(CERITA SAHABAT) Father Complex: Relasi, Refleksi, dan Rindu

Jika ada satu kata untuk menggambarkan hubungan saya dengan Papa, maka kata itu adalah hangat. Sejak kecil, Papa hadir dengan cara yang dekat, penuh dukungan, dan membuat saya merasa aman. Bukan hanya saya, kakak dan adik saya pun akan mengatakan hal yang sama. Kami bertiga sungguh beruntung, karena punya seorang ayah yang hadir sepenuh hati di masa tumbuh kami.

Sulit untuk menunjuk satu momen yang paling berkesan, karena hampir di setiap fase hidup, Papa selalu ada. Beliau bukan tipe yang sempurna tanpa cela dan memang tidak ada manusia yang demikian. Namun, dalam diri Papa, saya menemukan figur ayah yang cukup. Cukup dalam arti memberi dukungan emosional, cukup dalam arti hadir di saat dibutuhkan, cukup dalam arti menjadi tempat pulang.

Dengan latar belakang psikologi, saya memahami istilah father complex atau kadang disebut juga daddy issues sebagai kondisi yang berakar dari hubungan sulit dengan figur ayah. Entah karena ayah terlalu dominan, dingin secara emosional, terlalu sering mengkritik, absen secara fisik, atau bahkan menyakiti. Meski tidak masuk dalam kategori resmi seperti DSM V atau ICD-10, dinamika ini nyata terlihat dalam kehidupan banyak orang.

Dampaknya bisa beragam, seperti: kesulitan mempercayai orang lain, sulit menjalin kedekatan emosional, atau kebutuhan besar akan validasi dari figur dominan. Ada juga yang kemudian membawa pola itu ke dalam relasi romantis atau relasi kerja dengan figur otoritas.

Dalam diri saya sendiri, tidak ada gejala yang terlalu menonjol. Namun, saya bisa mengenali adanya kebutuhan validasi tertentu dari figur otoritas. Sisi positifnya, hal ini membuat saya berusaha keras di sekolah dan kuliah. Pada akhirnya, nilai saya bagus, bahkan beberapa kali juara kelas. Tapi di sisi lain, diskusi dan perdebatan dengan Papa melatih saya untuk tidak menerima begitu saja otoritas apa pun. Bagi saya, sesuatu harus masuk akal dulu sebelum saya bisa menerimanya. Itu mungkin salah satu warisan paling berharga dari relasi kami.

Papa dan Mama berasal dari latar budaya berbeda, tetapi sama-sama tumbuh dalam nilai-nilai yang memberi tempat lebih bagi anak laki-laki ketimbang perempuan. Namun, dalam praktiknya mereka memilih untuk memperlakukan kami bertiga dengan setara. Pendidikan yang terbaik sesuai kemampuan dan minat diberikan, tanpa membedakan jenis kelamin. Itu keputusan yang sederhana, tetapi dampaknya besar dalam hidup saya.

Saat tumbuh, saya melihat figur ayah dalam budaya populer sering digambarkan sebagai kepala keluarga yang berwibawa, mencari nafkah, menegakkan aturan, membaca koran di beranda rumah, sementara urusan dapur dan anak diserahkan pada ibu. Gambarannya klasik, yaitu berpakaian safari, rokok, dan kopi buatan istri.

Kini, gambaran itu bergeser. Ayah-ayah masa kini lebih terlibat dalam pengasuhan anak, lebih hangat, lebih dekat secara emosional. Namun, di banyak keluarga, keputusan akhir tetap dianggap ranah ayah. Pergeseran peran ini menghadirkan dinamika baru, kadang juga konflik, tergantung konteks sosial dan budaya masing-masing.

Ada satu titik balik dalam relasi saya dengan orang tua, baik Papa maupun Mama, di mana saya mulai menyadari bahwa mereka manusia biasa. Waktu kecil, orang tua tampak seperti pahlawan super. Mereka seperti tak pernah lelah, selalu tahu jawaban, mampu mengatasi segalanya. Tapi seiring saya tumbuh, saya melihat mereka juga bisa salah, lelah, bahkan sakit.

Kesadaran itu menjadi tanda bahwa saya sedang beranjak dewasa. Saya belajar melihat mereka bukan hanya sebagai orang tua, tapi juga sebagai manusia dengan keterbatasan. Dari situ, hubungan kami berubah. Dari relasi yang timpang menjadi relasi yang lebih setara, terutama ketika saya mulai dewasa.

Sekarang, ketika Papa sudah tiada, keinginan terbesar saya terhadap beliau hanya satu, yakni rindu. Saya merindukan kehadiran fisiknya, diskusi-diskusi panjang, perdebatan seru, atau sekadar menanyakan pendapat beliau tentang banyak hal.

Tahun-tahun terakhir hidupnya, hubungan kami semakin matang. Papa makin menghargai kemandirian saya dalam mengambil keputusan, dan saya merasa lebih dihargai sebagai individu dewasa. Meski demikian, di mata saya, saya akan selalu tetap menjadi putrinya.

Bagi saya, berbicara tentang father complex pada akhirnya adalah berbicara tentang dinamika relasi kuasa. Saat kita masih kecil, relasi dengan orang tua memang tidak seimbang. Mereka yang memutuskan, kita mengikuti. Tapi seiring anak bertumbuh, idealnya relasi itu bergeser menjadi lebih setara.

Tidak semua keluarga mengalami pergeseran ini dengan mulus. Kadang otoritas tetap ditekankan, kadang muncul konflik. Tetapi dalam pengalaman saya, pergeseran itu terjadi dengan wajar. Dan saya bersyukur bisa merasakannya bersama Papa.

Jika ada sahabat Ruanita yang membaca tulisan ini dan sedang mengalami konflik batin dengan ayahnya, saya ingin menyampaikan satu hal, setiap keluarga unik. Tidak ada pola tunggal yang bisa berlaku untuk semua orang.

Kalau Anda ingin memahami lebih jauh bagaimana hubungan dengan ayah mempengaruhi hidup saat ini, saya menyarankan melakukannya bersama tenaga profesional seperti psikoterapis atau konselor. Ada hal-hal yang bisa kita selesaikan sendiri, tetapi ada juga yang butuh pendampingan aman dari orang yang terlatih.

Bagi saya, menulis tentang father complex bukanlah tentang mencari kekurangan Papa, melainkan tentang menyadari betapa besar pengaruh relasi itu dalam membentuk siapa saya hari ini. Saya beruntung memiliki figur ayah yang hangat, mendukung, dan penuh kasih. Namun saya juga belajar melihatnya sebagai manusia dengan keterbatasan.

Pada akhirnya, apa yang tersisa kini adalah rindu. Dan mungkin, di dalam rindu itu, saya bisa merasakan kembali kehangatan yang pernah begitu nyata hadir dalam hidup saya.

Penulis: Nelden, tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun instagram @neldendj.