(CERITA SAHABAT) Kecemasan Saya Ketika Menjadi Ibu di Jerman

Halo, sahabat RUANITA! Saya Brina Weis, asal Tangerang yang kini menetap di Jerman sejak 2018. 

Dahulu saya tidak memiliki rencana untuk memiliki keturunan. Saya berpikir saat itu adalah saya berasal dari negara lain yang juga memiliki budaya yang berbeda. Ini pasti akan sulit jika saya harus mengajari anak dengan dua budaya dan bahasa sekaligus. Bahkan saya tidak memiliki pikiran untuk menikah dengan seorang pria Jerman. Hingga pada akhirnya ketika saya berkali-kali gagal menjalin hubungan dengan pria asal negara sendiri, saya mencoba peruntungan untuk menjalin hubungan dengan lelaki Jerman yang kemudian sekarang menjadi suami.

Akhirnya, kecemasan saya satu per satu mulai muncul ketika kami dikaruniai seorang anak perempuan di tahun 2022. Itu dimulai dari mengurus dokumen-dokumen untuk berbagai keperluan hingga menghadapi rumitnya alur birokrasi di sini. Namun tidak hanya itu, kecemasan lainnya yang muncul di kepala saya salah satunya adalah bahasa dan budaya.

Saya memang sudah tinggal di Jerman sejak tahun 2018. Bahasa Jerman sendiri adalah jurusan kuliah yang saya ambil saat masih belajar di universitas pada tahun 2013 silam. Namun, tetap saja saya merasa bahwa bahasa Jerman saya terbatas. Saya merasa takut jika harus berbicara atau mengajarkan Bahasa Jerman kepada anak saya. 

Mengapa saya belum mengajarkan Bahasa Indonesia? Saya memiliki prinsip bahwa kami saat ini tinggal di Jerman dan anak kami akan bersekolah dan mengenyam pendidikan di sini. Jadi untuk sementara, saya lebih memprioritaskan Bahasa Jerman dahulu ketimbang bahasa ibu saya sendiri. Saya juga sempat membaca sebuah artikel di mana jika anak diajarkan dua bahasa sekaligus, kemungkinan ia bisa mengalami speech delay atau terlambat berbicara. Saya tidak ingin hal itu terjadi.

Follow us

Ketika di rumah, saya berusaha berbicara Bahasa Jerman dengan anak saya. Jika saya rasa ada sedikit kesalahan, saya akan mengulangi kalimat tersebut kembali dengan struktur yang benar. Memang itu terkesan sulit. Suami saya pun selalu mengoreksi jika saya salah mengucapkan sesuatu dalam Bahasa Jerman. Saya juga terkadang suka tidak sengaja berbicara bahasa bayi kepada anak saya seperti memanggilnya dengan sebutan „tantik“ yang seharusnya „cantik“ dan „cayang“ yang maksudnya adalah „sayang“. Terlebih lagi ini adalah kata-kata dalam Bahasa Indonesia. Kadang saya pun bingung, apa sebenarnya mau saya.

Belum lagi perbedaan budaya dan pola pikir antara saya dengan suami. Saya pernah bertanya pada suami, apa reaksinya jika suatu saat nanti anak kami memilih untuk menyukai sesama jenisnya. Atau pertanyaan seperti jika anak kami memilih untuk memeluk agama yang berbeda dari kami, apa reaksinya nanti. Banyak pertanyaan-pertanyaan  konyol yang kadang muncul di pikiran ketika saya memikirkan masa depan anak kami. 

Kecemasan lainnya adalah ketika saya harus berpergian sendiri dengan menggunakan transportasi umum. Saya selalu merasa cemas jika di tengah perjalanan, anak saya merasa tidak nyaman sehingga membuatnya menangis. Saya membayangkan tatapan tajam para penumpang lain kepada saya saja sudah membuat saya takut. Hal inilah yang akhirnya membuat saya berkali-kali membatalkan janji bertemu dengan kawan-kawan lainnya dan lebih memilih untuk berada di rumah dengan anak saya.

Tidak hanya itu, saya sendiri kadang merasa rindu dengan tanah air. Saya selalu membayangkan jika saja orang tua saya ada di sini mungkin akan lebih mudah, dalam mengasuh anak dan mengurus rumah karena mereka akan dengan senang hati ikut membantu. Namun saya kembali sadar bahwa saya di sini sendirian. Ditambah lagi setelah beberapa bulan kelahiran anak kami, kami memutuskan untuk pindah ke sebuah kampung kecil di Jerman selatan, tempat di mana mertua saya tinggal. Artinya, saya harus melepas pekerjaan baru saya kala itu dan juga berpamitan dengan teman-teman Indonesia saya di tempat lama. Saya benar-benar merasa sendiri.

Saat ini pun saya masih dalam masa cuti mengurus anak yang sudah berlangsung hampir satu tahun. Saya juga bersyukur bahwa anak kami mendapat tempat di Kinderkrippe (sebutan untuk tempat penitipan anak sebelum masuk TK) dan itu pun tidak otomatis ia langsung masuk saat itu juga. Ia akan masuk pada bulan September dan saya selesai cuti pada bulan Juni. Artinya, selama beberapa bulan saya harus meninggalkan anak dengan orang lain atau pengasuh untuk beberapa jam karena saya dan suami harus bekerja. 

Kami tidak bisa meninggalkan anak dengan mertua karena ibu mertua saya pun masih bekerja sedangkan bapak mertua saya punya kegiatan lain. Saya sendiri pun memilih untuk bekerja karena saya ingin membantu ekonomi keluarga kecil kami agar suami tidak berat sebelah dalam hal finansial.

Ditambah lagi, kadang saya dituntut oleh orang-orang terdekat saya untuk melakukan atau mengajarkan sesuatu kepada anak saya, seperti dia harus tidur sendiri, dia sudah bisa minum sendiri, dan lain-lain. Saya takut bila tuntutan-tuntutan itu tidak bisa saya turuti, mereka akan kecewa. Terlebih lagi mertua saya mewanti-wanti kami untuk tidak boleh salah dalam mendidik anak, berhubung anak kami adalah generasi perempuan satu-satunya dalam keluarga besar suami says. Jadi, bisa dikatakan anak kami sebagai „anak emas“ mereka.

Kecemasan-kecemasan itu akan selalu mengikuti ke mana pun langkah saya karena saya ingin menjadi orang tua yang baik untuk anak kami. Mungkin bagi orang lain terkesan terlalu berlebihan karena saya pun juga belum terbiasa. Semakin berjalannya waktu, saya mulai mencoba berdamai dengan kecemasan saya sendiri dan mencoba untuk berani menghadapinya. Semoga benang kusut dalam kepala saya satu per satu akan terurai. Semoga.

Penulis: Brina Weis, tinggal di Jerman dan dapat dihubungi melalui instagram @svasthi_

(CERITA SAHABAT) Cegah Diabetes Dari Edukasi Diri Sampai Konsumsi Nutrisi

Halo Sahabat RUANITA, perkenalkan nama saya Yulyana. Ada pula yang memanggil saya, Juliana. Es klingt fast gleiche😊 atau dalam Bahasa Jerman maksudnya, itu sama saja mau dipanggil Yulyana atau Juliana. Saya tinggal di Jerman sejak April 2013. Lokasi tinggal saya terletak di desa kecil, namanya Iggensbach. Areanya berada di sekitar Landkreis Deggendorf-Passau, negara bagian Bavaria.

Kalau mau dibayangkan, lokasi tinggal saya itu sekitar 25 – 30 kilometer dari Kota Passau. Kalau kita naik kendaraan melalui Autobahn, jalan tol dalam Bahasa Jerman, maka lokasi tinggal saya bisa dicapai sekitar 15 – 16 kilometer dari Kota Deggendorf. Di kota Deggendorf inilah, saya bekerja sebagai Krankenpflegerin atau perawat dalam Bahasa Indonesia di IMC Stroke Station. Lebih jelasnya, saya adalah perawat pasien stroke dengan sistem monitor. 

Saya senang bisa ikut berpartisipasi dalam program cerita sahabat RUANITA, terutama berkaitan dengan pengalaman saya tentang diabetes yang dialami oleh orang-orang terdekat saya. Kita perlu tahu kalau diabetes merupakan salah satu Silent Killer Disease, karena penyakit ini begitu tersembuyi. Apabila kita terlambat menanganinya, ini akan berkomplikasi ke organ tubuh lainnya. Oleh karena itu, penting untuk kita mengedukasi diri sendiri tentang status kesehatan kita dan konsumsi nutrisi harian kita.

Berbicara soal diabetes, ini bukan hal asing bagi saya. Keluarga saya merupakan keluarga yang memiliki penyakit ini. Itu sebab diabetes dikenal sebagai penyakit keturunan. Jadi, mau tidak mau, saya pun memiliki gen ini. Saya kehilangan oma yang meninggal karena diabetes mellitus. Seingat saya, almarhum oma hanya mengontrol pola makan seperti mengurangi konsumsi gula dan karbohidrat. Namun diabetes yang diderita oma berujung pada komplikasi.

Komplikasi yang dialami almarhum oma sudah sampai ke organ mata, di mana dia harus mengalami kebutaan. Almarhum oma mengalami dekubitus level 4, yang sudah tembus ke tulang dan sulit disembuhkan. Kejadian itu sekitar tahun 1996, yang mana kami sekeluarga belum banyak mengenal dekubitus. Saat itu, belum ada penanganan yang optimal untuk pasien diabetes dengan luka dekubitus di Indonesia. 

Diabetes juga dialami oleh papa saya, yang didiagnosa sebagai diabetes melitus tipe 2 oleh dokter. Menurut saya, penanganan papa jauh lebih baik ketimbang almarhum oma. Papa diberi obat gula dan rutin diperiksa kadar gula darahnya. Selain itu, fungsi ginjal papa pun diperiksa per tiga bulan, terutama untuk Hba1C. Papa saya juga mengontrol konsumsi karbohidrat dan gula sehingga kadar gula darahnya selalu stabil. Ketika seseorang didiagnosa memiliki diabetes, maka dia harus mulai mengedukasi dirinya sendiri untuk mengetahui asupan nutrisi dan perilaku kesehariannya.

Salah satu teman baik saya pun didiagnosa diabetes melitus tipe 2 di saat usianya sudah memasuki pertengahan 30 tahunan. Tentu saja, dia sangat panik luar biasa dan begitu cemas. Saya bisa memahami situasinya yang tidak mudah menerima kenyataan tersebut. Apalagi dia harus hidup tanpa nasi sebagai makanan pokok orang Indonesia. Itu sangat menyulitkan dia di awal hari-hari tanpa nasi. Tidak hanya mengontrol konsumsi nasi saja, dia pun harus mengontrol kadar gula darahnya. Dia pun jadi lebih banyak mengonsumsi makanan yang lebih bergizi. 

Bagi saya, didiagnosa penyakit apapun itu bukan berita menyenangkan bagi setiap orang. Apalagi kalau kita didiagnosa diabetes, yakni penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara total. Namun, kita perlu tahu kalau diabetes itu bisa dicegah bahkan kita bisa mengendalikan komplikasinya. Penyakit diabetes sendiri memiliki dua tipe yakni diabetes tipe 1 dan tipe 2. Pada diabetes tipe 1 disebabkan oleh tubuh tidak bisa memproduksi insulin. Sedangkan pada diabetes tipe 2 disebabkan karena tubuh gagal menggunakan atau memproduksi insulin secara efektif. Insulin sendiri merupakan hormon penting yang dapat membantu mengantarkan glukosa ke sel tubuh agar bisa menghasilkan energi. 

Seperti cerita saya di atas, diabetes telah menyerang orang-orang terdekat saya. Sebagai orang yang berpotensi memiliki diagnosa diabetes. saya pun mulai waspada terhadap kemungkinan ini. Benar saja, saya pun didiagnosa diabetes gestasional pada saat saya sedang hamil. Beruntungnya diagnosa ini cepat diketahui di awal sehingga penanganannya bisa segera dilakukan. Saya wajib melakukan tes darah sebanyak 4 kali dalam sehari, antara lain: saat bangun tidur, satu jam setelah sarapan, satu jam setelah makan siang, dan satu jam setelah makan malam. 

Tak hanya tes darah saja, saya pun harus melakukan diet sehat seperti karbohidrat. Saya pun jadi lebih memerhatikan kadar indeks karbohidrat yang dikonsumsi. Tentu saja, ini bukan hal mudah dilakukan di awal karena saya harus melakukannya sendiri agar saya tetap sehat. Saya harus menimbang semua makanan yang akan dimakan, misalnya untuk nasi, pasta, atau mi maka saya hanya boleh mengonsumsi sebesar 15 gram saja. Itu setara dengan 3-4 sendok makan full. Saya hanya boleh makan dengan porsi yang sedikit tetapi sering. Jelas, itu tidak mudah ya😊

Puji Tuhan, saya bisa melewati fase ini dan tidak memerlukan suntikan insulin selama proses kehamilan saya. Setelah anak saya lahir pun, saya wajib mengecek kembali kadar gula darah. Dokter internist endokrinologi menyatakan kalau hasilnya normal. Dengan kesadaran saya sendiri, saya harus menjaga pola makan saya. Itu adalah kebiasaan sehat yang harus dilakukan oleh mereka yang didiagnosa diabetes. Saya pun rutin untuk datang dan memeriksakan diri ke Hausartzin atau dokter saya di Jerman. 

Berbicara tentang diabetes, tidak hanya disebabkan oleh pengalaman orang terdekat saya dan apa yang saya alami sendiri. Menurut saya, penanganan diabetes di Indonesia saat ini jauh lebih baik daripada saat perawatan almarhum oma sekitar tahun 1990-an. Keberhasilan ini ditunjang oleh program BPJS-Prolanis atau Program Pengelolaan Penyakit Kronis seperti pasien-pasien yang didiagnosa diabetes di Indonesia. Jadi mereka yang didiagnosa diabetes dapat rutin mendaftarkan dirinya ke puskesmas terdekat, kemudian mereka akan dirujuk ke dokter spesialis endokrinologi. Para pasien diabetes melitus dan hipertensi akan mendapatkan obat gula, pen suntik insulin, bahkan check up laboratorium gratis setiap enam bulan untuk kadar gula darah, Hba1C, fungsi ginjal, dan juga kolesterol darah. 

Saya salut dengan komitmen pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kualitas kesehatan warganya melalui program BPJS. Namun begitu, ini belum sepenuhnya optimal bila tidak didukung oleh kesadaran warga sendiri akan pola hidup sehat. Saat saya berlibur ke Indonesia, saya melihat dan mengalami banyak produk makanan yang dijual dengan kadar gula yang tidak terkontrol. Sayangnya, masyarakat awam masih kurang peka akan hal ini. Hidup sehat itu ada di tangan kita.

Dalam rangka World Diabetes Day, kita bisa mengedukasi diri sendiri dengan membaca informasi yang tertera dalam produk makanan atau minuman yang dijual. Menurut saya, pemerintah Indonesia perlu menerapkan limit maksimal kadar gula dalam suatu produk makanan atau minuman seperti di Eropa. Di beberapa negara Eropa, produsen bahan makanan wajib mencantumkan besaran persentase kadar gula dalam suatu produk makanan yang diproduksi. Semakin banyak kadar gula dalam produk tersebut, maka semakin banyak pajak yang harus dibayar pihak produsen. Cara lain adalah adanya Nutriscore skala yang menjadi patokan huruf dari A sampai dengan E dengan pemberian warna yang menentukan kadar gulanya seperti: A dengan warna hijau, B dengan warna hijau muda, C dengan warna kuning, D dengan warna orange, dan E dengan warna merah.

Sebagai konsumen, kita perlu bersikap cerdas dengan membaca petunjuk kemasan makanan atau minuman yang akan dikonsumsi. Kita perlu cari tahu atau bertanya ke narasumber yang kompeten atau ahli di bidangnya seperti dokter atau ahli nutrisi mengenai diabetes. Saya pikir penting untuk warga Indonesia mendapatkan penyuluhan kesehatan yang benar dan tepat tentang diabetes melalui kegiatan kemasyarakatan di komunitas-komunitas di Indonesia. Seperti misalnya, kita bisa mengedukasi diri dari mitos-mitos yang beredar dan tidak benar. Ada banyak mitos yang mengatakan kalau diabetes menyerang pada orang-orang yang memiliki kelebihan berat badan. Itu tidak benar. Diabetes dapat dialami pada siapa saja, terutama mereka yang tidak bisa menjaga pola makan dan hidup sehat. 

Pesan saya, pertama, diabetes itu bukan penyakit menular ya! Kedua, bersikaplah self-care atau peduli pada apa yang kita konsumsi. Ingat, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Life healthy and balanced ya, Sahabat RUANITA! Terakhir, diabetes melitus bukan akhir segalanya. Kita masih bisa menjalani hidup dengan normal asalkan kita lebih memerhatikan pola makan dan rajin berolahraga, tentunya. 

Penulis: Juliana Wildenauer, tinggal di Jerman dan dapat dikontak via akun Instagram: @schnuckiesnappy.

(WARGA MENULIS) Kampanye Hari Alzheimer Sedunia 2023

  1. Lokasi tinggal: Qatar
  1. Pengalaman dalam keterkaitan dengan Alzheimer

Interaksi saya dengan Alzheimer Indonesia dimulai saat saya mendampingi perwakilan ALZI untuk menghadiri undangan sebagai narasumber dalam konferensi internasional di Qatar. Dalam dialog dan diskusi, saya terinspirasi oleh  ketulusan dan semangat seorang DY Suharya (Founder ALZI).

Didasari motivasi ingin berbagi ilmu dan berkontribusi sebagai seorang dokter umum dan Health Educator, saya bergabung menjadi relawan ALZI sejak tahun 2018. Selama itu, saya mendapatkan banyak pengalaman berharga dan mengharukan terkait pendampingan dan perawatan Orang Dengan Demensia (ODD).

  1. Mengapa penting mengenali Alzheimer sedini mungkin?

Jumlah ODD diperkirakan akan terus meningkat, apalagi pasca pandemi COVID-19 lalu membuat banyak perubahan gaya hidup yang menjadi faktor risiko Demensia. Ini berarti, akan lebih banyak ODD dari yang mungkin diperkirakan. Demensia sendiri dapat disebabkan oleh beberapa kondisi gangguan dan penyakit, di mana kondisi terbanyak adalah jenis Demensia Alzheimer mencakup 60 hingga 70% kasus. Demensia Alzheimer adalah penyakit kronis neurodegeneratif yang umumnya dialami oleh mereka yang berusia diatas 65 tahun. 

Namun, beberapa hal dapat memungkinkan terjadi pada usia yang lebih muda bila terdapat faktor risiko dan kondisi komorbid yang memicunya terjadinya Demensia Alzheimer. Demensia Alzheimer berdampak tidak hanya pada orang yang mengalaminya, tetapi juga pada keluarganya.  

Penurunan fungsi kognitif dan gangguan perilaku dapat muncul dan memberikan pengaruh signifikan pada yang merawat dan mendampinginya. Pengetahuan dasar perihal penyakit, gejala, dan penanganannya sangat penting dimiliki agar semakin banyak orang dapat melakukan pencegahan atau mempertahankan kondisi untuk menghindari komplikasi yang lebih buruk. 

Keterampilan merawat dan mendampingi orang dengan demensia menjadi esensial bagi keluarga demi pengasuhan yang efektif dan  menjaga kesehatan mental caregiver yang mendampingi.

  1. Pesan di Hari Alzheimer Sedunia 2023

Untuk memperingati Hari Alzheimer Sedunia, mari bersama kita mengenali Demensia Alzheimer dan melakukan : 

  • Pencegahan dengan pola hidup sehat, stimulasi otak, dan silaturahmi sebagai bentuk interaksi sosial.
  • Deteksi dini dan penanganan yang komprehensif untuk ODD.
  • Bersama sebagai komunitas, kita dukung ODD dan caregiver dengan kepedulian, menawarkan bantuan, atau perhatian.
  • Menyebarluaskan awareness ini di masyarakat demi terciptanya kualitas hidup yang lebih baik untuk ODD dan caregiver.
  1. Kontak

dr. Kennia

Doha, Qatar

Akun Instagram: dr.kennia

(CERITA SAHABAT) Saya Lelah Menjadi People Pleaser

You can always say no when you don’t want to”, itu adalah kalimat yang sangat sering diucapkan mertua saya kepada saya. Awalnya kalimat tersebut tidak berarti apapun kepada saya. Namun beberapa tahun belakangan ini kalimat tersebut menjadi sesuatu yang sangat sering muncul di kepala saya, ketika melakukan sesuatu atau mengambil sebuah keputusan. 

Hai, saya A WNI yang saat ini tinggal di Jerman and yes I am a people pleaser, not proud of that but it is what it is. 

Saya adalah anak pertama sekaligus cucu pertama dari keluarga ibu saya. Sebagai anak dan cucu pertama tanpa saya sadari saya adalah role model untuk adik-adik sekaligus sepupu-sepupu saya. Sejak kecil secara tidak langsung saya dituntut menjadi anak yang baik, harus bersikap baik, sopan terhadap orang tua, menyayangi adik-adik serta sepupu-sepupu saya, selalu harus mengalah, harus memiliki nilai akademis yang baik, dan masih banyak lagi.

Saya harus selalu mengikuti atau menuruti semua perkataan keluarga saya dan terkadang mengorbankan banyak hal untuk menyenangkan mereka. 

Sejak kecil hingga menginjak usia 30 tahun, saya tidak merasa ada yang salah dengan hal tersebut, namun tanpa saya sadari saya tumbuh menjadi seorang pembohong.

Meskipun sering saya jadikan bahan candaan dengan suami saya, kalau saya adalah pembohong yang tidak akan masuk neraka karena berbohong untuk kebaikan, tetapi berbohong tetap hal yang tidak baik untuk dilakukan.

Follow us @ruanita.indonesia

Menjadi people pleaser membuat saya bahkan sering berbohong kepada diri saya sendiri, bahkan terkadang kepada orang lain. Menjadi people pleaser  seringkali membuat saya tidak menjadi diri sendiri di hadapan orang lain.

Saya sangat sulit untuk berkata tidak, hal ini membuat saya menjadi kewalahan dalam menjalani kehidupan saya, terutama ketika saya bekerja dan harus selalu melakukan semua pekerjaan yang diperintahkan oleh atasan saya. Saya kemudian menjadi orang yang sering menggerutu dan pemarah hingga sering menyalahkan diri saya sendiri ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan apa yang saya harapkan. 

People pleaser sering menemukan kebahagiaan orang lain sebagai sumber kebahagiaan mereka, sehingga membuat mereka sangat sulit menemukan kebahagiaan mereka sendiri. Setelah pindah ke Jerman, saya menyadari kalau ternyata kalimat yang sering diucapkan mertua saya itu sangatlah penting, that’s how human should function, know your limit

Saat ini tentu saja saya masih sering menemukan kebahagiaan saya di dalam kebahagiaan orang lain. Namun setelah bertahun-tahun, saya akhirnya bisa secara perlahan-lahan menjadi seseorang yang lebih jujur dalam mengambil keputusan.

Saya mencoba lebih rasional dalam mengambil keputusan dan menjadi lebih bijak untuk mengartikulasikan alasan saya ketika saya harus mengatakan tidak kepada seseorang. Tidak mudah bagi saya yang besar dalam kebudayaan timur yang sangat kental untuk secara lantang mengatakan tidak atau menolak seseorang, terutama orang terdekat saya.  

Menurut saya, menjadi people pleaser bukanlah hal yang sehat. Kita bisa tetap menjadi seseorang yang baik tanpa harus menyenangkan orang lain, karena tentu saja definisi baik menurut tiap orang akan berbeda-beda.

Berhenti menjadi people pleaser bukan berarti membuat kita menjadi orang yang jahat dan tidak sopan, tetapi  kita hanya perlu mengetahui kapasitas diri kita dan membatasi hal-hal apa saja yang mampu kita lakukan dan tidak mampu kita lakukan. 

Saya rasa menjelaskan dengan baik kepada seseorang tentang penolakan dengan alasan yang logis dan tulus akan lebih baik dibandingkan kita berbohong untuk menghindari melakukan penolakan. At the end of the day, you create your own happiness, therefore it’s better to find it within yourself. 

Penulis: A tinggal di Jerman. 

(CERITA SAHABAT) Semua Itu Butuh Waktu Untuk Beradaptasi dengan Situasi

Banyak keluarga dan kolega menyayangkan keputusanku untuk pindah mengikuti suami ke Jerman. “Sayang, sudah kuliah mahal-mahal akhirnya tidak bekerja,” begitu kata mereka ketika aku memutuskan untuk resign dari pekerjaanku di Indonesia. Bagiku, orang bebas berkomentar apapun, namun kita lah yang mempunyai kendali penuh atas hidup kita. 

Sebelum memutuskan pindah ke Jerman tentunya aku sudah mempertimbangkan segala baik buruknya. Selain itu, aku juga membekali diri dengan belajar Bahasa Jerman dan mencari informasi seputar hidup dan bekerja di Jerman. 

Aku percaya pindah ke Jerman bukanlah akhir dari karierku. Setelah tiba di Jerman dan semua berkas kependudukan selesai diurus, aku mulai mendaftar untuk Annerkennung (=pengakuan ijazah). Sebagai seorang dokter umum, aku perlu melakukan Annerkennung sebelum bisa bekerja di Jerman. Tetapi karena suatu hal, saat ini aku belum bisa mendaftar Annerkennung. Hal ini tidak menyurutkan semangatku untuk berkarir di sini, malahan aku bisa memanfaatkan waktu ini untuk lebih mendalami Bahasa Jerman. 

Namun seiring dengan berjalannya waktu, antusiasmeku mulai memudar. Sebagai orang yang terbiasa bekerja 40-50 jam seminggu, aku mulai merasa membosankan ketika aku tidak bekerja. Di saat yang sama teman-temanku satu per satu mulai melanjutkan pendidikan atau mendapat promosi di karirnya. Sedangkan aku stuck di sini.

Follow us @ruanita.indonesia

Komentar negatif dari keluarga dan kolega ketika aku resign juga terus membayangiku. Hingga aku merasa cemas dan selalu bertanya pada diri sendiri, apakah keputusan pindah ke Jerman adalah hal yang tepat. Everything felt so overwhelming, and I couldn’t stop thinking: what am I even doing here?

Rasa cemas ini sering kali datang, terlebih bila aku sedang sendiri. Terlebih aku tinggal di kota kecil sehingga tidak mudah bagiku untuk mencari komunitas dan bertemu orang-orang baru. Sebelumnya, aku tidak menyangka tinggal di luar negeri bisa membuat kita merasa kesepian seperti ini. Namun aku bersyukur, suami dan teman-teman di sini sangat suportif terhadapku. 

Selain itu, Journaling membantuku mengatasi rasa cemasku. Meluapkan perasaan negatif ke dalam tulisan membuatku lebih tenang. Aku tersadar kalau setiap orang punya mimpinya masing-masing. Penting bagiku untuk fokus pada mimpiku sendiri. Semakin aku membandingkan diriku dengan hidup orang lain, semakin membuatku terus merasa kurang dan hanya akan membuatku berganti-ganti tujuan.

Realita pindah dan ikut tinggal bersama suami di luar negeri memang tidak seindah jalan cerita film komedi romantis. Namun, pindah ke luar negeri dapat membuka kesempatan yang mungkin tidak bisa kita dapatkan di negeri sendiri. 

Penulis: Gita Feddersen, tinggal di Jerman dan dapat dikontak di akun IG: gitafdsn

(CERITA SAHABAT) Ini Tips dan Pengalaman Saya Latih Anak Tidak Mengompol Lagi Pada Fase Toilet Training

Nama saya Inez, saat ini berdomisili di Jerman sejak dari Juli 2022. Sebelum pindah ke Jerman – kurang lebih 6,5 tahun – kami sekeluarga tinggal di Austria. Semenjak menikah, saya tidak bekerja kantoran lagi tetapi saya ikut suami bekerja di Austria. Sekarang saya menjadi ibu rumah tangga. Aktivitas sehari – hari saya seperti ibu rumah tangga umumnya, mulai dari menyiapkan suami berangkat kerja dan anak berangkat ke Kindergarten (=taman kanak-kanak dalam Bahasa Jerman), menyiapkan bekal untuk sarapan dan makan siang hingga selanjutnya saya menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, masak dan  menjemput anak dari Kindergarten. Di sela-sela, itu saya juga membuat konten video & mengedit video untuk YouTube Channel saya. 

Mengenai Bedwetting selama fase Toilet Training, menurut saya hal yang wajar. Perilaku mengompol anak saya saat usia 1,5 tahun ke atas, lebih disebabkan anak dalam masa transisi. Anak diperkenalkan dari yang terbiasa memakai popok sejak bayi sampai di usia 1,5 -2 tahun sampai anak saya dilatih untuk BAK (=Buang Air Kecil) dan BAB (=Buang Air Besar) di toilet. Jadi dia terlanjur mengompol di celana hehehe.

Mengompol di usia 2-4  tahun menurut saya masih batas hal yang wajar ya. Ini bukan karena stres, trauma atau masalah medis. Masa transisi anak dari terbiasa memakai popok ke pelan- pelan lepas popok butuh waktu, dan dalam proses tersebut pasti ada masa anak mengompol. Jadi tidak perlu langsung berfikir anak mengompol karena stress atau ada masalah medis dulu ya. 

Pada saat anak berusia 2 tahun, dia masih agak kesulitan berbicara lancar untuk mengatakan ke toilet hehe. Terkadang anak belum fokus mengatakan keinginannya padahal dia sudah mulai merasakan ingin pipis atau poop. Bisa jadi anak asyik bermain, kemudian tiba-tiba dia mengompol, sementara dia lupa kalau tidak pakai popok lagi hehe.

Follow us ruanita.indonesia

Pada masa transisi, anak saya berusia 1,5 tahun menuju 2 tahun ya, dia hanya memakai popok di malam hari. Dari pagi hingga sore hari, dia hanya memakai celana dalam khusus training. Pada masa itu, anak mengompol dalam 1 hari bisa 2 sampai 3 kali. Penyebabnya, menurut saya, selesai anak minum susu atau air, dia mengalami kebelet pipis. Namun, anak belum bisa lancar berkomunikasi sehingga terjadi mengompol di celana. Penyebab mengompol lainnya dari pengamatan saya, anak belum bisa menahan pipis saat anak sedang berjalan menuju ke toilet. 

Setelah anak pelan-pelan sudah terbiasa ke toilet, saya kemudian melatih untuk melepas popok di malam hari secara perlahan.  Sebelum tidur, anak terbiasa minum susu. Saya kemudian meletakkan alas tidur di atas kasur – semacam perlak – supaya tidak tembus air ke Kasur kalau dia mengompol. 

Pada masa latihan tersebut, anak masih mengompol beberapa hari. Setelah 1-2 minggu kemudian, anak sudah mengerti. Kalau anak sudah merasa ingin pipis, dia harus membangunkan saya sebagai ibunya untuk mengantarkannya ke toilet. Menurut saya, pada masa transisi fase toilet training ini, jika anak masih mengompol maka kita belum perlu berkonsultasi ke ahli ya. Kita mungkin perlu datang berkonsultasi ke ahli kalau  anak telah berusia 5 tahun ke atas dan masih sering kedapatan mengompol. 

Berdasarkan pengalaman saya, saya tidak berkonsultasi kepada siapa pun. Saya menjalani proses Latihan toilet training ke anak secara mandiri. Saya pikir, kuncinya adalah orang tua harus sabar dan belajar mencari tahu tentang proses toilet training tersebut lewat literatur yang tersedia. Sebagai orang tua, kita perlu menyiapkan diri apa saja yang diperlukan anak dalam fase toilet training tersebut. 

Berikut ini adalah persiapan saya melatih anak untuk tidak mengompol di fase Toilet Training:

  • Toilet mini anak (potty chair

Potty chair punya anak saya bahkan ada musik yang membuat dia merasa nyaman dan senang saat dia pipis atau poop. Kalau dia merasa berhasil, maka keluar musik. Teknik selanjutnya Pretend Play, di mana anak juga bisa diperkenalkan tentang tombol flush seperti layaknya toilet orang dewasa. Ini membantu anak tahu bagaimana menggunakan toilet pada umumnya. 

  • Toilet chair 

Setelah anak sudah memahami kapan waktunya BAK atau BAK, kita bisa perlahan mengajak anak untuk ke toilet orang dewasa umumnya. Kita bisa membelikan toilet chair dengan motif yang disukai anak-anak. Ini biasa digunakan hingga dia berusia 5 tahun. Anak juga bisa menggunakan tangga dengan variasi model yang disukai anak-anak dan nyaman untuknya. 

  • Training pant 

Di awal fase belajar, karena anak masih terbiasa dengan popok. Orang tua bisa menggantikan popok dengan training pant ini sebagai masa transisi untuk mengenakan celana dalam. Kalau anak masih mengompol, orang tua dengan mudah mencucinya.  

  • Perlak atau seprai anti air

Menurut saya, kita perlu untuk meletakkan alas semacam perlak atau seprei anti air. Pada masa fase ini, anak sudah mulai belajar untuk tidak mengenakan popok lagi saat tidur di malam hari.   

  • Buku bacaan untuk anak tentang Toilet Training

Saya sengaja membeli buku cerita bergambar untuk anak sehingga anak bisa memahami soal kebersihan diri seperti menyikat gigit atau BAK/BAB. Di sini anak bisa melihat gambar dan orang tua bisa mendampingi anak untuk memahami kebiasaan-kebiasaan tersebut.

  • Catatan observasi waktu anak BAB/BAK

Orang tua perlu memantau waktu jam BAB/BAK sehingga lebih memudahkan untuk memberitahukan ke anak. Kita bisa mencatat frekuensi anak memerlukan toilet. Kita melatih bagaimana anak duduk di toilet. Catatan ini saya buat di hape saya saja. Kalau malam hari, saya kadang bangun dan mengecek keinginan anak untuk pipis misalnya. 

  • Sering berkomunikasi ke anak

Ajari anak untuk memahami mengapa dia harus BAB/BAK di tempat sebenarnya. Ajari anak mengapa dia perlu tahu menggunakan toilet. Saya katakan padanya bahwa dia perlu belajar sendiri karena dia perlu pergi ke Krabbelstube – semacam PAUD di Indonesia. Usia anak saya saat itu masih 1,5 tahun.

Banyak pula mitos yang berkembang di masyarakat di Indonesia, perihal mengompol pada anak. Misalnya pusar anak perlu digigit capung untuk menghentikan kebiasaan mengompol. Mitos lainnya mengatakan kalau anak dilarang untuk mengonsumsi makanan pedas atau asam, supaya anak tidak terlalu banyak minum yang jadi penyebab mengompol. Saya sendiri lebih memilih tidak terlalu memercayai mitos yang beredar perihal kebiasaan mengompol. 

Ada juga pendapat yang mengatakan kalau kebiasaan mengompol anak dikarenakan History dalam keluarga seperti ayah atau ibu yang memang mengompol pada masa anak-anak. Sejujurnya, saya tidak ingat tentang pengalaman masa kecil saya. Apakah saya pernah mengompol atau tidak saat saya masih anak-anak tersebut? Saya rasa hampir semua orang di masa kanak-kanak pernah mengompol ya ‘kan.

Sebagai orang tua, kita tidak perlu mengkhawatirkan berlebihan tentang kebiasaan mengompol anak di fase Toilet Training sepanjang anak masih berusia 1-4 tahun dan dalam batas wajar. Seperti yang disampaikan sebelumnya, orang tua perlu mengamati dan memahami apa yang menjadi penyebab anak mengompol. Misalnya anak terlalu banyak minum susu atau air sehingga dia malas untuk bangun dan berjalan ke toilet. Selama perilaku mengompol anak hanya 1-2 kali dan tidak terlalu sering, kita bisa menganggap hal tersebut dalam batas wajar kok. 

Kita perlu mengecek dan berkonsultasi ke ahli, apabila anak masih memiliki kebiasaan mengompol yang intens padahal anak sudah berusia di atas 5 tahun, bahkan hingga anak berusia 7 tahun. Saran saya, sebelum kita berkonsultasi ke ahli, kita bisa bertanya ke anak. Tanyakan ke anak, mengapa dia masih mengompol. Apakah anak mengalami keterlambatan perkembangan seperti komunikasi, berjalan, atau lainnya?

Menurut saya, anak seharusnya bisa memahami apa yang disampaikan oleh orang tua agar anak dapat pipis atau poop di tempat yang tepat. Kalau anak belum memahami apa yang disampaikan orang tua, kita bisa bertindak untuk mengatur pertemuan dengan ahli.

Untuk Sahabat RUANITA yang memiliki anak sedang dalam fase toilet training dan anak masih mengompol, pastikan anak dan orang tua siap dan sabar. Karena di fase toilet training, orang tua perlu bolak-balik membersihkan celana bekas pipis atau poop. Kita perlu sering bangun di malam hari untuk mengecek anak. Bisa jadi kita pun kesal atau lelah dengan proses tersebut yang kemudian bisa berdampak ke anak juga loh. Kalau sudah begitu, anak bisa jadi takut untuk belajar. 

Saya bersyukur bahwa saya dan anak dapat melewati fase toilet training berjalan lancar dan aman, dimulai pada saat anak berusia 1,5 tahun. Semoga pengalaman dan cerita saya ini bermanfaat untuk semua. 

Penulis: Inez, tinggal di Jerman. Dia dapat dikontak via instagram @inez_ck dan pengelola kanal YouTube Inez CK

(CERITA SAHABAT SPESIAL) Kenali Ragam dan Bentuk Human Trafficking yang Tak Tampak

Dalam rangka Hari Internasional Anti Perdagangan Manusia Sedunia yang jatuh tiap 30 Juli, RUANITA mengundanga Sahabat RUANITA yang tinggal di Inggris dan pernah menyelesaikan studi S3 terkait Human Trafficking atau Trafficking in Persons dengan studinya dilakukan di Indonesia. Dia adalah Gopala Sasie Rekha yang kini menjadi pengajar di Faculty of Law, Crime & Justice, Universitas of Winchester, Inggris. Dengan nama panggilan Rekha atau Sasie, dia menjelaskan tentang perbudakaan di masa lalu dan masa kini yang terjadi dalam berbagai bentuk.

Di awal, Rekha menjelaskan tentang bagaimana perbudakan atau Slavery pada jaman kolonial terjadi dan mengapa bisa terjadi pada masa itu. Rekha pun menjelaskan bagaimana nenek moyangnya dari India telah membawanya hingga ke Indonesia akibat pada masa itu. Menurut Rekha, orang terpaksa menjalani perbudakan karena terjadi otomatis.

Perbudakan pertama yang terjadi adalah Racial Slavery atau perbudakan berdasarkan kulit, yang kemudian disusul perbudakan berdasarkan agama, ekonomi, status sosial, dsb. Pada akhirnya, perbudakan sudah dilarang sejak tahun 1800-an.

Follow us: @ruanita.indonesia

Pada masa kini, Rekha mengakui terjadi berbagai bentuk “perbudakan moderen” yang tampak seperti payung yang lebih fokus pada “perbudakaan ekonomi”, yang terdiri atas berbagai macam istilah seperti Human Trafficking, Child Exploitation, Labor Exploitation, dan lainnya yang banyak ragamnya.

Bahkan istilah trafficking bisa merujuk pada drugs trafficking, organ trafficking, dan lainnya sehingga ini termasuk sebagai organized crime. Kebanyakan awam memandang Human Trafficking hanya pada area internasional, kenyataannya tidak demikian. Kebutuhan akan permintaan orang dengan berbagai tujuan bermunculan setiap saat yang tidak tampak seperti Bride Trafficking yang mungkin dianggapnya adalah seperti pernikahan impian.

Ketika perempuan tersebut menjadi korban Bride Trafficking, dia tidak menyadari bahwa ada banyak pekerjaan rumah tangga yang dipikulnya dan tidak mengetahui hak-haknya untuk hidup dan tinggal di negara tujuan. Tak jarang korban Bride Trafficking pun harus mengalami penyiksaan dan kekerasan dari pasangan.

Rekha juga menambahkan istilah Human Smuggling yang kini dianggap menjadi jalan seseorang untuk keluar dari negaranya. Di jaman seperti sekarang, kasus Human Smuggling masih terjadi karena tradisi, ritual atau Honor Killing yang menyebabkan seseorang terpaksa keluar dari negaranya tersebut. Rekha juga berpendapat kalau Human Smuggling ini pasti ilegal dan tidak ada dokumen penyertanya.

Lalu mengapa istilah “Slavery” tidak tepat digunakan dalam konteks sekarang? Mengapa Human Trafficking disebut sebagai organized crime? Apa bedanya Human Trafficking dengan Human Smuggling? Apa maksudnya Honor Killing itu? Apa yang sebaiknya kita lakukan agar terhindar dari jerat perdagangan manusia ini?

Simak video selengkapnya di kanal YouTube berikut ini:

(CERITA SAHABAT) Ular Mengganti Kulitnya Untuk Menjadi Ular yang Lebih Besar Lagi

Semua dimulai ketika saya mengikuti program Ausbildung. Ausbildung adalah proses pendidikan vokasional yang dilaksanakan pemerintah Jerman untuk periode tertentu. Saya berangkat bersama salah satu teman sekampus saya. Kami tidak begitu dekat, tetapi selama proses Ausbildung kami menjadi dekat. Kami merasa saling berempati karena masa Ausbildung yang kami lewati sangat berat. Sedih dan senang kami lalui bersama.

Suatu hari, ia bertengkar hebat dengan atasan kami. Ia merasa tertekan, lalu kami mengobrol di ruang tertutup. Ia bercerita pada saya bahwa dia akan pulang ke Indonesia. Saya mengatakan untuk jangan berhenti di tengah jalan karena hanya tinggal 1 tahun lagi sampai kelulusan. Lalu ia mengatakan bahwa ibunya tengah sakit dan ia lebih baik pulang daripada meneruskan program ini. Mendengar alasan itu, saya hanya terdiam dan mengiyakan kepulangannya ke Indonesia.

Hari di mana ia pulang, saya mengantarkannya ke bandara Hamburg, dan membantu mendorong koper besarnya. Hari itu saya bahkan tidak masuk sekolah dan berbohong dengan alasan sakit demi mengantarnya. Sesampainya di bandara, saya mengatakan bahwa jika nanti ia sampai di Indonesia dan teman-teman lain ingin tahu tentang hidup saya, tanyakan langsung pada saya, saya akan menjawab sendiri.

Sebelumnya mereka sudah penasaran dengan kehidupan saya di Jerman.  Saya tidak ingin ia terganggu dengan pertanyaan tidak penting mereka. Ia pun mengangguk. 

Beberapa bulan setelah kepulangannya, kami masih sempat mengobrol baik. Suatu hari ia mengutarakan isi hatinya selama ini di dalam grup whatsapp kami dan teman lainnya. Ia mengatakan bahwa ia sudah muak kepada saya.

Saya dituduh menjelek-jelekkannya di depan kolega kerja lainnya sehingga mereka membencinya. Saya juga disebut sebagai alasan mengapa ia pulang ke Indonesia. Tidak hanya saya, semua teman di grup tersebut ia umbar keburukannya. Saya sangat geram, bahwa tidak seharusnya ia mefitnah kami di depan lainnya seperti itu.

Saya mengatakan jika ia memang kesal dengan saya, mengapa tidak dari dulu saja ia utarakan isi hatinya. Mengapa baru sekarang ia berperilaku demikian? Alasannya sederhana, dia sedang menstruasi sehingga emosinya saat ini berapi-api. Itu tidak masuk akal.

Saya sebagai ketua grup langsung mengeluarkan dia karena hal tersebut telah membuat saya kesal. Saat itu juga saya langsung mengatakan jika ada yang merasa kesal satu sama lain, silakan menyelesaikannya secara pribadi. Jangan sampai orang lain tahu karena itu tidak baik. Detik itu juga saya blokir semua kontak dan media sosialnya. 

Ternyata ia tidak berhenti sampai di situ. Ia mengontak teman-teman sekelas kami di Berufsschule dan menanyakan keberadaan ijazah kelas duanya yang tentu saja ada pada saya. Mereka pun berdatangan dan bertanya apakah kami sedang bertengkar.

Teman-teman pun bercerita bahwa pada awalnya ia sebenarnya sudah tahu keberadaan ijazahnya ada pada saya kemudian ia menjelek-jelekkan saya pada teman-teman lainnya.

Suatu hari saya mendapat kabar dari salah seorang teman kampus saya bahwa tingkahnya semakin hari semakin aneh. Dari menolak lamaran kerja karena  dia tidak suka Jobdesc-nya sampai mengutarakan bahwa ia menjalin hubungan dengan seseorang yang fiktif.

Saya sangat tahu keadaannya saat ini, di mana ia sedang stres karena uang mulai menipis dan ia masih belum juga bekerja. Saya justru merasa iba dengan cerita tersebut sampai kami kembali bertengkar hebat dalam grup kampus.

Semula berawal ketika akhirnya ia mengaku „dikerjain“ sepupunya yang mengedit fotonya dengan pria asing lalu disebar dalam grup kampus. Ia juga mengatakan bahwa aplikasi Tinder tidak selalu buruk, ia menyebut nama saya sebagai buktinya. Ia seolah-olah kembali menyeret saya dalam permainannya, dan saya tidak senang.

Follow us: @ruanita.indonesia

Saya yang selama ini diam, langsung menanyakan padanya mengapa ia mefitnah saya dan mengatakan hal jahat tentang saya  pada orang lain? Bahkan ia mengumbar  rahasia yang selama ini saya simpan padanya di depan banyak orang.

„Kamu sendiri yang mengatakan kamu tidak baik. Bahkan orang tuamu saja sampai menitipkanmu padaku karena mereka tidak sanggup mengurusmu!“.

Saya sangat terkejut dan langsung menanyakan kebenaran itu lewat orang tua saya. Ibu saya mengatakan tidak mendapat pesan apapun tetapi ayah saya lah yang menerimanya. Ayah saya mengatakan bahwa beliau sempat dikontak olehnya dan mengatakan bahwa saya sekarang memiliki seorang kekasih.

Ia memohon ayah saya untuk menasihati saya dan dan mengatakan „Dosa seorang ayah tidak bisa menasehati anak perempuannya“. Ayah saya sempat berterima kasih kepadanya dan mengatakan bahwa itu bukan urusannya. 

Kejadian tersebut meninggalkan bekas luka yang mendalam untuk saya. Sampai saat ini saya belum membuka hati untuk mencari teman baru. Pasangan saya pun sedih  dan selalu meminta untuk mencari teman baru tetapi selalu saya tolak. Saya belum siap karena luka tersebut membuat saya trauma.

Suatu hari saya melihat sebuah video yang mengatakan „Jangan membuka peluang sekali lagi untuk seseorang yang sudah menghancurkan hubungan dalam segi pertemanan, keuangan atau percintaan! Ular mengubah kulitnya untuk menjadi ular yang lebih besar lagi“. 

Penulis: Brina Weis tinggal di Jerman dan dapat dikontak di Instagram @svasthi_

(CERITA SAHABAT) Ini Pendapatku dan Teman-Temanku Soal Fast Fashion, Kalau Kamu?

Halo Sahabat Ruanita, perkenalkan nama saya Euginia Putri Stederi atau terbiasa dipanggil Uti. Saya berdomisili sejak 2007 di Hannover, Jerman. Latar pendidikan saya sebenarnya adalah Ingenieur of Electrotechnics, tetapi sejak 2014 saya sangat tertarik dengan tema fesyen. Sejak 2016 saya memutuskan untuk lebih memperhatikan fashion yang saya pakai. 

Sejak 2016, saya mulai untuk membeli barang- barang secondhand untuk kepentingan fashion saya seperti sepatu, celana, dan baju. Sejak 2019 saya mulai bekerja, saya memutuskan untuk mendukung produk-produk local fashion baik yang berasal dari Jerman maupun Indonesia. Selain itu, saya juga berusaha memerhatikan produk-produk yang mendukung tema Recycle, Reuse dan Reduce

Memang saya belum berhasil 100% untuk tidak membeli barang dari fast fashion, tetapi setidaknya 70%-80% produk fesyen yang saya punya sekarang berasal dari seconhandshop ataupun produk-produk lokal.

Melalui kesempatan ini, saya mau sharing pendapat saya dan teman-teman saya tentang tema Fast Fashion yang akhir-akhir ini marak di dunia. Sebenarnya, apa sih Fast Fashion itu?

Follow us: ruanita.indonesia

Dari sudut pandang saya, definisi Fast Fashion adalah produksi massal dari barang-barang tekstil untuk berbagai macam ragam produk fesyen dan silih berganti, dengan waktu yang cepat. Contohnya saya tidak bisa menyebutkan nama merek di sini, tetapi kalian pasti tahu.

Ada pun pendapat teman saya tentang Fast Fashion, yakni Natasya Metta W.: “Industri yang mengikuti trend yang artinya berubah secara cepat setiap musimnya.” Lainnya Shahista K berpendapat: “Baju murah, diproduksi massal, dan selalu cepat berubah.”

Secara psikologis, mengapa ya orang tertarik dengan Fast Fashion? Menurut saya, sebagian orang tertarik karena ada faktor dorongan sosial. Mereka akan terlihat lebih trendy, gaul, dan tampak kekinian sekali. Selain itu, orang lain akan lebih „tertarik“ secara sosial dengan mereka. 

Teman-teman saya lainnya seperti Anastasia R. yang mengatakan kalau harga juga memengaruhi orang untuk membeli Fast Fashion. Pendapat lainnya seperti Cia, yang mengatakan kalau iklan yang memanfaatkan Influencer yang mengikuti tren juga mendorong untuk melakukan Fast Fashion

Namun begitu, saya sependapat kalau Fast Fashion itu berbahaya bagi lingkungan hidup. Pihak perusahaan ketiga, yang memenuhi pesanan ini dari perusahaan Fast Fashion, sayangnya tidak memiliki sistem pengaturan pembuangan limbah yang tepat. 

Misalnya saja, limbah kain atau pewarna tekstil dibuang ke sungai, tanpa pengolahan sebelumnya. Pendapat ini disampaikan oleh seorang Designer lokal di Hannover, Lorena W dalam Bahasa Jerman yang dikutip berikut ini „C02 austoß, wasserverschwendung, umweltverschmutzung, chemikalien im Wasser.“

Itu baru soal lingkungan hidup, dampak lainnya soal kemanusiaan loh. Secara kemanusiaan, bisnis Fast Fashion itu tidak baik juga. Menurut opini saya, kebanyakan bisnis Fast Fashion menggunakan jasa dari orang lain atau tepatnya negara lain, terutama negara berkembang yang menawarkan upah yang sangat minimum. 

Mengapa ini berbahaya? karena hampir semua pekerja tidak mempunyai asuransi dan mendapatkan perlindungan yang semestinya, baik untuk perlindungan fisik maupun psikis. 

Cia, teman saya, berpendapat demikian dalam Bahasa Inggris: “Unregulated 3rd companies that fulfill these fast fashion orders usually not regulated and see their workers as disposable workforce, thus the working conditions are inhuman and the workers are paid per clothes they managed to finish with minimum payment.

Nah, Sahabat Ruanita bisa paham kalau kita perlu mengatasi Fast Fashion sebelum bertambah buruk lagi. Menurut saya, kita bisa membatasi pembelian barang-barang fesyen dari Fast Fashion. Cara lainnya adalah berusaha untuk memperbaiki pakaian yang rusak. Kita bisa juga memberi atau menjual ulang ke orang lain. 

Selain itu, saya secara pribadi, kita bisa membeli dari secondhand shop atau produk-produk lokal. Hal terpenting juga kalau kita ingin tampil bergaya kekinian, kita bisa memanfaatkan Slow Fashion yang tak kalah keren juga.

Terakhir nih, pesan saya untuk Sahabat Ruanita semua yang ingin mengikuti gaya hidup kekinian tetapi ramah lingkungan. Kita tidak perlu membeli atau mengikuti segala hal yang serba kekinian. Jika kita tidak mengikuti tren, bukan berarti kita tidak bisa masuk dalam lingkungan sekitar ‘kan. 

We can be smart dengan membuat padu padan barang-barang fesyen yang dimiliki. Kita bisa tampil percaya diri juga dengan apa pun yang kita kenakan. Bagaimana pun barang-barang fesyen juga akan terbuang percuma seberapa pun mahal dan kekiniannya barang tersebut. 

Hal terpenting dalam berpakaian menurut saya, kita perlu mengonsumsi barang-barang fesyen yang ramah lingkungan. Dengan begitu secara tidak langsung, kita sudah ambil bagian dalam proses merawat lingkungan hidup sekecil apapun itu.

Penulis: Uti dapat dikontak via akun IG: utt_tee dan tinggal di Jerman.

(CERITA SAHABAT) Kemampuan Bahasa Jerman Adalah Kunci Integrasi Budaya di Jerman

Saat mendapat tawaran menulis CERITA SAHABAT, saya memilih tema integrasi budaya,  ketimbang dua tema lainnya. Padahal kursus integrasi saya ikuti 10 tahun lalu. Apakah pengalaman  saya tersebut masih relevan saat ini? Awalnya saya pikir saya bisa bercerita menarik mengenai kursus integrasi budaya, ternyata sampai sebulan  tenggat waktu yang diberikan, saya belum juga selesai menulis. 

Nama saya Nella Silaen, berusia 44 tahun dan ibu dari dua anak (usia 8 tahun & 6 tahun). Saya tinggal di Chemnitz,  Sachsen. Saya tinggal di Jerman sejak Mei 2011. Aktivitas keseharian selain sebagai ibu rumah  tangga, saya sedang mengikuti kursus B2-Deutschkurs Beruf. Saya memiliki hobi berkebun dan mengerti sedikit cara merawat anggrek. Karena hobi berkebun tersebut, saya kerap mendapat panggilan untuk  mengurus kebun orang Jerman. 

Saya datang ke Jerman sebagai imigran cinta. Saya bertemu suami di online date. Kita saling cocok  secara online lalu dia datang dua kali mengunjungi saya di Jakarta. Saya kemudian pergi ke Jerman bertemu  keluarganya. Saya kembali ke Jakarta dan mengurus semua surat untuk menikah di Jerman. 

Saat kami tiba di Jerman untuk menetap, kita mendaftarkan diri di kantor imigrasi (Ausländerbehörde) nanti  kita diberitahu wajib ikut kursus integrasi. Petugas akan memberikan daftar tempat kursus yang berada di wilayah tempat tinggal kita. Atau kalau kita mau cari sendiri tempat kursusnya, pun bisa juga.  

Setelah setahun tinggal di Jerman dan akan memperpanjang izin tinggal, petugas imigrasi akan  menanyakan sertifikat kelulusan kursus integrasi. Atau, kalau mau apply izin tinggal tak terbatas di Jerman maka kita harus menunjukkan sertifikat lulus B1.

Follow us: ruanita.indonesia

Apa itu Kursus Integrasi (Integrationskurs)?  

Kursus integrasi adalah kursus yang wajib diikuti oleh pendatang di Jerman (warga non EU), kursus ini terdiri dari kursus bahasa dan kursus orientasi. Saat ini kursus Integrasi memiliki 700 jam  pelajaran. Biaya € 2,29 per jam pelajaran. Kursus Integrasi 600 jam dan kursus orientasi 100 jam. 

Tahun 2012, saya mengikuti kursus integrasi masih 660 jam dan biaya 1 Euro/jam pelajaran. 1 jam  pelajaran 45 menit. Ujian akhir gratis. 

Kursus Integrasi wajib diikuti sampai tingkat B1. Mulai A1, A2 dan B1. Biaya kursus tidak dibayar  sekaligus, tetapi tiap 100 jam pelajaran barulah kita bayar. Jika kita lulus ujian B1 maka kita  kita mendapat kembali 50% uang kursus tersebut. Jadi pemerintah menanggung 50% nya. Jika peserta kursus tidak lulus ujian B1 maka kita bisa mengulang kursusnya dan tidak membayar lagi. Namun tidak ada pengembalian 50% uang kursus. 

Kalau kita sudah bisa bahasa Jerman, atau dari Indonesia sudah mempunyai sertifikat lulus ujian C1 atau C2 maka kita tidak perlu ikut kursus integrasi lagi, mungkin perlu ikut kursus orientasi (100 jam). 

Mengapa pendatang di Jerman wajib ikut kursus integrasi? 

Jika kita ingin tinggal di Jerman, kita harus berbicara bahasa Jerman. Integrationskurs (Kursus  Integrasi) wajib diikuti para migran dan pendatang sejak tahun 2005. Kalau kita tidak paham Bahasa Jerman, bagaimana keseharian kita? 

Tentu saja ini akan merepotkan karena orang Jerman hanya mau bicara bahasa mereka saja. Kalau di Belanda, masih banyak orang mau berbahasa Inggris. Di Jerman jangan sakit hati dicuekin kalau tidak bisa bahasa Jerman! 

Ya, mungkin di kota besar yang banyak expat seperti di Berlin, München atau Frankfurt bisa pakai Bahasa Inggris. Namun kalau kita berurusan dengan petugas kantor pemerintahan, misalnya mau urus surat apapun, penting bagi kita bisa berbahasa Jerman. 

Pengetahuan bahasa Jerman membantu kita ketika mencari pekerjaan, bagaimana cara menulis surat lamaran, saat wawancara pekerjaan, harus mengisi formulir di kantor Imigrasi misalnya, atau mau  membuka rekening bank, mau mendaftar sekolah anak, berbelanja, kunjungan ke dokter, ke kantor pos,  menonton tv, menyapa orang asing, dan berbagai hal. Dalam keseharian, kita membutuhkan  kemampuan Bahasa Jerman. 

Pada kursus integrasi selain belajar bahasa Jerman dari tingkat dasar A1 kita juga belajar tentang  negara Jerman, seperti sejarah, budaya, dan sistem hukumnya diajarkan dalam kursus orientasi. 600  jam belajar Bahasa Jerman. 100 jam nya adalah kursus orientasi. Ujian akhir ada 2, yakni ujian B1 dan ujian orientasi. 

Pelajaran Bahasa Jerman di kursus integrasi menurut saya menarik. Kita mendapat buku yang isinya pelajaran membaca (lesen), menulis (schreiben), mendengar (hören) dan berbicara (sprechen). Tiap bab berbeda temanya. Misal bagian awal diajarkan bagaimana cara menyapa orang dengan sopan,  bagaimana cara berkenalan, cara membuat janji dengan dokter, dan berbagai tema menarik lainnya seperti berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. 

Deutsch ist eine schwere Sprache! Sebaiknya kita tidak bolos satu kalipun dari kursus. Kalau kita pernah bolos dan terlewat bagian pelajaran penting, maka kita akan sangat kesulitan ikut bab berikutnya. Kerjakan semua PR yang diberikan dan bisa cari contoh ujian di internet. 

Bagian kursus orientasi 

Kita belajar tentang negara Jerman seperti sejarah, budaya, dan sistem hukumnya. Selain itu, kita  belajar mengetahui tipikal orang Jerman seperti apa. Misal budaya Jerman tepat waktu, jangan jam  ngaret seperti di Indonesia dibawa ke Jerman. Kita akan kena omelan kalau tidak tepat waktu,  meskipun oleh keluarga sendiri. Saat saya mendapat undangan makan, kita datang telat, suami dan saya pernah loh kena marah ibu mertuaku haha… 

Budaya bikin termin di Jerman. Kalau di Indonesia mau berkunjung ke tetangga, teman dekat,  teman kantor bisa saja tiba-tiba datang ‘kan. Nah, kalau di Jerman kita wajib bikin janji terlebih dahulu. Jangan sakit hati kalau kalau nge-bel rumah sahabatmu, walau yang bersangkutan ada di dalam rumah, dia tidak akan membukakan pintu haha. 

Budaya memisahkan sampah di Jerman. Kalau di Indonesia semua sampah disatukan di tempat  yang sama. Nah, di Jerman bisa sampai 5 jenis dipisahkannya di tiap rumah tangga. Sampah kertas  ada tong khusus, sampah plastik, sampah organik, botol & gelas terpisah, dan sampah tidak bisa didaur  ulang (rest müll). Baju bekas mau disumbangkan pun ada tempat khusus.  

Sampah elektronik ada tempat khususnya. Kalau kita tidak memisahkan sampah menurut jenisnya,  seringkali petugas angkut sampah buka tutup tong sampah dilihat sekilas isinya. Kalau tidak sesuai  isinya, mereka tidak mau angkut. Atau kita dikasih kertas peringatan. Kalau kita mendapat beberapa kali peringatan maka kita kena denda deh!

Oh iya, botol beling bekas dibuang pun ada aturannya loh. Ada tong khusus sesuai warna botolnya  haha. Ada tempat botol hijau, coklat, dan bening. Sebaiknya, kita melepas tutup botolnya juga. Bukan di Jerman memang, kalau itu tidak bikin ribet!

Kalau di Indonesia, kebanyakan suami tugasnya mencari uang di luar rumah dan ibu rumah tangga  mengurus anak, masak dan beberes rumah. Nah, pria di Jerman selain mencari uang dan membantu  istrinya, dia perlu mengurus anak, mandiin anak, memberi makan, dan ajak anak jalan-jalan. Ini agar si ibu punya waktu istirahat sebentar. Suami di Jerman juga mau disuruh masak, bebersih rumah dan menjemur cucian. 

Orang Jerman itu to the point, bicara apa adanya. Kalau istri bertanya „Bagus mana, rambut pendek  atau panjang. Baju mana  yang lebih bagus dan seterusnya?“  jangan kamu mengharapkan jawaban yang menyenangkan dari suami. Sebaiknya jangan tanya pendapat orang Jerman, kecuali kalau siap sakit hati atau tidak sesuai yang ingin kamu dengar. 

Orang Jerman kerap menegur kalau ada yang salah. Misal, tetangga menegur karena kita salah membuang sampah. Kita naik  sepeda saat malam lalu lampu sepeda tidak nyala terkadang ada yang menegur. 

Jangan heran juga kalau tetangga datang atau lapor polisi saat kita ribut bikin gaduh di jam tenang (Ruhezeit). Jam tenang yakni jam 10 malam hingga jam 7 pagi. Jam 1 siang hingga jam 3 sore jam pun termasuk jam tenang juga. Hari Minggu & tanggal merah satu hari pun dianggap jam tenang. Jadi kita tidak boleh bikin ribut. 

Hati-hati ya, kalau mau masak yang bau-bau seperti goreng ikan asin, bikin sambal terasi, goreng  ikan teri! Waspada kita ditegur tetangga karena aroma masakan tersebut mengganggu mereka haha. Jangan kaget kalau kita didatangi polisi karena tetangga lapor ada cium bau mayat. Padahal kamu sedang goreng ikan asin.

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.“ Kita sebaiknya bisa menyesuaikan diri dengan  lingkungan di mana kita tinggal. Dalam hal ini, kita tinggal di Jerman. Apa yang boleh saja dilakukan di Indonesia,  bisa saja tidak biasa di Jerman :). 

Pesan saya, kalau kita mau ikut kursus integrasi, penting kita mengetahui budaya orang Jerman. Saat kita mampu  berbahasa Jerman dengan baik, kita bisa mengemukakan pendapat kita sendiri. Kalau apa yang kita  lakukan benar sesuai aturan di Jerman, JANGAN takut untuk melawan orang Jerman juga hehe:) Jangan takut untuk komplain, seperti saya pernah menjawab tetanggaku yang rese teriakin dua anakku yang main di kebun kita. Anak-anakku disuruh tidak ribut. Padahal anak-anakku bermain bukan di jam tenang loh.  

Si tetangga lansia rese itu sudah lebih dari 2 kali teriakin anak saya. Jadi saya melawan. Saya menjawab saja kalau anak-anak berhak main dan bisa bikin ribut. Saya pun pernah beberapa kali komplain ke kasir karena kurang uang kembalian atau berbagai komplain lainnya. Ya, itu karena saya mengerti Bahasa Jerman. 

Penulis: Nella Silaen, penulis di http://www.pursuingmydreams.com.

(CERITA SAHABAT) Kesepian Itu Beda Dari Sendirian, Mau Tahu?

Sahabat RUANITA, saya senang sekali bisa ikut serta berbagi cerita kehidupan saya di Turki. Saya akhirnya memberanikan diri menuliskan cerita pengalaman hidup bertema kesepian di negeri orang ini dengan harapan teman-teman yang ingin pindah ikut suami ke negeri yang baru dapat mengantisipasi perasaan seperti ini. 

Perkenalkan nama saya Ika yang pindah ke negeri suami, Turki sejak 2020. Dahulu saat saya masih di Indonesia, saya bekerja sebagai Customer Service di perusahaan asuransi dan perbankan. Tentunya pekerjaan tersebut membuat saya bertemu dengan banyak orang tiap hari. Buat saya bertemu dengan orang baru, itu bukan perkara sulit untuk membangun komunikasi.

Dahulu saya tidak mengalami kesepian, dengan kesibukan bekerja dan kultur masyarakat Indonesia yang hangat. Saya sendiri tidak pernah membayangkan kalau saya akan tinggal di negeri yang jauh dari tanah air dan jauh dari keluarga yang dicintai.

Setelah menikah dan menetap di Turki, saya belum menemukan pekerjaan yang pasti. Aktivitas saya sehari-hari seperti ibu rumah tangga umumnya. Saya bahagia bercampur sedih ketika saya berhasil menikah dengan pria pujaan saya dan sedih karena saya harus berpisah dengan keluarga di Indonesia. 

Jauh dari keluarga dan ditinggal suami pergi kerja itu membuat saya semakin sedih dan merasa kesepian. Kesepian menjadikan saya lebih sensitif. Saya jadi mudah menangis apalagi bila saya rindu keluarga di Indonesia. Rindu juga bagaimana saya dulu begitu sibuk bertemu dengan banyak orang pada saat bekerja.

Setelah suami pergi kerja, saya biasanya mulai membuka laptop dan ber-google ria untuk mengusir kesepian dan kesedihan. Saya mencari film yang disukai seperti komedi misalnya untuk mengobati rasa sedih. Kadang saya mencari aneka resep masakan dan mencobanya di dapur rumah sendiri. Dengan adanya internet, saya juga banyak mencari tahu rempah-rempah yang kadang sulit ditemukan di Turki kemudian berusaha keras mencari alternatifnya sehingga mirip seperti di tanah air.

Follow us: @ruanita.indonesia

Menurut saya kesepian dan sendirian itu berbeda. Sendirian itu lebih pada eksistensi dirinya yang memilih tinggal tanpa orang lain. Bisa jadi sendirian tidak membuat dia kesepian seperti saya yang kadang sensitif dan menangis sesenggukan karena kesepian. Saya mengalami kesepian karena situasi yang membuat saya belum menemukan aktivitas pekerjaan seperti dulu di Indonesia. 

Seseorang seperti saya bisa saja kesepian karena dia sedang berada di luar kebiasaan. Biasa sibuk, tiba-tiba saya lebih sering berdiam di rumah dan hanya mengurus rumah saja. Saya sempat menduga, apa yang saya alami adalah Culture Shock ketika saya tidak memahami situasi di tempat tinggal suami saya sebelumnya. 

Mungkin saja saya belum menemukan skill atau aktivitas untuk mengisi waktu luang. Saya kadang ikutan acara yang diselenggarakan Kedubes Indonesia. Katanya, kita bisa saja takut terlibat dalam komunitas Indonesia di luar negeri karena takut terjebak pada relasi toksik dari teman-teman kita. Itu sebab saya memilih teman-teman yang tepat untuk bisa keluar bersama mereka, sekedar chit chat atau pergi ke kafe.

Selebihnya saya biasa mengusir kesepian dengan mencoba resep baru, menonton film atau bernyanyi. Bersyukur suami saya merupakan orang pengertian dan sabar. Jadi faktornya bukan hanya soal Culture Shock saja, tetapi juga kendala bahasa. Bagaimana mungkin saya bisa bekerja kalau saya belum bisa menguasai Bahasa Turki. 

Jadi untuk Sahabat RUANITA yang ingin tinggal di negeri suami sebaiknya mempersiapkan mental juga agar bisa mengatasi perubahan situasi. Saya tahu itu tidak mudah. Intinya kita harus menyiapkan diri untuk menerima perubahan budaya, bahasa bahkan selera makanan juga. Soal kesepian, itu bisa terjadi di mana saja. Intinya kita yang paling tahu bagaimana melakukan hal-hal yang menjadi kesenangan kita. 

Kalau dulu di Indonesia tidak punya waktu untuk hobi misalnya, sekarang saatnya kembangkan diri dengan belajar bahasa dan budaya baru. Satu pesan saya juga nih buat Sahabat RUANITA yang berada di mancanegara kalau kita perlu saling memberi support satu sama lain, bukan saling menjatuhkan. Sebagai sesama warga Indonesia di perantauan, kita bisa kok saling bertukar informasi atau cerita seperti yang dilakukan di RUANITA. Ini penting loh buat kita menambah wawasan dan keterampilan hidup selama tinggal di luar negeri.

Banyak juga loh teman-teman yang berada di luar negeri dan pindah ikut suami mulai merasakan kesenangan tersendiri. Jadi kesepian mungkin terjadi ketika kita belum menemukan aktivitas yang tepat saja. Kita bisa mengisi waktu lowong dengan hal-hal yang disukai seperti memasak, bernyanyi, menonton film, dll. Kalau saya saat ini, saya sedang bersemangat ikut kursus bahasa.

Kita juga bisa menyalurkan hobi yang selama ini belum terwujud di Indonesia. Bukan tidak mungkin loh, hobi kita itu bisa menghasilkan penghasilan. Semoga cerita saya ini bisa memberi inspirasi buat Sahabat RUANITA yang sedang bingung atau belum menemukan aktivitas yang tepat saat di negara baru. Jadi kalian itu bukan kesepian atau sendirian tetapi belum saja menemukan passion kalian. Semangat ya Besttieee!

Penulis: Ika Indra Söyler, tinggal di Turki sejak 2020 dan dapat dikontak via akun IG: ika_indra_isw

(CERITA SAHABAT ) Setelah Setahun Berlalu

Enak gak menikah dengan bule? Kok bisa dapat bule, sih? Ketemu di mana? Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu dilontarkan ketika saya menikah dengan pria Jerman. Sejujurnya, dengan siapa pun menikah, dari mana pun asal pasangan, tidak ada bedanya. Enak atau tidak enaknya bergantung pada karakter mereka.

Dulu memang saya berpikir jika menikah dengan pria asing, maka mereka akan memperlakukan istri lebih baik dari pria-pria Indonesia. Akan ada saling menghargai, saling membantu, dan keseimbangan gender. Akan tetapi, saya salah. Pria bule atau pria Indonesia itu sama.

Semuanya bermula ketika saya bertemu dengan pria Jerman di kota tercinta Jakarta. Pertemuan itu yang akhirnya membawa saya tinggal dan hidup di Jerman, negara yang tidak pernah ada dalam mimpi saya.

Saya pindah ke Jerman atas dasar cinta. Saya meninggalkan pekerjaan terbaik yang mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Itu pekerjaan yang memperbaiki finansial saya secara pribadi dan keluarga.

Saya adalah wanita single mandiri, bisa melakukan apa saja tanpa bantuan siapa-siapa, berjuang hidup di Jakarta yang keras, menghabiskan masa muda saya dengan sibuk memperbaiki perekonomian keluarga, menjadi tulang punggung keluarga, dan akhirnya luluh hanya dengan satu kata: cinta.

Tidak mudah untuk menikah dan berpindah hidup di negara asing.  Begitu banyak yang harus saya pelajari, kebiasaan orang-orang Jerman, budaya, dan terlebih lagi bahasa. Bahasa adalah yang terberat karena saya tidak hanya memelajari bahasa resmi Jerman (Hochdeutsch), tetapi saya harus mempelajari atau terbiasa mendengarkan bahasa lokal (dialek) Bayerisch (=salah satu dialek di negara bagian Bavaria, Jerman) yang terkadang membuat saya bingung.

Sedangkan tentang kebudayaan dan kebiasaan, saya sangat menyukainya karena semua itu menambah pengetahuan saya. Sejujurnya saya tidak merasakan apa itu yang namanya culture shock. Saya bahkan menikmati hal-hal baru yang saya temui di negara itu.

Proses kepindahan saya ke Jerman dimulai dari proses menuju pernikahan sipil yang direncanakan dan akan diadakan di Jerman. Saya memutuskan untuk memulai semua proses dokumen sendiri, tanpa menggunakan jasa agen, karena rasa keingintahuan saya dalam memproses dokumen-dokumen itu.

Begitu pun dengan calon suami. Dia juga sibuk menyiapkan dokumen-dokumen yang diminta oleh pihak pemerintahan Jerman.

Semuanya tidak semudah bayangan kami, apalagi di saat-saat pandemi ketika semua proses menjadi terbatas dan sangat lambat. Bahkan, hari pernikahan pun harus mundur karena visa yang belum bisa dikeluarkan oleh Kedutaan Jerman di Jakarta.

Follow us: @ruanita.indonesia

Tingkat stres yang tinggi antara mengurus dokumen-dokumen pernikahan, pekerjaan di kantor, dan kursus bahasa Jerman yang “wajib” saya ikuti di Goethe Institut Jakarta, menyebabkan naik-turunnya hubungan saya dan calon suami saat itu.

Ada masa-masa saya hampir menyerah dan tidak ingin melanjutkan proses pernikahan itu. Ada juga perasaan berat meninggalkan keluarga, terutama ibu, karena hanya beliaulah orang tua saya satu-satunya. Meninggalkan pekerjaan juga terasa berat karena saya sedang merasakan kesuksesan dari hasil jerih payah saya bertahun-tahun bergelut di dunia kerja.

Akan tetapi, atas dasar cinta dan keyakinan bahwa pria ini akan membahagiakan saya dan akan menjadi tempat sandaran seumur hidup, saya memutuskan untuk meninggalkan semua kehidupan saya yang nyaman di Indonesia untuk mengikuti suami ke negaranya.

Agustus 2020, hari “kemenangan” buat saya, ketika akhirnya saya bisa bersatu dengan pria yang saya cintai dan bersumpah bahwa saya akan selalu setia dan bersama dia dalam suka maupun duka, sampai Tuhan memanggil salah satu di antara kami. Di hari itu, walaupun ada rasa bahagia, ada rasa sedih juga ketika ibu tidak bisa menghadiri pernikahan yang saat itu saya kira adalah pernikahan pertama dan terakhir saya.

Beberapa bulan setelah pernikahan, semua masih terasa indah. Sampai setahun setelah pernikahan, sesuatu itu terjadi.

Selama ini saya tidak merasa ada masalah di dalam kehidupan rumah tangga kami, tetapi ternyata apa yang suami saya rasakan, berbeda. Suatu pagi, dia meminta kami untuk bercerai dengan alasan dia tidak bahagia.

Ada beberapa hal yang dia katakan sebagai alasan perceraian yang menurut saya lucu dan tidak masuk akal. Sesuatu yang dia tahu bahwa saya tidak akan bisa mewujudkannya dan dia mengetahui hal ini sebelum kami menikah.

Saat itu dia berjanji bahwa dia akan menerima keadaan tersebut dan tidak akan pernah meninggalkan saya. Ini salah satu alasan kenapa saya tetap mau menikah dengan dia. Akan tetapi, pada kenyataannya, janji hanyalah janji.

Manusia bisa berubah kapan pun dan melupakan janji-janjinya hingga pada akhirnya, saya ada di situasi ini. Saya sedang menjalani proses Trennungszeit, (=waktu perpisahan antara suami dengan istri sebelum resmi bercerai) sebagai salah satu persyaratan perceraian di Jerman.

Ketika dia mengucapkan kata cerai, selama dua minggu saya berpikir, apa yang harus dilakukan, bagaimana nasib saya sekarang, saya sendirian di negara ini.  Akan tetapi, saya bukan wanita bodoh dan pasrah dengan keadaan.

Saya mulai mencari-cari informasi dimulai dari browsing di internet, menghubungi beberapa teman saya yang juga menikah dengan warga Jerman. Bahkan, salah satu teman menyarankan untuk me-posting masalah saya di salah satu grup di media sosial. Bantuan informasi mulai banyak berdatangan, dukungan secara spiritual, dan teman-teman baru yang bersimpati serta ingin membantu.

Saya bersyukur bergabung dengan beberapa komunitas Warga Negara Indonesia yang tinggal di Jerman sehingga saya tidak benar-benar merasa sendirian. Informasi dan teman-teman baru yang saya dapatkan, bukan hanya dari teman-teman Indonesia, melainkan juga dari beberapa teman warga Jerman yang punya pengalaman dalam perceraian.

Saya mulai bangkit dan merencanakan untuk membangun kembali kehidupan yang baru. Saya tidak mau pasrah dan terpuruk dengan keadaan. Saya harus bertahan hidup di Jerman!

Saya mulai menghubungi satu organisasi yang bisa memberikan bantuan hukum secara gratis dan mereka bersedia membantu saya. Mengapa saya harus menghubungi pengacara? Saya merasa suami saya menyembunyikan sesuatu, tidak memberikan hak-hak yang seharusnya bisa saya dapatkan di masa-masa “perpisahan”.

Saya merasa juga tidak adanya keterbukaan atau informasi mengenai perceraian kami, maka saya memutuskan untuk mencari bantuan hukum. Saya merasa suami saya membodohi saya dengan tidak memberikan penjelasan tentang situasi yang saat ini terjadi.

Saya memang pendatang dan tidak tahu menahu tentang hukum-hukum perceraian di Jerman, tetapi saya tidak menyerah. Setiap hari saya berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya untuk membela diri saya dan mendapatkan keadilan.

Saya juga mencari tahu bagaimana saya bisa tinggal lebih lama di Jerman apabila kami resmi bercerai. Saya bisa saja kembali ke Indonesia kapan pun, tetapi saya ingin membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya mampu bertahan hidup di negara ini.

Bagaimana cara saya bisa bertahan hidup di Jerman? Saya mulai mencari pekerjaan dan memulai belajar bahasa Jerman tingkat lanjutan. Dua hal inilah yang saat ini menjadi poin terpenting untuk saya agar bisa bertahan hidup di Jerman.

Banyak hal positif yang saya dapatkan karena perceraian. Saya mendapatkan teman-teman baru di beberapa kota dan wilayah Jerman, mengetahui cara berpergian dengan transportasi umum di Jerman seperti bus dan kereta, memulai traveling kembali ke beberapa kota dan beberapa negara di wilayah Schengen, mengetahui proses untuk mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal.

Saya mulai melihat hal-hal positif dari masalah saya dan tidak mau melihat atau berpikir negatif. Saya hanya berfokus pada hal-hal yang akan membantu saya untuk hidup di Jerman. Saya mendapatkan beberapa komentar dari orang-orang yang mengetahui masalah saya. “Kamu tidak kelihatan sedih, kamu terlihat bahagia” kata mereka.

Inilah jawaban saya. “Masa kesedihan saya sudah lewat. Saatnya saya fokus untuk memulai hidup baru saya. Saya tidak akan bisa mulai membangun hidup baru jika saya selalu bersedih dan terpuruk dalam permasalahan.”

Saya yakin dan percaya, semua hal-hal yang saya lakukan saat ini akan membuahkan hasil yang baik untuk masa depan saya di Jerman.

Pesan saya, jika kalian adalah perempuan Indonesia yang memiliki masalah sama dengan saya atau bahkan lebih buruk dari saya, jangan takut! Kalian tidak sendirian, tetaplah kuat dan segera mencari bantuan informasi dari berbagai organisasi sosial di Jerman seperti Frauenhaus (=semacam rumah aman untuk perempuan yang bermasalah), atau hubungi teman-teman Indonesia yang kalian kenal.

Ketika kalian pindah dan hidup di Jerman, bergabunglah dengan grup-grup Warga Negara Indonesia yang hidup di Jerman. Dari sanalah kita bisa mendapatkan informasi atau dukungan dari mereka. Ingat, kita tidak sendirian!

Penulis: Rasya, bukan nama sebenarnya. Artikel ini telah diterbitkan dalam Buku Cinta Tanpa Batas, produksi RUANITA – Rumah Aman Kita yang diterbitkan oleh Padmedia Publisher.

(CERITA SAHABAT) Transfernya Sedikit, Manfaatnya Banyak

Sahabat RUANITA, saya senang sekali bisa terlibat dalam program cerita sahabat terutama yang berkaitan dengan pengalaman dan pengetahuan saya selama ini. Perkenalkan saya Nijhas, seorang perempuan asal Indonesia yang menetap di Jerman sejak 2017. Awal mulanya saya datang ke Jerman karena ingin melanjutkan studi Magister di Jerman. Kini saya bekerja di salah satu Organisasi Non Profit di kota terbesar di Jerman, Berlin.

Family remittances atau pengiriman uang ke keluarga di Indonesia merupakan tema menarik, tidak hanya karena berkaitan dengan studi yang saya tekuni tetapi juga pengalaman saya selama ini sebagai anggota keluarga untuk transfer uang ke keluarga Indonesia. Setiap bulan, saya rutin mengirimkan uang untuk kakak saya yang tinggal di Indonesia. Transfer yang saya lakukan biasanya lewat transfer antar bank, salah satu bank di Indonesia. Jadi saya transfer tetap pakai mata uang rupiah. Tentu saya sudah transfer uang gaji saya di Jerman ke rekening bank pribadi saya di Indonesia.

Kalau ditanya tujuan saya transfer, paling banyak tentu untuk kebutuhan sehari-hari seperti bagaimana keluarga kakak saya dapat memenuhi kebutuhan sembako atau membayar tagihan listrik, air dan lainnya. Saya hanya membantu sedikit dari pengeluaran keuangan dia. Saya tidak pernah memperhitungkan nominalnya, tetapi itu rupanya sangat membantu perekonomian Indonesia juga loh. Dengan kita mengirimkan uang ke keluarga di Indonesia, secara tidak kita sadari, transaksi tersebut mendorong perekonomian di Indonesia. 

Dengan uang yang kita kirimkan ke keluarga di Indonesia, keluarga kita bisa menggunakan uang tersebut untuk dibelanjakan, misalnya untuk membeli kebutuhan makanan pokok, untuk bayar uang sekolah (Edukasi), untuk bayar BPJS Kesehatan (Kesehatan), untuk bayar kontrakan rumah (Well-Being). Mungkin kita tidak berpikir bahwa apa yang kita lakukan itu ternyata mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kita. Bagaimanapun nilai transfer kecil kita itu berpengaruh untuk terus menghidupkan usaha kecil dan rumah tangga yang memang memerlukan yang ada di Indonesia.

Saya beri contoh misalnya bagaimana mata uang asing yang saya terima sebagai pekerja di Jerman itu dikonversi, dari Euro ke Rupiah maka akan berdampak positif juga pada ekonomi kita. Mau tidak mau permintaan akan Rupiah akan naik. Hal ini menjaga kestabilan perekonomian kita. Bahkan apa yang kita lakukan itu menaikkan nilai tukar rupiah terhadap uang asing. 

Follow us: @ruanita.indonesia

Di era moderen seperti sekarang, saya pikir kita sudah semakin dimudahkan untuk melakukan transaksi perbankan, termasuk mengirimkan uang ke keluarga di Indonesia dari negara tempat kita tinggal dan bekerja. Contohnya teman-teman saya bercerita tentang berbagai aplikasi transfer kekinian yang kata mereka juga paling cepat, murah dan aman. Meski kita juga harus mempertimbangkan kalau keluarga di Indonesia itu gampang juga akses internetnya, tahu bagaimana menggunakan aplikasinya dan memang diterima secara langsung (tanpa pihak ketiga). 

Realita menunjukkan bahwa kondisi kesejahteraan keluarga meningkat ketika ada anggota keluarga yang bekerja di luar negeri. Kita tidak lepas dari cara pandang di Indonesia kalau keluarga itu begitu penting, termasuk bagaimana kita juga ikut membantu perekonomian keluarga. Menurut pendapat saya ini hal yang bagus dan saya mendukung cara pandang tersebut. 

Saya juga melihat bagaimana status ekonomi keluarga yang memiliki anggota keluarga bekerja di luar negeri ternyata ikut terdongkrak status ekonominya di mata masyarakat. Ini jelas kalau kesejahteraan pekerja migran pun ikut mengalami perbaikan. Saya juga sering mendengar juga kalau teman-teman yang bekerja di luar negeri pada akhirnya bisa bangun rumah, membayar sekolah anak-anak, bisa membeli baju bermerek, membuat toko kelontong sampai ada yang berinvestasi saham juga. 

Pekerja migran membuktikan bahwa nasib mereka menjadi lebih baik ketika mereka mau bersusah payah di negeri orang dan bisa membantu keluarga di Indonesia yang membutuhkan. Saya menyayangkan saja kalau uang yang diberikan dari anggota keluarga di luar negeri tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Kita bisa loh gunakan uang tersebut untuk investasi seperti membeli tanah atau properti. Ide lain misalnya membuka usaha atau membuat bisnis produktif lainnya yang sekarang juga sudah marak di indonesia. 

Kita perlu ingat kalau kita tak selamanya bekerja terus di luar negeri. Suatu saat kita ingin pulang ke Indonesia. Nah, kalau uang yang kita kirimkan hasil kerja keras di Indonesia bisa dipergunakan untuk investasi misalnya, bukan tidak mungkin itu menjadi bekal ketika kita kembali pulang ke Indonesia saat sudah pensiun bekerja di luar negeri. Jadi teman-teman yang bekerja di luar negeri juga bisa mengingatkan anggota keluarganya untuk bersikap ekonomis dan memanfaatkan peluang itu dengan baik. 

Saya pikir tidak semua orang punya kemampuan untuk mengelola uang. Keterlibatan pemerintah atau LSM bisa turut memberikan kapasitas atau pelatihan soal manajemen keuangan atau kewirausahaan. Tidak hanya itu, pentingnya juga mengingatkan gaya hidup yang berlebihan dan konsumtif yang justru tidak menghasilkan benefit di masa depan. 

Di akhir cerita saya, saya berharap di hari International Day of Family Remittances yang kita rayakan ini pemerintah juga mampu memberantas kelompok-kelompok  penyedia jasa layanan pengiriman uang yang ilegal atau terkesan bodong. Hal ini sungguh merusak manakala mereka mengiming-imingi biaya yang rendah kepada anggota masyarakat yang mudah terpengaruh. Perlu juga kita memberantas bank-bank gelap yang menawarkan biaya rendah tetapi menipu. Hal ini masih ditemukan pada kasus-kasus pekerja migran yang tergiur jasa mereka. 

Literasi tentang perbankan dan manajemen keuangan juga diperlukan oleh pekerja migran agar mereka tahu bagaimana mengelola penghasilannya secara tepat guna. Pemerintah diharapkan dapat memberikan penyuluhan remitansi yang benar kepada masyarakat Indonesia, terutama masyarakat yang memiliki anggota keluarga bekerja di luar negeri.

Terakhir untuk Sahabat RUANITA, saya menyarankan bahwa selagi kita mampu bekerja di luar negeri, bantulah keluarga kita di Indonesia karena apa yang kita lakukan tidak hanya membantu keluarga saja tetapi juga perekonomian bangsa juga. 

Penulis: Nijhas, studi dan bekerja soal keuangan dan kini bekerja di Berlin, Jerman.

(CERITA SAHABAT) Bayar Sekolah Anak Pakai Aplikasi di Cina

Halo Sahabat Ruanita, namaku Amanda. Di tulisan ini aku mau bercerita tentang pengalamanku transaksi tanpa uang fisik di Cina, tempat aku tinggal sekarang ini.

Saat sampai di Cina pertama kali tahun 2021, aku kesulitan untuk belanja, bahkan membeli makanan di sini.  Waktu itu aku, suamiku, dan kedua anak kami harus dikarantina selama tiga minggu di hotel tempat kami tinggal. Sayangnya hotel tersebut dan toko-toko tidak menerima uang fisik, padahal waktu itu kami hanya bawa uang Euro dan Yen saja, belum punya rekening bank Cina. Oh ya, sebelum tinggal di Cina, aku dan suami yang berkewarganegaraan Prancis tinggal di Jerman dan Prancis.

Karena sudah mendapatkan informasi tentang cashless dari forum-forum ekspatriat di Cina, kami membawa tiga kardus popok dari Prancis untuk anak-anak kami yang waktu itu masih berumur di bawah tiga tahun. Makanan memang disediakan oleh catering perusahaan tempat suami kerja, tapi mau tidak mau kami harus makan yang disediakan. Kami tidak bisa memilih. Suamiku yang terbiasa makan roti, terpaksa harus makan nasi. Akhirnya, waktu itu suami pinjam uang ke koleganya yang sudah tinggal lebih  lama di Cina dan sudah punya rekening bank Cina. Mereka kirim uang lewat WeChat dan kami ganti dengan Euro ke bank Prancis. Untungnya WeChat dan Alipay, aplikasi yang marak digunakan di Cina untuk transaksi keuangan, bisa digunakan meskipun tidak mempunyai rekening bank Cina.

Follow us: @ruanita.indonesia

Setelah selesai karantina, aku dan suami didampingi oleh orang dari agen yang ditunjuk oleh perusahaan suami untuk buka rekening bank di Cina. Di sini setiap orang hanya diperbolehkan punya satu rekening. Pembuatan rekening bank juga mudah, hanya perlu paspor dan surat registrasi tempat tinggal dari kepolisian. Setoran pertama di bank juga tidak perlu banyak. Aku pernah melihat orang-orang tua menyetor uang berkoper-koper atau kantong plastik. Itu masih bisa. Untuk mengambil uang harus dari ATM, tidak bisa di bank langsung. Di ATM tidak hanya untuk mengambil saja, tetapi juga menyetor uang. Nah, registrasi aplikasi seperti WeChat dan Alipay lebih ribet dibandingkan membuat rekening bank. Kami harus memasukkan sumber uang, misalnya rekening bank kami. Paspor, juga harus diverifikasi dengan foto dan scan muka. 

Selama hampir dua tahun tinggal di sini, aku mungkin memegang uang hanya 2-3 kali saja, karena itu memang sangat jarang sekali harus pakai uang tunai. Bahkan untuk belanja di pasar tradisional juga memakai aplikasi meskipun pedagangnya orang tua. Aplikasi-aplikasi tersebut juga menggunakan speaker. Setelah kita telah membayar, di hape pedagang akan bunyi, „Anda mendapatkan transaksi uang sebesar 57 yuan“, misalnya. Itu suaranya kencang sekali dan orang-orang di sekitar kami jadi ikut mendengar. Istilah data privacy tidak dikenal di sini. 

Aku melihat di sini semua orang dipaksa untuk memahami dan menggunakan cashless. Semua orang harus punya dan bisa pakai hape. Begitu juga dengan orang-orang tua, mereka dipaksa untuk memahami kehidupan sekarang. Banyak orang tua yang menghambat transaksi di kasir karena mereka tidak paham menggunakan hape dan aplikasinya. Di beberapa toko atau restoran, masih ada yang memperbolehkan bayar tunai, walaupun penjual tampaknya tidak senang. Bisa jadi, mereka tidak punya uang tunai untuk kasih uang kembalian ke pembeli. Ini juga yang membuat kesulitan untuk turis-turis yang datang.

Sebelum pindah ke Cina, kami sering baca-baca di forum untuk expat di Cina. Banyak saran untuk mengenal dan bisa menggunakan hape sendiri dulu. Begitu kita turun dari pesawat, QR code ini juga sudah dipakai di bandara di sini. Dulu aku tidak mengerti bagaimana cara scan QR code, aku baru mengetahuinya di sini karena semua harus bisa. Awal tinggal di sini rasanya aku ingin melempar hape. Selain aku tidak mengerti bahasanya, aku tidak tahu menggunakan aplikasi. Kalau aku mau transaksi di toko ada dua cara yakni: aku yang scan QR code mereka atau sebaliknya. Memang sih, cashless memberikan kemudahan dalam bertransaksi, tetapi rasanya seperti dikontrol gadget. Kalau kita tidak mengerti, tidak punya gadget, atau hape mati maka kita akan „lost“. Kita tidak bisa melakukan apa pun. Kita tidak bisa sewa sepeda, tidak bisa naik kereta atau taksi. Kita nothing tanpa hape di sini.

Aku menggunakan kedua aplikasi yang tersedia, yaitu Alipay dan WeChat, karena terkadang ada toko online yang hanya menggunakan salah satunya. Mirip dengan aplikasi GoPay di Indonesia. Sesama aplikasi juga bisa mengirimkan uang dengan gratis. Hanya saja, orang tidak bisa mengirimkan uang dari satu aplikasi ke lainnya. Misalkan, aku mau mengirim uang dari WeChat ke Alipay. Aku harus mengirim uang dulu dari WeChat ke bankku, lalu dari sana baru aku mengirim ke Alipay. Itu lebih ribet dan ada biaya 0,1% untuk setiap transaksi transfer uang dari aplikasi ke rekening bank, sedangkan transfer uang dari bank ke aplikasi gratis. Gaji suamiku masuknya ke rekening bank dia di Prancis. Jadi suami harus transfer uangnya dari bank Prancis ke bank Cina, lalu ke aplikasi. Karena aku tidak bekerja di sini, suami mengirimkan uang dari aplikasinya ke aplikasiku. Cara lain, dia mengirimkannya dari rekening bank Cina, lalu ke aplikasiku. Itu bukan masalah karena uangnya bisa dikirim lewat aplikasi.

Sejak tahun 2022, anakku yang paling besar masuk ke PAUD (=Pendidikan Anak Usia Dini) di sini. Untuk membayar uang sekolahnya, kita harus langsung membayarnya satu tahun yang dibayar lewat WeChat. Misalnya, aku membayar uang sekolah anak 1000 yuan per bulan maka kami harus transfer uang langsung 12.000 yuan. Waktu itu, untungnya aku bisa menegosiasikan dengan kepala sekolah, karena kami tidak bisa mengirimkan uang langsung sebanyak itu dalam sekali. Transfer dari bank Prancis ke Cina juga cuma gratis lima kali. Akhirnya, kami bisa menyicil tiga kali dalam sebulan. Tahun 2022, itu masih lockdown. Jadi, anakku sebenarnya cuma sekolah tiga bulan. Pada tahun ini, dia melanjutkan sekolah di sana dan adiknya juga juga ikut sekolah di sana juga sehingga kami hanya membayar kekurangannya saja. Istilahnya kami sudah mempunyai saldo di sana. Rencananya bulan Juli tahun ini, kami akan kembali ke Eropa. Nanti uang sisanya itu bisa di-refund ke WeChat kami. Kami sudah wanti-wanti ke pihak sekolah untuk mengirimkan uangnya tepat waktu, karena kami juga akan menutup rekening bank Cina.

Ada kejadian menarik di PAUD anakku. Pihak sekolah mengadakan bazar kecil-kecilan untuk anak-anak sebagai latihan. Harga barangnya juga murah, hanya sekitar 2 sampai 5 yen. Tujuan mereka adalah untuk melatih anak-anak menggunakan uang dan melatih belajar berhitung. Nah, sekolah meminta orang tua murid untuk membawa uang tunai untuk anak-anaknya. Aku dan orang tua murid lainnya tidak ada yang punya tunai. Ujung-ujungnya, kami mengirimkan uang ke guru-guru sekolah. Lalu, mereka memberikan uang tunai ke kami. Jadi kami bertukar uang. Menurutku, itu aneh juga sih. Di kehidupan nyata di Cina semua sudah serba cashless sehingga membuat anak-anak tidak perlu memegang uang dan belajar menghitung uang tunai.

Saat anak-anakku pergi fieldtrip dengan PAUD-nya juga, aku hanya perlu mengirimkan uang via WeChat ke sekolah dengan menuliskan namaku dan anakku. Aku tidak perlu mengirimkan bukti transfer, karena pihak sekolah bisa langsung mengecek sendiri.

Untukku, cashless bukan hal yang aneh. Di Indonesia, aku sudah mengenal GoPay dan saat aku tinggal di Jerman juga sudah banyak tempat bisa cashless. Perbedaan yang kurasakan, semua orang di Cina dipaksa untuk cashless. Menurutku, segi keamanan di sini juga sudah bagus. Mereka benar-benar sudah mempersiapkannya. Keamanan aplikasi juga berlapis. Punya nomor hp di Cina itu sulit sekali. Kita harus mendaftarkan diri dan memberikan dokumen-dokumen penting. Itu berbeda sekali dengan di Indonesia yang bisa didapatkan secara mudah. Nomor hape itu sangat penting di Cina dan digunakan untuk verifikasi semua hal. Sebelum kita bayar sesuatu, kita akan diminta kode PIN untuk verifikasi. PIN ini yang harus kita ingat. Sewaktu membuat Aplikasi pertama kali, kita juga memakai password.

Nomor hape juga mempermudah transaksi. Misalnya, aku naik taksi lalu hape mati saat mau check out atau lupa bayar. Nanti, aku mau pesan taksi lagi maka aku akan diingatkan untuk melunasi pembayaran sebelumnya atau aku tidak bisa menggunakan taksi. Ini juga yang membuat susah bagi penipu dengan sistem cashless. Berbeda dengan di Indonesia yang belum ada peraturannya dan nomor hape bisa dibeli dengan mudah, sehingga itu masih ada celah untuk penipuan. 

Sahabat Ruanita, kita mungkin ingat kasus penipuan kotak amal di masjid yang menggunakan QR code. Pengemis di Cina juga sekarang mengikuti zaman, mereka menggantungkan QR code dari aplikasi-aplikasi di badan mereka. Orang yang mau beramal, bisa langsung scan kodenya. Nanti aplikasi akan bunyi memberitahu berapa transaksinya. Kita menjadi tahu memang dia yang menerima uangnya. Saranku untuk sahabat-sahabat Ruanita yang beramal lewat QR code, pastikan orang yang akan diberi sedekah itu ada di sana. 

Harapanku, transaksi cashless di Indonesia bisa diperbanyak, karena akan mempermudah dan lebih efisien. Namun, sebelumnya kita perlu memperkuat tingkat keamanan digitalnya dan harus memperhitungkan sisi kriminalitasnya juga. Menurutku, Cina sudah banyak memperhitungkan ini sehingga kasus kriminalnya juga sedikit. Di desa tentu masih susah dan prosesnya akan lama. Pengalaman aku saat liburan di sebuah desa di Maluku, penduduknya tidak punya hape dan tidak memakai uang. Bahan makanan mereka didapat dari sekitar rumah seperti ikan yang ditangkap dari laut untuk nelayan. Di sana sudah benar-benar sudah cashless.

Penulis: Mariska Ajeng, penulis di http://www.mariskaajeng.com. Berdasarkan pengalaman dari Amanda, tinggal di Cina dan Hamburg, bisa dihubungi lewat Instagram di @amandapatriciam

(CERITA SAHABAT) Perhatikan Kebiasaan Makan dan Terpenting Menikmati Makanannya

Hai, namaku Rita. Aku tinggal di Hamburg, Jerman saat ini. Kegiatanku sekarang sebagai Florist atau perangkai bunga dalam Bahasa Indonesia di salah satu toko bunga di Hamburg. Pekerjaan ini sangat menyenangkan dan kreatif. Sebelum aku masuk ke dunia Floristic, aku pernah kuliah di Universitas Hamburg. Tepatnya tahun 2014/2015, aku memulai kuliah. Awal tahun 2020 aku selesai dengan sarjanaku atau Bachelor.

Kembali ke masa itu. Sekitar tahun 2013/2014 dan aku mulai daftar untuk masuk Universitas, aku sempat mengalami stres berat karena aku mengurusi berbagai hal, seperti perpanjangan visa, dll. Selain itu, kehidupan di Jerman terkadang sangat berat dijalani sendirian.

Nah, pola makanku menjadi tidak teratur ketika aku terlalu stres. Lalu berat badanku turun drastis, sekitar 3 kg. Untukku kehilangan 3 kg itu sangat banyak karena buatku sendiri sangat susah sekali untuk menaikkannya kembali. Maklum saja dari kecil sampai dewasa memang aku tidak pernah punya berat badan melebihi 42 kg. 

Namun aku pernah loh mengalami satu kali, sekali-kalinya dalam hidup 42 kg. Berat badan normalku sebenarnya antara 37 sampai dengan 39 kg. Mungkin untuk orang seusiaku, awalnya banyak orang bertanya, apakah ini normal? Walaupun begitu, dokterku pun tidak mengkhawatirkan berat badanku ini. Menurutnya, memang ini sudah genetik. Selain itu, kesehatanku baik-baik saja. 

Saat menyadari di mana beratku turun menjadi 34 kg kala itu, aku langsung pergi ke dokter. Aku diperiksa, test darah, dll. Hasilnya memang aku baik-baik saja. Namun, aku masih belum puas dengan hasil pemeriksaannya. Kecemasanku belum juga berkurang.

Aku ikuti sesi psikologi khusus untuk gizi dan masalah berat badan. Ternyata ini lumayan memotivasiku. Aku juga banyak membaca artikel di internet tentang pola makan. 

Dulu aku sempat download aplikasi untuk menghitung kalori makanan, dan lainnya. Namun dengan berjalannya waktu, aku lebih mengerti dengan kebutuhanku sendiri.


Masa stres itu memang masa yang begitu sulit untuk mengontrol diri sendiri. Pola makanku dulu yang teratur, jadi terabaikan. 

Dokterku juga memberikan minuman ekstra berkalori untuk membantu menaikkan berat badan. Nama minumannya Fortimel. Aku disarankan untuk minum 2-3 botol/hari dan ditambah aku juga tetap makan seperti biasanya. 

Satu botol berisi 300 ml dan memiliki 300 kalori. Minuman ini juga memiliki berbagai rasa. Tanpa resep dokter orang tidak bisa mendapatkan minuman berkalori ini. Memang ada syaratnya dan asuransi yang menanggung biayanya. 

Aku biasanya hanya membayar 5% dari 100% harga minumannya, yaitu 10€ untuk 128 botol. Minuman ini dulu membantuku sekali. Namun lama-lama aku tidak bisa mengonsumsinya lagi karena kadang-kadang membuatku merasa mual. Akhirnya aku hanya minum satu kali sehari. Setelah berat badanku kembali ke 37 kg, aku berhenti minum Fortimel. Sebagai gantinya, aku mengusahakan membuat smoothie yang berkalori tinggi atau makanan lainnya. 

Aku juga berbagi cerita tentang masalah berat badan ke teman-temanku di sini. Saat itu, ada satu teman asal Jerman yang kebetulan juga mendapatkan resep minuman ini dari dokternya. Lalu kami saling bercerita. Ternyata temanku ini juga merasakan hal yang sama tentang minuman itu. 

Di Jerman, berbicara tentang berat badan adalah hal yang sensitif. Di sini orang hampir tidak pernah menyinggung berat badan seperti: Kenapa kurus?; Kok gendut?; Kamu makannya banyak kok tetep kurus?, dan lain-lain.

Orang-orang di sini sangat menghormati dan menjaga sesuatu yang dianggap pribadi. Hal ini juga membuat aku merasa lebih percaya diri. 

Saat aku masih di Indonesia, aku mengalami Bullying. Di Jerman, malah sebaliknya, mereka memuji. Terkadang, ketika di Indonesia, kita tidak  sadar, kalau lingkungan sekitar mem-bully.

Mungkin memang maksud mereka tidak serius seperti sekedar mendapat julukan “Olive” atau si kurus. Ternyata, hal itu berpengaruh terhadap kesehatan mental loh. Dulu aku tidak berani dan tidak percaya diri memakai baju lengan pendek. Hal ini karena aku mengingat kata-kata mereka yang berada di sekitarku itu.

Beruntungnya lagi aku tinggal di sini, aku punya akses kesehatan yang baik. Jadi segala sesuatu bisa aku konsultasikan dengan ahlinya. Dokter atau para ahli di sini, tidak me-judge kekurangan atau masalah kita. 

Untuk teman-teman yang punya masalah sama, tak usah sungkan untuk bertanya ke psikolog, dokter ataupun tenaga profesional. 

Pesanku ini teruntuk teman-teman yang lebih cepat turun berat badan daripada naik berat badan seperti aku ini. Coba kalian tambahkan ekstra porsi kalori setiap harinya seperti, Smoothie, buah-buahan, juga cemilan berprotein lainnya. Usahakan makanan tersebut tetap hadir di antara menu sehari-hari. 

Selain makanan utama, makanan kecil yang disebutkan tadi pun perlu diusahakan. Saranku lainnya adalah mengurangi makan Fast food atau cepat saji. 

Semua saranku ini sudah terbukti berdampak bagus terhadap mentalku selama ini. Yang mana aku mulai disiplin dan merasa nyaman dengan kebiasaan makanku. Aku merasakan dampak positifnya, bukan hanya secara fisik melainkan secara mental juga. Kesehatan mental ‘kan salah satu hal terpenting dalam hidup kita. 

 
Biarpun berat badan kembali normal, aku tetap memerhatikan kebiasaan makanku. Memang sih tidak semudah yang dibicarakan. Menurutku, stres juga bisa memengaruhi loh.

Untungnya aku sadar akan hal itu.  Aku ingin mengubahnya! Memang itu butuh proses dan perjalanan yang panjang.  Aku percaya, sesulit apapun itu kalau kita mau berusaha, suatu saat itu akan membuahkan hasil. 


Intinya dalam keadaan apa pun, kita harus tetap ingat makan. Biasanya, aku masak dengan porsi banyak agar bisa dimakan pada hari-hari berikutnya. Ini sangat membantu, apalagi kalau hari-hari yang membuatku bakalan sibuk sekali. 

Beban stres bisa berkurang. Pokoknya sesibuk apapun, sempatkan waktu untuk makan. Terakhir yang lebih penting lagi, menikmati juga makanannya.

Penulis: Rita, tinggal di Jerman dan dapat dikontak akun IG ritasjungle.