(CERITA SAHABAT) Tidak Merasa Sepi atau Sedih di Hari Raya, Justru Saya Belajar Toleransi dari Sesama Perantau di Taiwan

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan nama saya Elok Fenisia, biasa dipanggil Elok. Saat ini, saya adalah seorang ibu beranak satu dan bekerja sebagai full-time mom. Saya mengurus dan merawat anak saya sendiri dari lahir sampai saat ini berusia 16 bulan di Taiwan. Sejak pertengahan tahun 2025 ini, saya dan keluarga menetap di Paraguay, Amerika Selatan.

Saya berasal dari Balikpapan, kemudian saya sempat berdomisili di Surabaya. Sebelum pindah ke Taiwan, saya berkuliah S1 jurusan psikologi di Malang, kemudian saya sempat juga melanjutkan studi S2 di Surabaya.

Perjalanan saya ke Taiwan diawali dengan pertemuan saya dengan suami, yang dulu masih menjadi pacar, ketika saya sedang mencari peluang studi S2 di Surabaya. Saat itu, saya datang ke gereja dan berjumpa dengan Lorddy, yang kini menjadi suami saya. Saat itu, Lorddy sedang menunggu pengumuman studi S2 di Taiwan. Singkat cerita, kami merasa cocok dan memutuskan menjalin hubungan berpacaran. Tiga bulan setelah itu, Lorddy diterima kuliah S2 di Taiwan, sehingga kami harus menjalani hubungan jarak jauh. 

Selama empat tahun delapan bulan akhirnya hubungan jarak jauh itu pun berakhir dengan komitmen janji s ucipernikahan. Kami menikah di Surabaya, yang membuat kami memutuskan untuk tinggal bersama di Taiwan. Saya pun segera mengurus administrasi untuk kelengkapan visa. Saya pun berangkat ke Taiwan dan tinggal di Taiwan di tengah suami sedang menempuh pendidikan studi S3, hingga sekarang bekerja. Itu sebabnya, mengapa saya berada di sini sejak tahun 2022.

Momen perayaan Natal bagi saya sangat spesial, yang mana saya selalu merayakan dengan penuh kemeriahan, ketika saya masih berada di Indonesia. Sebaliknya, ini berbeda sekali ketika saya berada di Taiwan. Saya mengalami kesedihan, saat saya merayakan Natal di Taiwan.

Follow us

Tentunya, ada perasaan jauh dari keluarga besar di Indonesia, sehingga tidak bisa merayakannya bersama keluarga besar. Perayaan Natal di Taiwan sangat berbeda dengan di Indonesia, mengingat bahwa hari raya Natal bukan hari libur nasional keagamaan di Taiwan. 

Sekalipun Natal di Taiwan bukan hari libur, tetapi gereja saya tetap merayakannya di hari Minggu yang mendekati tanggal 25 Desember tersebut. Agar lebih meriah, perayaan Natal pada 25 Desember tersebut, saya pun memasak makanan spesial Indonesia. Saya juga membuat aneka kue kering dan memasang aksesoris Natal. Meski perayaan Natal berbeda dengan kebiasaan yang saya alami sewaktu di Indonesia, saya tidak merasa ada tantangan tersendiri. Saya mencoba beradaptasi dan menerima kondisi yang sedang saya alami. Hal terpenting buat saya adalah bisa berkumpul dengan suami dan anak saya. Itu sudah cukup di hari raya Natal.

Saya juga melihat bahwa saya tidak sendirian ketika sedang berada di perantauan saat merayakan Natal. Sebagian besar komunitas yang saya kenal di Taiwan adalah teman-teman anggota gereja, yang selalu memberikan dukungan sosial dan semangat satu sama lain, dalam menyambut Natal. Dukungan positif tidak hanya datang dari mereka yang seiman saja, saya juga pernah merasakan dukungan dari orang-orang sekitar saya, meskipun mereka tidak merayakan Natal. Mereka memberikan ucapan Natal dan lainnya mereka memberikan parcel Natal, padahal mereka tidak merayakan Natal. 

Justru perbedaan keyakinan di antara kenalan dan teman-teman saya, memperkuat solidaritas dan jembatan untuk saling memahami satu sama lain. Saya sangat menghargai hal itu. Contohnya, saat saya pergi ke Taipei Main Station, tempat berkumpulnya orang Indonesia atau beberapa titik tempat lainnya di Taiwan, saya mendapati acara berbagi makanan/minuman  untuk menyambut Natal. Selain itu, ada beberapa kali acara kebersamaan yang mampu menyatukan perbedaan menjadi jembatan untuk saling memahami dan menghargai. Artinya, meski saya jauh dari Indonesia, saya merasakan perayaan Natal di tengah keragaman perbedaan keyakinan bersama orang-orang di Taiwan.

Di tengah dunia yang beragam, tentu tak mudah merawat solidaritas. Saya pikir, ini bisa dimulai dari hal sederhana, seperti senyuman saat bertemu dan berkumpul atau memberi ucapan saat momen spesial mereka. Bentuk solidaritas lainnya adalah kita bisa memberikan bantuan, ketika mereka membutuhkan, misalnya: memberi tumpangan, memberi arahan jika mereka bertanya, dan tidak menghakimi atas apa yang mereka lakukan.

Di Taiwan sendiri, saya ikut serta bergabung dalam komunitas Gereja Kristen Indonesia (Indonesia Ministry Bread of Life Church). Saya dan suami aktif melayani di gereja setiap ibadah Minggu hingga momen Natal. Dalam komunitas ini, mereka sangat hangat menyambut saya dan mendukung pertumbuhan saya secara rohani dan mental. Beberapa kali, kami juga mengadakan acara kebersamaan dengan orang yang berbeda keyakinan, seperti jalan-jalan bersama ataupun hanya sekedar makan bersama.

Menurut saya, bergabung dalam komunitas ketika kita berada di perantauan seperti Taiwan, tentu sangat berperan penting. Mereka adalah rumah kedua saya. Kami bisa mengadakan ibadah perayaan Natal bersama, yang mana saya pun ikut melayani di sana. Saya sangat terharu dan bersyukur bisa merayakan Natal bersama teman-teman seperantauan di Taiwan. Biasanya saat menyambut Natal ini, mereka membagi bingkisan kue, coklat, serta ada makan bersama. Menyaksikan banyak orang Taiwan yang juga merayakan Natal bersama di gereja, pun menambah momen bersyukur saya di saat hari raya Natal. Bahkan ketika saya melahirkan dan memiliki anak, mereka sangat mendukung dari hal kecil seperti kebutuhan bayi hingga dukungan finansial.

Makna Natal menurut saya merupakan bentuk kasih atas apa yang Tuhan berikan dalam hidup saya, sehingga di mana pun saya berada tidak mengubah pandangan makna Natal itu sendiri. Sekalipun saya berada di negara yang tidak merayakan hari raya Natal, hati saya akan tetap bersemangat dan bersyukur dalam menyambut Natal. Menurut saya, perayaan Natal tidak bergantung pada di lokasi mana kita tinggal, tetapi bagaimana kita tetap merayakannya di dalam hati kita. 

Tentu saja, ada lesson learned dalam hidup tentang toleransi dan solidaritas yang dipelajari selama tinggal di Taiwan. Saat saya tinggal jauh dari tanah air, saya bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang budaya, agama, dan kebiasan yang berbeda. Dari sini, saya belajar tentang toleransi bukan sekedar kata, tetapi sikap nyata yang harus dilakukan setiap harinya. Pertama, kita perlu menghargai perbedaan tanpa menghakimi. Sebelum menilai seseorang, saya belajar mencoba memahami sudut pandang yang berbeda. Saya memahami bahwa perbedaan pandangan justru akan memperkaya kapasitas toleransi saya. 

Kedua, kita perlu membangun komunikasi yang baik agar menghindari kesalahpahaman. Saya belajar bahwa komunikasi yang jelas dan terbuka, menghasilkan respon yang lebih baik di dalam perbedaan. Ketiga, kita bisa saja menemukan persamaan di tengah perbedaan. Saya menyadari bahwa persamaan paling utama adalah saya dan teman-teman di Taiwan adalah orang perantauan. Pada akhirnya, saya belajar bahwa sekalipun kita berbeda, kita memiliki hal yang sama yaitu rasa rindu akan tanah air dan membawa nama tanah air di Taiwan. Oleh sebab itu, saya belajar tentang toleransi dan solidaritas dari sesama perantau di Taiwan.

Sahabat Ruanita, jika kalian merayakan Natal yang jauh dari tanah air ataupun di negara yang tidak memiliki hari libur Natal, semoga damai dan sukacita Natal selalu menyertai hati kalian semua. Menurut saya, Natal adalah tentang Iman dan pengharapan. Sekalipun suasana di sekitar mungkin terasa berbeda, kita perlu ingat bahwa Natal tidak bergantung pada tempat, tetapi ada dalam hati. Tetaplah bersinar dan biarlah kasih, iman, dan pengharapan tetap menjadi sumber kekuatanmu.

Terakhir, bagi Sahabat Ruanita yang merayakan Natal, kita perlu sebarkan semangat Natal di mana pun berada. Meskipun, perayaan Natal terasa sepi, kita tidak perlu merasa sendiri. Ketahuilah bahwa banyak perempuan Indonesia lain yang mengalami hal yang sama. Temukan komunitas di sekitar kalian tinggal, baik secara offline/langsung maupun online/daring, untuk saling menguatkan dan berbagi kebahagiaan Natal.

Motto saya: Hidup bukan sekadar menghitung hari, tetapi bagaimana kita mengisi setiap hari dengan makna. Bagi saya, “Setiap Hari Harus Spesial” sudah melekat di hati dalam menciptakan kisah yang tak hanya berarti bagi diri saya, tetapi juga bagi orang-orang di sekitar, khususnya bagi orang yang saya sayangi. Saya percaya bahwa sekecil apa pun momen itu, jika dijalani dengan rasa syukur, akan menjadi spesial. 

Penulis: Elok Fenisia, tinggal di Paraguay dan sempat menetap juga di Taiwan dan dapat dikontak lewat akun IG: @elokfenisia.

(CERITA SAHABAT) Pengalaman Menyekolahkan Anak di Daycare Portugal adalah Perjalanan Adaptasi

Portugal bukanlah tujuan awal kami, tetapi takdir membawa kami ke negeri ini. Awalnya, kami berencana tinggal hanya enam bulan untuk mendukung studi suami, tetapi pesona Lisbon yang hangat, keramahan warganya, serta lingkungan yang inklusif membuat kami memutuskan untuk menetap lebih lama. 

Seiring berjalannya waktu, kami mulai memikirkan bagaimana tumbuh kembang anak-anak kami di masa depan, termasuk bagaimana anak-anak bersekolah nantinya. Rupanya kami memiliki tantangan untuk mencari sekolah yang sesuai untuk kebutuhan anak-anak kami, terutama Daycare bagi si kecil.

Berbeda dengan di Indonesia, pendaftaran Daycare di Portugal dilakukan secara online atau langsung dengan mengisi formulir di sekolah yang dituju. Syaratnya cukup jelas, seperti kartu identitas anak dan orang tua, bukti pajak, bukti tempat tinggal, buku vaksin, dan dalam beberapa kasus, surat keterangan tidak bekerja dari salah satu orang tua. 

Sebagai orang tua, kami pun harus merespon bagaimana proses pendaftaran segera dimulai. Apalagi sistem pendaftaran di sini berdasarkan sistem zonasi, yang menentukan sekolah berdasarkan alamat tempat tinggal. Kami harus bergerak cepat, karena masa pendaftaran berlangsung dari Maret hingga April.

Jika di Indonesia, saya mendapati banyak orang tua menunggu anak-anak mereka di sekolah, terutama di hari pertama mereka bersekolah. Namun, ini tidak berlaku di Portugal.

Di Portugal, baik Daycare maupun Taman Kanak-kanak (TK) memiliki kebijakan di mana orang tua hanya boleh mengantar dan menjemput anak. Orang tua dilarang untuk menemani anak-anak mereka di kelas. 

Saya merasa awalnya sangat sulit, terutama bagi anak kami yang masih perlu beradaptasi dengan lingkungan baru. Namun, seiring waktu, kami melihat peraturan tersebut sangat berdampak positif bagi anak-anak kami. Anak-anak belajar mandiri lebih cepat dan mulai membangun kepercayaan diri mereka. Wow!

Tantangan selanjutnya yang dihadapi adalah bahasa sebagai komunikasi sehari-hari orang tua dengan anak. Bahasa menjadi tantangan utama, baik bagi kami sebagai orang tua maupun anak-anak kami. Di rumah, kami berbicara dalam Bahasa Inggris, sementara di sekolah mereka harus beradaptasi dengan Bahasa Portugis. 

Pada awalnya, komunikasi dengan anak-anak terasa sulit buat kami. Namun,  anak-anak sudah mulai berbicara dengan lancar, setelah enam bulan berlalu. Bahkan, komunikasi anak-anak terdengar seperti penutur asli. Kecepatan adaptasi sosial mereka sungguh mengejutkan dan menginspirasi kami untuk ikut belajar Bahasa Portugis lebih serius.

Daycare dan TK di Portugal lebih menekankan pada eksplorasi dan sosialisasi dibandingkan akademik. Anak-anak tidak diajarkan membaca dan menulis seperti di Indonesia, tetapi mereka dibiasakan dengan aktivitas di luar ruangan, jalan-jalan ke taman, mengunjungi museum, menonton teater, serta merawat hewan peliharaan kelas. Kami menyadari bahwa pendidikan di sini lebih menitikberatkan pada pengembangan empati, disiplin, dan kemandirian dibandingkan keterampilan akademik di usia dini.

Berbicara tentan dukungan Pemerintah Portugal, kami menilai pemerintah di sini memberikan berbagai tunjangan bagi keluarga, termasuk Daycare gratis bagi yang memenuhi syarat. Sekolah negeri pun tidak memungut biaya, sedangkan sekolah swasta menerapkan biaya bervariasi, bergantung dengan subsidi dan berdasarkan penghasilan keluarga. Kami sendiri membayar sekitar 90 Euro per bulan, jauh lebih murah dari tarif standar yang bisa mencapai 300 Euro.

Selain itu, snack pagi hingga sore dan makan siang sepenuhnya disediakan oleh sekolah. Sahabat Ruanita perlu tahu, jika anak-anak ingin membawa bekal dari rumah, ada aturan ketat yang harus dipatuhi, seperti larangan membawa makanan gorengan, makanan manis, ataupun makanan instan. 

Bagaimana pun, menyekolahkan anak di Portugal memberi kami perspektif baru tentang pendidikan. Sekolah tidak memberlakukan adanya sistem ranking, seperti zaman saya bersekolah di Indonesia dulu. Sekolah juga tidak menerapkan ekstrakurikuler yang berlebihan. Saya menilai sekolah melakukan pendekatan yang lebih santai terhadap tugas sekolah, sehingga membuat anak-anak menikmati masa kecil mereka dengan lebih bebas. Sebagai orang tua, kami juga merasa lebih rileks, karena anak-anak belajar dengan cara yang lebih natural dan alami.

Di masa depan, kami ingin memastikan bahwa anak-anak tetap mendapatkan pendidikan berbasis nilai-nilai keluarga kami. Kami tengah mempertimbangkan sekolah Islam yang ada di Portugal, baik yang menggunakan kurikulum Portugal maupun Cambridge. Harapan kami, mereka tetap bisa tumbuh menjadi pribadi yang kuat dengan nilai-nilai yang seimbang antara budaya lokal dan keyakinan kami.

Untuk sahabat Ruanita, yang ingin menyekolahkan anak di Portugal, mohon perhatikan informasi pendaftaran Daycare sedini mungkin. Daftar tunggu bisa panjang, jadi semakin cepat mengurus pendaftaran, semakin besar kemungkinan mendapatkan tempat yang diinginkan. Hal yang terpenting, bersiaplah untuk mendukung anak-anak dalam menghadapi tantangan bahasa dan budaya yang baru.

Menurut saya, Portugal kini telah menjadi rumah kedua bagi kami.  Kami bersyukur atas pengalaman luar biasa ini.

Penulis: Rindu Ragillia, seorang ibu yang tinggal di Portugal dan dapat dikontak via akun instagram rinduragg.

(CERITA SAHABAT) Perempuan di Industri Tambang: Di Bawah Komando Perempuan

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan saya adalah Selvi Tandirerung, yang sekarang tinggal di Finlandia sudah lebih dari lima tahun lalu. Saya adalah perempuan Indonesia yang juga berprofesi sebagai  Mining Engineer atau Insinyur Pertambangan.

Saya ingin berbagi pengalaman dan inspirasi lewat program cerita sahabat ini, tentang peran perempuan dalam industri tambang. Sebagaimana kita sudah tahu, bahwa dunia tambang itu selalu dianggap sebagai dunia laki-laki.

Saat saya memulai karir saya di dunia pertambangan, memang sangat sedikit perempuan yang berminat untuk bekerja di pertambangan. Ya, contohnya saja dalam kuliahan itu kita hanya ada dari 56 atau 59 siswa dalam satu kelas.

Hanya ada 9 siswa perempuan dalam angkatan perkuliahan saat itu. Sahabat Ruanita, kita bisa melihat betapa jomplangnya antara mahasiswa peminat pertambangan berdasarkan gender. Kebanyakan mayoritas itu adalah mahasiswa laki-laki.

Mengapa saya sampai tiba di Finlandia? Awalnya, saya coba-coba saja untuk melamar ke perusahaan-perusahaan di luar seperti di Australia, di Amerika, di Turki.

Waktu itu, saya hanya tahu perusahaan tambang itu adanya di sekitar situ saja. Intinya, saya tidak pernah berpikir bahwa ada perusahaan pertambangan di negara Eropa.

Pada suatu hari, saya menemukan lowongan pekerjaan. Lowongan tersebut tertulis bahwa mereka membutuhkan untuk resident permit untuk bekerja di pertambangan di Finlandia.

Saya coba melamar dan kebetulan mereka tertarik dengan saya. Akhirnya, saya tiba di negara ini.

Di tempat kerja saya itu, sistem bekerjanya untuk saya sendiri adalah dua minggu  bekerja dan 2 minggu kerja on-site. Dua minggu tersebut, saya harus berada di site dan 1 minggu itu saya harus ada di rumah.

Hal yang suka dari tempat saya bekerja, perusahaan tambang telah menggalakkan campaign seperti Women in Mining.

Oleh karena itu, mereka pun mulai menerima beberapa perempuan yang dianggap bisa berkontribusi di dalam dunia pertambangan. 

Mengapa perempuan enggan atau kurang berminat bekerja di perusahaan pertambangan?

Menurut saya, hal ini mungkin disebabkan mereka berpikir bahwa perusahaan pertambangan itu identik dengan tanah kotor.

Ada juga yang berpendapat, bahwa kondisinya terlalu berbahaya untuk perempuan.

Dokumen pribadi milik Selvie Tandirerung.

Saya sendiri berpendapat, bekerja di tambang itu semua sudah diperhitungkan untuk sistem safety-nya.

Perusahaan tambang tentunya telah mempersiapkan kita yang bekerja agar risiko dan bahaya dapat diminimalisir terjadinya.  

Ada juga yang berpikir bahwa pekerjaan di industri tambang, hanya untuk pekerjaan laki-laki.

Di Finlandia, memang ada peraturan perundang-undangan yang menjelaskan bahwa perempuan itu mempunyai hak yang sama dengan laki-laki dalam hal apapun.

Level perempuan untuk bekerja, itu setara dengan laki-laki.

Kalau laki-laki bisa jadi presiden, perempuan juga bisa jadi presiden.

Itulah mengapa di Finlandia juga ada, perdana menteri perempuan. Perdana menteri perempuan yang saya maksud adalah Sanna MIrella Marin, yang menjabat 2019-2023.

Sahabat Ruanita, di Finlandia tidak ada statement yang bisa mengatakan bahwa hanya laki-laki yang bisa menduduki posisi direktur.

Atau, tidak ada pernyataan di Finlandia hanya laki-laki saja yang bisa bekerja di dunia pertamangan. Jadi, perempuan dan laki-laki memiliki level yang sama.

Di akhir cerita saya, saya cukup bangga bisa berkarier sebagai seorang perempuan Indonesia di Finlandia.

Satu kebanggaan, buat saya dan orang tua saya adalah saat koran lokal memuat berita tentang saya yang bekerja di industri tambang.

Judul artikel koran tersebut adalah naisen komenosa. Kalau teman-teman mau translate, judul artikel tersebut berarti di bawah komando seorang perempuan.

Penulis: Selvi Tandirerung, bekerja di industri tambang di Finlandia dan bisa dikontak via instagram exoticgirltravel.

(CERITA SAHABAT) Manfaat Musik Untuk Kesehatan Mental

Halo, sahabat Ruanita! Saya adalah Priskila, yang berasal dari Bandung, Jawa Barat dan kini menetap di Hamburg, Jerman. Saya adalah singer sekaligus songwriter juga. Dalam rangka World Music Day, saya ingin berbagi kisah tentang bagaimana musik telah menjadi bagian penting dalam perjalanan saya. Bagi saya, musik sangat berarti, terutama dalam mengatasi tantangan kesehatan mental.

Musik bagi saya bukan sekadar pekerjaan, melainkan medium untuk menyampaikan emosi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Sahabat Ruanita, saya percaya musik memiliki peran sebagai bahasa universal yang dapat menyentuh hati setiap orang, bahkan melampaui batas-batas budaya dan bahasa.

Ketika saya pertama kali pindah ke Jerman, saya merasa fase adaptasi yang berat. Saya sempat mengalami fase depresi, yang akhirnya memotivasi saya untuk menemukan cara penyembuhan atau healing. 

Saya kemudian menjalani pendidikan musik di Pop Akademie Hamburg. Pada akhirnya, saya menemukan bahwa bermain musik bersama band di studio setiap hari, menyanyikan dan memainkan lagu ciptaan sendiri, ternyata memberikan efek penyembuhan yang luar biasa. Musik membantu memulihkan kepercayaan diri saya, yang sempat hilang, akibat tekanan di masa-masa sulit.

Follow us

Melalui pengalaman itu, saya menyadari bahwa genre musik tertentu memiliki efek berbeda pada setiap individu. Ada yang merasa lega dengan mendengarkan musik metal atau rock, sementara yang lain, seperti saya, lebih menemukan kenyamanan dalam lagu pop atau balada. Kalau sahabat Ruanita, suka genre musik yang mana?

Musik kini menjadi bagian dari keseharian saya, baik sebagai pekerjaan maupun bentuk pelayanan sosial. Saya mengajar gitar di sekolah musik, memberi les privat, dan tampil di berbagai acara musik di Jerman, termasuk festival musik dan acara komunitas Indonesia.

Lebih dari itu, saya juga terlibat dalam kegiatan yang menggunakan musik sebagai alat untuk mendukung kesehatan mental. Saya memimpin kelompok bernyanyi di sebuah tempat tinggal bagi individu dengan gangguan mental. Bersama mereka, saya menyanyikan lagu-lagu yang mereka kenal atau pilih sendiri. Bagi saya, ini seperti menciptakan suasana yang penuh semangat dan kebersamaan.

Saya berpendapat bahwa musik adalah sarana untuk mengungkapkan isi hati yang sulit dijelaskan. Bahkan tanpa memahami bahasa sebuah lagu, orang tetap bisa merasakan jiwa yang terkandung di dalamnya. Musik menjadi alat untuk menyalurkan emosi yang terpendam, memberikan kepuasan tersendiri, dan membantu meningkatkan suasana hati.

Meskipun saya bukan terapis atau dokter, saya telah menyelesaikan pelatihan sebagai pendamping pemulihan, yang disebut dalam Bahasa Jerman, sebagai Genesungsbegleiter. Lewat peran ini, saya mendukung individu dengan gangguan kesehatan mental, berbagi pengalaman pribadi, dan menggunakan musik sebagai salah satu pendekatan kreatif untuk membantu mereka.

Sahabat Ruanita, saya percaya bahwa setiap orang membutuhkan sesuatu yang membuat hidup lebih berwarna. Itu bisa berarti sesuatu yang mereka cintai dan passionate terhadapnya. Tidak hanya musik, tetapi juga hobi atau aktivitas lain seperti menggambar, menulis, olahraga, atau mendaki gunung.

Pesan saya sederhana: temukan passion Anda. Sahabat Ruanita bisa melakukan apa yang disukai sebagai cara untuk meringankan stres, menghidupkan gairah, atau sekadar memberikan kesenangan.

Melalui program cerita sahabat ini, saya ingin menyampaikan bahwa harapan selalu ada, meski kadang terasa jauh. Temukan alasan untuk bertahan dan lakukan apa yang  dicintai. Dengan begitu, hidup akan terasa lebih indah.

Terima kasih kepada Ruanita Indonesia yang telah memberi saya kesempatan untuk berbagi cerita ini. Saya harap pengalaman saya bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang sedang berjuang.

Penulis: Priskila Wowor, Singer/songwriter, menetap di Hamburg, Jerman dan dapat dikontak via akun instagram priskila_wowor.

(CERITA SAHABAT) Kata dan Buku adalah Harta Karun Kita

Sahabat Ruanita pernah mendengar istilah tsundoku atau bibliomania?  Saya baru-baru ini saja mengenal istilah-istilah tersebut, tapi tenyata saya sudah lama menjadi salah seorang yang melakukan praktiknya.  Apa sih tsundoku atau bibliomania itu? 

Istilah ini ternyata mengacu pada seseorang yang lebih banyak membeli buku daripada membacanya.  Ya, salah satunya adalah saya. Meskipun sudah mencoba untuk mengurangi belanja buku, tetap saja koleksi buku saya lebih banyak dari waktu yang bisa saya luangkan untuk membacanya.

Dari situ saya sempat terpikir untuk membuat kelompok baca bareng, bahasa kerennya sih book club ya.  Selain untuk memberikan kesempatan buku-buku untuk dibaca orang lain juga, saya juga bermimpi bahwa lewat kegiatan itu saya bisa meluangkan waktu untuk semakin sering membaca dan menemukan teman untuk ngobrol tentang berbagai tema seru.

Beberapa tahun ide ini mengendap di kepala, sampai akhirnya terpikir, sepertinya harus mulai dari versi digital dulu.  Maka lahirlah akun Instagram Wortschatz Book Club (@wortschatz.bookclub) di akhir tahun 2019, yang disusul dengan kanal membaca nyaring di Youtube dengan nama yang sama.  

Mengapa namanya Wortschatz? Apalagi dicampur dengan Book Club, aduh, bahasa Jerman campur bahasa Inggris. Mana bahasa Indonesianya?

Nama ini saya pilih karena pertama, memang tujuan saya adalah sesama orang Indonesia yang tinggal di Jerman, atau orang Jerman yang tertarik akan buku dan bahasa Indonesia, sehingga mereka pasti sudah familiar dengan kata ini. 

Follow us

Alasan kedua, saya suka sekali terjemahan langsung dari kata Wortschatz.  Meskipun kata Wortschatz artinya adalah „kosakata“ dalam bahasa Indonesia, namun jika diterjemahkan mentah-mentah kata ini mengandung sebuah arti yang indah: harta karun kata-kata.  Coba bayangkan, betapa kata-kata adalah harta yang sangat berharga. 

Buku anak sendiri selalu menarik untuk saya karena saya suka sekali melihat dan membaca buku yang berwarna-warni.  Pada waktu saya mulai belajar bahasa Jerman, suami saya – yang pada saat itu bahkan belum berstatus sebagai pacar – membelikan saya sebuah buku anak berbahasa Jerman yang lucu sekali.  Sejak saat itu, saya jadi sering mencoba untuk membaca buku anak untuk menambah kosakata.  

Alasan lain mengapa saya tidak keberatan untuk membeli dan mengumpulkan buku anak adalah untuk memanjakan diri sendiri. 

Meskipun saya tumbuh di dalam keluarga dengan banyak buku dan bahan bacaan di rumah, membeli buku anak dengan kertas tebal, full color dan berhalaman sedikit bukanlah prioritas karena untuk kami termasuk mahal sekali. 

Buku anak masa kini pun isinya sangat beragam.  Tidak seperti di masa kecil saya di mana pilihan kami adalah membaca dongeng nusantara cetakan stensil hitam putih yang penuh dengan titipan pesan moral atau cerita-cerita terjemahan putri-putrian Disney.  Jadilah saya sangat menikmati berbagai buku bacaan anak yang bervariasi, seru dan juga menarik secara visual.

Sewaktu kecil orang tua saya rajin menceritakan dongeng Si Kancil dan membacakan nyaring buku, artikel surat kabar, bahkan serial komik Manusia Laba-Laba yang terbit setiap akhir pekan di koran lokal. 

Karena itulah ketika berpikir-pikir, bagaimana ya caranya „berbagi“ buku tanpa harus mengirim buku fisiknya, saya terpikir untuk melakukan aktivitas membacakan nyaring atau read aloud

Sebagai guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, saya juga merasa bahwa mendengarkan suara orang Indonesia yang membacakan kalimat-kalimat bahasa Indonesia dengan kecepatan yang terkontrol pasti juga membantu untuk memperkuat asosiasi antara tulisan dan ucapan kosakata bahasa Indonesia, melatih pendengaran sekaligus melatih pelafalan.

Saya sangat beruntung, karena saya mendapatkan kontak beberapa penerbit buku anak yang mengijinkan saya untuk membacakan buku-buku anak terbitan mereka, serta menampilkannya di kanal Youtube Wortschatz Book Club sebagai kegiatan non-profit. 

Dalam beberapa tahun terakhir ada juga semakin banyak alternatif bacaan anak berkualitas yang tersedia secara legal secara digital yang boleh digunakan dalam kegiatan literasi anak. 

Kalau kita berbicara tentang membaca, tentunya kita tak bisa lepas dari berbagai tujuan dari kegiatan membaca itu sendiri.  Selain membaca untuk bersantai, bersenang-senang atau masuk ke dunia fantasi, kita juga membaca untuk mengumpulkan informasi. 

Kita semua pasti pernah membaca buku demi menyelesaikan tugas di sekolah atau kampus, atau membaca buku manual untuk mengetahui cara mengoperasikan alat elektronik yang baru dibeli, atau membaca tabloid gosip untuk tahu berita gosip artis terbaru.  Itu semua adalah informasi yang bisa kita dapatkan dari berbagai sumber bacaan.

Untuk menghemat waktu dalam mengumpulkan informasi, ada banyak teknik membaca yang seringkali dirangkum dalam istilah speed reading.  Saya sendiri paling sering menggunakan dua teknik yang bernama scanning dan skimming

Scanning adalah sebuah teknik di mana kita membaca sekilas sebuah teks, atau membaca bagian-bagian tertentu sebuah teks, untuk memahami inti utama dari isi teks tersebut.  Sementara skimming adalah sebuah teknik di mana kita secara khusus mencari informasi tertentu dalam teks, misalnya ketika harus menjawab pertanyaan dalam ujian yang memuat bahan bacaan.  

Menurut saya, penting sekali untuk mengenalkan kegiatan membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan, sekaligus memperkaya pengetahuan.  Oleh karena itu mengambil waktu untuk benar-benar menikmati seluruh aspek dari buku dan kegiatan membaca adalah fokus dari kegiatan membaca pada usia dini. Dalam kegiatan read aloud, kita mengeksplorasi sebuah buku dari gambar sampulnya, warna-warninya, sampai jalan cerita dan rima bahasanya. 

Menanamkan prinsip bahwa kegiatan membaca adalah sesuatu yang menyenangkan ini penting karena pada saat anak mulai masuk sekolah, kegiatan membaca akan lebih banyak bertujuan untuk mengumpulkan informasi dan pelan-pelan bergeser dari „kesenangan“ menjadi „tugas“. 

Pada saat anak mulai banyak membaca di sekolah inilah pelan-pelan bisa diperkenalkan beberapa konsep dasar speed reading, misalnya seperti mengenali bahwa banyak ide utama dalam sebuah paragraf bisa ditemukan di kalimat pertama atau kalimat terakhir dari paragraf tersebut. 

Hal ini di kemudian hari akan membantu anak untuk melakukan teknik scanning atau skimming secara sederhana, meskipun belum mengenal istilahnya.  

Salah satu kelebihan utama dari kegiatan read aloud adalah mendekatkan anak dengan buku dan tulisan jauh sebelum anak bisa membaca sendiri. 

Melalui pendekatan audio dan visual, kombinasi suara orang tua atau pendamping yang membacakan teks dengan ilustrasi dan bentuk huruf-huruf yang ada di halaman buku, anak mulai dibiasakan untuk memahami bahwa teks dan rangkaian huruf di atas kertas memiliki makna.

Dalam teks yang dibacakan nyaring, anak sudah biasa mengenali elemen 5W 1 H; apa yang terjadi, siapa yang melakukannya, di mana kejadiannya, kapan kejadiannya, mengapa terjadi, dan bagaimana bisa terjadi.  Bukankah ini elemen-elemen umum dalam hampir semua cerita dan teks informatif?

Karena itu skill atau kemampuan yang kita dapatkan dari kegiatan read aloud menjadi modal kita untuk memahami teks tertulis ketika kita sudah bisa membaca sendiri, sebuah kelebihan yang juga direkam dalam berbagai penelitian yang dirangkum oleh Jim Trelease dalam bukunya The Read-Aloud Handbook (7th Edition, Penguin Books, New York, 2013).

Dalam kegiatan Wortschatz Book Club sendiri kami sering bertemu dengan banyak keluarga yang sudah secara rutin melakukan kegiatan read aloud di rumah. 

Ada juga yang mengatakan bahwa mereka mempelajari teknik read aloud dari salah satu workshop singkat yang diberikan oleh Wortschatz Book Club dalam rangka Hari Anak Nasional 2021 dan sudah berhasil memraktikkannya di dalam keluarga. 

Senang sekali mendengar sharing seperti ini, karena saya optimis bahwa anak-anak yang sudah biasa menikmati kegiatan membaca nyaring bersama keluarga akan punya kesan positif terhadap kegiatan membaca, dan semoga akan terus membaca sampai mereka dewasa.

Tentu buku cetak konvensional memiliki saingan berat di dunia keseharian.  Perkembangan teknologi bisa menjadi peluang sekaligus tantangan dalam dunia buku. 

Di satu sisi kemajuan teknologi memberikan semakin banyak kesempatan untuk membaca dalam berbagai format dan kesempatan.  Di sisi lain, teknologi juga menciptakan banyak alternatif “hiburan“ yang lebih menarik dan serba instan jika dibandingkan dengan buku.

Saya mungkin sedikit kuno, namun saya cenderung berhati-hati dengan penggunaan AI atau kecerdasan artifisial untuk membantu membaca dan merangkum bahan bacaan.  Meskipun tidak ada salahnya mencoba berbagai teknologi terbaru untuk membantu mempermudah hidup, namun banyak hal dalam kehidupan sehari-hari, termasuk membaca, adalah skill atau kemampuan yang harus terus diasah.  

Kemampuan untuk membaca secara kritis sangatlah penting dalam kehidupan modern yang semakin lama semakin mengaburkan batas antara dunia nyata dan dunia maya. Harapannya tentu saja agar para pembaca mampu dengan cepat mengenali informasi penting di dalam tulisan yang ditemukan di dunia nyata maupun dunia maya, dan tidak sekadar terjebak hanya membaca judulnya saja, alias terkena judul click bait.  

Sejak pertengahan tahun 2023 Wortschatz Book Club juga secara rutin mengadakan kegiatan luring di kota Frankfurt am Main, saat ini fokusnya masih pada literasi anak.  Dalam beberapa kesempatan, ada juga keluarga yang menanyakan mengenai kemungkinan untuk bersama-sama belajar bahasa Indonesia bersama anak-anak keturunan Indonesia. 

Mungkin akan segera terwujud kegiatan ini? Mungkin juga suatu saat di masa depan meluas pada kegiatan literasi untuk seluruh anggota keluarga, bukan anak-anak saja? Mohon dukungan dan bantuan doanya ya, Sahabat Ruanita.  Dan selamat membaca bersama keluarga!

Penulis: Etty Prihantini Theresia, bisa dikontak via @wortschatz.bookclub atau @ep_theresia atau Facebook Etty Prihantini.

(CERITA SAHABAT) Menemukan Harmoni Kawin Campur Indonesia – India Lewat Perjalanan Hidup di Goa, India

Setiap perjalanan hidup adalah untaian cerita unik yang penuh warna. Saya adalah Dian, seorang perempuan Indonesia yang kini menetap di Goa, India, membagikan kisah luar biasa tentang perjuangan, cinta, dan harmoni antarbudaya. 

Di balik tantangan yang dihadapi, saya menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun kehidupan baru yang lebih baik.

Hidup saya diwarnai oleh masa lalu yang kelam. Pernikahan pertama penuh dengan kekerasan rumah tangga, membuat hidup dalam ketakutan setiap hari. Namun, Tuhan punya rencana indah. 

Dalam proses melarikan diri dari penderitaan itu, saya bertemu dengan pria yang kini menjadi suami. Dengan penuh kesabaran, ia membantu saya keluar dari lingkungan penuh kekerasan.

Perjuangan terbesar saya adalah mendapatkan hak asuh kedua putra saya. Setelah melewati banyak tantangan, saya berhasil memperjuangkan kebersamaan mereka. “Bisa kembali bersama anak-anak adalah keajaiban,” itu pikiran saya.

Menikah kembali membawa saya ke Goa, kota pesisir yang terkenal akan keindahan arsitektur masa lalu dan harmoni keberagamannya. Awalnya, saya merasa canggung menghadapi budaya yang sangat berbeda dengan Indonesia. 

Namun, suami, seorang pria yang penuh pengertian, menjadi pendukung terbesar. Ia memberi kebebasan saya untuk bekerja sebagai guru TK dan mendorong saya mandiri.

Follow us

Perlahan, Goa membuka hati saya. Tradisi masyarakat lokal yang menghargai keberagaman mengajarkan saya tentang cara hidup harmonis di tengah perbedaan. Saya menemukan keindahan dalam toleransi dan kesederhanaan.

Hidup di negara asing tidaklah mudah. Saya menghadapi berbagai kendala, mulai dari perbedaan kebiasaan hingga akses transportasi yang kurang memadai dibandingkan di Indonesia.

Misalnya, kebiasaan masyarakat Goa yang bangun lebih siang menjadi tantangan bagi saya yang terbiasa bangun pagi untuk menyiapkan sarapan.

Namun, dari setiap tantangan, saya belajar untuk beradaptasi dan menghargai hal-hal sederhana. Bagi saya, hidup di Goa adalah proses belajar yang terus-menerus.

Di tengah kehidupan baru, saya berkomitmen untuk menjaga warisan budaya Indonesia. Saya mengajarkan anak-anak untuk selalu bersikap sopan santun khas Indonesia, menceritakan dongeng Nusantara, dan mengenalkan tradisi Indonesia. 

Bagi saya, ini cara saya memastikan mereka tidak melupakan akar budaya mereka, sehingga mereka bisa bangga menjadi anak-anak Indonesia, meskipun mereka besar di Goa, India.

Pernikahan antarbudaya memiliki tantangan tersendiri. Saya dan suami kerap menghadapi perbedaan pandangan, tetapi mereka selalu mengutamakan komunikasi. Menurut saya, kunci pernikahan kami adalah saling menghormati dan memahami.

Pesan suami seperti, “Patience, patience, and more patience”, menjadi pegangan saya dalam menjalani hari-hari sulit.

Dengan kesabaran, kami mampu menciptakan hubungan yang harmonis meski berasal dari latar belakang budaya yang berbeda.

Di Goa, saya menemukan dukungan dari komunitas gereja setempat. Mereka menjadi keluarga kedua yang selalu memberikan bantuan dan penguatan.

Kehadiran komunitas ini membuat saya merasa lebih nyaman dan diterima di lingkungan baru saya.

Teruntuk perempuan Indonesia yang mempertimbangkan pernikahan antarbudaya, saya berbagi pesan inspiratif: “Jadilah kuat. Pernikahan antarbudaya membutuhkan kesabaran, komitmen, dan pengertian yang mendalam. Pelajari tradisi pasangan Anda, karena itu adalah langkah awal untuk menciptakan hubungan yang harmonis.”

Melalui perjalanan panjang, saya kini memiliki impian sederhana: membesarkan anak-anak dengan nilai-nilai budaya Indonesia dan India.

Dengan komunikasi dan saling menghormati, saya yakin keluarga kami akan terus kuat dan penuh cinta.

Cerita tentang keteguhan hati dan cinta yang mengatasi perbedaan ini menunjukkan bahwa harmoni dapat tercapai di mana pun, selama ada rasa saling menghargai.

Penulis: Dianita Pramesti, relawan Ruanita Indoenesia, yang dapat dikontak via akun Instagram pramesti.dianita dan sedang tinggal di Goa, India.

(CERITA SAHABAT) Kanker, Cinta, dan Harapan Baru di Swedia

Halo, sahabat Ruanita! Saya Rizki, atau biasa dipanggil Kiki. Saya pindah ke Swedia sejak empat tahun lalu, terhitung sejak September ini. Sekarang saya bekerja full time di Swedia. Saya senang bisa berpartisipasi dalam program cerita sahabat yang dikelola Ruanita Indonesia, apalagi tema ini adalah tentang hari kepedulian kanker sedunia. Saya adalah caregiver dari suami yang meninggal beberapa tahun lalu, karena terminal kanker liver.

Saat saya pertama kali menginjakkan kaki di Swedia, saya tak pernah membayangkan perjalanan hidup saya akan penuh dengan cobaan besar. Suami, yang saya kenal sebagai sosok pekerja keras dan penuh kasih, adalah segalanya bagi saya. Namun, hidup memiliki cara tersendiri untuk menguji kita.

Musim panas 2021 menjadi awal dari perubahan besar dalam hidup saya. Suami saya yang selama ini tampak sehat, mulai sering diare. Awalnya, kami menganggapnya masalah biasa, mungkin efek makanan atau intoleransi laktosa. Namun, diare itu tidak kunjung sembuh, ditambah demam tinggi setiap malam. Di tengah kebingungan, kami bolak-balik ke dokter, menjalani berbagai tes hingga akhirnya ditemukan tumor di livernya.

Diagnosis awal menyebutkan tumor itu tidak ganas, dan rencana operasi segera disusun. Harapan kami tumbuh kembali. Tapi, tiga bulan kemudian, hasil tes lanjutan memberi kami pukulan yang tidak pernah kami duga: kanker liver stadium terminal. Dokter memperkirakan usianya tinggal enam bulan.

Diawali dengan diare yang terus-menerus hingga demam tinggi setiap malam, kami mengira ini hanya masalah pencernaan biasa. Namun, rangkaian kunjungan ke rumah sakit mengungkap kenyataan pahit: ada tumor di livernya. Hasil awal menyatakan tumor itu tidak ganas, tapi kondisinya terus memburuk. Setelah tiga bulan, diagnosis akhir menyatakan kanker hati stadium terminal. Dokter memprediksi usianya hanya tersisa enam bulan.

Saya hancur mendengar kabar itu. Tetapi dia—suami saya—memilih untuk tegar. Di tengah air mata saya yang tak terbendung, dia menggenggam tangan saya, memberi ketenangan yang rasanya jauh dari jangkauan saya saat itu.

Menjadi caregiver bukanlah sesuatu yang pernah saya bayangkan, apalagi dalam kondisi berada di negara asing. Setiap hari, saya belajar menjadi perawat darurat—mempersiapkan obat, memberi suntikan, hingga merawatnya di rumah. Melihat tubuhnya melemah, bekas suntikan yang membiru di perutnya, rasanya hati saya pecah. Tapi saya tahu, saya harus kuat. Saya harus ada di sana untuknya.

Sistem kesehatan di Swedia sangat membantu, memberikan kami akses langsung ke dokter dan perawat khusus. Tapi, sebagai seorang pendatang, kendala bahasa dan budaya sering membuat saya merasa terasing. Dia selalu berusaha menguatkanku, bahkan meminta istri sahabatnya mengajak saya keluar rumah untuk sekadar menghirup udara segar. “Kamu perlu keluar, meskipun hanya sebentar,” katanya.

Momen paling sulit dalam hidup saya adalah saat-saat terakhirnya. Saya  ingat malam itu, ketika suhu tubuhnya tak kunjung turun meskipun sudah diberi obat. Saya memeluknya erat, berdoa tanpa henti, berharap ada mukjizat. Dalam detik-detik terakhir, dia menggenggam tanganku dan berbisik, “Aku mencintaimu. Semua akan baik-baik saja.” Saya tahu itu caranya berpamitan, memberi saya kekuatan untuk melanjutkan hidup.


Saya mendapati diri saya berada di medan yang tidak pernah saya siapkan. Merawat seseorang yang Anda cintai saat ia perlahan melemah adalah perjuangan fisik dan mental yang tiada duanya. Setiap hari saya belajar melakukan banyak hal: memberikan suntikan, menyiapkan makanan, hingga memastikan ia nyaman di tengah rasa sakitnya. Semua itu dilakukan tanpa memikirkan diri sendiri.

Sulit berada di negara asing tanpa dukungan yang saya butuhkan. Bahasa menjadi kendala, dan saya sering merasa sendirian. Namun, dia selalu menemukan cara untuk mendukung saya, bahkan dalam kondisi tubuhnya yang semakin lemah. “Pergilah keluar sebentar, ngopi dengan istri sahabatku,” katanya. Meski berat meninggalkannya, saya tahu dia ingin saya tetap kuat.

Dari perjalanan ini, saya belajar banyak hal. Saya belajar untuk menghargai setiap momen, sekecil apa pun. Saya belajar untuk mencintai tanpa syarat dan berdoa tanpa henti. Kehilangan memang menyakitkan, tapi cinta yang kami miliki membuat segalanya lebih ringan.

Tiga minggu setelah diagnosis terminal, dia meninggal dunia. Momen itu begitu cepat, tapi sekaligus melegakan karena saya tahu ia tak lagi merasakan sakit. Sebelum ia pergi, ia menggenggam tangan saya erat dan berbisik, “I love you. Everything will be okay.”

Dalam kehilangan, saya belajar banyak tentang kekuatan cinta dan doa. Saya belajar untuk selalu menghargai waktu bersama orang-orang yang kita sayangi, sekecil apa pun momennya. Perjuangan kami melawan kanker adalah pengingat bahwa setiap hari adalah anugerah.

Pesan untuk Hari Kanker Sedunia

Saya ingin berbagi pesan kepada siapa pun yang menghadapi perjalanan ini: jangan pernah berhenti berdoa, berharap, dan mencintai. Sebagai caregiver, kita bisa menjadi pilar kekuatan bagi orang yang kita cintai. Jangan ragu untuk meminta bantuan dari keluarga atau teman, dan luangkan waktu untuk menjaga kesehatan mental Anda sendiri.

Untuk Sahabat Ruanita, mari kita tunjukkan kepedulian kepada mereka yang berjuang melawan kanker, baik pasien maupun caregiver. Terkadang, dukungan kecil seperti mendengarkan atau memberi pelukan hangat bisa membuat perbedaan besar.

Hari Kanker Sedunia bukan hanya tentang kesadaran akan penyakit ini, tetapi juga tentang cinta, keteguhan, dan harapan. Semoga cerita saya dapat menjadi pelita kecil bagi mereka yang sedang berjalan di jalan penuh duri ini.

Penulis: Kiky, relawan Ruanita Indonesia di Swedia yang dapat dikontak via akun instagram: little_monkey2016.

(CERITA SAHABAT) Analisis Konsumsi Politik Generasi Z dalam Perspektif Herd Mentality

Di tengah gempuran media sosial, anak muda kerap membutuhkan validasi dari  pengguna media sosial lainnya untuk meningkatkan value diri. Fenomena ini diikuti dengan  maraknya fomo (fear of missing out) yang menyebabkan hadirnya trend-trend baru untuk  menarik perhatian anak-anak muda, pada Gen Z khususnya. Dengan intensitas interaksi  digital yang tinggi, generasi Z banyak hidup dan mengelola media sosial. Hal ini kemudian  membuat istilah herd mentality mulai menguap kembali ke media massa. 

Herd mentality merupakan sebuah fenomena di mana adanya kecenderungan  seseorang untuk menyesuaikan diri dengan kelompok sosial di sekitarnya, agar mudah  diterima. Fenomena ini semakin intensif beberapa dekade belakang, terlebih dalam studi ilmu  sosial seperti psikologi, sosiologi, serta ekonomi.

Herd mentality menjadi relevan  pembahasannya dalam bidang ilmu pengetahuan karena menyangkut pola hidup, perilaku,  serta persepsi atau pendapat dari diri sendiri. Hal ini dapat terjadi disebabkan oleh tekanan  sosial, pengaruh ketimpangan status sosial, serta pengaruh algoritma di sosial media. Dalam  tulisan ini, saya akan mencoba menuliskan terkait skema gen z dalam persepsi diri untuk  mengupas pusaran herd mentality sebagai salah satu hal yang menggerakkan dinamika trend  di media sosial. 

Gen Z sebagai salah satu generasi yang besar pengaruhnya dan tengah berada di  masa-masa produktif, banyak mengelola kegiatannya di media sosial. Seiring dengan  perkembangan zaman, penggunaan media sosial semakin intensif.

Seperti pada agenda politik  terkait ‘Peringatan Darurat’ yang dimulai dari X di tanggal 21 Agustus 2024, saya juga turut  berpartisipasi dalam kampanye tersebut. Sebelum ikut serta, saya mencoba mencari tahu  konteks dan tujuannya. Selain itu, penggunaan icon peringatan darurat juga mulai gencar  disuarakan di Instagram dan platform-platform lainnya. 

Di satu sisi, popularitas dinaikkannya isu ‘Peringatan Darurat” di media massa  membawa konsekuensi yang kurang menyenangkan, seperti serangan dan kritikan. Hal  tersebut banyak dialami oleh mutual-an saya lainnya.

Di sisi lain, hal ini juga menunjukkan  bahwa isu politik sangat menarik perhatian publik serta mampu menggerakkan massa dalam  jumlah yang besar di seluruh penjuru negeri.

Meskipun terdapat kekhawatiran yang saya rasakan, namun semangat untuk mengedukasi dan berpartisipasi dalam demokrasi mendorong  saya untuk tetap aktif bersuara di berbagai platform media sosial yang saya miliki. Di luar dari konteks politik, perilaku herd mentality sering terjadi dalam kehidupan  sehari-hari, termasuk dalam lingkungan akademik.

Misalnya, dalam diskusi kelas, banyak  mahasiswa yang cenderung mengikuti pendapat teman sekelas atau dosen, tanpa mengalami  proses berpikir kritis. Hal ini menunjukkan kurangnya sikap skeptis dan keinginan untuk  mencari informasi lebih jauh lagi.

Dengan demikian, banyak bahan kajian dan obrolan yang  semestinya diutarakan di dalam kelas, menjadi hanya tersimpan di lingkup kelompok diskusi  yang lebih kecil, atau lebih parahnya lagi hanya tersimpan di kepala masing-masing. 

Perilaku herd mentality yang juga melingkupi anak muda, terkhusus gen z dalam  melakukan pembelian item tertentu. Salah satu contohnya adalah pembelian merchandise  politik yang marak terjadi di kalangan gen Z. Melalui media sosial, gen z mudah terdapat  berbagai macam konten politik, mulai dari informasi aksi, opini, hingga promosi partai atau  kelompok tertentu.

Akibatnya, sering kali banyak yang tidak membatasi diri dan merasa  skeptic, sehingga mudah terpapar informasi apa saja di media sosial. Hal ini juga  berhubungan dengan trend-trend tertentu untuk menaikkan frekuensi minat gen z terhadap  suatu individu yang mewakili partai tertentu. 

Dengan demikian, hal-hal yang tengah banyak diikuti oleh sebagian kelompok  masyarakat di media sosial, tidak harus turut kita ikuti juga. Dalam hal ini, ketika individu  memiliki prinsip diri yang kuat, hal-hal diluar kebutuhan diri akan dapat dikontrol dengan  mudah. Seperti skema herd mentality yang banyak menjangkit anak-anak muda seperti ini,  dapat dengan mudah menggoyahkan kenyamanan diri dan keamanan diri sendiri.

Perilaku  herd mentality yang perlu di filter dapat dilakukan dengan cara membuat kelompok dengan  prinsip hidup yang sama, agar terhindar dari perilaku konsumtif dan membahayakan, serta  dapat menahan diri untuk tidak turut menyebarkan informasi yang tidak dapat dipahami latar  belakangnya. Hal ini mencegah terjadinya penyebaran misinformasi di kalangan yang sama. 

Ketika mengkaji mengenai herd mentality, kerap hal ini disangkut pautkan dengan  konformitas, padahal kedua hal tersebut cukup berbeda. Konformitas merupakan  kecenderungan individu untuk menyesuaikan diri dengan norma sosial dalam suatu kelompok,  hal seperti ini biasanya terjadi ketika kita pindah ke lingkungan yang baru.

Sedangkan herd  mentality biasanya mengarah ke tindakan tanpa berpikir kritis yang kerap terjadi karena  pengaruh tekanan sosial. Hal ini biasanya terjadi ketika ada informasi yang baru diterima dan  tidak ditelaah latar belakangnya. Sebagai individu yang tinggal di berbagai macam latar  belakang budaya yang berbeda, tentu saja perilaku herd mentality dalam beberapa aspek kerap terjadi kepada saya, seperti ketika adanya isu politik yang mencuat tanpa kajian terlebih  dahulu.

Perilaku ini dapat menimbulkan kekacauan publik apabila tidak ditelaah lebih dalam. Selain itu, herd mentality lebih cenderung terpengaruh kepada masyarakat kolektif,  hal ini diakibatkan lekatnya budaya yang dirawat secara turun menurun. 

Masyarakat kolektif  lebih banyak menekan kelompok tertentu untuk mengikuti aturan budaya yang ada. Seperti  masih banyaknya yang beranggapan bahwa perempuan dalam ranah politik merupakan aib  bagi sebagian masyarakat adat. Padahal itu merupakan bentuk keterwakilannya  suara politik perempuan di lingkup yang lebih luas.

Pendidikan politik juga belum bisa  sepenuhnya mewadahi aspirasi perempuan, terlebih pada kelompok kolektif. Hal yang patut dipelajari dalam menghadapi fenomena herd mentality adalah  pembiasaan diri dengan mengedepankan prinsip hidup dan tingginya sikap skeptisme dalam  berbagai macam hal. Sikap tersebut dapat membangun prinsip hidup yang lebih kuat daripada  tidak sama sekali.

Hal paling mudah yang dapat dilakukan guna meningkatkan kesadaran diri  adalah, dengan membaca kembali informasi-informasi yang beredar di media massa. Menyaringnya dengan berpikir kritis dan kembali mendiskusikannya dengan orang-orang  terdekat. 

Tentang penulis: Nila merupakan mahasiswa yang menempuh pendidikan S1 di jurusan ilmu komunikasi. Memiliki minat besar dalam bidang media dan tulisan, hal tersebut tertuang dalam tulisan tulisannya di laman pribadinya. Informasi tulisan medium.com/@morisdeala dan instagram.com/@nila.docx

(CERITA SAHABAT) Dua Hati yang Berjarak, tetapi Tetap Satu

”Distance does not matter if you really love the person. What matters most is your honesty & trust for that relationship to work out.” – unknown

Jatuh cinta itu memang berjuta rasanya. Inginnya setiap detik bersama atau berdekatan dengan yang tercinta. Namun, apa daya, hidup itu tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Ada kalanya, kita harus berpisah sejenak dengan suami dalam hitungan bulan atau tahun.

Keputusan berpisah sejenak itu disebabkan oleh banyak alasan, seperti faktor domisili asal suami yang berbeda suku bangsa negara atau pekerjaan yang membuatnya harus merantau ke luar negeri. Dengan demikian, konsep long distance relationship marriage (LDMR) menjadi pilihan terbaik dengan semua konsekuensinya.

Lalu, apa sih tantangan terberat yang dialami oleh para pelaku LDMR, khususnya yang berbeda negara domisili itu?

Semua pelaku long distance relationship marriage (LDR) mengakui faktor jarak antar negara dan perbedaan zona waktu yang ekstrim menjadi tantangan terberat dalam membangun komunikasi yang sehat. Mengapa? Karena komunikasi adalah kunci sukses dari sebuah hubungan cinta yang sehat. Nah, di sinilah diperlukan kedewasaan dalam pola pikir dan sikap para pelakunya, termasuk, harus ada kesepakatan bersama agar komunikasi dua arah tetap terjalin baik.

Kecanggihan teknologi telekomunikasi dewasa ini memberikan banyak kemudahan dalam berkomunikasi dengan pasangan via teks (short message service/sms), direct message (DM) via akun sosial media (Facebook, Instagram atau Whatssapp) atau videocall message via Whatsapp, Zoom, Google Meet atau FaceTime. Semua bentuk komunikasi itu bisa dilakukan realtime.

Namun, kecanggihan komunikasi online-virtual itu tetap tidak bisa menggantikan pertemuan fisik. Ada banyak hal yang membuat sepasang kekasih ingin selalu berdekatan secara fisik. Hal yang sulit diungkapkan dengan kata-kata namun bisa dirasakan dan dimengerti oleh pasangan yang sedang memiliki love-relationship

Pentingnya komunikasi yang sehat dalam menjalani long distance marriage relationship (LDR) itu diakui oleh Ria Hakefjäll (36 tahun). Sebelum pindah dan stay for good di Swedia, Ria sempat menjalani hubungan long distance marriage relationship (LDMR) hampir setahun lamanya dengan suami tercinta yang berkebangsaan Swedia.

Hal itu disebabkan karena Ria harus menyelesaikan berbagai urusan terkait kepindahannya ke Swedia. Sementara, suami harus segera balik pulang karena pekerjaan setelah menikah di Indonesia. Tentu tidak mudah buat Ria dan suami menjalankan kehidupan rumah tangga yang terpisah jarak ribuan kilometer, Indonesia-Swedia.

Selain itu, faktor perbedaan waktu antara Indonesia dengan Swedia yang ekstrim juga menjadi tantangan tersendiri. Waktu Indonesia itu 5 atau 6 jam lebih awal daripada Swedia. Bayangkan saja, saat Ria memulai aktivitas pagi hari, suami tercinta masih terlelap dalam tidur malamnya. Begitupula sebaliknya. Rasanya ingin berbagi cerita tentang aktivitas hari itu, usai pulang kerja sore hari, namun isteri tercinta sudah siap beranjak ke peraduan. Lalu, bagaimana Ria dan suami menyikapinya?

Ria dan suami sepakat menentukan waktu khusus pada jam tertentu setiap harinya dan pada akhir pekan agar komunikasi tetap terjalin baik. Pasangan pecinta nature-hiking ini menyebut momen khusus itu, video-call dating. ”Via video-call dating ini, saatnya kami berdua bisa berbicara tentang apa saja dengan lebih tenang.

Kami dapat lebih fokus membahas tentang harapan, rencana kehidupan dan perasaan satu sama lain. Intinya, momen video-call dating ini membuat kami mampu menjaga keintiman emosional,” jelas Ria. Lebih lanjut Ria menambahkan, momen video-call dating ini juga membantu mereka untuk meminimalkan rasa cemburu dan buruk sangka terhadap pasangan.

”Saat itulah, kami bisa bicara panjang lebar tentang apa saja. Jika ada permasalahan di antara kami, harus selesai pada momen video-call dating itu,” tegasnya. 

Hal yang sama dilakukan oleh Sadya Nur Anisa. Wanita berusia 28 tahun berprofesi dokter umum itu harus berpisah setahun lamanya dengan suami yang melanjutkan kuliah S2 di Stockholm. Bahkan saat itu, sudah hadir buah cinta mereka yang masih berusia balita.

Buat Sadya, tantangan terberat menjalani hubungan pernikahan jarak jauh itu ketika anak sakit. Tentu kehadiran suami secara fisik saat anak sakit itu sangat berarti buatnya dan terasa berbeda dibandingkan percakapan via video-call untuk menjelaskan kondisi anak.

”Ada hal-hal yang hanya bisa diceritakan ke pasangan. Untuk itu, kami berkompromi menentukan waktu yang sekiranya bisa dipakai untuk melakukan video-call. Bercakap-cakap di waktu khusus itu saatnya kami menceritakan keseharian atau keluh kesah di hari itu kepada pasangan,” jelas Sadya.

Ya! Adanya waktu khusus untuk bercakap-cakap dari hati ke hati pada jam tertentu setiap harinya dan akhir pekan itu mampu membangun keintiman emosional meskipun tetap berkabar setiap harinya, seperti mengucapkan Selamat Pagi/Siang/Malam, bertanya aktivitas hari itu atau Selamat Beristirahat via teks sms atau WhatsApp.

Buat Ria dan Sadya, berkirim kabar setiap hari itu sangat penting dalam hubungan cinta jarak jauh. ”Bagi kami, berkirim kabar itu terlihat remeh dan kecil, namun “wajib” dalam hubungan kami,” tegas Ria.

Lalu, Sadya menyarankan untuk tetap merayakan momen-momen spesial seperti ulang tahun pasangan atau anniversary meskipun hal itu dilakukan via video-call

Upaya saling berkirim kabar diakui oleh Ria dan Sadya juga sebagai cara membangun dan memertahankan rasa saling percaya dalam hubungan cinta jarak jauh, termasuk, menjembatani perbedaan budaya antar dua negara seperti yang dialami oleh Ria dan suami.

”Buat kami, komunikasi rutin sepanjang hubungan jarak jauh kami, bahkan sampai sekarang itu sangat membantu kami membangun rasa saling percaya dan pengertian serta mengenal pasangan semakin dalam,” jelas Ria.  

Untuk menjembatani perbedaan budaya, Ria memulai belajar bahasa Swedia, bahasa ibu suami tercinta. Begitupun sebaliknya. Buat mereka, kemauan belajar untuk memahami dan bercakap-cakap dalam bahasa ibu pasangan juga kunci utama membangun dan menjaga harmonisasi hubungan cinta meskipun, mereka berdua lebih banyak menggunakan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi utama.

”Bahasa Swedia juga membantu saya untuk memahami lebih baik budaya negara suami. Hal yang sama dirasakan saat suami belajar bahasa Indonesia. Bahasa ibu itu pintu masuk memahami dan menjembatani perbedaan budaya”, tambah Ria. 

Sementara itu, Sadya dan suami tidak memiliki kendala bahasa dalam menjalani hubungan pernikahan jarak jauh. Mereka berdua berasal dari negara yang sama, yakni Indonesia. Namun, hubungan jarak jauh telah memengaruhi pola pikir dan cara pandang wanita pecinta warna merah muda itu. 

Kehidupan di Swedia yang semuanya serba tepat waktu, terstruktur dan terencana dengan sistematis dan terukur membuat siapapun di Swedia lebih menghargai waktu, baik waktu untuk diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, sedikit banyak kehidupan dan kebiasaan di Swedia juga memengaruhi dan mewarnai karakter suami Sadya.

Artinya, hal itu juga memengaruhi cara bersikap dan gaya berkomunikasi suami tercinta. ”Jadinya, saya menjadi lebih bisa menghargai waktu. Saya akui waktu di Indonesia terkesan lebih fleksibel dan terbiasa spontan. Ibarat kata, mau telepon kapan saja bisa dan orang yang ditelepon pun cenderung terbuka dan santai jika mendadak dihubungi mendadak. Berbeda dengan di Swedia.

Mau telepon saja harus bikin janji dulu, tidak bisa spontan. Kaget juga di awal-awal hubungan. Karena sifat hubungan ini kan pakai perasaan. Bukan hubungan profesional atau pekerjaan. Inginnya kan kapan saja bisa bicara sama suami,” urai Sadya mengenang masa awal komunikasi hubungan jarak jauh dengan suami. 

Saat ini, Ria Hakefjäll dan Sadya Nur Anisa telah menetap di Swedia. Mereka sudah hidup bersama dengan suami tercinta masing-masing. Hubungan rumah tangga jarak jauh menjadi kenangan manis. Long distance marriage relationship (LDMR) telah membuat mereka menjadi individu yang lebih mandiri, logis, tangguh, bijaksana dan pengertian dalam berpikir, bersikap dan mengambil keputusan yang terkait urusan pribadi maupun rumah tangga.

”Karena ada hal-hal urusan domestik rumah tangga, misalnya anak sakit atau urusan rumah yang butuh keputusan cepat saat itu juga. Sementara kami ada perbedaan waktu yang ekstrim. Jadinya, terkesan tidak ijin secara lisan biarpun saya juga mengabarkan via teks. Di sinilah, sebenarnya kami telah belajar membangun rasa percaya dan menghormati keputusan yang diambil pasangan,” jelas Sadya. 

Selain itu, mereka juga selalu berusaha up-to-date dengan kemajuan teknologi telekomunikasi dan terampil menggunakan aplikasi sosial media terkini yang memudahkan mereka berkomunikasi dengan pasangan. ”Selalu update dengan aplikasi komunikasi via sosial media terkini juga tetap saya lakukan agar bisa menjaga hubungan jarak jauh dengan keluarga di tanah air,” tambah Ria. 

Tampaknya, kalimat bijak – ”Aku ada di dua tempat, di sini dan di mana kamu berada,” karya Margaret Atwood ini dapat menggambarkan hubungan cinta jarak jauh. Secara fisik memang terpisah, tetapi dua hati yang terpisah oleh jarak tetap menyatu. Namun, untuk membuat dan menjaga agar dua hati tetap menyatu itu membutuhkan kerjasama yang baik para pelaku LDMR. 

Ria dan Sadya sekali lagi mengakui kalau LDMR itu tidak mudah. Mereka berdua menegaskan komunikasi terbuka yang dua arah dan saling pengertian itu kunci utama kalau mau sukses menjalani LDMR. ”Dan, tetap berpikir positif.

Jangan mudah terhasut oleh pikiran negatif sendiri tentang pasangan. Terus, selalu sampaikan kekesalan dan kegusaran secara terbuka. Merajuk atau silent-treament pasangan tidak menyelesaikan persoalan. Yang ada semakin bikin runyam. Usahakan bahas dan selesaikan persoalan saat itu juga,” tegas Ria. 

Kesimpulan seusai menyimak uraian Ria Hakefjäll dan Sadya Nur Anisa tentang pengalaman long distance marriage relationship (LDMR) itu, komunikasi terbuka dua arah dan saling menjaga kepercayaan itu diyakini sebagai modal utama membangun hubungan cinta yang sehat.

”Bahkan, komunikasi terbuka dan saling jaga kepercayaan itu tips terbaik kalau mau hubungan suami isteri langgeng dan rumah tangga tentram, baik saat berjauhan atau sudah seatap yang sama,” pungkas Sadya. 

Penulis: Tutut Handayani, freelance jurnalis di Indonesia yang kini tinggal di Stockholm Swedia, kontributor cerita sahabat di http://www.ruanita.com, dan dapat dikontak Instagram kabarkoe.

(CERITA SAHABAT) Ada Banyak Alasan Memilih Menjadi Vegan

Halo, sahabat RUANITA. Perkenalkan nama saya Rita, yang sekarang tinggal di Hamburg, Jerman. Saya sudah tinggal di Jerman selama lebih dari 16 tahun. Sehari-hari, saya bekerja sebagai Florist. Saya senang membicarakan seputar nutrisi makanan dan gaya hidup, seperti tentang tema vegan, yang sekarang sedang menjadi trend tersendiri di dunia. 

Berbicara tentang gaya hidup vegan dan vegetarian, bisa jadi tak banyak orang Indonesia paham tentang kedua istilah tersebut atau membedakannya. Amat sangat disayangkan bahwa masih banyak yang mengira bahwa vegan itu Lifestyle miskin.

Mereka yang memilih menjadi vegan atau vegetarian masih dibilang miskin, terutama di Indonesia.  Banyak orang Indonesia yang awam berpikir bahwa orang tidak mampu membeli daging yang harganya begitu mahal, sehingga mereka menggantinya dengan tempe atau tahu. Menurut saya, hal ini mungkin dipicu dengan persepsi bahwa kalau dulu di Indonesia muncul pengganti protein daging, yakni tahu dan tempe.

Pemikiran tersebut masih melekat di orang Indonesia dari generasi ke generasi. Meskipun sekarang persepsi tersebut tergantikan dan lebih baik, mengingat teknologi komunikasi yang cepat dan mudah diakses, karena tempe dan tahu ternyata baik juga untuk nutrisi tubuh.

Hal tersebut menunjukkan ada peningkatan informasi nutrisi yang membaik. Informasi lainnya juga menunjukkan betapa pentingnya, kita menjaga lingkungan terutama dari segi konsumsi makan kita juga. 

Berbicara segi konsumsi, pandangan orang awam juga tampak dari kekhawatiran bahwa menikmati makanan tanpa daging itu berarti kurang nutrisi dalam hidupnya. Padahal, hidup vegan bukan berarti kekurangan nutrisi loh. Banyak sumber protein yang bisa diperoleh dari sayuran hijau atau kacang-kacangan, mushrooms atau tahu/tempe, dll.

Lainnya, seperti produk makanan laut bisa menjadi sumber makanan juga. Misalnya, seaweed yang sekarang menjadi alternatif sumber omega dan dijadikan produk makanan yang dijual di pasaran. Atau, rumput laut sendiri sedang banyak diteliti dan dimanfaatkan di industri makanan. Ini semua dimaksudkan untuk memberikan informasi nutrisi bahwa makanan tidak hanya dari daging semata. 

Kembali ke soal pilihan hidup menjadi vegan dan vegetarian, itu semua tergantung pada alasan pribadi. Ada anggapan bahwa mereka memilih hidup vegan atau vegetarian karena ingin menurunkan berat badan. Sejauh ini, belum ada teman-teman di sekitar saya yang memilih hidup vegan karena mereka ingin turun berat badan.

Kebanyakan dari mereka yang memilih hidup vegan, lebih disebabkan oleh alasan perlakuan buruk terhadap hewan. Lebih tepatnya, mereka merupakan penyayang binatang. Menurut saya, ada juga yang berpendapat mereka memilih vegan karena produksi daging itu membutuhkan banyak air, sehingga tidak ramah lingkungan.  

Lalu, bagaimana dengan masyarakat Indonesia? apakah gaya hidup vegan dan vegetarian juga dipahami dengan baik oleh masyarakat Indonesia? Menurut saya, belum banyak masyarakat luas di Indonesia memahami vegan dan vegetarian. Kalau pun mereka paham soal vegan dan vegetarian, saya pikir pengetahuan tentang vegan dan vegetarian masih minim dan belum merata.

Saya pikir orang-orang di Indonesia perlu lebih banyak informasi dan edukasi soal nutrisi sehat, tidak melulu soal daging saja. Masyarakat perlu diperkenalkan tentang sumber makanan alternatif, tidak hanya beras saja tetapi ada banyak pilihan makanan pengganti beras saja. 

Lainnya, kita bisa juga beralih untuk memanfaatkan pangan lokal dengan mulai menanam kebutuhan pangan keluarga di perkarangan rumah, misalnya cabai, tomat, dan lainnya seperti orang-orang di Jerman.

Dengan begitu, masyarakat lebih banyak mengonsumsi makanan yang sehat bernutrisi dari kebun sendiri, yang mengedukasi anak-anak tentang pentingnya makan sayur misalnya. Bukankah aneka warna makanan dengan sayuran dapat memikat selera makan?

Sebenarnya, di Indonesia banyak juga masyarakat yang tidak mengkonsumsi daging. Namun, alasan mereka tidak makan daging lebih disebabkan kepada ketidaksanggupan mereka membeli daging. Harga daging itu mahal sekali di pasaran Indonesia. Kesadaran orang di Indonesia untuk tidak makan daging, kebanyakan bukan karena peduli lingkungan.

Contohnya, kerabat terdekat saya di Indonesia yakni nenek dan sepupu saya. Mereka benar-benar vegan. Saya pun bertanya, apa alasan yang membuat mereka memilih hidup vegan.  Mereka pun menjawab bahwa mereka merasa trauma dengan bau amis dari darah hewan. Selain itu, mereka juga takut akan hewan.

Di sisi lain, mereka berdua tidak menyadari bahwa pilihan hidup vegan sekarang sedang menjadi trend gaya hidup di dunia sebagai akibat kesadaran akan promosi isu lingkungan hidup dan pengurangan polusi.

Hal menarik lainnya adalah ketika kita berbicara soal vegan dan vegetarian, kita harus berhadapan dengan isu praktik hidup yang sulit. Padahal, memilih hidup makan vegan dan vegetarian itu tidak sulit loh. Di Indonesia, konsumsi daging tidak seperti di Jerman.

Kita juga bisa memanfaatkan makanan asal Indonesia yang sudah mendunia, seperti tahu dan tempe misalnya. Kita punya makanan sejenis salad, mulai dari gado-gado, lotek, ketoprak, asinan, hingga rujak, dan lainnya yang bisa dinikmati tanpa konsumsi daging sama sekali. Kita punya lalapan dan aneka tumisan yang begitu nikmat dengan aneka rempah-rempah. 

Di Jerman, tempat tinggal saya sekarang, mereka telah membuat klasifikasi untuk kelompok makanan vegan dan vegetarian. Kita juga bisa dengan mudah menemukan tahu di setiap supermarket di Jerman. Produk makanan vegan tidak hanya ditemukan di supermarket khusus, tetapi sekarang tersedia hampir di setiap supermarket. 

Di Indonesia, justru sebenarnya jauh lebih mudah karena kita dikenal sebagai negara agraris yang punya banyak sayuran yang melimpah ruah. Sayuran di Indonesia bisa tumbuh dengan mudah setiap waktu, sementara di Jerman sayuran tentu tidak tumbuh ketika musim dingin.

Di Indonesia, kita punya sajian makanan vegan yang tidak membosankan seperti yang saya sebutkan di atas. Di Indonesia, kita bisa membeli aneka kebutuhan di pasar tradisional atau kita bisa dengan mudahnya datang ke kebun tetangga dan membelinya dengan mudah. 

Di Jerman, produk lokal seperti pasar tradisional dijajakan tidak setiap waktu. Ada yang mingguan (Wochenmarkt), atau hanya hari-hari tertentu saja. Harga pangan yang dijual di pasar produk lokal bisa empat kali lipat lebih mahal, ketimbang di supermarket biasa.

Biasanya ini disebabkan oleh perawatan sayuran dan pangan yang berbeda dari yang dijual di supermarket. Si penjual mengatakan bahwa mereka tidak menggunakan pestisida misalnya. Perawatan tanpa pestisida membutuhkan banyak waktu dan membutuhkan alternatif ramah lingkungan lain untuk membasmi hama.

Seperti ekosistem natural di alam, ulat dimakan oleh ayam. Dengan kata lain, mencari musuh alami hama lain agar mengurangi populasi hama jahat.  Kehadiran pasar lokal di Jerman juga didukung oleh masyarakat setempat untuk mendukung ekonomi lokal para petani yang telah bekerja. 

Berbicara tentang vegan, kadang ada juga anggapan bahwa itu semua perlu biaya yang tak murah. Berkaca dengan kehidupan di Jerman, menurut saya, apa pun pilihan hidup yang dipilih seperti vegan, vegetarian atau pemakan daging juga memiliki biaya konsumsi yang sama-sama mahal.

Di Jerman, harga daging tidak jauh berbeda dengan sayuran dan itu bergantung pada di mana mereka membelinya. Di Wochenmarkt atau pasar “kaget” tradisional itu harga daging terbilang lebih mahal lagi, dibandingkan di supermarket.

Daging diklasifikasikan mulai dari biasa, bio, hingga daging regional misalnya. Serupa dengan daging, membeli sayuran dan buah di pasar tradisional semacam “Wochenmarkt” di Jerman pun jauh lebih mahal. Penjualan sayuran di Jerman bergantung musim. Misalnya, kita bisa menemukan spargel atau asparagus yang dijual pada waktu tertentu saja. 

Di Indonesia, harga sayuran dan daging begitu berbeda jauh. Kemungkinan hidup vegan di Indonesia atau tanpa daging mungkin jauh lebih hemat. Apalagi kalau kita bisa berkebun sendiri, tentu jauh lebih berhemat untuk mengonsumsi tanpa daging.

Berkebun juga menjadi pilihan banyak orang-orang di Jerman. Selain lebih hemat, berkebun di Jerman juga bisa menjadi lebih sehat dan lebih terjamin kualitas pangan yang ingin dikelola. Kita bisa mulai memilih benih bibit sayuran atau buah usai musim dingin, yang semuanya begitu mudah didapat di supermarket.

Kalau tentang resep mengolah makanan vegan, saya pikir itu kembali kepada preferensi masing-masing individu. Jika kita ingin berhemat, kita bisa praktik masak sendiri di rumah. Kini tersedia berbagai kemudahan untuk mencontek resep di internet. Bila kita bisa masak sendiri di rumah, tentu kita bisa menyantapnya berkali-kali.

Memasak di rumah juga jauh lebih sehat, ketimbang membeli makanan di restoran. Di Jerman, kita perlu berpikir ulang untuk jajan atau makan di restoran. Untuk tips dari saya, kita bisa mulai dengan resep berbagai menu tempe dicampur sayuran. Jika suka sayur atau berkuah, coba memasak sayur lodeh, mie Ramen atau mie Udon. Biasanya mi tersebut sangat cocok untuk dibuat vegan. Kita bisa menggantikan menu daging dengan mushroom atau jamur sebagai alternatif daging. 

Oh ya, sebagai informasi nih kalau kalian ingin punya peluang usaha di industri makanan, sahabat Ruanita bisa mencoba industri makanan vegan. Pertama kali datang ke Jerman, gaya hidup vegan tidak sepopuler seperti sekarang loh. Kini semakin banyak orang beralih ke gaya hidup vegan karena alasan lingkungan hidup, sebagaimana minat terbesar orang-orang di Jerman.

Banyak juga restoran yang kini mengusung tema vegan dan vegetarian juga loh. Mungkin di Indonesia, industri makanan vegan dan vegetarian bisa berpotensi untuk menjadi pasar tersendiri bagi orang-orang yang memang tidak ingin mengonsumsi makanan daging. Misalnya, orang tidak mengonsumsi daging karena alasan agama, alasan kesehatan hingga alasan gaya hidup. 

Terakhir nih buat sahabat Ruanita, jangan pernah berpikir bahwa menjadi vegan atau vegetarian akan menjadi kekurangan nutrisi. Untuk berubah haluan konsumsi harian, kalian bisa perlahan-lahan mengurangi konsumsi daging sedikit demi sedikit.

Selain itu, kalian perlu juga berkonsultasi ke dokter atau ahli gizi, sebelum kalian secara total menjadi seorang vegan. Bagaimana pun kondisi tubuh setiap orang ‘kan berbeda-beda ya! Bagaimana menurut kalian semua?

Penulis: Rita, yang tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun instagram lavendula_rita.

(CERITA SAHABAT) Mulai dari Pengalaman Konselor Sebaya hingga Inisiatif Program Konselor Sebaya di Jerman

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan nama saya Alexandra Shafira. Saya biasa dipanggil Pia oleh keluarga dan teman-teman saya. Sekarang, saya tinggal di Hamburg, Jerman. Saya sudah berada di Jerman sekitar 4 tahun.

Awalnya, saya datang ke Jerman untuk mengikuti program Au Pair, yakni program pertukaran budaya yang mana saya tinggal di keluarga orang Jerman dan belajar budaya Jerman untuk periode setahun.

Saya kemudian melanjutkan pendidikan vokasional (dalam Bahasa Jerman disebut Ausbildung) di bidang Pflegefachfrau, yang dapat dijelaskan dalam Bahasa Indonesia sebagai perawat di rumah sakit.

Saat ini, saya melanjutkan pendidikan saya di HAW Hamburg, semacam University of Applied Science di Hamburg, Jerman Saya sekarang berkuliah di jurusan interdisziplinäre Gesundheitsversorgung und Management.

Selain berkuliah, saya bekerja di rumah sakit terbesar di Hamburg, Universitätsklinikum Eppendorf. Selain kuliah dan bekerja, saya menyempatkan diri untuk berkontribusi di organisasi kemasyarakatan seperti PPI Hamburg dan Ruanita Indonesia.

Berbicara tentang konselor sebaya, saya pernah menjadi salah satu peer-counselor saat saya masih duduk di bangku pertama SMA di Riau. Saya menjadi konselor sebaya selama satu periode yakni satu tahun.

Program konselor sebaya pada saat itu diberi nama, Remaja Teman Sebaya Anti Narkoba, yang diselenggarakan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Saat itu, sekolah saya menjadi mitra dari BNN untuk melaksanakan program pencegahan terhadap bahaya narkoba di kalangan pelajar.

Para konselor sebaya yang terpilih kemudian diundang untuk mendapatkan pelatihan sebagai konselor sebaya, dengan biaya ditanggung sepenuhnya oleh BNN. 

Sebagai konselor sebaya, tentunya saya memiliki pengalaman berkesan. Saya pernah menjadi konselor sebaya untuk teman dekat saya sendiri. Kesulitan yang saya hadapi sebagai konselor sebaya adalah bagaimana bisa tetap bersikap netral dan tidak menghakimi, walaupun saya tahu apa yang diceritakannya tidak sepenuhnya benar.

Namun, saya paham bahwa tugas saya bukan untuk memberikan solusi, yang bisa jadi tidak bisa dilakukan dalam hidup si pencerita masalah, melainkan menjadi social support yang mengarahkan pencerita masalah untuk tidak mengambil langkah yang menjerumuskan.

Dalam praktiknya, tugas sebagai konselor sebaya bukan tugas yang mudah. Saya perlu untuk menjadi pendengar aktif dan tidak menghakimi seperti yang disampaikan sebelumnya. 

Bagaimana pun,  kecenderungan kita ingin menggurui, menasihati, atau justru ikut serta bergosip adalah hal yang umum dan biasa terjadi ketika seseorang sedang bercerita masalahnya, apalagi saya sendiri merasa bahwa apa yang dilakukan pencerita sudah jelas-jelas salah.

Muncul pula perasaan dan keinginan untuk memotong pembicaraan dan memberikan solusi, sehingga tugas sebagai konselor sebaya adalah pengalaman yang menantang, yang paling sering saya alami.

Lalu, apa pentingnya peran konselor sebaya untuk mereka yang terbilang remaja saat itu ketimbang konselor profesional? Berbeda dengan konselor profesional, konselor sebaya menjadi bagian dari kelompok tersebut sehingga para konselor sebaya mengetahui dan terjun langsung di komunitas tersebut.

Sedangkan, konselor profesional tidak. Adanya perbedaan gaya komunikasi antara konselor sebaya dengan konselor profesional, membuat konselor sebaya lebih mudah diterima dalam komunitas tersebut. 

Adanya pola pikir yang serupa pula lah, konselor sebaya bisa memberikan dukungan yang sesuai dan dibutuhkan untuk pencerita masalah. Ditambah lagi, para pencerita yang masih remaja, lebih sulit untuk menemukan konselor profesional karena terkendala biaya yang tidak sedikit.

Selain itu, kesan yang beredar di masyarakat Indonesia yang berpendapat, bahwa orang yang menemui Psikolog atau Psikiater adalah “orang gila”. Hal ini, membuat semakin banyak remaja indonesia yang enggan menggunakan jasa profesional.

Tugas saya sebagai konselor sebaya adalah mendengarkan. Menurut saya, banyak pencerita masalah yang sebenarnya sudah tahu harus melakukan apa, tetapi mereka butuh validasi dan penguatan, agar dapat menyelesaikan permasalahannya. Oleh karena itu, konselor sebaya membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan aktif dan perhatian.

Tentunya, saya mendapat kebahagiaan tersendiri, bila saya bisa membantu orang lain. Selain itu, saya banyak belajar untuk melihat masalah dari berbagai perspektif dan kacamata yang berbeda. Saya juga sering terpukau oleh kemampuan berbagai orang untuk menganalisa situasi yang dapat membuka wawasan saya lebih baik lagi. 

Buat saya, hal terpenting dari kehadiran konselor sebagai adalah dukungan emosional ketika seseorang memiliki permasalahan.

Menurut saya, masih banyak orang yang tidak bisa mendapatkan dukungan emosional dari orang-orang terdekat mereka ketika mereka dihadapi berbagai masalah. Bagaimanapun, dukungan emosional sama pentingnya dengan dukungan fisik atau pun dukungan financial.

Berdasarkan pengalaman saya sebagai konselor sebaya tersebut, saya berpendapat bahwa perlu ada kriteria tertentu dalam memilih konselor sebaya yang baik.

Menurut saya, seorang konselor sebaya harus memiliki empati, bisa menjadi pendengar yang baik, memiliki kemampuan menganalisa dan berpikir kritis, serta kemauan untuk belajar. Menjadi konselor sebaya diperlukan kerelaan untuk membantu orang lain, sehingga pencerita masalah tidak merasa dihakimi atau dipergunjingkan dalam komunitas mereka.

Saya setuju dengan apa yang sudah dirintis Ruanita, sebagai social support system untuk orang-orang Indonesia di luar Indonesia.

Bersama Ruanita, saya merencanakan program konselor sebaya untuk kelompok orang muda Indonesia yang sedang merantau ke luar negeri, khususnya di Jerman sebagai rumah kedua saya sekarang. 

Mereka yang disebut kelompok muda adalah mereka yang memasuki usia perkembangan dewasa muda, 18-30 tahun. Saya berharap KJRI/KBRI dapat mendukung program ini dengan memfasilitasi kebutuhan pelatihan konselor sebaya yang berkelanjutan dan memperkenalkan program konselor sebaya sebagai bagian dari inisiatif warga Indonesia di luar Indonesia.

Penulis, Alexandra. Saya adalah anak rantau yang mengejar cita-cita di Jerman. Temui saya di Instagram shafira1809 untuk berbagi cerita dan pengalaman saya selama merintis karier di Jerman. 

(CERITA SAHABAT) Ayo, Dukung Orang Muda Aktif dalam Pembangunan!

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan nama pena saya adalah Devita. Saya tinggal di Jerman sejak dua tahun lalu. Saat ini, saya adalah pekerja di kota Stuttgart, Jerman. Saya senang sekali mendapatkan kesempatan untuk berbicara tentang peran orang muda dalam pembangunan.

Sebagaimana kalian tahu bahwa PBB menetapkan 12 Agustus sebagai International Youth Day. Wah, itu suatu kebanggaan tersendiri buat kita yang masih muda untuk diperhatikan dan dilibatkan dalam pembangunan bangsa dan dunia.

Melalui cerita sahabat ini, saya ingin bagikan pengetahuan dan pengalaman saya terkait tema ini. Menurut saya, orang muda sangat berperan besar dalam pembangunan karena generasi muda akan menjadi pembuat kebijakan, kemudian memimpin bangsa dan menentukan kemajuan sebuah bangsa di masa depan.  

Meskipun dalam realitanya di masyarakat, masih ada saja anggapan miring dan ketidakpercayaan kepada orang muda dalam bertugas. Bahkan mitos yang beredar di masyarakat seperti belum banyak makan asam garam, semakin memperlemah peran orang muda dan masih disangsikan keterlibatannya. Menurut saya, ini terjadi disebabkan oleh faktor kultur yang sudah tertanam kuat di masyarakat.

Ada anggapan bahwa usia mempengaruhi kualitas diri seseorang, sehingga orang muda dianggap tidak memiliki pengalaman sebanyak orang yang lebih tua. Anggapan sempit seperti ini justru membuat terbatasnya kesempatan yang diberikan kepada generasi muda. 

Hal lainnya yang saya soroti seperti generation gap. Dalam bekerja bersama dengan orang muda, terkadang timbul kesenjangan pikiran, pengalaman, keahlian, yang menghambat suatu tim kerja hanya karena generation gap yang tidak diatasi dengan baik.

Oleh karena itu, kita perlu menjembatani peran orang muda agar tidak terjadi kesenjangan sehingga menimbulkan masalah sosial dalam pembangunan. Masyarakat perlu memberikan kepercayaan seluas-luasnya untuk orang muda. Pepatah orang Jerman menyebut, “Kontrolle ist gut, Vertrauen ist besser.” Artinya, masyarakat bisa mengontrol para orang muda yang dipercayai tersebut. 

Di era seperti ini, dengan kecanggihan teknologi, kita bisa mendapatkan informasi mudah tentang sosok orang muda yang berhasil di dunia dan menjadi role model. Mereka yang dijadikan panutan ini memang pantas karena menjadi penggerak bagi generasi muda lainnya untuk berkontribusi positif dan aktif dalam pembangunan.

Kita perlu menyebarluaskan best practices seperti ini melalui platform media sosial, sehingga ini memberikan pengaruh positif pada orang muda. Cara kedua adalah membuat program mentoring dan pendampingan yang memungkinkan generasi muda terhubung dengan tokoh sukses tersebut.

Ketiga, masyarakat bisa melibatkan institusi pendidikan dan organisasi kemasyarakatan untuk memberdayakan orang muda dengan melibatkan tokoh muda berprestasi tersebut. Meskipun, ada juga orang muda yang tidak berhasil dan dipandang sebagai “sampah sosial” tetapi saya pikir banyak juga orang muda berprestasi yang siap mendukung orang muda lainnya.

follow kami

Orang muda yang masih dipandang sebelah mata dan kurang berpengalaman dapat dikalahkan dengan melakukan transfer knowledge antar orang muda sendiri, misalnya dengan mengadakan program mentoring, di mana para senior dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka kepada generasi muda.

Sementara, generasi muda  juga dapat membawa ide segar dan perspektif baru. Selain itu, kita dapat juga mengadakan pelatihan bersama yang melibatkan, baik generasi muda maupun senior dalam transfer knowledge, di mana keduanya dapat saling belajar dan melengkapi.

Selanjutnya, hal terpenting yang bisa dilakukan adalah mengakui dan mengapresiasi kontribusi dan prestasi dari semua individu tanpa memandang usia. 

Salah satu pengalaman menarik yang saya lakukan adalah berkontribusi aktif dengan menjadi sukarelawan membangun desa. Kegiatan tersebut dilakukan saat saya sedang berkuliah di Malang, Indonesia . Bersama dengan organisasi dari universitas, pada saat itu, kami  melakukan program volunteer untuk membangun melalui program city branding.

Hal yang kami lakukan saat itu adalah mengajarkan pelajaran dasar seperti berhitung, membaca untuk anak-anak. Kami juga ikut aktif dalam membersihkan lingkungan desa dan menganalisis model city branding yang tepat bagi desa tersebut. Kontribusi yang kami lakukan lainnya, yakni membuat web desa, sehingga potensi yang dimiliki oleh-oleh dari kampung tersebut dapat tersebar luas. 

Melalui website tersebut, kita dapat menyebarkan informasi terkait usaha yang dimiliki oleh warga desa seperti umkm ataupun potensi wisata alam yang dapat menjadi  tujuan wisata bagi turis untuk berkunjung ke kampung tersebut. Ini diharapkan menjadi pembangunan khususnya pembangunan desa dapat terus bergerak maju.

Menurut saya, indikatornya dapat diukur melalui beberapa hal, seperti: tingkat partisipasi pemuda dalam politik dan sosial, tingkat pendidikan dan keterampilan pemuda, kemudahan akses bagi generasi muda terhadap pekerjaan dan peluang ekonomi, serta tingkat keterlibatan pemuda dalam pembangunan.

Pemerintah dapat mendorong partisipasi generasi muda dalam pembangunan dengan menciptakan kebijakan yang mendukung pendidikan dan pelatihan keterampilan, memfasilitasi akses pemuda, dan menggalakkan partisipasi pemuda terhadap kesempatan ekonomi, politik, sosial.

Selain itu, kita bisa memberikan ruang bagi pemuda untuk berkontribusi dalam pembuatan keputusan dan implementasi kebijakan. Program-program pemerintah perlu juga mendorong keterlibatan pemuda dalam inisiatif pembangunan lokal dan global, sehingga ini bisa menjadi sarana efektif.

Di International Youth Day, teruntuk sahabat muda Ruanita, saya berpesan untuk terus bersemangat dalam karya dan berani untuk berkontribusi aktif dalam pembangunan!

Mari menjadi agen perubahan dalam membangun dunia yang lebih baik, lebih adil, dan lebih berkelanjutan. Teruslah berjuang untuk impian-impian kita, dan jangan pernah ragu untuk berkontribusi pada masyarakat!. Kita punya kekuatan untuk mengubah dunia! 

Happy International Youth Day!

Penulis: Rufi, yang kini sedang menempuh studi S2 di Jerman dan dapat dikontak di akun Instagram zsyasdawita. Tulisan ini adalah hasil wawancara seorang teman, dengan nama pena Devita. Devita adalah seorang pekerja yang tinggal di Stuttgart, Jerman.

(CERITA SAHABAT) Pahami Alasan, Mengapa Saya Tidak Ingin Punya Anak

Halo, sahabat RUNITA. Saat memasuki usia 30-an, saya merasa seperti membuka bab baru dalam perjalanan hidup saya. Saya ingin berbagi cerita mengenai keputusan saya untuk tidak memiliki anak.

Saya seorang perempuan saat ini hidup dan tinggal di Jerman. Sebagai catatan, cerita ini merupakan pandangan pribadi saya sebagai perempuan individu, bukan sebagai bagian dari pasangan.

Ada banyak alasan yang mendorong orang-orang, baik perempuan maupun laki-laki, memilih jalur yang sama dengan saya: memutuskan untuk tidak memiliki anak.

Pertama-tama, mari kita bicara tentang faktor psikologis. Trauma masa kecil atau tantangan kesehatan mental dapat menjadi beban berat yang menghambat seseorang menerima tanggung jawab sebesar menjadi seorang orang tua. Namun, ini tidaklah satu-satunya faktor.

Lingkungan dan masalah sosial juga memiliki peran yang signifikan. Dari kemiskinan hingga perubahan iklim, dari kelaparan hingga konflik sosial, semua ini memengaruhi cara kita memikirkan kemampuan kita untuk menciptakan lingkungan yang stabil dan aman bagi anak-anak.

Aspek budaya dan dinamika sosial juga ikut berperan. Perubahan peran gender dalam rumah tangga, serta tren gaya hidup, semuanya memengaruhi pertimbangan seseorang tentang menjadi orang tua.

Bagi saya, sudah lima tahun sejak saya mengambil keputusan untuk tidak memiliki anak. Keputusan tersebut bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba.

Sebaliknya, itu adalah hasil dari proses panjang mengenal diri sendiri dan pembelajaran dari lingkungan sekitar. Saya menyadari bahwa saya tidak mampu untuk komitmen atas hidup orang lain untuk sepanjang sisa hidup saya, baik secara psikis maupun material.

Ini tidak berarti saya menelantarkan atau memutuskan hubungan dengan orang tua, teman, atau pasangan. Tetapi saya menyadari keterbatasan saya dalam komitmen untuk melahirkan, merawat, mengasuh, dan bertanggung jawab atas kehidupan anak, apalagi dengan dinamika kehidupan sosial dan lingkungan yang berkembang sangat cepat.

Saya sendiri kadang kewalahan untuk menciptakan hidup yang seimbang bagi diri saya sendiri. Oleh karena itu, saya lebih memilih untuk menjaga keluarga yang saya miliki saat ini daripada menambahnya.

Anak adalah komitmen seumur hidup, dan saya sadar bahwa saya tidak sanggup untuk itu. Saya menghormati kedua orang tua saya dan juga orang tua lain yang telah mencurahkan kasih sayang, berkorban baik secara material maupun psikis untuk anak-anak mereka.

Orang tua adalah orang-orang yang tangguh, berani, dan luar biasa. Saya sadar bahwa jalan mereka tidak cocok bagi jalan hidup saya. Saya sering mengingat sebuah kalimat yang pernah saya baca, “Lebih baik menyesal tidak memiliki anak daripada menyesal memiliki anak.”

Saya tidak ingin mengekspresikan penyesalan kepada anak saya di masa depan. Saya lebih memilih hidup menyesali diri sendiri daripada menjadikan anak sebagai pelampiasan atas penyesalan itu.

Salah satu alasan tambahan adalah faktor kesehatan, terutama mengingat riwayat diabetes dalam keluarga saya. Beberapa bulan yang lalu, saat berkonsultasi dengan dokter keluarga, tes menunjukkan bahwa saya memiliki kondisi prediabetes, yang menempatkan saya pada risiko tinggi untuk mengembangkan Diabetes Melitus, terutama tipe 2.

Dokter saya menjelaskan bahwa kehamilan dapat menjadi salah satu pemicu diabetes, meningkatkan risiko saya untuk mengalami Diabetes Gestasional. Kondisi ini dapat berkembang selama kehamilan dan, jika tidak dikelola dengan baik, berpotensi mengganggu metabolisme bayi dalam kandungan dan meningkatkan risiko diabetes pada si anak masa mendatang.

Selain itu, saya juga mengidap PCOS atau sindrom ovarium polikistik. Ini adalah masalah kesehatan hormonal pada perempuan yang mempengaruhi siklus menstruasi, kesuburan, dan kemampuan tubuh dalam mengolah insulin. Prevalensinya sekitar 4-6 persen pada perempuan usia produktif di Indonesia. Siklus menstruasi saya tidak teratur sejak SMA.

Saya sempat mengabaikannya, tetapi ketika berlanjut di bangku kuliah, saya menyadari bahwa ada yang salah dengan tubuh saya. Tidak sampai pandemi COVID-19, saya berani untuk berkonsultasi ke dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi. COVID-19 benar-benar mengubah pandangan saya untuk lebih peduli dengan kesehatan tubuh saya. Perjalanan diagnosa PCOS dan perawatannya tidak sebentar. Saya mengganti dokter beberapa kali baik di Indonesia maupun saat sudah tinggal di Jerman.

Saat ini, siklus saya sudah rutin berkat pengobatan yang saya jalani kurang lebih satu tahun. Meskipun siklus saya menjadi rutin, saya jadi mengalami gejala-gejala PMS yang jarang saya alami sebelumnya.

Selain itu, perempuan yang mengalami PCOS memiliki risiko tinggi gangguan kesuburan. Meskipun saya belum berkonsultasi atau melakukan uji kesuburan, saya merasa kemungkinan untuk hamil dengan mudah sangat kecil.

Bukan berarti perempuan yang memiliki risiko diabetes dan mengidap PCOS tidak bisa hamil atau memiliki anak. Ada banyak perawatan kesuburan yang ditawarkan saat ini yang dapat membantu perempuan dengan berbagai masalah kesehatan, ataupun opsi untuk mengadopsi anak.

Namun, bagi saya sudah berat untuk fokus membentuk dan menjaga pola hidup sehat, mengurangi dan mencegah risiko diabetes di masa mendatang. Saya tidak sanggup untuk juga memikirkan persiapan memiliki anak, kehamilan, melahirkan, dan merawat anak baik secara psikis maupun material. Dengan pemikiran saya yang sebelumnya ditambah dengan kondisi kesehatan saya, semakin menguatkan keputusan saya untuk tidak ingin memiliki anak. 

Apakah keputusan saya egois? Ini adalah pertanyaan umum yang sering ditujukan kepada orang-orang yang memilih untuk tidak memiliki anak. Bagi saya, tidak. Saya ingin sehat hingga usia lanjut dan membahagiakan keluarga, teman, dan pasangan saya selama mungkin. Pengertian tentang “egois” bersifat relatif dan tergantung pada pengetahuan, pengalaman, serta latar belakang individu.

Secara umum, bagi saya, orang-orang yang memilih untuk tidak memiliki anak memiliki pertimbangan-pertimbangan pribadi yang mungkin tidak mereka bagikan secara terbuka kepada publik. Kita tidak memiliki hak untuk menghakimi mereka atas keputusan tersebut. Beberapa mungkin memilih untuk tidak memiliki anak untuk mengakomodasi pasangan mereka yang mungkin mengalami kesulitan dalam hal kesuburan atau memiliki hambatan lainnya.

Atau mungkin mereka ingin mendedikasikan hidup mereka untuk melayani masyarakat lebih luas. Yang jelas, mereka adalah manusia yang memiliki hak untuk menjalani hidup mereka sesuai dengan kemampuan dan nilai-nilai yang mereka anut.

Tentu saja, ada saat-saat ketika saya meragukan keputusan saya yang dianggap “nyeleweng” oleh sebagian besar orang di Indonesia. Salah satu pemicunya adalah ketika saya melihat perempuan sebaya di sekitar saya satu per satu menikah, hamil, dan melahirkan anak, dan orang-orang mulai menyodorkan pertanyaan, “Kamu kapan?”. Namun, saya selalu kembali kepada nilai-nilai yang saya bangun dan juga mendengarkan apa yang tubuh saya butuhkan.

Tahap terberat dalam keputusan untuk tidak ingin memiliki anak adalah menyampaikannya kepada orang-orang di sekitar. Proses yang paling panjang dan berliku adalah menyampaikannya kepada orang tua. Saya belum bisa mengatakan bahwa orang tua saya seratus persen menerima keputusan saya, tetapi mereka berada dalam tahap penerimaan yang positif.

Saya melakukan pendekatan secara tidak langsung, di mana saya memulai dengan penjelasan bertahap mengenai kondisi kesehatan saya, masalah yang saya alami, dan dampaknya. Saya juga selalu menceritakan hasil setiap kunjungan saya ke dokter. Di antara obrolan-obrolan tersebut, saya menyelipkan pernyataan dan mengekspresikan ketidaktertarikan saya untuk hamil dan memiliki anak.

Selain itu, dengan usia saya yang belum menikah, hal ini semakin mencerminkan indikasi kuat akan keputusan saya.

Namun, saya merasa beruntung. Teman-teman dekat saya adalah orang-orang yang berpikiran terbuka. Mereka terlibat dalam perenungan dan diskusi sejak awal saya mengeksplorasi keputusan ini.

Mereka tidak pernah menghakimi, menyudutkan, atau memberikan tekanan kepada saya. Perlu diingat, teman dekat saya tidak banyak, dan saya tidak sembarang menceritakan keputusan ini kepada teman atau kolega di lingkaran yang lebih besar.

Saya selalu mempertimbangkan karakter dan keyakinan mereka, karena saya tahu di beberapa budaya, keputusan untuk tidak memiliki anak adalah isu yang sensitif atau bahkan tabu untuk dibahas. Saya bisa menerima kritik langsung, tetapi tidak sedikit orang yang lebih suka mencela di belakang, yang berujung pada gosip atau rumor yang meluas. Lagipula, tidak ada kewajiban bagi saya untuk membagikan keputusan atas tubuh dan kehidupan pribadi saya yang tidak memiliki dampak terhadap kehidupan mereka.

Mungkin ini juga yang mendasari keengganan banyak orang terutama perempuan untuk berbicara di publik tentang keinginan mereka untuk tidak memiliki anak. Selain stigma negatif yang melekat di beberapa budaya, juga rumor-rumor tidak sehat yang tidak hanya bisa menimbulkan masalah psikis tetapi juga dapat berdampak pada karier atau material seseorang, padahal tidak ada hubungannya sama sekali dengan keputusan untuk tidak memiliki anak.

Terkait dengan teman kencan atau pasangan, saya jelas dan berani. Saya selalu membicarakan masalah keputusan untuk tidak memiliki anak di tahap perkenalan, tanpa memandang latar budaya mereka. Bagi saya, percuma membangun hubungan jika tujuan akhirnya sudah berbeda.

Jika kami ternyata cocok dalam hal-hal lain, mungkin kami lebih cocok sebagai teman atau kolega daripada pasangan hidup. Saya tidak takut bahwa kejujuran dan keterbukaan saya, atau mungkin bagi sebagian orang “kelancangan” saya ini, akan mengakibatkan kehilangan kesempatan untuk memiliki teman kencan atau pasangan. 

Pesanku untuk sahabat RUANITA adalah bahwa dalam mengeksplorasi keputusan untuk tidak ingin memiliki anak, tidak perlu merasa sendirian atau takut. Proses ini bisa menjadi kompleks dan penuh dengan ketidakpastian, tetapi ingatlah bahwa banyak orang yang berbagi pengalaman dan perjuangan yang sama.

follow us: ruanita.indonesia

Jika kamu merasa tidak memiliki teman dekat atau orang di sekitarmu yang bisa diajak berdiskusi tentang masalah ini, jangan ragu untuk bergabung dengan komunitas anonim di media sosial atau mencari dukungan dari klinik psikologi atau LSM perempuan yang mungkin memiliki kelompok pendukung untuk masalah kewanitaan dan rumah tangga.

Jika kamu memiliki pasangan, penting untuk berdiskusi dan bertukar pikiran dengannya tentang keputusan ini, dan lebih baik lagi jika dialog dimulai sejak awal masa penelusuran dan penasaran. Ingatlah bahwa memahami dan mendukung satu sama lain dalam proses ini dapat membantu mengurangi beban dan meningkatkan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan yang tepat untuk dirimu dan pasanganmu. Selain itu, semoga cerita ini bisa menginspirasi juga untuk semakin jujur dengan diri kita sendiri dan menjadi pendengar yang baik bagi tubuh kita.

Banyak tanda-tanda yang tubuh kita berikan tetapi lebih sering kita mengabaikannya, mendorong untuk menjadi denial. Alasan seperti “saya masih muda,” “tidak ada riwayat di keluarga,” “hanya lewat doang,” atau “masalah hormon itu sepele” mungkin adalah panggilan untuk lebih memperhatikan dan menggali lebih dalam. Bertanya ke ahli, mencari tahu, dan membaca lebih banyak tentang tubuh kita dapat membantu kita membuat keputusan yang lebih baik dan memahami diri kita dengan lebih baik pula.

Penulis: Anonim, tinggal di benua biru.

(CERITA SAHABAT) Ini Peran Orang Tua Agar Anak Bangga Beridentitas Sebagai Anak Kawin Campur di “Rumah Ketiga”

Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan saya adalah Berta yang lahir dan  tumbuh besar di Bandung, Indonesia. Saya sekarang berdomisili di kota Aalborg, Denmark sejak Juli 2022. Saat ini, pekerjaan saya sebagai tenaga sukarela (volunteer) di rumah sakit Aalborg dan juga menjadi ibu rumah tangga.

Awal mulanya, suami dan saya bertemu di platforma penfriends online di tahun 2000, hingga akhirnya kami pun berlanjut ke jenjang pernikahan pada tahun 2007, yang membuat saya tinggal di Belanda. Tahun 2022, suami saya mendapatkan pekerjaan baru di kota Aalborg dan kami pun pindah ke sini. 

Saya begitu bersemangat untuk bercerita pengalaman saya membesarkan anak-anak yang menarik dan sedikit menantang. Sedini mungkin, anak-anak saya paham tentang identitas mereka sebagai anak kawin campur, ibu dari Indonesia dan ayah dari Belanda.

Misalnya saja, pada usia mereka masih di bawah 5 tahun, saya sudah mengenalkan kepada anak-anak kalau mereka itu memiliki darah campuran Belanda dan Indonesia. Sepertinya, mereka tidak memiliki masalah dengan identitas campur mereka. 

Ketika anak pertama saya lahir, saya pun menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan anak, sedangkan suami menggunakan Bahasa Belanda. Namun ternyata menurut pengamatan dari biro konsultasi anak di Belanda, anak saya mengalami keterlambatan bicara.

Mereka pun menganjurkan kami sebagai orang tua hanya menggunakan satu bahasa saja, yaitu Bahasa Belanda. Lalu, anak yang kedua dan ketiga pun tumbuh dengan satu bahasa saja. Ketika anak-anak memasuki usia sekolah dasar, saya pun sedikit memperkenalkan Bahasa Indonesia, tapi tidak sampai tingkat penggunaan bahasa untuk percakapan sehari-hari; hanya sekedar memperkenalkan bahasa ibu saja. 

Kembali lagi, soal anggapan banyak orang tentang kebingungan anak menggunakan bahasa sehari-hari, saya pikir itu semua bergantung pada preferensi pribadi masing-masing. Setelah anak pertama mengalami keterlambatan bicara, kami memutuskan untuk menggunakan satu bahasa saja untuk berkomunikasi sehari-hari.

Lalu ketika mereka bertumbuh besar, saya memperkenalkan bahasa Indonesia sedikit demi sedikit. Namun, saya juga mendengar, banyak keluarga perkawinan campur yang berhasil mendidik anak-anaknya fasih multi bahasa, tanpa mengalami kesulitan atau kebingungan bahasa. 

Saya pribadi mengajarkan kepada anak-anak untuk menggunakan panggilan seperti “kakak”, “abang”, “om”, “tante”, ketika mereka berbicara dengan orang yang lebih tua. Hal ini sulit buat anak-anak karena anak-anak tidak pernah menggunakan panggilan tersebut di Belanda, tidak seperti kebiasaan di Indonesia.

Anak-anak di Belanda memanggil nama untuk orang yang lebih tua, kecuali guru di sekolah. Anak-anak saya tumbuh besar dengan menu nasi dan lauk pauk mirip dengan Indonesia, kecuali makanan yang pedas. Jadi, mereka jarang sekali makan makanan seperti orang di Belanda, misalnya kentang rebus. 

Itu baru soal makanan anak-anak sehari-hari, lalu bagaimana soal identitas anak sebagai anak kawin campur? Jujur, kami tidak berdiskusi terlalu larut tentang identitas campur dari anak-anak. Anak-anak pun tidak pernah bertanya terlalu rumit soal identitas campur mereka. Ketika kami berlibur di Indonesia, kami mencoba memperkenalkan sedikit lebih jauh bagaimana Indonesia dan kebiasaannya.

Kami lebih banyak mengajarkan kepada anak-anak soal tata krama dan sopan santun. Kami mengajarkan misalnya, bagaimana mereka berkomunikasi dengan orang lain, bertanya yang sopan atau berterima kasih ketika mereka menerima sesuatu. Mereka pun mencoba untuk menerapkan ajaran kami tersebut baik, di dalam maupun di luar rumah. Ketika mereka “lupa”, kami akan terus mengingatkan mereka.

Follow us

Agar anak memahami perkembangan identitas sebagai anak kawin campur, yakni anak yang berasal ibu dan ayah yang berbeda budaya dan bahasa, dari awal suami dan saya memperkenalkan kepada anak-anak bahwa mereka mempunyai dua keluarga besar, di Belanda dan di Indonesia. Mereka memiliki kakek dan nenek dari dua negara. Jadi, anak-anak belajar untuk memanggil opa dan oma untuk kakek dan nenek dari Belanda, dan “ompung” untuk kakek dan nenek dari Indonesia. 

Kami pun memperkenalkan kepada anak-anak bahwa mereka memiliki dua paspor, karena mereka memiliki orang tua dari dua negara yang berbeda. Namun, ketika usia mereka 18 tahun, mereka pun harus melepaskan salah satu paspor tersebut. Kami menganjurkan anak-anak untuk melepas paspor Indonesia, dengan alasan yang sederhana.

Mereka lahir dan besar di Belanda, mereka sudah terbiasa dengan sistem Belanda. Mereka tentunya akan menghadapi kendala-kendala tertentu ketika mereka melepas kewarganegaraan Belanda dan pindah ke Indonesia. Namun, darah Indonesia mereka tidak akan pernah hilang dan tali silaturahmi dengan keluarga di Indonesia pun tidak akan pernah putus. 

Berbicara dengan pengalaman anak-anak dalam lingkungan sosial mereka, rupanya anak-anak saya tidak pernah mendapatkan pengalaman buruk di sekolah terkait dengan identitas campur mereka. Anak pertama dan kedua pernah mendapat tugas untuk memberikan presentasi di kelas, dan mereka memilih untuk mempresentasikan tentang Indonesia.

Mereka pun membawa kerajinan asli Indonesia seperti wayang, angklung, gamelan, dan batik yang kami punya di rumah. Guru dan teman-teman di kelas sangat terkesan dengan presentasi tentang Indonesia, yang dibawakan anak saya. 

Ada pengalaman lucu sebenarnya yang dialami oleh anak bungsu saya. Waktu itu, ada temannya datang bermain ke rumah. Ketika mereka sedang bermain, anak bungsu saya ini memanggil kakak sulungnya dengan panggilan “kakak”. Teman sepermainan anak saya ini bingung, lalu kami jelaskan apa maksud panggilan “kakak” tersebut.

Sejak saat itu, setiap kali teman anak bungsu saya ini datang bermain ke rumah, dia pun ikut memanggil anak sulung saya dengan sebutan “kakak”. Bagaimanapun, budaya bentuk sapaan seperti kakak, adik, bapak, ibu, dan lainnya merupakan budaya Indonesia, yang ini berbeda dengan kebiasaan dengan orang-orang di sini.

Tentunya sebagai orang tua, kami perlu bekerja sama sebagai ayah dan ibu untuk terus mengingatkan anak-anak, bahwa mereka adalah anak-anak yang beruntung dengan memiliki identitas campur. Mereka harus bangga dengan identitas mereka. Namun, tantangan yang paling berat adalah menerapkan ajaran tata krama dan sopan santun di tengah-tengah masyarakat yang terlalu menerapkan kebebasan yang agak berlebihan.

Misalnya di Denmark, remaja usia 16 tahun sudah diijinkan untuk membeli minuman beralkohol dengan batas tertentu, seperti bir di supermarket. Anak sulung kami sudah berusia 16 tahun. Kami pun terus mengajarkan bahwa minuman beralkohol itu sangat tidak baik untuk kesehatan. Sama halnya kami mengajarkan tentang perilaku merokok pada remaja, baik itu rokok yang umum maupun rokok elektrik seperti vape. 

Menurut saya, fondasi anak-anak dari pengasuhan dalam keluarga sangat penting, sebelum mereka keluar rumah. Anak-anak harus terus diajarkan dan diingatkan, mana yang baik dan mana yang buruk.

Anak-anak harus terus diajarkan untuk tidak terpengaruh dengan teman-teman sekitarnya, terus diajarkan untuk berani berkata tidak, kalau mereka diajak untuk berbuat sesuatu yang salah. Orang tua perlu mengajarkan kebiasaan-kebiasaan yang baik dari kedua negara, dalam hal ini Belanda dan Indonesia. 

Ketika anak-anak masuk ke tengah-tengah masyarakat di Denmark, mereka telah beradaptasi dengan kebiasan-kebiasaan baik yang diajarkan orang tua. Seperti contoh, hierarki itu hampir tidak ada di Denmark. Anak-anak memanggil guru bahkan kepala sekolah langsung dengan nama, dan sampai saat ini anak-anak saya tidak terbiasa dengan kebiasaan itu.

Mereka menghindari untuk memanggil guru dengan nama langsung. Di sisi lain, Denmark memiliki budaya “janteloven”, di mana mereka tidak pernah memamerkan harta benda, kemewahan yang mereka miliki. Sebagai orang tua, ini kebiasaan baik yang kami bisa terapkan untuk anak-anak di rumah ketiga mereka, Denmark.

Anak-anak pun belajar untuk tidak pamer dengan kemewahan, bahkan tidak pamer dengan kepintaran yang dimiliki, tetap down to earth. Intinya, kami mengajarkan kepada anak-anak untuk tidak pernah lupa dengan apa yang kami ajarkan dan asal usul mereka sebagai anak kawin campur, di manapun kami tinggal atau mereka akan tinggal nantinya ketika mereka dewasa.

Penulis: Berta Situmeang, yang tinggal di Denmark dan dapat dihubungi via media sosial Facebook: Berta Situmeang atau Instagram: adenk_bvs.

(CERITA SAHABAT) Bagaimana Self-Compassion Dapat Meningkatkan Kesehatan Mental Saya?

Selama terapi psikologis, hal terpenting yang saya pelajari dari terapis saya adalah cara saya menyayangi diri sendiri atau self-compassion. Terkadang, atau mungkin sering kali, kita terlalu keras ke diri sendiri dengan marah dan mengkritik diri sendiri saat kita berbuat kesalahan.

Jika orang lain padahal berbuat kesalahan, apakah kita akan melakukan hal yang sama ke dia? Atau sebaliknya, kita hanya akan berkata-kata baik ke dia? Mengapa kita bisa baik kepada orang lain, tetapi tidak ke diri sendiri?

Selama terapi, terapis saya tidak pernah mengatakan kalau yang beliau ajarkan ke saya adalah self-compassion atau menyayangi diri sendiri. Sampai pada satu kali sesi, saya minta beliau untuk mengajarkan saya tentang hal tersebut.

Yang beliau ajarkan ke saya adalah cara untuk berkata-kata baik ke diri sendiri, terutama saat saya merasa saya tidak melakukan hal benar. Ternyata, apa yang dilakukan itu adalah bentuk self-compassion.

Oh iya, perkenalkan saya Ajeng. Saya tinggal sudah lebih dari 10 tahun di Hamburg, Jerman. Saya hidup dengan gangguan mental yang sudah ditangani dengah baik di Jerman, melalui psikoterapi dan psikotrofarmaka. Salah satunya adalah Avoidant Personality Disorder (AvPD) atau gangguan kepribadian menghindar yang ditandai dengan pola perilaku yang persisten dari rasa ketidaknyamanan sosial yang ekstrim, rasa tidak mampu, dan rasa takut akan penolakan sosial. Menurut terapis, AvPD saya disebabkan oleh kecemasan sosial yang juga saya miliki.

Di awal terapi, terapis saya meminta saya untuk menyebutkan inner voice yang saya miliki. Saya hanya menyebutkan kalimat-kalimat negatif, seperti “aku bodoh”, “jangan ceroboh”, “harus jadi orang baik”, “jangan malas”, “begitu saja tidak bisa”, “jangan egois”, dan sebagainya.

Singkat cerita, kalimat-kalimat negatif tersebut menjadi salah satu penyebab permasalahan mental saya. Selama terapi, saya bekerja keras untuk mengecilkan kalimat-kalimat negatif dan mengencangkan kalimat-kalimat positif. 

Dulu kalimat-kalimat negatif ini akan aktif dengan sendirinya, begitu saya melakukan kesalahan sekecil apa pun. Misalnya, saya lupa turun di halte bus yang menjadi tujuan, maka saya akan mengatakan kepada diri saya untuk berpura-pura duduk tenang di dalam bus. Alasannya, saya akan merasa malu jika saya terlihat panik. Itu terdengar tidak masuk akal, ya? 

Contoh di atas, hanya salah satu contoh kecil. Contoh besarnya adalah presentasi. Sebelum presentasi, saya harus mempersiapkan dengan benar. Kembali lagi, inner voice seperti “aku tidak boleh malas”, “tidak boleh malu-maluin diri sendiri dan keluarga”, “tidak boleh bikin orang lain berpikir aku bodoh”, “harus lakukan hal benar”, “harus benar kasih presentasi dan menjawab pertanyaan”, dan banyak lagi kewajiban dan larangan yang saya punya untuk diri sendiri.

Follow us

Jika saya melakukan kesalahan, maka saya akan bilang ke diri sendiri, seperti: “aku bodoh dan orang lain tahu aku bodoh”, “persiapan aku seharusnya harus lebih baik lagi”, “dosen dan muridku pasti lihat kalau aku panik”, dan sebagainya.

Kalau orang lain mengatakan presentasi saya bagus dan tidak ada yang perlu saya khawatirkan, justru sebaliknya saya akan berpikir itu hanya manis di mulut. Saya yakin itu tidak benar. Saya menyangkal, apa yang orang lain sampaikan.

Sebelum saya mulai terapi ini, saya sempat menerima terapi Obsessive Compulsive Disorder (=selanjutnya disebut OCD) selama lima hari. Di sana, saya diajarkan, bahwa “monster OCD” ingin saya percaya dengan apa yang dia katakan. Cara saya melawannya adalah dengan memberikan keraguan ke monster ini. Ingatkah dulu di Indonesia ada slogan iklan, “Yang pasti-pasti saja”? 

Nah, untuk melawan “monster OCD”, saya harus melakukan sebaliknya. Jangan ambil yang pasti! Jika dulu, saya tidak mau menyentuh gagang pintu karena “monster OCD” saya mengatakan bahwa gagang pintu pasti kotor, maka saya pasti akan terkontaminasi.

Setelah terapi, saya melawan kemungkinan tersebut dengan, “Mungkin gagang pintu tersebut kotor. Mungkin juga tidak kotor. Aku mengambil risiko dengan menyentuhnya dan aku siap terkontaminasi.” Cara saya berbicara dengan diri sendiri ini yang membuat saya tidak lagi mengalami gangguan OCD. 

Self-compassion juga seperti itu. Sekarang saya baru mengerti, mungkin teknik OCD tersebut memang diadaptasi dari self-compassion, yakni bagaimana kita berbicara hal baik kepada diri sendiri. Misalnya, dulu saya lupa turun di halte bus tujuan, maka saya akan buru-buru loncat dari bus.

Sekarang saya akan mengatakan kepada diri sendiri, “Tidak apa-apa terlihat panik. Mungkin orang lain melihat aku panik, mungkin juga mereka tidak peduli. Mungkin mereka akan mengejekku, karena aku lupa turun, mungkin juga tidak. Aku tidak bisa membaca pikiran orang. Aku juga tidak bisa memaksakan apa yang orang pikirkan tentang aku.” 

Sewaktu saya berhasil turun dari bus dan sadar bagaimana cara berpikir saya berubah, saya menangis. Saya bisa bersikap baik kepada diri saya sendiri, saya menjadi sahabat, yakni diri saya sendiri. Cara saya berbicara kepada diri saya sendiri, ternyata mempunyai pengaruh hebat ke kesehatan mental saya.

Saya mulai bisa menerima diri sendiri dan melakukan apa yang sebenarnya ingin saya lakukan. Saya mempunyai masalah dengan kepercayaan diri, seperti sakit hati dan malu jika melakukan kegagalan. Ini adalah alasan terbesar, mengapa saya dulu menyabotase diri sendiri untuk tidak berusaha mencari kerja, saat sebenarnya saya wajib mencari kerja. 

Tahun lalu, lamaran pekerjaan saya ditolak setelah wawancara. Saya mengatakan ke terapis saya, “Mereka menolak saya, tapi tidak apa-apa. Saya tidak merasa cocok dengan mereka, dan mereka juga tidak merasa cocok dengan saya.” Terapis saya terkejut dan senang mendengar kalimat saya. Padahal setahun sebelumnya, masalah terbesar saya adalah penolakan. 

Cara saya berbicara kepada diri sendiri setelah mendapatkan penolakan juga berubah. Saya tidak lagi mengatakan, “bodoh”, “malu-maluin”, “orang lain lihat kalau kamu tidak bisa kerja”, tetapi berubah menjadi: “mereka tidak melihat potensiku, tidak apa, mungkin orang lain akan melihat potensiku”, dan “mereka menolak aku, mungkin memang pekerjaan ini bukan yang terbaik untukku.”

Jika dulu saya begitu sulit mengungkapkan kebutuhan dan keinginan saya kepada orang lain, maka sekarang saya sudah mulai bisa melakukannya. Dulu saya takut menjadi orang egois jika menomorsatukan diri sendiri, tetapi sekarang saya akan mengatakan, “Kebutuhan dan keinginan aku juga penting. Aku tidak bisa terus-menerus menomorduakan diri sendiri. Aku boleh mengatakan apa yang aku inginkan. Orang lain juga bisa mulai mendengarkan aku, tidak selalu aku yang mendengarkan mereka. Aku tidak egois dengan ingin didengarkan. Aku juga penting dan itu tidak apa-apa.”

Tahun lalu saya berkesempatan menjadi moderator di salah satu acara virtual Ruanita. Setelah acara selesai, saya tidak mengkritik diri saya sendiri, meskipun inner voice negatif saya aktif. Mungkin saat itu saya melakukan kesalahan dan mungkin orang lain melihatnya, tetapi saya tidak ingin peduli.

Mungkin juga tidak ada orang yang melihat kesalahan saya itu. Jika pun ada, ya tidak apa-apa juga. Semua orang boleh melakukan kesalahan. Mungkin waktu itu saya terlihat jelek, tetapi memang begitu wajah saya dan cara bicara saya. Itu tidak apa-apa juga.

Waktu itu, saya juga lebih mengingat-ingat kesuksesan saya dan merayakannya. Boleh kok saya bangga ke diri sendiri, bukan berarti saya sombong. Dan lagi, kalau bukan saya, siapa lagi yang membanggakan diri saya?

Saya juga merasa, jika kecemasan saya berkurang karena melakukan self-compassion. Kalau dulu saya berpikir, teman saya kesal dengan saya dan tidak mau berteman lagi dengan saya, setiap dia lama tidak membalas pesan saya.

Sekarang saya akan berpikir, “Mungkin dia sibuk dan tidak sempat balas, atau lupa. Mungkin juga memang dia sudah tidak mau berteman lagi dengan aku. Kalau memang begitu, ya aku tidak bisa apa-apa. Aku sedih, tapi aku juga tidak bisa memaksakan orang lain untuk berteman denganku.

Saya akan mengulang-ulang kalimat tersebut, jika kecemasan saya datang. Saya lalu mengalihkan pikiran saya ke hal lain. Kecemasan saya memang tidak serta-merta hilang, tetapi ini membuat saya lebih tenang. 

Apakah ini berarti saya sekarang tidak lagi berbicara negatif ke diri sendiri? Tidak. Kalimat negatif tersebut datang secara otomatis. Kadang saya bisa mengidentifikasinya sendiri saat mereka datang, kemudian menggantinya dengan kalimat positif. Kadang juga saya lupa dan ini membuat saya tidak baik-baik saja. 

Sebenarnya semua orang punya kalimat-kalimat negatif dalam dirinya. Itu adalah hal yang normal. Namun, yang terpenting adalah bagaimana cara kita menghadapinya. Apakah kita akan membiarkan kalimat-kalimat negatif menyabotase diri kita sendiri, atau justru sebaliknya? Kita perlu mencoba berbicara tentang hal baik kepada diri sendiri.

Sepahaman saya, inner voice kita adalah kalimat-kalimat yang sering kita dengar dari orang sekitar kita, terutama saat kita masih kecil. Kalimat-kalimat tersebut tanpa sadar menjadi bagian diri kita dan menjadi inner voice.

Sejak menerima terapi psikologis di Jerman, saya juga belajar untuk berbicara baik kepada orang lain, terutama anak-anak. Saya ingin agar mereka juga belajar bagaimana menyayangi diri sendiri, dengan berbicara baik kepada dirinya sendiri.

Untuk teman-teman yang sedang bergelut dengan kata hati negatif dan ingin belajar menyayangi diri sendiri, saya sarankan untuk membaca buku-buku dari Kristin Neff. Dia adalah orang pertama yang melakukan studi tentang self-compassion. Buku-bukunya tidak hanya berisi teori, tapi juga latihan yang bisa dilakukan sendiri. Dia juga bisa ditemukan di website-nya https://self-compassion.org/ dan di Youtube. 

Penulis adalah Mariska Ajeng. Dia adalah relawan Ruanita, Aktivis Kesehatan Mental, dan tinggal di Hamburg, Jerman. Tulisannya bisa dibaca di website Ruanita dan http://www.mariskaajeng.com.