(SIARAN BERITA) Winter Depression: Tantangan Mental Pelajar Indonesia di Negara Bersalju

Jakarta, 31 Januari – Bagi banyak pelajar Indonesia yang menempuh studi di luar negeri, hidup di negara dengan empat musim bukan sekadar menyesuaikan diri dengan cuaca yang dingin atau salju yang menumpuk. Ada tantangan yang lebih halus, tetapi berdampak signifikan terhadap keseharian mereka: Winter Depression atau yang juga dikenal sebagai Seasonal Affective Disorder (SAD).

Kondisi ini muncul akibat berkurangnya paparan cahaya matahari, perubahan ritme biologis tubuh, hingga tekanan adaptasi sosial dan budaya. Gejalanya bisa muncul dalam bentuk perasaan sedih yang berkepanjangan, penurunan energi, gangguan tidur, hingga kesulitan berkonsentrasi. Sayangnya, kurangnya pemahaman tentang Winter Depression kerap membuat pelajar terlambat mendapatkan penanganan, yang akhirnya memengaruhi kesehatan mental, performa akademik, dan kualitas hidup mereka.

Menyadari hal ini, Ruanita menggandeng Kesmenesia berkolaborasi dengan PPI Dunia untuk menyelenggarakan psikoedukasi daring bertajuk “Winter Depression: Kenali, Pahami, dan Hadapi dengan Lebih Sehat”. Acara ini dijadwalkan pada Sabtu, 31 Januari 2026, pukul 10.00 CET atau 16.00 WIB, melalui Zoom Meeting, dan terbuka untuk pelajar Indonesia baik di luar negeri maupun di dalam negeri, serta pengurus dan anggota PPI.

Acara akan diawali oleh salam pembuka dan pengantar dari Ashlee Quissa, anggota PPI Dunia di Malaysia, yang memperkenalkan tujuan dan alur kegiatan. Selanjutnya, Aulia Farsi, pemateri ahli dalam bidang kesehatan mental, akan membimbing peserta untuk memahami Winter Depression secara mendalam. Mulai dari definisi, perbedaan dengan depresi biasa, hingga gejala emosional, fisik, dan perilaku yang dapat memengaruhi kehidupan akademik dan sosial pelajar.

Lebih dari sekadar teori, sesi ini juga membahas faktor risiko yang spesifik dialami pelajar Indonesia, seperti adaptasi budaya, homesickness, tekanan akademik, serta minimnya paparan sinar matahari di negara empat musim. Peserta akan diajak mengeksplorasi strategi koping praktis, termasuk perubahan gaya hidup, pentingnya dukungan sosial, hingga kapan dan bagaimana mencari bantuan profesional.

Tak ketinggalan, sesi tanya jawab interaktif memberi ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman dan mengajukan pertanyaan baik secara tertulis di kolom Chat maupun formulir elektronik yang disediakan oleh Ruanita Indonesia sejak pendaftaran.

Menurut Aulia Farsi, tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan pemahaman yang kontekstual dan relevan bagi pelajar Indonesia. “Kami ingin mereka tidak hanya mengenali gejala, tetapi juga siap menghadapi Winter Depression dengan strategi yang nyata dan dukungan yang memadai,” ujarnya.

Melalui kolaborasi ini, Ruanita bersama Kesmenesia dan PPI Dunia berharap pelajar Indonesia dapat lebih sadar akan tantangan kesehatan mental yang mungkin muncul selama studi di luar negeri dan mampu menjaga kesejahteraan mereka secara lebih efektif.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia yang didirikan dan dikelola oleh Anna Knöbl di Jerman, sebagai ruang kolektif digital berbasis manajemen nilai, resource sharing, dan intervensi komunitas dalam konteks lintas negara. Inisiatif ini berfungsi sebagai social support system yang memanfaatkan teknologi digital modern sebagai medium interaksi dan pembelajaran.

(CERITA SAHABAT) SAD Buat Aku Sedih di Winter

Indonesia sebagai negeri tropis tentu tak mengenal istilah SAD, yang merupakan kepanjangan dari Seasonal Affective Disorders. Istilah ini benar-benar tidak kupahami sebelumnya. Di Indonesia semua terasa baik karena kami tak punya musim Winter. Informasi SAD juga tidak kuperoleh sebelum aku menjejakkan kaki di negeri tujuan studiku.

Ya, aku sudah tinggal hampir sepuluh tahun di Jerman. Aku sudah mulai terbiasa dengan kehidupanku di negeri empat musim ini. Aku putuskan tidak hanya menyelesaikan studi S1 saja di Jerman. Aku berniat melanjutkan pendidikan S2 di negeri sosis ini. Di sini aku bisa berbagi antara waktu kuliah dengan waktu kerja. Bagaimana pun aku harus bekerja apa saja demi memenuhi tuntutan hidup di negeri asing ini.

Aku lupa tahunnya, tetapi seingatku sekitar tahun 2015-2016 aku mulai merasa aneh saat musim Winter tiba. Mungkin banyak orang menyukai salju dan suasana khas musim dingin, tetapi tidak denganku. Musim Winter terasa panjang bagiku. Langit sudah kelabu dan gelap sejak jam 4 sore. Di situ aku mulai merasa lelah dengan hidupku. Aku tidak bisa menyebut ini dengan depresi karena aku benar-benar tidak punya masalah mental sebelumnya.

Aku mulai merasakan tanda-tanda itu bahkan hingga Winter tahun 2017. Di masa-masa perkuliahan, aku lebih memilih diam di rumah dari pada aku bergabung, mengikuti ajakan teman-teman untuk bermain ke luar rumah. Aku tak ingin bersosialisasi dengan siapa pun saat Winter tiba. Bahkan aku pun tak bersemangat untuk mengikuti perkuliahan. Aku absen dari jadwal kuliah alias tidak masuk kelas kuliah.

Aku pikir ini adalah jejak awal aku merasakan SAD itu atau yang biasa disebut oleh orang Jerman Winter Depression. Aku menilai diriku termasuk orang yang aktif, kuliah sambil bekerja di Jerman. Semua aku jalani dengan baik-baik saja, tetapi itu tidak terjadi selama Winter. Aku mulai mengalami mood swing, seperti ada saat aku menangis tanpa sebab. Suasana hatiku di musim dingin pun jadi ikut-ikutan kacau. Aku merasa kesepian padahal aku tidak benar-benar sendirian. Aku punya banyak teman.

Aku berpikir ini bisa disebabkan karena tekanan studiku, kuliahku yang belum selesai atau banyak pekerjaan yang kuambil untuk memenuhi biaya hidup di Jerman. Aku membiayai hidupku sendiri selama di Jerman. Beban di pundakku ini terasa semakin berat bila Winter tiba. Aku tak bergairah melakukan apa pun, bahkan aku tak berselera makan. Di musim dingin, aku hanya ingin diam di kamar. Doing nothing.

Aku mulai mengenali gejala SAD ketika prestasi kuliahku lebih baik pada semester musim panas dibandingkan semester musim dingin. Aku merasa kinerjaku lebih baik di musim panas ketimbang musim dingin. Entah mengapa aku tak mencari bantuan siapa pun saat aku merasa SAD. Aku berprinsip: ‘kalau kamu lelah ya istirahat, jangan maksain diri!’ sehingga aku menjalaninya dengan santai. Aku tidak berambisi dan aku mulai menerima diriku sendiri bahwa kalau Winter, aku pasti merasa kesepian dan down.

Follow us ruanita.indonesia

Aku mulai mencari tahu apa yang terjadi padaku. Ternyata aku mungkin mengalami SAD. Jatuhnya jadi self-analysis sih. Pada akhirnya, aku berdamai dengan keadaan dengan menjalani hidup normal saja saat Winter. Entah mengapa, lama-lama aku jadi terbiasa hidup ‘normal’ selama Winter. Meski aku masih merasa ‘sensitif’ saat Winter, tetapi kondisiku kini tak separah seperti Winter yang lalu. Aku makin sadar bahwa kesehatan mental sama pentingnya seperti kesehatan fisik.

Buatku hidup sehat dengan makanan bernutrisi dan olah raga sangat membantu kita lepas dari SAD selama Winter. Segera selesaikan dan cari bantuan jika kondisi SAD semakin parah. Itu saranku. Bagaimana pun kesehatan itu adalah sehat jasmani dan rohani. Kenali dirimu sendiri itu penting untuk membantu masalah mental yang kita hadapi.

That’s all.. hehehe. Aku harap ceritaku ini bisa membantu kalian yang mengalami hal yang sama saat Winter.

Penulis: Mahasiswa di Jerman.