AISIYU 2025: Galeri Digital Kartu Afirmasi Diselenggarakan dalam Rangka 16 HAKTP
Pembuat kartu adalah Asti yang tinggal di Islandia.
Kita sering menjadi pengkritik paling keras bagi diri sendiri. Melalui AISIYU, kami ingin mengingatkan: pemulihan dimulai dari keberanian untuk memaafkan dan menerima diri.
Dalam workshop online craft therapy bulan September, para peserta menulis kata-kata afirmasi yang lahir dari pengalaman, luka, dan harapan.
Karya mereka kini kami tampilkan dalam Galeri Digital AISIYU 2025: ruang untuk merayakan proses penyembuhan dan kekuatan perempuan.
Jakarta, 29 November 2025 — Ruanita Indonesia sukses menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Atasi Adiksi Games Online pada Anak Usia Sekolah Dasar” pada Sabtu, 29 November 2025. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom ini menghadirkan peserta dari berbagai negara, mulai dari orang tua, guru, pemerhati anak, hingga mahasiswa yang peduli terhadap isu pendidikan dan perkembangan anak di era digital.
Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber dari lintas negara yang memberikan pandangan dan pengalaman berharga. Mom Elia Qudo, ibu rumah tangga asal Bangladesh, berbagi kisah nyata dalam mendampingi anak usia sekolah dasar yang gemar bermain game online, termasuk bagaimana ia mengatur keseimbangan antara waktu bermain dan belajar anak di rumah.
Dari Australia, Ayah Andri, pendidik dan pendiri Indolanan, menyoroti pentingnya permainan dalam proses tumbuh kembang anak serta memperkenalkan kembali nilai permainan tradisional sebagai alternatif yang menyenangkan dan edukatif untuk mengatasi kecanduan game.
Sementara itu, Mom Mala Holland, seorang psikoterapis yang berdomisili di Inggris, membagikan perspektif psikologis melalui pendekatan play therapy dan memberikan tips praktis bagi orang tua dalam mengelola penggunaan gawai pada anak usia sekolah dasar.
Kegiatan ini dipandu oleh Asti Tyas Nurhidayati, guru sekolah dasar sekaligus relawan Ruanita yang saat ini berdomisili di Islandia. Suasana diskusi berlangsung interaktif dan hangat. Para peserta aktif mengajukan pertanyaan serta berbagi pengalaman pribadi seputar tantangan mendampingi anak di tengah kemudahan akses digital yang begitu luas.
Melalui diskusi ini, para peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dampak adiksi game online terhadap aspek psikologis, sosial, dan akademik anak. Mereka juga mendapatkan strategi praktis untuk mencegah dan mengatasi kecanduan sejak dini, termasuk pentingnya peran keluarga dan sekolah dalam menumbuhkan keseimbangan antara aktivitas digital dan interaksi sosial di dunia nyata.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah nyata dalam membangun kesadaran bersama tentang pentingnya pendampingan orang tua di era digital. Ruanita Indonesia juga berencana mempublikasikan rangkuman hasil diskusi beserta rekomendasi praktis bagi orang tua melalui laman resmiwww.ruanita.com dan media sosial sebagai bahan edukasi masyarakat.
Perwakilan Ruanita Indonesia menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber dan peserta yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini. “Adiksi game pada anak adalah tantangan zaman yang harus kita hadapi bersama dengan bijak. Kolaborasi antara orang tua, pendidik, dan profesional menjadi kunci agar anak-anak dapat tumbuh seimbang di tengah dunia digital,” ujar Asti Tyas menutup acara.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Ruanita Indonesia untuk terus menghadirkan ruang dialog dan pembelajaran bagi perempuan serta keluarga Indonesia di seluruh dunia, guna menciptakan generasi anak yang cerdas, tangguh, dan berdaya di era teknologi.
JAKARTA, September 2025 – Sebagai bagian dari kampanye global 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Ruanita Indonesia menghadirkan program AISIYU – AspIrasikan Suara dan Inspirasi nYatamU 2025 yang dijalankan tiap tahun sejak 2021 lalu. Tahun ini berupa kegiatan utama Workshop Online berbentuk Craft Therapy.
Workshop ini difokuskan pada produk: Affirmation Cards – Berdamai dengan Diri Sendiri, yang diikuti perempuan Indonesia di berbagai lokasi.
Kegiatan ini telah berlangsung dalam dua sesi pada 13 September dan akan dilakukan lagi pada 27 September 2025 secara online melalui Zoom Meeting.
Untuk memperluas jangkauan penerima manfaat dari workshop ini, acara ini didukung oleh komunitas perempuan Indonesia, antara lain: For.Mujeres (Front Santri Melawan Kekerasan Seksual) dan Puan Floresta Bicara.
Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong kesadaran tentang pentingnya dukungan emosional bagi penyintas kekerasan berbasis gender.
Dengan mengangkat tema “Berdamai dengan Diri Sendiri”, workshop ini mengajak peserta untuk menciptakan affirmation cards yang sarat pesan positif dan memberdayakan, menggunakan media seni kolase dan journaling dari bahan daur ulang.
Dua fasilitator inspiratif, Fransiska Orris-Beding (pembuat kartu handmade di Makau) dan Maria Nelden (praktisi Psikologi Budaya di Jerman) yang memandu peserta menggali afirmasi diri melalui refleksi kreatif.
Workshop ini juga menghadirkan sesi berbagi pengalaman dan presentasi karya, dengan dukungan moderator Asti Tyas Nurhidayati, relawan Ruanita di Islandia.
“Melalui AISIYU, kami ingin menunjukkan bahwa proses pemulihan bagi penyintas kekerasan dimulai dari keberanian untuk berdamai dengan diri sendiri. Setiap kartu afirmasi yang dihasilkan adalah suara perlawanan dan simbol penyembuhan,” ujar tim Asti selaku perwakilan Ruanita Indonesia.
Sebagai penutup, karya para peserta akan dikurasi dan dipamerkan secara digital pada kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (25 November – 10 Desember 2025) di saluran media sosial Ruanita.
Jakarta, 3 Juli 2025 — Ruanita Indonesia melakukan audiensi dengan Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KemenPPPA) pada Kamis, 3 Juli 2025. Pertemuan ini bertujuan untuk menjajaki peluang kerja sama strategis dalam upaya perlindungan dan pemberdayaan perempuan, khususnya dalam konteks transnasional.
Audiensi tersebut dihadiri oleh dua perwakilan relawan Ruanita, yakni Asti Tyas Nurhidayati yang hadir langsung di Jakarta dan Natasha Hartanto yang turut serta dalam diskusi. Tim Ruanita disambut oleh Ibu Irjen Pol (Purn.) Desy Andriani, Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan KemenPPPA.
Dalam pertemuan tersebut, tim Ruanita memaparkan visi dan misi organisasi sebagai ruang aman dan kolektif bagi perempuan Indonesia di mancanegara. Ruanita berbagi pengalaman lapangan mengenai isu-isu yang dihadapi perempuan Indonesia dalam situasi transnasional, termasuk pentingnya dukungan kesehatan mental, akses konseling berbasis bahasa ibu, serta manajemen berbasis nilai.
“Kami percaya bahwa perlindungan perempuan tidak mengenal batas negara. Ruanita hadir untuk menjembatani kebutuhan perempuan Indonesia di luar negeri dengan pendekatan berbasis komunitas, intervensi psikososial, dan nilai kemanusiaan,” ujar Asti Tyas Nurhidayati dalam sesi diskusi.
KemenPPPA menyambut baik inisiatif Ruanita dan menyatakan terbuka untuk menjalin komunikasi lanjutan serta kerja sama strategis, khususnya dalam menyentuh komunitas WNI perempuan yang berada di luar negeri namun tetap menjadi bagian penting dari bangsa Indonesia.
Pertemuan ini menjadi langkah awal yang signifikan bagi Ruanita dalam memperkuat jejaring kelembagaan dan membuka ruang kolaborasi konkret bersama KemenPPPA di masa depan. Diharapkan, kolaborasi ini dapat memperluas jangkauan perlindungan dan pemberdayaan perempuan Indonesia lintas batas negara.
JERMAN, 29 Juni 2025 — Ruanita Indonesia, melalui platform daringwww.ruanita.com, menyelenggarakan sebuah diskusi online bertajuk “Mengenal Lebih Dekat Program Au Pair di Eropa Barat dan Skandinavia: Peluang, Pengalaman, dan Aspek Hukum” pada Minggu, 29 Juni 2025, pukul 10.00–12.00 CET (15.00–17.00 WIB).
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Ruanita dalam menyuarakan perlindungan dan pemberdayaan perempuan Indonesia di luar negeri melalui edukasi dan ruang berbagi yang aman.
Program Au Pair telah menjadi salah satu jalur populer bagi generasi muda Indonesia untuk meraih pengalaman internasional.
Melalui skema ini, peserta—yang biasanya berusia muda—memiliki kesempatan tinggal di luar negeri, tinggal bersama keluarga angkat (host family), belajar bahasa baru, serta memahami budaya lokal secara langsung.
Namun, kenyataan di lapangan tidak selalu semulus yang dibayangkan. Banyak calon Au Pair yang melangkah tanpa informasi cukup, bahkan hanya bermodalkan keinginan untuk “keluar negeri secepatnya”, tanpa mengetahui hak dan kewajiban, risiko hukum, dan tantangan hidup sebagai Au Pair di negara asing.
Akibatnya, tidak sedikit yang mengalami kesulitan—bahkan potensi eksploitasi—akibat minimnya bekal informasi dan dukungan.
Melihat fenomena ini, Ruanita Indonesia merasa perlu menghadirkan forum terbuka dan edukatif untuk memberikan informasi yang akurat, serta memperkuat pemahaman calon peserta terhadap realita program Au Pair, khususnya di kawasan Eropa Barat dan Skandinavia.
Acara ini menghadirkan pembicara dari berbagai latar belakang—baik mereka yang tertarik dengan program pertukaran budaya, mereka yang pernah menjadi peserta Au Pair, akademisi yang berminat akan budaya, maupun pihak berwenang dari pemerintah.
Diskusi akan dimoderatori oleh Asti Tyas Nurhidayati, relawan Ruanita Indonesia yang saat ini berdomisili di Islandia.
Susunan acara akan dimulai dengan sambutan dari Irjen Pol. (Purn) Desy Andriani, Deputi Perlindungan Hak Perempuan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA RI), yang memberikan pengantar mengenai pentingnya perlindungan hukum dan edukasi sebelum mengikuti program internasional seperti Au Pair.
Dua pembicara utama yang akan membagikan pengalaman langsung adalah:
Lina Herliana, mantan peserta Au Pair dan kini mahasiswa di Finlandia. Ia memaparkan perjalanannya dari proses pendaftaran hingga kehidupan pasca-Au Pair.
Puji Sumarno, Au Pair yang saat ini sedang berada di Norwegia, yang berbagi tantangan dan keseharian sebagai bagian dari keluarga angkat di Eropa Utara.
Diskusi juga akan mendapatkan perspektif hukum dan perlindungan dari perwakilan pemerintah, yaitu Satriyo Pringgodhani, Koordinator Perlindungan WNI dan Konsuler di KBRI Berlin.
Ia menjelaskan bagaimana KBRI Berlin mendampingi WNI yang menjadi peserta Au Pair dan pentingnya mengikuti jalur resmi.
Selain itu, akan hadir seorang penanggap dari kalangan akademisi, yakni Vivid F. Argarini memberikan tinjauan sosial-budaya serta mengamati program Au Pair sebagai program pertukaran budaya, yang diminati oleh mahasiswa yang mencari peluang karier dan hidup di mancanegara.
Menurut Asti Tyas Nurhidayati, diskusi ini bukan sekadar forum berbagi cerita, melainkan juga “benteng informasi dan pelindung” bagi generasi muda Indonesia yang tertarik mengikuti program internasional.
“Melalui pengalaman nyata dan pembahasan legalitas, kami ingin memastikan bahwa adik-adik kita berangkat bukan hanya dengan semangat, tapi juga dengan bekal pengetahuan yang cukup,” ujarnya.
Diskusi ini terbuka untuk mahasiswa, lulusan baru, komunitas pecinta bahasa asing, serta masyarakat umum yang ingin mengetahui lebih dalam tentang pertukaran budaya melalui jalur Au Pair.
Peserta tidak hanya dapat mengikuti acara melalui Zoom, tetapi juga dapat menyimak melalui YouTube Live di kanal Ruanita – Rumah Aman Kita.
Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) merupakan komunitas digital dan organisasi relawan yang berbasis manajemen nilai dan intervensi komunitas, dengan fokus pada perlindungan, pendidikan, dan penguatan advokasi perempuan Indonesia di luar negeri. Berbagai kegiatan telah dilakukan sejak pendiriannya, seperti diskusi daring, kampanye kesadaran hak migran, pelatihan keterampilan daring, hingga publikasi e-book edukatif.
Acara ini merupakan bagian dari program reguler yang mendorong keterlibatan aktif perempuan Indonesia dalam isu-isu global, sekaligus memperkuat perlindungan sosial dan hukum di ranah migrasi internasional.
Informasi lebih lanjut: Asti Tyas Nurhidayati (e-mail: info@ruanita.com)
Rekamannya dapat dilihat di kanal YouTube kami berikut dan pastikan SUBSCRIBE agar mendukung keberlangsungan program kami:
Keterangan foto: Sekolah dan dunia pendidikan bisa jadi ruang aman bagi perempuan untuk bekerja mengembangkan diri sesuai pendidikan, kemampuan, minat dan bakat. Namun, bekerja sebagai guru bagaikan dua sisi mata uang.
Di satu sisi, bangga dan bahagia, berkontribusi positif bagi masyarakat lokal, mendidik generasi muda harapan masa depan, mewakili keragaman dan kesetaraan peran imigran dan minoritas. Ini bagaikan pizza aneka rasa dan topping yang menarik mata, lezat, nikmat, mengenyangkan dan memberikan kepuasan.
Di sisi lain, sistem pendidikan inklusif mendorong guru harus siap mendidik semua murid dengan berbagai kebutuhan dan kemampuan yang berbeda. Anak-anak berkebutuhan khusus ataupun yang bermasalah dalam mental dan perilaku dapat memberikan berbagai tekanan mental bahkan fisik bagi guru, bahkan bisa mengancam dan membahayakan guru dalam ekskalasi tertentu. Ini bagaikan gunung api yang indah dan menarik dilihat jika dalam keadaan tenang, namun sewaktu-waktu dapat meledak dahsyat sehingga perlu siap sedia, waspada dan pengawasan ketat.