(KONSELING KELOMPOK) Krisis Identitas di Perantauan

Sebagai seorang yang tinggal di perantauan, kita mungkin saja mengalami krisis identitas yang disebabkan karena perubahan lingkungan, tuntutan sosial, tuntutan akademik/pekerjaan, rasa kesepian, hingga konflik batin di mana kita merasa sulit untuk mempertahankan identitasnya ketika kita mendapatkan budaya/lingkungan yang berbeda. 

Krisis dapat terjadi pada siapa pun dan dalam usia berapa pun. Krisis identitas terjadi ketika terjadi pergeseran dan perubahan sepanjang hidup saat seseorang menghadapi tantangan baru dan mengatasi pengalaman yang berbeda seperti pindah ke negara yang baru, pernikahan, perceraian, melahirkan, putus kerja, depresi, dsb.

Follow us: @ruanita.indonesia

Krisis identitas adalah fase dalam perkembangan manusia yang mempertanyakan dirinya dan keberadaan mereka di dunia ini. Krisis identitas terjadi dalam psikologi perkembangan manusia sebagai cara untuk memandang dirinya sendiri. Identitas diri yang dimaksud bisa meliputi nilai hidup, keyakinan, ingatan, memori, pengalaman yang membentuk perasaan subjektif seseorang tentang dirinya sehingga kemudian disebut sebagai citra diri. 

Sebagai social support system di perantauan, RUANITA menggelar konseling kelompok dua kali dalam setahun dengan tema yang berbeda-beda yang disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi selama di perantauan. Untuk bulan Juni ini, RUANITA mengambil tema krisis identitas selama di perantauan dengan berbagai sebab dan alasan. Konseling kelompok ini dilakukan secara daring, gratis, terbatas atau tidak lebih dari 10 orang, dan boleh menutup kamera.

Tujuan Konseling Kelompok ini untuk memberikan dukungan sosial satu sama lain yang positif, berbagi resources, dan wawasan baru dalam krisis identitas yang sedang/pernah dialami oleh peserta. Untuk sesi konseling ini, konselor memanfaatkan media gambar untuk para peserta. Sebagai pendaftaran, dapat dicek di tautan berikut bit.ly/konseling-kelompok.

Apabila ada saran tema konseling kelompok atau online support group, silakan melayangkan pesan ke info@ruanita.com.

(CERITA SAHABAT) Menjadi Perempuan Baru

Wang Sinawang, yang terlihat indah belum tentu indah. Bagi sebagian orang mungkin tinggal di luar negeri itu terlihat indah dan menyenangkan. Tidak jarang saya mendapatkan pesan dari teman-teman lama saya yang bunyinya “Wah enak ya kamu sekarang tinggal di luar negeri”. Pesan-pesan itu biasanya hanya saya tanggapi dengan senyuman dan tawa formalitas saja karena nyatanya bagi saya realita tidak selalu seindah foto-foto yang ada di instagram. Seperti yang selalu saya katakan: Don’t assume, maybe I only show you what I want you to see. 

Beberapa bulan setelah menikah, saya memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman untuk bisa bersama dengan suami saya di Prancis. Meninggalkan keluarga, teman dan segala pencapaian saya di Indonesia bukanlah hal yang mudah bagi saya. Bisa dibilang tahun pertama saya tinggal di Eropa adalah tahun yang paling berat yang pernah saya alami. Tahun pertama pernikahan ini adalah tahun di mana banyak sekali pertanyaan bermunculan di dalam pikiran saya seperti “siapakah diri saya saat ini”, “apakah menikah adalah keputusan yang tepat”, “bagaimana caranya hidup di negara orang” dan lain sebagainya.

Sebelum menikah saya adalah seorang perempuan dengan aktivitas tinggi, bahkan saya hampir tidak memiliki banyak waktu di rumah. Saya memiliki pekerjaan yang baik di sebuah perusahaan Internasional dan memiliki banyak teman. Ketika kemudian saya menikah dan meninggalkan semua itu, perubahan yang sangat drastis terjadi di dalam kehidupan saya.

Saya yang dulu aktif dan jarang memiliki waktu kosong menjadi saya yang memiliki terlalu banyak waktu. Memiliki waktu untuk bersantai selama beberapa saat memang menyenangkan, tetapi lama kelamaan justru hal inilah yang menyerang saya dari belakang. Banyaknya waktu yang saya miliki membuat saya tenggelam di dalam banyak pertanyaan-pertanyaan filosofis tentang eksistensi diri saya, yang sebenarnya tidak perlu.

Follow us: @ruanita.indonesia

Selain itu, perbedaan budaya dan minimnya pemahaman bahasa yang digunakan di negara yang saat itu saya tinggali mengambil peran yang cukup signifikan dalam pergolakan batin saya. Ya, memang sebelum memutuskan untuk pindah ke negara ini saya sudah mengambil kursus bahasa, tetapi nyatanya praktik menggunakan bahasa yang benar-benar baru bukanlah hal yang mudah dan memerlukan dedikasi tinggi. 

Ditambah karena alasan tertentu, suami saya lebih memilih untuk berbicara dalam bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari kami di rumah. Hal ini membuat kehidupan saya di negara baru ini seperti dikelilingi sebuah tembok. Tembok inilah yang seringkali membuat saya merasa menjadi orang luar ketika saya harus bertemu atau menghadiri acara dengan keluarga dan teman-teman suami saya.

Saat ini saya masih terus berusaha meningkatkan kemampuan berbahasa saya, walaupun sudah tidak separah dulu. Kebanyakan lawan bicara saya pun cukup sabar dan selalu berusaha untuk memahami dan menghargai usaha saya untuk berkomunikasi walaupun terkadang dengan aksen dan pengucapan yang cukup jauh dari yang seharusnya.

Selama beberapa tahun tinggal di Eropa, saya merasakan banyak sekali perubahan yang terjadi di dalam diri saya. Saya bukan lagi orang yang sama, bukan berarti saya sudah kehilangan akar budaya tetapi justru saya menjadi lebih kaya. Tinggal di Eropa dengan proses adaptasi yang sebegitu rupa membuat pribadi saya yang seorang wanita Jawa tertempa, berubah dan dibentuk ulang menjadi lebih tahan banting. 

Klise memang, tetapi saya benar-benar yakin bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Dari proses yang lama dan melelahkan itulah saya mengambil pelajaran dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Bagi saya, hal yang paling penting adalah untuk memulai segala hal dengan pikiran yang terbuka.

Penulis: Rena, tinggal di Swiss.