(PODCAST PMI STORIES) “Telinga dan Mental Baja” Saat Bekerja di Singapura

Mengawali program audio podcast perdana PMI (=Pekerja Migran Indonesia) Stories, Dewi Lubis selaku host program mengundang sesama pekerja migran di Singapura. Dia adalah Nova Haryanti, yang sudah lebih dari sepuluh tahun bekerja di Singapura. Karena di balik julukan “mental baja”, ada manusia pekerja yang belajar bertahan, hari demi hari, jauh dari rumah.

Cerita Nova dibagikan dalam episode perdana Podcast PMI Stories yang dikelola oleh Ruanita, dengan Dewi Lubis, sesama PMI di Singapura, sebagai host. Podcast ini membuka ruang aman bagi pekerja migran perempuan untuk bersuara, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan.

Bekerja sebagai pekerja migran di Singapura bukan sekadar soal keterampilan domestik. Di balik rutinitas membersihkan rumah, menjaga anak, dan memasak, ada tuntutan yang jauh lebih berat, sehingga disebut bermental baja.

“Di sini kita dilarang baper,” kata Nova Haryanti, pekerja migran Indonesia (PMI) asal Lampung yang telah sebelas tahun bekerja di Singapura. “Kadang kata-kata majikan itu menyakitkan. Tapi kita harus bisa menahan diri, menerima, dan tetap profesional.”

Julukan “negeri bertelinga dan mental baja” bukan tanpa alasan. Di Singapura, ketegasan, kecepatan, dan disiplin adalah standar hidup sehari-hari. Itu sebab para pekerja migran harus beradaptasi cepat atau tertinggal.

Keputusan Nova untuk bekerja ke luar negeri berangkat dari niat sederhana, yakni dia ingin membantu perekonomian keluarga. Saat itu, Singapura bukan mimpi besar, melainkan peluang yang terlihat nyata karena banyak tetangga di kampungnya sudah lebih dulu merantau.

“Aku berangkat lewat sponsor. Prosesnya panjang dan melelahkan,” kenangnya. Ia harus bolak-balik Lampung–Jakarta untuk mengurus dokumen, paspor, dan medical check-up. Rasa cemas terus menghantui, karena satu hasil pemeriksaan saja bisa menggagalkan keberangkatan.

Dukungan keluarga pun datang setengah-setengah. “Yang benar-benar mendukung cuma mama,” ujarnya. Meski penuh kekhawatiran, sang ibu akhirnya melepas Nova pergi. Menurut Nova, dia adalah seorang anak gadis dengan modal nekat dan keberanian.

Hari-hari pertama di Singapura menjadi ujian mental tersendiri. Nova menggambarkannya sebagai perasaan campur aduk, seperti bingung, tidak nyaman, dan sangat kesepian.

Ia terkejut dengan ritme hidup yang serba cepat dan disiplin waktu yang ketat. Bahkan langkah kaki orang-orang terasa dua kali lebih cepat dibanding di Indonesia. Hal kecil pun menjadi pengalaman budaya yang tak terlupakan, seperti saat ia sadar bahwa air keran di Singapura bisa langsung diminum.

“Di boarding house tidak ada air minum. Ternyata air keran bisa diminum dan itu normal di sini. Saya benar-benar shock.

Sebagai pekerja rumah tangga, tugas Nova meliputi menjaga anak, membersihkan rumah, berbelanja kebutuhan dapur, dan memasak. Jam kerjanya panjang. Pada majikan pertama, ia bekerja dari pukul enam pagi hingga sebelas malam. Di majikan kedua, jam kerja sedikit lebih manusiawi: pukul delapan pagi hingga sepuluh malam.

Perbedaan budaya kerja terasa sangat nyata, terutama dalam hal komunikasi. “Orang di sini sangat to the point,” ujar Nova. Keterbatasan bahasa Inggris sempat menjadi hambatan besar. Di awal bekerja, ia bahkan harus berkomunikasi dengan majikannya menggunakan Google Translate.

“Tapi dari situ saya belajar. Bahasa itu penting, bukan cuma untuk kerja, tapi untuk bertahan.”

Sebelas tahun di Singapura mengajarkan Nova tentang kemandirian dan kesabaran. Hidup jauh dari keluarga memaksanya belajar mengelola emosi, waktu, dan pikiran positif di tengah situasi yang menantang.

“Kita hanya punya dua pilihan antara menyerah atau bertahan dengan keputusan besar yang sudah kita ambil,” ujarnya.

Untuk pemerintah Indonesia, Nova menekankan pentingnya akses informasi yang transparan dan perlindungan yang lebih kuat bagi PMI, terutama terkait hak pekerja, kontrak kerja, dan bantuan hukum. “Kami ingin merasa aman dan yakin bahwa kami benar-benar dilindungi, meski jauh dari tanah air.”

Melalui Podcast PMI Stories, Produser Anna Knöbl berupaya menghadirkan suara-suara yang kerap terpinggirkan, seperti pekerja migran Indonesia (PMI). Cerita Nova bukan hanya kisah personal, tetapi cerminan pengalaman banyak pekerja migran perempuan Indonesia tentang keberanian, luka yang dipendam, dan kekuatan untuk terus melangkah.

PMI Stories adalah program audio podcast yang menghadirkan cerita-cerita Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari berbagai penjuru dunia. Melalui kisah nyata, para PMI berbagi pengalaman hidup, tantangan yang dihadapi, peluang yang diraih, serta harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Dipandu oleh Dewi Lubis, PMI dan perempuan Indonesia yang tinggal di Singapura, PMI Stories menjadi ruang aman untuk bercerita, didengar, dan dipahami. Kami percaya bahwa setiap PMI bukan sekadar angka atau status kerja, melainkan manusia dengan perjalanan hidup, suara, dan cerita yang bermakna. Karena di balik setiap perjalanan migrasi, selalu ada cerita yang layak untuk didengarkan.

Simak selengkapnya dalam program audio podcast PMI Stories berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Bahasa Ibu, Jejak Identitas Saya di Perantauan

Halo, sahabat Ruanita! Saya lahir dan besar di  Jawa Barat. Dari sana perjalanan saya bermula: belajar, bermimpi, dan akhirnya melangkah menembus batas geografi menuju negara-negara jauh. Sejak kecil saya selalu dekat dengan bahasa, dengan cerita rakyat Sunda, dengan nyanyian ibu, dengan pelajaran di sekolah. Tidak pernah saya sangka, bahasa yang saya pelajari dengan penuh cinta inilah yang akan menjadi jalan hidup saya.

Hari ini, ketika saya menulis refleksi ini dari Helsinki, Finlandia, dalam rangka Hari Bahasa Ibu Internasional, saya ingin berbagi perjalanan saya sebagai perempuan Indonesia yang menjadikan bahasa sebagai jembatan budaya. Perjalanan ini bukan hanya soal karier, tapi juga soal identitas, akar, dan tanggung jawab.

Saya menempuh pendidikan tinggi di bidang pendidikan bahasa, sebuah bidang yang sejak awal saya yakini akan menjadi lahan pengabdian saya. Dari kelas-kelas kecil di Sukabumi, saya melanjutkan ke kota besar, lalu akhirnya keluar negeri.

Saat ini saya sedang menjalani program PhD di University of Helsinki dalam bidang Teacher Education. Selain itu, saya juga tengah menyelesaikan International Professional Teacher Education (IPTE) di Häme University of Applied Sciences. Dua jalur studi ini menantang, tetapi sekaligus memperkaya wawasan saya sebagai seorang pendidik.

Di sisi lain, saya tetap aktif mengajar. Saat ini saya dipercaya mengajar bahasa Indonesia di University of Victoria, Kanada. Perjalanan akademik saya memang berkelindan dengan perjalanan mengajar BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) yang saya mulai sejak masih di Indonesia.

Banyak orang bertanya: mengapa memilih BIPA? Mengapa tidak bidang lain yang lebih “besar” atau lebih menjanjikan dari segi karier?

Bagi saya, jawabannya jelas. Saya percaya bahwa bahasa adalah pintu gerbang budaya. Dengan bahasa, kita bisa memahami cara berpikir, cara merasa, cara sebuah masyarakat menata hidup. Dengan mengajarkan bahasa Indonesia kepada penutur asing, saya tidak hanya mengajarkan kata-kata, tata bahasa, atau aturan. Saya mengajarkan sebuah identitas bangsa, membuka pintu persahabatan, dan menghadirkan diplomasi budaya.

Inspirasi itu pula yang menggerakkan saya mendirikan Rumah BIPA, sebuah komunitas belajar bahasa dan budaya Indonesia. Rumah BIPA bukan sekadar kelas, melainkan ruang perjumpaan, antara orang Indonesia dan dunia, bahasa ibu dan bahasa asing, identitas dan keterbukaan. Itu prinsip saya. 

Setiap negara yang saya singgahi menghadirkan pengalaman menarik.

  • Di Australia, mahasiswa begitu kritis. Mereka selalu punya pertanyaan tajam, selalu ingin tahu konteks politik, sosial, dan budaya di balik setiap kata. Itu membuat saya belajar menyiapkan bukan hanya materi bahasa, tetapi juga perspektif Asia Tenggara secara luas.
  • Di Thailand, saya merasa ada kedekatan budaya. Banyak mahasiswa menemukan kosakata yang mirip, cara berpikir yang serupa. Pembelajaran menjadi lebih cair, penuh tawa, seolah kita bukan guru dan murid, melainkan teman yang saling bertukar bahasa.
  • Di Kanada, saya menghadapi tantangan terberat. Di sana, bahasa Indonesia tidak populer, kalah pamor dibanding bahasa-bahasa global seperti Inggris, Prancis, atau bahkan Mandarin. Saya harus kreatif mencari cara agar mahasiswa tertarik. Saya membuat materi interaktif, mengaitkan bahasa Indonesia dengan musik, kuliner, bahkan peluang bisnis lintas Asia.
  • Di Finlandia, tempat saya sekarang, saya belajar dari sistem pendidikan mereka yang luar biasa inovatif. Pendekatan individualisasi membuat saya sadar bahwa setiap mahasiswa datang dengan latar belakang berbeda, dan bahasa Indonesia bisa mereka temukan maknanya dari berbagai pintu masuk.

Di mana pun saya mengajar, ada satu momen kecil yang selalu menjadi kebahagiaan saya, yakni ketika mahasiswa mulai menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan nyata. Mereka menyapa saya dengan “Apa kabar, Bu?”, mereka berani mencoba menyanyikan lagu daerah, atau mereka dengan bangga membawa makanan Indonesia ke kelas. Saat itulah saya merasa bahwa bahasa Indonesia telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Sebagai penutur asli bahasa Indonesia yang hidup di lingkungan multibahasa, saya justru semakin merasakan betapa berharganya bahasa ibu.

Bahasa ibu adalah akar identitas saya. Bahasa ibu adalah suara batin, doa, dan rasa yang pertama kali saya kenal. Ketika berada di negeri orang, bahasa itu berubah menjadi penanda jati diri. Bahwa saya orang Indonesia dan saya membawa sesuatu yang khas dari tanah air.

Mengajar BIPA membuat saya kerap berdiskusi dengan mahasiswa tentang konsep bahasa ibu. Mereka sering bertanya: “Apakah bahasa Indonesia juga punya dialek seperti bahasa ibu kami?” Dengan senang hati saya menjelaskan bahwa Indonesia kaya dengan ratusan bahasa daerah dan bahasa Indonesia hadir sebagai pemersatu. Penjelasan itu sering membuat mereka kagum, karena bagi banyak bangsa, memiliki bahasa pemersatu yang hidup di tengah keragaman adalah sesuatu yang langka.

Namun, memperkenalkan bahasa ibu juga punya tantangan. Misalnya ketika menjelaskan tingkatan tutur atau konsep kesopanan dalam bahasa Indonesia. Mengapa kita memakai “Anda” kepada orang asing, tapi “kamu” kepada teman dekat? Mengapa ada perbedaan “saya” dan “aku”? Mahasiswa sering membandingkan dengan budaya mereka. Di sinilah saya belajar bahwa bahasa bukan hanya struktur, tetapi juga nilai budaya yang harus dipahami.

Saya percaya bahasa tidak bisa dipisahkan dari budaya. Karena itu, dalam mengajar saya selalu mengintegrasikan keduanya. Saya membawa kuliner, musik, film, bahkan tarian ke kelas. Saya mengajak mahasiswa tidak hanya belajar kata, tapi juga merasakan jiwa bahasa lewat pengalaman budaya.

Di luar kelas, saya juga konsisten menggunakan bahasa Indonesia dalam keluarga dan komunitas orang Indonesia di mancanegara. Di rumah, kami berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Saya ingin anak-anak saya, meski lahir dan tumbuh di luar negeri, tetap punya ikatan dengan bahasa ibu mereka.

Bersama komunitas Indonesia di Finlandia, kami rutin mengadakan kegiatan kebahasaan: kelas BIPA, diskusi budaya, perayaan hari nasional. Semua itu adalah cara kami merawat bahasa ibu sebagai warisan untuk generasi berikutnya.

Sebagai seorang perempuan Indonesia, saya melihat peran perempuan sangat strategis dalam menjaga bahasa ibu. Perempuan sering menjadi pendidik pertama dalam keluarga. Dari ibulah, anak-anak mendengar kata-kata pertama, nyanyian, dongeng, doa, dan percakapan sehari-hari.

Oleh karena itu, saya percaya perempuan adalah garda depan pelestarian bahasa. Di manapun berada, perempuan bisa menanamkan bahasa ibu sejak dini, baik di rumah maupun dalam komunitas. Bahkan di perantauan, perempuan tetap bisa menjaga api bahasa ibu tetap menyala, lewat komunikasi sehari-hari, kegiatan bersama, atau pewarisan nilai budaya.

Salah satu pengalaman paling menyentuh bagi saya adalah ketika mahasiswa asing, pada perayaan Hari Bahasa Ibu Internasional, membacakan puisi dalam bahasa Indonesia. Mereka mungkin bukan penutur asli, tetapi keberanian mereka menunjukkan bahwa bahasa kita dihargai, dipelajari, dan diapresiasi lintas budaya.

Saya punya satu harapan besar: semoga bahasa Indonesia semakin diakui di dunia internasional. Saya ingin bahasa kita tidak hanya dikenal dalam ranah diplomasi atau akademik, tapi juga hadir dalam budaya populer, dalam musik, film, teknologi, bahkan dalam percakapan sehari-hari lintas bangsa.

Program BIPA menurut saya punya peran penting untuk itu. Lewat BIPA, bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa komunikasi lintas bangsa, bukan hanya di kelas, tetapi juga di ruang-ruang kehidupan.

Saya punya satu harapan besar: semoga bahasa Indonesia semakin diakui di dunia internasional. Saya ingin bahasa kita tidak hanya dikenal dalam ranah diplomasi atau akademik, tapi juga hadir dalam budaya populer, dalam musik, film, teknologi, bahkan dalam percakapan sehari-hari lintas bangsa.

Program BIPA menurut saya punya peran penting untuk itu. Lewat BIPA, bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa komunikasi lintas bangsa, bukan hanya di kelas, tetapi juga di ruang-ruang kehidupan.

Dalam rangka Hari Bahasa Ibu Internasional ini, saya berpesan sederhana kepada seluruh perempuan Indonesia di manapun berada. Rawatlah bahasa ibu dengan bangga. Gunakan dalam keseharian. Ajarkan kepada anak-anak dan generasi muda. Jangan pernah ragu memperkenalkan keindahannya kepada dunia.

Bahasa adalah identitas dan kekuatan kita. Bahasa adalah warisan yang tidak bisa tergantikan. Dan perempuan, dengan perannya sebagai pendidik pertama, pengasuh, sekaligus penggerak komunitas, memiliki peran utama dalam memastikan bahasa itu tetap hidup lintas generasi.

Hari ini, di Helsinki yang dingin, saya menulis dengan hati hangat. Saya membayangkan suara ibu saya di Sukabumi yang dulu mengajarkan saya kata-kata pertama. Saya membayangkan mahasiswa saya di kelas yang tertawa mencoba mengucapkan “terima kasih” dengan lidah mereka yang masih kaku.

Di antara jarak yang begitu jauh, bahasa ibu adalah jembatan. Ia menghubungkan saya dengan masa lalu, dengan tanah air, dengan keluarga, dan dengan dunia.

Selama saya masih bisa berbicara, mengajar, dan menulis, saya akan terus merawatnya. Karena bahasa ibu bukan hanya milik saya, melainkan milik kita semua.

Penulis: Ari Nursenja, Founder RUMAH BIPA dan PhD Student di Finlandia, yang dapat dikontak via akun instagram arinursenja. 

(SIARAN BERITA) Suara Perempuan Pelaku Kawin Campur Menggema di Ruanita

Skopje, 15 Februari – Berbicara soal kawin campur, yang sering muncul adalah kisah cinta lintas negara, budaya, dan bahasa. Namun jarang yang mengangkat pertanyaan yang lebih dalam: bagaimana perempuan menegosiasikan suara, kuasa, dan ruang komunikasinya dalam keluarga lintas budaya? Pertanyaan inilah yang menjadi titik temu workshop online yang diselenggarakan Ruanita pada Minggu, 15 Februari 2026.

Mengusung tema “Komunikasi & Agensi Perempuan Pelaku Kawin Campur”, workshop daring ini mempertemukan peserta dari berbagai zona waktu dalam ruang diskusi yang aman dan reflektif. Kegiatan dipandu oleh Leya Trajanoska, konselor pernikahan dan keluarga (M.A.) yang kini tinggal di Makedonia Utara.

Alih-alih mengajarkan bahasa atau tata krama komunikasi dalam rumah tangga multikultural, Leya mengajak peserta membongkar hal yang selama ini sering luput. Menurut Leya, bahasa dan komunikasi adalah arena negosiasi sosial, bukan sekadar alat bertukar pesan.

Diskusi bergerak cair dan hangat. Para peserta berbagi pengalaman tentang memilih bahasa dalam percakapan keluarga, bernegosiasi dengan pasangan dan keluarga mertua, sampai menghadapi tuntutan budaya yang berbeda. Terlihat jelas bahwa di balik persoalan “bahasa mana yang dipakai di rumah”, terdapat isu yang lebih besar. Menurut Anna Knöbl, masalah itu terletak pada ruang bagi perempuan untuk membentuk posisinya sendiri dalam keluarga.

Antusiasme peserta menunjukkan bahwa topik ini bukan hanya relevan, tetapi mendesak. Banyak perempuan Indonesia yang menikah dengan warga negara asing atau hidup di luar negeri menjalani keseharian yang penuh lapis makna, kebijakan, dan adaptasi, tetapi jarang ada ruang publik yang memberi tempat bagi pengalaman ini sebagai pengetahuan.

Acara ini diikuti oleh puluhan perempuan pelaku kawin campur di berbagai negara. Agar meningkatkan kenyamanan, acara ini tidak direkam. Selain itu, pemateri yang merupakan Relawan Ruanita Indonesia bersedia memberikan workshop online ini untuk berbagi dukungan dan solidaritas sebagai sesama perempuan pelaku kawin campur.

Anna Knöbl, sebagai perempuan kawin campur di Jerman dan penyelenggara acara ini, sangat berharap ini menjadi bagian dari upaya Ruanita memusatkan pengalaman perempuan sebagai sumber pengetahuan, bukan objek cerita. Melalui program diskusi, publikasi cerita, dan kegiatan berbasis refleksi, Ruanita membangun komunitas belajar yang tidak dibatasi wilayah atau identitas, tetapi disatukan oleh rasa ingin tahu, solidaritas, dan keinginan memahami diri dalam dunia yang terus berubah.

Informasi mengenai program dapat mengontak Leya Trajanoska melalui email info@ruanita.com.

(KNOWLWDGE SHARING) Memahami Keberagaman Cara Kerja Otak

Frankfurt, 14 Februari – Ruanita Indonesia menyelenggarakan sesi Knowledge Sharing bertajuk “Neurodiversitas: Memahami Keberagaman Cara Kerja Otak”, sebuah ruang belajar daring yang mengajak peserta untuk melihat keberagaman neurologis secara lebih inklusif, empatik, dan membumi. Kegiatan ini diselenggarakan pada Sabtu, 14 Februari 2026, pukul 10.00 CET, melalui Zoom Meeting dengan durasi 120 menit.

Sesi ini menghadirkan Lovely Christi Zega, Psikolog Klinis yang berbasis di Jerman, sebagai pemateri. Dengan pendekatan psikoedukasi dan knowledge sharing yang bersifat non-layanan terapi, sesi ini dirancang untuk memperluas pemahaman dasar tentang neurodiversitas, mengurangi stigma terhadap individu neurodivergen, serta mengajak peserta merefleksikan peran diri dalam menciptakan ruang yang lebih ramah dan aman, baik di keluarga, kampus, maupun lingkungan kerja.

Acara diawali dengan pembukaan yang menekankan penciptaan ruang aman, penyamaan ekspektasi, serta penegasan bahwa sesi ini tidak bertujuan untuk diagnosis dan terapi individual.

Pengantar mengenai konsep neurodiversitas kemudian disampaikan, mencakup asal-usul istilah, perbedaannya dengan diagnosis medis, serta pengenalan istilah neurodivergen dan neurotipikal. Peserta diajak memahami mengapa pembahasan neurodiversitas menjadi semakin relevan dalam konteks kehidupan hari ini.

Dalam sesi berikutnya, pemateri mengulas ragam neurodiversitas yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti autisme, ADHD, Asperger, disleksia, serta variasi neurologis lainnya. Pembahasan difokuskan pada kekuatan dan tantangan yang kerap muncul, sekaligus membongkar mitos yang masih melekat di masyarakat. Penekanan diberikan bahwa materi ini tidak ditujukan untuk self-diagnosis dan pelabelan.

Sesi refleksi interaktif menjadi ruang penting bagi peserta untuk berhenti sejenak dan meninjau kembali cara pandang personal dan sosial. Melalui pertanyaan reflektif yang bersifat opsional dan tanpa kewajiban berbagi, peserta diajak bertanya pada diri sendiri, seperti tentang apa yang selama ini dianggap “tidak biasa”, serta sejauh mana lingkungan yang mereka alami sudah cukup ramah bagi keberagaman cara berpikir.

Diskusi kemudian diperluas ke konteks Indonesia dan lintas budaya. Tantangan yang dihadapi individu neurodivergen dalam budaya kolektivistik, ekspektasi keluarga dan pendidikan, hingga pengalaman tinggal, belajar, atau bekerja di luar negeri dibahas dengan menekankan pentingnya sensitivitas budaya. Dari sini, peserta diajak melihat bahwa inklusivitas tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial yang melingkupinya.

Pada bagian praktis, sesi ini mengajak peserta untuk merefleksikan langkah-langkah sederhana namun berdampak dalam membangun sikap yang lebih inklusif. Mulai dari cara berkomunikasi, menjadi rekan atau anggota keluarga yang suportif, hingga memahami batas empati, dan bagaimana membantu tanpa memaksakan. Fokus tetap diarahkan pada sikap dan perilaku sehari-hari, bukan intervensi klinis.

Sesi tanya jawab berlangsung dengan panduan yang jelas untuk menjaga keamanan psikologis bersama. Pertanyaan difokuskan pada pemahaman dan sikap, tanpa membahas kasus personal secara mendetail atau meminta diagnosis. Acara ditutup dengan rangkuman poin kunci dan pesan reflektif dari pemateri, sebagai ajakan untuk terus belajar dan bertumbuh bersama.

Sebagai catatan penting, tujuan dari program Knowledge Sharing adalah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dari para praktisi kesehatan mental Indonesia di berbagai negara, dengan menghadirkan ruang aman untuk mempromosikan kesehatan mental yang inklusif dan selaras dengan nilai-nilai Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

(PODCAST RUMPITA) Meraih Mimpi dari Melbourne: Perjalanan Anindya Zahra di Dunia Farmasi

Di program diskusi Podcat Rumpita – Rumpi bersama Ruanita – episode Februari 2026 mempersembahkan diskusi inspiratif bersama Anindya Zahra Nugrahningrum, atau akrab disapa Anin atau Anne, mahasiswa asal Indonesia yang kini menempuh pendidikan di Monash University, Melbourne, Australia, dalam bidang Pharmaceutical Science.

Bersama Anna di Jerman dan Rieska di Italia, host Podcast RUMPITA, Anin berbagi cerita tentang perjuangan, adaptasi, serta visinya membangun industri farmasi dan kosmetik berbasis kekayaan alam Indonesia.

Anin memulai pendidikannya di Melbourne sejak Februari 2024. Dengan usia yang masih muda, ia langsung menempuh kuliah S1 di luar negeri. Tantangan adaptasi menjadi bagian besar dari perjalanannya, namun dukungan penuh dari pihak kampus dan komunitas internasional membantunya untuk terus maju.

“Saya bersyukur mendapatkan banyak dukungan dari Monash, mulai dari layanan konseling gratis, bantuan akademik, hingga lingkungan pertemanan yang suportif,” ujar Anin.

Di Australia, sistem pendidikan farmasi berbeda dari Indonesia. Mahasiswa hanya fokus pada empat mata kuliah utama setiap semester agar pembelajaran lebih efektif.

Anin menyoroti pentingnya fokus akademik, serta bagaimana mahasiswa internasional diberikan ruang untuk berkembang, baik secara akademik maupun mental.

Bahasa Inggris menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam konteks akademik yang berbeda dari percakapan sehari-hari. Namun, keberagaman mahasiswa dari berbagai negara membuatnya merasa tidak sendiri.

Salah satu bagian paling menarik dari cerita Anin adalah visinya membangun industri skincare dan kosmetik berbahan alami dari Kalimantan.

Sebagai putri daerah, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk memanfaatkan potensi alam Indonesia, khususnya bahan organik yang dapat dikembangkan secara global.

“Saya ingin menimba ilmu selama dua sampai tiga tahun di Australia, lalu kembali ke Indonesia untuk mengembangkan produk skincare berbasis bahan lokal dari Kalimantan,” kata Anin penuh semangat.

Ia juga menyadari pentingnya kesadaran nasional terhadap kekayaan sumber daya alam, terutama untuk keperluan farmasi dan kosmetik alami, yang saat ini menjadi tren di berbagai negara, termasuk Eropa.

Melalui diskusi bersama Rieska dan Anna, podcast ini juga memberikan wawasan tentang bagaimana industri farmasi berkembang di Italia dan Jerman.

Di Eropa, tren kembali ke bahan-bahan organik terus menguat seiring meningkatnya kesadaran terhadap efek samping bahan kimia.

Pengalaman pribadi para host dalam mengakses obat-obatan juga memperlihatkan perbedaan sistem kesehatan antar negara.

Di akhir sesi, Anin memberikan pesan yang menyentuh bagi perempuan Indonesia yang ingin terjun di dunia farmasi dan kecantikan:

“Kita perlu sadar akan potensi negeri sendiri. Jangan ragu bermimpi besar dan belajar ke luar negeri, tapi jangan lupa kembali untuk berkontribusi. Indonesia kaya, dan kita bisa memanfaatkan kekayaan itu untuk membantu lebih banyak orang.”

Podcast ini bukan hanya tentang farmasi, tapi juga tentang semangat perempuan muda Indonesia dalam berkarya untuk tanah air.

Dengarkan program diskusi Podcast Rumpita: Rumpi bersama Ruanita. Pastikan FOLLOW akun podcast RUMPITA di kanal Spotify berikut ini:

(CERITA SAHABAT) Bekerja sebagai Nanny di Dubai, Pengalaman dan Tantangannya

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan namaku Yuni yang kini bekerja dan menetap di Dubai, Uni Emirat Arab. Sejak lama aku sudah terbiasa merantau. Tahun 2004, setelah musibah tsunami Aceh, aku mulai mengadu nasib di luar daerah, hingga akhirnya berani melangkah lebih jauh ke luar negeri. Enam tahun terakhir aku menetap di Dubai, Uni Emirat Arab, dengan berbagai pengalaman pahit manis yang menempa diriku.

Alasan awalku sederhana: ingin membantu orang tua. Namun seiring waktu, alasan itu berkembang menjadi tekad untuk memutus rantai generasi sandwich di keluarga kami. Aku ingin memperbaiki kehidupan, menyekolahkan anak-anak dengan baik, dan memastikan di masa depan aku tidak bergantung pada mereka.

Awal kedatanganku ke Dubai adalah melalui sebuah agen penyalur, dan aku bekerja sebagai nanny di sebuah keluarga lokal/Emirati. Keluarga ini sangat baik, tetapi budaya kerja mereka berbeda. Selama dua tahun kontrak, aku tidak mendapatkan libur sama sekali. Gajiku saat itu hanya 1200 dirham per bulan. Aku membaginya dengan disiplin: 600 dirham kukirim ke keluarga di kampung, sisanya kutabung dengan harapan suatu hari bisa mandiri dan mencari pekerjaan sendiri tanpa agen.

Setelah kontrak berakhir, aku sempat pulang ke Indonesia, lalu kembali lagi ke Dubai dengan visa kerja legal. Selama satu setengah tahun aku bekerja serabutan, tetap di bidang ART dan nanny, namun kontraknya tidak pernah lama—paling hanya tiga bulan di satu keluarga. Di masa itu aku juga mulai berjualan kue-kue Indonesia. Dari situlah lahir “Yuni Martabak,” yang sampai sekarang masih dikenal.

Suatu hari, dengan iseng aku mengunggah CV di situs pencari nanny. Tak kusangka, dari situlah aku bertemu dengan majikan Belanda yang kemudian menjadi tempatku bekerja hingga sekarang. Jadi, sebenarnya aku baru satu setengah tahun bersama keluarga Belanda ini, tetapi pengalaman enam tahun di Dubai itulah yang membentukku menjadi lebih kuat dan mandiri.

Menyesuaikan diri dengan mereka tidak sulit. Justru aku merasa dihargai. Sang “Sir” sering turun tangan membantu pekerjaan rumah dan aku diberi ruang untuk tetap menjalankan budaya Indonesia, termasuk memasak makanan khas seperti sate, nasi goreng, soto ayam, hingga bakwan.

Budaya kerja mereka berbeda dengan orang Indonesia. Mereka tegas dan jujur. Pujian hanya keluar ketika benar-benar tulus, bukan sekadar basa-basi. Sementara di Indonesia, kita terbiasa ramah, penuh “sungkan,” dan kadang tidak begitu tegas.

Kesalahpahaman tentu pernah terjadi, tetapi kuncinya adalah berkomunikasi langsung dan saling meminta maaf. Syukurlah, keluargaku di Dubai sangat pengertian. Mereka memberiku kebebasan untuk tetap menjalankan nilai-nilai budaya Indonesia, mulai dari ibadah, makanan, hingga pakaian. Bahkan, mereka menyukai masakan Indonesia favorit seperti sate, nasi goreng, soto ayam, kerupuk, bakwan, hingga pisang goreng!

Dalam pola asuh anak, aku melihat perbedaan yang cukup jelas. Mereka sangat disiplin dalam hal waktu: tidur, makan, dan bermain memiliki jadwal ketat. Meski ada pengasuh, orang tua tetap membagi waktu dan terlibat langsung dalam pengasuhan. Sedangkan di Indonesia, pola asuh biasanya lebih fleksibel, santai, dan mengalir.

Meski begitu, tantangan sebagai pekerja migran tetap berat. Rindu keluarga sering kali menjadi ujian terbesar, ditambah rasa lelah dan kadang tekanan mental. Aku mengatasinya dengan menangis untuk melepaskan emosi, belajar dari video YouTube, dan bersandar pada teman-teman PMI (Pekerja Migran Indonesia). 

Di sisi lain, aku juga berusaha menjaga keseimbangan hidup: bermain badminton bersama komunitas Indonesia Ladies Badminton (ILB), ikut bazar KJRI untuk menjual kue, bahkan sempat berkesempatan jalan-jalan ke Eropa.

Mimpiku sederhana namun kuat: suatu saat aku ingin punya toko kue atau café, baik di Dubai maupun di Indonesia. Aku juga ingin punya rumah di kota besar, dekat bandara, agar lebih mudah bila harus bepergian.

Cara yang kulakukan sederhana: aku menangis untuk meluapkan emosi, lalu belajar melepaskannya. Kadang aku belajar dari video YouTube untuk menenangkan diri. Teman-teman sesama PMI menjadi tempatku bersandar secara emosional di sini.

Yang membuatku tetap kuat adalah mimpi-mimpiku dan orang tua yang masih membutuhkan dukungan, juga anakku yang sedang bersekolah. Itu semua menjadi semangatku.

Pekerjaanku sehari-hari dimulai dengan mengajak jalan anjing pomeranian keluarga, lalu menyiapkan sarapan untuk Julien, anak yang aku asuh. Menunya biasanya telur orak-arik, tomat cherry, mentimun, dan roti. Setelah itu, aku menemaninya bermain, baik di play hall saat musim panas, maupun di taman saat musim dingin.

Siang hari aku menyiapkan makan siang, kemudian membereskan rumah saat Julien tidur siang. Sore harinya, aku memasak makan malam sesuai permintaan majikan.

Hari Minggu adalah hari liburku. Biasanya aku berkumpul dengan teman-teman PMI, dan malamnya bermain badminton. Aku juga bergabung dengan komunitas Indonesia Ladies Badminton (ILB) di Dubai. Dari sanalah aku banyak mendapat energi positif.

Soal keuangan, aku berusaha bijak: mengirim secukupnya untuk keluarga, sedangkan sisanya ditabung. Majikanku pun sangat menghargai pekerja, bahkan memberiku waktu bebas tambahan dua kali seminggu untuk bermain badminton sejak sore hingga tengah malam. Aku juga pernah ikut pelatihan pertolongan pertama, yang menjadi pengalaman berharga.

Momen paling berkesan selama di Dubai adalah ketika bisa berjualan di bazaar KJRI, bermain badminton bersama komunitas, dan kesempatan jalan-jalan ke Eropa.

Pengalaman enam tahun ini membuatku lebih tangguh sebagai perempuan Indonesia. Aku tetap bangga dengan identitasku, dan pengalaman ini semakin menguatkanku untuk meraih mimpi.

Impian terbesarku adalah memiliki toko kue atau café, baik di Dubai maupun di Indonesia. Aku juga ingin memiliki rumah di kota besar agar dekat dengan bandara, supaya lebih mudah bila harus bepergian atau kembali ke tanah air.

Bekerja di luar negeri memang penuh tantangan, baik secara budaya, fisik, maupun emosional. Namun dengan niat yang kuat, komunikasi yang baik, dan dukungan dari sahabat-sahabat seperjuangan, semua itu bisa dijalani.

Aku percaya, setiap perantau membawa cerita, dan setiap cerita adalah kekuatan. Semoga mimpiku dan juga mimpi sahabat-sahabat Ruanita juga bisa tercapai.

Penulis: Yuni, tinggal di Dubai Uni Emirat Arab dan dapat dikontak via akun instagram yunninuranii.

(IG LIVE)Bijak di Balik Layar: Media Sosial, Kesehatan Mental, dan Realita Perempuan Masa Kini

Di era digital hari ini, batas antara dunia nyata dan dunia maya semakin tipis. Media sosial bukan lagi sekadar ruang berbagi foto atau cerita, tetapi telah menjadi tempat berekspresi, membangun jejaring, bahkan sumber penghidupan, terutama bagi perempuan. Namun, di balik segala peluangnya, media sosial juga menyimpan tekanan yang sering kali tak disadari.

Itulah yang dibahas dalam diskusi Instagram Live Ruanita Indonesia bersama Zukhrufi Syasdawita sebagai host, menghadirkan dua narasumber perempuan inspiratif: Nettie Kurnia, Content Creator yang tinggal di Serbia, dan Carissa Dimilow, psikolog klinis yang menetap di Jerman. Diskusi ini mengajak kita melihat media sosial secara lebih jujur, bukan hanya sisi terangnya, tetapi juga bayangan gelap di balik layar.

Bagi Carissa, media sosial adalah ruang untuk tetap terhubung. Tinggal jauh dari keluarga di Indonesia membuat media sosial menjadi jembatan emosional yang penting. Secara profesional, media sosial juga membuka akses edukasi, termasuk edukasi kesehatan mental, yang dulu terasa jauh dan kaku.

Namun, Carissa mengakui bahwa tekanan dari media sosial adalah sesuatu yang hampir pasti pernah dialami semua orang. Tuntutan untuk selalu terlihat bahagia, produktif, dan sukses sering kali membuat kita lupa bahwa apa yang kita lihat hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang.

Hal senada disampaikan oleh Netti. Menurutnya, media sosial lebih sering menampilkan “yang baik-baik saja”. Influencer atau pengguna media sosial hanya menunjukkan beberapa menit dari 24 jam hidup mereka. Oleh karena itu, menyamakan media sosial dengan realita adalah kesalahan yang kerap berdampak pada kesehatan mental.

Sebagai kreator konten yang sering berbagi tentang kehidupan di Serbia, Netti sangat sadar akan batasan. Ia memilih untuk tidak mengekspos kehidupan pribadi, termasuk keluarganya. Setiap kali akan mengunggah sesuatu, ia selalu bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ini perlu dibagikan? Apakah ini akan bermanfaat ke depannya?

Pengalaman masa lalu, ketika ia melihat kembali unggahan di era Friendster dan Facebook telah membuat Netti lebih reflektif. Apa yang dulu terasa wajar, kini justru tampak berlebihan dan tak relevan. Dari sana, ia belajar bahwa jejak digital bersifat panjang, dan kita perlu bertanggung jawab atas apa yang kita unggah hari ini.

Ia juga menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menyebarkan informasi, terutama di era banjir hoaks dan kecanggihan AI. Salah berbagi informasi bukan hanya menyesatkan orang lain, tetapi juga menjadi beban moral bagi diri sendiri.

Menurut Carissa, dampak media sosial terhadap kesehatan mental sangat besar, terutama bagi generasi muda yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri. Di satu sisi, media sosial memberi ruang berekspresi, akses informasi, dan peluang membangun jaringan. Namun di sisi lain, ia juga memicu overthinking, kecemasan sosial, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan “highlight hidup” orang lain.

Anak muda yang terbiasa mencari validasi melalui likes dan komentar menjadi lebih rentan terhadap rasa tidak cukup. Bahkan, kebahagiaan bisa perlahan bergantung pada respons dunia digital, bukan pada realita yang dijalani.

Dari pengalaman dan sudut pandang psikologi, para narasumber merangkum beberapa prinsip penting:

Versi Nettie Kurnia:

  1. Sadari bahwa media sosial bukan kehidupan nyata.
  2. Batasi waktu penggunaan secara tegas.
  3. Lakukan digital detox lewat aktivitas dunia nyata yang bermakna.

Versi Carissa Dimilow:

  1. Saring konten dan akun yang diikuti.
  2. Buat batas digital, terutama sebelum tidur.
  3. Lakukan check-in dengan diri sendiri: setelah membuka media sosial, apakah perasaan kita lebih ringan atau justru lebih berat?

Media sosial sejatinya hanyalah alat, yang bisa menjadi sarana koneksi, edukasi, dan hiburan. Sebaliknya media sosial justru sumber tekanan dan kecemasan. Perbedaannya terletak pada kesadaran kita sebagai pengguna.

Diskusi IG LIVE setiap bulan yang diselenggarakan ruanita.indonesia menjadi pengingat penting bahwa menjaga kesehatan mental di dunia digital bukan hal yang mustahil, tetapi perlu diperjuangkan. Dengan batas yang jelas, kesadaran diri, dan keberanian untuk kembali terhubung dengan dunia nyata, kita bisa tetap hadir di media sosial tanpa kehilangan diri sendiri.

Simak selengkapnya rekaman diskusi IG LIVE di kanal YouTube kami berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(CERITA SAHABAT) Bagaimana Bijak Bersosial Media Menurut Saya?

Halo, sahabat Ruanita! Izinkan saya memperkenalkan diri terlebih dulu. Saya biasa dipanggil Tyka dan saat ini saya tinggal di salah satu provinsi  di negara Spanyol, yaitu Barcelona. Saya tinggal sekitar 10 tahun lamanya. Dalam kurun waktu yang lumayan cukup panjang saya memberanikan diri untuk berwirausaha di sini.  Tentunya, itu membutuhkan sebuah keberanian dan mental yang lumayan cukup berat.  Mungkin ada beberapa pertanyaan dari sahabat Ruanita, apa yang menjadi inspirasi saya.  

Menurut saya, Barcelona adalah salah satu provinsi di Spanyol yang memberikan ruang  untuk kita lebih mudah membangun komunikasi, berelasi, dan berwiraswasta. Saya mengamati, kebanyakan  perempuan-perempuan lokalnya begitu mandiri dan punya integritas tinggi untuk menciptakan peluang. 

Banyak perempuan di sini gigih, tangguh, dan bisa membaca serta menangkap sebuah peluang. Secara tidak langsung, daya tarik mereka menumbuhkan hasrat besar bagi saya untuk  berwiraswasta dibandingkan menjadi karyawan. Tentunya, lingkungan dan relasi saya dengan  perempuan-perempuan di sini menjadi inspirasi saya. Saya tidak dapat menyebutkan nama mereka satu per satu, sayangnya.  

Saat ini, saya lebih fokus mengembangkan diri di bidang pariwisata yang mencakup  Hospitality, Event and Travel secara global.  

Untuk traveling, memang menjadi salah satu usaha kami. Bagi saya, traveling itu sangat  perlu ya. Secara tidak langsung, traveling memberikan wawasan dan  kesempatan serta ruang yang lebih untuk upgrade diri dan masih banyak Benefit lainnya. Saya yakin, jika sahabat Ruanita mencoba melakukan traveling bagi yang belum pernah, maka pasti akan merasakan perubahan yang luar biasa.

MEDIA SOSIAL DAN TINGGAL DI LUAR NEGERI

Media sosial itu bagi kami sangat menguntungkan, asalkan dalam penggunaan secara betul dan  memang dibutuhkan. Contohnya, media sosial akan  menguntungkan bagi kita yang sedang membangun usaha, untuk sarana membangun komunikasi, relasi, promosi (marketing) ataupun  bisa jadi untuk personal branding. Mungkin ini pendapat saya pribadi, tergantung  penggunaannya, bila kita gunakan secara positif. Tentunya, ini akan mengundang reaksi yang positif, tetapi kalau digunakan secara negatif, hasilnya akan menjadi negatif juga.  

Peran media sosial bagi saya 70% bisa untuk menjangkau komunikasi global dan relasi dibandingkan dilakukan secara  offline, yang mana tentunya sangat mempermudah dan dengan budget, yang lebih minus untuk bidang  marketing.  

Kami menggunakan media sosial untuk menciptakan aplikasi, branding, dan kampanye serta kolaborasi di Instagram, TikTok, dan ini sangat membantu kami.  

Kami membagikan pengalaman yang tujuannya untuk promosi, demi perkembangan bisnis kami di travel. Andaikan kami tidak memiliki bisnis di pariwisata, mungkin saya secara pribadi jarang melakukan update. Jadi, kami menggunakan media sosial untuk suatu kebutuhan. Itu salah satu kebijakan yang saya ambil juga.  

Selama ini, tantangan jarang sekali kami temukan karena kami hidup di sebuah tempat yang  penghasilanya 80% di bidang pariwisata di mana secara tidak langsung kami berperan  mengkampanyekan destinasi-destinasi mereka di bidang apapun. Sebelumnya, kami selalu  membangun komunikasi dengan yang bersangkutan ataupun atas permintaan mereka untuk  berkolaborasi.  

BIJAK DALAM BERSOSIAL MEDIA 

Terkait bijak bersosial media, berdasarkan pengalaman, kami sangat berhati-hati dan memahami  apa yang kita lempar atau melakukan update di media sosial, flexing, update status yang mengkritik, bicara  uang, politik, atau agama, maka saya sangat menghindarinya.  Hanya fokus untuk kegiatan-kegiatan yang sesuai profesi pekerjaan dan produk kami. Selama ini, kami belum pernah menemukan hal negatif, seperti cyberbullying, kritik, dan hal negatif lainnya.  Mungkin apa yang kita dapat, mungkin akan menyesuaikan apa yang kita lempar di media sosial. 

Kembali beralih tentang pendapat netizen Indonesia ya. Mungkin hanya sekilas kadang kami  membaca tetapi  tidak ditujukan ke kami. Saya pribadi begitu sulit berkomentar, cukup kami  mengerti situasi mereka dan kami lebih cenderung mencari solusi saja.

Setiap individu berhak bicara  apapun, tetapi kalau kita bisa mengerti mereka. Itu tidak akan menjadi beban yang mengganggu, apalagi  menjadi masalah buat kita. Ambil nilai positifnya saja, seburuk apapun komentar netizen, setidaknya ada segi positifnya yang bisa diambil.  

Budaya berkomentar di Spanyol jauh sangat beda ya dengan netizen Indonesia. Namun, maaf jangan  dijadikan perbandingan! Orang Spanyol akan lebih berkomentar membangun! Mereka berkomentar untuk membutuhkan informasi atau mereka ingin membangun untuk relasi. Jadi, itu salah satu hal yang menguntungkan kami.  

Kami sangat menjaga privasi dan data kami, dengan tidak menggunakan sosial media untuk  privasi kami seperti: keadaan keluarga, kondisi keluarga, atau kegiatan-kegiatan yang tidak bersangkutan dengan marketing kami, yang pastinya akan kami hindari untuk update di sosial media.  

Bagi sahabat Ruanita semua, media sosial akan menjadi bagian jembatan menuju  kesuksesan atau mencapai impian dalam bisnis apapun, asalkan kita bisa bersikap bijak dalam menggunakannya.

Bijak bermedia sosial diperlukan agar media sosial tidak menjerumuskan kita ke banyak hal negatif, yang kadang kita tidak menyadarinya. Pada akhirnya, tidak bisa bersikap bijak bermedia sosial akan membawa ke arus ke kehidupan, yang bisa  dibilang sulit, bila kita salah menggunakannya.  

Harapan saya kepada pemerintah Indonesia adalah pentingnya memberikan edukasi yang tepat mengenai penggunaan media sosial, agar masyarakat memahami batasan dan etika dalam menggunakannya. Hal ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga harus dimulai dari kesadaran setiap individu.

Regulasi yang dibuat pemerintah tidak akan efektif jika sumber daya manusianya tidak dibangun terlebih dahulu. Oleh karena itu, pendidikan tentang literasi digital perlu dimulai sejak usia dini, dari anak-anak hingga generasi muda.

Peran keluarga, terutama orang tua, sangat penting dalam membimbing anak memilih dan menggunakan media sosial secara bijak. Jika setiap orang tua di Indonesia melakukan ini, maka akan terjadi perubahan besar dalam cara kita berinteraksi di ruang digital. Dengan sinergi antara individu dan kebijakan pemerintah, media sosial bisa menjadi ruang yang lebih sehat dan produktif untuk semua.

PENUTUP DAN INSPIRASI 

Sejauh ini, pengalaman bersosial media bagi kami sangat bermanfaat bagi saya pribadi dan tim  kami, serta bisa mempermudah klien kami untuk menggunakan sebagai sarana informasi yang  mereka butuhkan, terutama di bidang pariwisata dan Hospitality yang dibutuhkan konsumen. Selain itu, media sosial kami anggap sebagai rasa penghargaan bagi konsumen kami atas apresiasi kami, yang telah memberi  kepercayaan ke kami dalam event mereka.  

Untuk seluruh sahabat Ruanita, yang menjadi pengguna sosial media dan ingin atau sedang berkarya di luar  negeri, ini pesan saya. Pertama, pahami apa Rule dalam menggunakan media sosial di tempat tersebut. Pasti setiap tempat memiliki Rule masing-masing yang berbeda dengan Indonesia. Bila sahabat Ruanita sudah paham benefit-nya, maka akan banyak perilaku bijak dalam membangun media sosial, seperti: memberi atau  mencari informasi positif.  

Sejauh ini, saya tetap akan menggunakan media sosial, baik Instagram, TikTok, dan evaluasi  aplikasi kami untuk di teknologi pariwisata. Tentunya, ini akan menjadi sebuah alat atau produk  yang bisa bermanfaat bagi orang banyak ke depan. Prinsip saya, media sosial merupakan salah satu bagian dari nyawa bisnis kami.  

Selebihnya tulisan ini semata-mata saya petik berdasarkan pengalaman saya pribadi. Mungkin  sahabat Ruanita bisa memetik hal positif untuk membantu Anda semua untuk terus  bertumbuh dan berkembang dalam membangun bisnis di luar negeri. Sebaiknya, kita tidak ragu dan tidak salah untuk menentukan pilihan dalam menggunakan media sosial. Sekian dari saya. Bila ada kekurangan, harap dimengerti dan dimaafkan.  

Penulis: Tyka Karunia, perempuan Indonesia berwirausaha di Barcelona, Spanyol, yang dapat dikontak melalui akun Instagram @tykakarunia.

(SIARAN BERITA) Winter Depression: Tantangan Mental Pelajar Indonesia di Negara Bersalju

Jakarta, 31 Januari – Bagi banyak pelajar Indonesia yang menempuh studi di luar negeri, hidup di negara dengan empat musim bukan sekadar menyesuaikan diri dengan cuaca yang dingin atau salju yang menumpuk. Ada tantangan yang lebih halus, tetapi berdampak signifikan terhadap keseharian mereka: Winter Depression atau yang juga dikenal sebagai Seasonal Affective Disorder (SAD).

Kondisi ini muncul akibat berkurangnya paparan cahaya matahari, perubahan ritme biologis tubuh, hingga tekanan adaptasi sosial dan budaya. Gejalanya bisa muncul dalam bentuk perasaan sedih yang berkepanjangan, penurunan energi, gangguan tidur, hingga kesulitan berkonsentrasi. Sayangnya, kurangnya pemahaman tentang Winter Depression kerap membuat pelajar terlambat mendapatkan penanganan, yang akhirnya memengaruhi kesehatan mental, performa akademik, dan kualitas hidup mereka.

Menyadari hal ini, Ruanita menggandeng Kesmenesia berkolaborasi dengan PPI Dunia untuk menyelenggarakan psikoedukasi daring bertajuk “Winter Depression: Kenali, Pahami, dan Hadapi dengan Lebih Sehat”. Acara ini dijadwalkan pada Sabtu, 31 Januari 2026, pukul 10.00 CET atau 16.00 WIB, melalui Zoom Meeting, dan terbuka untuk pelajar Indonesia baik di luar negeri maupun di dalam negeri, serta pengurus dan anggota PPI.

Acara akan diawali oleh salam pembuka dan pengantar dari Ashlee Quissa, anggota PPI Dunia di Malaysia, yang memperkenalkan tujuan dan alur kegiatan. Selanjutnya, Aulia Farsi, pemateri ahli dalam bidang kesehatan mental, akan membimbing peserta untuk memahami Winter Depression secara mendalam. Mulai dari definisi, perbedaan dengan depresi biasa, hingga gejala emosional, fisik, dan perilaku yang dapat memengaruhi kehidupan akademik dan sosial pelajar.

Lebih dari sekadar teori, sesi ini juga membahas faktor risiko yang spesifik dialami pelajar Indonesia, seperti adaptasi budaya, homesickness, tekanan akademik, serta minimnya paparan sinar matahari di negara empat musim. Peserta akan diajak mengeksplorasi strategi koping praktis, termasuk perubahan gaya hidup, pentingnya dukungan sosial, hingga kapan dan bagaimana mencari bantuan profesional.

Tak ketinggalan, sesi tanya jawab interaktif memberi ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman dan mengajukan pertanyaan baik secara tertulis di kolom Chat maupun formulir elektronik yang disediakan oleh Ruanita Indonesia sejak pendaftaran.

Menurut Aulia Farsi, tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan pemahaman yang kontekstual dan relevan bagi pelajar Indonesia. “Kami ingin mereka tidak hanya mengenali gejala, tetapi juga siap menghadapi Winter Depression dengan strategi yang nyata dan dukungan yang memadai,” ujarnya.

Melalui kolaborasi ini, Ruanita bersama Kesmenesia dan PPI Dunia berharap pelajar Indonesia dapat lebih sadar akan tantangan kesehatan mental yang mungkin muncul selama studi di luar negeri dan mampu menjaga kesejahteraan mereka secara lebih efektif.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.