Dalam episode ke-3 program Sharing with Guchi (SWG), Cindy Guchi—perempuan Indonesia yang kini tinggal di Vietnam—mengajak penonton menjelajahi tema penting seputar ketimpangan upah di Vietnam melalui wawancara eksklusif bersama Le Thi Ngoc Bau (atau Amy), seorang guru Bahasa Inggris dari kota Quy Nhon.
Diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Buruh Sedunia (1 Mei), episode berdurasi sekitar 30 menit ini ditayangkan dalam bahasa Inggris dan menjadi bagian dari inisiatif Ruanita Indonesia (www.ruanita.com) untuk membuka ruang dialog lintas budaya dari perspektif perempuan dunia.
Dalam obrolan yang hangat dan mendalam, Bau memaparkan bahwa ketimpangan gender dalam upah masih nyata di Vietnam, terutama di sektor privat seperti STEM (sains, teknologi, engineering, dan matematika).
Ia juga mengangkat pengaruh norma tradisional yang membatasi kesempatan perempuan untuk naik jabatan atau mengejar karier profesional.
“Banyak perempuan menikah di usia muda dan akhirnya lebih fokus pada keluarga,” jelas Bau. “Ini secara langsung berdampak pada peluang mereka di dunia kerja.”
Selain faktor budaya, keterbatasan akses pendidikan di daerah rural juga menjadi penyebab kesenjangan ini.
Meskipun pemerintah Vietnam telah merancang kebijakan dan program untuk mengatasi diskriminasi dan mendukung pendidikan perempuan, Bau menekankan bahwa perubahan sejati membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan sektor swasta.
Lebih lanjut tentang program Sharing with Guchi episode ke-3 ini, sila disimak berikut ini dan pastikan SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar bisa berbagi lebih banyak lagi.
Sharing With Guchi adalah program bincang-bincang digital yang diproduksi oleh Ruanita Indonesia. Di sini, kami mengangkat cerita, pengetahuan, dan perspektif yang memperkuat suara perempuan global bersama perempuan Indonesia yang menjadi #relawanruanitaindonesia dalam wacana global. Lewat percakapan hangat dan bermakna, SWG bertujuan mendorong solidaritas, pembelajaran, dan aksi nyata.
Dubai, 10 Februari 2025 – Dalam upaya meningkatkan kapasitas warga Indonesia di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Dubai, DWP KJRI Dubai, Komunitas Gelas Kosong bekerja sama dengan Ruanita Indonesia menggelar Workshop Produksi & Editing Konten Video Digital. Acara ini bertujuan untuk membekali para peserta dengan keterampilan produksi konten video guna mendukung promosi usaha dan komunikasi digital yang lebih efektif.
Workshop ini resmi dibuka oleh Konsul Jenderal RI untuk Dubai, Bapak Denny Lesmana, yang dalam sambutannya menyatakan dukungannya terhadap program peningkatan kapasitas ini. “Di tengah kecanggihan teknologi saat ini, warga Indonesia di Dubai memiliki peluang besar untuk mengembangkan kreativitas mereka dalam pembuatan konten digital. Kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi dan mengedukasi peserta agar lebih siap bersaing dalam dunia digital, baik untuk kebutuhan promosi usaha maupun pengembangan komunitas,” ujar beliau.
Workshop ini berlangsung dalam tiga sesi yang akan dilaksanakan secara daring melalui Zoom pada tanggal 10, 17, dan 24 Februari 2025. Para peserta akan mendapatkan pelatihan dari para relawan Ruanita Indonesia yang berpengalaman di bidang digital content creation, yaitu Cindy Guchi dari Vietnam dan Anna dari Jerman, serta dipandu oleh moderator Utari Giri, Ketua Komunitas Gelas Kosong di Dubai.
Peserta workshop terdiri dari warga Indonesia yang tinggal di Dubai dan sekitarnya, anggota DWP KJRI Dubai, serta pemilik usaha kecil dan menengah yang ingin memperluas jangkauan bisnis mereka melalui media digital. Selain mendapatkan materi dan pelatihan praktis, peserta juga akan memperoleh akses ke rekaman workshop, sertifikat elektronik, serta pendampingan melalui grup WhatsApp.
Melalui workshop ini, diharapkan peserta mampu menciptakan konten video yang tidak hanya menarik dan informatif tetapi juga memiliki nilai edukatif serta dapat dimonetisasi. Acara ini merupakan bagian dari komitmen KJRI Dubai dan Ruanita Indonesia dalam memberdayakan komunitas warga Indonesia di luar negeri dengan keterampilan yang relevan di era digital.
Untuk informasi lebih lanjut, sila hubungi panita penyelenggara melalui surel: info@ruanita.com atau kunjungi situs web kami di https://ruanita.com.
Melanjutkan episode ke-2 program Sharing with Guchi (SWG), Cindy Guchi yang menjadi host dari program ini mengundang sahabat Ruanita, yakni perempuan berkebangsaan India yang tinggal di West Bengali dan berprofesi seagai Researcher dan Lecturer sekarang. Dia bernama Sanchali Sarkar yang dapat dikontak lewat akun instagram sanchali_s yang juga kini sedang menempuh pendidikan PhD di Jerman.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Cindy, program ini bertujuan untuk memberikan ruang untuk diskusi antara Cindy sebagai perempuan Indonesia dan perempuan dari negara lain tentang topik menarik dan bagaimana perspektif mereka terkait dengan tema yang ditawarkan di negara mereka.
Pada episode ke-2, Cindy mengangkat tema kesetaraan gender di India yang masih menjadi isu yang kompleks dan bagaimana implementasinya, sepanjang pengamatan dan pengetahuan dari informan yang juga menjadi dosen keseteraan gender di salah satu universitas di India.
Berbicara tentang kesetaraan gender, Sanchali menyatakan bahwa masih ada ketimpangan gender di negara tempat tinggalnya. Menurut informan, ada banyak faktor yang menyebabkan ketimpangan terjadi seperti: masalah keluarga, agama, seksualitas, kasta, dan benturan budaya yang membuatnya sulit diimplementasikan.
Misalnya, pernikahan anak di India yang sudah dilarang sejak tahun 2006 tetapi faktanya masih saja terjadi pernikahan anak yang terjadi di masyarakat di negara tinggal Sanchali. Padahal, aturan menikah sudah jelas ketat yakni laki-laki berumur 21 tahun dan perempuan berusia 18 tahun, tetapi antara peraturan dan implementasi begitu timpang.
Sanchali mengakui bahwa struktur di masyarakat tempat tinggalnya begitu sangat patriakal, meskipun banyak juga yang mengakui bahwa undang-undang yang dibuat oleh pemerintah India sudah berpihak pada perempuan. Dalam realitanya, itu begitu sulit bagi orang-orang untuk mengaksesnya.
Tema-tema menarik apa saja yang dibahas dalam antara Cindy dengan Sanchali? Mengapa kesetaraan gender di India begitu sulit diterapkan? Apa pesan Sanchali kepada perempuan India dan perempuan seluruh dunia?
Simak selengkapnya program Sharing with Guchi (SWG) episode ke-2 berikut ini dan jangan lupa SUBSCRIBE kanal YouTube kami agar dapat berbagi lebih banyak lagi.
Sharing With Guchi adalah program bincang-bincang digital yang diproduksi oleh Ruanita Indonesia. Di sini, kami mengangkat cerita, pengetahuan, dan perspektif yang memperkuat suara perempuan global bersama perempuan Indonesia yang menjadi #relawanruanitaindonesia dalam wacana global. Lewat percakapan hangat dan bermakna, SWG bertujuan mendorong solidaritas, pembelajaran, dan aksi nyata.
Cantik itu relatif. Mungkin kalimat ini sering kita dengar di masyarakat pada umumnya. Namun, bagaimana standar kecantikan di negeri matahari terbit? Bagaimana masyarakat menilai dan menentukan standar kecantikan untuk seorang perempuan?
Dalam episode pertama SWG, Sharing with Guchi, Cindy Guchi yang menjadi host dari program ini mengundang sahabat Ruanita di Jepang. Dia adalah Chiharu Ooshiro, perempuan Jepang yang sedang menempuh studi di salah satu universitas di Jepang.
Menurut Chiharu, standar kecantikan adalah bagaimana perempuan bisa menjadi diri mereka sendiri dan menerima diri mereka. Namun, standar kecantikan yang diinginkan oleh Chiharu nyatanya berbeda dari kebanyakan masyarakat di Jepang umumnya.
Contohnya, perempuan digambarkan sebagai perempuan yang lembut dan berwajah kecil. Bahkan perempuan banyak melakukan massage agar wajah mereka lebih kecil. Selain berwajah kecil, perempuan digambarkan cantik dengan kulit yang cerah.
Tak jarang, perempuan tidak makan makanan banyak agar tidak mengalami kelebihan berat badan dan bisa diterima sebagai standar kecantikan.
Perempuan di Jepang mendapatkan tantangan tentang bagaimana mereka perlu berpenampilan sempurna untuk lingkungan di mana mereka berada. Mereka tak ragu untuk memakai make-up setiap hari, karena masyarakat pun memandang hal itu sebagai perempuan yang menarik.
Sharing With Guchi adalah program bincang-bincang digital yang diproduksi oleh Ruanita Indonesia. Di sini, kami mengangkat cerita, pengetahuan, dan perspektif yang memperkuat suara perempuan global bersama perempuan Indonesia yang menjadi #relawanruanitaindonesia dalam wacana global. Lewat percakapan hangat dan bermakna, SWG bertujuan mendorong solidaritas, pembelajaran, dan aksi nyata.
Simak selengkapnya rekaman diskusi Cindy Guchi, perempuan Indonesia yang kini tinggal di Vietnam dan Chiharu Ooshiro:
Halo, sahabat Ruanita. Perkenalkan nama saya Cindy Guchi atau biasa dipanggil Cindy, tetapi banyak juga teman saya yang memanggil saya Guchi. Sejak dua belas tahun yang lalu saya menetap di Jerman. Saya adalah seorang arsitek dan proyek manager, lulusan perguruan tinggi di Jerman.
Untuk sampingan saya juga bekerja sebagai freelancer social media management. Kegemaran sehari-hari saya yaitu pergi jalan-jalan menikmati alam bersama suami. Saya juga suka berkreasi membuat konten video untuk kanal YouTube saya.
Saya senang sekali bisa berpartisipasi dalam program cerita sahabat, untuk berbagi pengalaman mengenai toleransi dalam perkawinan campur. Saya bertemu suami berawal dari perkenalan secara online, sewaktu saya masih berkuliah S2 di Jerman. Saat itu, saya banyak memiliki tugas menulis di perkuliahan, yang semuanya memerlukan kemampuan Bahasa Jerman tingkat profesional.
Saya telah berusaha mencari teman di perkuliahan yang bisa membantu saya di waktu luang, tetapi saya tidak bisa menemukannya. Saya juga merasa tidak enak hati, mengingat mereka juga memiliki deadline tugas yang sama. Oleh karena itu, saya membutuhkan seorang native speaker di luar sana yang bisa menolong saya mengoreksi tugas tersebut.
Akhirnya, saya mendaftarkan diri ke aplikasi belajar bahasa online. Singkat cerita, saya menemukan suami saya di aplikasi belajar bahasa online tersebut. Suami saya juga ingin belajar bahasa asing. Selain itu, dia selalu ingin membantu orang asing di Jerman dalam hal bahasa dan integrasi. Saya melihat kepribadian baik suami yang senang membantu orang lain. Kami berdua memang memiliki kesamaan tipe, yakni senang belajar hal baru dan terbuka dengan kultur asing.
Lama kelamaan kami pun menjadi dekat secara online. Selama kami berkomunikasi online dan belum pernah bertemu, kami sudah mulai jatuh cinta. Dari sini saya belajar, bahwa cinta tidak hanya berawal dari fisik semata saja, tetapi juga dari karakter. Setelah akhirnya kami bertemu offline, kami memutuskan untuk berpacaran, meskipun saat itu kami tinggal berbeda kota.
Selama enam tahun berpacaran, saya sudah pernah mengajaknya ke Indonesia dua kali, agar dia dapat bertemu dengan keluarga besar saya dan tentunya supaya dia lebih mengenal budaya Indonesia. Dalam masa pacaran kami yang cukup lama, kami semakin mengenal sifat dan karakter satu sama lain, seperti perbedaan cara berpikir yang pastinya dipengaruhi oleh kultur dan budaya masing-masing.
Sampai akhirnya tahun 2023 lalu, kami memutuskan untuk menikah karena kami ingin membangun keluarga. Sebelum menikah, tantangan terbesar kami saat itu adalah bagaimana cara kami memandang suatu agama dan iman. Indonesia mempunyai tingkat budaya agama yang sangat religius.
Apalagi ada peraturan di Indonesia untuk menikah dengan pasangan yang memiliki satu agama. Sedangkan, di Jerman tidak demikian. Kami memiliki perbedaan keyakinan dan cara pandang. Namun, kami tahu itu bukan penghalang. Selama enam tahun, kami telah belajar saling mencintai, dengan menghargai perbedaan tersebut.
Ketika awal saya berpacaran dengan suami yang berkewarganegaraan Jerman, keluarga saya merasa agak khawatir. Hal ini berkaitan terutama dengan gaya hidup bebas orang Jerman dan agama kami yang berbeda. Saya berusaha mengkomunikasikannya dengan keluarga saya supaya mereka percaya tentang pilihan hidup saya sendiri. Saya juga sering melibatkan suami dalam acara keluarga saya, sehingga mereka juga bisa mengenal pribadi suami saya dengan baik.
Saya dan suami tidak punya pengalaman menjalin relasi dengan orang yang berkewarganegaraan sama, jadi kami tidak bisa membedakan mana yang lebih sulit. Namun kami selalu melihat perbedaan di antara kami, sebagai hal yang bermakna.
Bagaimanapun, karakter dan sifat masing-masing manusia akan selalu berbeda-beda. Menurut saya, hal itu bisa dipengaruhi oleh faktor kultur dan budaya. Selain itu, kami juga melihat faktor pengasuhan dalam keluarga yang menentukan
perbedaan karakter setiap orang. Ada orang yang berpendapat kalau perbedaan budaya itu merupakan hal yang negatif dalam suatu hubungan. Sementara, kami melihat perbedaan budaya ini justru sebagai sesuatu yang positif. Perbedaan budaya membuat kami lebih
berusaha untuk bersikap toleransi. Boleh dibilang toleransi yang cenderung lebih besar atau lebih bersifat fleksibel ini, disebabkan karena kami sudah mengetahuinya dari awal bahwa kami itu berbeda.
Bagaimana mungkin kami bisa saling mencintai, kalau kami tidak berusaha memahami satu sama lain, pribadi yang dicintai. Toleransi diperlukan bukan hanya karena kami berbeda budaya, melainkan juga perbedaan sifat dan karakter di antara kami.
Oleh karena itu, kami berkomunikasi secara terbuka tentang apa yang kami butuhkan. Contohnya, bagaimana kami menyampaikan keinginan kami satu sama lain. Dengan budaya individualistik di Jerman, orang tidak perlu merasa tidak enak dengan orang lain. Segala keputusan ditanggung secara personal, bukan komunal.
Misalnya, kalau ada kunjungan dari keluarga atau kerabat suami di rumah, maka saya tidak perlu merasa tidak enak untuk bercengkrama bersama mereka. Saya bisa berbicara jujur dengan suami, bahwa saya tidak perlu berlama-lama dengan tamu.
Sebaliknya, bila situasi itu terjadi di Indonesia, tidak demikian. Saya selalu menyampaikan ke suami bahwa orang Indonesia sebisa mungkin mengutamakan kebersamaan, karena menjunjung tinggi budaya kolektif.
Jerman itu dianggap dari barat, sedangkan Indonesia dari timur. Saat berpacaran dengan suami, salah satu perbedaan nilai yang saya rasakan adalah prinsip hubungan seksualitas sebelum menikah. Saya memegang prinsip kemurnian sebelum menikah.
Prinsip ini menjadi hal yang menantang dan tidak mudah, apalagi kami tinggal di barat (=Jerman). Di Jerman relasi intim laki-laki dan perempuan dalam berpacaran adalah sesuatu yang sangat penting. Itu adalah hal yang normal di Jerman, tetapi tidak untuk saya. Beruntungnya, suami (dulu adalah pacar) menghargai keputusan saya, karena itu prinsip saya.
Hal yang sangat menyentuh saya lainnya adalah bagaimana dia mendukung saya untuk menggapai mimpi-mimpi saya. Meski demi mencapai mimpi saya saat itu, kami sempat hidup terpisah berbulan bulan, suami sangat mendukung dan mempercayai saya. Jadi, tidak ada istilah suami yang harus memimpin istri atau suami melarang istri. Kami berpikir bahwa relasi kami setara. Suami atau istri bisa memilih masing-masing.
Dalam hal agama, ini juga sangat berkesan bagi saya. Di Jerman, agama adalah hal yang pribadi (=privat). Tentu saja, ada hal-hal yang membuat saya sedih ketika saya tidak bisa merayakan hari-hari keagamaan bersama-sama seperti layaknya di Indonesia.
Tapi karena sudah lama tinggal di Jerman, saya sudah bisa memahami alasan dari kultur yang berbeda ini. Sebaliknya, suami saya juga belajar dari saya tentang perilaku beragama dan beriman yang saya anut. Setelah berkomunikasi terbuka, dia sangat tahu bahwa saya adalah orang yang religius.
Suami juga tahu, terkadang saya perlu teman untuk pergi ke gereja bersama. Suami akhirnya bisa memahami pentingnya budaya kebersamaan dalam beriman seperti di Indonesia. Dan, saya tahu dia melakukannya dengan tulus.
Oh ya, kami juga sudah berkomunikasi terbuka tentang anak-anak kami di masa depan. Anak-anak tidak perlu memilih mau ikut budaya yang mana, karena mereka bisa belajar dari kedua budaya yang berbeda dari kami. Kami ingin mengajari mereka bahwa tidak ada budaya yang paling benar atau paling salah. Ini tentu saja berlaku untuk kami sebagai orang tua nanti.
Kami akan berusaha memperkenalkan dua budaya ini, secara sadar pada anak-anak sejak dini. Jika mereka besar, mereka tahu ada dua cara pandang berbeda. Mereka pun bisa memilih mana yang terbaik untuk mereka. Atau, mungkin saja mereka akan menggabungkan dua budaya ini untuk membentuk cara pandang baru mereka sendiri.
Menurut saya, kunci perkawinan campuradalah komunikasi, toleransi, saling percaya, saling mendukung, dan tidak memaksakan kehendak pribadi. Seperti yang saya sampaikan di atas, faktor budaya sebenarnya bukan tantangan utama karena setiap individu manusia
memang berbeda, punya kekurangan dan kelebihan. Asalkan kita mau belajar satu sama lain, peduli dan empati, niscaya kita pasti bisa menghadapi perbedaan ini. Usahakan bicara jujur apa keinginan kita dan dengarkan apa keinginan pasangan hidup kita. Perbedaan selalu bisa dikompromi.
Kalau tujuannya untuk saling mencintai yang tulus, pasti semuanya berakhir dengan baik. Saran saya, jangan jadikan perbedaan budaya sebagai kambing hitam jika kita punya masalah! Jadikan itu sebagai motivasi kita untuk lebih mau berusaha memahami dan menghargai cara pandang hidup pasangan yang berbeda.
Menurut saya, toleransi itu diperlukan karena kita adalah makhluk sosial. Menikah dengan orang Indonesia yang berbeda suku pun pasti butuh toleransi, karena pasti ada cara pandang berbeda yang dipengaruhi keluarga dan lingkungannya juga. Jadi dalam perkawinan campur berbeda negara pun juga sama.
Jika tidak ada toleransi, menurut saya akan sangat sulit untuk saling mencintai satu sama lain, karena setiap pihak merasa paling benar. Jika tidak ada toleransi, tentu menjadi sulit untuk berkompromi dan berdiskusi menemukan jalan keluar dari masalah.
Toleransi itu bisa dipelajari dan diusahakan. Contohnya, mencoba berempati dan memahami apa yang dirasakan oleh pasangan. Kuncinya sekali lagi adalah komunikasi terbuka, sehingga kita tahu alasan dia/saya melakukan atau berpikir seperti itu.
Solusi berpisah menurut saya adalah jalan terakhir, jika salah satu dari pasangan tidak lagi mau belajar untuk bersikap toleransi, apalagi hal ini sampai merugikan pasangan secara mental dan fisik. Menurut saya, untuk mencapai relasi sehat antara suami istri diperlukan kedua belah pihak, bukan satu pihak. It takes two Tango!
Sebelum menikah, sebaiknya kenalilah pribadi pasangan sedalam dalamnya. Penting juga untuk kita mengenal keluarga dan budaya pasangan sebelumnya, sehingga kita bisa lebih mengerti latar belakang pasangan. Segera komunikasikan keinginan, pendapat, dan keluhan kita dari awal, terutama saling tukar cerita dan pandangan hidup.
Sebelum menikah, penting juga untuk membicarakan tentang masa depan seperti: hal keuangan, lokasi negara tinggal setelah menikah, hal mengurus anak, dll. Ingat, jadikan perbedaan menjadi bumbu semangat untuk lebih mencintai pasangan 🙂
Penulis: Cindy Guchi, sekarang tinggal di Vietnam. Jika ingin mengontaknya, bisa DM di Instagram @cinguch atau YouTube di link: https:// http://www.youtube.com/@cindyguchi/videos.