Jerman, 7 Juli 2025 — Tim Ruanita Indonesia melakukan audiensi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Wina, Austria, sebagai bagian dari upaya memperkuat peran komunitas, terutama partisipasi perempuan Indonesia di mancanegara.
Pertemuan daring ini dihadiri oleh perwakilan KBRI Wina, yakni Bapak Shabda Thian dan Ibu Vita, yang menyambut tim Ruanita dalam situasi hangat dan konstruktif.
Pihak KBRI Wina kemudian menyampaikan apresiasi terhadap upaya kerja para relawan Ruanita Indonesia yang telah berkontribusi dalam menciptakan ruang aman dan mendukung bagi perempuan Indonesia, khususnya mereka yang sedang berada di luar Indonesia.
Pertemuan ini juga menandai langkah awal penjajakan kolaborasi antara KBRI Wina dan Ruanita Indonesia.
Salah satu poin penting yang disepakati adalah perlunya melakukan pre-assessment bagi para calon perawat dari Indonesia yang belajar dan akan bekerja di Austria.
Pendekatan ini bertujuan untuk menyesuaikan kebutuhan program pendukung yang sesuai dengan konteks dan tantangan mereka di Austria, sebagai negara tujuan.
Selain itu, kedua pihak membuka kemungkinan mengembangkan program pertukaran informatif, yang dirancang berdampak positif dan edukatif, baik secara sosial, budaya, maupun profesional.
Program ini diharapkan menjadi kontribusi nyata dalam penguatan komunitas warga Indonesia di Austria, serta membuka akses informasi dan ruang dialog yang lebih inklusif.
Audiensi ini dimoderasi oleh Ibu Azizah Seiger, relawan Ruanita di Austria, dan merupakan bagian dari misi Ruanita Indonesia sebagai jembatan kolektif yang edukatif dan inspiratif yang mengedepankan nilai-nilai Indonesia, intervensi komunitas, dan berbagi sumber daya.
Dengan semangat kolaboratif, Ruanita Indonesia dan KBRI Wina akan terus menjajaki bentuk kerja sama yang konkret demi mendukung pemberdayaan perempuan dan warga Indonesia di luar negeri secara lebih luas.
Kontak: Azizah Seiger, relawan Ruanita di Austria (e-mail: info@ruanita.com).
Memilih membuka usaha di negeri perantauan bisa menjadi pilihan bagi sebagian perempuan Indonesia yang tinggal di luar Indonesia. Sebagai perempuan migran, pilihan menjadi wirausahawati bukan hal yang mudah. Setidaknya ada 5 hal yang perlu diperhatikan saat merambah bisnis di luar Indonesia seperti (1). Aturan pajak yang rumit; (2). Pendaftaran usaha; (3). Iklim ekonomi domisili negara yang ditempati; (4). Hambatan bahasa dan komunikasi; (5). Perbedaan budaya.
Oleh karena, RUANITA – Rumah Aman Kita, komunitas Indonesia di luar Indonesia yang berfokus pada promosi kesehatan mental, psikoedukasi dan praktik baik kehidupan di luar Indonesia bekerja sama dengan Komunitas Exportir Muda Indonesia (KEMI) di Turki untuk menggelar webinar bertema kewirausahan.
Webinar ini diharapkan dapat membekali perempuan Indonesia yang tinggal di luar Indonesia mengenai regulasi perdagangan, jiwa kewirausahaan dan pengalaman menjadi pengusaha perempuan di luar negeri sehingga perempuan Indonesia di luar negeri mampu berdikari. Webinar ini diselenggarakan berkat kerja sama dengan KBRI Ankara, KBRI Den Haag, KEMI Turki dan IKAT Jerman.
Ada pun webinar akan dibuka secara resmi oleh Dubes RI untuk Turki, Lalu Muhamad Iqbal dan diawali dengan pemaparan dari Atase Perdagangan RI KBRI Den Haag, Sabbat Christian Sirait yang memaparkan tentang peluang produk Indonesia di pasar Eropa, terutama Belanda.
Setelah itu, peserta akan menyimak prosedur perijinan membuat usaha di Turki yang disampaikan oleh Ketua KEMI Turki, Leny Milla FW kemudian dilanjutkan dengan pemaparan tentang strategi kewirausahan dan komunikasi lintas budaya yang disampaikan oleh Dessy Rutten yang telah lama berkecimpung sebagai Ekonom dan Pebisnis di Eropa.
Terakhir, peserta akan mendapatkan pengalaman praktik berwirausaha yang sudah dirintis oleh Ferlin Yoswara yang tinggal di Belanda. Acara webinar ini dipandu oleh Siti Aisah Pujiastuti, Mahasiswa jurusan Bisnis dan Budaya di Universitas Passau, Jerman sekaligus tim Humas RUANITA.
Acara akan ditutup dengan kuiz berhadiah yang disediakan para sponsor. Untuk pendaftaran bisa langsung scan barcode yang tersedia di flyer atau klik https://bit.ly/RUANITA-KEMI. Informasi lebih lanjut bisa langsung menghubungi panitia penyelenggara yakni KEMI Turki dan RUANITA.
Aku tidak memiliki resolusi tahunan seperti orang-orang kebanyakan yang membuatnya sebelum tahun berakhir dengan me-publish-nya di media sosial, menulisnya di sebuah notes book, dan menempelnya di atas meja kerja. Aku membuat resolusi hidup jangka panjang di benakku sendiri. Aku hanya menjelaskan hal itu kepada diriku sendiri.
Hal itu merupakan rancangan rencana-rencana tahapan kehidupanku yang “harus” aku capai. Seperti apa aku ingin melihat diriku di 5 tahun ke depan atau 10 tahun ke depan. Aku telah membuat nya sejak kurang lebih 6 tahun yang lalu. Saat umurku 20 tahun. Sekarang umurku sudah 26 tahun. Resolusi jangka panjangku tidak memiliki waktu mulai atau batas waktu “kadaluarsa”.
Hal tersebut tentu saja berjalan tidak seperti yang aku rancang. Contohnya, aku mengusahakan di saat umurku 25 tahun, aku sudah menyelesaikan studi Bachelor dan Master-ku di Jerman. Kemudian di umur 26 tahun aku bekerja di sebuah organisasi kemanusiaan, umur 27 tahun aku menikah dengan pujaan hatiku, 28 tahun – 30 tahun aku menjadi seorang ibu dan isteri yang baik sekaligus melanjutkan S3 dan mengajar di sebuah universitas di Jerman.
Namun kenyataannya 6 tahun setelah resolusi jangka panjang tersebut dibuat, aku baru saja menyelesaikan Bachelorku dan aku baru melanjutkan studi master. Aku belum memiliki pekerjaan tetap. Pekerjaanku sekarang paruh waktu sebagai kasir di sebuah toko supermarket. Selain itu, aku mencari tambahan uang bekerja di sebuah pabrik obat untuk bagian pengemasan.
Hidupku tidak sespektakuler dan menjanjikan seperti rancangan resolusi yang telah kubuat. Aku juga punya resolusi lain juga seperti meningkatkan ketaatanku kepada Tuhan, selalu tepat waktu beribadah, selalu menambah hafalan surah-surah, lebih mengasihi, lebih beramal di saat apapun dan keadaan sulit.
Aku harus menjaga kesehatan jasmaniku karena beberapa anggota keluargaku meninggalkan kami dalam keadaan sakit. Aku tidak menginginkan orang yang menyayangiku akan kehilanganku karena suatu penyakit. Itu sebab aku memulainya sedini mungkin dan sadar bahwa kesehatan dimulai dari cara kita berpikir, yaitu bersikap positif.
Buatku keluarga adalah sekelompok orang yang menyatu karena ikatan darah, kemiripan sifat maupun fisik, atau mempunyai pandangan hidup atau perspektif dalam kehidupan yang sama. Sebagai keluarga, kita wajib bertugas untuk saling menyayangi, mendukung, melindungi, dan memotivasi, di dalam perjalanan untuk tumbuh berkembang bersama. Kita tidak memiliki batas kesabaran dan maaf untuk satu sama lain.
Sebagai keluarga, kita bersedia ada untuk satu sama lain dalam 24 jam 7 hari. Kita ada mulai dari titik kehidupan tertinggi hingga terendah. Sebagai keluarga, kita bersama sampai tugas duniawi masing-masing berakhir dan berkumpul lagi di suatu tempat yang kekal.
Aku tidak mau terlalu bahagia, atau terlihat bahagia, karena bisa jadi datang ujian, entah ujian kecil atau pun ujian besar. Ada orang yang melihat orang lain bahagia, dia akan ikut bahagia dan mendoakan orang tersebut. Namun banyak juga orang yang melihat orang lain bahagia lalu berusaha untuk menghancurkannya. Aku tetap menikmati rasa bahagia itu dengan rasa bersyukur dan bersiap-siap untuk tahap ujian selanjutnya.
Diremehkan tentang “kepintaran” sudah aku alami sejak kecil, mulai dari lingkungan keluarga besar dari tante-tanteku. Aku juga diremehkan oleh sepupu dan teman-teman sebaya yang masih sama-sama berjuang di Jerman ini.
Ketika seseorang meremehkan atau memandang seseorang sebelah mata, menurutku, orang tersebut sebenarnya belum cukup mencintai dirinya sendiri. Bisa jadi dia belum cukup puas dengan apa yang dia capai selama ini. Atau dia sedang menghadapi krisis kepercayaan diri sehingga dia mengemis pengakuan dan pujian dari orang lain.
Ketika aku sedang mengalami krisis kepercayaan diri atau aku merasa apapun yang aku jalani tidak sesuai dengan planning jangka panjangku maka aku selalu ingat, bahwa Tuhan adalah planner terbaik dan tersukses. Dia adalah segalanya. Menurutku, aku sudah lalui dan jalani saat ini dan ke depannya sudah ditakdirkan oleh yang Maha Kuasa.
Aku tidak perlu bersedih atau berkecil hati. Aku hanya harus terus berusaha, berusaha dan berusaha termasuk menekan egoku dan kemalasanku. Sampai saatnya aku berserah diri, dan bersyukur. Tidak ada lagi hal yang dapat aku lakukan di luar itu.
Apapun resolusi yang kamu buat, entah tahunan maupun jangka panjang sepertiku, hal tersebut harus dapat memotivasi, meningkatkan rasa percaya diri dan memacu sifat konsisten yang kamu miliki.
Tidak ada yang salah, tidak ada yang lebih baik dan buruk. Bagiku, semua resolusi yang kamu sematkan, hanya kamu sendiri yang akan jalani dan lalui. Bukan orang lain yang melakukan hal tersebut untuk kamu. Oleh karena itu, jangan juga kita menyamakan atau membandingkan dirimu dengan orang lain. Jadilah dirimu sendiri! Karena kamu berarti dan kamu harus menghargai segala hal yang ada di dirimu.
Penulis: Mahasiswa Master yang tidak pamer resolusi awal tahun dan tinggal di Jerman.