(SIARAN BERITA) Suara Perempuan Pelaku Kawin Campur Menggema di Ruanita

Skopje, 15 Februari – Berbicara soal kawin campur, yang sering muncul adalah kisah cinta lintas negara, budaya, dan bahasa. Namun jarang yang mengangkat pertanyaan yang lebih dalam: bagaimana perempuan menegosiasikan suara, kuasa, dan ruang komunikasinya dalam keluarga lintas budaya? Pertanyaan inilah yang menjadi titik temu workshop online yang diselenggarakan Ruanita pada Minggu, 15 Februari 2026.

Mengusung tema “Komunikasi & Agensi Perempuan Pelaku Kawin Campur”, workshop daring ini mempertemukan peserta dari berbagai zona waktu dalam ruang diskusi yang aman dan reflektif. Kegiatan dipandu oleh Leya Trajanoska, konselor pernikahan dan keluarga (M.A.) yang kini tinggal di Makedonia Utara.

Alih-alih mengajarkan bahasa atau tata krama komunikasi dalam rumah tangga multikultural, Leya mengajak peserta membongkar hal yang selama ini sering luput. Menurut Leya, bahasa dan komunikasi adalah arena negosiasi sosial, bukan sekadar alat bertukar pesan.

Diskusi bergerak cair dan hangat. Para peserta berbagi pengalaman tentang memilih bahasa dalam percakapan keluarga, bernegosiasi dengan pasangan dan keluarga mertua, sampai menghadapi tuntutan budaya yang berbeda. Terlihat jelas bahwa di balik persoalan “bahasa mana yang dipakai di rumah”, terdapat isu yang lebih besar. Menurut Anna Knöbl, masalah itu terletak pada ruang bagi perempuan untuk membentuk posisinya sendiri dalam keluarga.

Antusiasme peserta menunjukkan bahwa topik ini bukan hanya relevan, tetapi mendesak. Banyak perempuan Indonesia yang menikah dengan warga negara asing atau hidup di luar negeri menjalani keseharian yang penuh lapis makna, kebijakan, dan adaptasi, tetapi jarang ada ruang publik yang memberi tempat bagi pengalaman ini sebagai pengetahuan.

Acara ini diikuti oleh puluhan perempuan pelaku kawin campur di berbagai negara. Agar meningkatkan kenyamanan, acara ini tidak direkam. Selain itu, pemateri yang merupakan Relawan Ruanita Indonesia bersedia memberikan workshop online ini untuk berbagi dukungan dan solidaritas sebagai sesama perempuan pelaku kawin campur.

Anna Knöbl, sebagai perempuan kawin campur di Jerman dan penyelenggara acara ini, sangat berharap ini menjadi bagian dari upaya Ruanita memusatkan pengalaman perempuan sebagai sumber pengetahuan, bukan objek cerita. Melalui program diskusi, publikasi cerita, dan kegiatan berbasis refleksi, Ruanita membangun komunitas belajar yang tidak dibatasi wilayah atau identitas, tetapi disatukan oleh rasa ingin tahu, solidaritas, dan keinginan memahami diri dalam dunia yang terus berubah.

Informasi mengenai program dapat mengontak Leya Trajanoska melalui email info@ruanita.com.

(KONSELING KELOMPOK) Krisis Identitas di Perantauan

Sebagai seorang yang tinggal di perantauan, kita mungkin saja mengalami krisis identitas yang disebabkan karena perubahan lingkungan, tuntutan sosial, tuntutan akademik/pekerjaan, rasa kesepian, hingga konflik batin di mana kita merasa sulit untuk mempertahankan identitasnya ketika kita mendapatkan budaya/lingkungan yang berbeda. 

Krisis dapat terjadi pada siapa pun dan dalam usia berapa pun. Krisis identitas terjadi ketika terjadi pergeseran dan perubahan sepanjang hidup saat seseorang menghadapi tantangan baru dan mengatasi pengalaman yang berbeda seperti pindah ke negara yang baru, pernikahan, perceraian, melahirkan, putus kerja, depresi, dsb.

Follow us: @ruanita.indonesia

Krisis identitas adalah fase dalam perkembangan manusia yang mempertanyakan dirinya dan keberadaan mereka di dunia ini. Krisis identitas terjadi dalam psikologi perkembangan manusia sebagai cara untuk memandang dirinya sendiri. Identitas diri yang dimaksud bisa meliputi nilai hidup, keyakinan, ingatan, memori, pengalaman yang membentuk perasaan subjektif seseorang tentang dirinya sehingga kemudian disebut sebagai citra diri. 

Sebagai social support system di perantauan, RUANITA menggelar konseling kelompok dua kali dalam setahun dengan tema yang berbeda-beda yang disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi selama di perantauan. Untuk bulan Juni ini, RUANITA mengambil tema krisis identitas selama di perantauan dengan berbagai sebab dan alasan. Konseling kelompok ini dilakukan secara daring, gratis, terbatas atau tidak lebih dari 10 orang, dan boleh menutup kamera.

Tujuan Konseling Kelompok ini untuk memberikan dukungan sosial satu sama lain yang positif, berbagi resources, dan wawasan baru dalam krisis identitas yang sedang/pernah dialami oleh peserta. Untuk sesi konseling ini, konselor memanfaatkan media gambar untuk para peserta. Sebagai pendaftaran, dapat dicek di tautan berikut bit.ly/konseling-kelompok.

Apabila ada saran tema konseling kelompok atau online support group, silakan melayangkan pesan ke info@ruanita.com.