya sebagai manusia tidak berkurang sedikit pun. Saya tetap bisa berkarya, sekolah, bekerja, punya mimpi,” tuturnya.

Dari pengalaman itu, ia mulai terjun ke advokasi kebijakan, isu perempuan, serta menyediakan ruang aman bagi komunitas melalui kedai kopi miliknya di Bandung.

Ayu memaparkan tantangan berlapis yang dihadapi perempuan dengan HIV, terutama karena budaya patriarkal yang masih kuat:

1. Stigma lebih berat dibanding laki-laki

Perempuan dengan HIV lebih sering dianggap penyebab masalah atau diasosiasikan dengan perilaku buruk, meski kenyataannya banyak terinfeksi dari pasangan.

2. Minimnya kontrol atas tubuh sendiri

Keputusan tentang menikah, hamil, melahirkan, hingga menyusui sering diambil oleh keluarga atau masyarakat, bukan oleh perempuan itu sendiri.

3. Beban pengasuhan ganda

Perempuan dianggap penanggung jawab utama kesehatan keluarga, sehingga sering mengabaikan kesehatannya sendiri.

4. Risiko kekerasan dan penolakan

Beberapa perempuan mengalami kekerasan atau penolakan setelah diagnosis, terutama jika pasangan menolak tes atau tidak menerima kenyataan.

“HIV itu memiskinkan, bukan hanya materi, tapi juga moral dan batin,” ujarnya.
“Karena itu penanganannya harus holistik, tidak bisa hanya dianggap sebagai persoalan medis.”

HIV tidak bisa dikenali dari fisik seseorang.

Satu-satunya cara mengetahui status HIV adalah tes darah.

Menebak-nebak status HIV seseorang berdasarkan bentuk tubuh, kulit, atau penampilan termasuk bentuk stigma yang perlu dihentikan.

Yang bisa dilakukan masyarakat adalah:

  • mencari informasi yang benar,
  • menghindari asumsi, dan
  • mendorong orang berisiko untuk tes tanpa menghakimi.

Diskusi IG Live Ruanita Indonesia ini menjadi pengingat penting bahwa perjuangan melawan HIV & AIDS bukan hanya soal obat, tetapi juga tentang kemanusiaan, empati, dan ruang aman bagi setiap orang.

Edukasi berkelanjutan, kebijakan inklusif, serta komunitas yang solid menjadi kunci untuk menciptakan masyarakat yang bebas stigma dan diskriminasi.

Selamat Hari AIDS Sedunia.
Mari bersama memutus stigma dan menguatkan solidaritas.

Simak selengkapnya di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung keberlangsungan kami.

(AISIYU) Hal-hal Baik Mengalir kepada Saya dan Saya Menerima Kelimpahannya

AISIYU 2025: Galeri Digital Kartu Afirmasi Diselenggarakan dalam rangka 16 HAKTP

Pembuat kartu adalah Griska yang tinggal di UK.

Kita sering menjadi pengkritik paling keras bagi diri sendiri. Melalui AISIYU, kami ingin mengingatkan: pemulihan dimulai dari keberanian untuk memaafkan dan menerima diri.

Dalam workshop online craft therapy bulan September, para peserta menulis kata-kata afirmasi yang lahir dari pengalaman, luka, dan harapan.

Karya mereka kini kami tampilkan dalam Galeri Digital AISIYU 2025: ruang untuk merayakan proses penyembuhan dan kekuatan perempuan.

(IG LIVE SPESIAL) Pengalaman dan Tantangan Mendampingi Perempuan Penyintas Kekerasan di Mancanegara

Dalam rangka memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Kesmenesia—organisasi profesi tenaga kesehatan mental diaspora Indonesia di Eropa—mengadakan sesi IG LIVE bertema “Pengalaman Pendampingan Perempuan Penyintas Kekerasan di Luar Negeri.” Acara ini disiarkan dari tiga negara berbeda: Spanyol, Jerman, dan Inggris, mempertemukan perspektif lintas-budaya mengenai isu kekerasan berbasis gender, terutama yang dialami perempuan Indonesia di luar negeri.

Acara dipandu oleh Bernadia Dwiyani, Co-founder Kesmenesia yang kini bermukim di Spanyol. Dua narasumber yang hadir adalah Mala Holland, seorang psychotherapist di Inggris yang bekerja dengan perempuan dan anak penyintas kekerasan, serta Nelden Djakababa-Gericke, pendamping penyintas sekaligus praktisi kesehatan mental di Jerman.

Bernadia mengingatkan bahwa sejak 1993, PBB telah menetapkan 25 November sebagai International Day for the Elimination of Violence Against Women. Ia juga menyoroti laporan kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia yang pada April 2023 mencapai 5.949 kasus, angka yang menunjukkan betapa seriusnya persoalan ini.

Menurut Mala, hari ini menjadi pengingat bahwa masih banyak perempuan, di sekitar kita dan di seluruh dunia, yang hidup dalam ketakutan. “Kesetaraan gender bukan hanya soal hak yang sama, tapi juga soal rasa aman yang sama,” katanya.

Budaya yang menormalkan penderitaan perempuan membuat kekerasan sering dianggap wajar atau bahkan perlu, padahal perempuan membutuhkan ruang aman untuk menjadi diri mereka sendiri tanpa rasa takut.

Nelden menambahkan bahwa fakta kita masih membutuhkan hari peringatan ini menunjukkan bahwa kekerasan berbasis gender belum selesai. “Kalau kita benar-benar setara, hari seperti ini sudah tidak diperlukan lagi,” ujarnya.

Ia menyoroti bahwa sejak kecil, perempuan dibesarkan dengan kewaspadaan berlebih atas keselamatan diri, sebuah beban yang tidak dialami laki-laki secara setara.

Mala, yang bekerja di sektor amal di Inggris, mengungkapkan bahwa kekerasan terhadap perempuan hampir selalu berdampak pada anak.

Trauma yang dialami ibu akan memengaruhi cara mereka mengasuh, cara mengambil keputusan, hingga persepsi anak terhadap relasi dan keselamatan. Sejak 2022, anak yang menyaksikan kekerasan pada ibunya kini diakui sebagai victim of domestic abuse, meski tidak mengalami kekerasan secara langsung.

Ia menjelaskan bahwa siklus kekerasan tidak otomatis berhenti ketika hubungan berakhir. Banyak pelaku menggunakan jalur hukum, finansial, atau tekanan sosial untuk terus mengontrol mantan pasangan. “Kadang kekerasan justru semakin meningkat setelah hubungan itu putus,” jelasnya.

Mala memaparkan bahwa perempuan migran menghadapi lapisan kesulitan tambahan, seperti:

  • Hambatan bahasa, yang membuat mereka sulit menceritakan pengalaman atau memahami hak hukum.
  • Ketidakpastian status tinggal, yang sering dimanfaatkan pelaku untuk mengancam.
  • Minimnya jaringan sosial, terutama bila tinggal di kota kecil.
  • Tekanan budaya dan agama, yang kadang mendorong perempuan kembali ke hubungan berbahaya demi menjaga “keutuhan keluarga”.

Lebih jauh, ia menyoroti adanya normalisasi kekerasan dalam sebagian keluarga migran. Bagi sebagian orang, kekerasan dipandang sebagai disiplin rumah tangga, sehingga perempuan tidak mengenali bahwa mereka sedang mengalami relasi berbahaya.

Saat ditanya bagaimana mencegah kekerasan terjadi kembali, Mala menekankan satu hal penting: “Pencegahan bukan tanggung jawab korban. Tanggung jawab ada pada pelaku.”

Ia menolak narasi yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang harus “lebih hati-hati”.

Follow us

Menurutnya, pelaku yang harus mengakui perbuatannya, mengikuti terapi, dan berkomitmen berubah.

Namun, bagi penyintas, yang paling penting adalah:

  • Mengetahui nomor bantuan darurat
  • Memahami batas dan red flags
  • Menyadari bahwa permintaan maaf pelaku tidak selalu berarti perubahan
  • Mengutamakan keselamatan diri dan anak

Menurut Mala, sebelum memulai terapi, penyintas harus merasa aman secara eksternal. Pemulihan tidak mungkin terjadi jika mereka masih berada dalam lingkungan berbahaya.

Beberapa langkah penting:

  1. Keamanan fisik: tempat tinggal aman, akses pangan, kesehatan, dan pendidikan anak.
  2. Keamanan hukum: akses terhadap shelter, bantuan hukum, atau sistem perlindungan setempat.
  3. Keamanan emosional: proses terapi yang membantu penyintas menemukan kembali rasa percaya diri dan martabat.

“Terapi adalah proses membangun kembali keamanan dari dalam,” kata Mala. Namun fondasinya tetap pada keamanan eksternal yang stabil.

Acara ditutup dengan penegasan bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan hanya isu personal, tetapi persoalan sosial yang berdampak lintas generasi. Trauma perempuan hari ini dapat membentuk masa depan anak-anak mereka, dan pada akhirnya masyarakat secara keseluruhan.

Melalui dialog lintas negara ini, Ruanita Indonesia dan Kesmenesia kembali menegaskan komitmen untuk menyediakan ruang aman bagi penyintas dan meningkatkan kesadaran publik mengenai kekerasan terhadap perempuan, terutama dalam konteks migrasi.

Simak selengkap di kanal YouTube Kesmenesia dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(AISIYU) Saya Merasa Marah dan Itu Tidak Apa-apa

AISIYU 2025: Galeri Digital Kartu Afirmasi Diselenggarakan dalam rangka 16 HAKTP

Pembuat kartu adalah Dianita yang tinggal di India.

Kita sering menjadi pengkritik paling keras bagi diri sendiri. Melalui AISIYU, kami ingin mengingatkan: pemulihan dimulai dari keberanian untuk memaafkan dan menerima diri.

Dalam workshop online craft therapy bulan September, para peserta menulis kata-kata afirmasi yang lahir dari pengalaman, luka, dan harapan.

Karya mereka kini kami tampilkan dalam Galeri Digital AISIYU 2025: ruang untuk merayakan proses penyembuhan dan kekuatan perempuan.

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Perjuangan Panjang Seorang Ibu Indonesia di Jerman untuk Keadilan dan Hak Asuh

Sejak Ruanita berdiri pada 2021, implementasi salah satu program berfokus pada dukungan kepada perempuan Indonesia penyintas kekerasan dan bagaimana membangun support system agar mereka tidak sendirian.

Program yang disebut sebagai AISIYU (=AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamU) melalui kampanye digital agar menjadi perhatian global dan esensial selama 16 Hari Anti Kekerasan terhadap perempuan (HAKTP).

Pada November 2025 dari Cerita Sahabat Spesial (CSS) oleh Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) mengangkat kisah Dwi Hariyani, seorang perempuan Indonesia yang telah tinggal di Jerman selama hampir 14 tahun dan menjalani perjuangan hukum demi mendapatkan kembali hak asuh anaknya.

Awal yang Sulit dan Kenyataan yang Pahit

Dwi pindah ke Jerman setelah menikah dengan seorang pria Jerman yang ia temui dalam waktu singkat. Ketika tiba di Jerman dalam kondisi hamil besar, ia menikah dan kemudian melahirkan anak di bulan berikutnya.

Namun, kenyataan hidup tak seindah harapan. Hubungan rumah tangganya kandas, dan yang lebih tragis, anaknya diambil secara sepihak oleh pihak suami saat ia ditinggal keluar rumah.

Frauenhaus: Rumah Aman untuk Permulaan Baru

Beruntung, seorang tetangga orang Jerman memberinya informasi tentang Frauenhaus, yakni rumah perlindungan bagi perempuan yang mengalami kekerasan atau ketidakadilan dalam rumah tangga. Dari tempat itulah perjuangan panjang Dwi dimulai.

Di Frauenhaus, ia mulai dibantu untuk menyusun langkah hukum: mendapatkan pengacara, mencatat kronologi kejadian, dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan.

Namun, kondisi awal Dwi sangat memberatkan, seperti: tidak memiliki izin tinggal tetap, tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki tempat tinggal sendiri, dan tidak memiliki penghasilan tetap. Semua alasan ini, membuat hak asuh anak lebih berpihak kepada pihak suami.

Enam Tahun, Lebih dari 15 Kali Pengadilan

Apa yang dilalui Dwi bukan perkara mudah, apalagi tinggal jauh dari tanah air. Ia harus menjalani lebih dari 15 kali sidang pengadilan selama hampir tujuh tahun. Hakim yang sama mengikuti perjalanannya, bahkan sempat bertanya, “Kenapa Anda tidak menyerah saja?”

Namun, Dwi memilih untuk tetap bertahan. Sebagai seorang ibu, tidak ada perjuangan yang terlalu berat untuk memperjuangkan anaknya.

Ia percaya pada kekuatan doa dan kekuatan tindakan. “Saya percaya tidak ada yang tidak mungkin dalam Tuhan,” ujarnya dengan mantap.

Menata Hidup Kembali: Bahasa, Pekerjaan, dan Hak Asuh

Saran pengacaranya sederhana tapi berat: jika ingin mendapatkan hak asuh anak, Dwi harus bisa menguasai bahasa Jerman dengan cepat, memiliki pekerjaan tetap, memiliki tempat tinggal mandiri, dan menjalankan hak kunjungan (Umgangsrecht) secara konsisten.

Dwi melakukannya semua. Ia mengikuti kursus bahasa sambil bekerja full time dan mengambil pekerjaan tambahan part-time.

Ia membiayai semua kebutuhan hukum sendiri, dari membayar pengacara hingga kebutuhan sehari-hari. Ia bahkan menempuh perjalanan 400 km dua minggu sekali selama enam tahun untuk bisa bertemu anaknya.

Semua itu dilakukan Dwi seorang diri di Jerman.

Disiplin Diri dan Strategi Bertahan

Dwi mengakui bahwa tantangan terbesar adalah sistem di Jerman dan bagaimana resiliensi dirinya sendiri. Dwi berusaha mengontrol emosi, belajar bahasa asing dalam waktu singkat, dan menghadapi birokrasi yang kompleks, meski itu adalah tantangan yang berat.

Sistem di Jerman membantunya untuknya belajar cepat memahami semua informasi, dengan mandiri. Tidak ada yang benar-benar membimbing atau mendampingi secara intens. “Mereka bantu hanya seminimal itu saja,” ujar Dwi.

Namun Dwi tetap konsisten. Ia menjalankan semua arahan pengacara dan hakim, dengan tekad yang bulat: mendapatkan kembali anaknya dan berjuang untuk membangun kehidupan baru di Jerman.

Frauenhaus dan Pentingnya Edukasi untuk Perempuan Indonesia di Luar Negeri

Dwi menekankan bahwa Frauenhaus adalah langkah pertama yang krusial bagi perempuan di Jerman yang mengalami kekerasan atau tekanan dalam rumah tangga di luar negeri.

Di sana, mereka bisa mendapatkan informasi awal tentang apa yang harus dilakukan, ke mana melapor, dan siapa yang bisa dihubungi.

Namun, edukasi tentang hal ini belum banyak diketahui oleh perempuan Indonesia di luar negeri, terutama yang berada dalam hubungan rentan atau mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Ia berharap ada lembaga payung atau organisasi seperti Ruanita Indonesia yang berfokus melindungi dan mengedukasi perempuan Indonesia di luar negeri, khususnya dalam memahami hak-hak perempuan migran.

Keteguhan Hati, Nilai Diri, dan Pesan untuk Perempuan Indonesia

Dwi tidak ingin kisahnya menjadi sekadar tragedi. Ia menjadikan semua luka itu sebagai pembakar semangat untuk bangkit dan bertahan.

Bahkan ketika sudah bekerja dan mandiri, ia tetap harus membayar semua hutang bantuan pemerintah yang dulu sempat ia terima, saat tak berdaya.

Baginya, perempuan Indonesia harus belajar menakar risiko sebelum menikah dengan orang asing.

Tidak cukup hanya dengan mimpi tentang hidup “lebih enak” di luar negeri. Ada realitas, sistem hukum yang berbeda, dan tantangan yang harus disadari sejak awal.

“Tinggikan value dirimu dulu. Entah kamu tinggal di Indonesia atau di luar negeri, kamu harus punya nilai diri yang kuat,” tegasnya. Karena hanya dengan itu, seorang perempuan bisa bertahan dalam situasi tersulit sekali pun.

Cerita Sahabat Spesial: Menjadi Suara bagi yang Tak Bersuara

Program Cerita Sahabat Spesial adalah program bulanan tiap bulan berbentuk video melalui kanal YouTube Ruanita Indonesia.

Program ini hadir sebagai wadah berbagi cerita, pengalaman, dan inspirasi dari perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri.

Edisi November ini bertepatan dengan peringatan Kampanye Digital 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Ini diharapkan dapat menyuarakan pengalaman bagi mereka yang voiceless, seperti Dwi.

Dwi Hariyani bukan hanya sosok ibu. Ia adalah gambaran nyata keteguhan hati perempuan Indonesia yang mampu bertahan, membangun kembali hidupnya dari nol, dan tidak pernah kehilangan harapan, saat tinggal di mancanegara.

Simak selengkapnya program Cerita Sahabat Spesial (CSS) di kanal YouTube dan pastikan SUBSCRIBE ya:

(CERITA SAHABAT) Tantangan Pascamelahirkan yang Menguras Mental, Ketika Hidup di 2 Negara Berbeda

Halo, sahabat Ruanita! Ijinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Merry, yang saat ini menjadi ibu rumah tangga penuh. Saya sekarang berdomisili di Portugal. Saat cerita sahabat ini ditulis, saya tinggal di Arab Saudi.

Sedikit membagikan cerita dari saya terkait pengalaman melahirkan yang cukup menantang buat saya, kelahiran pertama pada masa pandemi Covid-19 terjadi, dan kelahiran kedua di Arab Saudi. Kedua kelahiran tersebut dijalani tanpa bantuan keluarga dan jauh dari sanak saudara di Indonesia, yang seharusnya bisa menjadi social support system buat saya.

Saya melahirkan kedua anak saya di dua negara yang berbeda. Kelahiran pertama di Singapura dan kelahiran kedua di Arab Saudi. Berbeda sistem layanan kesehatan, berbeda bahasa dan juga budayanya.

Follow us

Pada kedua proses melahirkan tersebut tidak ada kendala, tapi saya rasakan mulai tumbuh rasa baby blues itu beberapa bulan setelah melahirkan. Setelah kepindahan kami, saya mulai timbul rasa kesepian dan terisolasi. Di mana proses adaptasi tersebut tidak mudah bagi saya.

Sejak saat itu saya menyadari bahwa pentingnya menjaga kesehatan mental kita sendiri, demi ibu dan anak. Keterbukaan dan berdiskusi pada pasangan tentang hal-hal yang membuat diri kita kurang percaya diri, juga membantu mengurangi tuntutan untuk selalu menjadi sempurna. 

Meski teknologi lebih mudah dan modern, nyatanya setelah melahirkan akan mulai timbul adanya rasa tekanan dalam menjalani aktivitas sehari-hari yang berperan sebagai seorang ibu dan berkomitmen penuh kepada orang yang kita cintai, untuk tetap menjaga keharmonisan pada keluarga maupun orang-orang terdekat. 

Tentunya dalam menjaga kesehatan mental setelah melahirkan sangat dibutuhkan dukungan penuh dari pasangan, keluarga, atau orang terdekat maupun komunitas yang dapat memberikan pandangan positif, agar rasa percaya diri kita kembali. 

Begitulah sahabat Ruanita pengalaman saya sebagai ibu pascamelahirkan, jauh dari tanah air dan situasi negara tinggal yang berbeda budaya. Tinggal di luar negeri tentunya tidak selalu indah. Adaptasi itu perlu. Semoga cerita saya.

Penulis: Merry, perempuan Indonesia tinggal di Portugal.

(PODCAST RUMPITA) Memahami Psikologi dan Dunia Parenting di Prancis

Dalam episode kali ini, RUMPITA (Rumpi bersama Ruanita) menghadirkan narasumber spesial: Ranindra Anandita seorang psikolog yang tinggal dan praktik di Bordeaux, Prancis.

Bersama host Anna (dari Jerman) dan Rena (dari Swiss), obrolan kali ini berfokus pada isu parenting, pengalaman studi psikologi, serta tantangan menjadi psikolog Indonesia di luar negeri.

Ranindra memulai kehidupannya di Prancis sejak tahun 2015 untuk melanjutkan SMA. Ia kini memiliki praktik psikologi pribadi dan juga bekerja di sebuah institusi pendidikan setara sekolah dasar.

Praktiknya berfokus pada remaja dan keluarga, serta menangani anak-anak atau dewasa dengan kebutuhan khusus. Ia juga menggunakan pendekatan schema therapy dalam proses terapinya.

Ranindra memilih studi psikologi di Prancis karena ketertarikannya pada isu parenting, terutama dalam konteks pernikahan campuran antara warga Indonesia dan Prancis.

Topik yang juga ia angkat dalam skripsi S1-nya. Ia menempuh kursus bahasa Prancis intensif selama 8 bulan untuk mencapai level B2, yang menjadi syarat masuk studi S2 di sana.

Namun, ia mengakui tahun pertamanya sangat berat. Kurangnya kemampuan bahasa dan sistem kuliah dalam bahasa Prancis membuatnya menangis setiap hari.

Di Prancis, sistem pendidikan pascasarjana lebih berfokus pada observasi di institusi atau rumah sakit, berbeda dengan di Indonesia di mana mahasiswa lebih cepat mendapat pengalaman langsung dengan klien.

Dalam praktiknya, Ranindra banyak menemui tantangan ketika kliennya berasal dari budaya Indonesia. Salah satu contoh kasus adalah ibu asal Indonesia yang menikah dengan pria Prancis. Dalam kasus seperti ini, Ranindra mengaku kesulitan menjembatani perbedaan nilai budaya terkait peran orang tua dan anak, seperti:

  • Di Indonesia, orang tua dianggap selalu benar dan anak tidak boleh membantah.
  • Di Prancis, suara anak lebih dihargai dalam pengambilan keputusan keluarga.

Ketika klien berharap Ranindra bisa “memahami” karena sama-sama orang Indonesia, justru ia merasa lebih “berjarak” karena kini terbiasa dengan pendekatan budaya Prancis. Sebaliknya, ia tidak mengalami kendala berarti saat menangani klien berbahasa Prancis karena sistem dan latar belakang studinya sudah sesuai.

Follow us

Untuk klien pertamanya di klinik, ia menangani anak pemalu yang baru saja mengalami perceraian orang tua. Ibunya, yang juga seorang psikolog, menjadi support penting dan membuat Ranindra merasa lebih nyaman memulai praktik profesional.

Ranindra menggunakan pendekatan Schema Therapy, yang menurutnya berasal dari pemikiran Carl Jung. Pendekatan ini melihat pola pikir atau thinking patterns yang terbentuk sejak kecil akibat kebutuhan yang tidak terpenuhi, baik secara emosional maupun fisik.

Ada 13 pola pikir atau schema, salah satunya adalah “abandonment”, perasaan bahwa semua orang akan meninggalkan kita. Hal ini bisa timbul dari pengalaman traumatis kecil yang berulang, seperti sering dicap bodoh oleh guru atau ditolak.

Untuk mengenali dan menyembuhkan schema ini, pasien dibimbing membuat life calendar, merefleksikan pengalaman penting dalam hidup, dan membayangkan kembali respons ideal yang mereka harapkan saat itu.

Namun, Ranindra menekankan bahwa semua analisis dan diagnosis yang ia berikan adalah hipotesis yang akan dieksplorasi bersama klien.

Menutup obrolan, Anna dan Rena bertanya tentang akses layanan psikologi bagi warga Indonesia yang tinggal di Prancis.

Meski tidak dijelaskan rinci dalam episode ini, pengalaman Ranindra memberi gambaran bahwa ada jalur profesional yang tersedia, baik melalui institusi pendidikan, rumah sakit, maupun praktik pribadi seperti miliknya.

Simak selengkapnya diskusi Podcast RUMPITA di kanal Spotify dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami:

(CERITA SAHABAT) Menjadi Single Mom by Choice di Rumania: It’s my Choice

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan, saya Barbie Nouva, yang kini menetap di Rumania. Saya lahir dan besar di Indonesia, dengan darah campuran yang unik. Mama saya berasal dari Brasil, sementara papa saya berdarah Arab. Sejak kecil, saya sudah terbiasa berada di persimpangan budaya, sehingga saya tumbuh di antara beragam nilai, bahasa, dan kebiasaan.

Masa muda saya banyak diwarnai dengan musik. Saya menempuh pendidikan di Berlin University, mengambil studi Musik. Musik adalah cinta pertama saya, pintu yang membawa saya berkelana jauh dari tanah kelahiran. Namun, setelah lulus dan kembali ke Indonesia, karier musik saya tidak berkembang sesuai harapan. Dari situ saya mengambil keputusan: saya kembali lagi ke Eropa. Saya sempat melanjutkan studi di Spanyol, hingga akhirnya mendapat tawaran pekerjaan di Rumania.

Awal 2024, saya resmi pindah ke sini. Saat ini, saya sedang menjalani parental leave selama dua tahun. Hari-hari saya diisi dengan mengurus anak, mengikuti kelas daring tentang parenting dan keterampilan baru, membuat konten edukasi tentang perjalanan saya sebagai ibu tunggal, serta tetap mengelola bisnis skincare di Indonesia dari jauh.



Keputusan saya menjadi seorang single mom by choice tidak datang tiba-tiba. Ini berawal dari sebuah janji dan cinta. Bersama almarhum pasangan saya, kami pernah merencanakan memiliki anak lewat inseminasi. Alasan utamanya adalah kesehatan saya. Saya memiliki autoimun, riwayat overweight, dan pernah koma karena anoreksia nervosa. Kondisi itu membuat beliau khawatir jika saya hamil secara alami.

Beliau yang lebih dulu mencari informasi tentang inseminasi. Saya masih ingat, betapa seriusnya ia memastikan bahwa saya akan tetap sehat jika suatu hari kami memiliki anak. Sayangnya, rencana itu terhenti ketika beliau berpulang karena kanker. Kehilangan itu mengguncang saya. Saya bahkan sempat menunda semuanya, memberi tahu rumah sakit bahwa saya tidak akan melanjutkan program.

Meski begitu, saya tetap menjaga komunikasi dengan bank donor yang sudah kami pilih. Dalam hati, saya menyimpan satu janji untuk diri sendiri: jika suatu saat saya merasa siap, dan menemukan donor yang mirip dengan beliau, saya akan melanjutkan langkah ini.



Bagi saya, single mother by choice bukan sekadar label. Ia adalah perwujudan kesiapan seorang perempuan untuk menjadi ibu meskipun tidak memiliki pasangan. Ini tentang tanggung jawab, keberanian, dan cinta yang mendalam.

Sebenarnya, keinginan saya menjadi ibu tunggal sudah ada sejak remaja. Waktu itu, saya menyampaikannya pelan-pelan pada keluarga. Mereka hanya tersenyum, menganggapnya angan-angan anak kecil. Tapi ide itu tetap tumbuh di hati saya.

Akhirnya saya benar-benar menjalani prosedur inseminasi dan hamil, keluarga terkejut. Kehamilan saya tidak berjalan mulus. Kondisi fisik saya melemah hingga dokter utama sempat menyarankan untuk mempertimbangkan terminasi. Itu masa-masa penuh air mata.

Saya berbicara dengan keluarga, dan jawaban mereka membuat saya terharu. Mereka berkata, “Ini kan mimpi kamu. Kalau kamu memilih bertahan, jalani dengan sepenuh hati.” Kata-kata itu menjadi cahaya di tengah gelap. Saya merasa dikuatkan, dicintai, dan tidak dihakimi. Meski jarak memisahkan, mereka selalu hadir.

Setelah anak saya lahir, tantangan baru pun dimulai. Tantangan terbesar justru datang dari pikiran saya sendiri. Saya sering overthinking terhadap komentar orang. Tak jarang muncul rasa takut dan ragu. Dari situ saya belajar untuk memilah: komentar mana yang akan saya dengarkan, dan mana yang sebaiknya saya abaikan.

Dari sisi sosial, menjadi ibu tunggal di Rumania punya warna tersendiri. Secara budaya, banyak orang masih memandang single mother by choice dengan rasa kasihan atau keheranan. Ada yang berkata, “sayang sekali…” dengan nada prihatin. Tetapi dari sisi hukum dan layanan kesehatan, pemerintah tetap melindungi hak-hak ibu tunggal. Itu membuat saya merasa aman, meskipun ada stigma di sekitar.

Kendala bahasa juga membuat saya sulit masuk ke komunitas ibu tunggal lokal. Mayoritas menggunakan bahasa Rumania, sementara saya hanya bisa bahasa Inggris. Saya tetap berusaha membangun koneksi, tapi memang tidak mudah.

Menjadi ibu tunggal berarti saya harus kuat, tapi saya juga manusia biasa. Masa kehamilan yang penuh drama fisik, ditambah pengalaman diskriminasi di tempat kerja, membuat kondisi mental saya jatuh. Saya bahkan sempat mengalami trust issue yang cukup parah.

Untuk menjaga diri, saya rutin berkomunikasi dengan psikolog dan psikiater. Saya belajar untuk punya me time: berkuda, pilates, atau sekadar melatih diri mempercayakan anak pada nanny, meskipun tetap saya awasi lewat CCTV.

Setiap kali saya ingin menyerah, saya melihat anak saya. Dia adalah alasan saya bertahan, hadiah terindah dari Tuhan, cahaya yang membuat saya terus melangkah.

Di sini, komunitas ibu tunggal biasanya fokus pada mereka yang mengalami kesulitan ekonomi. Untuk single mom by choice, hampir tidak ada wadah yang khusus. Saya sempat bergabung dengan kelompok lokal, tapi kendala bahasa membuat saya tidak aktif.

Beruntung, saya punya dua sahabat orang Indonesia di Rumania. Kami sering memasak bersama, makan bareng, ngobrol, bermain di taman dengan anak-anak. Sederhana, tapi sangat berarti. Kehadiran mereka seperti oase di hari-hari yang kadang terasa sepi.

Kalau bisa memutar waktu, saya ingin lebih mempersiapkan tubuh saya sebelum menjalani prosedur. Namun, saya tidak menyesal dengan keputusan ini. Menjadi single mom by choice adalah pilihan terbaik yang pernah saya ambil.

Setelah kepergian almarhum, saya sadar bahwa saya belum siap memiliki pasangan lagi. Hubungan-hubungan lain tidak berjalan baik. Tetapi untuk anak, saya siap sepenuhnya. Anak saya adalah pusat hidup saya, alasan saya untuk menciptakan rumah yang penuh cinta, disiplin, dan nilai-nilai yang saya yakini.

Saya tahu banyak perempuan di Indonesia mungkin merasa siap menjadi ibu, tapi belum tentu siap menjadi istri. Dan itu tidak apa-apa.

Pesan saya sederhana: jika memang sudah siap, lakukan dengan tenang. Ikuti kata hati, jangan terburu-buru mengikuti standar orang lain. Baik dalam memilih pasangan maupun donor, yang paling penting adalah kesiapan diri sendiri.

Saya juga berharap masyarakat Indonesia bisa lebih bijak melihat pilihan single mom by choice. Ini bukan soal kebebasan tanpa batas, tapi soal tanggung jawab. Perempuan yang memilih jalan ini biasanya sudah memikirkan pendidikan, kesejahteraan, dan masa depan anaknya dengan matang.

Pada akhirnya, menjadi ibu tunggal bukan tentang kekurangan, melainkan tentang keberanian. Tentang cinta yang memilih untuk hadir, bahkan ketika jalannya berbeda. Tentang komitmen untuk memberikan yang terbaik bagi generasi berikutnya.

Sahabat Ruanita, ini adalah cerita saya. Semoga bisa menjadi pengingat bahwa setiap perempuan punya hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Ingatlah, bahwa keibuan, dalam segala bentuk apapun pilihannya, selalu berakar pada cinta.

Penulis: Barbie Nouva, perempuan Indonesia yang kini menjalani hidup sebagai Single Mom by Choice di Rumania dan dapat dikontak via akun instagram official.barbienouva.

(IG LIVE) Cerita Ibu Baru dari Prancis & Dukungan untuk Ibu Menyusui Indonesia

Ruanita Indonesia kembali mengadakan diskusi Instagram Live pada edisi parenting pada bulan November dengan tema “Parenting: Berbagi Pengalaman dan Pengetahuan Menyusui”.

Acara ini dipandu oleh Zukhrufi Syasdawita, Relawan Ruanita Indonesia dan menghadirkan dua narasumber inspiratif: Caroline Shinta, relawan Ruanita Indonesia yang kini tinggal di Prancis dan baru saja menjadi ibu baru, serta Mia Ilmiawati Sadah, konselor menyusui sekaligus pendiri Bubu Institute.

Selama kurang lebih 40 menit, diskusi berlangsung hangat dan penuh wawasan, membahas tantangan, kebahagiaan, serta dukungan yang dibutuhkan para ibu dalam proses menyusui. Mengawali sesi berbagi, Caroline menceritakan pengalamannya menjadi ibu baru di Prancis tanpa kehadiran keluarga besar.

“Kalau di Indonesia ada budaya gotong royong untuk membesarkan anak, di sini saya dan pasangan benar-benar mengurus bayi 100% sendiri,” ujar Caroline.

Ia menggambarkan masa-masa awal menyusui sebagai periode yang sangat menantang, seperti: puting lecet, bayi kesulitan menghisap, kurang tidur, dan rasa lelah tanpa henti.

“Setiap dua jam sekali harus menyusui, lalu memompa ASI ketika bayi tidur. Rasanya non-stop dan melelahkan,” kenangnya.

Namun di balik tantangan itu, ia juga merasakan kehangatan luar biasa dari momen kedekatan dengan bayinya.

“Meski melelahkan, ada rasa bahagia yang tidak tergantikan karena bisa memiliki kontak fisik dan ikatan emosional yang kuat dengan bayi,” tambahnya.

Caroline juga mengapresiasi sistem dukungan pemerintah Prancis terhadap ibu menyusui. Menurutnya, layanan laktasi sudah terintegrasi dalam sistem kesehatan. Sebelum melahirkan, calon ibu diwajibkan mengikuti kelas laktasi bersama bidan, dan setelah melahirkan mereka mendapat pendampingan 24 jam di rumah sakit.

“Ada lembaga milik pemerintah bernama PMI (Protection Maternelle et Infantiles) yang mirip posyandu di Indonesia. Mereka memberikan layanan konsultasi gratis dan mudah diakses, bahkan ada bidan yang datang ke rumah untuk kontrol,” jelasnya.

Narasumber kedua, Mia Ilmiawati Sadah, berbagi kisah di balik pendirian Bubu Institute, platform edukasi menyusui berbasis media sosial.

“Saya berlatar belakang tenaga kesehatan dan ingin terus berkontribusi untuk ibu dan anak meski sering berpindah negara karena pekerjaan suami. Dari situ lahir ide untuk membuat wadah edukasi yang fleksibel dan mudah diakses,” tutur Mia.

Menurutnya, kebutuhan akan konselor menyusui di Indonesia masih tinggi. Kurikulum kesehatan di Indonesia belum memberi porsi cukup besar untuk edukasi menyusui, sehingga banyak tenaga kesehatan belum memiliki kompetensi khusus di bidang ini.

Selain mengelola Bubu Institute, Mia juga aktif di Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)—organisasi yang menyediakan layanan konseling dan dukungan bagi ibu menyusui di seluruh Indonesia.

“Kadang ibu bukan tidak tahu caranya, tapi butuh teman dan penguatan. Dukungan emosional sangat penting agar ibu percaya diri dan tidak merasa sendirian,” ujarnya.

Baik Caroline maupun Mia sepakat bahwa keberhasilan menyusui tidak hanya bergantung pada ibu, melainkan juga dukungan lingkungan.

Caroline berharap masyarakat dapat lebih menghargai perjuangan ibu menyusui. Sementara itu, Mia menekankan pentingnya implementasi kebijakan yang sudah ada.

“Secara nasional, kebijakan dukungan menyusui sudah banyak, termasuk cuti melahirkan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2024. Tapi yang penting sekarang adalah penerapannya, di kantor, di daerah, di lingkungan kerja,” tegasnya.

Mia juga mengingatkan bahwa menyusui adalah tanggung jawab bersama. Menutup sesi diskusi, Caroline berpesan agar para ibu mempercayai diri sendiri dan menikmati proses menyusui tanpa tekanan.

Diskusi IG Live Ruanita Indonesia adalah program diskusi setiap bulan yang memanfaatkan ruang virtual seperti instagram untuk memberikan banyak inspirasi dan pengetahuan baru dari berbagai sudut pandang pengalaman, pengetahuan, dan praktik baik.

Diskusi IG LIVE pada bulan November ini bercerita pentingnya dukungan sosial, emosional, dan struktural bagi ibu menyusui. Dari kisah Caroline di Prancis hingga perjuangan Mia di Indonesia, semuanya menegaskan satu hal penting: menyusui adalah perjalanan yang membutuhkan empati, edukasi, dan kebersamaan.

Simak selengkapnya program diskusi IG LIVE di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami:

(CERITA SAHABAT) Begini Rasanya Pengalaman Menyusui Pertama Kali, Jauh dari Keluarga di Amerika Serikat

Halo, sahabat Ruanita! Saya biasa dipanggil Fajar. Saya adalah seorang ibu, yang berasal dari Madiun, Jawa Timur. Saya senang kembali lagi berpartisipasi dalam program cerita sahabat ini. Jujur, saya senang mengikuti program Ruanita dari kejauhan, di negeri Paman Sam. Ya, saya sudah tinggal di negeri Paman Sam sejak setahun belakangan ini. Sahabat Ruanita, pernah membaca cerita saya tentang pengalaman melahirkan yang dimuat oleh Ruanita. 

Saya pindah ke Amerika Serikat sejak Desember 2023. Tak lama berselang, saya pun melahirkan anak pertama saya, buah hati perkawinan saya dengan pria berkewarganegaraan Amerika Serikat. Pada Mei 2024 menjadi momen paling berkesan dalam hidup, saya melahirkan anak pertama saya. Proses persalinan di Amerika cukup nyaman, saya menjalani operasi sesar dan dalam waktu singkat sudah bisa bergerak. 

Ini tentunya berbeda dengan kebanyakan para ibu lainnya yang melahirkan sesar pula. Sebut saja, kakak saya yang melahirkan secara sesar di Indonesia pun masih merasakan rasa sakit persalinan tersebut. Sementara tidak demikian dengan saya di sini. Ini pengalaman pertama kali saya melahirkan dan juga perjalanan menyusui sebagai ibu baru. Ternyata, apa yang saya pelajari sebelumnya lewat internet tidak sepenuhnya mudah untuk dijalani. Ada banyak tantangan yang tidak saya duga sebelumnya.

Sebelum persalinan tiba, saya sudah memelajari berbagai hal terkait menyusui pada bayi. Saya sudah bertekad untuk menyusui bayi saya secara langsung. Itu sebab, saya mulai mencari tahu bagaimana menyusui bayi itu sebenarnya.

Jika di Indonesia, ada banyak bantuan dan dukungan dari orang tua, saudara, dan kerabat, tetapi tidak di sini. Saya begitu merasa sendirian melaluinya. Tak ada ibu, saudara, atau teman yang bisa saya tanyai. Semua harus saya pelajari sendiri lewat internet atau selebaran informasi di pusat layanan Kesehatan Masyarakat di sini. Saya bahkan sempat mengalami puting lecet hingga harus menghentikan menyusui langsung dan beralih ke botol selama dua minggu.

Di Amerika Serikat, terdapat pilihan untuk menyusui bayi. Mereka juga menawarkan kelas laktasi bagi ibu menyusui. Kelas hanya berlangsung sekali dan umumnya berbayar. Saya tidak mengambil kelas laktasi. Dokter saya sudah membantu saya tentang bagaimana menyusui bayi dengan benar. 

Di rumah sakit, para suster membantu saya memastikan pelekatan (latch) yang sempurna. Saya sempat berpikir menyusui akan mudah, toh saya sudah menonton banyak video di YouTube. Namun, realitanya berbeda. Malam pertama di mana saya seharusnya bisa menyusui anak saya, bayi saya tidak mau menyusu. Saya panik, apakah ada yang salah dengan saya? Apakah ASI saya tidak keluar? Suster menyarankan saya untuk pumping guna memastikan ASI saya tersedia. Setelah mencoba, ternyata ASI ada, hanya saja pelekatan saya belum sempurna. 

Jadi, sahabat Ruanita. Kita perlu memastikan sekali, apakah puting ibu benar-benar sepenuhnya masuk ke dalam bayi atau tidak. Keesokan harinya, seorang dokter laktasi datang, kemudian mengajari saya cara menyusui dengan benar.

Di Amerika, menyusui bukan hal yang diwajibkan. Banyak ibu memilih memberi susu formula atau pumping karena mereka bekerja. Di sini bahkan tersedia ASI yang sudah dimasukan dalam cup plastik yang siap diberikan ke bayi. Ini ASI sekali pakai, bagi mereka yang ingin mendapatkan ASI untuk bayi mereka, tetapi tidak bisa atau tidak ingin menyusui bayi mereka secara langsung. 

Hal yang cukup mengejutkan bagi saya adalah bagaimana donor ASI menjadi opsi di rumah sakit. Setelah operasi, saya masih terlalu lemah untuk menyusui, dan suster menawarkan susu donor yang berbayar. Dengan berat hati, saya menyetujui pemberian susu donor karena saya tidak ingin bayi saya langsung diberikan susu formula. Dalam Islam, ada aturan terkait ibu susuan, dan saya sempat khawatir, tapi di saat itu, kesehatan bayi saya adalah prioritas.

Secara emosional, menyusui di negeri orang sangat melelahkan. Saya harus bangun sendiri di tengah malam, memasak, dan mengurus rumah tanpa bantuan. Suami saya membantu sebisa mungkin, tetapi tetap saja saya merasa semua tanggung jawab ada di pundak saya. Untuk mencari dukungan, saya sering mendengarkan ceramah di YouTube dan berkonsultasi dengan kakak saya lewat telepon.

Saya juga menyadari adanya perbedaan budaya dalam menyusui. Di Amerika, fasilitas menyusui di tempat umum sangat minim. Saya belum pernah menemukan ruang laktasi di pusat perbelanjaan, seperti di Indonesia. Saya pernah menyusui di tempat umum saat berkunjung ke suatu tempat, di sekitar tempat tinggal saya. Karena tak ada tempat khusus, saya harus menutup diri dengan jilbab. Untungnya, orang-orang di sini cukup cuek, sehingga saya tidak merasa dipandang aneh.

Kini, setelah delapan bulan, saya mulai mempersiapkan MPASI untuk anak saya. Di Amerika, bayi diperkenalkan dengan makanan satu per satu, seperti puree brokoli atau apel, berbeda dengan di Indonesia yang langsung mengenalkan makanan lengkap. Saya sempat dilema dalam menentukan metode yang akan saya pilih untuk anak saya.

Melalui pengalaman ini, saya belajar bahwa menyusui adalah perjalanan yang tidak mudah, tetapi juga sangat berharga. Untuk ibu-ibu Indonesia yang akan menyusui di Amerika, persiapkan diri dengan baik, banyak belajar, dan jangan ragu untuk mencari bantuan profesional jika diperlukan. Kita mungkin jauh dari keluarga, tapi kita tetap bisa memberikan yang terbaik untuk buah hati kita.

Penulis: Fajar Latif, seorang ibu dan content creator yang tinggal di Amerika Serikat dan dapat dikontak via akun Instagram thomasandfajar.