(SIARAN BERITA) Ruanita Sukses Gelar Diskusi Interaktif tentang Dukungan Psikologis dan Responsif Gender Lintas Budaya di Wina, Austria

Wina, 26 Oktober 2025 — Ruanita bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Wina telah sukses menyelenggarakan kegiatan Diskusi Interaktif bertema “Berbagi Dukungan Psikologis dan Praktik Baik Responsif Gender Lintas Budaya Indonesia–Austria” pada Sabtu, 25 Oktober 2025 pukul 14.00 sampai dengan selesai.

Acara ini berlangsung secara luring di ruang pertemuan KBRI Wina, Austria, yang kemudian dimanfaatkan Tim Ruanita untuk showcase. Kegiatan ini menjadi wadah berbagi pengalaman lintas budaya bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di Austria dan Slovenia.

Dalam sambutan pembuka, Dr. iur. Damos Dumoli Agusman, Duta Besar RI untuk Austria dan Slovenia sekaligus Organisasi Internasional di Wina, menyampaikan pentingnya memperkuat jejaring dukungan psikologis bagi orang Indonesia, terutama saat tinggal di mancanegara. Menurutnya, kesehatan mental dan kesetaraan gender merupakan bagian integral dari diplomasi kemanusiaan yang perlu terus ditingkatkan.

Diskusi menghadirkan dua pembicara utama, yaitu Anna Knöbl, PhD Student di Universität Passau di Jerman, yang juga founder dari Ruanita Indonesia, dan Liebgard Fuchs, Neuro-Mental Trainer di Austria. Anna menyoroti tantangan psikologis yang dihadapi orang Indonesia dalam konteks transnasional dan pentingnya pendekatan responsif gender dalam kesehatan mental.

Sementara Liebgard Fuchs atau yang disapa Libi, perempuan asal Austria ini memperkenalkan perspektif lintas budaya dan berbasis gender dalam merespon resiliensi tinggal di Austria. Libi juga adalah seorang Neuro-Mental Trainer yang juga memperkenalkan teknik emotional power tapping sederhana kepada peserta.

Sesi dipandu oleh Azizah Seiger, relawan Ruanita di Austria, yang membawa suasana diskusi menjadi dinamis dan interaktif. Peserta aktif berdialog, berbagi pengalaman, dan bertukar pandangan tentang praktik baik dukungan psikologis lintas budaya.

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari peserta karena berhasil menjembatani perspektif profesional dan pengalaman lapangan dalam isu kesehatan mental yang responsif gender.

Ruanita di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia, sebagai komunitas yang memperkuat psikoedukasi dan psikososial dalam lintas budaya bagi orang Indonesia di mancangara, berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang diskusi, edukasi, dan dukungan bagi orang-orang Indonesia yang tinggal di mancanegara.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi http://www.ruanita.com atau hubungi info@ruanita.com.

(SIARAN BERITA) Film “Dua Kali” Dorong Kesadaran Kesehatan Mental dan Berani Patahkan Stigma Sosial

BERLIN, 18 Oktober 2025 – Film bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga media edukasi dan refleksi sosial yang kuat, khususnya dalam isu kesehatan mental. Mengusung tema “Berani Bicara akan Kesehatan Mental”, acara Diskusi & Nonton Bareng Film “Dua Kali” berhasil diselenggarakan pada Sabtu, 18 Oktober 2025, di Rumah Budaya Indonesia (RBI) KBRI Berlin.

Acara ini merupakan kolaborasi antara Ruanita Indonesia, KBRI Berlin, Rumah Budaya Indonesia (RBI) KBRI Berlin, dan Kesmenesia, organisasi profesi kesehatan mental orang Indonesia di Eropa.

Kegiatan ini bertujuan untuk membuka percakapan publik tentang kesehatan mental, meningkatkan pemahaman masyarakat Indonesia di Jerman terkait stigma sosial, serta memberikan ruang apresiasi bagi karya relawan Ruanita di Jerman, sebagai kreator lokal yang berani mengangkat isu kesehatan mental.

Acara dimulai pukul 16.00 dengan registrasi dan ramah tamah, diikuti pengantar dari Rensi, dilanjutkan sambutan dari Fungsi Pensosbud KBRI Berlin, Dimas Wisudawan.

Puncak acara adalah pemutaran film dokumenter “Dua Kali” yang disutradarai oleh Ullil Azmi dan diperankan oleh Mariska Ajeng, keduanya tinggal di Hamburg.

Follow us

Film ini menampilkan pengalaman hidup individu dengan gangguan mental dalam konteks transnasional, sekaligus menjadi medium untuk membangun empati dan membuka dialog publik.

Sesi diskusi panel menghadirkan perspektif bagaimana kehidupan lintas budaya Indonesia-Jerman yang dimoderasi oleh Rensy Kireyne, mahasiswi di Jerman. Penanggap adalah Walter Ng, yang juga seorang mahasiswa di Jerman dengan lugas menceritakan pengalaman dan tantangan tinggal di Jerman, termasuk bagaimana menghadapi isu kesehatan mental.

Tim film berbagi proses kreatif pembuatan film dan refleksi tentang keberanian mematahkan stigma sosial. Firman Tambunan, Co-founder Kesmenesia dan Psikolog Klinis di Jerman, ikut memberikan pandangan profesional mengenai prosedur mengakses layanan kesehatan mental di Jerman, serta perspektif budaya Indonesia terkait stigma mental. Diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif bersama peserta, yang berlangsung hingga malam hari.

Acara ini dihadiri oleh komunitas Indonesia di Berlin dan sekitarnya, serta individu yang tertarik pada kesehatan mental, psikologi, dan budaya Indonesia. Melalui pemutaran film dan diskusi, peserta dapat melihat bagaimana film dapat menjadi alat advokasi sosial, mendorong kesadaran baru, serta memperkuat solidaritas komunitas terhadap isu kesehatan mental.

Dalam kesempatan ini, Kesmenesia juga diperkenalkan sebagai organisasi yang berfokus pada layanan komunitas Indonesia di Eropa secara profesional dan inklusif, dalam menyediakan pendampingan kesehatan mental yang berbasis empati dan keterbukaan.

Acara Diskusi dan Nonton Bareng Film “Dua Kali” menunjukkan bagaimana seni dan ilmu pengetahuan dapat bersinergi untuk menciptakan ruang dialog yang aman, mematahkan stigma, dan mendorong masyarakat lebih berani membicarakan isu kesehatan mental.

(SIARAN BERITA) Berbagi Pengetahuan Keperawatan dan Layanan Kesehatan Jiwa di Jerman

KALIMANTAN SELATAN, 18 Oktober – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Organisasi Kesmenesia serta Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia (IPKJI) di Kalimantan Selatan menyelenggarakan diskusi online lintas negara pada hari ini.

Kegiatan ini mengusung tema “Akses Layanan Kesehatan Mental Saat Genting dan Bencana”, sesuai dengan fokus peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 secara global tahun ini.

Acara dihadiri lebih dari seratus orang yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom ini diikuti oleh anggota IPKJI, mahasiswa keperawatan jiwa, praktisi kesehatan jiwa, serta masyarakat umum yang tertarik dengan isu lintas budaya dalam kesehatan mental.

Diskusi dibuka oleh Maria Frani Ayu, perawat jiwa sekaligus koordinator penyelenggara, dilanjutkan dengan sambutan dari Achmad Syamsudin, Ketua IPKJI Kalimantan Selatan.

Sesi utama menghadirkan narasumber Aulia Farsi, perawat jiwa di Jerman sekaligus Co-founder Kesmenesia, yang berbagi pengalaman mengenai profesi perawat jiwa di Jerman, mulai dari sistem pendidikan, peran, hingga tantangan di lapangan.

Selain itu, Anna Knöbl, pendiri Ruanita Indonesia, juga membagikan praktik baik mengenai akses layanan kesehatan jiwa di Jerman khususnya pada situasi darurat dan bencana.

Follow us

Diskusi semakin interaktif dengan sesi tanya jawab berdurasi hampir satu jam, di mana peserta antusias menyampaikan pertanyaan seputar layanan kesehatan mental lintas negara. Acara kemudian ditutup dengan rangkuman serta pesan peneguhan dari Maria Frani Ayu.

Melalui kegiatan ini, para peserta mendapatkan wawasan mengenai sistem layanan darurat kesehatan mental di Jerman, seperti: unit gawat darurat psikiatri, hotline krisis 24 jam, serta tim intervensi cepat komunitas, yang dapat menjadi inspirasi dalam memperkuat peran perawat jiwa di Indonesia.

Penyelenggara berharap diskusi ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga memperkuat kolaborasi antarprofesi kesehatan jiwa di lintas negara. 

(SIARAN BERITA) Ruanita dan KBRI New Delhi Gelar Diskusi Daring dan Hadirkan Wawasan Lintas Budaya untuk Keluarga Indonesia–India

NEW DELHI, 4 Oktober 2025 – Menurut kajian UNESCO tentang keberagaman budaya, anak-anak yang tumbuh di lingkungan multibudaya memiliki potensi unggul dalam keterampilan sosial dan kognitif, namun juga menghadapi tantangan dalam hal identitas diri jika tidak ada kesepahaman dalam pola asuh.

Sejalan dengan hal tersebut, Ruanita Indonesia, dengan dukungan KBRI New Delhi, menyelenggarakan diskusi daring bertajuk Literasi Lintas Budaya Indonesia–India dengan tema “Pengalaman & Tantangan Lintas Budaya”.

Perwakilan KBRI New Delhi dalam sambutannya diwakilkan oleh Dadang Hidayat, Minister Counsellor Ekonomi 1 KBRI New Delhi India. Beliau mendukung ketersediaan ruang interaktif yang dibangun Ruanita agar peserta bisa saling berbagi informasi, pengalaman, dan solusi praktis dalam menghadapi tantangan kawin campur Indonesia–India, seperti adaptasi tradisi, pengelolaan perbedaan nilai, serta strategi parenting di tengah dua budaya besar. 

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber inspiratif, Yulian Setiawani dan Annimah, yang membagikan kisah nyata, tantangan, dan strategi membangun keluarga harmonis di tengah perbedaan budaya.

Acara ini dipandu oleh Rida Lutfhiana, Relawan Ruanita Indonesia, dan dihadiri oleh peserta dari berbagai kota di India serta Indonesia. Melalui forum ini, para peserta diajak memahami dinamika perkawinan lintas negara, mulai dari adaptasi hukum, agama, dan sosial, hingga tips komunikasi efektif dengan keluarga besar.

Follow us

Dalam sesi pertama, Yulian Setiawani mengulas perjalanan cinta pasangan kawin campur Indonesia–India, tantangan administrasi dan sosial yang dihadapi, serta pentingnya menemukan titik temu nilai keluarga.

Sementara itu, sesi kedua bersama Annimah menyoroti pengasuhan anak multibudaya, peran bahasa dalam membangun identitas, serta membentuk karakter anak di era digital.

Diskusi yang berlangsung interaktif ini menghasilkan benang merah bahwa keberagaman budaya bukan hambatan, melainkan kekayaan yang dapat memperkuat ketahanan keluarga. Dengan komunikasi yang terbuka, kesepahaman nilai, dan dukungan komunitas, keluarga lintas budaya dapat menjadi teladan toleransi dan persahabatan antarbangsa.

Follow us

Acara ini merupakan bagian dari komitmen Ruanita Indonesia untuk memperkuat kapasitas warga negara Indonesia di luar negeri, khususnya dalam membangun keluarga yang harmonis, adaptif, dan berdaya saing di era global.

Ruanita Indonesia adalah komunitas relawan yang mendukung WNI di luar negeri, khususnya keluarga lintas negara, melalui program pendampingan, edukasi, dan jaringan dukungan berbasis solidaritas. Ruanita Indonesia memanfaatkan ruang digital untuk mempromosikan tema psikologi sosial budaya dalam situasi transnasional yang dikelola secara nirlaba, intervensi komunitas, dan manajemen nilai.

Lebih lanjut, bisa kunjungi kami di www.ruanita.com. Kontak Relawan Ruanita Indonesia di India: Yulian Setiawani (info@ruanita.com)

Simak rekaman di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Gelar Diskusi Online Untuk Perkuat Solidaritas Orang Indonesia di Finlandia dan Estonia

HELSINKI, 28 September – Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Helsinki menyelenggarakan diskusi online bertajuk “Resiliensi Bermigrasi di Finlandia” yang dihadiri sejumlah warga Indonesia di Finlandia dan di Estonia serta berbagai warga Indonesia lainnya yang tertarik dengan tema psikologi dan budaya.

Kegiatan ini menghadirkan ruang berbagi inspirasi, tantangan, serta strategi adaptasi bagi warga Indonesia yang merantau di Finlandia maupun masyarakat yang tertarik dengan isu migrasi.

Migrasi tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan fisik, tetapi juga sebagai proses panjang yang melibatkan penyesuaian sosial, budaya, dan psikologis. Bagi orang Indonesia di Finlandia, keberhasilan dalam studi, karier, maupun kehidupan sosial kerap ditentukan oleh resiliensi, strategi coping, dan pemahaman budaya lokal.

Melalui diskusi ini, Ruanita Indonesia berharap dapat menghadirkan ruang reflektif dan interaktif, sekaligus memberikan inspirasi nyata dari pengalaman para perantau yang telah sukses membangun kehidupan di negeri rantau.

Acara ini dibuka oleh Dubes RI untuk Finlandia dan Estonia, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi berbagi pengalaman dari Evita Haapavaara, seorang wiraswasta asal Indonesia yang berhasil membangun usaha di Helsinki. Diskusi juga menghadirkan Desiree Luhulima, praktisi pendidikan dasar di Finlandia yang menguraikan nilai-nilai pendidikan sebagai fondasi penting dalam membangun resiliensi dan keterampilan sosial di lingkungan baru.

Selain itu, Yuniar Paramita Sari, peneliti di bidang migran di Hong Kong, yang memaparkan perspektif sosial dan budaya tentang tantangan migrasi yang aman dan bijak, serta pentingnya dukungan komunitas dalam proses adaptasi.

Diskusi ini dimoderasi oleh Ari Nursenja, mahasiswa doktoral di Helsinki, dan ditutup dengan sesi tanya jawab serta penarikan benang merah dari keseluruhan pembahasan. Program ini terbuka bagi siapa saja yang ingin memahami lebih jauh dinamika kehidupan perantau di Finlandia dan Estonia.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan dapat memperoleh wawasan praktis, inspirasi, serta memperluas jejaring komunitas yang dapat memperkuat solidaritas sesama orang Indonesia di negeri rantau. Informasi lebih lanjut dan pendaftaran dapat diakses melalui situs resmi Ruanita Indonesia di www.ruanita.com.

Simak rekaman acara berikut di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami.

(SIARAN BERITA) Bagaimana Membangun Ruang Aman bagi “Ibu Baru” di Negeri Rantau?

PARIS, 14 September – Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Kesmenesia, komunitas youarenotalone.mom di Prancis, serta Komunitas Pasangan Indonesia–Prancis, menyelenggarakan diskusi daring bertema Parenting di Prancis melalui platform Zoom.

Acara ini dimaksudkan sebagai media virtual support group bagi “New Mom” yang sedang berada di mancanegara dalam menavigasikan tema parenting, yang kontekstual dan transnasional. 

Kegiatan ini diinisiasi sebagai respon atas berbagai tantangan yang dialami perempuan Indonesia, khususnya ibu baru, yang menetap di Prancis, yang kemudian hampir dialami “New Mom” orang Indonesia di negeri rantau.

Menjadi ibu di negara asing bukan hanya pengalaman transformatif, tetapi juga penuh dengan dinamika emosional, adaptasi budaya, hingga keterbatasan akses terhadap dukungan sosial maupun layanan kesehatan. 

Di Prancis, sistem pengasuhan anak sangat dipengaruhi oleh nilai kemandirian serta struktur dukungan formal seperti crèche dan assistantes maternelles, yang berbeda dengan pola pengasuhan kolektif khas Indonesia.

Kondisi ini kerap menimbulkan rasa isolasi, baby blues, hingga depresi pascapersalinan bagi ibu baru yang jauh dari keluarga besar dan lingkungan budaya yang familiar.

Ruang interaktif digital ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang. Carolina Shinta, relawan Ruanita sekaligus pendiri komunitas youarenotalone.mom di Prancis, berbagi pengalaman pribadi sebagai ibu baru di negeri rantau dan pentingnya membangun komunitas pendukung.

Selanjutnya, Demira Shaifa, psikolog klinis anak yang kini menetap di Spanyol, memaparkan bagaimana orang tua dapat menavigasi perbedaan nilai dan norma dalam pola pengasuhan lintas budaya. 

Berkaitan dengan tumbuh kembang anak secara psikologis, dibawakan oleh Ranindra Anandita, psikolog lulusan Université de Bordeaux, yang kini berpraktik di Prancis.

Ia membahas kesehatan mental ibu baru dan bagaimana melakukan pola asuh yang sesuai usia perkembangan anak, beserta sistem dukungan kesehatan anak di Prancis.

Acara ini ditujukan bagi siapa saja yang tertarik dengan tema parenting, transnasional, atau lintas budaya, dan psikologi perkembangan anak, terutama ibu baru maupun calon ibu.

Melalui interaksi virtual ini, Ruanita Indonesia berharap dapat menciptakan ruang diskusi yang aman, suportif, sekaligus membuka jalan terbentuknya komunitas informal new moms abroad yang dapat saling mendukung dalam perjalanan menjadi ibu di luar negeri.

Acara ini tidak direkam. Ikuti berbagai program kami melalui berbagai platform media sosial yang tersedia. Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini dapat diakses melalui kanal resmi Ruanita Indonesia.

(SIARAN BERITA) Ruanita Kerja Sama dengan KemenPPPA dan KBRI Berlin Gelar Diskusi Daring Interaktif Bertema Program Au Pair di Eropa Barat & Skandinavia

JERMAN, 29 Juni 2025 — Ruanita Indonesia, melalui platform daring www.ruanita.com, menyelenggarakan sebuah diskusi online bertajuk “Mengenal Lebih Dekat Program Au Pair di Eropa Barat dan Skandinavia: Peluang, Pengalaman, dan Aspek Hukum” pada Minggu, 29 Juni 2025, pukul 10.00–12.00 CET (15.00–17.00 WIB).

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Ruanita dalam menyuarakan perlindungan dan pemberdayaan perempuan Indonesia di luar negeri melalui edukasi dan ruang berbagi yang aman.

Program Au Pair telah menjadi salah satu jalur populer bagi generasi muda Indonesia untuk meraih pengalaman internasional.

Melalui skema ini, peserta—yang biasanya berusia muda—memiliki kesempatan tinggal di luar negeri, tinggal bersama keluarga angkat (host family), belajar bahasa baru, serta memahami budaya lokal secara langsung.

Follow us

Namun, kenyataan di lapangan tidak selalu semulus yang dibayangkan. Banyak calon Au Pair yang melangkah tanpa informasi cukup, bahkan hanya bermodalkan keinginan untuk “keluar negeri secepatnya”, tanpa mengetahui hak dan kewajiban, risiko hukum, dan tantangan hidup sebagai Au Pair di negara asing.

Akibatnya, tidak sedikit yang mengalami kesulitan—bahkan potensi eksploitasi—akibat minimnya bekal informasi dan dukungan.

Melihat fenomena ini, Ruanita Indonesia merasa perlu menghadirkan forum terbuka dan edukatif untuk memberikan informasi yang akurat, serta memperkuat pemahaman calon peserta terhadap realita program Au Pair, khususnya di kawasan Eropa Barat dan Skandinavia.

Acara ini menghadirkan pembicara dari berbagai latar belakang—baik mereka yang tertarik dengan program pertukaran budaya, mereka yang pernah menjadi peserta Au Pair, akademisi yang berminat akan budaya, maupun pihak berwenang dari pemerintah.

Diskusi akan dimoderatori oleh Asti Tyas Nurhidayati, relawan Ruanita Indonesia yang saat ini berdomisili di Islandia.

Susunan acara akan dimulai dengan sambutan dari Irjen Pol. (Purn) Desy Andriani, Deputi Perlindungan Hak Perempuan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA RI), yang memberikan pengantar mengenai pentingnya perlindungan hukum dan edukasi sebelum mengikuti program internasional seperti Au Pair.

Dua pembicara utama yang akan membagikan pengalaman langsung adalah:

  • Lina Herliana, mantan peserta Au Pair dan kini mahasiswa di Finlandia. Ia memaparkan perjalanannya dari proses pendaftaran hingga kehidupan pasca-Au Pair.
  • Puji Sumarno, Au Pair yang saat ini sedang berada di Norwegia, yang berbagi tantangan dan keseharian sebagai bagian dari keluarga angkat di Eropa Utara.

Diskusi juga akan mendapatkan perspektif hukum dan perlindungan dari perwakilan pemerintah, yaitu Satriyo Pringgodhani, Koordinator Perlindungan WNI dan Konsuler di KBRI Berlin.

Ia menjelaskan bagaimana KBRI Berlin mendampingi WNI yang menjadi peserta Au Pair dan pentingnya mengikuti jalur resmi.

Selain itu, akan hadir seorang penanggap dari kalangan akademisi, yakni Vivid F. Argarini memberikan tinjauan sosial-budaya serta mengamati program Au Pair sebagai program pertukaran budaya, yang diminati oleh mahasiswa yang mencari peluang karier dan hidup di mancanegara.

Menurut Asti Tyas Nurhidayati, diskusi ini bukan sekadar forum berbagi cerita, melainkan juga “benteng informasi dan pelindung” bagi generasi muda Indonesia yang tertarik mengikuti program internasional.

“Melalui pengalaman nyata dan pembahasan legalitas, kami ingin memastikan bahwa adik-adik kita berangkat bukan hanya dengan semangat, tapi juga dengan bekal pengetahuan yang cukup,” ujarnya.

Diskusi ini terbuka untuk mahasiswa, lulusan baru, komunitas pecinta bahasa asing, serta masyarakat umum yang ingin mengetahui lebih dalam tentang pertukaran budaya melalui jalur Au Pair.

Peserta tidak hanya dapat mengikuti acara melalui Zoom, tetapi juga dapat menyimak melalui YouTube Live di kanal Ruanita – Rumah Aman Kita.

Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) merupakan komunitas digital dan organisasi relawan yang berbasis manajemen nilai dan intervensi komunitas, dengan fokus pada perlindungan, pendidikan, dan penguatan advokasi perempuan Indonesia di luar negeri. Berbagai kegiatan telah dilakukan sejak pendiriannya, seperti diskusi daring, kampanye kesadaran hak migran, pelatihan keterampilan daring, hingga publikasi e-book edukatif.

Acara ini merupakan bagian dari program reguler yang mendorong keterlibatan aktif perempuan Indonesia dalam isu-isu global, sekaligus memperkuat perlindungan sosial dan hukum di ranah migrasi internasional.

Informasi lebih lanjut: Asti Tyas Nurhidayati (e-mail: info@ruanita.com

Rekamannya dapat dilihat di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar mendukung keberlangsungan program kami:

(SIARAN BERITA) Ruanita Indonesia Bersama KJRI Mumbai Gelar Diskusi Daring “Perkawinan Campuran Indonesia-India”

MUMBAI, INDIA — Seiring dengan meningkatnya interaksi sosial, ekonomi, dan budaya antara Indonesia dan India, jumlah perkawinan campuran antara warga Indonesia – India pun mengalami peningkatan signifikan. Di balik keindahan kisah cinta lintas budaya ini, terdapat tantangan yang harus dihadapi, mulai dari perbedaan budaya, kompleksitas hukum, hingga tekanan sosial-psikologis.

Berkaitan dengan fenomena sosial tersebut dan guna mempererat hubungan antarwarga Indonesia dan India serta memberikan dukungan nyata bagi pasangan kawin campur, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Mumbai mengadakan acara Diskusi Daring: Perkawinan Campuran Indonesia–India. Acara ini diselenggarakan pada Sabtu, 10 Mei 2025, pukul 10.00 – 12.00 waktu India secara daring melalui platform Zoom Meeting.

Diskusi daring ini menjadi sangat relevan sebagai wadah berbagi pengalaman, mencari solusi praktis, serta memperkuat ketahanan pasangan kawin campur. Selain itu, forum ini juga berfungsi sebagai langkah antisipatif terhadap risiko penipuan dalam relasi daring yang semakin marak.

Diskusi ini akan berfokus pada tiga area penting, antara lain: (1) Membahas bagaimana pasangan dapat mengatasi perbedaan budaya, tradisi, serta sistem kepercayaan yang ada di Indonesia dan India untuk membangun keluarga harmonis. (2). Menjelaskan proses legal formal, pengaturan kewarganegaraan, serta dampak hukum jika terjadi perpisahan atau perceraian. (3). Mengedukasi tentang modus-modus penipuan dalam pertemuan daring dan strategi membangun hubungan lintas negara yang aman. 

Dimoderasi oleh Dianita Pramesti, Koordinator Panitia Penyelenggara dan Relawan Ruanita di India, acara dibuka secara resmi oleh Bapak Eddy Wardoyo, Konsul Jenderal RI di Mumbai.

Beliau menegaskan forum diskusi seperti yang digagas Ruanita Indonesia dapat membangun komunitas pasangan kawin campur untuk saling mendukung, bertukar pengalaman, serta memperkuat solidaritas. KJRI Mumbai yang diwakilkan Dessi Herlin Yudistira juga turut membagikan kekonsuleran yang bermanfaat bagi WNI di bawah area kerja KJRI Mumbai, India.

Follow us

Diskusi pun semakin hangat, dari para pembicara berpengalaman, seperti: Yulian Setiawani, Perwakilan Komunitas Mix Married Indonesia–India, yang berbagi kisah dan praktik baik dalam menjalani perkawinan campuran.

Selanjutnya, Sanchali Sarkar, peneliti dan dosen di India, yang mengulas kultur serta aspek hukum perlindungan perempuan di India. Terakhir, Anggy Eka Pratiwi, mahasiswi PhD di Indian Institute of Technology Jodhpur, yang membahas risiko dan pencegahan penipuan dalam hubungan daring.

Partisipasi dalam acara ini memberikan Anda wawasan praktis, memperluas jaringan pertemanan dan dukungan, serta membantu Anda lebih siap menghadapi dinamika unik dalam kehidupan perkawinan lintas budaya. Ini juga merupakan kesempatan untuk belajar langsung dari para praktisi dan akademisi berpengalaman.

Melalui diskusi ini, diharapkan peserta tidak hanya memahami tantangan perkawinan campuran, tetapi juga memperoleh bekal yang cukup untuk memperkuat hubungan mereka dalam menghadapi dinamika sosial, budaya, dan hukum yang kompleks.

Tentang Ruanita Indonesia sebagai organisasi nirlaba yang berbasis pemanfaatan ruang kolektif digital, dapat dilihat di laman website www.ruanita.com atau semua laman media sosialnya. Ruanita juga aktif mempublikasikan cerita terkait perkawinan campuran, termasuk buku bertema Perkawinan Campuran yang diterbitkan pada tahun 2022.

Dengan jangkauan di berbagai negara, termasuk India, Australia, Jepang, Belanda, dan Amerika Serikat, Ruanita menjadi tempat bernaung bagi perempuan Indonesia yang membangun kehidupan baru di negeri orang.

Melalui kegiatan seperti Diskusi Daring Perkawinan Campuran Indonesia–India ini, Ruanita terus berkomitmen membangun komunitas yang lebih inklusif, kuat, dan berdaya di tengah perubahan global.

Informasi lebih lanjut: info@ruanita.com 

Rekaman acara dapat disimak di kanal YouTube kami dan pastikan SUBSCRIBE untuk mendukung kami

SUBSCRIBE ya.

(SIARAN BERITA) Diskusi Daring: Peran Perempuan, Peluang, dan Tantangan di Era Digital

JAKARTA, 26 April 2025 – Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan PW Muslimat NU DIY menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Kartini dalam Dunia Digital”.

Acara ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman perempuan mengenai peluang dan tantangan yang dihadapi dalam dunia digital serta memberikan edukasi tentang literasi berinternet yang aman dan efektif.

Diskusi berlangsung secara daring melalui platform Zoom, yang dihadiri oleh perempuan Indonesia dari berbagai negara dan profesi, yang tertarik dengan isu kesetaraan gender dalam teknologi digital.

Dalam pengantar diskusi sekaligus membuka acara, Hj. Fatma Amalia selaku Ketua PW Muslimat NU DIY menekankan bahwa perempuan memiliki potensi besar untuk berkembang dalam dunia digital.

Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi, seperti kesenjangan akses teknologi, rendahnya literasi digital, serta ancaman keamanan siber, termasuk kekerasan berbasis gender online.

Follow us

Acara ini menghadirkan dua perempuan Indonesia sebagai pemateri yang berbagi pengetahuan dan keilmuan dunia digital.

Pemateri pertama adalah Zakiyatul Mufidah Ahmad, seorang PhD student di University of Birmingham dan dosen di Universitas Trunojoyo Indonesia.

Zakiya memaparkan hasil risetnya mengenai bagaimana perempuan memanfaatkan teknologi digital dalam berbagai sektor. Berdasarkan temuannya, perempuan semakin aktif dalam bidang wirausaha digital, pendidikan, dan advokasi sosial.

Namun, ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi, seperti bias gender dalam industri teknologi serta minimnya akses terhadap sumber daya digital bagi perempuan di daerah terpencil.

Pemateri kedua adalah Rizqi Mutqiyyah, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya, alumni International Institute of Information Technology Bangalore, India jurusan MSc Digital Society dengan Beasiswa Kominfo.

Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya literasi digital bagi perempuan agar dapat memanfaatkan internet secara aman dan efektif.

Rizqi juga menjelaskan strategi dalam mengelola informasi dan identitas digital guna menghindari ancaman siber, seperti pencurian data dan kekerasan berbasis gender online.

Diskusi ini semakin menarik dengan kehadiran penanggap yang berasal dari komunitas perempuan Indonesia di Dubai, Uni Emirat Arab.

Utari Giri sebagai penanggap berpendapat mengenai pentingnya kebijakan perlindungan perempuan di dunia digital serta upaya yang telah dilakukan untuk mengurangi kekerasan berbasis gender di internet.

Setelah sesi pemaparan materi, diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dimoderasi oleh Izidiza Febrine, relawan Ruanita di Jerman.

Banyak peserta yang mengungkapkan pengalaman serta pandangan mereka mengenai isu perempuan dan teknologi. Beberapa peserta juga berbagi strategi yang telah mereka terapkan dalam memanfaatkan dunia digital untuk pemberdayaan perempuan.

Di akhir acara, Zakiyatul Mufidah sebagai koordinator penyelenggara menegaskan bahwa diskusi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesadaran perempuan terhadap pentingnya peran mereka dalam dunia digital.

Sebagai tambahan informasi, acara ini juga dihadiri oleh perempuan Indonesia yang tergabung dalam DWP KBRI Dhaka, para perempuan di Nepal, serta PW Muslimat NU di Taiwan dan Jepang, yang berpartisipasi menanyakan permasalahan dunia digital yang sedang meningkat partisipasinya.

Dengan semakin berkembangnya teknologi, perempuan harus mampu beradaptasi dan memanfaatkannya secara maksimal demi kemajuan diri sendiri dan masyarakat.

Sebagai penutup, seluruh peserta diajak untuk terus berjejaring dan berkolaborasi dalam memperjuangkan hak perempuan di dunia digital.

Melalui akses dan pemanfaatan teknologi yang lebih baik, perempuan dapat terus berkontribusi dalam berbagai bidang serta memperkuat peran mereka dalam pembangunan sosial dan ekonomi.

Rekaman acara tersebut dapat disimak di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE kanal YouTube kami untuk mendukung kami:

(SIARAN BERITA) APPBIPA Jerman dan Ruanita Gelar Diskusi Daring Hari Bahasa Ibu Internasional

JERMAN, 21 Februari 2025 – Hari Bahasa Ibu Internasional merupakan momentum penting untuk menghargai bahasa pertama yang dikenalkan sejak lahir—bahasa yang tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga fondasi dalam membangun identitas pribadi, sosial, dan budaya. Bahasa ibu membuka pintu bagi pemahaman nilai-nilai lokal, kearifan tradisional, serta perspektif unik suatu komunitas. 

Di era globalisasi, pemahaman mendalam terhadap bahasa ibu turut memudahkan pembelajaran bahasa lain, mengenal budaya baru, dan memperkuat koneksi lintas budaya. Melalui pelestarian dan promosi bahasa ibu, termasuk Bahasa Indonesia, diharapkan dapat memperkaya keberagaman global sekaligus mengukuhkan identitas bangsa.

Dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional yang diperingati setiap tanggal 21 Februari sebagai penghormatan terhadap keberagaman bahasa dan budaya di dunia, APPBIPA (Afiliasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) Jerman bekerja sama dengan Ruanita Indonesia mengadakan diskusi online dengan tema “Bahasa Ibu Sebagai Pintu ke Keberagaman Dunia.”

Acara ini diadakan sebagai upaya menegaskan peran bahasa ibu dalam pembentukan identitas, komunikasi lintas budaya, dan sebagai gerbang untuk memahami dunia yang lebih luas. Selain itu, acara diskusi daring ini sebagai upaya untuk meningkatkan promosi Bahasa Indonesia di kancah global, melalui peran APPBIPA Jerman. Lewat acara ini, kepengurusan baru APPBIPA Jerman periode 2024-2029 pun diperkenalkan. 

Diskusi daring dilaksanakan pada hari Jumat, 21 Februari 2025 pukul 19.00 – 21.00 secara terbuka kepada siapa saja yang tertarik tentang Indonesia dan Bahasa Indonesia. Dalam diskusi daring ini, Atdikbud KBRI Berlin, Roniyus Marjunus, turut hadir dan menyampaikan dukungannya terhadap pentingnya bahasa Ibu di mana pun berada.

Beliau menegaskan bahwa bahasa Ibu bukan hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga merupakan identitas yang memperkuat eksistensi bangsa. Selain itu, bahasa Ibu memainkan peran penting dalam diplomasi budaya, yang dapat mempererat hubungan antarbangsa melalui pemahaman dan penghormatan terhadap keberagaman bahasa dan budaya.

Ada pun sesi pertama dimulai dengan pemaparan materi, yang disampaikan oleh Desiree Luhulima, Pendidik dan Penulis Buku, sekaligus Relawan Ruanita Indonesia di Finlandia. Beliau memaparkan materi tentang Bahasa Ibu sebagai gerbang dunia. 

Menurut Desiree Luhulima, Relawan Ruanita di Finlandia sekaligus pakar pendidikan dan penulis buku Wujudkan Anak Bahagia: Pra-Pendidikan Dasar Metode Finlandia, “Bahasa Ibu bukan sekadar alat komunikasi, tetapi fondasi utama dalam membangun pemahaman dunia. Melalui Bahasa Ibu, anak-anak memperoleh keterampilan berpikir kritis, memahami konsep-konsep kompleks, dan mengembangkan identitas yang kuat. Tanpa penguasaan yang baik terhadap Bahasa Ibu, proses belajar bahasa lain dan ilmu pengetahuan dapat terhambat. Oleh karena itu, melestarikan dan memperkuat penggunaan Bahasa Ibu menjadi langkah krusial dalam mempersiapkan generasi mendatang yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan akar budaya mereka.”

Selanjutnya materi kedua disampaikan oleh Chatarina Maria, yang merupakan pengurus APPBIPA Jerman dengan materi mengenai peran BIPA di kancah internasional. Bahasa Ibu memiliki peran strategis dalam menjaga identitas budaya, meningkatkan prestasi akademik, serta menjadi alat diplomasi yang memperkuat posisi bangsa di kancah internasional. Program BIPA berkembang pesat dengan kehadiran di 54 negara, namun masih menghadapi tantangan dalam kualitas pengajaran, aksesibilitas, dan daya saing global dibandingkan bahasa asing lainnya​.

Untuk memperkaya wawasan yang disampaikan oleh pemateri, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab kepada pemateri dan peserta yang hadir. APPBIPA Jerman dan Ruanita Indonesia berharap bahwa diskusi daring ini dapat menjadi wadah dialog yang konstruktif dan inspiratif. Melalui partisipasi bersama, diharapkan akan terbangun sinergi yang lebih kuat antar pegiat bahasa dan budaya, serta semakin mengukuhkan eksistensi Bahasa Indonesia di kancah internasional.

Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang ditujukan untuk berbagi dan berdiskusi pengetahuan, pengalaman, pengamatan, dan praktik baik kehidupan di mancanegara. Program Ruanita dikelola berdasarkan manajemen berbasis nilai, intervensi komunitas, dan menggunakan Bahasa Indonesia. Aktivitas Ruanita berfokus pada isu kesehatan mental dan kesetaraan gender sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals). Sejak berdiri pada 2021, Ruanita Indonesia telah menjadi social support system untuk warga Indonesia, terutama perempuan yang tinggal di mancanegara.

Untuk informasi lebih lanjut, sila kontak panitia penyelenggara  melalui surel: info@ruanita.com atau kunjungi situs web kami di https://ruanita.com.

(SIARAN BERITA) Femisida Dalam Berbagai Perspektif: Budaya, Psikolog, dan Hukum

Femisida, atau pembunuhan berbasis gender yang menargetkan perempuan, merupakan isu global yang semakin menjadi perhatian dunia. Berdasarkan Sidang Umum Dewan HAM PBB, femisida adalah pembunuhan terhadap perempuan yang didorong oleh kebencian, dendam, penaklukan, penguasaan, penikmatan dan pandangan terhadap perempuan sebagai kepemilikan di mana pelaku kejahatan berbuat sesuka hatinya karena korbannya adalah perempuan.

Muatan motif dalam kejahatan femisida berbeda dari pembunuhan biasa karena femisida mengandung aspek ketimpangan kuasa antara pria dan wanita, ketidaksetaraan gender, patriarki, stereotip misoginistik, dominasi/agresi/opresi, serta praktik budaya dan norma sosial yang merugikan perempuan. 

Pada tahun 2022, United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) mengklasifikasikan femisida yang menjelaskan dengan rinci bahwa sebagian besar femisida terjadi di ruang privat dengan berbagai motif kompleks yang dijabarkan dalam 16 kategori.

Pada tahun 2018, 20 negara anggota Uni Eropa meratifikasi Konvensi Istanbul di mana negara berkewajiban untuk menangani kasus kekerasan terhadap perempuan secara menyeluruh dalam segala bentuk dan mengambil langkah-langkah untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan, melindungi korban, dan mengadili para pelakunya.

Kegagalan dalam menangani kasus adalah tanggung jawab negara. Konvensi Istanbul menekankan bahwa sulit tercipta kesetaraan antara perempuan dan laki-laki jika perempuan terus mengalami kekerasan berbasis gender dalam skala besar, tetapi lembaga negara menutup mata akan kondisi ini.

Di Indonesia sendiri, kenyataan yang terjadi adalah kasus femisida belum tercatat secara memadai. Komnas Perempuan Indonesia telah memantau femisida sejak 2017. Dalam dokumen ‘Femisida: Tuntutan Pembaruan Hukum dan Kebijakan Menyikapi Ancaman’ yang diterbitkan Komnas Perempuan pada tahun 2020, disebutkan bahwa kasus-kasus femisida di Indonesia jelas meningkat dalam jumlah maupun jenisnya, tetapi belum mendapat perhatian serius, bahkan masih dipandang sebagai tindakan kriminal biasa.

Setelah rilisan dokumen Komnas Perempuan yang bertajuk ‘Alarm bagi Negara dan Kita Semua: Hentikan Femisida (Pembunuhan terhadap Perempuan)’ di tahun 2017, belum ada perubahan hukum dan kebijakan terkait femisida oleh Polri maupun negara.

Hasil dari pemantauan Komnas Perempuan terhadap berita femisida dari media daring sepanjang 2019 mencatat jumlah 145 kasus. Namun, jumlah ini baru sebatas kasus femisida yang diliput oleh media massa, belum terhitung yang tidak diberitakan.

Dari data yang dikumpulkan Komnas Perempuan, relasi pelaku dengan korban sebagian besar masih berada dalam ranah relasi personal. Lalu, terdapat pola kekerasan sadisme berlapis yang dialami oleh korban perempuan dan tindak pelucutan martabat korban.

Di Indonesia, penghilangan nyawa diatur tersebar dalam Pasal 44 UU Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU KDRT) dan juga di KUHP yaitu Pasal 338, Pasal 339, Pasal 340, Pasal 344, Pasal 345, dan Pasal 350.

Berdasarkan pantauan Komnas Perempuan, motif dan modus kekerasan berbasis gender sebelum atau yang menyertainya tidak menjadi faktor pemberat hukuman. Kasus femisida tidak hanya merenggut nyawa tetapi juga berdampak signifikan pada tatanan sosial, termasuk kesehatan mental keluarga korban dan masyarakat.

Salah satu kasus femisida yang melibatkan perempuan Indonesia terjadi di Jerman pada tahun 2024, yang mana almarhum datang ke Jerman untuk menimba ilmu dan membangun karier yang gemilang. Oleh karena itu, diskusi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan tentang kekerasan terhadap perempuan di mancanegara, terutama yang berkaitan dengan Femisida dan mendorong semua warga Indonesia untuk dapat melaporkan, dan mencatat kasus-kasus kekerasan yang dialami warga Indonesia di mancanegara lewat kolom pengaduan yang dibuat oleh Ruanita Indonesia, yang kemudian akan dilaporkan dalam laporan tahunan ke Komnas Perempuan Indonesia.

Untuk memperluas pengetahuan publik akan isu femisida dan kasus kekerasan terhadap perempuan Indonesia di mancanegara, Ruanita Indonesia bekerja sama dengan PPI Dunia akan menyelenggarakan diskusi online yang mengangkat tema “Femisida dalam Perspektif Psikologi, Budaya, dan Hukum“. Diskusi online ini akan diselenggarakan pada hari Minggu, 9 Februari 2025 pukul 10.00 – 12.00 CET (16.00 – 18.00 WIB) melalui platform digital Zoom meeting.

Diskusi online ini dibuka secara resmi oleh Asisten Deputi Perlinndungan Hak Perempuan dalam Rumah Tangga dan Rentan, Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak Republik Indonesia, Enni Widiyanti. Beliau menekankan pentingnya pengaturan khusus mengenai femisida dalam peraturan perundang-undangan Indonesia. Beliau menyatakan bahwa saat ini, terminologi femisida belum dikenal dalam hukum Indonesia, sehingga pembunuhan terhadap perempuan sering dianggap sama dengan pembunuhan biasa. Akibatnya, analisis mendalam terkait akar permasalahan femisida dan upaya pencegahannya belum optimal. Dengan adanya pengakuan dan pengaturan khusus tentang femisida, diharapkan penanganan kasus, identifikasi akar masalah, dan langkah pencegahan dapat lebih jelas dan efektif.

Diskusi online ini juga dihadiri oleh Siti Aminah Tardi (Komisioner Komnas Perempuan), Dini Tiara Sasmi (Akademisi Universitas Riau), Dr. Livia Iskandar (Psikolog, Wakil LPSK RI Periode 2019-2024 dan Direktur Yayasan Pulih), serta Dr. Gopala Sasie Rekha (Dosen Krimonologi di University Winchester, Inggris) sebagai para pemateri untuk membahas isu femisida dalam perspektif budaya, psikologi, dan hukum. 

Diskusi ini dibuka untuk umum dan dapat diakses oleh masyarakat Indonesia di manapun berada, yang tertarik dengan topik ini. Diskusi ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang isu femisida, serta memberikan pemahaman multidimensional terkait femisida dari perspektif psikologi, budaya, dan hukum.

Lebih lanjutnya, adanya diskusi online ini diharapkan dapat mendorong lebih banyak pelaporan dan pendataan kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan Indonesia, serta mendorong pembentukan langkah-langkah strategis yang dapat diterapkan untuk mengatasi dan mengurangi kasus kekerasan berbasis gender. Adapun kolaborasi antara Ruanita Indonesia dan PPI Dunia bertujuan untuk memperkuat komunitas yang mendukung pemberdayaan perempuan di berbagai bidang.

Ruanita (Rumah Aman Kita) Indonesia di bawah naungan Yayasan Ruanita Perempuan Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang ditujukan untuk berbagi dan berdiskusi pengetahuan, pengalaman, pengamatan, dan praktik baik kehidupan di mancanegara. Program Ruanita dikelola berdasarkan manajemen berbasis nilai, intervensi komunitas, dan menggunakan Bahasa Indonesia. Aktivitas Ruanita berfokus pada isu kesehatan mental dan kesetaraan gender sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals). Sejak berdiri pada 2021, Ruanita Indonesia telah menjadi social support system untuk warga Indonesia, terutama perempuan yang tinggal di mancanegara.

Untuk informasi lebih lanjut, sila hubungi Aini Hanafiah melalui surel: info@ruanita.com atau kunjungi situs web kami di https://ruanita.com. Materi informasi dapat diberikan setelah Anda mengisi formulir elektronik yang ditautkan tersebut dan mengirimkan ke Admin via surel: info@ruanita.com.

(DISKUSI ONLINE) Awali Tahun 2025, Ruanita dan Komunitas Indonesia di Eropa Gelar Diskusi Inspiratif

Frankfurt, JERMAN – Memulai tahun baru dengan semangat positif, Ruanita Indonesia bekerja sama KJRI FRANKFURT, ALZI Nederland, komunitas ALZI Jerman, dan SELINDO mengadakan diskusi bauran/hybrid bertema “Awali Tahun Agar Aktif dan Produktif Sejak Usia Emas”.

Acara ini dirancang untuk menginspirasi warga Indonesia di Eropa, agar tetap sehat, produktif, dan terhubung secara sosial. Acara ini akan diselenggarakan pada Sabtu, 4 Januari 2025, pukul 11.00–13.00 CET (17.00–19.00 WIB) melalui platform Zoom Meeting.

Banyak warga Indonesia yang tinggal di Eropa menghadapi tantangan khas, seperti keterbatasan dukungan sosial dan perubahan gaya hidup. Dalam diskusi ini, peserta akan diajak untuk mengeksplorasi cara menjaga kesehatan fisik dan mental serta mempererat solidaritas dalam komunitas.

Konjen RI untuk Frankfurt, Antonius Yudi Triantoro berkesempatan membuka acara diskusi ini dan menjelaskan bahwa acara ini dirancang untuk memberikan ruang berbagi dan belajar. “Kami berharap diskusi ini dapat memberikan inspirasi baru bagi warga senior untuk menjalani hidup lebih bermakna dan terhubung,” ujarnya.

Diskusi ini akan menghadirkan pemateri terkemuka, di antaranya:

  • Antonius Yudi Triantor (Konjen RI Frankfurt), yang akan memberikan sambutan pembuka.
  • Danny Yatim, penulis buku Tetap Aktif di Usia Emas dan psikolog.
  • dr. Dara R. Pabittei, Elderly Care Physician dan penggiat Alzheimer Demensia dari ALZI Nederland, yang akan berbagi wawasan tentang kesehatan otak.
  • Rusdin Sumbajak, perwakilan SELINDO (Senior Lansia Indonesia di Jerman), yang akan menjadi penanggap diskusi.

Diskusi ini mencakup sesi inspiratif dan interaktif, termasuk pembahasan tentang:

  • Menjaga produktivitas di usia emas oleh Danny Yatim.
  • Kesehatan otak dan cara mencegah demensia oleh dr. Dara R. Pabittei.
  • Sesi tanya jawab interaktif untuk berbagi pengalaman hidup di usia lanjut.

Acara ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memulai tahun baru dengan semangat aktif dan produktif. “Melalui kolaborasi lintas komunitas ini, kami ingin memperkuat solidaritas dan dukungan sosial bagi warga Indonesia di Eropa,” tambah Teti Arndt, komunitas ALZI Jerman.

Untuk materi informasi diskusi, silakan simak di kanal YouTube kami dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar kami bisa berbagi lebih banyak lagi:

(SIARAN BERITA) Diskusi Kesehatan Mental di Lingkungan Kerja

Jerman, 2024 – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024, Ruanita Indonesia dengan dukungan KJRI Frankfurt dan Komunitas ALZI Jerman sukses menyelenggarakan diskusi bertema “Sehat Secara Mental, Produktif Secara Optimal” di Aula KJRI Frankfurt.

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, khususnya di lingkungan kerja, yang sesuai dengan tema World Mental Health Day 2024.

Acara ini menghadirkan Fransisca Hapsari, Relawan Ruanita di Jerman dan mahasiswi PhD Psikologi di Technische Universität Darmstadt, sebagai pemateri pertama. Pemateri kedua adalah Sven Juda, mahasiswa (M.Sc.) Maastricht University Belanda, yang berfokus pada Psikologi Industri dan Organisasi.

Acara dibuka dengan sambutan oleh Konjen KJRI Frankfurt Antonius Yudi Triantoro yang menegaskan pentingnya kesehatan mental dalam mendukung produktivitas dan hubungan kerja yang harmonis. Sebagai moderator diskusi, Relawan Ruanita lainnya, yakni Sesilia Susi, yang merupakan lulusan (M.A.) Hochschule Schmalkalden yang sedang bekerja sebagai Finance Staff di IOM, Berlin.

Diskusi dihadiri oleh para pekerja Indonesia di Jerman dan sejumlah warga Indonesia lainnya, yang datang langsung ke Aula KJRI Frankfurt ataupun mengikutinya secara daring via zoom meeting. Tujuan diskusi ini berfokus pada cara mengenali gejala awal gangguan kesehatan mental di tempat kerja serta strategi praktis untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan mental.

Sesi utama dimulai dengan pemaparan materi, yang menjelaskan definisi kesehatan mental di tempat kerja, gejala-gejala awal gangguan mental yang perlu diperhatikan, serta solusi dan strategi untuk menjaga keseimbangan mental di lingkungan kerja.

Selain itu, materi tentang situasi praktis dan kontekstual di Jerman juga turut dibagikan di sini. Sesi ini diakhiri dengan sesi tanya jawab yang interaktif, di mana peserta berbagi pengalaman dan menanyakan tips lebih lanjut terkait menjaga kesehatan mental di tempat kerja.

Pada kesempatan ini, Ruanita Indonesia sebagai social support system di mancanegara berkesempatan untuk ramah tamah dan berbincang dengan warga Indonesia di Frankfurt untuk memperkenalkan layanannya, terutama bagi mereka yang membutuhkan dukungan sosial.

Ruanita Indonesia, sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk isu kesehatan mental dan kesetaraan gender bagi warga Indonesia di mancanegara, terus berupaya mempromosikan pentingnya kesehatan mental sebagai bagian integral dari kesejahteraan hidup.

Untuk materi informasi, dapat disimak lewat rekaman berikut di kanal YouTube kami:

(SIARAN BERITA) Diskusi Online Hari Perempuan Internasional 2023

DENMARK – Setiap tahunnya seluruh dunia, terutama perempuan, merayakan Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret.  Pada tanggal tersebut dirayakannya prestasi-prestasi perempuan seperti di bidang sosial, ekonomi, kebudayaan, kesehatan, dan politik yang sayangnya masih dianggap sebelah mata oleh masyarakat dunia.

Padahal kita, baik perempuan maupun pun laki-laki, mempunyai kemampuan yang sama. Kesetaraan gender di beragam bidang ini yang menjadi prinsip dan misi dari peringatan Hari Perempuan Internasional setiap tahunnya. 

Menurut internationalwomensday.com, tema dari peringatan Hari Perempuan Internasional 2023 adalah embrace equity, yang berarti setiap orang diberi kesempatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka, bukan hanya kesempatan yang sama dengan orang lain. Tujuan utama dari kampanye ini adalah untuk membuat seluruh dunia menyadari, bahwa kesetaraan kesempatan yang sama tidak cukup.

Untuk mendapatkan hasil dan kesuksesan yang sama maka semua orang mungkin mempunyai kebutuhan berbeda untuk mencapai tujuan yang sama. Tentu saja topik ini tidak cukup hanya untuk dibicarakan dan dituliskan, namun juga dipikirkan dan menjadi bahan diskusi, agar semua orang menjadi bagian dari penyelesaian masalah.

Seperti tahun lalu, Rumah Aman Kita (RUANITA) selaku komunitas Indonesia di luar Indonesia yang aktif mempromosikan isu kesetaraan gender maka RUANITA menggelar diskusi virtual. Tahun lalu RUANITA mengambil tema: Kenali Hak dan Tingkatkan Ketahanan di Luar Negeri bersama para aktivis perempuan.

Tahun 2023 ini diskusi bertema kepemimpinan perempuan di ruang publik yang menghadirkan akademisi. Acara ini masih merupakan rangkaian dari kegiatan peringatan Hari Perempuan Sedunia yang diselenggarakan oleh Ruanita sejak Februari lalu.

Follow us: ruanita.indonesia

Bulan Februari lalu Ruanita bekerja sama dengan KBRI Berlin dan APPBIPA Jerman menyelenggarakan pelatihan penulisan selama dua hari yang juga diselenggarakan secara virtual.

Untuk mengapresiasi peserta pelatihan, naskah peserta yang bertemakan sama dengan tema diskusi virtual ini, yaitu „Kepemimpinan Perempuan di Ruang Publik“ dipublikasikan di website Ruanita dan APPBIPA, serta akan dibukukan. 

Acara diskusi virtual ini terbuka untuk umum bagi warga negara Indonesia di mana pun. Acara ini bisa dihadiri tanpa pendaftaran dengan mengakses tautan Zoom bit.ly/ruanita-diskusi-virtual pada hari Sabtu, 11 Maret 2023, pukul 16.00-18.00 WIB (10.00-12.00 CET).

Diskusi virtual ini didukung sepenuhnya oleh KBRI Kopenhagen, Denmark dan akan dibuka secara resmi oleh Duta Besar RI untuk Denmark dan Lithuania atau yang mewakili dari KBRI Kopenhagen, Ibu Rizka Azizah.  

Acara akan dipandu oleh Mariska Ajeng (relawan Ruanita dan mahasiswa S3 di Universitas Hamburg). Pemateri pertama adalah Gopala Sasie Rekha, staf akademisi di Universitas Winchester, Inggris. Beliau aktif meneliti di bidang perdagangan manusia.

Pemateri kedua adalah Yacinta Kurniasih, staf akademisi di Universitas Monash, Australia. Yacinta aktif memperkenalkan bahasa dan kebudayaan Indonesia di mancanegara.

Tujuan diselenggarakannya acara ini adalah mendorong semua pihak agar melibatkan partisipasi perempuan tidak hanya di sektor domestik saja tetapi juga sektor publik melalui kepemimpinan perempuan di berbagai bidang.

Kami berharap diskusi ini dapat merekomendasikan kebijakan luar negeri yang mendorong peran semua pihak untuk menekan kasus perdagangan perempuan di mancanegara sehingga tercipta banyak peluang pekerjaan untuk perempuan dan meningkatkan peran perempuan Indonesia dalam keluarga birasial agar menjadi panutan dalam kehidupan bermasyarakat di mancanegara.

RUANITA (Rumah Aman Kita) Indonesia adalah komunitas orang Indonesia di luar Indonesia yang dibentuk untuk berbagi pengetahuan, pengamatan dan pengalaman seputar permasalahan psikologis dan praktik baik kehidupan di luar negeri. Tujuan didirikannya RUANITA adalah untuk mempromosikan psikoedukasi, keseteraan gender serta berbagi praktik baik tentang keterampilan diri untuk tinggal di luar Indonesia. 

Informasi: Mariska Ajeng, tinggal di Jerman (email: info@ruanita.com

Rekaman acara ini bisa disaksikan sebagai berikut:

Tolong subscribe kanal YouTube kami

(SIARAN BERITA) Keindonesiaan di Luar Indonesia dalam Perspektif Hak Asasi Manusia

NORWEGIA – Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia, bersifat universal dan langgeng sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai anugerah dari Tuhan, HAM wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, pemerintah dan setiap orang di dunia ini tanpa kecuali.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal HAM dan Hak Warga Negara (HWN). HAM berlaku secara universal yang melekat dalam diri manusia sejak ia lahir. HAM sendiri telah dideklarasikan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948 yang memuat 30 pasal yang diterima secara umum untuk kesejahteraan bersama.

Sementara HWN adalah hak yang diperoleh seseorang sebagai warga negara yang hidup di suatu negara, biasanya diatur secara langsung atau tidak langsung oleh negara yang bersangkutan.

Tak semua memahami perbedaan HAM dan HWN. HAM melekat dalam diri manusia yang tidak terbatas sedangkan HWN dibatasi oleh aturan negara yang menaunginya. Sementara HAM berlaku sama untuk setiap manusia di bumi, HWN dapat berbeda antar satu negara dengan negara lainnya.

Namun dibalik perbedaan tersebut terdapat pula persamaan antara HAM dengan HWN seperti hak mendapatkan kehidupan yang layak, hak untuk mendapatkan menjalankan ibadah sesuai keyakinannya, dan lain sebagainya.

Berkaitan dengan HAM dan HWN, istilah ‘Keindonesiaan’ mencuat ketika orang-orang ramai memperbincangkan sampul warna paspor yang dimiliki. Memahami keindonesiaan seolah-olah dipandang hanya mereka yang benar-benar cinta Indonesia dari kepemilikan warna paspor.

Realitas Indonesia dan keindonesiaan memang perlu pembacaan dan analisis yang multiperspektif, yang tidak mudah dipahami secara sederhana dan linier.

Follow us ruanita.indonesia

Oleh karena itu, pandangan integratif memahami keindonesiaan dirasakan penting untuk warga Indonesia di mancanegara melalui forum Diskusi Online yang diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia pada hari Sabtu 10 Desember 2022.

Diskusi Online ini diadakan atas inisiatif warga Indonesia yang tergabung dalam RUANITA (Rumah Aman Kita) bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Oslo, Norwegia. Untuk mengawali dialog, Prof. DR. Todung Mulya Lubis selaku Duta Besar RI untuk Norwegia dan Islandia akan memantik diskusi apakah kewarganegaraan tersebut merupakan pilihan hak asasi manusia.

Selanjutnya dalam diskusi online, perspektif lintas batas akan disampaikan oleh Novi, seorang ex WNI yang tinggal di Norwegia tentang pengalaman nasionalisme yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Narasumber selanjutnya adalah Ita Fadia Nadia yang berbicara perjuangan perempuan penyintas tragedi 1965 dan Yantri Dewi yang akan mempertegas pilihan kewarganegaraan bagi perempuan pelaku kawin campur. Diskusi Online juga ditutup oleh pemaparan Amiruddin, Komisioner Komnas HAM RI yang berbicara tentang kewarganegaraan dan hak asasi manusia.

Diskusi online ‘Keindonesiaan di Luar Indonesia dalam Perspektif HAM’ akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 10 Desember 2022 pukul 10.00 CET/16.00 WIB melalui aplikasi Zoom dan dibuka untuk umum. Selain itu, diskusi online ini menjadi penutup rangkaian peringatan kampanye 16 hari yang diselenggarakan RUANITA dalam rangka peringatan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang dimulai dari 25 November 2022.

RUANITA – Rumah Aman Kita adalah komunitas Indonesia di mancanegara yang bertujuan untuk mempromosikan psikoedukasi, kesetaraan gender dan berbagi praktik baik tinggal di luar negeri. Ruanita adalah wadah berbagi ilmu, pengalaman dan cerita serta praktik baik untuk tinggal di luar negeri serta mengangkat tema sosial, budaya dan psikologi yang mungkin tidak populer dalam narasi publik. Dalam pelayanannya, Ruanita menggunakan Bahasa Indonesia serta menjunjung tinggi nilai personalitas, solidaritas, dan subsidiaritas.

Informasi: Retno Aini Wijayanti (info@ruanita.com)

Rekaman acara bisa disaksikan sebagai berikut: