
Pada episode RUMPITA kali ini, Anna dan Sesilia Susi berbincang bersama narasumber Benhard yang saat ini sedang tinggal di Spanyol. Benhard merupakan penerima beasiswa Erasmus Mundus Joint Master Degree di bidang Sustainable Shipping 4.0.
Dalam podcast ini, ia membagikan pengalaman studi, pemahaman tentang digitalisasi di sektor perkapalan, serta tantangan dan strategi menuju industri kemaritiman yang lebih berkelanjutan.
Benhard menjelaskan bahwa program Erasmus Mundus memberikan kesempatan belajar lintas negara. Ia menjalani semester pertama di University of Naples Federico II di Italia, di mana ia mempelajari dasar-dasar konstruksi kapal dan stabilitas kapal, termasuk konsep second generation stability criteria yang sedang dikembangkan di dunia maritim.
Pada semester kedua dan ketiga, ia melanjutkan studi di Spanyol dengan fokus pada digitalisasi sistem perkapalan, sebuah bidang yang menjadi motivasinya sejak di Indonesia, mengingat tantangan dan peluang besar dalam modernisasi sistem pelayaran nasional.
Menurut Benhard, digitalisasi perkapalan tidak hanya berkaitan dengan teknologi tunggal, tetapi integrasi dari berbagai sistem seperti:
- Internet of Things (IoT) untuk monitoring sistem kapal secara real-time.
- Sensor suhu dan pH untuk sistem pendingin mesin.
- Analisis data historis, misalnya untuk penjadwalan perawatan pompa.
Digitalisasi ini memungkinkan perawatan preventif dan efisiensi operasional kapal.
Benhard juga menjelaskan bahwa dorongan global menuju sustainable shipping datang dari lembaga internasional seperti United Nations melalui IMO (International Maritime Organization). IMO memiliki berbagai fokus seperti:
- Energy efficiency, maritime safety, dan traffic support.
- Ocean governance, technical cooperation, dan new technology & innovation.
Ia juga mengungkap fakta menarik bahwa 80% logistik global dilakukan melalui laut, sehingga emisi dari sektor ini menjadi perhatian besar. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah route optimization untuk jalur pelayaran yang aman, pendek, dan efisien.
Beberapa strategi yang dijelaskan oleh Benhard untuk mendukung zero emission shipping antara lain:
- Logistik dan digitalisasi, termasuk pengurangan kecepatan kapal saat tidak perlu buru-buru.
- Efisiensi hydrodinamik, seperti membersihkan lambung kapal agar tidak menambah beban mesin.
- Optimalisasi mesin, misalnya menggunakan teknologi waste heat recovery atau fuel cell.
- Penggunaan energi alternatif seperti biofuel, LNG, atau tenaga angin.
- After-treatment, seperti teknologi carbon capture dan storage.
Benhard menjelaskan bahwa mencapai target zero emission pada 2050 bukanlah hal yang mudah karena:
- Investasi teknologi masih mahal.
- Ketersediaan bahan bakar alternatif tidak merata di seluruh dunia.
- Adaptasi mesin kapal dan pelabuhan terhadap teknologi baru.
- Pelatihan awak kapal yang harus diperbarui sesuai teknologi terbaru.
- Desain kapal baru yang harus menyesuaikan dengan sistem ramah lingkungan.
Menurutnya, semua tantangan ini bisa diatasi jika perusahaan memiliki strategi adaptif sesuai dengan posisi dan target masing-masing.
Menjawab pertanyaan dari Sesilia, Benhard menyampaikan bahwa kapal kecil seperti ferry sungai dan passenger ship memungkinkan menggunakan baterai. Namun, kapal besar seperti kontainer atau tanker memerlukan daya besar dan pendinginan yang kompleks, sehingga kombinasi teknologi seperti baterai dan auxiliary engine masih diperlukan.
Untuk kapal yacht, penggunaan baterai juga mungkin, tergantung desain dan kebutuhan pemiliknya. Namun, ada tantangan seperti durasi pengecasan dan infrastruktur pelabuhan yang harus tersedia.
Untuk Sahabat Ruanita yang ingin memahami lebih jauh dunia maritim modern dan peran Indonesia dalam masa depan pelayaran global, episode ini memberikan wawasan yang sangat relevan.
Dengarkan langsung podcast ini hanya di kanal RUMPITA di Spotify dan pastikan FOLLOW untuk mendukung kami: