(CERITA SAHABAT) Bekerja sebagai Nanny di Dubai, Pengalaman dan Tantangannya

Halo, sahabat Ruanita! Perkenalkan namaku Yuni yang kini bekerja dan menetap di Dubai, Uni Emirat Arab. Sejak lama aku sudah terbiasa merantau. Tahun 2004, setelah musibah tsunami Aceh, aku mulai mengadu nasib di luar daerah, hingga akhirnya berani melangkah lebih jauh ke luar negeri. Enam tahun terakhir aku menetap di Dubai, Uni Emirat Arab, dengan berbagai pengalaman pahit manis yang menempa diriku.

Alasan awalku sederhana: ingin membantu orang tua. Namun seiring waktu, alasan itu berkembang menjadi tekad untuk memutus rantai generasi sandwich di keluarga kami. Aku ingin memperbaiki kehidupan, menyekolahkan anak-anak dengan baik, dan memastikan di masa depan aku tidak bergantung pada mereka.

Awal kedatanganku ke Dubai adalah melalui sebuah agen penyalur, dan aku bekerja sebagai nanny di sebuah keluarga lokal/Emirati. Keluarga ini sangat baik, tetapi budaya kerja mereka berbeda. Selama dua tahun kontrak, aku tidak mendapatkan libur sama sekali. Gajiku saat itu hanya 1200 dirham per bulan. Aku membaginya dengan disiplin: 600 dirham kukirim ke keluarga di kampung, sisanya kutabung dengan harapan suatu hari bisa mandiri dan mencari pekerjaan sendiri tanpa agen.

Setelah kontrak berakhir, aku sempat pulang ke Indonesia, lalu kembali lagi ke Dubai dengan visa kerja legal. Selama satu setengah tahun aku bekerja serabutan, tetap di bidang ART dan nanny, namun kontraknya tidak pernah lama—paling hanya tiga bulan di satu keluarga. Di masa itu aku juga mulai berjualan kue-kue Indonesia. Dari situlah lahir “Yuni Martabak,” yang sampai sekarang masih dikenal.

Suatu hari, dengan iseng aku mengunggah CV di situs pencari nanny. Tak kusangka, dari situlah aku bertemu dengan majikan Belanda yang kemudian menjadi tempatku bekerja hingga sekarang. Jadi, sebenarnya aku baru satu setengah tahun bersama keluarga Belanda ini, tetapi pengalaman enam tahun di Dubai itulah yang membentukku menjadi lebih kuat dan mandiri.

Menyesuaikan diri dengan mereka tidak sulit. Justru aku merasa dihargai. Sang “Sir” sering turun tangan membantu pekerjaan rumah dan aku diberi ruang untuk tetap menjalankan budaya Indonesia, termasuk memasak makanan khas seperti sate, nasi goreng, soto ayam, hingga bakwan.

Budaya kerja mereka berbeda dengan orang Indonesia. Mereka tegas dan jujur. Pujian hanya keluar ketika benar-benar tulus, bukan sekadar basa-basi. Sementara di Indonesia, kita terbiasa ramah, penuh “sungkan,” dan kadang tidak begitu tegas.

Kesalahpahaman tentu pernah terjadi, tetapi kuncinya adalah berkomunikasi langsung dan saling meminta maaf. Syukurlah, keluargaku di Dubai sangat pengertian. Mereka memberiku kebebasan untuk tetap menjalankan nilai-nilai budaya Indonesia, mulai dari ibadah, makanan, hingga pakaian. Bahkan, mereka menyukai masakan Indonesia favorit seperti sate, nasi goreng, soto ayam, kerupuk, bakwan, hingga pisang goreng!

Dalam pola asuh anak, aku melihat perbedaan yang cukup jelas. Mereka sangat disiplin dalam hal waktu: tidur, makan, dan bermain memiliki jadwal ketat. Meski ada pengasuh, orang tua tetap membagi waktu dan terlibat langsung dalam pengasuhan. Sedangkan di Indonesia, pola asuh biasanya lebih fleksibel, santai, dan mengalir.

Meski begitu, tantangan sebagai pekerja migran tetap berat. Rindu keluarga sering kali menjadi ujian terbesar, ditambah rasa lelah dan kadang tekanan mental. Aku mengatasinya dengan menangis untuk melepaskan emosi, belajar dari video YouTube, dan bersandar pada teman-teman PMI (Pekerja Migran Indonesia). 

Di sisi lain, aku juga berusaha menjaga keseimbangan hidup: bermain badminton bersama komunitas Indonesia Ladies Badminton (ILB), ikut bazar KJRI untuk menjual kue, bahkan sempat berkesempatan jalan-jalan ke Eropa.

Mimpiku sederhana namun kuat: suatu saat aku ingin punya toko kue atau café, baik di Dubai maupun di Indonesia. Aku juga ingin punya rumah di kota besar, dekat bandara, agar lebih mudah bila harus bepergian.

Cara yang kulakukan sederhana: aku menangis untuk meluapkan emosi, lalu belajar melepaskannya. Kadang aku belajar dari video YouTube untuk menenangkan diri. Teman-teman sesama PMI menjadi tempatku bersandar secara emosional di sini.

Yang membuatku tetap kuat adalah mimpi-mimpiku dan orang tua yang masih membutuhkan dukungan, juga anakku yang sedang bersekolah. Itu semua menjadi semangatku.

Pekerjaanku sehari-hari dimulai dengan mengajak jalan anjing pomeranian keluarga, lalu menyiapkan sarapan untuk Julien, anak yang aku asuh. Menunya biasanya telur orak-arik, tomat cherry, mentimun, dan roti. Setelah itu, aku menemaninya bermain, baik di play hall saat musim panas, maupun di taman saat musim dingin.

Siang hari aku menyiapkan makan siang, kemudian membereskan rumah saat Julien tidur siang. Sore harinya, aku memasak makan malam sesuai permintaan majikan.

Hari Minggu adalah hari liburku. Biasanya aku berkumpul dengan teman-teman PMI, dan malamnya bermain badminton. Aku juga bergabung dengan komunitas Indonesia Ladies Badminton (ILB) di Dubai. Dari sanalah aku banyak mendapat energi positif.

Soal keuangan, aku berusaha bijak: mengirim secukupnya untuk keluarga, sedangkan sisanya ditabung. Majikanku pun sangat menghargai pekerja, bahkan memberiku waktu bebas tambahan dua kali seminggu untuk bermain badminton sejak sore hingga tengah malam. Aku juga pernah ikut pelatihan pertolongan pertama, yang menjadi pengalaman berharga.

Momen paling berkesan selama di Dubai adalah ketika bisa berjualan di bazaar KJRI, bermain badminton bersama komunitas, dan kesempatan jalan-jalan ke Eropa.

Pengalaman enam tahun ini membuatku lebih tangguh sebagai perempuan Indonesia. Aku tetap bangga dengan identitasku, dan pengalaman ini semakin menguatkanku untuk meraih mimpi.

Impian terbesarku adalah memiliki toko kue atau café, baik di Dubai maupun di Indonesia. Aku juga ingin memiliki rumah di kota besar agar dekat dengan bandara, supaya lebih mudah bila harus bepergian atau kembali ke tanah air.

Bekerja di luar negeri memang penuh tantangan, baik secara budaya, fisik, maupun emosional. Namun dengan niat yang kuat, komunikasi yang baik, dan dukungan dari sahabat-sahabat seperjuangan, semua itu bisa dijalani.

Aku percaya, setiap perantau membawa cerita, dan setiap cerita adalah kekuatan. Semoga mimpiku dan juga mimpi sahabat-sahabat Ruanita juga bisa tercapai.

Penulis: Yuni, tinggal di Dubai Uni Emirat Arab dan dapat dikontak via akun instagram yunninuranii.

(PODCAST RUMPITA) Pengalaman Hidup yang Menarik di Dubai yang Serba Internasional

Melanjutkan episode ke-39 Podcast RUMPITA di Spotify, Podcaster Anna dan Ecie dari Ruanita Indonesia mengundang Utari Giri, seorang ibu asal Indonesia yang kini menetap di Dubai bersama keluarganya.

Diskusi Podcast ini membuka wawasan tentang bagaimana rasanya membesarkan anak-anak di negeri penuh keberagaman budaya itu, khususnya soal pendidikan yang bernuansa internasional tersebut.

Utari menceritakan bahwa keputusannya pindah ke Dubai berawal dari mengikuti suami yang mendapat pekerjaan di sana.

Dengan tekad bulat dan penuh semangat, mereka memulai kehidupan baru, jauh dari tanah air. Salah satu tantangan terbesar yang langsung dihadapi adalah soal pendidikan anak-anak.

Memilih sekolah di Dubai, menurut Utari, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dengan banyaknya pilihan sekolah — dari kurikulum Inggris, Amerika, hingga IB (International Baccalaureate) — keluarga harus berhati-hati menyesuaikan kebutuhan pendidikan anak dengan nilai-nilai keluarga.

Di Dubai, pilihan sekolah begitu banyak, tapi tidak semuanya terjangkau secara finansial. Utari menuturkan bahwa biaya sekolah swasta di Dubai bisa sangat tinggi, bahkan untuk pendidikan anak usia dini. Oleh karena itu, riset mendalam menjadi keharusan.

“Kita mesti lihat bukan cuma fasilitasnya, tapi juga filosofi sekolahnya, bagaimana pendekatan mereka terhadap anak-anak,” ujar Utari.

Ia menekankan pentingnya mencari sekolah yang mendukung perkembangan karakter anak, bukan hanya mengejar prestasi akademik semata. Selain itu, jarak antara rumah dan sekolah juga menjadi pertimbangan praktis, mengingat lalu lintas di Dubai bisa sangat padat.

Utari merasa bersyukur karena anak-anaknya relatif mudah beradaptasi dengan lingkungan sekolah internasional yang multikultural. Di Dubai, siswa berasal dari berbagai latar belakang — Asia, Eropa, Afrika, hingga Amerika — menciptakan suasana belajar yang penuh toleransi dan keterbukaan.

Namun, adaptasi ini tetap butuh waktu. Bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar utama di hampir semua sekolah, sehingga penting bagi anak-anak untuk memiliki dasar bahasa Inggris yang baik, atau siap untuk mengejarnya dalam proses pembelajaran.

“Anak-anak justru lebih cepat belajar bahasa dibanding kita orang tuanya,” Utari tertawa.

Walaupun secara umum pengalaman sekolah di Dubai positif, Utari tidak menutup mata terhadap tantangan yang ada. Salah satunya adalah menjaga identitas budaya Indonesia di tengah arus globalisasi yang sangat kencang.

Untuk itu, di rumah, keluarga Utari tetap berusaha membiasakan penggunaan Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari, memperkenalkan budaya, makanan khas, dan juga cerita-cerita dari tanah air. Semua ini dilakukan agar anak-anak tetap merasa memiliki akar budaya, meskipun tumbuh besar di lingkungan internasional.

“Kalau bukan kita orang tuanya yang memperkenalkan, siapa lagi?” katanya tegas.

Sebagai muslim yang tinggal di negara berpenduduk mayoritas Muslim, Utari menemukan bahwa Dubai cukup mendukung dalam hal pendidikan agama. Banyak sekolah swasta yang menawarkan kelas agama Islam sebagai bagian dari kurikulum, meskipun tetap ada pilihan bagi keluarga dari agama lain.

Namun demikian, Utari tetap merasa penting untuk menguatkan pendidikan agama dari rumah. Ia percaya bahwa nilai-nilai dasar — kejujuran, kebaikan, tanggung jawab — perlu ditanamkan lebih dahulu oleh orang tua, baru dilengkapi oleh lingkungan sekolah.

Selain soal pendidikan, Utari juga berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari di Dubai. Ia mengakui bahwa kota ini menawarkan fasilitas yang sangat lengkap dan nyaman untuk keluarga — dari taman-taman hijau, komunitas ekspat, hingga layanan kesehatan yang modern.

Namun, ia juga menekankan perlunya kesiapan mental dan finansial sebelum memutuskan untuk menetap di Dubai. Standar hidup yang tinggi berarti biaya kehidupan juga besar, termasuk untuk hal-hal kecil seperti transportasi, hiburan, atau makanan.

“Kalau tidak cermat mengatur keuangan, bisa berat,” ujar Utari.

Pesan untuk Keluarga Indonesia yang Ingin Pindah

Menutup perbincangan, Utari memberikan beberapa pesan penting untuk keluarga Indonesia yang mungkin bermimpi membawa anak-anak bersekolah di Dubai:

  1. Lakukan riset mendalam tentang sekolah dan biaya hidup.
  2. Siapkan anak secara mental dan bahasa sebelum berangkat.
  3. Pertahankan budaya Indonesia meski tinggal di luar negeri.
  4. Fleksibel dalam beradaptasi, karena lingkungan baru akan selalu membawa tantangan tak terduga.

Simak selengkapnya diskusi podcast RUMPITA berikut ini dan pastikan FOLLOW akun Spotify kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi: